Content uploaded by Ade Heryana
Author content
All content in this area was uploaded by Ade Heryana on May 05, 2022
Content may be subject to copyright.
JCA Health Science Volume 1 No 1, 2021 1
INTERAKSI SOSIAL IBU RUMAH TANGGA PENDERITA HUMAN
IMMUNODEFICIENCY VIRUS DALAM MEMUTUSKAN DAN
MENDUKUNG TERAPI ANTIRETROVIRAL: STUDI KASUS DI KOTA
BEKASI
Ade Heryana1, Hubaybah2, Mutiara Evelina Putri3
1,3 Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul
2 Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas
Jambi
heryana@esaunggul.ac.id
Abstract
Social interaction changes will appear to persons stated positive HIV especially with relatives. ARV program
is a part of HIV-Aids treatment that aims to inhibit HIV transmission and opportunistic infections, quality of
life improvement, and decrease viral load in blood. ARV generally involve person with HIV. This study aims
to identify social interaction of People Living with HIV (PLHIV) in order to deciding and supporting ARV
program. Methodology: qualitative method with cross sectional interview and structured observational.
Three mothers with PLHIV status involved in this study, and 2 role model peoples were observed. Result:
suggestion delivered by families or relatives to motivate PLHIV accessing ARV. Imitation relate to action to
copycat person who released in HIV treatment and as key factor to ARV decision. Identification related to
family supporting and formed after imitation process. S ympathy related to health motivation for herself and
others, and occurred after imitation and identification process.
Keywords: social interaction, HIV prevention, Antiretroviral program
Abstrak
Seseorang yang dinyatakan positif tertular
Human Immunodeficiency Virus
(HIV) akan mengalami
perubahan interaksi sosial terutama dengan keluarga dan orang-orang terdekat. Terapi Antiretroviral (ARV)
merupakan bagian dari pengobatan HIV-Aids untuk menghambat penularan, menghambat infeksi oportunis,
meningkatkan kualitas hidup, dan menurunkan jumlah virus. Program ARV umumnya melibatkan orang yang
dinyatakan positif HIV. Peneltian ini bertujuan mengetahui interaksi sosial penderita HIV dalam memutuskan
dan mendukung program ARV. Metodologi: penelitian kualitatif dengan desain cross sectional menggunakan
metode wawancara mendalam dan obervasi. Wawancara mendalam melibatkan 3 ibu rumah tangga dengan
positif HIV, observasi terhadap perilaku tokoh panutan yaitu 1 ketua program ARV, dan 1 aktivis sosial.
Hasil: S ugesti dilakukan keluarga dan orang-orang terdekat untuk mendorong ODHA menjalankan terapi
ARV. Imitasi berkaitan erat dengan meneladani orang yang sembuh HIV dan sebagai penentu keputusan
melakukan terapi ARV. Identifikasi berkaitan dengan dukungan dari keluarga dan terbentuk setelah
meneladani tokoh panutan. Simpati berkaitan dengan motivasi untuk sehat bagi dirinya dan orang lain dan
timbul melalui proses imitasi dan identifikasi.
Kata kunci: Interaksi sosial, Pencegahan HIV, Program antiretroviral
Pendahuluan
Orang yang pertama kali mengetahui
dirinya tertular HIV akan mengalami
pengalaman-pengalaman seperti stress,
berduka, strategi coping, kebutuhan akan
dukungan lingkungan sekitar, dan kebutuhan
dukungan pelayanan kesehatan (Vitriawan et
al., 2007), beban fisik (pusing, suli konsentrasi,
gangguan pencernaan, pernafasan, efek
samping obat), dan beban psikologis (takut
ditolak keluarga, stigma dan diskriminasi)
(Indriani & Fauziah, 2017). Studi kualitatif
terhadap ODHA perempuan
single parent
ditemukan ada lima hal yang dihadapi yaitu
stigma internal, stigma eksternal dan
diskriminasi, membutuhkan anak sebagai
motivator, mengalami kelelahan fisik berlebih,
dan canggung dalam memulai interaksi dengan
JCA Health Science Volume 1 No 1, 2021 2
calon pasangan hidup (Damayanti & Dewi,
2017). Studi terhadap pasangan suami istri
menunjukkan adanya dampak psikologi,
ekonomi, sosial, kesehatan dan pola asuh.
Dukungan sosial dibutuhkan dari pasangan,
anak, teman dan dukungan sebaya dalam
bentuk informasi, emosi dan instrumen
(Swastika & Masykur, 2017). Kondisi ini
seharusnya dapat mendorong keinginan ODHA
untuk melakukan terapi Antiretroviral (ARV).
Namun tidak semua ODHA langsung
memutuskan apalagi mendukung ARV.
Untuk memutuskan dan mendukung
terapi ARV dibutuhkan interaksi sosial dengan
lingkungan sekitar. Tidak semuanya interaksi
sosial yang akan dialami ODHA berjalan baik.
Studi tentang interaksi sosial pada penderita
HIV-Aids di Indonesia sudah banyak dijalankan
dan umumnya menggambarkan pada bentuk
asosiatif dan disosiatif. Studi pada ODHA di
beberapa lokasi di Indonesia menunjukkan
36% responden mengalami interaksi sosial
yang buruk yaitu dalam bentuk perlakuan
diskriminatif oleh keluarga, seperti dikucilkan
(Aulia et al., 2014), penolakan keluarga dan
linkungan serta pemisahan alat makan
(Sarkusuma et al., 2012). Padahal keluarga dan
komunitas merupakan salah satu kekuatan bagi
ODHA untuk melangsungkan kehidupan
sosialnya (Listiana, 2013).
Interaksi sosial yang dialami ODHA
mengalami pasang surut sesuai dengan kondisi
emosional yang dihadapi. Studi terhadap ibu
rumah tangga ODHA yang ditularkan oleh
suami memperlihatkan adanya proses
kesedihan (penolakan, kemarahan, tawar
menawar, depresi) dan akhirnya penerimaan
baik positif maupun negatif. Penerimaan positif
berlanjut menjadi penerimaan diri hingga
membentuk rasa iba dan keterbukaan terhadap
diri sendiri (Yunita & Lestari, 2018). Sementara
dalam studi terhadap komunitas gay diketahui
ada dua fase sejak dinyatakan positif HIV. Fase
sebelum menjalani terapi ARV meliputi
penolakan terhadap status, kekecewaan dan
penyesalan, dan akhirnya menerima status.
Lalu fase setelah menjalani terapi ARV meliputi
penurunan kondisi akibat efek samping obat,
penerimaan kembali status HIV, pengalaman
menolak, memperkankan perasaan emosional,
dan akhirnya bersahabat dengan status HIV
(Pemayun & Lestari, 2018).
Interaksi sosial buruk yang dialami
ODHA memberi dampak pada konsep diri yang
negatif. Dalam studi (Sarkusuma et al., 2012)
menunjukkan konsep diri negatif karena label
negatif yang diterima dari lingkungan seperti
mayat hidup, pembawa penyakit menular,
penyakit kutukan, dan aib bagi lingkungan.
Lebih lanjut hal ini bisa menyebabkan
pemikiran negatif, putus asa, depresi, tertekan
dan keinginan bunuh diri. Kondisi ini dapat
mempengaruhi motivasi ODHA dalam terapi
ARV.
Studi terhadap faktor sugesti dalam
pengobatan pasien sudah dilakukan antara lain
dalam pengobatan tradisional (T riratnawati et
al., 2014), peningkatan kualitas tidur pasien
rawta inap (Hidayat & Mumpuningtias, 2018),
kemoterapi (Laely, 2017), dan pengobatan
diabetes tipe-2 (Nurhayati et al., 2016). Studi
tersebut berupaya memahami bagaimana
sugesti dapat mempengaruhi keputusan
seseorang untuk bertindak terutama dalam hal
kesehatan.
Studi imitasi banyak dilakukan pada
masalah-masalah psikologis. T ujuan imitasi
adalah menghasilkan perilaku baru secara lebih
mudah dalam waktu yang singkat. Semakin
bertambah usia, semakin luas tokoh panutan
yang diteladani. Pada anak imitasi berasal dari
keluarga (Barida, 2016), pada remaja umumnya
meniru tokoh idola seperti artis korea (Sella,
2013), para orang dewasa imitasi diperoleh dari
lingkungan sosial (Oktoriana & Suharyani,
2018).
Faktor identifikasi berkaitan dengan
konsep diri atau menempatkan dirinya dalam
kehidupan sosial. Konsep diri ODHA terbentuk
melalui interaksi sosial dengan pasangan hidup,
keluarg, teman dan orang lain. Jika lingkungan
memberikan respon tidak menyenangkan
(misalnya stigma dan diskriminasi) maka timbul
konsep diri negatif. Studi pada pasangan suami
istri menunjukkan konsep diri negatif akibat
label negatif dan diskriminasi yaitu merasa tidak
berharga, tidak berguna, tidak berdaya, tidak
ada motivasi untuk hidup, dan menarik diri dari
JCA Health Science Volume 1 No 1, 2021 3
lingkungan (Sarkusuma et al., 2012). Dalam
survey konsep diri OHDA diketahui sebagian
responden memiliki konsep diri yang kurang
hingga kurang sekali. Konsep diri terhadap
etika dan moral, personal dan sosial adalah
yang paling kurang (Wahyu et al., 2012).
Faktor simpati terbentuk ketika
seseorang sudah melakukan identifikasi diri
secara positif. Rasa peduli atau simpati
merupakan modal sosial yang dimiliki seseorang
yang berkecimpung dalam melayani
masyarakat (Sutisna et al., 2016).
Interaksi sosial ditentukan oleh empat
proses yaitu sugesti, imitasi, identifikasi, dan
simpati (Soekanto, 2013). Proses ini
membentuk interaksi sosial yang mengarahkan
seseorang pada tindakan tertentu. Memutuskan
dan mendukung terapi ARV merupakan salah
satu bentuk interaksi sosial yang dialami ibu
penderita HIV. Penelitian ini bertujuan
mengetahui faktor interaksi sosial yang
mendorong ibu dengan HIV positif dalam
memutuskan dan memberikan dukungan terapi
ARV dilihat dari faktor imitasi, sugesti,
identifikasi, dan simpati.
Metode Penelitian
Penelitian dilakukan di LSM Rumah
Sebaya kota Bekasi pada periode September-
Desember 2018 dengan menggunakan metode
kualitatif. Peneliti terlibat dalam berbagai
kegiatan yang dilakukan LSM Rumah Sebaya.
Pengumpulan data dilakukan dengan
wawancara dan observasi terstruktur.
Informan wawancara mendalam dipilih
dengan metode
purposive sampling
, yang
terdiri dari 3 orang ibu dengan HIV positif.
Observasi dilakukan terhadap tokoh panutan
yaitu dua aktivis sosial bidang HIV/AIDS untuk
mengkonfirmasi faktor sugesti dan imitasi.
Validitas data dilakukan dengan
melakukan triangulasi sumber dan triangulasi
metode. Data diolah dalam bentuk matriks
wawancara untuk mendapatkan tema-tema
yang berkaitan dengan faktor imitasi, sugesti,
identifikasi dan simpati. Tema-tema kemudian
disintesis dan disimpulkan sebagai hasil
penelitian.
Hasil dan Pembahasan
Deskripsi Informan
Informan terdiri dari lima orang yaitu:
a. Informan utama kesatu, S, perempuan 37
tahun, pendidikan SMA, adalah ibu rumah
tangga dengan HIV positif sejak 3 tahun lalu
dan telah menggunakan terapi ARV lebih
dari setahun. S tertular virus HIV dari
mendiang suami. S memiliki seorang anak
laki-laki dan megatif HIV. SM tidak bekerja,
aktif sebagai kader posyandu dank der HIV
di LSM Rumah Sebaya. Sehari-hari S
membantu mendampingi orang-orang
dengan HIV positif dalam terapi ARV.
Keluarga S telah mengetahui status positif
HIV, dan selalu mengingatkan meminum
obat ARV.
b. Informan utama kedua, DS, perempuan 35
tahun, pendidikan SMA didiagnosa HIV
positif sejak 3 tahun yang lalu dan telah
menggunakan terapi ARV lebih dari setahun.
Beliau tertular dari suami yang positif HIV
melalui jarum suntik. Ibu DS memiliki
seorang anak perempuan yang negatif HIV,
pernah bekerja di sebuah butik lalu keluar,
dan sekarang beliau aktif di LSM Rumah
Sebaya. Keluarga suami ibu DS teah
mengehaui status HIV dia, namun tidak
dengan keluarga kandung sendiri.
c. Informan utama ketiga, L, perempuan 28
tahun, pendidikan SMP, didiagnosa HIV
positif sejak 2014 dan telah menggunakan
terapi ARV sejak 3 bulan, tertular HIV positif
dari suami. Mengetahui status dirinya
setelah bayinya didiagnosa positif HIV oleh
dokter di salah satu rumah sakit di Bandung.
Setelah di diagnosa HIV positif, ibu L tidak
langsung menggunakan terapi ARV selama 4
tahun karena merasa bahwa dirinya sehat
dan tidak membutuhkannya. Pernah kerja
diberbagai tempat seperti apotik,
perusahaan dan garmen hingga akhirnya
memutuskan untuk berhenti dan aktif di LSM
Rumah Sebaya. Keluarga ibu L tidak ada
yang mengetahui bahwa dirinya HIV positif.
Faktor Sugesti
Keputusan untuk bertindak dalam hidup
seseorang ditentukan oleh faktor sugesti. Pada
JCA Health Science Volume 1 No 1, 2021 4
penelitian ini, faktor sugesti pada informan
diperoleh dari teman dekat. Informan S setelah
dinyatakan positif HIV mendapat sugesti untuk
terapi ARV dari temannya yang bekerja di
puskesmas. Namun saat itu M belum bersedia
karena masih dalam kondisi sedih. Begitu pula
informan L mendapat sugesti dari perawat dan
tidak langsung dijalankan. Teman dari kedua
informan ini memberikan sugesti dalam bentuk
dukungan mental dan mengingatkan masa
depan anak jika dirinya menyerah. Sementara
informan DS mendapat sugesti dari suaminya
yang positif HIV. Suami memberikan sugesti
dalam bentuk dorongan agar tetap sehat serta
komitmennya untuk berjuang bersama-sama
untuk mengobati HIV. Faktor anak juga ikut
berperan sehingga informan bersedia
menjalankan terapi ARV.
Dalam penelitian ini diketahui seluruh
informan melakukan terapi ARV di rumah sakit.
Menurut tokoh panutan, umumnya ODHA
memang mendapat sugesti dari orang-orang
terdekat dan langsung mengkonsumsi ARV
ketika dinyatakan positif HIV. Namun ada juga
yang menunda dengan alasan merasa sehat.
Studi tentang faktor sugesti pada
pengobatan pasien telah dilakukan. Sugesti
merupakan kunci kepercayaan masyarakat jawa
ke pengobatan tradisional yang muncul dari
penderita dan penyembuh. Kemampuan
penyembuh mendengarkan curatan hati pasien
menjadi faktor daya tarik (Triratnawati et al.,
2014). Sugesti (dalam bentuk hipnoterapi) dan
dzikir juga dapat meningkatkan kualitas tidur
pasien yang dirawat di rumah sakit dengan
mempengaruhi kondisi alam bawah sadar
sehingga pasien lebih relaks (Hidayat &
Mumpuningtias, 2018), serta mengurangi
kecemasan dan rasa nyeri pada pasien
kemoterapi (Laely, 2017), dan rasa nyeri pada
pasien diabetes mellitus tipe-2 dengan
komplikasi (Nurhayati et al., 2016).
Pada penelitian ini ada kemungkinan
teman dan suami merupakan orang yang tepat
dalam memberikan sugesti karena
memungkinkan ODHA untuk menyampaikan
curahan hati. Curahan hati ini membuat ODHA
lebih relaks dalam menerima status dirinya dan
membangkitkan alam bawah sadarnya bahwa
dirinya sembuh.
Faktor Imitasi
Alasan seseorang untuk bertindak juga
ditentukan oleh keinginannya untuk meniru
atau meneladani orang lain. Pada penelitian ini,
alasan informan bersedia melakukan terapi ARV
adalah meneladani teman dan orang dekat
(suami).
Menurut informan S dan L, teman lebih
banyak dijadikan teladan karena alasan
kepedulian, selalu memberikan motivasi untuk
sembuh. T eman dijadikan panutan karena
kegigihan untuk sembuh dari HIV. Dari hasil ini
dapat disimpulkan informan memutuskan ikut
terapi ARV bukan saat dinyatakan positif, tetapi
saat melakukan interaksi sosial dengan teman-
temannya.
Pada kasus lain yaitu informan DS,
faktor imitasi diperoleh secara kuat dari suami
yang positif HIV. Hal ini lebih disebabkan ikatan
emosional yang terbangun di antara keduanya
yaitu saling menyayangi dan rasa tanggung
jawab suami terhadap keluarga. Informan DS
menilai suami merupakan sosok yang dianggap
dapat melindungi dan telah dikenalnya sejak
lama.
Observasi terhadap tokoh panutan yang
merupakan teladan dari informan S dan L
memperlihatkan bahwa:
a. Tokoh panutan 1, D, laki-laki 45 tahun,
pendidikan SMA adalah ketua yayasan
sekaligus pendiri dari LSM rumah sebaya,
didiagnosa HIV stadium-3 sejak tahun 2005
dan langsung menggunakan terapi ARV.
Beban fisik yang dialami antara lain infeksi
tuberkulosis, mulut berjamur, diare sampai
adanya penurunan berat badan drastis.
Beliau mendirikan Rumah Sebaya dengan
alasan tidak ada wadah atau tempat
berlindung bagi mantan pecandu dan
mantan warga binaan lapas yang terinfeksi
HIV. Rumah Sebaya didirikan oleh lima
komunitas yaitu HIV/AIDS, Wanita Pekerja
Seksual (WPS), WPS Lokalisasi, Lelaki Suka
Lelaki (LSL) dan pecandu narkoba.
JCA Health Science Volume 1 No 1, 2021 5
b. T okoh panutan 2, N, perempuan 23 tahun,
pendidikan SMP, seorang kader HIV sejak
tahun 2013 mantan anak jalanan yang
bergabung di LSM rumah sebaya dan
menjadi salah satu aktifis yang berperan
penting sampai sekarang. N banyak
membantu mengembangkan LSM rumah
sebaya dan membantu melakukan
pendampingan utnuk kasus HIV baru.
Mengapa ODHA tidak langsung
memutuskan terapi ARV setelah dinyatakan
positif HIV? Studi epidemiologi menunjukkan
keputusan individu untuk melakukan vaksinasi
tergantung perilaku imitasi yaitu melihat
kesuksesan tetangga dalam menjalankan
imunisasi dan persepsinya terhadap manfaat
vaksin (Ndeffo Mbah et al., 2012). Aturan dasar
dalam proses imitasi menurut teori T ardian
adalah adanya penyesuaian tindakan atau sikap
yang terjadi melalui proses adaptasi, modifikasi,
dan integrasi gagasan yang telah membudaya
(Abrutyn & Mueller, 2014). Pada kasus ODHA
terlihat bahwa imitasi terhadap perilaku tokoh
panutan tidak serta merta muncul sat
dinyatakan positif HIV, tetapi melalui adaptasi
yang panjang. Hasil penelitian menunjukkan
seluruh informan menjalankan terapi ARV lebih
dari 2 tahun setelah dinyatakan positif HIV.
Hasil penelitian ini juga menimbulkan
pertanyaan mengapa dalam mengambil
keputusan ARV lebih memilih teman dibanding
keluarga? Mengutip studi pengambilan
keputusan pada konsumen, imitasi/meniru
merupakan cara memutuskan tindakan yang
melengkapi cara rasional (Pingle, 1995).
Seharusnya secara rasional ODHA memutuskan
terapi ARV berdasarkan masukan tenaga
kesehatan dan keluarga terdekat, namun pada
kenyataannya meneladani orang lain.
Faktor Identifikasi
Kelanjutan dari proses sugesti dan
imitasi menimbulkan faktor identifikasi yaitu
bagaimana seseorang memberikan label
terhadap dirinya. Faktor identifikasi diperkuat
dengan dukungan keluarga dan orang terdekat.
Pada informan S dan L, dukungan tersebut
antara lain dalam bentuk mengingatkan minum
obat baik oleh orangtua maupun anak ketika
timbul rasa jenuh dan bosan. Sementara
informan DS dari suaminya dan keluarga dari
suami.
Tidak semua informan membuka
identitas dirinya sebagai ODHA. Masih ada
informan yang menutup statusnya terhadap
keluarga. Pada informan DS dengan suami
positif HIV, status ODHA hanya diketahui
keluarga suami. Salah satunya penyebabnya
adalah kekhawatiran mendapat stigma dan
diskriminasi. Seluruh informan sependapat
bahwa stigma dan diskrimisasi merupakan hal
yang pasti dialami ODHA yang membuka
status. Diskriminasi bisa diperoleh dari teman,
keluarga, bahkan oleh tenaga kesehatan.
Perlakuan diskriminatif oleh petugas
kesehatan yang dialami informan misalnya tidak
langsung memberikan pelayanan dan bersikap
defensif atau mengingatkan teman seprofesi
untuk hati-hati. Perlakukan diskriminatif oleh
teman dalam bentuk sikap negatif yang akan
meninggalkan informan jika mengetahui dirinya
positif HIV. Tindakan yang dilakukan seluruh
informan jika mendapat diskriminasi adalah
mengupayakan edukasi kepada masyarakat.
Menurut (Olds, 2006) identifikasi
merupakan proses modifikasi diri sendiri yang
menyerupai orang lain. Dengan demikian
identifikasi merupakan kelanjutan dari imitasi.
Pada indentifikasi, seseorang meniru bukan
hanya karakteristik tokoh panutan namun juga
pada aspek menyeluruh. Dalam penelitian ini,
seluruh informan menerima status dirinya
sebagai ODHA setelah meneladani perilaku
tokoh panutan melalui proses yang panjang.
Faktor Simpati
Faktor simpati berkaitan dengan
keinginan seseorang untuk membantu sesama.
Menurut (Soekanto, 2013) simpati terbentuk
akibat sugesti, imitasi dan identifikasi positif
yang dialami seseorang.
Dalam penelitian ini, keinginan untuk
melakukan terapi ARV ternyata menumbuhkan
rasa simpati ODHA terhadap yang lainnya.
Dalam dukungan terapi ARV seluruh responden
memiliki keinginan yang sama untuk membantu
penderita HIV agar sembuh dari penyakitnya.
Pertolongan yang diberikan dengan
JCA Health Science Volume 1 No 1, 2021 6
memberikan dukungan, edukasi, bantuan
pendampingan, dan saling peduli. Dalam
bantuan pendampingan, informan merasakan
bahwa orang yang pertama kali dinyatakan
positif HIV akan mengalami tekanan mental.
Dalam (Abrutyn & Mueller, 2014)
dinyatakan simpati merupakan bentuk dari
proses imitasi yang dialami seseorang. Rasa
simpati ODHA merupakan hasil dari meneladani
atau meniru orang-orang yang dianggap
panutan. Simpati yang dimiliki informan S dan L
karena meniru tokoh yang berhasil dalam
pengobatan ARV.
Kesimpulan dan Saran
Sugesti dilakukan keluarga dan orang-
orang terdekat untuk mendorong ODHA
menjalankan terapi ARV. Imitasi berkaitan erat
dengan meneladani orang yang sembuh HIV
dan sebagai penentu keputusan melakukan
terapi ARV. Identifikasi berkaitan dengan
dukungan dari keluarga dan terbentuk setelah
meneladani tokoh panutan. Simpati berkaitan
dengan motivasi untuk sehat bagi dirinya dan
orang lain dan timbul melalui proses imitasi dan
identifikasi.
Dukungan keluarga dan orang terdekat
dalam interaksi sosial ODHA agar ditingkatkan
karena sangat menentukan keberhasilan
pengobatan dengan ARV. Keterlibatan keluarga
pada awal ODHA dinyatakan positif HIV akan
menentukan kecepatan dalam memutuskan ikut
terapi ARV atau tidak.
Daftar Pustaka
Abrutyn, S., & Mueller, A. S. (2014).
Reconsidering Durkheim’s Assessment of
Tarde: Formalizing a T ardian Theory of
Imitation, Contagion, and Suicide
Suggestion.
Sociology Forum
,
29
(3),
698–719.
Aulia, Y ., Erwina, I., & Alfitri, A. (2014).
Hubungan Antara Harga Diri dengan
Interaksi Sosial pada Orang dengan HIV
AIDS di Yayasan Lantera Minangkabau
Support.
NERS Jurnal Keperawatan
,
10
(1), 32–40.
https://doi.org/10.25077/njk.10.1.37-
45.2014
Barida, M. (2016). Pengembangan Perilaku
Anak Melalui Imitasi.
Jurnal CARE Edisi
Khusus Temu Ilmiah
.
Damayanti, D., & Dewi, R. (2017). Stigma pada
Perempuan Single Parent dengan HIV
Positif (Studi Kualitatif).
Jurnal
Kesehatan Metro Sai Wawai
,
10
(2), 55–
66.
Hidayat, S., & Mumpuningtias, E. D. (2018).
Terapi Kombinasi Sugesti Dan Dzikir
Dalam Peningkatan Kualitas T idur
Pasien.
Care : Jurnal Ilmiah Ilmu
Kesehatan
,
6
(3), 219–230.
https://doi.org/10.33366/cr.v6i3.953
Indriani, S. D., & Fauziah, N. (2017). Karena
Hidup Harus Terus Berjalan (Sebuah
Studi Fenomenologi Kehidupan Orang
dengan HIV/AIDS).
Jurnal Empati
,
6
(1),
385–395.
Laely, A. (2017). Pengaruh Hipnotherapi
Terhadap Penurunan Tingkat Nyeri dan
Kecemasan Pada Pasien Kemoterapi di
RS Dr. Kariadi.
Medica Hospitalia :
Journal of Clinical Medicine
.
https://doi.org/10.36408/mhjcm.v4i1.24
7
Listiana, L. (2013). Kehidupan Sosial dan
Interaksi Orang dengan HIV di
Yogyakarta.
Jurnal Sosiologi Reflektif
,
8
(1), 301–324.
Ndeffo Mbah, M. L., Liu, J., Bauch, C. T., Tekel,
Y. I., Medlock, J., Meyers, L. A., &
Galvani, A. P. (2012). The impact of
imitation on vaccination behavior in
social contact networks.
PLoS
Computational Biology
,
8
(4), 1–11.
https://doi.org/10.1371/journal.pcbi.100
2469
Nurhayati, I., Puguh, S., & Purnomo, E. (2016).
Efektivitas hipnoterapi dan relaksasi
autogenik terhadap peneurunan tingkat
kecemasan pasien diabetes melitus tipe
2 dengan komplikasi.
Jurnal Ilmu
Keperawatan Dan Kebidanan (JIKK)
,
5
,
1–12.
Oktoriana, S., & Suharyani, A. (2018). Faktor
Imitasi Dalam Proses Pengambilan
Keputusan Manajerial Oleh Wanita Tani
Pada Usahatani Hortikultura Di Lahan
JCA Health Science Volume 1 No 1, 2021 7
Gambut.
Jurnal Social Economic of
Agriculture
,
7
(1), 83–91.
https://doi.org/10.26418/j.sea.v7i1.3075
6
Olds, D. D. (2006). Identification:
Psychoanalytic and Biological
Perspectives.
Journal of American
Psychoanalytic Association
,
54
(1).
Pemayun, C. I. D. A., & Lestari, M. D. (2018).
Proses Penerimaan Diri pada Gay yang
Berstatus HIV Positif.
Jurnal Psikologi
Udayana Edisi Khusus Psikologi Positif
,
100–113.
Pingle, M. (1995). Imitation vs Rationality: An
Experimental Perspective on Decision
Making.
Journal of Socio-Economics
,
24
(2), 281–315.
Sarkusuma, H., Hasanah, N., & Herani, I.
(2012). Konsep Diri Orang dengan HIV
dan AIDS (ODHA) yang Menerima Label
Negatif dan Diskriminasi dari
Lingkungan Sosial.
Psikologia-Online
,
7
(1), 29–40.
Sella, Y. P. (2013). Analisa Perilaku Imitasi di
Kalangan Remaja setelah Menonton
Tayangan Drama Seri Korea di Indosiar
(Studi Kasus Perumahan Pondok Karya
Lestari Sei Kapih Samarinda).
EJurnal
Ilmu Komunikasi
,
1
(3).
Soekanto, S. (2013).
Sosiologi: Suatu
Pengantar
. Rajawali Press.
Sutisna, E., Reviono, R., & Setyowati, A.
(2016). Modal Sosial Kader Kesehatan
dan Kepemimpinan Tokoh Masyarakat
dalam Penemuan Penderita
Tuberkulosis.
Yarsi Medical Journal
,
24
(1), 24–41.
Swastika, Y. A. A., & Masykur, A. M. (2017).
“Tabah Sampai Akir” Sebuah Studi
Kasus pada Keluarga Penderita
HIV/AIDS.
Jurnal Empati
,
6
(4), 424–
432.
Triratnawati, A., Wulandari, A., & Marthias, T.
(2014). The Power of Sugesti in
Traditional Javanese Healing Treatment.
Jurnal Komunitas
,
6
(2), 280–293.
Vitriawan, W., Sitorus, R., & Afiyanti, Y . (2007).
Pengalaman Pertama Kali Terdiagnosis
HIV/AIDS: Studi Fenomenologi dalam
Perspektif Keperawatan.
Jurnal
Keperawatan Indonesia
,
11
(1), 6–12.
Wahyu, S., Taufik, T ., & Ilyas, A. (2012).
Konsep Diri dan Masalah yang Dialami
Orang T erinfeksi HIV/Aids.
Konselor
,
1
(1), 1–12.
https://doi.org/10.24036/0201212695-
0-00
Yunita, A., & Lestari, M. D. (2018). Proses
Grieving Dan Penerimaan Diri Pada Ibu
Rumah Tangga Berstatus HIV Positif
Yang Tertular Melalui Suaminya.
Jurnal
Psikologi Udayana
,
4
(2), 223–238.
https://doi.org/10.24843/jpu.2017.v04.i
02.p01