Conference PaperPDF Available

Estimasi daya dukung habitat rusa timor (Cervus timorensis) di Padang Rumput Cikamal Cagar Alam Pananjung Pangandaran, Jawa Barat, Indonesia Estimation of ecological carrying capacity of the timor deer (Cervus timorensis) habitat in Cikamal Grassland Pananjung Pangandaran Nature Reserve, West Java, Indonesia

Authors:

Abstract

Abstrak. Firdaus FI, Irwanto RR, Sumarga E. 2022. Estimasi daya dukung habitat rusa timor (Cervus timorensis) di Padang Rumput Cikamal Cagar Alam Pananjung Pangandaran, Jawa Barat, Indonesia. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon 8: 23-30. Rusa timor (Cervus timorensis, de Blainville 1822) merupakan satwa dilindungi dengan persebarannya yang luas di Indonesia, salah satunya di Cagar Alam (CA) Pananjung Pangandaran, Jawa Barat, Indonesia. Rusa timor di kawasan ini sering beraktivitas diluar cagar alam sehingga berpotensi membahayakan rusa timor maupun penduduk setempat. Diduga, aktivitas tersebut berkaitan dengan rusaknya kawasan penggembalaan rusa timor di dalam CA Pananjung Pangandaran. Sampai dengan tahun 2009 di kawasan CA Pananjung Pangandaran terdapat tiga padang penggembalaan, yaitu Padang Rumput Badeto, Nanggorak, dan Cikamal. Namun, di tahun 2020 hanya tersisa Padang Rumput Cikamal. Dalam upaya merehabilitasi fungsi kawasan Padang Rumput Cikamal, maka penelitian ini dilakukan untuk menentukan daya dukung habitat Padang Rumput Cikamal dalam menampung populasi rusa timor. Penelitian ini mencakup kajian tentang populasi rusa timor serta produktivitas tumbuhan pakan rusa timor di Cikamal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sensus populasi, analisis kerimbunan vegetasi bawah, eksperimen di lapangan berupa pemotongan dan penimbangan vegetasi secara periodik, serta estimasi daya dukung berdasarkan produktivitas tumbuhan pakan dan tingkat konsumsi pakan rusa timor. Hasil penelitian menunjukkan populasi rusa timor di kawasan CA Pananjung Pangandaran adalah 43 ekor, terdiri dari 17 jantan dewasa, 14 betina dewasa, 2 jantan muda, 2 betina muda, dan 8 anak. Persentase tumbuhan pakan rusa timor di kawasan Cikamal sebesar 68,33% dalam luas kawasan 4,4 hektar dengan rincian: Cynodon dactylon 53,00%, Abildgaardia ovata 20%, Chrysopogon aciculatus 6,40%, Grona triflora 0,60%, dan Axonopus compressus 0,13%. Produktivitas tumbuhan pakan rusa timor di Cikamal berdasarkan pengukuran bobot basahnya adalah sebesar 63.408 kg/tahun. Estimasi daya dukung habitat Padang Rumput Cikamal bagi rusa timor adalah 18 ekor rusa timor/tahun. Kata kunci: Cagar Alam Pananjung Pangandaran, daya dukung habitat, padang rumput, produktivitas tumbuhan pakan, rusa timor Abstract. Firdaus FI, Irwanto RR, Sumarga E. 2022. Estimation of ecological carrying capacity of the timor deer (Cervus timorensis) habitat in Cikamal Grassland Pananjung Pangandaran Nature Reserve, West Java, Indonesia. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon 8: 23-30. Timor deer (Cervus timorensis, de Blainville 1822) is a protected, vast distribution animal in Indonesia, including Pananjung Pangandaran Nature Reserve, West Java, Indonesia. Timor deer in this area often move outside the nature reserve, which is potentially dangerous for the deer and people in the area. This phenomenon was related to the destruction of the deer grazing area in the Pananjung Pangandaran Nature Reserve. Until 2009 there were three feeding grounds in Pananjung Pangandaran Nature Reserve: Badeto, Nanggorak, and Cikamal. However, currently, only the Cikamal feeding ground remains. To rehabilitate the function of the Cikamal feeding ground area, this study was conducted to determine the carrying capacity of the Cikamal feeding ground habitat to accommodate the current deer population. This research includes a study of the population of timor deer and the productivity of deer forage plants in feeding grounds in Cikamal. The method used in this research is a population census, analysis of undergrowth vegetation, field experiments in the form of cutting and weighing of vegetation periodically, and estimation of carrying capacity based on the productivity of forage plants and the level of timor deer feed consumption. The results showed that the population of timor deer in the Pananjung Pangandaran area was 43, consisting of 17 adult males, 14 adult females, 2 young males, 2 young females, and 8 juveniles. The percentage of deer feed plants in the Cikamal area was 68.33% in an area of 4.4 hectares with details: Cynodon dactylon 53.00%, Abildgaardia ovata 8.20%, Chrysopogon aciculatus 6.40%, Grona triflora 0.60%, and Axonopus compressus 0.13%. The productivity of deer feed plants in Cikamal based on fresh weight was 63,408 kg/year, while the estimated carrying capacity of the Cikamal grassland as a habitat for Timor deer is 18 deer/year.
PROS SEM NAS MASY BIODIV INDON
Volume 8, Nomor 1, Maret 2022 ISSN: 2407-8050
Halaman: 23-30 DOI: 10.13057/psnmbi/m080104
Estimasi daya dukung habitat rusa timor (Cervus timorensis) di Padang
Rumput Cikamal Cagar Alam Pananjung Pangandaran, Jawa Barat,
Indonesia
Estimation of ecological carrying capacity of the timor deer (Cervus timorensis) habitat in
Cikamal Grassland Pananjung Pangandaran Nature Reserve, West Java, Indonesia
FAHMI IDRIS FIRDAUS, RINA RATNASIH IRWANTO, ELHAM SUMARGA
Program Studi Rekayasa Kehutanan, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung. Jl. Let. Jen. Purn. Dr. (HC). Mashudi No. 1,
Jatinangor, Sumedang 45363, Indonesia. Tel./Fax.: +62-022-7798600, email: firdausfahmiidris@gmail.com
Manuskrip diterima: 14 September 2021. Revisi disetujui: 13 Desember 2021.
Abstrak. Firdaus FI, Irwanto RR, Sumarga E. 2022. Estimasi daya dukung habitat rusa timor (Cervus timorensis) di Padang Rumput
Cikamal Cagar Alam Pananjung Pangandaran, Jawa Barat, Indonesia. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon 8: 23-30. Rusa timor (Cervus
timorensis, de Blainville 1822) merupakan satwa dilindungi dengan persebarannya yang luas di Indonesia, salah satunya di Cagar Alam
(CA) Pananjung Pangandaran, Jawa Barat, Indonesia. Rusa timor di kawasan ini sering beraktivitas diluar cagar alam sehingga
berpotensi membahayakan rusa timor maupun penduduk setempat. Diduga, aktivitas tersebut berkaitan dengan rusaknya kawasan
penggembalaan rusa timor di dalam CA Pananjung Pangandaran. Sampai dengan tahun 2009 di kawasan CA Pananjung Pangandaran
terdapat tiga padang penggembalaan, yaitu Padang Rumput Badeto, Nanggorak, dan Cikamal. Namun, di tahun 2020 hanya tersisa
Padang Rumput Cikamal. Dalam upaya merehabilitasi fungsi kawasan Padang Rumput Cikamal, maka penelitian ini dilakukan untuk
menentukan daya dukung habitat Padang Rumput Cikamal dalam menampung populasi rusa timor. Penelitian ini mencakup kajian
tentang populasi rusa timor serta produktivitas tumbuhan pakan rusa timor di Cikamal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah sensus populasi, analisis kerimbunan vegetasi bawah, eksperimen di lapangan berupa pemotongan dan penimbangan vegetasi
secara periodik, serta estimasi daya dukung berdasarkan produktivitas tumbuhan pakan dan tingkat konsumsi pakan rusa timor. Hasil
penelitian menunjukkan populasi rusa timor di kawasan CA Pananjung Pangandaran adalah 43 ekor, terdiri dari 17 jantan dewasa, 14
betina dewasa, 2 jantan muda, 2 betina muda, dan 8 anak. Persentase tumbuhan pakan rusa timor di kawasan Cikamal sebesar 68,33%
dalam luas kawasan 4,4 hektar dengan rincian: Cynodon dactylon 53,00%, Abildgaardia ovata 20%, Chrysopogon aciculatus 6,40%,
Grona triflora 0,60%, dan Axonopus compressus 0,13%. Produktivitas tumbuhan pakan rusa timor di Cikamal berdasarkan pengukuran
bobot basahnya adalah sebesar 63.408 kg/tahun. Estimasi daya dukung habitat Padang Rumput Cikamal bagi rusa timor adalah 18 ekor
rusa timor/tahun.
Kata kunci: Cagar Alam Pananjung Pangandaran, daya dukung habitat, padang rumput, produktivitas tumbuhan pakan, rusa timor
Abstract. Firdaus FI, Irwanto RR, Sumarga E. 2022. Estimation of ecological carrying capacity of the timor deer (Cervus timorensis)
habitat in Cikamal Grassland Pananjung Pangandaran Nature Reserve, West Java, Indonesia. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon 8: 23-
30. Timor deer (Cervus timorensis, de Blainville 1822) is a protected, vast distribution animal in Indonesia, including Pananjung
Pangandaran Nature Reserve, West Java, Indonesia. Timor deer in this area often move outside the nature reserve, which is potentially
dangerous for the deer and people in the area. This phenomenon was related to the destruction of the deer grazing area in the Pananjung
Pangandaran Nature Reserve. Until 2009 there were three feeding grounds in Pananjung Pangandaran Nature Reserve: Badeto,
Nanggorak, and Cikamal. However, currently, only the Cikamal feeding ground remains. To rehabilitate the function of the Cikamal
feeding ground area, this study was conducted to determine the carrying capacity of the Cikamal feeding ground habitat to accommodate
the current deer population. This research includes a study of the population of timor deer and the productivity of deer forage plants in
feeding grounds in Cikamal. The method used in this research is a population census, analysis of undergrowth vegetation, field
experiments in the form of cutting and weighing of vegetation periodically, and estimation of carrying capacity based on the
productivity of forage plants and the level of timor deer feed consumption. The results showed that the population of timor deer in the
Pananjung Pangandaran area was 43, consisting of 17 adult males, 14 adult females, 2 young males, 2 young females, and 8 juveniles.
The percentage of deer feed plants in the Cikamal area was 68.33% in an area of 4.4 hectares with details: Cynodon dactylon 53.00%,
Abildgaardia ovata 8.20%, Chrysopogon aciculatus 6.40%, Grona triflora 0.60%, and Axonopus compressus 0.13%. The productivity
of deer feed plants in Cikamal based on fresh weight was 63,408 kg/year, while the estimated carrying capacity of the Cikamal grassland
as a habitat for Timor deer is 18 deer/year.
Keywords: Carrying capacity, grassland, Pananjung Pangandaran Nature Reserve, plant productivity, timor deer
PROS SEM NAS MASY BIODIV INDON
8 (1): 23-30, Maret 2022
24
PENDAHULUAN
Rusa timor (Cervus timorensis, de Blainville 1822)
merupakan salah satu satwa yang dilindungi berdasarkan
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Republik Indonesia Nomor
P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang Jenis
Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Rusa timor
merupakan jenis rusa asli Indonesia yang paling umum
ditemui karena persebarannya yang sangat luas, meliputi
Jawa, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua (Semiadi dan
Nugraha 2004). Jika dilihat dari ukuran tubuh, rusa timor
lebih kecil daripada rusa sambar (Cervus unicolor), tetapi
lebih besar dari rusa bawean (Axis kuhlii) dan rusa tutul
(Axis axis) (Kangiras 2009). Status rusa timor sebagai
satwa dilindungi mendorong berbagai upaya konservasi
untuk meningkatkan populasi rusa timor, seperti melalui
pelestarian alami dan penangkaran. Salah satu kawasan
pelestarian alami rusa timor adalah Cagar Alam (CA)
Pananjung Pangandaran.
Hasil survei lapangan pra-penelitian menunjukkan rusa
timor banyak berkeliaran di luar kawasan konservasi CA
Pananjung Pangandaran. Aktivitas rusa timor di luar
kawasan konservasi merupakan bentuk perubahan perilaku.
Rusa timor seharusnya berkeliaran di kawasan CA
Pananjung Pangandaran, memakan makanan alaminya, dan
tidak cukup toleran terhadap kehadiran manusia. Lokasi
CA Pananjung Pangandaran yang berbatasan dengan
kawasan wisata Pantai Pangandaran memudahkan rusa
timor untuk bergerak ke luar kawasan pelestarian. Rusa
timor memakan makanan sisa dan sampah yang berada di
kawasan pantai wisata dan permukiman. Hal ini
membahayakan kehidupan rusa timor karena sampah yang
termakan kerap kali tidak tercerna dengan baik sehingga
menyebabkan gangguan kesehatan bahkan kematian.
Kangiras (2009) berpendapat perubahan perilaku rusa timor
di CA Pananjung Pangandaran disebabkan oleh sedikitnya
sumber pakan alami rusa timor di dalam kawasan. Sumber
pakan rusa timor berupa rerumputan dan vegetasi bawah
seharusnya tersedia di area padang penggembalaan di
dalam kawasan CA Pananjung Pangandaran, yaitu Padang
Rumput Cikamal, Padang Rumput Badeto, dan Padang
Rumput Nanggorak. Berdasarkan Purwanto (2013) dan
survei lapangan, dua dari tiga area penggembalaan di CA
Pananjung Pangandaran, yakni Padang Rumput Badeto dan
Padang Rumput Nanggorak, telah mengalami suksesi yang
menyebabkan area tersebut telah berubah menjadi hutan
sekunder muda.
Area padang penggembalan yang tersisa di kawasan CA
Pananjung Pangandaran adalah Padang Rumput Cikamal.
Letak Padang Rumput Cikamal berbatasan dengan area
Taman Wisata Alam Pananjung Pangandaran, keduanya
dipisahkan oleh hutan. Sebagaimana yang terjadi pada
Padang Rumput Badeto dan Padang Rumput Nanggorak,
sebagian area Padang Rumput Cikamal pun mengalami
perubahan tutupan lahan. Upaya yang dilakukan pihak CA
Pananjung Pangandaran untuk menjaga eksistensi padang
rumput dan rusa timor adalah dengan membabat vegetasi
non-rumput dan membangun kandang habituasi di area
tersebut. Namun, usaha tersebut belum memberikan
dampak yang signifikan, baik terhadap eksistensi padang
rumput maupun perilaku rusa timor. Oleh karena itu, upaya
yang perlu dilakukan untuk merehabilitasi fungsi kawasan
Padang Rumput Cikamal, salah satunya dengan
menghitung daya dukung habitat Padang Rumput Cikamal
untuk menampung populasi rusa timor. Informasi yang
dibutuhkan untuk menentukan daya dukung habitat rusa
timor di antaranya (i) data populasi rusa timor di kawasan
Taman Wisata Alam Pananjung Pangandaran; (ii)
kerimbunan tumbuhan pakan rusa timor di Padang Rumput
Cikamal; dan (iii) produktivitas tumbuhan pakan rusa timor
di Padang Rumput Cikamal berdasarkan penimbangan
bobot basah tumbuhan pakan.
BAHAN DAN METODE
Area kajian
Penelitian ini dilaksanakan di CA Pananjung
Pangandaran, Jawa Barat, Indonesia (Gambar 1) dengan
fokus di Taman Wisata Alam (TWA) Pananjung
Pangandaran, Jawa Barat, Indonesia untuk menghitung rusa
timor melalui metode sensus dan di Padang Rumput
Cikamal untuk menghitung produktivitas tumbuhan pakan
rusa timor di kawasan tersebut.
Sensus rusa timor dilaksanakan pada 16-20 November
2020 sedangkan penelitian produktivitas pakan rusa timor
dilaksanakan pada 22 November 2020-2 Januari 2021 yang
terbagi menjadi dua periode dengan interval 21 hari per
periode.
Gambar 1. Peta Taman Wisata Alam dan Cagar Alam Pananjung
Pangandaran, Jawa Barat, Indonesia
Keterangan: garis merah TWA; garis ungu CA
FIRDAUS Estimasi daya dukung habitat rusa timor
25
Cara kerja
Sensus populasi rusa timor
Sensus populasi rusa timor dilakukan dengan
penghitungan individu rusa timor di titik pengamatan yang
berbeda (Gambar 2). Penghitungan dilakukan dalam waktu
yang bersamaan supaya tidak terjadi pengulangan
penghitungan individu rusa timor di tempat lain.
Pengamatan dilakukan pada pagi hari (pukul 07.00-08.00)
dan sore hari (16.00-17.00) selama lima hari berturut-turut.
Pengamatan kelas umur rusa timor dibedakan menjadi tiga,
yakni anakan (<1 tahun), remaja (1-2 tahun), dan dewasa
(>2 tahun) (Semiadi dan Nugraha 2004). Pada kelas umur
dewasa dan muda dilakukan pula pengamatan jenis
kelamin jantan dan betina.
Kerimbunan tumbuhan pakan rusa timor
Kerimbunan tumbuhan pakan rusa timor dilakukan
dengan menguantifikasi persentase tutupan spesies
tumbuhan terhadap plot secara subjektif. Empat bilah
bambu diletakkan saling melintang radial di atas plot
sehingga plot terbagi menjadi delapan partisi yang lebih
kecil untuk memudahkan perhitungan persentase. Plot
konstukrif berukuran satu meter persegi berjumlah 30 buah
yang disusun secara teratur (Gambar 3).
Spesies tumbuhan yang dianalisis adalah tumbuhan
pakan rusa timor di Padang Rumput Cikamal mengacu
pada Kangiras (2009) dan Purwanto (2013) sebagaimana
terdapat pada Tabel 1.
Tabel 1. Jenis tumbuhan bawah pakan rusa timor di Padang
Rumput Cikamal, CA Pananjung Pangandaran
No.
Nama lokal
Spesies
Palatabilitas
Sumber
data
1
Jampang Pait
Axonopus
compressus
0.62
Purwanto
(2013)
2
Lampuyang
Panicum
repens
0.41
Purwanto
(2013)
3
Mumundingan
Fimbristylis
aestivalis
0.33
Purwanto
(2013)
4
Rumput teki
Cyperus
kyllingia
0.33
Purwanto
(2013)
5
Rumput
kekerisan
Fimbristylis
dichotoma
0.26
Purwanto
(2013)
6
Jampang
kawat
Cynodon
dactylon
0.21
Purwanto
(2013)
7
Domdoman
Chrysopogon
aciculatus
0.17
Purwanto
(2013)
8
Mata kancil
Grona
triflora
0.36
Kangiras
(2009)
Gambar 2. Area pengamatan rusa timor di Taman Wisata Alam Pananjung Pangandaran, Jawa Barat, Indonesia
PROS SEM NAS MASY BIODIV INDON
8 (1): 23-30, Maret 2022
26
Gambar 3. Area pengamatan kerimbunan tumbuhan pakan di Padang Rumput Cikamal, Cagar Alam Pananjung Pangandaran, Jawa
Barat, Indonesia
Produktivitas tumbuhan pakan rusa timor
Metode pada pengukuran produktivitas tumbuhan
pakan ini adalah eksperimen lapangan. Penelitian ini
dilakukan pada plot konstruktif yang juga digunakan untuk
menganalisis kerimbunan vegetasi di Padang Rumput
Cikamal. Tumbuhan yang telah teridentifikasi sebagai
tumbuhan pakan rusa timor dipotong hingga menyisakan
tinggi sekitar 1 cm. Pemotongan dilakukan pada waktu
yang bersamaan, yakni pukul 07.00-09.00. Potongan
tumbuhan pakan rusa timor ditimbang dalam satuan gram.
Bagian tumbuhan yang tidak dipotong dibiarkan tumbuh
kemudian dilakukan pemotongan dan penimbangan pada
21 hari berikutnya (Kwatrina et al. 2016; Prasetyonohadi
1986). Pemotongan dan penimbangan tumbuhan pakan
rusa timor dilakukan sebanyak dua kali pengulangan.
Untuk mengetahui produktivitas tumbuhan pakan di
kawasan Padang Rumput Cikamal, diambil data rata-rata
dari periode 1 (22 November-12 Desember 2020) dan
periode 2 (13 Desember 2020-2 Januari 2021). Data
tersebut dihitung dalam skala luasan kawasan Padang
Rumput Cikamal untuk periode waktu satu tahun (Susetyo
1980).
Analisis data
Estimasi daya dukung habitat rusa timor
Estimasi daya dukung habitat didasari oleh perhitungan
menurut Susetyo (1980) berikut:
dengan:
X=daya dukung (ekor/tahun)
P=produktivitas tumbuhan pakan (kg/m2/tahun)
A=luas kawasan (m2)
α=faktor koreksi (0,7)
C=konsumsi pakan (kg/ekor/tahun)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sensus populasi rusa timor
Rasio rusa timor jantan dan betina adalah 17:14 untuk
kelas umur dewasa, 1:1 untuk kelas umur remaja, dan
untuk kelas umur anak tidak diketahui perbandingan jantan
dan betinanya karena belum terlihat perbedaan antara
keduanya jika diamati dari jarak jauh. Rusa timor
memasuki umur remaja pada 12-18 bulan dan telah dapat
dibedakan jenis kelaminnya secara visual dengan mulai
tumbuhnya rangga pada jantan. Rasio ideal jantan dan
betina rusa timor untuk semua kelas umur berada pada
rentang 2:12-20 (Semiadi dan Nugraha 2004), sehingga
rasio jenis kelamin semua kelas umur rusa timor di
kawasan CA Pananjung Pangandaran belum tergolong
ideal. Berdasarkan informasi dari staf CA Pananjung
Pangandaran, populasi dan rasio jenis kelamin rusa timor di
kawasan tersebut belum ideal disebabkan oleh aktivitas
rusa timor yang berkeliaran terlalu jauh dan tidak kembali
ke habitat aslinya. Selain itu, pihak CA Pananjung
Pangandaran pun tidak mendapatkan reintroduksi individu
rusa timor dari tempat lain untuk menambah keragaman
genetik dan proporsi jenis kelamin. Reintroduksi diyakini
dapat memulihkan struktur populasi spesies satwa tertentu
di habitatnya (Rahmanita dan Bashari 2020).
FIRDAUS Estimasi daya dukung habitat rusa timor
27
Kerimbunan tumbuhan pakan rusa timor
Pengamatan kerimbunan dalam plot difokuskan pada
tumbuhan yang menjadi pakan rusa timor. Namun, terdapat
pula kelompok kerimbunan jenis tumbuhan lain sehingga
data yang didapatkan dikelompokkan menjadi tiga, yakni
tumbuhan pakan rusa timor, tidak bervegetasi, dan
tumbuhan non-pakan rusa timor (Tabel 3).
Persentase tumbuhan pakan rusa timor mengalami
penurunan setelah dua periode pemotongan (Gambar 4).
Fenomena tersebut menunjukkan tumbuhan pakan rusa
timor di kawasan Padang Rumput Cikamal membutuhkan
waktu relatif lebih dari tiga minggu (20 hari) untuk tumbuh
optimal seperti hasil periode 0, berbeda dengan penelitian
Takandjandji (2009) dan Azwar et al. (2019) yang
menggunakan interval waktu 20 hari, 30 hari, dan 40 hari
sehingga dapat diketahui waktu untuk menghasilkan
produktivitas pakan rusa timor optimum. Komposisi
tumbuhan rerumputan (yang merupakan tumbuhan gulma
bagi pertanian) dipengaruhi oleh umur panen masing-
masing spesies (Habibah 2016). Spesies yang mencapai
musim panen lebih singkat akan mendominasi area.
Menurut Mokoginta et al. (2017), dominasi rerumputan dan
tumbuhan bawah juga dipengaruhi oleh toleransi tumbuhan
terhadap naungan. Rincian jenis tumbuhan pakan rusa
timor di Padang Rumput Cikamal terdapat pada Gambar 4.
Hasil penelitian menunjukkan Cynodon dactylon
mendominasi tumbuhan bawah di area penelitian. Hasil ini
sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Kangiras
(2009). C. dactylon mendominasi di Padang Rumput
Cikamal dengan persentase 41,635%, diikuti oleh
Chrysopogon aciculatus sebesar 40,442%. Cynodon
dactylon tetap mendominasi kawasan Padang Rumput
Cikamal walaupun pada periode 1 dan 2 terjadi penurunan
daripada periode 0. Hal tersebut menunjukkan C. dactylon
dapat tumbuh sekalipun telah dilakukan pemotongan.
Cynodon dactylon merupakan spesies invasif yang
memiliki pertumbuhan dan perkembangbiakan generatif
dan vegetatif yang cepat serta menyebar pada area yang
luas terbuka (Tjitrosoedirjo et al. 2016). Salah satu bentuk
ketahanan C. dactylon dalam kondisi lingkungan kritis
adalah eksistensinya pada lahan bekas pembabatan dan
pembakaran semak belukar di Padang Rumput Cikamal.
Padahal pembakaran semak dan lahan dapat menyebabkan
hilangnya vegetasi dan faktor-faktor regenerasinya
(Darwiati dan Tuheteru 2010). Cynodon dactylon dapat
bertahan hidup dalam keadaan ekstrem dibandingkan
rumput jenis lain serta persebarannya luas karena
mempunyai biji yang kecil dan banyak (Gilliland et al.
1971). Sementara itu, Axonopus compressus dan Grona
triflora memiliki eksistensi yang rendah di Padang Rumput
Cikamal sebab keduanya hidup pada hamparan C.
dactylon. Cynodon dactylon memiliki rizom yang menjalar
luas dan senyawa alelokimia yang dapat menghambat
pertumbuhan vegetasi lain (Golparvar et al. 2015).
Sementara itu, spesies non-pakan rusa timor yang umum
dijumpai di Padang Rumput Cikamal adalah Imperata
cylindrica, Cyperus rotundus, Oldenlandia sp.,
Chromolaena odorata, dan Blumea balsamifera sesuai
dengan Purwanto (2013) terkait data palatabilitas pakan
rusa timor di CA Pananjung Pangandaran bahwa kelima
spesies tersebut tidak termasuk tumbuhan yang disukai
oleh rusa timor. Persentase tumbuhan-tumbuhan tersebut
terdapat pada Gambar 5.
Imperata cylindrica dan Cyperus rotundus dapat mudah
tumbuh dan berkembang biak karena memilik rimpang
yang menghasilkan senyawa alelokimia yang dapat
menghambat pertumbuhan spesies pesaing, termasuk
Oldenlandia sp., Chromolaena odorata, dan Blumea
balsamifera. Senyawa alelokimia yang dihasilkan I.
cylindrica dan C. rotundus adalah fenol (Kusuma et al.
2017; Martiana 2018). Dampak akibat alelopati diawali
dengan kontak membran plasma dengan senyawa
alelokimia sehingga memunculkan sinyal yang mengarah
ke dalam sel dan kemudian direspon dengan penghambatan
penyerapan, pertukaran ion, dan permeabilitas membran
plasma (Firmansyah et al. 2018). Oldenlandia sp., C.
odorata, dan B. balsamifera di Padang Rumput Cikamal
tumbuh di antara rimbunan I. cylindrica dan C. rotundus
sehingga pertumbuhan ketiganya terindikasi dipengaruhi
oleh alelopati dari I. cylindrica dan C. rotundus. Alelopati
dari I. cylindrica dan C. rotundus pun berpotensi menekan
pertumbuhan tumbuhan pakan rusa timor, termasuk
Cynodon dactylon (Sari et al. 2017). Namun, dalam kondisi
tertentu C. dactylon menghasilkan senyawa alelokimia
yang mampu menekan germinasi benih I. cylindrica
(Mahdi 2012).
Tabel 3. Kerimbunan vegetasi bawah di Padang Rumput
Cikamal, CA Pananjung Pangandaran, Jawa Barat, Indonesia
Kelompok kerimbunan
P0 (%)
P1 (%)
P2 (%)
Tumbuhan pakan rusa timor
68,33
61,80
61,53
Tumbuhan non-pakan
30,53
31,87
32,07
Keterangan: P0, P1, P2: periode
Tabel 2. Hasil sensus populasi rusa timor di TWA Pananjung Pangandaran, CA Pananjung Pangandaran, Jawa Barat, Indonesia
Kelas umur
Dewasa
Muda
Anakan
Total
Jenis kelamin
Jantan
Betina
Jantan
Betina
Jumlah (ekor)
17
14
2
2
8
43
PROS SEM NAS MASY BIODIV INDON
8 (1): 23-30, Maret 2022
28
Gambar 4. Kerimbunan tumbuhan pakan rusa timor di Padang Rumput Cikamal, CA Pananjung Pangandaran, Jawa Barat, Indonesia
Gambar 5. Kerimbunan tumbuhan non-pakan rusa timor di Padang Rumput Cikamal, CA Pananjung Pangandaran, Jawa Barat,
Indonesia
Produktivitas tumbuhan pakan rusa timor
Bobot basah vegetasi pakan rusa timor pada periode 0
tidak dihitung dalam rata-rata produktivitas pakan sebab
periode tersebut tidak termasuk ke dalam interval waktu
eksperimen dan hanya dijadikan sebagai pembanding untuk
bobot basah pakan rusa timor pada priode 1 dan 2.
Penelitian dilakukan pada musim hujan sehingga
produktivitas pakan rusa timor pada musim kemarau
diperoleh dari 50% produktivitasnya di musim hujan
(Susetyo 1980). Penelitian Kangiras (2009) mencatat
produktivitas Padang Rumput Cikamal sebesar 487.105
kg/tahun. Hasil tersebut menunjukkan perbedaan yang
sangat jauh jika dibandingkan dengan hasil penelitian ini
yang hanya mendapatkan 63,408 kg/tahun. Faktor utama
dari perbedaan tersebut adalah luasan Padang Rumput
Cikamal yang dijadikan acuan perhitungan pada penelitian
ini adalah 4,4 hektar, sedangkan Kangiras (2009) dalam
perhitungan produktivitas tumbuhan pakan menggunakan
Padang Rumput Cikamal seluas 20 ha atau sekitar 200.000
m2. Faktor lainnya adalah aktivitas eradikasi dan suksesi di
kawasan Padang Rumput Cikamal selama tahun 2009-2020
telah mengubah komposisi vegetasi dalam kawasan
tersebut. Saat penelitian ini dilakukan, terdapat pula
tunggul jati (Tectona grandis) yang mulai tumbuh kembali
di Padang Rumput Cikamal sehingga menyebabkan luas
area terbuka berumput di kawasan tersebut berkurang.
Cynodon dactylon sebagai spesies rumput yang
mendominasi Padang Rumput Cikamal merupakan spesies
yang intoleran terhadap naungan.
FIRDAUS Estimasi daya dukung habitat rusa timor
29
Tabel 4. Produktivitas tumbuhan pakan rusa timor di Padang
Rumput Cikamal, CA Pananjung Pangandaran, Jawa Barat,
Indonesia
Periode
0
1
2
Bobot Basah (gr/30 m2)
9.675
2.634
3.953
Produktivitas seluruh Cikamal 44.307
m2 (kg/21 hari)
14.289
3.890
5.838
Rata-rata produktivitas (kg/21 hari)
-
4.864
Produktivitas saat musim hujan (kg)
-
42.272
Produktivitas saat musim kemarau
(kg)
-
21.136
Produktivitas (kg/tahun)
-
63.408
Estimasi daya dukung habitat rusa timor
Padang Rumput Cikamal memiliki produktivitas
tumbuhan pakan rusa timor sebesar 63.408 kg/tahun.
Dengan tingkat konsumsi pakan rusa timor di CA
Pangandaran berdasarkan penelitian Kangiras (2009)
sebesar 6,725 kg/hari/individu, maka estimasi daya dukung
habitat rusa timor di Padang Rumput Cikamal adalah
sebesar 18 ekor rusa timor/tahun atau 42% dari total
populasi rusa timor yang teramati. Estimasi daya dukung
dapat berubah apabila angka konsumsi pakan harian rusa
timor yang digunakan berbeda. Rihatni (2013)
menyebutkan konsumsi pakan rusa timor adalah 6
kg/hari/individu sedangkan Nurinsi (2019) menyampaikan
konsumsi pakan rusa timor adalah 9,56-9,65
kg/hari/individu. Perbedaan tingkat konsumsi pakan rusa
timor dipengaruhi oleh jenis pakan yang dikonsumsi, umur,
jenis kelamin, dan habitat rusa timor (Nurinsi 2019). Jika
dilihat dari jumlah rusa timor yang melebihi daya dukung
Padang Rumput Cikamal dan dengan aktivitas rusa timor
yang berkeliaran hingga ke luar kawasan CA Pananjung
Pangandaran, ketersediaan pakan rusa timor di luar Padang
Rumput Cikamal terindikasi memenuhi kebutuhan rusa
timor. Pada dasarnya, populasi suatu spesies dapat
bertambah apabila lingkungannya memiliki daya dukung
yang mumpuni untuk kehidupan spesies tersebut
(Mohapatra 2012).
Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah
populasi rusa timor di Cagar Alam Pananjung Pangandaran
terhitung 43 ekor, terdiri dari 17 ekor jantan dewasa, 14
ekor betina dewasa, 2 ekor jantan muda, 2 ekor betina
muda, dan 8 ekor anakan. Rasio rusa timor jantan dan
betina untuk seluruh kelas umur tergolong belum ideal.
Idealnya jumlah betina lebih banyak daripada jantan.
Kerimbunan tumbuhan di Padang Rumput Cikamal, CA
Pananjung Pangandaran, terdiri dari 68,33% tumbuhan
pakan rusa timor, 30,53% tumbuhan non-pakan rusa timor,
dan 1,13% tidak bervegetasi. Tumbuhan pakan rusa timor
di Padang Rumput Cikamal terdiri dari Cynodon dactylon
53,00%, Abildgaardia ovata 8,20%, Chrysopogon
aciculatus 6,40%, Grona triflora 0,60%, dan Axonopus
compressus 0,13% pada periode 0 dan mengalami
penurunan persentase pada periode 1 dan 2. Sementara itu,
tumbuhan non-pakan rusa timor di kawasan tersebut terdiri
dari Imperata cylindrica 20.00%, Cyperus rotundus 5.67%,
Oldenlandia sp. 3.00%, Chromolaena odorata 1,67%, dan
Blumea balsamifera 0,20% pada periode 0 serta terdapat
kenaikan persentase tidak drastis pada periode 1 dan 2.
Eksperimen di lapangan menghasilkan bobot basah
tumbuhan pakan rusa timor di Padang Rumput Cikamal
sebesar 63.408 kg/tahun dan terestimasi daya dukung
habitat Padang Rumput Cikamal sebesar 18 ekor rusa timor
pertahun. Dengan demikian, pada tahun 2021 Padang
Rumput Cikamal belum mampu menampung populasi rusa
timor di CA Pananjung Pangandaran.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Program
Studi Rekayasa Kehutanan-Sekolah Ilmu dan Teknologi
Hayati-Institut Teknologi Bandung dan Balai Besar
Konservasi dan Sumber Daya Alam Jawa Barat Resor
Pangandaran yang telah memberikan bantuan dan
dukungan terhadap penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Azwar F, Masy’ud B, Garsetiasih R. 2019. Potensi hijauan pakan dan
daya dukung Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK)
Kemampo sebagai areal penangkaran rusa sambar (Rusa unicolor).
Media Konservasi 24 (1): 94-102. DOI:
10.13140/RG.2.2.10470.86082. [Indonesian]
Darwiati W, Tuheteru FD. 2010. Dampak kebakaran hutan terhadap
pertumbuhan vegetasi. Jurnal Mitra Hutan Tanaman 3 (1): 27-32.
[Indonesian]
Firmansyah GW, Djunaedy A, Badami K. 2018. Ekstrak daun alang-alang
(Imperata cylindrica L.) terhadap viabilitas dan pertumbuhan awal
jagung varietas Madura 1 dan Madura 3. Agrovigor 11 (1): 47-51.
DOI: 10.21107/agrovigor.v11i1.4303. [Indonesian]
Gilliland HB, Holttum RE, Bor NL. 1971. Grasses of Malaya. In: Burkill
HM (ed) Flora of Malaya. Lim Bian Han, Government Printer,
Singapura.
Golparvar AR, Hadipanah A, Sepehri A, Salehi S. 2015. Allelopathic
effects of bermuda grass (Cynodon dactylon L. Pers.) extract on
germination and seedling growth of basil (Ocimum basilicum L.) and
common purslane (Portulaca oleracea L.). J Biodivers Environ Sci 6
(5): 137-143.
Habibah N. 2016. Pemetaan Gulma Berdasarkan Stadia Pertumbuhan
Tanaman Nanas (Ananas comosus L.). [Skripsi]. Universitas
Lampung, Bandar Lampung. [Indonesian]
Kangiras GE. 2009. Pendugaan Daya Dukung dan Model Pertumbuhan
Populasi Rusa Timor di Cagar Alam/Taman Wisata Alam Pananjung
Pangandaran, Ciamis Jawa Barat. [Tesis]. Institut Pertanian Bogor,
Bogor. [Indonesian]
Kusuma AVC, Chozin MA, Guntoro D. 2017. Senyawa fenol dari tajuk
dan umbi teki (Cyperus rotundus L.) pada berbagai umur
pertumbuhan serta pengaruhnya terhadap perkecambahan gulma
berdaun lebar. J Agron Indonesia 45 (1): 100-107. DOI:
10.24831/jai.v45i1.11842. [Indonesian]
Kwatrina RT, Takandjandji M, Bismark M. 2016. Ketersediaan tumbuhan
pakan dan daya dukung habitat Rusa timorensis de Blainville, 1822 di
Kawasan Hutan Penelitian Dramaga. Buletin Plasma Nutfah 17 (2):
129-137. DOI: 10.21082/blpn.v17n2.2011.p129-137. [Indonesian]
Mahdi AS. 2012. Competition between two wild plant species (Imperata
cylindrica and Cynodon dactylon) in semi-natural pasture. Diyala
Agric Sci J 4 (1): 17-27.
Martiana F. 2018. Potensi Alelokimia Ekstrak Rimpang Alang-Alang
(Imperata cylindrica) untuk Mengendalikan Gulma Bandotan
(Ageratum conyzoides). [Skripsi]. Universitas Sanata Dharma,
Yogyakarta. [Indonesian]
Mohapatra SP. 2012. An ecological analysis of carrying capacity and
sustainability. Intl J Curr Sci Res 2 (2): 335-338.
Mokoginta N, Musa N, Pembengo W. 2017. Keragaman populasi gulma
berdasarkan aplikasi mulsa plastik, mulsa cangkang telur dan mulsa
PROS SEM NAS MASY BIODIV INDON
8 (1): 23-30, Maret 2022
30
jerami padi pada tanaman cabai (Capsicum annuum L.). JATT 6 (3):
330-337. [Indonesian]
Nurinsi ZS. 2019. Perilaku Harian dan Preferensi Pakan Rusa Timor
(Rusa timorensis) di Taman Rusa Bumi Patra, Indramayu. [Skripsi].
Institut Pertanian Bogor, Bogor. [Indonesian]
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia
Nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan
dan Satwa Yang Dilindungi. [Indonesian]
Prasetyonohadi D. 1986. Telaahan Tentang Daya Dukung Padang Rumput
di Suaka Margasatwa Pulau Moyo sebagai habitat rusa (Cervus
timorensis). [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor, Bogor. [Indonesian]
Purwanto A. 2013. Kelimpahan pakan rusa (Cervus timorensis) di Taman
Wisata Alam dan Cagar Alam Pangandaran. Paspalum 2 (1): 45-62.
DOI: 10.35138/paspalum.v2i1.52. [Indonesian]
Rahmanita D, Bashari H. 2020. Pedoman Pelepasliaran Satwa Liar di
Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (dikembangkan dan
disesuaikan dari panduan yang dikeluarkan oleh IUCN 2013). Balai
Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dan Enhancing the
Protected Area System in Sulawesi for Biodiversity Conservation
(EPASS)-Project, Kotambagu. [Indonesian]
Rihatni R. 2013. Preferensi Pakan Tambahan Limbah Sayuran pada Rusa
Timor (Rusa timorensis) di Penangkaran dan Pengaruhnya terhadap
Perilaku Makan. [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
[Indonesian]
Sari VI, Nanda S, Sinuraya R. 2017. Bioherbisida pra tumbuh alang-alang
(Imperata cylindrica) untuk pengendalian gulma di perkebunan
kelapa sawit. Jurnal Citra Widya Edukasi 9 (3): 301-308. [Indonesian]
Semiadi G, Nugraha RTP. 2004. Panduan Pemeliharaan Rusa Tropis.
Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu dan Penelitian Indonesia,
Bogor. [Indonesian]
Susetyo S. 1980. Padang Penggembalaan. Fakultas Peternakan Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Takandjandji M. 2009. Desain Penangkaran Rusa Timor berdasarkan
Analisis Komponen Bio-ekologi dan Fisik di Hutan Penelitian
Dramaga, Bogor. [Tesis]. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
[Indonesian]
Tjitrosoedirjo S, Setyawati T, Sunardi, Subiakto A, Irianto R, Garsetiasih
R. 2016. Pedoman Analisis Risiko Tumbuhan Asing Invasif (Post
Border). Forest in South East Asia (FORIS) Indonesia, Bogor.
[Indonesian]
... In Pangandaran Nature Reserve (hereafter 'PNR'), Javan deer roam outside the conservation area, foraging on trashes, destructing public infrastructures, polluting the Pangandaran Beach tourist destination, disturbing local people's activities, and blocking transportation access that harms the deer themselves. The most robust hypothesis about the causal factors related to Javan deer roaming outside PNR are the scarcity of natural feed inside PNR (Firdaus et al. 2022) and the behaviour pattern changes of the species (Withaningsih et al. 2020). ...
... Eight individuals of the herd consisted of two adult females, a juvenile female, three juvenile males, and two fawns. The herd was less than 20% of the census which was 43 individuals with a substandard 17:14 ratio of male to female (Firdaus et al. 2022) and indicated that the majority of Javan deer present outside Cikamal were either still in the conservation area (forest area in PNR and PNTP) or roaming out of the conservation area border. The herd was often encountered in the morning (06.00-10.00), ...
... In 1970s, 18 ha in Cikamal, 8 ha in Nanggorak, and 15 ha in Badeto were all grazing areas (Sumardja & Kartawinata 1977), then in 2011 were 3 ha, 0 ha, and 0 ha, respectively (Rosleine & Suzuki 2012). In 2021, 4.4 ha in Cikamal was still grassland (Firdaus et al. 2022). The grazing areas in PNTP were threatened by the shade of the tree canopy around the grassy area and the distribution of forest vegetation seedlings (Kangiras 2009 cover by succession have also occurred in various conservation areas in Indonesia, including the Bekol Savana in Baluran National Park which was threatened by the invasion of Acacia nilotica (Istomo & Farida 2017;Muis et al. 2018) and the succession of the Cigenter Grassland in Ujung Kulon National Park Arenga obtusifolia (Febriana et al. 2019). ...
Article
Full-text available
The habitat of Javan deer in Pangandaran Nature Reserve (PNR) faced natural changes, particularly due to the succession process of vegetation community in grazing areas, and inadequate infrastructures that affected the deer to roam outside PNR. This study aimed to formulate strategies for the conservation of Javan deer in PNR, focusing on ecological aspects and conservation management. The methods were encountering Javan deer individuals; scan sampling and continuous recording to observe the behaviour of Javan deer; calculating the productivity of grazing area by defoliation experiment and vegetation analysis; reviewing documents, reports and interviews; and analysing strategy using SWOT-QSPM. Results showed there were 43 Javan deer encountered roaming in PNR and outside the conservation area, and nine individuals gathered in Cikamal grassland. The productivity of the grazing areas (5.61 ha) was 93,826 kg of feed annually and was only sufficient for 23 individuals. The grazing areas were dominated by Cynodon dactylon. Javan deer spent their time feeding. Javan deer herd in Cikamal is more intolerant to humans compared to the herd in Pangandaran Nature Tourist Park (PNTP). This study recommends: considering the management status of Javan deer in the conservation management of PNR and PNTP; improving the conservation management of Javan deer and its habitat; improving facilities and the management system of those facilities and conservation-supporting infrastructures;collaboration with researchers to perform some research and innovations for Javan deer conservation ; improving the capability of PNR staff theoretically and practically; and educating and empowering the local people in terms of Javan deer conservation.
Article
Full-text available
Daun alang-alang (Imperata cylindrica L.) dapat digunakan sebagai mulsa organik yang mendukung pertumbuhan tanaman jagung melalui penghambatan pertumbuhan gulma dan juga menambah bahan organik tanah. Namun alelopati alang-alang dapat beresiko mengnganggu perkecambahan biji jagung. Oleh karena itu evaluasi pengaruh alelopati daun alang-alang perlu dilakukan untuk menghindari efek negatifnya pada tanaman jagung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui effek alelopati daung alang-alang terhadap perkecambahan dan pertumbuhan awal biji jagung. Perlakuan pada penelitian ini yaitu pervedaan konsentrasi ekstrak daun alang-alang dan varietas jagung. Konsentrasinya meliputi 0, 7, 14, 21 g mL-1 dan varietas jagung menggunakan Madura 1 and Madura 3. Parameter yang diamati dalam penelitian ini meliputi persentase perkecambahan, laju perkecambahan, panjang tanaman dan panjang akar. Seluruh perlakuan menunjukkan hasil yang significant terhadap semua parameter kecuali laju perkecambahan. Hasil pertumbuhan dan perkecambahan terendah ditunjukkan pada konsentrasi 21 g 250 mL-1 dan varietas Madura 3 menunjukkan hasil yang lebih baik dari Madura 1.
Article
Full-text available
em>Purple nutsedge (Cyperus rotundus L.) is noxious weed that contains allelochemicals which inhibit other plants germination, thereby it can be potentially used as bioherbicide. Laboratorium experiments were conducted to identify phenol compound in purple nutsedge’s shoot and tuber from three plant ages, and to study its effect on germination of Asystasia gangetica and Borreria alata. First experiment was single factor using descriptive method and the second experiment was arranged in completely randomized design with single factor. The first experiment treatments were shoot and tuber extracts of purple nutsedge from 1, 2, and 3 months after planting. The second experiment treatments were control, shoot, tuber, and all parts extracts of purple nutsedge from 1, 2, and 3 months after planting, with 3 replications. Data from the second experiment was analyzed using F test and followed by Tukey test 5%. Result showed that shoot extracts from 2 months after planting had the highest type of phenol compound namely 2-methoxy-4-vinylphenol; phenol,2,6-dimethoxy; 2-furanmethanol; and α-tocopherol. Tuber extract from 3 months after planting suppressed germination rate of A. gangetica about 54.72%. All parts extracts from 2 months after planting suppressed germination rate of B. alata about 60.98%. Purple nutsedge’s extracts inhibited growth of plumule and radicle of B. alata at 2 days after sowing. This showed that purple nutsedge’s extract gave different effects on different weed species. Keywords: allelochemicals, Asystasia gangetica, bioherbicide, Borreria alata, suppression</em
Article
Full-text available
p>Feed Plant Availability and Carrying Capacity of Rusa timorensis deBlainville, 1822 at Dramaga Research Forest Area. The research was conducted to know potenstial feed plant availability and carrying capacity at Dramaga Research Forest Area. Data was collected by measuring feed plant productivity of 45 plots with size 1 m x 1 m, and consumption level of four rusa deer (Rusa timorensis de Blainville, 1822). The result showed that the highest feed plant productivity was 17,362.09 kg/ha/year, and the lowest was 502.22 kg/ha/year. Light intensity correlation (y. lux) with dry weight production in 20 days (x. kg/ha), is y = 4.64 x -15.46 (r = 0.95). Feed plant availability was 121,607.01 kg/year, while consupmtion level based on fresh weight was 6,4 kg/individual/day or 2,336 kg/individual/year. Carrying capacity on observation area (11.9 ha) was 52 individual/year or 3.13 individual/ha/year. Abstrak Penelitian bertujuan untuk mengetahui ketersediaan hijauan pakan potensial serta daya dukung kawasan Hutan Penelitian Dramaga sebagai sumber pakan rusa timor (Rusa timorensis de Blainville, 1822) di penangkaran. Pengukuran produktivitas hijauan pakan dilakukan dalam 45 plot contoh berukuran 1 m x 1 m, serta pengamatan tingkat konsumsi pakan terhadap empat individu rusa timor (R. timorensis) yang mewakili jantan, betina, kelas umur anak dan dewasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas bobot basah hijauan pakan rusa timor (R. timorensis) di Hutan Penelitian Dramaga tertinggi adalah 17.362,09 kg/ha/tahun dan yang terendah sebesar 502,22 kg/ ha/tahun. Korelasi produktivitas hijauan dengan intensitas cahaya (y, lux) dengan produktivitas bobot kering dalam 20 hari (x, kg/ha) adalah y = 4,64 x -15,46 (r = 0,95). Ketersediaan pakan rata-rata pada Hutan Penelitian Dramaga sebesar 121.607,01 kg/tahun sedangkan tingkat konsumsi pakan rusa timor (R. timorensis) berdasarkan bobot basah pakan adalah 6,4 kg/individu/hari atau 2.336 kg/individu/tahun. Pada areal yang diamati seluas 11,9 ha maka daya dukung habitat adalah 52 individu/tahun atau rata-rata sebesar 3,13 individu/ha/tahun.</p
Article
Full-text available
1.Why Carrying Cappacity? 2.Carrying Capacity and Human Load 3.The Ecological Argument Conventional wisdom suggests that because of technology and trade, human carrying capacity is infinitely expandable and therefore virtually irrelevant to demography and development planning. By contrast, this article argues that ecological carrying capacity remains the fundamental basis for demographic accounting. A fundamental question for ecological economics is whether remaining stocks of natural capital are adequate to sustain the anticipated load of the human economy into the next century. Since mainstream (neoclassical) models are blind to ecological structure and function, they cannot even properly address this question. The present article therefore assesses the capital stocks, physical flows, and corresponding ecosystems areas required to support the economy using "ecological footprint" analysis. According to Garrett Hardin [1], " carrying capacity is the fundamental basis for demographic accounting. " On the other hand, conventional economists and planners generally ignore or dismiss the concept when applied to human beings. Their vision of the human economy is one in which " the factors of production are infinitely substitutable for one another " and in which " using any resource more intensely guarantees an increase in output " [2]. As Daly [3] observes, this vision assumes a world " in which carrying capacity is infinitely expandable " (and therefore irrelevant). Clearly there is great division over the value of carrying capacity concepts in the sustainability debate. Despite our increasing technological sophistication, humankind remains in a state of " obligate dependence " on the productivity and life support services of the ecosphere. Thus, from an ecological perspective, adequate land and associated productive natural capital are fundamental to the prospects for continued civilized existence on Earth. However, at present, both the human population and average consumption are increasing while the total area of productive land and stocks of natural capital are fixed or in decline. These opposing trends demand a revival of carrying capacity a n a l y s i s i n s u s t a i n a b l e d e v e l o p m e n t p l a n n i n g. For purposes of game and range management, carrying capacity is usually defined as the maximum population of a given species that can be supported indefinitely in a defined habitat without permanently impairing the productivity of that habitat. However, because of our seeming ability to increase our own carrying capacity by eliminating competing species, by importing locally scarce resources, and through technology, this definition seems irrelevant to humans. Indeed, trade and technology are often cited as reasons for rejecting the concept of human carrying capacity out of hand. This is an ironic error, shrinking carrying capacity may soon become the single most important issue confronting humanity. The reason for this becomes clearer if we define carrying capacity not as a maximum population but rather as the maximum "load" that can safely be imposed on the environment by people. Human load is a function not only of population but also of per capita consumption and the latter is increasing even more rapidly than the former due (ironically) to expanding trade and technology. Despite our technological, economic, and cultural achievements, achieving sustainability requires that we understand human beings as ecological entities. Indeed, from a functional perspective, the relationship of humankind to the rest of the ecosphere is similar to those of millions of other species with which we share the planet. We depend for both basic needs and the production of artifacts on energy and material resources extracted from nature and all this energy/matter is eventually returned in
Article
The research on abudance and species diversity of birt with the IPA (Indices Ponctuels d’Abondence). method was used to sample the birds in the Ciremai mount area, and also dird identification guide book for determine. A total of 60 individual birds belonging to 23 families and 46 species was recorded. The dominant family was silsiidae, comprising 8 species (13,33%) of the total species. The most abundant species in the mount Ciremai was the burung kacamata biasa (Zosterops palpebrosus). The analysis of abudance and species diversity of bird status was achieved about 11 endemic species, and 15 species as restricted range bird. Based on Indonesia Governmen Policy and IUCN International Convention, there are 21 species as the protected bird. There were 15 feeding guild group of bird include 48 species as insectivore, 8 species as carnivore and 4 species as herbivore. The factors with threat to bird population and its habitat are : 1). Illegal hunting, 2). Forest destruction and 3). Forest fire
Potensi hijauan pakan dan daya dukung Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Kemampo sebagai areal penangkaran rusa sambar (Rusa unicolor)
  • F Azwar
  • B Masy'ud
  • R Garsetiasih
Azwar F, Masy'ud B, Garsetiasih R. 2019. Potensi hijauan pakan dan daya dukung Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Kemampo sebagai areal penangkaran rusa sambar (Rusa unicolor). Media Konservasi 24 (1): 94-102. DOI: 10.13140/RG.2.2.10470.86082. [Indonesian]
Dampak kebakaran hutan terhadap pertumbuhan vegetasi
  • W Darwiati
  • F D Tuheteru
Darwiati W, Tuheteru FD. 2010. Dampak kebakaran hutan terhadap pertumbuhan vegetasi. Jurnal Mitra Hutan Tanaman 3 (1): 27-32.
Pemetaan Gulma Berdasarkan Stadia Pertumbuhan Tanaman Nanas (Ananas comosus L.)
  • N Habibah
Habibah N. 2016. Pemetaan Gulma Berdasarkan Stadia Pertumbuhan Tanaman Nanas (Ananas comosus L.). [Skripsi]. Universitas Lampung, Bandar Lampung. [Indonesian]
Pendugaan Daya Dukung dan Model Pertumbuhan Populasi Rusa Timor di Cagar Alam/Taman Wisata Alam Pananjung Pangandaran
  • G E Kangiras
Kangiras GE. 2009. Pendugaan Daya Dukung dan Model Pertumbuhan Populasi Rusa Timor di Cagar Alam/Taman Wisata Alam Pananjung Pangandaran, Ciamis Jawa Barat. [Tesis].
Competition between two wild plant species (Imperata cylindrica and Cynodon dactylon) in semi-natural pasture
  • A S Mahdi
Mahdi AS. 2012. Competition between two wild plant species (Imperata cylindrica and Cynodon dactylon) in semi-natural pasture. Diyala Agric Sci J 4 (1): 17-27.