ArticlePDF Available

KONSELING MULTIKULTURAL SEBAGAI PENDEKATAN STUDI TERORISME

Authors:

Abstract

The purpose of this research is to describe the scientific stance of multicultural counseling and its contribution to Terrorism Studies. Attempts are made by performing a literature study on three topics: multiculturalism, multicultural counseling, and terrorism studies. This study found that Multicultural Counseling can be an appropriate approach in Terrorism Studies because Terrorism Studies currently lack the perspective of terror perpetrators' subjectivity. This need can be filled by Multicultural Counseling with its scientific qualities and distinctive capabilities. Studi ini bertujuan menjelaskan kedudukan keilmuan Konseling Multikultural serta kontribusinya dalam Studi Terorisme. Upaya menjelaskan hal tersebut ditempuh dengan cara melakukan review literatur seputar tiga isu, yaitu multikulturalisme, konseling multikultural, dan studi terorisme. Studi ini menemukan bahwa Konseling Multikultural dapat menjadi pendekatan yang baik dalam Studi Terorisme, sebab studi terorisme saat ini masih kekurangan perspektif subyektifitas pelaku teror. Konseling Multikultural dengan karakteristik keilmuan dan kemampuan khususnya mampu mengisi celah tersebut.
Jurnal Dakwah, Vol. 22, No. 1 Tahun 2021 131
KONSELING MULTIKULTURAL
SEBAGAI PENDEKATAN STUDI TERORISME
Sri Suwartini
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Email: riri.srisuwartini@gmail.com
Erham Budi Wiranto
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Email: erhambudi@gmail.com
Abstract
The purpose of this research is to describe the scientific stance of
multicultural counseling and its contribution to Terrorism Studies.
Attempts are made by performing a literature study on three topics:
multiculturalism, multicultural counseling, and terrorism studies.
This study found that Multicultural Counseling can be an appropriate
approach in Terrorism Studies because Terrorism Studies currently
lack the perspective of terror perpetrators' subjectivity. This need can
be filled by Multicultural Counseling with its scientific qualities and
distinctive capabilities.
Keywords: Multiculturalism, Multicultural Counseling, Terorism
Studies
Studi ini bertujuan menjelaskan kedudukan keilmuan Konseling
Multikultural serta kontribusinya dalam Studi Terorisme. Upaya
menjelaskan hal tersebut ditempuh dengan cara melakukan review
literatur seputar tiga isu, yaitu multikulturalisme, konseling
multikultural, dan studi terorisme. Studi ini menemukan bahwa
Konseling Multikultural dapat menjadi pendekatan yang baik dalam
Studi Terorisme, sebab studi terorisme saat ini masih kekurangan
perspektif subyektifitas pelaku teror. Konseling Multikultural
dengan karakteristik keilmuan dan kemampuan khususnya mampu
mengisi celah tersebut.
Kata kunci: Multikulturalisme, Konseling Multikultural, Studi
Terorisme
Suwartini, Wiranto: Konseling Multikultural
Sebagai Pendekatan Studi Terorisme
132 Jurnal Dakwah, Vol. 22, No. 1 Tahun 2021
A. Pendahuluan
Terorisme masih terus menjadi masalah global meskipun dunia
sedang menghadapi pandemi. Selama tahun 2019 terhitung 8.500
serangan teroris di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, korban jiwa
mencapai 20.300 orang yang terdiri dari 5.460 pelaku dan 14.840
korban.
1
Meskipun aksi terorisme cenderung menurun selama masa
pandemi Covid-19, namun tidak berarti terorisme telah terhenti.
Berbagai penangkapan terduga teroris pun masih dilakukan selama
masa pandemi. Misalnya yang terbaru adalah penangkapan empat
terduga teroris di Bekasi pada 29 Maret 2021 dengan barang bukti
bom aktif dan racikan bahan peledak.
2
Terduga teroris juga
ditangkap di Surabaya, Tuban, dan Yogyakarta pada awal April 2021.
Mereka terkait jaringan Jamaah Islamiyah (JI) dan Jamaah Ansharud
Daulah (JAD).
3
Bahkan sebelumnya, sebanyak 18 terduga teroris
ditangkap dalam waktu satu minggu di Sumatera Utara.
4
Beberapa
peristiwa tersebut hanyalah contoh betapa terorisme masih menjadi
aktivitas yang nyata meski sedang terjadi outbreak global akibat
Covid-19.
Upaya meredam terorisme sudah banyak dilakukan yang
secara umum menerapkan dua pendekatan, yaitu hard approach dan
soft approach. Pendekatan yang keras ditempuh untuk upaya-upaya
penindakan terhadap aksi terorisme, sedangkan pendekatan yang
lunak lebih banyak diterapkan untuk ranah pencegahan dan
penyadaran. Hard approach ditempuh oleh satuan keamanan dan
1
Miller, Erin. 2020. "Global Terrorism Overview: Terrorism in 2019." College Park,
MD. July.
2
Kompas Cyber Media, “Fakta Penangkapan Terduga Teroris di Bekasi dan Condet,
Sita 5 Bom Aktif dan Terkait dengan Bom di Makassar Halaman all,” KOMPAS.com,
March 29, 2021, https://megapolitan.kompas.com/read/2021/03/29/18494651/fakta-
penangkapan-terduga-teroris-di-bekasi-dan-condet-sita-5-bom-aktif.
3
“Densus 88 Tangkap Terduga Teroris Dari Jogja Hingga Surabaya,” accessed June 3,
2021, https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210403065542-12-625459/densus-
88-tangkap-terduga-teroris-dari-jogja-hingga-surabaya.
4
Tim detikcom, “Rentetan Penangkapan Terduga Teroris di RI dalam Sepekan,”
detiknews, accessed June 3, 2021, https://news.detik.com/berita/d-5506639/rentetan-
penangkapan-terduga-teroris-di-ri-dalam-sepekan.
Suwartini, Wiranto: Konseling Multikultural
Sebagai Pendekatan Studi Terorisme
Jurnal Dakwah, Vol. 22, No. 1 Tahun 2021 133
militer, sedangkan soft approach banyak dilakukan para akademisi
dan lembaga swadaya masyarakat. Istilah approach dalam konteks
ini sebetulnya hanya untuk memberikan istilah bagi upaya banyak
pihak untuk “mendekati” anggota, simpatisan, dan jejaring terorisme.
Dengan demikian istilah ini bukan approach dalam arti pendekatan
keilmuan.
Adapun pendekatan keilmuan untuk melakukan studi tentang
terorisme juga semakin beragam. Pada awalnya ilmu politik dan
studi agama menjadi pendekatan paling efektif untuk memahami
terorisme. Hal ini sebagai konsekuensi logis dari corak gerakan
terorisme yang merusak tatanan politik dengan menggunakan
motivasi serta justifikasi keagamaan. Namun berbagai pendekatan
lain segera meramaikan studi tentang terorisme seiring
kompleksitas masalah ini yang menuntut adanya pendekatan yang
multi-perspektif. Pendekatan psikologi, sosiologi, ekonomi, filsafat,
pendidikan, media studies, dan sebagainya mulai banyak terlibat.
Bimbingan dan Konseling sebagai sebuah disiplin ilmu
memiliki potensi besar untuk turut berperan mengatasi masalah
terorisme. Namun Konseling Multikultural belum banyak
diperjumpakan dengan isu terorisme. Bahkan dalam buku Handbook
of Multicultural Counseling yang diedit oleh Joseph G. Ponterrotto,
dari 57 entri yang ada, hanya ada satu entri yang dekat dengan isu
terorisme. Yakni Counseling Muslim and Sikhs in a Post-9/11 World
yang ditulis oleh Muninder K. Ahluwalia dan Noreen K. Zaman.
5
Terbatasnya kajian Konseling, khususnya Konseling Multikultural,
dalam konteks kajian Terorisme menjadi salah satu alasan ditulisnya
artikel ini.
B. Metode
Paper ini dihasilkan dari review literatur dengan medan kajian
tentang multikulturalisme, konseling, konseling multikultural, dan
studi terorisme. Penelitian bercorak kualitatif ini menyajikan hasil
penelusuran dari sumber-sumber berupa buku dan artikel jurnal
5
Joseph G. Ponterotto, Handbook of Multicultural Counseling (Sage, 2010).
Suwartini, Wiranto: Konseling Multikultural
Sebagai Pendekatan Studi Terorisme
134 Jurnal Dakwah, Vol. 22, No. 1 Tahun 2021
dengan dominasi referensi dari artikel jurnal. Pustaka yang
terkumpul kemudian diklasifikasikan sesuai empat medan yang
digarap, kemudian hasil pembacaan digunakan sebagai bahan
analisis untuk menjawab permasalahan penelitian. Hasil analisis
disajikan secara deskriptif-interpretatif.
C. Kajian Pustaka
Konseling Multikultural memang telah banyak dibahas para
akademisi. Prosiding Konvensi Nasional Bimbingan dan Konseling di
tahun 2018 bahkan pernah mengangkat tema Konseling
Multikultural di Abad ke-21. Dari ratusan paper dalam prosiding
tersebut, masih sangat sedikit kajian yang mengulas penerapan
konseling multikultural dalam studi terorisme. Bahkan tidak ada satu
artikel pun yang judulnya menyebut kata terorisme.
6
Karya lain cukup mendekati isu terorisme dengan pendekatan
konseling multikultral adalah tulisan Annajih dkk. Penelitian
tersebut bermaksud untuk menunjukkan bahwa konseling
multibudaya merupakan salah satu cara menumbuhkan sikap
beradab peserta didik sehingga tidak terjebak pada paham
radikalisme. Akan tetapi konsep konseling multikultural untuk kajian
radikalisme atau terorisme masih kurang dieksplorasi.
7
Studi lain yang cukup mendekati adalah Multiculturalism in
Time of Terrorism oleh Horvat. Artikel tersebut mengungkap
perlunya melihat terorisme di Eropa sebagai masalah yang
dipengaruhi terorisme global. Akan tetapi dituntut adanya revisi
terhadap konsep multikulturalisme yang telah berjalan di Eropa
sejauh ini. Sayangnya artikel ini tidak menyinggung pendekatan
konseling multikultural.
8
6
Sri Ramadhoni, Prosiding Konvensi Nasional Bimbingan Dan Konseling (BK) Ke - XX:
Konseling Multikultural Di Abad Ke-21, 2018.
7
Moh. Ziyadul Haq Annajih, Kartika Lorantina, Hikmah Ilmiyana, Konseling
Multibudaya Dalam Penanggulangan Radikalisme Remaja, Prosiding Seminar Bimbingan
dan Konseling Vol. 1, No. 1, 2017, hlm.280-291
8
Ksenija Vidmar Horvat, “Multiculturalism in Time of Terrorism,” Cultural Studies 24,
no. 5 (September 1, 2010): 74766, https://doi.org/10.1080/09502380903549855.
Suwartini, Wiranto: Konseling Multikultural
Sebagai Pendekatan Studi Terorisme
Jurnal Dakwah, Vol. 22, No. 1 Tahun 2021 135
Karya lain yang sangat baik untuk isu ini adalah dari Chibbaro
dan Jackson berjudul Helping Students Cope in an Age of Terrorism:
Strategies for School Counselors. Artikel ini menawarkan strategi
yang dapat ditempuh konselor untuk membantu siswa mampu
menghadapi zaman yang penuh teror dalam konteks Amerika.
9
Dengan terbatasnya literatur yang secara eksplisit mengaitkan
Konseling Multikultural dengan Studi Terorisme, maka kajian yang
penulis lakukan menemukan urgensinya.
D. Memahami Konseling Multikultural
1. Multikultural sebagai Konsep
Sebelum memahami konseling multikultural, perlu dipahami konsep
multikultural yang dimaksud. Kata multikultural, baik yang
dilekatkan pada Pendidikan Multikultural (multicultural education)
maupun Konseling Multikultural, terkait dengan multikulturalisme
sebagai paham pemikiran yang mewacana di dunia sejak
pertengahan abad ke-20. Multikulturalisme tentunya bukan paham
bebas nilai, namun mewakili worldview dimana gagasan itu
dimunculkan.
Multikulturalisme sebenarnya merupakan fenomena cukup
umum di negara-negara Barat, terutama Amerika, Eropa Barat,
Australia, dan Kanada. Sejak tahun 1960-1970an multikulturalisme
menjadi wacana yang banyak didiskusikan. Biasanya
multikulturalisme dimaknai sebagai kebijakan pemerintah pusat dan
otoritas lokal untuk mengelola multi-etnisitas baru yang tercipta
akibat imigrasi orang-orang non-kulit putih sejak akhir perang Dunia
II. Dalam konteks Eropa, multikultural juga didominasi oleh isu
9
Julia S. Chibbaro and C. Marie Jackson, “Helping Students Cope in an Age of
Terrorism: Strategies for School Counselors,” Professional School Counseling 9, no. 4
(January 1, 2006): 2156759X0500900416,
https://doi.org/10.1177/2156759X0500900416.
Suwartini, Wiranto: Konseling Multikultural
Sebagai Pendekatan Studi Terorisme
136 Jurnal Dakwah, Vol. 22, No. 1 Tahun 2021
rasial.
10
Multikulturalisme dianggap muncul sebagai respon terhadap
perubahan demografi Barat pasca Perang Dunia II, meski sebenarnya
benih-benih tuntutan terhadap keragaman kultural sudah muncul
sebelum terjadinya Perang Dunia II. Pada dekade 1930-1940,
tuntutan kesetaraan manusia dan pengakuan keragaman kultural
disuarakan menyusul adanya kesewenangan bahkan genosida
terhadap Yahudi, kaum gay, dan kaum Gipsi oleh Nazisme Jerman.
Muncul beberapa organisasi yang menyuarakan tuntutan pengakuan
keragaman rasial, misalnya Anti Defamation League (ADL), the
Urban League, the National Association for the Advancement of
Coloured People (NAACP).
11
Menurut Banks & Banks dalam konteks Pendidikan
Multikultural, sejarahnya juga dimulai dari gejolak Gerakan Hak-hak
Sipil (civil rights movement) yang terjadi di Amerika pada tahun
1960an. Gejolak ini merupakan perjuangan orang-orang Afrika-
Amerika untuk menghapus diskriminasi dalam akomodasi publik,
perumahan, pekerjaan, dan pendidikan. Di ranah pendidikan,
Gerakan Hak-hak Sipil tersebut menghendaki reformasi kurikulum
pada sekolah dan lembaga pendidikan. Tujuannya adalah agar
kurikulum yang baru lebih mampu mengakomodasi pengalaman,
sejarah, budaya, dan perspektif semua kelompok etnis yang ada di
Amerika, dimulai dari kelompok Afro-American kemudian etnis
lainnya. Reformasi ini juga menghendaki agar warga kulit berwarna
dapat lebih dilibatkan sebagai pengajar dan tenaga kependidikan,
serta menuntut adanya revisi terhadap buku-buku pelajaran yang
dipandang bermasalah karena tidak mencerminkan realitas
keragaman di Amerika.
12
10
Judith Suissa, “Multiculturalism and Diversity,” in International Handbook of Philosophy
of Education, ed. Paul Smeyers (Springer International Publishing AG, part of Springer
Nature, 2018), 834, https://doi.org/10.1007/978-3-319-72761-5.
11
Joy L. Lei and Carl A. Grant, eds., Multicultural Education in the United States; A Case of
Paradoxial Equality on A Global Construction of Multicultural Education (New Jersey:
Lawrence Erlbaum Associates, 2001).
12
James A. Banks and Cherry A. McGee Banks, Multicultural Education: Issues and
Perspectives, 7th ed. (USA: Wiley, 2010), 56.
Suwartini, Wiranto: Konseling Multikultural
Sebagai Pendekatan Studi Terorisme
Jurnal Dakwah, Vol. 22, No. 1 Tahun 2021 137
Sebagai sebuah isme (paham), multikulturalisme merupakan
cabang filsafat politik yang mengeksplorasi hubungan antara
keragaman budaya, kebebasan dan kesejahteraan manusia, pada saat
yang sama menawarkan justifikasi untuk mengakomodasi klaim
minoritas budaya dalam lembaga hukum dan politik, dan kebijakan
publik. Multikulturalisme juga merupakan umbrella term yang
menaungi sejumlah studi terkait seperti, politik identitas, politik
pengakuan (politics of recognition), penentuan nasib kebangsaan
sendiri (national self-determination) dan politik kewarganegaraan
multinasional (politics of multinational citizenship), sekularisme dan
keragaman agama (secularsim and religious diversity), dan politik
pribumi (politics of indigeneity).
13
Will Kymlicka, filsuf politik asal Kanada, memposisikan
multikulturalisme sebagai pembelaan terhadap hak-hak bangsa tak
bernegara (stateless nations), masyarakat suku, hingga kelompok
minoritas etnis dan minoritas agama. Multikulturalisme menjadi
gagasan yang tersebar luas di seluruh dunia karena dua faktor, yaitu
(1) adanya difusi wacana politik (political discourse)
multikulturalisme; dimana seperangkat gagasan tentang pentingnya
mengakomodasi keragaman terus didiskusikan oleh jejaring
internasional yang meliputi pembuat kebijakan, LSM, dan para
akademisi. (2) ditetapkannya multikulturalisme sebagai norma-
norma hukum internasional (international legal norms) yang
termaktub dalam beberapa deklarasi tentang hak-hak minoritas.
14
Multikulturalisme yang kemudian mengglobal tersebut
sebenarnya merupakan gagasan Amerika dan Dunia Barat pada
umumnya sehingga memang bercorak liberal. Oleh karena itu Will
Kymlicka menyebutnya sebagai multikulturalisme liberal. Gagasan
ini didukung oleh beberapa penulis multikuturalisme seperti
Roberto Esposito dari Italia dan Alexej Ulbricht dari London dengan
13
Michael Murphy, “Multiculturalism,” Oxford Bibliographies, February 22, 2018,
https://doi.org/10.1093/OBO/9780195396577-0361.
14
Will Kymlicka, “Multicultural Odysseys,” Ethnopolitics 6, no. 4 (November 2007): 586,
https://doi.org/10.1080/17449050701659789.
Suwartini, Wiranto: Konseling Multikultural
Sebagai Pendekatan Studi Terorisme
138 Jurnal Dakwah, Vol. 22, No. 1 Tahun 2021
gagasan multicultural immunization.
15
Pendukung multikulturalisme
liberal lainnya adalah Robert Maciel, ia percaya bahwa
multikulturalisme liberal tetap relevan untuk realitas politik
kontemporer.
16
Will Kymlicka pun sekali lagi menegaskan bahwa
multikulturalisme liberal merupakan teori politik yang baik dalam
mengatur hubungan negara dengan kelompok minoritas.
17
Meskipun secara historis berangkat dengan semangat
liberalisme, namun nilai-nilai yang dibawa multikulturalisme
kompatibel untuk konteks yang lebih luas, termasuk untuk negara-
negara Asia dan Afrika. Nilai equality (kesetaraan) dan kemanusiaan
dapat diterima di manapun sehingga gagasan multikultural cepat
berkembang. Kampanye penguatan Hak Asasi Manusia dan
demokratisasi juga mendukung berkembangnya multikulturalisme.
Berbagai kebijakan pemerintah pada banyak negara juga
menunjukkan pembelaan terhadap multikulturalisme. Oleh karena
itu, segala yang berkaitan dengan multikulturalisme, semakin
mendapat ruang untuk berkembang di berbagai bidang, termasuk
pendidikan. Bidang Konseling yang telah menjadi bagian tidak
terpisahkan dari dunia pendidikan, juga mengadopsi prinsip-prinsip
multikulturalisme sehingga dikenal istilah Konseling Multikultural.
2. Konseling Multikultural
Konseling Multikultural sering disamakan dengan cross-cultural
counseling. Namun sebenarnya embrio Konseling Multikultural
sudah ada sejak 1950an dalam bentuk Konseling Minoritas, yaitu
upaya untuk mengajak minoritas berasimilasi terhadap mayoritas.
Konseling ini pada awalnya justru semacam usaha untuk
15
Rosalind Williams, “Review: Alexej Ulbricht, Multicultural Immunisation: Liberalism
and Esposito,” Theory, Culture & Society 34, no. 78 (December 1, 2017): 26568,
https://doi.org/10.1177/0263276417736366.
16
Robert Maciel, “The Future of Liberal Multiculturalism,” Political Studies Review 12, no.
3 (September 1, 2014): 38394, https://doi.org/10.1111/1478-9302.12018.
17
Will Kymlicka, “Liberal Multiculturalism as a Political Theory of State–Minority
Relations,” Political Theory 46, no. 1 (February 1, 2018): 8191,
https://doi.org/10.1177/0090591717696021.
Suwartini, Wiranto: Konseling Multikultural
Sebagai Pendekatan Studi Terorisme
Jurnal Dakwah, Vol. 22, No. 1 Tahun 2021 139
menyeragamkan realitas multikultur menjadi monokultur. Namun
tampaknya upaya ini tidak berlangsung lama, sebab pada dekade
1960-an telah banyak seruan agar konselor tidak memaksakan
keyakinan mereka kepada klien atau konseli. Ketika Undang-Undang
Hak-Hak Sipil (Civil Rights Act) diberlakukan, upaya asimilasi
minoritas ke dalam mayoritas dihentikan. Sebagai gantinya justru
dikampanyekan penghargaan terhadap keunikan budaya minoritas.
Baru pada tahun 1970-an, terjadi perubahan terminologi dengan
munculnya konseling 'multikultural' atau 'lintas budaya', dan dengan
demikian istilah konseling minoritas ditinggalkan. Tahun 1980-an
dan 1990-an semakin banyak studi dan penelitian baru dilakukan
dengan menerapkan istilah konseling multikultural.
18
Secara metodologis, Konseling Multikultural juga terus
mengalami perkembangan. Diawali dengan metode Cross-cultural
Counseling Inventory (CCCI) pada dekade 1980an, kemudian muncul
The Multicultural Counseling Inventory. Lebih lanjut ada pula
Multicultural Awareness Scale, dan berikutnya muncul Multicultual
Awareness Knowledge Skills Survey, dan Multicultural Competency
Checklist.
19
Beberapa instrumen tersebut lebih sebagai upaya
memberdayakan konselor dengan ketrampilan multikultural. Akan
tetapi dimensi rasial masih menjadi tema dominan dari beberapa
instrumen tersebut. Sedangkan aspek kultural lain seperti agama,
ideologi, orientasi, belum mendapat perhatian yang cukup.
Secara aksiologis, Konseling Multikultural memiliki tujuan
akhir yang sama dengan konseling pada umumnya, yaitu membantu
klien agar dirinya sendiri mampu meraih tujuan optimal sesuai
potensi dan minatnya sendiri. Namun secara spesifik, menurut
Nuzliah (2016:212) konseling multikultural memiliki beberapa
tujuan, yaitu: 1) membantu klien agar mampu mengembangkan
potensi-potensi yang di miliki untuk memberdayakan diri secara
18
Gelso, Charles J.; Williams, Elizabeth Nutt; Fretz, Bruce R. (2014). Counseling
psychology (Third ed.). Washington, D.C. ISBN 978-1-4338-1711-3.
19
Joseph G. Ponterotto, “Multicultural Counseling in the Twenty-First Century,” The
Counseling Psychologist 24, no. 2 (April 1, 1996): 25968,
https://doi.org/10.1177/0011000096242005.
Suwartini, Wiranto: Konseling Multikultural
Sebagai Pendekatan Studi Terorisme
140 Jurnal Dakwah, Vol. 22, No. 1 Tahun 2021
optimal; 2) membantu klien multikultural agar mampu memecahkan
masalah yang dihadapi, mengadakan penyesuaian diri, serta
merasakan kebahagiaan hidup sesuai dengan budayanya; 3)
membantu klien agar dapat hidup bersama dalam masyarakat
multikultural dan 4) memperkenalkan kepada klien akan nilai-nilai
budaya lain untuk dijadikan referensi dalam membuat perancanaan,
pilihan, keputusan hidup kedepan yang lebih baik.
20
Dalam
praktiknya, Konseling Multikultural tidak hanya mendorong klien
untuk mengoptimalkan diri sesuai karakter budayanya, namun juga
mengurangi prasangka kultural yang melekat pada dirinya.
Pengurangan prasangka (prejudice reduction) merupakan salah satu
komponen pokok dalam wawasan multiklutural.
21
Guna mencapai tujuan tersebut, seorang konselor perlu
memiliki kecakapan khusus. Menurut Elizar, terdapat beberapa
karakter yang harus dimiliki seorang konselor multikultural, yaitu
(1) kesadaran terhadap nilai-nilai pribadi yang dimilikinya dan
asumsi asumsi terbaru tentang perilaku manusia; (2) kesadaran
memiliki nilai nilai sendiri yang harus dijunjung tinggi; (3) menerima
nilai-nilai yang berbeda dari klien dan mempelajarinya; (4)
kesadaran terhadap karakteristik konseling secara umum; (5)
kesadaran terhadap kaidah-kaidah dalam melaksanakan konseling;
(6) mengetahui pengaruh kesukuan dan perhatian terhadap
lingkungannya; (7) tanggap terhadap perbedaan yang berpotensi
menghambat proses konseling; (8) tidak boleh mendorong klien
untuk dapat memahami budaya dan nilai-nilai yang dimiliki
konselor.
22
Ruang lingkup Konseling Multikultural juga terus meluas. Jika
pada masa awalnya Konseling Multikultural sangat fokus pada
20
Nuzliah Nuzliah, “Counseling Multikultural,” JURNAL EDUKASI: Jurnal Bimbingan
Konseling 2, no. 2 (December 2, 2016): 210, https://doi.org/10.22373/je.v2i2.816.
21
Erham Budi Wiranto, “Prejudice Reduction Dalam Ajaran Agama-Agama,” Jurnal
Studi Agama Dan Masyarakat 16, no. 2 (2020): 13248,
https://doi.org/10.23971/jsam.v16i2.2252.
22
Elizar, “Urgensi Konseling Multikultural di Sekolah,” Edukasi Lingua Sastra 16, no. 2
(October 20, 2018): 16, https://doi.org/10.47637/elsa.v16i2.90.
Suwartini, Wiranto: Konseling Multikultural
Sebagai Pendekatan Studi Terorisme
Jurnal Dakwah, Vol. 22, No. 1 Tahun 2021 141
masalah rasial, maka dalam perkembangannya, isuisu lain juga
menjadi perhatian penting bagi Konseling Mutikultural. Keragaman
akibat jenis kelamin, orientasi seksual, kelas, dan disabilitas menjadi
isu paling hangat. Namun menurut Heesoon Juun, masih ada isu
multikultural lain yang tidak kalah penting untuk menjadi bidang
garap Konseling Multikultural, yaitu usia, bahasa, agama, wilayah,
dan ukuran. Semua itu juga turut membangun identitas seseorang
secara keseluruhan.
23
Kini Konseling Multikultural menghadapi tantangan lebih besar
seiring globalisasi beserta masalah ikutannya, termasuk terorisme.
Terorisme, sebagaimana telah disebutkan di muka, menjadi masalah
yang tidak kunjung terselesaikan hingga saat ini. Justru kemudian
menjelma menjadi concern keilmuan tersendiri, yang dikenal sebagai
Studi Terorisme.
E. Studi Terorisme
Studi Terorisme merupakan bidang kajian yang relatif baru
namun cukup berkembang di beberapa negara, baik dilegalkan
secara akademik oleh perguruan tinggi maupun digerakkan oleh
pusat-pusat studi. Sekedar contoh, di University of Massachusetts
Lowell telah berdiri Center for Terrorism and Security Studies (CTSS)
sejak tahun 2013. CTSS melakukan riset dan membuat buku
akademik, artikel jurnal dan buku teks untuk program sarjana dan
pascasarjana. CTSS juga menulis posting blog dan merekam podcast
pendidikan untuk diakses publik. Selain itu mereka juga
menyampaikan laporan teknis, pragmatis dan catatan untuk
pertimbangan kebijakan bagi para praktisi di sektor penegak hukum,
militer, dan intelijen.
24
Contoh lain, Middlebury Institute of
International Studies juga membuka program studi S2 dengan nama
Master of Arts in Nonproliferation and Terrorism Studies. The
23
Jun Heesoon, Social Justice, Multicultural Counseling, and Practice: Beyond a Conventional
Approach (California: SAGE Publications, 2009), 223.
24
“About the Center for Terrorism & Security Studies | Center for Terrorism &
Security Studies | UMass Lowell,” https://www.uml.edu/Research/CTSS/about/.
Suwartini, Wiranto: Konseling Multikultural
Sebagai Pendekatan Studi Terorisme
142 Jurnal Dakwah, Vol. 22, No. 1 Tahun 2021
University of St Andrews di Skotlandia juga memiliki The Handa
Centre for the Study of Terrorism and Political Violence (CSTPV),
kemudian Potomac Institute of Policy Studies (PIPS) di Amerika
Serikat memiliki International Center for Terrorism Studies (ICTS).
King’s College di London juga memiliki program Master of Arts untuk
minat Terrorism, Security & Society. Di Indonesia, Program Studi
Terorisme juga telah berdiri sebagai bagian dari Sekolah Kajian
Stratejik & Global di Sekolah Pascasarjana Universitas Indonesia.
Institusi ini juga telah memiliki jurnal ilmiah dengan nama Journal of
Terrorism Studies. Dengan demikian, Studi Terorisme merupakan
minat yang telah berkembang di beberapa negara.
Perkembangan tersebut bahkan terlihat cukup mengejutkan
apalagi sejak tahun 2009 telah muncul wacana untuk hadirnya
sebuah sub bidang dari Studi Terorisme. Sub ini disebut Critical
Terrorism Studies. Wacana ini berkembang sejak dilontarkan oleh
Richard Jackson, Marie Breen Smyth, dan Jeroen Gunning dalam
bukunya Critical Terrorism Studies: A New Research Agenda. Pada
tahun-tahun sejak serangan 9/11, studi terorisme telah mengalami
transformasi besar. Pada awalnya Studi Terorisme hanyalah
subbidang kecil dari Studi Keamanan, namun kemudian menjadi
bidang besar yang berdiri sendiri. Bahkan merupakan salah satu
bidang penelitian yang paling cepat berkembang di dunia akademis
Barat.
Pasca 9/11, Studi Terorisme memasuki masa keemasannya
karena terjadi ledakan literatur ilmiah yang membahas terorisme.
Pada 2001, berdasarkan data social science index, kurang lebih hanya
100 artikel jurnal-jurnal utama yang membahas tentang terorisme.
Namun di tahun berikutnya meningkat tiga kali lipat. Sedangkan
pada tahun 2007, jumlah sitasi yang tercatat sudah lebih dari 2300.
Pada 2008, diperkirakan buku baru tentang terorisme terbit setiap 6
jam sekali, dan paper dengan peer-review meningkat 300%. Namun
jika mengambil artikel yang lebih luas, termasuk yang tidak melalui
tahap peer-review, maka sejak 1971 hingga 2002, tercatat ada
14.006 artikel yang 54% di antaranya hanya terbit sepanjang tahun
Suwartini, Wiranto: Konseling Multikultural
Sebagai Pendekatan Studi Terorisme
Jurnal Dakwah, Vol. 22, No. 1 Tahun 2021 143
2001-2002. Hal ini menunjukkan bahwa studi terorisme memang
mengalami ledakan sejak 2001.
25
Berkembangnya studi terorisme
tentunya berimplikasi pada meluasnya disiplin ilmu yang dijadikan
pendekatan. Konseling Multikultural bukan suatu pengecualian
untuk coba diterapkan.
F. Konseling Multikultural sebagai Pendekatan Studi
Terorisme
Riset yang dilakukan dalam Studi Terorisme juga memiliki
spektrum yang luas. Namun kekurangan yang paling dikeluhkan
dalam bidang ini adalah sedikitnya penelitian bercorak subjectivity,
yaitu laporan yang bersumber dari pengakuan langsung dari pelaku
terorisme.
and a great many terrorism ‘experts’ have never even met a
‘terrorist’. Although not all terrorism-related research topics
require primary research of this kind, the notion that there is no
need to engage one’s research subjects face to face would be
unthinkable in cognate disciplines such as anthropology,
psychology, and criminology. Clearly, such a situation raises real
questions about the veracity and quality of much orthodox
terrorism research, and a consequence of these tendencies is that
the literature frequently consists of analytically thin, narrative-
based, and descriptive accounts of terrorism.
26
dan banyak sekali 'pakar' terorisme yang bahkan tidak pernah
bertemu dengan 'teroris'. Meskipun tidak semua topik
penelitian terkait terorisme memerlukan penelitian utama
semacam ini, gagasan bahwa tidak perlu melibatkan subjek
penelitian secara langsung tidak akan terpikirkan dalam
disiplin ilmu serumpun seperti antropologi, psikologi, dan
kriminologi. Jelas, situasi seperti itu menimbulkan pertanyaan
nyata tentang kebenaran dan kualitas banyak penelitian
25
Magnus Ranstorp, “Mapping Terrorism Studies after 9/11: An Academic FIeld of
Old Problems and New Prospects,” in Critical Terrorism Studies: A New Research Agenda,
ed. Richard Jackson, Breen Smyth Marie, and Jeroen Gunning (Routledge, 2009), 13
33.
26
Richard Jackson, Breen Smyth Marie, and Jeroen Gunning, eds., Critical Terrorism
Studies: A New Research Agenda (Routledge, 2009), 219.
Suwartini, Wiranto: Konseling Multikultural
Sebagai Pendekatan Studi Terorisme
144 Jurnal Dakwah, Vol. 22, No. 1 Tahun 2021
terorisme ortodoks, dan konsekuensi dari kecenderungan ini
adalah bahwa literatur sering kali terdiri dari laporan
terorisme yang tipis secara analitis, berbasis naratif, dan
deskriptif.
Kelemahan tersebut dapat ditutup oleh kontribusi pendekatan
konseling multikultural yang memang memiliki kekhususan untuk
mengungkap subjetivitas pelaku terorisme.
Salah satu kelebihan konseling sebagai sebuah teknik adalah
kemampuannya untuk mendorong klien melakukan optimalisasi
potensi diri. Konseling sangat cocok digunakan terhadap para
terpidana dan mantan narapidana terorisme. Selain sifat konseling
yang kuratif (hampir mendekati psikoterapi) juga berfungsi
motivatif. Fungsi kedua lebih dominan dan lebih diharapkan hasilnya
dalam proses konseling.
Konseling Multikultural sebagai konseling dengan kecakapan
tambahan berupa wawasan multikultural menjadi semakin
prospektif untuk Studi Terorisme. Seorang konselor multikultural
dituntut memahami keragaman ideologi (termasuk agama) untuk
mampu memberikan layanan konseling yang baik bagi pelaku
terorisme. Ideologi bermotif agama yang umumnya dimiliki para
pelaku teror termasuk kompleks dan bermutasi menjadi banyak
varian, namun secara umum tetap dapat dikenali polanya. Kajian
tentang ideologi terorisme telah sangat banyak ditulis, oleh karena
itu konselor multikultural tidak akan kesulitan mendapatkan
referensi. Penguasaan referensi di bidang ini akan sangat membantu
bagi konselor multikultural dalam memahami subyektivitas pelaku
teror. Dengan demikian, baik Konseling Multikultural maupun Studi
Terorisme sebetulnya juga bersifat saling menopang. Di satu sisi,
hasil kajian Studi Terorisme dapat menjadi referensi berharga untuk
pengembangan wawaan konselor multikultural, di sisi lain teknik
konseling multikultural juga akan menguatkan keilmuan Studi
Terorisme.
Suwartini, Wiranto: Konseling Multikultural
Sebagai Pendekatan Studi Terorisme
Jurnal Dakwah, Vol. 22, No. 1 Tahun 2021 145
G. Kesimpulan
Konseling Multikultural secara historis telah lama ada namun
pada awalnya terbatas atau terlalu didominasi oleh isu keragaman
ras. Seiring perubahan demografi dunia akibat globalisasi serta
tuntutan kesetaraan HAM dan meluasnya demokrasi, ruang lingkup
multikulturalisme semakin luas dan kompleks. Hampir semua corak
keragaman termasuk keragaman akibat gender, disabilitas, usia,
hingga agama dan ideologi. Konseling Multikultural semestinya juga
memiliki medan garap yang semakin luas. Ketika Studi Terorisme
semakin banyak digeluti sejak peralihan milenium ketiga, Konseling
Multikultural juga perlu berperang sebagai pendekatan dalam minat
baru tersebut. Hal ini karena Konseling Multikultural memiliki
keunggulan dalam meneliti subyektifitas pelaku terorisme, bahkan
dapat berperan secara kuratif terhadap terpidana terorisme serta
mantan narapidana kasus terorisme.
Daftar Pustaka
“About the Center for Terrorism & Security Studies | Center for
Terrorism & Security Studies | UMass Lowell.” 2021.
https://www.uml.edu/Research/CTSS/about/.
Banks, James A., and Cherry A. McGee Banks. Multicultural Education:
Issues and Perspectives. 7th ed. USA: Wiley, 2010.
Chibbaro, Julia S., and C. Marie Jackson. “Helping Students Cope in an
Age of Terrorism: Strategies for School Counselors.”
Professional School Counseling 9, no. 4 (January 1, 2006):
2156759X0500900416.
https://doi.org/10.1177/2156759X0500900416.
“Densus 88 Tangkap Terduga Teroris Dari Jogja Hingga Surabaya.”
Accessed June 3, 2021.
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210403065542-
12-625459/densus-88-tangkap-terduga-teroris-dari-jogja-
hingga-surabaya.
Suwartini, Wiranto: Konseling Multikultural
Sebagai Pendekatan Studi Terorisme
146 Jurnal Dakwah, Vol. 22, No. 1 Tahun 2021
detikcom, Tim. “Rentetan Penangkapan Terduga Teroris di RI dalam
Sepekan.” detiknews. Accessed June 3, 2021.
https://news.detik.com/berita/d-5506639/rentetan-
penangkapan-terduga-teroris-di-ri-dalam-sepekan.
Elizar. “Urgensi Konseling Multikultural di Sekolah.” Edukasi Lingua
Sastra 16, no. 2 (October 20, 2018): 1322.
https://doi.org/10.47637/elsa.v16i2.90.
Heesoon, Jun. Social Justice, Multicultural Counseling, and Practice:
Beyond a Conventional Approach. California: SAGE Publications,
2009.
Jackson, Richard, Breen Smyth Marie, and Jeroen Gunning, eds.
Critical Terrorism Studies: A New Research Agenda. Routledge,
2009.
Kymlicka, Will. “Liberal Multiculturalism as a Political Theory of
State–Minority Relations.” Political Theory 46, no. 1 (February
1, 2018): 8191.
https://doi.org/10.1177/0090591717696021.
———. “Multicultural Odysseys.” Ethnopolitics 6, no. 4 (November
2007): 58597.
https://doi.org/10.1080/17449050701659789.
Lei, Joy L., and Carl A. Grant, eds. Multicultural Education in the United
States; A Case of Paradoxial Equality on A Global Construction of
Multicultural Education. New Jersey: Lawrence Erlbaum
Associates, 2001.
Maciel, Robert. “The Future of Liberal Multiculturalism.” Political
Studies Review 12, no. 3 (September 1, 2014): 38394.
https://doi.org/10.1111/1478-9302.12018.
Media, Kompas Cyber. “Fakta Penangkapan Terduga Teroris di
Bekasi dan Condet, Sita 5 Bom Aktif dan Terkait dengan Bom di
Makassar Halaman all.” KOMPAS.com, March 29, 2021.
https://megapolitan.kompas.com/read/2021/03/29/1849465
Suwartini, Wiranto: Konseling Multikultural
Sebagai Pendekatan Studi Terorisme
Jurnal Dakwah, Vol. 22, No. 1 Tahun 2021 147
1/fakta-penangkapan-terduga-teroris-di-bekasi-dan-condet-
sita-5-bom-aktif.
Murphy, Michael. “Multiculturalism.” Oxford Bibliographies,
February 22, 2018.
https://doi.org/10.1093/OBO/9780195396577-0361.
Nuzliah, Nuzliah. “Counseling Multikultural.” JURNAL EDUKASI:
Jurnal Bimbingan Konseling 2, no. 2 (December 2, 2016): 201
14. https://doi.org/10.22373/je.v2i2.816.
Ponterotto, Joseph G. Handbook of Multicultural Counseling. Sage,
2010.
———. “Multicultural Counseling in the Twenty-First Century.” The
Counseling Psychologist 24, no. 2 (April 1, 1996): 25968.
https://doi.org/10.1177/0011000096242005.
Ramadhoni, Sri. Prosiding Konvensi Nasional Bimbingan Dan
Konseling (BK) Ke - XX: Konseling Multikultural Di Abad Ke-21,
2018.
Ranstorp, Magnus. “Mapping Terrorism Studies after 9/11: An
Academic FIeld of Old Problems and New Prospects.” In Critical
Terrorism Studies: A New Research Agenda, edited by Richard
Jackson, Breen Smyth Marie, and Jeroen Gunning, 1333.
Routledge, 2009.
Suissa, Judith. “Multiculturalism and Diversity.” In International
Handbook of Philosophy of Education, edited by Paul Smeyers.
Springer International Publishing AG, part of Springer Nature,
2018. https://doi.org/10.1007/978-3-319-72761-5.
Vidmar Horvat, Ksenija. “Multiculturalism in Time of Terrorism.”
Cultural Studies 24, no. 5 (September 1, 2010): 74766.
https://doi.org/10.1080/09502380903549855.
Williams, Rosalind. “Review: Alexej Ulbricht, Multicultural
Immunisation: Liberalism and Esposito.” Theory, Culture &
Suwartini, Wiranto: Konseling Multikultural
Sebagai Pendekatan Studi Terorisme
148 Jurnal Dakwah, Vol. 22, No. 1 Tahun 2021
Society 34, no. 78 (December 1, 2017): 26568.
https://doi.org/10.1177/0263276417736366.
Wiranto, Erham Budi. “Prejudice Reduction Dalam Ajaran Agama-
Agama.” Jurnal Studi Agama Dan Masyarakat 16, no. 2 (2020):
13248. https://doi.org/10.23971/jsam.v16i2.2252.
Annajih, Moh. Ziyadul Haq, Kartika Lorantina, Hikmah Ilmiyana,
Konseling Multibudaya Dalam Penanggulangan Radikalisme
Remaja, Prosiding Seminar Bimbingan dan Konseling Vol. 1, No.
1, 2017, hlm.280-291
Gelso, Charles J.; Williams, Elizabeth Nutt; Fretz, Bruce R. (2014).
Counseling psychology (Third ed.). Washington, D.C. ISBN 978-
1-4338-1711-3.
Article
Full-text available
Religion was regarded as a source of prejudice against others who are different, even a source of hatred. In fact, as complex teachings, religions had opposite role, reducing prejudice. This study attempted to find religious values that can be useful for prejudice reduction. With a qualitative method, religious values reducing prejudice were explored from five religions, namely Hinduism, Buddhism, Catholicism, Christianity and Islam. Data were collected through studying religious texts, both from the main sources and the works of religious leaders. The finding found that all religions had fundamental values that could reduce prejudice. These values generally were in the form of respect for diversity, prohibition of acting unfairly, and prohibiting acts of violence. This finding was expected to refute the assumption that religion was a source of prejudice, hatred and horizontal conflict.
Article
Every culture certainly has a different customs that will form the habit of a student in being. When the counselor and counselee met in the counseling process the counselor should first understand its cultural background.The counselling needed as solutions to the problems that arise. Morever faced conselors consist of student of different cultural background. Theefore, cross cultural counselor mus be aware ofthe studental values wich prssesses, second, crosss cultural counselor must be aware of the characteristics of counseling in general, third croos-cultural counselor must be aware of the influence of ethnicity and tthey must have attention to surroundings, fourth, croos-cultural counselor could not encourage one client to understanding the culture or te values owned counselors, and fifth cross-cultural counselor in implementing counseling must use ecletic approach. The counselor with a keen sensitivity better understand and appreciate the cultural bias between the counselor and counselee which is predicted to be able to direct the counselee to develop optimally.
Article
School counselors experience unique challenges as they struggle to provide students with coping skills geared to the outside world including acts of terrorism. School-aged students in the United States are one of the most vulnerable populations in the event of a terrorist act. This article offers a review of the current and most relevant literature on the topic of helping students cope in an age of terrorism. The authors provide an overview of a six-step strategic model for school counselors to help prepare students to live and cope in an age of terrorism.
Book
This second edition book provides an update to multicultural psychology and counseling research findings, and the DSM-5 in sociopolitical and cultural contexts. It links social psychology with current cognitive science research on implicit learning, ethnocentrism (attribution error, in-group favoritism, and asymmetric perception), automatic information processing, and inappropriate generalization. Chapters discuss the interwoven characteristics of multiple identities of individuals such as race, gender, class, disability, age, religion, region, and sexual orientation. In addition, the book offers concrete strategies to facilitate inner-dialogue and discussion of self-perception and interpersonal relationships. Featured topics in this book include: • Intrapersonal communication and the biases that can be involved. • The impact of a provider’s personal values and beliefs on assessing and treating clients. • The Social Categorization Theory of Race. • The Social Categorization Theory of Gender. • The Social Dominance Theory of Class. • Identity Construction, Multiple Identities, and their intersectionality. Social Justice, Multicultural Counseling, and Practice, Second Edition will be of interest to researchers and professors in clinical psychology, counseling psychology, multicultural psychology, social psychology, cognitive neuroscience, social work, social justice, equity, and inclusion work as well as health care providers.
Article
Immunity has established itself as one of the most exciting and productive conceptual lenses being used in contemporary social theory. Ulbricht’s first book demonstrates why this is the case, through using the imaginary of immunity to explicate a selection of the features of liberal multicultural theory. Influenced by the work of Italian philosopher Robert Esposito, the book traces ideas of tolerance, consensus and rights as they appear across a selection of liberal theoretical interventions. After engaging with an impressive swathe of literature throughout his book, Ulbricht’s critical arrival point is an exciting use of Lefebvrian rhythmanalysis in a bid to supplant universal theories of multiculturalism with a recognition of multiculturalism as an intensely local and ad hoc human experience.
Article
This article considers the role and relevance of liberal multiculturalism in contemporary political theory. Liberal multiculturalism is a form of multiculturalism that emphasizes group-specific rights for minority groups within a liberal framework. Minority protections are adopted to secure basic liberal rights. The article first reviews Will Kymlicka's formulation of liberal multiculturalism; Kymlicka's work receives focus here as he provides the standard liberal multiculturalist position. The article then moves to exploring responses to the position. First I explore liberal responses and second I look at a recognition-based approach. In the final section the article provides a brief response to both of these critiques. I find that the liberal criticisms are overstated and that recognition-based approaches can help identify a possible way for liberal multiculturalism to respond better to the claims of minorities.
Article
The October-November 2005 upheavals in France dramatically shook visions of Europe and its politics of multicultural and multi-ethnic co-existence. The paper approaches the issue by looking at local Slovene news media and their ideological interpretative framing of the conflict. The analysis points to a deeply contradictory understanding of multicultural Europe and the ways the intercultural dialogue is imagined. Visual-narrative deconstruction of various reports and a public television special further unveils how images of the rioting second and third generation of immigrants not only clashed with the more familiar global media reports of terrorist attacks but were profoundly shaped by the discourse of global terrorism. This suggests a dire need for Europe to re-imagine itself in the direction which will recognize Europe's multicultural past as well as refashion its multicultural identity for the future.
Article
Assesses progress in and emerging directions for multicultural counseling, and comments on 3 related articles. Topics discussed include recent theoretical advances in multicultural counseling (J. G. Treviño, 1996), recent training and evaluation efforts (H. L. K. Coleman, 1996), and recruitment of ethnic minority students and faculty (D. R. Atkinson et al, 1996). It is suggested that the next century will witness the development and integration of theories specific to the multicultural counseling process. (PsycINFO Database Record (c) 2012 APA, all rights reserved)
Multicultural Education: Issues and Perspectives
  • James A Banks
  • Cherry A Mcgee Banks
Banks, James A., and Cherry A. McGee Banks. Multicultural Education: Issues and Perspectives. 7th ed. USA: Wiley, 2010.