ChapterPDF Available

Penerapan Media Komunitas Berbasis Internet Pada Komunitas Budaya

Authors:

Abstract

Artikel ini berangkat dari hasil perjalanan penelitian yang dilakukan penulis dalam mengamati sekaligus berperan atau berpartisipasi dalam aktivitas sebuah komunitas penggerak seni dan budaya (selanjutnya akan disebut sebagai komunitas budaya). Cohen-Cruz (2002) mendefinisikan komunitas penggerak seni dan budaya sebagai sekelompok aktivis seni yang memiliki pandangan yang sama dalam memberdayakan masyarakat untuk tujuan pelestarian kebudayaan. Para sarjana mengungkapkan komunitas budaya mengalami hambatan berupa keterbatasan berekspresi melalui media arus utama (Forde et al., 2009; Meadows, 2009; Shahzalal & Hassan, 2019). Komunitas budaya melakukan inovasi untuk mensiasati hambatan tersebut. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa teknologi informasi dan komunikasi memberikan peluang kreatif bagi masyarakat untuk berinovasi (Buchtmann, 2000; Jati, 2019; Megwa, 2007). Penulis berargumen komunitas budaya dapat memanfaatkan aneka ragam inovasi teknologi komunikasi untuk mewujudkan konten yang berkaitan dengan pelestarian budaya.
PENERAPAN MEDIA KOMUNITAS BERBASIS INTERNET PADA
KOMUNITAS BUDAYA
Rocky Prasetyo Jati
Universitas Budi Luhur
Jalan Ciledug Raya, Petukangan Utara, Jakarta Selatan
Artikel ini berangkat dari hasil perjalanan penelitian yang dilakukan penulis
dalam mengamati sekaligus berperan atau berpartisipasi dalam aktivitas sebuah
komunitas penggerak seni dan budaya (selanjutnya akan disebut sebagai
komunitas budaya). Cohen-Cruz (2002) mendefinisikan komunitas penggerak
seni dan budaya sebagai sekelompok aktivis seni yang memiliki pandangan yang
sama dalam memberdayakan masyarakat untuk tujuan pelestarian kebudayaan.
Para sarjana mengungkapkan komunitas budaya mengalami hambatan berupa
keterbatasan berekspresi melalui media arus utama (Forde et al., 2009;
Meadows, 2009; Shahzalal & Hassan, 2019). Komunitas budaya melakukan
inovasi untuk mensiasati hambatan tersebut. Penelitian sebelumnya
menunjukkan bahwa teknologi informasi dan komunikasi memberikan peluang
kreatif bagi masyarakat untuk berinovasi (Buchtmann, 2000; Jati, 2019; Megwa,
2007). Penulis berargumen komunitas budaya dapat memanfaatkan aneka
ragam inovasi teknologi komunikasi untuk mewujudkan konten yang berkaitan
dengan pelestarian budaya.
Media Komunitas Sebagai Media Ekspresi Komunitas Budaya
Media komunitas merupakan media yang berkembang di tengah riuhnya
persaingan yang terjadi dalam media arus utama. Sama halnya dengan media
arus utama, media komunitas berkembang melalui beragam jenis bentuk. Mulai
dari media cetak, media elektronik seperti radio dan televisi, kemudian
berkembang hingga berbasis teknologi komunikasi melalui pemanfaatan
internet. Birowo et al. (2016) menyebutkan praktik media komunitas yang
mengadopsi beragam bentuk. Komunitas menjadi sarana diskusi kolektif untuk
bersama-sama menyelesaikan masalah (Effendy, 2012). Komunitas budaya
mengalami permasalahan terkait keterbatasan akses berekspresi melalui media
arus utama (Saeed, 2009). Purnomo dan Subari (2019) dalam penelitiannya
menyebutkan bahwa tayangan acara dalam televisi tidak memberikan ruang
terhadap konten yang dianggap tidak memiliki keuntungan. Oleh karena itu,
gagasan yang digunakan adalah memanfaatkan media komunitas. Media
komunitas menciptakan alternatif dari ruang publik dengan tujuan eksistensi
kelompok masyarakat (Couldry & Dreher, 2007; King & Mele, 1999). Media
komunitas kemudian dianggap menjadi media alternatif sebagai bentuk
perlawanan terhadap hegemoni media arus utama.
Kreativitas Seniman dalam Memanfaatkan Teknologi Komunikasi
Eksistensi manusia selalu dapat dipertahankan dan mendapatkan jalan keluar
melalui dukungan kreativitas. Fuentes (2017) menyebutkan bahwa manusia,
dengan caranya tersendiri yaitu beradaptasi dan evolusi akan menemukan celah
dan solusi untuk mengatasi beragam masalah. Kemampuan berpikir kreatif dan
berimajinasi dari manusia memberikan atau menciptakan pola dalam
menentukan strategi untuk memecahkan masalah.
Komunitas budaya mengalami masalah ketika dihadapkan dalam era globalisasi
(Suneki, 2012). Era keterbukaan informasi, era kemudahan manusia dalam
memperoleh informasi karena bantuan teknologi komunikasi, memudahkan
arus masuknya budaya dari negara-negara maju ke area komunitas lokal
(Mubah, 2011). Fakta tersebut menjadi dilema bagi masyarakat lokal karena
pada satu sisi masyarakat terbantu dengan beragam kemudahan akibat
teknologi. Namun, dampak negatif juga nampak yaitu ancaman bagi eksistensi
budaya lokal (Nasution, 2017).
Kearifan lokal memiliki karakter untuk menciptakan masyarakat yang
bermartabat (Tarakanita & Cahyono, 2013). Kearifan lokal perlu tetap
dipertahankan kelestariannya (Nahak, 2019) karena mampu menjadi sebuah
alat pemersatu bagi suatu kelompok masyarakat dan menjadi identitas suatu
bangsa (Ruslan, 2015).
Ketahanan budaya adalah model pelestarian budaya lokal sekaligus sebagai alat
pemersatu masyarakat (Lan & Manan, 2011). Penulis berargumen, komunitas
budaya merupakan komunitas seni dan budaya untuk mewujudkan ketahanan
budaya.
Nasution (2017) menyebutkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi dan
komunikasi memberikan dorongan dan kemudahan bagi penggerak seni dan
budaya. Sementara itu Bogaerts (2017), dalam penelitiannya memaparkan
bahwa perkembangan teknologi yaitu internet mendorong seniman wayang
kulit menjadi lebih kreatif sehingga mendapatkan respon lebih luas. Cohen
(2019) juga mengungkapkan seniman menggunakan produk hasil
pengembangan teknologi komunikasi seperti aplikasi Youtube dan Facebook
untuk tujuan menyebarluaskan aktivitas kesenian. Penggunaan aplikasi tersebut
juga dianggap mempermudah akses berpartisipasi bagi masyarakat, karena
pada umumnya aplikasi yang digunakan sudah terpasang dalam perangkat
telepon pintar (Sjafirah & Prasanti, 2016).
Komunitas Bali Buja dan Media Komunitas “Galuh Prambanan TV”
Klaten adalah Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Dari segi geografis, Klaten
memiliki karakteristik yang unik karena berada di perbatasan Jawa Tengah dan
Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktivitas dan akses warga Klaten pun sebagian
lebih banyak dilakukan di kota Yogyakarta. Meski berdekatan, baik seniman
Klaten dan Yogyakarta tetap mempertahankan kekhasan dari produk kultural
yang dimiliki. Sugimin (2018) mengungkapkan seni karawitan Yogyakarta
memiliki perbedaan dengan seni karawitan yang ada di Jawa Tengah. Perbedaan
tersebut disebabkan unsur historis yang melekat dalam kesenian. Kesenian yang
berkembang di Yogyakarta lebih dekat dengan aktivitas seni dan budaya yang
dihasilkan dari Kraton Yogyakarta, sedangkan Klaten lebih dekat dengan Keraton
Surakarta.
Aktivitas dan kegiatan seni di Klaten cukup berkembang. Pemerintah Daerah
Klaten juga rutin untuk mendukung kegiatan pelestarian kebudayaan. Media
lokal pun juga memberikan ruang khusus. Bogaerts (2017) menyebutkan bahwa
media lokal masih tetap mengembangkan konten yang mewakili semangat
lokalitas. Televisi penyiaran publik seperti TVRI Yogyakarta juga masih
memberikan ruang bagi eksistensi kebudayaan. Meskipun, tetap dirasakan
terbatas karena dianggap belum memberikan ruang yang lebih luas ragam
kesenian di luar kota Yogyakarta.
Komunitas Bali Buja adalah komunitas budaya yang berkembang di Klaten.
Lokasi Bali Buja adalah di Desa Tlogo, Kecamatan Prambanan, Klaten. Bali Buja
merupakan singkatan dari Paguyuban Peduli Budaya Jawa. Paguyuban ini
merupakan gabungan dari beberapa komunitas seni dan budaya yang
berkembang di Klaten. Bali Buja memberikan kesempatan kepada penggiat seni
dan budaya dari daerah untuk dapat menyalurkan ekspresi kesenian dan
budaya. Kesenian yang ditampilkan oleh Bali Buja mayoritas adalah kesenian
karawitan yang memadukan unsur gamelan. Selain itu, ada juga pertunjukan
wayang kulit yang ditampilkan oleh Bali Buja.
Bali Buja sebagai suatu paguyuban yang berupaya menyatukan berbagai
komunitas budaya di daerah Klaten juga memiliki struktur organisasi.
Komunitas Bali Buja dipimpin oleh Sentot Murdoko, beliau adalah salah satu
tokoh masyarakat desa yang dipercaya untuk memimpin koordinasi penampilan
setiap komunitas yang akan tampil. Bali Buja tidak melakukan aktivitas setiap
hari, ada waktu khusus dalam setiap penampilan yang disiarkan melalui aplikasi
Youtube dengan kanal Galuh Prambanan TV.
Bali Buja pada awalnya memanfaatkan radio komunitas sebagai media siar
pendukung. Bali Buja bekerjasama dengan Radio Komunitas Bayat atau RKB
yaitu sebuah radio komunitas yang dimiliki warga daerah Bayat. RKB
menayangkan secara langsung pertunjukan seni yang dilakukan oleh Bali Buja.
Menurut pengelola Bali Buja, pemilihan media komunitas seperti radio
komunitas ataupun media komunitas berbasis internet adalah keinginan untuk
mandiri. Keterbatasan akses untuk dapat tampil dalam saluran media arus
utama, menjadikan media komunitas merupakan alternatif pilihan bagi Bali
Buja.
Pengembangan media komunitas berbasis internet dapat terwujud karena
dukungan anggota komunitas yang memiliki kemampuan kontribusi secara
finansial. Galuh Prambanan TV merupakan media komunitas yang mendukung
aktivitas Bali Buja. Teknologi komunikasi yang digunakan oleh Galuh Prambanan
TV adalah kemampuan melakukan siaran live streaming melalui aplikasi
Youtube.
Keberadaan teknologi komunikasi yang berbasis internet memiliki dampak
positif bagi pengembangan Bali Buja. Salah satunya adalah terwujudnya upaya
untuk mengundang semakin banyak komunitas budaya yang berada di Klaten
dan sekitarnya agar dapat bergabung dalam paguyuban Bali Buja.
Daftar Pustaka
Birowo, M. A., Nuswantoro, R., Saraswati, I., & Putra, F. F. (2016). Pergulatan
Media Komunitas di Tengah Arus Media Baru: Studi Kasus Lima Media
Komunitas di Indonesia. Yogyakarta: Combine Resource Institution.
Bogaerts, E. (2017). Mediating the local: Representing Javanese cultures on local
television in Indonesia. Journal of Southeast Asian Studies, 48(2), 196-218.
doi:10.1017/s0022463417000042
Buchtmann, L. (2000). Digital songlines: The use of modern communication
technology by an Aboriginal community in remote Australia. Prometheus,
18(1), 59-74.
Cohen-Cruz, J. (2002). An introduction to community art and activism.
Community arts network, 16.
Cohen, M. I. (2019). Wayang in jaman now: Reflexive traditionalization and local,
national and global networks of javanese shadow puppet theatre. Theatre
Research International, 44(1), 40-57.
Couldry, N., & Dreher, T. (2007). Globalization and the public sphere: exploring
the space of community media in Sydney. Global Media and
Communication, 3(1), 79-100.
Effendy, R. (2012). Peran Radio Komunitas dalam Menumbuhkembangkan Civic
Community. Komunikator, 4(01). Retrieved from
https://journal.umy.ac.id/index.php/jkm/issue/view/40
Forde, S., Meadows, M., & Foxwell, K. (2009). Developing Dialogues : Indigenous
and Ethnic Community Broadcasting in Australia. Bristol, UK: Intellect
Books Ltd.
Fuentes, A. (2017). The Creative Spark: How imagination made humans
exceptional: Penguin.
Jati, R. P. (2019). The Existence of Indonesian Local Art Culture Through Digital
Based Community Media. Paper presented at the ICCD.
King, D. L., & Mele, C. (1999). Making public access television: Community
participation, media literacy and the public sphere. Journal of
Broadcasting & Electronic Media, 43(4), 603-623.
Lan, T. J., & Manan, M. A. (2011). Nasionalisme dan Ketahanan Budaya di
Indonesia: Sebuah Tantangan: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Meadows, M. F., Susan & Ewart, Jacqueline & Foxwell, Kerrie. (2009). Making
Spaces: community media and formation of the democratic public sphere
in Australia. In Making our Media: Global Initiatives Toward a Democratic
Public Sphere.
Megwa, E. R. (2007). Bridging the digital divide: Community radio's potential for
extending information and communication technology benefits to poor
rural communities in South Africa. The Howard Journal of
Communications, 18(4), 335-352.
Mubah, S. (2011). Strategi Meningkatkan Daya Tahan Budaya Lokal. Jurnal
UNAIR: Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, 24(4), 302 - 308.
Nahak, H. M. (2019). Upaya Melestarikan Budaya Indonesia Di Era Globalisasi.
Jurnal Sosiologi Nusantara, 5(1), 65-76.
Nasution, R. D. (2017). Pengaruh perkembangan teknologi informasi komunikasi
terhadap eksistensi budaya lokal. Jurnal penelitian komunikasi dan opini
publik, 21(1), 30-42.
Purnomo, H., & Subari, L. (2019). Manajemen Produksi Pergelaran: Peranan
Leadership dalam Komunitas Seni Pertunjukan. JURNAL SATWIKA, 3(2),
111-124.
Ruslan, I. (2015). Penguatan ketahanan budaya dalam menghadapi derasnya
arus budaya asing. Jurnal Tapis: Jurnal Teropong Aspirasi Politik Islam,
11(1), 1-18.
Saeed, S. (2009). Negotiating power: Community media, democracy, and the
public sphere. Development in Practice, 19(4-5), 466-478.
Shahzalal, M., & Hassan, A. (2019). Communicating Sustainability: Using
Community Media to Influence Rural People’s Intention to Adopt
Sustainable Behaviour. Sustainability, 11(3). doi:10.3390/su11030812
Sjafirah, N. A., & Prasanti, D. (2016). Penggunaan Media Komunikasi dalam
Eksistensi Budaya Lokal bagi Komunitas Tanah Aksara Studi Deskriptid
Kualitatif tentang Penggunaan Media Komunikasi dalam Eksistensi
Budaya Lokal Bagi Komunitas Tanah
Sugimin, S. (2018). Mengenal Karawitan Gaya Yogyakarta. Keteg: Jurnal
Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi, 18(2), 67-89.
Suneki, S. (2012). Dampak globalisasi terhadap eksistensi budaya daerah. CIVIS,
2(1/Januari).
Tarakanita, I., & Cahyono, M. Y. M. (2013). Komitmen identitas etnik dalam
kaitannya dengan eksistensi budaya lokal. Jurnal Zenit, 2(2).
Biografi Penulis
Rocky Prasetyo Jati. Penulis saat ini sedang menempuh program Doktor Ilmu
Komunikasi di Universitas Indonesia. Topik yang menjadi fokus penelitian dari
penulis adalah media komunitas dan pemanfaatan teknologi komunikasi. Sejak
tahun 2008, penulis merupakan tenaga pengajar di Universitas Budi Luhur. Email
penulis: rocky@budiluhur.ac.id.
ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication.
Article
Full-text available
Seni populer selalu menghadirkan ruang sempit terhadap bentuk pertunjukan yang diselenggarakan secara langsung (live). Perkembangan budaya popular kedalam kehidupan seni pertunjukan telah me-munculkan transformasi nilai, ketika lembaga pemerintahan kurang dapat bersinergi dengan komunitas kesenian, maka terjadi berbagai benturan dalam proses berkesenian. Nilai estetik yang hadir melalui proses artistik, kini hanya dijadikan alat mendatangkan nilai ekonomi semata, sehingga “keindahan” sering dimaknai sebagai sesuatuhal yang harus menghasilkan keuntungan secara komersial. Sebaliknya perkembangan seni populer yang ditandai pesatnya media elektronik telah membawa pengaruh terhadap aktivitas produksi pergelaran. Pementasan kesenian tradisi yang diselenggarakan secara langsung sekarang semakin susah dijumpai, dan sering pula menghadapi persaingan dengan kesenian yang telah dikomodifikasikan melalui media televisi. Tumbuh-kembang media televisi bahkan telah memicu pertumbuhan industri hiburan yang berorientasi komoditas dan keuntungan finansial. Tayangan hiburan di berbagai layar media televisi juga dapat memalingkan penonton dari pementasan yang diselenggarakan secara live. Perkembangan seni popular yang didukung teknologi dan kecepatan informasi telah membawa pengaruh transformasi dengan hadirnya industri hiburan, hal tersebut menjadi fenomena yang berdampak terhadap keberadaan pertunjukan maupun perilaku penontonnya. Penelitian bertujuan mendeskripsikan faktor pendukung produksi pergelaran, menjelaskan pengelolaan dan peranan leadership dalam komunitas kesenian. Untuk meng- analisa data digunakan teori relevan melalui analogi Goffman, dan manajemen ditunjang konsep kepemimpinan, sehingga hasil penelitian dapat digunakan menjawab fenomena yang terjadi. Penelitian yang menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan peranan leadership ini, lebih menitik-beratkan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, studi pustaka maupun dokumentasi. Penelusuran faktor pendukung dan produksi pergelaran menghasilkan asumsi tentang manajemen serta peranan kepemimpinan dalam keberadaan komunitas seni pertunjukan.
Article
Full-text available
The development of information and communication technology has brought a change in social life. That phenomenon also has an impact on the changes in the management strategies of the existing community media. The visible development of information and communication technology is also the development of the use of digital technology. Human innovation is currently focusing on electronic media which has been developed in the current digital age. The digital age is an era that leads humans to move from the use of analog technology in digital technology which is currently also rapidly growing with the convergence of Internet. During this period, conventional media or the traditional media acts as mass media delivered electronically. Local culture that has certain characteristics can be a product that has additional high value when it is adjusted to media development. Some efforts can be made to make community media as a mean to market local culture throughout the world. Those efforts can be made by incorporating local culture into the content of digital-based community media. Those efforts have been practiced by the Paguyuban Kridho Laras Karawitan and Paguyuban Karawitan Renggo Budoyo in Klaten. They used Internet technology with Facebook and YouTube as the platform.
Article
Full-text available
Sustainable development is a big challenge for developing countries, due to lack of effective communication about sustainability to the rural population. This paper aims at building a theoretically and statistically sound model to communicate sustainability more effectively in rural areas in order to achieve sustainable development. To this end, the constructs and items of the hypothesised model are identified, based on a focus group discussion and backed by the literature reviewed. Both partial least squares and covariance-based structural equation modelling approaches were used to test the hypotheses and validate the model against multiple indices after analysing survey data collected from 300 community radio listeners in Bangladesh. It was found that the unique media characteristics of community radio positively increased the acceptability of sustainability communications, which in turn affects the behavioural determinants (popular theory: attitudes, self-efficacy belief and social norms) and changed the intention to adopt sustainable behaviour. Example cases from around the world also support the statistically sound model. The paper also provides implications and directions for future research.
Article
Full-text available
Community radio is basically unique media of communication which is viewed from how it was established, its operational management and its programs which are to build the society around it. Community radio is participatory media. It means community radio provides public sphere through horizontal communication among its members. Thus, it is seen as fertile ground for developing civic community whose members have an interest in discussing common problems in the same position that binds them together through collective association in civic values. It shows that in the beginning, the operational management followed the basic rules and the ideal principles. Unfortunately, the management of Mustika is more like daily broadcasting principles which are similar to private radios. Keywords: Community Radio, Radio Management, Participatory Media
Article
Doomsayers and traditionalists prognosticate that the dominance of digital media spells the end of traditional arts in Java, Indonesia. Wayang kulit (shadow puppet theatre), while still highly regarded as theatrical heritage, is said to be under particular threat due to the long duration of its plays, complexity of language and the need for prior knowledge of characters and situations. Such features are at odds with the short attention spans and need for instant comprehension and gratification of Gen Z – the youth referred to in Indonesian media as inhabiting jaman now (literally the ‘era of now’). While digital social media, including Facebook and YouTube, definitely offer up alternative forms of entertainment and amusement, they are also being used by traditional puppet practitioners to reinforce and expand communities of practice. Facebook provides platforms for comparative discussion and critical debate, while YouTube potentiates the inclusion of a geographically dispersed audience, including overseas workers.
Article
The end of the New Order regime and the passing of new legislation in Indonesia offered the mushrooming local broadcasting industry ample opportunities. This article examines how the changing circumstances have enabled television stations to foreground local identities within a national frame of reference. It focuses on developments in local television in the Special Region of Yogyakarta, Central Java, between 1998 and 2009. Using various localising strategies, the stations provide a more diversified local content than was the case during the Soeharto period. The analysis is based on local resources and supported by inside information, generously provided by media workers and artists.
Article
Using ethnographic data from a study of Cape Cod Community Television in Massachusetts, we shift the focus of analysis of the critical potential of public access from the content of its programming to the participation of local citizens in the production of community television. Through documentation of experiences in television production and media literacy, we redefine traditional notions of the public sphere to include meaningful action on the part of local citizens from various backgrounds. Drawing on recent feminist critical social theory, we argue that experiences in public access production compel us to move away from fixed notions of community good to the inclusion of the so‐called “fringe” and the possibilities it brings to counter the hegemony of mainstream television.
Article
Recent accounts of Habermas's conception of the public sphere concern the interlocking of multiple networks and spaces. In a global context new interfaces between existing (counter-) public spheres can lead to multiple counter-publics. This article explores this phenomenon through the examination of the communicative spaces that offer alternatives to Australia's mainstream public sphere from three different strands of Sydney's community media: diasporic media (Assyrian Radio SBS), Indigenous media (Koori Radio) and discursive sites that operate in between ethnic and mainstream media (Forum for Australia's Islamic Relations).