BookPDF Available

Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni Kajian Kitab Niẕȃm Al-Islȃm

Authors:
  • Institut Agama Islam Tazkia, Bogor

Abstract

Konsep pendidikan Islam merupakan konsep yang menarik diteliti dan dibaca oleh masyarakat luas, baik mahasiswa, dosen, guru, orang tua maupun oleh intansi negara. Sebab, manusia yang mulia dengan karakter Islami menjadikan konsep ini digemari oleh masyarakat Muslim yang sadar akan kebutuhannya membentuk dirinya maupun sekitarnya menjadi sosok yang mulia atau berkepribadian Islam. Konsep Pendidikan Islam dari para ulama sudah banyak diketahui dan dikaji oleh peneliti pendidikan, akan tetapi konsep pendidikan dari seorang ulama dakwah yang berasal dari Palestina yakni Al-Syaikh Al-Qaḏi Al-Mujâhîd Taqiyuddîn Al-Nabhâni perlu menjadi referensi dalam konsep mendidik peserta didik. Selain beliau adalah seorang pendidik di kementraian pendidikan Palestina, beliau juga seorang Qaḏi (hakim) di Mahkamah Syariah di rentang tahun 1932 hingga 1953 M. Karyanya memiliki seni bahasa dan memuat konsep-konsep rancangan peradaban yang menjadikannya khas dari pemikir lainnya. Sehingga siapa saja yang membaca buku ini akan menemukan satu konsep pendidikan Islam dari salah satu dari setidaknya 33 (tiga puluh tiga) kitabnya yang dibukukan atas namanya. Seperti menyelami samudra yang dalam, pemikiran pendidikan Islam masih banyak lagi yang dapat dikaji. Sehingga menarik untuk menjadikan buku ini sebagai referensi dalam pemuatan karya ilmiah atau bagi siapa saja yang ingin menjadikan konsep ini sebagai jalan untuk dakwah.
Konsep Pendidikan Islam
Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
Kajian Kitab Niẕȃm Al-Islȃm
UU No 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta
Fungsi dan sifat hak cipta Pasal 4
Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a merupakan hak
eksklusif yang terdiri atas hak moral dan hak ekonomi.
Pembatasan Pelindungan Pasal 26
Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23, Pasal 24, dan Pasal 25
tidak berlaku terhadap:
i. penggunaan kutipan singkat ciptaan dan/atau produk hak terkait untuk
pelaporan peristiwa aktual yang ditujukan hanya untuk keperluan penyediaan
informasi aktual;
ii. penggandaan ciptaan dan/atau produk hak terkait hanya untuk kepentingan
penelitian ilmu pengetahuan;
iii. penggandaan ciptaan dan/atau produk hak terkait hanya untuk keperluan
pengajaran, kecuali pertunjukan dan fonogram yang telah dilakukan
pengumuman sebagai bahan ajar; dan
iv. penggunaan untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan ilmu
pengetahuan yang memungkinkan suatu ciptaan dan/atau produk hak terkait
dapat digunakan tanpa izin pelaku pertunjukan, produser fonogram, atau
lembaga penyiaran.
Sanksi Pelanggaran Pasal 113
1. Setiap orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara
Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau
pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).
2. Setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin pencipta atau
pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi pencipta
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f,
dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana
penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Rendra Fahrurrozie, S.Pd.
KONSEP
PENDIDIKAN
ISLAM
TAQIYUDDIN
AL-NABHANI
Kajian Kitab Nizam Al-Islam
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
Kajian Kitab Niẕȃm Al-Islȃm
Rendra Fahrurrozie, S.Pd.
Editor :
Siti Jamalul Insani
Desainer:
Mifta Ardila
Sumber :
www.insancendekiamandiri.co.id
Penata Letak:
Siti Jamalul Insani
Proofreader :
Tim ICM
Ukuran :
xii, 134 hlm., 15,5x23 cm
ISBN :
Cetakan Pertama :
Juni 2021
Hak Cipta 2021, pada Rendra Fahrurrozie, S.Pd.
Isi di luar tanggung jawab penerbitan dan percetakan
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau
memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari Penerbit.
Anggota IKAPI : 020/SBA/20
PENERBIT INSAN CENDEKIA MANDIRI
(Grup Penerbitan CV INSAN CENDEKIA MANDIRI)
Perumahan Gardena Maisa 2, Blok F03, Nagari Koto Baru, Kecamatan Kubung,
Kabupaten Solok, Provinsi Sumatra Barat Indonesia 27361
HP/WA: 0813-7272-5118
Website: www.insancendekiamandiri.co.id
www.insancendekiamandiri.com
E-mail: penerbitbic@gmail.com
| v
Daftar Isi
Daftar Isi
1
MANUSIA DAN PENDIDIKAN ISLAM__1
A. Mencari Konsep Pendidikan Manusia__1
B. Teori Penggalian Pemikiran Pendidikan Al-Nabhani__8
2
BIOGRAFI TAQIYUDDIN AL-NABHANI__13
A. Nasab__13
B. Pendidikan__15
C. Sanad Ilmu__17
D. Madzhab__18
E. Akidah__20
F. Aktivitas Bidang Pendidikan__21
G. Aktivitas Bidang Peradilan__22
H. Aktivitas Dakwah__23
I. Aktivitas Jihad__24
J. Karya-Karya__26
K. Wafat__30
L. Sekilas Mengenai Kita Nizam al-Islam__31
3
KONSEP DASAR MANUSIA__35
A. Manusia__36
B. Potensi Manusia__41
C. Perbuatan Manusia__49
MUKADIMAH__ix
| vi
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
4
TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM AL-NABHANI__57
A. Bertujuan untuk Membentuk Keimanan (Akidah)
yang Kokoh__57
B. Bertujuan Agar Menguasai Ilmu-Ilmu Keislaman
(Tsaqafah Islam)__59
C. Bertujuan untuk Ketakwaan kepada Allah__60
D. Bertujuan Menjadi ‘Ibadullah (Hamba Allah)__61
E. Bertujuan untuk Mendakwah Islam sebagai
Kepemimpinan Berpikir__62
F. Bertujuan untuk Membentuk Kepribadian Islam__64
G. Bertujuan untuk Dapat Menguasai Ilmu Pengetahuan
(Sains) dan Teknologi Sebagai Bekal Kehidupan__66
5
METODE PENDIDIKAN ISLAM AL-NABHANI __69
A. Metode Talaqqiyan Fikriyyah__69
B. Variasi Metode Talaqqiyan Fikriyan dalam
Nizam Al-Islam__71
6
KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM AL-NABHANI __89
A. Kurikulum Berlandaskan ‘Aqidah Islam__90
B. Kurikulum Mempunyai Muatan Mabda Islam__92
C. Tsaqȃfah Islam Adalah Dasar Pelajaran yang Diajarkan
dari Tingkat Dasar Hingga Perguruan Tinggi__94
7
KONSEP PENDIDIK AL-NABHANI __97
A. Pendidik Adalah Pengemban Dakwah Islam__97
B. Pendidik Menjadikan Islam Sebagai Kepemimpinan
Berpikir __99
C. Pendidik Mengembangkan Potensi Peserta Didik__99
D. Pendidik Harus Wara’, Teliti, dan Seleksi dalam
Menerima dan Menyampaikan Informasi dalam
Pembelajarannya__100
| vii
Daftar Isi
E. Pendidik Menjadikan Rasȗlullȃh Sebagai Teladan
dalam Mengajar Dan Mendidik__101
F. Pendidik Harus Menghindari Banyak Gurauan dan
Basa-Basi dalam Menyampaikan Pengajaran,
Sebaiknya Bersikap Terus Terang Apa Adanya
(Objektif)__102
G. Pendidik Tidak Mencari Muka (Menarik Perhatian
Berlebihan Yang Negatif) Terhadap Lingkungan
Kependidika__103
H. Pendidik Adalah Seorang yang Bersikap Fokus Pada
Tarbiyyȃt Al-Islamiyyah Terhadap Kondisi-Kondisi Apa
Saja Di Lingkungan Kependidikan__104
I. Pendidik Mempunyai Jiwa Yang Ikhlȃsh, Bersih Hati
dan Pikiran, Semata-Mata Pendidikannya Untuk
Menegakkan Islam__105
J. Pendidik Berusaha Kontinu Terhadap Pencapaian
Tujuan-Tujuan Pendidikan Islam__106
K. Pendidik Mempersiapkan Peserta Didiknya untuk
Senantiasa Kuat Hubungannya dengan Allah
Subhanahu Wa Taala__107
L. Pendidik Selalu Dinamis dan Mampu Memecahkan
Masalah Pada Kehidupan Peserta Didik Agar Berubah
Tingkah Lakunya__108
M. Pendidik Adalah Seorang yang Senang Mencari,
Mengkaji dan Meneliti Kebenaran Islam Agar
Pemikirannya Bersih__108
N. Pendidik Selalu Menjauhkan Pemikirannya dari
Pemikiran/Perbuatan yang Menjerumuskannya pada
Kerusakan__110
O. Pendidik Memiliki Sikap Amanah__110
P. Pendidik Melakukan Aktivitas Pembelajaran dengan
Rasa Gembira__110
| viii
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
8
KONSEP PESERTA DIDIK AL-NABHANI __111
A. Peserta Didik Belajar untuk Mengokohkan Iman
Kepada Allah Subhanahu Taala__111
B. Peserta Didik Belajar Adalah untuk Mengetahui
Aturan-Aturan Allah Subhanahu Taala __111
C. Peserta Didik Belajar dengan Mengembangkan
Potensinya untuk Mencari Ria Allȃh Sebagai
Kebahagiaan Hakiki__112
D. Peserta Didik Berupaya Melakukan Kebaikan dan
Menjauhi Keburukan__113
E. Peserta Didik Harus Bersikap Muraqabat Ila Allah dan
Waspada pada Hisabb-Nya Allah__114
F. Peserta Didik Berjiwa Tolong Menolong dalam
Menjalankan Kebaikan dan Mencegah Keburukan di
dalam Aktivitasnya__114
G. Peserta Didik Berupaya untuk Menguasai Ilmu
Pengetahuand Teknologi yang Sifatnya Umum
Keberadaannya__115
H. Peserta Didik Harus Menyadari Bahwa Aktivitas
Pendidikannya Adalah Sebuah Kewajiban yang Kelak
Akan Mendapatkan Balasan dari Allah Subhanahu
Taala __116
I. Peserta Didik Menjaga Idrak Shillat Billah dalam
Proses Pendidikannya__117
J. Peserta Didik Setidaknya Adalah Seorang Muqallid
Muttabi’__118
K. Mengajak Dialog Guru untuk Meminta Fatwa atau
Solusi Masalah__119
9
KATHIMAH__121
REFERENSI__123
LAMPIRAN__131
TENTANG PENULIS__133
| ix
Mukadimah
Mukadimah
lhamdulillâh, bersyukur kepada Allah Swt. yang telah
memberikan nikmat iman Islâm, diberikan kebaikan
dan petunjuk-Nya, serta terpanjatkan pula shalawat
dan salam kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan para
sahabat-sahabatnya semuanya. Dengan iringan syukur dan salam
tersebut, Allâh mudahkan selesainya buku ini “Konsep
Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni: Kajian Kitab Niẕȃm Al-
Islȃm.
Banyak konsep pendidikan yang digali oleh peneliti dari
pemikiran para ulama, yang kemudian digunakan dalam
membangun manusia dalam pola-pola kurikulum dan pengajaran
di sekolah, madrasah maupun pondok pesantren. Sebab, dari
pemikiran ulama itu tergali dari Al-Qur’an, Al-Sunnah dan
tsaqafah Islam yang tersusun dalam pemikirannya. Penting bagi
generasi sekarang mengetahui konsep pendidikan Islam,
termasuk dari ulama kontemporer seperti Al-Syaikh Taqiyuddîn
Al-Nabhâni sebagai pemikir Muslim era abad ke-20.
Konsep dasar manusia yang penting dalam mendasari
proses-proses mendidik dalam pemikiran Al-Nabhâni seperti
materi dan rûh, akal, qalb (hati), dan juga potensi manusia yang
masuk ke dalam psikologi dengan khasnya dibahas dengan
awalan bahwa manusia perlu adanya dasar dalam mengetahui
objek yang akan dididik itu harus dengan baik dan benar arah
didikannya.
Menarik untuk dibaca pula karna selain konsep
pendidikan Islam Al-Nabhâni ini muncul dari penafsiran buku
A
| x
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
diawal pergerakannya dakwahnya (Nizâm Al-Islâm), saat masih
dalam kegiatannya menjadi seorang pendidik dan seorang i
(hakim) yang kemudian menjadi penggerak pemuda-pemuda
Muslim untuk bebas dari penjajahan. Sehingga metode
penulisannya dapat menjadi cara beliau dalam mengajar di
dalam halqah-halqah dan di dalam kelas.
Semoga buku ini dapat menginspirasi para pendidik,
mahasiswa atau masyarakat umum yang berharap memunculkan
generasi mulia dan bermanfaat bagi manusia, negara dan Islam.
Bogor, Syawal 1442 H | Mei 2021 M
Rendra Fahrurrozie, S.Pd.
| xi
Pedoman Transliterasi
Pedoman Transliterasi Arab - Indonesia
Arab
Indonesia
Arab
Indonesia
Arab
Indonesia
a
s
l
b
sy
m
t
sh
n
ts
w
j
h
kh
y
d
gh
dz
f
r
q
z
k
Catatan:
1. Konsonan ber-syaddah ditulis rangkap, seperti kata , ditulis
= Rabbanâ.
2. Vokal panjang (madd) fathah (baris di atas), kasrah (baris di
bawah) dan ammah (baris di depan) ditulis a, i, u, misalnya
kata:  ditulis: al-masâkîn,
 ditulis: al-mufliûn.
3. Diftong ditulis:
= au,
= u,
= ai,  = i.
4. Kata sandang alif dan lam (), baik diikuti oleh huruf
Qamariyah maupun huruf Syamsiyah, ditulis “al” di awalnya,
misal:
 ditulis al-Nisâ
 ditulis al-Mu’min
5. Ta’ al-Marbuah () bila terletak di akhir kalimat ditulis: h,
seperti
 ditulis: al-Baqarah. Bila terletak di tengah kalimat,
ditulis: t , misalnya
 ditulis: zakât al-mâl.
| xii
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
6. Penulisan kalimat Arab di dalam kalimat Indonesia ditulis
menurut tulisannya, misal
 

ditulis: wa huwa
khair al-râziqîn.
| 1
Manusia dan Pendidikan Islam
A. MENCARI KONSEP PENDIDIKAN MANUSIA
Manusia yang mempunyai kepribadian yang mulia, merupakan
suatu karunia yang besar bagi masyarakat. Tentunya kepribadian
mulia itu, adalah andil dari manusia sekitarnya yang
membentuknya dengan mengubah pola pikirnya dan perilakunya
agar mulia. Inilah peran dari pendidikan, yakni memanusiakan
kemanusiaan manusia.
1
Oleh sebab itu, pendidikan mempunyai
konsep tertentu agar menghasilkan manusia yang diharapkan
tidak hanya cerdas dalam pola pikirnya, akan tetapi mulia dalam
pola sikapnya.
Ada berbagai macam konsep pendidikan di dunia ini yang
kesemuanya mengharapkan agar manusia menjadi mulia dan
bermanfaat bagi masyarakat, keluarga ataupun bagi dirinya
sendiri. Baik itu dengan konsep pendidikan yang sifatnya umum
dan teknis, ataupun konsep pendidikan berbasis agama tertentu
dengan coraknya masing masing berbeda dan khas. Semua
konsep-konsep pendidikan tersebut mempunyai tujuan-tujuan
tertentu, yang pastinya untuk mengubah pemikiran dan perilaku
manusia agar menjadi lebih baik dan mulia. Pendidikan
1
Dinasril Amir, „Konsep Manusia Dalam Sistem Pendidikan Islam‟, Al-Ta'Lim, 19.3
(2012), hlm. 189 <https://doi.org/10.15548/jt.v19i3.52>, hlm. 188.
01
Manusia dan
Pendidikan Islam
| 2
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
setidaknya berkaitan untuk mengembangkan diri seseorang,
dengan tiga aspek dalam kehidupannya yakni,
2
1. pandangan hidup,
2. sikap hidup, dan
3. keterampilan hidup.
Akan tetapi, apabila kita melihat fakta yang terjadi pada
saat ini di masyarakat, baik di Indonesia maupun dunia secara
global terdapat hal yang sangat menyedihkan mengenai manusia.
Di Indonesia misalnya, dengan kualitas pendidikan masih
rendah, walaupun akses pendidikan untuk masyarakat
meningkat, dan anggaran dana untuk pendidikan telah mencapai
Rp 444 triliun atau sekitar 20 persen dari total belanja Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018.
3
Ini ditandai
dengan 55 persen anak usia 15 tahun di Indonesia secara
fungsional buta huruf, angka yang mencengangkan dan tinggi
melihat kontrasnya Indonesia mempunyai kekayaan sumber daya
alam yang melimpah. Sedangkan untuk mengembangkan pola
pikir dan sikap manusia agar mulia, tentunya dengan bisa
membaca buku dan mampu mengakses pendidikan. Ini
disebabkan pengaruh angka kemiskinan yang dirasakan
masyarakat, efek dari kemiskinan ini adalah menurunnya
produktifitas, tercipta penduduk yang terbelakang dan
terbengkalainya sumber daya alam yang ada.
4
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia pernah merilis sebuah jurnal berjudul Gawat Darurat
Pendidikan di Indonesia pada tahun 2014, yang dipaparkan oleh
2
Eka Prihatin dan lainya, Konsep Pendidikan, ke-1 (Bandung: PT. Karsa Mandiri
Persada, 2008), hlm. 3.
3
Yuli Yanna Fauzie, „Bank Dunia: Kualitas Pendidikan Indonesia Masih Rendah‟,
2018 <https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20180607113429-284-304214/bank-dunia-
kualitas-pendidikan-indonesia-masih-rendah> [diakses pada 4 Januari 2019].
4
Novita Dewi, „Pengaruh Kemiskinan Dan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Indeks
Pembangunan Manusia Di Provinsi Riau‟, Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Ekonomi
Universitas Riau, 4.1 (2016), hlm. 879.
| 3
Manusia dan Pendidikan Islam
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan disampaikan dalam
silaturahmi Kementerian dengan Kepala Dinas di Jakarta 1
Desember 2014. Yang dalam jurnal tersebut mengajak semua
pihak di dalam birokrasi untuk mencari terobosan kreatif dan
mengajak masyarakat untuk membereskan masalah pendidikan.
5
Dalam paparan tersebut yang menarik bagi penulis yang
diambil dari sekian banyaknya permasalahan di jurnal tersebut
adalah, data dari UNESCO pada 1 dari 1.000 orang Indonesia
punya minat baca serius. Padahal minat baca buku ini dapat
mempengaruhi pola pikir dan pola sikap manusia menjadi baik,
meningkat, dan dapat mengembangkan potensi dirinya. Maka
tidak heran apabila dalam paparan tersebut terdapat problem
beragam, seperti
1. Kekerasan fisik di dalam lingkungan pendidikan menjadi
berita yang tiada henti,
2. Kekerasan fisik oleh/terhadap pelajar yang terjadi di luar
sekolah,
3. Kekerasan seksual oleh/terhadap pelajar di luar sekolah, dan
4. Kekerasan seksual bahkan terjadi di dalam lingkungan
persekolahan.
Meski pemaparan tersebut pada tahun 2014 yang silam,
akan tetapi berita akan hal tersebut masih terjadi hingga
sekarang. Kita tinggal ketik keyword mengenai kenakalan remaja
dan pelajar di laman mesin pencarian seperti google, atau situs
berita online utama nasional maka akan muncul berita-berita
tersebut mungkin tidak lama dari waktu kita melakukan
pencarian. Dengan beragam masalah yang tak henti-hentinya
meliputi, narkoba, tawuran, seks bebas atau pornografi, dan
5
AR Baswedan, „Gawat Darurat Pendidikan Di Indonesia‟, Academia.Edu, The
Emergency of Indonesian Education, 2014, 60 <http://www.academia.edu/ download
/35969346/Paparan_Menteri_-_Kadisdik_141201_-_Low_v.0.pdf> [diakses pada 4 Januari
2020].
| 4
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
bentuk yang mungkin pada masa 2014 tidak terjadi, seperti
membunuh gurunya sendiri dan khusus masalah LGBT misalnya
yang pengaruh pemberitaannya saja memberikan kecemasan
pada orang tua apa lagi jika remaja terjerumus pada hal seperti
itu.
6
Dan masalah remaja usia sekolah maupun orang dewasa
pun terjadi di negara-negara lain yang tingkat intelektual dan
kualitas pendidikannya dinilai baik. Akan tetapi, masalah ini
terus terjadi. Baik itu angka bunuh diri,
7
LGBT,
8
rasisme,
diskriminasi agama,
9
dan persekusi terhadap etnis dan agama
terus ada seperti yang dihadapi oleh etnis Uygur di Cina.
Dan yang terbaru, yang mencengangkan mahasiswa
Indonesia yang tengah mengambil studi doktoral di Manchester
Inggris dan dia memiliki tiga gelar magister, yaitu Reynhard
Sinaga dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dinyatakan
bersalah melakukan perkosaan dan serangan seksual terhadap
48 pria di Inggris.
10
Maka dari itu, masalah
11
pendidikan
merupakan permasalahan global, yang tidak hanya menyangkut
Indonesia saja. Karnanya perlu ada konsep pendidikan yang
cemerlang dan memiliki landasan yang kuat dan sempurna serta
6
Afif Rahman Kurnia and Rini Riyantini, „Pemberitaan Lesbi, Gay, Biseksual,
Transgender (LGBT) Di Televisi Terhadap Tingkat Kecemasan Orang Tua (Survei Warga
Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji, Depok, Jawa Barat)‟, Jurnal Ekspresi Dan Persepsi,
1.01 (2019) <https://doi.org/10.33822/JEP.V1I01.446>, hlm. 89.
7
Yuniarto Hendy, „Tingginya Angka Bunuh Diri Pelajar Di Korea, Jepang, Dan
Tiongkok‟, 2019 <https://www.kompasiana.com/joker_88/5ca9eaaf3ba7f7699f0bff52/tingginya-
angka-bunuh-diri-pelajar-di-korea-jepang-dan-tiongkok?page=all> [diakses pada 4 Januari
2020].
8
Michael Koziol, „Masyarakat Australia Setuju Legalkan Pernikahan Sesama Jenis‟,
2017 <https://www.matamatapolitik.com/masyarakat-australia-setuju-legalkan-pernikahan-
sesama-jenis/> [diakses pada 4 Januari 2020].
9
Yantina Debora, „Diskriminasi Dan Rasisme Di Asia Timur‟, 2017
<https://tirto.id/diskriminasi-dan-rasisme-di-asia-timur-cmbm> [diakses pada 4 Januari 2020].
10
Endang Nurdin dkk, „Reynhard Sinaga: Pemerkosa Berantai Terbesar Dalam
Sejarah Inggris‟, BBC News Indonesia, 2020 <https://www.bbc.com/indonesia/media-
51006676> [diakses pada 7 Januari 2020].
11
Masalah adalah suatu keadaan yang bersumber dari hubungan dua faktor atau lebih
yang menghasilkan situasi membingungkan. Lihat: Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian
Kualitatif, ke 6 (Bandung: Rosdakarya Offset, 1995), hlm. 62.
| 5
Manusia dan Pendidikan Islam
kokoh dalam membentuk konsep pendidikan manusia agar
menjadi pribadi yang mulia. Yakni konsep pendidikan Islam.
Dalam konsep pendidikan Islam memiliki konsep
peningkatan intelektual manusia, sekaligus bersamaan dengan
dekatnya manusia dengan penciptanya (Al Khȃliq). Ini berbeda
dengan konsep pendidikan sekular materialistik, yakni konsep
pendidikan yang memisahkan antara agama dengan pendidikan,
sehingga manusia menjadikan ukuran materi sebagai basis
pemikiran dan memungkiri hal yang sifatnya non materi.
12
Manusia yang timbul dari konsep pendidikan sekular
materialistik akan cenderung individualistik, serta menganggap
gelar kesarjanaan, jabatan, kekayaan dan apapun itu berupa
investasi yang harus dikembalikan karna itu semua bersifat
materi.
13
Inilah kegagalan dari konsep pendidikan sekular
materialistik, yang tidak melahirkan manusia yang shȃlih
sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam konsep pendidikan Islam, akidah Islam merupakan
pondasi penentu arah dan tujuan pendidikan, penyusunan
kurikulum, standar nilai ilmu pengetahuan, proses belajar
mengajar, kualitas pendidik, budaya yang dikembangkan di
lembaga pendidikan, dan termasuk penyediaan sarana dan
prasarana. Yang secara berkesinambungan konsep ini digunakan
dari tingkat TK hingga Perguruan Tinggi. Agar hasil yang
diharapkan kelak dari peserta didik adalah memiliki unsur-
unsur, yakni: terbentuknya kepribadian Islam, penguasaan
tsaqȃfah Islam, dan penguasan ilmu-ilmu pegetahuan dan
teknologi.
Di dalam kitab Niẕȃm Al-Islȃm atau yang dalam buku
terjemahnya Peraturan Hidup dalam Islam, yang ditulis oleh Al-
12
M. Ismail Yusanto dan lainnya, Menggagas Pendidikan Islami, (Bogor: Al Azhar
Press, 2018), hlm. 5-7.
13
Ibid., hlm. 7.
| 6
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni pada tahun 1953 M, terdapat
konsep pendidikan Islam yang mempunyai solusi yang khas,
untuk menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia dan dunia
global. Konsep pendidikan Islam yang khas dari kitab Niẕȃm Al-
Islȃm, berbeda dengan konsep pendidikan Islam yang lain, yakni
dari segi sudut pandang berpikir, dan adanya kepemimpinan
berpikir manusia sebagai alat untuk dekat kepada Allȃh sekaligus
membangkitkan diri. Dari berpikir inilah, lahir konsep
pendidikan Islam yang dilandasi oleh sudut pandang yang khas
itu.
Sebagaimana Allȃh subẖȃnahu wa ta’ȃlȃ berfirman di
dalam Al-Qur’an, yang dikutip di dalam kitab tersebut memiliki
pengaruh dan ajakan untuk bangkit berubah.



Artinya: “Sesungguhnya Allȃh tidak merubah keadaan
sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada
diri mereka sendiri.” (QS. Al Ra’d: 11)
14
Menurut Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni,
15










Artinya: “Dengan demikian, apabila kita hendak mengubah
tingkah laku manusia yang rendah menjadi luhur, maka tidak ada
14
Departemen Agama RI, Al Qur‟an Dan Terjemahnya, ke 10 (Bandung: CV.
Penerbit Diponogoro, 2007), hlm. 250.
15
Taqiyuddȋn Al-Nabẖȃni, Nizham Al Islam (Al Quds, Palestina: Hizbut Tahrir,
1953), hlm. 1.
| 7
Manusia dan Pendidikan Islam
jalan lain kecuali harus mengubah mafhȗm-nya terlebih
dahulu.”
16
Mafhȗm (persepsi, jamaknya mafȃhȋm) adalah makna-
makna pemikiran yang mempunyai fakta yang dapat diindra oleh
panca indra dan terjadi proses pembenaran di dalamnya. Jadi,
persepsi inilah yang mempengaruhi perilaku manusia.
17
Manusialah mengubah keadaan mereka dengan mengubah
persepsinya tetang kehidupan, bahwa seluruh perbuatan
manusia itu terikat dengan hukum syarȃ' (syarȋah Islam, aturan
Pencipta manusia) dan terjadi proses pembenaran dalam diri
manusia. Apabila tidak terjadi pembenaran, maka hanya menjadi
informasi belaka, inilah salah satu sebab terjadinya kemerosotan
perbuatan manusia saat ini.
Maka konsep dasar pendidikan Islam yang dibangun dari
pandangan Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni di dalam kitab
Niẕȃm Al-Islȃm, adalah menguatkan akidah
18
peserta didik
dengan jalan aqliyyah (dengan akal dan tekstual, naqly),
termasuk kualitas dari pendidik agar berakidah Islam yang
kokoh, kurikulum yang disumberi dari akidah Islam, dan
begitupun dengan komponen lainnya. Maka, akan terbentuk
konsep pendidikan yang sangat efektif dan praktis apabila
diterapkan pada kondisi masyarakat Indonesia saat ini, yang
sebagian besar berakidah Islam dan bagi siapa saja yang ingin
16
Taqiyuddȋn Al-Nabẖȃni, Peraturan Hidup Dalam Islam, ke-3 (Bogor: Pustaka
Thariqul Izzah, 2003), hlm. 8.
17
Muhammad Ismail Yusanto, Membangun Kepribadian Islami (Jakarta: Khairul
Bayan, 2002), hlm. 9-10.
18
Akidah adalah pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia dan
kehidupan, dan tentang apa-apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia, serta hubungan
sebelum dan sesudah kehidupan dunia. Lihat: Muhammad Husain Abdullah, Studi Dasar-Dasar
Pemikiran Islam (Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 1990), hlm. 72. Yang pengertian akidah ini
senada dengan kitab Niẕȃm Al Islȃm.
| 8
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
mengenal Pencipta sejatinya, apapun latar belakangnya (tidak
ada dikotomi, pemisahan, diskriminasi).
B. TEORI PENGGALIAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN AL-NABÂNI
Dalam mengkaji pemikiran tokoh, tentunya pemahaman atau
pandangan-nyalah yang dapat diambil, dan gagasannya yang
tampak khas serta menarik untuk dikaji. Hal inilah yang menjadi
tujuan dalam mengkaji pandangan Al-Syaikh Taqiyuddîn Al-
Nabhâni yang pemikiran khasnya salah satunya terdapat dalam
karyanya yakni kitab Niâm Al-Islâm. Maka, dalam penelitian
pemikiran tokoh ini ada pertimbangan yang harus diketahui,
yaitu
19
1. Popularitas. Aspek ini sangat penting yang menjadikan kajian
itu menarik, terutama mempunyai karya.
2. Pengaruh. Aspek ini dapat dilihat dari banyaknya masyarakat
yang terinspirasi dari pemikiran tokoh tersebut.
3. Kontroversial. Aspek ini dilakukan penelitiannya, apabila
tokoh tersebut dinilai mempuyai gagasan yang kontroversi,
sehingga penelitian tersebut dimaksudkan untuk klarifikasi
dan menjauhkan dari politisasi dari pihak-pihak tertentu.
4. Keunikan. Aspek ini penting dalam penelitian tokoh yang
memberikan kekhasan daripada tokoh yang lainnya.
5. Intensitas. Aspek ini adalah tokoh yang diteliti sudah cukup
lama menggeluti bidang kajian, sehingga dapat dicermati
pemikirannya.
6. Relevansi pemikirannya dengan konteks kekinian. Aspek ini
memandang bahwa pemikirannya masih relevan dengan
kondisi saat ini.
19
Abdul Mustaqim, „Model Penelitian Tokoh (Dalam Teori Dan Aplikasi)‟, Jurnal
Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur‟an Dan Hadis, 15.2 (2016), 201 <https://doi.org/10.14421/ qh. 20
14.1502-01>, hlm. 205.
| 9
Manusia dan Pendidikan Islam
Dari pertimbangan-pertimbagan tersebut, Al-Syaikh
Taqiyuddîn Al-Nabhâni memiliki pertimbangan yang layak untuk
dikaji pemikirannya. Pengaruh pemikirannya masih kuat di
masyarakat Islam, baik di Indonesia dan global yang mengadopsi
pemikirannya melalui organisasinya izb Al-rîr. Belum lagi
dari sisi intensitas pemikirannya, Al-Syaikh Taqiyuddîn Al-
Nabhâni juga terjun dalam pendidikan dan pemikiran Islam serta
dakwah Islam yang membawanya ke dalam popularitas di
masyarakat Islam hingga kini. Meski ada kontroversi dari
sebagian masyarakat yang tidak setuju dengan gagasannya, akan
tetapi justru inilah yang menarik sehingga layak untuk dikaji dan
dapat diketahui pemikirannya yang unik/khas itu.
Melalui karyanya kitab Niâm Al-Islâm, dapat digunakan
teori dari Muhammad Abed Al-Jabiri
20
yang mengklasifikasikan
aktivitas intelektual/pemikiran Islam pada 3 (tiga) kelompok,
yaitu epistemologi
21
Bayâni, ‘Irfâni, dan Burhâni.
22
Pertama, Bayâni. Yaitu aktivitas pemikiran yang
dipopulerkan oleh para ahli fikih (fuqahâ) yang lebih
mengedepankan teks (dalîl/normatif) dari pada isi (substansi)
teks. Al-Jabiri menyebutnya al-ma’qul al-dini (rasionalitas
keagamaan), sehingga pada epistemologi bayâni menggunakan
pemikiran analogis dengan bersandar pada hal yang diketahui
20
Adalah salah seorang pemikir Arab terkemuka. Sebagai seorang pemikiran Muslim
Maroko terdepan, Abed al-Jabiri dikenal dengan gagasannya yang memerangi „irasionalisme‟
dan pada saat yang sama mempromosikan rasionalisme dalam merumuskan pemikiran Islam. Ia
percaya bahwa ajaran-ajaran Islam dapat dilihat sebagai sekumpulan gagasan yang selaras
dengan rasionalitas dan gagasan saitifik ilmiah. Lihat: Ahmad Hasan Ridwan, „Kritik Nalar
Arab : Eksposisi Epistemologi Bayani, „Irfani Dan Burhani Muhammad Abed Al-Jabiri‟,
Afkaruna, 12.2 (2016), 187222 <https://doi.org/10.18196/AIIJIS.2016.0062.187-221>, hlm.
187.
21
Epistemologi berasal dari bahasa Yunani, episteme dan logos. Episteme biasa
diartikan pengetahuan atau kebenaran, dan logos diartikan pikiran, kata, atau teori. Epistemologi
secara etimologi dapat diartikan teori pengetahuan yang benar dan lazimnya hanya disebut teori
pengetahuan yang dalam bahasa Inggrisnya menjadi theory of knowledge. Mohammad Sholeh,
„Dimensi Epistemologi Tradisi Pemikiran Pendidikan Islam‟, Terateks: Jurnal Keislaman,
Pendidikan, Dan Ekonomi, 1.1 (2016), 1831 <http://ejournal.kopertais4.or.id/madura/
index.php/terateks/article/view/2994>, hlm. 19.
22
Ibid., hlm. 22.Sholeh.
| 10
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
dari pada yang tidak diketahui.
23
Selain pada nash (Al-Qur’an dan
Al-Hâdits), juga dapat digunakan pada kitab-kitab para ulama
yang dikaji penafsirannya untuk diuraikan dalam penelitian.
Kedua, ‘Irfâni
24
. Yaitu aktivitas pemikiran yang berkembang pada
masyarakat sufi, ‘irfân atau makrifat berkaitan dengan
pengetahuan yang diperoleh langsung dari Tuhan (kasyf) melalui
olah rohani (riyadhah) yang dilakukan atas dasar hub (cinta)
atau iradah (kemauan yang kuat). Jadi, ‘irfani adalah
berdasarkan pada intuisi atau pengalaman spiritual. Ketiga,
Burhani. Aktivitas pemikiran yang menyandarkan diri pada
kekuatan rasio atau akal, dan juga atas pengalaman (empiris)
tanpa adanya teks wahyu (nash). Ini berkembang pada
masyarakat filsafat.
Dari teori Muhammad Abed al-Jabiri ini, diteliti pemikiran
Al-Syaikh Taqiyuddîn Al-Nabhâni dengan aktivitas Bayâni, maka
saat menjelaskan (mendeskripsikan) teks pada kitab Niâm Al-
Islâm adalah dengan meng-qiyâs-kan dan menjelaskan pada
kerangka konsep pendidikan Islam terhadap lafâdz/makna yang
terkandung pada teks tersebut.
Selain itu, perlu juga diketahui pemikiran dari aliran utama
pemikiran pendidikan Islam dengan mengambil teori dari
Muhammad Jawwâd Riâ,
25
agar dapat menjadi pengayaan
pemikiran mengenai konsep pendidikan Islam yang digunakan
pada konsep pendidikan Islam Al-Nahbâni sebagai dialektika
23
Tabrani. Za, „Modernisasi Pengembangan Pendidikan Islam‟, Jurnal Studi
Pemikiran, Risert Dan Pengembangan Pendidikan Islam, 01.01 (2013), 168999
<https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004>, hlm. 68.
24
Berasal dari kata dasar bahasa Arab „arafa, semakna dengan makrifat, yang berarti
pengetahuan, tetapi berbeda dengan ilmu („ilm). Lihat: Mohammad Sholeh, „Dimensi
Epistemologi Tradisi Pemikiran., hlm. 24
25
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja'far bin Muhammad,
dengan Al-Jawad yang lahir di Madinah pada tahun 195 H/811 M, Al-Jawad wafat pada tahun
220 H/835 M di Baghdad oleh Mu'tashim Khalifah Abbasiah. Lihat: Fajar Kurniawan,
„Pengembangan Teori Pendidikan Islam Perspektif Muhammad Jawwad Ridla (Religius
Konservatif, Religius Rasional, Pragmatis Instrumental) Fajar‟, At-Ta‟lim, 18.1 (2019), 223242
<http://ejournal.iainbengkulu.ac.id/index.php/attalim/>, hlm. 226-227.
| 11
Manusia dan Pendidikan Islam
terhadap pemikirannya Al-Syaikh Taqiyuddîn Al-Nabhâni
meskipun tidak semuanya. Berikut adalah 3 (tiga) aliran utama
tersebut, yaitu: (1) aliran Religius Konservatif, dengan tokoh
utamanya adalah al-Ghazâli, Al-Zarnûji dan lainnya, yang aliran
ini cenderung bersikap murni keagamaan. Dengan penafsiran
dan hafalan pada nash sebagai induk ilmu yang kelak akan
dibawa pada ranah akhirat. (2) aliran Religius-Rasional, dengan
tokohnya yaitu Al-Farâbi, Ibn Sina, Ibn Miskawaih dan lainnya,
bahwa aliran religius rasional mempunyai epistemologi
pendidikan Islam yang berciri khasnya pemaduan antara empiris
(pengalaman) rasional dan wahyu (Al-Qur’an dan Al-Hadîts. (3)
aliran Pragmatis, dengan tokoh utamanya adalah Ibn Khaldûn.
Hakikat pendidikan menurut pragmatisme adalah menyiapkan
peserta didik dengan membekali seperangkat keahlian dan
keterampilan teknis agar mampu hidup di dunia yang selalu
berubah (dinamis).
26
Dan juga penulis memasukkan tokoh-tokoh
modern dalam pengayaan pemikiran pendidikan Islam, seperti
Hasan Al-Banna, Muhammad Iqbal dan tokoh pendidikan di
Indonesia seperti KH. Amad Dahlan dan KH. Hȃsyim Asyarȋ.
Sebab, dari tokoh modern tersebut dapat menjadi tambahan
bahan meng-qiyas-kan pemikiran Taqiyuddîn Al-Nabhâni dalam
kitab Niam Al-Islâm yang perlu dijelaskan teksnya ke dalam
konsep pendidikan Islam.
26
Ibid., hlm. 232-239.
| 12
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
| 13
Biografi Taqiyuddin Al-Nabhani
A. NASAB DAN KELAHIRAN
Nama lengkap beliau Muammad Taqiyuddȋn bin Ibrȃhȋm bin
Mushafa bin Ismȃ’il bin Yȗsuf bin asan bin Muammad bin
Nashiruddȋn Al-Nabhȃni. Adapun nama kunyah (nama
panggilan) beliau Abu Ibrȃhȋm, mengenai nasab Al-Nabhȃni yang
merupakan nasab yang terhormat yang hidup di desa Ijzim,
daerah selatan Kota Haifa Palestina. Keluarga Al-Nabhȃni memi-
liki ilmu pengetahuan dan agama sehingga menjadikan
kedudukan mereka mulia dan dihormati masyarakat. Menurut
Mushafa Murȃd Al-Dibagh dalam kitabnya al-Qabȃil al-
Arabiyyat wa Salȃilihȃ fȋ Bilȃdinȃ Filasṯȋn yang dikutip oleh
Muhsin Rodhi (2008), bahwa dari nasabnya ini bersambung
pada sahabat Rasȗlullȃh Tamȋm bin Aus Al-Dȃrȋy raiyallȃhu
‘anhu dari jalur Bani Lakm yang merupakan keturunan Mȃlik bin
‘Adiy.
27
27
Muhammad Muhsin Rodhi, Tsaqofah Dan Metode Hizbut Tahrir Dalam
Mendirikan Negara Khilafah Islamiyah, cet. ke 1 (Pasuruan: Al-Izzah, 2008), hlm. 59-60.
02
Biografi
Taqiyuddin Al-Nabhani
| 14
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
Gambar 2.1: Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
28
Kelahiran Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni pada tahun
1909 M yang dibesarkan oleh keluarga yang sangat memperhati-
kan ilmu dan agama. Ayahnya Ibrȃhȋm bin Musafa adalah
seorang pendidik ilmu syarȋah di Kementrian Pendidikan
Palestina, sedangkan ibunya menguasai ilmu cabang syarȋah dari
ayahnya Syaikh Yȗsuf Al-Nabhȃni
29
yang merupakan ulama yang
menonjol pada masa Khilȃfah Utsmaniyah. Kakeknya tersebut
memberikan perhatian besar pada Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni kecil
sehingga berpengaruh pada pembentukan kepribadian dan
pandangan keislamannya. Seperti hafal seluruh Al-Qur’an 30 juz
sebelum usia 13 tahun, keilmuan syarȋah (fikih) melalui forum-
forum diskusi yang diadakan kakeknya, keilmuan siȃsah (politik)
28
Jami‟ al Huquq Mahfuzhoh li Al Azhar Asy Syarif, „Dzakirotu Al Azhar Asy
Syarif‟, Al Azhar Syarif, 2016 <http://www.alazharmemory.eg/sheikhs/Default.aspx?
char_type=4> [telah diakses pada 11 Maret 2016].
29
Beliau adalah pengarang kitab Jami‟ Karamat Al Auliya, serta sebagai ketua hakim
Mahkamah Agung di Beirut, juga di Palestina dan sering tinggal di Madinah Al-Munawarah
serta menjadi tamu kehormatan para ulama Al-Azhar Mesir. Karyanya setidaknya ada 50 buku,
termasuk juga buku-buku hadist, ilmu sanad, tasawuf, dan tafsir. Lihat: Yusuf bin Ismail Al-
Nabẖȃni, Kisah Para Kekasih Allah, ed. by Ratna SN, cet. ke 1 (Jakarta: Zahira PT. Zaytuna
Ufuk Abadi, 2015).
| 15
Biografi Taqiyuddin Al-Nabhani
penting, dan mendorong untuk melanjutkan pendidikan
memperdalam ilmu syarȋah.
30
Lebih lanjut mengenai keluarga dekat Al-Syaikh
Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni, ayahnya Ibrȃhȋm bin Musafa selain
sebagai pendidik, juga sebagai hakim (qȃḏiy) di Palestina dan
Damaskus yang mengeluarkan fatwa akan tetapi tidak
mencatatnya atau membukukannya, yang telah hafal Al-Qur’an
pada usia 10 tahun. Adapun ibunya bernama Taqiyyah binti
Yȗsuf Al-Nabhȃni merupakan seorang wanita ȃlim pada ilmu-
ilmu keislaman, yang juga banyak mengeluarkan fatwa-fatwa
akan tetapi tidak membukukannya meski banyak para wanita
yang meminta fatwa darinya. Kedua kakeknya baik dari ayah dan
ibunya, merupakan ulama yang berilmu yakni Syaikh usain Al-
Nabhȃni seorang ulama bahasa Arab dan ushȗl al-fiqh, dan
Syaikh Yȗsuf Al-Nabhȃni seorang ulama tashawȗf, tafsir, adȋts,
dan juga seorang qȃḏiy (hakim) pada masa Khilȃfah Turki
Utsmani.
31
B. PENDIDIKAN
Pendidikan dasar yang diterima Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-
Nabhȃni tentunya diterima pertama kali oleh ayahnya dan
kakeknya Syaikh Yȗsuf Al-Nabhȃni serta dari ibunya, sehingga
beliau hafal Al-Qur’an sebelum balȋgh. Sekolah dasar negeri yang
ditempuh di desa Ijzim Palestina, kemudian berlanjut di Akka
untuk sekolah menengah, akan tetapi tidak sampai tamat karena
langsung meneruskannya di Al-Azhar Kairo Mesir, sehingga
mendapatkan ijazah dengan predikat sangat memuaskan dari
sekolah tingkat menengah (al-tsȃnawiyyah) Al-Azhar pada tahun
1928 M di usia 19 tahun. Kemudian lanjut pendidikannya pada
30
Ibid., hlm. 60-61.
31
Ali Dodiman, Biografi Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabẖȃni, cet. ke 1 (Yogyakarta:
Granada Publisher, 2017), hlm. 3.
| 16
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
tingkat diploma jurusan bahasa Arab dan sastra dari Fakultas
Dȃr Al-Ulȗm Kairo yang merupakan cabang Al-Azhar, dan
Diploma dari al-Ma'had al-‘Aliy Al-Azhar jurusan peradilan.
Tahun 1932 M beliau lulus dari Al-Azhar dengan memperoleh al-
Syahȃdat al-'Alamiyyah (ijazah setingkat Doktor) pada jurusan
syarȋah pada usia 23 tahun sekaligus di tahun yang sama
menamatkan kuliah di Dȃr Al-Ulȗm.
32
Di sistem pengajaran lama Al-Azhar, beliau memilih halqat
al-‘ilmiyyah bersama Syaikh Muammad Al-Khir usain yang
disarankan oleh kakeknya. Pada halqah inilah beliau dikenal oleh
teman dan sahabatnya sebagai sosok yang mempunyai
pemahaman mendalam, kemampuan tinggi untuk meyakinkan
orang dalam perdebatan, serta tekun dan bersemangat dalam
memanfaatkan waktu untuk belajar dan alab ilmu. Banyak
halqah yang dihadirinya dari Syaikh Al-Azhar, yang membahas
mengenai ilmu fikih, tafsir, tauhid dan yang sejenisnya.
33
Sifat Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni diceritakan oleh Al-
Ustȃdz (Profesor) Zahir Kahalah, yang menjabat sebagai Direktur
Administratif Fakultas al-‘Ilmiyyat al-Islȃmiyyah (beliau ini
selalu menemani Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni mulai dari
awal di dunia fakultas) bahwa Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
adalah seorang yang jujur, mulia, bersih, ikhlas, bersemangat,
bergelora dan merasa pedih dan sedih atas penjajahan pada umat
Islam Palestina oleh penjajahan Israel. Perawakan belau yang
kuat fisiknya, penuh semangat, mudah marah, pandai dalam
perdebatan, apabila berargumentasi mematikan, dan tegas
dengan sesuatu yang diyakininya benar. Beliau berjenggot sedang
bercampur uban serta selalu berpakaian dengan pakaian para
32
Ibid., hlm. 9 dan lihat pula: Muhammad Muhsin Rodhi, Tsaqofah Dan Metode.,
hlm. 62.
33
Ali Dodiman, Biografi Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabẖȃni., hlm. 9-10.
| 17
Biografi Taqiyuddin Al-Nabhani
ulama: qufṯȃn ( - pakaian panjang dipakai di atas jubah),
dan serban.
34
C. SANAD ILMU
Mengenai sanad
35
keilmuan dan tsaqȃfah Islam Al-Syaikh
Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni, mudah untuk ditelusuri dari keluarganya
yang gudang ilmu yang membentuknya dalam berpandangan dan
berislam yakni Al-Syaikh Yȗsuf Al-Nabhȃni, yang berguru salah
satunya kepada Al-Syaikh Syamsu Al-Dȋn Al-Ambȃbȋ Al-Syȃfiȋ
yang dikenal sebagai hujjat al-‘ilmi dan guru besar Al-Azhar,
selama 2 tahun dengan mengkaji kitab Ghayȃt wa Taqrȋb dan
kitab Al-Khatȋb Syarbini.
36
Dalam sanad keilmuan Al-Syaikh
Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni, dari jalur kakeknya (Al-Syaikh Yȗsuf Al-
Nabhȃni) yang bermazhab Syȃfiȋ bersambung hingga Imam Al-
Syȃfiȋ raimahullȃh dan bersambung ke sahabat Zaid bin Tsȃbit
raiyallȃhuanhu dari jalur Imam Mȃlik bin Anas, serta
bersambung ke sahabat ‘Alȋ bin Abȋ alib karȃmallȃhu wajhah
dari jalur Abu anȋfah, pada hal ini Al-Syaikh Yȗsuf Al-Nabhȃni
di abȃqah (generasi sanad) ke XIII (ke 13).
37
Jika melihat guru-guru Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni di
Al-Azhar, maka terdapat sanad keilmuan pula seperti salah
34
Ibid., hlm. 64-65.
35
Sanad ilmu ini sangat penting, sehingga Al-Dailami dari Ibn Umar berkata: “Ilmu
adalah agama, salat adalah agama. Maka perhatikan kepada siapa kalian belajar ilmu.
Bagaimana kalian salat? Sebab akan kalian ditanya di hari kiamat”. Seorang tabi‟in, Ibn Sirrin
dalam Muslim berkata: “Ilmu Islam adalah agama. Maka perhatikanlah dari siapa kalian
mempelajari agama Islam”.
36
Cahaya Nabawy, „Menangkis Hoaks Dan Adu Domba‟, Yayasan Sunniyah
Salafiyah (Pasuruan Jawa Timur, Oktober 2018), hlm. 29-30. Syaikh Yusuf Al-Nabẖȃni juga
berguru pada Habib Ahmad bin Hasan Al-Aṯṯas, Abdul Hadi Naja Al-Ibyari, Syaikh Hasan Al-
Maliki, Syaikh Ahmad Al-Ajhuri, Syaikh Ibrahim Al-Khalili, Sayyid Muhammad Al-Damanhuri,
Syaikh Ibrahim Al-Saqa Al-Syafi‟i yang selama 3 tahun Yusuf Al-Nabẖȃni menghatamkan kitab
Syarh Tahrir dan Al-Manhaj, Khasiyȃt Tahrir dan Al-Manhaj, dan kitab Al-Bujairimi hingga
mendapat ijazah pengakuan oleh gurunya.
37
Ali Dodiman, Biografi Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabẖȃni., hlm. 3-8. Lihat pula:
Ma‟ruf Khozin, Sanad Ilmu Ulama Indonesia. yang bersumber dari Muhammad Abu Zahrah
“Al-Syafi‟i”, Hadlari Bik “Tarikh Tasyri”, Sirajuddin Abbas “Tabaqȃt Al-Syafi‟iyah” penulis
dapatkan berupa report file berformat pdf dari dosen Prodi. STIT Sirojul Falah Bogor, Bapak
Supriyatin, MA.
| 18
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
satunya yakni Syaikh Al-Azhar ke-35, Syaikh Muammad Khir
usain (1876-1957) yang berguru kepada para ulama terkemuka,
terutama kepada ahli tafsir dan adȋts seperti Syaikh Sȃlim Abu
Hȃjib, Syaikh Muammad Al-Najȃr, Syaikh Mustafa Riwȃn, dan
Syaikh Muammad Al-Makki bin Azȗr.
D. MADZHAB
Muammad Muhsin Rodhi (2008) pada tesisnya dalam hal ini
mengatakan, Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni ber-madzhab
Syȃfiȋ yang berdasar pada didikan kakeknya Syaikh Yȗsuf Al-
Nabhȃni yang ber-madzhab Syȃfiȋ.
38
Selain itu pula pada
kitabnya Ahkam Al-Shalȃh yang mengatasnamakan Ali Raghȋb
(1958), bahwa dalam masalah fikih kental dengan madzhab
Syȃfiȋ.
39
Seperti batalnya wuu menyentuh kulit perempuan, dan
qunȗt pada waktu shalat subuh di rakaat kedua sesudah rukȗ
sebelum sujud.
Gambar 2.2: Al-Syaikh Yȗsuf Al-Nabhȃni, Kakek dari Ibu Al-Syaikh
Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
40
38
Muhammad Muhsin Rodhi, Tsaqofah Dan Metode., hlm. 76-77.
39
Ali Dodiman, Biografi Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabẖȃni., hlm. 28.
40
Jami‟ al Huquq Mahfuzhoh li Al Azhar Asy Syarif, „Dzakirotu Al Azhar
Asy Syarif‟, Al Azhar Syarif, 2016 <http://www.alazharmemory.eg/ sheikhs/ Default
.aspx?char_type=4> [diakses 11 Maret 2016].
| 19
Biografi Taqiyuddin Al-Nabhani
E. AKIDAH
Dalam hal akidah tentunya beliau sangat berhati-hati, termasuk
dengan fanatisme kelompok/golongan yang dikhawatirkan akan
merusak antar umat Islam. Jika melihat dari kitab-kitab yang
ditulis, seperti kitab Al-Syakhshiyyat Al-Islȃmiyyah (Kepribadian
Islam) jilid pertama, maka Muammad Muhsin Rodhi (2008)
menyimpulkan bahwa dalam hal keimanan haruslah mempunyai
rukun, yakni ada 6 (enam): iman kepada Allȃh, iman kepada para
malaikat-Nya, iman kepada kitab-kitab-Nya, iman kepada para
Rasul-Nya, iman kepada hari akhir, dan iman kepada qaḏȃ' dan
qadar, bahwa baik buruk keduanya dari Allȃh subẖȃnahu wa
ta’ȃlȃ.
41
Termasuk pula bahasan mengenai al-‘ishmah (kesucian
dari kesalahan dan kekeliruan), bahwa ke-ma’sum-an Nabi/Rasul
setelah diangkatnya Nabi/Rasul yang merupakan kewajiban yang
tidak boleh diingkari secara ‘aqly dan apabila diingkari maka
sama halnya dengan mengingkari risalah. Mengenai wahyu, yang
merupakan perkara naqly adalah hal sangat penting dalam hal
akidah, yang harus diyakini meskipun tidak terindra secara aqly,
dengan sifatnya yang qa’i. Beliau menjelaskan keadaan
Rasȗlullȃh saat menerima wahyu melalui 2 (dua) keadaan,
yakni: melalui petunjuk/arahan/isyarat malaikat Jibril
‘alaihissalȃm tanpa perkataan dan datang malaikat Jibril a.s
melalui lisan. Dan tidak menerima wahyu dari Allȃh langsung
seperti berbicara dari balik tabir seperti Nabi Musa
‘alaihissalȃm.
42
41
Ibid., hlm. 27.
42
Taqiyuddin An-Nabhani, Syakhshiyah Islam., hlm. 184-203.
| 20
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
F. AKTIVITAS BIDANG PENDIDIKAN
Dalam cerita Al-Ustȃdz (Profesor) Isan Samarah bahwa setelah
menyelesaikan pendidikannya, Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
kembali ke Palestina untuk bekerja di Kementrian Pendidikan
Palestina sebagai pendidik pada sekolah menengah Al-
Niẕȃmiyyah di Haifa. Dan juga mengajar di sekolah Al-
Islȃmiyyah yang juga di Haifa. Beliau berpindah-pindah lebih
dari satu kota dan sekolah sejak tahun 1932 sampai 1938 M, jadi
sekitar 6 (enam) tahun.
Menurut Al-Ustȃdz (Profesor) Zahir Kahalah, bahwa Al-
Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni mengajarkan materi tsaqȃfah
Islam pada sekolah menengah kelas 3 (tiga), yang pada masa
tahapan ini mulai tumbuh kepekaan terbentuknya pola pikir,
yang beliau melaksanakan aktivitas pendidik ini dengan sebaik
mungkin. Bahkan beliau lakukan aktivitas pengajaran pada siang
dan malam dengan kebiasaan yang membuat kagum. Hal ini
berjalan sampai beliau meletakkan jabatan sebagai Dosen di
Fakultas pada akhir tahun 1952 M. ‘Sungguh metode
pengajarannya sangat sukses menghasilkan sesuatu yang positif
dalam diri para siswanya. Sehingga para siswanya sangat
mencintai kajian-kajian tsaqȃfah Islam yang menjadikan mereka
memiliki berbagai persiapan untuk mengkritisi setiap pemikiran-
pemikiran asing yang masuk ke dalam Islam. Begitu juga,
kecintaan mereka terhadap kajian-kajian tsaqȃfah Islam akan
membentuk landasan berpikir, yang dengannya mereka mampu
mencerminkan ajaran-ajaran Islam dan mengembannya ke
seluruh dunia’.
43
Beliau mulai mencari bidang lain selain pendidikan, karena
saat itu pendidikan mulai dimasuki oleh pengaruh peradaban
Barat akibat penjajahan zionis Israel dengan dukungan Inggris.
43
Ali Dodiman, Biografi Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabẖȃni., hlm. 12.
| 21
Biografi Taqiyuddin Al-Nabhani
Mulai dari kurikulum yang menjadikan tokoh-tokoh Barat
menjadi sumber kebudayaan (tsaqȃfah), dan materi pelajaran
dengan muatan filsafat Barat, yang bersamaan juga dengan
sejarah dan kebangkitan Barat menjadi model dalam
pembelajaran di sekolah.
44
G. AKTIVITAS BIDANG PERADILAN
Bidang peradilan merupakan lembaga yang utama menurut
beliau dalam penerapan hukum syarȃ’. Sehingga menjadi hakim
merupakan cita-cita dan keinginan yang mendorong beliau untuk
mengajukan permohonan di Al-Majlȋs Al-A’lȃ. Saat permohonan-
nya terkabul, beliau menduduki Kepala Sekretaris (Basy Khȃtib)
di Mahkamah Syar’iyyah di Haifa. Pada tahun 1940 M beliau
diangkat menjadi Musyawir (Asisten Qȃḏy) hingga 1945 M,
dikarenakan diangkat menjadi Qȃḏy di Ramallȃh hingga 1948 M.
Di tahun tersebut Palestina diduduki penjajah Israel, sehingga
beliau keluar dari Ramallȃh ke Syȃm.
Sahabatnya Al-Ustȃdz Anwȃr Khȃṯib mengirim surat
kepada beliau untuk menjadi Qȃḏy di Mahkamah Syari’ah Al-
Quds pada tahun 1948 M. Oleh Ketua Mahkamah Isti’nȃf Al-
Ustȃdz Abd Al-amȋd Al-Sa’ih - beliau diangkat menjadi anggota
mahkamah itu hingga 1950 M. Kemudian mengundurkan diri di
tahun tersebut. Pada kedudukan di Mahkamah Isti’nȃf, beliau
44
Ini terlihat dari tulisan beliau dalam buku al-Takattul al-Hizbiy (1953 M), beliau
berkata dalam buku terjemahannya:“Para penjajah tersebut merancang sistem pendidikan dan
tsaqafah atas dasar falsafah tertentu -yang merupakan pandangan hidup mereka- yaitu
pemisahan materi dari ruh dan pemisahan agama dari negara. Penjajah menjadikan
kepribadian mereka sebagai satu-satunya sumber tsaqâfah kita. Mereka juga menjadikan
peradaban (haarah), persepsi (mafâhîm), unsur-unsur sosial pembentuk negara mereka, serta
sejarah dan lingkungan mereka sebagai sumber asal bagi pemikiran yang mengisi akal kita.
Tidak cukup sampai di situ, mereka bahkan sengaja mendistorsikan berbagai persepsi dan fakta
yang kita ambil dari mereka. Mereka memutar-balikkan gambaran mengenai penjajahan
sedemikian rupa dengan menggambarkan penjajahan sebagai sesuatu yang mulia -sehingga
layak untuk diikuti dan sesuatu yang kuat-sehingga kita harus berjalan bersamanya- seraya
menyembunyikan tampang penjajahan yang sebenarnya dengan cara-cara yang licik.” Lihat:
Taqiyuddȋn Al-Nabẖȃni, Pembentukan Partai Politik Islam, cet. ke 6 (Jakarta: Tim HTI Press,
2013), hlm. 15.
| 22
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
banyak mengumpulkan ulama yang kemudian berdialog
mengenai metode kebangkitan yang benar. Seperti berdialog
dengan pendiri organisasi sosial Islam (Jam’iyyȃt Al-Islamiyyah)
dan partai-partai yang bergerak dengan berpaham nasionalis dan
patriotis, bahkan terhadap tokoh berpaham komunis dari
keluarga Ja’bari yang kemudian meninggalkan paham Marxisme
dan Komunisme dari diskusi yang menyentuh itu.
H. AKTIVITAS DAKWAH
Dalam aktivitas dakwah Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni dapat
diketahui gerakannya melalui penelusuran kisah terbentuknya
izb Al-Tarȋr pada tahun 1953 M. Yang bermula asalnya dari
halqȃh yang mengagumkan saat itu di sebelah barat daya Masjid
Al-Aqsha yang diberkahi. Beliau berbicara kepada banyak orang
disekelilingnya dengan menyentuh dan jelas hingga berkumpul
ratusan orang, peristiwa tersebut pada tahun 1950 M. Hingga
banyak pemuda dan keluarga-keluarga yang mendengarkan
diskusi secara mendalam, yang setelahnya banyak yang
mendukung gagasan dan pemikiran beliau. Di tahun 1951 M
beliau berkunjung ke Amman Yordania untuk memberikan
dakwah pada pelajar Madrasah Tsȃnawiyyah di Kulliat ‘Ilmiyat
Al-Islamiyah. Hingga tahun 1953 M, berdiri secara resmi izb Al-
Tarȋr di Yordania yang dirintis dengan tiada pernah berhenti
dan luntur untuk menyampaikan gagasan pemikirannya.
Dakwah Islam yang diemban oleh Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-
Nabhȃni adalah fikriyyah dan siasiyyah menjadikan Islam
sebagai mabda’ dalam berpikir dan bersikap. Karnanya dalam
hubungan dakwah dan organisasi, Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-
Nabhȃni tidak bergeming dengan iming-iming uang dan jabatan
serta menghindari pemikiran kesukuan, apalagi paham
komunisme-sosialisme.
| 23
Biografi Taqiyuddin Al-Nabhani
Muhsin Rodhi (2008) mengutip kitab Manhȃj izb Al-
Tarȋr fȋ al-Taghyȋr, diceritakan bahwa suatu hari Al-Syaikh
Taqiyuddin pernah ditanya: “Apa yang terlintas di hatimu
sehingga kamu mendirikan izb Al-Tarȋr ?” Lalu Al-Syaikh
Taqiyuddȋn menjawab: “Aku bermimpi bertemu Rasȗlullȃh
..
Aku sedang duduk sendirian di Masjid Al-Aqsha”. Lalu, Rasȗlullȃh
bersabda kepadaku: Berdiri dan berkhotbahlah kepada orang-
orang!” Aku bertanya: "Bagaimana aku berkhotbah, sementara di
dalam masjid tidak ada seorangpun.” Beliau kembali bersabda
kepadaku: “Berdiri dan berkhotbahlah kepada orang-orang!” Aku
pun berdiri, dan aku mulai berkhotbah. Tiba-tiba, orang-orang
mulai berdatangan dan menyelinap masuk satu persatu dan
berkelompok hingga Masjid Al-Aqsha penuh dan berdesak-
desakan.”
45
Banyak ulama, tokoh dan qȃḏiy yang menerima sodoran
pemikiran-pemikiran serta kerangka organisasi dakwahnya,
hingga semakin banyaknya dan padatnya aktivitas dalam
perintisan antara tahun 1949 sampai 1953 M. Banyak tokoh yang
dikunjungi dan ditemui dalam aktivitas dakwahnya tersebut,
beliau berkunjung ke Libanon, Mesir, Irak, Yordania dan lainnya
untuk berdiskusi, menemui tokoh dan menghadiri forum-forum
dalam menyebarkan ide-ide Islam yang diembannya.
I. AKTIVITAS JIHAD
Dalam kitab Aabullȃh yang ditulis oleh Syaikh Ṯȃlib Awadallȃh,
terungkap bahwa Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni pernah
bergabung dalam barisan mujȃhidȋn yang mengikuti Syaikh
Izzuddȋn Al-Qassam (tahun 1938-1935 M). Hal ini serupa dengan
45
Muhammad Muhsin Rodhi, Tsaqofah Dan Metode., hlm. 38. Dalam catatan kaki
yang ke 13 dalam buku itu.
| 24
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
pernyataan Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni dalam bukunya
Inqȃdz Filasṯȋn dalam Ali Dodiman (2017) sebagai berikut:
‘Ditengah tengah periode ini muncul upaya yang mulia
dalam strategi melawan penjajahan dan zionisme dengan
kemunculan pahlawan agung Almarhum Syaikh Izzuddȋn Al-
Qassam, yang membuka jalan baru perjuangan. Karena, telah
dibina oleh tangan beliau di Haifa dan kota-kota lainnya
kelompok mukmin yang mukhlis karena Allȃh dan (berjuang)
untuk tanah air (Palestina) dan kelompok tersebut disiapkan
untuk menjadi inti pasukan pembebasan yang dengannya negeri-
negeri Islam akan bersih dari Inggris dan zionisme, dengan jihad
yang shȃhȋh.’
46
J. KARYA-KARYA
Keilmuan Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni terlihat posisinya
secara jelas sekali, yang nampak melalui karya-karyanya yang
beragam, yang lingkup dan cakupannya adalah seluruh hajat
hidup umat Islam, yang sangat dibutuhkan umat menuju jalan
kebangkitan yang hakiki, dan dalam mengembalikan posisi umat
Islam pada kedudukan yang seharusnya di antara umat-umat
yang lain (khaîr al-ummah).
Nampak dari hasil karyanya yang mengagumkan dan
cemerlang ini, bahwa beliau rahȋmahullȃh berusaha untuk
melakukan pembaharuan yang belum pernah dilakukan
sebelumnya di berbagai bidang, seperti bidang pemikiran, fikih,
dan politik (siȃsah).
Muhsin Rodhi (2008) mengatakan, bahwa karya-karya Al-
Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni yang sifatnya pemikiran ini,
dianggap sebagai sebuah ijtihȃd pertama yang dipersembahkan
46
Ali Dodiman, Biografi Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabẖȃni., hlm. 24. Bahkan Syaikh
Ibrahim Al-Nabẖȃni, putra beliau dalam salah satu wawancara mengatakan bahwa Al-Syaikh
Taqiyuddȋn Al-Nabẖȃni bergabung dengan mujahidin Al-Qassam setelah lulus dari Al-Azhar.
| 25
Biografi Taqiyuddin Al-Nabhani
oleh seorang pemikir muslim dengan metodenya yang khas pada
era modern ini era abad 20 Masehi. Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-
Nabhȃni raimahullȃh merupakan tokoh di antara tokoh pemikir
dan politik pada abad 20 (dua puluh) Masehi. Sehingga tidaklah
aneh jika setelah itu ada orang yang memasukkan Al-Syaikh
Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni raimahullȃh dalam golongan ulama
mujtahȋd dan mujaddȋd.
Karya-karya Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni yang paling
terkenal dan menonjol dikalangan umat Islam, yang isinya adalah
pemikiran-pemikiran dan ijtihȃd-ijtihȃd beliau, antara lain
adalah: (1) Niẕȃm Al-Islȃm, (2) al-Takattul al-izbiy, (3)
Mafȃhim izb Al-Tarȋr, (4) al-Niẕȃm al-Iqtishȃdiy fȋ al-Islȃm,
(5) al-Niẕȃm al-Ijtimȃ'iy fȋ al-Islȃm, (6) Niẕȃm al-ukm fȋ al-
Islȃm, (7) al-Dustȗr, (8) Muqaddimat al-Dustȗr, (9) al-Daulȃt al-
Islȃmiyyah, (10) al-Syakhshiyyah al-Islȃmiyyah 3 (tiga) jilid, (11)
Mafȃhim Siyasat li al-izb Al-Tarȋr, (12) Naarȃt al-Siyasiyah,
(13) Nidȃ' Har, (14) al-Khilȃfah, (15) al-Tafkȋr, (16) al-Kurrasah,
(17) Sur'at al-Badȋhah, (18) Nuqat al-Intilȃq, (19) Dukhȗl al-
Mujtamȃ', (20) Inqȃdz al-Filasṯȋn, (21) Risȃlat al-‘Arȃb, (22)
Tasalluh Mishr, (23) al-Ittifȃqiyyat al-Tsuna'iyyat al-Mishriyyat
as-Suriyyat wa al-Yamaniyyah, (24) Halla Qȃḏiyyah Filasṯȋn ‘ala
al-arȋqah al-Amirikiyyat wa al-Injiliziyyah, (25) Naariyyat al-
Faragh al-Siyasiy haula ‘Iznahȃwur, (26) al-Siyȃsat al-Iqtishȃdi
al-Mutslȃ, (27) Naqdhu al-Istirakiyan al-Markisiyah, (28) Kaifa
Huddimȃt al-Khilȃfah, (29) Niẕȃm al-‘Uqȗbat, (30) Ahkam al-
Shalȃh, (31) Ahkam al-Bayyinȃh, (32) al-Fikr al-Islȃmiy, (33)
Naq al-Qanȗn al-Madȃniy. Selain itu, masih terdapat ribuan
selebaran yang sifatnya pemikiran, politik dan juga ekonomi
yang dikeluarkan dan ditulis oleh beliau dalam dakwahnya.
| 26
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
K. WAFAT
Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni wafat pada 1 Muharram 1398
H/11 Desember 1977 M
47
, beliau dikebumikan di pekuburan Al-
Syuhada di Hirsy Beirut Libanon. Beliau wafat yang sebelumnya
mengalami siksaan yang sangat berat hingga tak mampu lagi
berdiri, karena banyaknya siksaan oleh penguasa Irak saat itu.
Hingga akhirnya dibebaskan dan tinggal di Libanon bersama
Syaikh Ḫȃfi Shalȋh, akan tetapi beliau mengalami kelumpuhan
pada otak akibatnya tidak lama kemudian dibawa ke rumah sakit,
dan beliau wafat di rumah sakit.
L. KOMENTAR TOKOH DAN ULAMA TERHADAP AL-SYAIKH
TAQIYUDDȊN AL-NABHȂNI
Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni meninggalkan sebuah gerakan
dakwah Islam yang mendunia selain karya-karyanya yang
gemilang, sehingga tidaklah heran banyak komentar dari para
tokoh atau ulama dunia Islam terhadap beliau raimahullȃh.
Berikut adalah komentar yang dapat diketahui, sebagai berikut
ini:
1. Syaikh Muammad Mutawali Al-Sya’rawi
Beliau adalah ulama kharismatik dari Afrika yang sezaman
dengan Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni saat belajar di Al-
Azhar, dimana ia pernah berkata: “Sungguh, Syaikh
Taqiyuddȋn mengumpulkan kertas dari berbagai surat kabar
dan menyimpannya. Beliau memperhatikan apa yang tertulis
di dalamnya mengenai masalah politik. Ajaib sungguh
kedudukan dia paling utama diantara kami”.
47
Sebagaimana yang diinformasikan oleh Ir. Hasan Al Hasan perwakilan Hizbut
Tahrir Uni Emirat Arab pada surat kabar Az Zaman edisi 1953, dan juga oleh Abdul Jabbar Al
Kawazi Ketua Penyiaran Hizbut Tahrir Irak pada 2006 M dan pengumuman yang dikeluarkan
oleh Hizbut Tahrir tanggal 2 Muharram 1398 H/12 Desember 1977 M. Lihat: Ali Dodiman,
Biografi Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabẖȃni., hlm. 51.
| 27
Biografi Taqiyuddin Al-Nabhani
Di lain komentar, Syaikh Muammad Mutawali Asy
Sya’rawi raimahullȃh dalam sesi dialog yang publikasikan
oleh Mazin Abd Al-Aẕȋm di dalam Ali Dodiman (2017), beliau
berkata ketika ditanya: “Apa yang Anda ketahui tentang
Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni?” Beliau menjawab, “Dia adalah
sahabat (Nabi) yang tertunda ke masa yang bukan miliknya.
Beliau banyak diam dan jika berbicara, kata-katanya mutiara.
Hujjahnya kuat, meyakinkan, dan tegas pada pendapat yang
diyakini. Syaikh ini, saat kami persiapan ujian pelajaran di Al-
Azhar, ia membaca berita tentang kaum Muslim dan urusan
mereka. Itulah karakteristik dia.”
2. Syaikh Faṯȋ Muammad Salim
Beliau penulis buku Al-Istilȃl bi Al-Zhȃn fȋ Al-‘Aqidȃh ini
menyebut Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni lahir dari
gudangnya ilmu. Beliau adalah orang yang memiliki kepekaan
dan kejeniusan yang luar biasa. Beliau dapat merasakan dan
menggambarkan kebangkitan, akibat kemerosotan yang
menimpa umat Islam dari berbagai musibah yang
menderanya.
3. Sayyid Quthub
Dari cerita salah seorang ulama izb Al-Tarȋr, Al-Ustȃdz
Ghanim Abduh bahwa Sayyid Quthub raimahullȃh
menyanjung dan memuji Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
pada forum ilmiah yang beliau pimpin, sebagai penolakan atas
sikap banyak orang yang menyerang dan merendahkan Al-
Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni. “Sesungguhnya Syaikh ini,
dengan kitab-kitabnya telah sampai pada derajat ulama-ulama
kita terdahulu.”
| 28
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
Saat berkunjung ke Al-Quds tahun 1953 M, Sayyid
Quthub bertemu Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni hingga
berdialog pemikiran dengannya hingga mendukung gagasan
Al-Nabhȃni dan izb Al-Tarȋr meski perlu penelitian lagi
untuk pembuktian mengenai dukungan tersebut.
4. asan Al-Banna
Pendiri Al-Ikhwȃn Al-Muslimȋn ini memberi komentar
terhadap Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni, yakni: “Sungguh
saya mendapatkan Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni seorang
yang alim, cerdas, serius dan bersungguh-sungguh.” Sebab Al-
Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni pernah berdialog dengan
asan Al-Banna yang saat itu sebagai Mursyȋd pendiri Al-
Ikhwȃn Al-Muslimȋn, dalam dialog tersebut asan Al-Banna
mendengar dan berdialog, meski tidak menemukan jalan
dakwah yang sama, akan tetapi Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-
Nabhȃni tidaklah mencela dan jauh dari tindakan mencaci
lembaga atau orang yang berjuang untuk Islam. Dalam hal ini
Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni tidak pernah menjadi
bagian Ikhwȃn Al Muslimȋn, demikian menurut Dr. Abdul Aziz
Al-Khayya
48
.
5. Syaikh Muammad bin Abd Allȃh Al-Masȃri
Beliau adalah tokoh pendiri Tanẕȋm Al-Tajdȋd Al-Islȃmiy, yang
pada halaman persembahan kitab a’atu Ulil ‘Amri yang
ditulisnya, memberikan apresiasi khusus kepada Al-Syaikh
Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni. Beliau menyatakan, ‘Kepada
Mujaddȋd abad ini dan teladan ulama, aktivis: Al-Alim Al-
Mujȃhid, Imam Rabbaniy Abu Ibrȃhȋm Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
48
Dr. Abdul Aziz Al-Khayyath ini adalah tokoh Al-Ikhwan Al-Muslimin pada era
tahun 1940-an dan bergabung bersama izb Al-Tarîr. Lihat: Ali Dodiman, Biografi Syaikh
Taqiyuddȋn Al-Nabẖȃni., hlm. 60.
| 29
Biografi Taqiyuddin Al-Nabhani
pendiri izb Al-Tarȋr yang telah meletakkan batu pondasi
bagi pemikiran Islam kontemporer yang agung dan
pergerakan yang mukhlȋsh dan berkesadaran tinggi, semoga
Allȃh mengangkat derajatnya bersama para Nabi, shiddiqȋn,
syuhadâ dan orang-orang shȃlȋh.
6. KH. Hafidz Abdurrahman, MA
49
Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni adalah seorang ulama,
mujtahȋd, pejuang Islam, mujaddid pada 100 tahun abad ini,
sebab dari karya beliau yang tidak hanya sampai ulama
tataran mujtahȋd, tapi sudah dapat dikatakan sebagai
mujtahid mutlak, terbukti dari karya beliau yang orisinil (asli).
Beliau ini bukan saja hebat dari keilmuannya yang luas,
detail dan mendalam akan tetapi beliau dalam karyanya
terdapat rancangan peradaban (masyrȗ haariy). Banyak
ulama yang berwawasan luas, seperti Sayyid Abdullah bin
Shiddiq Al-Ghumari dengan karyanya kitab Mausu’ah al-
Ghumari al-Hasani, tetapi beliau tidak mempunyai masyrȗ
haariy meski banyak kritikan terhadap karya-karyanya
sangat bagus dan kuat dalam membantah pemikiran-
pemikiraan menyimpang. Akan tetapi beliau tidak mempunyai
rancangan peradaban dalam memberikan solusi atas penyakit
yang diderita umat Islam. Al-Kandahlawi sampai berkata,
belum ada ulama seperti ini di zaman ini. Di kitabnya al-
Syakhshiyyah al-Islȃmiyyah Juz 1 itu terdapat tafannun (seni
bahasa) yang dapat disejajarkan dengan Ibn Khaldun dalam
Muqaddimah-nya
Al-Nabhȃni diasuh oleh kakeknya yang mencetak beliau
menjadi seorang pejuang dan berkarya dengan karya-
49
Hafidz Abdurrahman, Wawancara dengan KH. Hafidz Abdurrahman (Bogor,
2020), 50 menit.
| 30
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
karyanya itu mempunyai rancangan peradaban yang
meruntuhkan pemikiran Barat, baik itu metode, ideologinya,
pandangannya, kerusakannya kemudian memberikan
solusinya dengan Islam, dengan metodenya, pandangannya,
rancangannya dan lain-lain.
M. GELAR YANG DISEMATKAN ULAMA UNTUK AL-SYAIKH
TAQIYUDDȊN AL-NABHȂNI
Gelar ini bukanlah gelar akademis yang memiliki syarat dan
kriteria baku secara akademis. Akan tetapi gelar ini adalah
sebutan dari ulama yang dinisbatkan karena kiprahnya baik
dalam karyanya, pendapatnya, dan perjuangannya. Termasuk
ulama yang pernah berinteraksi langsung dengan Al-Syaikh
Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni dan keluar dari lisan dan tulisan di dalam
buku ulama atau tokoh tersebut.
Ulama tertentu yang berani menyebut Al-Syaikh
Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni baik saat kuliah di Al-Azhar, maupun
dalam dakwah dan kehidupannya dapat diketahui oleh beberapa
ulama berikut ini: 1) Al-Syaikh Al Mujȃhid: gelar ini disebutkan
oleh Al-Azhar dalam situs website-nya.
50
2) Mujtȃhid Mulȃq, Al-
Mufakkir Al-Siyasiy, Al-‘Allamah: gelar ini oleh ulama yakni
Syaikh Ṯȃlib Awadallȃh. 3) Mujaddȋd: gelar ini disematkan oleh
Syaikh Ṯȃlib Awadallȃh dan Dr. Abd Allȃh Muammad Masȃri,
yang juga menyebut gelar Al-Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
sebagai Imam Robbaniy. 4) Al-‘Alȋm Al-Jalȋl, Al-Mufakkir Kabȋr,
Al-Siyasi Qadȋr: gelar yang disebutkan oleh ulama Yordania,
Syaikh Amin Nayif usain Dziyȃb. 5) Alma’iy Mujaddȋd: gelar
yang disebutkan oleh Syaikh Muammad Hatim Misbah
50
Jami‟ al Huquq Mahfuzhoh li Al Azhar Asy Syarif, „Dzakirotu Al Azhar Asy
Syarif‟, Al Azhar Asy Syarif, 2016 <http://www.alazharmemory.eg/sheikhs/characterdetails.
aspx?id=812> [diakses 11 Maret 2016].
| 31
Biografi Taqiyuddin Al-Nabhani
Nashiruddȋn dalam memoarnya di kitab Ababullȃh. 6) Al-Faqȋh:
disebutkan oleh Syaikh Yȗsuf Badarani.
51
Gambar 2.3: Website Al-Azhar yang memberikan gelar Al-
Syaikh Al-Mujȃhid
N. SEKILAS MENGENAI KITAB NIẔȂM AL-ISLȂM
Kitab berbahasa Arab ini dalam terjemahan bahasa Indonesia
dengan judul “Peraturan Hidup dalam Islam”. Yang menggam-
barkan secara komprehensif kehidupan Islam mulai dari akidah
Islam, kepemimpinan berpikir dalam Islam, syarȋah, peradaban
Islam (aḏȃrat al-Islȃmiyyah), al-Sunnah, dan mengenai akhlȃq.
51
Ali Dodiman, Biografi Syaikh Taqiyuddȋn Al-Nabẖȃni., hlm. 65-68.
| 32
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
Gambar 2.4: Kitab Niẕȃm Al-Islȃm Berbahasa Arab
Gambar 2.5: Buku Peraturan Hidup Dalam Islam Terjemahan
Berbahasa Indonesia
Yang dalam menarik dalam kitab ini adalah, mengenai
pembahasan akidah Islam yang runut dan aqliyyah (dapat
dipahami akal sehat akan tetapi berdasarkan naql/nash), yang
berbeda dari pembahasan ini adalah bahwa akidah Islam itu
mampu membawa kebangkitan manusia. Kebangkitan yang
hakiki bagi umat Islam, sehingga saat membaca dan memahami
kitab ini, akan muncul cara pandang baru terhadap manusia,
alam semesta dan kehidupan ini agar dapat dibawa kepada
kebangkitan peradaban manusia yang berawal dari berpikir.
| 33
Biografi Taqiyuddin Al-Nabhani
Berpikir tentang pencipta manusia (Al-Khȃliq) yang sejati,
berpikir tentang kebutuhan manusia terhadap Nabi/Rasul,
berpikir tentang Al-Qur’an sebagai kalȃmullȃh, berpikir tentang
proses beriman yang benar melalui proses berpikir bukan
dengan persaan dan doktrin, berpikir tentang perbuatan manusia
yang berbeda dengan Qaḏȃ dan Qadar sehingga perbuatan
manusia akan dimintai pertangungjawaban, berpikir mengenai
cara pandang itu dengan Islam bukan dengan yang lain, berpikir
bahwa umat Islam akan bangkit dengan kepemimpinan Islam
bukan yang lain, berpikir mengenai peradaban (al-haḏȃrah)
mengenai kehidupan Islam dan perbedaannya dengan peradaban
sekular, berpikir mengenai perbuatan Rasȗlullȃh yang khusus
dan perbuatan yang menjadi teladan bagi manusia, berpikir
tentang hukum syarȃ yang mampu menjadi peraturan hidup
manusia, serta berpikir mengenai akhlak merupakan shilah
individu yang muncul dari kepribadian Islam dan posisi dakwah
yang hanya fokus terhadap akhlak semata justru menjauhkan
umat dari kebangkitan sehingga harus menyeluruh dakwahnya
di masyarakat.
Dari kitab Niẕȃm Al-Islȃm ini tergambar konsep
pendidikan Islam yang khas dari pemikiran Al-Syaikh Taqiyuddȋn
Al-Nabhȃni, betapa runut dan luhur dari buah pemikirannya ini.
Jauh dari kesan kekaburan terhadap fungsi Islam dan posisinya,
pemikiran yang jelas dari Islam ini semestinya harus diemban
oleh umat Islam. Bukan justru memilih yang lain, seperti yang
ditulis dalam kitab ini yakni al-ra’sumalliyah (Kapitalisme) yang
berasaskan sekularisme dan al-istirȃkiyyah (Komunisme) yang
berasaskan materialisme. Karnanya, sangat tepat adanya konsep-
konsep Islam dalam kitab ini yang menarik untuk diteliti dan
dikaji oleh semua kalangan.
| 34
Manusia dan Pendidikan Islam
| 35
Konsep Dasar Manusia
Sebelum memasuki ranah pembahasan mengenai pendidikan
Islam Al-Syaikh Taqiyuddin Al-Nabhȃni (yang seterusnya disebut
Al-Nabhȃni), tentunya harus terlebih dahulu membahas
mengenai konsep manusia itu sendiri. Sebab, manusialah yang
akan menjadi subjek dan objek pendidikan agar dapat berubah
menjadi mulia dan bangkit dari kebodohan atau kerusakan
perilakunya.
Di dalam kitab-kitab karya Al-Nabhȃni, menurut Hafidz
Abdurrahman terdapat rancangan peradabaan (masyru’ haâri),
sehingga terdapat di dalamnya sistem (niẕȃm) yang akan
membahas permasalahan manusia dengan solusi Islam yang
ditampilkan.
52
Khusus kitab Niẕȃm Al-Islȃm tentunya
mempunyai konsep-konsep pendidikan Islam, termasuk juga
sekilas membahas mengenai konsep jiwa (rȗh), perilaku,
berpikir, dan lain-lain yang banyak dibahas pada konsep
psikologi.
Psikologi yang khas dari Al-Nabhȃni ini, berbeda dengan
cendikiawan lainnya. Al-Nabhâni cenderung lebih mengarah
pada keaslian pengambilan pandangan dalam konsep manusia
itu. Seperti misalnya rȗh yang diartikan kesadaran akan
52
Hafidz Abdurrahman, Wawancara., (Bogor, 2020), 50 menit.
03
Konsep Dasar
Manusia
| 36
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
hubungan dengan Allȃh (idrȃk shilat billȃh). Bukan diartikan
sebagai nyawa, atau unsur rohani yang satu padan nantinya
dengan jasmani. Termasuk konsep Al-Nabhâni mengenai proses
berpikir, yang harus memasukkan unsur-unsur pencerapan fakta
oleh indra, yang kemudian diterima oleh otak yang sebelumnya
ada informasi terkait fakta tersebut sehingga manusia dapat
berpikir, memahami dan memberikan pandangannya. Atau
terkait dengan perbuatan manusia yang dipengaruhi oleh
mafhûm-nya (persepsinya).
Jika ditinjau dari sisi pendidikan yang membahas aspek
kognitif, afektif, dan psikomotorik maka hal ini terdapat dalam
kitab Niẕȃm Al-Islȃm secara tidak langsung yang berupa
pandangan akidah, pemikiran, mengemban dakwah, dan lainnya.
Berikut adalah konsep dasar manusia, tujuan dan metode,
kurikulum, pendidik, dan peserta didik dalam pandangan Al-
Nabhȃni yang dibahas dalam penelitian ini.
A. MANUSIA
Jika membahas manusia, maka tentunya manusia itu adalah
materi. Sebab keberadaannya dapat diindra oleh panca indra,
yakni jasadnya yang terindra. Begitu pula perbuatannya adalah
materi, karena terindra oleh manusia. Akan tetapi, manusia itu
haruslah mempunyai rȗẖ sebagai pengggerak dalam
kehidupannya. Rȗẖ yang berarti nyawa ini, tidak langsung begitu
saja membuat manusia itu mulia, kendati digabungkan antara
jasad (materi) dengan rȗẖ begitu saja, sebab hewan pun
mempunyai keduanya. Melainkan ada hal lain, yang membuat
manusia itu akan melakukan perbuatan-perbuatan mulia.
Menarik jika konsep manusia ini diketahui, sebab Al-Syaikh
Taqiyuddin Al-Nabhȃni membahas ini dalam kitab Niẕȃm Al-
Islȃm mengenai materi dan rȗẖ, hati (qalb), potensi manusia, dan
| 37
Konsep Dasar Manusia
perbuatan manusia yang menjadi konsep dasar dalam mendidik
subjek dan objek pendidikan (peserta didik) yang merupakan
manusia.
1. Materi dan Ruh
Membahas mengenai rȗ, tentunya harus merujuk pada Al-
Qur’an sebagai pedoman dalam mencari pengetahuan sejati.
Rȗẖ memiliki beberapa arti (musytarak) dalam bahasanya, (1)
dalam QS. Al-Isrȃ: 85 rȗẖ berarti nyawa; (2) dalam QS. Al-
Syu’ara’: 193-194 rȗẖ berarti malaikat Jibril; (3) dan rȗẖ
dalam QS. Al-Syura: 52 adalah berarti Al-Qur’an (syariah).
Maka, tentunya yang membuat manusia itu mulia
adalah pastinya berkaitan dengan Al-Qur’an yang menjadi
dasar hukum Islam sekaligus hujjah dalam perbuatan
manusia. Maka di dalam kitab Niẕȃm Al-Islȃm, Al-Nabhȃni
berkata:








   
 

 

 
















  







 




 








| 38
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
Artinya: “Konsep kehidupan menurut haḏȃrah Islam,
dapat dilihat dalam konsep dasar Islam yang lahir dari akidah
Islam serta yang menjadi dasar bagi kehidupan dan perbuatan
manusia di dunia. Konsep dasar itu adalah penggabungan
materi dengan ruh, yaitu menjadikan semua perbuatan
manusia berjalan sesuai dengan perintah Allȃh dan larangan-
Nya. Konsep ini yang menjadi dasar pandangannya tentang
kehidupan. Sebab, pada hakikatnya perbuatan manusia itu
adalah materi. Sedangkan kesadaran manusia akan
hubungannya dengan Allȃh, ditinjau dari halal-haramnya
perbuatan, adalah ruh. Maka terjadilah penggabungan antara
materi dengan ruh.”
53
Sehingga materi (al-mȃddah) yang merupakan jasad
manusia dan perbuatannya, saat bersatu dengan rȗẖ yang
merupakan idrȃk shilat billȃh (kesadaran akan hubungan
dengan Allȃh) inilah yang dapat menjadikan menusia itu
menjadi mulia, yakni perbuatan manusia yang berjalan
berdasarkan syariah (halȃlan wa harȃman, Al-Qur’an) dalam
kehidupan sehari-harinya.
Berbeda dengan Al-Kindi yang membahas rȗh itu
mempunyai daya-daya (daya nafsu, amarah, dan berpikir) dan
rȗh itu adalah pancaran dari Al-Khaliq
54
, yang apabila rȗh ini
meninggalkan badan dan bersih dari keinginan materi, atau
keinginan badan berpikir akan hakikat wujud maka akan
tinggi pula kepribadiannya. Atau rȗh lebih mendominasi dari
pada materi (jasad), akan menjadi pancaran cahaya Al-Khȃliq
dan dapat menangkap ilmu-limu pada-Nya. Teori ini disebut
emanasi yang menjadikan manusia itu akan mulia dan tinggi.
53
Taqiyuddȋn Al-Nabẖȃni, Nizham Al-Islam., hlm. 94-95.
54
Asep Sulaiman, Mengenal Filsafat Islam, ed. by Auliya Millatina Fajwah, ke 1
(Bandung: Yrama Widya, 2016), hlm. 15-18.
| 39
Konsep Dasar Manusia
Al-Nabhani lebih menjadikan rȗh itu dikembalikan pada
pengertian kata dari Al-Qur’an itu sendiri yakni QS. Al-Syura:
52 yang berarti Al-Qur’an (syariah), yang diharuskan seorang
Muslim itu berjalan dengan kesadarannya akan hukum Allȃh
yang terikat dengannya. Baik itu faru, mandȗb, mubȃh,
makrȗh dan harȃm-nya adalah karena terhubungnya manusia
itu dengan Allȃh dalam setiap perbuatannya. Saat terhubung
dan terkait dengan syariah inilah terjadinya penyatuan rȗh
dan jasad.
Konsep penyatuan rȗh dan jasad (materi) juga dibahas
oleh Al-Nabhȃni sebagai idrȃk (kesadaran) yang akan
melahirkan perbuatan manusia. Idrȃk ini terhubung oleh
terjadinya saat realita (fakta) yang disimpulkan, dapat
dijangkau indera secara langsung ataupun melalui
jejak/pengaruh yang dapat diindera. Sehingga saat manusia
itu melihat, mendengar, merasakan fakta kemudian
disimpulkan oleh informasi sebelumnya maka lahirlah
pemahaman (mafhȗm). Dari mafhȗm ini manusia berperilaku,
yang apabila dikaitkan dengan rȗh (konsep Al-Nabhȃni) maka
akan terjadi manusia yang berkepribadian mulia (Islam).
2. Hati (Al-Qalb)
Al-Qalb merupakan bahasa Al-Qur’an dan Al-adȋts yang
mencakup arti mengenai hati (mughah)
55
secara fisik di
dalam adȋts, yang menjadikan perbuatan manusia itu
tergantung qalb-nya baik-buruknya manusia. Atau dalam Al-
Qur’an, yakni QS. Al-A’rȃf: 179 bahwa al-qalb ini berkaitan
dengan proses berpikir untuk memahami (ayat-ayat Allȃh).
Juga di dalam QS. Al-Hadȋd: 16 yang berkaitan dengan
55
Shȃẖi al-Bukhȃri No. 50. Lihat: Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari,
Shahih Bukhari., hlm. 29.
| 40
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
perasaan yang tunduk dalam mengingat Allȃh dan kebenaran,
serta al-qalb berkaitan dengan iman dan ketakwaan yang
terdapat pada QS. Al-Hajj: 32 dan QS. Al-Hujurât: 14.
Jika al-qalb berkenaan dengan perasaan yang berkaitan
dengan mengingat Allȃh dalam mencapai keimanan, maka di
dalam kitab Niẕȃm Al-Islȃm, Al-Syaikh Taqiyuddin Al-Nabhȃni
menyebutnya dengan kata al-wijdȃn (arti: perasaan hati) yang
wajib digunakan bersama akal dalam beriman kepada Allȃh
ta’ȃlȃ.








Artinya: “Islam tidak membiarkan perasaan hati sebagai
satu-satunya jalan menuju iman.”
Sebab, apabila al-wijdȃn ini dibiarkan sendiri dalam
beriman tentunya akan menjerumuskan manusia dalam
kesesatan perbuatannya. Sehingga al-wijdȃn harus besama al-
aql dalam melakukan perbuatan agar senantisa dalam
kebenaran dan keimanan.

 

 
 

 








Artinya: “Karena itu, Islam menegaskan agar senantiasa
menggunakan akal disamping adanya perasaan hati. Islam
mewajibkan setiap umatnya untuk menggunakan akal dalam
beriman kepada Allȃh.”
Inilah yang kerap manusia lakukan, yakni hanya
menggunakan al-wijdȃn dalam beramal tanpa menggunakan
| 41
Konsep Dasar Manusia
al-aql, sehingga banyak terjerumus pada perbuatan buruk dan
rendah, apalagi dalam hal ibadah tentunya akan
mengkibatkan kesesatan. Sebab, perasaan adalah sesuatu yang
subjektif yang kaitannya dengan senang dan tidak senang dan
tidak ada ketergantungannya dengan fakta terindra atau
rangsangan sekitar. Jadi, akan berbeda-beda setiap manusia
tergantung rasa senang dan tidaknya.
56
Oleh sebab itu, perasaan ini dalam beriman kepada
Allȃh subẖȃnahu wa ta’ȃla harus bersama dengan akal.
Sehingga perbuatan manusia pun yang lahir dari iman ini,
harus juga terkait dengan menjadikan perasaannya,
pemikirannya harus sama dengan aturan dari Al-Khaliq.
Sehingga perasaan ketuhanan itu timbul, yakni
perasaan yang akan merasa bahagia bahwa Allȃh itu dekat,
melindunginya dan akan menjadi pemandunya dalam
kehidupan. Sebaliknya, apabila perasaan cemas itu hadir pada
manusia, adalah karena menyimpang dari aturan-aturan Al-
Khȃliq dalam kehidupannya.
57
B. POTENSI MANUSIA
Manusia adalah materi yang unik dibandingkan materi yang lain
yang Allȃh subẖȃnahu wa ta’ȃlȃ ciptakan. Manusia memiliki
potensi yang menjadi dorongan untuk hidup dan berjalan di
dunia dengan perbuatan-perbuatannya. Potensi yang dapat
digunakan manusia untuk berbuat kebaikan atau keburukan, di
dalam kitab Niẕȃm Al-Islȃm, Al-Nabhȃni menyebutkan potensi
tersebut yakni: akal (al-aql), kebutuhan jasmani (al-ẖȃjȃt al-al-
‘uawiyyah) dan naluri-naluri (al-gharȃiz).
1. Akal
56
Agus Sujanto, Psikologi Umum, cet. ke 16 (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2012), hlm. 75.
57
Ibid., hlm. 78.
| 42
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
Akal merupakan potensi manusia yang khas dan memang
Allȃh jadikan akal manusia ini sebagai pembeda dari makhluk
lainnya, sehingga lebih tinggi posisinya dari al-malȃikah dan
al-syaian serta al-hayȃwan dalam penciptaan.
Dari akal inilah manusia mampu menciptakan
peradaban yang tinggi untuk kualitas kehidupannya. Dari
pemikiran manusialah kemudian pengetahuan itu
berkembang dan perbuatan manusia pun beragam
aktivitasnya. Sehingga proses awal dalam berpikir dibahas
oleh Al-Nabhȃni dengan khas dan tepat di dalam kitab Niẕȃm
Al-Islȃm.

 

 
   







 


Artinya: “Berdasarkan hal ini, maka akal, fikr
(pemikiran), dan idrȃk (pemahaman, kesadaran), terjadi
dengan pencerapan terhadap fakta melalui panca indera ke
otak, disertai dengan pengetahuan (informasi) yang diperoleh
sebelumnya, yang dapat menjelaskan (hakikat) kenyataan
tersebut.”
Maka untuk dapat melahirkan pemikiran, manusia perlu
mencerap (naql al-iss) dengan indranya terhadap fakta (al-
wȃqi’) terindra tersebut, yang diterima otak (al-damȃgh) yang
harus sebelumnya terdapat informasi (ma’lȗmȃt sȃbiqah)
mengenai fakta tersebut sehingga dapat diketahui, dipahami,
dijelaskan, dinilai, dihukumi, diberi nama, ditafsirkan dan
dihasilkan pemikiran. Inilah proses pemikiran oleh manusia
yang penting diketahui sebagai konsep dasar pendidikan.
| 43
Konsep Dasar Manusia
Posisi akal dalam pandangan Al-Nabhȃni bukanlah
sebuah organ fisik di dalam tubuh (otak), akan tetapi
pemikiran yang akan membuat keputusan. Pemikiran yang
datang dari proses pencerapan indra terhadap fakta, yang
diterima oleh otak, kemudian diolah oleh informasi
sebelumnya.
Maka akan terbagi menjadi beberapa pemikiran dari
proses akal tersebut, yakni
58
:
a. Pemikiran yang dangkal, yakni pemikiran yang hanya
mencerap fakta, kemudian disimpulkan tanpa disertai
pemahaman.
b. Pemikiran yang mendalam, yakni pemikiran yang
mencerap fakta, kemudian disimpulkan yang disertai
pemahaman, kemudian memahami kembali lagi fakta
tersebut.
c. Pemikiran yang cemerlang, yakni pengetahuan yang
mendalam tetapi ditambahkan lagi dengan memikirkan hal
lain dari aspek-aspek lain yang terhubung dengan fakta
tersebut dengan usaha untuk mencapai hasil yang benar.
Al-Nabhȃni di dalam kitab Niẕȃm Al-Islȃm menjadikan
akal sebagai alat/sarana untuk ma’rifȃt (mengenal) Allȃh,
beriman kepada Rasul, beriman kepada Al-Qur’an serta
menguatkan dalil naql dalam ber-hujjah akan adanya yang
gaib (malaikat, hari akhir, qaâ dan qadar).
Ini berbeda dengan pandangan Al-Razi yang
memandang bahwa semua harus masuk akal, bahkan
mengakibatkan penolakan akan adanya kenabian, mengkritisi
adanya kitab suci, menolak mukjizat, serta mengatakan bahwa
58
Hafidz Abdurrahman, Diskursus Islam Politik Dan Spiritual (Jakarta: Wadi Press,
2002), hlm. 62-63.
| 44
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
buku-buku kedokteran, astronomi, dan logika jauh lebih
berguna dari pada Al-Qur’an.
59
Al-Kindi dalam bukunya
Filsafat Awal, akal itu jika bersatu dengan rȗh barulah akan
terakali
60
, hal ini masih berpengaruh dengan teori Aristoteles
dalam hal akal dan roh oleh Plotinus yang mengartikan ruh
itu adalah pancaran dari Tuhan, jadi makin dominan ruh akan
baik juga manusia itu, dan akalnya akan rasional dan menjadi
aktual. Berbeda pula dengan Ibn Miskawaih yang mengatakan
bahwa ciptaan Allȃh yang pertama adalah akal aktif (entitas
pertama yang memancar dari Allȃh), yang kemudian dari akal
ini timbul jiwa.
61
Yang oleh Al-Farabi, akal aktif ini adalah akal
ke sepuluh (akal yang aktif bekerja). Al-Farȃbi mengatakan
bahwa Allȃh itu akal yang ‘aqȋl (berpikir) dan dipikirkan
(ma’qȗl), ini masih tepengaruh dengan pemikiran Aristoteles
dengan akal murni itu esa adanya. Yang mana akal itu
memikirkan dirinya sendiri.
62
Akal atau pemikiran yang rusak dari filsafat ini,
menurut Al-Nabhȃni yang harus dibersihkan dari manusia
(umat Islam) dan dinetralkan dengan serangan pemikiran
(syirȃal-fikri) dalam tsaqȃfah Islam. Agar persepsinya akan
benar, dan tingkah lakunya akan Islami, sehingga berubahlah
dirinya menuju kemuliaan Islam yang tinggi dan cemerlang.
Al-Nabhȃni meletakkan akal sebagai penghasil
pemikiran, dengan 4 (empat) komponen yang telah disebut-
kan (fakta terindra/waqi’ mahsus, pengindraaan/ihsas,
otak/damagh, dan informasi awal/ma’lumat sȃbiqah) sebagai
potensi manusia yang diberikan Al-Khȃliq untuk memahami
keberadaan-Nya, syariah-Nya dan Islam. Maka keluarlah
59
Asep Sulaiman, Mengenal Filsafat Islam., hlm. 31.
60
Ibid. hlm. 18.
61
Ibid. hlm. 45.
62
Ibid. hlm. 36.
| 45
Konsep Dasar Manusia
metode berpikir yang disebut Al-Nabhȃni sebagai metode
rasional (ariqat aqliyyah), agar hasil dari metode ini adalah
berpikir dengan cemerlang (mustanir). Inilah yang yang
berbeda dari para filosof, Al-Nabhȃni mendudukan akal
sebagai jalan untuk bangkit yang bersandar dengan akidah
Islam.
2. Kebutuhan Jasmani dan Naluri
Akan halnya dengan kebutuhan jasmani (al-âjât al-
‘uawiyyah), yang dipandang Al-Nabhȃni sebagai potensi
manusia, karena harus dipenuhi oleh manusia yang apabila
tidak dipenuhi maka akan menyebabkan kematian. Maka hal
ini adalah firah yang mendorong manusia berusaha berbuat
apapun untuk memenuhinya, sebab ini adalah kebutuhan.
Seperti makan, minum, bernafas, tidur, buang air besar atau
kecil dan lain-lain, manusia akan bergerak dan berupaya
memenuhi dengan bekerja, berdagang, berprofesi apasaja
dengan maksud pemenuhan kebutuhan (al-âjât al-
‘uawiyyah) itu. Al-Nabhâni berkata:







 
 





 
 




 

 
 
 





 









Artinya: “Seperti halnya pada benda-benda yang telah
diciptakan khasiat-khasiatnya, maka pada diri manusia telah
| 46
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
diciptakan pula berbagai naluri-naluri (al-gharȃiz) serta
kebutuhan jasmani. Pada naluri dan kebutuhan jasmani ini
juga telah ditetapkan khasiat-khasiat seperti halnya pada
benda-benda. Misalnya, pada naluri melestarikan keturunan
(gharȋzat al-nau’) telah diciptakan khasiat dorongan seksual.
Dalam kebutuhan jasmani diciptakan pula khasiat-khasiat
seperti lapar, haus, dan sebagainya. Semua khasiat ini
dijadikan Allȃh bersifat baku sesuai dengan sunnat al-wujȗd
(peraturan alam yang ditetapkan Allȃh).”
Mengenai naluri (gharîzah), yakni potensi yang
merupakan keinginan dalam pemenuhannya merupakan hal
yang juga firah. Walaupun tidak menyebabkan kematian akan
tetapi dapat membuat manusia mengalami kegalauan, stres,
dan bahkan menderita. Seperti, naluri melestarikan keturunan
(gharîzat al-na’u), naluri mempertahankan diri (gharîzat al-
baqa’), dan naluri beragama/menyucikan sesuatu (gharîzat al-
tadayyun).
Banyak dari manusia yang berlomba untuk memenuhi
kebutuhan jasmani dan keinginan naluri ini, dengan berbagai
macam cara atau perbuatan. Baik dan buruknya manusia
melakukannya, sehingga Al-Nabhȃni di dalam kitab Niẕȃm Al-
Islȃm berkata:





 








 

 

 


 










 













| 47
Konsep Dasar Manusia






 
 





 





 





  












Artinya: “Bukti lain kebutuhan manusia terhadap para Rasul
adalah bahwa pemuasan manusia terhadap tuntutan gharȃiz
(naluri-naluri) serta kebutuhan-kebutuhan jasmani, adalah
keharusan yang sangat diperlukan. Pemuasan semacam ini
jika dibiarkan berjalan tanpa aturan akan menjurus ke arah
pemuasan yang salah dan menyimpang, yang pada
gilirannya akan menyebabkan kesengsaraan umat manusia.
Dengan demikian, harus ada aturan yang mengatur setiap
naluri dan kebutuhan jasmani ini. Hanya saja, aturan ini tidak
boleh datang dari pihak manusia. Sebab, pemahaman manusia
dalam mengatur naluri dan kebutuhan jasmani selalu
berpeluang terjadi perbedaan, perselisihan, pertentangan, dan
terpengaruh lingkungan tinggalnya. Apabila manusia
dibiarkan membuat aturan sendiri, tentu aturan tersebut
akan memungkinkan terjadinya perbedaan, perselisihan, dan
pertentangan, yang justru akan menjerumuskannya ke dalam
kesengsaraan. Maka aturan tersebut harus datang dari Allȃh
ta’ȃlȃ.”
Oleh karenanya, kebutuhan jasmani dan naluri-naluri
ini harus diatur oleh Al-Khȃliq (bukan oleh makhlȗq) yang
akan membawa kemuliaan dan kebaikan, bukan keburukan
dan kerendahan atas kehormatan manusia.
| 48
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
Berbeda dari para ahli psikologi yang mengatakan
bahwa naluri (insting) itu banyak, yang terkait dengan
motivasi
63
dan emosi. Karenanya ada teori mengenai muncul
dan sumber dari motivasi itu, yakni:
64
a. Munculnya: Ada dari sejak lahir tanpa harus dipelajari,
seperti dorongan makan, minum, tidur dan lain-lain yang
bersifat alamiah. Ini dapat mejadi dorongan yang baik, jika
pemenuhannya sesuai aturan Al-Khȃliq, tidak melanggar
atau melampaui batas kewajaran.
b. Sumbernya dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu motivasi
ekstrinsik dan motivasi instrinsik. Motivasi ekstrinsik ada
karena pengaruh dari luar, seperti tuntutan untuk
berenang yang diarahkan guru, atau pacaran karena
pengaruh lingkungan. Motivasi instrinsik, adalah timbul
dari dalam diri sendiri karena tertarik dan
menginginkannya. Ini penting bagi pendidik untuk
memunculkan sikap ini, dengan memberikan motivasi
positif pada peserta didik.
Al-Nabhȃni menjadikan kebutuhan jasmani dan naluri
sebagai motivasi potensi, yang dari keduanya manusia akan
hidup dan bekerja, berbuat apa saja di dunia. Yang apabila
tidak diatur oleh Al-Khȃliq akan mengakibatkan kekacauan.
Karenanya Islam hadir sebagai motivasi metanoiac
65
yang
akan membuat manusia itu bertahan dari berbagai rintangan,
63
Motor penggerak dan pemberi arah tujuan yang hendak dicapai, bertahan pada arah
tujuan itu sampai benar-benar tercapai. Lihat : Muhammad Irham dan Novan Ardy Wiyani,
Psikologi Pendidikan, Teori Dan Aplikasi Dalam Proses Pembelajaran, ed. by Rose
Kusumaning Ratri, cet. ke 2 (Yogyakarta: Ar Ruzz Media, 2014), hlm. 56-57.
64
Ibid., hlm. 58-59.
65
Meminjam istilah dari Karebet Widjajakusuma dalam bukunya Motivaksi
Metanoiac, yang artinya dari bahasa Yunani, bahwa: Meta adalah perubahan, dan Noiac adalah
pemikiran. Jadi, motivasi yang bersumber dari pemikiran mendasar dan besar yang dapat
mengubah dengan perubahan yang besar pula. Lihat: M. Karebet Widjajakusuma, Motivaksi
Metanoiac, cet. ke 7 (Bogor: Pustaka Motivaksi Metanoiac, 2015), hlm. iv.
| 49
Konsep Dasar Manusia
bangkit dari keterpurukan, tidak beradab menjadi unggul, dan
menggerakkan ilmu pengetahuan bagi seluruh umat manusia
di dunia.
Jika ditarik pada aspek pendidikan Islam, maka
kebutuhan jasmani dan naluri dapat menjadi motivasi belajar,
dengan mencapai cita-cita yang diinginkan peserta didik
kelak. Pendidik memunculkan umpan-umpan berupa pujian,
dukungan, baik perhatian maupun bimbingan berupa arahan
yang terbaik sesuai dengan arahan Islam.
C. PERBUATAN MANUSIA
Seluruh perbuatan manusia itu adalah materi yang terindra,
sehingga akan berbeda dengan al-qaa dan al-qadar yang
merupakan perbuatan Al-Khȃliq yang dapat melibatkan manusia
ataupun tidak sama sekali. Karenanya, perbuatan manusia ini
secata teliti dapat dibagi menjadi 2 (dua) wilayah/cakupan, yakni
a) musayyar, manusia dipaksa untuk berbuat/menerima
keadaan; dan b) mukhayyar, manusia diberikan kebebasan dalam
berbuat (diberi pilihan). Keduanya mempunyai arah pada
perbuatan manusia hingga dapat mengoptimalkan potensinya,
apakah kepada kebaikan atau keburukan? Tergantung manusia
itu mempunyai tujuan dan dapat diukur nilainya dalam
pandangan Islam.
Maka ada pembahasan mengenai nilai perbuatan dan
tujuan perbuatan, yang hal ini perlu dibahas sebagai konsep
dasar pendidikan untuk mencapai manusia yang mulia.
1. Musayyar dan Mukhayyar
Dalam wilayah musayyar, manusia dipaksa untuk berbuat dan
menerima keadaan dari Allȃh. Oleh karenanya ini disebut
sebagai qaa dan qadar yang manusia tidak dimintai
pertanggung jawaban atas hal ini, manusia tidak memiliki
| 50
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
andil apapun dalam masalah perbuatan ini. Sehingga Al-
Syaikh Taqiyuddin Al-Nabhȃni di dalam kitab Niẕȃm Al-Islȃm
berkata:
“Perbuatan manusia yang terjadi pada area yang kedua
ini (musayyar), tidak ada andil dan urusan sedikitpun dengan
manusia atas kejadiannya. Kejadian-kejadian di dalam area ini
dapat dibagi menjadi dua. Pertama, kejadian yang ditentukan
oleh niẕȃm al-wujȗd (sunnat Allȃh). Kedua, kejadian yang
tidak ditentukan oleh niẕȃm al-wujȗd, namun tetap berada di
luar kekuasaan manusia, yang tidak akan mampu dihindari
dan tidak terikat dengan niẕȃm al-wujȗd. Mengenai kejadian
yang ditentukan oleh niẕȃm al-wujȗd, maka hal ini telah
memaksa manusia untuk tunduk kepadanya. Manusia harus
berjalan sesuai dengan ketentuannya. Sebab, manusia berjalan
bersama alam semesta dan kehidupan, sesuai dengan pola
perbuatan tertentu yang tidak mampu dilanggarnya. Bahkan
semua kejadian yang ada pada bagian ini muncul tanpa
kehendaknya. Di sini manusia terpaksa diatur dan tidak bebas
memilih.”
Kejadian yang ditentukan oleh niẕȃm al-wujȗd dapat
berupa firah yang terdapat pada kehidupan manusia, seperti
tidak dapat berjalan di atas air, warna kulitnya, bentuk mata,
bentuk badan dan apapun yang manusia harus tunduk karena
itu sudah sunnat Allȃh. Kejadian yang tidak ditentukan oleh
niẕȃm al-wujȗd, tapi tetap berada di luar kekuasaan manusia,
seperti kecelakaan yang tiada disengaja maka itu adalah diluar
kendali manusia walaupun manusia yang melakukan.
Mengenai mukhayyar, manusia mampu menguasai
perbuatannya dikarenakan mempunyai pilihan. Inilah wilayah
usaha, perencanaan, aktivitas dan usaha manusia untuk
mendapatkan kebaikan atau bahkan keburukan apabila tidak
| 51
Konsep Dasar Manusia
dilakukan dengan benar (sesuai syariah). Area ini, manusia di-
hisȃb kelak nantinya. Pada cakupan wilayah mukhayyar ini
manusia mempunyai andil dalam mengembangkan potensi,
kualitas, dan kepribadiannya melalui pengalaman atau
pendidikan misalnya.
Dalam teori psikologi, yang membahas perilaku
(behavior) dari penelitian dengan hewan (anjing dengan air
liurnya), yang dibiarkan lapar dan dimasukkan ke dalam
kandang oleh Ivan Pavlov (Rusia, peraih Nobel 1905 M) yang
dikenal teorinya dengan nama Psychorefleksologie ini
disimpulkan mengenai stimulus (rangsangan) dan reaksi.
66
Teori ini tidaklah cocok dengan manusia, meski dalam teori
belajar menurut behavioristik dapat dilihat misalnya menurut
Sugiono itu, di dalam teori belajar behavior:
67
(1)
mendudukan siswa sebagai individu yang pasif, (2)
munculkan perilaku agar terbiasa oleh siswa, (3) pengetahuan
yang stagnan dapat disampaikan tiap tahun, (4) mengajar
sebagai transfer pengetahuan dan belajar untuk memperoleh
pengetahuan, dan (5) kurikulum sudah terstruktur jadi siswa
tinggal mempelajari. Ini tidaklah dapat mengubah tingkah
laku manusia menjadi mulia. Meski ada stimulus dan respon,
pengaruh lingkungan, melihat bakat, kebiasaan siswa,
kemauan siswa, ini masih belum dapat mengubah manusia
menjadi seutuhnya sebagai insan mulia kelak. Al-Nabhȃni
berkata:
66
Agus Sujanto, Psikologi Umum., hlm. 116-117.
67
Muhammad Irham and Novan Ardy Wiyani, Psikologi Pendidikan., hlm. 162-163.
| 52
Konsep Pendidikan Islam Taqiyuddȋn Al-Nabhȃni
 



 
 




Artinya: “Dengan demikian, apabila kita hendak
mengubah tingkah laku manusia yang rendah menjadi luhur,
maka tidak ada jalan lain kecuali harus mengubah mafhȗm-
nya terlebih dahulu.”
68
Mafhȗm (persepsi, jamaknya mafȃhim) haruslah
terlebih dahulu diberikan, sebab inilah yang mengubah
tingkah laku (sulȗk) manusia. Seseorang yang terlebih dahulu
pemikirannya itu dipahami dan dibenarkan dalam hati
kemudian diaplikasikan dalam perbuatan, itulah mafhȗm. Jika
tidak diyakini, maka hanya sebatas infomasi belaka, seperti
halnya orientalis Barat yang mendalam pengetahuannya tapi
tidak meyakini.
Agar menjadi mulia, maka perbuatan manusia itu harus
mempunyai mafhȗm yang berlandasan (ber-qaidah,
mempunyai tolok ukur). Landasan pemikiran (qaidah
fikriyyah) yang menjadi tolok ukuran (miqyas) dalam menilai
segala sesuatu haruslah sesuai dengan akidah Islam bagi
seorang muslim. Inilah yang menjadikan perbuatan manusia
itu akan mulia, bukan dari sekedar rangsangan dan reaksi
semata, tetapi ada mafhȗm yang berlandaskan qaidah
fikriyyah Islam yang membentuk pola sikap dan berpikir
seorang muslim menjadi mulia.
68
Taqiyudin Al-Nabẖȃni, Peraturan Hidup Dalam Islam., hlm. 8.
| 53
Konsep Dasar Manusia
2. Nilai Perbuatan Manusia
Perbuatan manusia yang berada pada kondisi dikuasainya
(mukhayyar) tentunya mempunyai nilai pada setiap
perbuatannya. Yang satu sama lain memiliki kelebihan
masing-masing yang bertolak belakang. Berkata Al-Nabhȃni:





Artinya: “Adakalanya nilai itu bersifat materi, misalnya
orang berdagang yang bermaksud mencari keuntungan.”
Nilai materi (mâdiyyah) dilakukan manusia untuk
mendapatkan keuntungan materi yang bervariasi
perbuatannya. Seperti berdagang, bertani, dokter, nelayan,
penjahit, pegawai, dan lain-lannya yang kesemuanya untuk
mencari materi. Dan ini memang harus dilakukan untuk
memenuhi kebutuhan jasmani atau keinginan naluri. Al-
Nabhȃni berkata:





