ChapterPDF Available

Jejak Daeng di Tanah Melayu

Authors:

Abstract

“Upu Tanderi Burung Daeng Rilakka, ialah yang mengembara ke sebelah barat,” tulis Raja Khalid ibni Raja Hassan al-Haji dalam kitab Thamaratul Matlub Fi Anuaril Qulub. Walaupun bukan gelombang pertama dalam catatan migrasi orang Bugis ke kawasan Melayu, akan tetapi kedatangan mereka memberi warna dalam perkembangan sejarah di kawasan itu. Hadirnya para bangsawan Bugis tidak hanya mempengaruhi kondisi sosial masyarakat, lebih dari itu, sepak terjang anak-anak Daeng Rilakka ikut mempengaruhi kondisi perpolitikan kerajaan yang berkuasa masa itu. Budaya merantau yang melekat pada salah satu etnis yang ada di Indonesia itu agaknya membentuk karakter yang kuat pada setiap pribadi perantau Bugis. Kekuatan tekad orang-orang Bugis digambarkan dalam peribahasa “Pura ba’bara sompe’ku, pura tangkisi golingku, kulebbirirengngi telling natoalie,” yang berarti telah terkembang layarku, telah terikat kemudiku, aku memilih tenggelam dari pada kembali. Sekalipun secara harfiah Daeng Rilakka bersama kelima anaknya tidaklah tenggelam, akan tetapi hingga akhir hayat, mereka berada di Tanah Melayu. Tinggalan-tinggalan yang tersebar di kawasan Sungai Carang, berkaitan erat dengan pemerintahan Kerajaan Johor-Pahang-Riau-Lingga pada kurun akhir abad ke-17 hingga akhir abad 18. Pasca beralihnya kekuasaan ke tangan Tengku Sulaiman bergelar Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, maka para daeng mulai terlibat dalam kekuasaan. Selain sultan sebagai pimpinan tertinggi dalam sistem pemerintahan kerajaan, posisi jabatan pun ditambah, apabila sebelumnya setelah sultan terdapat Bendahara Kerajaan, maka pada masa Sultan Sulaiman terdapat posisi Yang Dipertuan Muda. Posisi ini diisi oleh keturunan Bugis, diawali dengan Daeng Marewah sebagai Yang Dipertuan Muda I.
Historisitas Cagar Budaya
di Kepulauan Riau
Editor:
Ahmad Kusasi
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
BALAI PELESTARIAN CAGAR BUDAYA SUMATERA BARAT
Wilayah Kerja Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau
Batusangkar
2020
~ ii ~
Historisitas Cagar Budaya
di Kepulauan Riau
Tim Redaksi
Penanggung Jawab:
Redaktur:
Editor:
Desain Grafis:
Fotografer:
Sekretariat:
Teguh Hidayat
Rafki, R
Ahmad Kusasi
Harry Iskandar Wijaya
Elizanora
Siti Wahyuni
Kontributor (Penulis):
Ambo Asse Ajis
Syahrul Rahmat
Ermit Three, Ucok Fatumonah, dan Nur Liyana
Merlina Agustina Orllanda
Dodi Chandra dan S yahrul Rahmat
Penerbit:
Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat
Jln. Sultan Alam Bagagarsyah, Batusangkar, Kab. Tanah Datar, Sumatera Barat
Telp. 0752 72451. Fax. 0752 71953. Email: bpcb.batusangkar@gmail.com
ISBN:
Cetakan:
I (Pertama), 2020
Saran Sitasi:
Kusasi, Ahmad, ed. (2020). Historisitas Cagar Budaya di Sumatera Barat
Batusangkar: BPCB Sumatera Barat
Historisitas Cagar Budaya di Kepulauan Riau
~ 21 ~
Jejak Daeng di
Tanah Melayu
Syahrul Rahmat
PENDAHULUAN urung Daeng Rilakka, ialah yang mengembara
-Haji dalam
kitab
Thamaratul Matlub Fi Anuaril Qulub
. Walaupun bukan
gelombang pertama dalam catatan migrasi orang Bugis ke kawasan
Melayu, akan tetapi kedatangan mereka memberi warna dalam
perkembangan sejarah di kawasan itu. Hadirnya para bangsawan
Bugis tidak hanya mempengaruhi kondisi sosial masyarakat, lebih
dari itu, sepak terjang anak-anak Daeng Rilakka ikut mempengaruhi
kondisi perpolitikan kerajaan yang berkuasa masa itu.
Budaya merantau yang melekat pada salah satu etnis yang
ada di Indonesia itu agaknya membentuk karakter yang kuat pada
setiap pribadi perantau Bugis. Kekuatan tekad orang-orang Bugis
digambarkan dalam peribahasa
, pura
tangkisi goling
yang berarti
telah terkembang layarku, telah terikat kemudiku, aku memilih
tenggelam dari pada kembali. Sekalipun secara harfiah Daeng
Rilakka bersama kelima anaknya tidaklah tenggelam, akan tetapi
hingga akhir hayat, mereka berada di Tanah Melayu.
Historisitas Cagar Budaya di Kepulauan Riau
~ 22 ~
Lima anak Daeng Rilakka dikenal dengan Upu Daeng Lima
Bersaudara. Kelimanya adalah Daeng Perani, Daeng Marewah,
Daeng Menambun, Daeng Celak dan Daeng Kemasi. Kedatangan
mereka ke Tanah Melayu, terutama di kawasan Kepulauan Riau dan
Semenanjung Melayu bertepatan dengan terjadinya polemik dalam
pemerintahan Kerajaan Johor-Pahang-Riau-Lingga. Kesepakatan
politik bersama salah satu pihak selanjutnya membawa mereka
terlibat jauh ke dalam urusan internal kerajaan. Walhasil, beberapa di
antara kelima daeng ini mulai menempati posisi strategis dalam
kerajaan.
Dari kelima anak Daeng Rilakka tersebut, dua di antaranya
dimakamkan di Hulu Riau. Tidak jauh dari tepian Sungai Carang,
dua komplek pemakaman berdiri megah yang berusia ratusan
tahun. Satu komplek merupakan makam Daeng Marewah,
sementara satu lainnya makam Daeng Celak. Kedua komplek ini
masuk pada kategori tinggalan cagar budaya tak bergerak. Dua di
antara puluhan tinggalan cagar budaya yang tersebar di Kota
Tanjungpinang, Kepulauan Riau.
Sebagaimana makam-makam yang ada di kawasan Melayu,
kedua komplek pemakaman tersebut identik dengan kain kuning
yang menutupi bagian nisan. Sekalipun demikian, terdapat cerita
yang panjang di balik keberadaan makam-makam tersebut. Makam-
makam itu memiliki nilai historis tersendiri, tidak hanya dari sisi
makam sebagai tinggalan budaya dalam bentuk benda
(
intenggible
) akan tetapi juga berkaitan dengan peristiwa atau pun
tokoh yang berkaitan dengan tinggalan tersebut.
Setiap benda atau bangunan memiliki persyaratan khusus
untuk dapat ditetapkan sebagai benda cagar budaya. Secara rinci,
Undang-undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya
menjelaskan hal tersebut. Pada pasal kelima terkait kriteria cagar
budaya dituliskan bahwa sebuah benda, bangunan dan struktur
dapat dikatakan sebagai benda cagar budaya ketika sudah berumur
lebih dari 50 tahun. Selain itu juga harus memiliki nilai budaya bagi
penguatan kepribadian bangsa. Terkait dengan historisitas, salah
satu kriterianya adalah memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu
pengetahuan, pendidikan, agama serta kebudayaan.
Hasil pendataan tinggalan cagar budaya yang dilakukan
pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat,
Historisitas Cagar Budaya di Kepulauan Riau
~ 23 ~
hampir sebagian besar benda cagar budaya di Tanjungpinang
merupakan peninggalan Kerajaan Riau-Lingga. Tinggalan tersebut
didominasi oleh tinggalan benda tak bergerak, seperti bangunan
dan situs. Tinggalan-tinggalan itu pada umumnya tersebar di dua
kawasan, yaitu Pulau Penyengat dan kawasan Hulu Riau atau yang
lebih dikenal Sungai Carang.
Tinggalan-tinggalan yang tersebar di kawasan Sungai
Carang, berkaitan erat dengan pemerintahan Kerajaan Johor-
Pahang-Riau-Lingga pada kurun akhir abad ke-17 hingga akhir
abad 18. Pasca beralihnya kekuasaan ke tangan Tengku Sulaiman
bergelar Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, maka para daeng mulai
terlibat dalam kekuasaan. Selain sultan sebagai pimpinan tertinggi
dalam sistem pemerintahan kerajaan, posisi jabatan pun ditambah,
apabila sebelumnya setelah sultan terdapat Bendahara Kerajaan,
maka pada masa Sultan Sulaiman terdapat posisi Yang Dipertuan
Muda. Posisi ini diisi oleh keturunan Bugis, diawali dengan Daeng
Marewah sebagai Yang Dipertuan Muda I.
Keberadaan Makam Daeng Celak dan Daeng Marewa di
Hulu Riau, merupakan salah satu bukti dari perjalanan panjang
bangsawan Bugis di Bumi Melayu. Eksistensi mereka semasa hidup
ikut mewarnai perjalanan sejarah Kesultanan Johor-Pahang-Riau-
Lingga. Pengaruh keberadaan mereka tidak hanya terjadi dalam hal
sosial maupun kebudayaan. Lebih jauh, keberadaan mereka masuk
ke dalam sistem perpolitikan kerajaan.
PENDEKATAN
Penulisan artikel ini berangkat dari rangkaian metode
penelitian sejarah. Setelah menetapkan judul atau tema serta
rancangan penelitian, maka selanjutnya masuk pada tahapan
pengumpulan sumber (heuristik). Setelah melewati tahap ini
kemudian masuk pada tahap verifikasi, interprestasi dan terakhir
penulisan (Daliman,2018: 28). Pengumpulan data terkait Daeng
Marewah dan Daeng Celak dilakukan dengan melakukan
penelusuran pada beberapa buku maupun laporan penelitian.
Sumber-sumber tersebut beberapa di antaranya merupakan
sumber sekunder dan beberapa lainnya sumber primer.
Beberapa sumber terkumpul tentunya harus melewati
tahapan verifikasi terlebih dahulu, terutama terhadap sumber-
Historisitas Cagar Budaya di Kepulauan Riau
~ 24 ~
sumber lokal. Beberapa referensi dalam artikel ini menggunakan
beberapa sumber lokal, salah satu kelemahan dari sumber-sumber
tersebut ialah tidak adanya kejelasan tahun sehingga butuh kerja
keras untuk mencocokkannya dengan sumber-sumber lain, guna
mendapatkan informasi yang valid. Selepas verifikasi, kemudian
barulah informasi-informasi tersebut disusun menjadi sebuah narasi
baru sesuai dengan tema yang ditentukan di awal dan kemudian
ditulis menjadi sebuah tulisan sejarah.
Penulisan artikel ini berawal dari upaya menggali nilai sejarah
atau historisitas dari Makam Daeng Marewah dan Daeng Celak
yang merupakan benda cagar budaya. Terkait makam yang
merupakan benda cagar budaya, maka penulisan artikel ini juga
menggunakan pendekatan arkeologis untuk mengkaji fisik
bangunan. Pada bagian tersebut akan dideskripsikan wujud fisik
makam serta analisis terhadap beberapa bagiannya.
Pendekatan arkeologis merupakan salah satu upaya dalam
menggali sejarah dari sudut pandang lain. Benda sebagai
manifestasi kebudayaan dari sekelompok masyarakat merupakan
salah satu sumber untuk mengetahui aktifitas di masa lalu. Uka
Tjandrasasmita menyebutkan arkeologi Islam tidak hanya bertujuan
untuk mempelajari aktifitas masyarakat yang terkait dengan
keagamaan. Akan tetapi juga menyinggung tempat atau objek
sebagai wujud dari aktifitas yang mereka lakukan (Uka
Tjandrasasmita, 2009: 210).
Dalam bentuk fisik, makam-makam dapat diamati secara
langsung. Akan tetapi kajian terhadap makam sebagai tinggalan
kebudayaan masyarakat dari masa lalu tentu akan mengalami
benturan dalam hal menggali sumber atau referensi. Hal tersebut
hendaknya berangkat dari catatan yang berisi informasi tentang
benda tersebut. Namun demikian, keberadaan sebuah benda cagar
budaya tentu terkait dengan banyak hal. Tidak hanya terkait prosesi
pembangunan objek tersebut, akan tetapi juga tidak terlepas dari
sosok yang berkaitan dengan bangunan itu, baik yang terlibat
dalam pembangunan maupun sosok yang dimakamkan.
Untuk mengetahui nilai historitas sebuah tinggalan cagar
budaya, maka sangat penting dilakukan pengkajian sejarah. Tidak
hanya terkait dengan aktifitas hingga terwujudnya sebuah benda,
tapi juga berkaitan dengan segala aktifitas ataupun rekam jejak
Historisitas Cagar Budaya di Kepulauan Riau
~ 25 ~
kehidupan sosok yang dimakamkan. Daeng Marewah dan Daeng
Celak merupakan dua sosok non Melayu yang di kemudian hari
menjadi orang berpengaruh di kawasan tersebut.
PEMBAHASAN
Upu Daeng Lima Bersaudara: Dari Tanah Bugis ke Tanah Melayu
-lima anak raja ini masih remaja, putra baginda, Daeng
Celak dan Daeng Kemasi berat sangatlah dikasihi oleh ibunda-
ibundanya. Maka dibawanya barang kemana putranya itu yang lima
Sejarah Raja-raja Melayu
Bugis
. Perjalanan Daeng Rilakka dari Tanah Bugis diperkirakan
berlangsung pada awal abad ke-17. Keberangkatan bangsawan
dari Luwu yang ada di bagian selatan Sulawesi ini membawa serta
kelima puteranya, yaitu Daeng Perani, Daeng Marewah, Daeng
Menambun, Daeng Celak dan Daeng Kemasi.
Upu Tanderi Burung Daeng Rilakka merupakan bangsawan
Bugis keturunan Raja Luwu. Ayahnya adalah seorang raja bernama
Lamadusalad. Daeng Rilakka merupakan satu dari tiga bersaudara,
anak lain di keluarga tersebut bernama Upu Daeng Biasa yang
kemudian dikabarkan menjadi raja di Betawi. Sementara satu
lainnya bernama Upu Pajung kemudian menjadi pemegang tahta di
negeri Luwu (A. Samad Ahmad, 1985: 2).
Sebelum perjalanan mereka berakhir di Riau Kepulauan,
terlebih dahulu rombongan pernah singgah di Batavia (Faisal
Sofyan, 2013: 59). Sebelum sampai ke Betawi dan bertemu dengan
saudaranya Upu Daeng Biasa, Daeng Rilakka juga sempat singgah
di Mengkasar (Makasar). Kitab
Thamaratul Matlub Fi Anuaril Qulub
karangan Raja Khalid yang kemudian diterjemahkan oleh A Samad
Ahmad menyebutkan, setelah sampai di Betawi dan bertemu
dengan Upu Daeng Biasa, ia bersama anak-anaknya diberikan
pencalang untuk dipergunakan dalam melanjutkan pelayaran.
Disertai modal yang cukup dan kapal baru, maka berangkatlah ia
menuju Siantan.
Dari Siantan yang berada di kawasan Pulau Tujuh, Daeng
Rilakka melanjutkan perjalanan ke Kamboja. Sebelum berangkat ke
Kamboja, Daeng Perani mempersunting anak dari Nakhoda Alang,
seorang keturunan Bugis yang sudah lama menetap di daerah
tersebut. Setelah beberapa waktu di Kamboja, akhirnya Daeng
Historisitas Cagar Budaya di Kepulauan Riau
~ 26 ~
Rilakka memutuskan untuk kembali ke Siantan. Sekembalinya dari
Kamboja, rombongan mendapati isteri Daeng Perani sudah
melahirkan seorang anak laki-laki, sehingga anak itu dinamai Daeng
Kemboja. (Haji Abdullah, terj. Evawarni, 1993: 30-39).
Pascawafatnya Daeng Rilakka pada 1981, tidak berselang
jauh setelah kelahiran Daeng Kemboja dari ibunya yang bernama
Encik Fatimah, kelima anaknya memutuskan untuk melanjutkan
perjalanan. Dari Siantan, tempat yang dipilih oleh Upu Daeng Lima
Bersaudara itu adalah daerah selatan Semenanjung Melayu. Mereka
juga dikabarkan ikut membangun pemukiman Bugis di daerah
Sungai Kelang dan Sungai Johor.
Keberadaan perantau Bugis di kawasan Melayu bukanlah
sesuatu yang baru dengan kedatangan rombongan Daeng Rilakka.
Orang-orang Bugis sebelumnya sudah dikenal sebagai saudagar
yang cukup terkenal. Profesi saudagar itu salah satunya diperkuat
dengan pernyataan Francis Light, seorang berkebangsaan Inggris
yang pernah bertemu dengan mereka. Pada 11 Agustus 1786, ia
pernah berkunjung ke Pulau Pinang Malaysia menyebut bahwa
orang-orang Bugis adalah saudagar-saudagar terkenal dari pulau-
pulau sebelah timur (Daud Kadir, 2008: 86). Selain sebagai saudagar
yang datang untuk berdagang, keberadaan beberapa tokoh yang
sudah menetap menjadi salah satu bukti bahwa keberadaan Bugis
di kawasan Melayu sudah berlangsung lama sebelum kedatangan
Daeng Rilakka.
Dari kelima Upu Daeng tersebut, hanya Daeng Marewah dan
Daeng Celak yang dimakamkan di Hulu Riau. Sekalipun demikian,
ketiga daeng lain tetap bersama dan terlibat dalam polemik kerajaan
Johor Pahang Riau Lingga. Daeng Perani bergelar Mangkat di
Kedah karena meninggal di Kedah. Daeng Menambun setelah
suasana di Hulu Riau kondusif, memilih untuk menetap di
Mempawah dan Daeng Kemasi di Sambas.
Daeng Perani setelah menikahi Encik Fatimah anak Nakhoda
Alang, mendapat dua anak. Daeng Kemboja adalah anak pertama,
dimana kelahirannya bertepatan dengan kepulangan Daeng
Rilakka bersama rombongan dari Kamboja. Selain Daeng Kemboja,
anak lainnya adalah perempuan, yakni Daeng Tijah (Khadijah).
Anak perempuan ini kemudian akan menjadi isteri dari Raja Alam
Siak. Sementara itu Daeng Kemboja di kemudian hari menggantikan
Historisitas Cagar Budaya di Kepulauan Riau
~ 27 ~
posisi pamannya Daeng Celak sebagai Yang Dipertuan Muda Riau.
Daeng Kemboja tercatat sebagai YDM Riau III (1756-1777).
Daeng Menambun kemudian menjadi Raja Mempawah
dengan gelar Surya Negara Pangeran karena ia menikahi anak
Sultan Matan bernama Putri Kesumba. Hal tersebut terjadi setelah
Upu Daeng Bersaudara membantu Sultan dalam urusan internal
kerajaan. Dari pernikahan tersebut Daeng Menambun memperoleh
10 anak, enam di antaranya laki-laki dan empat lainnya perempuan
(A. Samad Ahmad, 1985: 4-5). Peristiwa ini diperkirakan berlangsung
sebelum tahun 1719, sebab keterlibatan Upu Daeng Lima
Bersaudara dalam polemik kerajaan Johor dimulai dengan
serangan yang mereka lakukan terhadap Raja Kecik pada tahun
1719. Setelah dari Mempawah, kelima Orang Bugis tersebut
dimintai tolong oleh Tengku Sulaiman untuk merebut tahta dari Raja
Kecik.
Daeng Kemasi kemudian bergelar Pangeran Mangkubumi
Sambas. Bukan tanpa sebab, dalam buku
Kerajaan Johor Riau
diceritakan bahwasanya Daeng Kemasi bersama Daeng
Menambun meminta ijin untuk kembali ke Mempawah. Peristiwa ini
diperkirakan terjadi setelah tahun 1722, tepatnya setelah pelantikan
Tengku Sulaiman menjadi Sultan Riau. Sesampainya di Sambas,
Daeng Kemasi disambut baik oleh pemuka daerah setempat. Oleh
Sultan, ia dinikahkan dengan saudara perempuannya bernama
Raden Tengah. Ia diberi gelar Pangeran Mangkubumi oleh Sultan
yang menitah dalam negeri Sambas dengan segala daerah
taklukannya.
Terlibat Perebutan Tahta
Pada 1699, Sultan Mahmud Syah II yang ketika itu menjabat
Sultan Johor wafat dengan gelar Mangkat di Julang. Kematiannya
tidak meninggalkan keturunan sebagai pewaris tahta. Oleh sebab
itu, pada awal September 1699, Tun Abdul Jalil yang menjabat
bendahara kerajaan dilantik menjadi sultan johor dengan gelar
Sultan Abdul Jalil Riayat Syah. Selain itu, sebagi wakil sultan ia
melantik adiknya sendiri yaitu Tun Muhammad (Ahmad Dahlan,
2014: 190-191).
Akan tetapi masa pemerintahan Sultan Abdul Jalil Riayat
Syah tidaklah berlangsung lama. Hal tersebut terjadi lantaran
Historisitas Cagar Budaya di Kepulauan Riau
~ 28 ~
munculnya sosok lain yang menganggap dirinya sebagai keturunan
sah dari Sultan Mahmud Syah II, yakni Raja Kecik. Dalam upaya itu,
Raja Kecik berusaha menghimpun kekuatan dari beberapa pihak,
terutama orang-orang yang menjadi pengikut setia Sultan Mahmud
Syah II yang ada di Kuala Johor dan Singapura. Raja Kecik pun
berupaya untuk meyakinkan orang-orang tersebut bahwa ia adalah
keturunan sah dari Sultan Mahmud Syah, sehingga tahta yang saat
itu diduduki oleh Sultan Abdul Jalil Riayat Syah harus direbut.
Tuhfat al-Nafis
, karangan Raja Ali Haji pun menceritakan siapa
sebenarnya Raja Kecik. Raja Kecik diceritakan sebagai anak Sultan
Mahmud Syah II, akan tetapi tidak berasal dari rahim permaisuri.
Setelah sultan wafat, Raja Kecik dibawa oleh Nakhoda Malim ke
Paguruyung, kerajaan di Minangkabau. Raja Kecik yang kemudian
diberi nama Si Buyung menghabiskan masa kecil hingga
dewasanya di kerajaan tersebut. Ia dirawat dan dididik oleh Ibu Suri
Kerajaan bernama Puti Jamilan. Setelah mendapatkan bekal yang
cukup, maka Si Buyung atau Raja Kecik mulai meninggalkan
Minangkabau untuk bertolak menuju Johor guna menuntut tahta
ayahnya.
Penyerangan Raja Kecik ke Johor membuahkan hasil. Pada
21 Maret 1717, ia naik menjadi sultan menggantikan Sultan Abdul
Jalil Riayat Syah dengan gelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah.
Sementara Sultan Abdul Jalil diangkat sebagai Datuk Bendahara.
Tidak hanya itu, Raja Kecik pun berniat untuk menikahi Tengku
Tengah, anak dari Sultan Abdul Jalil Riayat Syah. Akan tetapi di
kemudian hari Raja Kecik malah terpikat pada adik Tengku Tengah,
yaitu Tengku Kamariah, sehingga lamaran yang awalnya
dialamatkan kepada Tengku Tengah malah beralih kepada Tengku
Kamariah (Ahmad Dahlan, 2014: 196).
Perseteruan antara pihak Raja Kecik dengan pihak keluarga
Sultan Abdul Jalil tidak serta merta berhenti ketika ia menjadi Sultan
Johor. Anak Sultan Abdul Jalil, Tengku Sulaiman berupaya untuk
merebut kembali tahta yang sudah dijabat oleh Raja Kecik. Alasan
perebutan kekuasaan itu menurut beberapa sumber tidak hanya
berkaitan dengan alasan politis, akan tetapi juga karena tersinggung
atas perlakuan Raja Kecik (Syahrul, 2019: 40). Pada awalnya Raja
Kecik berniat untuk mempersunting Tengku Tengah, akan tetapi
Historisitas Cagar Budaya di Kepulauan Riau
~ 29 ~
kemudian beralih pada Tengku Kamariah, saudara Tengku Tengah
sendiri.
Upaya perebutan kekuasaan oleh Tengku Sulaiman
kemudian melibatkan Upu Daeng Bersaudara. Upu Daeng
Bersaudara menerima permintaan tersebut, sebab mereka juga
memiliki kepentingan dengan Raja Kecik. Sebelumnya, Raja Kecik
pernah membuat kesepakatan bersama Upu Daeng Bersaudara
untuk merebut tahta dari Sultan Abdul Jalil dengan menyerang
Johor. Kesepakatan yang ditawarkan di antaranya adalah apabila
penyerangan berhasil maka Daeng Perani akan diangkat menjadi
Yang Dipertuan Muda (Daud Kadir, 2008: 92). Akan tetapi, setelah
kesepakatan itu, Raja Kecik pergi melakukan penyerangan ke Johor
tanpa melibatkan Upu Daeng Bersaudara sama sekali.
Setelah menjalin kesepakatan dengan Tengku Sulaiman,
maka selanjutnya Upu Daeng Bersaudara mulai melakukan
serangan terhadap Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah atau Raja Kecik.
Serangan yang dipimpin oleh Daeng Marewah itu tidak dapat
ditahan oleh pihak Raja Kecik. Akibatnya, pada tahun 1719 pusat
kerajaan dipindahkan ke Hulu Riau. Dalam penyerangan tersebut,
Sultan Abdul Jalil Riayat Syah yang kemudian dijadikan Bendahara
Kerajaan oleh Raja Kecik ikut terbunuh.
Tidak berhenti dengan mundurnya Raja Kecik ke Hulu Riau.
Pada tahun 1722 dengan dipimpin Daeng Perani, serangan
dilanjutkan ke daerah Hulu Riau. Penyerangan tersebut
mengakibatkan terjadinya pertempuran di beberapa lokasi, seperti
Pulau Bayan, Pulau Penyengat dan Tanjungpinang. Penyerangan
tersebut berhasil membuat Raja Kecik terdesak sehingga harus
mundur dari daerah tersebut. Setelah mundur ke Lingga, akhirnya
Raja Kecik memutuskan untuk lari ke Siak (Ahmad Dahlan, 2015:
199). Setelah berakhir peristiwa penyerangan dengan mundurnya
Raja Kecik atau Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah ke Siak, maka
kendali kekuasaan beralih ke tangan Tengku Sulaiman. Pada 4
Oktober 1722, Tengku Sulaiman dilantik dengan gelar Sultan
Sulaiman Badrul Alamsyah sebagai Sultan Kemaharajaan Melayu
dan seluruh daerah takluk. Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah
memiliki kuasa atas daerah Johor, Pahang, Riau dan Lingga.
Pelantikan yang dilakukan di daerah Hulu Riau kemudian juga
Historisitas Cagar Budaya di Kepulauan Riau
~ 30 ~
menjadikan daerah tersebut sebagai pusat kendali pemerintahan
hingga tahun 1784 (Totok Rusmanto, 2004: 33). Selain itu, pada
waktu tersebut Daeng Marewah juga dilantik sebagai Yang
Dipertuan Muda.
Selain memberikan jabatan kepada Daeng Marewah sebagai
bentuk balas budi terhadap keturunan Bugis, Sultan Sulaiman juga
menjalin ikatan pernikahan antara kedua belah pihak. Ikatan
perkawinan tersebut sebagai bentuk pengikat antara Bugis dengan
Melayu. Daeng Perani dinikahkan dengan saudara perempuan
Sultan Sulaiman, yaitu Tengku Tengah atau juga dikenal dengan
Tengku Irang. Dari perkawinan tersebut diperoleh seorang anak
perempuan yang diberi nama Raja Maimunah. Selanjutnya Daeng
Marewah menikahi putri Abd Jamal Tumenggung Johor, yaitu Tun
Encik Ayu (Raja Ali Haji, terj. Matheson, 1982: 29-30).
Lebih lanjut, Raja Ali Haji dalam
Tuhfat al-Nafis
menjabarkan
Daeng Celak menikahi saudara perempuan Sultan Sulaiman yang
lain, yakni Tengku Mandak. Selain dari dari Upu Daeng Bersaudara,
juga terdapat beberapa keturunan Bugis lain yang menikah dengan
keturunan Melayu. Daeng Menampok menikah dengan Tengku
Tipah. Daeng Masuru menikah dengan Tun Kecik yang merupakan
sepupu sultan, dan Daeng Mengatuk menikah dengan Tun Enah.
Para Daeng di Pusat Pemerintahan
Pada penabalan Sultan Sulaiman, Daeng Marewah
dianugerahi jabatan sebagai Yang Dipertuan Muda (YDM) Riau I
dengan gelar Kelana Jaya Putra. Jabatan tersebut merupakan posisi
baru dalam struktur pemerintahan Kerajaan Riau. Sebelumnya posisi
itu diisi oleh Bendahara Kerajaan yang berasal dari keturunan
Melayu. Selain itu, posisi Yang Dipertuan Muda bukanlah posisi
biasa, kedudukannya berada tepat di bawah sultan, dengan kata
lain setelah sultan, maka jabatan tertinggi setelahnya adalah jabatan
Yang Dipertuan Muda (Syahrul, 2019: 41).
Posisi yang dipertuan muda dapat dikatakan sekelas dengan
perdana menteri. Posisi ini sangat memungkinkan bagi pejabatnya
untuk menetapkan atau pun mengambil kebijakan strategis. Pada
struktur pemerintahan sebelumnya, terkait penetapan dan
pengambilan keputusan dikembalikan kepada pemegang jabatan
menteri serta Majelis Orang Kaya Melayu. Kondisi tersebut
Historisitas Cagar Budaya di Kepulauan Riau
~ 31 ~
berpeluang untuk membuka celah berubah menjadi oposisi dari
pihak yang tidak lagi mengemban jabatan sebagai yang dipertuan
muda (Ridwan Melay, 1999: 40).
Raja muda atau yang dipertuan muda juga diamanahi untuk
mengurus beberapa bidang. Pemegang jabatan ini juga diamanahi
tugas untuk mengurus soal pertahanan serta urusan yang berkaitan
dengan hubungan luar negeri. Untuk urusan dalam negeri dan
berkaitan dengan adat istiadat, keamanan dalam negeri, agama dan
hukum diurus oleh sultan atau yang dipertuan besar (Rida K Liamsi,
2018: 39). Dijabatnya posisi sebagai raja muda oleh keturunan Bugis
tentunya membawa warna dan perubahan baru dalam
pemerintahan di kawasan Melayu.
Pada saat pelantikan Sultan Sulaiman, Daeng Marewah yang
kemudian diangkat menjadi yang dipertuan muda mengucapkan
sumpah setianya di hadapan hadirin. Selain itu, sebagaimana tertulis
dalam
Tuhfat al-Nafis
yang aku dan engkau tidak suka melintang di hadapanmu, maka
aku bujurkan. Barang yang semak dan berduri di hadapanmu, aku
-203). Ungkapan tersebut
menjadi sumpah kesetiaan dari seorang Daeng Marewah terhadap
Sultan Sulaiman. Tidak hanya pada masa itu, hingga masa-masa
setelahnya keberadaan yang dipertuan muda di Kerajaan Riau
menjadi kekuatan kerajaan dalam menjalankan pemerintahan.
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, dalam mengikat
hubungan antara pihak Melayu dengan Bugis, maka dilakukan
hubungan perkawinan. Daeng Marewah dinikahkan dengan anak
Temenggung Johor, yaitu Tun Encik Ayu. Dari pernikahan tersebut,
keduanya dianugerahi tiga orang anak, yaitu Encik Unuk, Raja Sayid
dan Raja Fatimah. Raja Fatimah kemudian dipersunting oleh YDM
Riau III Daeng Kemboja yang merupakan anak Daeng Perani.
Sebagian keturunan Daeng Marewah berada di Selangor, karena
anaknya Encik Unuk menikah disana dan melahirkan anak bernama
Encik Aisyah (Raja Ali Haji, terj. Matheson, 1982: 29-30)
Setelah Daeng Marewah gelar Kelana Jaya Putra (1722-
1728), jabatan Yang Dipertuan Muda selanjutnya dipegang oleh
Daeng Celak (1728-1756). Pengangkatan Daeng Celak sendiri
dilakukan oleh Sultan Sulaiman pascawafatnya Daeng Marewah.
Wafatnya Daeng Marewah diceritakan ketika ia pergi untuk
Historisitas Cagar Budaya di Kepulauan Riau
~ 32 ~
memeriksa daerah kekuasaan kerajaan. Terkait kematian Daeng
Marewah tidak disebutkan secara rinci di dalam manuskrip
Silsilah
Raja-raja Melayu Bugis
karangan Encik Bahrun. Di dalamnya juga
diceritakan jenazah dibawa kembali ke Riau untuk dimakamkan.
Setelah melawati masa berkabung, barulah Sultan Sulaiman
menobatkan Daeng Celak sebagai Yang Dipertuan Muda Riau II
menggantikan saudaranya Daeng Marewah (Encik Bahrun, terj
Syamsurizal, 1993: 71-72).
Sebagai raja muda, Daeng Celak juga dikenal atas
perhatiannya terhadap sektor ekonomi dari wilayah kerajaan Riau
Johor. Salah satu upayanya untuk meningkatkan perekonomian di
kawasan tersebut adalah dengan membuka perkebunan gambir
yang cukup mendongkrak perekonomian masa itu. Pada masa
tersebut juga didatangkan para pekerja dari Cina untuk bekerja di
perkebunan gambir yang ada di wilayah kekuasaan Kerajaan Riau
Johor. Daeng Celak tutup usia setelah menjabat sebagai Yang
Dipertuan Muda Riau selama lebih kurang 17 tahun dengan
sebutan Marhum Mangkat di Kota (Anastasia Wiwik, 2018: 66).
Daeng Celak merupakan salah satu dari beberapa Upu
Daeng yang menikah dengan keturunan Melayu. Keturunan Daeng
Celak hingga beberapa generasi setelahnya adalah orang-orang
yang memiliki peran penting dalam sejarah Kerajaan Riau Lingga
Johor Pahang atau kemudian menjadi Kerajaan Riau Lingga.
Keturunan-keturunan tersebut mengisi posisi sebagai Yang
Dipertuan Muda serta menjadi istri sultan atau yang dipertuan besar.
Selain itu juga ada keturunannya yang kemudian menjadi Sultan
Selangor. Bahkan lima generasi setelahnya, salah seorang
keturunan Daeng Celak menjadi sultan di Kerajaan Riau Lingga.
Daeng Celak atau yang dikenal juga dengan sebutan Daeng
Pali menikah dengan dengan saudara perempuan Sultan Sulaiman
Badrul Alamsyah, yaitu Tengku Mandak. Prosesi pernikahan Daeng
Celak dengan Tengku Mandak dijelaskan secara rinci dalam naskah
Silsilah Melayu Bugis
, sayangnya di dalamnya tidak disebutkan
waktu pelaksanaan pernikahan. Setelah pernikahan dilangsungkan
di balairung, dilanjutkan dengan prosesi berinai. Daeng Celak
dipasangkan pakain pengantin, dukuh, kalung, kerunjung, sayap
sandang pending dan destar panjang. Prosesi yang dilangsungkan
Historisitas Cagar Budaya di Kepulauan Riau
~ 33 ~
di istana tersebut kemudian dihadiri oleh para pembesar kerajaan
serta saudara-saudara Daeng Celak.
Pernikahan tersebut juga diabadikan dalam syair yang berbunyi;
Sudahlah ditakdirkan Tuhan
Tiada siapa boleh menahan
Hidup dan mati serta pertemuan
Tiada siapa boleh melawan
Baginda berangkat ke dalam istana
Berkhabar pada datuk betina
Baginda bertitah mengambur bahana
Hiasi pelaminan serta singgasana
Kami hendak membalas jasa
Akan upu upu gagah perkasa
Adik mundak pada perasa
Dikahwinkan dengan upu berbangsa
Yaitu raja upu yang muda
Daeng Celak namanya ada
Patutlah ia dengan adinda
Sikapnya tampan bangsawan muda
(Haji Abdullah, terj. Evawarni 1993 :133-134)
Pernikahan Daeng Celak dengan Tengku Mandak
dianugerahi enam orang anak, dua anak laki-laki dan empat anak
perempuan. Dua anak laki-laki itu adalah Raja Haji yang kelak
menjadi Yang Dipertuan Muda Riau IV dan Raja yang Lumu
kemudian menjadi Sultan Selangor pertama (1766-1782).
Sementara empat anak perempuannya adalah Tengku Putih,
Tengku Hitam, Raja Aminah, Raja Halimah. Tengku Putih menikah
dengan Abdul Jalil, yang kelak menjadi sultan atau Yang Dipertuan
Besar II. Pernikahan tersebut melahirkan Tengku Mahmud yang
kelak menjadi Sultan Mahmud Syah III atau Yang Dipertuan Besar
IV. Putri lainnya, Tengku Hitam menikah dengan Tengku Syed
Husein bin Yahya. Pernikahannya melahirkan anak bernama
Tengku Syanifah. Tengku Halimah menikah dengan Sultan Jambi.
Sementara itu Raja Aminah menikah dengan Arung Lenga anak
Historisitas Cagar Budaya di Kepulauan Riau
~ 34 ~
Raja Bugis. Pernikahan tersebut melahirkan anak bernama Encik
Engku Raja Sulaiman (Samad Ahmad, 1985: 6-7).
Salah seorang putra Daeng Celak, Raja Haji merupakan
pemangku jabatan Yang Dipertuan Muda Riau IV (1777-1784)
menggantikan Daeng Kemboja. Raja Haji dikenal dengan gelar
Marhum Teluk Ketapang. Semasa hidup, Raja Haji dikenal sebagai
panglima perang laut yang memimpin perperangan melawan
bangsa Eropa. Perperangan yang dikenal dengan Perang Riau itu
merupakan salah satu perperangan besar yang terjadi dalam
melawan bangsa asing.
Beberapa orang anak Raja Haji adalah tokoh-tokoh yang
tercatat dalam sejarah Kerajaan Riau Lingga. Beberapa anak
tersebut i
Putri Raja Hamidah merupakan istri dari Sultan Mahmud Syah III,
anak dari dari Sultan Abdul Jalil dengan Tengku Putih. Engku Putri
disebut sebagai salah satu perempuan yang memiliki pengaruh
dalam perjalanan Kerajaan Riau Lingga, sebab ia diamanahi oleh
sultan sebagai pemegang regelia atau pusaka kerajaan (Junus,
2002: 46).
kemudian menjabat sebagai Yang Dipertuan Muda Riau VI (1805-
1844). Pengangkatannya sebagai Raja Muda dalam rangka
menggantikan Raja Ali, anak Daeng Kemboja sebagai Raja Muda V.
proses pengangkatan Tengku Abdurrahman menjadi sultan untuk
menggantikan Sultan Mahmud Syah III yang wafat. Anak Raja Haji
lain yang juga tersebut dalam sejarah adalah Raja Ahmad. Raja
Ahmad merupakan penasehat kerajaan dan juga dikenal dengan
nama Engku Haji Tua.
Pada dasarnya, yang akan diangkat sebagai sultan atau yang
dipertuan besar di Kerajaan Riau Lingga adalah anak dari keturunan
Melayu secara patrilinial. Akan tetapi, sultan terakhir dari kerajaan
tersebut berasal dari keturunan Bugis, yaitu Raja Abdurrahman. Raja
Abdurrahman yang kemudian bergelar Sultan Abdurrahman
Muazam Syah II merupakan sultan terakhir Riau Lingga yang
memerintah dari 1899-1913. Secara ranji atau keturunan, Sultan
Abdurrahman Muazamsyah II merupakan anak dari Raja M. Yusuf
Yang Dipertuan Muda Riau X. Ayah dari Raja M. Yusuf adalah Raja
Historisitas Cagar Budaya di Kepulauan Riau
~ 35 ~
Ali, menjabat Yang Dipertuan Muda Riau VIII. Sementara Raja Ali
uan Muda Riau VI
(Mansur, 1983).
Memperhatikan riwayat pemegang kekuasaan di Kerajaan
Riau Lingga, semua tidak terlepas dari keberadaan Daeng Celak.
Selain sebagai pemegang jabatan raja muda, salah satu keturunan
Daeng Celak di kemudian hari berada pada posisi sultan atau atau
Yang Dipertuan besar, yakni Sultan Abdurrahman II. Selain sebagai
pemegang kekuasaan, keturunan-keturunannya juga berkiprah
menjadi cendikiawan maupun sastrawan. Raja Ahmad, selain
sebagai penasehat kerajaan juga membuat beberapa karangan,
termasuk syair. Raja Ali Haji, anak Raja Ahmad juga muncul sebagai
sastrawan dan pujangga istana.
Dua Makam Daeng di Tepian Sungai Carang
1. Makam Daeng Marewa
Komplek pemakaman itu tidak begitu jauh dari
jalan raya, lebih kurang berjarak 1 kilometer dari jembatan
Sungai Carang. Di ujung jalan kecil yang hanya biasa
dilalui satu kendaraan, terdapat komplek pemakaman
yang sekelilingnya diberi pagar setinggi pinggang.
Beberapa makam dengan nisan beragam ukuran tersebar
di dalam pagar tersebut. Dari sekian banyak makam, satu
di antaranya memiliki posisi yang cukup tinggi dibanding
yang lain. Makam itu dilindungi oleh bangunan tak
berdinding dengan dua batu nisan yang dihiasi ukiran.
Persis di bawah nisan terdapat sebuah penanda
bertuliskan Daeng Marewa Kelana Jaya Putra Yang
Dipertuan Muda Riau I 1721- 1728.
Situs ini berada di Jalan Sungai Carang, secara
administrasi masuk ke dalam daerah Kelurahan Kampung
Bugis, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Untuk
menuju situs tidaklah sulit, sebab jarak dari pusat kota
hanya berkisar lebih kurang 16 kilometer. Selain
menggunakan jalur darat dengan menggunakan mobil
atau sepeda motor, makam Daeng Marewah juga dapat
diakses menggunakan akses air, tidak jauh dari makam
terdapat sebuah dermaga kecil di tepi Sungai Carang.
Historisitas Cagar Budaya di Kepulauan Riau
~ 36 ~
Makam ini sudah terdaftar sebagai benda cagar budaya
dengan nomor inventarisasi 08/BCB-TB/C/01/2007.
Terdapat dua pintu untuk masuk ke dalam komplek
pemakaman yang memiliki luas 400 meter persegi ini.
Pintu pertama terdapat pada dinding atau pagar di sisi
utara dan pintu lainnya terdapat pada pagar sisi selatan.
Makam Daeng Marewah adalah satu-satunya makam
yang sangat menonjol di komplek ini, selain karena
dilindungi bangunan beratap, makam tersebut juga relatif
lebih tinggi dari pada makam lainnya.
Bangunan pelindung makam atau biasa dikenal
dengan istilah cungkup itu memiliki empat tiang dengan
arsitektur atap khas bangunan tradisional Melayu. Selain
warna kuning yang begitu menonjol, ragam hias pada
loteng bangunan serta bagian bawah atap menjadi
penguat identitas kemelayuan bangunan ini. Kombinasi
warna kuning dan hijau juga menjadi penghias pada
beberapa bagian, seperti ornamen tiang bangunan
hingga ragam hias berbentuk floral yang terdapat pada
loteng.
Makam ini menjadi lebih tinggi dibanding makam
lain karena memiliki jirat. Jirat atau bangunan badan
makam terbuat dari semen dengan ketinggian 150
sentimeter. Setidaknya terdapat empat tingkatan yang
membentuk undakan pada jirat ini, sehingga Makam
Daeng Marewah menjadi lebih tinggi. Nisan makam ini
berbentuk silinder, kedua nisan tersebut dibuat dengan
bahan batu andesit. Laporan Balai Pelestarian Cagar
Budaya (BPCB) Sumatera Barat tahun 2017 menyebutkan,
tidak jauh dari posisi bangunan makam ini, tepatnya ke
arah timur bangunan, terdapat sebuah jirat makam yang
diduga sebagai jirat Makam Daeng Marewah yang asli.
Sementara jirat yang ada pada makam saat ini adalah jirat
baru yang dibangun kemudian.
Historisitas Cagar Budaya di Kepulauan Riau
~ 37 ~
Komplek Makam Daeng Marewah1 - Dokumen Syahrul
Makam Daeng Marewah - Dokumen Syahrul
2. Makam Daeng Celak
Di tepian Sungai Carang, Makam Daeng Celak
adalah makam pertama yang akan ditemui sebelum
menuju ke Makam Daeng Marewah. Kedua makam ini
terpaut jarak lebih kurang 500 meter dan berada persis di
pinggir jalan. Sebagaimana Makam Daeng Marewah,
Makam Daeng Celak juga juga berada pada sebuah
komplek pemakaman. Selain itu, untuk menuju makam ini
dapat menggunakan akses darat maupun air, baik
Historisitas Cagar Budaya di Kepulauan Riau
~ 38 ~
menggunakan sepeda motor atau mobil maupun
menggunakan perahu atau pompong.
Makam Daeng Celak sudah terdaftar sebagai
tinggalan cagar budaya yang keberadaannya dilindungi
oleh undang-undang dengan nomor registrasi 09/BCB-
TB/C/01/2007. Makam ini juga dilindungi bangunan atau
cungkup. Tidak hanya sendiri, Daeng Celak berbaring
berdampingan dengan istrinya Tengku Mandak. Nisan
pada makam Daeng Celak memiliki bentuk persegi
delapan berbahan andesit, sementara nisan Tengku
Mandak berbentuk pipih. Kedua nisan ini memiliki hiasan
berbentuk floral yang terpahat menghias seluruh
permukaannya.
Tidak begitu luas, makam ini berada pada lahan
seluas 120 meter persegi dan cungkup tempat makam
berada memiliki ukuran 1 X 2,5 meter. Tidak jauh dari dua
makam ini, tepatnya ke arah timur, terdapat beberapa
makam lain yang identitasnya tidak diketahui. Di luar
komplek, tidak jauh dari komplek makam ini juga terdapat
satu komplek makam lain, jaraknya lebih kurang 50 meter
terdapat sekelompok makam yang oleh masyarakat
sekitar dikenal sebagai makam dayang-dayang (BPCB
Sumbar: 2017).
Nuansa kemelayuan juga terasa kental di komplek
makam ini. Cungkup yang berfungsi sebagai pelindung,
disangga oleh empat tiang dari semen berwarna kuning.
Tiang-tiang tersebut dihiasi oleh ornamen-ornamen
dengan kombinasi warna hijau. Bagian bawah atap, juga
dihias dengan ornamen berupakan ukiran dari kayu. Tidak
hanya itu, beberapa bidang pada bagian atap maupun
loteng dihiasi oleh ukiran bermotif floral.
Historisitas Cagar Budaya di Kepulauan Riau
~ 39 ~
Komplek Makam Daeng Celak - Dokumen Syahrul Rahmat
Makam Daeng Celak (kiri) dan Makam Tengku Mandak (kanan)
Dokumen Syahrul
Historisitas Cagar Budaya di Kepulauan Riau
~ 40 ~
Nisan Daeng Celak - Dokumen Syahrul Rahmat
Pada sebuah bangunan makam, pada umunya terdapat
penanda berupa nisan, jirat dan cungkup (Herwandi, 2003: 92).
Beberapa makam ada yang memiliki kelengkapan demikian, seperti
Makam Daeng Celak dan Daeng Marewah sebagian makam di
Pulau Penyengat juga demikian. Akan tetapi juga ada makam yang
tidak memiliki salah satu satu di antaranya, terutama cungkup.
Cungkup atau bangunan yang melindungi bangunan makam
biasanya dapat ditemukan pada makam tokoh-tokoh tertentu.
Sementara itu, nisan dipergunakan sebagai penanda. Dalam
Islam nisan dipergunakan untuk membedakan bagian kepala dan
kaki mayat. Sistem penguburan mayat di Indonesia selalu
membentuk garis lurus utara-selatan, sehingganya nisan-nisan yang
ada pada makam selalu mengikuti arah tersebut. Selain itu, jirat juga
adalah bagian penting lain yang kerap ditemukan pada bangunan
makam. Jirat dibuat berbentuk persegi tepat di atas tanah badan.
Beberapa makam ada yang hanya menggunakan tanah dan
Historisitas Cagar Budaya di Kepulauan Riau
~ 41 ~
beberapa makam lain ada juga yang menggunakan lempengan
batu yang disusun sedemikian rupa (Herwandi, 2003: 92-93).
Makam-makam kuno di Nusantara pada umumnya
karakteristik tersendiri. Seluruhnya berkaitan dengan struktur sosial
masyarakat. Pada beberapa kasus, makam para raja atau pun
pemuka agama biasanya akan dibangun di ketinggian. Karakteristik
lain adalah apabila sekelompok makam ada di dataran, maka
makam orang suci akan berada pada bagian paling dalam. Bentuk
nisan maupun jirat makam juga berkaitan erat dengan status sosial
yang dimakamkan di tengah masyarakat. Selain itu, dalam
kebiasaan masyarakat, apabila raja atau sultan meninggal, maka
mereka akan dikubur pada komplek pemakaman khusus kerajaan
(Uka Tjandrasasmita, 2019: 5, 210).
Dua makam yang berada di tepian Sungai Carang ini tidak
serta merta mengikuti karakteristik makam pada umumnya. Sekali
pun berasal dari petinggi Kerajaan Riau Johor, Daeng Celak dan
Daeng Marewah tidak dimakamkan di komplek pemakaman khusus
kerajaan. Selain itu, makam-makam tersebut juga tidak berada di
daerah dataran tinggi, malah berada di daerah tepian sungai.
Keberadaan makam para Yang Dipertuan Muda Riau di sekitaran
Sungai Carang atau Hulu Riau ini tentu juga berkaitan erat dengan
sejarah kerajaan tersebut. Setelah Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah
diangkat menjadi sultan, pusat pemerintahan kerajaan memang
dipusatkan di daerah itu. Setidaknya tiga orang YDM Riau
dimakamkan di sekitaran Hulu Riau, mulai dari Daeng Marewa
sebagai YDM Riau I, Daeng Celak sebagai YDM Riau II hingga
Daeng Kemboja sebagai YDM Riau III.
Kedua makam ini memiliki penanda sebagaimana makam
pada umunya, yaitu keberadaan nisan, jirat dan juga cungkup. Pada
makam Daeng Marewah, terdapat nisan berbentuk spiral sebanyak
dua buah yang membujur utara-selatan. Nisan tersebut dibalut
dengan kain berwarna kuning sebagaimana nisan di kawasan
Melayu pada umumnya. Selain itu, makam itu juga memiliki jirat
sebanyak empat tingkat. Jirat tersebut memiliki ketinggian 150
sentimeter, hal tersebut menjelaskan bahwa Daeng Marewah
adalah seorang yang memiliki posisi atau jabatan tinggi dalam
struktur masyarakat. Selain itu, makam ini adalah satu-satunya
makam di komplek tersebut yang dilindungi oleh cungkup.
Historisitas Cagar Budaya di Kepulauan Riau
~ 42 ~
Jirat pada makam DaengCcelak memiliki bentuk yang sama
sekali berbeda dengan jirat pada makam Daeng Marewah. Makam
Daeng Celak berbentuk persegi tanpa undakan. Pada ujung utara
dan selatan terdapat kelebihan batu yang semakin ke ujung
semakin mengecil dan membelok ke atas. Pada cungkup tersebut
hanya terdiri dari Makam Daeng Celak dan Tengku Mandak. Akan
tertapi pada komplek yang sama masih ada empat makam lain.
Makam-makam tersebut juga memiliki nisan yang beragam, mulai
dari bentuk pipih dan juga berbentok bulat atau persegi delapan.
Deskripsi bentuk nisan pipih tersebut memiliki hiasan berbentuk
geometris. Salah satu makam memiliki nisan pipih dengan
tambahan sayap pada bagian bahu nisan.
Makam Daeng Celak yang berada lebih kurang 500 meter
dari makam Daeng Marewah memiliki bentuk yang tidak berbeda
jauh. Makam ini juga memiliki dua buah nisan persegi delapan
dengan motif floral, nisan pada bagian utara memiliki ukuran lebih
tinggi dan nisan di bagian selatan lebih besar dan juga lebih
pendek. Hiasan pada nisan ini masih jelas dibanding nisan pada
makam Daeng Marewah yang sudah terlihat aus atau rusak.
Deskripsi fisik nisan persegi delapan atau bulat tersebut semakin ke
atas semakin besar. Bentuknya mirip dengan gada, pada bagian
kaki dan pinggang memiliki bentuk persegi, bagian kepalanya
membulat dan berbetuk undakan. Hiasan pada nisan ini cenderung
berbentuk geometris. Tipikal nisan seperti ini juga kerap ditemui
pada nisan kuno yang ada di kawasan Melayu, terutama Aceh.
Pada umumnya, nisan-nisan tersebut tidak memiliki inskripsi
yang menuliskan tahun maupun hal lainnya. Sehingga cukup sulit
untuk mengetahui kapan nisan itu dibuat maupun kapan tepatnya
orang yang dimakamkan meninggal. Melihat tipikal nisan yang ada
di daerah tersebut, dapat dilihat bahwa terdapat pengaruh nisan
Aceh. Hanya saja nisan-nisan yang ada di kawasan Kepulauan Riau
atau khususnya di Tanjungpinang tidak ada yang benar-benar
megah layaknya makam raja-raja Aceh. Selain itu nisan-nisan
pembesar kerajaan, seperti Daeng Celak dan Daeng Marewah
hanya memiliki hiasan dengan pola geometris, sementara beberapa
nisan tipe Aceh biasanya memiliki tambahan hiasan berupa kaligrafi.
Makam-makam pembesar Kerajaan Johor Pahang Riau
Lingga tidak terpusat pada satu lokasi khusus. Makam-makam
Historisitas Cagar Budaya di Kepulauan Riau
~ 43 ~
sultan terpencar pada beberapa lokasi, mulai dari Singapura, Daik
Lingga, serta Tanjungpinang. Begitu juga dengan makam yang
dipertuan muda atau raja muda, tersebar pada beberapa lokasi,
termasuk makam Daeng Marewah dan dan Daeng Celak yang
berada di Hulu Riau atau Sungai Carang. Makam YDM Riau III Daeng
Kemboja berjarak beberapa kilometer dari makam ini. Makam YDM
lain berada di Pulau Penyengat, seperti Makam Raja Haji Fisabilillah
PENUTUP
Keberadaan dua makam keturunan Bugis di Hulu Riau tidak
terlepas dari perjalanan panjang sejarah kerajaan yang ada di
kawasan Melayu. Kedatangan Upu Daeng Bersaudara bersama
ayahnya Daeng Rilakka pada akhir abad ke-17 membawa
perubahan dalam tatanan pemerintahan Kerajaan Johor Pahang
Riau Lingga. Setelah ikut terlibat dalam polemik internal kerajaan,
pada akhirnya Upu Daeng Bugis tersebut mendapatkan posisi
strategis dalam struktur pemerintahan kerajaan.
Kiprah keturunan Bugis dalam sturktur pemerintahan
Kerajaan Johor Pahang Riau Lingga dimulai oleh Daeng Marewah.
Pada penabalan Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah pada tahun
1722, Daeng Marewah juga dilantik sebagai Yang Dipertuan Muda
Riau pertama bergelar Kelana Jaya Putra. Setelah wafat, posisi itu
digantikan oleh saudaranya, Daeng Celak sebagai Yang Dipertuan
Muda Riau kedua. Selain meraih jabatan pada struktural kerajaan,
para keturunan Bugis tersebut juga diikat perkawinan dengan
keturunan Melayu. Daeng Marewah menikahi Tun Encik Ayu, anak
dari Tumenggung Johor. Sementara Daeng Celak menikah dengan
saudara perempuan Sultan Sulaiman, yaitu Tengku Mandak.
Perjalanan panjang itulah yang kemudian menjadi cikal bakal
dari keberadaan jejak daeng di Tanah Melayu. Makam Daeng
Marewah dan Daeng Celak dapat ditemukan di Hulu Riau, di tepi
Sungai Carang. Posisinya tidak jauh dari keberadaan Istana Kota
Rebah dan berseberangan sungai dengan Istana Kota Piring.
Keberadaan dua makam di daerah itu berkaitan dengan pusat
pemerintahan kerajaan pada masa tersebut yang berpusat di Hulu
Riau. Sebab beberapa raja muda setelahnya, kecuali Daeng
Kemboja berada jauh dari Hulu Riau.
Historisitas Cagar Budaya di Kepulauan Riau
~ 44 ~
Makam kedua daeng itu berada pada posisi yang tidak
begitu berjauahan, masing-masingnya berjarak lebih kurang 500
meter. Kedua makam itu memiliki ciri makam pada umumnya, yaitu
cungkup, jirat dan juga nisan. Nisan Daeng Celak berbentuk spiral
dengan ukiran yang sudah mulai aus dan nisan Daeng Celak
berbentuk persegi delapan dengan ukiran yang masih terlihat jelas.
Selain itu kedua makam itu berada pada komplek pemakaman,
pada umumnya makam-makam tersebut tidak terindentifikasi,
kecuali makam Tengku Mandak yang berada tepat di sebelah
makam Daeng Celak.
Daftar Kepustakaan
Abdullah, Haji (Terjemahan Evawarni dan Sindu Gazalba).
Silsilah
Melayu Bugis
. Tanjungpinang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai
Tradisional. 1993.
Ahmad, A Samad.
Kerajaan Johor-Riau
. Kuala Lumpur: Dewan
Bahasa dan Pustaka Kementerian Pelajaran Malaysia. 1985.
Baharun, Encik (Terjemahan Syamsurizal Abd Rahman dan Sindu
Gazalba).
Sejarah Raja-raja Melayu Bugis
. Tanjungpinang:
Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional. 1993.
Daftar Pemutakhiran Data Cagar Budaya Kota Tanjungpinang.
Deskripsi Cagar Budaya Tidak Bergerak Kota Tanjungpinang
Provinsi Kepulauan Riau
. Batusangkar: Balai Pelestarian
Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat. 2018.
Dahlan, Ahmad.
Sejarah Melayu
. Jakarta: Kepustakaan Populer
Gramedia, 2014.
Daliman.
Metode Penelitian Sejarah
. Yogyakarta: Ombak, 2018.
Haji, Raja Ali (Terjemahan Virginia Matheson dan Barbara Watson
Andaya).
Tuhfat al-Nafis
. Kuala Lumpur: Oxford University
Press. 1982.
Herwandi,
Bungong Kalimah Kaligrafi Islam dalam Balutan Tasawuf
Aceh (Abad ke-16 18 M)
. Padang: Andalas University Press.
2003.
Junus, Hasan.
Engku Putri Raja Hamidah Pemegang Regelian
Kerajaan Riau
. Pekanbaru: Unri Press. 2002.
Kadir, Daud, dkk.
Sejarah Kesultanan Lingga-Riau
. Pemerintah
Kabupaten Lingga Provinsi Kepulauan Riau, 2008.
Historisitas Cagar Budaya di Kepulauan Riau
~ 45 ~
Liam Firdaus L.N dkk,
Tamadun Melayu Lingga
. Dinas Kebudayaan
Kabupaten Lingga, 2018
Mansur, Raja Abdurrahman.
Silsilah Hubungan Raja-raja
Melayu/Bugis Johor Riau/Lingga dan Selangor.
Tanjungpinang. 20 Mei 1983 (Arsip)
Melay, Ridwan.
Riau Lingga: Dilema Kekuasaan dan Implikasi
Perdagangan 1784-1824
. Jakarta: Tesis Ilmu Sejarah UI,
1999.
dalam Pemerintahan Kerajaan Johor-Riau-Lingga-Pahan
dalam
Jurnal Perada.
Vol. 2, No. 1, Juni 2019.
Sofyan, Faisal.
Sejarah Persemendaan Melayu dan Bugis
. Tanjung
Pinang: Milaz Grafika, 2013.
Swastiwi, Anastasia Wiwik, Meitya Yulianty.
Sejarah dan Cagar
Budaya Kota Tanjungpinang
. Tanjungpinang: Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang. 2018.
Tjandrasasmita, Uka.
Arkeologi Islam Nusantara
. Jakarta: Direktorat
Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan
dan Pariwisata. 2009. i
dalam
Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur
, Vol. 32, No. 1, Juli
2004.
Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya
ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication.
Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pelajaran Malaysia
  • A Ahmad
  • Samad
  • Kerajaan Johor-Riau
  • Kuala Lumpur
Ahmad, A Samad. Kerajaan Johor-Riau. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pelajaran Malaysia. 1985.
  • Daliman
Daliman. Metode Penelitian Sejarah. Yogyakarta: Ombak, 2018.
Terjemahan Virginia Matheson dan Barbara Watson Andaya)
  • Raja Haji
  • Ali
Haji, Raja Ali (Terjemahan Virginia Matheson dan Barbara Watson Andaya). Tuhfat al-Nafis. Kuala Lumpur: Oxford University Press. 1982.
Engku Putri Raja Hamidah Pemegang Regelian Kerajaan Riau
  • Hasan Junus
Junus, Hasan. Engku Putri Raja Hamidah Pemegang Regelian Kerajaan Riau. Pekanbaru: Unri Press. 2002.
  • Liam Firdaus
  • L Dkk
Liam Firdaus L.N dkk, Tamadun Melayu Lingga. Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga, 2018
Silsilah Hubungan Raja-raja Melayu
  • Raja Mansur
  • Abdurrahman
Mansur, Raja Abdurrahman. Silsilah Hubungan Raja-raja Melayu/Bugis Johor Riau/Lingga dan Selangor.
  • Ridwan Riau Melay
  • Lingga
Melay, Ridwan. Riau Lingga: Dilema Kekuasaan dan Implikasi Perdagangan 1784-1824. Jakarta: Tesis Ilmu Sejarah UI, 1999. dalam Pemerintahan Kerajaan Johor-Riau-Lingga-Pahan dalam Jurnal Perada. Vol. 2, No. 1, Juni 2019.
Sejarah dan Cagar Budaya Kota Tanjungpinang. Tanjungpinang: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang
  • Anastasia Swastiwi
  • Meitya Wiwik
  • Yulianty
Swastiwi, Anastasia Wiwik, Meitya Yulianty. Sejarah dan Cagar Budaya Kota Tanjungpinang. Tanjungpinang: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang. 2018.