Conference PaperPDF Available

PENGARUH KONSELING KARIR TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR FAKULTAS PSIKOLOGI THE EFFECT OF CAREER COUNSELING ON CAREER DECISION MAKING AT FINAL LEVEL STUDENTS FACULTY OF PSYCHOLOGY

Authors:

Abstract

This study aims to look at the effect of career counseling on career decision making among the final year students of Faculty of Psychology, Mercu Buana University Yogyakarta. The research subjects were 8 final year students of the Faculty of Psychology, University of Mercu Buana Yogyakarta who was selected using a purposive sampling method, namely students of the 2016/2017 class. The research subjects were divided into two groups, namely the experimental group and the control group. The research method used Pre-Post Control Group Design. The measurement instruments in this study were the Career Decision Making scale. Based on the differences in the results of the pretest and posttest, there were significant score differences between the result of the pretest and posttest. It descriptively showed that career counseling can improve career decision making among the final year students of Faculty of Psychology, Mercu Buana University Yogyakarta. Based on the result of statistical tests using Mann Whitney, the research hypothesis could be accepted which was indicated by the obtained values of the experimental group Z = 2.5275 with p = 0.010 <0.050. It showed that there was a significant difference between the level of career decision making at the final year students of the Faculty of Psychology, Mercu Buana University Yogyakarta, before and after the counseling career had been given. The result of the research showed that the level of career decision making in the experimental group was higher than the level of career decision making in the control group.
143
PROSIDING SEMINAR NASIONAL 2020 FAKULTAS PSIKOLOGI UMBY
FEBRUARI 2020 29
PENGARUH KONSELING KARIR TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR
PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR FAKULTAS PSIKOLOGI
THE EFFECT OF CAREER COUNSELING ON CAREER DECISION MAKING AT FINAL
LEVEL STUDENTS FACULTY OF PSYCHOLOGY
Ros Patriani Dewi 1, Kumala Windya Rochmani 2
12Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta
1yosie.patriani@gmail.com 2kumala.wr@gmail.com
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh konseling karir terhadap pengambilan keputusan karir pada mahasiswa
tingkat akhir Fakultas Psikologi UMBY. Subjek penelitian adalah 8 mahasiswa tingkat akhir Fakultas Psikologi Universitas
Mercu Buana Yogyakarta yang diseleksi dengan menggunakan metode purposive sampling, yaitu mahasiswa angkatan
2016/2017. Subjek penelitian terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan
menggunakan metode penelitian Pre-Post Control Group Design. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan Skala
Pengambilan Keputusan Karir. Berdasarkan hasil pretest dan posttest terdapat perbedaan skor antara pretest dan posttest,
yang berarti secara deskriptif konseling karir dapat meningkatkan pengambilan keputusan karir pada mahasiswa tingkat
akhir Fakultas Psikologi UMBY. Berdasarkan uji statistik dengan menggunakan uji Mann Whitney, hipotesis penelitian
diterima yang ditunjukkan dengan diperolehnya nilai untuk kelompok eksperimen, Z = 2,575 dengan p = 0,010 < 0,050
yang berarti ada perbedaan tingkat pengambilan keputusan karir pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Psikologi UMBY
antara sebelum dan setelah pemberian konseling karir, di mana tingkat pengambilan keputusan karir pada kelompok
eksperimen lebih tinggi daripada tingkat pengambilan keputusan karir pada kelompok kontrol.
Kata Kunci: pengambilan keputusan karir, konseling karir
Abstract
This study aims to look at the effect of career counseling on career decision making among the nal year students of
Faculty of Psychology, Mercu Buana University Yogyakarta. The research subjects were 8 nal year students of the
Faculty of Psychology, University of Mercu Buana Yogyakarta who was selected using a purposive sampling method,
namely students of the 2016/2017 class. The research subjects were divided into two groups, namely the experimental
group and the control group. The research method used Pre-Post Control Group Design. The measurement instruments
in this study were the Career Decision Making scale. Based on the differences in the results of the pretest and posttest,
there were signicant score differences between the result of the pretest and posttest. It descriptively showed that career
counseling can improve career decision making among the nal year students of Faculty of Psychology, Mercu Buana
University Yogyakarta. Based on the result of statistical tests using Mann Whitney, the research hypothesis could be
accepted which was indicated by the obtained values of the experimental group Z = 2.5275 with p = 0.010 <0.050. It
showed that there was a signicant difference between the level of career decision making at the nal year students of the
Faculty of Psychology, Mercu Buana University Yogyakarta, before and after the counseling career had been given. The
result of the research showed that the level of career decision making in the experimental group was higher than the level
of career decision making in the control group.
Keywords: career decision making, career counseling
PENDAHULUAN
Saat ini semua orang tengah menghadapi era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 di mana salah satu
dampaknya adalah bergesernya atau berubahnya jenis pekerjaan. Pada era yang serba digital, para generasi
144
PROSIDING SEMINAR NASIONAL 2020 FAKULTAS PSIKOLOGI UMBY
FEBRUARI 2020 29
PENGARUH KONSELING KARIR TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR FAKULTAS PSIKOLOGI
milenial harus mampu mengambil keputusan karir untuk masa depannya agar dapat memenangkan persaingan.
Karir adalah bagian hidup yang berpengaruh pada kebahagiaan hidup manusia secara keseluruhan. Oleh
karenanya ketepatan memilih serta menentukan keputusan karier menjadi titik penting dalam perjalanan hidup
manusia. Sebelum masuk ke dalam dunia kerja maka seseorang harus melewati serangkaian proses karir, di
mana proses karir tersebut dimulai sejak seseorang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) sampai masuk dalam
jenjang Perguruan Tinggi (PT) (Dewi, 2017).
Mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas
(SMA), siswa sudah mengetahui dan sudah dihadapkan pada pilihan-pilihan karir, hanya saja mahasiswa dalam
pemilihan karir masih mengikuti apa yang mahasiswa inginkan saat ini. Sedangkan untuk mahasiswa yang
menempuh pendidikan di Perguruuan Tinggi (PT) sudah harus dituntut untuk menentuan pilihan karirnya
guna kelangsungan hidupnya di masa depan. Seorang mahasiswa sudah tidak lagi berada pada fase fantasi dan
tentatif seperti anak usia Sekolah Dasar (SD) sampai anak usia Sekolah Menengah Atas (SMA), akan tetapi
mahasiswa sudah berada pada fase realistik di mana seseorang mulai aktif dalam proses seleksi pilihan karir
untuk mencapai puncak 15 tahun kemumahasiswan (Ebtanastiti & Muis, 2014).
Menurut Ginzberg (1998), perubahan cara berkir yang subjektif menjadi pemilihan karir realistik terjadi
pada sekitar usia 17 sampai 18 tahun. Periode 17 sampai 18 menuju awal usia 20-an disebut Ginzberg fase
realistik dari pemilihan karir. Pada fase ini individu mengeksplorasi lebih luas karir yang ada, kemumahasiswan
memfokuskan diri pada karir tertentu dan akhirnya memilih pekerjaan tertentu, dalam karir tersebut. Periode
usia 17 tahun sampai 18 tahun menuju awal usia 20-an adalah usia seseorang mulai masuk ke dalam jenjang
Perguruan Tinggi (PT) yang pastinya akan menjadi mahasiswa. Seorang mahasiswa dalam menentukan pilihan
karirnya tidak akan asal memilih, akan tetapi mahasiswa akan lebih mempertimbangkan kembali pilihan
karirnya. Tidak menutup kemungkinan dengan adanya faktor-faktor yang berasal dari dalam dirinya sendiri
dan juga faktor dari luar dirinya akan mempengaruhi pilihan karir mahasiswa.
Salah satu lembaga pendidikan formal yang menyiapkan lulusannya untuk memiliki keunggulan di
dunia kerja adalah universitas. Peserta didik pada tingkat ini disebut mahasiswa. Pada tingkat akhir mahasiswa
diharapkan telah mampu mandiri dan mampu mengambil keputusan sendiri terutama berkenaan dengan dirinya.
Salah satu tugas perkembangan yang dilalui oleh mahasiswa di akhir pendidikannya yaitu mahasiswa mampu
melakukan pengambilan keputusan dalam menentukan pilihan karirnya.
Pada dasarnya mahasiswa di Perguruan Tinggi (PT) sudah dikelompokkan sesuai dengan jurusan-jurusan
yang lebih spesik lagi dalam bidang tertentu. Mareka memasuki jurusan tersebut guna untuk memperdalam
ilmu pengetahuan dan kemampuannya, untuk mengejar karir yang akan dipilihnya setelah menyelesaikan
pendidikan di Perguruan Tinggi (PT). Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa seseorang akan memilih karir
yang tidak sesuai dengan jurusan yang sedang ditempuh saat ini. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor
seperti faktor keluarga, faktor lingkungan sekitar, dan lain sebagainya (Ebtanastiti & Muis, 2014).
Seginer (2009) menyebutkan bahwa pengambilan keputusan karir menjadi sangat penting karena
menentukan berhasil atau tidak mahasiswa di masa depan. Berbagai penelitian yang telah terjadi selalu
konsisten menunjukkan bahwa para peserta didik yang telah membuat pilihan karir masa depan memiliki
kualitas hidup yang lebih baik ketimbang yang belum memutuskan. Terdapat fakta yang menyebutkan
bahwa tidak semua mahasiswa semester akhir dapat melakukan pengambilan keputusan karirnya. Penelitian
di Universitas Padjajaran (Hami, dkk, 2006) menunjukkan bahwa 52,8 % mahasiswa tingkat akhir belum
mencapai kematangan karir yaitu secara umum masih berada pada taraf belum siap dalam menentukan pilihan
karirnya. Pada penelitian yang ditemukan Cramer, dkk (Herr, 1996) terhadap mahasiswa Universitas Cornell
ditemukan 48 % mahasiswa laki-laki dan 61 % mahasiswa perempuan mengalami masalah dalam pilihan dan
perencanaan karir.
Berdasarkan penelitian tersebut ditemukan fakta adanya kebutuhan mahasiswa terhadap pembimbingan
(assistance) terhadap karir yang akan dituju. Tantangan yang akan dihadapi mahasiswa dalam menentukan
karir, di antaranya adalah ketidakpastian karir, pengaksesan informasi dan program pengembangan karir, dan
145
PROSIDING SEMINAR NASIONAL 2020 FAKULTAS PSIKOLOGI UMBY
FEBRUARI 2020 29
PENGARUH KONSELING KARIR TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR FAKULTAS PSIKOLOGI
tantangan-tantangan ekonomi dan teknologi, terutama dalam menghadapi revolusi industri 4.0 dan era society
5.0. Untuk mengantisipasi tantangan-tantangan ini perlu bagi perguruan tinggi untuk memberikan pelayanan
yang optimal terhadap perkembangan karir mahasiswa
Mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi nyaris tidak memiliki bayangan tentang rencana
pasti setelah menyelesaikan skripsi atau lulus kuliahnya. Bayangan yang ada dalam benak mahasiwa tingkat
akhir adalah mencari pekerjaan apa, mau kerja di mana, penghasilannya berapa. Bedasarkan hasil wawancara
awal yang dilakukan oleh peneliti, beberapa subjek mengatakan bahwa mahasiswa memiliki permasalahan
tidak mempunyai link, bingung dengan potensi sendiri, dan kurangnya informasi tentang pekerjaan. Selain itu
ada juga mahasiswa tingkat akhir yang berharap mendapatkan tempat kerja yang sesuai dengan latar belakang
pendidikan dan ada juga yang berkeinginan kerja tetapi tidak sesuai dengan prodi atau jurusannya dikarenakan
lebih mengutamakan minatnya. Hal ini bagi mahasiswa tingkat akhir adalah merupakan suatu problem dalam
penentuan karir.
Mahasiswa fakultas Psikologi UMBY sebenarnya sudah mengambil mata kuliah Pengembangan Diri
dan Karir di mana salah satu capaian pembelajaran dari mata kuliah tersebut adalah bertambahnya pengetahuan
mahasiswa mengenai pilihan karir serta bagaimana mahasiswa dapat mengenali potensi mahasiswa. Namun
pada kenyataannya, masih banyak mahasiswa Psikologi tingkat akhir yang mengalami kebingungan dalam
mengambil keputusan karir.
Data statistik pada Biro Pusat Statistik (Badan Pusat Statistik Republik Indonesia, 2018) menunjukkan
data jumlah pengangguran terbuka pada Februari 2018 (open unemployement) di tanah air sebanyak 7 juta
jiwa, sebanyak 6,3% adalah tamatan universitas. Berdasarkan data tersebut angka menunjukkan bahwa
pengangguran untuk lulusan universitas masih tergolong tinggi dan dapat menunjukkan indikasi bahwa terdapat
suatu masalah dalam pengambilan keputusan karir pada lulusan universitas. Hal ini menyebabkan tidak semua
masa dewasa awal dapat dengan mudah mengambil keputusan mengenai pilihan karir dan banyak di antara
mahasiswa mengalami kesulitan (Gati & Asher, 2001).
Menurut teori Shertzer dan Stone (Winkel dan Hastuti, 2004) disebutkan bahwa dalam memutuskan
sebuah karir akan selalu berkaitan dengan dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal
dipengaruhi oleh nilai-nilai kehidupan, inteligensi, bakat, minat, sifat, kepribamahasiswan, pengetahuan, dan
keadaan sik. Sedangkan faktor eksternal mahasiswantaranya dipengaruhi oleh pendidikan sekolah, pergaulan
teman sebaya, dan keluarga/masyarakat.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya (Dewi, 2017) mengenai
pengambilan keputusan karir, hasilnya menunjukkan bahwa tingkat pengambilan keputusan karir pada
mahasiswa tingkat akhir Fakultas Psikologi UMBY masih cenderung rendah. Temuan ini membuat peneliti
tergerak untuk melakukan penelitian lanjutan sekaligus intervensi untuk melihat pengaruh dari pemberian
konseling karir terhadap pengambilan keputusan karir pada mahasiwa tingkat akhir Fakultas Psikolgi UMBY.
Mahasiswa merupakan hasil (output) dari sebuah perguruan tinggi, bagaimana mahasiswa ke depannya
memang bukan seluruhnya dipengaruhi oleh perguruan tinggi tetapi juga diri mahasiswa. Dengan bimbingan
karir yang tepat, salah satunya melalui program konseling karir, perguruan tinggi telah banyak membantu
mahasiswa untuk mengurangi kebingungan dalam menentukan pilihan karir dan agar mahasiswa lebih mampu
mengenali potensi dirinya sehingga dapat memutuskan karir yang tepat setelah lulus dari perguruan tinggi.
Hasil penelitian dari Osborn dan Reardon (2006) menunjukkan bahwa individu yang terlibat dalam
konseling kelompok mendapatkan kenyamanan dan bersemahasiswa mengikuti sesi konseling sampai dengan
selesai. Dijelaskan lebih lanjut bahwa siswa yang mendapatkan konseling karir kelompok lebih memahami
tentang diri, tentang karir yang akan dipilih, dan mengetahui cara penetapan keputusan karir, serta melatih
untuk melakukan berbicara positif kepada diri sendiri.
Seginer (2009) menyebutkan bahwa pengambilan keputusan karir menjadi sangat penting karena
menentukan berhasil atau tidak mahasiswa di masa depan. Berbagai penelitian yang telah terjadi selalu
konsisten menunjukkan bahwa para peserta didik yang telah membuat pilihan karir masa depan memiliki
146
PROSIDING SEMINAR NASIONAL 2020 FAKULTAS PSIKOLOGI UMBY
FEBRUARI 2020 29
PENGARUH KONSELING KARIR TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR FAKULTAS PSIKOLOGI
kualitas hidup yang lebih baik ketimbang yang belum memutuskan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
seseorang mengalami kesulitan menetapkan keputusan karir yaitu keterbatasan dalam mengakses informasi
tentang beberapa pilihan karir dan kurangnya model atau contoh yang dapat dijadikan referensi (Gushue &
Whitson, 2006).
Intervensi pada penelitian ini menggunakan metode konseling karir kelompok. Tujuan dari konseling
karir ini yaitu untuk membantu mahasiswa mengasah keterampilan dalam menetapkan keputusan karir. Adapun
pemberian nama “Membangun Asa, Menggapai Cita” bertujuan untuk memberikan identitas baru kepada subjek
penelitian untuk berperan sebagai satu keluarga yang akan saling mendukung, memberikan dorongan, dan
membantu dalam merencanakan masa depan setiap peserta. Pertimbangan lain yang menyebabkan pemberian
nama “Membangun Asa, Menggapai Cita” yaitu untuk meminimalkan batas perbedaan kelas antar peserta
konseling. Selain itu, karena peserta yang terlibat adalah peserta yang mahasiswambil secara acak berdasarkan
skor skala pengambilan keputusan karir, maka memungkinkan peserta yang terlibat bukan teman dekat atau
teman satu kelas.
Menurut Pietrofesa, konseling merupakan proses yang melibatkan seseorang profesional dengan tujuan
berusaha membantu orang lain dalam mencapai pemahaman diri, membuat keputusan dan pemecahan masalah
(Latipun, 2011). Menurut Romano, konseling menekankan pada pengembangan, pencegahan, dan perlakuan
menuju kehidupan yang sehat dan kehidupan yang produktif terbebas dari gangguan (Gladding, 2012).
Konseling karir “Membangun Asa, Menggapai Cita” pada penelitian ini menggunakan konseling tipe
preventif, dengan tujuan memberikan keterampilan yang dapat digunakan mahasiswa dalam menetapkan
keputusan karir. Menurut Brown dan Brooks, konseling karir merupakan proses interpersonal yang didesain
untuk memberikan bantuan kepada individu yang mengalami permasalahan seputar perkembangan karir.
Adapun yang dimaksud dengan perkembangan karir yaitu proses memilih, memasuki, menyesuaikan diri, dan
maju dalam pekerjaan (Gladding, 2012).
Nims menyatakan bahwa pendekatan kelompok efektif dilakukan dengan pertimbangan mengajak
peserta untuk belajar mengasah rasa kepemilikan, berbagi permasalahan yang serupa, mengobservasi perilaku
dan konsekuensi dari perilaku yang lain, dan untuk mendapatkan penguatan selama eksplorasi diri dan
perubahan yang dilakukan (Gladding, 2012). Corey (2013) menyatakan bahwa dalam konseling kelompok
setiap anggota kelompok memperoleh kesempatan baru untuk mempraktikan perilaku-perilaku baru, selain
itu setiap anggota kelompok saling mengamati anggota kelompok yang lain dan memberikan umpan balik
terhadap sikap atau perilaku yang dilakukan oleh anggota yang lain sehingga kohesivitas kelompok merupakan
faktor yang mempengaruhi selama proses konseling.
Efektivitas konseling karir pada remaja dan dewasa awal didukung oleh beberapa penelitian (Osborn
& Reardon, 2006; Putrantya, 2008; Arifah, 2005). Brown dan Lent (2005) menyatakan bahwa salah satu
bentuk intervensi yang tepat bagi remaja dan dewasa awal (mahasiswa) dalam hal karir yaitu konseling
dengan pendekatan kelompok. Dijelaskan lebih lanjut bahwa dalam konseling kelompok terdapat unsur saling
mendukung, dan memberikan dorongan satu sama lain. Hal tersebut sesuai dengan karakteristik remaja yang
menganggap bahwa dukungan dan dorongan dari teman sebaya sebagai sesuatu yang sangat mempengaruhi
(Brown & Lent, 2005).
Hasil penelitian dari Osborn & Reardon (2006) menunjukkan bahwa individu yang terlibat dalam
konseling kelompok mendapatkan kenyamanan dan mau mengikuti sesi konseling sampai dengan selesai.
Dijelaskan lebih lanjut bahwa siswa yang mendapatkan konseling karir kelompok lebih memahami tentang
diri, tentang karir yang akan dipilih, dan mengetahui cara penetapan keputusan karir, serta melatih untuk
melakukan berbicara positif kepada diri sendiri.
METODE
Subjek penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Psikologi UMBY angkatan 2016/2017 atau mahasiswa
tingkat akhir, yang berjumlah 16 orang. Subjek penelitian ini terbagi ke dalam dua kelompok, 8 orang masuk
147
PROSIDING SEMINAR NASIONAL 2020 FAKULTAS PSIKOLOGI UMBY
FEBRUARI 2020 29
PENGARUH KONSELING KARIR TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR FAKULTAS PSIKOLOGI
ke dalam Kelompok Eksperimen dan 8 orang lainnya masuk ke Kelompok Kontrol.
Denisi operasional Pengambilan Keputusan Karir dalah kemampuan mahasiswa dalam membuat
pilihan karir dengan melihat kemampuan diri, lingkungan pendidikan atau pekerjaan, serta merencanakan
langkah-langkah dalam rangka mencapai tujuan karir tertentu. Variabel pengambilan keputusan karir diukur
menggunakan skala pengambilan keputusan karir yang disusun berdasarkan aspek yang dikemukakan oleh
Milller dan Tiedeman, yaitu, Eksplorasi, Kristalisasi, Pemilihan, dan Klarikasi (Dewi, 2017).
Denisi operasional Konseling Karir adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli
(konselor) yang bertujuan untuk membantu permasalahan mahasiswa dengan melakukan perencanaan karir.
Perencanaan karir yang dimaksudkan adalah proses perkembangan karir mahasiswa untuk dapat melakukan
eksplorasi diri dan dunia kerja, mengidentikasi hambatan-hambatan yang muncul dalam melakukan
perencanaan, membuat keputusan karir, menyusun langkah-langkah konkret yang harus dilakukan berdasarkan
keputusan tersebut, dan kemumahasiswan melaksanakan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Hal
tersebut bertujuan agar mahasiswa mampu memilih karir yang sesuai dan mampu berhasil dalam bidang
pekerjaan yang akan ditekuni. Konseling kelompok perencanaan karir disusun sebanyak satu kali pertemuan
yang terdiri dari 4 tahap (Pembentukan, Peralihan, Kegiatan, dan Pengakhiran) berdasarkan teori dari Prayitno
(2004). Pada tahap kegiatan inti terdapat 5 sesi, yaitu sesi pemahaman diri, wawasan karir, masalah karir dan
problem solving, pembuatan keputusan karir, dan menyusun perencanaan dan jadwal kegiatan. Professional
judgment modul dilakukan oleh Psikolog Pendidikan dan diujicobakan pada 8 orang mahasiswa satu bulan
sebelum dilakukan intervensi.
Data dikumpulkan dengan cara peneliti mengirimkan skala melalui Google Form kepada responden
sehingga dapat lebih mudah dan cepat dalam pelaksanaannya. Untuk mengukur skala penilaian yang ada di
dalam skala dengan menggunakan skala Likert. Alasan menggunakan skala Likert adalah untuk melihat data
secara ordinal, untuk mengetahui penyebaran data pada responden.
Sebelum skala Pengambilan Keputusan Karir digunakan pada penelitian, terlebih dahulu diujicobakan
pada sekelompok subjek untuk mengetahui nilai validitas dan reliabilitasnya. Uji coba skala dilakukan pada
50 mahasiswa Fakultas Psikologi Kampus 1 Universitas Mercu Buana Yogyakarta Angkatan 2016/2017. Dari
40 aitem terdapat 31 aitem yang valid dan 9 aitem dinyatakan gugur. Nomor aitem yang gugur adalah 3, 5, 6,
12, 13, 20, 25, 28, dan 32. Koesien validitas bergerak dari 0,326-0,723 dengan koesien reliabilitas alpha (α)
sebesar 0,916.
Penelitian ini bersifat eksperimental dengan menggunakan model the untreated control group design
with pretest and posttest yaitu desain eksperimen yang memiliki kelompok kontrol tanpa diberikan perlakuan,
pengukuran yang dilakukan yaitu memberikan pretest dan posttest dengan menggunakan instrumen yang sama
(Cook dan Campbell, 1979), desain eksperimen dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Desain Eksperimen
KE O1 X O2
KK O1 O2
Keterangan:
KE : Kelompok Eksperimen
KK : Kelompok Kontrol
O1 : Pretest
O2 : Posttest
X : Intervensi
148
PROSIDING SEMINAR NASIONAL 2020 FAKULTAS PSIKOLOGI UMBY
FEBRUARI 2020 29
PENGARUH KONSELING KARIR TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR FAKULTAS PSIKOLOGI
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji statistik non parametrik dengan
menggunakan teknik analisis Wilcoxon Signed Ranks yang bertujuan untuk menguji perbedaan antara pretest
dengan posttest serta Mann Whitney yang bertujuan untuk menguji perbedaan tingkat pengambilan keputusan
karir antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil uji hipotesis penelitian, diketahui bahwa terdapat perbedaan yang signikan berdasarkan
skor pengambilan keputusan karir p=0,01 (p 0,05). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa terdapat
peningkatan pengambilan keputusan karir pada kelompok eksperimen setelah diberikan konseling karir. Pada
kelompok kontrol, tidak terjadi peningkatan sebab tidak diberikan konseling karir. Artinya konseling karir
kelompok yang diberikan kepada kelompok eksperimen dapat meningkatkan skor pengambilan keputusan
karir. Setelah dilakukan proses penelitian, mulai dari pemberian pretest sebagai pengukuran awal, pemberian
perlakuan berupa konseling karir kelompok, posttest sebagai pengukuran akhir dan analisis statistik, dapat
disimpulkan bahwa konseling karir “Membangun Asa, Menggapai Cita” mampu meningkatkan pengambilan
keputusan karir pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Psikologi UMBY.
Tabel.1 Hasil Uji Analisis Mann Whitney
Test Statisticsb
Sebelum
konseling karir
Setelah
konseling karir
Mann-Whitney U 30.000 7.500
Wilcoxon W 66.000 43.500
Z -.211 -2.575
Asymp. Sig. (2-tailed) .833 .010
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .878a.007a
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: kelompok dalam eksperimen
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurrega, dkk (2018), yang bertujuan
untuk meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan karir siswa di SMAN “X” Yogyakarta melalui
konseling karir kelompok cognitive information processing. Hasil penelitin menunjukkan bahwa terdapat
perubahan yang signikan pada skor kemampuan pengambilan keputusan karir pada kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol. Kelompok eksperimen mengalami perubahan skor yang lebih besar setelah mendapatkan
konseling karir kelompok cognitive information processing dibandingkan kelompok kontrol yang tidak
mendapatkan konseling karir kelompok cognitive information processing.
Pemberian konseling karir pada mahasiswa tingkat akhir ini tepat dilakukan karena masa dewasa awal
yang berada di jenjang kuliah merupakan masa membuat keputusan penting terkait dengan rencana karir
yang akan digeluti (Seligman, 1994). Menurut Sampson, Reardon, Peterson, & Lenz (2004) berdasarkan
Super’s Life-Career Rainbow, pada usia dewasa awal terjadi proses eksplorasi yang merupakan puncak dalam
penetapan keputusan karir. Salah satu tugas perkembangan masa dewasa awal yaitu mampu mengambil
keputusan tentang masa depan, di antaranya yaitu pilihan karir atau penjurusan (Santrock, 2012). Taveira dkk.,
menyatakan bahwa penetapan pilihan karir yang harus dijalani oleh dewasa awal merupakan kondisi yang
dapat membuat stres (Witko, Bernes, Magnusson, & Bardick, 2005) sehingga dibutuhkan lingkungan yang
mendukung untuk membantu mahasiswa menjalani proses pengambilan keputusan karir, salah satunya dengan
menggunakan program konseling karir (Rivera & Schaefer, 2008). Pyle (Giallombardo, 2005) mengemukakan
bahwa konseling karir kelompok menyemahasiswakan sejumlah keuntungan tertentu termasuk biaya dan
149
PROSIDING SEMINAR NASIONAL 2020 FAKULTAS PSIKOLOGI UMBY
FEBRUARI 2020 29
PENGARUH KONSELING KARIR TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR FAKULTAS PSIKOLOGI
efektivitas waktu, meningkatkan kesempatan untuk umpan balik pribadi, penurunan rasa isolasi, memfasilitasi
pengalaman afektif dan belajar kognitif, serta peningkatan eksplorasi diri.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok eksperimen terjadi peningkatan skor setelah
diberikan perlakuan. Adanya peningkatan skor pada kelompok eksperimen dapat dipahami, hal tersebut
disebabkan selama proses konseling peserta diberi pengetahuan tentang hal-hal yang harus diperhatikan dalam
pengambilan keputusan karir dan langsung dikondisikan untuk melatih dari pengetahuan yang telah didapat.
Selama proses konseling sesama peserta saling memberikan saran dan informasi baik tentang diri pribadi
maupun tentang penjurusan yang akan mahasiswambil, hal tersebut disebabkan telah terbentuknya kedekatan
dan kohesivitas dalam kelompok.
Brown dan Lent (2005) menyatakan bahwa salah satu bentuk intervensi yang tepat bagi remaja dalam
hal karir yaitu konseling dengan pendekatan kelompok. Dijelaskan lebih lanjut bahwa dalam konseling
kelompok terdapat unsur saling mendukung, memberikan dorongan satu sama lain. Hal tersebut sesuai dengan
karakteristik remaja yang menganggap bahwa dukungan dan dorongan dari teman sebaya sebagai sesuatu yang
sangat mempengaruhi (Brown & Lent, 2005). Hal tersebut diperkuat dengan penelitian dari Osborn dan Reardon
(2006) yang menunjukkan bahwa individu yang terlibat dalam konseling kelompok mendapatkan kenyamanan
dan mau mengikuti sesi konseling sampai dengan selesai. Le-Blanc dan Landine (2005) menyatakan konseling
karir membantu siswa dalam membuat dan melaksanakan program perencanaan karir. Secara umum karir
merupakan hal penting yang harus dipikirkan serta direncanakan oleh mahasiswa, dengan pertimbangan logis
remaja dituntut untuk mulai merencakan masa depannya (mengambil keputusan karir). Konseling karir adalah
salah satu layanan yang dapat membantu mahasiswa dalam rangka merencanakan karir serta mengambil
keputusan mengenai diri sendiri. Artinya mahasiswa perlu memahami diri, seperti memahami kemampuan,
potensi, bakat, minat, kepribamahasiswan dan prestasi. Pemberian layanan konseling karir dilaksanakan untuk
membekali para mahasiswa dengan pengetahuan tentang data dan fakta di bidang bidang pekerjaan, studi
lanjut, dan wirausaha.
Setelah diberikan perlakuan berupa konseling karir, terjadi perubahan dalam diri peserta. Semua
peserta sudah mampu melakukan monitoring diri untuk keputusan karir masa depan, mulai dari: mengenali
diri, pengenalan karir, persiapan diri, dan perencanaan masa depan. Pada sesi Mengenali Diri dan Persiapan
Diri, peserta dibimbing untuk menguraikan potensi yang dimiliki, yaitu kemampuan dan ketrampilan,
kemumahasiswan bidang Psikologi apa yang diminati, tipe kepribamahasiswan (kelebihan dan kekurangan),
serta karir yang diharapkan. Pada sesi Perencanaan Masa Depan, peserta diminta untuk menuliskan beberapa
alternatif pilihan karir yang diharapkan serta rencana konkret terhadap pilihan karir tersebut. Berdasarkan
seluruh lembar kerja yang telah dikerjakan oleh peserta, maka dapat dilihat perubahan pilihan karir dan alasan
yang digunakan.
Pada peserta LU, dari tiga pilihan karir mampu menentukan menjadi dua pilihan karir dengan
mempertimbangkan minat, potensi, dan prospek karir. Pada peserta RN, dari tiga alternatif pilihan karir mampu
menentukan menjadi dua pilihan karir dengan mempertimbangkan pengalaman, prospek kerja dan minat
terhadap karir yang dipilih. Peserta FF, mampu menentukan dua pilihan karir dari tiga pilihan karir dengan
mempertimbangkan aspek prospek kerja, lokasi, biaya, dan universitas yang membuka jurusan tersebut. Peserta
FI, dari dua pilihan karir yang diminati, yaitu bekerja dan berwirausaha, mahasiswa mampu menentukan pilihan
karir setelah lulus dengan pertimbangan program studi dan prospek kerja. Peserta IWA, memiliki pilihan karir
yang sama dengan peserta FI, yaitu berwirausaha dan bekerja, namun mahasiswa telah mantap menetapkan
pilihan karir setelah lulus dengan berwirausaha terlebih dahulu. Pada peserta YD, dari tiga alternatif pilihan
karir yang diminati, mahasiswa sudah mampu menetapkan pilihan karir setelah lulus yaitu bekerja. Peserta
SPS, mampu menetapkan karir untuk bekerja setelah lulus kuliah, di mana awalnya mahasiswa masih bingung
untuk menentukan pekerjaan yang cocok dengan status nya sebagai seorang istri dan calon ibu Rumah Tangga.
Secara umum, konseling karir kelompok diberikan untuk membantu mahasiswa untuk menentukan karir
yang diminati secara realistis dan dengan pertimbangan yang masuk akal. Meskipun pilihan karir masih dapat
150
PROSIDING SEMINAR NASIONAL 2020 FAKULTAS PSIKOLOGI UMBY
FEBRUARI 2020 29
PENGARUH KONSELING KARIR TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR FAKULTAS PSIKOLOGI
berubah, peserta tetap mampu memutuskan pilihan karir. Melalui konseling ini peserta dilatih keterampilan
untuk membuat keputusan karir dengan pertimbangan yang dapat dipertanggungjawabkan. Adapun penetapan
keputusan karir dengan pertimbangan yang dapat dipertanggungjawabkan yaitu diperoleh melalui proses
mengenal diri sendiri, mengetahui karir yang akan dipilih, dan melakukan perencanaan untuk mencapai target
yang telah ditentukan.
Kelemahan dari penelitian ini adalah pelaksanaan konseling yang terbatas waktunya sehingga proses
diskusi terasa singkat. Banyaknya topik pembicaraan yang harus dibahas menyebabkan alokasi waktu melebihi
dari yang telah ditentukan sebelumnya. Meskipun demikian, peserta masih tetap antusias mengikuti konseling.
Pada penelitian ini tidak dilakukan follow up setelah posttest sehingga penelitian ini hanya dapat melihat efek
pelatihan dalam jangka pendek saja. Selain itu, faktor lain yang juga mempengaruhi adalah kontrol yang ketat
terhadap peserta selama pelatihan tidak dapat dilakukan. Kondisi tersebut memungkinkan peserta mendapatkan
pengaruh-pengaruh tertentu di luar aspek intervensi.
Secara keseluruhan konseling karir “Membangun Asa, Menggapai Cita” yang diberikan mempunyai
pengaruh dalam membantu mahasiswa tingkat akhir dalam menentukan pilihan karir. Perlakuan ini perlu
dilakukan pada mahasiswa tingkat akhir guna membantu memenuhi tugas-tugas perkembangan karir.
KESIMPULAN
Setelah dilakukannya penelitian maka dari temuan yang ada dapat ditarik kesimpulan bahwa
konseling karir ini dapat meningkatkan pengambilan keputusan karir pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas
Psikologi UMBY. Kelompok yang mendapatkan konseling karir “Bersama Menggapai Cita” menunjukkan
tingkat pengambilan keputusan karir yang lebih tinggi. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka konseling
karir “Bersama Menggapai Cita” dapat membantu mahsiswa tingkat akhir dalam mengasah keterampilan
pengambilan keputusan karir.
Berdasarkan hasil penelitian, disarankan beberapa hal, yaitu: saran pada siswa yang mengikuti konseling
karir “Membangun Asa, Menggapai Cita” dapat menggunakan booklet yang diberikan sebagai panduan dalam
menetapkan keputusan karir.
DAFTAR PUSTAKA
Arifah (2005). Pengaruh bimbingan karier terhadap kemandirian siswa dalam memilih karier pada siswa kelas
III SMK Negeri 2 Magelang (Kelompok Bisnis dan Manajemen) Tahun Pelajaran 2005/2006. Skripsi.
Semarang: Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.
Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. (2018). Jumlah pengangguran terbuka pada Februari 2018. http://
www.bps.go.id/brs_le/naker_06mei13.pdf.
Brown, S. D., & Lent, R.W. (2005) Career development and counseling: Putting theory and research to work.
New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.
Corey. G. (2013). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: Penerbit PT. Reka Aditama.
Dewi, R.P. (2017). Hubungan antara ekasi diri dengan pengambilan keputusan karir pada mahasiswa tingkat
akhir Fakultas Psikologi UMBY. Jurnal Insight,19(2).
Ebtanastiti, F.D., & Muis, T. (20014). Survei pilihan karir mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam Universitas Negeri Surabaya. Jurnal BK, 4(3), 1 - 10.
Gati, I., & Asher, I. (2001). The PIC model for career decision making: Prescreening, in-depth exploration,
and choice. Mahwah NJ: Erlbaum.
Gladding, S. T. (2012). Konseling sebuah profesi yang menyeluruh. Jakarta: PT. Indeks.
Giallombardo, L. (2005). Using group counseling to implement a career development program with high
school students.
Gushue, G. V., & Whitson, M. L. (2006) The relationship among support, ethnic, identity, career decision
self-efcacy, and outcome expectations in African American High School Students. Journal Career of
151
PROSIDING SEMINAR NASIONAL 2020 FAKULTAS PSIKOLOGI UMBY
FEBRUARI 2020 29
PENGARUH KONSELING KARIR TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR FAKULTAS PSIKOLOGI
Development, 33(1), 12-124.
Latipun, (2011). Psikologi konseling. Edisi Ketiga. Malang: Penerbit Universitas Muhammadiyah Malang.
Le-Blanc & Landine (2005) Tailor the career counseling model to the needs of clients. Canada: University of
New Brunswick.
Osborn, D. S., & Reardon, R. C. (2006) Using the self-directed search: Career explorer with high-risk middle
school students. The Career Development Quarterly, 54- 269.
Prayitno, E.A. (2004). Dasar-dasar bimbingan dan konseling. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Putrantya. D.D.P. (2008). Efektivitas program bimbingan karir “kutahu yang kumau” untuk meningkatkan
kematangan vokasional remaja. Fakultas Psikologi: Universitas Gadjah Mada.
Rivera, M. L & Schaefer, M. B. (2008) The Career institute: A collaborative career development program for
traditionally underseverd secondary (6-12) school students. Journal of Career Development, 36, 406-
426.
Sampson, J. P., Jr., Reardon, R. C., Peterson, G. W., & Lenz, J. G. (2004). Career counseling and services: A
cognitive information processing approach. Pacic Grove, CA: Brooks Cole.
Santrock, J.W. (2012). Life-span development (2nd). Jakarta: Erlangga.
Seginer, R. (2009). Future orientation, developmental and ecological perspectives. New York: Springer Science
and Business Memahasiswa.
Seligman, L. (1994). Development career counseling & assessment (2nd ed). California: SAGE Publication
Winkell, W.S., & Sri, H. (2004). Bimbingan dan konseling institusi pendidikan Yogyakarta.
Witko, K.., Bernes, K.B., Magnusson, K.., & Bardick, A. D. (2005) Senior high school career planning: What
students want. Journal of Educational Enquiry, 6, 34-49.
ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication.
Article
The Self-Directed Search: Career Explorer was used with 98 (95% African American) high-risk middle school students as part of 14 structured career groups based on Cognitive Information Processing theory. Results and implications are presented on the outcomes of this program.
Article
Discusses the importance of implementing career development groups at the high school level. A study was conducted to determine if group career counseling is beneficial to students’ growth in their career development. The methods used in this study were described, including the setting, participants, procedure, and evaluations. The findings were detailed along with a discussion about the implications of the results. Included in the literature review was the rational for having career development in high school, as well as the educational system and counselor’s role pertaining to career development. Using group work as a counseling technique was described, along with its effectiveness when working with adolescents. Finally, the advantages of combining group counseling with career development were introduced and explored.
Article
This study used the Comprehensive Career Needs Survey to assess the career planning needs of 2360 senior high school students in Southern Alberta, Canada. This article examines how senior high school students perceive the relevance of career planning, who they feel comfortable approaching for help with career planning, and what help they would like during their career planning. Results indicated that career planning is important to high school students and they are likely to approach their parents first for help with career planning. Students in grades 10 through 12 indicated that specific information regarding courses, post-secondary information and careers would be helpful. Grade 12 students also expressed a desire for improved career counselling and increased work experience. Implications for teachers, school counsellors, parents and community services are discussed.
Article
Providing a comprehensive approach to career counseling, this volume integrates the career counseling process into the life span ranging from early childhood through older adulthood. For each stage, the author explores emotional, physical, and mental development factors. The author also provides suggestions, techniques, and case studies for counseling clients at each of these stages. Two chapters cover the issues and types of various assessment instruments; a critique of the instruments' applicability to the counseling process is also included. . . . The book closes with a case analysis suitable for class work in career development or related courses. (PsycINFO Database Record (c) 2012 APA, all rights reserved)
Article
This study examines the influence of two potential sources of strength (i.e., ethnic identity and parent/teacher support) on the cognitive variables of career decision self-efficacy and outcome expectations in a sample of 104 African American ninth-grade students. The results indicate that parental support is positively related to career decision self-efficacy and teacher support is positively related to career decision self-efficacy and career outcome expectations. No relationship is found between ethnic identity and either self-efficacy or outcome expectations. The findings confirm the importance of considering contextual supports in career counseling and education. Limitations, implications for counseling, and suggestions for future research are discussed. (PsycINFO Database Record (c) 2009 APA, all rights reserved) (journal abstract).
Pengaruh bimbingan karier terhadap kemandirian siswa dalam memilih karier pada siswa kelas III SMK Negeri 2 Magelang (Kelompok Bisnis dan Manajemen) Tahun Pelajaran
  • Arifah
Arifah (2005). Pengaruh bimbingan karier terhadap kemandirian siswa dalam memilih karier pada siswa kelas III SMK Negeri 2 Magelang (Kelompok Bisnis dan Manajemen) Tahun Pelajaran 2005/2006. Skripsi. Semarang: Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.
Jumlah pengangguran terbuka pada Februari
Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. (2018). Jumlah pengangguran terbuka pada Februari 2018. http:// www.bps.go.id/brs_file/naker_06mei13.pdf.
Career development and counseling: Putting theory and research to work
  • S D Brown
  • R W Lent
Brown, S. D., & Lent, R.W. (2005) Career development and counseling: Putting theory and research to work. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.