BookPDF Available

Buku Hitam-Putih Ekonomi Islam

Authors:
  • Tazkia Islamic University College
  • Institut Agama Islam Tazkia, Bogor

Abstract and Figures

BUKU INI ADALAH SUSUNAN PEMIKIRAN PEMIKIRAN EKONOMI. DENGAN MERUJUK PARA EKONOM MUSLIM TERDAHULU DAN MENGEMBANGKAN PEMBAHASANNYA DALAM RANAH EKONOMI SELAIN ITU, BUKU INI JUGA MEMBANDINGKAN PEMIKIRAN EKONOMI ANTAR PEMIKIRAN SYARIAH MAUPUN DENGAN PEMIKIR NON SYARIAH. BUKU INI MENJELASKAN BAGAIMANA SISTEM EKONOMI KONVENSIONAL BEKERJA SERTA MENJELASKAN TEORI TENTANG SYARIAH.
Content may be subject to copyright.
A preview of the PDF is not available
ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication.
Article
Full-text available
The paper discusses the concept of Islamic choices (ikhtiyÉr) and its implication on the opportunity cost's concept. In choosing between good and bad, there is no opportunity cost involved as the good is the only choice. Opportunity concept only applies when the choice is between two or more good choices. To forgo investments in interest bearing deposits is not an opportunity cost. However, to forgo getting a fixed salary in an employment (ijÉrah) contract while choosing to work as muÌÉrib has an opportunity cost. This concept of ikhtiyÉr also has an impact on the conception of time value of money as it is derived from the concept of opportunity cost. Compensation for time value of money in loan or receivable is not permitted, while that for credit sale is permissible. Time alone cannot be the basis for compensation and counter-value (ÑiwaÌ). It must be attached to other factors, such as guarantee, effort, and risk. Without meeting these requirements in credit sale, the sale such as murÉbaÍah would become an invalid (bÉÏil) sale, which must not be chosen by Islamic banks. JEL Classification: A12, D03, D21, G11
Book
Full-text available
Kehadiran ekonomi islam pada dasarnya adalah untuk memastikan setiap denyut dan napas ekonomi dijalankan, serta membuat masyarakat menjadi semakin beriman dan bertakwa, sehingga Allah swt akan menurunkan kebaikan bagi kehidupan manusia (berkah). kebaikan bisa berbentuk kemakmuran, terpeliharanya tatanan sosial, atau lestarinya kehidupan masyarakat dengan baik. dengan demikian, kebaikan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, income perkapita, atau rendahnya terkendali dan terkendalinya inflasi. selama ini ekonomi dipahami sebagai upaya menggapai materi yang berlimpah demi memperoleh kesejahteraan. Pemahaman seperti ini perlu diperbaiki, tidak selamanya materi yang berlimpah membawa kesejahteraan. terlebih lagi, ternyata ada perbedaan mendasar antara kesejahteraan dalam ekonomi konvensional dan ekonomi islam. Dalam ekonomi islam, kebahagiaan suatu negeri akan terwujud jika penduduknya berimand anbertakwa. oleh karena itu, ekonomi islam tidak bisa dilepaskan dari upaya serius untuk membuat penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa. Buku ini membahas konsep dan kerangka dasar ekonomi islam untuk memberikan fondasi yang kuat bagi siapapun yang ingin belajar ekonomi islam, mulai dari pengertian ekonomi islam, epistemologi ekonomi islam, falsafah ekonomi islam, prinsip ekonomi islam, dan tujuan ekonomi islam. Buku ini terdiri dari 17 Bab, dengan Materi yang dibahas: (1). Konsep Dasar Ekonomi Islam. (2). Sejarah Pemikiran Ekonomi islam. (3). Maqashid Syariah. (4). Riba. (5). Teori Permintaan dan Penawaran. (6). Teori Produksi dan Konsumsi. (7). Perilaku Konsumsi. (8). Distribusi Pendapatan. (9). Kebijakan Fiskal. (10). Kebijakan Moneter. (11). Mekanisme Pasar Islami. (12). Peran dan fungsi lembaga hisbah. (13). Zakat. (14). Wakaf. (15). Wirausaha dalam Islam. (16). Perbankaan syariah. (17). Pasar Modal syariah.
Article
Full-text available
Needs are something that is needed by humans to reach the level of well-being, so that if human needs are not met properly, then their human beings will not feel prosperous. It can be said that needs are something that must be there, because without that our lives become less prosperous or at least less prosperous. There are five basic human needs as stated by Abraham Maslow, the need for self-actualization, self-esteem needs, the need for love and the need for affection, the need for security and the need for comfort and need. In Islam, looking at the most basic human needs is an absolute obligation that must be lived and fulfilled among them needs: Dharuriyat Needs (i) the need to maintain religion: hold fast to religion, learn it, then preach it, stay away and warn of shirk and riya '; Combating apostates; Reminiscent of bid'ah actions and against ahlul bid'ah. (ii). self-care needs: in an emergency (forced), can eat any food for survival, even though only something that is available at the origin is available; Fulfill basic basic needs, such as food, drinks and clothing; (iii) moral requirements. (iv) guarding offspring; Prompts for marriage; witness in marriage; must maintain and provide for the child, the obligation to ensure children's education; Forbid marriage with adulterers; Forbid thalaq unless forced and forbid ikhtilâth. (v) safeguarding property: Islam requires Muslims to do charity and endeavor; Maintain property in their power; Islamic religion advocates for bershadaqah, justifying buying and selling and debts; Islamic religion forbids all forms of tyranny against other Muslim rights and property and must replace them; Obligation to safeguard property and not waste it.
Article
Full-text available
This paper tries to discuss the concept of rationality in conventional economic point of view, compared with islamic economic point of view. The concept of rationality is being the heart of conventional economic. It becomes the one of the most importance concept to understand the conventional economic point of view upon man. According to the conventional economic, man is a rational economic man. His behaviour motive is self interest. He does not intentionally make decisions that would leave him worse off. This concept has been critized by many scholar, both scholar of the conventional economic and scholar of the Islamic economic. The Islamic economic offers the concept of rationality based on the tauhid and the rules af Allah. Mankind that will be constructed by the Islamic economic concept is islamic man ('ibadurrahman). Characteristics of 'ibadurrahman are: (1) consistent in the economic choices, obey the rules of Allah (2) avoid harmful goods, israf, tabdhir, and mudarat, and (3) having true altruism and good relationship with others. Kata Kunci: Rasionaliti, kritik, ekonomi konvensional, ekonomi Islam 1. PENDAHULUAN Salah satu konsep penting dalam ilmu ekonomi konvensional adalah pilar paradigma ilmu ekonomi konvensional, yaitu manusia adalah manusia ekonomi rasional, positivisme, dan hukum Say (yaitu hukum Jean Babtis Say yang menyatakan bahwa supply creates its own demand, penawaran menciptakan permintaannya sendiri). 1 Dalam artikel ini, akan dibahas salah satu dari tiga pilar paradigma ilmu ekonomi konvensional tersebut, yaitu manusia adalah manusia ekonomi rasional, atau singkatnya rasionaliti.  Penulis adalah Dosen Tetap Universitas Islam Indonesia, Prodi Ekonomi Islam, Fakultas Ilmu Agama Islam UII Yogyakarta. Ia menyelesaikan program pascasarjana (S2) di
Article
Full-text available
The market mechanism will be reflected in the concept of Islamic Shari'ah principles in the formof values which can generally be divided into two perspectives: macro and micro. Shari'ah valuesin a micro perspective emphasizes the aspects of competence/professionalism and attitude oftrust, while the macro perspective Shari'ah values emphasize aspects of the distribution, theprohibition of usury and economic activities that do not provide real benefits to the economy.Therefore, it can be seen clearly benefit the Islamic economic system in the market thataddressed not only to the citizens of the Islamic community, but to all human being (rahmatanlil’Ālamín).
Article
Full-text available
p> CORELATION BETWEEN ISLAM AND ECONOMY. This paper aims to identifies about the correlation between economic and Islam. Islam is the perfect religion that governs all things in life, including the economy. This is evident with the concept of well-being which is described in the al-Quran and Sunnah. Basically the goal of every human life is to prosper, although humans make sense of well- being with a different perspective. Most understand economics assume that welfare is the welfare of earthly material. But to make sense of well-being with the term al-Falah, is meaning holistic wellbeing and balance between material and spiritual dimensions. al-Quran and Sunnah have taught that the human being will be achieved if living in balance between material and spiritual. This is because human life does not just stop in the life of this world, but there is still a second life that will be faced by humanity in the hereafter, and well-being will be achieved with the truth is that people can balance the needs of the world and the hereafter, and that is what is taught in Islamic economics. K eywords: Islam, Economy, Prosperity. T ulisan ini bertujuan untuk menjelasakn tentang korelasi antara ekonomi dan Islam. Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur segala hal dalam kehidupan ini, termasuk juga ekonomi. Hal ini terbukti dengan konsep kesejahteraan yang dipaparkan dalam al-Quran dan Sunnah. Pada dasarnya tujuan hidup setiap manusia adalah untuk mencapai kesejahteraan, meskipun manusia memaknai kesejahteraan dengan perspektif yang berbeda-beda. Sebagian besar paham ekonomi menganggap bahwa kesejahteraan adalah kesejahteraan material duniawi. Namun Islam memaknai kesejahteraan dengan istilah Falah yang berarti kesejahteraan holistik dan seimbang antara dimensi material dan spiritual. Al-Quran dan Sunnah telah mengajarkan bahwa kesejahteraan akan tercapai jika manusia menjalani hidup secara seimbang antara material dan spiritualnya. Ini karena kehidupan manusia tidak hanya berhenti di dalam kehidupan dunia saja, namun masih ada kehidupan kedua yang akan dihadapi manusia di akhirat kelak, dan kesejahteraan akan tercapai dengan sesunguhnya jika manusia dapat menyeimbangkan keperluan dunia dan akhirat, dan itulah yang diajarkan dalam ekonomi Islam. K ata Kunci: Islam, Ekonomi, Kesejahteraan. </p
Article
Abstrak Pesantren tengah memasuki era digital yang menuntut perubahan paradigma dalam segala hal. Termasuk dalam pengelolaan wakaf secara produktif. Selama ini pesantren sudah sangat akrab dengan pengelolaan wakaf. Beberapa pesantren telah berhasil menjadikan aset wakaf pesantren sebagai wakaf produktif. Hal itu dikarenakan pesantren merupakan nazhir wakaf yang sudah berpengalaman. Berangkat dari era digital sekarang dan kebutuhan pengelolaan wakaf produktif secara global. Pesantren memiliki prospek yang tinggi untuk memperluas fungsi kenazhirannya tidak hanya lokal tapi internasional. Studi ini bertujuan untuk menelaah peluang pesantren sebagai nazhir wakaf global. Dengan menggunakan metode kualitatif yang bersumber dari kajian literatur, kemudian dianalisis bagaimana faktor pendukung yang berupa kekuatan dan peluang serta faktor penghambat berupa kelemahan. Hasil dari studi ini menunjukan ternyata pesantren sangat prospektif untuk menjadi nazhir wakaf global. Terdapat beberapa faktor pendukung yang merupakan kekuatan pesantren menuju nazhir global yaitu hadirnya era digital yang merupakan pintu masuk menuju dunia global, sebaran jumlah pesantren di Indonesia yang sangat banyak, modal pengalaman pesantren sebagai nazhir profesional yang sukses, dan sebagai lembaga pendidikan agama terpercaya. Selain itu adanya dukungan regulasi berupa Undang-Undang Pesantren dan perundangan tentang perwakafan. Selain faktor pendukung, pesantren juga memiliki kelemahan yang akan mereduksi program tersebut yaitu karena tidak adanya kesiapan perangkat teknologi informasi di pesantren, tapi tidak dapat digeneralisir untuk semua pesantren karena hanya terdapat di beberapa pesantren. Kelemahan tersebut pun bukan merupakan penghambat yang urgen karena dapat diperbaiki dengan literasi. Abstract Pesantren are entering the digital era that demands a paradigm shift in all aspects, including in managing the waqf productively. So far, pesantren have been very familiar with managing waqf. Some of them have succeeded in making their waqf assets productive. That is because they are experienced as nazhir waqf starting from the current digital era and the need for productive waqf management globally. Pesantren have high prospects for expanding the function of its fulfillment not only locally but internationally. This study aims at examining the opportunities of pesantren as global nazhir waqf. Qualitative methods are used in this study deriving from literature studies and analyzed how the supporting factors in the form of strengths and opportunities and inhibiting factors in the form of weaknesses. The results of this study show that pesantren are very prospective to become a global nazhir waqf. There are several supporting factors which become the strength of pesantren towards global nazhir namely the presence of the digital era which is the entrance to the global world, the distribution of the number of pesantren in Indonesia is very large, the experience as successful and professional nazhir, and as trustful religious institution. In addition, there is regulatory support in the form of the pesantren law and legislation on endowments. On the contrary, few pesantren have weaknesses that will reduce the program due to unprepared information and technology devices. However, it is not an urgent obstacle, for it can be overcome by literacy.