ArticlePDF Available

KEARIFAN LOKAL DALAM MEMBANGUN KERUKUNAN ISLAM DAN HINDU DI DESA ADAT KUTA BADUNG

Authors:

Abstract and Figures

This study aims to determine the local wisdom of the people of Desa Adat Kuta, Badung Regency, Bali Province, in building harmony between Muslims and Hindus. This study uses social integration theory as a basis for seeing the assimilation and unification of Muslims and Hindus. This study used a qualitative method with the research subjects of village officials, Muslim and Hindu religious leaders, and community leaders. The results showed that the community's wisdom in the Desa Adat Kuta is a hereditary tradition, in the form of mutual agreement in regulating the relationship between Muslims and Hindus, based on the teachings and principles of their respective religions. The sense of kinship in the Desa Adat Kuta is woven through the Nyama Selam and Nyama Hindu traditions. The harmony of Muslims and Hindus is manifested in the freedom to practice worship, Muslims based on the teachings and principles of Ukhuwah Insaniyah and Hindus based on the teachings and principles of Tri Hita Karana. The existence of equality and tolerance does not lead to conflict, including in establishing places of worship because they are regulated by the government and there is intense communication in the Forum for Religious Harmony.
Content may be subject to copyright.
237
DOI: 10.24014/jdr.v31i2.10398
KEARIFAN LOKAL DALAM MEMBANGUN KERUKUNAN ISLAM
DAN HINDU DI DESA ADAT KUTA BADUNG
Yantos1*, Putriana2
1,2 Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
*Email: yantos@uin-suska.ac.id
Kata Kunci
Abstrak
Kearifan lokal,
kerukunan Islam
dan Hindu, Desa
Adat Kuta
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kearifan lokal masyarakat
Desa Adat Kuta, Kabupaten Badung, Provinsi Bali, dalam membangun
kerukunan umat Islam dan umat Hindu. Penelitian ini menggunakan
teori integrasi sosial sebagai dasar untuk melihat pembauran dan
penyatuan umat Islam dan Hindu. Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif dengan subjek penelitian perangkat desa, tokoh agama Islam
dan Hindu, serta tokoh masyarakat. Hasil penelitian menunjukan
bahwa kearifan masyarakat di Desa Adat Kuta merupakan tradisi
warisan turun temurun, berupa kesepakatan bersama dalam mengatur
hubungan umat Islam dan Hindu, berdasarkan ajaran dan prinsip
agama masing-masing. Rasa kekeluargaan di Desa Adat Kuta terjalin
melalui tradisi Nyama Selam dan Nyama Hindu. Kerukunan umat
Islam dan Hindu diwujudkan dalam kebebasan menjalankan ibadah,
umat Islam berdasarkan ajaran dan prinsip ukhuwah insaniyah dan
umat Hindu berdasarkan ajaran dan prinsip Tri Hita Karana. Adanya
kesetaraan dan toleransi tidak menyebabkan terjadinya konflik,
termasuk dalam mendirikan tempat ibadah karena diatur pemerintah
dan terjalin komunikasi yang intens dalam Forum Kerukunan Umat
Beragama (FKUB).
Keywords
Abstract
Local wisdom,
harmony between
Islam and
Hinduism, Desa
Adat Kuta
This study aims to determine the local wisdom of the people of Desa
Adat Kuta, Badung Regency, Bali Province, in building harmony
between Muslims and Hindus. This study uses social integration theory
as a basis for seeing the assimilation and unification of Muslims and
Hindus. This study used a qualitative method with the research
subjects of village officials, Muslim and Hindu religious leaders, and
community leaders. The results showed that the community's wisdom in
the Desa Adat Kuta is a hereditary tradition, in the form of mutual
agreement in regulating the relationship between Muslims and Hindus,
based on the teachings and principles of their respective religions. The
sense of kinship in the Desa Adat Kuta is woven through the Nyama
Selam and Nyama Hindu traditions. The harmony of Muslims and
Hindus is manifested in the freedom to practice worship, Muslims
based on the teachings and principles of Ukhuwah Insaniyah and
Hindus based on the teachings and principles of Tri Hita Karana. The
existence of equality and tolerance does not lead to conflict, including
in establishing places of worship because they are regulated by the
government and there is intense communication in the Forum for
Religious Harmony.
Volume 31 , Nomor 2
Desember 2020
P-ISSN: 1412-0348
E-ISSN: 2654-3877
Jurnal Dakwah
RISALAH
Yantos, Putriana
Kearifan Lokal dalam Membangun Kerukunan Islam dan
Hindu di Desa Adat Kuta Badung
Jurnal Dakwah Risalah
Vol. 31 No. 2 Desember 2020: Hal 237-251
238
Pendahuluan
Desa Adat Kuta yang berada di wilayah Kabupaten Badung, Provinsi Bali,
merupakan desa adat yang multikultur dan multiagama karena banyak dihuni oleh
penduduk pendatang dari berbagai daerah di Indonesia yang disebabkan oleh letak
wilayahnya yang berdekatan dengan pusat kota Denpasar. Keberagaman latar belakang
budaya dan agama tersebut berpotensi menimbulkan konflik sosial dan konflik antar
umat beragama apabila penduduknya tidak saling menjaga kerukunan dan
keharmonisan di tengah-tengah masyarakat.
Desa Adat Kuta sebagai sebuah desa adat menjalankan berbagai fungsi dalam
mengorganisasikan berbagai kegiatan administrasi kemasyarakatan, kegiatan adat, serta
keagamaan. Peran Desa Adat Kuta secara dinamis mengalami berbagai perkembangan
dan penyesuaian dengan kondisi masyarakat yang multikultur dan multiagama.
Perubahan-perubahan sosial yang terjadi merupakan kondisi riil di dalam kehidupan
masyarakat Desa Adat Kuta yang letaknya dekat dengan wilayah perkotaan. Desa Adat
Kuta dituntut melakukan perluasan peran di tengah perubahan sosial untuk tetap
mempertahankan eksistensinya di mata masyarakat.
Sebagai lembaga otonom adat Bali dan sesuai dengan dinamika yang terjadi,
maka Desa Adat Kuta selain berkaitan dengan adat, tradisi Bali dan keagamaan Hindu,
juga berperan dalam upaya membangun dan mengelola kerukunan umat beragama agar
tercapai kerukunan dan kesejahteraan bagi seluruh penduduknya. Penduduk Desa Adat
Kuta sebagian besar adalah pemeluk agama Hindu, diikuti pemeluk agama Islam
sebagai penduduk terbesar kedua. Dalam kehidupan sosial sehari hari mereka saling
berinteraksi dengan prinsip dan keyakinan agama masing-masing. Sebagai sebuah desa
adat otonom, kewenangan yang dimiliki Desa Adat Kuta dalam menjalankan
pemerintahan desa harus berlandaskan Pancasila dan Tri Hita Karana sesuai dengan
ajaran agama Hindu dan budaya Bali untuk mewujudkan kesejahteraan dan keselamatan
masyarakat Desa Adat Kuta.
Prinsip Tri Hita Karana (hubungan baik dengan Tuhan, hubungan baik dengan
sesama manusia, dan hubungan baik dengan lingkungan) berdasarkan ajaran dan prinsip
agama Hindu, dijadikan pedoman dan diterapkan kepada seluruh krama (penduduk)
Desa Adat Kuta yang multikultur dan multiagama dalam kehidupan sehari-hari.
Termasuk sebagian besar penduduk yang beragama Islam juga memiliki ajaran dan
prinsip sesuai dengan keyakinannya. Perbedaan ini berpotensi menimbulkan kerawanan
sosial bila tidak dikelola dengan baik, di mana prinsip Tri Hita Karana sangat melekat
dengan penganut agama Hindu, sedangkan masyarakat muslim yang merupakan krama
(penduduk) terbanyak kedua memiliki keyakinan dan prinsip yang kuat berlandaskan
ajaran dan prinsip Islam. Namun bila perbedaan ini dikelola dengan baik, ajaran dan
pinsip masing-masing agama ini akan menjadi perekat kerukunan antar umat beragama,
khususnya masyarakat Muslim dan Hindu di Desa Adat Kuta Badung Bali (Sukarma,
2016).
Yantos, Putriana
Kearifan Lokal dalam Membangun Kerukunan Islam dan
Hindu di Desa Adat Kuta Badung
Jurnal Dakwah Risalah
Vol. 31 No. 2 Desember 2020: Hal 237-251
239
Di Bali, Tri Hita Karana diimplementasikan secara nyata dengan wujud
kahyangan tiga sebagai media hubungan manusia dengan Tuhan, menyama braya
sebagai media hubungan manusia dengan sesama manusia, dan penataan ruang dengan
konsep tri mandala dan tri angga sebagai wujud kepedulian manusia terhadap
lingkungan. Implementasi Tri Hita Karana yang dilaksanakan secara nyata dan turun
temurun ini mampu memperkuat ketahanan sosial budaya sebagai penangkal pengaruh
global yang tidak sesuai dengan nilai-nilai lokal (Suarmini, 2011).
Kearifan lokal masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan
kerukunan umat beragama, karena di dalam kearifan lokal selalu terdapat nilai-nilai,
tradisi, prinsip-prinsip dan keyakinan utuh yang berlaku secara turun temurun dan
dijalankan oleh masyarakat setempat demi tercapainya kebaikan dan kesejahteraan
bersama. Di Desa Adat Kuta yang mayoritas krama penduduknya sebagai pemeluk
agama Hindu dan berlakunya adat dan budaya Bali serta memiliki keyakinan dan
prinsip Tri Hita Karana, terjadi interaksi dengan masyarakat muslim sebagai krama
terbesar kedua yang juga memiliki keyakinan dan prinsip yang dipegang teguh yaitu
prinsip ukhuwah insaniyah dalam interaksi sosialnya.
Kearifan lokal masyarakat adat Kuta terlihat dengan adanya kesepakatan dan
persamaan prinsip untuk selalu menjaga dan memegang teguh ajaran dan prinsip agama
masing-masing, di tengah masyarakat yang plural di mana masing-masing prinsip Tri
Hita Karana dipegang teguh oleh masyarakat Hindu sebagai mayoritas. Prinsip Tri Hita
Karana adalah prinsip yang dipegang oleh masyarakat Hindu di Desa Adat Kuta di
mana prinsip ini menekankan agar penduduk Desa Adat Kuta selalu dalam suasana
rukun, damai, egaliter, toleran, saling menghargai, saling menghormati, menghindari
kekerasan dalam menyelesaikan masalah, tanpa menghilangkan berbagai macam
keberagaman yang ada.
Setiap orang mempunyai tugas dan kewajiban masing-masing sesuai dengan
bakat, profesi, kemampuan, dan lingkungannya, sehingga tidak ada perlakuan
diskriminatif terhadap warga desa. Dalam hal ini penduduk Desa Adat Kuta menjaga
kearifan lokal yang disebut desa, kala, patra (tempat, waktu, keadaan) dan sesana
manut linggih, linggih manut sesana (perilaku yang sesuai dengan posisi di
masyarakat). Sedangkan umat muslim sebagai penduduk terbesar kedua tetap
memegang teguh ajaran dan prinsip ukhuwah insaniyah, yaitu menjalin hubungan baik
dengan sesama manusia walaupun berbeda agama. Prinsip ini sebagai pedoman dan
diterapkan dalam kehidupan mereka sehari-hari dalam menjalin kebersamaan dan
kerukunan masyarakat Islam dan Hindu di Desa Adat Kuta.
Keberadaan masyarakat Hindu dan masyarakat Muslim ditandai dengan
banyaknya pura dan juga masjid di lingkungan Desa Adat Kuta. Rumah-rumah
masyarakat Hindu ditandai dengan adanya tempat untuk sesaji dan balutan kain hitam
putih di depannya. Sementara tetangga mereka masyarakat Muslim ditandai dengan
tidak adanya tempat sesajian di depan rumah mereka. Kearifan lokal terlihat dari
kesepakatan bahwa setiap orang yang tinggal di wilayah Desa Adat Kuta mematuhi
Yantos, Putriana
Kearifan Lokal dalam Membangun Kerukunan Islam dan
Hindu di Desa Adat Kuta Badung
Jurnal Dakwah Risalah
Vol. 31 No. 2 Desember 2020: Hal 237-251
240
awig-awig yang mengatur tata krama pergaulan hidup sehari-hari yang merupakan
cerminan dinamika sistem sosial kemasyarakatan dengan pinsip Tri Hina Karana.
Sesuai perkembangan sosial budaya, di mana Desa Adat Kuta berkembang
sebagai daerah dengan penduduk beragam etnis, budaya, dan agama, serta untuk
menjamin ketentraman, kerukunan umat beragama dan kepentingan keajekan desa adat,
maka dibuatlah pengaturan secara khusus dalam bentuk pararem yaitu petunjuk
pelaksanaan awig-awig yang disepakati oleh penduduk desa melalui paruman (rapat)
desa adat (Sudiatmaka, 2018). Beberapa prinsip dalam awig-awig juga menjadi
pedoman bagi masyarakat pengadilan adat dalam menyelesaikan kasus yang terjadi di
wilayah hukumnya (Sudantra, 2014). Eksistensi awig-awig dalam menjaga
keseimbangan sehingga tercipta harmonisasi hubungan masyarakat baik secara vertikal
dan horizontal (Sumarjo, 2018).
Kearifan lokal ini diimplementasikan penduduk Desa Adat Kuta, sehingga tetap
eksis di tengah dinamika desa dengan prinsip persamaan derajat di antara mereka dan
tidak ada yang merasa lebih hebat dibanding yang lain. Meskipun masyarakat Desa
Adat Kuta multikultur dan multiagama, ternyata penduduk desa adat tidak terpengaruh
dengan perbedaan tersebut. Kehidupan sehari-hari mereka tetap berjalan sesuai konsep
menyama tugelan (bersaudara kandung) dan menyama braya (persaudaraan sebagai
sesama anggota desa adat) dengan perilaku paras-paros, sagilik saguluk, salulung
sabayantaka (musyawarah, tolong menolong, senasib sepenanggungan) antar sesama
umat beragama. Masyarakat Hindu sendiri secara umum menyebut penduduk muslim
dengan istilah Nyama Selam (saudara Islam) dimana sebutan selam kepada umat Islam
adalah sebutan kekeluargaan sebagai persamaan derajat dengan masyarakat Hindu,
dalam rangka mempertegas kerukunan. Ini dikaitkan dengan ikatan persaudaraan yang
dikenal dengan istilah menyama-braya (dalam kaitan menyama-braya ini umat Hindu
melahirkan istilah Nyama Selam (saudara Islam).
Masyarakat muslim di Desa Adat Kuta tidak merasa berbeda dan dibedakan
dengan masyarakat Hindu, kecuali dalam hal yang berkenaan dengan syariat Islam.
Namun perbedaan tersebut tidak membuat mereka berjarak, apalagi menjadi eksklusif.
Inilah keunikan Indonesia sebagai negara multikultural, majemuk, pluralistik atau
Bhineka Tunggal Ika. Kemajemukan ini juga bersifat multidimensi, antara lain
menyangkut perbedaan agama, suku bangsa, kebudayaan, kelas sosial, dan lain-lain.
Kemajemukan dalam bidang agama, misalnya seringkali berkaitan dengan etnisitas.
Adanya unsur kesamaan prinsip dalam interaksi sosial itu menjadi tonggak untuk lebih
menciptakan dan mempererat tali persaudaraan antara masyarakat Islam dan Hindu,
termasuk umat lain di Desa Adat Kuta Bali (Fauzi, 2019).
Banyak penelitian terdahulu tentang kerukunan antar umat beragama di Bali,
tetapi lebih banyak meneliti tentang adat, budaya, dan tradisi masyarakat Bali yang
relevan dengan keharmonisan dalam kehidupan sosial di tengah masyarakat yang plural.
Namun belum ada penelitian yang fokus kepada bagaimana ajaran dan prinsip agama
Yantos, Putriana
Kearifan Lokal dalam Membangun Kerukunan Islam dan
Hindu di Desa Adat Kuta Badung
Jurnal Dakwah Risalah
Vol. 31 No. 2 Desember 2020: Hal 237-251
241
masing-masing, yaitu Islam dan Hindu, menjadi faktor terciptanya kerukunan antar
umat beragama, khususnya Islam dan Hindu di Desa Adat Kuta Bali.
Secara historis di Bali, Raja Pemecutan membangun kerukunan Hindu-Islam
melalui silaturrahmi Raja kepada masyarakat muslim dengan mengikuti berbagai acara
yang diadakan oleh masyarakat muslim, mengundang dan mengajak masyarakat muslim
menghadiri acara yang diadakan Raja, mengikuti berbagai kegiatan sosial
kemasyarakatan yang membaurkan masyarakat Islam dan Hindu, serta mengajarkan
nilai-nilai toleransi secara turun temurun kepada seluruh keturunan Raja Pemecutan
(Rusmayani & Gunawan, 2018). Di Bali juga terdapat desa muslim tertua yang hidup di
tengah lingkungan pengaruh Hindu yang kuat namun dapat hidup berdampingan dengan
baik, yaitu Desa Pegayaman. Ini disebabkan adanya kearifan lokal dengan membangun
harmonisasi Islam dengan budaya dan agama Hindu, melalui tradisi budaya dan
keagamaan yang telah dilakukan penyesuaian dengan kondisi setempat (Arif, 2019).
Komunikasi dialektik dalam relasi Hindu dan Islam di Bali memiliki pola yang
sama dalam membangun kerukunan hubungan Hindu dan Islam di Karang Asem dan
Denpasar, yaitu adanya respons dari masyarakat muslim dengan melakukan adaptasi
dan akulturasi melalui penggunaaan bahasa yang sesuai dengan tradisi dan budaya lokal
Bali. Akulturasi budaya semakin memperkuat relasi Hindu dan Islam, selain faktor
sejarah hubungan baik yang telah terjalin sejak ratusan tahun yang lalu (Segara, 2020).
Pada aspek modal sosial dan kultural, faktor-faktor yang memperkuat kerukunan
antar umat beragama di Bali adalah keteladanan sejarah dan kearifan lokal yang masih
terjaga, di mana terdapat peranan tokoh-tokoh agama dan masyarakat yang menjadi
agen penjaga tradisi toleransi (Halimatusa’diah, 2018). Kehidupan multikultural di Bali
dapat berjalan harmonis terutama antara Hindu dan Islam karena adanya aktivitas
keagamaan sebagai bagian integral dari kehidupan orang Bali. Selain itu, adanya usaha
dari pemerintah lokal untuk selalu menjaga dan melindungi tradisi menyama braya
sebagai tradisi saling toleran antar umat beragama (Basyir, 2016). Sehubungan dengan
harmonisasi sosial, umat Hindu maupun umat lain bersama-sama menciptakan integrasi
atas dasar toleransi dan kerukunan serta saling menghormati dalam rangka membina
rasa persatuan dan kesatuan masyarakat (Sunu, 2014).
Karim (2016) juga menjelaskan faktor budaya merupakan faktor utama dalam
menciptakan kerukunan antar umat beragama di Bali. Masyarakat Loloan yang diteliti,
baik masyarakat setempat yang identik dengan Hindu maupun masyarakat pendatang
yang identik dengan Islam, telah sama-sama memposisikan dirinya sebagai masyarakat
yang sama-sama memiliki budaya Bali. Melalui bingkai budaya ini, masyarakat saling
bertoleransi dan menerima segala perbedaan agama, sehingga terciptalah harmonisasi
dan kerukunan Islam dengan Hindu.
Terdapat dua pola hubungan umat Islam dan Hindu di Bali, yaitu hubungan
asosiatif dan hubungan disasosiatif. Pola asosiatif melahirkan hubungan yang harmonis
dengan adanya saling toleransi, kerja sama, dan saling menerima antara umat Islam dan
Hindu. Pola disasosiatif melahirkan hubungan yang tidak harmonis berupa konflik yang
Yantos, Putriana
Kearifan Lokal dalam Membangun Kerukunan Islam dan
Hindu di Desa Adat Kuta Badung
Jurnal Dakwah Risalah
Vol. 31 No. 2 Desember 2020: Hal 237-251
242
lebih disebabkan faktor komunikasi, kuatnya adat yang berlaku, dan faktor kurangnya
pemahaman agama yang benar (Fahham, 2018).
Selain itu, toleransi masyarakat multietnis dan multiagama di Bali dipengaruhi
adanya organisasi subak yang identik dengan budaya Bali dan agama Hindu. Meski
demikian, anggota subak terdiri dari berbagai etnis dan agama, sehingga dibutuhkan
sikap saling toleransi, kerja sama dan saling menerima. Sikap tersebut membuat
organisasi subak di Bali mampu menjadi penyangga kerukunan antar umat beragama,
dengan pengaturan subak yang lebih toleran, terutama dalam pelaksanaan acara religi
yang disesuaikan dengan aturan agama masing-masing (Armini, 2013).
Kerukunan umat beragama di Bali, juga didasari kesadaran bersama sebagai
masyarakat yang multikultur dan multiagama, serta adanya kesadaran bersama untuk
menerima segala persamaan dan perbedaan di dalam kehidupan masyarakat. Hal itu
diwujudkan dengan saling menghormati dan menghargai antar sesama pemeluk agama
sehingga terciptanya harmonisasi dan kerukuan antar umat beragama (Saleh, 2013).
Pageh (2013) menjelaskan, faktor sejarah dan tradisi Nyama Bali-Nyama Selam
menjadi faktor terwujudnya kerukunan Islam-Hindu dalam bidang politik, berupa
perkawinan keturunan kerajaan Islam-Hindu. Bidang sosial berupa perkawinan lintas
agama, tradisi, dan penggunaan nama campuran budaya Bali dan Islam. Bidang religi
seperti subak dan arsitektur tempat ibadah. Bidang ekonomi seperti campuran dari
berbagai mata pencaharian masyarakat setempat dan pendatang.
Berdasarkan perbandingan penelitian di atas, maka penelitian yang penulis
lakukan adalah mencoba mengungkap kearifan lokal yang terdapat pada masyarakat
muslim yang menerapkan ajaran Islam ukhuwah insaniyah dan masyarakat Hindu yang
menerapkan ajaran Hindu Tri Hita Karana sebagai landasan yang kuat dalam
membangun kerukunan Islam dan Hindu di Desa Adat Kuta, Kabupaten Badung,
Provinsi Bali, sampai saat ini. Penelitian ini menarik dilakukan karena belum diungkap
oleh para peneliti sebelumnya yang meneliti tentang hubungan sosial keagamaan di
antara umat Islam dengan Hindu di Bali.
Metode
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, di mana peneliti
merupakan instrumen kunci yang menggunakan teknik pengumpulan, penggabungan
dan melakukan analisis terhadap data yang diperoleh secara induktif dan melakukan
pengolahan data-data yang sifatmya deskriptif, baik berupa transkripsi wawancara,
observasi maupun pengamatan langsung dan menghubungi setiap individu yang
dianggap bisa memberikan data untuk penelitian yang dilakukan (Patton, 2002). Alasan
menggunakan metode ini karena peneliti ingin langsung meneliti ke lapangan, untuk
mengetahui secara mendalam fenomena yang ada dan kondisi yang alamiah dari objek
penelitian.
Fokus penelitian ini adalah deskripsi kearifan lokal dalam membangun kerukunan
umat Islam dan umat Hindu di Desa Adat Kuta, Kabupaten Badung, Provinsi Bali.
Yantos, Putriana
Kearifan Lokal dalam Membangun Kerukunan Islam dan
Hindu di Desa Adat Kuta Badung
Jurnal Dakwah Risalah
Vol. 31 No. 2 Desember 2020: Hal 237-251
243
Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan mendiskripsikan data yang
diperoleh sebagai hasil suatu penelitian. Dengan menggunakan metode ini, maka
peneliti bisa mendapatkan data secara utuh dan dapat dideskriptifkan dengan jelas
sehingga hasil penelitian ini benar-benar sesuai dengan kondisi lapangan.
Informan penelitian ini sebagai subjek penelitian yang dapat memberikan berbagai
informasi mengenai fenomena/ permasalahan yang diangkat, dan orang yang bersedia
berbagi pengetahuan dengan peneliti untuk mendapatkan gambaran yang utuh dan
menyeluruh tentang masalah yang diamati (Martha & Kresno, 2016). Informan
penelitian ini yaitu orang-orang yang dianggap senior/ dituakan dalam lingkungan sosial
masyarakat, terdiri atas tokoh masyarakat dan tokoh agama di Desa Adat Kuta yaitu:
Sekretaris Lurah Kuta Badung Bali (I Nyoman Mudita, SH), Kelian Desa Adat Kuta (I
Wayan Wasista), tokoh adat Kuta (Gede Eka Widantara), Tokoh agama/ pemangku pura
(Durne), tokoh agama Islam (H. Muhammad Arif), dan tokoh masyarakat Islam (H.
Bukhari Hassan). Objek penelitian ini adalah kearifan lokal dalam membangun
kerukunan Islam dan Hindu di Desa Adat Kuta.
Pengumpulan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi,
sebagai langkah strategis penelitian sesuai tata cara penelitian sehingga diperoleh data
yang dibutuhkan. Wawancara digunakan untuk menggali informasi melalui pertanyaan-
pertanyaan dengan informan. Observasi non partisan melalui pengamatan langsung
terhadap perilaku, proses kerja, dan gejala-gejala dari tokoh masyarakat, tokoh adat, dan
tokoh agama di Desa Adat Kuta. Dokumentasi digunakan untuk mengkaji, mengolah
data, dan menelusuri historis dari dokumen yang mendukung data penelitian.
Penulis menggunakan triangulasi sumber dengan membandingkan berbagai
informasi yang diperoleh dari satu sumber dengan sumber lain. Kemudian menggali
satu sumber yang sama dengan teknik yang berbeda dan menentukan waktu yang
berbeda (tepat). Proses analisis kualitatif berupa reduksi data, penyajian data, serta
penarikan kesimpulan/ verifikasi dengan menggunakan model interaktif (Sugiyono,
2010). Data penelitian dianalisis menggunakan teknik analisis kualitatif dengan
pengintepretasian terhadap apa yang ditemukan dan pengambilan kesimpulan akhir
dengan menggunakan logika atau penalaran sistematis. Kalimat disusun secara logis dan
sistematis sehingga mudah dipahami, mengacu pada rumusan masalah yang telah
dirumuskan sebagai pertanyaan penelitian, sehingga narasi yang tersaji merupakan
deskripsi mengenai kondisi rinci untuk menceritakan dan menjawab setiap
permasalahan yang ada.
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan temuan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat kearifan lokal
berupa kesepakatan bersama dalam mengatur hubungan umat Islam dan Hindu. Ini
terjadi secara turun temurun dan selalu terjaga serta menjadi tradisi hingga saat ini,
berupa adanya kebersamaan dalam membangun kerukunan umat Islam dan Hindu di
Desa Adat Kuta.
Yantos, Putriana
Kearifan Lokal dalam Membangun Kerukunan Islam dan
Hindu di Desa Adat Kuta Badung
Jurnal Dakwah Risalah
Vol. 31 No. 2 Desember 2020: Hal 237-251
244
Gambar 1. Potret pura dan masjid di Kuta, Badung.
Kearifan Lokal dalam Hubungan Islam dan Hindu
Kearifan lokal masyarakat Desa Adat Kuta telah diwariskan secara turun temurun,
dan tradisi ini masih berlaku hingga saat ini. Desa Adat Kuta sebagai desa adat yang
diberi kewenangan secara otonom dan diatur berdasarkan adat dan budaya Bali dengan
prinsip ajaran Hindu yaitu Tri Hita Karana, berinteraksi dengan masyarakat muslim
sebagai krama (penduduk) terbesar kedua yang memiliki keyakinan dan prinsip yang
dipegang teguh dalam interaksi sosial yaitu prinsip ukhuwah insaniyah.
Salah satu kearifan lokal adalah adanya aturan yang disepakati bersama sebagai
pedoman dalam berinteraksi dan menjalin hubungan sosial yang baik, sehingga terjalin
rasa kekeluargaan yang erat dan rasa kebersamaan di antara umat Muslim dan Hindu di
Desa Adat Kuta. Pemahaman dan kesadaran umat Hindu terhadap prinsip Tri Hita
Karana dengan selalu menjaga hubungan baik dengan umat Islam sebagai sebuah etika
sosial tertinggi dalam kegiatan religius. Ini berdasarkan keyakinan bahwa apabila dalam
kehidupan sehari-hari melakukan perbuatan baik terhadap sesama manusia, maka akan
mendapatkan hasil yang baik pula bagi suatu umat manusia. Prinsip Tri Hita Karana
memberikan petunjuk kepada umat Hindu dalam bersikap dan beraktivitas dalam
masyarakat yang heterogen (majemuk) dengan saling menghormati terhadap
keberagaman dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakat dengan umat Islam.
Sementara itu, umat Islam menerapkan ukhuwah insaniyah sebagai dasar dalam
berinteraksi dan menjalin hubungan sosial yang baik dengan umat Hindu. Sehingga
terjalin rasa kekeluargaan yang erat dan rasa kebersamaan di antara umat Islam dan
Hindu di Desa Adat Kuta Bali. Tokoh agama Islam H. Muhammad Arif menjelaskan,
interaksi dan hubungan sosial umat Islam terhadap umat Hindu dijalankan berdasarkan
ajaran dan prinsip-prinsip keagamaan. Ini terlihat dari adanya pemahaman dan
kesadaran umat Islam terhadap ukhuwah insaniyah dalam pergaulan dengan sesama
umat manusia di dalam kehidupan sehari-hari, dengan berpegang kepada syariat Islam
dan keyakinan Islam.
Yantos, Putriana
Kearifan Lokal dalam Membangun Kerukunan Islam dan
Hindu di Desa Adat Kuta Badung
Jurnal Dakwah Risalah
Vol. 31 No. 2 Desember 2020: Hal 237-251
245
Kebersamaan dalam Membangun Kerukunan Islam dan Hindu
Kebersamaan terlihat dari adanya persamaan persepsi antar pengambil kebijakan,
tokoh agama Islam dan Hindu, tokoh adat, serta umat Islam dan Hindu di dalam
menyikapi kebebasan beribadah. Terutama tentang pendirian tempat ibadah di Desa
Adat Kuta agar terwujud kerukunan umat Islam dan Hindu yang dilandasi toleransi,
saling pengertian, saling menghormati, menghargai kesetaraan dalam pengamalan
agamanya masing-masing, dan kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat. Adanya
kebebasan dalam mendirikan tempat ibadah ditandai dengan terdapatnya masjid sebagai
tempat ibadah umat Islam dan pura sebagai tempat ibadah umat Hindu, di Desa Adat
Kuta. Kesepakatan bersama umat Islam dan Hindu dalam pendirian tempat ibadah
adalah mengikuti dan menerima persyaratan pendirian tempat ibadah berdasarkan
peraturan yang ditetapkan pemerintah, baik pusat maupun daerah. Terutama Peraturan
Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 8 dan No. 9 Tahun 2006 untuk
mengatur umat beragama dalam menjalankan kehidupan beragama. Peraturan ini sudah
mengatur secara jelas umat beragama dalam membuat rumah ibadah. Sebagaimana
tertuang dalam pasal 14 ayat (2), pendirian rumah ibadah harus memenuhi persyaratan
khusus yakni daftar nama dan KTP pengguna rumah ibadah paling sedikit 90 orang
yang disahkan oleh pejabat setempat sesuai dengan tingkat batas wilayah. Selain itu
dukungan masyarakat paling sedikit 60 orang, mendapatkan rekomendasi tertulis
Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten/ Kota dan rekomendasi tertulis Forum
Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten/ Kota.
Kebersamaan dalam bentuk persamaan persepsi antara tokoh agama Islam dan
Hindu dalam pembangunan rumah ibadah adalah adanya pandangan dan prinsip yang
sama bahwa pembangunan rumah ibadah. Hal ini merupakan hak masing-masing umat
beragama untuk membangun rumah ibadahnya sesuai dengan kemampuan umat
beragama tersebut. Pembangunan rumah ibadah juga merupakan kewajiban negara
untuk membantu pembangunan rumah ibadah. Oleh karena itu masing-masing umat
beragama tidak melibatkan umat beragama lain untuk mendapatkan dana maupun ikut
membantu pembangunan suatu tempat ibadah. Umat Hindu sangat menghargai dan
toleransi dalam pendirian masjid di lingkungannnya dan umat Islam juga sangat
menghargai dan toleransi terhadap pembangunan pura di lingkungannya.
Kebersamaan antara umat Islam dan Hindu dalam bentuk toleransi, terlihat pada
perayaan keagamaan seperti pada hari raya umat Hindu yaitu hari raya Nyepi. Saat
perayaan Nyepi semua masyarakat termasuk umat Islam, diminta untuk tidak
melakukan aktivitas di luar rumah dan tidak melakukan kegiatan yang menggunakan
pengeras suara. Jika hari raya Nyepi bertepatan dengan hari Jumat, di mana seluruh
umat Islam berkewajiban untuk datang ke masjid mendengarkan khotbah Jumat dan
melaksanakan salat Jumat, toleransi terlihat dengan dibolehkannya umat Islam tetap ke
luar rumah dan pergi ke masjid untuk melaksanakan salat Jumat, bahkan diantar dan
dikawal oleh para Pecalang, petugas keamanan lokal di Bali.
Yantos, Putriana
Kearifan Lokal dalam Membangun Kerukunan Islam dan
Hindu di Desa Adat Kuta Badung
Jurnal Dakwah Risalah
Vol. 31 No. 2 Desember 2020: Hal 237-251
246
Sebaliknya sebagai toleransi dari umat Islam, dalam pelaksanaan khotbah dan
salat Jumat maupun sewaktu azan, hanya menggunakan suara di dalam masjid sehingga
suaranya tidak sampai ke luar masjid. Pelaksanaan ibadah salat Jumat juga dikawal dan
dijaga keamanannya di luar masjid oleh para Pecalang, sehingga dapat melaksanakan
ibadah salat Jumat dengan tenang. Setelah selesai melaksanakan salat Jumat, kembali
terjalin kebersamaan dan keakaraban di mana jamaah masjid dengan para Pecalang
saling bersalaman, lalu jamaah dikawal oleh para Pecalang untuk kembali ke rumahnya
masing-masing.
Kebersamaan dalam bentuk kesetaraan di Desa Adat Kuta dalam hubungan umat
Islam dan Hindu dimaknai sebagai pandangan dan sikap hidup yang menganggap semua
orang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Hak untuk melaksanakan ajaran dan
prinsip agamanya, beribadah sesuai dengan agamanya, dan kewajiban terhadap
kehidupan bernegara dan bersosialisasi dengan penganut agama lain. Kesetaraan dalam
hak dan kewajiban umat Islam dan Hindu di Desa Adat Kuta, tercermin dari adanya
interaksi yang harmonis, toleran, damai, serta saling menghargai dan menghormati
prinsip agama masing-masing. Kemudian tidak merendahkan satu agama dengan agama
yang lain, serta dalam berinteraksi tidak mencampuradukkan dan melanggar ajaran
agama masing-masing maupun norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
Kewajiban bagi umat Islam dan Hindu di Desa Adat Kuta untuk saling
menghormati ajaran agama masing-masing. Ini diwujudkan dengan memberikan hak
untuk menjalankan agama sesuai prinsip dan ajaran agamanya masing-masing.
Kesetaraan ini mampu membangun kerukunan antara umat Islam dan Hindu di Desa
Adat Kuta, karena umat Islam dan Hindu sangat menghayati dan mengamalkan ajaran
agamanya serta melaksanakan ibadahnya dengan baik. Umat Islam di Desa Adat Kuta
tidak pernah merasa mendapat perlakukan berbeda dan dibedakan dengan umat Hindu,
kecuali dalam hal syariat, dan perbedaan tersebut bisa diterima dan sangat dihargai oleh
umat Hindu. Adanya unsur kesamaan prinsip dalam interaksi sosial itu menjadi tonggak
untuk lebih menciptakan dan mempererat tali persaudaraan dan kesetaraan dalam hak
dan kewajiban antara umat Islam dan Hindu di Desa Adat Kuta.
Kebersamaan berupa kesetaraan dalam persamaan hak dan kewajiban umat Islam
dan Hindu di Desa Adat Kuta Bali terbangun dari kondisi sosial, di mana setiap umat
beragama bisa hidup bersama-sama tanpa mengurangi hak dasar masing-masing untuk
melaksanakan kewajiban agamanya. Masing-masing pemeluk agama dapat hidup
sebagai pemeluk agama yang baik, dalam keadaan rukun dan damai. Umat Islam dan
Hindu di Desa Adat Kuta telah mengembangkan nilai-nilai kebersamaan, musyawarah,
dan keterbukaan, sehingga terciptalah kesetaraan dalam persamaan hak dan kewajiban.
Terutama, kedua pemeluk agama sepakat dalam menjalankan ajaran agamanya masing-
masing tanpa mempermasalahkan dan menerima perbedaan-perbedaan prinsip masing-
masing agama.
Kebersamaan dalam bentuk kerja sama dalam berbagai kegiatan sosial antara
umat Islam dan Hindu merupakan sebuah tradisi yang sudah berlangsung sejak dahulu.
Yantos, Putriana
Kearifan Lokal dalam Membangun Kerukunan Islam dan
Hindu di Desa Adat Kuta Badung
Jurnal Dakwah Risalah
Vol. 31 No. 2 Desember 2020: Hal 237-251
247
Kegiatan sosial di Desa Adat Kuta menjadi perwujudan dari prinsip Tri Hita Karana
dan ukhuwah insaniyah, sebagaimana disampaikan I Wayan Wasista, Kelian Desa Adat
Kuta. Ia menjelaskan, dalam kegiatan sosial ada yang disebut tradisi ngayah yaitu
tradisi gotong-royong yang dilakukan secara sukarela untuk kebaikan bersama. Dalam
tradisi ngayah, umat Islam dan Hindu tidak hanya menganggap sekadar kegiatan tolong-
menolong untuk kegiatan sosial saja, namun menyakini bahwa ini adalah bagian dari
perintah agama masing-masing. Selain itu ngayah juga dilakukan untuk saling tolong-
menolong serta berbagi dan bersosialisasi di antara umat Islam dan Hindu. Ngayah
selalu dilakukan setiap hari dalam menjalin keakraban sosial seperti kebiasaan
menyapa, mengobrol dengan tetangga, serta saling membantu pada saat ada hajatan atau
acara tertentu. Umat Islam dan umat Hindu akan bersama-sama saling membantu agar
hajatan atau acara dapat berjalan dengan baik.
Perwujudan ukhuwah insaniyah terlihat dari kegiatan gotong-royong yang
dilakukan oleh umat Islam dalam kegiatan sosial, di mana bantuan yang diberikan bisa
berupa bantuan tenaga, materi, dan bantuan lainnya. Terutama dalam kegiatan kerja
bakti membersihkan lingkungan, menjenguk tetangga yang sakit, memberi bantuan
kepada tetangga yang sedang kesusahan, mengumpulkan dana untuk tetangga yang
sedang terkena musibah, serta bersama-sama membangun fasilitas umum untuk
kepentingan bersama. Pola keberagamaan yang dibangun oleh masyarakat Islam dan
Hindu di Desa Adat Kuta adalah upaya membangun kerukunan antar umat beragama
dan menjalin harmoni dalam kehidupan sosial. Praktik keberagamaan yang mereka
kembangkan adalah sebagai upaya menjalankan prinsip dan keyakinan ajaran agama
masing-masing.
Temuan-temuan tersebut menjelaskan bahwa harmoni sosial keagamaan yang
berujung pada kerukunan antar umat beragama bagi masyarakat Islam dan Hindu di
Desa Adat Kuta bukan hanya dibangun melalui pemahaman keagamaan semata, tetapi
juga dibangun melalui tradisi sosial yang secara turun temurun sudah terbangun sejak
dulu. Komunikasi dan dialog sosial keagamaan secara formal dan non formal selalu
dilakukan oleh tokoh agama dan tokoh masyarakat Desa Adat Kuta, terutama oleh
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), di mana dialog ini bertujuan untuk
meningkatkan toleransi dan kerukunan umat beragama di Kuta Bali.
Diskusi
Integrasi sosial akan terwujud dalam kehidupan masyarakat, apabila adanya
kesediaan dari masing-masing masyarakat untuk melakukan penyesuaian terhadap
unsur-unsur yang saling berbeda dan beraneka ragam ke dalam satu kesatuan yang bulat
dan utuh sebagai satu kesatuan sosial yang menghasilkan pola kehidupan yang serasi
atau universalitas di tengah kehidupan masyarakat (Sutrisno, 2007). Temuan penelitian
ini sangat relevan, di mana antara masyarakat Hindu sebagai penduduk asli dengan
agama Hindu dan kebudayaan setempat, maupun masyarakat Islam sebagai pendatang
dengan kebudayaan dan agama Islam di Desa Adat Kuta, telah melakukan berbagai
Yantos, Putriana
Kearifan Lokal dalam Membangun Kerukunan Islam dan
Hindu di Desa Adat Kuta Badung
Jurnal Dakwah Risalah
Vol. 31 No. 2 Desember 2020: Hal 237-251
248
penyesuaian dan terbentuk suatu pola kehidupan yang serasi dan universal. Hal ini
terlihat dari penerimaan masyarakat Hindu sebagai penduduk asli yang memiliki tradisi
dan budaya asli Bali terhadap masyarakat Islam yang tetap melaksanakan tradisi dan
budayanya yang telah beradaptasi dengan bentuk dan corak budaya Bali.
Implementasinya, mereka saling mengisi dan mengikuti acara dan kegiatan budaya yang
diadakan oleh masyarakat Hindu maupun masyarakat Islam.
Temuan penelitian ini memiliki kesamaan dengan hasil penelitian Basyir (2016),
(Arif, 2019), dan Fahham (2018), yaitu adanya pola asosiatif berupa kerja sama,
toleransi dan saling menerima. Terkait penerimaan pada aspek budaya juga serupa
dengan penelitian Pageh (2013) dan Karim (2016) yang menemukan bahwa faktor
budaya sebagai faktor utama dalam membangun kerukunan Islam dengan Hindu.
Persamaan lainnya, perlu adanya kesepakatan bersama dalam membangun kerukunan
antar umat beragama, termasuk kesepakatan budaya.
Dalam kegiatan keagamaan terdapat penyesuaian dan kesepakatan bahwa mereka
tetap berpegang teguh kepada prinsip prinsip agama masing-masing, di mana
masyarakat Islam sangat menghormati pendirian tempat ibadah, pelaksanaan ibadah dan
kegiatan perayaan keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat Hindu, dan begitu juga
sebaliknya. Terkait pendirian tempat ibadah, masyarakat Hindu maupun masyarakat
Islam bersepakat bahwa pendirian tempat ibadah sudah ada ketentuan dan peraturan
pemerintah yang mengatur, sehingga tidak terjadi penolakan atau konflik dalam
pendirian tempat ibadah.
Para tokoh agama Islam dan Hindu selalu mengajak umatnya untuk menjalankan
prinsip agamanya, baik prinsip Tri Hita Karana (Hindu) maupun prinsip ukhuwah
insaniyah (Islam), di mana prinsip ini sama-sama mengajak untuk selalu bertoleransi
dalam hubungan antar umat beragama. Para tokoh masyarakat Hindu dan Islam selalu
mengajak masyarakatnya untuk saling tolong menolong, bekerja sama dalam kehidupan
sosial, serta mengikuti tradisi yang sudah ada sejak dulu dalam kehidupan
bermasyarakat di Bali. Setiap persoalan yang muncul bila berkaitan dengan masalah
kehidupan bermasyarakat, mereka sepakat untuk memberikan kepercayaan kepada
kedua tokoh masyarakat untuk menyelesaikannya. Kemudian jika muncul masalah
keagamaan, maka mereka sepakat untuk memberikan kepercayaan kepada tokoh agama
dan Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB), sehingga terwujudlah kerukunan
umat Islam dan Hindu di Desa Adat Kuta Badung, Bali, hingga sekarang.
Simpulan
Berdasarkan temuan penelitian dapat diketahui bahwa terdapatnya kearifan lokal
berupa kesepakatan bersama dalam mengatur hubungan umat Islam dan Hindu yang
secara turun temurun selalu terjaga dan menjadi tradisi hingga saat, ini yaitu persamaan
persepsi untuk tetap menjalankan ajaran dan prinsip agama masing-masing dalam
kehidupan sosial di Desa Adat Kuta Bali dan terjalinnya rasa kekeluargaan melalui
tradisi Nyama Selam (saudara Islam) dan Nyama Hindu (saudara Hindu). Kemudian
Yantos, Putriana
Kearifan Lokal dalam Membangun Kerukunan Islam dan
Hindu di Desa Adat Kuta Badung
Jurnal Dakwah Risalah
Vol. 31 No. 2 Desember 2020: Hal 237-251
249
adanya kebersamaan dalam membangun kerukunan Islam dan Hindu berupa kebebasan
menjalankan ibadah umat Islam berdasarkan ajaran dan prinsip Islam yaitu prinsip
ukhuwah insaniyah dan umat Hindu berdasarkan ajaran dan prinsip Tri Hina Karana.
Selain itu, di Desa Adat Kuta terjamin kebebasan dalam mendirikan tempat ibadah
sesuai dengan peraturan pemerintah serta terjalin komunikasi yang intens melalui
FKUB. Kesetaraan dan toleransi antar umat Islam dan Hindu ini menjadikan relasi
keduanya tanpa dicederai konflik.
Temuan hasil penelitian ini memberikan konstribusi dalam membangun
kerukunan antar umat beragama. Secara teoritis, hasil temuan ini memberikan
sumbangsih yang besar dalam melengkapi teori-teori sosial terutama teori integrasi
sosial yang lebih banyak hanya melihat faktor budaya sebagai faktor utama dalam
terwujudnya kerukunan dalam interaksi dan hubungan sosial. Sedangkan penelitian ini
berhasil menemukan bahwa adanya persamaan persepsi dan implementasi dari ajaran
dan prinsip agama masing-masing yang dianut masyarakat dapat membangun
kerukunan antar umat beragama dalam kehidupan sosial. Secara praktis, temuan hasil
penelitian ini memberikan konstribusi bagi terwujudnya kerukunan antar umat
beragama dan memberikan solusi bagi penyelesaian persoalan-persoalan dan konflik
antar umat beragama, terutama konflik yang timbul karena adanya perbedaan persepsi
dalam menjalankan ajaran dan prinsip agama masing-masing.
Temuan hasil penelitian ini dapat disempurnakan dan ditindaklanjuti oleh para
peneliti berikutnya terutama untuk lebih mendalami ajaran dan prinsip agama Islam dan
Hindu yang lebih luas dan rinci. Sehingga bisa berkonstribusi tidak hanya dalam hal
memecahkan persoalan kerukunan antar umat beragama, tetapi bisa menjadi solusi bagi
berbagai persoalan terkait persatuan dan kesatuan yang sedang dihadapi oleh bangsa
Indonesia.
Referensi
Arif, M. (2019). A Mosque in a Thousand Temple Island: Local Wisdom of Pegayaman
Muslim Village in Preserving Harmony in Bali. Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama
dan Sosial Budaya, 4(1), 16-30.
Armini, G. A. (2017). Toleransi Masyarakat Multi Etnis dan Multiagama dalam
Organisasi Subak di Bali. Patanjala, 5(1), 38-52.
Basyir, K. (2016). Membangun kerukunan antarumat beragama berbasis budaya lokal
Menyama Braya di Denpasar Bali. Religio Jurnal Studi Agama-agama, 6(2),
186-206.
Fahham, A. M. (2018). Dinamika Hubungan Antarumat Beragama: Pola Hubungan
Muslim dan Hindu di Bali. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 9(1), 65-
84.
Fauzi, A. F. (2019). Internalisasi Nilai-Nilai Multikultural Melalui Budaya Nyama
Beraya Pada Masyarakat Muslim Pegayaman. Al-Mada: Jurnal Agama, Sosial,
dan Budaya, 2(1), 1-21.
Yantos, Putriana
Kearifan Lokal dalam Membangun Kerukunan Islam dan
Hindu di Desa Adat Kuta Badung
Jurnal Dakwah Risalah
Vol. 31 No. 2 Desember 2020: Hal 237-251
250
Halimatusa’diah. (2018). Peranan Modal Sosial dan Kultural Dalam Menciptakan
Kerukunan Antar Umat Beragama di Bali. Jurnal Multikultural & Multi
Religius, 17 (1): 43-65
Karim, M. A. (2016). Toleransi UmaT Beragama di desa loloan, JemBrana, Bali
(ditinjau dari Perspektif sejarah). Analisis: Jurnal Studi Keislaman, 16(1), 1-32.
Martha, E., & Kresno, S. (2016). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rajawali
Press.
Pageh, I. M. (2013). Analisis Faktor Integratif Nyama Bali-Nyama Selam, Untuk
Menyusun Buku Panduan Kerukunan Masyarakat Di Era Otonomi
Daerah. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 2(2).
Patton, M. Q. (2002). Qualitative Research & Evaluation Mehods (3 ed.). California:
Sage Publishing.
Rusmayani, R., & Gunawan, A. H. (2018). HUBUNGAN MAYORITAS HINDU BALI
TERHADAP MINORITAS MUSLIM (Studi Toleransi Puri Pemecutan
Terhadap Komunitas Minoritas Muslim di Kampung Bugis Serangan, Denpasar-
Bali). Ngabari: Jurnal Studi Islam dan Sosial, 11(1), 16-36.
Saleh, S. (2013). Kerukunan umat beragama di denpasar Bali, Jurnal Ushuluddin:
Media Dialog Pemikiran Islam, 17 (1): 167-175
Segara, I. N. Y. (2020). Komunikasi Dialektik Dalam Relasi Hindu Dan Islam Di
Bali. Ganaya: Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora, 2(2-3), 1-8.
Suarmini, N. W. (2011). PERANAN “DESA PAKRAMAN “DALAM
MEMPERKUAT KETAHANAN SOSIAL BUDAYA MELALUI KONSEP
AJARAN “TRI HITA KARANA”. JURNAL SOSIAL HUMANIORA
(JSH), 4(1), 1-12.
Sudantra, I. K. (2014). Pengaturan peradilan adat dalam awig-awig desa pakraman:
Studi pendahuluan tentang eksistensi peradilan adat dalam kesatuan masyarakat
hukum adat desa Pakraman. Jurnal Magister Hukum Udayana (Udayana Master
Law Journal), 3(2).
Sudiatmaka, K., & Hadi, I. G. A. A. (2018). Penyuratan Awig-Awig Desa
Pakraman. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 4(1), 46-58.
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kualitatif-Kuantitatif,dan
R & D, Bandung: Alfabeta
Sukarma, I. W. (2016). Tri Hita Karana theoretical basic of moral Hindu. International
journal of linguistics, literature and culture, 2(3), 102-116.
Sumarjo, S. (2018). Eksistensi Awig-Awig dalam Menjaga Harmonisasi Desa Adat
Tenganan Pegringsingan, Kabupaten Karangasem, Bali. Habitus: Jurnal
Pendidikan, Sosiologi, & Antropologi, 2(1), 27-39.
Yantos, Putriana
Kearifan Lokal dalam Membangun Kerukunan Islam dan
Hindu di Desa Adat Kuta Badung
Jurnal Dakwah Risalah
Vol. 31 No. 2 Desember 2020: Hal 237-251
251
Sunu, I. G. K. A. (2014). Harmonisasi, integrasi Desa Pakraman dengan Desa Dinas
yang multietnik dan multiagama menghadapi pergeseran, pelestarian, dan
konflik di Bali. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 3(2).
Sutrisno, M. (ed.) (2007). Cultural Studies: Tantangan Bagi Teori-Teori Besar
Kebudayaan, Yogyakarta: Koekoesan.
ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication.
Article
Full-text available
There are some scholars, such as Clifford Geertz, Geoffrey Robinson and Miquel Covarubbias who pay much attention to the patterns of the religious and cultural life of Balinese. They show various perspectives on Balinese religious and cultural lives, those that are generally closely related to Hinduism and tourism. For this reason, a study on the religious life of the Muslim communities in Bali is interesting because it represents various viewpoints while revealing another side of Balinese exoticism. Pegayaman Muslim village of Buleleng regency is an old village inhabited by Muslims amidst strong Hindu influences. This village is unique and recognized as one of the oldest Muslim villages in Bali. In general, the people in this village are able to live side by side peacefully with the adherents of other religions through local wisdom by building harmony with puri(castle), pura (temple), and Balinese customs, like actualization of Menyama Beraya in daily life and Sokok Base that are presented at procession of Maulid festival every year.
Article
Full-text available
Ahmadiyah events in Cikeusik, Shia in Sampang, until the case of Tanjung Balai, are various events of intolerance that often color the reality of our plural society. However, in some other areas with its diverse community, as in Bali, we can find a society that is able to maintain harmony among its diverse peoples and live side by side. This study aims to describe various factors that support inter-religious harmony in Bali. This review is important to overcome the various religious conflicts that occurred in Indonesia, as well as how to create harmony among religious followers. Using a qualitative approach, this study found that the creation of tolerance and harmony among religious believers in Bali, in addition influenced by historical model, also because Bali has a strong cultural capital and structural capital. Cultural capital in the form of local wisdom that is still maintained and also the harmony agents such as guardians of tradition and FKUB also play a major role in maintaining and creating harmony among religious followers in Bali G M T Detect language Afrikaans Albanian Arabic Armenian Azerbaijani Basque Belarusian Bengali Bosnian Bulgarian Catalan Cebuano Chichewa Chinese (Simplified) Chinese (Traditional) Croatian Czech Danish Dutch English Esperanto Estonian Filipino Finnish French Galician Georgian German Greek Gujarati Haitian Creole Hausa Hebrew Hindi Hmong Hungarian Icelandic Igbo Indonesian Irish Italian Japanese Javanese Kannada Kazakh Khmer Korean Lao Latin Latvian Lithuanian Macedonian Malagasy Malay Malayalam Maltese Maori Marathi Mongolian Myanmar (Burmese) Nepali Norwegian Persian Polish Portuguese Punjabi Romanian Russian Serbian Sesotho Sinhala Slovak Slovenian Somali Spanish Sundanese Swahili Swedish Tajik Tamil Telugu Thai Turkish Ukrainian Urdu Uzbek Vietnamese Welsh Yiddish Yoruba Zulu Afrikaans Albanian Arabic Armenian Azerbaijani Basque Belarusian Bengali Bosnian Bulgarian Catalan Cebuano Chichewa Chinese (Simplified) Chinese (Traditional) Croatian Czech Danish Dutch English Esperanto Estonian Filipino Finnish French Galician Georgian German Greek Gujarati Haitian Creole Hausa Hebrew Hindi Hmong Hungarian Icelandic Igbo Indonesian Irish Italian Japanese Javanese Kannada Kazakh Khmer Korean Lao Latin Latvian Lithuanian Macedonian Malagasy Malay Malayalam Maltese Maori Marathi Mongolian Myanmar (Burmese) Nepali Norwegian Persian Polish Portuguese Punjabi Romanian Russian Serbian Sesotho Sinhala Slovak Slovenian Somali Spanish Sundanese Swahili Swedish Tajik Tamil Telugu Thai Turkish Ukrainian Urdu Uzbek Vietnamese Welsh Yiddish Yoruba Zulu Text-to-speech function is limited to 200 characters Options : History : Feedback : Donate Close
Article
Full-text available
Penelitian penelitin ini bertujuan untuk (1) Menganalisis keberadaan tugas dan kewenangan desa pakraman multietnik dan multiagama di daerah pariwisata Provinsi Bali, (2) Menganalisis pergeseran dan pelestarian tugas dan kewenangan desa pakraman yang multietnik dan multiagama, (3) Menganalisis intervensi oleh desa dinas terhadap desa pakraman multietnik dan multiagama, (4) Menganalisis harmonisasi sosial sebagai dampak dari pergeseran, pelestarian pelaksanaan tugas dan kewenanngan desa pakraman yang multietnik dan multiagama, (5) Menganalisis konflik intern dan ekstern warga desa pakraman yang multietnik dan multiagama. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif yang bersifat naturalistik dan etnografis, sehingga penekanannya bukan pada pengukuran, melainkan pada upaya mendeskripsikan dan menjelaskan secara aktual, faktual, alamiah, holistik, dan emik tentang eksistensi desa pakraman dalam menghadapi dinamika, harmonisasi sosial, dan konflik warga di Bali. Penentuan subjek penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik purposif. Data dikumpulkan dengan wawancara, observasi, dan pencatatan dokumen. Data dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desa pakraman telah mengakomodasi warga yang beragama Hindu dan warga non-Hindu dengan memposisikan warga sebagai warga muwed dan warga tamiu. Khusus bagi warga non-Hindu diposisikan sebagai warga desa dinas, sehingga secara administratif tidak menimbulkan masalah. Dari perspektif kelembagaan, desa pakraman dan desa dinas berada dalam kondisi harmonis, sehingga memunculkan ungkapan “satu badan dua kepala”. Keharmonisan hubungan antara desa dinas dan desa pakraman karena ada beberapa kemungkinan antara lain: satu desa dinas mempunyai luas wilayah dan penduduk yang sama dengan satu desa pakraman, satu desa dinas meliputi beberapa desa pakraman, satu desa pakraman terdiri atas beberapa desa dinas. Tugas dan kewenangan desa pakraman masih lestari, sehingga sering dipergunakan sebagai pusat orientasi bagi orang Bali. Namun, dari segi pengelolaan harta kekayaan desa mengalami pergeseran, terutama terkait dengan pengelolaan harta kekayaan desa. Sehubungan dengan harmonisasi sosial, umat Hindu maupun umat lain yang ada dalam wilayah desa pakraman bersama-sama menciptakan integrasi atas dasar toleransi dan kerukunan serta saling menghormati dalam rangka membina rasa persatuan dan kesatuan masyarakat Bali.
Article
Religious experience of multicultural society in Indonesia has frequently been characterized by conflict and violence in various regions. As a state having the motto Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia has several challenges and problems of plurality, ethnicity, religion, and culture. However, each culture has it own local wisdom to overcome these challenges and problems. This article finds that the presence of religious life (Hindu-Muslim) in Denpasar Bali does not look like other regions in Indonesia, which is always covered by conflict and violence in the name of religion. Multicultural society in Denpasar Bali indicates ideal collaboration between Muslims and Hindus to build religious activities. It is an integral part of Balinese life and the Balinese friendly character to sprout back to Bali Glow (Bali Aga). It sure takes a long time to proceed through the dialectical theology, ideology, and socio-cultural processes. Together with social institutions, the local government had tried to maintain and protect the essence of Hindu Balinese culture, by preserving the tradition of Menyama Braya for the realization of harmonious religiosity. [Pengalaman religius masyarakat multikultural di Indonesia sudah sering ditandai dengan konflik dan kekerasan di berbagai daerah. Sebagai negara yang memiliki motto Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia memiliki beberapa tantangan dan masalah pluralitas, etnis, agama, dan budaya. Meskipun demikian, setiap budaya memiliki kearifan lokal yang dapat mengatasi berbagai tantangan dan permasalahan di atas. Artikel ini menemukan bahwa kehadiran kehidupan keagamaan (Hindu-Muslim) di Denpasar Bali tidak terlihat seperti daerah lain di Indonesia, yang selalu ditutupi oleh konflik dan kekerasan atas nama agama. masyarakat multikultural di Denpasar Bali menunjukkan kolaborasi ideal antara Muslim dan Hindu untuk membangun kegiatan keagamaan. Ini adalah bagian integral dari kehidupan Bali dan karakter ramah Bali bertunas kembali ke Bali Cahaya (Bali Aga). Tentu membutuhkan waktu yang lama untuk melanjutkan melalui teologi dialektis, ideologi, dan proses sosial budaya. Bersama dengan lembaga-lembaga sosial, pemerintah setempat telah berusaha untuk mempertahankan dan melindungi esensi dari budaya Hindu Bali, dengan melestarikan tradisi Menyama Braya untuk realisasi religiusitas yang harmonis.
Article
Kebutuhan akan penyuratan awig-awig di desa pakraman didasari oleh peraturan-peraturan yang ada di lingkungan desa pakraman masih banyak dalam wujud tidak tertulis sementara perkembangan zaman yang mempengaruhi setiap lapangan kehidupan. Termasuk kehidupan di desa pakraman yang ada di Bali perlu adanya hukum dasar tertulis di tingkat desa yang berupa awig-awig. Perda Provinsi Bali No. 3 Tahun 2001 tentang Desa Pakraman Pasal 11 ayat (1) bahwa setiap desa pakraman menyuratkan awig-awignya. Realisasi dari amanat Perda Bali tersebut maka dalam artikel ini akan lebih lanjut dibahas tentang bagaimana penyuratan awig-awig desa pakraman dipandang dari karakter hukum adat, baik sifat-sifat dan sistem hukum adat ?. Adapun penyuratan awig-awig dilakukan dilakukan melalui tahap (1) prakondisi yakni krama desa pakraman melalui prajuru desa melaksanakan pararem/kesepakatan bersama, guna menyampaikan aspirasi yang telah diserap dari masyarakat tentang keinginan penyuratan awig. Tahap (2) proses penyuratan awig/revisi awig yakni proses penyusunan awig yang menjadi bidang tugas panitia penyurat awig, lebih awal panitia menyusun jadwal kegiatan yang akan dilalui. Hal yang paling penting dalam penyuratan awig panitia akan memikirkan batas waktu menyuratkan dan mekanisme penentuan kesepakatan-kesepakatan yang dilandasi oleh rasionalitas, ilmiah, kebersamaan, hingga tanggung jawab moral pada Ida Sang Hyang Widhi. Hal akhir kemudian dilaksanakan pleno dan sosialisasi rancangan awig yang ditujukan pada masyarakat desa pakraman. Awig-awig yang telah disuratkan merupakan refleksi dari karakteristik nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang serta dijadikan pedoman pada masyarakat desa pakraman sejak zaman lampau sampai saat ini. Kata Kunci : Penyuratan, awig-awig.
Article
This study aims to determine the regulation on customary justice in the traditional rules of awig-awig of pakraman village, the rules made by the customary community unit of Pakraman village in Bali. This study focused on structure, competency, mechanism, and principle of customary justice. The result shows that structure and competency of customary justice have been regulated clearly on awig-awig of pakraman village, but the mechanism of customary justice doesn’t regulated clearly. Awig-awig of desa pakraman only regulates initial mechanism, namely the process of filing a case, but does not regulate mechanisms after the case was subsequently processed by the customary justice. It can be identified some principles in awig awig of pakraman village to be a guidance for the customary courts in resolving cases that occur on it’s jurisdiction
Toleransi UmaT Beragama di desa loloan, JemBrana, Bali (ditinjau dari Perspektif sejarah)
  • M A Karim
Karim, M. A. (2016). Toleransi UmaT Beragama di desa loloan, JemBrana, Bali (ditinjau dari Perspektif sejarah). Analisis: Jurnal Studi Keislaman, 16(1), 1-32.
Metodologi Penelitian Kualitatif
  • E Martha
  • S Kresno
Martha, E., & Kresno, S. (2016). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rajawali Press.
Analisis Faktor Integratif Nyama Bali-Nyama Selam
  • I M Pageh
Pageh, I. M. (2013). Analisis Faktor Integratif Nyama Bali-Nyama Selam, Untuk Menyusun Buku Panduan Kerukunan Masyarakat Di Era Otonomi Daerah. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 2(2).