ArticlePDF Available

Abstract

In historical relations between the West and the Islamic world, honesty is a rare dimension. The history of West-East relations seems to be filled with bias and covered in prejudice. The negative stigma of the West towards the East, and vice versa, is still being inherited and reproduced today. Sudibyo Markus tries to present an honest and balanced historical analysis in seeing the West and Islam. This paper is a review of Sudibyo Markus' book entitled Dunia Barat dan Islam, Cahaya di Cakrawala (The West and Islam, Light in the Horizon) published by Gramedia in 2019. Dalam sejarah hubungan dunia Barat dan dunia Islam, kejujuran termasuk dimensi yang langka. Sejarah relasi Barat-Timur seolah dipenuhi bias dan berlumuran prasangka. Stigma negatif Barat terhadap Timur, demikian pula sebaliknya, masih terus terwarisi dan direproduksi hingga kini. Sudibyo Markus mencoba menghadirkan analisis sejarah yang jujur dan berimbang dalam melihat Barat dan Islam. Tulisan ini adalah telaah terhadap buku karya Sudibyo Markus berjudul "Dunia Barat dan Islam, Cahaya di Cakrawala" yang diterbitkan oleh Gramedia tahun 2019.
Jurnal Dakwah, Vol. 21, No. 2 Tahun 2020 281
KEJUJURAN HISTORIS BARAT DAN ISLAM
Erham Budi Wiranto
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Email: erhambudi@gmail.com
Deskripsi Buku:
Judul : Dunia Barat dan Islam, Cahaya di Cakrawala
Penulis : Sudibyo Markus
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama & Kompas Gramedia
Tahun : 2019
Dimensi : tebal xlvi + 497 hlm (3 cm), 15 x 23 cm.
ISBN : 978-602-06-3230-8
ISBN Digital : 978-602-06-3231-5
Telaah Buku
Salah satu kunci hubungan suatu pihak dengan pihak lainnya adalah
adanya kepercayaan (trust), sedangkan salah satu syarat
dibangunnya sebuah kepercayaan adalah kejujuran. Dalam sejarah
hubungan dunia Barat dan dunia Islam, kejujuran termasuk dimensi
yang langka. Sejarah relasi Barat-Timur seolah dipenuhi bias dan
berlumuran prasangka. Stigma negatif Barat terhadap Timur,
demikian pula sebaliknya, masih terus terwarisi dan direproduksi
hingga kini. Sudibyo Markus mencoba menghadirkan analisis sejarah
yang jujur dan berimbang dalam melihat Barat dan Islam.
Bagi pembaca yang belum mengenal, kiranya dapat
berprasangka bahwa Sudibyo Markus adalah seorang intelektual
Kristen, sebab namanya identik dengan sang penulis Injil. Oleh
karenanya buku Sudibyo Markus yang diterbitkan Gramedia ini
tampaknya akan bias Kristen. Namun prasangka itu salah besar.
Sejak muda Sudibyo Markus telah aktif di Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah dan terakhir menjabat sebagai Wakil ketua
Hubungan Luar Negeri Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ia beberapa
Erham Budi Wiranto: Kejujuran Historis Barat dan Islam
282 Jurnal Dakwah, Vol. 21, No. 2 Tahun 2020
kali menjadi juru damai internasional selama keterlibatannya di
UNDP, beberapa NGO internasional, dan sebagai utusan Kemenlu RI.
Buku ini diawali dengan gambaran tentang realitas hubungan
Barat dan Islam saat ini, terutama perkembangan Islam di Dunia
Barat yang justru menguat pasca Tragedi 9/11. Kekhawatiran analis
Barat seperti Bernard Lewis, John L. Esposito, Samuel P. Huntington,
dijawab secara optimistik oleh Sudibyo Markus. , John L. Esposito
memprediksi bahwa Eropa akan berubah menjadi Eurabia istilah
yang dipinjam dari Bat Ye’or-, tanahnya Eropa tapi penduduk dan
budayanya kian bergeser ke nuansa Arab. Masalah demografi dengan
meningkatnya jumlah imigran dari dunia Islam menjadi pemicunya.
Konflik sambung sinambung di Timur Tengah dan masalah
kemiskinan di Afrika memang menjadi salah satu pendorong migrasi
orang-orang Islam ke dunia Barat, selain memang kemampuan Barat
sendiri untuk memberikan suaka politik. Selain itu Barat sebagai
pengusung demokrasi, multikulturalisme, dan HAM juga ditabukan
untuk menolak para imigran.
Meskipun John L. Esposito menganggap potensi Eurabia
sebagai terorisme lunak (soft terrorism), namun Sudibyo Markus
tidak melihat ini sebagai sebuah ancaman atau ‘invasi’ Timur
terhadap Barat. Fakta bahwa Islam menjadi agama yang paling
berkembang sedangkan Kekristenan mulai banyak ditinggalkan
sebenarnya adalah fenomena kerinduan orang Barat terhadap, apa
yang oleh Markus ia sebut, Renaisans Spiritual Baru. Spiritualitas
Baru bukan berarti harus ada agama baru. Faktanya umat Kristen
Barat tetap ingin disebut sebagai penganut Kristen meskipun mulai
enggan ke Gereja. Mereka hanya memerlukan cara beragama yang
baru. Sebab cara yang lama telah meninggalkan duka dan trauma.
Trauma masyarakat Barat terhadap agama dikarenakan
Kekristenan di Barat pernah terlibat dalam intrik kekuasaan, bahkan
sejak awal terbentuknya politik teokratis di Romawi yang juga
sekaligus menandai periode Abad Kegelapan. Kekristenan menjadi
pokok politik sejak abad ke-4 hingga abad ke-13, dengan puncak
kegelapannya berada di abad 10 dan 11 dimana banyak terjadi
skandal kepausan, inkuisisi, serta perang-perang Salib. Ketika
Erham Budi Wiranto: Kejujuran Historis Barat dan Islam
Jurnal Dakwah, Vol. 21, No. 2 Tahun 2020 283
Reformasi dan Renaisans telah terjadi pun kekristenan masih akrab
dengan Orientalisme dan Kolonialisme, masa dimana karya-karya
apologetis berlebihan sering menampilkan Timur secara bias.
Berbagai realitas sejarah tersebut diungkap oleh Markus secara ‘apa
adanya’ sesuai sumber yang ia temukan, sehingga menampilkan
analisis sejarah yang terlihat jujur.
Tonggak penting dalam relasi Barat dan Islam adalah adanya
Konsili Vatikan II yang mengubah paradigma inward looking ke arah
dialog. Konsili ini melahirkan dokumen penting seperti Nostra
Aetate, Ad Gentes, dan Lumen Gentium. Terutama Nostra Aetate yang
menunjukkan keterbukaan Gereja Vatikan terhadap kebenaran
keimanan lain. Iman lain juga dihargai sebagai jalan menuju Tuhan.
Dokumen-dokumen Konsili Vatikan II telah mengubah wajah lama
Gereja menjadi lebih baik. Jika dalam sejarahnya Gereja pernah
identik dengan inkuisisi dan arogansi kebenaran, maka kini Gereja
telah berubah wajah menjadi rendah hati dan ramah.
Perubahan itu disambut baik oleh umat-umat lain, tidak
terkecuali Muslim. Salah satu yang terpenting adalah Surat Terbuka
bertajuk A Common Word”. Dalam tradisi Islam, menulis surat
kepada pimpinan beragama lain merupakan praktik yang
dicontohkan nabi, misalnya ketika Nabi Muhammad berkirim surat
ke Kaisar Roma, Heraklius. Dalam suratnya, Nabi Muhammad
mengajak Kaisar Heraklius untuk berpegang pada kalimatun sawa,
satu ketetapan yang tidak ada perselisihan antara Islam dan Kristen,
yaitu bahwa keduanya menyembah Allah. Sejarah itu terulang di
zaman modern ini, ketika sekelompok muslim menulis surat kepada
otoritas Vatikan yang isinya juga menegaskan kalimatun sawa, hal-
hal yang sama-sama menjadi perhatian Islam dan Kristen. Sebanyak
138 cendekiawan, ulama, dan tokoh muslim dari berbagai negara
menandatangani surat yang ditujukan kepada Paus Benediktus XVI
dan pimpinan tertinggi gereja di seluruh dunia. Tokoh Indonesia
yang turut menandatangani adalah Prof. Dien Syamsuddin
(Muhammadiyah) dan Prof. Nasaruddin Umar (NU). Surat tersebut
dikirimkan tanggal 13 Oktober 2007, bertepatan dengan Idul Fitri
1428 H, dan berjudul A Common Word Between Us and You. Isinya
Erham Budi Wiranto: Kejujuran Historis Barat dan Islam
284 Jurnal Dakwah, Vol. 21, No. 2 Tahun 2020
mengajak kepada dua kalimatun sawa: Love of God dan Love of Your
Neighbour. Secara sederhana, semua agama mengajarkan
hablumminallah dan hablumminannas, relasi vertikal dan horizontal.
Dua bagian terakhir dari buku Sudibyo Markus mendorong kita
kepada agenda bersama, yaitu kemanusiaan. Agenda ini
meniscayakan kerjasama lintas iman untuk dapat berjalan bersama
dalam satu “agama” baru, yaitu “agama kemanusiaan”. Sebuah sikap
kemanusiaan universal yang disinari oleh iman dari masing-masing
agama, atau yang diistilahkan Siswanto Masruri sebagai
Humanitarianisme. Agenda ini bukanlah humanisme yang didorong
oleh antroposentrisme namun kemanusiaan yang didorong oleh
teosentrisme, sehingga menjadi meminjam istilah Kuntowijoyo-
teoantroposentris. Agenda kemanusiaan ini mensyaratkan adanya
dialog antar iman (interfaith) dan antar peradaban. Jika umat Muslim
dan Kristen serta umat agama lain dapat bahu-membahu dalam
dialog peradaban, maka kekhawatiran Huntington tentang clash of
civilizations tidak akan menjadi kenyataan. Adapun yang lebih
diharapkan menjadi kenyataan adalah dialog of civilizations.
Melihat tujuan Sudibyo Markus untuk mendorong
kemanusiaan universal, maka studi Markus tentang Barat dalam
buku ini dapat dipandang sebagai salah satu bentuk Oksidentalisme,
yaitu studi tentang Barat yang dilakukan oleh peneliti Timur.
Oksidentalisme sebagai ilmu bertujuan mencapai keseimbangan
Barat dan Timur sehingga tercipta peradaban egaliter, non-
hegemonik, dan menyejahterakan.
ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication.
ResearchGate has not been able to resolve any references for this publication.