ArticlePDF Available

Dakwah dan Objektifitas Keilmuan: Manfaat Religious Studies dan Islamic Studies dalam Dakwah Islam

Authors:

Abstract

Dakwah Islam saat ini belum mampu membawa umat Islam pada kemajuan peradaban sebagaimana pernah dicapai era Keemasan Islam. Sebaliknya, kemajuan Peradaban Barat juga terus dicurigai sebagai perusak keislaman sehingga tidak pantas menjadi sumber inspirasi. Sikap tersebut membuat peradaban Islam jalan di tempat dan lambat mencapai kemajuan Peradaban. Juru Dakwah Islam dituntut mampu mengambil sikap untuk dapat membawa umat menuju peradaban yang lebih tinggi. Dakwah yang lebih ilmiah dan terbuka menjadi tuntutan untuk zaman ini. Oleh karena itu Dakwah harus dikoneksikan dengan keilmuan yang dekat dengan ilmu dakwah, di antaranya adalah Religious Studies dan Islamic Studies. Meksipuan dua keilmuan tersebut secara historis lahir dari rahim sekular Barat, bahkan dipandang tidak ramah dengan Islam, namun jika dikaji secara serius kedua keilmuan tersebut besar manfaatnya bagi dakwah Islam. Tulisan ini menjelaskan sejarah dan pengertian Religious Studies dan Islamic Studies, kemudian menemukan manfaat dari kedua keilmuan tersebut bagi dakwah Islam.
Jurnal Dakwah, Vol. 19, No. 2 Tahun 2018 149
DAKWAH DAN OBJEKTIFITAS KEILMUAN:
Manfaat Religious Studies dan Islamic Studies dalam
Dakwah Islam
Erham Budi Wiranto & Sri Suwartini
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstrak
Dakwah Islam saat ini belum mampu membawa
umat Islam pada kemajuan peradaban
sebagaimana pernah dicapai era Keemasan Islam.
Sebaliknya, kemajuan Peradaban Barat juga terus
dicurigai sebagai perusak keislaman sehingga tidak
pantas menjadi sumber inspirasi. Sikap tersebut
membuat peradaban Islam jalan di tempat dan
lambat mencapai kemajuan Peradaban. Juru
Dakwah Islam dituntut mampu mengambil sikap
untuk dapat membawa umat menuju peradaban
yang lebih tinggi. Dakwah yang lebih ilmiah dan
terbuka menjadi tuntutan untuk zaman ini. Oleh
karena itu Dakwah harus dikoneksikan dengan
keilmuan yang dekat dengan ilmu dakwah, di
Erham Budi Wiranto & Sri Suwartini: Dakwah dan Obyektifitas Keilmuan
150 Jurnal Dakwah, Vol. 19, No. 2 Tahun 2018
antaranya adalah Religious Studies dan Islamic
Studies. Meksipuan dua keilmuan tersebut secara
historis lahir dari rahim sekular Barat, bahkan
dipandang tidak ramah dengan Islam, namun jika
dikaji secara serius kedua keilmuan tersebut besar
manfaatnya bagi dakwah Islam. Tulisan ini
menjelaskan sejarah dan pengertian Religious
Studies dan Islamic Studies, kemudian menemukan
manfaat dari kedua keilmuan tersebut bagi dakwah
Islam.
Kata Kunci: Religious Studies, Islamic Studies, Dakwah
A. Pendahuluan
Dakwah sebagai upaya mengajak manusia kepada ajaran suatu
agama memang selalu erat kaitannya dengan teologi. Adapun teologi
selalu bersifat apologetik, yakni berusaha membela agama sendiri,
bahkan dan pada saat yang sama sering berposisi secara
kontradiktori dengan keimanan lain. Sebagai sebuah karya
apologetik, dakwah sangat mementingkan pengulangan doktrin dan
dogma demi penguatan keyakinan atas iman. Hal ini karena iman
yang bersandarkan kepada wahyu adalah kebenaran tertinggi. Pada
level ini, keyakinan ilmiah yang bersandar pada obyektifitas dan
rasionalitas tetap berada di bawah kebenaran iman. Sebab, dalam
kerangka iman, rasio diposisikan inferior dibanding wahyu. Akibatnya
dapat diterka, bahwa dakwah dengan mengutamakan oyektifitas
ilmiah tidak menjadi arus gerakan utama. Dengan kata lain, ajakan
‘cerdas beragama’ masih kalah dengan ‘taat beragama’. Padahal
sebenarnya agama datang untuk mencerdaskan manusia.
Namun dengan berkembangnya teknologi modern,
meningkatnya keterdidikan manusia, dan derasnya arus informasi,
membuat kebutuhan akan premis-premis cerdas dalam beragama
menjadi penting. Ketrampilan yang dibutuhkan seorang pendakwah
bukan lagi sekedar penguasaan nash atau dalil-dalil, namun seorang
Erham Budi Wiranto & Sri Suwartini: Dakwah dan Obyektifitas Keilmuan
Jurnal Dakwah, Vol. 19, No. 2 Tahun 2018 151
da’i juga harus aware dengan kemajuan zaman dan isu-isu
kontemporer bahkan keilmuan rasional-obyektif demi mampu
menjawab pertanyaan-pertanyaan umat yang semakin
berekspekstasi tinggi. Dengan kata lain, teologi konvensional tidak
lagi cukup untuk menjawab kebutuhan umat kontemporer. Oleh
karena itu dibutuhkan teologi yang lebih kontekstual dan progresif.
Sebagai penyeru di bidang keagamaan, akan lebih elok jika
seorang pendakwah mengenal ilmu studi agama (religious studies)
kemudian studi islam (islamic studies). Sama-sama menjadikan
agama sebagai obyek kajiannya, namun religious studies dan islamic
studies memiliki cakrawala keilmuan yang lebih luas daripada sekedar
teologi dan ilmu dakwah. Pengetahuan tentang religous studies dan
islamic studies bagi pendakwah juga penting agar mereka
mengetahui posisi mereka dalam percaturan kajian keagamaan yang
lebih luas sehingga tidak mudah terjebak dalam kebiasaan
menghakimi dengan pelabelan kafir, liberal, ekstrimis, radikal, dan
sederet predikat negatif lain. Oleh karena itu, artikel ini mengulas
religious studies, islamic studies serta urgensi keilmuan tersebut bagi
pegiat dakwah.
B. Religious Studies dan Urgensinya dalam Dakwah Islam
1) Sejarah Religious Studies
Religious Studies berarti kajian tentang keagamaan. Dapat
pula diartikan sebagai studi agama-agama. Sebab obyek kajian
religious studies tidak hanya satu agama, namun semua sistem
keyakinan yang ada dalam peradaban manusia. Wilayah cakupannya
meliputi agama-agama besar yang mendunia (world religions),
agama-agama suku (indigenous religions), dan gerakan keagamaan
baru (new religious movements). Bahkan ada upaya sebagian ilmuan
untuk memperluas wilayah kajian Religious Studies hingga ke sistem-
sistem kepercayaan yang tidak memiliki Realitas Mutlak atau biasa
disebut pseudo religion (agama semu), misalnya paham-paham
filsafat yang cenderung ekstrim seperti Leninisme, Marxisme, dll.
Religious Studies merupakan ilmu yang relatif muda, jauh
lebih muda jika dibandingkan teologi yang muncul tidak lama dengan
datangnya agama. Sebagai misal, Ilmu Kalam atau teologi Islam, telah
ada sejak abad ke-2 Hijriyah atau abad ke-9 Masehi. Sedangkan
Religious Studies baru muncul pada abad ke-19, terutama berkat
Erham Budi Wiranto & Sri Suwartini: Dakwah dan Obyektifitas Keilmuan
152 Jurnal Dakwah, Vol. 19, No. 2 Tahun 2018
kontribusi ilmuan obyektif yang ingin melepaskan Kajian Agama-
Agama dari ikatan teologi Kristen.
Tidak dipungkiri bahwa hadirnya ilmuan yang obyektif
tersebut merupakan efek domino dari rasionalitas zaman renaissance
sejak Descartes dan Roger Bacon di abad 17. Namun tren baru yang
cukup fenomenal muncul pada abad 19, yaitu tren “evolusi”. Evolusi
memang telah disinggung oleh Hegel dan August Comte, namun baru
setelah Charles Darwin mempopulerkan the Origin of Species (1859)
gagasan itu membahana dan mempengaruhi hampir setiap ranah
keilmuan, termasuk studi agama.
1
Prinsip evolusi seolah menjadi
metode umum sehingga banyak disiplin ilmu bersemangat
menggunakannya.
Semangat yang besar para ilmuan abad 19 dalam
menggunakan metode evolusi tampaknya menjadi salah satu faktor
munculnya minat kajian Sejarah Agama-Agama. Salah seorang
penganut pendekatan evolusi yang meneliti agama adalah Herbert
Spencer (1820-1904) yang menerbitkan buku First Principle tahun
1862. Kemudian diikuti Andrew Lang dengan bukunya The Evolution
of the Idea of God tahun 1897. Namun pendekatan evolusi pada
akhirnya akan dimentahkan sendiri oleh Sejarah Agama-Agama. Jika
pendekatan evolusi mendudukan Kristen sebagai puncak evolusi
agama, maka para sejarawan agama kemudian membuka
kemungkinan bahwa agama besar lain juga bisa disebut puncak
evolusi agama. Pluralitas agama kemudian menjadi niscaya, dan
klaim Kristen bukan lagi kebenaran tunggal. Sejarah Agama-Agama
menjadi disiplin yang kian menarik dan semakin menantang.
Kemudian para penggiat Sejarah Agama-Agama di Barat
berbaris dalam beberapa gerakan, di antaranya:
Religionswissenchaft, Allgemeine Religionsgeschicte, Fenomenologi
Agama, dan Perbandingan Agama. Istilah yang digunakan memang
berbeda tergantung kecenderungan fokus, metode, dan daerahnya.
Namun pada prinsipnya semuanya sama-sama melakukan studi
terhadap banyak agama. Melebarnya minat orang Barat untuk
mempelajari banyak agama tentunya sebuah fakta yang unik, sebab
Barat hanya familiar dengan Kristen dan Yahudi, sehingga adanya
1
Djam’annuri, Studi Agama-Agama: Sejarah dan Pemikiran, (Yogyakarta:
Pustaka Rihlah, 2003), hlm. 13-14
Erham Budi Wiranto & Sri Suwartini: Dakwah dan Obyektifitas Keilmuan
Jurnal Dakwah, Vol. 19, No. 2 Tahun 2018 153
minat meneliti banyak agama, terutama agama-agama Timur, adalah
sebuah perkembangan sejarah keilmuan yang penting. Berikut
disampaikan beberapa tradisi keilmuan yang memiliki semangat studi
terhadap banyak agama tersebut.
Pertama, Religionswissenchaft adalah istilah Jerman untuk
Studi Agama-Agama. Friedrich Max Muller bisa disebut sebagai tokoh
utama untuk tradisi Religionswissenchaft atau the science of religions
ini. Max Muller memang bukan orang pertama yang menggunakan
istilah tersebut. Di Perancis, Prosper Leblanc lebih dahulu
menggunakan istilah la science des religions. Namun Max Muller
dianggap tokoh yang membuat istilah tersebut santer terdengar,
terutama setelah ia menyampaikan pidatonya, yang kemudian
dibukukan, dengan tajuk Introduction to the Science of Religion
(1873).
2
Pada tahun 1980an bahan-bahan untuk studi agama sudah
cukup banyak terutama karena perkembangan ilmu arkeologi dan
linguistik.
3
Sehingga Studi Agama-Agama, terutama dalam konteks
Jerman, Perancis dan Inggris mengalami perkembangan signifikan.
Islam, meskipun belum menjadi perhatian utama bagi
religionswissenchaft di awal kemunculannya, namun sudah mulai
disinggung melalui pendekatan filologi untuk meneliti Bahasa Arab.
Max Muller sendiri sebagai pembela utama disiplin baru tersebut
juga hampir tidak pernah membicarakan Islam. Karya monumental
Muller lebih banyak tentang Hindu dan India secara umum. Namun
religionswissenchaft yang sedari awal menaruh minat pada kajian
bahasa Sanskrit, Arab dan beberapa bahasa kitab suci lainnya benar-
benar telah membuka pintu bagi studi Islam di pertengahan abad ke-
19. Bahkan menurut Amin Abdullah, disiplin ilmu semacam ini telah
banyak ditekuni oleh sarjana barat.
4
Kedua, pada Abad 19 di Jerman juga diwarnai munculnya
gerbong keilmuan Allgemeine Religionsgeschichte Schule (Aliran
Sejarah Agama). Hal tersebut merupakan upaya untuk memisahkan
kajian agama dari iman gereja dan fakultas teologi. Artinya, gerakan
2
H.A. Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia, ( Yogyakarta: IAIN
Sunan Kalijaga Press,1990), hlm. 1.
3
Djam’annuri, Studi Agama-Agama: Sejarah dan Pemikiran, (Yogyakarta:
Pustaka Rihlah, 2003), hlm. 16-17.
4
M. Amin Abdullah, Islamic Studies Di Perguruan Tinggi, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2012), hlm. 33-34.
Erham Budi Wiranto & Sri Suwartini: Dakwah dan Obyektifitas Keilmuan
154 Jurnal Dakwah, Vol. 19, No. 2 Tahun 2018
ini ingin memulai langkah keilmuan yang obyektif tanpa tendensi
kekristenan. Sudah sejak lama kajian tentang agama-agama lain
dikurung dalam kerangka teologi dan dogmatika gereja sehingga
semangat mempelajari agama lain hanya untuk mencari
kekurangannya dan untuk kemudian dibid’ahkan atau dikafirkan. Hal
tersebut tak lepas dari diktum lama extra eclessia nulla salus (di luar
gereja tidak ada keselamatan). Oleh karena itu, munculnya
Allgemeine Religionsgeschicte Schule yang menghendaki kajian
terhadap agama-agama secara ilmiah adalah sebuah upaya penting di
Eropa. Gerakan ini cukup bersemangat dan berkontribusi bagi
munculnya Asosiasi Sejarah Agama Jerman (Deutsche Vereinigung für
Religionsgeschichte). Gerakan sejarawan agama di Jerman juga
berkontribusi dalam kongres internasional para sejarawan agama-
agama di Chicago tahun 1893.
Dengan munculnya gerakan tersebut, maka agama-agama
termasuk Islam diteliti secara obyektif dan semakin jauh dari
kepentingan gereja maupun kepentingan politik. Hasil utama dari era
Allgemeine Religionsgeschicte Schule ini adalah karya-karya yang
bersifat ensiklopedik. Mungkin yang paling terkenal, dan menjadi
koleksi banyak perpustakaan dunia adalah ERE (Encyclopaedia of
Religion and Ethics) yang diterbitan di Skotlandia.
Ketiga, fenomenologi agama. Sebelum terjadinya Perang
Dunia, pendekatan evolusi memang masih bertahan dalam banyak
aspek kehidupan, termasuk studi agama, dan terutama di ranah
politik. Namun dengan berkecamuknya Perang Dunia I, Perang
Pasifik, dan Perang Dunia II, maka mata dunia terbuka bahwa
pendekatan evolusi telah kelewat batas karena mengantarkan
bangsa-bangsa pada fasismenya masing-masing. Hilangnya pamor
pendekatan evolutif tersebut juga berimbas pada studi agama. Para
penggiat studi agama melihat bahwa pendekatan sejarah saja -
meskipun sudah diramu dengan filologi, antropologi, dan arkeologi
dirasa belum cukup untuk melihat agama-agama secara obyektif.
Maka Fenomenologi Agama, yang sebenarnya sudah mengintip sejak
era 1930an, mulai mengemuka.
5
Disiplin ini muncul karena semakin
mendesaknya kebutuhan untuk menemukan pendekatan yang dapat
5
Istilah Fenomenologi Agama mulai mengemuka sejak terbit karya Gerardus
Van Der Leeuw berjudul Phaneomenologie der Religion pada tahun 1933.
Erham Budi Wiranto & Sri Suwartini: Dakwah dan Obyektifitas Keilmuan
Jurnal Dakwah, Vol. 19, No. 2 Tahun 2018 155
membuka ekspresi otentik agama-agama lain agar berbicara tanpa
pengaruh nilai-nilai personal para sarjana
6
Fenomenologi Agama
terutama muncul dan berkembang di Belanda dan Skandinavia.
7
Fenomenologi Agama menggunakan metode deskripsi murni,
di mana penilaian peneliti tentang nilai dan kebenaran data agama
secara sengaja ditangguhkan (epoche).
8
Dengan Fenomenologi
Agama peneliti harus kembali pada data, bukan pemikiran. Peneliti
harus, meminjam bahasa Husserl, ‘menaruh tanda kurung untuk
semua asumsi dan kepercayaan pribadinya’ serta secara simpatik
membiarkan obyek mengarahkan diri padanya. Inilah yang disebut
epoche. Dengan cara ini justru akan terlihat hakikat obyek yang apa
adanya atau eidos.
Bagi agama-agama, termasuk Islam, pendekatan
fenomenologi agama ini tentunya dianggap lebih apresiatif. Ini
merupakan pendekatan yang lebih menghargai obyektifitas suara
sumber informasi. Hasil penelitiannya lebih menjanjikan karena
resiko bias dan ketidakjujuran lebih kecil. Salah satu sarjana Barat
yang concern dalam kajian keIslaman dengan pendekatan ini adalah
Wilfred Cantwell Smith. Smith berpendapat bahwa obyek
pemahaman ilmiah adalah keimanan yang diyakini individu Muslim
dalam konteks kehidupan nyata. Maka kajian tidak sempurna jika
hanya disandarkan pada teks-teks yang dimiliki Islam, namun harus
sesuai realitas yang dipahami oleh Muslim sendiri.
9
Pendekatan
Smith ini mengandalkan kemampuan empatik sebagaimana ciri
penelitian fenomenologi agama.
6
Richard C. Martin, Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama (Surakarta:
Muhammadiyah University Press, 2002), hlm.8
7
Perang Dunia bukan satu-satunya sebab munculnya Fenomenologi Agama,
sebab menurut A. Sudiarja, kebutuhan untuk jenis penelitian tersebut sudah
digaungkan oleh Husserl yang hidup pada rentang 1859-1938. Di zaman yang sama,
Chantepie de la Sausaye juga telah menggunakan istilah fenomenologi agama pada
tahun 1887. Lebih jauh lagi, landasan filosofis disiplin ini juga sudah disinggung oleh
Hegel dalam bukunya Phaenomenologie der Geistes pada tahun 1807. Lihat tulisan
A.Sudiarja dalam pengantar buku Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi Agama,
(Yogyakarta: Kanisius, 1995), hlm. 6.
8
Richard C. Martin, Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama (Surakarta:
Muhammadiyah University Press, 2001), hlm. 8
9
Ibid, hlm. 11
Erham Budi Wiranto & Sri Suwartini: Dakwah dan Obyektifitas Keilmuan
156 Jurnal Dakwah, Vol. 19, No. 2 Tahun 2018
Kemampuan berempati terhadap ekspresi narasumber secara
apa adanya berangkat dari verstehen. Dalam verstehen, semua
manusia mengalami kehidupan sebagai bermakna, dan makna
tersebut diungkapkan dalam pola-pola yang dapat dilihat, sehingga
sah dan otentik untuk dianalisis.
10
Pentingnya mendengar langsung
dari sumber otentik tersebut membuat beberapa universitas
terkemuka di Eropa dan Amerika memiliki kebiasaan mengundang
orang terpelajar dari kalangan Muslim, Buddhis, dan agama Timur
lainnya untuk datang sebagai narasumber dan staf pengajar di
kampus mereka. Hal tersebut berlangsung hingga saat ini. Satu hal
penting lain dari disiplin fenomenologi agama ini adalah, agama tidak
dipandang sebagai tahapan sejarah evolusi, namun sebagai aspek
hakiki dari kehidupan manusia.
11
Keempat, Religious Studies oleh banyak ilmuan juga diwadahi
dalam disiplin Ilmu Perbandingan Agama, sebuah gerakan keilmuan
yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran Max Muller. Ketika ia
menulis Introduction to the Science of Religion, ia membagi ilmu
agama menjadi dua: theoretic theology dan comparative theology.
Yang pertama menunjuk pada dogmatika dalam suatu agama
sedangkan yang kedua fokus pada bentuk-bentuk agama dalam
sejarah. Oleh karenanya, bagi kalangan ilmiah, model kedua ini yang
paling diminati. Lalu muncullah istilah the comparative study of
religion atau yang lebih disederhanakan menjadi comparative religion
dan dibahasa Indonesiakan menjadi Perbandingan Agama.
12
Dengan
kata lain, Ilmu Perbandingan Agama yang bersumber dari
comparative theology ini merupakan perpanjangan dan fokus lebih
rinci dari religionswissenchaft.
Metode perbandingan (comparative) sebenarnya sudah lazim
digunakan bahkan sejak sebelum Max Muller. Dalam tradisi gereja
dan juga karya-karya oreientalis, model perbandingan sudah ada.
10
Verstehen diperkenalkan oleh Wilhelm Dilthey (1833-1911). Semula
digunakan dalam menjembatani ilmu alam dan ilmu budaya, lalu digunakan pula
dalam fenomenologi agama, dan terakhir lebih populer digunakan dalam kajian
hermeneutika.
11
Richard C. Martin, Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama
(Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2001), hlm. 9
12
H.A. Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia, (Yogyakarta: IAIN
Sunan Kalijaga Press,1990), hlm. 2
Erham Budi Wiranto & Sri Suwartini: Dakwah dan Obyektifitas Keilmuan
Jurnal Dakwah, Vol. 19, No. 2 Tahun 2018 157
Dalam tradisi keilmuan Islam pun juga sudah dikenal model
perbandingan lewat karya Ash-Shahrastani berjudul Al-Milal wa al-
Nihal. Namun yang membedakan Muller dengan model
perbandingan lainnya adalah tujuan yang hendak dicapai. Tujuan
Perbandingan Agama bagi Muller sebenarnya bukan untuk membuat
klaim dikotomik seperti agama benar agama salah, agama wahyu
agama alam, agama langit agama bumi, dan seterusnya, namun
untuk mendudukkan semua agama secara aktual dan empiris.
13
Artinya, semua agama, baik yang masih hidup maupun yang sudah
ditinggalkan, dipandang sebagai bukti pencapaian yang tinggi tentang
hakikat manusia, maka keberadaannya harus diapresiasi, apapun
agamanya dan seberapapun pencapaiannya.
Model pendekatan Muller ini, selain berhasil mendudukkan
semua agama “setara sebagai obyek studi”, juga sekaligus membuka
lebar pintu dialog antar agama, dan memproklamirkan bahwa agama
masa depan tidak hanya dilandasi oleh doktrin Kristen, namun agama
masa depan adalah agama yang bersumber dari semua agama dan
tata nilai (ethic) yang ada.
14
Alhasil tradisi keilmuan Perbandingan
Agama merupakan gerakan akademik ke arah studi obyektif semua
agama, termasuk studi Islam.
2) Ragam Pendekatan Keilmuan Religious Studies
Dari rentang perjalanan Religous Studies dapat disimpulkan
bahwa studi agama memiliki akar keilmuan -atau meminjam istilah
Martin- disiplin tradisional, yang cukup beragam. Dapat dilihat
bagaimana religionswissenchaft pada awalnya sangat bergantung
pada filologi kemudian arkeologi, dua pendekatan yang paling lazim
dan juga digunakan kalangan orientalis. Namun kemudian
berkembang ke arah antropologi, sosiologi hingga fenomenologi dan
seterusnya. Guna memetakan dan merangkum segala keilmuan
13
Djam’annuri, Djam’annuri, Studi Agama-Agama: Sejarah dan Pemikiran,
(Yogyakarta: Pustaka Rihlah, 2003), hlm. 25-26
14
Pemikiran Muller ini termasuk agenda yang diusung dalam Parlemen
Agama-Agama sedunia dengan konggres pertamanya di Chicago tahun 1893.
Parlemen tersebut sempat meredup ketika Perang Dunia terjadi, namun bangkit
kembali di pertengahan abad 20 hingga saat ini dengan nama Global Ethic dan Hans
Kung sebagai tokoh utamanya. Tentang Global Ethic lihat Hans Kung dan Karl Josef
Kuschel, Etik Global, Sisiphus&Pustaka Pelajar: Yogyakarta, 1999.
Erham Budi Wiranto & Sri Suwartini: Dakwah dan Obyektifitas Keilmuan
158 Jurnal Dakwah, Vol. 19, No. 2 Tahun 2018
dalam religious studies tersebut, Richard C. Martin menggariskan
bahwa studi agama berangkat dari empat disiplin, yaitu: humaniora
tradisional, teologi (termasuk studi al-Kitab dan Sejarah Gereja), ilmu-
ilmu sosial (khususnya antropologi, bahasa, dan psikologi), serta studi
kawasan (terutama kawasan Timur: Timur Tengah, Asia Timur, Asia
Selatan, Asia Tenggara).
15
Senada dengan Martin, Amin Abdullah juga
merumuskan Three Ingredients of Religious studies atau
diterjemahkan olehnya sebagai Tiga Pilar Studi Agama, yaitu:
Theology, Social Sciences, Humanistic.
16
Theology, bagi Amin Abdullah, cenderung bercorak faith
based study of religion (studi agama berlandaskan iman) karena
tujuannya nurture faith (memelihara iman). Menurut Amin Abdullah,
teologi tradisional secara umum bercorak:
1) Confessional; atau bersifat studi keimanan bukan humanities
atau ilmu sosial,
2) Parochial; mengindentifikasi mana yang kafir, sesat, salah,
liberal
3) Exclusivist; tertutup, tidak membuka diri terhadap penafsiran
luar, tidak open minded tapi narrow minded.
4) Sectarian; mazhabiyah, mementingkan kelompoknya sendiri
5) Ideological: memelihara ideologi sendiri bahkan apologetic
(model berfikir right or wrong is my ‘country’)
Dengan demikian teologi bersifat subyektif atau untuk kepentingan
pribadi dan kelompok masing-masing namun dilakukan dengan
speaking in god’s name (berpendapat mengatasnamakan Tuhan),
seolah apa yang ia utarakan adalah suara Tuhan sendiri. Dengan kata
lain, menurut Amin Abdullah, teologi adalah teistic subjectivisme;
subyektifisme yang berketuhanan. Serupa dengan apa yang disebut
Martin sebagai Fideistic Subjectivism.
Social Sciences memiliki corak pikir yang sangat berbeda
dengan teologi. Dalam ilmu sosial, setidaknya pendekatan utama
yang digunakan untuk studi agama adalah sejarah (berbicara tentang
15
Richard C. Martin, Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama
(Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2001), hlm.3
16
M. Amin Abdullah, Simposium Perbandingan Agama, dokumen voice
record Amin Abdullah yang disampaikan dalam Presentasi Sebagai Keynote Speaker
di Hotel Wisma Aji, 14 November 2014.
Erham Budi Wiranto & Sri Suwartini: Dakwah dan Obyektifitas Keilmuan
Jurnal Dakwah, Vol. 19, No. 2 Tahun 2018 159
origin, changes, development), sosiologi (berbicara conflict, harmony,
competition), antopologi (membahas system of belief, symbol, ritual,
dll), dan psikologi. Cara berpikir dalam ilmu sosial ini adalah
rationalistic subjectivism atau dalam bahasa Martin, scientific
objectivism.
Humanities, menurut Amin Abdullah, berfokus pada the
formation of character and betterment of society. Oleh karena itu
humanities atau humaniora berbeda dengan ilmu sosial. Ketika
digunakan dalam studi agama, ilmu sosial difungsikan untuk
menerangkan fenomena keagamaan, sedangkan humaniora punya
fungsi yang lebih sophisticated yaitu membangun karakter dan
memperbaiki masyarakat. Sehingga tujuannya lebih bersifat moralis
dan etis.
Sebagai tambahan, Richard C. Martin memasukkan Area
Studies (Studi Kawasan) sebagai pilar ke empat dalam Studi Agama.
Meskipun Martin menyebut kawasan tersebut lebih ke dunia Timur,
namun sebenarnya studi kawasan dapat dikembangkan ke dunia
Barat.
Berdasarkan pemaparan konseptual tentang religious studies
di atas. Dapat ditarik beberapa disiplin keilmuan yang bisa digunakan
sebagai pendekatan dalam Studi Agama. Beberapa pendekatan
tersebut adalah tertuang dalam tabel berikut ini:
Pilar Religious studies
Pendekatan
Teologi
Studi Kitab/Scripture/Teks: misal Tafsir
Social Sciences
Sejarah
Sosiologi
Antropologi
Etnografi
Psikologi
Filologi dan Semantic
Feminis
Filsafat (termasuk Hermeneutic & Sistem
Approach)
Humaniora
Ilmu Kesejahteraan Masyarakat
Area Studies
Kajian Timur Tengah,
Asia Timur,
Asia Selatan,
Asia Tenggara
Erham Budi Wiranto & Sri Suwartini: Dakwah dan Obyektifitas Keilmuan
160 Jurnal Dakwah, Vol. 19, No. 2 Tahun 2018
Dll
3. Manfaat Religious Studies bagi Dakwah Islam
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa Religious
Studies memungkinkan seorang juru dakwah untuk mengenal agama
sendiri dan agama orang lain secara lebih obyektif.
Dalam Religious Studies, ketika mempelajari agama dan tradisi
lain, disyaratkan menggunakan sumber primer dan sekunder. Dengan
kata lain, juru dakwah yang belajar religious studies umumnya tidak
membangun jarak dengan otoritas dari agama lain, misalnya pemuka
agama lain maupun kitab suci agama lain. Seorang da’i yang belajar
religious studies merasa nyaman untuk bertemu, bertukar pikiran,
dan bekerja sama dengan para pastor, pendeta, rabi, bhikkhu,
pandita, haksu, sense, dan para pemuka agama lainnya. Begitu pula
dengan kitab suci, para da’i tidak akan alergi untuk membuka dan
membaca Injil, Weda, Tripitaka, Baghavad Gita, Tao The Tjing, Kojiki-
Nihongi, dan berbagai kitab lainnya.
Dengan kemampuan interaksi pada sumber-sumber primer
dan sekunder agama lain, maka seorang juru dakwah justru semakin
memiliki otoritas untuk menegaskan keuggulan kitab suci Al-qur’an
sekaligus mengapresiasi kalimatun sawa atau nilai-nilai luhur yang
sama-sama dimiliki oleh Islam dan agama-agama lain. Ceramah yang
dilakukan para da’i berwawasan religious studies lebih menyejukkan
dan tidak berupa provokasi maupun ujaran kebencian pada
kelompok lain, hal ini karena religious studies membiasakan cara-cara
logis dan sistematis dalam memaparkan hasil analisis. Setidaknya
terdapat tiga sikap positif yang merupakan buah dari penguasaan
religious studies, yakni 1) sikap simpatik pada kelompok lain, 2) sikap
kritis pada semua agama termasuk agama sendiri, dan 3) sikap
obyektif, yaitu mengungkap “apa adanya” bukan “bagaimana
seharusnya”. Ceramah seorang da’i yang memahami religious studies
bukan berbentuk dikte-dikte moralitas, namun pengayaan wawasan
dan perspektif agar umat mampu bersikap bijak secara mandiri.
C. Islamic Studies dan Urgensinya bagi Dakwah Islam
1) Sejarah Islamic Studies
Erham Budi Wiranto & Sri Suwartini: Dakwah dan Obyektifitas Keilmuan
Jurnal Dakwah, Vol. 19, No. 2 Tahun 2018 161
Islamic Studies (Studi Islam) adalah nama baru untuk gerakan
keilmuan lama. Sebagai sebuah disiplin ilmu, Studi Islam bukan
sekedar kegiatan orang-orang untuk mempelajari Islam yang
tentunya dapat dilakukan oleh siapapun dan dimanapun. Namun
Studi Islam yang dimaksud dalam tulisan ini adalah gerakan
intelektual abad ke-20 yang akar gerakannya sudah muncul sejak
abad ke-14 dalam wujud Orientalisme. Dengan demikian, Studi Islam
ini pada umumnya merupakan gerakan intelektualitas Barat namun
kemudian hasil kajiannya menjadi sumber berharga bagi kaum
intelektual manapun pada era saat ini, baik untuk memperluas
cakrawala keislaman maupun untuk kritik peradaban. Jika banyak
pihak menganggap bahwa karya-karya intelektualitas Barat adalah
“musuh” bagi dakwah Islam, maka penulis justru sebaliknya, melihat
bahwa karya-karya intelektual Barat tentang Islam justru dapat
berguna bagi dakwah Islam. Bahkan merupakan sebuah tanggung
jawab bagi para juru dakwah untuk mempelajari dan kemudian
meluruskan kekeliruan yang diyakini banyak terjadi pada karya-karya
intelektual Barat.
Menengok rentang panjang sejarah ilmu di Barat, pantas
untuk dipertanyakan, sebenarnya sejak kapan Studi Islam mulai
diminati oleh intelektual Barat? Tebakan awal paling mudah
dialamatkan pada babak penting relasi Islam dan Barat yang paling
monumental, yaitu Perang Salib. Namun apakah aktifitas dalam
perang salib tersebut bisa disebut sebagai kegiatan ilmiah? Perang
yang berkecamuk tidak akan disebut sebagai sebuah pengkajian
ilmiah. Namun sebenarnya pada abad yang sama tengah berlangsung
era Filsafat Skolastik yang ditandai dengan transferensi keilmuan dari
dunia Islam ke Eropa. Bahkan, menurut Hassan Hanafi, tradisi Islam
diboyong ke Eropa ketika belum terjadi pemisahan yang jelas antara
ilmu/sains dengan agama dan filsafat.
17
Dengan kata lain, studi Islam
pada masa filsafat skolastik yang juga sezaman dengan perang Salib
ini berlangsung cukup intensif.
Transfer keilmuan dari Dunia Islam ke Barat tidak dapat
dimaknai sebagai kegandrungan Barat pada pemikiran dan tradisi
Islam, namun lebih karena adanya kesadaran bahwa apa yang
17
Hassan Hanafi, Oksidentalisme; Sikap KitaTerhadap Barat, (Jakarta:
Penerbit Paramadina, 200), hlm. 243
Erham Budi Wiranto & Sri Suwartini: Dakwah dan Obyektifitas Keilmuan
162 Jurnal Dakwah, Vol. 19, No. 2 Tahun 2018
dipelajari oleh Muslim sebenarnya juga merupakan warisan Barat
sendiri, terutama tentang filsafatnya. Oleh karena itu wajar jika para
ilmuan Barat di era Skolastik merasa berhak membawa pulang
khazanah filsafat Barat tersebut. Bernard Lewis menyatakan bahwa
ada dua dorongan utama orang Eropa di Abad Pertengahan
melakukan studi Islam, yaitu: untuk belajar warisan klasik (Yunani)
yang terpelihara dalam terjemahan dan komentar berbahasa Arab,
dan untuk menyokong polemik orang Kristen terpelajar dalam
melawan Islam.
18
Filsafat Skolastik yang bergulir dari abad 9 hingga 14 memang
telah membawa iklim rasionalitas dalam peradaban Barat abad
pertengahan. Meskipun pada saat itu filsafat Skolastik bisa menjadi
pendukung teologi Gereja Roma, namun pada akhirnya filsafat
Skolastik runtuh dan digantikan dengan filsafat yang antroposentris,
positivistik, empiris, rasional, materialis, dan akhirnya sekular. Sejak
itulah apa yang dinamakan abad pencerahan (aufklarung) atau abad
kelahiran kembali (renaissance) terjadi. Di Era Renaisans, Studi Islam
tidak menjadi minat penting sebab Eropa sibuk dengan euforia
rasionalitas dan kemenangan atas gereja.
19
Di dunia Islam sendiri,
negeri-negeri yang awalnya kaya dengan pemikir dan filsuf berganti
dengan kecenderungan baru ke arah tasawuf/sufisme, terutama
setelah Baghdad ditaklukkan Mongol (abad 14) dan daerah
kekuasaannya tercerai berai. Artinya ini adalah zaman di mana Barat
dan Timur sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.
Babak baru kajian terhadap Islam digerakkan kembali seiring
kemajuan Eropa dalam teknologi pelayaran, navigasi, dan
persenjataan. Mereka menjelajah samudra dengan semangat gold,
glory, gospel (ekonomi, politik, dan agama). Penjelajahan yang
berhasil menemukan ‘dunia baru’ itu melahirkan apa yang disebut
Kolonialisme. Pada era itu orang melihat Timur sebagai dunia baru
yang menjanjikan, bahkan Disraeli dalam novelnya “Tancred”
18
Dikutip oleh Richard Martin, Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama
terj. (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2002), hlm.13.
19
Gereja sudah dilemahkan oleh gerakan protestan sejak abad 15, teurtama
dari Eropa bagian utara. Sederet pengerak protestan seperti Martin Luther, Calvin,
Zwingli ikut melemahkan wibawa Gereja Roma saat Eropa memasuki zaman
renaissance. Hassan Hanafi, hlm. 278-279.
Erham Budi Wiranto & Sri Suwartini: Dakwah dan Obyektifitas Keilmuan
Jurnal Dakwah, Vol. 19, No. 2 Tahun 2018 163
menyebut Timur sebagai karir.
20
Untuk memenangkan karir di Timur,
tidak cukup hanya mengandalkan senjata, namun juga perlu
pengetahuan yang baik tentang Timur. Kajian pun dilakukan,
Orientalisme sebagai pengkajian serius tentang Islam dan dunia
Timur pun lahir.
“Siapa saja (orang Barat) yang mengajar, menulis, dan
melakukan penyelidikan tentang dunia Timur adalah seorang
orientalis, dan obyek kegiatannya itu disebut orientalisme.” Demikian
penjelasan definitif dalam magnum opus Edward Said bertajuk
Orientalism.
21
Adapun yang dimaksud Timur oleh Edward Said,
menurut Richard Martin, secara spesifik adalah dunia Islam.
22
Dengan
demikian studi intensif tentang Islam sebetulnya mulai dilakukan
kembali sejak bergulirnya gelombang orientalisme. Orientalisme yang
dikaji oleh Said adalah gerakan keilmuan yang berseting abad 18
akhir hingga abad 20.
23
Penting pula untuk dicatat bahwa Edward
Said sendiri mengakui bahwa orientalisme adalah the tool of
colonialism”, piranti yang digunakan orang Barat untuk meratakan
jalan bagi menggelindingnya roda penjajahan di Timur. Studi Islam
yang dilakukan juga sebagai sarana agar pemerintah kolonial semakin
lihai mengelola masyarakat muslim yang terjajah. Snouck Hurgronje,
orientalis Belanda yang lama menetap di tanah Sumatera, bisa
dijadikan contoh untuk hal ini. Dia adalah orientalis yang memberikan
rekomendasi kepada pemerintah kolonial bahwa gerakan Islam
politik harus ditumpas, sementara Islam tradisi dan Islam sosial harus
dimanjakan. Simpulan yang dihasilkan Snouck adalah hasil studi Islam
yang dia lakukan bertahun-tahun. Tentunya studi Islam yang
dilakukan Snouck adalah untuk kepentingan kolonialisme.
Meskipun telah layak disebut sebagai studi Islam, sebenarnya
orientalisme -terutama tahap awal- belum dapat disebut sebagai
studi yang objektif tentang Islam. Hal tersebut karena bias yang
menyelimuti hasil kajian orientalis masih terlalu tebal. Richard C.
20
Edward W. Said, Orientalisme, (Bandung: Pustaka, 2001), hlm. 6.
21
Ibid, hlm. 2.
22
Richard C. Martin, Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama
(Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2002), hlm. 17.
23
Tokoh-tokoh orientalis yang banyak dikaji Edward Said seperti Silvestre de
Sacy dan Ernest Renan lahir pertengahan tahun 1700an dan menapaki puncak karir
1800an awal.
Erham Budi Wiranto & Sri Suwartini: Dakwah dan Obyektifitas Keilmuan
164 Jurnal Dakwah, Vol. 19, No. 2 Tahun 2018
Martin menyatakan bahwa para pengkaji Islam yang berada dalam
tradisi orientalisme semakin mendapat serangan karena
provinsialisme akademik dan distorsi citra masyarakat Islam yang
mereka ciptakan.
24
Dalam buku Edward Said dapat ditemukan bahwa
ketidakjujuran intelektual, agenda politik, ekonomi, dan agama,
hingga arogansi atas otoritas keilmuan menjadi alasan kurang
diterimanya karya orientalis sebagai sebuah kajian akademik yang
objektif. Dengan demikian, studi Islam oleh para orientalis masih
menyisakan pertanyaan tentang akurasi data dan objektifitas analisis.
Abad 19 dan 20 obyektifitas keilmuan semakin tampak karena
berkembangnya filsafat modern dan melemahnya kolonialisme (dan
berakhir pada Perang Duna II). Hal ini berimbas pula pada munculnya
religious studies yang netral dan obyektif yang kemudian juga
berdampak pada pengkajian Islam yang lebih obyektif pula,
menggantikan kajian berbalut bias pada masa Orientalisme.
Muncul para penggiat Studi Islam dari Barat yang dapat
dikelompokan, misalnya di barisan Sejarah Agama-Agama, tokoh-
tokoh tersebut di antaranya Ignaz Goldziher (1850-1921), E.A.
Wastermark (1862-1939), Louis Masignon (1883-1962), Tor Andrae
(1885-1947) dan Henry Corbin (1903-1978). Di barisan Perbandingan
Agama, muncul sarjana Barat yang mengkaji Islam dengan metode
komparasi. Sebut saja misalnya Julius Wellhausen (1844-1918), W.
Robertson Smith (1846-1894), dan A.J. Wensinck (1882-1939). Masih
banyak lagi para sarjana Barat pengkaji timur yang bermunculan di
bawah payung religious studies, seperti W. Montgomery Watt,
Clifford Geertz dan sebagainya.
25
Studi Islam yang mereka lakukan
menerapkan berbagai pendekatan keilmuan Barat. Pada aspek
aktornya, mereka adalah outsider karena bukan sarjana muslim.
2) Respon Intelektual Muslim terhadap Islamic Studies oleh
Barat
Studi Islam justru menyisakan pekerjaan rumah tentang
bagaimana insider melakukan studi Islam. Insider dituntut melakukan
24
Richard C. Martin, Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama
(Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2001), hlm.4.
25
Richard C. Martin, Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama
(Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2001), hlm. vii-viii
Erham Budi Wiranto & Sri Suwartini: Dakwah dan Obyektifitas Keilmuan
Jurnal Dakwah, Vol. 19, No. 2 Tahun 2018 165
studi terhadap agamanya sendiri namun ditantang menggunakan
pendekatan keilmuan Islamic Studies ala Barat dan religious studies
yang semakin kompleks. Di sisi lain, di kalangan masyarakat Muslim
masih ada yang menyangsikan keilmuan Barat tersebut. Tidak lain
karena keilmuan Barat yang kini menjadi pendekatan dalam religious
studies dan Islamic Studies tersebut tetaplah disiplin ilmu yang lahir
dari rahim keilmuan Barat modern yang sekuler. Bagi sebagian
muslim, berat rasanya melakukan studi terhadap agama yang suci
dengan alat analisis berupa ilmu yang identik dengan sekularisme.
Oleh karena itu, respon yang muncul di kalangan Muslim pun
beragam. Dari yang menolak keilmuan Barat hingga yang menerima
setengah hati, sampai yang secara total menggunakannya.
Gerakan Islamisasi Pengetahuan mungkin bisa dipandang
sebagai upaya yang cukup positif dalam merespon tradisi keilmuan
Barat bagi pengkajian Islam. Islamisasi Pengetahuan dengan berbagai
variasi istilahnya secara umum berusaha menerapkan keilmuan Barat
namun di saat yang sama juga melakukan kritik dan filterisasi. Istilah
Islamisasi pengetahuan identik dengan Ismail Raji Al-Faruqi, direktur
Institute for International Islamic Thought. Naquib Al-Attas
menggunakan istilah dewesternisasi pengetahuan, Armahedi Mahzar
menggunakan istilah integralisme, dan Mukti Ali menggunakan istilah
scientific cum doctrinaire. Gerakan keilmuan tersebut adalah model
upaya agar studi Islam tidak sempit, namun mulai membuka diri
untuk menggunakan pendekatan keilmuan lain yang datang dari
Barat.
Namun upaya ini belum bersifat paripurna. Islamisasi
pengetahuan masih bersifat reaktif, belum benar-benar kreatif.
Sebab Islamisasi pengetahuan berpola “konteks ke teks”. Keilmuan
Barat sebagai konteks dan Al-Qur’an-Hadits sebagai teks. Ilmuan
muslim terkesan menjadi tukang stempel pengetahuan, apakah ilmu
itu “halal” untuk umat atau tidak. Kalau belum halal, maka harus
“diIslamkan” terlebih dahulu.
Menanggapi kegelisahan tersebut, Kuntowijoyo menyarankan
sebuah terobosan yang ia sebut sebagai Pengilmuan Islam. Posisi
terobosan ini sebenarnya bukan sebagai antitesa dari Islamisai Ilmu
Pengetahuan, namun lebih sebagai kelanjutannya. Dalam pandangan
Kuntowijoyo, Al-Qur’an dan Hadits adalah sumber pengetahuan yang
Erham Budi Wiranto & Sri Suwartini: Dakwah dan Obyektifitas Keilmuan
166 Jurnal Dakwah, Vol. 19, No. 2 Tahun 2018
darinya segala keilmuan bisa dikembangkan. Oleh karena itu, pola
Pengilmuan Islam adalah “dari Teks ke konteks”.
Teks Al-Qur’an perlu diperas sari patinya kemudian dijelaskan
secara ilmiah dan teoretis lalu dipraktikkan untuk memberi maslahat
bagi semua orang termasuk non-muslim, sehingga saripati Islam yang
sudah diilmiahkan tersebut dapat diterima secara wajar dan menjadi
rahmatan li al-‘alamin. Proses pengilmiahan saripati teks tersebut
disebut upaya integralisasi sedangkan upaya pendaratannya agar
menjadi maslahat bagi semua umat disebut obyektifikasi. Dalam
integralisasi, Pengilmuan Islam memungkinkan mengkolaborasikan
saripati teks dengan keilmuan lain yang sudah ada, termasuk segala
cabang ilmu yang digunakan dalam religious studies. Dengan cara
Pengilmuan Islam ini, studi Islam mencapai dua tujuan penting, yaitu
anti-sekularisasi karena keilmuan yang muncul tetap bersumber dari
saripati Qur’an, dan anti dominasi karena produk keilmuannya
diterima secara wajar oleh semua umat.
3) Manfaat Islamic Studies bagi Dakwah Islam
Islamic Studies terutama pada fase awal atau Orientalisme memang
menghasilkan banyak bias, namun banyak pula kritik tajam yang
semestinya menjadi bahan introspeksi bagi peradaban Islam. Ilmuan
muslim berhasil mencerna kritik-kritik tersebut pada umumnya
segera bangkit dan membangkitkan umat Islam dari keterpurukannya
yang sudah berlangsung berabad-abad, itulah gerakan revivalisme
Islam yang telah melahirkan banyak tokoh pembaharu. Dengan
demikian, Islamic Studies oleh Barat sebetulnya cukup mendorong
penggiat dakwah dalam membangkitkan semangat umat Islam agar
meraih masa keemasannya kembali. Dengan mempelajari Islamic
Studies dan menghargai pengkaji Islam dari dunia Barat, maka akan
membantu Muslim dalam melakukan autokritik terhadap kejumudan
peradaban Islam. Hal ini akan mendorong muslim untuk segera
bangkit.
Para juru dakwah semestinya tidak memposisikan intelektual
Barat yang mengkaji Islam sebagai musuh yang membenci Islam. Cara
pandang semacam itu telah cukup kadaluwarsa karena orientalisme
yang bias sudah digulung sejak karya Edward Said muncul. Kini dialog
keilmuan juga lebih terbuka, jujur, dan apresiatif. Bahkan tidak sedikit
Erham Budi Wiranto & Sri Suwartini: Dakwah dan Obyektifitas Keilmuan
Jurnal Dakwah, Vol. 19, No. 2 Tahun 2018 167
muslim Timur yang menjadi guru besar dan peneliti dihormati di
Barat. Artinya, ilmu semakin obyektif, termasuk dalam mengkaji
Islam, Sehingga kecurigaan berlebihan terhadap Barat yang dicitrakan
anti Islam perlu dihindari.
Dengan memahami Islamic Studies, juru dakwah justru akan
keluar dari tempurung keilmuannya sendiri. Ia akan semakin terbuka
baik untuk menerima kritik maupun untuk melakukan pengkajian
yang lebih mendalam tentang Islam dan masyarakat muslim.
Walhasil, dakwah yang ia sampaikan akan berorientasi pada
kemajuan, mendorong umat untuk menguasai ilmu dan teknologi,
disamping menguatkan keimanan.
D. Kesimpulan
Para penggiat dakwah Islam masih memiliki kendala dalam dakwah
yang efektif bagi kemajuan umat. Padahal kegagalan dakwah adalah
biang kemunduran umat. Dakwah yang provokatif dan
menumbuhkan kebencian akan melahirkan umat dengan semangat
permusuhan, sedangkan dakwah yang inspiratif, akomodatif, modern
dan berkeilmuan akan melahirkan umat yang maju dan berperadaban
tinggi. Untuk dapat melahirkan umat yang berperadaban Islam yang
maju, seorang juru dakwah perlu membuka cakrawal yang seluas-
luasnya. Tidak hanya mempelajari Islam dari sumber internalnya
namun harus mau dan mampu mengkaji Islam dari sumber eksternal.
Religious Studies dan Islamic Studies sebagai gerakan keilmuan dan
keagamaan yang datang dari Barat semestinya menjadi sumber
pengayaan, bukan malah dicurigai dan dimusuhi.
Religious Studies dapat membantu juru dakwah menegaskan
keunggulan Islam dengan metode komparatif setelah dengan
obyektif mengenal agama-agama lain. Sedangkankan Islamic Studies
membantu juru dakwah melakukan autokritik atas Islam dan
memotivasi para juru dakwah untuk mendorong umat menuju
kemajuan peradaban.
Erham Budi Wiranto & Sri Suwartini: Dakwah dan Obyektifitas Keilmuan
168 Jurnal Dakwah, Vol. 19, No. 2 Tahun 2018
Daftar Pustaka
Djam’annuri, Studi Agama-Agama: Sejarah dan Pemikiran,
Yogyakarta: Pustaka Rihlah, 2003.
H.A. Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia, Yogyakarta:
IAIN Sunan Kalijaga Press,1990.
Hassan Hanafi, Oksidentalisme; Sikap Kita Terhadap Barat, Jakarta:
Penerbit Paramadina, 2000.
Martin, Richard C., Approaches To Islam In Religious Studies, USA:
The University Of Arizona Press, 1985.
___, Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama terj. Surakarta:
Muhammadiyah University Press, 2002.
M. Amin Abdullah, Islamic Studies Di Perguruan Tinggi, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2012.
____, Simposium Studi Agama oleh Asosiasi Studi Agama Indonesia
(ASAI), Yogayakarta, 14 November 2014.
Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi Agama, Yogyakarta: Kanisius,
1995.
Said, Edward W., Orientalisme, Bandung: Pustaka, 2001.
ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication.
Book
at Soton: BP42 MAR - more on theoretical approaches; review essay at end might be interesting
  • H A Ali
H.A. Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia, Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press,1990.