ArticlePDF Available

Penyeberangan metadata: Encoded Archival Description, Metadata Object Description Schema, dan Dublin Core di persimpangan

Authors:

Abstract

Metadata standards are used for supporting works in resource identification and description, retrieving information, managing information resources, managing intellectual property rights, interoperability and information governance. Implemented metadata are applied by using metadata standard and support interoperability for instance archival and library institutions. Various metadata standards such as Encoded Archival Description, Metadata Object Description Schema and Dublin Core should support this function. This article describes interoperability among the three by using metadata crosswalks. Metadata crosswalks are used to show ability of shared-metadata and exchange to one another. The result of this simple research can be used for material consideration for metadata standards analyzing and metadata interoperability.
Gani Nur Pramudyo / Penyeberangan Metadata: Enconded Archival | 121
Description, Metadata Object Description Schema, dan Dublin Core di Persimpangan
PENYEBERANGAN METADATA:
ENCODED ARCHIVAL DESCRIPTION, METADATA OBJECT DESCRIPTION
SCHEMA, DAN DUBLIN CORE DI PERSIMPANGAN
METADATA CROSSWALK:
ENCODED ARCHIVAL DESCRIPTION, METADATA OBJECT DESCRIPTION
SCHEMA, AND DUBLIN CORE AT THE CROSSROAD
Gani Nur Pramudyo
FIB Universitas Indonesia
Jl. Prof. Dr. Selo Soemardjan, Kampus UI, Depok, Jawa Barat
Email: gani_nurp@yahoo.com
Abstract
Metadata standards are used for supporting works in resource identification and description,
retrieving information, managing information resources, managing intellectual property rights,
interoperability and information governance. Implemented metadata are applied by using
metadata standard and support interoperability for instance archival and library institutions.
Various metadata standards such as Encoded Archival Description, Metadata Object
Description Schema and Dublin Core should support this function. This article describes
interoperability among the three by using metadata crosswalks. Metadata crosswalks are used to
show ability of shared-metadata and exchange to one another. The result of this simple research
can be used for material consideration for metadata standards analyzing and metadata
interoperability.
Keywords: Metadata Corsswalks, Metadata, Enconded Archival Description, Metadata Object
Description Schema, Dublin Core
Abstrak
Standar metadata mempermudah pekerjaan deskripsi dan identifikasi sumber, temu kembali
informasi, manajemen sumber informasi, manajemen hak kekayaan intelektual, interoperabilitas,
dan tatakelola informasi. Dublin Core adalah contoh metadata standar yang digunakan untuk
keperluan interoperabilitas dan harvesting. Penting memahami metadata yang diterapkan suatu
lembaga untuk menggunakan metadata standar dan mendukung interoperabilitas, tak terkecuali
lembaga kearsipan dan perpustakaan. Standar metadata yang diterapkan seperti EAD dan MODS
harus mendukung fungsi ini. Artikel ini menguraikan interoperabilitas EAD dan MODS ke
Dublin Core menggunakan metode metadata crosswalks. “Penyeberangan Metadata Standar”
digunakan untuk memperlihatkan kemampuan setiap metadata sehingga dapat saling berbagi dan
bertukar informasi. Standar metadata dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan menganalisa
metadata, memutuskan penerapan metadata standar, dan interoperabilitas metadata.
Kata Kunci: Metadata Corsswalks, Metadata, Enconded Archival Description, Metadata
Object Description Schema, Dublin Core
122 | Jurnal Kearsipan Volume 14 Nomor 2, Desember 2019
PENDAHULUAN
Metadata digunakan untuk
mengkatalogkan sumber informasi yang
berbentuk fisik dan digital (Haynes, 2018).
Metadata melekat pada sistem informasi dan
perangkat lunak, serta memiliki beragam
bentuk. Individu mendengarkan musik
melalui Spotify, mengunggah foto di
Instagram, menempatkan video di Youtube,
mengelola keuangan melalui Quicken, dan
menyimpan kontak di perangkat mobile.
Semua konten ini membawa metadata-
informasi tentang pencipta item, nama,
topik, fitur, subscribe, dan like. Metadata
adalah kunci fungsionalitas sistem yang
memegang konten, memungkinkan
pengguna menemukan item yang menarik,
mencatat informasi penting tentang
pengguna, dan membagikan informasi itu
dengan orang lain (NISO, 2017: 12).
Metadata berperan penting pada berbagai
aspek, seperti deskripsi dan identifikasi
sumber, temu kembali informasi,
manajemen sumber informasi, manajemen
hak kekayaan intelektual, interoperabilitas,
dan tata kelola informasi (Haynes, 2018).
Beberapa contoh skema metadata
untuk penggunaan secara luas seperti
Schema.org, OWL, Dublin Core, FOAF,
ONIX, dan Exif; penggunaan warisan
budaya seperti MARC, BIBFRAME,
MODS, CIDOC CRM, CDWA, VRA Core
dan EAD; dan penggunaan lain seperti DDI,
PREMIS, TEI dan MEIz DDI, PREMIS,
TEI dan MEI (NISO, 2017: 19-37).
Beragamnya skema metadata ini memiliki
tujuan tertentu dan pada dasarnya dapat
saling ditelusur, bertukar, ditransfer,
digunakan, dan dipahami institusi untuk
tujuan yang berbeda dengan cara
mewujudkan interoperabilitas (Hodge, 2005:
39).
Interoperabilitas adalah kemampuan
beberapa sistem dengan platform perangkat
keras dan perangkat lunak yang berbeda,
struktur data, dan antarmuka untuk bertukar
data dengan kehilangan konten dan
fungsionalitas minimal (NISO, 2004: 2).
Interoperabilitas bertujuan untuk berbagi
dan bertukar data, mengintegrasikan
informasi agar bisa diakses secara universal
oleh institusi-institusi yang tergabung di
dalamnya. Secara spesifik Hodge (2005: 39)
menyebutkan metode yang dapat digunakan
untuk mendukung interoperabilitas metadata
seperti metadata frameworks, metadata
crosswalks, application profiles, dan
metadata registries.
Metadata crosswalks sejauh ini
merupakan metode yang paling umum
digunakan untuk mewujudkan
interoperabilitas antara dan di antara skema
metadata yang berbeda. Dia merupakan
proses pemetaan metadata perlu
memperhatikan beberapa hal seperti skema
metadata memiliki tujuan tertentu, skema
metadata awal, dan skema metadata target
mungkin berbeda dalam deskripsi, properti,
dan nilai (Zeng dan Chan, 2006: 7).
Pemetaan metadata yang efektif adalah
Gani Nur Pramudyo / Penyeberangan Metadata: Enconded Archival | 123
Description, Metadata Object Description Schema, dan Dublin Core di Persimpangan
memastikan bahwa metadata dalam setiap
skema menggambarkan entitas yang
diharapkan (Foulonneau dan Riley, 2008:
158). Dia merupakan suatu teknik yang
digunakan untuk memetakan satu skema
metadata ke skema metadata lainnya dan
bertujuan untuk menjembatani skema
metadata yang berbeda sehingga apabila
institusi memiliki skema metadata berbeda
dapat saling berbagi dan bertukar data tanpa
mengurangi nilai dari skema metadata yang
digunakan.
Di dalam pengembangan tradisi arsip
terdapat standar metadata seperti Encoded
Archival Description (Australian Society of
Archivist, 2008) sementara di perpustakaan
terdapat MODS merupakan versi turunan
MARC digunakan dalam deskripsi
bibliografis (Haynes, 2018). Kedua standar
metadata tersebut telah mendukung
deskripsi standar setiap lembaga. Adanya
keragaman skema metadata, mendorong
upaya untuk interoperabilitas-metadata
antar-institusi yang beragam dapat saling
bertukar dan berbagi satu sama lain. Secara
spesifik, Caplan (2003: 76) menyebutkan
Dublin Core secara luas dapat digunakan
untuk deskripsi sumber dan temu kembali di
sistem pencarian web, sebagai standar
minimum untuk interoperabilitas metadata
menggunakan OAI-PMH. Dublin Core ini
menjembatani keseragaman antar metadata
yang dimiliki setiap institusi yang
menerapkan dan menggunakan metadata
yang beragam. Artikel ini berupaya
menguraikan metadata mapping EAD dan
MODS ke Dublin Core, menunjukkan tujuan
metadata untuk interoperabilitas
menggunakan metode metadata crosswalks.
METODE PENELITIAN
Artikel ini menggunakan pendekatan
kualitatif dengan kajian kepustakaan. Kajian
kepustakaan adalah proses seleksi dokumen
dan penelitian relevan yang tersedia, baik
terbit maupun tidak diterbitkan, berdasarkan
pertanyaaan penelitian, topik, fenomena
yang menarik untuk memenuhi tujuan
tertentu dengan cara mengidentifikasi,
mengevaluasi, dan menginterpretasi
penelitian yang dipilih (Hart, 1998;
Kitchenham, 2004). Sumber relevan
dikumpulkan, diolah, dipilih, dan digunakan
untuk menganalisis dan mendeskripsikan
metadata crosswalks dari skema metadata
sumber (EAD dan MODS) ke skema
metadata target (Dublin Core) ke Dublin
Core. Adapun metode crosswalks ini untuk
lebih memahami kemampuan
interoperabilitas skema metadata masing-
masing skema serta dapat digunakan sebagai
pertimbangan dalam penggunaan dan
penerapan skema metadata standar.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Metadata
Metadata is often called data about
data (IFLA, 2005; Buckland, 2017).
Definisi umum metadata merujuk pada,
“data tentang data” atau “informasi tentang
informasi” (NISO, 2004). Metadata adalah
124 | Jurnal Kearsipan Volume 14 Nomor 2, Desember 2019
informasi terstruktur tentang sumber
informasi dari berbagai jenis media atau
format (Caplan, 2003: 3). Metadata adalah
entitas umum yang mendeskripsikan
dokumen, arsip, dan data (Buckland, 2017).
Metadata tidak hanya informasi tentang
arsip tetapi lebih pada kelompok dari arsip,
individu, dan organisasi, serta fungsi dan
proses bisnis (Australian Society of
Archivist, 2008: 485). Metadata pada
umumnya mencakup semua objek informasi,
terlepas dari bentuk fisik atau intelek,
memiliki tiga bagian utama yaitu konten,
konteks, dan struktur yang tercermin melalui
metadata (Baca, 2008: 2). Metadata
merupakan entitas umum yang mewakili
objek informasi (dokumen, arsip, data, yang
berbentuk fisik/ intelek) sesuai dengan
konten, konteks, dan struktur.
Contoh penggunaan metadata seperti
saat pemprosesan dokumen word. Ketika
menggunakan aplikasi word untuk membuat
dokumen, secara otomatis dokumen yang
tersimpan membuat metadata secara
otomatis. Metadata ini dapat dilihat pada
dokumen yang tersimpan dengan melihat
properti dokumen sehinga memunculkan
metadata yang berisi 5 tab menu mulai dari
general (element title, type, location, size,
hingga attributes); summary dan statistic;
contents dan custom. Elemen ini
memastikan konsistensi dan digunakan
dalam temu kembali dokumen. Berikutnya
adalah katalog perpustakaan, metadata
digunakan untuk mengelola sumber dan
temu kembali item yang spesifik (Haynes,
2018: 2728). Sarana bantu temu kembali
juga merupakan contoh metadata di lembaga
arsip. Sarana bantu temu kembali berisi
deskripsi informasi yang ditangkap saat
proses deskripsi arsip, seperti agensi, series,
bagaimana arsip diciptakan dan terkait
dengan arsip lain (Australian Society of
Archivist, 2008: 379380). Sarana bantu
temu kembali digunakan sebagai petunjuk
untuk mengakses koleksi, hal ini mirip
katalog di perpustakaan. Metadata pada
dasarnya bertujuan sebagai deskripsi dan
identifikasi sumber; temu kembali
informasi; manajemen sumber informasi;
manajemen hak kekayaan intelektual;
mendukung e-commerce dan e-government
melalui interoperabilitas; dan tatakelola
informasi (Haynes, 2018: 15-16).
Skema Metadata
Skema metadata merupakan kumpulan
elemen dan aturan metadata yang
penggunaannya telah ditentukan untuk
tujuan tertentu. Skema memiliki arti lain
dalam kaitannya dengan teknologi database
komputer sebagai organisasi/ struktur formal
database, dan makna khusus lainnya terkait
dengan XML (Caplan, 2003: 5). Skema
metadata adalah sebuah konsep yang
mengandung spesifikasi; dan kalau
disepekati untuk ditaati dan diterapkan,
maka dia menjadi standar metadata. Skema
metadata dengan demikian adalah konsep
yang digunakan untuk membuat metadata,
Gani Nur Pramudyo / Penyeberangan Metadata: Enconded Archival | 125
Description, Metadata Object Description Schema, dan Dublin Core di Persimpangan
atau panduan untuk membuat metadata,
yang lalu disepakati untuk menjadi standar
metadata (Pendit, 2009: 85-86). Skema
merujuk pada kumpulan elemen metadata
terstruktur dan aturan konten di dalamnya,
apabila skema ini disepakati menjadi standar
metadata.
Standar metadata dikembangkan di
berbagai lingkungan pengguna dan ranah
yang berbeda. Beberapa contoh standar
metadata untuk pendeskripsian sumber
seperti ONIX-digunakan di bidang
penerbitan; Exif- struktur tag untuk
metadata tertanam dalam file gambar digital;
MARC dan MODS-digunakan untuk
deskripsi bibliografis perpustakaan; CIDOC
CRM-dikembangankan untuk keperluan
dokumentasi museum dan warisan budaya;
CDWA dan VRA Core-digunakan untuk
kerangka konseptual karya seni; EAD-
digunakan untuk keperluan arsip; DDI
menggambarkan data dalam ilmu sosial,
perilaku, dan ekonomi; PREMIS-untuk
keperluan preservasi dalam pengarsipan
digital; MEI-untuk notasi musik (NISO,
2017: 19-37). Sebagai batasan artikel ini,
penulis akan menjelaskan lebih lanjut terkait
skema metadata yang digunakan di lembaga
arsip atau EAD, di perpustakaan MODS,
dan Dublin Core yang sering digunakan
dalam temu kembali sumber informasi di
internet.
Tiga Metadata Standar
Encoded Archival Description
adalah standar XML untuk encoding alat
bantu pencarian arsip atau sarana bantu
temu kembali yang dikelola Technical
Subcommittee for Encoded Archival
Standards of the Society of American
Archivists bermitra dengan Library of
Congress (Library of Congress, 2019a).
EAD menyediakan serangkaian tag
terperinci yang digunakan untuk menandai
berbagai elemen data yang terkait dengan
bahan arsip. EAD dirancang untuk
digunakan dalam lingkungan digital di mana
metadata ditangani oleh aplikasi komputer
dan dinyatakan dalam Relax NG, XML dan
sebagai DTD. EAD terutama dirancang
untuk membuat bahan arsip dapat temu
kembali dibanding untuk manajemen atau
pelestarian. EAD dirancang agar kompatibel
dengan ISAD (G) (Haynes, 2018: 62). Situs
resmi untuk EAD dapat diakses melalui
tautan http://www.loc.gov/ead/ead.html.
Skema metadata dan Elemen lengkap EAD
dalam format XML dapat diakses di
https://www.loc.gov/ead/ead3.xsd. Versi
terakhir EAD yakni EAD3 yang diperbarui
16 Desember 2019 (Library of Congress,
2019a). EAD terdiri dari 3 bagian utama
yaitu eadheader berisi informasi tentang
EAD (<filedesc>, <profiledesc>, dan
<revisiondesc>); fronmatter memberikan
deskripsi terstruktur finding aid untuk
publikasi; dan archdesc menggambarkan
koleksi arsip atau manuskrip (Caplan, 2003:
126 | Jurnal Kearsipan Volume 14 Nomor 2, Desember 2019
92). Elemen EAD secara keseluruhan terdiri
146 elemen (Library of Congress, 2007).
Metadata Object Description
Schema adalah skema untuk set elemen
bibliografi yang dapat digunakan untuk
berbagai tujuan, dan khususnya untuk
aplikasi perpustakaan. Standar ini dikelola
Library of Congress (Library of Congress,
2016). Skema XML MODS tersusun atas 20
top-level elements yang mengelompokkan
bagian-bagian terkait dengan deskripsi
bibliografi. Skema MODS meliputi titleInfo,
name, typeOfResource, genre, originInfo,
language, physicalDescription, abstract,
tableOfContents, targetAudience, note,
subject, classification, relatedItem,
identifier, location, accessCondition, part,
extension, dan recordInfo (NISO, 2017).
Beberapa elemen ini berisi tag tanpa konten,
tetapi berfungsi untuk mengelompokkan
sub-elemen bersama. Misalnya <titleInfo>
adalah tag dengan sub-elemen yang berisi
data: <title>, <subTitle>, <partNumber>,
<partName>, <t>. Sub elemen sub-elemen
dapat memiliki atribut seperti elemen
Language berisi-Related and Other
Attributes: lang xml:lang script
transliteration altRepGroup
displayLabel; Date Attributes: encoding
point keydate qualifier; Linking
Gambar 1. Contoh Elemen EAD dalam Format XML
Sumber: Sekar UI (2020)
Gani Nur Pramudyo / Penyeberangan Metadata: Enconded Archival | 127
Description, Metadata Object Description Schema, dan Dublin Core di Persimpangan
Attributes: ID xlink (Haynes, 2018: 58).
Situs resmi untuk MODS dapat diakses
melalui tautan
http://www.loc.gov/standards/mods/. Skema
metadata dan Elemen lengkap EAD dalam
format XML dapat diakses di
http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods
-3-7.xsd . Versi terakhir MODS yakni
MODS 3.7 yang diperbarui 4 Januari 2018.
Dublin Core Metadata Element Set
atau Dublin Core merupakan kumpulan
sederhana dari 15 elemen data deskriptif
yang dimaksudkan untuk penggunaan umum
untuk semua jenis sumber. Dublin core
dikembangkan oleh Dublin Core Metadata
Initiative (DCMI), yang distandarkan ANSI/
NISO Standard Z39.85. Situs resmi Dublin
Core dapat diakses di http://dublincore.org
Gambar 2. Contoh Elemen MODS dalam Format XML
Sumber: Fadel Muhammad Resource Center (2020)
128 | Jurnal Kearsipan Volume 14 Nomor 2, Desember 2019
(Caplan, 2003: 6). Dublin Core terdiri dari
15 elemen yaitu contributor, coverage,
creator, date, description, format, identifier,
language, publisher, relation, rights, source,
subject, title, dan type. Elemen ini, juga
dikenal sebagai "simple Dublin Core," atau
Dublin Core. Unsur Dublin Core segera
disematkan di halaman Web dan banyak
digunakan mesin pencari untuk
pengindeksan. Simple Dublin Core
kemudian diperluas qualifiers untuk
memberikan penyempurnaan tambahan pada
elemen inti atau lebih dikenal DCTERM
(NISO, 2017: 2324).
Interoperabilitas Metadata
Metadata memiliki tujuan
interoperabilitas, interoperabilitas adalah
salah satu penggerak untuk e-commerce.
Ketika sepotong data (atau agregasi data)
dilewatkan dari satu sistem ke sistem
lainnya, metadata yang menyertainya (yang
kadang-kadang tertanam dalam file digital)
memungkinkan aplikasi baru untuk
memahami data dan menggunakannya
dengan cara yang sesuai (Haynes, 2018: 15).
Misalnya, dalam perpustakaan
menggunakan perangkat lunak berbeda
harus dapat bertukar data secara andal.
Pertukaran data di perpustakaan akan
Gambar 3. Contoh skema Dublin Core dalam Format XML untuk Keperluan oai_dc di dalam OAI-PMH
Sumber: Open Archives Initiative (2020)
Gani Nur Pramudyo / Penyeberangan Metadata: Enconded Archival | 129
Description, Metadata Object Description Schema, dan Dublin Core di Persimpangan
memperkaya dan memudahkan pengguna
untuk menelusur sumber informasi.
Pertukaran data atau interoperabilitas
metadata ini dapat diwujudkan. Beberapa
metode yang dapat dilakukan seperti
derivation, application profiles, crosswalks,
switching-across, framework, dan registry.
Metadata crosswalks merupakan metode
yang paling umum digunakan untuk
interoperabilitas antara dan di antara skema
metadata (Zeng & Chan, 2006: 3).
Metadata Crosswalks
Metadata crosswalks adalah upaya
dilakukan untuk memetakan atau membuat
penyeberangan antara istilah metadata yang
setara atau sebanding (elements dan
refinements). Mekanisme yang digunakan
dalam penyeberangan biasanya merupakan
bagan atau tabel yang mewakili pemetaan
semantik elemen data dalam satu data
standar (sumber) ke standar lain (target)
berdasarkan kesamaan fungsi atau makna
unsur (Zeng & Chan, 2006: 3). Lebih lanjut,
Baca (2008) metadata crosswalks
merupakan sebuah tabel atau chart yang
menunjukkan hubungan dan kesetaraan
antara dua atau lebih format metadata.
Metadata crosswalks digunakan untuk
membandingkan elemen metadata dari satu
skema atau elemen diatur ke satu atau lebih
skema lainnya. Membandingkan dua set
elemen metadata atau skema, persamaan dan
perbedaan harus dipahami pada beberapa
tingkatan sehingga bisa mengevaluasi sejauh
mana skema itu interoperable. Contoh
sederhana dan kompleks metadata
crosswalks dapat dilihat pada tabel 1 dan
menunjukkan elemen dari empat skema
metadata yang berbeda dipetakan satu sama
lain.
Tabel 1. Crosswalk untuk Skema Metadata yang Berbeda
CDWA
MARC
Dublin Core
Object/ Work-Type
655 Genre/form
Type
Titles or Names
24Xa Title and Title
Related Information
Title
CreationDate
260c ImprintDate of
Publication
Date.Created
Creation-Creator-
Identity
1XX Main Entry 7XX
Added Entry
Creator
Subject Matter
520 Summary, etc.6xx
Subject Headings
Subject
Current Location
852 Location
Sumber: Woodley dalam Baca (2016)
130 | Jurnal Kearsipan Volume 14 Nomor 2, Desember 2019
Penerapan Metadata Crosswalks
Adapun penerapan metadata
crosswalks EAD dan MODS ke Dublin Core
sesuai dengan penjelasan Chan dan Zeng
(2006) dan (Baca, 2008: 3). Metadata
crosswalks merupakan sebuah tabel yang
menunjukkan hubungan dan kesetaraan
antara dua atau lebih format metadata.
Metadata crosswalks digunakan untuk
membandingkan elemen metadata dari satu
skema atau elemen diatur ke satu atau lebih
skema lainnya. Adapun pemetaan skema
metadata (mapping scheme) yang dilakukan
dalam artikel ini dari skema metadata
sumber (EAD dan MODS) ke skema
metadata target (Dublin Core). Pendekatan
mapping scheme yang digunakan yaitu
relative crosswalking. Menurut Chan dan
Zeng (2006, 8) relative crosswalking
digunakan untuk memetakan semua elemen
dalam skema sumber ke setidaknya satu
elemen skema target, terlepas dari apakah
kedua elemen tersebut semantik atau tidak
sama.
Penerapan metadata crosswalks dalam
artikel akan dicontohkan dan diperinci
melalui beberapa contoh set elemen skema
metadata sumber (EAD dan MODS) ke
skema metadata target (Dublin Core) serta
representasi skema metadata tersebut dalam
format XML atau HTML. Contoh Elemen
skema metadata diambil berasal dari
elemen-elemen standar yang ada di situs
resmi masing-masing skema metadata.
Adapun contoh penerapan metadata
crosswalks adalah pada Tabel 2.
Tabel 2. Contoh Metadata Crosswalk Mapping
No
Identifier
Dublin Core
EAD
MODS
1
Title
Title
<titleproper> <unittitle>
<title>
2
Creator
creator
<author> <name><origination>
<persname> <origination>
<corpname><origination>
<famname>
<name>
3
Subject
subject
<abstract> <scopecontent>
<controlaccess> <subject>
<classification>
4
Description
description
<abstract> <scopecontent>
<note>
5
Type
type
<controlaccess> <genreform>
<genre>
Sumber: Data diolah oleh Penulis
Gani Nur Pramudyo / Penyeberangan Metadata: Enconded Archival | 131
Description, Metadata Object Description Schema, dan Dublin Core di Persimpangan
Pemetaan skema metadata dilakukan
mengidentifikasi idientifier dari EAD dan
MODS, mengidentifikasi idientifier Dublin
Core dan selanjutnya pemetaan elemen
skema metadata dilakukan dari EAD dan
MODS ke Dublin Core. Sebagai contoh,
pemetaan elemen title pada EAD, MODS,
dan Dublin Core. Title pada elemen Dublin
Core didefinisikan sebagai nama yang
diberikan ke sumber daya (Dublin Core,
2020). Title pada elemen EAD didefinisikan
elemen turunan dari <titlestmt> dan
<seriesstmt> yang menunjukkan judul
finding aid atau finding aid series (Library
of Congress, 2019b). Title pada elemen
MODS didefinisikan sebagai kata, frasa,
karakter, atau kelompok karakter, biasanya
muncul di sumber, yang menamai sumber
atau karya yang terkandung di dalamnya
(Library of Congress, 2009). Masing-masing
identifier didentifikasi untuk memastikan
elemen tersebut sesuai dengan penggunaan
masing-masing skema. Hasil pemetaan
elemen title EAD dan MODS ke Dublin
Core sebagaimana pada
Merujuk contoh mapping metadata
crosswalks di atas, elemen-elemen EAD dan
MODS dapat dipetakan ke elemen Dublin
Gambar 4. Mapping Title EAD dan MODS ke Dublin Core
Sumber: Diolah oleh Penulis
132 | Jurnal Kearsipan Volume 14 Nomor 2, Desember 2019
Core. Mapping atau pemetaan skema
metadata dapat digunakan
mengkomparasikan dan menganalisis dua
skema metadata atau lebih, dan
penyeberangan skema sebagai produk visual
pemetaan metadata, hal ini sesuai dengan
penjabaran Woodley dalam Baca (2016).
Selain itu, konten metadata berbeda tersebut
pada dasarnya dapat saling bertukar dan
berbagi, penggunaan standar metadata
seragam sulit dilakukan oleh lembaga
karena memiliki kebutuhan yang berbeda.
Pemetaan skema metadata menggunakan
metadata croswalks menunjukkan bahwa
skema metadata berbeda pada dasarnya
dapat bertukar dan berbagai, hal ini sesuai
dengan penjelasan Zeng & Chan (2006: 3-
4).
Metadata crosswalks sebagai salah
metode untuk mewujudkan interoperabilitas
skema metadata memiliki beberapa
kekurangan dalam penerapannya. Beberapa
kekuranga metadata crosswalks yaitu
penyeberangan dibuat untuk memetakan
skema metadata yang berbeda, skema
metadata yang sederhana (sedikit elemen)
sulit dipetakan ke skema metadata kompleks
(banyak elemen). Sebaliknya skema
metadata kompleks akan lebih mudah
dipetakan ke skema metadata sederhana
(Baca, 2016; Pierre & LaPlant, 1999: 2).
Pada praktik pemetaan skema metadata
sumber EAD memiliki 146 elemen utama
dan MODS memiliki 20 elemen utama,
skema metadata target Dublin Core
memiliki 15 elemen utama. Pemetaan dari
banyak elemen ke satu elemen
menyebabkan elemen yang dipetakan tidak
lengkap atau bisa dikatan beberapa tidak
dapat dipetakan karena perbedaan elemen.
Selanjutnya, penerapan metadata
crosswalks membutuhkan pengetahuan
mendalam dan keahlian khusus dalam
standar metadata terkait. Kesalahan umum
dalam penerapan metadata crosswalks yaitu
standar metadata sering dikembangkan
secara independen, dan ditentukan secara
berbeda menggunakan terminologi, metode
dan proses khusus (Pierre & LaPlant, 1999:
2). Perbedaan penamaan label, definisi dan
penggunaan elemen metadata di EAD,
MODS dan Dublin Core ini menjadi
hambatan pula dalam pemetaan skema,
sehingga dalam memetakan elemen skema
metadata harus diperhatikan.
KESIMPULAN
Metadata digunakan secara luas untuk
keperluan deskripsi dan identifikasi sumber,
temu kembali informasi, manajemen sumber
informasi, manajemen hak kekayaan
intelektual, interoperabilitas; dan tatakelola
informasi. Metadata untuk keperluan
interoperabilitas memungkinkan metadata
yang beragam dapat saling berbagi dan
bertukar data. Metadata crosswalks
digunakan untuk memetakan skema
metadata yang beragam. EAD yang
digunakan di lingkungan arsip, MODS di
Gani Nur Pramudyo / Penyeberangan Metadata: Enconded Archival | 133
Description, Metadata Object Description Schema, dan Dublin Core di Persimpangan
lingkungan perpustakaan dan Dublin Core
untuk keperluan temu kembali pada
dasarnya dapat saling bertukar dan berbagi
metadata. Temuan menunjukkan pemetaan
dapat dilakukan dari skema metadata
sumber (EAD dan MODS) ke skema
metadata target (Dublin Core). Dalam
penerapannya metadata crosswalks ini masih
memiliki kekurangan yaitu skema metadata
yang sederhana sulit dipetakan ke skema
metadata yang kompleks dan pemetaan
membutuhkan pengetahuan mendalam dan
keahlian khusus dalam standar metadata
terkait.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terimakasih saya persembahkan
kepada semua pihak yang telah mendukung,
keluarga, rekan-rekan, dan dosen-dosen
Magister Ilmu Perpustakaan dan Informasi
Peminatan Kearsipan Universitas Indonesia
angkatan 2019, serta Anon Mirmani dan
Raistiwar Pratama. Saya juga berterimakasih
kepada Muhammad Rosyihan Hendrawan
yang telah melibatkan saya dalam beberapa
penelitian metadata tahun 2016-2018 dan
sebagai dosen pembimbing skripsi sehingga
saya bisa memahami prinsip-prinsip
metadata, terutama interoperabilitas
metadata, secara lebih baik dan menyeluruh.
Erlangga Setya Budi sesama asisten
penelitian dan rekan diskusi yang membuat
saya memahami metadata.
DAFTAR PUSTAKA
Australian Society of Archivist 2008.
Keeping Archives. 3 ed. Canberra:
Australian Society of Archivist.
Baca, M. 2008. Introduction to Metadata. 2
ed. Los Angeles: Getty Publications.
Baca, M. 2016. Introduction to metadata. 3
ed. Los Angeles: Getty Publications.
Tersedia di
http://www.getty.edu/publications/int
rometadata/.
Buckland, M. 2017. Information and
society. USA: MIT Press.
Caplan, P. 2003. Metadata fundamentals for
all librarians. USA: American
Library Association(ALA).
Dublin Core 2020. DCMI Metadata Terms.
Tersedia di
https://www.dublincore.org/specifica
tions/dublin-core/dcmi-terms/
[Diakses 10 April 2020].
Fadel Muhammad Resource Center 2020.
Pendidik Karakter Di Zaman
Keblinger: Mengembangkan Visi
Guru Sebagai Pelaku Perubahan
Dan Pendidikan Karakter format
XMl. Tersedia di
https://fia.ub.ac.id/katalog/index.php
?p=show_detail&inXML=true&id=8
60 [Diakses 10 April 2020].
Foulonneau, M. & Riley, J. 2008. Metadata
for digital resources:
implementation, systems design and
interoperability. Oxford: Chandos
Publishing.
134 | Jurnal Kearsipan Volume 14 Nomor 2, Desember 2019
Hart, C. 1998. Doing a Literature Review:
Releasing the Social Science
Research Imagination b. London:
Sage Publications.
Haynes, D. 2018. Metadata for Information
Management and Retrieval:
Understanding metadata and its use.
London: Facet Publishing.
Hodge, G. 2005. Metadata for electronic
information resources : From variety
to interoperability. Information
Services & Use, 25: 3545.
IFLA 2005. Guidance on the Nature,
Implementation, and Evaluation of
Metadata Schemas in Libraries:
Final Report of the IFLA
Cataloguing Section Working Group
on the Use of Metadata Schemas for
the Review. Tersedia di
https://www.ifla.org/files/assets/catal
oguing/pubs/metadata_schemas-
20050731.pdf [Diakses 12 Desember
2017].
Kitchenham, B. 2004. Procedures for
performing systematic reviews.
Keele, UK, Keele University,
33(2004): 126.
Library of Congress 2007. Encoded Archival
Description Tag Library, Version
2002. Tersedia di
https://www.loc.gov/ead/tglib/eleme
nt_index.html [Diakses 10 April
2020].
Library of Congress 2009. MODS User
Guidelines Version 3: Detailed
Description of MODS Elements.
Tersedia di
http://www.loc.gov/standards/mods/
v3/mods-userguide-elements.html
[Diakses 10 April 2020].
Library of Congress 2016. MODS: Uses and
Features (Metadata Object
Description Schema: MODS).
Library of Congress. Tersedia di
http://www.loc.gov/standards/mods/
mods-overview.html [Diakses 10
April 2020].
Library of Congress 2019a. EAD: Encoded
Archival Description (EAD Official
Site, Library of Congress). Library of
Congress. Tersedia di
https://www.loc.gov/ead/ [Diakses
10 April 2020].
Library of Congress 2019b. Encoded
Archival Description Tag Library
Version EAD3 1.1.1. Tersedia di
https://www.loc.gov/ead/EAD3taglib
/EAD3.html#elem-titleproperNo
Title [Diakses 10 April 2020].
NISO 2004. Understanding Meta Data.
Bethesda: NISO Press.
NISO 2017. Understanding Meta Data.
Primer Publication of National
Information Standard Organization
Baltimore. Bethesda: NISO Press.
Open Archives Initiative 2020. oai_dc.
Tersedia di
http://www.openarchives.org/OAI/2.
0/oai_dc.xsd.
Pendit, P.L. 2009. Perpustakaan
Gani Nur Pramudyo / Penyeberangan Metadata: Enconded Archival | 135
Description, Metadata Object Description Schema, dan Dublin Core di Persimpangan
Digital:Kesinambungan dan
Dinamika. Jakarta: Citra Karyakarsa
Mandiri.
Pierre, M.S. & LaPlant, W.P. 1999. Issues in
crosswalking content metadata
standards.
Sekar UI 2020. Foto Gedung Rektorat dan
Gedung Fakultas di Universitas
Indonesia format XML. Universitas
Indonesia. Tersedia di
http://sekar.ui.ac.id/index.php/foto-
gedung-rektorat-dan-gedung-
fakultas-di-universitas-
indonesia;ead?sf_format=xml
[Diakses 10 April 2020].
Zeng, M.L. & Chan, L.M. 2006. Metadata
interoperability and standarization --
a study of methodology part II. D Lib
Magazine, 12(6): 118. Tersedia di
http://www.dlib.org/dlib/june06/zeng
/06zeng.html.
136 | Jurnal Kearsipan Volume 14 Nomor 2, Desember 2019
ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication.
ResearchGate has not been able to resolve any references for this publication.