ArticlePDF Available

"FAKTOR RISIKO DERMATITIS KONTAK IRITAN PADA PETANI RUMPUT LAUT DI DESA WAEMPUTTANG KABUPATEN BOMBANA SULAWESI TENGGARA" Risk Factors Irritant Contact Dermatitis to Seaweed Farmers in Waemputtang Village, Bombana Regency, Southeast Sulawesi

Authors:

Abstract

Irritant contact dermatitis is an inflammatory process locally on the skin that if contact with substances that are irritants. In Indonesia, the prevalence of irritant contact dermatitis is highest 6.2%, the prevalence of dermatitis > 10% are found in Southeast Sulawesi Wakatobi district and the city of Bau-Bau. This study aims to analyze the risk of irritant contact dermatitis in the village of the district Waemputtang Bombana Southeast Sulawesi in 2017 by the contact process, exposure to risk, safeguard yourself, and drying temperature. This study is an observational analytic approach namely case-control study. The population is all the seaweed farmers in the village Waemputtang Bombana during the study. The number sampling was taking total sampling case and control sampling is 1:2, all samples are 135 people seaweed farmers obtained consisted of 45 cases and 90 controls. The Processing data using SPSS 16.0 program. Analysis data is to analyze the univariate and bivariate odds ratio significance. The results obtained that the work time OR = 2.023 95% Cl. 0124-33105 is not a significant risk factor, exposure to risk OR = 2.875 95% Cl. 1.36-6.076 a significant risk factor, efforts to protect themselves OR 95% Cl = 1618. 0759-3450 is not a significant risk factor, where the drying OR = 2184 95% Cl. 0716-6666 is not a significant risk factor for the incidence of contact dermatitis. Working time ≥ 8 hours per day is a high risk than working time <8 hours per day. The longer the working time of the contact frequency is also higher irritants that cause contact dermatitis in seaweed farmers. Exposure to the risk of repeated contact with an increasingly long time and come into contact with seaweed also lead to microtrauma or laceration disrupting the epidermal defense which resulted in farmers vulnerable to irritants. Efforts to protect themselves more at risk of not using than those using personal protective equipment, the use of personal protective equipment that is not effectively causing irritant contact dermatitis. Drying on the seafront is a high risk than the drying house or yard, due to the influence of ocean temperatures. Working time, efforts to protect themselves, and where drying is not a significant risk factor for irritant contact dermatitis. The exposure is the risk of a significant risk factor for irritant contact dermatitis. To prevent contact dermatitis in seaweed farmers is to minimize direct contact with seaweed, using personal protective equipment at work, prolonged contact with seagrass.
Jurnal Kesehatan bung Vol. 8 No.2,hal: 384-400, Juni 2018 ISSN No. 2088-0340
Faktor Risiko Dermatitis Kontak Iritan Pada Petani Rumput Laut
“FAKTOR RISIKO DERMATITIS KONTAK IRITAN PADA PETANI RUMPUT LAUT
DI DESA WAEMPUTTANG KABUPATEN BOMBANA SULAWESI TENGGARA”
Risk Factors Irritant Contact Dermatitis to Seaweed Farmers in Waemputtang Village,
Bombana Regency, Southeast Sulawesi
Hasriwiani Habo Abbas1, Hikmah1
1Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muslim Indonesia
Correspondence: hasriwianihabo.abbas@umi.ac.id
ABSTRACT
Irritant contact dermatitis is an inflammatory process locally on the skin that if contact with
substances that are irritants. In Indonesia, the prevalence of irritant contact dermatitis is highest
6.2%, the prevalence of dermatitis > 10% are found in Southeast Sulawesi Wakatobi district and
the city of Bau-Bau. This study aims to analyze the risk of irritant contact dermatitis in the village
of the district Waemputtang Bombana Southeast Sulawesi in 2017 by the contact process, exposure
to risk, safeguard yourself, and drying temperature.
This study is an observational analytic approach namely case-control study. The population
is all the seaweed farmers in the village Waemputtang Bombana during the study. The number
sampling was taking total sampling case and control sampling is 1:2, all samples are 135 people
seaweed farmers obtained consisted of 45 cases and 90 controls. The Processing data using SPSS
16.0 program. Analysis data is to analyze the univariate and bivariate odds ratio significance.
The results obtained that the work time OR = 2.023 95% Cl. 0124-33105 is not a significant
risk factor, exposure to risk OR = 2.875 95% Cl. 1.36-6.076 a significant risk factor, efforts to
protect themselves OR 95% Cl = 1618. 0759-3450 is not a significant risk factor, where the drying
OR = 2184 95% Cl. 0716-6666 is not a significant risk factor for the incidence of contact dermatitis.
Working time 8 hours per day is a high risk than working time <8 hours per day. The
longer the working time of the contact frequency is also higher irritants that cause contact
dermatitis in seaweed farmers. Exposure to the risk of repeated contact with an increasingly long
time and come into contact with seaweed also lead to microtrauma or laceration disrupting the
epidermal defense which resulted in farmers vulnerable to irritants. Efforts to protect themselves
more at risk of not using than those using personal protective equipment, the use of personal
protective equipment that is not effectively causing irritant contact dermatitis. Drying on the
seafront is a high risk than the drying house or yard, due to the influence of ocean temperatures.
Working time, efforts to protect themselves, and where drying is not a significant risk factor
for irritant contact dermatitis. The exposure is the risk of a significant risk factor for irritant contact
dermatitis. To prevent contact dermatitis in seaweed farmers is to minimize direct contact with
seaweed, using personal protective equipment at work, prolonged contact with seagrass.
Keywords: Farmers, Seaweed, personal protective equipment, working time, Dermatitis
Jurnal Kesehatan bung Vol. 8 No.2,hal: 384-400, Juni 2018 ISSN No. 2088-0340
Faktor Risiko Dermatitis Kontak Iritan Pada Petani Rumput Laut
PENDAHULUAN
Laporan Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO) pada tahun 2010 beban penyakit kulit
yang terkait di Sub-Sahara Afrika dengan tingkat
kematian 20.000. Beban tersebut sebanding
dengan tingkat kematian oleh menginitis, dan
hepatitis B, yang menyebabkan pekerja
terhambat dalam bekerja karena adanya
gangguan kulit. Penelitian tentang penyakit kulit
di London mengungkapkan prevalensi penyakit
kulit 52% terjadi di Negara Barat, sedangkan di
Negara Berkembang prevalensi penyakit kulit
berkisar 20-80% (Roderick, 2016).
Sebuah penelitian di Denmark,
menemukan iritasi kulit 16% dari 487 kasus
dermatitis kontak karena pemakaian kosmetik.
Selama periode waktu 40 bulan, sekitar 179 800
pasien terlihat oleh 11 ahli kulit dan 8.093 pasien
yang diuji untuk dermatitis kontak. Dalam semua,
487 kasus (6%) adalah disebabkan oleh kosmetik,
mayoritas dari mereka (407) yang karena kontak
alergi. Penulis menunjukkan bahwa selama studi
iritasi lebih sering didiagnosis dokter secara
mental "peka" untuk jenis reaksi. Ketika efek
samping dari 253 kosmetik dan peralatan mandi
seperti yang dilaporkan ke Swedish Medical
Produk Badan dianalisis, 90% adalah reaksi
eczematous. Dari jumlah tersebut, 70%
diklasifikasikan sebagai alergi dan 30% sebagai
iritan (Eiermann dalam Peter, 2016).
Menurut data dari RSUD Kabupaten
Bombana bahwa kejadian dermatitis kontak
iritan sebanyak 265 pasien pada tahun 2017 hal
tersebut diderita oleh sebagian besar petani
rumput laut disebabkan oleh lama waktu bekerja,
faktor lingkungan, dan kurangnya penggunaan
Alat Pelindung Diri (APD). Hal ini juga
memungkinkan terjadi di Desa Waemputtang
yang sebagian besar penduduknya bermata
pencaharian rumput laut (Data Statistik
Bombana, 2016).
Hasil penelitian menemukan bahwa ada
kecendrungan hubungan antara jam kerja dalam
sehari-hari dengan terjadinya dermatitis kontak
iritan. Responden yang bekerja ≥8 jam sehari
berisiko menderita dermatitiis kontak iritan 1,88
kali, dibandingkan responden yang bekerja <8
jam kerja sehari (Soebaryo, 1994).
Hubungan lama kerja dengan kejadian
dermatitis kontak pada pekerja yang memiliki
lama kerja >2 tahun lebih banyak terkena
dermatitis kontak yaitu 22 orang (66,7%),
dibandingkan dengan 17 orang (36,2%) dari 47
pekerja yang telah bekerja selama <2 tahun.
Dengan lama kerja >2 tahun memiliki peluang
3,5 kali terkena dermatitis kontak (Lestari dan
Suryo, 2007).
Rumput laut untuk saat ini paling banyak di
budidayakan oleh masyarakat Indonesia yang
tinggal di pesisir pantai. Hampir disetiap daerah
kepulauan Indonesia terdapat sentra produksi
Jurnal Kesehatan bung Vol. 8 No.2,hal: 384-400, Juni 2018 ISSN No. 2088-0340
Faktor Risiko Dermatitis Kontak Iritan Pada Petani Rumput Laut
rumput laut. Salah satu daerah yang
membudidayakan rumput laut sebagai alternatif
untuk meningkatkan penghasilan penduduk
adalah Desa Waemputtang Kabupaten Bombana
Propinsi Sulawesi Tenggara. Secara geografis
Kabupaten Bombana terletak di jazirah
Tenggara Pulau Sulawesi terletak dibagian
selatan garis khatulistiwa, sebelah utara
berbatasan dengan Kabupaten Kolaka dan
Kabupaten Konawe Selatan, sebelah selatan
berbatasan dengan Laut Flores, sebelah barat
berbatasan dengan Teluk Bone, dan sebelah
timur berbatasan dengan Kabupaten Muna dan
Kabupaten Buton (BPS, 2014).
Kasus dermatitis kontak iritan pada
kalangan petani rumput laut di Kabupaten
Bombana terjadi setelah melakukan budidaya
rumput laut mulai dari penyiapan bibit,
penanaman, pemeliharaan pemanenan dan
penjemuran, data RSUD Bombana penderita
dermatitis kontak iritan sebanyak 265 orang
pada tahun 2017, jumlah kasus penderita
dermatitis kontak iritan di Desa Waemputtang
menurut data prevalensi penyakit di Puskesmas
Poleang Selatan 2017 terdapat 45 kasus (Data
Puskesmas Polsel, 2016).
Penelitian ini menjadi penting mengingat
kasus penyakit kulit yang dialami oleh petani
rumput laut yang ada didesa waemputtang
kabupaten bombana merupakan hal baru dan
belum pernah dilaporkan terjadi sepanjang
perjalanan budidaya rumput laut, baik di
Wilayah produksi rumput laut di Propinsi
Sulawesi Tenggara seperti di Kabupaten Kolaka,
Kabupaten Konawe, Kabupaten Muna,
Kabupaten Kolaka Utara, Kabupaten Wakatobi,
Kota Kendari, dan Kota Bau-Bau.
BAHAN DAN METODE
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah
survei analitik dengan pendekatan ’case control
study’, yaitu suatu rancangan penelitian yang
bertujuan untuk melihat seberapa besar faktor
risiko dari waktu kerja, keterpaparan terhadap
risiko, upaya perlindungan diri, dan tempat
pengeringan terhadap kejadian dermatitis kontak
iritan di Desa Waemputtang Kabupaten
Bombana Sulawesi Tenggara tahun 2017.
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Wemputtang
Kabupaten Bombana Sulawesi Tenggara. pada
bulan Januari- April 2017, pengumpulan data
dilakukan pada bulan 25 Februari- 25 Maret
2017
Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua
petani rumput laut yang ada di Desa
Waemputtang Kabupaten Bombana dengan
jumlah 369 petani rumput laut.
Sampel
Sampel dalam penelitian ini terdiri dari
kelompok kasus dan kelompok kontrol dengan
menggunakan perbandingan 1:2.
Jurnal Kesehatan bung Vol. 8 No.2,hal: 384-400, Juni 2018 ISSN No. 2088-0340
Faktor Risiko Dermatitis Kontak Iritan Pada Petani Rumput Laut
1. Kasus
Sampel kasus dalam penelitian ini adalah
sebanyak 45 orang petani rumput laut yang
menderita dermatitis kontak iritan di Desa
Waemputtang Kabupaten Bombana.
2. Kontrol
Sampel kontrol dalam penelitian ini adalah
sebanyak 90 orang yang tidak menderita
dermatitis kontak iritan tetapi mempunyai
pekerjaan sebagai petani rumput laut dan tinggal
dengan penderita.
Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel yaitu dengan
menggunakan metode non probability sampling
yaitu Purposive Sampling, dimana sampel yang
dipilih didasarkan pada kelengkapan data dan
alamatnya.
Jenis Data
1. Data primer di peroleh melalui tanya jawab
dengan menggunakan kuesioner.
2. Data sekunder di peroleh dari rekam medik
puskesmas Poleang Selatan yang memuat
informasi atau data tentang dermatitis kontak
iritan pada petani rumput laut.
Pengolahan dan Analisis Data
1. Pengolahan Data yaitu data yang diperoleh
akan diolah dengan menggunakan komputer
dengan program SPSS For Windows dan
disajikan dalam bentuk tabel disertai dengan
penjelasan.
2. Analisis Data yang dilakukan adalah :
a. Analisis Univariat dilakukan untuk
mengetahui deskripsi dari masing-
masing variabel penelitian.
b. Analisis Bivariat dilakukan untuk menilai
faktor risiko kejadian dermatitis kontak
iritan.
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
Hasil Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama 30 hari
mulai pada tanggal 25 Februari sampai dengan
25 Maret 2017 di Desa waemputtang dengan
jumlah sampel sebanyak 135 responden yang
terdiri dari 45 sampell kasus penderita dermatitis
kontak iritan sedangkan perbandingannya
(kontrol) adalah 90 sampel yang tidak menderita
dermatitis kontak iritan mempunyai pekerjaan
sama dengan kasus, hasil penelitian dapat
digambarkan sebagai berikut :
Analisis Univariat
Pada tahap ini dilakukan analisis distribusi
frekuensi, persentase variable tunggal yang
termasuk variabel penelitian responden antara
lain dapat dilihat pada tabel berikut:
a. Distribusi responden berdasarkan
Waktu kerja
1. Distribusi responden berdasarkan lama
kerja sebagai responden
Jurnal Kesehatan bung Vol. 8 No.2,hal: 384-400, Juni 2018 ISSN No. 2088-0340
Faktor Risiko Dermatitis Kontak Iritan Pada Petani Rumput Laut
Tabel 1
Distribusi Responden Berdasarkan Masa Kerja Di Desa Waemputtang
Kab. Bombana Sulawesi Tenggara
Sumber : Data Primer
Tabel 1 menunjukkan bahwa dari 45 kasus
dermatitis kontak iritan dengan masa kerja
sebagai responden 5-6 tahun yaitu 20 responden
(44,44%) dibandingkan dengan masa kerja 1-2
tahun dan >6 tahun masing-masing 3 responden
(6,67%) dan pada lama kerja 3-4 tahun yaitu 19
(42,22%) responden. Sedangkan dari 90
kelompok kontrol sebanyak 49 responden
(54,44%) dengan masa kerja 3-4 tahun dan 3
responden (3,33%) dengan masa kerja > 6 tahun.
2. Distribusi responden berdasarkan lama
kerja dalam sehari
Tabel 2 menunjukkan bahwa dari 45 kasus
dermatitis kontak iritan yang bekerja <8 jam
perhari yaitu 42 responden (93,33%).
Sedangkan dari 90 kelompok kontrol semua
bekerja <8 jam perhari.
Tabel 2
Distribusi Responden Berdasarkan Waktu Kerja Dalam Sehari
Di Desa Waemputtang Kab. Bombana Sulawesi Tenggara
Sumber : Data Primer
Masa
Kasus
Kontrol
%
kerja
n
%
n
%
1-2 tahun
3
6,67
6
6,67
6,67
3-4 tahun
19
42,22
49
54,44
50,37
5-6 tahun
20
44,44
32
35,55
38,52
>6 tahun
3
6,67
3
3,33
4,44
Total
45
100
90
100
100
Waktu
Kasus
Kontrol
n
%
kerja
n
%
n
%
< 8 jam
43
95,56
90
100
133
97,8
≥8 jam
2
4,44
0
0
2
2,2
Total
45
100
90
100
135
100
Jurnal Kesehatan bung Vol. 8 No.2,hal: 384-400, Juni 2018 ISSN No. 2088-0340
Faktor Risiko Dermatitis Kontak Iritan Pada Petani Rumput Laut
3. Distribusi responden berdasarkan
jumlah hari kerja dalam seminggu
Tabel 3 menunjukkan bahwa dari 45 kasus
dermatitis kontak iritan yang bekerja >6 hari
perminggu yaitu 20 responden (44,44%)
dibandingkan dengan 1-2 hari kerja yaitu 1
responden (2,22%). Sedangkan dari 90
kelompok kontrol yang bekerja 5-6 hari
perminggu yaitu 46 responden (40%)
dibandingkan dengan 1-2 hari kerja perminggu
yaitu 11 responden (12,22%). Jumlah hari kerja
yang paling lama dilakukan oleh buruh yang
bekerja pada proses pembibitan
.Tabel 3
Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Hari Kerja Dalam Seminggu
Di Desa Waemputtang Kab. Bombana Sulawesi Tenggara
b. Distribusi Responden berdasarkan
Keterpaparan terhadap Risiko
1. Distribusi responden berdasarkan status
pekerjaan
Tabel 4 menunjukkan bahwa dari 45 kasus
dermatitis kontak iritan yang berstatus buruh
yaitu 21 responden (46,67%) dibandingkan
yang berstatus usaha keluarga yaitu 10
responden (22,22%). Sedangkan dari 90
kelompok kontrol yang berstatus buruh yaitu 40
responden (44,44%) dibandingkan yang
berstatus pemilik yaitu 24 responden (26,67%).
Tabel 4
Distribusi Responden Berdasarkan Status Pekerjaan
Di Desa Waemputtang Kab.Bombana Sulawesi Tenggara
Sumber : Data Primer
Jumlah hari kerja
seminggu
Kasus
Kontrol
n
%
n
%
n
%
1-2 hari
1
2,22
11
12,22
12
8,89
3-4 hari
5
11,11
27
30
32
23,70
5-6 hari
19
42,22
36
40
55
40,74
>6 hari
20
44,44
16
17,78
36
20,40
Total
45
100
90
100
135
100
Sumber : Data Primer
Status pekerjaan
Kasus
Kontrol
n
%
n
%
n
%
Pemilik
14
31,11
24
26,67
38
28,1
Usaha keluarga
10
22,22
26
28,89
36
26,7
Buruh
21
46,67
40
44,44
61
45,2
Total
45
100
90
100
135
100
Jurnal Kesehatan bung Vol. 8 No.2,hal: 384-400, Juni 2018 ISSN No. 2088-0340
Faktor Risiko Dermatitis Kontak Iritan Pada Petani Rumput Laut
2. Distribusi Responden berdasarkan
bagian pekerjaan
Tabel 5 menunjukkan bahwa bagian pekerjaan
yang dikerjakan pada proses pembibitan
sebanyak 105 responden (77,8%), proses
pemeliharaan terdapat 30 responden (22,2%),
yang melakukan penjemuran sebanyak 42
responden (31,11%) dan bagian pekerjaan yang
paling sedikit dikerjakan yaitu proses
penanaman sebanyak 23 responden (15,6%)
dari 135 responden.
Tabel 5
Distribusi Responden Berdasarkan Bagian Pekerjaan
Di Desa Waemputtang Kab.Bombana Sulawesi Tenggara
Keterpaparan
Bagian pekerjaan
terhadap risiko
pembibitan
pemeliharaan
penanaman
Penjemuran
n
%
n
%
n
%
n
%
Ya
105
77,8
30
22,22
23
15,6
42
31,11
Tidak
30
22,22
105
77,8
112
84,4
83
68,88
Total
135
100
135
100
135
100
135
100
Sumber : Data Primer
c. Distribusi Responden berdasarkan
Upaya Perlindungan Diri
1. Distribusi responden berdasarkan
pengunaan APD
Tabel 6 menunjukkan bahwa dari 45 kasus
dermatitis kontak iritan yang tidak
menggunakan upaya perlindungan diri yaitu 31
responden (68,89%) dibandingkan yang
menggunakan upaya perlindungan diri yaitu 14
responden (31,11%). Sedangkan dari 90
kelompok kontrol yang tidak menggunakan
upaya perlindungan diri yaitu 52 responden
(57,78%) dibandingkan yang menggunakan
upaya perlindungan diri yaitu 38 responden
(42,22%).
2. Distribusi responden berdasarkan jenis
APD yang dipakai
Tabel 7 menunjukkan bahwa dari 45 kasus
dermatitis kontak iritan yang memakai topi
/penutup kepala yaitu 9 responden (20%)
dibandingkan yang menggunakan sepatu yaitu 1
responden (2,22%). Sedangkan dari 90
kelompok kontrol yang menggunakan
topi/penutup kepala yaitu 11 responden
(12,22%) dibandingkan yang menggunakan
helm sebagai perlindungan diri yaitu 3
responden (3,33%).
Jurnal Kesehatan bung Vol. 8 No.2,hal: 384-400, Juni 2018 ISSN No. 2088-0340
Faktor Risiko Dermatitis Kontak Iritan Pada Petani Rumput Laut
Tabel 6
Distribusi Responden Berdasarkan Upaya Perlindungan Diri
Di Desa Waemputtang Kab.Bombana Sulawesi Tenggara
Sumber : Data Primer
3. Distribusi responden berdasarkan alasan
tidak memakai alat pelindung diri
Tabel 5.12 menunjukkan bahwa dari 45 kasus
dermatitis kontak iritan yang beralasan malas
pakai yaitu 8 responden (17,78%) dibandingkan
yang tidak punya yaitu 3 responden (6,67%).
Sedangkan dari 90 kelompok kontrol yang
beralasan malas pakai yaitu 17 responden
(18,89%) dibandingkan yang tidak punya yaitu
6 responden (6,67%).
Tabel 7
4.
Distribusi Responden Berdasarkan Jenis APD Yang Dipakai
Di Desa Waemputtang Kab.Bombana Sulawesi Tenggara
Jenis APD
Kasus
Kontrol
n
%
n
%
n
%
Sarung tangan
2
4,44
10
11,11
12
8,89
Sepatu
1
2,22
5
5,55
6
4,44
Helm
0
0
3
3,33
3
2,22
Topi/pnutup kapala
9
20
11
12,22
20
14,81
Bdak dingin
2
4,44
9
10
11
8,14
Tdk menggunakan APD
31
68,89
52
57,78
83
61,5
Total
45
100
90
100
135
100
Sumber : Data Primer
Memakai APD
Kasus
Kontrol
n
%
n
%
n
%
Ya
14
31,11
38
42,22
52
38,5
Tidak
31
68.89
52
57,78
83
61,5
Total
45
100
90
100
135
100
Jurnal Kesehatan bung Vol. 8 No.2,hal: 384-400, Juni 2018 ISSN No. 2088-0340
Faktor Risiko Dermatitis Kontak Iritan Pada Petani Rumput Laut
Tabel 8
Distribusi Responden Berdasarkan Alasan Tidak Memakai APD
Di Desa Waemputtang Kab.Bombana Sulawesi Tenggara
Alasan
Kasus
Kontrol
n
%
n
%
n
%
Tidak punya
3
6,67
6
6,67
9
6,67
Malas pakai
8
17,78
17
18,89
25
18,52
Tidak tahu manfaatya
7
15,56
11
12,22
18
13,33
Tidak nyaman
7
15,56
9
10
16
11,85
Mengganggu
6
13,33
9
10
15
11,11
Memakai APD
14
31,11
38
42,22
52
38,5
Total
45
100
90
100
135
100
Sumber : Data Primer
d. Distribusi Responden berdasarkan
Tempat Pengeringan
Distribusi responden berdasarkan tempat
menjemur rumput laut
Tabel 9 menunjukkan bahwa dari 45 kasus
dermatitis kontak iritan tempat menjemur
rumput laut dihalaman rumah dan dipinggir laut
masing-masing 7 responden (15,56%).
Sedangkan dari kelompok kontrol yang
menjemur di halaman rumah yaitu 21 responden
(23,33%) dan yang menjemur dipinggir laut
yaitu 7 responden (7,78%), yang tidak
menjemur rumput laut yaitu 94 responden
(68,89%).
e. Distribusi Responden Berdasarkan
Riwayat Penyakit Kulit
1. Distribusi responden berdasarkan
pengobatan pada kulit gatal
Tabel 10 menunjukkan bahwa dari 45 responden
mengobati penyakit kulit dengan cara
menaburkan bedak sebanyak 30 responden
(22,22%), mengoleskan obat sebanyak 7
responden (5,18%) dan yang pakai balsam
sebanyak 8 responden (5,92%).
2. Distribusi responden berdasarkan bagian
tubuh yang menderita gatal-gatal
Tabel 11 menunjukkan bahwa dari 45
responden bagian tubuh yang menderita gatal
seluruh tubuh sebanyak 5 responden (3,70 %),
kaki/betis sebanyak 6 responden (4,44%) dan
pada tangan/lengan sebanyak 34 responden
(28,18%).
3. Distribusi responden berdasarkan sejak
kapan penyakit kulit diderita
Tabel 12 menunjukkan bahwa dari 45
responden yang menderita penyakit kulit
sebelum bekerja sebagai responden sebagai
sebanyak 1 responden (0,74%) dibanding
setelah bekerja sebagai petani rumput yaitu 44
Jurnal Kesehatan bung Vol. 8 No.2,hal: 384-400, Juni 2018 ISSN No. 2088-0340
Faktor Risiko Dermatitis Kontak Iritan Pada Petani Rumput Laut
responden (32,59%) dan yang tidak menderita
penyakit kulit yaitu 90 responden (66,67%)
Tabel 9
Distribusi Responden Berdasarkan Tempat Menjemur
Di Desa Waemputtang Kab.Bombana Sulawesi Tenggara
Tempat
Kasus
Kontrol
n
%
menjemur
n
%
n
%
Halaman rumah
7
15,56
21
23,33
28
20,74
Pinggir laut
7
15,56
7
7,78
14
10,37
Tdk menjemur
31
68,89
62
68,89
94
68.89
Total
45
100
90
100
135
100
Sumber : Data Primer
Tabel 10
Distribusi Responden Berdasarkan Pengobatan pada Kulit gatal
Di Desa Waemputtang Kab.Bombana Sulawesi Tenggara
Pengobatan
n
%
Menaburkan bedak
30
22,22
Mengoleskan obat
7
5,18
Pakai balsam
8
5,92
Tidak menderita
90
66,67
Total
135
100
Sumber : Data Primer
Tabel 11
Distribusi Responden Berdasarkan Bagian Tubuh yang Menderita Gatal
Di Desa Waemputtang Kab.Bombana Sulawesi Tenggara
Sumber : Data Primer
Bagian tubuh
n
%
Seluruh tubuh
5
3,70
Tangan/lengan
34
28,18
Kaki/betis
6
4,44
Tidak menderita
90
66,67
Total
135
100
Jurnal Kesehatan bung Vol. 8 No.2,hal: 384-400, Juni 2018 ISSN No. 2088-0340
Faktor Risiko Dermatitis Kontak Iritan Pada Petani Rumput Laut
Tabel 12
Distribusi Responden Berdasarkan Sejak Kapan Menderita Penyakit Kulit
Di derita Di Desa Waemputtang Kab.Bombana Sulawesi Tenggara
3. Analisis Bivariat
Untuk melihat hasil analisis antara variabel
independen terhadap kasus dermatitis kontak
iritan maka akan dilakukan uji statistik odds
ratio sebagai berikut:
a. Risiko dermatitis kontak iritan
berdasarkan waktu kerja
Berdasarkan hasil analisis risiko dermatitis
kontak iritan waktu kerja, maka tabel 13
memperlihatkan OR = 2,023 berarti penderita
dermatitis kontak iritan yang tinggi (dengan
waktu kerja) mengalami dermatitis kontak iritan
sebesar 2,02 kali lebih besar dibanding penderita
dermatitis kontak iritan yang risiko rendah
(dengan waktu kerja lebih rendah). Nilai lower
limit <1 dan upper limit >1 (0.124-33.105),
maka waktu kerja merupakan faktor risiko tidak
bermakna (sangat kecil) sehingga H0 diterima
dan H1 ditolak.
Tabel 13
Distribusi Responden Berdasarkan waktu Kerja
Di Desa Waemputtang Kab.Bombana Sulawesi Tenggara
Sumber : Data Primer
b. Distribusi responden berdasarkan
keterpaparan terhadap risiko
Hasil analisis risiko dermatitis kontak iritan
berdasarkan keterpaparan terhadap risiko, maka
Tabel 14 memperlihatkan OR = 2,87 berarti
penderita dermatitis kontak iritan yang risiko
Sejak Kapan Menderita Penyakit Kulit
n
%
Sebelum bekerja sebagai responden
1
0,74
Setelah bekerja sebagai responden
44
32,59
Tidak menderita
90
66,67
Total
135
100
Sumber : Data Primer
Waktu
Kasus
Kontrol
n
%
CI 95%
kerja
n
%
n
%
Risiko tinggi
1
2,2
1
1,1
2
1,48
OR=2,023
Risiko rndah
44
97,8
89
98,9
133
98,52
LL=0.124UL
=33.105
Total
45
100
90
100
135
100
Jurnal Kesehatan bung Vol. 8 No.2,hal: 384-400, Juni 2018 ISSN No. 2088-0340
Faktor Risiko Dermatitis Kontak Iritan Pada Petani Rumput Laut
tinggi (keterpaparan terhadap risiko) mengalami
dermatitis kontak iritan sebesar 2,8 kali lebih
besar dibanding penderita dermatitis kontak
iritan yang risiko rendah (keterpaparan terhadap
risiko). Nilai lower limit dan upper limit >1
(1,36-6,076) maka keterpaparan terhadap risiko
merupakan faktor risiko bermakna sehingga H1
diterima dan H0 ditolak.
Tabel 14
Distribusi Responden Berdasarkan Keterpaparan Terhadap Risiko
Di Desa Waemputtang Kab.Bombana Sulawesi Tenggara
Sumber : Data Primer
c. Distribusi responden berdasarkan Upaya
Perlindungan Diri
Hasil analisis risiko dermatitis kontak iritan
berdasarkan penggunaan APD, tabel 15
memperlihatkan OR = 1,618 berarti penderita
dermatitis kontak iritan yang risiko tinggi
(penggunaan APD) mengalami dermatitis
kontak iritan sebesar 1,6 kali lebih besar
dibanding penderita dermatitis kontak iritan
yang risiko rendah (penggunaan APD). Nilai
lower limit < 1dan upper limit >1 (0.759-3.450),
maka penggunaan APD merupakan faktor risiko
tidak bermakna (sangat kecil) sehingga H1
ditolak dan H0 diterima.
Tabel 15
Distribusi Responden Berdasarkan Upaya Perlindungan Diri Terhadap Risiko
Di Desa Waemputtang Kab.Bombana Sulawesi Tenggara
Sumber : Data Primer
Keterpaparan risiko
Kasus
Kontrol
n
%
CI 95%
n
%
n
%
Risiko tinggi
23
51,1
24
26,67
47
34,81
OR= 2,875
LL = 1.36
UL= 6.076
Risiko rndah
22
48,9
66
73,33
88
65,18
Total
45
100
90
100
135
100
Penggunaan
Kasus
Kontrol
n
%
CI 95%
APD
n
%
n
%
Rsko tnggi
31
68,89
52
57,78
83
61,48
OR=1.618
Rsko rndah
14
31,11
38
42,22
52
38,52
LL=0.759
UL=3.450
Total
45
100
90
100
135
100
Jurnal Kesehatan bung Vol. 8 No.2,hal: 384-400, Juni 2018 ISSN No. 2088-0340
Faktor Risiko Dermatitis Kontak Iritan Pada Petani Rumput Laut
d. Distribusi responden berdasarkan
tempat pengeringan
Tabel 16 menunjukkan bahwa dari 45
orang kasus dermatitis kontak iritan
berdasarkan tempat pengeringan lebih banyak
ditemukan pada responden yang risiko rendah
(84,44%) dibandingkan pada responden yang
risiko tinggi (15,56%). Hasil analisis risiko
dermatitis kontak iritan berdasarkan tampat
pengeringan, maka tabel 5.20 memperlihatkan
OR = 2,184 berarti penderita dermatitis kontak
iritan yang risiko tinggi (tempat pengeringan)
mengalami dermatitis kontak iritan sebesar 2,1
kali lebih besar dibanding penderita dermatitis
kontak iritan yang risiko rendah (tempat
pengeringan). Nilai lower limit <1 dan upper
limit >1 (0.759-3.450), maka tempat
pengeringan merupakan faktor risiko tidak
bermakna sehingga H1 ditolak dan H0 diterima.
Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan jumlah
petani rumput laut yang paling banyak yaitu
perempuan sebanyak 71,1% dan laki-laki
sebanyak 28,9% hal ini disebabkan karena
bagian pekerjaan lebih banyak dikerjakan oleh
perempuan. Kelompok umur yang paling
banyak yaitu antara 10-19 tahun sebanyak
30,4% dan yang paling sedikit <10 tahun
sebanyak 0,7%. Petani rumput laut mempunyai
pendidikan rendah dari hasil penelitian terdapat
37% yang hanya tamatan sekolah dasar bahkan
terdapat 21,5% yang tidak tamat sekolah dasar
beralasan sekolah jauh dan orang tua kurang
peduli terhadap pentingnya pendidikan.
Bagian pekerjaan yang banyak
membutuhkan tenaga kerja dan dikerjakan
dalam waktu lama yaitu pada proses pembibitan,
mayoritas dikerjakan oleh perempuan yaitu
sebagai ibu rumah tangga dengan alasan untuk
menambah penghasilan keluarganya dan
mengisi waktu luang. Tingginya angka
penderita dermatitis kontak iritan karena
sebagian besar petani rumput laut mempunyai
pendidikan yang masih rendah, petani hanya
belajar dari pengalaman terdahulu dan tidak
mengetahui manfaat penggunaan alat pelindung
diri.
Adapun pembahasan variabel penelitian
terhadap dermatitis kontak iritan sebagai
berikut :
1. Faktor risiko Waktu kerja
Waktu kerja meliputi waktu kerja petani
rumput laut satu hari dalam hitungan jam, masa
kerja sebagai petani rumput laut, dan jumlah
hari kerja dalam satu minggu. Tampak semakin
lama bekerja dan frekuensi kontak meningkat
maka pajanan akan semakin meningkat pula
akibatnya kemungkinan terkena penyakit
dermatitis kontak iritan juga meningkat.
Jurnal Kesehatan bung Vol. 8 No.2,hal: 384-400, Juni 2018 ISSN No. 2088-0340
Faktor Risiko Dermatitis Kontak Iritan Pada Petani Rumput Laut
Tabel 16
Distribusi Responden Berdasarkan Tempat Pengeringan Terhadap Risiko
Di Desa Waemputtang Kab.Bombana Sulawesi Tenggara
Sumber : Data Primer
Tabel 1 diketahui bahwa waktu kerja
sebagai petani rumput laut yang paling banyak
yaitu masa kerja 3-4 tahun dan 4-5 tahun, pada
tabel 2 lama kerja dalam sehari didapatkan
sebanyak 23,7% yang bekerja rata-rata 5 jam
perhari. Dan 7 hari kerja dalam satu minggu
27%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 45
petani rumput laut yang menderita dermatitis
kontak iritan dan 90 petani rumput laut yang
tidak menderita dermatitis kontak iritan. Risiko
tinggi yaitu 1,48% dan risiko rendah yaitu
98,52% petani rumput laut. Dari hasil analisis
data, diperoleh odds rasio sebesar 2,023 artinya
orang yang bekerja dengan lama kerja diatas
standar berpeluang 2,023 kali menderita
dermatitis kontak iritan dibanding dengan orang
yang lama kerja lebih sedikit (Tabel 13). Hasil
analisis data tersebut menunjukkan bahwa lama
kerja merupakan faktor risiko tidak bermakna
terhadap dermatitis kontak iritan.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan
penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh
Bagus (2006) di Kabupaten Bantaeng yang
menemukan bahwa ada kecenderungan lama
kerja dalam sehari dengan terjadinya dermatitis
kontak iritan dengan odds rasio 1,88 dengan
indeks kepercayaan 95% (1,23;2,86), ada
kecendrungan hubungan antara penggabungan
jam kerja dalam sehari dan bekerja pada bagian
proses kerja dengan kejadian dermatitis kontak
iritan, petani rumput laut yang bekerja pada
proses pembibitan dan lainnya ≥8 jam sehari
berisiko menderita dermatitis kontak iritan
sebesar 1,86 kali dibandingkan dengan petani
rumput laut yang bekerja pada proses
pembibitan dan lainnya <8 jam sehari berisiko
menderita dermatitis kontak iritan sebesar 2,04
kali.
Hasil penelitian Fitriah (2006) sejalan
dengan hasil penelitian ini dengan nilai chi
Square diperoleh nilai p=0,639 (p>0,05)
Suhu
pengeringan
Kasus
Kontrol
n
%
CI 95%
n
%
n
%
Rsko tnggi
7
15,56
7
7,78
14
10,37
OR=2,184
Rsko rndah
38
84,44
83
92,22
121
89,63
LL=0.716
UL=6,666
Total
45
100
90
100
135
100
Jurnal Kesehatan bung Vol. 8 No.2,hal: 384-400, Juni 2018 ISSN No. 2088-0340
Faktor Risiko Dermatitis Kontak Iritan Pada Petani Rumput Laut
sehinggan Hₒ diterima sehingga tidak ada
hubungan antara masa kerja dengan kejadian
dermatitis kontak iritan.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh
Wahyudin (2009) bahwa waktu kerja efektif
rata-rata petani rumput laut di pulau Pari
perharinya adalah selama 5,62 jam, yang
teralokasi untuk kegiatan usaha budidaya
rumput laut 2,95 jam (52,49%) dan untuk usaha
diluar kegiatan budidaya rumput laut 2,67 jam
(47,51%).
Dermatitis kontak iritan (radang kulit)
bukan hanya dialami oleh petani rumput laut
yang sering kontak dengan rumput laut tetapi di
Hawai juga dalami oleh penyelam yang terjadi
setelah berenang dalam air yang mengandung
mekar dari spesies tertentu dari cyanobacteria
laut. Gejala-gejala gatal dan terbakar dalam
beberapa menit sampai beberapa jam setelah
berenang di wilayah di mana fragmen dari
cyanobacteria ditangguhkan. Terlihat dermatitis
dan kemerahan berkembang setelah 3-8 jam,
diikuti dengan lecet dan deskuamasi dalam.
Beberapa pantai laut, misalnya, melaporkan
masalah karena bentik cyanobacterium,
Lyngbya majuscula, yang tumbuh di bebatuan di
laut tropis dan menyebabkan parah jika terjebak
di bawah pakaian renang para perenang, ini
umumnya terjadi kondisi cuaca badai yang
menyebabkan penyebaran dari cyanobacterium
(Grauer & Arnold, 1993).
Bertambahnya masa kerja seorang tenaga
kerja maka bertambah pula pengetahuan dan
keterampilan tenaga kerja tersebut. Pada
kejadian penyakit akibat kerja (dermatitis
kontak iritan), petani yang bekerja dalam lama
kerja dalam sehari yang melebihi waktu kerja
yang dianjurkan dan bekerja setiap hari lebih
berisiko atau mempunyai peluang untuk
menderita penyakit dermatitis kontak iritan
karena kontak dengan rumput laut yang terlalu
lama. Seseorang yang bekerja terlalu lama akan
berisiko lebih tinggi di banding yang bekerja
tidak lama bekerja, karena penyakit akibat kerja
erat kaitannya dengan lama paparan.
2. Faktor risiko keterpaparan terhadap
risiko
Keterpaparan terhadap risiko meliputi
rangkaian proses kerja rumput laut yaitu
pembibitan, penanaman, pemeliharaan dan
penjemuran. Kontak yang berulang-ulang
dengan waktu yang semakin lama dan
bersentuhan dengan tali juga memungkinkan
terjadinya trauma mikro atau luka goresan
sehingga menimbulkan gangguan terhadap
pertahanan epidermal yang mengakibatkan
petani rentan terhadap iritan.
Tabel 4 diketahui bahwa status pekerjaan dari
135 petani rumput laut yang paling banyak yaitu
buruh sebanyak 45,2%) pemilik sebanyak
28,1% dan usaha keluarga sebanyak 26,7%.
Tabel 5 diketahui bahwa bagian pekerjaan yang
paling banyak dikerjakan dari 135 petani
Jurnal Kesehatan bung Vol. 8 No.2,hal: 384-400, Juni 2018 ISSN No. 2088-0340
Faktor Risiko Dermatitis Kontak Iritan Pada Petani Rumput Laut
rumput laut yaitu proses pembibitan sebanyak
77,8%, pada proses penanaman hanya 15,6%
dan ada yang mengerjakan bagian pekerjaan
lebih dari 1 proses kerja. Menggabungkan
antara pemeliharaan dan penanaman dan
pembibitan dengan penjemuran.
Pada proses pembibitan kontak langsung
dengan rumput laut lebih lama daripada pada
penanaman, penjemuran dan pemeliharaan,
semakin lama kontak langsung dengan rumput
laut maka kejadian dermatitis kontak iritan
semakin besar. Petani yang melakukan
pembibitan yang tidak menggunakan alat
pelindung diri secara efektif seperti sarung
tangan yang terbuat dari plastik yang elastis
menyebabkan tangan pekerja lembab dan
berisiko timbul vesikel-vesikel kecil karena
terpajang oleh bahan iritan secara langsung
dalam waktu lama.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari
135 petani rumput laut terdiri dari 45 kasus dan
90 kontrol, risiko tinggi sebanyak 34,81% dan
risiko rendah sebanyak 65,18% petani rumput
laut (Tabel 14). Dari hasil analisis data diperoleh
OR=2,875, artinya yang mempunyai risiko
tinggi berpeluang 2,875 kali menderita
dermatitis kontak iritan dibanding dengan risiko
rendah. Hasil analisis data menunjukkan
keterpaparan terhadap risiko merupakan faktor
risiko bermakna terhadap kejadian dermatitis
kontak iritan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh
Bagus (2006) yang menemukan bahwa petani
rumput laut yang berstatus buruh berisiko
menderita dermatitis kontak iritan sebesar 1,53
kali dibandingkan dengan pemilik. Jenis dan
banyaknya pekerjaan yang dikerjakan akan
berpengaruh pada frekuensi dan lama petani
berkontak dengan rumput laut. Dugaan proses
pembibitan menjadi salah satu faktor risiko
terjadinya dermatitis kontak iritan dilihat dari
pradileksi gatal pada kelompok kasus yang
sebagian besar (92,95%) terjadi dibagian lengan
dan tangan.
Hasil penelitian menemukan
kecenderungan hubungan antara bekerja pada
bagian proses khusus pembibitan dengan
kejadian dermatitis kontak iritan mempunyai
risiko 2,11 kali lebih besar di banding petani
rumput laut yang bekerja pada gabungan
pembibitan dan lainnya. Hal ini kemungkinan di
sebabkan karena pada proses pembibitan petani
rumput laut berkontak secara terus menerus
dengan rumput laut segar, menunjukkan bahwa
kontak berulang-ulang dengan kondisi
pekerjaan basah dan lembab menyebabkan kulit
bersisik dan pecah-pecah sehingga
memudahkan penetrasi iritan ke dalam kulit.
Hasil survey yang dilakukan pusat
penelitian dan pengembangan ekologi kesehatan
Depkes RI tahun 2005 pada petani rumput laut
Jurnal Kesehatan bung Vol. 8 No.2,hal: 384-400, Juni 2018 ISSN No. 2088-0340
Faktor Risiko Dermatitis Kontak Iritan Pada Petani Rumput Laut
di Kabupaten Bantaeng menunjukkan bahwa
pembagian tugas pada petani rumput laut, untuk
pekerjaan memanen dan pemeliharaan di laut
umumnya dilakukan oleh laki-laki, sedangkan
pembibitan dan penjemuran umumnya
dilakukan oleh perempuan, namun seorang
pekerja dapat melakukan berbagai jenis
pekerjaan tergantung kebutuhan. Dalam bertani
rumput laut, proses yang membutuhkan tenaga
yang banyak adalah proses pembibitan degan
mengikatkan rumput laut pada medium tanam
yaitu pada tali dan penjemuran bila telah
dipanen (Fitriah, 2006).
4. Faktor risiko upaya perlindungan diri
Upaya perlindungan diri sangat
dianjurkan dalam bekerja yang berfungsi
sebagai protektor, selain itu penggunaan alat
pelindung diri juga sebagai upaya mencegah
terjadinya penyakit akibat kerja termasuk
dermatitis kontak iritan. Pada beberapa kasus
dimana pekerja yang tidak menggunakan APD
lebih berisiko untuk terkena penyakit akibat
kerja daripada pekerja yang menggunakan ADP.
Tabel 6 dari 135 petani rumput laut yang
menggunakan APD hanya 38,5% dan yang tidak
menggunakan sebanyak 61,5%. Adapun jenis
APD yang digunakan yaitu topi/penutup kepala
sebanyak 38,46% dan paling sedikit helm
sebanyak 5,76%. Alasan tidak menggunakan
APD dapat dilihat pada tabel 8 yang paling
banyak beralasan malas pakai yaitu 30,12% dari
83 petani rumput laut yang tidak memakai.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
petani rumput laut dengan risiko tinggi
sebanyak 61,48% dan risiko rendah sebanyak
38,52. Dari hasil analisis data diperoleh
OR=1,618, artinya petani rumput laut yang tidak
memakai APD berisiko 1,618 kali menderita
dermatitis kontak iritan dibanding dengan petani
rumput laut yang memakai APD. Hasil analisis
data menunjukkan penggunaan APD merupakan
faktor risiko tidak bermakna terhadap kejadian
dermatitis kontak iritan.
Hasil penelitian ini petani yang telah
menggunakan alat pelindung diri tapi masih
terkena dermatitis kontak iritan. Hal ini
disebabkan APD yang digunakan kurang efektif
dan tidak memenuhi syarat. Sarung tangan yang
digunakan umumnya tidak elastik dan terbuat
dari kain sehingga memungkinkan iritasi dan
kontak dengan bahan pada rumput laut melalui
air laut yang terserap pada sarung tangan. Hal
ini didukung oleh Suma’mur dalam Fitriah
(2006) menyatakan bahwa salah satu syarat
APD adalah memberikan perlindungan yang
efektif terhadap jenis bahannya. Keefektifan
APD dipengaruhi oleh jenis bahan dan daya
tahannya sesuai jenis pekerjaan yang dilakukan.
Kurangnya penggunaan APD pada petani
rumput laut disebabkan oleh rendahnya
pengetahuan petani tentang penyakit akibat
Jurnal Kesehatan bung Vol. 8 No.2,hal: 384-400, Juni 2018 ISSN No. 2088-0340
Faktor Risiko Dermatitis Kontak Iritan Pada Petani Rumput Laut
kerja dan manfaat pentingnya menggunakan
alat pelindung diri pada proses kerja.
Hasil penelitian Bagus (2006) sejalan
dengan penelitian ini penggunaan APD pada
petani rumput laut di Kab.Bantaeng masih
rendah dan bukan merupakan penyebab utama
dermatitis kontak iritan, hal tersebut di
sebabkan oleh pengetahuan dan pendidikan
petani rendah sehingga tidak mengetahui
tentang manfaat alat pelindung diri dalam
bekerja dan pentingnya memakai APD.
Hasil penelitian Fitriah (2006) sejalan
dengan penelitian ini dengan nilai Chi Square
x²=0,215 dengan nilai p=0,296 (p>0,05) berarti
Hₒ diterima sehingga tidak ada hubungan antara
penggunaan APD dengan kejadian dermatitis
kontak pada petani rumput laut. Penggunaan
APD oleh petani rumput laut masih sangat
rendah, penggunaan APD oleh pekerja
menjauhkan mereka dari penyakit akibat kerja
khususnya dermatitis kontak iritan pada petani
rumput laut.
Hasil penelitian Cahyawati (2011)
mengenai faktor yang berhubungan dengan
kejadian dermatitis kontak iritan pada nelayan
dan petani rumput laut tidak sejalan dengan
penelitian ini, menunjukkan bahwa sebesar 17
dari 24 (85%) petani penderita dermatitis tidak
memakai alat pelindung diri saat melakukan
pekerjaannya dengan nilai p = 0,001 (<0,05)
yang berarti bahwa pemakaian APD
berhubungan secara signifikan dengan kejadian
dermatitis.
Hasil penelitian Dr.Msuya (2011)
mengenai budidaya rumput laut di Zanzibar
yang memberikan gambaran jelas pada
pekerjanya dan kesehatan dan keselamatan kerja
terhadap risiko yang dihadapii oleh petani.
menunjukkan bahwa petani rumput laut
menghadapi kesehatan dan keselamatan
tantangan pada sejumlah tingkatan, banyak yang
berkaitan dengan tempat mereka bekerja. Ini
termasuk kulit gatal dan mata terbakar dari
diperpanjang kontak dengan air laut. Budidaya
rumput laut juga menuntut fisik dalam bekerja
seperti panen rumput laut dan kemudian
menyeret karung hingga pantai dapat
mengambil korban di tubuh, dengan banyak
pekerja mengeluh kelelahan dan sakit dan nyeri.
Untuk mencegah angka penderita petani
disediakan alat pelindung diri seperti sepatu bot,
sarung tangan dan topi.
4. Faktor risiko tempat pengeringan
Petani yang melakukan
penjemuran/pengeringan hanya 42 petani
rumput laut dari 135 petani rumput laut, pada
tabel 9 petani rumput laut melakukan
penjemuran di halaman rumah sebanyak
66,67% dan yang melakukan penjemuran di
pinggir laut sebanyak 33,33%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
petani rumput laut dengan risiko tinggi
sebanyak 15,56% petani rumput laut pada
Jurnal Kesehatan bung Vol. 8 No.2,hal: 384-400, Juni 2018 ISSN No. 2088-0340
Faktor Risiko Dermatitis Kontak Iritan Pada Petani Rumput Laut
kelompok kasus dan risiko rendah sebanyak
7,78% petani rumput laut (Tabel 15). Hasil
analisis data diperoleh nilai odds rasio 2,184
artinya petani rumput laut dengan risiko tinggi
berpeluang 2,184 kali lebih tinggi menderita
dermatitis kontak iritan dibandingkan dengan
yang mempunyai risiko rendah. Hasil analisis
data menunjukkan suhu pengeringan
merupakan faktor risiko tidak bermakna
terhadap dermatitis kontak iritan.
Penjemuran rumput laut di pinggir laut
dan diatas laut mempunyai resiko tinggi karena
adanya pengaruh dari tingginya temperatur atau
suhu dari laut dan terpapar oleh sinar matahari
langsung sehingga dapat menyebabkan kulit
kering, pada proses ini penggunaan alat
pelindung diri yang tidak efektif yaitu tidak
menggunakan penutup kepala dan baju lengan
panjang mempunyai risiko tinggi untuk
menderita dermatitis kontak iritan.
Menurut Rademaker (2009), di Hawai
petani rumput laut pada musim panas terjangkit
gatal-gatal, hal tersebut disebabkan oleh
organisme laut berupa ubur-ubur kecil dan larva
cacing pipih yang menempel pada rumput laut
menyebabkan ruam pada kulit, rumput laut yang
terbawa arus kepantai menyebabkan gatal-gatal
pada penduduk yang berenang. Ganggang
merupakan fenomena alam di Benguela wilayah
lepas pantai Namibia dan Afrika Selatan,
dimana angin dan suhu panas akibat upwelling
menghasilkan pengayaan gizi pesisir perairan.
Namun, beberapa ganggang memiliki berbahaya
efek seperti keracunan kerang dan kematian laut,
yang dapat mempengaruhi pariwisata budidaya
laut, pesisir operasi dan perikanan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan
maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Waktu kerja ≥ 8 jam mempunyai risiko lebih
besar dibandingkan dengan waktu kerja <8
jam perhari (2,023). Bukan faktor risiko
bermakna dari kejadian dermatitis kontak
iritan pada petani rumput laut.
2. Keterpaparan terhadap risiko mempunyai
risiko lebih besar (2,875), merupakan faktor
risiko bermakna dari kejadian dermatitis
kontak iritan pada petani rumput laut artinya
keterpaparan terhadap risiko merupakan
faktor penyebab dermatitis kontak iritan.
3. Upaya perlindungan diri mempunyai risiko
lebih besar yang tidak memakai alat
pelindung diri dibanding yang memakai
APD (1,618), bukan merupakan faktor risiko
bermakna dari kejadian dermatitis kontak
iritan pada petani rumput laut.
4. Tempat pengeringan yang melakukan
pengeringan di laut lebih berisiko (2,184)
dibanding yang menjemur di halaman rumah ,
Jurnal Kesehatan bung Vol. 8 No.2,hal: 384-400, Juni 2018 ISSN No. 2088-0340
Faktor Risiko Dermatitis Kontak Iritan Pada Petani Rumput Laut
bukan merupakan faktor risiko bermakna
dari kejadian dermatitis kontak
iritan pada petani rumput laut.
Saran
Agar dermatitis kontak iritan dapat
diminimalisir pada petani rumput laut, lama
kerja petani rumput laut sebaiknya <8 jam
perhari untuk mencegah penyakit akibat kerja.
Untuk meminimalisir dermatitis kontak
iritan pada petani rumput laut sebaiknya
keterpaparan terhadap risiko dikurangi kontak
langsung dengan rumput laut.
Upaya perlindungan diri sebaiknya
memakai sarung tangan yang elastis agar tidak
terjadi kontak langsung dengan bahan iritan
yang terdapat pada rumput laut.
Pengeringan sebaiknya dilakukan di halaman
rumah agar petani rumput laut yang melakukan
pengeringan tidak mendapat pengaruh suhu laut.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, 2004. Epidemiologi Dermatosis
Akibat Kerja. (online).
(www.dermatological.com) Diakses 23
Desember 2016.
Anies, 2005. Penyakit Akibat Kerja. (online)
(http://k3.org.). Diakses 05 Januari 2016.
Bagus, Indra. 2006. Faktor Risiko Dermatitis
Kontak Iritan Petani Rumput Laut di
Kabupaten bantaeng Sulawesi Selatan. Diakses
23 Desember 2016.
Belsito DV. 2005. Occupational Contact
Dermatitis : Etiology, Prevalence, and Resultant
Impairment/disability. Journal the American
academy of dermatologi inc. Diakses 03 Januari
2016.
Bock M, Bruckner T. 2003. Contact Dermatitis
and Allergy Occupational skin disease in the
construction industry. British Journal of
Dermatology 2003. (online)
(Thomas_Diepgen@med.uni-heidelberg. de ).
Diakses 03 Januari 2016.
Bourke J, 2001. Guidelines for Care of Contact
Dermatitis. British journal of dermatology.
Diakses 25 Desember 2016.
BPS. 2014. Bombana dalam Angka 2014.
(online) (http://profil.bombana/sejarah).
Diakses 23 Desember 2016.
Cahyawati dan Budiono. 2016. Faktor yang
Berhubungan dengan Kejadian Dermatitis pada
Petani Rumput Laut. (online)
(http://journal.unnes.ac.id/index.php/kemas ).
Diakses 4 April 2016.
Data Statistik RSUD Bombana prevalensi
penyakit kulit 2016.
Edward, Sediadi. 2003. Pemantauan Kondisi
Hidrologi di Perairan Raha Muna Sulawesi
Tenggara dalam Kaitannya dengan Budidaya
Rumput Laut. LIPI. Jakarta.
Fitriah. 2006. Faktor-Faktor yang berhubungan
dengan Kejadian Dermatitis Kontak pada
Petani Rumput Laut di Wilayah Kerja
Puskesmas Baruga Kec.Pu’jujukang kab.
Bantaeng Tahun 2005. Makassar
Grauer, Arnold.1993. Seaweed Dermatitis First
Report of a Dermatitis Producing Marine Alga.
Diakses 15 April 2016.
Lestari fatmah, Suryo Hari U. 2007. Faktor-
Faktor yang Berhubungan dengan Dermatitis
Jurnal Kesehatan bung Vol. 8 No.2,hal: 384-400, Juni 2018 ISSN No. 2088-0340
Faktor Risiko Dermatitis Kontak Iritan Pada Petani Rumput Laut
Kontak pada Pekerja di PT Inti Pantja Press
Industri. Universitas Indonesia.
Goh CL, 2007. Handbook of occupational skin
disease. (online) (journal skin disease in
singapore). Diakses 03 Januari 2016.
Hertanti dkk,2009. Dermatitis Kontak.
Swamedikasi. Pharma-c.blogspot.com. Diakses
26 Desember 2016.
Indriani Hety. 2004. Budi daya, Pengolahan
dan Pemasaran Rumput Laut.
(online)(www.potensi agribisnis rumput
laut.com ). Diakses 26 Desember 2016.
Msuya. 2011. Occupational Health and Safety
for Informal Workers. Diakses 15 April 2016.
Notoatmodjo. 2003. Perilaku dan pendidikan
kesehatan. Jakarta. : Rineka Cipta.
Puskesmas. 2016. Data Prevalensi Kejadian
Penyakit di Poleang Selatan. Kabupaten
Bombana.
Rademaker. 2009. Kesehatan Petani Rumput
Laut Akibat Dermatitis di Hamilton Selandia
Baru. Diakses 14 April 2016.
Riectshel R, 2001. Aquatic Dermatosis,Fisher’s
Contact dermatitis. Journal dermatology.
Diakses 12 Januari 2016.
Rifki Diah, 2010. Hubungan Pemakaian Alat
Pelindung Diri (Sarung Tangan) Terhadap
Penurunan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan
pada Pekerja Bagian Penyelesaian Akhir di CV.
Roda Jati Karangayar. (online) diakses 01
februari 2016.
Robert G, 2008.Collecting Survaillance Data on
Risks for Occupational Contact Dermatitis.
(Online) (http://ag.gov.au/cca). Diakses 12
Januari 2016.
Roderick dkk, 2006. Skin Diseases. Journal of
Dermatology. Chapter 37. (online)
(http://en.dermatology.org//journal). Diakses 12
januari 2016.
Safari, 2005. Analisis Kandungan Rumput
Laut. Jurnal kandungan rumput laut. Diakses
27 Desember 2017.
Soebaryo RW,1994. Dermatitis Kontak.
Jakarta : Yayasan Penerbit IDI.
Suryaningrum Dwi. 2008. Teknologi Penangan
Rumput Laut .(online) (http ://www. bbrp2
b.dkp.go.id). Diakses 15 Januari 2016.
Syahrul. 2007. Alat Pelindung Diri,
(online)(http://www.scribd.com/doc)diakses 27
Desember 2011.
Thaha. 2003. Gambaran Kronik Dermatitis
Akibat Kerja. Dalam kumpulan makalah
dermatitis akibat kerja. Diakses 05 Januari
2016.
Undang-Undang No. 23 Tahun 1992 Tentang
Kesehatan. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
1992.
Undang-Undang No 13 Tahun 2003. Tentang
Ketenagakerjaan. Diakses 15 Januari 2012.
Wahyudin Yudi. 2009. Tingkat Kesejahteraan
Keluarga dan Alokasi Waktu Kerja Petani dan
Usaha Budidaya Rumput Laut di Pulau Pari.
Diakses 2 April 2016.
Jurnal Kesehatan bung Vol. 8 No.2,hal: 384-400, Juni 2018 ISSN No. 2088-0340
Faktor Risiko Dermatitis Kontak Iritan Pada Petani Rumput Laut
ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication.
Perilaku dan pendidikan kesehatan
  • Notoatmodjo
Notoatmodjo. 2003. Perilaku dan pendidikan kesehatan. Jakarta. : Rineka Cipta.
Data Prevalensi Kejadian Penyakit di Poleang Selatan
  • Puskesmas
Puskesmas. 2016. Data Prevalensi Kejadian Penyakit di Poleang Selatan. Kabupaten Bombana.
Aquatic Dermatosis,Fisher's Contact dermatitis
  • R Riectshel
Riectshel R, 2001. Aquatic Dermatosis,Fisher's Contact dermatitis. Journal dermatology. Diakses 12 Januari 2016.
Hubungan Pemakaian Alat Pelindung Diri (Sarung Tangan) Terhadap Penurunan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan pada Pekerja Bagian Penyelesaian Akhir di CV
  • Rifki Diah
Rifki Diah, 2010. Hubungan Pemakaian Alat Pelindung Diri (Sarung Tangan) Terhadap Penurunan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan pada Pekerja Bagian Penyelesaian Akhir di CV.
Collecting Survaillance Data on Risks for Occupational Contact Dermatitis
  • G Robert
Robert G, 2008.Collecting Survaillance Data on Risks for Occupational Contact Dermatitis. (Online) (http://ag.gov.au/cca). Diakses 12 Januari 2016.
Analisis Kandungan Rumput Laut. Jurnal kandungan rumput laut
  • Safari
Safari, 2005. Analisis Kandungan Rumput Laut. Jurnal kandungan rumput laut. Diakses 27 Desember 2017.
Dermatitis Kontak. Jakarta : Yayasan Penerbit IDI
  • R W Soebaryo
Soebaryo RW,1994. Dermatitis Kontak. Jakarta : Yayasan Penerbit IDI.
Teknologi Penangan Rumput Laut
  • Suryaningrum Dwi
Suryaningrum Dwi. 2008. Teknologi Penangan Rumput Laut.(online) (http ://www. bbrp2 b.dkp.go.id). Diakses 15 Januari 2016.
Gambaran Kronik Dermatitis Akibat Kerja. Dalam kumpulan makalah dermatitis akibat kerja
  • Thaha
Thaha. 2003. Gambaran Kronik Dermatitis Akibat Kerja. Dalam kumpulan makalah dermatitis akibat kerja. Diakses 05 Januari 2016.
  • Undang-Undang
Undang-Undang No. 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.