ArticlePDF Available

HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, UMUR, PENDIDIKAN, PEKERJAAN, PSIKOLOGIS, DAN INISIASI MENYUSUI DINI DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI PUSKESMAS SUDIANG

Authors:

Abstract

Pendahuluan Pemberian ASI secara dini dan eksklusif akan membantu mencegah berbagai penyakit anak, terutama gangguan lambung, saluran nafas dan asma pada anak. Faktor – faktoryang dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif antara lain karakteristik ibu (pengetahuan,pendidikan, pekerjaan, usia, paritas dan etnis), karakteristik bayi (berat lahir dan kondisikesehatan bayi), lingkungan (keyakinan, dukungan keluarga, tempat tinggal dan sosial ekonomi)dan pelayanan kesehatan (pemeriksaan kehamilan, konseling laktasi, tempat persalinan,penolong persalinan dan kebijakan). Tujuan: Penelitian ini adalah untuk mengetahui hubunganfaktor ibu dan inisiasi menyusu dini (IMD) dengan pemberian ASI eksklusif. Bahan danMetode: Jenis penelitian ini adalah analitik cross sectionalstudy. Penelitian ini dilakukan pada95 ibu yang memiliki bayi usia 6-11 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Sudiang Makassar.Analisis dilakukan dengan uji chi-square untuk menentukan hubungan antar variable. Hasil:Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 50,5%bayi tidak mendapatkan ASI eksklusifdan 49,5% bayi mendapatkan ASI eksklusif. Terdapat hubungan antara pengetahuan ibu (p =0,015), pekerjaan ibu (p = 0,049), psikologis (p = 0,031), dan inisiasi menyusui dini (IMD) (p= 0,007) dengan pemberian ASI eksklusif. Tidak terdapat hubungan antara sikap ibu (p =0,748), umur ibu (p = 0,325), dan pendidikan ibu (p = 0,558) dengan pemberian ASI eksklusif.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara faktor ibu yaitu pengetahuan ibu, pekerjaan ibu,psikologis ibu dan inisiasi menyusu dini (IMD) dengan pemberian ASI eksklusif dan tidakterdapat hubungan faktor ibu yaitu sikap ibu, umur ibu dan pendidikan ibu dengan pemberianASI eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Sudiang Makassar.
JGMI: The Journal of Indonesian Community Nutrition Vol. 9 No. 1, 2020
30
HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, UMUR, PENDIDIKAN,
PEKERJAAN, PSIKOLOGIS, DAN INISIASI MENYUSUI DINI
DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI PUSKESMAS SUDIANG
RELATIONS OF KNOWLEDGE, ATTITUDE, AGE, EDUCATION,
JOBS, PSYCHOLOGICAL, AND EARLY ASKING INITIATIONS WITH
EXCLUSIVE ASSESSMENT IN SUDIANG PUSKESMAS
Hasna Assriyah1, Rahayu Indriasari1, Healthy Hidayanti1, Abdul Razak Thaha1,
Nurhaedar Jafar1
(E-mail/Hp: hasna.assriyah1004@gmail.com/085314813248)
1Program Studi Ilmu Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, Makassar
ABSTRAK
Pendahuluan Pemberian ASI secara dini dan eksklusif akan membantu mencegah berbagai
penyakit anak, terutama gangguan lambung, saluran nafas dan asma pada anak. Faktor faktor
yang dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif antara lain karakteristik ibu (pengetahuan,
pendidikan, pekerjaan, usia, paritas dan etnis), karakteristik bayi (berat lahir dan kondisi
kesehatan bayi), lingkungan (keyakinan, dukungan keluarga, tempat tinggal dan sosial ekonomi)
dan pelayanan kesehatan (pemeriksaan kehamilan, konseling laktasi, tempat persalinan,
penolong persalinan dan kebijakan). Tujuan: Penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan
faktor ibu dan inisiasi menyusu dini (IMD) dengan pemberian ASI eksklusif. Bahan dan
Metode: Jenis penelitian ini adalah analitik cross sectionalstudy. Penelitian ini dilakukan pada
95 ibu yang memiliki bayi usia 6-11 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Sudiang Makassar.
Analisis dilakukan dengan uji chi-square untuk menentukan hubungan antar variable. Hasil:
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 50,5%bayi tidak mendapatkan ASI eksklusif
dan 49,5% bayi mendapatkan ASI eksklusif. Terdapat hubungan antara pengetahuan ibu (p =
0,015), pekerjaan ibu (p = 0,049), psikologis (p = 0,031), dan inisiasi menyusui dini (IMD) (p
= 0,007) dengan pemberian ASI eksklusif. Tidak terdapat hubungan antara sikap ibu (p =
0,748), umur ibu (p = 0,325), dan pendidikan ibu (p = 0,558) dengan pemberian ASI eksklusif.
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara faktor ibu yaitu pengetahuan ibu, pekerjaan ibu,
psikologis ibu dan inisiasi menyusu dini (IMD) dengan pemberian ASI eksklusif dan tidak
terdapat hubungan faktor ibu yaitu sikap ibu, umur ibu dan pendidikan ibu dengan pemberian
ASI eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Sudiang Makassar.
Kata kunci : Pengetahuan, Sikap, Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Psikologis, Inisiasi
Menyusu Dini, ASI Eksklusif.
ABSTRACT
Introduction: Breastfeeding exclusively and exclusively will help prevent various childhood
illnesses, especially stomach disorders, respiratory tract and asthma in children. Factors that
can influence exclusive breastfeeding include mother characteristics (knowledge, education,
occupation, age, parity and ethnicity), baby characteristics (birth weight and infant health
conditions), environment (beliefs, family support, place of residence and socioeconomic ) and
health services (antenatal care, lactation counseling, place of delivery, birth attendants and
Hasna Assriyah: Hubungan Pengetahuan, Sikap, Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Psikologis, Dan Inisiasi Menyusui
Dini Dengan Pemberian Asi Eksklusif Di Puskesmas
31
policies). Objective: this research was to determine the relationship between maternal factors
and the initiation of early breastfeeding (IMD) with exclusive breastfeeding. Materials and
Methods: This type of research is analytic cross sectional study. The study was conducted on 95
mothers who have babies aged 6-11 months in the Sudiang Makassar Public Health Center.
Analysis was performed with the chi-square test to determine the relationship between variables.
Results: The results of this study showed that 50.5% of infants did not get exclusive
breastfeeding and 49.5% of infants received exclusive breastfeeding. There is a relationship
between mother's knowledge and exclusive breastfeeding (p = 0.015). There is a relationship
between mother's work and exclusive breastfeeding (p = 0.049). There is a relationship between
psychological and exclusive breastfeeding (p = 0.031). There was a relationship between the
initiation of early breastfeeding (IMD) and exclusive breastfeeding (p = 0.007). There was no
relationship between maternal attitudes and exclusive breastfeeding (p = 0.748). There was no
relationship between maternal age and exclusive breastfeeding (p = 0.325). There was no
relationship between maternal education with exclusive breastfeeding (p = 0.558). Conclusion:
There is a relationship between maternal factors namely mother's knowledge, mother's
occupation, maternal psychology and initiation of early breastfeeding (IMD) with exclusive
breastfeeding and there is no relationship between maternal factors namely mother's attitude,
mother's age and mother's education with exclusive breastfeeding in the Puskesmas Work Area
Sudiang Makassar.
Keywords: Knowledge, Attitude, Age, Education, Employment, Psychological, Early
Breastfeeding Initiation (IMD), Exclusive breastfeeding.
PENDAHULUAN
Dalam rangka percepatan perbaikan gizi pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden
nomor 42 tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi yang fokus pada
1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Sasaran global tahun 2025 disepakati adalah menurunkan
proporsi anak balita yang pendek (stunting) sebesar 40%, menurunkan proporsi anak balilta yang
menderita kurus (wasting) < 5%, menurunkan anak yang lahir berat badan rendah (BBLR)
sebesar 30%, tidak ada kenaikan proporsi anak yang mengalami gizi lebih, menurunkan proporsi
ibu usia subur yang menderita anemia sebanyak 50%, meningkatkan prosentase ibu yang
memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan lebih kurang 50%.1
Berdasarkan Riskesdas tahun 2018, proporsi pola pemberian ASI eksklusif pada anak 0 -5
bulan tahun 2018 sebesar 37,3% dan proporsi pemberian IMD sebesar 58,2%.2 Sedangkan
proporsi pemberian ASI eksklusif pada 0 6 bulan pada tahun 2013 sebesar 30,2% dan proporsi
IMD sebesar 34,5%.2 Hal ini menunjukan terjadinya peningkatan proporsi pemberian ASI
eksklusif dan pemberian IMD.2 Sedangkan proporsi pemberian ASI eksklusif untuk Sulawesi
Selatan tahun 2018 sebesar 35 - 40%, sedangkan untuk proporsi IMD tahun 2018 sebesar 40
60%.2
Penyebab kegagalan praktek ASI eksklusif bermacam-macam seperti pemberian makanan
prelakteal, ibu harus bekerja, bayi sakit, ibu lelah/sakit, ibu kurang percaya diri, dan lainlain.3
Berbagai faktor juga telah dihubungkan dengan rendahnya pengetahuan ibu. Menurut Lawrence
JGMI: The Journal of Indonesian Community Nutrition Vol. 9 No. 1, 2020
32
Green (1980) dalam praktik pemberian ASI eksklusif dapat dipengaruhi oleh beberapa hal,
diantaranya tingkat pengetahuan ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, kondisi kesehatan ibu, umur
ibu, sikap ibu, penolong persalinan, dan lingkungan keluarga.3
Banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa ada hubungan pemberian ASI eksklusif
dengan kejadian pneumonia. Menurut penelitian Juliastuti pada tahun 2011 menunjukan bahwa
adanya hubungan antara tingkat pengetahuan ibu menyusui dengan penerapan ASI eksklusif, ibu
yang memiliki tingkat pengetahuan baik berpeluang 7 kali lebih baik dalam penerapan ASI
eksklusif dibandingkan ibu yang berpengetahuan cukup atau kurang, dan terdapat hubungan
antara inisiasi menyusu dini dengan pemberian ASI eksklusif, dimana ibu yang melakukan
inisiasi menyusu dini akan semakin tinggi pemberian ASI eksklusif.11
Berdasarkan uraian tersebut maka penulis bermaksud melakukan penelitian
tentanghubungan faktor ibu dan inisiasi menyusui dini (IMD) dengan pemberian ASI eksklusif
di Wilayah Kerja Puskesmas Sudiang Makassar.
BAHAN DAN METODE
Jenis penelitian yang digunakan adalah desain penelitian analitik cross sectional.
Penelitian ini dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Sudiang Makassar Provinsi Sulawesi
Selatan. Penelitian ini dilakukan pada bulan September-Oktober 2019. Sampel penelitian ini
adalah ibu yang memiliki anak berusia 6-11 bulan yang tinggal di Wilayah Puskesmas Sudiang
Makassar.Sampel penelitian ini menggunakan Teknik pengambilan sampel dengan metode
accidental sampling yaitu sebanyak 95 ibu.Analisis data dilakukan secara bertahap meliputi
analisis univariat dan bivariat diuji secara statistik Chi square dengan derajat ketepatan 95% (α=
0,05). Data penelitian diperoleh dengan mengumpulkan data primer dan data sekunder.Data
primer yaitu anak berusia 6-11 bulan dengan pemberian ASI Eksklusif, dikumpulkan dengan
menggunakan metode wawancara kepada ibu balita dengan bantuan kuesioner dan wawancara.
Data sekunder diperoleh dari institusi atau pihak lain yang dapat dipercaya, yaitu presentasi
pemberian ASI eksklusif di wilayah Puskesmas Sudiang sebesar 52,2 %. Data dianalisis
menggunakan SPSS untuk mengetahui distribusi frekuensi dari setiap variabel. Data yang telah
dianalisis disajikan dalam bentuk tabel dan narasi untuk membahas hasil penelitian.
HASIL
Hasil penelitian distribusi karakteristik responden menunjukan bahwa dari 95 sampel
diperoleh yaitu menurut umur responden, ibu yang memiliki umur 20 35 tahun lebih besar
yaitu 74 orang (77,9%). Menurut tingkat pendidikan terakhir responden terbanyak terdapat pada
tingkat pendidikan SMA/SMK yaitu 41 orang (43,2%), dan menurut pekerjaan ibu paling banyak
responden tidak bekerja atau hanya sebagai ibu rumah tangga (IRT) lebih besar yaitu 85 orang
(89,5%)
Hasna Assriyah: Hubungan Pengetahuan, Sikap, Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Psikologis, Dan Inisiasi Menyusui
Dini Dengan Pemberian Asi Eksklusif Di Puskesmas
33
Tabel 1.Distribusi Frequensi Karakteristik Responden di Wilayah KerjaPuskesmas
Sudiang Makassar
Karakteristik
n
%
Umur (thn) <20
20 35
>35
7
74
14
7,4
77,9
14,7
Pendidikan Tidak Sekolah
SD
SMP
SMA/SMK
D3
S1
2
7
27
41
3
15
2,1
7,4
28,4
43,2
3,2
15,8
Pekerjaan IRT
Buruh
Wiraswasta
PNS
85
3
4
3
89,5
3,2
4,2
3,2
Pengetahuan Rendah
Cukup
Tinggi
27
51
17
28,4
53,7
17,9
Sikap Negatif
Positif
53
42
55,8
44,2
Psikologis Tidak Baik
Baik
25
70
26,3
73,7
IMD Tidak IMD
IMD
16
79
16,8
83,2
ASI Eksklusif
Tidak ASI
ASI
48
47
50,5
49,5
Sumber : Data Primer, 2019.
Hasil univariat menunjukan pengetahuan ibu paling banyak responden yang memiliki
pengetahuan cukup sebanyak 51 orang (53,7%), responden dengan pengetahuan rendah sebanyak
27 orang (28,4%), dan responden dengan pengetahuan tinggi sebanyak 17 orang (17,9%).
Menurut sikap ibu paling banyak responden yang memiliki sikap negatif sebanyak 53 orang
(55,8%) dan responden dengan sikap positif sebanyak 42 orang (44,2%). Menurut psikologis ibu
paling banyak responden yang memiliki psikologis baik sebanyak 70 orang (73,7%) dan
responden dengan psikologis tidak baik sebanyak 25 orang (26,3%). Menurut inisiasi menyusu
dini (IMD) paling banyak responden yang memberikan inisiasi menyusu dini sebanyak 79 orang
JGMI: The Journal of Indonesian Community Nutrition Vol. 9 No. 1, 2020
34
(83,2%) dan responden yang tidak memberikan inisiasi menyusu dini sebanyak 16 orang
(16,8%). Menurut pemberian ASI eksklusif paling banyak responden yang tidak memberikan
ASI eksklusif sebanyak 48 orang (50,5%) dan responden yang memberikan ASI eksklusif
sebanyak 47 orang (49,5%).
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan Ibu
Pemberian
ASI Eksklusif
Pengetahuan Ibu
Total
Rendah
(n)
Cukup
(n)
%
Tinggi
(n)
%
N
%
Tidak ASI
Ekslusif
20
21
43,8
7
14,6
48
100
ASI Eksklusif
7
30
63,8
10
21,3
47
100
Sumber : Data Primer, 2019.
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sikap Ibu
Pemberian ASI
Eksklusif
Sikap Ibu
Total
Negatif
(n)
%
Positif
(n)
%
N
%
Tidak ASI
Ekslusif
26
54,2
22
45,8
48
100
ASI Eksklusif
27
57,4
20
42,6
47
100
Sumber : Data Primer, 2019.
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur Ibu
Sumber : Data Primer, 2019.
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan Ibu
Pemberian ASI
Eksklusif
Pendidikan Ibu
Total
Rendah
(n)
%
Tinggi
(n)
%
N
%
Tidak ASI
Ekslusif
17
35,4
31
64,6
48
100
ASI Eksklusif
14
29,8
33
70,2
47
100
Sumber : Data Primer, 2019.
Pemberian ASI
Eksklusif
Umur Ibu
(thn)
Total
<20 dan >35
(n)
%
20 - 35
(n)
%
N
%
Tidak ASI
Ekslusif
11
22,9
37
77,1
48
100
ASI Eksklusif
15
31,9
32
68,11
47
100
Hasna Assriyah: Hubungan Pengetahuan, Sikap, Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Psikologis, Dan Inisiasi Menyusui
Dini Dengan Pemberian Asi Eksklusif Di Puskesmas
35
Tabel 6. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan Ibu
Pemberian ASI
Eksklusif
Pekerjaan Ibu
Total
Tidak
Bekerja
(n)
%
Bekerja
(n)
%
N
%
Tidak ASI
Ekslusif
40
83,3
8
16,7
48
100
ASI Eksklusif
45
95,7
2
4,3
47
100
Sumber : Data Primer, 2019.
Tabel 7. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Psikologi Ibu
Sumber : Data Primer, 2019.
Tabel 8. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Inisiasi Menyusui Dini Ibu
Sumber : Data Primer, 2019.
PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 95 orang ibu yang diteliti, hanya 47 orang ibu
(49,5%) ibu yang memberikan ASI eksklusif. Sedangkan yang lain tidak memberikan ASI
eksklusif. Penelitian ini mencerminkan bahwa pemberian ASI eksklusif di wilayah Kerja
Puskesmas Sudiang Makassar masih rendah, jika dibandingkan dengan target yang menjadi
indicator Indonesia Sehat 2010 bahwa cakupan pemberian ASI eksklusif adalah 80%.
Berdasarkan hasil analisi menggunakan uji chi_square diperoleh p=0,015 (p<0,05)
sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian ASI
eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Sudiang Makassar. Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian Septiani (2017) terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan
Pemberian ASI
Eksklusif
Psikologis Ibu
Total
Tidak baik
(n)
%
Baik
(n)
%
N
%
Tidak ASI
Ekslusif
8
16,7
40
83,3
48
100
ASI Eksklusif
17
36,2
30
63,8
47
100
Pemberian ASI
Eksklusif
Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Total
Tidak
Melakukan IMD
(n)
%
Melakukan IMD
(n)
%
n
%
Tidak ASI
Ekslusif
13
27,1
35
72,9
48
100
ASI Eksklusif
3
6,4
44
93,6
47
100
JGMI: The Journal of Indonesian Community Nutrition Vol. 9 No. 1, 2020
36
pemberian ASI eksklusif (p=0,000). Pemberian ASI eksklusif dapat terjadi jika ibu memiliki
pengetahuan yang tinggi.
Menurut teori Green bahwa perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama dimana salah satu
factor predisposisi yang ada di dalamnya terdapat pengetahuan.4 Hasil ini sejalan dengan teori
yang menyatakan bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting
dalam membentuk tindakan seseorang.4 Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku
yang didasari oleh pengetahuan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari
pengetahun.4
Pengetahuan merupakan domain yang cukup penting dalam menentukan perilaku.
Perilaku yang didasari pengetahuan, kesadaran dan sikap positif akan semakin langgeng.
Pengetahuan yang baik akan memudahkan seseorang untuk merubah perilaku termasuk dalam
praktik menyusui. Perilaku ibu untuk memberikan ASI eksklusif disebabkan oleh factor
penyebab perilaku yang salah satunya adalag pengetahuan, dimana factor ini menjadi dasar atau
motivasi bagi individu dalam mengambil keputusan.5
Hasil analisis diperoleh p= 0,748 (p>0,05)yang berarti tidak terdapat hubungan antara
sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Ida (2012) tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap ibu dengan pemberian ASI
eksklusif nilai p=0,154.Sikap (attitude) merupakan konsep paling penting dalam psikologi sosial
yang membahas unsur sikap baik sebagai individu maupun kelompok.Sikap dan kepercayaan
yang tidak mendasar terhadap makna pemberian ASI yang membuat para ibu tidak melakukan
ASI eksklusif selama 6 bulan. Umumnya alasan ibu tidak memberikan ASI eksklusif meliputi
rasa takut yang tidak mendasar bahwa ASI yang dihasilkan tidak cukup atau memiliki mutu yang
tidak baik, keterlambatan memulai pemberian ASI, pembuangan kolostrum, teknik pemberian
ASI yang salah, serta kepercayaan yang keliru bahwa bayi haus dan memerlukan cairan
tambahan lainnya.6
Hasil analisis diperoleh p=0,325 (p>0,05) yang berarti tidak terdapat hubungan antara
umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Sugianto (2016) tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap ibu dengan pemberian ASI
eksklusif nilai p=0,927.Umur ibu sangat menentukan kesehatan maternal karena berkaitan
dengan kondisi kehamilan, persalinan dan nifas, serta cara mengasuh juga menyusui bayinya. Ibu
yang berumur kurang dari 20 tahun masih belum matang dan belum siap secara jasmani dan
sosial dalam menghadapi kehamilan, persalinan, dan menyusui bayi yang dilahirkan. Sedangkan
pada usia 35 tahun ke atas di mana produksi hormon relatif berkurang, mengakibatkan proses
laktasi menurun, sedangkan pada usia remaja 20 tahun kebawah perkembangan fisik, psikologis,
maupun sosial belum siap sehingga dapat mengganggu keseimbangan psikologis dan dapat
mempengaruhi dalam produksi ASI.4
Usia 20-35 tahun adalah usia reproduksi sehat dan matang sehingga dapat sangat
mendukung untuk pemberian ASI eksklusif, sedangkan usia 35 tahun meskipun memiliki bayi
dengan status gizi baik namun pada usia tersebut dianggap berbahaya, sebab baik alat
reproduksinya maupun fisik ibu sudah jauh berkurang dan menurun, selain itu bisa terjadi resiko
Hasna Assriyah: Hubungan Pengetahuan, Sikap, Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Psikologis, Dan Inisiasi Menyusui
Dini Dengan Pemberian Asi Eksklusif Di Puskesmas
37
bawaan pada bayinya dan juga dapat meningkatkan kesulitan pada kehamilan, persalinan, dan
nifas.4 Hasil analisis diperoleh p=0,558 (p>0,05) yang berarti tidak terdapat hubungan antara
pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif. Hal ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Santono (2012) tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu
dengan pemberian ASI eksklusif.Tingkat Pendidikan ibu yang semakin rendah berpengaruh pada
kurangnya kemampuan dasar berpikir untuk mengambil keputusan, khususnya pemberian ASI
eksklusif. Pemberian ASI eksklusif tidak hanyak dipengaruhi oleh factor Pendidikan ibu, tetapi
juga tingkat pengetahuan yang ibu miliki mengenai ASI eksklusif. Pengetahuan bisa di dapatkan
melalui penyuluhan kesehatan, brosur dan pemberian informasi petugas kesehatan saat datang ke
posyandu.7
Hasil analisis diperoleh p=0,049 (p<0,05) yang berarti terdapat hubungan antara
pekerjaan ibu dengan pemberian ASI eksklusif. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan
oleh Bahriyah (2017) terdapat hubungan yang signifikan antara pekerjaan ibu dengan pemberian
ASI eksklusif.Kecenderungan ibu-ibu tidak memberikan ASI eksklusif dikarenakan banyaknya
ibu-ibu yang bekerja. Selain itu, kecenderungan ini juga terjadi dikarenakan bagi pekerja wanita
yang melahirkan, memberikan ASI eksklusif merupakan suatu dilemma, karena masa cuti terlalu
singkat dibandingkan masa menyusui, sehingga mereka akan memberikan susu formula sebagai
pengganti ASI eksklusif.8Ibu yang bekerja diluar rumah mempunyai keterbatasan kesempatan
untuk menyusui bayinya secara langsung. Keterbatasan ini bisa berupa waktu dan tempat,
terutama jika ditemapt kerja tidak tersedia fasilitas. Jika ibu bekerja mempunyai pengetahuan
yang cukup mengenai manfaat, cara penyimpanan, termasuk juga pemberian ASI diharapkan
dapat meningkatkan cakupan pemberian ASI eksklusif.8
Hasil analisis diperoleh p=0,031 (p<0,05) yang berarti terdapat hubungan antara
psikologis ibu dengan pemberian ASI eksklusif. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan
oleh Sinta (2015) terdapat hubungan yang signifikan antara pekerjaan ibu dengan pemberian ASI
eksklusif nilai p=0,012.Hal ini dikarenakan apabila psikologis ibu baik, ibu akan memberikan
ASI pada bayi selama 6 bulan. Menurut Roesli (2007) yang menegaskan bahwa ibu yang tenang,
bahagai, percaya diri dan tidak sedang mengalami stress akan memperlancar produksi ASI
karena kondisi ibu turut mempengaruhi cara kerja hormone oksitosin yang dibutuhkan untuk
memproduksi ASI.Timbulnya stress pada ibu yang menyusui berasal dari berbagai sumber
diantaranya adalah karena beberapa perubahan baru yang dialami ibu baik berupa perubahan
secara biologis, fisioklogis, dan perubahan peran serta tanggung jawab baru yang dimiliki.9
Hasil analisis diperoleh p=0,007 (p<0,05) yang berarti terdapat hubungan antara inisiasi
menyusu dini (IMD) dengan pemberian ASI eksklusif. Hal ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Sofia (2018) terdapat hubungan yang signifikan antara inisiasi menyusu dini
(IMD) dengan pemberian ASI eksklusif nilai p=0,001. Inisiasi menyusu dini (IMD) akan
mempengaruhi seorang ibu untuk memberikan ASI selanjutnya termasuk ASI eksklusif samapi
dengan 6 bulan sert ASI dengan makanan tambahan sampai dengan 2 tahun. Disamping itu,
konsumsi makanan iby yang cukuo juga mempengaruhi pemberian ASI eksklusif. Menurut teori
JGMI: The Journal of Indonesian Community Nutrition Vol. 9 No. 1, 2020
38
Curningham G (2005)seorang ibu yang menyusui dapat dengan mudah memproduksi 600 ml
ASI per hari. Semua vitamin kecuali Vitamin K terkandung dalam ASI tetapi dalam jumlah yang
bervariasi dan pemberian makanan tambahan pada ibu akan meningkatkan sekresinya.10
KESIMPULAN
Dapat disimpulankan bahwa tidak terdapat hubungan antara sikap ibu, umur ibu, dan
pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif, Sedangkan terdapat hubungan antara
pengetahuan ibu, pekerjan ibu, psikologis ibu dan terdapat hubungan antara inisiasi menyusu dini
(IMD) dengan pemberian ASI eksklusif. Hal ini dapat dilihat bahwa beberapa faktor internal dan
ekskteral dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif. Saran lebih meningkatkan promosi ASI
eksklusif dan tidak memperkenalkan atau menganjurkan pada ibu menyusui untuk memberikan
susu formula sebagai pengganti ASI eksklusif, lebih mensosialisasikan ASI eksklusif pada ibu
bekerja maupun tidak bekerja, untuk meningkatkan pengetahuan tentang pemberian ASI
eksklusif dengan mengikuti penyuluhan dan mencari informasi melalui media cetak atau
elektronik
DAFTAR PUSTAKA
1. Departemen Kesehatan RI. Bangsa Sehat Berprestasi Melalui Percepatan Perbaikan Gizi
Pada 1000 Hari Pertama Kehidupan. Artik Kementrian Republik Indones. 2016.
2. Kesehatan K. Hasil Utama Riskesdas 2018. 2018.
3. Fikawati, S. And Syafiq A. Penyebab Keberhasilan Dan Kegagalan Praktik Pemberian
ASI Eksklusif. 2009.
4. Atabik A. Faktor Ibu Yang Berhubungan Dengan Praktik Pemberian ASI Eksklusif Di
Wilayah Kerja Puskesmas Pamotan. 2013.
5. Associated F, Exclusive W, By B, Who W, Personnel Asah. Faktor-Faktor Yang
Berhubungan Dengan Pemberian ASI Eksklusif Oleh Ibu Menyusui Yang Bekerja
Sebagai Tenaga Kesehatan. 2017;2(2):15974.
6. Wawan, A. & D. Teori Dan Pengukuran Pengetahuan Sikap Dan Perilaku Manusia.
Yogyakarta: Penerbit Nuha Medika. 2010.
7. Hastuti1 Bw, Machfudz2 S, Febriani2 Tb. Hubungan Pengalaman Menyusui Dan Tingkat
Pendidikan Ibu Dengan Pemberian ASI Eksklusif Di Kelurahan Barukan, Kecamatan
Manisrenggo, Kabupaten Klaten. 2015;6(4):17987.
8. Bahriyah F, Putri M, Jaelani AK, Indragiri AK. Hubungan Pekerjaan Ibu Terhadap
Pemberian ASIEsklusif Pada Bayi. 2017;2(June):1138.
9. Utami R. Inisiasi Menyusu Dini plus ASI Eksklusif. Jakarta: Pustaka Bunda. 2012.
10. Annisa Septy Nurcahyani. Hubungan Inisiasi Menyusu Dini Dengan Keberhasilan
ASIEksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas godean ii. 2017;112.
11. Juliastuti, R. (2011) ‘Hubungan Tingkat Pengetahuan, Status Pekerjaan Ibu, Dan
Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini Dengan Pemberian Asi Eksklusif’, Journal, pp. 187.
ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication.
Article
Full-text available
Infancy and toddler be a good time for growing children. The provision of adequate nutrition into maternal and family obligations to support the growth of children. Nutrition is the most appropriate given to babies is breast milk. Exclusive breastfeeding for infants 0-6 months has been recommended by the WHO (World Health Organization), UNICEF (United Nation Childrens Fund), and Depkes RI (Departemen Kesehatan Republik Indonesia). But unfortunately the percentage of exclusive breastfeeding in Indonesia still does not meet the desired target, amounting to 54.3% with a target desired by 75%. The level of knowledge and maternal employment status is a factor affecting exclusive breastfeeding for the mother is still a lack of understanding about the practice of exclusive breastfeeding and busy mother because of her job. Therefore, the purpose of this study was to determine the relationship between level of knowledge and employment status with exclusive breastfeeding. This study used a quantitative research with research methods correlational. The study design used is cross sectional. Samples are mothers with babies aged 6 months. The sampling technique used the total population and obtained a number of 31 respondents. The results showed that there was a relationship between the level of knowledge with exclusive breastfeeding, the value of p = 0.022. There is a relationship between employment status with exclusive breastfeeding, the value of p = 0.023.
Article
Full-text available
p> ASI Eksklusif adalah pemberian ASI kepada bayi tanpa makanan dan minuman pendamping (termasuk air jeruk, madu, air gula), yang dimulai sejak bayi baru lahir sampai dengan usia 6 bulan. Salah satu penyebab belum berhasilnya pelaksanaan ASI Eksklusif di Indonesia adalah faktor ibu yang bekerja (meski itu bukan satu-satunya faktor penyebab kegagalan). Pekerjaan mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI Eksklusif pada bayi, karena ibu sebagai IRT memiliki waktu lebih banyak bersama anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan pekerjaan ibu terhadap pemberian ASI Eksklusif pada bayi di Wilayah kerja Puskesmas Sipayung Kecamatan Rengat Kabupaten Indragiri Hulu. Penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan cross sectiona l. Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Sipayung Kecamatan Rengat Kabupaten Indragiri Hulu. Sampel penelitian ini sebanyak 152 orang dengan teknik simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas ibu memberikan ASI Eksklusif 50,7%, bekerja sebagai IRT 75,7%, ada hubungan antara pekerjaan ibu terhadap pemberian ASI Eksklusif dengan nilai Pvalue 0,018 (R= 0,396). I bu yang bekerja sebagai Non IRT cenderung memberikan ASI Eksklusif dikarenakan pengetahuan ibu yang lebih baik. D iharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber informasi mengenai ASI Eksklusif, sehingga pihak Puskesmas dan Dinas Kesehatan dapat bekerja sama dalam meningkatkan pemberian ASI Eksklusif. </p
Article
Full-text available
Target cakupan ASI eksklusif oleh Depkes RI sebesar 80% masih sulit dilaksanakan. Berbagai studi menunjukkan cakupan ASI eksklusif di Indonesia masih sangat rendah. Ada berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan ASI eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk menggali berba-gai faktor predisposisi, pemungkin, dan pendorong yang berhubungan dengan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan ASI eksklusif di Puskesmas Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Disain studi adalah studi kualitatif dengan 14 informan yaitu ibu bayi yang berusia >6-24 bulan yang dibagi berdasarkan keberhasilan pelaksanaan ASI eksklusifnya. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dilakukan triangulasi sumber data mencakup bidan puskesmas dan suami serta triangulasi analisis oleh pakar. Pendidikan, pengetahuan, dan pengalaman ibu adalah faktor predisposisi yang berpengaruh positif terhadap keberhasilan ASI eksklusif, sedangkan IMD adalah faktor pemungkin yang kuat terhadap keberhasilan ASI eksklusif. Dari segi faktor pendorong, dukungan tenaga kesehatan penolong persalinan paling nyata pengaruhnya dalam keberhasilan pelaksanaan ASI eksklusif. Di sisi lain, iklan susu formula di media massa ternyata mempengaruhi keberhasilan ASI eksklusif terutama pada ibu yang berpendidikan rendah. Disarankan untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang pelaksanaan ASI eksklusif khususnya pada saat antenatal care dan bukannya setelah persalinan. Perlu ditegakkan aturan ketat ik-lan susu formula baik di media massa maupun kampanye terselubung melalui tenaga kesehatan penolong persalinan.Kata kunci : ASI eksklusif, pengetahuan ibu, inisiasi menyusu diniAbstractCoverage of exclusive breastfeeding (EBF) was targeted by Ministry of Health RI to reach 80%. The target is very difficult to achieve. Studies showed that EBF rate in Indonesia are very low. There are various factors affecting the success or failure of EBF. This study aims at digging information on predisposing, enabling, and reinforcing factors associated with success of EBF in Jagakarsa community health center, South Jakarta. Design of the study is qualitative with 14 informants that is mother with infant age >6-24 months and divided based on the success of EBF implementation. Data was collected through in-depth in-terview and was triangulated based on data sources including midwives and husbands as well as analysis triangulation by expert. Education, knowledge, and experience are predisposing factors that influence the success of EBF, while early breastfeeding initiation is a strong enabling factor, and support from mid-wife acts as a strong reinforcing factor. The study also found that advertisement of formulated milk was very successful in influencing mother’s success in EBF especially for those with low education. It is suggested to increase mother’s knowledge about EBF during antenatal care and not after the delivery. Legal aspect and rules should be implemented in a stricter way and to cover both mass-media advertisement and hidden campaign through health personnel. Key words : Exclusive breastfeeding, mother’s knowledge, early breastfeeding initiation
Bangsa Sehat Berprestasi Melalui Percepatan Perbaikan Gizi Pada 1000 Hari Pertama Kehidupan. Artik Kementrian Republik Indones. 2016. 2. Kesehatan K. Hasil Utama Riskesdas
  • R I Departemen Kesehatan
Departemen Kesehatan RI. Bangsa Sehat Berprestasi Melalui Percepatan Perbaikan Gizi Pada 1000 Hari Pertama Kehidupan. Artik Kementrian Republik Indones. 2016. 2. Kesehatan K. Hasil Utama Riskesdas 2018. 2018.
Faktor Ibu Yang Berhubungan Dengan Praktik Pemberian ASI Eksklusif Di Wilayah Kerja Puskesmas Pamotan
  • A Atabik
Atabik A. Faktor Ibu Yang Berhubungan Dengan Praktik Pemberian ASI Eksklusif Di Wilayah Kerja Puskesmas Pamotan. 2013.
Hubungan Inisiasi Menyusu Dini Dengan Keberhasilan ASIEksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas godean ii
  • Annisa Septy
Annisa Septy Nurcahyani. Hubungan Inisiasi Menyusu Dini Dengan Keberhasilan ASIEksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas godean ii. 2017;1-12.