ArticlePDF Available

PSIKOLOGI PEREMPUAN KEDUA

Authors:
  • Hypatia- Centre de recherches sur la psychologie féministe (Pusat Penelitian dan Kajian Psikologi Feminis)

Abstract

Rangkaian tulisan ini tidak untuk membela perempuan kedua. Tetapi agar kita memiliki pemahaman utuh tentang perempuan kedua dan ketidaksetiaan pasangan. Dengan menyikapi persoalan ini secara lebih objektif, kita dapat membantu : (a) perempuan kedua (teman, saudara, atau diri sendiri) untuk sesegera mungkin keluar dari hubungan tanpa masa depan dengan pria yang sudah terikat janji perkawinan, dan sedapat mungkin menghindari hubungan asmara dengan pria ini ; (b) membantu pasangan-pasangan yang mengalami badai pengkhianatan untuk dapat membangun kembali rumah tangga mereka.
PSIKOLOGI PEREMPUAN KEDUA
Untuk Pemahaman Yang Empatis, Untuk Penanganan Yang Efektif
Kumpulan Artikel Oleh Ester Lianawati
Ilustrasi : La Valse (The Waltz), oleh Camille Claudel.
Camille Claudel, murid yang bisa dibilang melampaui gurunya, Auguste Rodin. Sekian lama
karya-karyanya diabaikan; ia hanya disebut-sebut sebagai mantan perempuan kedua Rodin. Rodin
tidak pernah mau meninggalkan Rose Beuret, pasangannya seumur hidup (tetapi mereka baru
menikah menjelang kematian Beuret). Sementara Claudel sendiri yang mendewakan Rodin,
menjadi sangat tersiksa dan menderita karena cinta. Karya-karyanya memperlihatkan gelora
perasaan, antara cinta, luka, kepedihan..
Daftar Isi
Pengantar, halaman 3
Gambaran Umum Perempuan Kedua, halaman 4
Ilusi, Harapan, dan Kenaifan Perempuan Kedua, halaman 5
Jangan Mau Jadi Perempuan Kedua, halaman 10
Meninggalkan Pria Beristri (akan menyusul, masih dalam penulisan)
Sekilas Tentang Penulis, halaman 1
1
Sekilas Tentang Penulis
Ester Lianawati adalah psikolog lulusan Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya
Jakarta yang menyelesaikan program S2 di Kajian Wanita dan Gender Universitas
Indonesia.
Menetap di Prancis sejak tahun 2012. Kesehariannya diisi dengan melakukan
penelitian -penelitian di Hypatia-Pusat Kajian Psikologi dan Feminisme. Ia juga
aktif memberikan pendampingan pada perempuan-perempuan korban KDRT,
pasangan-pasangan dengan isu ketidaksetiaan/pengkhianatan, dan
perempuan-perempuan migran.
Dari pengalaman para perempuan ini, ia belajar bahwa sesungguhnya ada
“serigala betina” dalam setiap diri perempuan. Sambil terus melihat ke dalam
dirinya sendiri sebagai perempuan, ia mencatatkan perenungan dan
pemikirannya dalam tulisan-tulisan. Sebagian di antaranya dapat kita nikmati
dalam buku Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan : Psikologi Feminis
Untuk Meretas Patriarki, terbitan EA Books (2020).
2
PENGANTAR
Apa yang terlintas di benak kita mendengar tentang perempuan yang menjalin
hubungan dengan pria beristri? Umumnya perempuan yang kerap dinamakan
perempuan kedua ini mengantarkan kita pada sosok perempuan cantik, muda,
seksi. Lebih lanjut kita membayangkan pula seorang perempuan penggoda,
penghancur rumah tangga orang, dan matre (materialistis).
Belakangan ini kita memberinya sebutan pelakor, perebut laki orang, yang
mengukuhkan posisinya sebagai pelaku, si jahat. Inilah gambaran (representasi)
kita tentang perempuan kedua yang banyak diisi sebenarnya oleh fantasi.
Padahal faktanya jauh lebih kompleks dari yang kita duga. Cinta (atau ilusinya)
seringkali memang tidak rasional dan membutakan mereka yang
mengalaminya.
Cinta? Ya, cinta. Perempuan kedua seringkali bertolak belakang dengan
pencitraan yang melekat pada dirinya sebagai perempuan yang hanya ingin
bersenang-senang dengan suami orang lain, adalah perempuan yang
benar-benar mencintai pasangannya (yang telah berkeluarga ini).
Hubungan mereka didasarkan pada rasa bernama cinta. Mereka bahkan tersiksa,
nelangsa, dan menderita akibat cintanya ini. Terjebak dalam imaji dan fantasi kita
tentang perempuan jahat perusak rumah tangga, kita cenderung mengabaikan
unsur ini dalam hubungan yang berlabelkan “perselingkuhan”.
Rangkaian tulisan ini tidak untuk membela perempuan kedua. Tetapi agar kita
memiliki pemahaman utuh tentang perempuan kedua dan ketidaksetiaan
pasangan. Dengan menyikapi persoalan ini secara lebih objektif, kita dapat
membantu : (a) perempuan kedua (teman, saudara, atau diri sendiri) untuk
sesegera mungkin keluar dari hubungan tanpa masa depan dengan pria yang
3
sudah terikat janji perkawinan, dan sedapat mungkin menghindari hubungan
asmara dengan pria ini ; (b) membantu pasangan-pasangan yang mengalami
badai pengkhianatan untuk dapat membangun kembali rumah tangga mereka.
GAMBARAN UMUM PEREMPUAN KEDUA
Harus diakui sebagian perempuan sengaja mencari pria beristri untuk
memenuhi kebutuhan materiilnya. Umumnya pria-pria ini sudah lebih mapan
dalam karir. Dari yang sekedar hanya ingin bisa makan enak di restoran
(khususnya yang baru masuk usia remaja) sampai yang dibiayai kehidupan
sehari-harinya dengan menjadi (maaf) perempuan simpanan. Umumnya yang
kedua ini usianya sudah lebih matang dan merasa tidak memiliki kapasitas dan
kompetensi untuk mandiri secara finansial.
Ada pula perempuan yang tidak ingin terikat entah karena trauma masa lalu atau
alasan lainnya. Mereka merasa menjalin hubungan dengan pria beristri justru
tepat untuk mereka. Sebagian lagi mendapatkan kepuasan dengan
‘menaklukkan’ pria beristri tanpa hendak melanjutkan hubungan ;
masing-masing dengan alasan pribadi yang melatarbelakanginya.
Ada pula perempuan yang juga sudah bersuami sengaja mencari pria beristri
karena sama-sama memahami bahwa hubungan mereka terbatas untuk
‘bersenang-senang’, keluar dari rutinitas dan kehidupan perkawinan yang
monoton.
Meski ada pula perempuan yang sudah menikah secara tidak sengaja jatuh cinta
dengan pria yang juga sudah terikat perkawinan. Mereka menjalin hubungan
serius, tidak hanya untuk bersenang-senang. Dalam kebanyakan kasus,
perempuan lebih mudah meninggalkan pasangannya ketimbang pria.
Tipe-tipe perempuan kedua ini boleh dibilang menikmati hubungannya dengan
pria beristri atau setidaknya mereka ‘santai’ saja, tidak ‘menderita’ dalam
4
hubungannya dengan si pria. Sejak awal mereka sudah paham dengan risiko dan
konsekuensinya.
Namun demikian, ada pula perempuan yang belum berkeluarga yang
menginginkan hubungan serius tetapi terjebak dalam relasi asmara dengan pria
beristri. Sebagian tidak mengetahui status si pria di awal hubungan. Begitu
mengetahui pria idamannya sudah terikat tali perkawinan, tidak semudah itu
meninggalkannya.
Sebagian lagi sudah mengetahui sejak awal tetapi tidak dapat menghindari
panah asmara. Berbeda dengan tipe-tipe sebelumnya, keduanya tersiksa namun
juga sulit untuk keluar dari hubungan ini.
Rangkaian tulisan ini akan berfokus pada kelompok terakhir ini.
SUATU HARI NANTI PANGERANKU AKAN BERCERAI :
ILUSI, HARAPAN, dan KENAIFAN PEREMPUAN KEDUA
Pihak luar umumnya melihat hubungan antara perempuan dengan pria yang
sudah berkeluarga sebagai tidak bermoral, memalukan, aib. Pandangan ini
mengabaikan kenyataan bahwa bagi mereka yang menjalin hubungan ini, apa
yang mereka sebut aib ini adalah cinta.
Mereka bahkan mungkin menghayatinya sebagai cinta terindah yang pernah
mereka miliki. Mereka sadar bahwa orang luar tidak dapat memahami cinta
mereka yang kuat ini. Ini yang membuat mereka makin meyakini akan kekuatan
dan keindahan cinta mereka.
5
Kita sebagai orang luar mampu melihat dengan lebih jernih karena tidak terlibat
di dalamnya. Tidak demikian dengan mereka sebagai pemeran utama dalam
hubungan tersebut.
Hubungan dengan pria yang sudah menikah umumnya didasarkan pada ilusi
dan harapan. Ilusi dan harapan ini diperkuat oleh kenaifan perempuan yang
umumnya belum pernah mengenal hidup berumah tangga ini.
Berikut ini adalah beberapa ilusi, harapan, dan kenaifan yang mungkin
berkembang dalam diri perempuan yang menjalin hubungan dengan pria yang
sudah berkeluarga.
Baru pertama kali ini dia selingkuh, dia benar-benar jatuh cinta kepada saya.
Ketika mendengar si pria idaman mengatakan ia adalah yang pertama
menggoyahkan benteng kesetiaannya, perempuan bangga dan tersanjung.
Sekaligus berpikir bahwa pria di hadapannya ini sebenarnya pria ‘baik baik’ yang
tidak bermaksud berselingkuh.
Dengan mengucapkan kalimat ini, disadari atau tidak, pria mengalihkan
tanggung jawab atas ketidaksetiaannya kepada si perempuan: perempuanlah
yang aktif sebagai penggoyah. Sebaiknya kita tidak mudah percaya pada kalimat
semacam ini, sekalipun mungkin benar demikian adanya.
Dia tidak bahagia dengan istrinya, dia akan bahagia bersama saya.
Ketidakbahagiaan dengan istri dan perkawinan yang kering sering dijadikan
alasan oleh pria untuk mencari perempuan lain. Perempuan cenderung
6
mempercayai alasan ini dan jadi memaklumi mengapa si pria mencari
perempuan lain.
Ia melihat aspek eksternal yang mendorong pria (istrinya, ketidakbahagiaan
dalam perkawinan), bukan karakter si pria itu sendiri. Ia berpikir masalahnya
adalah pada si istri (karakternya, fisiknya, sikapnya terhadap suami, dll).
Ia membayangkan si istri adalah sosok yang kurang menyenangkan, tidak
hangat, dsb. Sering kali perempuan terkejut ketika mendapati bahwa si istri
ternyata tidak seperti yang digambarkan.
Dalam perkawinan selalu ada titik-titik jenuh. Mereka yang belum pernah
menikah mungkin tidak mengetahuinya. Perempuan ini meyakini pria
idamannya ini tidak akan pernah jenuh bersamanya.
Padahal bertemu seminggu sekali tentu tidak sama dengan melihatnya setiap
hari. Bertemu di kantor tidak sama dengan melihatnya di rumah. Sifat hubungan
yang terlarang juga meningkatkan gairah dan kegembiraan, apalagi ketika
berjumpa dalam waktu yang terbatas.
Ia mencintai saya, ia akan meninggalkan istrinya.
Perempuan yang terlibat hubungan serius dengan pria yang sudah menikah
umumnya mengembangkan kesimpulan meloncat. Merasa dicintai, mereka
meyakini si pria akan meninggalkan istrinya.
Bisa jadi keyakinannya benar, si pria tulus mencintainya. Tetapi mencintai
perempuan lain tidak otomatis meninggalkan istri untuk perempuan ini.
7
Perceraian bukanlah keputusan mudah, terpikir hari ini dan esok terlaksana,
untuk sejumlah faktor.
Pertama, sebagian pria beristri (tanpa bicara mengenai ajaran agama tertentu
yang melarang perceraian) masih berpegang pada tanggung jawab moral
terhadap ikatan perkawinannya.
Mungkin ironis kedengarannya, tetapi mereka merasa bertanggung jawab telah
menikahi istrinya dan karena itu tidak ingin pula menceraikannya. Terutama jika
sebenarnya tidak ada yang salah dengan si istri, atau sebelumnya mereka telah
melewati masa-masa sulit bersama.
Kedua, memiliki perempuan kedua merupakan ketidaksetiaan. Padahal manusia
cenderung tidak bangga dengan predikat tidak setia. Sulit bagi kita mengakui
bahwa kita tidak setia. Ketidaksetiaan merupakan lambang kegagalan bagi
manusia “normal”. Ketidaksetiaan tidak hanya melukai orang yang dikhianati,
tetapi juga orang yang melanggar kesetiaan itu sendiri.
Meninggalkan istri yang dinikahi di depan keluarga, kerabat, teman-teman, di
altar gereja, dalam masjid, atau tempat sakral lainnya untuk seorang perempuan
kedua bukanlah keputusan mudah. Ide ini mengguncang ego dan mengacaukan
konsep diri seseorang.
Ketiga, dalam kehidupan perkawinan, seburuk apa pun relasi mereka yang
terlibat di dalamnya, mereka telah mengembangkan kebiasaan-kebiasaan
bersama. Tidak semudah itu memisahkan diri dari seseorang yang dengannya
kita sudah terbiasa, orang yang telah mengenal kita baik-buruknya.
Ide menjalani hidup baru dengan perempuan yang hanya ia temui mungkin
seminggu sekali bisa jadi menakutkan. Sesuatu yang baru umumnya menantang
8
sekaligus mengancam. Berbeda dengan kebiasaan, yang telah akrab dengan
kita, meski tidak lagi memberi efek kejutan.
Keempat, ketika berbicara mengenai pria beristri, kita sering lupa bahwa pria ini
juga umumnya telah memiliki anak. Mungkin mereka bukan suami yang setia,
tetapi mereka adalah yang ayah yang bertanggung jawab.
Mereka dapat saja menyakiti istri, tetapi mereka tidak akan menyakiti
anak-anaknya dengan bercerai dari ibu mereka untuk hidup bersama
perempuan lain.
Dalam hal ini, kita perlu berbicara mengenai zona aman. Pria beristri sulit
meninggalkan zona amannya. Bayangkan konsekuensi yang harus ia hadapi,
nama baik yang harus ia jaga. Pria-pria ini bisa jadi pria yang punya reputasi baik
di masyarakat.
Kenyataan ini menyakitkan untuk didengar, tetapi perlu diketahui bahwa mereka
umumnya tidak punya keberanian untuk ‘merusak’ citra mereka.
Bayangkan jika kita yang ada di posisinya, dapatkah kita dengan mudah
meninggalkan keluarga yang telah kita bentuk demi perempuan atau laki-laki
lain? Persoalannya di sini bukan lagi cinta atau tidak cinta, hal yang sering kali
sulit dipahami perempuan yang cenderung melihat persoalan ini dari segi
perasaan.
Seiring berjalannya waktu perempuan kedua akan menyadari ilusi-ilusinya. Pada
sebagian perempuan, kesadaran ini membentuk kemauan untuk memutuskan
hubungan. Namun umumnya terlebih dahulu muncul mekanisme
penyangkalan.
9
Manusia cenderung menyangkal kenyataan yang merusak khayalannya. Salah
satunya adalah dengan mengembangkan availability heuristic.
Ia akan mencari data-data yang meneguhkan harapan dan keyakinannya, yang
bisa menegakkan kembali ilusinya yang digoyang kenyataan. Ia akan menyukai
kisah-kisah suami yang tidak mencintai istrinya, yang menikah karena
alasan-alasan lain selain cinta, yang benar-benar mencintai perempuan kedua,
dan yang akhirnya menceraikan istrinya untuk bersatu dengan si perempuan ini.
Berapa banyak kisah nyata seperti ini? Tentu tidak banyak. Tetapi yang sedikit ini
menjadi tersedia (available) dalam memorinya dan menggembungkan harapan
mereka yang menciut ketika berbenturan dengan kenyataan.
Suatu hari nanti, pangeranku ‘kan bercerai. Sebuah harapan yang tidak pernah
mati pada diri perempuan kedua. Ya, suatu hari nanti… suatu hari yang mungkin
tak akan pernah datang.
Jika Anda saat ini mencintai laki-laki yang sudah berkeluarga, dan mengalami
salah satu dari ilusi dan harapan di atas, tentu saya tidak meragukan ketulusan
cinta Anda. Tetapi semoga tulisan ini dapat membantu Anda untuk
merenungkan kembali sampai kapan Anda akan terus memupuk harapan
mengenai masa depan hubungan Anda dengannya.
JANGAN MAU JADI PEREMPUAN KEDUA
Terbiasa dengan pencitraan perempuan kedua yang negatif, kita mengabaikan
bahwa justru sebagian besar perempuan kedua adalah perempuan biasa,
normal, rata-rata. Ia bisa jadi teman, sahabat, adik, kakak, saudara kita sendiri,
atau bukan tidak mungkin kita sendiri kelak dapat atau telah mengalaminya.
Perempuan-perempuan biasa ini, seperti perempuan kebanyakan pada
umumnya, berharap satu saat akan menemukan pasangan, menikah, dan
10
berkeluarga. Namun tentunya hampir tidak ada perempuan yang berencana
bahwa satu saat akan mencintai pria yang sudah berstatus suami orang.
Sebagian perempuan dapat segera meninggalkan pria beristri, namun sebagian
lagi justru masuk dan terjebak lebih dalam. Mereka pun tidak dapat terhindar
dari babak demi babak kisah cinta yang dramatis.
Hubungan dengan pria yang sudah terikat perkawinan akan mengantarkan
perempuan dalam situasi penuh tekanan
Pertama, status hubungan ini adalah gelap. Perempuan kedua tersembunyi atau
lebih tepatnya disembunyikan dan terpaksa menyembunyikan pula
hubungannya.
Ia tidak diperkenalkan kepada orang tua, keluarga, dan teman-temannya.
Sebaliknya, ia pun tidak mungkin memperkenalkan pasangannya kepada
keluarga dan teman-teman.
Di mata orang luar, ia adalah perempuan lajang. Memasuki usia tertentu, ia harus
siap dengan teman atau keluarga yang dengan maksud baik tentunya akan
berusaha memperkenalkannya kepada pria lain.
Hal ini akan sangat menyakitkan bagi perempuan, karena makin
mengingatkannya bahwa ia memang tidak akan pernah bersama-sama dengan
pria yang ia cintai. Di sisi lain, ia akan makin kuat menginginkannya untuk jadi
miliknya. Disadari atau tidak, hubungannya dengan pria beristri akan
“menghambat”-nya untuk menemukan pria lain.
Kedua, akhir pekan si pria beristri bukanlah milik perempuan kedua, tetapi milik
istri dan anak-anaknya. Tidak ada bedanya dengan mereka yang belum punya
pacar, perempuan kedua menghabiskan akhir pekannya bersama teman atau
keluarga.
Demikian pula dengan liburan sekolah. Selama periode ini, perempuan kedua
mengaku tersiksa dengan kerinduan karena tentu sulit bagi si pria
menghubunginya saat tengah berlibur dengan keluarga.
11
Sekaligus ia mengembangkan ide-ide kecemburuan: kekasihnya tidak hanya
berlibur dengan anak-anaknya, tetapi juga (dan terutama ini yang sangat
mengganggunya) dengan istrinya.
Ketiga, sehari-harinya pria beristri juga tidak selalu dapat hadir bagi perempuan
kedua. Begitu ia pulang kerja, ia sudah sulit terjangkau.
Kecuali si pria beristri adalah rekan kantor, perempuan kedua tidak dapat
melihatnya setiap hari. Bahkan di hari kencan, ia hanya dapat bersamanya selama
beberapa jam.
Begitu ia pulang ke rumah, ia akan merasa sendiri, galau, dan bergulat mengatasi
keingintahuan-keingintahuan. Apa yang sedang ia lakukan? Apakah ia masih
tidur seranjang dengan istrinya? Apakah ia masih bercinta dengan istrinya?
Ia akan kecewa mendengar informasi yang menunjukkan ia masih berinteraksi
secara ‘normal’ dengan istrinya: berbelanja dengan istri, menemani istri
kondangan, mengantar istri ke dokter, dan lain sebagainya.
Keempat, pria beristri juga sudah pasti sulit ditemui saat dia sakit. Perempuan
kedua tidak dapat menemaninya dan tidak dapat menghubunginya karena
mungkin istri dan anak-anaknya sedang menjaganya. Yang dapat ia lakukan
hanya menanti kabar dari kekasihnya. Demikian pula jika ia yang sakit,
perempuan tidak dapat mengharapkan dijenguk olehnya.
Kelima, perempuan kedua mengira pria beristri tidak lagi melakukan aktivitas
bersama istrinya karena sudah memiliki perempuan lain. Tetapi kehidupan
rumah tangga tidak bersifat dikotomis seperti itu.
Kenyataan yang paling menampar perempuan kedua adalah ketika si istri
mengandung lagi. Menjawab pertanyaannya selama ini bahwa pria yang ia cintai
masih berhubungan intim dengan pasangannya.
Sementara pria memisahkan cinta dengan seks, tidak demikian dengan
perempuan pada umumnya. Tidak mudah bagi perempuan menerima
12
pasangannya yang mengaku tidak lagi mencintai istrinya, tetapi masih
melakukan hubungan seksual dengannya.
Keenam, hubungan dengan pria beristri tentu sarat dengan penilaian moral.
Perempuan kedua, kerap dibayangkan sebagai sosok yang « bersenang senang »
dengan suami orang, pada kenyataannya cenderung tertekan oleh rasa bersalah,
berdosa, dan khawatir.
Ia merasa bersalah terhadap keluarga si pria (istri dan anak-anaknya) dan
keluarganya sendiri (terutama orang tua). Ia juga cenderung tidak tenang karena
diliputi rasa berdosa dan kerap khawatir jika keluarga dari kedua belah pihak
mengetahui hubungan mereka.
Katakan Tidak Sejak Awal
Mereka yang pernah menjalani hubungan dengan pria beristri menggambarkan
hubungan ini seperti candu, karena menciptakan efek adiksi (ketergantungan).
Begitu masuk ke dalamnya, perempuan akan sulit keluar.
Hal ini dikarenakan sifat dualistik dari hubungan ini: di satu sisi, hubungan ini
membuat mereka menderita; di sisi lain, mereka merasakan cinta yang kuat dan
indah. Saat-saat pertemuan dengan si pria beristri yang begitu terbatas justru
menjadi begitu berharga.
Frustrasi, kesedihan, putus asa, nelangsa selama tidak bertemu berubah menjadi
kebahagiaan tak terkira ketika berjumpa. Hubungan yang terlarang memang
memiliki sensasi tersendiri sebagai hasil dari dinamika beragam perasaan.
Ramuan perasaan ini sering dicampuradukkan dengan cinta. Tidak heran jika
perempuan kedua akan menghayati hubungannya dengan pria beristri justru
sebagai cinta terindah dalam hidup mereka.
Tulisan ini tidak bertujuan untuk menghujat perempuan kedua atau sebaliknya
untuk membelanya. Saya tidak ingin memandang persoalan ini dari segi moral.
13
Tulisan ini ingin memaparkan bahwa hubungan dengan pria beristri dapat
membawa tekanan mental bagi perempuan. Hubungan ini juga cenderung
tanpa harapan. Sangat sedikit yang dapat meninggalkan istri dan anak-anaknya.
Jika saat ini Anda merasa menemukan pria idaman, tetapi ia sudah berkeluarga,
katakan tidak. Tegaskan pada diri Anda untuk tidak sampai melangkah masuk
dalam hubungan ini.
Jika Sudah Terlanjur Terjebak
Tidak semua perempuan mau menjalin hubungan dengan pria beristri.
Perempuan pada dasarnya mampu untuk segera memutuskan hubungan
begitu mengetahui pria yang ia kencani ternyata sudah berkeluarga.
Tanpa bermaksud meragukan cinta Anda terhadapnya, perlu diketahui bahwa
umumnya ada sesuatu dalam diri perempuan yang tidak mampu keluar dari
hubungannya dengan pria beristri. Sesuatu ini terkait dengan aspek diri
terdalam, yang mungkin ia sendiri belum mengenalinya. Aspek diri ini perlu
digali.
Lakukan analisis dan introspeksi diri untuk dapat menemukan apa yang
mengantarkan Anda dalam hubungan semacam ini dan yang menahan Anda di
sana sehingga tidak mampu keluar dari hubungan ini.
Temukan diri Anda, untuk memahami mengapa Anda ada dalam situasi ini,
untuk selanjutnya Anda dapat bergerak maju meninggalkan hubungan ini jauh
di belakang Anda. Berkonsultasilah dengan pakar bilamana perlu.
14
15
ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication.
ResearchGate has not been able to resolve any references for this publication.