ArticlePDF Available

Abstract

Bagaimanakah model hutan wakaf yang produktif? Hutan wakaf dapat bermula dari niat wakif (pemberi wakaf) untuk mewakafkan hartanya (dapat berupa lahan maupun uang) dengan tujuan untuk dikelola oleh nazir (pengelola wakaf) sebagai hutan wakaf. Hal ini memungkinkan, sebab wakif memiliki kewenangan untuk menentukan tujuan pemanfaatan dari aset yang akan diwakafkannya tersebut, dan nazir harus mengelola aset wakaf tersebut sesuai dengan tujuan yang ditentukan oleh wakif. Sebagai contoh, hutan wakaf Cibunian berawal dari inisiatif seorang wakif untuk mewakafkan sebidang tanahnya sebagai hutan kepada Yayasan Yassiru. Selanjutnya, nazir perlu mengupayakan program-program agar hutan wakaf tersebut menjadi produktif. Hal ini sesuai dengan inti dari wakaf itu sendiri, seperti yang disabdakan Rasulullah SAW kepada Umar bin Khattab RA ketika Umar RA ingin mewakafkan sebidang kebun kurma miliknya di Khaibar, beliau bersabda, “tahan pokoknya, sedekahkan hasilnya.” Agar dapat menyedekahkan hasil, aset wakaf yang harus dipertahankan pokoknya perlu untuk dikelola secara produktif.
18
KAMIS, 22 AGUSTUS 2019
JURNAL EKONOMI ISLAM REPUBLIKA
Rubrik ini terselenggara
atas kerjasama Harian
Republika dengan
Departemen Ilmu Ekonomi
Syariah, Fakultas Ekonomi
dan Manajemen IPB
Tim Redaksi Iqtishodia:
Dr R Nunung Nuryartono
Prof Dr Yusman Syaukat
Prof Dr Muhammad Firdaus
Dr Lukman M Baga
Dr Irfan Syauqi Beik
Dr Asep Nurhalim
Salahuddin El Ayyubi
Deni Lubis
Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI),
sebagai wadah berkumpulnya para pakar,
regulator, dan pegiat ekonomi syariah, akan
kembali menyelenggarakan hajatan besar
empat tahunan, yaitu kegiatan muktamar pada
tanggal 23-25 Agustus 2019. Muk tamar IAEI
adalah forum tertinggi pengambilan keputusan
yang akan menentukan arah kebijak an IAEI se -
lama empat tahun ke depan, termasuk di da lam -
nya adalah pemilihan kepengurus an yang baru,
menggantikan kepemimpinan Prof Bam bang
Brodjonegoro yang telah memimpin IAEI selama
dua periode sebagai ketua umum, yaitu periode
2011-2015 dan 2015-2019. Segala prestasi dan
catatan emas kepengurusan beliau diharapkan
dapat dilanjutkan selama empat ta hun ke depan,
sehingga peran dan kontribusi IAEI terhadap
pembangunan ekonomi syariah na sional dan
internasional bisa semakin signifikan.
Dengan situasi perekonomian global yang
semakin berat dan menantang, dibutuhkan
adanya upaya strategis dalam mengonsoli-
dasikan semua potensi domestik agar daya
tahan perekonomian nasional semakin kuat.
Dalam konteks ini, potensi ekonomi syariah yang
sangat besar, harus dapat dikelola dan diman-
faatkan secara optimal melalui upaya yang
terkoordinasikan dengan baik. Untuk mereal-
isasikan hal tersebut, IAEI harus terus memain -
kan peran strategisnya, agar ambisi Indonesia
untuk menjadi pusat ekonomi dan keuangan
syariah dunia pada 2024 dapat diwujudkan.
Paling tidak, ada empat peran yang harus
diperkuat oleh IAEI selama empat tahun ke
depan. Pertama, peran pengembangan keil-
muan ekonomi syariah. IAEI, sebagai tempat
berkumpulnya para intelektual ekonom syariah,
harus mampu merumuskan dan mengem-
bangkan keilmuan ekonomi syariah. Peran keil-
muan ini sangat penting karena inilah fondasi
utama dari bangunan sistem ekonomi syariah.
Para anggota IAEI harus didorong untuk mela -
hirkan teori-teori dan formula-formula baru
dalam pengembangan ilmu ekonomi syariah.
Hal ini sangat penting karena akan menja -
wab kritikan sebagian pihak yang mengatakan
bahwa teori-teori dalam ekonomi syariah yang
diajarkan di kampus-kampus tidak bersifat orisi-
nal dan cenderung mengikuti pendekatan
konven sional. Tentu ini bukan hal yang mudah.
Ka rena itu, upaya penguatan dan peningkatan
kapasitas keilmuan para anggota IAEI menjadi
mu tlak untuk dilakukan. Ruang-ruang dialog
dan diskusi yang secara substantif terkait
dengan pengembangan keilmuan, harus terus-
menerus diperbesar. Selain itu, keberadaan
buku-buku teks ekonomi syariah yang diajarkan
di perguruan tinggi, harus terus-menerus dit-
ingkatkan kualitasnya.
Jika melihat kondisi saat ini, sejumlah pihak
telah berusaha untuk mengembangkan aspek
keilmuan ekonomi syariah ini dengan lebih baik.
Sebagai contoh, Pusat Kajian Strategis BAZNAS
sejak didirikan pada tanggal 1 Agustus 2016
hingga saat ini, telah mengembangkan beragam
produk keilmuan yang telah diterapkan dalam
kebijakan pengelolaan zakat nasional, antara
lain perumusan Indeks Zakat Nasional (IZN)
sebagai alat ukur kinerja zakat nasional.
Bahkan, Indeks Kesejahteraan BAZNAS (IKB),
sebagai bagian dari IZN, akan dibahas secara
khusus dalam pertemuan World Zakat Forum
(WZF) pada tanggal 5-7 November 2019 men-
datang di Bandung. Tujuannya, agar IKB ini bisa
diadopsi dan dimodifikasi oleh negara-negara
anggota WZF yang saat ini berjumlah 33 negara.
Beberapa negara bahkan mengusulkan
namanya diubah menjadi Zakat Welfare Index.
Kedua, peran strategis IAEI adalah sebagai
partner kebijakan negara. Ini sangat penting
sebagai upaya untuk memastikan aspek imple-
mentasi ekonomi syariah dalam kebijakan
ekonomi negara. Keberadaan
Masterplan
Ekonomi Syariah Indonesia 2019-2024 harus
dapat dimanfaatkan dengan baik. IAEI harus
mengawal agar seluruh
quick wins
dalam
mas-
terplan
tersebut bisa dilaksanakan dengan baik
selama lima tahun ke depan. Demikian pula,
dengan rencana pembentukan pusat riset
ekonomi syariah internasional yang digagas oleh
Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS)
harus dapat dimanfaatkan IAEI dengan baik,
karena ini adalah rangkaian yang tidak ter-
pisahkan dalam penguatan ekonomi syariah.
Ketiga, peran IAEI adalah menjadi pusat
edukasi publik yang berkelanjutan. Edukasi
publik ini sangat penting dan strategis, karena
akan mendorong keterlibatan aktif masyarakat
dalam penguatan kegiatan ekonomi dan keuang -
an syariah. Sebagai contoh, IAEI secara aktif
harus terus-menerus mengingatkan
masyarakat mengenai bahaya riba, apalagi saat
ini fenomena pinjaman
online
ribawi begitu
marak terjadi di tengah masyarakat.
OJK mencatat bahwa volume pinjaman
online
melalui
fintech
atau tekfin telah mencapai
angka Rp 41,04 triliun hingga akhir Mei 2019. Ini
adalah fakta sekaligus menjadi tantangan bagi
dunia keuangan syariah untuk bisa menawarkan
alternatif sumber pendanaan berbasis teknologi
yang sesuai dengan syariah. Selain itu, porsi
edukasi juga harus didorong pada edukasi indus-
tri halal (sektor riil) dan edukasi ZISWAF (zakat,
infak, sedekah, dan wakaf). Ini karena masih
belum optimalnya pemanfaatan potensi industri
halal ataupun sektor ZISWAF dalam memperku-
at perekonomian nasional.
Adapun peran yang keempat adalah sebagai
hub atau jembatan komunikasi dan sinergi
antarpemangku kepentingan strategis.
Berkumpulnya individu yang berasal dari tiga
jalur utama, yaitu ABG (Akademik, Bisnis, dan
Government
/Pemerintah/Regulator), harus
dapat dioptimalkan dengan baik. Ini adalah
modal IAEI dalam mendorong pengarusutamaan
(
mainstreaming
) ekonomi syariah dalam
kehidup an ekonomi negara. Insya Allah, sinergi-
tas yang dibangun IAEI selama ini, akan mem-
berikan dampak positif dalam upaya
meningkatkan peran ekonomi syariah dalam
menyejahterakan dan memajukan perekonomi-
an masyarakat dan bangsa.
Wallaahu a’lam
.
Dr Irfan Syauqi Beik
Staf Pengajar Departemen
Ilmu Ekonomi Syariah
FEM IPB dan Ketua 1
DPP IAEI
Memperkuat
Peran
Strategis
IAEI
TSAQOFI
Hangatnya isu global
war ming dalam dua
dekade terakhir mem -
beri prioritas baru da -
lam sektor keuangan
sya riah. Tidak hanya
berfo kus pada pembangunan ekonomi,
sosial, kesehatan, atau pendidikan, ke -
uangan syariah juga mulai memberikan
perhatian yang besar pada aspek ling -
kung an.
Pada 2018, Pemerintah Indonesia
menjadi negara pertama di dunia yang
menerbitkan green sukuk untuk proyek-
proyek ramah lingkungan. Organisasi pen-
gelola dana sosial Islam (zakat dan wakaf),
baik yang dibentuk pemerintah maupun
masyarakat, semakin sering mem buat
prog ram-program cinta ling kung an. Dom -
pet Dhuafa, misalnya, pada 2016 melun -
cur kan program "Sedekah Po hon" untuk
memperbaiki kondisi ling kungan.
Tidak mau ketinggalan, masyarakat
juga berinisiatif membangun hutan wakaf
untuk menjaga kelestarian lingkungan
dan hutan. Sepanjang pengetahuan penu -
lis, telah terdapat tiga hutan wakaf di In -
donesia. Pertama, hutan wakaf di Jantho
Aceh yang dibangun oleh sekelompok
anak muda pecinta alam pada 2012. Ke -
dua, hutan wakaf (Wakaf Leuweung Sa -
bilulungan) di Kabupaten Bandung yang
dikembangkan di Pemkab Bandung pada
2013, dan ketiga, Hutan Wakaf di Desa
Cibunian Kecamatan Pamijahan Kabu -
paten Bogor yang dikembangkan oleh
Yayasan Yassiru pada 2018.
Hutan wakaf secara sederhana adalah
hutan yang dibangun di atas tanah wakaf.
Mengapa harus hutan wakaf? Sebab, wa -
kaf membuat kelestarian hutan semakin
terjamin, karena seperti yang disam-
paikan oleh para ulama di dalam kitab-
kitab fikih, wakaf tidak boleh dijual, tidak
boleh diwariskan, dan tidak boleh dihi -
bah kan. Berdasarkan prinsip hukum Is -
lam ini, hutan yang telah diwakafkan ti -
dak boleh dikonversi, misalnya, menjadi
permukiman.
Saat ini pengelolaan hutan wakaf ma -
sih berfokus pada aspek ekologi. Ke de -
pan nya, hutan wakaf diharapkan juga da -
pat memberikan manfaat lainnya, seperti
manfaat sosial dan ekonomi kepada
masyarakat sekitar. Sebab, lebih dari 10
juta dari sekitar 48 juta orang Indonesia
yang tinggal di dalam dan sekitar hutan
adalah penduduk miskin.
Bagaimanakah model hutan wakaf
yang produktif? Hutan wakaf dapat ber -
mula dari niat wakif (pemberi wakaf) un -
tuk mewakafkan hartanya (dapat berupa
wakaf lahan ataupun wakaf uang) dengan
tujuan untuk dikelola oleh nazir (pengelo-
la wakaf) sebagai hutan wakaf. Hal ini
memungkinkan, sebab wakif memiliki
kewenangan untuk menentukan tujuan
pemanfaatan dari aset yang akan diwa -
kaf kannya tersebut, dan nazir harus men-
gelola aset wakaf tersebut sesuai dengan
tu juan yang ditentukan oleh wakif. Seba -
gai contoh, Hutan Wakaf Cibunian ber -
awal dari inisiatif seorang wakif untuk
mewakafkan sebidang tanahnya sebagai
hutan kepada Yayasan Yassiru.
Selanjutnya, nazir perlu mengupaya -
kan program-program agar hutan wakaf
tersebut menjadi produktif. Hal ini sesuai
dengan inti dari wakaf itu sendiri, seperti
perintah Rasulullah SAW kepada Umar
bin Khattab RA. Ketika Umar RA ingin
me wakafkan sebidang kebun kurma
milik nya di Khaibar, beliau bersabda,
“Ta han pokoknya, sedekahkan hasilnya.”
Agar dapat menyedekahkan hasil, aset
wa kaf yang harus dipertahankan pokok -
nya perlu untuk dikelola secara produktif.
Bagaimana menjadikan hutan wakaf
produktif? Salah satu jawabannya adalah
dengan aplikasi konsep agroforestri. Be -
be rapa tipe agroforestri yang dapat di -
kembangkan sejak awal pada hutan wakaf
antara lain agisilvikultural (penanaman
tanaman kehutanan dengan tanaman
pertanian) atau agrisilvopastoral (pena -
nam an tanaman kehutanan, pertanian,
dan dikombinasikan dengan peternakan).
Praktik agroforestri memungkinkan
hutan wakaf memiliki hasil jangka pan -
jang (dari tanaman kehutanan) dan jang -
ka pendek (dari tanaman pertanian). Se -
bagian hasil tersebut akan dikembalikan
kepada nazir untuk dijadikan sebagai
salah satu sumber dana pengembangan
hutan wakaf ke depannya. Dalam proses
ini, lapangan kerja baru dapat terbuka.
Ini menjadi peluang meningkatkan pen-
dapatan bagi masyarakat dhuafa yang
hidup di dalam dan sekitar hutan.
Selain manfaat ekonomi, hutan wakaf
juga dapat memberi manfaat sosial, ekol-
ogis, pendidikan, kesehatan, dan spiritual
(dakwah). Dari aspek sosial, hutan wakaf
akan sangat membantu penghidupan
masya rakat yang membutuhkan, con-
tohnya sebagai ruang terbuka hijau yang
dapat dimanfaatkan untuk berbagai ma -
cam aktivitas sosial.
Dari aspek ekologis, hutan wakaf ber -
peran penting dalam pencegahan dari
ben cana alam seperti banjir dan longsor,
meningkatkan biodiversitas, menjaga
kestabilan iklim mikro, serta konservasi
air. Sebagai contoh, pada Hutan Wakaf
Cibunian terdapat mata air yang sangat
penting, sebab mata air tersebut dijadikan
sebagai salah satu sumber air bagi warga
sekitar untuk kebutuhan sehari-hari. Hal
ini serupa dengan apa yang pernah dila -
kukan oleh Utsman bin Affan RA ketika
beliau membeli sumur dan mewakafkan-
nya kepada kaum muslimin di Madinah.
Hutan wakaf dapat menjadi sarana
pendidikan. Pada saat ini, di Hutan Wa -
kaf Cibunian terdapat sebuah saung yang
digunakan oleh mahasiswa Fahutan IPB
untuk mengoperasikan “Serincil” atau
“Se kolah Rimbawan Kecil” bagi anak-
anak Desa Cibunian setiap minggunya.
Selain itu, dari aspek kesehatan, sudah
ten tu peningkatan kondisi ekologis akan
berdampak positif pada kesehatan warga
di sekitar hutan. Sebagai contoh, keterse-
diaan air bersih yang terus terjaga sangat
penting untuk air minum warga yang ter-
bebas dari limbah berbahaya.
Yang spesial dari hutan wakaf adalah
manfaat spiritual (dakwah). Hutan wakaf
yang dibangun dari wakaf yang merupakan
salah satu instrumen utama ke uang an
sosial Islam, harus juga menyentuh dimen -
si religiositas warga. Sebagian dari profit
yang dihasilkan dapat diguna kan untuk
mendukung kegiatan dakwah, seperti per-
baikan sarana/prasarana iba dah dan pe -
ningkatan literasi Alquran ma sya rakat. Se -
cara tidak langsung, hutan wa kaf juga
menjadi syiar Islam pada masya rakat,
menjadi bukti nyata bahwa Islam ada lah
agama yang ramah lingkungan, manifes-
tasi Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Isu lingkungan sebenarnya bukan
barang yang baru dalam Islam. Dalam
Alquran, Allah tidak menyukai orang-
orang yang membuat kerusakan lingkun-
gan, seperti firman-Nya dalam surah al-
Qasas:77, ”Berbuat baiklah (kepada orang
lain) sebagaimana Allah telah ber buat
baik kepadamu, dan janganlah kamu ber -
buat kerusakan di (muka) bumi. Sesung -
guh nya Allah tidak menyukai orang-
orang yang berbuat kerusakan.”
Menjaga lingkungan juga merupakan
salah satu perhatian Rasulullah. Hal ini
tecermin dalam sabda-sabda sang Nabi
yang melarang merusak pepohonan
bah kan pada saat perang sekalipun.
Se ba liknya, Beliau SAW mengajarkan
bah wa menanam pohon adalah sedekah.
“Ti daklah seorang Muslim menanam po -
hon, tidak pula menanam tanaman ke -
mu dian pohon/tanaman tersebut dima -
kan oleh burung, manusia, atau binatang
melainkan menjadi sedekah baginya.”
(HR Imam Al Bukhari).
Upaya pelestarian hutan yang dini-
atkan secara ikhlas juga merupakan
ibadah yang bernilai tinggi di sisi Allah
SWT. Maka itu, hal ini sudah selayaknya
kembali kita prioritaskan. Mari berwakaf
hutan untuk kepentingan masa kini dan
masa depan. Wallaahu a’lam.
Miftahul Jannah
Mahasiswa S3
Kulliyyah of
Architecture and
Environmental Design
IIU Malaysia
Model Pengembangan Hutan Wakaf
IRWANSYAH PUTRA/ANTARA
Khalifah Muhamad
Ali
Dosen Departemen
Ilmu Ekonomi Syariah
FEM IPB dan Kandidat
Doktor IIU Malaysia
G
Gambar 1. Skema Hutan Wakaf Produktif
... Waqf forest can be defined as a forest developed on waqf land (Ali & Jannah, 2019). It can be acquired from a waqf land or a cash waqf collected from society. ...
Article
Full-text available
Previous studies about waqf for forest conservation mostly concentrated on its potential or its prospect for forest preservation or environmental protection. In contrast, a detailed discussion about how to establish a waqf forest to support the SDGs is still noticeably absent. This paper aims to formulate a scheme of productive waqf forests that can help the achievement of Sustainable Development Goals (SDGs). To our knowledge, this is the first paper that provides a scheme of productive waqf-based forest. The present study was conducted using a literature study method and interpretative analysis. The result shows that a productive waqf forest should supply not only intangible benefits but also generate tangible benefits that can be used for the waqf forest development. Both benefits which support some main points of SDGs, such as in reducing poverty and hunger, maintaining climate, health, biodiversity, and water supply, are mainly delivered to the mauquf’alaihi.JEL Classification: D64, G23, Q01, Q23, Z12.How to Cite:Ali, K. M., & Kassim, S. (2020). Waqf Forest: How Waqf Can Play a Role In Forest Preservation and SDGs Achievement?. Etikonomi: Jurnal Ekonomi, 19(2), xx – xx. https://doi.org/10.15408/etk.v19i2.16310.
ResearchGate has not been able to resolve any references for this publication.