PreprintPDF Available

PENGAPLIKASIAN METODE SOSIODRAMA DALAM PEMBELAJARAN

Authors:
  • Universitas iqra buru
Preprints and early-stage research may not have been peer reviewed yet.

Abstract

Upaya peningkatan partisipasi siswa masih mengalami hambatan, karena masih dominannya penggunaan metode ceramah dalam pembelajaran. Berkenaan dengan hal tersebut perlu dilakukan pendekatan atau metode pembelajaran yang bermakna bagi siswa, yakni bagaimana mereka mampu melibatkan diri secara fisik, mental dan intektual. Metode sosiodrama merupakan metode pembelajaran dengan mendramatisasikan tingkah laku manusia, yang melibatkan interaksi antara dua orang atau lebih tentang suatu tema.
1
Metode Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
METODE SOSIODRAMA
SUSIATI, S.Pd., M.Hum.
FAKULTAS SASTRA
PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS IQRA BURU
2020
2
DAFTRA ISI
HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i
DAFTAR ISI........... .............................................................................................. ii
PETA KONSEP ..... ............................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1
A. Latar Belakang . ...............................................................................................1
B. Rumusan Masalah ...........................................................................................4
C. Tujuan Penulisan .............................................................................................4
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................5
A. Pengertian Metode Sosiodrama ......................................................................5
B. Tujuan Metode Sosiodrama ............................................................................7
C. Jenis Metode Sosiodrama ................................................................................7
a. Permainan penuh .......................................................................................7
b. Pementasan situasi atau kreasi baru ........................................................8
c. Playlet .......... ...............................................................................................8
d. Blackout ...... ...............................................................................................8
D. Syarat-syarat Metode Sosiodrama .................................................................9
E. Langkah-langkah Metode Sosiodrama ..........................................................9
F. Keunggulan dan Kelemahan Metode Sosiodrama......................................16
a. Kelebihan Metode Sosiodrama ...............................................................16
b. Kelemahan Metode Sosiodrama .............................................................17
G. Peranan Metode Sosiodrama dalam Pelajaran Bahasa Indonesia............17
3
BAB III PENUTUP .............................................................................................20
A. Simpulan ........... .............................................................................................20
B. Saran ................. .............................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................21
4
METODE
SOSIODRAMA
TUJUAN METODE
SOSIODRAMA
LANGKAH-LANGKAH
METODE
SOSIODRAMA
JENIS METODE
SOSIODRAMA
PENGERTIAN
METODE
SOSIODRAMA
KEUNGGULAN DAN
KELEMAHAN METODE
SOSIODRAMA
KELEMAHAN METODE
SOSIODRAMA
KEUNGGULAN
METODE
SOSIODRAMA
PENENTUAN TEMA
BLACKOUT
PERSIAPAN PERAN
PELAKSANAAN
EVALUASI
PLAYLET
KREASI BARU
PERMAINAN PENUH
MUNJIH NASIH 2009
NANA SUDJANA 2009
1. MENDAPATKAN
KETERAMPILAN
SOSIAL
2. MENAMBAH PERCAYA
DIRI
3.
BELAJAR
MENGEMUKAKAN
PENDAPAT
4.
SANGGUP MENERIMA
& MENGHARGAI
ORANG
5.
MERUBAH SIKAP
KEPRIBADIAN
1. BELAJAR
BERTANGGUNG
JAWAB
2.
MENGHAYATI &
MENGHARGAI ORANG
LAIN
3.
MERANGSANG
PIKIRAN
PETA KONSEP
SYARAT-SYARAT
METODE
SOSIODRAMA
SOSIODRAMA PADA
PELAJARAN BAHASA
5
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan pendidikan merupakan bagian dari upaya pembangunan kualitas
sumber daya manusia dan memegang peran paling penting. Oleh karena itu
pendidikan tidak pernah lepas dari kehidupan manusia sebagai sarana untuk
memperoleh pengetahuan dan pengembangan potensi dirinya. Sejauh ini pendidikan
telah mengalami perubahan dan sangat mengesankan. Pendidikan dikategorikan
menjadi dua, yaitu pendidikan formal dan pendidikan non formal. Pendidikan formal
diselenggarakan oleh lembagalembaga resmi pemerintahan yang mempunyai
kurikulum tertentu, sedangkan pendidikan non-formal diselenggarakan oleh lembaga-
lembaga non pemerintahan yang tidak mempunyai kurikulum tertentu. Menurut UU
No 2 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pengertian pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negaranya.
Proses pembelajaran ini merupakan inti dari proses pembelajaran secara keseluruhan
dengan guru, diatur dan direncanakan supaya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan
dapat tercapai yakni adanya perubahan-perubahan melalui pengalaman-pengalaman
belajar yang direncanakan untuk menunjang perkembangan siswa. Dalam proses
belajar mengajar, siswa menjadi subyek utama sehingga dimana siswa terlibat secara
aktif dalam mengkonstruksikan pengetahuan yang didapatnya. Dengan demikian
siswa tidak hanya duduk, diam dan hanya mendengarkan guru menyampaikan materi
layaknya ceramah, tetapi siswa berusaha untuk menggali atau menemukan
6
pengetahuan sendiri. Banyak metode pembelajaran yang bisa digunakan dalam proses
belajar interaktif di kelas, namun pemakain metode pembelajaran pada umumnya
masih terpaku pada satu metode saja yang membuat siswa mengalami kejenuhan dan
kebosanan dalam proses belajar. Inilah yang menyebabkan motivasi, partisipasi,
keaktifan dan minat belajar siswa rendah dalam pembelajaran sosiologi di kelas dan
belum menunjukkan hasil yang optimal.
Upaya peningkatan partisipasi siswa masih mengalami hambatan, karena masih
dominannya penggunaan metode ceramah dalam pembelajaran. Berkenaan dengan hal
tersebut perlu dilakukan pendekatan atau metode pembelajaran yang bermakna bagi
siswa, yakni bagaimana mereka mampu melibatkan diri secara fisik, mental dan
intektual.
Proses pembelajaran di sekolah-sekolah masih banyak menggunakan metode
konvensional atau metode ceramah. Setiap kali guru memberikan materi di kelas
maka metode yang menjadi handalan untuk menjelaskan adalah dengan metode
ceramah. Sebenarnya metode seperti ini sudah tidak layak lagi digunakan untuk
menyampaikan materi ke siswa dalam suatu proses pembelajaran dan perlu diubah.
Tetapi untuk merubah model pembelajaran tersebut sangatlah sulit bagi guru, karena
guru harus memiliki kemampuan dan keterampilan dalam menggunakan metode lain.
Seperti yang sudah dijelaskan pada penjelasan di paragraf sebelumnya bahwa banyak
sekali metode yang bisa digunakan namun kebanyakkan hanya terpaku pada satu
metode saja melainkan metode ceramah. Hal ini jika dibiarkan akan sangat
berpengaruh pada siswa.
Untuk itu cara yang ditempuh untuk mewujudkan dengan memberikan metode
pembelajaran yang efektif dan menjadikan proses pembelajaran lebih aktif dan efekif,
sehingga dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam belajar. Metode pembelajaran
7
sosiodrama adalah metode bermain drama atau cara mendramatisasikan tingkah laku
dalam hubungan sosial, dan diharapkan siswa dapat menghayati dan menghargai
perasaan orang lain. Sosiodrama merupakan metode pembelajaran yang menekankan
pada permainan untuk memecahkan masalah sosial yang timbul dalam hubungan
manusia. Jadi metode sosiodrama merupakan metode pembelajaran dengan
mendramatisasikan tingkah laku manusia, yang melibatkan interaksi antara dua orang
atau lebih tentang suatu tema.
Di sekolah-sekolah juga interaksi pembelajaran masih rendah, terlihat bahwa
sedikitnya siswa yang mendengarkan penjelasan guru, bahkan ada siswa yang masih
main-main sendiri atau mengobrol dengan teman sebangku saat guru sedang
menerangkan. Guru dalam mengajar dan menyampaikan materi yang masih
menggunakan metode ceramah dan sesekali dikaloborasi dengan tanya jawab
membuat siswa merasa jenuh dan bosan dalam proses pembelajaran. Selain itu,
disebabkan keterbatasan fasilitas yang tidak memadai, seperti OHP, LCD yang tidak
terdapat diruang kelas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rendahnya partisipasi
siswa dikarenakan dikelas tersebut tidak diterapkannya metode yang inovatif yang
dapat menunjang meningkatnya partisipasi siswa.
Untuk mengatasi hal-hal diatas, dalam makalah ini akan membahas bagaimana
menerapkan metode pembelajaran yang dapat membuat siswa senang saat proses
pembelajaran berlangsung yaitu dengan menerapkan metode sosiodrama.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penulisan
makalah ini adalah
1. Apa yang dimaksud dengan metode sosiodrama?
2. Bagaimana menerapkan metode sosiodrama dalam proses pembelajaran?
8
3. Bagaimana menerapkan metode sosiodrama dalam pelajaran Bahasa Indonesia?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah
1. Menjelaskan pengertian dari metode sosiodrama.
2. Mendeskripsikan penerapan metode sosiodrama dalam proses pembelajaran.
3. Mendeskripsikan penerapan metode sosiodrama dalam pelajaran Bahasa
Indonesia
9
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Metode Sosiodrama
Metode sosiodrama dan bermain peranan merupakan dua buah metode mengajar
yang mengandung pengertian yang dapat dikatakan bersama dan karenanya dalam
pelaksanaan sering disilih gantikan. Istilah sosiodrama berasal dari kata sosio atau
sosial dan drama. Kata drama adalah suatu kejadian atau peristiwa dalam kehidupan
manusia yang mengandung konflik kejiwaan, pergolakan, benturan antara dua orang
atau lebih. Sedangkan bermain peranan berarti memegang fungsi sebagai orang yang
dimainkannya, misalnya berperan sebagai guru, anak yang sombong, orang tua dan
sebagainya.
Kedua metode tersebut biasanya disingkat menjadi metode “sosiodrama” yang
merupakan metode mengajar dengan cara mempertunjukkan kepada siswa tentang
masalah-masalah hubungan sosial, untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu.
Masalah hubungan sosial tersebut didramatisasikan oleh siswa dibawah pimpinan
guru. Melalui metode ini guru ingin mengajarkan cara-cara bertingkah laku dalam
hubungan antara sesama. Sosio drama yaitu siswa dapat mendramatisasikan tingkah
laku manusia atau ungkapan gerak gerik wajah seseorang dalam hubungan sosial
antar manusia. Sosio drama menurut Drs. Soelaiman Joesoef dan Drs. Slamet Santoso
dimaksudkan mendramatisasikan cara tingkah laku dalam hubungan sosial. Oemar
Hamalik berpendapat bahwa kegiatan drama atau ekspresi pada umumnya disenangi
anak.
Pendapat lain, mengemukakan bahwa semacam drama sosial berguna untuk
menanamkan kemampuan menganalisis situasi sosial tertentu. Dalam sosiodrama ini
10
guru menyajikan sebuah cerita yang diangkat dari kehidupan sosial. Kemudian siswa
memainkan peran-peran tertentu dengan isi cerita dalam sebuah drama. Sosiodrama
yang dimaksudkan adalah suatu cara mengajar dengan jalan mendramatisasikan
bentuk tingkah laku dalam hubungan sosial (Sumiati dan Asra, 2002:100). Jadi
sosiodrama merupakan salah satu metode pembelajaran yang diterapkan untuk
membantu pembelajaran. Metode Sosiodrama juga adalah metode pembelajaran
bermain peran untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan fenomena
sosial, permasalahan yang menyangkut hubungan antara manusia seperti
masalah kenakalan remaja, narkoba, gambaran keluarga yang otoriter, dan lain
sebagainya. Sosiodrama digunakan untuk memberikan pemahaman dan penghayatan
akan masalah-masalah sosial serta mengembangkan kemampuan siswa untuk
memecahkanya. Dalam metode sosiodrama tersebut siswa diharapkan untuk terlibat
aktif dan berpartisipasi dengan motivasi belajar yang dimiliki saat pembelajaran.
Dengan beberapa pengertian dari para ahli di atas dapat kita simpulkan bahwa
metode sosiodrama adalah cara menyajikan bahan pelajaran dengan
mempertunjukkan dan mempertontonkan atau mendramatisasikan cara tingkah laku
dalam hubungan sosial. Jadi sosiodrama ialah metode mengajar yang dalam
pelaksanaannya peserta didik mendapat tugas dari guru untuk mendramatisasikan
suatu situasi social yang mengandung suatu problem, agar peserta didik dapat
memecahkan suatu masalah yang muncul dari suatu situasi sosial.
11
B. Tujuan Metode Sosiodrama
Ada beberapa tujuan yang diharapkan melalui sosiodrama, antara lain
dikemukakan Nana Sudjana (2009: 84) sebagai berikut:
(1) Dapat belajar bertanggung jawab
(2) Siswa dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain
(3) Dapat mengambil keputusan.
(4) Merangsang kelas untuk berpikir dan memecahkan masalah.
Selain beberapa tujuan diatas, tujuan sosio drama yang lain dikemukakan oleh
Ahmad Munjih Nasih (2009: 81) sebagai berikut :
(1) Supaya siswa mendapatkan keterampilan sosial.
(2) Menghilangkan perasaan malu dan rendah diri yang tidak pada tempatnya
(3) Mendidik dan mengembangkan kemampuan untuk mengemukakan pendapat.
(4) Membiasakan diri untuk sanggup menerima dan menghargai orang lain.
(5) Sosiodrama ini akan lebih banyak berpengaruh terhadap perubahan-perubahan
sikap kepribadian.
Berdasarkan uraian diatas, dapat dikatakan bahwa dengan menggunakan metode
sosio drama dapat menumbuhkan sikap positif.
C. Jenis Metode Sosiodrama
Adapun jenis-jenis metode sosiodrama adalah :
a. Permainan Penuh
Permainan penuh dapat digunakan untuk proyek besar yang tidak dibatasi
waktu dan sumber. Permainan penuh ini merupakan alat yang sangat baik untuk
menangani masalah yang kompleks dan kelompok yang berhubungan dengan masalah
itu. Permainan mungkin asli atau disesuaikan dengan situasi, untuk memenuhi
12
permintaan distributor komersial atau organisasi perjuangan, keagamaan, sosial,
pendidikan, industri, dan professional.
b. Pementasan situasi atau kreasi baru
Teknik ini mungkin setingkat dengan permainan penuh, tetapi dirancang hanya
untuk memainkan sebagian masalah atau situasi. Bentuk permainan drama
memerlukan orientasi awal dan diskusi tambahan atau pengembangan lanjutan
kesimpulan dengan menggunakan metode lain. Pementasan situasi dapat digunakan
untuk memerankan kembali persidangan pengadilan, pertemuan dan persidangan
badan legislative.
c. Playlet
Playlet adalah jenis permainan drama ketiga. Playlet meliputi kegiatan berskala
kecil untuk menangani masalah kecil atau bagian kecil dari masalah besar. Jenis ini
dapat digunakan secara tunggal atau untuk mengemas pementasan masalah yang
menggunakan metode lain, atau serangkaian playlet dapat digunakan bersama untuk
menggambarkan perkembangan masalah secara bertahap.
d. Blackout
Blackout adalah jenis permainan drama yang ke empat.Jenis ini biasanya hanya
meliputi dua atau tiga orang dengan dialog singkat mengembangkan latar belakang
secukupnya dalam pementasan yang cepat berakhir.
D. Syarat-syarat Metode Sosiodrama
Sosiodrama sebagai suatu metode mengajar hendaknya memenuhi 3 persyaratan
utama (menurut Prof. Dr. S. Nasution) dalam engkoswara (1989);
1) Kelas harus mempunyai perhatian masalah yang dikemukakan.
13
Ini berarti bahwa suatu persoalan hendaknya disesuaikan dengan tingkat
perkembangan anak-anak baik minat maupun kemampuan murid. Persoalan ini
terlalu mudah atau terlalu sukar mungkin tidak menarik minat anak-anak.
2) Para pelaku harus memunyai gambaran yang jelas tentang masalah yang dihadapi.
Ini berarti bahwa pelaku harus mengerti dan memahami isi cerita untuk kemudian
dapat dinyatakan dalam bentuk tingkah laku visual.
3) Sosiodrama hendaknya dipandang sebagai alat pelajaran dan bukan hanya sebagai
alat pelajaran dan bukan hanya alat hiburan. Karena itu, dalam sosiodrama tidak
terbatas pada mendramatisasikan tetapi supaya anak menanggapi, menilai, atau
memberikan kritik-kritik.
E. Langkah-langkah Metode Sosiodrama
Keberhasilan proses permainan peran sangat tergantung pada kecerdasan dan
kemampuan pimpinan membantu pemain dalam menjalankan peran mereka.
Pimpinan disini bisa ketua organisasi, ketua pertemuan, atau anggota kelompok yang
menguasai proses permainan peran. Kegiatan permainan peran itu sendiri sebenarnya
menjadi salah satu langkah dari proses permainan peran. Langkah yang lain berfungsi
mempersiapkan pemain dan pengamat, atau membantu menginterpretasikan
permainan.
Langkah-Langkah Pelaksanaan Metode Sosio drama
(1) Menentukan pokok tema yang akan disosiodramakan.
(2) Mempersiapkan peranan. Berikanlah waktu pada siswa untuk mempersiapkan
sebagai orang yang akan diperankannya.
(3) Pelaksanaan sosiodrama sesuai dengan peran masing-masing.
14
(4) Mengadakan Evaluasi.
Adapun dalam menerapkan atau melaksanakan metode sosiodrama agar berhasil
harus memperhatikan langkah-langkahnya yaitu :
(1) Menetapkan topik atau masalah serta tujuan yang hendak dicapai.
(2) Memberi gambaran masalah dalam situasi yang akan dimainkan
(3) Menetapkan pemain dan waktu yang disediakan
(4) Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan sendiri sesuai dengan
daya imajinasi siswa.
Syaiful Bahri dan Zain (1995: 100) mengemukakan lagkah-langkah metode
sosiodrama yaitu:
(1) Tetapkan dulu masalah-masalah social yang menarik perhatian siswa dibahas
(2) Ceritakan kepada siswa mengenai isi dari masalah-masalah dalam konteks cerita
tersebut.
(3) Tetapkan siswa yang dapat atau yang bersedia untuk memainkan peranannya di
depan kelas.
(4) Jelaskan kepada pendengar mengenai peranan mereka pada waktu sosiodrama
sedang berlangsung.
(5) Beri kesempatan kepada pelaku untuk berunding beberapa menit sebelum.
(6) Akhiri sosiodrama pada waktu situasi pembicaraan mencapai ketegangan.
(7) Akhiri sosiodrama dengan diksusi kelas untuk bersama-sama memecahkan
persoalan yang ada pada sosiodrama tersebut.
(8) Jangan lupa menilai hasil sosiodrama tersebut sebagai bahan pertimbangan lebih
lanjut.
Berdasarkan pendapat di atas dapat dikatakan bahwa dalam pelaksnaan metode
sosiodrama terdapat langkah-langkah yang menjadi pertimbangan oleh setiap guru,
15
karena dengan memerhatikan langkah-langkah tersebut metode sosiodrama dapat
dilksanakan dengan baik dan sesuai dengan tujuan dalam pembelajaran.
Permainan peran sebagai proses pendidikan meliputi beberapa langkah. Pimimpin
harus menguasai setiap langkah dan memberitahukannya kepada anggota kelompok.
Langkah-langkah yang biasa berhubungan dengan proses permainan peran antara
lain:
Menentukan Masalah. Partisipan kelompok dalam memilih dan menentukan
masalah sangat diperlukan. Masalah harus signifikan dan cukup dikenal oleh pemain
maupun pengamat. Masalah harus valid, jelas, dan sederhana sehingga peserta dapat
mendiskusikan secara rasional. Diperlukan kehati-hatian untuk menghindari masalah
yang dapat mengungkapkan isu yang tersembunyi, tetapi menyimpang dari tujuan
permainan peran. Dalam hal ini, baik pengamat maupun pemain harus benar-benar
mengerti permasalahannya. Sebagai contoh, petani penyewa mencoba meyakinkan
tuan tanah untuk membantu mereka membeli benih unggul untuk meningkatkan
produksi.
Membentuk Situasi. Desain peran yang dimainkan atau situasi tergantung pada
hasil yang diinginkan. Kehati-hatian perlu diambil untuk menghindari situasi yang
kompleks, yang mungkin mengacaukan perhatian pengamat dari masalah yang
dibahas. Situasi harus memberikan sesuatu yang nyata kepada pemain dan kelompok,
dan dapat saat yang sama memberikan pandangan umum dan pengetahuan yang
diinginkan.
Membentuk Karakter . Keberhasilan proses permainan peran sering ditentukan
oleh peran dan pemain yang layak dipilih. Peran yang akan dimainkan harus dipilih
secara hati-hati. Pilihlah peran yang akan memberikan sumbangan untuk mencapai
tujuan pertemuan. Biasanya, permainan peran melibatkan peran yang sedikit. Pemain
16
yang terbaik harus dipilih untuk setiap peran. Peran-peran harus diberikan kepada
mereka yang mampu membawakannya dengan baik dan mau melakukannya. Orang
tidak seharusnya dipaksa memainkan suatu peran, tidak pula harus diminta untuk
memainkan peran yang mungkin membuat bingung setelah penyajian.
Mengarahkan Pemain. Permainan yang spontan tidak memerlukan pengarahan.
Akan tetapi, permainan peran yang terencana memerlukan pengarahan dan
perencanaan yang matang. Penting bagi pemain untuk dapat memainkan perannya
pada saat yang tepat dan sesuai dengan tujuan yang diinginkannya. Pengarahan
diperlukan untuk memberitahukan tanggungjawab mereka sebagai pemain.
Pengarahan mungkin dilakukan secara resmi atau tidak resmi, tergantung situasi dan
pengarahan tidak harus menentukan apa yang harus dikatakan atau dilakukan.
Memahami Peran. Biasanya, suatu hal yang baik bagi pengamat untuk tidak
mengetahui peran apa yang sedang dimainkan. Permainan harus diatur waktunya
secara hati-hati dan spontan. Penting untuk diketahui, apabila ada beberapa pemain,
hendaknya mereka mulai bermain pada saat yang sama dan berakhir pada saat yang
sama pula, yaitu ketika permainan dihentikan.
Menghentikan/memotong. Efektifitas permainan peran mungkin sangat
berkurang jika permainan dihentikan terlalu cepat atau dibiarkan berlangsung terlalu
lama. Pengaturan waktu sangat penting. Permainan peran yang lama tidak efektif, jika
sebenarnya hanya diperlukan beberapa menit untuk memainkan peran yang
diinginkan. Permainan harus dihentikan sesegera mungkin setelah permainan
dianggap cukup bagi kelompok untuk menganalisis situasi dan arah yang ingin
dimabil. Dalam beberapa kasus, perminan dapat dihentikan apabila kelompok sudah
dapat memperkirakan apa yang akan terjadi jika permainan tetap diteruskan, dan
17
permainan harus dihentikan jika pemain mengalami kebuntuan yang disebabkan
penugasan atau pengarahan yang kurang memadai.
Mendiskusikan dan menganalisis permainan. Langkah terakhir ini harus
menjadi “pembersih”. Jika peranan dimainkan dengan baik, pengertian pengamat
terhadap masalah yang dibahas akan semakin baik. Diskusi harus lebih difokuskan
pada fakta dan prinsip yang terkandung daripada evaluasi pemain. Suatu ide yang
baik, jika membiarkan pemain mengekspresikan pandangan mereka terlebih dahulu.
Ada saatnya bagi pengamat untuk menganalisis, yaitu setelah pemain
mengekspresikan diri. Ketua mempunyai tanggungjawab untuk menyimpulkan fakta
yang telah disajikan selama permainan peran dan diskusi, dan merumuskan
kesimpulan untuk pemecahan masalah.
Dalam melaksanakan strategi ini agar berhasil dengan efektif maka perlu
memperhatikan langkah-langkah :
a. Guru harus menerangkan kepada siswa untuk memperkenalkan strategi ini,
bahwa dengan jalan sosiodrama siswa diharapkan dapat memecahkan masalah
hubungan sosial yang aktual ada di masyarakat, maka kemudian guru menunjuk
beberapa siswa yang akan berperan, masing-masing akan mencari pemecahan
masalah sesuai dengan perannya. Dan siswa yang lain jadi penonton dengan
tugas-tugas tertentu pula.
b. Guru harus memilih masalah yang urgen, sehingga menarik minat anak. Ia mampu
menjelaskan dengan menarik sehingga siswa terangsang untuk berusaha
memecahkan masalah itu.
c. Agar siswa memahami peristiwanya, maka guru harus bisa menceritakan
sambil untuk mengatur dengan adegan yang pertama.
18
d. Bila ada kesediaan sukarela dari siswa untuk berperan, harap ditanggapi
tetapi guru harus mempertimbangkan apakah ia tepat untuk perannya. Bila tidak
ditunjuk saja siswa yang memiliki kemampuan dan pengetahuan serta pengalaman
seperti yang diperankan itu.
e. Jelaskan pemeran-pemeran itu sebaik-baiknya sehingga mereka tahu tugas
perannya, menguasai masalahnya, pandai bermimik maupun berdialog.
f. Siswa yang tidak turut hasil menjadi penonton yang aktif, disamping
mendengarkan dan melihat mereka harus bisa memberi saran dan kritik pada
apa yang akan dilakukan setelah sosiodrama selesai.
g. Bila siswa belum terbiasa perlu dibantu guru dalam menimbulkan kalimat pertama
dalam dialog.
h. Setelah dalam situasi klimaks, maka harus dihentikan agar kemungkinan-
kemungkinan pemecahan masalah dapat didiskusikan secara umum. Sehingga
para penonton ada kesempatan untuk berpendapat, menilai permainan, dan
sebagainya. Sosiodrama dapat dihentikan pula bila sedang menemui jalan buntu.
i. Sebagai tindak lanjut dari hasil diskusi walau mungkin masalahnya belum
terpecahkan, maka perlu dibuka tanya jawab, diskusi atau membuat karangan
yang berbentuk sandiwara.
Agar pelaksanaan metode simulasi ini dapat berjalan dengan baik, maka perlu
dilakukan langkah-langkah yang berkaitan dengan persiapan yang meliputi penetapan
topik atau masalah pokok dan tujuannya, peranan yang harus dimainkan oleh masing-
masing siswa, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya. Sedangkan
pelaksanaannya dilakukan oleh kelompok siswa yang memerankan permainan,
mengikuti dengan penuh perhatian, memberikan bantuan, dorongan, serta diskusi
tentang pelaksanaan simulasi yang yang didalamnya dibahas tentang berbagai aspek
19
yang terkait dengan simulasi untuk dilakukan perbaikan, laporan, kritik, saran dan
sebagainya untuk kemudian disimpulkan.
Adapun langkah-langkah simulasi menurut Wina Sanjaya dalam bukunya yang
berjudul Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan adalah :
1. Persiapan Simulasi
a. Menetapkan topik atau masalah serta tujuan yang hendak dicapai oleh simulasi
b. Guru memberikan gambaran masalah dalam situasi yang akan disimulasikan.
c. Guru menetapkan pemain yang akan diterlibat dalam simulasi, peranan yang
harus dimainkan oleh para pemeran, serta waktu yang disediakan.
d. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya khususnya pada
siswa yang terlibat dalam pemeranan simulasi.
2. Pelaksanaan Simulasi
a. Simulasi mulai dimainkan oleh kelompok pemeran.
b. Para siswa lainnya mengikuti dengan penuh perhatian.
c. Guru hendaknya memberikan bantuan kepada pemeran yang mendapat
kesulitan.
d. Simulasi hendaknya dihentikan pada saat puncak. Hal ini dimaksudkan untuk
mendorong siswa berpikir dalam menyelesaikan masalah yang sedang
disimulasikan.
3. Penutup
a. Melakukan diskusi baik tentang jalannya simulasi maupun materi cerita yang
disimulasikan. Guru harus mendorong agar siswa dapat memberikan kritik dan
tanggapan terhadap proses pelaksanaan simulasi.
b. Merumuskan kesimpulan.
20
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menerapkan metode sosiodrama dalam
pembelajaran adalah :
1. Masalah yang akan dijadikan tema cerita hendaknya dialami, oleh sebagian siswa.
2. Penentuan peran hendaknya secara sukarela dan motivasi dari diri sendiri.
3. Jangan banyak menyutradarai/mengatur, biarkan anak mengembangkan
kreatifitas mereka.
4. Diskusi diarahkan pada penyelesaian akhir
5. Kesimpulan diskusi dapat dirumuskan oleh guru.
F. Keunggulan dan Kelemahan Metode Sosiodrama
Metode ini meliputi penggunaan dialog dan tindakan menginterpretasikan situasi
dan peristiwa. Permainan drama berbeda dari permainan peran, drama memerlukan
waktu yang lebih lama dan tempat yang lebih luas. Permainan drama dilatihkan lebih
dahulu dan biasanya lebih ditekankan pada emosi peserta.
Kelebihan dan kelemahan metode sosiodrama adalah :
1) Kelebihan Metode Sosiodrama
a. Dapat mengembangkan kreatifitas siswa (dengan peran yang
dimainkan siswa dapat berfantasi).
b. Memupuk kerjasama antara siswa.
c. Menumbuhkan bakat siswa dalam seni drama.
d. Kerjasama antara pemain dapat ditumbuhkan dan dibina dengan sebaik-
baiknya.
e. Siswa lebih memperhatikan pelajaran karena menghayati sendiri.
f. Siswa memeroleh kebiasaan untuk menerima dan membagi tanggung jawab
dengan sesamanya.
21
g. Bahasa lisan siswa dapat dibina menjadi bahasa yang baik agar mudah
dipahami orang lain.( Syaiful Bahri dan Zain 1995: 101)
h. Memupuk keberanian berpendapat di depan kelas.
i. Melatih siswa untuk menganalisis masalah dan mengambil kesimpulan dalam
waktu singkat.
j. Memperkaya pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam
menghadapi situasi sosial yang problematis.
2) Kelemahan Metode Sosiodrama
a. Sosiodrama dan bermain peran memerlukan waktu yang relatif
panjang.
b. Memerlukan kreatifitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak guru maupun
murid. Dan ini tidak semua guru memilikinya. melalui metode sosiodrama dan
bermain peran ini.
c. Kebanyakan siswa yang ditunjuk sebagai pemeran merasa malu untuk
memerlukan suatu adegan tertentu.
d. Apabila pelaksanaan sosiodrama dan bermain peran mengalami kegagalan,
bukan saja dapat memberi kesan kurang baik, tetapi sekaligus berarti tujuan
pengajaran tidak tercapai.
e. Tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui metode ini.
f. Pada pelajaran agama masalah keimanan, sulit disajikan
G. Peranan Metode Sosiodrama dalam Pelajaran Bahasa Indonesia
Dalam dunia pendidikan baik itu di SD, SMP, SMA pelajaran Bahasa Indonesia
meliputi empak aspek yairu berbicara, menyimak/mendengarkan, menulis. Dengan
melihat kenyataan di lapangan, diduga kurangnya kemampuan siswa dalam
22
berbicara/mengungkapkan perasaan disebabkan oleh penyajian guru dalam
pembelajaran yang sebagian besar menggunakan metode ceramah, tanpa peragaan
atau gerakan-gerakan dan ekspresi wajah yang sesuai.
Apabila hal di atas dibiarkan berlarut-larut maka dapat mengakibatkan dampak
seperti menurunnya prestasi belajar siswa untuk berbicara/mengungkapkan perasaan
dengan nada dan gerak serta mimic wajah yang sebenarnya.
Penerapan metode sosiodrama dalam pelajaran Bahasa Indonesia sangat penting
karena dengan menggunakan metode sosiodrama ini siswa akan mengembangkan
kemampuan berbicara mereka rserta dapat melatih mengungkapkan ide atau kritik
terhadap apa yang didengarnya dari tiap adegan dalam pengaplikasian metode
sosiodrama. Pengajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar para siswa mampu
menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran
bahasa indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam
berkomunikasi dengan bahasa indonesia yang baik dan benar (Diknas, 2003: 11) hal
ini terkait dengan fungsi utama bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi.
Penerapan metode sosiodrama ini dalam pelajaran bahasa indonesia ditekankan
pada materi-materi yang mempunyai kompetensi tentang berbicara, sastra (karya
sastra), mendengarkan, jika dilapangan ditemukan penggunaan metode sosiodrama
dalam kompetensi menulis, hal ini sah-sah saja karena tujuan utama dari penerapan
metode sosiodrama ini adalah agar siswa dapat mengungkapkan/menuliskan
konklusi/pendapat serta kritik secara terbuka (percaya diri).
Adapun sasaran utama manfaat metode sosiodrama setelah setelah diterapkan
dalam pelajaran bahasa indonesia adalah: 1) Siswa mampu menyapa orang dengan
bahasa yang baik dan benar, 2) Mampu memperkenalkan diri, 3) Mampu menjelaskan
isi gambar, 4) Mampu menceritakan pengalaman, 5) Mampu mendeskripsikan benda;
23
tumbuhan; binatang; tempat, 6) Mampu melakukan percakapan sederhana, 7) Mampu
bertanya, 8) Mampu melakukan percakapan melalui telepon, 9) Mampu menjelaskan
wacana prosedural (urutan), 10) Mampu menjelaskan petunjuk, 11) Menceritakan
kembali isi dongeng, 12) Berwawancara dengan narasumber, 13) Mampu
mengeluarkan pendapat atau kritik terhadap masalah-masalah sosial (Suyoto, 2003:
32).
24
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan pembahasan dari bab sebelumnya, maka simpulan dari penulisan
makalah ini adalah
1. Metode pembelajaran sosiodrama adalah metode bermain drama atau cara
mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungan sosial, dan diharapkan siswa
dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain.
2. Di sekolah-sekolah interaksi pembelajaran masih rendah, terlihat bahwa
sedikitnya siswa yang mendengarkan penjelasan guru, bahkan ada siswa yang
masih main-main sendiri atau mengobrol dengan teman sebangku saat guru
sedang menerangkan. Ini merupakan fenomena yang butuh perhatian dari tim
pengajar di sekolah-sekolah agar memperbaiki metode yang mereka terapkan.
Disinilah inovasi terbaru hadir yaitu menerapkan metode sosiodrama.
3. Ada beberapa tujuan sosio drama antara lain dikemukakan Nana Sudjana (2009:
84) sebagai berikut dapat belajar bertanggung jawab, siswa dapat menghayati dan
menghargai perasaan orang lain, dapat mengambil keputusan, merangsang kelas
untuk berpikir dan memecahkan masalah.
B. Saran
Penulis mengharapkan adanya kontribusi pemikiran dari peserta diskusi/pembaca
untuk perbaikan isi dari makalah ini. Isi dari makalah ini hanyalah sebagian kecil
ilmu-ilmu tentang penerapan metode sosiodrama, namun penulis berharap ada setitik
asa agar peserta diskusi/pembaca dapat mengembangkan dan mengaplikasikan
metode sosiodrama ini dalam proses pembelajaran.
25
DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, Oemar . 2003. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.
Muhibbin, Syah.1999. Proses Belajar Mengajar di Perguruan Tinggi. Yogyakarta:
Andi Offset.
Nasih, Ahmad Munjin dkk. 2009. Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam. Bandung : Refika Aditama.
Nasution. 2003. Metode Penelitian Naturalistik kualitatif. Bandung: Tarsito.
Purwanto, Ngalim M. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Kencana.
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Reneka Cipta.
Sudjana, Nana. 2006. Proses Penilaian Hasil Belajar Mengajar. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2003. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Sumiati dan Asra, M.Ed . 2007. Metode Pembelajaran. Bandung : Wacana Prima.
Suryobroto.1997. Proses belajar Mengajar. Jakarta : Reneka Cipta.
Susiati, S., & Iye, R. (2018). Kajian Geografi Bahasa dan Dialek di Sulawesi
Tenggara: Analisis Dialektometri. Gramatika: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan
Kesastraan, 6(2), 137-151.
Susiati, S., Iye, R., & Suherman, L. O. A. (2019). Hot Potatoes Multimedia
Applications in Evaluation of Indonesian Learning In SMP Students in Buru
District. ELS Journal on Interdisciplinary Studies in Humanities, 2(4), 556-570.
Susiati, Y. T. Risman Iye. A. Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia Suku Bajo
Sampela: Balai Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2018. Kongres Bahasa
Indonesia (No. 12, pp. 1-6). Report.
Yumiati, Roestiyah NR. 1985. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Bina Aksara.
Wiraatmadja, Rochiati. 2006. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
26
Zamroni. 2003. Metode dan Proses Belajar Mengajar. Maluku Utara: UMMU Press.
http/id.shvoong.com/writingand-spiking/presenting/2231778-tujuan-kelebihandan-
kelemahan
ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication.
Article
Full-text available
This study aims to find out wheter there is an influence of the Hot Potatoes multimedia application in evaluating junior high school students' learning outcomes in Indonesian language learning. The study design uses an evaluation model with the multimedia application Hot Potatoes. The method used is quantitative description and qualitative description, which is to show the effect of evaluating student learning outcomes and student and teacher responses to the effectiveness of the use of multimedia Hot Potatoes. The data source of this research is the IX grade junior high school students in Buru Regency. Data collection techniques used in this study are test techniques using the multimedia application Hot Potatoes in the form of a Multiple-Choice Test (multiple-choice). The results showed that the application of the Hot Potatoes multimedia application in evaluating the learning outcomes of junior high school students in Indonesian language learning had a major influence on quality learning. This can be seen from the results of the evaluation of 50 middle school students from cycle I, cycle II, and cycle III. The percentage of students completeness in cycle I was 60%, cycle II was 86%, and cycle III was 94%. Meanwhile, the percentage of students completeness in the first cycle was 40%, second cycle was 14%, and third cycle was 6%.
Article
Full-text available
Keunikan bahasa setiap daerah menunjukkan identitas daerah tertentu, sehingga penting untuk dilakukan suatu kajian yang dapat dengan jelas menunjukkan keunikan tersebut. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan fenomena penggunaan bahasa pada beberapa bahasa daerah di Sulawesi Tenggara dengan menerapkan analisis dialektometri segitiga. Instrumen penelitian ini menggunakan pendekatan dialektometri. Metode pengumpulan data yang dipakai pada penelitian ini adalah metode pupuan lapangan (metode lapangan langsung). Data penelitian ini dianalisis dengan menggunakan metode dialektometri segitiga. Metode ini memakai angka-angka sebagai dasar pemilahannya. Hasil penelitian menunjukan bahwa keseluruhan titik pengamatan yang di analisis menggunakan dialektometri, masuk pada kategori empat formulasi, yaitu formulasi di bawah 20% (tidak ada perbedaan bahasa dan dialek, yakni antara bahasa Wakatobi dialek Kaledupa dan dialek Tomia), formulasi 31–50% (adanya perbedaan subdilek, yaitu antara bahasa Pancana dan bahasa Kioko), formulasi 51–80% (perbedaan dialek, yakni antara bahasa Wakatobi dialek Tomia dan bahasa Pancana; bahasa Pancana dan bahasa Wakatobi dialek Kaledupa; bahasa Kioko dan bahasa Wakatobi dialek Tomia; bahasa Wakatobi dialek Tomia dan bahasa Cia-Cia; bahasa Cia-Cia dan bahasa Kioko; bahasa Kioko dan bahasa Tolaki), dan formulasi 81 ke atas (perbedaan bahasa, yakni antara bahasa Tolaki dan bahasa Cia-Cia).
  • Oemar Hamalik
Hamalik, Oemar. 2003. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.
Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
  • Nasih
Nasih, Ahmad Munjin dkk. 2009. Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Bandung : Refika Aditama.
Psikologi Pendidikan. Jakarta : Kencana
  • Ngalim M Purwanto
Purwanto, Ngalim M. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Kencana.
Strategi Pembajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan
  • Wina Sanjaya
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Reneka Cipta.
Proses Penilaian Hasil Belajar Mengajar
  • Nana Sudjana
Sudjana, Nana. 2006. Proses Penilaian Hasil Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Landasan Psikologi Proses Pendidikan
  • Nana Sukmadinata
  • Syaodih
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2003. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosdakarya
  • Rochiati Wiraatmadja
Wiraatmadja, Rochiati. 2006. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosdakarya.