ArticlePDF Available

Analisis Perilaku Masyarakat Indonesia dalam Menghadapi Pandemi Virus Corona (Covid-19) dan Kiat Menjaga Kesejahteraan Jiwa

Authors:

Abstract

Beginning in 2020, humanity throughout the world was shaken by the Corona Virus pandemic (Covid-19) which caused panic everywhere. Thousands of people were infected and thousands more died. For in Indonesia, the government has given appeals to the community in overcoming this epidemic to be effective and efficient. But in reality, there are still many Indonesian people who do not heed this appeal. Therefore, this study aims to analyze why some people bring up these behaviors, and how to overcome them. The research method used by this research is the study of literature with a descriptive analysis approach. The results show that the behavior displayed by people who do not comply with government appeals is based on cognitive biases. In addition to analyzing the behavior of Indonesian people and how to handle it, this article also presents tips for maintaining mental well-being in a positive psychological approach.Keywords: Pandemic; Covid-19; Cognitive Bias; Mental Welfare AbstrakAwal tahun 2020 ini umat manusia di seluruh dunia digoncang dengan pandemi Virus Corona (Covid-19) yang membuat kepanikan dimana-mana. Ratusan ribu manusia terinfeksi dan ribuan lainnya meninggal dunia. Untuk di Indonesia sendiri pemerintah telah memberikan himbauan-himbauan kepada masyarakat dalam mengatasi wabah ini agar berjalan efektif dan efisien. Tetapi pada kenyataannya masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengindahkan himbauan ini. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisa mengapa sebagian masyarakat memunculkan perilaku tersebut, dan bagaimana cara mengatasinya. Metode penelitian yang digunakan oleh penelitian ini adalah studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif analisis. Hasil menunjukan bahwa perilaku yang ditampilkan oleh orang yang tidak mematuhi himbauan pemerintah didasari oleh bias kognitif. Selain menganalisa perilaku masyarakat Indonesia dan cara menanganinya, maka artikel ini juga memaparkan kiat-kiat menjaga kesejahteraan jiwa dalam pendekatan psikologi positif.Kata Kunci: Pandemi; Covid-19; Bias Kognitif; Kesejahteraan Jiwa
Analisis Perilaku Masyarakat Indonesia dalam Menghadapi Pandemi Virus
Corona (Covid-19) dan Kiat Menjaga Kesejahteraan Jiwa
Dana Riksa Buana
1
1Universitas Mercu Buana
1National Research Tomsk State University
Abstrak
Awal tahun 2020 ini umat manusia diseluruh dunia digoncang dengan pandemi Virus Corona
(Covid-19) yang membuat kepanikan dimana-mana. Ratusan ribu manusia terinfeksi dan
ribuan lainnya meninggal dunia. Untuk di Indonesia sendiri pemerintah telah memberikan
himbauan-himbauan kepada masyarakat dalam mengatasi wabah ini agar berjalan efektif dan
efisien. Tetapi pada kenyataannya masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak
mengindahkan himbauan ini. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisa
mengapa sebagian masyarakat memunculkan perilaku tersebut, dan bagaimana cara
mengatasinya. Hasil menunjukan bahwa perilaku yang ditampilkan oleh orang yang tidak
mematuhi himbauan pemerintah didasari oleh bias kognitif. Selain menganalisa perilaku
masyarakat Indonesia dan cara menanganinya, maka artikel ini juga memaparkan kiat-kiat
menjaga kesejahteraan jiwa dalam pendekatan psikologi positif. Metode penelitian yang
digunakan oleh penelitian ini adalah studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif
analisis.
Kata Kunci:
Pandemi; Covid-19; Bias Kognitif; Kesejahteraan Jiwa
1
Dana Riksa Buana adalah mahasiswa Ph.D pada Fakultas Psikologi, National Research Tomsk State
University, Tomsk, dan Dosen di Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana, Jakarta. Email:
dana.riksa@mercubuana.ac.id
Pendahuluan
Pada awal tahun 2020 ini dunia dikejutkan dengan wabah virus corona (Covid-19)
yang menginfeksi hampir seluruh negara di dunia. WHO Semenjak Januari 2020 telah
menyatakan dunia masuk kedalam darurat global terkait virus ini
2
. Ini merupakan fenomena
luar biasa yang terjadi di bumi pada abad ke 21, yang skalanya mungkin dapat disamakan
dengan Perang Dunia II, karena event-event skala besar (pertandingan-pertandingan
olahraga internasional contohnya) hampir seluruhnya ditunda bahkan dibatalkan. Kondisi
ini pernah terjadi hanya pada saat terjadi perang dunia saja, tidak pernah ada situasi lainnya
yang dapat membatalkan acara-acara tersebut. Terhitung mulai tanggal 19 Maret 2020
sebanyak 214.894 orang terinfeksi virus corona, 8.732 orang meninggal dunia dan pasien yang
telah sembuh sebanyak 83.313 orang
3
.
Khusus di Indonesia sendiri Pemerintah telah mengeluarkan status darurat bencana
terhitung mulai tanggal 29 Februari 2020 hingga 29 Mei 2020 terkait pandemi virus ini dengan
jumlah waktu 91 hari
4
. Langkah-langkah telah dilakukan oleh pemerintah untuk dapat
menyelesaikan kasus luar biasa ini, salah satunya adalah dengan mensosialisasikan gerakan
Social Distancing. Konsep ini menjelaskan bahwa untuk dapat mengurangi bahkan memutus
mata rantai infeksi Covid-19 seseorang harus menjaga jarak aman dengan manusia lainnya
minimal 2 meter, dan tidak melakukan kontak langsung dengan orang lain, menghindari
pertemuan massal
5
. Tetapi banyak masyarakat yang tidak menyikapi hal ini dengan baik,
seperti contohnya pemerintah sudah meliburkan para siswa dan mahasiswa untuk tidak
berkuliah atau bersekolah ataupun memberlakukan bekerja didalam rumah, namun kondisi
ini malahan dimanfaatkan oleh banyak masyarakat untuk berlibur
6
. Selain itu, walaupun
Indonesia sudah dalam keadaan darurat masih saja akan dilaksanakan tabliqh akbar, dimana
akan berkumpul ribuan orang di satu tempat, yang jelas dapat menjadi mediator terbaik bagi
penyebaran virus corona dalam skala yang jauh lebih besar
7
. Selain itu masih banyak juga
2
Sebayang, 2020.
3
Aida, 2020.
4
Koesmawardhani, 2020.
5
CNN Indonesia, 2020.
6
Malik, 2020.
7
Hariyadi, 2020.
masyarakat Indonesia yang menganggap enteng virus ini, dengan tidak mengindahkan
himbauan-himbauan pemerintah.
Perilaku yang tidak normal yang ditunjukan oleh fenomena diatas memicu peneliti
untuk menganalisa lebih jauh secara psikologi mengapa hal tersebut dapat terjadi di saat
kondisi negara sedang dalam keadaan bencana dan bagaimana cara mengatasinya. Selain itu
peneliti juga akan memaparkan kiat-kiat dalam menjaga kesejahteraan jiwa dalam
menghadapi wabah corona ini melalui pendekatan psikologi positif.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan, yaitu studi
yang objek penelitiannya berupa karya-karya kepustakaan baik berupa jurnal ilmiah, buku,
artikel dalam media massa, maupun data-data statistika. Kepustakaan tersebut akan
digunakan untuk menjawab permasalahan penelitian yang diajukan oleh penulis yang dalam
hal ini adalah mengapat masyarakat Indonesia menunjukan perilaku tertentu dalam
menghadapi pandemi virus Covid-19 dan bagaimana mengatasinya, serta juga menjawab
bagaimana kiat-kiat masyarakat untuk menjaga kesejahteraan jiwa dari sudut pandang
psikologi positif. Adapun sifat dari studi yang dilakukan adalah deskriptif analisis yaitu
memberikan edukasi dan pemahaman kepada pembaca, serta jenis data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah data sekunder.
Diskusi
Bias Kognitif
Konsep yang dapat diangkat untuk menjelaskan perilaku masyarakat Indonesia
dalam menghadapi wabah virus Covid-19 ini adalah bias kognitif. Bias kognitif adalah
kesalahan sistematis dalam berpikir yang memengaruhi keputusan dan penilaian yang dibuat
seseorang. Beberapa bias ini terkait dengan memori. Cara seseorang mengingat suatu
peristiwa dapat menjadi bias karena sejumlah alasan tertentu, dan pada gilirannya dapat
menyebabkan pemikiran dan pengambilan keputusan yang bias. Bias kognitif lainnya
mungkin terkait dengan masalah perhatian. Karena perhatian adalah sumber daya yang
terbatas, maka seseorang harus selektif tentang apa yang mereka perhatikan di dunia sekitar
mereka. Karena itu, bias-bias halus yang tidak disadari dapat merayap masuk dan
memengaruhi cara manusia memandang dan berpikir tentang dunia
8
.
Bias kognitif adalah jenis kesalahan dalam berpikir yang terjadi ketika orang
memproses dan menafsirkan informasi di dunia di sekitar mereka. Otak manusia kuat tetapi
tunduk pada batasan-batasan tertentu. Bias kognitif seringkali merupakan hasil dari upaya
otak manusia untuk menyederhanakan pemrosesan informasi. Itu adalah aturan praktis yang
membantu manusia memahami dunia dan mencapai keputusan dengan kecepatan relatif
9
.
Bias kognitif ini dibagi menjadi beberapa jenis, dan dalam kasus ini maka peneliti akan
mengaitkannya dengan kondisi yang paling tepat dengan fenomena yang diangkat. Bias
pertama adalah optimism bias. Bias optimisme adalah bias kognitif yang membuat seseorang
percaya bahwa mereka sendiri cenderung tidak mengalami peristiwa negatif. Ini juga dikenal
sebagai optimisme tidak realistis atau optimisme komparatif
10
. Konsep ini dapat menjelaskan
mengapa masyarakat Indonesia tetap saja tidak takut untuk melakukan aktifitas yang
dihadapkan pada orang banyak, liburan contohnya, dikarenakan mereka terlalu percaya diri
bahwa corona tidak seberbahaya itu, ini dikarenakan tipikal orang Indonesia yang santai
menghadapi kondisi apapun, maupun meyakini bahwa Tuhan akan melindungi negara
Indonesia.
Konsep kognitif bias lainnya adalah emotional bias. Bias emosional ini merupakan
distorsi dalam kognisi dan pengambilan keputusan karena faktor emosional. Misalnya,
seseorang mungkin cenderung untuk menghubungkan penilaian negatif dengan peristiwa
atau objek netral; mempercayai sesuatu yang memiliki efek emosional positif, yang
memberikan perasaan menyenangkan, bahkan jika ada bukti yang bertentangan; atau enggan
menerima fakta nyata yang tidak menyenangkan dan memberikan penderitaan mental. Dari
penjelasan ini maka jelas kognisi masyarakat Indonesia tidak ingin menerima fakta negatif
yaitu virus corona jelas membahayakan, tetapi malah mereka mencari sesuatu hal yang
8
Haselton, Nettle, & Andrews, 2005.
9
Kahneman, 2011.
10
Sharot, 2011.
memberikan perasaan yang menyenangkan misalnya liburan dan jalan-jalan untuk makin
menghindari emosi negatif yang berasal dari pandemi ini
11
.
Selanjutnya adalah efek Dunning-Kruger. Bias kognitif ini menjelaskan di mana orang
menilai kemampuan kognitif mereka lebih besar daripada kenyataan yang sebenarnya. Hal
ini terkait dengan bias kognitif superioritas ilusif dan berasal dari ketidakmampuan orang
untuk mengenali kemampuan mereka sesungguhnya. Tanpa kesadaran diri akan
metakognisi, orang tidak dapat secara objektif mengevaluasi kompetensi atau
ketidakmampuan mereka. Seperti dijelaskan oleh psikolog sosial David Dunning dan Justin
Kruger, bias kognitif superioritas ilusi dihasilkan dari ilusi internal pada orang-orang
berkemampuan rendah dan dari kesalahan persepsi eksternal pada orang berkemampuan
tinggi; yaitu, kesalahan perhitungan orang yang tidak kompeten berasal dari kesalahan
tentang diri, sedangkan kesalahan perhitungan orang yang sangat kompeten berasal dari
kesalahan tentang orang lain
12
.
Dari konsep yang telah diterangkan diatas maka masyarakat Indonesia yang tidak
mengindahkan himbauan pemerintah, memiliki bias kognitif ini, dimana mereka merasa
lebih tau atau merasa lebih mengerti kondisi pandemic virus ini, padahal pada kenyataannya
itu adalah kesalahan. Contohnya mereka merasa dapat menjaga diri dengan baik walaupun
berada di luar rumah atau di keramaian, jadi mereka akan merasa pintar atas dasar persepsi
mereka sendiri. Fenomena ini dapat terjadi disebabkan rendahnya kemampuan literasi
maupun masih banyak orang yang tidak memiliki akses pada media-media informasi
sehingga mereka memiliki minim pengetahuan atas merebaknya wabah Covid-19 ini. Sejalan
dengan teori efek Dunning-Kruger maka orang yang memiliki cukup pengetahuan dan
referensi literatur akan dapat mematuhi dan melaksanakan anjuran pemerintah dengan baik
dan maksimal.
Di dalam pendahuluan juga dijelaskan bahwa masih banyak masyarakat beragama di
Indonesia yang masih melakukan kegiatan keagamaan dengan jumlah ribuan orang atau
berkumpul bersama-sama untuk melakukan doa bersama. Mereka percaya dengan
11
Blanchette, 2010.
12
Kruger & Dunning, 1999.
keyakinan penuh bahwa doa dapat menyelamatkan mereka, dan mereka berpendapat
harusnya kita takut kepada Tuhan bukan kepada virus corona. Situasi ini juga dapat
dikatakan kognitif bias dalam beragama sehingga memunculkan dogmatisasi dalam
beragama. Penganut agama yang dogmatis dapat dikatakan sebagai seseorang yang
menerima dengan mentah-mentah begitu saja sesuatu yang ditulis, disampaikan, dan
diceritakan dari kitab suci tanpa mau menelaah dan berpikir lebih jauh apa makna yang
sesungguhnya terkandung dalam Buku Suci tersebut. Para pemeluk agama yang dogmatis
juga terkadang tidak sadar dengan menjadikan agama sebagai sebuah tujuan tetapi bukan
sebagai alat untuk menuju tujuan yang sebenarnya yaitu kebenaran sejati dan Tuhan itu
sendiri. Ini dapat ditandai dengan banyaknya umat beragama yang menyalahkan individu
lainnya dan merasa paling benar. Selain itu seseorang yang beragama secara dogmatis akan
sulit untuk merubah paradigma yang telah dipercayainya, walaupun hal tersebut belum tentu
merupakan kebenaran yang sejati. Ditambah lagi mereka gampang untuk menghakimi
individu yang berbeda dengan pemahamannya dan dengan mudahnya memberikan
pernyataan sesat ataupun kafir.
Mengatasi Bias Kognitif
Untuk dapat mengatasi bias kognitif maka beberapa hal dapat dilakukan melalui
rujukan yang disampaikan oleh Kahneman (2011) yaitu:
1. Tidak membuat keputusan dalam waktu yang mendesak. Kemampuan seseorang
untuk mendeteksi dan memperbaiki kesalahan dalam suatu penilaian akan secara
signifikan memburuk ketika mereka memutuskannya di bawah tekanan dalam jangka
waktu yang singkat. Dengan waktu yang sangat cepat biasanya tidak ada
kebijaksanaan dalam mengambil keputusan sehingga keputsan yang diambil akan
terbukti tidak akurat.
2. Hindari membuat keputusan ketika seseorang secara kognitif sedang melakukan
pekerjaan lebih dari satu. Saat akan mengambil keputusan tetapi seseorang itu juga
sedang mengerjakan pekerjaan yang memerlukan fokus, maka akan lebih baik tidak
mengambil keputusan, karena otak manusia akan terbagi dalam bekerjanya sehingga
keputusan yang diambil tidak akan maksimal.
3. Jangan membuat keputusan pada malam hari jika seseorang adalah orang yang
beraktivitas atau bekerja yang dimulai pada pagi hari (begitupun sebaliknya). Orang
yang beraktifitas pada pagi hari akan berbeda dengan orang yang beraktifitas pada
malam hari, sehingga mereka akan merasa segar secara kognitif pada waktu yang
berbeda dalam sehari. Dalam hal ini setiap orang harus mengetahui kapan waktu yang
paling produktif. Dengan mengetahui konsep ini maka seseorang dapat
memaksimalkan keputusan yang akan diambil.
4. Hati-hati dalam mengambil keputusan saat sedang berbahagia. Penelitian
menunjukkan bahwa orang yang sedang berbahagia mengambil keputusan yang lebih
buruk. Alasan ini bukan karena orang-orang yang bahagia telah berkurang kapasitas
kognitifnya, tetapi karena mereka tidak dapat mendeteksi kesalahan yang bisa terjadi
dalam intuisi mereka. Saat seseorang bahagia maka pandangan mereka pada suatu
hal akan menjadi sempit pada hal yang positif saja, sehingga mereka menafikan hal
negatif yang bisa terjadi. Sebagai contoh saat seseorang sedang jatuh cinta maka hal-
hal yang buruk tentang orang yang dicintai akan kabur, dan tidak akan menjadi hal
yang signifikan untuk diperhatikan.
5. Beripikir berdasarkan data dan fakta. Dengan mengerti data-data ataupun fakta yang
ada pada kondisi yang sedang dihadapi maka secara kognisi seseorang dapat
melihatnya dalam kondisi yang lebih tajam dan luas, sehingga kesalahan dalam
mengambil keputusan tidak terjadi.
Dengan rincian penjelasan diatas maka diharapkan seluruh masyarakat Indonesia dapat
berhati-hati dengan cara berpikir secara matang sebelum melakukan sesuatu pada kondisi
pandemi virus corona yang menyerang Indonesia. Semakin hati-hatinya semua masyarakat
dalam bertindak maka virus Covid-19 dapat dengan cepat diatasi dan ditanggulangi sehingga
juga dapat mempermudah kerja dari pemerintah.
Kiat Menjaga Kesejahteraan Jiwa pada Saat Wabah Covid-19 dengan Pendekatan Psikologi
Positif
Semakin meluasnya wabah dan dampak dari virus ini secara signifikan didalam segi-
segi kehidupan masyarakat Indonesia maka menjaga kesehatan mental tetap dalam kondisi
prima adalah suatu keharusan. Mental yang sehat akan membuat kepuasaan hidup yang erat
kaitannya dengan kebahagiaan dimana orang yang bahagia akan memiliki sistem imun yang
tinggi sehingga dapat menangkal wabah virus tersebut
1314
. Oleh karena itu untuk selanjutnya
akan dijelaskan bagaimana kiat-kita menjaga kesejahteraan jiwa atau kesehatan mental.
Victor Frankl (1984) menjelaskan bahwa seorang manusia akan bahagia bila ia telah
mengerti makna dalam kehidupannya. Bila dikaitkan dengan pandemic Covid-19 ini, maka
ada baiknya manusia berpikir dan memaknai sisi positif dari hadirnya wabah tersebut. Bisa
di hayati bahwa dengan adanya pandemi ini seluruh manusia dapat bersatu padu dan saling
menumbuhkan rasa saling peduli satu dengan yang lainnya sehingga tumbuhnya cinta kasih
yang mungkin dalam waktu belakangan ini manusia mengedepankan kebencian dan konflik.
Polusi berkurang dari bumi, sehingga bumi memiliki waktu untuk dapat memperbaiki
dirinya sehingga dapat menjadi tempat yang lebih baik untuk ditinggali. Ataupun setiap
manusia akan menjadi lebih sadar akan esensi dari kehidupan, sehingga setelahnya dapat
berperilaku dengan lebih baik. Dari hal-hal tersebut maka manusia akan berada dalam
kondisi tenang dan awas adalam menghadapi wabah ini. Selain itu manusia juga akan lebih
siap dan kuat dalam menghadapi peristiwa traumatis lainnya di masa depan
15
.
Aspek selanjutnya adalah mengenai emosi positif. Seseorang yang memiliki emosi
positif dapat dengan baik beradaptasi dalam situasi traumatis
16
. Untuk dapat berada dalam
kondisi emosi yang positif dalam kondisi wabah, beberapa hal dapat dilakukan, seperti
melakukan aktifitas hiburan dalam rumah, mengobrol bersama anggota keluarga, makan
bersama, olahraga indoor bersama, ataupun saling bertukar pikiran. Aktifitas-aktifitas
13
Van Leeuwen, et al., 2012.
14
Barak, 2006.
15
Calhoun, et al., 2010.
16
Bonanno and Keltner, 1997.
tersebut selain dapat membuat emosi menjadi positif tetapi juga dapat mengalihkan pikiran
dari informasi-informasi negatif tentang wabah virus.
Hal selanjutnya yang menjadi konsep penting dalam menjaga kesejahteraan jiwa
adalah spiritualitas. spiritualitas adalah bagaimana seseorang memandang kehidupannya
memiliki koherensi dan bertujuan, namun juga memperoleh pengalaman personal melalui
kekuatan yang dia yakini sebagai suatu yang melingkupi, mendasari atau melampaui
kehidupan
17
, serta sebagai pencarian terhadap Yang Maha Suci sebagai aspek non material
dari religiusitas
18
. Menggunakan spiritualitas sebagai mekanisme koping melalui masa-masa
sulit yang intens berkorelasi dengan tingkat harapan yang lebih tinggi, optimisme, dan hasil
kehidupan yang positif
19
. Oleh karena itu banyak bertafakur dirumah, berdoa, dan beribadah
dengan konsentrasi penuh, dan meditasi merupakan hal terbaik untuk dapat menjaga
kejiwaan kita berada dalam kondisi yang stabil. Ditambah dengan banyak mengingat
kematian untuk dekat kepada Tuhan juga dapat meningkatkan kesehatan mental
20
.
Kesimpulan
Masih banyak-nya masyarakat Indonesia yang tidak mematuhi himbauan dari
pemerintah untuk menanggulangi pandemi virus corona ini, diakibatkan oleh salah satu
konsep di dalam psikologi yang dinamakan bias kognitif. Bias kognitif adalah kesalahan
sistematis dalam berpikir yang memengaruhi keputusan dan penilaian yang dibuat
seseorang. Jenis bias kognitif yang tepat untuk menjelaskan fenomena ini adalah bias
optimism, bias emosional, dan efek Dunning-Kruger. Untuk dapat mengatasi bias kognitif ini
langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh masyarakat Indonesia adalah : tidak membuat
keputusan dalam waktu yang mendesak; hindari membuat keputusan ketika seseorang
secara kognitif sedang melakukan pekerjaan lebih dari satu; jangan membuat keputusan pada
malam hari jika seseorang adalah orang yang beraktivitas atau bekerja yang dimulai pada
17
Mascaro & Rosen, 2006.
18
Good, 2011
19
Marques, Lopez, & Mitchell, 2013.
20
Iqbal, 2003.
pagi hari (begitupun sebaliknya); hati-hati dalam mengambil keputusan saat sedang
berbahagia; dan beripikir berdasarkan data dan fakta. Selain itu untuk tetap menjaga mental
yang sejahtera maka aspek-aspek yang dapat dilakukan berkenaan dengan, pertama orang
yang bahagia adalah orang yang mengerti makna dalam hidupnya, kedua orang yang
menjaga dirinya dalam emosi yang positif, dan yang ketiga adalah orang yang terus
mengasah diri spiritualnya.
Referensi
Aida, N. R. (2020, Maret 19). Update Virus Corona di Dunia: 214.894 Orang Terinfeksi, 83.313
Sembuh, 8.732 Meninggal Dunia. Kompas.com. Diunduh dari
https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/19/081633265/update-virus-corona-di-
dunia-214894-orang-terinfeksi-83313-sembuh-8732
Barak, Y. (2006). The immune system and happiness. Autoimmunity Reviews. 5 (8): 523-527.
https://doi.org/10.1016/j.autrev.2006.02.010
Blanchette, I (2010). "The influence of affect on higher level cognition: A review of research on
interpretation, judgement, decision making and reasoning". Cognition and
Emotion. 24 (4): 561595. doi:10.1080/02699930903132496
Bonanno, G. A., & Keltner, D. (1997). Facial expressions of emotion and the course of conjugal
bereavement. Journal of Abnormal Psychology, 106, 126-137.
Calhoun, L. G., Tedeschi, R. G., Cann, A., & Hanks, E. A. (2010). Positive outcomes following
bereavement: Paths to posttraumatic growth. Psychologica Belgica. (50), 125-143. doi:
http://dx.org/10.5334/pb-50-1-2-125
CNN Indonesia. (2020, Maret 14). Mengenal Social Distancing sebagai Cara Mencegah
Corona. CNN Indonesia. Diunduh dari https://www.cnnindonesia.com/gaya-
hidup/20200314102823-255-483358/mengenal-social-distancing-sebagai-cara-
mencegah-corona
Frankl, V. E. (1984). Man's search for meaning: An introduction to logotherapy. New York: Simon
& Schuster.
Good, Marie. (2011). Exploring The Development and Psychosocial Correlates of Spirituality/
Religiosity Across Adolescence (Doctoral dissertation). Retrieved from
https://dr.library.brocku.ca/bitstream/handle/10464/4074/Brock_Good_Marie_2011.p
df?sequence=1
Hariyadi, D. (2020, Maret 18). Pandemi Corona, Ribuan Orang Ikut Tabligh Akbar se-Asia di
Gowa. Tempo.co. Diunduh dari https://nasional.tempo.co/read/1321285/pandemi-
corona-ribuan-orang-ikut-tabligh-akbar-se-asia-di-gowa
Haselton, M. G.; Nettle, D. & Andrews, P. W. (2005). The evolution of cognitive bias. In D. M.
Buss (Ed.), The Handbook of Evolutionary Psychology: Hoboken, NJ, US: John Wiley &
Sons Inc. pp. 724746.
Iqbal, M.(2003).Dzikrul Maut : Implikasinya terhadap kesehatan mental. Skripsi. Jakarta :
Fakultas Psikologi UIN Jakarta.
Kahneman, D. (2011). Thinking, fast and slow. New York: Farrar, Straus and Giroux.
Koesmawardhani, N. W. (2020, Maret 17). Pemerintah Tetapkan Masa Darurat Bencana
Corona hingga 29 Mei 2020. Detiknews. Diunduh dari https://news.detik.com/berita/d-
4942327/pemerintah-tetapkan-masa-darurat-bencana-corona-hingga-29-mei-2020
Kruger, Justin; Dunning, David (1999). "Unskilled and Unaware of It: How Difficulties in
Recognizing One's Own Incompetence Lead to Inflated Self-Assessments". Journal of
Personality and Social Psychology. 77 (6): 11211134. CiteSeerX 10.1.1.64.2655.
Malik, D. (2020, Maret 14). Anies Tutup Lokasi Wisata di Jakarta, Wisatawan Pindah ke
Puncak Bogor. Vivanews. Diunduh dari
https://www.vivanews.com/berita/nasional/40497-anies-tutup-lokasi-wisata-di-
jakarta-wisatawan-pindah-ke-puncak-bogor?medium=autonext
Marques, S.C., Lopez, S.J. & Mitchell, J. (2013) The Role of Hope, Spirituality and Religious
Practice in Adolescents’ Life Satisfaction: Longitudinal Findings. J Happiness
Stud 14, 251261. https://doi.org/10.1007/s10902-012-9329-3
Mascaro, N., & Rosen, D. H. (2006). The Role of Existential Meaning as a Buffer Against
Stress. Journal of Humanistic Psychology, 46(2), 168190.
https://doi.org/10.1177/0022167805283779
Sebayang, R. (2020, Januari 31). Awas! WHO Akhirnya Tetapkan Corona Darurat Global.
CNBC Indonesia. Diunduh dari
https://www.cnbcindonesia.com/news/20200131060856-4-134146/awas-who-
akhirnya-tetapkan-corona-darurat-global
Sharot, T. (2011). "The optimism bias". Current Biology. 21 (23): 941
945. doi:10.1016/j.cub.2011.10.030
van Leeuwen C.M. Post M.W. Westers P. et al. (2012) Relationships between activities,
participation, personal factors, mental health, and life satisfaction in persons with
spinal cord injury. Arch Phys Med Rehabil. 93 (1): 82-89.
... This situation requires mutual concern between the government, non-governmental organizations, and the general public (Djalante et al., 2020). However, many Indonesians do not comply with the government's appeal to tackle the coronavirus pandemic (Buana, 2020), so it takes an effort from the central and local governments to reduce the distribution of cases that impact many regions and sectors in Indonesia. The importance of utilizing technology and resources is also possible in accelerating the current pandemic response. ...
Article
Full-text available
This paper analyzes government websites and social media accounts during COVID-19. In a crisis, the government must provide real-time information to store and share information using websites and social media. This paper compares government websites and social media during covid-19. This paper uses a qualitative analysis method with Nvivo 12 Plus and Similar-web as analytical tools to assist in capturing data and mining data from government-owned websites and social media accounts. This study explains that the use and availability of websites and social media by local governments is the government's response to ensure access and public information services can run well during a crisis. The performance of government websites is influenced by the intensity of relationships on social networks such as social media. The higher the engagement of government websites with social media, the higher the level of information dissemination in the community. The findings of this study indicate that the performance of government websites greatly influences public trust. The limitation of this research lies in the research method, which only takes data for a certain period. This research still requires further development by using an observation or interview approach.
... Hal ini dapat dipengaruhi oleh derasnya arus informasi, terutama di media digital yang begitu masif. Keterbukaan akses ke media-media informasi diyakini dapat mempengaruhi bias kognitif masyarakat (Buana, 2020). Hal ini sesuai dengan data mengenai sumber informasi tentang COVID-19 di Indonesia yang terlihat pada Grafik 2. ...
Article
Full-text available
Since the first case of COVID-19 was found in Indonesia, the government has started to appeal to the public to always keep their distances (social/physical distancing). For the public, this appeal was new and its implementation requires adaptation. This is what encourages us to find out more about people attitudes in implementing this social/ physical distancing appeal. This research was conducted one month after the first case was found and before the Indonesia large-scale social restrictions/PSBB was implemented. This research used a descriptive quantitative approach with data collection techniques through online surveys distributed through social media. The results showed that in general the attitude of the community in implementing social/physical distancing has a high enough value. There are three aspects of attitude that are assessed, namely cognition, affection, and conation. The majority of respondents realized that social/ physical distancing needed to be done to prevent the spread of COVID-19 and had also applied various appeals regarding this matter. Even though the affection component related to the application of appeals to worship at home has a low value compared to other appeals related to social/ physical distancing which have an average value of above 90 percent. The mass media has provided information to the general public, but there are several aspects that require a more persuasive and personal approach. Therefore, increasing public awareness of social/physical distancing calls through community leaders is important. Abstrak Sejak ditemukan kasus pertama COVID-19 di Indonesia, pemerintah mulai mengimbau agar masyarakat senantiasa menjaga jarak (social/physical distancing). Bagi masyarakat imbauan ini merupakan hal yang baru dan penerapannya memerlukan adaptasi. Hal inilah yang mendorong penulis untuk mengetahui lebih jauh terkait sikap masyarakat dalam penerapan imbauan social/physical distancing. Penelitian ini dilakukan satu bulan sejak kasus pertama ditemukan dan sebelum Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan, menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui survey daring yang disebarkan melalui media sosial. Hasil penelitian menunjukkan secara umum sikap masyarakat dalam penerapan social/physical distancing memiliki nilai yang cukup tinggi, melalui penilaian aspek sikap yaitu kognisi, afeksi, dan konasi. Mayoritas responden menyadari bahwa social/physical distancing perlu dilakukan untuk mencegah penyebaran COVID-19 dan telah menerapkan berbagai imbauan terkait hal tersebut. Meskipun pada komponen afeksi terkait penerapan imbauan untuk beribadah di rumah memiliki nilai yang rendah dibandingkan dengan imbauan lain terkait social/physical distancing yang memiliki nilai rata-rata di atas 90 persen. Media massa telah memberikan informasi kepada masyarakat umum, namun ada beberapa aspek yang membutuhkan pendekatan lebih persuasif dan personal. Sehingga, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap imbauan social/physical distancing melalui tokoh masyarakat menjadi penting .
... Pada saat ini masyarakat Indonesia menjadi resah akibat adanya virus covid yang mematikan. Menurut (Buana 2017) virus corona merupakan virus yang termasuk RNA strain yang tunggal positif yang menginfeksikan saluran pada pernafasan, yaitu mempunyai gejala berupa batuk, demam dan sesak nafas. Virus corona sudah memakan ribuan korban, Banyak warga indonesia yang meninggal akibat virus covid dan ada juga yang sembuh (Budiyanti 2020). ...
Article
Full-text available
Pandemi covid-19 yang melanda pada saat ini berdampak terhadap segala aktivitas masayarakat, dalam hal ini masyarakat diminta untuk banyak beraktivitas di dalam rumah untuk memutuskan rantai penyebaran covid-19. Dengan adanya pembelajaran jarak jauh maka perlu adanya kerjasama antara guru dan orang tua dalam mendampingi siswa kelas IV SDN Pabian IV belajar di rumah. Metode penelitian dalam penelitian ini yaitu menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis peneitian deskriftif. Dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisis dengan cara mereduksi data dan menarik kesimpulan. Adapun hasil penelitian yakni, peran yang dilakukan oleh guru dan orang tua dalam mendampingi anak selama pembelajaran daring kelas IV SDN Pabian IV yaitu, berkomunikasi langsung dengan orang tua sekaligus anak, mendampingi anak dalam mengerjakan tugas, membimbing dan memberi pengarahan terhadap anak. Selain itu terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan pembelajran daring diantaranya kurangnya pemahaman materi pembelajaran oleh orang tua maupun siswa, orang tua kurang paham dalam mengoprasikan Gadged atau HP android dan siswa juga merasakan kebosanan dalam mengikuti pejaran daring.
... Pemerintah Indonesia telah melakukan banyak langkah dan kebijakan untuk mengatasi permasalahan pandemi ini. Salah satu langkah awal yang dilakukan yaitu mensosialisasikan gerakan physical distancing bagi seluruh masyarakat untuk memutus mata rantai penularan pandemi COVID-19 dengan menjaga jarak aman minimal 2 meter, tidak melakukan kontak langsung dengan orang lain serta menghindari pertemuan massal 6 . Kebijakan lainnya yaitu dengan memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Beskala Besar) dalam rangka percepatan penanganan COVID-19 dengan menerapkan pembatasan aktivitas diantaranya aktivitas sekolah dan tempat kerja, kegiatan keagamaan, kegiatan di fasilitas umum, kegiatan sosial dan budaya, serta operasional transportasi umum 7 .Dalam penerapan protokol kesehatan di masyarakat, BPS melakukan survey online pada bulan September 2020 dengan jumlah responden sebanyak 90.967 dengan hasil survey masih banyak masyarakat dan tempat-tempat umum yang belum menyadari dan mematuhi pelaksanaan protokol kesehatan di fasilitas umum 8 . ...
Article
Full-text available
Tenaga Teknis Kefarmasian sebagai salah satu tenaga kesehatan memiliki risiko yang tinggi untuk tertular virus COVID-19 karena sering melakukan kontak langsung dengan masyarakat yang sakit dan keluarga pasien COVID-19 yang berkunjung ke Apotek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepatuhan TTK terhadap protokol kesehatan pencegahan COVID-19 dan hubungannya dengan tingkat pengetahuan, lingkungan-organisasi dan efikasi diri. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggunakan kuesionar tingkat kepatuhan dan kuesioner faktor yang berpangaruh terhadap tingkat kepatuhan sebagai instrumen. Data dikumpulkan dari partisipan yang dipilih secara simple random sampling pada Tenaga Teknis Kefarmasian di Apotek wilayah Kabupaten Sleman. Sebanyak 98 Tenaga Teknis Kefarmasian berpartisipasi dalam penelitian ini. Tingkat kepatuhan dibagi menjadi kategori rendah, sedang dan tinggi. Sebagian besar responden berada pada tingkat kepatuhan sedang (61,2%), diikuti oleh tingkat kepatuhan tinggi (35,7%) dan hanya 3,1% responden dengan tingkat kepatuhan rendah. Analisis data dilakukan dengan metode potong-lintang dan uji statistik dengan aplikasi SPSS dengan membandingkan ketiga faktor terhadap tingkat kepatuhan. Hasil penelitian menunjukkan faktor lingkungan-organisasi dan efikasi diri menunjukkan hasil yang signifikan yaitu p<0,05 dan nilai Pearson Correlation masing-masing 0,393 dan 0,350. Faktor tingkat pengetahuan menunjukkan hasil yang tidak signifikan yaitu p>0,05 dengan nilai Pearson Correlation sebesar 0,152. Terdapat hubungan antara faktor lingkungan-organisasi dan efikasi diri terhadap tingkat kepatuhan Tenaga Teknis Kefarmasian terhadap penerapan protokol kesehatan COVID-19. Faktor tingkat pengetahuan tidak memiliki korelasi terhadap tingkat kepatuhan Tenaga Teknis Kefarmasian pada penerapan protokol kesehatan pencegahan COVID-19.
... To address COVID-19 as an exceptional case, the government has taken steps by socializing the social distancing movement. The current pandemic condition requires educators, in this case, teachers, to innovate in changing face-to-face learning patterns into face-to-face learning patterns [1]. Another learning model that can be used by teaching staff as a medium for delivering knowledge, namely online learning and blended learning (a combination of two learning methods, namely face-toface and online learning) [2]. ...
... This is an extraordinary phenomenon that occurs on earth in the 21st century, the scale of which may be comparable to World War II, because large-scale events are almost entirely postponed or even canceled. This condition has happened only during the world war, there has never been another situation that can cancel these events [3]. In Indonesia, the Government has issued a disaster emergency status starting on February 29, 2020 and on April 13, 2020, the President declared Non-Natural Disasters Spreading Corona Virus Disease 2019 (Covid- 19) as National Disasters. ...
Chapter
Full-text available
The purpose of this study was to answer public concerns about the impact of pornographic content accessed via the internet on high school students. This study describes how children can access, the reasons for accessing it and the consequences of access. The method used is descriptive quantitative by exploring pornographic behavior. The data collection technique was carried out by distributing questionnaires and deepening them by interviewing several students. Data collection involved 718 high school students as respondents from four cities namely Bandung, Pekanbaru, Denpasar, and Yogyakarta. The results showed that students who had been exposed to pornography reached 96.1 percent and most of them looked through cellphones. The result of frequent viewing of pornographic content is feeling anxious, fantasizing frequently, decreased learning achievement, viewing addiction, porn addiction, aggressive or angry, dirty talk, wanting to have sex, and some even having free sex. students can be exposed to pornography from the age of 10, which they mostly see when they are in their own homes. This condition is due to the lack of parental supervision of internet use. They are physically close to parents, but the internet can browse indefinitely and separate communication between children and parents.
Article
Full-text available
em>The background of this research is the occurrence of the COVID-19 pandemic in the world, including in the Landak Regency, West Kalimantan Province. Various efforts had been made by the government, religious institutions, and traditional institutions. Dayak traditional institutions in Landak Regency and all traditional administrators in various Dayak villages in Landak Regency carried out Balala' traditional rituals to prevent transmission. The purpose of this study was to describe the perceptions and reasons for the Dayak indigenous people to carry out the Balala' ritual concerning efforts to prevent the transmission of the COVID-19. This study used a qualitative method, where data was taken by observation, literature study, and interviews. Interviews were conducted by going down the field and also interviews via WhatsApp. The data analysis technique used an interactive model. The results showed that the Balala' ceremony which was held by the Kanayatn Dayak people in the Landak Regency of West Kalimantan, was believed by those who attended it to be able to free them from the attack of this COVID-19 outbreak, because of three things, namely: (1) they had invited Jubata to come on during the Balala' ritual so Jubata would protect them; (2) The traditional Balala' ceremony is in line with the government's call for social distancing; and (3) those who had been Balala' are clean so that the COVID-19 virus cannot enter them. This research needs to be continued especially to see firsthand the effectiveness of the traditional Balala’ ceremony on the transmission of the Covid-19 and the impact of this pandemic on the social, cultural, and economic life of the Dayak indigenous people.</em
Article
Kasus Covid-19 terus meningkat disebabkan oleh kurang pedulinya dan penerapan kebijakan pemerintah terkait Covid-19. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui implementasi protocol kesehatan dan factor yang mempengaruhinya terhadap adaptasi kebiasaan baru pandemic covid-19 di wilayah Kampung Sanitasi Kota Tangerang Selatan. Penelitian ini menggunaka metode deskriptif kuantitatif dengan menggunakan desain studi cross-sectional. Teknik pengambilan sampel berupa total sampling dengan jumlah sampel 78 ibu rumah tangga diwilayah Kampung Sanitasi. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan wawancara. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat dan bivariat.Hasil penelitian menunjukan bahwa 45 responden (57,7%) tidak melakukan penerapan implementasi protokol kesehatan Covid-19. Faktor yang berhubungan dengan implementasi protocol kesehatan Covid-19 adalah, sikap masyarakat, informasi kesehatan, sarana dan prasarana, dan dukungan keluarga. Selain itu variable yang dominan berhubungan dengan implementasi protocol kesehatan Covid-19 adalah sarana dan prasarana dengan nilai OR 5,662 CI (2,118-15,133). Jadi responden yang sarana dan prasarana pencegahan Covid19-Nya tidak tersedia berpeluang 5,662 kali lebih tinggi untuk tidak melaksanakan implementasi protokol kesehatan jika dibandingkan dengan responden yang sarana dan prasarana pencegahan Covid-19 nya tersedia. Oleh karena itu peneliti menyarankan untuk pemerintah setempat dapat membantu masyarakat bukan hanya sarana dan prasarana tetapi juga membangun sikap masyarakat untuk mematuhi protocol kesehatan Covid-19 diwilayah Kampung Sanitasi.Kata Kunci: Covid-19, Implementasi Protokol Kesehatan, Kampung Sanitasi
Chapter
Full-text available
One of the most dramatic demonstrations of the role of the mind in one's apprehension of the world is the existence of cognitive biases. This chapter presents a three-category framework for understanding cognitive biases from an evolutionary perspective. It describes the implications of this evolutionary psychological perspective on biases. The chapter proposes that analogous logic may be applied to understanding cognitive biases. Cognitive biases can arise for three reasons: Selection may discover useful shortcuts that tend to work in most circumstances, though they fall short of some normative standards (heuristics); biases can arise if biased solutions to adaptive problems resulted in lower error costs than unbiased ones (error management biases); and apparent biases can arise if the task at hand is not one for which the mind is designed (artifacts). The chapter discusses two general categories of artifact effects: evolutionarily invalid problem formats and evolutionarily invalid problem content.
Article
This longitudinal study presents the first examination of the relation between hope, spirituality, religious practice and life satisfaction of students in Portugal. A sample of 227 adolescents aged 15–19 completed the Portuguese versions of the Children Hope Scale, Students’ Life Satisfaction Scale and a single item for each spirituality and religious practice variable. The results from the cross-sectional and longitudinal analyses suggest that hope and spirituality, but not religious practice, were strongly linked to adolescents’ life satisfaction. Hope significantly predicted life satisfaction at a single time point, 6-months and 1-year later, and spirituality scores added significant variance beyond hope scores. All the variables demonstrate moderate to high stability across 6-months and 1-year time frame; no significant changes were found between the variables across the administrations. These results parallel recent studies of adult and child life satisfaction and suggest strategies to promote life satisfaction in adolescents.
Article
An ethnically diverse sample of 143 college undergraduates was used to test the hypothesis that a sense of existential meaning buffers against the effect of stress on depression and hope. Spiritual meaning as measured by the Spiritual Meaning Scale and personal meaning as measured by the framework subscale from the Life Regard Index-Revised were significantly negatively correlated with depressive symptoms and positively correlated with hope. Spiritual meaning, but not personal meaning, moderated the relationship between stress and depression such that there was a strong relationship between depression and stress for individuals with low levels of spiritual meaning but no relationship between stress and depression for individuals with high levels of spiritual meaning. It appears that, though both spiritual and personal meaning are inversely related to depression and positively related to hope, only spiritual meaning moderates the relationship between daily stress and depression.
Article
To clarify relationships between activities, participation, mental health, and life satisfaction in persons with spinal cord injury (SCI) and specify how personal factors (self-efficacy, neuroticism, appraisals) interact with these components. We hypothesized that (1) activities are related directly to participation, participation is related directly to mental health and life satisfaction, and mental health and life satisfaction are 2 interrelated outcome variables; and (2) appraisals are mediators between participation and mental health and life satisfaction, and self-efficacy and neuroticism are related directly to mental health and life satisfaction and indirectly through appraisals. Follow-up measurement of a multicenter prospective cohort study 5 years after discharge from inpatient rehabilitation. Eight Dutch rehabilitation centers with specialized SCI units. Persons (N=143) aged 18 to 65 years at the onset of SCI. Not applicable. Mental health was measured by using the Mental Health subscale of the 36-Item Short Form Health Survey and life satisfaction with the sum score of "current life satisfaction" and "current life satisfaction compared with life satisfaction before SCI." Structural equation modeling showed that activities and neuroticism were related to participation and explained 49% of the variance in participation. Self-efficacy, neuroticism, and 2 appraisals were related to mental health and explained 35% of the variance in mental health. Participation, 3 appraisals, and mental health were related to life satisfaction and together explained 50% of the total variance in life satisfaction. Mental health and life satisfaction can be seen as 2 separate but interrelated outcome variables. Self-efficacy and neuroticism are related directly to mental health and indirectly to life satisfaction through the mediating role of appraisals.
Mengenal Social Distancing sebagai Cara Mencegah Corona
  • Cnn Indonesia
CNN Indonesia. (2020, Maret 14). Mengenal Social Distancing sebagai Cara Mencegah Corona. CNN Indonesia. Diunduh dari https://www.cnnindonesia.com/gayahidup/20200314102823-255-483358/mengenal-social-distancing-sebagai-caramencegah-corona
Pandemi Corona, Ribuan Orang Ikut Tabligh Akbar se-Asia di Gowa
  • D Hariyadi
Hariyadi, D. (2020, Maret 18). Pandemi Corona, Ribuan Orang Ikut Tabligh Akbar se-Asia di Gowa. Tempo.co. Diunduh dari https://nasional.tempo.co/read/1321285/pandemicorona-ribuan-orang-ikut-tabligh-akbar-se-asia-di-gowa
Pemerintah Tetapkan Masa Darurat Bencana Corona hingga 29 Mei 2020
  • N W Koesmawardhani
Koesmawardhani, N. W. (2020, Maret 17). Pemerintah Tetapkan Masa Darurat Bencana Corona hingga 29 Mei 2020. Detiknews. Diunduh dari https://news.detik.com/berita/d-4942327/pemerintah-tetapkan-masa-darurat-bencana-corona-hingga-29-mei-2020