ArticlePDF Available

SALURAN DAN MARGIN PEMASARAN DURIAN HASIL AGROFORESTRI DI DESA SIDODADI

Authors:

Abstract and Figures

Durian is a plant that has high production potential planted by farmers in Sidodadi Village with agroforestry patterns. This production potential can provide benefits for farmers if they are able to be marketed efficiently. The purpose of this study was to analyze the channels and margins of durian marketing in Sidodadi Village, Teluk Pandan District, Pesawaran District, Lampung Province. The study was conducted in January 2019 with the object of research by farmers and durian marketing institutions in Sidodadi Village. Analysis was carried out qualitatively to assess marketing channels and quantitatively to calculate marketing margins. The results showed that marketing of durian in Sidodadi Village consisted of 3 marketing channels and led to the oligopsonistic market structure. The uneven value of marketing margins, profits, and farmer shares has caused the marketing system to be inefficient.
Content may be subject to copyright.
Jurnal Belantara Vol. 3, No. 1, Maret 2020 (32-40) E-ISSN 2614-3453
DOI: https://doi.org/10.29303/jbl.v3i1.315 P-ISSN 2614-7238
Terakreditasi (SINTA-4) SK No. 28/E/KPT/2019
32
SALURAN DAN MARGIN PEMASARAN DURIAN HASIL AGROFORESTRI DI
DESA SIDODADI
Channel And Margin Marketing Of Durian Agroforestri Results In Sidodadi Village
Ari Yudha Prasetya*, Rommy Qurniati, Susni Herwanti
Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.
Jl. Sumantri Brojonegoro 1, Bandar Lampung, 35145, Lampung, Indonesia
*Email: ariyudhaprasetya96@gmail.com
Diterima : 29/07/2019, Direvisi : 16/10/2019, Diterbitkan 02/03/2020
ABSTRACT
Durian is a plant that has high production potential planted by farmers in Sidodadi
Village with agroforestry patterns. This production potential can provide benefits for farmers if
they are able to be marketed efficiently. The purpose of this study was to analyze the channels
and margins of durian marketing in Sidodadi Village, Teluk Pandan District, Pesawaran
District, Lampung Province. The study was conducted in January 2019 with the object of
research by farmers and durian marketing institutions in Sidodadi Village. Analysis was carried
out qualitatively to assess marketing channels and quantitatively to calculate marketing
margins. The results showed that marketing of durian in Sidodadi Village consisted of 3
marketing channels and led to the oligopsonistic market structure. The uneven value of
marketing margins, profits, and farmer shares has caused the marketing system to be
inefficient.
Keywords; Marketing costs; Marketing efficiency; Marketing margin; Farmer share.
ABSTRAK
Durian merupakan tanaman yang memiliki potensi produksi yang tinggi yang ditanam
oleh petani di Desa Sidodadi dengan pola agroforestri. Potensi produksi ini dapat memberikan
keuntungan bagi petani jika mampu dipasarkan dengan efisien. Tujuan penelitian ini adalah
menganalisis saluran dan margin pemasaran durian di Desa Sidodadi Kecamaan Teluk
Pandan kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung. Penelitian dilakukan pada bulan Januari
2019 dengan objek penelitian petani dan lembaga pemasaran durian di Desa Sidodadi.
Analisis dilakukan secara kualitatif untuk mengkaji saluran pemasaran dan kuantitatif untuk
menghitung margin pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemasaran durian di
Desa Sidodadi terdiri dari 3 saluran pemasaran dan mengarah pada bentuk pasar oligopsoni.
Nilai margin pemasaran, keuntungan, dan farmer share yang belum merata menyebabkan
sistem pemasaran belum efisien.
Kata kunci; Efisiensi pemasaran; Biaya pemasaran; Margin pemasaran; Farmer share.
Jurnal Belantara Vol. 3, No. 1, Maret 2020 (32-40)
33
PENDAHULUAN
Keberadaan hutan sangat penting bagi makhluk hidup, kebermanfaatannya dapat
dirasakan baik secara langsung atau tidak langsung. Kebermanfaatan hutan perlu dijaga
melalui pembangunan dan pengelolaan yang baik untuk mewujudkan pengelolaan hutan
lestari guna mendukung kehidupan dan kesejahteraan masyarakat (Syofiandi et al., 2016).
Salah satu cara mewujudkan pengelolaan hutan lestari dapat dilakukan dengan sistem
agroforestri. Agroforestri merupakan bentuk penggunaan lahan secara multi tajuk dengan
kombinasi pepohonan tanaman semusim atau ternak dalam satu lahan (Olivi et al., 2015).
Winarni et al., 2016 dalam penelitiannya menyatakan hal yang serupa bahwa agroforestri
merupakan sistem kebun campuran. Agroforestri memberikan kontribusi melalui perkebunan,
pertanian, dan peternakan (Syofiandi et al. 2016).
Salah satu penerapan agroforestri dilakukan oleh masyarakat Desa Sidodadi
Kecamatan Teluk Pandan Kabupaten Pesawaran pada lahan Taman Hutan Raya Wan Abdul
Rachman (Tahura WAR). Kristin et al., 2018 menjelaskan bahwa masyarakat di Desa
Sidodadi sudah lama melakukan kegiatan interaksi dalam pemanfaatan kawasan Tahura
WAR dan ketergantungannya terhadap hutan masih tinggi (Qurniati et al., 2017). Kegiatan
pemanfaatan hutan yang dilakukan masyarakat di Desa Sidodadi berupa penanaman,
pemeliharaan, dan pemanenan (Hanum et al., 2018). Penelitian Wanderi et al. (2018)
menunjukkan bahwasanya terdapat 7 komposisi tanaman agroforestri di Desa Sidodadi yang
didalamnya ditanami tanaman Multi Purpose Tree Species (MPTS). Hasil MPTS yang
ditanam pada lahan agroforestri menjadi sumber pendapatan yang dapat digunakan oleh
masyarakat dalam mendukung kebutuhan ekonominya. Durian merupakan tanaman MPTS
yang paling banyak ditanam masyarakat di lahan Tahura WAR (Wanderi et al. 2018) dan
memberikan kontribusi yang tinggi pada pendapatan petani (Kholifah et al. 2017). Data pada
Unit Pelaksana Teknis Daerah Tahura WAR (2017) menunjukkan bahwa potensi buah durian
di Tahura WAR mencapai 387.139 gandeng/tahun. Potensi yang tinggi dari durian dapat
menjadi sumber ekonomi bagi petaninya jika durian dapat dipasarkan dengan efisien
mengingat salah satu kelemahan durian adalah memiliki sifat yang mudah rusak sehingga
harus segera dipasarkan. Efisien atau tidaknya suatu pemasaran dapat dianalisa dari
bagaimana saluran pemasaran dan margin pemasaran pada masing-masing saluran yang
dilalui oleh durian tersebut. Untuk itu perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk
menganalisis saluran dan margin pemasaran durian di Desa Sidodadi Kecamatan Teluk
Pandan Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung.
METODE
Penelitian ini dilaksanakan bulan Januari 2019 yang berlokasi di Dusun 3 dan Dusun 4
Desa Sidodadi Kecamatan Teluk Pandan Kabupaten Pesawaran yang berbatasan dengan
Tahura WAR. Peta lokasi penelitian Dusun 3 dan 4 Desa Sidodadi disajikan pada Gambar 1.
Saluran dan Margin Pemasaran Durian……(A Y Prasetya, dkk)
34
Gambar 1. Peta lokasi penelitian.
Figure 1. Map of research location.
Sumber: Kristin et al. (2018)
Objek penelitian ini adalah petani dan lembaga pemasaran durian di Desa Sidodadi.
Penentuan jumlah sampel untuk responden petani dilakukan dengan penarikan sampel secara
cluster sampling dalam menentukan jumlah petani durian, sedangkan untuk lembaga
pemasaran duriandi belum diketahui jumlahnya secara pasti, sehingga responden lembaga
pemasaran akan diambil secara snowball sampling. Alat yang digunakan dalam penelitian ini
meliputi kuisioner, alat tulis, kamera, dan laptop.
Data yang diambil dalam penelitian ini terbagi atas data primer dan sekunder. Data
primer adalah data yang diperoleh secara langsung di lapangan dengan melakukan metode
wawancara secara terstruktur dengan menggunakan kuisioner kepada petani dan lembaga
pemasaran durian. Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah (a) data saluran
pemasaran; (b) data margin dan keuntungan pemasaran. Data Sekunder adalah data yang
diperoleh dari adanya studi literatur dalam jurnal dan buku terkait penelitian. Data yang
dibutuhkan dalam penelitian ini adalah (a) data kondisi umum Tahura Wan Abdul Rachman;
(b) data produksi komoditas durian di Provinsi Lampung.
Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif untuk menjawab tujuan
penelitian. Analisis kualitatif dilakukan pada saluran pemasaran meliputi komponen saluran
pemasaran yang dilalui durian, lembaga-lembaga yang terlibat dalam pemasaran durian,
fungsi-fungsi yang dilakukan lembaga pemasaran, sistem penentuan harga, dan jenis-jenis
produk yang dipasarkan. Analisis kuantitatif digunakan pada margin pemasaran beserta
penyebarannya, meliputi biaya dan keuntungan pemasaran serta farmer share. Perhitungan
margin dilakukan dengan konsep pengukuran sebagai berikut.
1. Margin pemasaran merupakan nilai selisih antara harga beli dengan harga jual durian pada
lembaga pemasaran dengan satuan rupiah.
2. Biaya pemasaran merupakan jumlah biaya-biaya yang harus dikeluarkan setiap lembaga
pemasaran dengan satuan rupiah.
3. Margin keuntungan merupakan nilai selisih antara margin keuntungan dengan total dari
biaya pemasaran dengan satuan rupiah.
4. Farmer share merupakan persentase nilai dari perbandingan harga penjualan petani
dengan harga beli pada tingkat konsumen akhir.
Jurnal Belantara Vol. 3, No. 1, Maret 2020 (32-40)
35
HASIL dan PEMBAHASAN
Saluran Pemasaran
Pemasaran durian hasil agroforestri di Desa Sidodadi dalam alur pendistribusiannya
melibatkan petani, pengumpul, dan pengecer untuk sampai pada konsumen akhir. Proses
alur pendistribusian yang bergerak dari petani sampai dengan konsumen akhir disebut dengan
saluran pemasaran (Suminartika dan Djuanalia, 2017). Saluran pemasaran durian yang ada
di Desa Sidodadi disajikan pada Gambar 2.
Gambar 2. Saluran pemasaran durian di Desa Sidodadi
Figure 2. Durian marketing channel in Sidodadi Village
Saluran pemasaran yang ada di Desa Sidodadi terdiri dari 3 saluran pemasaran.
Saluran 1 terdiri dari petani yang langsung menjual durian kepada konsumen akhir dan
digunakan sebanyak 5 orang (33%). Saluran 2 terdiri dari petani yang langsung menjual
durian ke pengecer dan didistribusikan ke konsumen akhir, saluran 2 digunakan sebanyak 3
orang (20%). Saluran 3 terdiri dari petani yang menjual durian ke pengumpul, lalu pengecer
dan terakhir didistribusikan ke konsumen akhir. Saluran ini digunakan sebanyak 7 orang
(47%). Keterlibatan lembaga pemasaran seperti pengumpul dan pengecer di dalam saluran
pemasaran adalah menjalankan fungsi-fungsi pemasaran. Fungsi-fungsi pemasaran yang
dilakukan lembaga pemasaran meliputi fungsi fisik, pertukaran, dan fasilitas (Sabrina et al.,
2013). Fungsi pemasaran yang dilakukan oleh pengumpul dan pengecer di Desa Sidodadi
dapat dilihat pada Tabel 1.
Lembaga pemasaran di Desa Sidodadi yang terdiri dari pengumpul dan pengecer melakukan
fungsi pertukaran, fisik, dan fasilitas. Fungsi pertukaran yang dilakukan oleh pengumpul dan
pengecer ditunjukan dengan adanya pembelian durian dari petani. Pengumpul dan pengecer
membeli durian dari petani dalam menyediakan durian untuk dijual. Hal ini sejalan dengan
Saluran dan Margin Pemasaran Durian……(A Y Prasetya, dkk)
36
Annisa et al. (2018) yang menjelaskan bahwa lembaga pemasaran akan membeli produk dari
petani, lalu akan dijual kembali dipasaran.
Tabel 1. Fungsi Pemasaran
Table 1. Marketing Function
Lembaga
Pemasaran
Fungsi Pemasaran
Pertukaran
Pertukaran
Pertukaran
Jual
Simpan
Angkut
Standarisasi
Resiko
Saluran 1
Tidak ada
x
x
x
x
x
Saluran 2
Pengecer
v
v
v
v
v
Saluran 3
Pengumpul
v
v
v
v
v
Pengecer
v
v
v
v
v
Sumber: Data Primer tahun 2019.
Fungsi fisik yang dilakukan oleh pengumpul dan pengecer ditunjukan dengan
dilakukannya pengangkutan durian. Buah durian biasanya diangkut langsung oleh pengumpul
dan pengecer, namun ada juga yang melibatkan tenaga kerja. Adanya fungsi pengangkutan
oleh lembaga pemasaran secara tidak langsung telah membantu petani. Chaerani (2016)
menjelaskan hal yang sama dengan adanya lembaga pemasaran yang melakukan
pengangkutan dapat memberikan kemudahan bagi petani. Buah durian umumnya diangkut
dengan menggunakan motor atau mobil, tergantung dari banyaknya jumlah durian yang akan
diangkut. Fungsi fasilitas yang dilakukan oleh pengumpul dan pengecer adalah kegiatan
penyortiran dan standarisasi. Pengumpul dan pengecer melakukan penyortiran dan
standarisasi buah durian yang dibeli dikarenakan pembelian durian dengan sistem borongan
dari petani tidak ada proses penyortiran dan standarisasi. Penyortiran dan standarisasi
dilakukan agar diperoleh durian dengan kualitas yang baik, sehingga durian memiliki nilai jual
yang tinggi dan dapat memperkecil resiko rusaknya buah durian yang akan dijual. Resiko
yang ditanggung pengumpul tidak lebih besar dibandingkan pengecer, hal ini disebabkan
buah durian yang berada pada pengumpul biasanya tidak terlalu lama dan akan angsung
didistribusikan langsung ke pengecer.
Jumlah lembaga pemasaran yang ada di Desa Sidodadi lebih sedikit dibandingkan
dengan petani. Kondisi ini menunjukan bahwasanya jumlah pembeli lebih sedikit
dibandingkan dengan penjual, sehingga dapat dikatakan terjadinya pembentukan struktur
pasar yang mengarah pada bentuk oligopsoni. Praktek penjual dan pembelian yang dilakukan
lembaga pemasaran umumnya dilakukan dengan sistem borongan dan eceran. Penelitian
yang dilakukan Wulandari et al. (2018) menunjukan hal yang sama bahwa praktek jual beli
yang dilakukan lembaga pemasaran adalah sistem borongan dan eceran. Durian yang akan
dibeli oleh pengumpul atau pengecer biasanya dilakukan dengan cara tawar menawar.
Durian yang telah dibeli pengumpul atau pengecer biasanya dijual dalam bentuk buah segar,
namun pengumpul atau pengecer di Desa Sidodadi memanfaatkan sisa durian yang rusak
untuk diolah menjadi tempoyak yang dapat dijual atau dikonsumsi sendiri.
Jurnal Belantara Vol. 3, No. 1, Maret 2020 (32-40)
37
Margin dan Keuntungan Pemasaran
Margin pemasaran menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan dalam
mengetahui efisiensi suatu pemasaran. Margin pemasaran terdiri dari biaya dan keuntungan
pada sistem pemasaran Wulandari et al. (2018).
Tabel 2. Biaya Pemasaran
Table 2.Marketing Costs
Saluran
Rincian Biaya Pemasaran Pengumpul
(Rp/Buah)
Rincian Biaya Pemasaran Pengecer
(Rp/Buah)
Tenaga Kerja
Transportasi
Tenaga Kerja
Transportasi
1
-
-
-
-
2
-
-
700
200
3
10
0
0
125
Sumber: Data Primer tahun 2019.
Biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh pengumpul dan pengecer meliputi biaya tenaga
kerja dan transportasi untuk pengangkutan durian dari tempat penyedia durian, semakin besar
biaya yang dikeluarkan akan berdampak pada besar atau kecilnya keuntungan. Selaras
dengan Arbi et al. (2018) bahwa biaya pemasaran terdiri dari biaya transportasi dan tenaga
kerja. Saluran 1 yang digunakan petani tidak mengeluarkan biaya pemasaran dikarenakan
petani posisinya hanya menanggung biaya produksi. Pada saluran 2, keterlibatan pengecer
menunjukan adanya biaya pemasaran dikeluarkan untuk bantuan tenaga kerja dan
transportasi pengangkutan durian. Saluran 3 pada pengumpul hanya mengeluarkan biaya
untuk tenaga kerja dikarenakan biaya tranportasi telah masuk di dalam biaya tenaga kerja,
sedangkan untuk pengecer mengalami hal yang sebaliknya, pengecer yang melakukan
kegiatan pengangkutan tanpa menggunakan tenaga kerja dan pengecer hanya mengeluarkan
biaya untuk transportasi. Biaya pemasaran menjadi komponen yang dibutuhkan dalam
menghitung penyebaran margin pemasaran. Sebaran total biaya, keuntungan, dan total
margin pemasaran dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Sebaran Total Biaya, Keuntungan, dan Total Margin Pemasaran
Table 3. Distribution of Total Costs, Profits, and Total Marketing Margin
Saluran
Harga Jual Petani
(Rp/Buah)
Total Biaya
Pemasaran
(Rp/Buah)
Total Keuntungan
(Rp/Buah)
Total Margin
Pemasaran
(Rp/Buah)
1
17.000
-
-
-
2
10.000
900
23.100
30.000
3
10.600
135
26.265
29.900
Sumber: Data Primer tahun 2019.
Saluran dan Margin Pemasaran Durian……(A Y Prasetya, dkk)
38
Pada saluran 1, petani melakukan pemasaran durian langsung kepada konsumen akhir
tanpa melibatkan lembaga pemasaran, sehingga untuk total margin pemasaran tidak ada.
Saluran 2 menunjukan lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran adalah pengecer.
Harga jual tinggi yang ditawarkan oleh pengecer menyebabkan besarnya total margin
pemasaran di saluran 2. Baladina et al. (2011) menjelaskan bahwa tingginya harga jual
berpengaruh dengan besarnya nilai margin pemasaran durian, sedangkan rendahnya nilai jual
menyebabkan nilai margin pemasaran yang kecil. Saluran 3 melibatkan pengumpul
didalamnya, sehingga menambah jumlah lembaga pemasaran yang terlibat. Harga jual relatif
tinggi yang ditawarkan oleh pengumpul dan pengecer pada saluran 3 menyebabkan besarnya
total margin pemasaran yang diperoleh, namun tidak lebih besar dibandingkan saluran 2.
Total keuntungan tertinggi terjadi pada saluran 2 sebesar Rp 26.265,00/buah,
sedangkan total keuntungan yang lebih rendah terjadi pada saluran 3 sebesar Rp
23.100,00/buah. Besarnya total biaya pemasaran yang ditanggung saluran 2 mengakibatkan
adanya selisih total keuntungan yang diterima menjadi lebih rendah dibandingkan dengan
saluran 3. Besarnya biaya pemasaran yang dikeluarkan setiap lembaga pemasaran
tergantung dari fungsi pemasaran yang dilakukan (Putri et al. (2018). Penyebaran margin
pemasaran tidak terlepas dengan adanya farmer share yang diterima oleh petani. Persentase
farmer share yang diterima petani dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Persentase farmer share
Figure 3. Farmer share persentation
Farmer share yang diterima oleh petani pada saluran 2 dan 3 masih sangat rendah dan
belum merata. Besar kecilnya farmer share petani berdasarkan harga jual durian yang
diterima dibandingkan dengan harga di konsumen akhir. Wulandari et al. (2018) menjelaskan
rendahnya share yang diterima petani dikarenakan posisi petani hanya sebagi penerima
harga. Pernyataan berbeda dinyatakan Arbi et al. (2018), besaran share petani ditentukan
berdasarkan banyaknya pihak yang terlibat dalam pemasaran. Belum meratanya margin
pemasaran, keuntungan, dan farmer share yang diterima petani dan mengarahnya struktur
pasar pada bentuk oligopsoni menunjukan belum efisiennya pemasaran durian di Desa
Sidodadi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Arbi et al. (2018) bahwa efisiensi pemasaran
dilihat dari margin pemasaran dan besaran nilai yang diterima petani dan lembaga
pemasaran.
Jurnal Belantara Vol. 3, No. 1, Maret 2020 (32-40)
39
KESIMPULAN
Saluran pemasaran durian di Desa Sidodadi mengarah pada bentuk pasar oligopsoni.
Nilai margin pemasaran, keuntungan, dan share petani yang belum merata menyebabkan
saluran pemasaran belum efisien.
DAFTAR PUSTAKA
Annisa, I., Asmarantaka, R. W. dan Nurmalina, R. (2018). Efisiensi pemasaran bawang merah
(Kasus: Kabupaten Brebes Provinsi Jawa Tengah). Jurnal Ilmiah Manajemen. 8(2), 254-
271.
Arbi, M., Thirtawati. dan Junaidi, Y. (2018). Analisis saluran dan tingkat efisiensi pemasaran
beras semi organik di Kecamatan Rambutan Kabupaten Banyuasin. Jurnal SEP. 11(1),
22-32.
Baladina, N., Anindita, R. dan Ariani, R.P. (2011). Analisis efisiensi pemasaran durian di Desa
Wonoagung, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang. Jurnal Habitat. 22(1), 1-11.
Chaerani, D, S. (2016). Margin dan efisiensi pemasaran kopra di Desa Simalegi Kecamatan
Siberut Barat Kabupaten Kepulauan Mentawai. Jurnal Bibiet. 1(2), 81-94.
Hanum, I.M., Qurniati, R., dan Herwanti, S. (2018). Peran wanita pedesaan hutan dalam
peningkatan pendapatan rumah tangga. Jurnal Sylva Lestari. 6(3), 36-45.
Kholifah, U.N., Wulandari, C., Santoso, T. dan Kaskoyo, H. (2017). Kontribusi agroforestri
terhadap pendapatan petani di Kelurahan Sumber Agung Kecamatan Kemiling Kota
Bandar Lampung. Jurnal Sylva Lestari, 5(3), 39-47.
Kristin, Y., Qurniati, R. dan Kaskoyo, H. (2018). Interaksi masyarakat hutan terhadap
pemanfatan lahan Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman. Jurnal Sylva Lestari. 6(3), 1-
8.
Olivi, R., Qurniati, R. dan Firdasari. (2013). Kontribusi agroforestri terhadap pendapatan petani
di Desa Sukaharjo 1 Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Pringsewu. Jurnal Sylva Lestari.
3(2), 1-12.
Putri, R.K., Nurmalina. R. dan Burhanudin. (2018). Analisis efisiensi dan faktor yang
mempengaruhi pilihan saluran pemasaran. Jurnal Ilmiah dan Manajemen. 8(1), 109-
135.Sabrina, Winandi, R., Rachmania, D. 2013. Pemasaran durian di Pasar Induk Kramat
Jati. Jurnal Forum Agribisnis, 3(2). 187-200.
Qurniati R., Febryano I.G., and Zulfiani D. 2017. How Trust Influence Social Capital to Support
Collective Action in Agroforestry Development. Biodiversitas. 18(3), 1201-1206.
Suminartika, E. dan Djuanalia, I. (2017). Efisiensi pemasaran beras di Kabupaten Ciamis Dan
Jawa Barat. Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis. 3(1), 13-28.
Saluran dan Margin Pemasaran Durian……(A Y Prasetya, dkk)
40
Syofiandi, R.R., Hilmanto, R. dan Herwanti, S. (2016). Analisis pendapatan dan kesejahteraan
petani agroforestri di Kelurahan Sumber Agung Kecamatan Kemiling Kota Bandar
Lampung. Jurnal Sylva Lestari. 4(2), 17-26.
Unit Pelaksana Teknis Daerah Tahura WAR. (2017). Blok Pengelola Tahura Wan Abdul
Rachman. Bandar Lampung: Informasi Tahura WAR.
Wanderi, Qurniati, R. dan Kaskoyo, H. (2018). Kontribusi tanaman agroforestri terhadap
pendapatan dan kesejahteraan petani. Jurnal Sylva Lestari. 7(1), 118-127.
Winarni, S., Yuwono, S.B. dan Herwanti, S. (2016). Struktur pendapatan, tingkat
kesejahteraan dan faktor produksi agroforestri kopi pada Kesatuan Pengelolaan Hutan
Lindung Batu Tegi. Jurnal Sylva Lestari. 4(1), 1-10.
Wulandari, D., Qurniati, R., dan Herwanti, S. (2018). Efisiensi pemasaran durian (Durio
zibethinus) di Desa Wisata Durian Kelurahan Sumber Agung. Jurnal Sylva Lestari. 6(2),
68-76.
... Share harga di tingkat petani adalah persentase nilai dari perbandingan harga jual di tingkat petani dengan harga beli di tingkat konsumen akhir (Prasetya, Qurniati, & Herwanti, 2020). Share yang diterima petani pada pemasaran produk log lebih tinggi (Tabel 2) dibandingkan pada produk balok, kasau, dan papan (Tabel 3 dan 4). ...
... Share yang rendah ini menurut Arbi, Thirtawati, & Junaidi (2018) dapat disebabkan oleh banyaknya lembaga pemasaran yang terlibat. Kondisi ini terjadi tidak hanya pada pemasaran sengon namun juga komoditi lain seperti durian (Prasetya et al., 2020). Sehingga berdasarkan RPM dan share harga di tingkat petani maka, pemasaran kayu sengon di Pekon Lengkukai dapat dikatakan belum efisien. ...
Article
Full-text available
The people who live adjacent to Tahura Wan Abdul Rachman depend their lives on land management in the block utilization of Tahura with the agroforestry system. This system is implemented with different plant compositions so that the effect on income is different. This study aims to determine the composition of agroforestry plants that provide the highest income and welfare level for farmers. The study was conducted in 2017 in Sidodadi Village, Pesawaran District, which borders Tahura Wan Abdul Rahman. The variables analyzed consisted of revenue and production costs in the management of agroforestry, farmer expenditure and the number of family member. The results obtained from the 7 plant compositions identified, composition II with the main plants of banana and cacao and other types of plants are clove, chili, areca nut, soursop, mango, rambutan, durian, coconut, pecan, duku, jengkol, petai, avocado, nutmeg , breadfruit, sugar palm, bayur and cempaka; provide the highest income with an average income of Rp. 21,640,777/family/year but this income is still in a sufficient category and is only limited to meeting basic needs. It is the composition of plants that are most widely used by the community. Keywords: agroforestry, income, plant composition, welfare
Article
Full-text available
Wan Abdul Rachman Forest Park (Tahura WAR) has experienced the fluctuations in land cover changes in each year. It caused by the interaction of community in utilization of Tahura WAR. The purpose of this study was to determine the level of interaction by the community around Tahura WAR and the influenced factors of it. The product moment correlation analysis was used to see the real relation between the independent variables (the level of interaction) and the dependent variable (land area, income, and the number of family dependents). The result showed that the interaction of the community in the Tahura WAR was moderate. It included the activity of community-related in utilization, preservation and forest protection. The level of interaction was influenced by the land area and the income level of the respondents. Keywords: interaction, Tahura WAR, land area, income.
Article
Full-text available
Regional Forestry Office of Lampung Province has declared Sumber Agung Village as a Durian Tourism Village. In order to encourage the durian tourism village as a center of durian marketing, it is necessary to conduct a research which aim to know the efficiency of durian marketing to support the durian tourism village. The analysis used in this study were including the analysis of marketing channels, market structure, market behavior and marketing margin. The research showed that there were 4 durian marketing channels in Sumber Agung Village and the most efficient channel was from farmer through retailer and to final consumer. According to the market structure, market behavior and uneven margin distribution, the durian marketing has not been efficient and tends to be oligopsony. Keywords: durian, efficiency, marketing, tourism village.
Article
Full-text available
The role of women in managing natural resources is needed to help their husband to increase the economy level of the family. Besides a role to manage the household, women also have a task to get income, and it called double-role in the family. The role of women in work productively holds an effect in fulfilling household needs. This research aims to identify the productive women activities and women role against increasing of the family income in Sidodadi Village Teluk Pandan Sub District Pesawaran District in Lampung Province. The samples taken using cluster and purposive sample methods were 73 samples. Data analysis method used in this research was qualitative and quantitative data analysis. The result showed that the Sidodadi productive women activities to increase the family income were the trader, farmer, agricultural laborer and officer. Trade was a productive activity of women who have the highest income contribution. The contribution of women towards the total income of the family was low (30%), so the role of women in economic activities. Keywords: women role, productive activities, income, household
Article
Full-text available
This study aims to analyze the operational efficiency (marketing margin, farmer’s share, profit ratio) and the price efficiency in Brebes Regency. Quatitative data processing used to analyze marketing margin, farmer’s share, the ratio of benefits to costs by using Microsoft Excel 2016 while market integration alaysis used Eviews 9. Qualitative data processing used to analyze marketing channels and marketing istitutions. The research results showed that there are seven types of marketing channels in the marketing system of shallot in Brebes Regency. Analysis of operational efficiency showed marketing channel that relative efficient were channel 6 (farmerdistrict assembler-regency assembler-outside the province wholesaler). Analysis of price efficiency showed that the shallot markets were integrated in short term.
Article
Full-text available
Sumber Agung community depend their life as a farmer with agroforestry management in Tahura Wan Abdul Rachman. Agroforestry system used has different characterics therefore have impact to farmers income. The purposes of the research is to analyze the amount of contribution farmers income based on condition of agroforestry characteristics cultivation. The research used revenue proportion method and K Means cluster. The variables that become consideration namely total area, total plants, plant spacing, farm distance and agroforestry income. The result showed that the agroforestry contribution reach out Rp 10.660.989/hh/month and if compared with minimum income standart of Bandar Lampung City, its value show that the farmers income are relatively high. Farmers can be divided into six groups with different characteristics. The highest farmers income was fifth group and the lower farmers income was first group, it shows the best management is the fifth group. Key words : Agroforestry, the contribution of income, K Means cluster, Tahura
Article
Forestry development always pay attention and aims to realize sustainable forest management (SFM) because it’s function is very important in supporting life and social welfare. This study aims to (1) identify the structure of agroforestry farmers' household income (2) to analyze the distribution of the income of farmers agroforestry (3) to analyze the level of poverty of farmers agroforestry. The samples in this study using simple random sampling method as much as 41 respondents. The results obtained from this study are: (1) The structure of the income of farmers at the village Sumber Agung agroforestry comes from agroforestry farming income of Rp 11,675,317.07 (68.67%), and the effort is not agroforestry Rp 5,327,804.88 (31.33%). (2) The distribution of the income of farmers at the Sumber Agung village agroforestry tend not evenly among farmers, with a gini ratio value of 0,4. (3) The poverty rate agroforestry farming family at the Sumber Agung village average are in the category of near poor and poor, amounting to 60.97%. Keywords: income, income distribution, level of poverty
Article
Community forestry program is an effort to save the forests while providing benefits to society. Society was given license to manage forests laden not develop plant species monoculture systems but with agroforestry systems. Canopy multi strata agroforestry systems of benefits economical and ecological that matter to farmers, one of which can provide income for farmers. So that the implementation of agroforestry systems community forestry land is expected to be a solution the needs of land as a factor of production as well as to the recovery of the forest is mainly a function of the life support system. The goal of the research determined the structure of income, the factors that influence of income and welfare level of coffee agroforestry as participants community forestry program. To analyze factors affecting farmers' income analyzed by linear regression of multiple and welfare of farmers based price of rice by Sajogyo 1997. From the reckoning, income of farmers amounted of coffee agroforestry to Rp 14.649.631/KK/Year and Rp 6.321.690/KK/year of activity non agroforestry dominated farming and as much as 38,10% of farmers prosperous based on income from the activity coffee agroforestry at community forestry. The results regression analysis variables influential real against earnings agroforestry is the land area and the dependents of family. Key words: income, income factors, welfare level
Article
Kajian dilakukan terhadap 30 petani padi yang telah melakukan budidaya padi semi organik dan dipilih secara acak sederhana dari 95 petani padi semi organik di wilayah Desa Pangkalan Gelebak Kecamatan Rambutan Kabupaten Banyuasin. Selanjutnya dari tigapuluh responden ditelusuri alur pemasaran berasnya dengan menggunakan metode snow ball dan diperoleh sebanyak 2 orang pedagang pengepul dan 1 orang pedagang pengecer. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui saluran pemasaran beras semi organik dari tingkat petani sampai ke konsumen, mengetahui struktur pasar dan perilaku pemasaran beras semi organik yang terjadi, dan menganalisis besar tingkat efisiensi pemasaran dari setiap saluran pemasaran dan tingkat efisiensi pemasaran dari masing-masing lembaga pemasaran pada setiap saluran pemasaran beras semi organik di Desa Pangkalan Gelebak Kecamatan Rambutan Kabuapten Banyuasin. Kajian dirancang dengan metode survey, menggunakan kuisioner sebagai pedoman wawancara terhadap responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saluran pemasaran yang terbentuk dari kegiatan pemasaran beras semi organik di Kecamatan Rambutan Kabupaten Banyuasin terdiri dari 2 (dua) saluran yaitu saluran 1 (petani-pengepul desa-pengepul besar-pengecer-konsumen) dan saluran 2 (petani-pengepul desa-konsumen). Struktur pasar yang terjadi termasuk dalam kategori pasar persaingan monopolistik karena konsumen, harga, produk, dan transaksi tidak dikuasai pihak manapun. Tingkat efisiensi pemasaran beras semi organik pada tiap saluran pemasaran yang terbentuk dikategorikan efisien.