ArticlePDF Available

TAFSIR SOSIAL KONTEKSTUAL IBADAH KURBAN DALAM ISLAM

Authors:

Abstract

Abstrak: Dalam studi Islam, kurban merupakan salah satu ajaran mulia. Kurban secara bahasadimaknai mendekatkan diri. Secara istilah, kurban diartikan segala upaya mendekatkan dirikepada Allah dengan cara menjalankan apa saja yang diperintahkan sekaligus menjauhi yangdilarang. Ibadah kurban termasuk ajaran ideal. Namun begitu, dalam praktiknya masih adapersoalan yang dijumpai kenapa ada orang yang belum mengamalkan ajaran ibadah kurbansecara maksimal dalam kehidupannya. Hal itu disinyalir, diantaranya, karena adanya pemahamanyang cenderung tekstual ketimbang kontekstual sosial sepanjang hayatnya. Oleh karena itu,tulisan ini lebih memfokuskan pada pembahasan apa yang dimaksud ibadah kurban dalam Islam?Bagaimana tafsir sosial ibadah kurban dalam Islam tersebut? Apa saja manfaat menjalankanibadah kurban? Lalu, bagaimana implementasi dan implikasi kurban dalam Islam bagi kehidupansetiap manusia di dunia dan akhirat. Kata Kunci: Kurban, Tafsir Sosial Kontekstual, Islam
TAFSIR SOSIAL KONTEKSTUAL IBADAH KURBAN DALAM
ISLAM
Oleh:
Choirul Mahfud
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS)
Surabaya
Email: choirul_mahfud@yahoo.com
Abstrak: Dalam studi Islam, kurban merupakan salah satu ajaran mulia. Kurban secara bahasa
dimaknai mendekatkan diri. Secara istilah, kurban diartikan segala upaya mendekatkan diri
kepada Allah dengan cara menjalankan apa saja yang diperintahkan sekaligus menjauhi yang
dilarang. Ibadah kurban termasuk ajaran ideal. Namun begitu, dalam praktiknya masih ada
persoalan yang dijumpai kenapa ada orang yang belum mengamalkan ajaran ibadah kurban
secara maksimal dalam kehidupannya. Hal itu disinyalir, diantaranya, karena adanya pemahaman
yang cenderung tekstual ketimbang kontekstual sosial sepanjang hayatnya. Oleh karena itu,
tulisan ini lebih memfokuskan pada pembahasan apa yang dimaksud ibadah kurban dalam Islam?
Bagaimana tafsir sosial ibadah kurban dalam Islam tersebut? Apa saja manfaat menjalankan
ibadah kurban? Lalu, bagaimana implementasi dan implikasi kurban dalam Islam bagi kehidupan
setiap manusia di dunia dan akhirat.
Kata Kunci: Kurban, Tafsir Sosial Kontekstual, Islam
Pendahuluan
Kurban merupakan ajaran yang hampir menyatu dalam segi waktu pelaksanaannya
dengan ibadah haji. Namun berbeda dari segi tempat dan pelakunya. Ibadah kurban biasa
dilakukan pada saat hari raya idul adha. Dengan lain bahasa, bila kita mendengar Idul Adha,
maka langsung terlintas pada benak kita akan tradisi ber-qurban, yang sangat identik dengan
menyembelih hewan qurban.
Dalam konteks ini, Komaruddin Hidayat dalam buku Memahami bahasa Agama”
mengurai benang kusut pemahaman bahasa agama yang perlu dimengerti untuk mencari esensi
dalam praktik kehidupan beragama sehari-hari (Komaruddin Hidayat, 1996: 8-38).
Fuad Amsari dalam buku Islam Kaafah: Tantangan Sosial dan Aplikasinya di
Indonesia”, mengulas pentingnya upaya menjadi muslim yang sempurna dan total dalam
mempraktikkan ajarannya (Fuad Amsari, 1995: 19-89). Dalam hal ini, tentu diantaranya adalah
soal bagaimana mengamalkan ajaran kurban sesuai dengan syariat dan tuntunan agama Islam.
Namun tidak berlebihan, bila kita mau terus menerus kembali berusaha menjawab jujur,
bahwa peringatan hari-hari besar keagamaan atau aktivitas dan praktik ibadah seperti kurban
apakah lebih kita jadikan sebagai kegiatan rutin biasa (ritual) atau memang sebagai ekspresi
iman dan taqwa karena Allah.
Perilaku kita tetap berjalan seperti hari-hari biasanya atau berubah setelah menjalankan
semua ibadah. Kita tidak peduli terhadap sesama, kita tidak takut kepada peringatan-Nya atau
sebaliknya. Lalu tindakan yang merugikan orang banyak tetap saja kita lakukan atau tidak. Pola
hidup yang jor-joran juga semakin surut atau diganti dengan pola hidup suka berbagi.
Realitas kehidupan yang menunjukkan banyak saudara-saudara di sekitar kita yang hidup
dalam kemiskinan, serba kekurangan dan mengalami tekanan hidup yang semakin berat tentu
bagian dari tantangan ibadah yang lebih praktis dan berdampak secara sosial. Dalam konteks
inilah, pembahasan dan penafsiran sosial dalam praktik ibadah kurban penting didiskusikan lebih
lanjut.
Lebih dari itu, di setiap saat perayaan hari raya keagamaan tiba, kita juga selalu
diingatkan mengenai pesan moral yang terkandung di dalamnya. Kita diingatkan untuk selalu
mengagungkan nama-Nya, membagi kasih sayang terhadap sesama, dan kita diingatkan untuk
selalu menjauhi larangan-Nya. Apakah kita kemudian dengan sadar melaksanakan semua itu?
Apakah kita peduli dengan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya?
Pembahasan
Dari dulu hingga sekarang, topik kurban selalu menjadi bahasan penting dan menarik. Di
awal tulisan ini, pembahasan difokuskan pada apa yang dimaksud dengan kurban. Secara
etimologi, qurban yang sering ditulis dalam tulisan ini dengan huruf awal k berarti
mendekat/pendekatan. Sedangkan menurut istilah adalah usaha pendekatan diri seorang hamba
kepada penciptanya dengan jalan menyembelih binatang yang halal dan dilaksanakan sesuai
dengan tuntunan, dalam rangka mencari ridla-Nya. Salah satu ajaran Islam yang penuh dengan
kesakralan (suci) dan juga syarat dengan muatan kemanusiaan adalah ibadah qurban.
Dalam konteks ini, ibadah kurban adalah kesempatan bagi si miskin untuk merasakan
kenikmatan dari si kaya. Mengalirnya darah-darah suci dari hewan qurban akan menghanyutkan
noktah-noktah hitam di hati manusia, memercikkan aroma harum jalinan kasih antara sesama
sembari menyemaikan rona ceria di wajah masing-masing.
Lewat ibadah kurban, akan tumbuh rasa kepedulian sosial terhadap sesama. Terlebih saat
ini bangsa Indonesia sedang berduka, di mana saudara-saudara kita yang tertimpa musibah
bencana alam yang telah merenggut ratusan ribu nyawa, keluarga dan harta. Melalui ibadah
kurban ini, kita ketuk pintu hati kemanusiaan, rasa kepedulian sosial serta merasa senasib
sepenanggungan terhadap apa yang menimpa saudara-saudara kita di negeri tersebut.
Dari sinilah, M. Quraish Shihab menyatakan ibadah kurban merupakan ibadah yang
sempurna sepanjang hayat manusia. Pasalnya, ibadah kurban merupakan ajaran tertua sepanjang
sejarah kehidupan manusia yang terus berlangsung hingga saat ini (M. Quraish Shihab, 2008: 38-
40).
Tafsir Sosial Kontekstual Ibadah Kurban
Memahami ibadah kurban perlu banyak pendekatan, salah satunya adalah pendekatan
sosial kontekstual. Ahmad Izzan dalam buku Ulumul Qur’an: Telaah Tekstualitas dan
Kontekstualitas Al-Qur’an” menjelaskan bahwa memahami dan menafsirkan al-Qur’an bisa
dilakukan dengan cara mengaitkan antara teks al-Qur’an dengan konteksnya untuk
kesempurnaan pemahaman (Ahmad Izzan, 2011: 8-19).
Dengan nada yang berbeda tapi sama maksudnya, Syafrudin dalam buku “Paradigma
Tafsir Tekstual & Kontekstual”, juga mengungkap kelebihan pendekatan kontekstual ketimbang
hanya dengan memakai paradigma tekstual (Syafrudin, 2009: 19-29). Menurutnya, pendekatan
kontekstual bisa menjembatani pemahaman teks yang kadang terputus dan terhenti pada bacaan
dan tulisan. Di sini, pendekatan konteks dianggap bisa mengarahkan pembaca pada tujuan dan
tindakan nyata.
Pradana Boy dalam buku “Fikih Jalan Tengah: Dialektika Hukum Islam dan Masalah-
masalah Masyarakat Modern” menengarai bahwa problem krusial penafsiran al-Qur’an memang
selalu berujung pada ranah fikih sebagai kunci praktis dalam ajaran Islam. Di sinilah, ungkap
Boy, perlunya jalan tengah yang lebih arif, bijak, adil dan fleksibel sebagai respons keunikan
tradisi, budaya dan khazanah Islam yang tersebar di segala penjuru alam dan zaman (Pradana
Boy, 2008: 4-14).
Secara epistemologis, Abdul Mustaqim dan Sahiron Syamsudin (ed.) dalam buku
Epistemologi Tafsir Kontemporer”, memberikan dasar-dasar pengetahuan tentang tafsir
kontemporer yang sesuai dengan konteks tetapi tetap tidak melupakan teks aslinya (Abdul
Mustaqim dan Sahiron Syamsudin (ed.), 2011: 23-48).
Namun dalam konteks ini kita diingatkan oleh Islah Gusmian dalam buku “Khazanah
Tafsir Indonesia, dari Hermeneutika hingga Ideologi”, terkait tafsir menafsir kita perlu
memahami dan menghayati apakah penafsiran yang dimaksud mengarah pada kepentingan
tertentu dan ideologi-ideologi ataukah murni pada penafsiran yang membawa ke arah keadilan
dan kesejahteraan sosial (Islah Gusmian, 2003: 8-29).
Hal itu semua merupakan cakrawala dan wawasan baru yang menarik untuk dijadikan
referensi pemahaman dalam studi tafsir sosial kontekstual dalam suatu masalah dan bahasan
keislaman. Nashruddin Baidan dalam buku “Wawasan Baru Ilmu Tafsir”, mengungkap
pentingnya penafsir dan pembaca untuk memupuk wawasan baru dalam semua bidang keilmuan,
tidak terkecuali dalam ilmu tafsir itu sendiri (Nashruddin Baidan, 2011: 5-18).
Dari sini, memahami ibadah kurban bukan semata-mata ibadah individual. Ibadah kurban
sebagai ibadah yang secara khusus dilaksanakan sekali dalam setahun dalam hitungan bulan
Qamariyah, tepatnya pada hari besar Islam yaitu Idul Adha, merupakan ibadah sosial yang
luarbiasa manfaatnya. Ibadah kurban termasuk hari raya besar dalam agama Islam. Penyebutan
hari besar Islam untuk idul adha ini disebabkan beberapa hal. Pertama, pada hari itu kaum
muslim melakukan shalat sunat Idul Adha. Kedua, adanya perhelatan agung yaitu ibadah haji di
Makkah. Ketiga, dalam momentum ini pula, ada peristiwa penyembelihan hewan kurban.
Pada masa Rasulullah, konon katanya, peringatan hari raya Idul Adha sangat semarak
melebihi semaraknya hari raya Idul Fitri. Namun, hal itu berbeda dengan sekarang, justru
sebaliknya Hari Raya Idul Fitri jauh lebih semarak dibanding Idul Adha. Memang banyak faktor
yang melatari kenapa saat ini berbeda dengan kehidupan di masa rasulullah. Terlepas dari
perdebatan atas persoalan ini, fenomena kurban menjadi penting untuk dicari hikmahnya (M.
Quraish Shihab, 1997: 46).
Dalam momen kurban, hampir setiap muslim yang berkemampuan melaksanakan
penyembelihan hewan kurban, entah secara perorangan ataupun berkelompok. Di sekolah-
sekolah pun diadakan penyembelihan hewan qurban sebagai suatu sarana untuk mendidik siswa.
Secara etimologis, qurban diartikan mendekat/ pendekatan. Dalam pengertian terminologisnya
qurban adalah usaha pendekatan diri seorang hamba kepada penciptanya dengan jalan
menyembelih binatang yang halal dan dilaksanakan dengan tuntunan, dalam rangka mencari
ridla-Nya (QS Al Maidah, 5: 27).
Bila dilacak historisitasnya, ibadah qurban sudah ada sejak Nabi Adam. Menurut M.
Quraish Shihab, dalam tafsir al-Misbah, qurban pertama kali yang terjadi di muka bumi ini
adalah qurban yang diselenggarakan oleh dua putera Nabi Adam (Habil dan Qabil) kepada Allah
(M. Quraish Shihab, 2002: 30). Secara formalistik, ungkap Quraish Shihab, sejarah ibadah
qurban bermula dari Nabi Ibrhaim As. Yakni, tatkala ia bermimpi disuruh Tuhan-nya untuk
menyembelih Nabi Ismail As, seorang putra yang sangat dicintainya (Q.S Ash-Shaffat, 37: 102-
110). Singkat alkisah, dari persitiwa kenabian Ibrahim inilah ibadah qurban muncul dan menjadi
tradisi umat Islam hingga saat ini. Apa makna sosial ibadah qurban?
Sebetulnya, banyak makna yang dapat dipetik dari ibadah qurban ini, baik secara ruhiyah
maupun secara sosial-kemasyarakatan. Secara ruhiyah, ibadah ini bisa menumbuhkan dan
meningkatkan kesadaran ritual dari para pelakunya. Secara sosial-kemasyarakatan, ibadah
qurban akan bermakna apabila kerelaan dan keikhlasan orang-orang yang melaksanakan qurban
berimbas pada perilaku keseharian dan perhatiannya pada sesama, utamanya kaum miskin dan
mustadzafiin.
Secara esensial, tentu saja, tujuan ibadah qurban bagi umat Islam adalah semata-mata
mencari ridla Allah SWT. Ibadah qurban ini dimaksudkan untuk memperkuat dan mempertebal
ketaqwaan kepada Allah. Allah akan menilai ibadah ini sebagai wujud ketaqwaan hamba
kepada-Nya. Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya: "Daging-daging unta dan darahnya
itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat
mencapainya." (QS Al Hajj, 22: 37). Hal ini pulalah yang menjadi sebab tertolaknya qurban
salah seorang dari kedua putera Nabi Adam A.S dan diterima-Nya qurban yang lain. Bukanlah
suatu nilai yang tinggi dan banyak di mata Allah, qurban yang banyak tetapi tanpa keikhlasan
dan ketakwaan orang yang berqurban hal itu sama saja tak ternilai di mata Allah SWT.
Kebanyakan kita menilai ibadah qurban, mungkin cenderung melihat sesuatu dari lahirnya yang
tampak, padahal Tuhan melihat sebaliknya yaitu keikhlasan.
Mungkin tatkala kita melihat seseorang berqurban hanya dengan seekor kambing, kita
menganggapnya remeh. Kita lebih memandang besar dan hormat kepada orang yang berqurban
dengan seekor sapi yang gemuk. Padahal belum tentu penilaian kita benar. Sebenar-benar penilai
hanyalah Allah. Mungkin saja di mata Allah lebih tinggi nilai seekor kambing tadi karena taqwa
di hati orang yang berqurban. Jadi tak ada yang menghalangi seseorang untuk berqurban sedikit
jika disertai hati yang suci, taqwa dan ikhlas. Dan tidak ada kepastian diterimanya qurban yang
banyak dari seseorang tanpa ketaqwaan dan keikhlasan. Namun di sini bukan berarti tidak
diperbolehkan berqurban dengan jumlah banyak, saya kira, berqurban banyak pun boleh asal
disertai dengan taqwa dan ikhlas. Taqwa dan ikhlas menjadi inti amal, mengapa? Sebab, banyak
sebagian dari kita tatkala beramal hanya untuk mencari muka, dan pujian semata.
Selain makna sosial di atas, Ibadah qurban juga bisa menjadi sarana untuk membentuk
kepribadian yang penuh toleransi, media menebar kasih sayang, serasi dan jauh dari keegoisan.
Hubungan yang baik akan terjalin antara yang kaya dan miskin. Setidaknya selama beberapa hari
tersebut orang-orang yang miskin akan merasakan kesenangan. Kalau saja hal itu bisa
berlangsung terus–setidaknya untuk kebutuhan pokok-tentu tingkat kemiskinan di masyarakat
kita akan menurun. Di dalam masyarakat akan tercipta ketenangan dan ketentraman. Sebab, tidak
ada lagi perbedaan status/ keadaan hidup yang mencolok. Pengorbanan yang tumbuh dalam
pelaksanaan ibadah qurban itu akan mengikis sikap egois dan kikir. Berkurangnya–atau bahkan
hilangnya-sikap egois dan kikir itu akan berpengaruh baik bagi kehidupan dan penghidupan
orang itu sendiri dan masyarakat luas.
Selanjutnya, berqurban merupakan ibadah wajib menurut sebagian ulama dan sunnat
muakkad menurut ulama yang lain, dengan berqurban pula kita mendidik diri kita dan keluarga
untuk meresapi makna pengorbanan sebagaimana Nabiyullah Ibrahim As memberikan contoh
pengorbanan secara hakiki, dan penyembelihan hewan qurban adalah salah satu ritual dari makna
pengorbanan itu untuk menggapai ketaqwaan kepada Allah SWT. Sehingga banyaknya hewan
qurban yang disembelih menunjukkan respon masyarakat terhadap seruan ibadah qurban makin
meningkat. Daging Qurban, bukan semata pesta sate dan gulai? Tetapi, Ibadah qurban yang kita
tunaikan sudah saatnya berfungsi bukan saja menggugurkan kewajiban tapi lebih dari itu mampu
memberikan manfaat dan menjadi solusi sebagai jawaban atas kondisi riil yang terjadi di
masyarakat. Banyak dari kebiasaan kita dalam berqurban hanyalah identik dengan pesta sate dan
gulai dalam 2 sampai 3 hari setelah Idul Adha, sementara dalam waktu 12 bulan ke depan
kembali masyarakat (terutama di daerah-daerah miskin) memakan daging hanyalah menjadi
khayalan, belum lagi kondisi alam Indonesia yang rentan terhadap bencana alam, yang selalu
saja menjadi pemandangan umum ketika bencana alam tiba.
Padahal, dibalik kesadaran kaum muslimin untuk berqurban serta melimpahnya hewan
yang diqurbankan pada hari raya Idul Adha dan hari Tasyrik, tersimpan potensi yang sangat
besar bahwa daging qurban digunakan sebagai sarana untuk membina masyarakat miskin, serta
daerah-daerah bencana alam. Sebagian yang lain dicadangkan untuk mengantisipasi daerah-
daerah yang rawan bencana alam.
Pelaksanaan qurban yang dilakukan oleh umat terdahulu memang sangat berbeda dengan
syari'at qurban dalam Islam. Dalam Islam, risalah qurban merupakan ibadah yang syarat dengan
makna. Kisah pengurbanan Nabi Ibrahim As. yang hendak mengurbankan anaknya, Ismail As
yang kemudian diganti oleh Allah dengan domba, mengandung pesan bahwa pelaksanaan qurban
selayaknya tidak membawa derita bagi manusia. Patut direnungkan bahwa, pelaksanaan ibadah
qurban dalam Islam tidak hanya mengandung dimensi ibadah kepada Allah, tapi juga dimensi
kemanusiaan. Dimensi kemanusiaan ini nampak pada distribusi daging hewan qurban kepada
yang berhak (Q.S.al-Hajj, 22: 36). Karenanya, para ulama ada yang membagi daging qurban
menjadi tiga, yaitu: dimakan, diberikan kepada fakir miskin, dan disimpan. Sebagaimana sabda
Rasulullah SAW "Makanlah, simpanlah, dan bersedekahlah." Walaupun demikian, dimensi-
dimensi tersebut tidak akan bermakna apa-apa bila tanpa dilandasi dengan refleksi taqwa kepada
Allah SWT. Dengan kata lain, aplikasi solidaritas sosial yang diwujudkan melalui qurban harus
dilandasi niat yang ikhlas. Bukan niat untuk mencari popularitas, ingin dikenal orang dermawan
atau ingin dipikir orang hebat.
Lebih dari itu, pembagian daging qurban kepada mereka yang barhak merupakan upaya
pendekatan psikologis atas kesenjangan sosial antara si miskin dan si kaya. Ibadah qurban adalah
wahana hubungan kemanusiaan yang dilandasi oleh semangat sense of belonging dan sense of
responsibility yang bisa menyuburkan kasih sayang antar sesama dalam rangka untuk
mendekatkan diri kepada Allah., s.w.t, (taqarrub ilallah). Dengan adanya ibadah qurban,
dimaksudkan pula untuk menjembatani hubungan antara si kaya dan si miskin agar tetap
harmonis. Si kaya tidak menyombongkan dirinya dan si miskin pun merasa bahwa ia tidak
sendiri memikul hidup yang berat ini. Ternyata, masih banyak saudaranya (para aghniya') yang
senantiasa ikhlas memberikan bantuan kepada mereka yang lemah (para dhu'afa).
Wujud kepedulian sesama lewat ibadah qurban ini merupakan satu rangkaian pengabdian
kepada Allah yang memiliki dimensi ibadah murni dan juga dimensi kemanusiaan. Dengan kata
lain, hablun minannas merupakan salah satu faktor terjalinnya hablun minallah secara baik.
Sesuai dengan asal katanya "Qaruba" yang berarti dekat. Dengan demikian ibadah qurban adalah
mendekatkan diri kepada Allah sekaligus ungkapan syukur kepada-Nya atas nikmat yang
diberikan kepada kita. Inilah yang dimaksudkan oleh Allah., s.w.t, dalam Q.S.al-Hajj, 22: 36.
Lewat ibadah qurban, akan tumbuh rasa kepedulian sosial terhadap sesama. Melalui
ibadah qurban ini kita ketuk pintu hati kemanusiaan, rasa kepedulian sosial serta merasa senasib
sepenanggungan terhadap apa yang menimpa saudara-saudara kita tersebut.
Manfaat Ibadah Kurban
Mau merasakan manfaat ibadah kurban? Jawabannya adalah cobalah, maka akan tahu
manfaatnya langsung. Kalimat pernyataan dari pertanyaan tersebut bukan pertama kali saya
tujukan untuk orang lain, tetapi saya tujukan terlebih dahulu untuk saya pribadi. Bagi saya,
mengajak diri sendiri itu bagian awal yang penting. Hal ini juga bagian dari bentuk pelaksanaan
ajaran hadits nabi Muhammad, yaitu: Ibda’ bi Nafsi artinya mulailah dari diri sendiri.
Awalnya, memulai belajar berkurban memang cukup berat. Perasaan cinta harta hasil
kerja keras membuat setiap manusia kadangkala berpikir ulang untuk mau melakukan
pengurbanan. Hal ini wajar dan inilah ujian awal yang biasa dirasakan dan dialami oleh setiap
manusia. Apalagi bagi sebagian dari kita yang berpenghasilan pas-pasan. Tentu kebanyakan
orang semakin berpikir lebih dari biasanya. Oleh karena itu, niat awal untuk segera ikut serta
dalam ibadah kurban menjadi penting. Niat baik adalah awal yang baik.
Perasaan senang untuk melakukan setiap ibadah, termasuk kurban, adalah bagian dari
kebutuhan manusia dari hati nurani yang patut diperhatikan. Bila awalnya senang, akhirnya juga
senang. Ada istilah dalam bahasa Arab “Man Jadda Wajada” atau dalam Bahasa Inggris “There
is Will, There is Way”. Maksudnya barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti ada jalan. Di
sinilah, perasaan senang itu bisa diciptakan dan diupayakan bila kita mau.
Secara psikologi, Monty Satiadarma menyatakan bahwa perasaan senang dan suasana
kebahagiaan seseorang ditentukan oleh kemampuan menerima keadaan, melihat situasi dari
sudut pandang positif, menghayati makna pengalaman hidup, merelakan pengalamannya sebagai
perubahan dalam hidup, dan bisa melepaskan diri dari belenggu pengalaman emosional.
Dalam hal ini, dapat dipahami bahwa upaya untuk membuat senang dalam melakukan
setiap kebaikan dan ibadah ternyata ada banyak cara dan bisa melalui banyak media. Salah satu
caranya adalah mencari tahu apa manfaat bagi kita dalam melakukan ibadah dan kebaikan
tersebut. Mengkaji dan membahas manfaat ibadah kurban bisa membuat kita semakin tahu. Bila
kita sudah tahu manfaatnya, biasanya kita mau melakukan segala bentuk pengurbanan dan amal
kebaikan lainnya. Bahkan, kita seringkali semakin lebih bersemangat untuk berbuat kebaikan
tersebut. Pertanyaannya, apa saja manfaat kurban bagi hidup kita di dunia dan akhirat nanti?
Sebelum menjawab pertanyaan di atas, di sini perlu dipahami bahwa kurban yang
dimaksud di sini utamanya adalah ibadah kurban hewan pada hari raya Idhul Adha yang
dilakukan oleh setiap orang muslim. Namun begitu, kurban di sini juga boleh dimaknai pada
aktivitas-aktivitas lainnya yang memiliki unsur pengurbanan dan perbuatan kebaikan.
Bila kita mau dan ingin mengetahui sungguh-sungguh apa saja manfaat dari kurban yaitu
Allah telah menjanjikan beberapa keutamaan bagi umat muslim yang menunaikan ibadah
kurban, diantaranya: Pertama, dihapuskan dosa dan salahnya. Rasulullah., s.a.w, bersabda
kepada anaknya, Fatimah, ketika beliau ingin menyembelih hewan qurban. ”Fatimah, berdirilah
dan saksikan hewan sembelihanmu itu. Sesungguhnya kamu diampuni pada saat awal tetesan
darah itu dari dosa-dosa yang kamu lakukan. Dan bacalah: Sesungguhnya shalatku,
sembelihanku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah., s.w.t, Tuhan Alam Semesta.” (HR. Abu
Daud dan At-Tirmizi).
Kedua, hewan kurbannya akan menjadi saksi amal ibadah di hari kiamat nanti. Dari
Aisyah, Rasulullah., s.a.w, bersabda: “Tidak ada amalan anak cucu Adam pada hari raya qurban
yang lebih dicintai Allah melebihi dari mengucurkan darah (menyembelih hewan qurban),
sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan tersebut akan datang lengkap dengan tanduk-
tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu-bulunya. Sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah
(sebagai qurban) di manapun hewan itu disembelih sebelum darahnya sampai ke tanah, maka
ikhlaskanlah menyembelihnya.” (HR. Ibn Majah dan Tirmidzi). Ketiga, orang yang berkurban
dicintai Allah. Bersumber dari hadist pada poin tersebut di atas, berkurban termasuk amalan
yang dicintai Allah. Itu berarti bahwa setiap hamba yang melaksanakannya akan memperoleh
kecintaan dari-Nya.
Keempat, orang berkurban dikuatkan keimanannya. Dengan berkurban, setiap mukmin
dapat mengingat kembali bagaimana kecintaan Nabi Ibrahim dan kesabaran Nabi Ismail dalam
memenuhi perintah Allah. Kisah ini dijadikan sebagai teladan bagi mereka untuk memperkuat
imannya kepada Allah.
Kelima, orang berkurban dibalas dengan kebaikan dan pahala yang berlimpah. Dari Zaid
ibn Arqam, mereka berkata: “Wahai Rasulullah., s.a.w, apakah kurban itu?” Rasulullah
menjawab: “Qurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.” Mereka menjawab: “Apa
keutamaan yang kami akan peroleh dengan kurban itu?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai
rambutnya adalah satu kebaikan.”Mereka menjawab: “Kalau bulu-bulunya?” Rasulullah
menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan” (HR. Ahmad dan ibn Majah).
Sungguh luar biasa manfaatnya, bukan? Oleh karena itu, mari kita semakin bersemangat
untuk memulai senang dan ikhlas berkurban karena Allah. Secara ritual, ibadah kurban biasanya
kita lakukan sekali dalam setahun saat hari raya Idul Adha. Rasanya memang baru kemarin bila
kita berkumpul merayakan Idhul Fitri sebagai hari kemenangan melawan hawa nafsu. Saat Idul
Adha tiba, kita berkumpul kembali dalam rangka merayakan Idul Adha yang memiliki hikmah
dan makna yang amat penting untuk ditangkap dalam perspektif ajaran agama Islam yang
substansial. Idul Adha merupakan ritual keagamaan yang syarat makna dan nuansa simbolik-
metaforis yang perlu ditafsiri secara kontekstual dalam pijakan nilai-nilai universalitas Islam.
Adakah pesan dan pelajaran penting yang dapat dipetik dalam perayaan ibadah kurban?
Di setiap merayakan Idhul Adha, kita sesungguhnya diajak berpikir sejenak tapi mendalam
maknanya. Utamanya dalam upaya untuk mengenang keteladanan Nabiullah Ibrahim a.s. dan Siti
Hajar a.s. ketika ingin mendapatkan hingga melahirkan, mendidik dan mengasuh anak sholih.
Putra Nabi Ibrahim yang pada bernama Ismail tersebut pada akhirnya juga menjadi salah satu
nabi Allah., s.w.t. Keberhasilan beliau berdua dalam mendidik putranya adalah sebuah pola asuh
demokratis dan islami, bukan pola asuh penelantar, permisif maupun otoriter. Pola asuh
demokratis ala Nabi Ibrahim As. itulah seperti cermin yang bisa kita jadikan ukuran, contoh dan
teladan dalam kehidupan kita.
Istilah empat tipe pola asuh sebagaimana tersebut di atas, awalnya dikembangkan
pertama kali oleh Diana Baumrind. Dari hasil risetnya, pola asuh anak yang dimaksud adalah:
pola asuh demokratis, otoriter, permisif dan penelantar (Diana Baumrind, 1967: 23-89).
Secara lebih rinci, Diana Baumrind mengurai satu per satu apa yang dimaksud dari semua
pola asuh tersebut. Pertama, pola asuh demokratis dimaknai sebagai pola asuh yang dialogis.
Caranya ada interaksi dua arah yang seimbang. Anak adalah pusat perhatian dan prioritas.
Namun bukan berarti orang tua tidak punya kendali. Di sini, orang tua dan anak saling
berhubungan dan saling berusaha mengerti satu sama lain. Diungkapkan, orang tua dengan pola
asuh ini perlu berperan dan bersikap lebih rasional. Maksudnya, bagaimana orang tua selalu
mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran yang terbaik. Dalam hal ini, orang
tua juga perlu memberikan kebebasan kepada anak untuk memilah-memilih, melakukan suatu
tindakan atau bahkan ikut memberi solusi yang terbaik.
Kedua, pola asuh otoriter diartikan sebagai lawan dari tipe demokratis. Biasanya, orang
tua menjadi satu-satunya pengendali yang harus diikuti tanpa kompromi dan dialog. Bahkan,
terkadang disertai dengan ancaman-ancaman. Orang tua tipe ini juga cenderung memaksa,
memerintah, menghukum. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang
tua, maka orang tua tipe ini tidak segan menghukum anak. Orang tua tipe ini biasanya tidak
memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti mengenai situasi dan kondisi anaknya.
Ketiga, pola asuh permisif diartikan sebagai pola asuh pemanja. Peran orang tua biasanya
memberikan pengawasan yang sangat longgar. Memberikan kesempatan pada anaknya untuk
melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup. Mereka cenderung tidak menegur atau
memperingatkan anak apabila anak sedang salah atau melakukan perbuatan seenaknya.
Keempat, tipe penelantar. Orang tua tipe ini biasanya cuek alias kurang memberi
perhatian pada anak. Seringkali orang tua kurang memberikan waktu dan perhatian yang cukup
untuk anak-anaknya. Waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka sendiri,
seperti bekerja, dan juga kadangkala biayapun dihemat-hemat dan kadang hanya digunakan
untuk kepentingan orang tuanya sendiri. Naudzubillah!
Dalam konteks inilah, ibadah penyembelihan hewan qurban yang menjadi bagian dari
syari’at Islam, yang selalu dilaksanakan setelah shalat ied setiap tahun adalah bentuk penjelmaan
dari keshalihan, ketaqwaan dan keikhlasan nabi Ismail kepada Tuhannya. Lebih dari itu, proses
sejarahnya sejalan dengan pola asuh demokratis bernuansa Islami sebagaimana ditunjukkan Nabi
Ibrahim sebagai orang tua ketika ia bermimpi disuruh oleh Allah., s.w.t, untuk menyembelih
putera kesayangannya, Nabi Ismail as. Nabi Ibrahim tidak lantas menyembelih puteranya begitu
saja, tetapi ia justru mengajak dialog dan memberi tawaran sekaligus meminta masukan dan
bahkan persetujuan anaknya.
Apa dan bagaimana respon anaknya nabi Ibrahim? Ternyata nabi Ismail a.s. sebagai anak
Nabi Ibrahim menyambut baik dengan penuh ikhlash menerima tawaran ayahandanya untuk
disembelih sebagai pembuktian cintanya kepada Allah., s.wt. Nabi Ismail telah mampu
mengalahkan keinginan nafsu dan tuntutan dunianya, karena sadar bahwa cinta dan ridhanya
kepada Allah melebihi segalanya. Inilah cerita di balik peristiwa keshalehan, ketaqwaan dan
keta’atan Ismail diabadikan Allah., s.w.t, dalam al-Qur’an dan sejarah hidupnya menjadi napak
tilas pelaksanaan ibadah haji sampai hari ini dan akhir hayat nanti. Subhanallah!
Secara terang-terangn, kisah pola asuh demokratis tersebut diungkap dalam al-Qur’an
surat As-Saffat, 37: 102: “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha
bersamanya (Ibrahim) berkata, Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku
menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” dia (Ismail) menjawab, wahai
ayahku” lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. Insya Allah engkau akan
mendapatiku termasuk orang yang sabar.”
Dari sini, tidak ada kelirunya bila kita semua dan segenap umat Islam yang menyembelih
hewan qurban pada hari raya qurban, mari berusaha berqurban dengan senang dan ikhlas lillahi
ta’ala. Artinya berkurban dengan landasan cinta dan taqwa hanya semat-mata karena Allah.,
s.w.t. Dalam hal ini, tentu kita berusaha menghindarkan diri dari riya’ dan motivasi yang bisa
merusak pahala qurban yang dilakukan. Pasalnya, kita semua diingatkan Allah., s.w.t, agar
senantiasa berkurban dengan penuh ikhlas tanpa batas seperti diurai dalam Q.S. Al-Hajj. 22: 37,
yang berbunyi: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai
(keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah
telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya
kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Tidak hanya itu, selain keteladanan keluarga Nabi Ibrahim., a.s, dan sang putera Nabi
Ismail dalam hal ketaatannya dan keikhlasannya yang luar biasa dalam menjalankan perintah
Allah., s.w.t, dengan menepis berbagai bentuk godaan syaithan, hikmah lain yang bisa dipetik
dan diambil pelajaran untuk kita ikuti dalam merayakan setiap hari raya Idul Adha adalah
perlunya memupuk semangat untuk memiliki dan membagi.
Pesan implisit ini terbaca dari dari dua ibadah yang dilaksanakan umat Islam mengiringi
perayaan Idhul Adha, yakni menyembelih kurban dan melaksanakan haji bagi muslim yang
mampu. Setiap muslim yang ingin menyempurnakan kemuslimannya akan berusaha keras untuk
melaksanakan kedua ibadah tersebut. Mengingat salah satu kemampuan yang dibutuhkan adalah
dari segi finansial, maka dengan sendirinya keinginan kuat itu harus diwujudkan dengan ikhtiar
mengumpulkan sejumlah dana yang diperlukan.
Dari sisi inilah hikmah mesti dipetik umat Islam setiap kali merayakan `Idhul Adha,
bahwa sesungguhnya ajaran Islam mendorong umatnya untuk bisa memiliki atau mampu secara
finansial agar keislamannya bisa disempurnakan.
Tak hanya berhenti pada semangat memiliki, melainkan juga mesti diikuti semangat
untuk mau membagi apa yang dimilikinya. Tanpa semangat itu, seorang muslim belum tentu bisa
melaksanakan kurban atau haji. Hal ini terbukti bahwa banyak orang yang sudah mampu, tapi
enggan berkurban atau melaksanakan haji. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya kemauan
dan semangat untuk membagi. Kurban tidak semata-mata menyembelih kambing atau sapi, tapi
juga membagikan dagingnya kepada mereka yang berhak. Demikian juga haji, tanpa semangat
membagi tentu akan sayang untuk mengeluarkan biaya perjalanan haji yang jumlahnya tidak
sedikit.
Semangat memiliki tidak boleh melahirkan tindakan menghalalkan segala cara yang
bisa menimbulkan kekacauan kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu ajaran Islam
memberikan rambu-rambu yang mesti ditaati setiap muslim dalam berusaha untuk memiliki,
yaitu dengan cara yang halal, baik dan wajar.
Dalam Al Qur'an secara tegas dilarang mencari rizki dengan cara yang tidak halal atau
bathil (QS. An-Nisa', 4: 29). Misalnya diperoleh dari hasil berjudi (QS. al-Baqarah, 2: 219) atau
mencuri (QS. Al-Maidah, 5: 38), korupsi dan cara-cara buruk lainnya. Demikian juga ada hadits
yang menyatakan bahwa antara sesama muslim haram darah, harta dan kehormatannya. Jika
mencari rizki dengan berdagang hendaknya secara wajar, tidak curang dalam menakar/
menimbang (QS. Al-Muthaffifin, 83: 1-3), dan mengambil keuntungan secara riba sebagaimana
diterangkan Allah SWT dalam QS. Ali `Imran, 3: 130: “Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah
supaya kamu mendapat keberuntungan”.
Selain semangat memiliki, Islam juga menyuruh kita untuk mempunyai semangat
membagi. Banyak sekali ayat al-Qur'an maupun hadits yang mendorong setiap muslim untuk
mau berbagi (berinfaq, bershodaqoh atau berzakat dan sebagainya).
Sayangnya perintah tersebut lebih sering dilihat dari sudut pandang berbeda. Indikasinya
paling tidak bisa kita temui, misalnya, masih banyak orang kaya yang enggan berinfaq, bahkan
tidak malu menerima infaq, hibah dan sejenisnya yang mestinya tidak berhak mereka terima,
setidaknya ada orang lain yang lebih berhak.
Islam mengajarkan kita untuk membagi sebagian rizki yang kita terima kepada kerabat,
anak yatim dan orang miskin sebagaimana dijelaskan dalam QS. al-Baqarah, 2: 177: “Bukanlah
menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya
kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-
nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang
miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan
(memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang
yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan,
penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan
mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.”
Secara khusus, perintah berkurban diungkap dalam al-Qur'an yang bisa kita temukan di
berbagai surat/ayat, antara lain dalam surat al-Kautsar, 108: 2; surat al-Hajj, 22: 34-35 dan ayat
36; serta surat ash-Shaffat, 37: 102-107. Selain itu, juga dijelaskan oleh Nabi Muhammad dalam
berbagai haditsnya yang bisa ditemukan dalam kitab shahih al-Bukhari, Muslim.
Allah SWT berfirman di dalam surat al-Kautsar, 108: 1-2: ”Sesungguhnya Kami telah
memberikan kepadamu ni’mat yang banyak. Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan ber-
kurban-lah”. Ayat ini menegaskan kepada kita semua bahwa ibadah kurban merupkan ibadah
yang perlu dilakukan selain shalat, utamanya bagi yang mampu.
Dalam hal ini, kurban seringkali dipahami juga sebagai hewan yang disembelih setelah
melaksanakan shalat Idul Adha dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena Dia Yang
Maha Suci dan Maha Tinggi sebagaimana diungkap dalam al-Qur’an surat al-An’am, 6: 162:
“Katakanlah: sesungguhnya shalatku kurbanku hidup dan matiku adalah untuk Allah Rabb
semesta alam tidak ada sekutu bagi-Nya.”
Bagi seorang muslim, inti hikmah di setiap perayaan Idul Adha yang dapat diambil dan
bisa diaplikasikan dalam kehidupan saat ini hingga akhir hayat nanti adalah marilah berusaha
semaksimalnya dalam bertaqwa dengan memupuk semangat memiliki dan membagi dengan
penuh keikhlasan. Semangat untuk berbagi antar sesama dengan ikhlas merupakan kunci dan
esensi berkorban yang akan menumbuhkan ketentraman, kedamaian dan solidaritas sosial
masyarakat dan lainnya.
Akhirnya, semoga kita semua selalu diberi kemudahan, kebahagiaan, kekuatan,
kesuksesan dalam bersyukur, beriman, bertaqwa kepada Allah., s.w.t, sekaligus kita semua
tergolong menjadi orang yang bersemangat untuk berqurban dengan penuh ikhlas lillahi ta’ala,
sepanjang hayat masih di kandung badan.
Penutup
Ajaran dan ibadah haji dan kurban bisa ditafsirkan selain bersifat transendental dalam
hubungan manusia dengan tuhannya, juga bisa ditafsirkan secara sosial dalam kaitan manusia
dalam hubungannya dengan sesama. Banyak ayat yang menjelaskan bagaimana kesalehan
individual perlu adanya upaya untuk diimbangi dengan kesalehan sosial. Ayat-ayat haji dan
kurban menunjukkan kepada kita semua perlunya pemahaman yang lebih praktis dan bermakna
serta memiliki sumbangan yang besar terhadap sukses dan bahagianya seseorang dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Di sinilah, tafsir ibadah kurban dan haji
yang lebih sosial kontekstual juga memiliki dimensi kemanfaatan dan kemaslahatan sosial yang
luas. Kunci-kunci pemahaman dan penafsiran yang lebih sosial humanis diharapkan berdampak
positif bagi pengalaman dan pengamalan ibadah kepada Allah yang benar-benar bermula dari
ketulusan hati dan keikhlasan beramal, sehingga bermanfaat dalam kehidupan manusia di dunia
hingga akhiratnya. Penafsiran ini diyakini mendorong praktik keberislaman dalam rangkaian
ibadah seseorang dalam hubungannya dengan sesama manusia dan alam sekitarnya.
Daftar Pustaka
Amsari, Fuad. 1995. Islam Kaafah Tantangan Sosial dan Aplikasinya di Indonesia, Jakarta:
Gema Isani Press.
Abdurrahman dkk. 2011. Al-Qur’an dan Isu-isu Kontemporer, Yogyakarta: elSAQ Press.
Al-Qattan, Manna Khalil, 2006. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, terj. Mudzakir AS. Jakarta: PT.
Pusataka Litera Antar Nusa.
Baidan, Nashruddin. 2011. Wawasan Baru Ilmu Tafsir, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Boy, Pradana. 2008. Fikih Jalan Tengah: Dialektika Hukum Islam dan Masalah-masalah
Masyarakat Modern. Jakarta: PT Grafindo Media Pratama.
Mustaqim, Abdul. 2003. Madzahibut Tafsir: Peta Metodologi penafsiran al-Qur’an Periode
Klasik Hingga kontemporer. Yogyakarta: Nun Pustaka.
Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al-Qur’an. 2004. Al-Qur’an dan Terjemahnya,
Jakarta: Departemen Agama.
Gusmian, Islah. 2003. Khazanah Tafsir Indonesia, dari Hermeneutika hingga Ideologi, Jakarta:
Teraju.
Hidayat, Komaruddin. 1996. Memahami bahasa Agama: Sebuah kajian Hermeneutik, Jakarta:
Paramadina.
Izzan, Ahmad, 2011. Ulumul Qur’an: Telaah Tekstualitas dan Kontekstualitas AlQur’an,
Bandung: Tafakkur.
Mustaqim, Abdul dan Syamsudin, Sahiron (ed.), 2011. Epistemologi Tafsir Kontemporer,
Yogyakarta: LKiS.
____________________, 2002. Studi Al-Qur’an Kontemporer, Yogyakarta: PT Tiara Wacana.
Naim, Ngainun. 2009. Pengantar Studi Islam, Yogyakarta: Teras.
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al Quran. Jakarta:
Lentera Hati.
___________________, 1997. Wawasan Al Quran: Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan
Umat. Bandung: Mizan.
Syafrudin, 2009. Paradigma Tafsir Tekstual & Kontekstual, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Wijaya, Aksin. 2009. Arah Baru Studi Ulum Al-Qur’an. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
... Menilik dari sejarahnya, kurban sangat lekat dengan dimensi peribadatan, dalam hubungan antara manusia dengan Tuhan (Burga et al., 2019). Selain itu, pembagian daging hewan kurban kepada masyarakat tidak mampu, dinilai memiliki manfaat yang luar biasa (Mahfud, 2014), sehingga kurban juga memiliki dimensi sosial. Hal ini merupakan simbolisme kesadaran kaum muslim, bahwa semua karunia berasal dari Tuhan, sehingga mereka harus membuka hati dan berbagi dengan sesama (Khan & Mohyuddin, 2013). ...
... Aktivitas kurban dalam tradisi muslim, bisa dilihat dari berbagai dimensi. Dari dimensi ritual, ibadah kurban merupakan upaya makhluk mendekatkan diri dengan Tuhan-Nya, dengan cara menyembelih hewan dengan syarat dan ketentuan tersendiri (Mahfud, 2014). Selanjutnya dipaparkan bahwa kurban juga memiliki dimensi sosial, di mana daging dari hewan yang disembelih, didistribusikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya. ...
Article
Full-text available
Highlighting community empowerment programs, this paper aims to develop a concept of a sustainable social business model based on sacrificial ritual activities, based on a case study of the Tebar Hewan Kurban (THK) program of Dompet Dhuafa Republika (DDR). Survey data from interviews with 120 THK partner beef cattle farmers outside Java and observations in the implementation of the THK program along the supply chain in 2020 are presented descriptively and qualitatively, then analyzed to get a better concept formulation. The results of this research are expected to provide solutions to various problems in the implementation of Qurbani to have a positive influence, both in the form of profits and or benefits to all stakeholders (farmers, farmer groups, capital owners, DDR, marketing partners, and beneficiaries of qurbani meat) involved in the program flow. In broader practice, the program flow is worth considering in similar programs at other institutions or in a more extensive scope (country). This paper contributes by filling a gap in the supply chain management literature, where empirical studies on programs to improve the welfare of marginalized communities associated with sacrificial rituals. Empowering farmers by involving stakeholders in the supply chain from upstream to downstream, which benefits all parties involved, is feasible for business sustainability.
... Latar Belakang Udhiyah atau kurban merupakan salah satu ritual keagamaan yang sangat penting dalam tradisi Islam, terutama saat perayaan Hari Raya Idul Adha. Ibadah qurban merupakan ibadah yang bersifat hablumminallah (hubungan dengan Allah) dan hablumminnas (hubungan dengan manusia) (Mahfud, 2014). Praktik ini tidak hanya menjadi bentuk ibadah fisik melalui penyembelihan hewan, tetapi juga melibatkan dimensi spiritual, sosial, dan budaya. ...
Article
Full-text available
The act of sacrifice (udhiyah) is a form of worship in Islam that holds profound spiritual and social values. Sacrifice aims to draw closer to Allah SWT while demonstrating solidarity with others through the distribution of meat to the community, especially those in need. However, the implementation of sacrifice is often not fully understood, particularly regarding its rulings and etiquettes, such as the selection of animals, slaughtering procedures, and meat distribution. This study aims to provide a comprehensive understanding of the rulings of udhiyah and the etiquettes of sacrifice based on Islamic law.The research employs a qualitative approach with a library research method. Data were collected from primary sources such as the Qur'an and hadith, as well as secondary sources including books of Islamic jurisprudence, scholarly journals, and other relevant literature. Data analysis was conducted descriptively to identify and organize systematic insights related to the topic.The results indicate that sacrifice is obligatory for those who can afford it according to some scholars, while the majority consider it a strongly recommended act (sunnah muakkad). The etiquettes of sacrifice include sincere intentions, selecting animals that meet Islamic requirements, proper and humane slaughtering, and proportional meat distribution. Sacrifice also holds spiritual wisdom, such as strengthening faith and gratitude, as well as social benefits by fostering community bonds through sharing.This study concludes that sacrifice is not merely an annual ritual but also a reflection of values such as devotion, sincerity, and solidarity that must be instilled continuously in the lives of Muslims.
... Gambar 1. Diagram Penghasilan konsumen Konsumen yang tergolong kelompok penghasilan terendah adalah segmen penghasilan yang paling banyak berkurban, karena mereka telah mengikuti program tabungan kurban dalam beberapa bulan sebelum hari raya idul adha atau mengikuti arisan kurban (Jumaiyah, 2019;Lestari, K. B., Ihwanudin, N., & Anshori, 2022;Muyassarah, 2019). Kerelaan konsumen pada semua level penghasilan untuk membeli hewan kurban karena dilandasi oleh motivasi beribadah (Mahfud, 2014). ...
Article
Full-text available
Penelitian tentang karakteristik konsumen hewan kurban perlu diteliti dengan tujuan untuk menjamin keberlanjutan bisnis hewan kurban dan dapat memuaskan konsumen. Pembelian hewan pada momen idul adha tinggi sehingga menciptakan peluang bisnis yang besar bagi producen dan pedagang. Waktu pelaksanaan penelitian yaitu pada saat hari raya idul adha dan hari tasyri yaitu 3 hari pasca hari raya idhul adha yang syariatkan untuk berkurban. Hari raya idul adha disesuaikan dengan penetapatan Pemerintah Republik Indonesia yaitu bertepatan dengan 29 Juni 2023 sehingga waktu penelitian yaitu 29 Juni sampai dengan 2 Juli 2023. Metode penelitian menggunakan survey, wawancara dan kuesioner yang diisi oleh 100 orang konsumen hewan kurban yang berdomisili di wilayah metropolitan mamminasata yang merupakan pusat pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua konsumen dengan tingkat penghasilan rendah sampai tinggi dan memiliki beban tanggungan rendah, sedang dan berat bersedia untuk membeli hewan kurban. Mayoritas konsumen memilih untuk berkelompok dalam menjalankan ibadah kurban, pengelompokan tersebut berdasarkan komunitas masing-masing, mayoritas kelompok tersebut dibentuk oleh kerabat dan panitia masjid. Hewan kurban yang paling diminati konsumen adalah sapi yang dibeli langsung dari peternak dan pedagang sapi.
... Sedangkan ditinjau dalam makna social-kemasyarakatan, ibadah kurban digunakan untuk membentuk kepribadian dan sikap toleransi, menumbuhkan rasa kasih dan sayang terhadap sesama sehingga terjalin hubungan yang harmonis antara si miskin dan si kaya. Karena dalam berkurban tidak hanya sekedar menyembelih sapi atau kambing, namun juga bagaimana membagikan dan mendistribusikan daging tersebut kepada orang yang berhak (Mahfud, 2014). ...
Article
Full-text available
Tradisi petik laut merupakan salah satu kebudayaan masyarakat Muncar. Tradisi ini sudah berlangsung sejak dahulu dan merupakan peninggalan nenek moyang. Tujuan dan makna dari petik laut adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam pelaksanaannya, petik laut banyak menyerap beberapa kebudayaan, baik kebudayaan agama Islam, Hindu, Kristen, maupun Budha sehingga memungkinkan adanya pro dan kontra. Oleh karena itu, dalam penelitian ini masalah yang diteliti adalah bagaimana pelaksanaan petik laut yang dilakukan oleh masyarakat Muncar? dan bagaimanakah petik laut dalam perspektif tokoh-tokoh lintas agama? Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus di mana sumber datanya adalah orang-orang yang terlibat langsung dengan petik laut dan juga tokoh-tokoh lintas agama. Data dikumpulkan dengan menggunakan tiga teknik yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun analisis data menggunakan teknik analisis Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini menunjukkan pelaksanaan petik laut dapat dilihat dari tiga tahap yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap penutupan. Petik laut dalam perspektif tokoh-tokoh lintas agama baik dari agama Islam, Hindu, Kristen, dan Budha merupakan hasil kebudaya dari warisan nenek moyang yang dilakukan secara turun-temurun sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil laut yang melimpah. Perbedaan pendapat mengenai petik laut dalam perspektif tokoh-tokoh lintas agama hanya terletak pada bagaimana cara merealisasikan ungkapan syukur tersebut. Ada yang dilakukan dengan istighosah, tahlilan, ada juga yang dilakukan dengan melarungkan sesaji untuk diberikan kepada Tuhan. The tradition of petik laut is one of the cultures of the Muncar people. This tradition has been going on for a long time and is the legacy of our ancestors. The purpose and meaning of ‘’petik laut’’ is an expression of gratitude to God Almighty. The implementation of petik laut absorbs many Islamic, Hindu, Christian and Buddhist religious cultures, allowing for pros and cons. Therefore, two research problems were formulated in this study. Those are: (1) how is the implementation of ‘’petik laut’’ carried out by the Muncar society? and (2) How is the ‘’petik laut’’ according to the interfaith figure’s perspective? The research used the case study method. The data was collected from people directly involved with petik laut and interfaith figures. Data were collected using three techniques, namely observation, interviews, and documentation. The researcher analyzed the data based on Miles and Huberman's analysis techniques. The results of this study show that the implementation of petik laut could be seen from three stages: the preparation stage, the implementation stage, and the closing stage. Petik laut, from the perspective of interfaith figures of Islam, Hinduism, Christianity and Buddhism, is a cultural product of ancestral heritage passed down from generation to generation as a form of gratitude to God for the abundant marine products. Differences in the opinion of ‘’petik laut’’ from the perspective of interfaith figures in how to realize this expression of gratitude. Some were done by istighosah, tahlilan, and some by throwing offerings to the sea to be given to God.
Article
Full-text available
To be successful in the competitive market for sacrificial animals, with its short selling season and numerous sellers, prioritizing customer satisfaction is essential. This study was conducted in Meruyung Village, Limo District, Depok City on June 24-July 3, 2023, using descriptive-quantitative method to discover the service quality, product quality, and price offered by sellers, and how these three factors affect customer satisfaction of sacrificial animals. Convenience sampling was used to determine the respondents, which is by meeting people at the sales stalls who have bought goats or sheep as sacrificial animals at least once in Meruyung Village. This study involved 70 respondents. Data was obtained using a Likert scale questionnaire via Google Form and processed using multiple regression analysis. The results shows that the quality of service and product, as well as the price factor offered by sacrificial animal sellers, together affect customer satisfaction with sacrificial animals in Meruyung Village, Limo District, Depok City by 36.5%, but only the factor of product quality has a partially significant influence. Therefore, sellers must ensure product quality that meets the requirements of sacrificial animals and customer preferences, as this significantly affects satisfaction. Abstrak Dalam menghadapi persaingan pada pemasaran hewan kurban, dengan waktu yang cenderung singkat dan bersamaan, pedagang perlu memenuhi kepuasan pelanggan sebagai salah satu strategi kompetitifnya. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Meruyung, Kota Depok pada tanggal 24 Juni hingga 3 Juli 2023 metode kuantitatif-deskriptif untuk mencari tau kualitas pelayanan, kualitas produk kambing-domba kurban serta harga yang ditawarkan oleh penjual, serta seberapa berpengaruh ketiga faktor tersebut terhadap kepuasan pelanggan. Penentuan sampel dilakukan secara convenience sampling, yaitu dengan menemui orang-orang di lapak penjualan yang telah membeli kambing atau domba sebagai hewan kurban setidaknya sekali di Kelurahan Meruyung. Penelitian ini melibatkan sebanyak 70 responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert pada media Google Form, dan dilakukan analisis menggunakan regresi berganda. Temuan penelitian menerangkan bahwa kualitas pelayanan, kualitas produk, serta faktor harga yang diberikan oleh penjual hewan kurban secara bersamaan mempengaruhi kepuasan pelanggan terhadap hewan kurban di Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok sebesar 36,5%, namun hanya faktor kualitas produk yang memiliki pengaruh yang signifikan sebagian. Oleh karena itu, penjual harus memastikan kualitas produk yang memenuhi persyaratan hewan
Article
To be successful in the competitive market for sacrificial animals, with its short selling season and numerous sellers, prioritizing customer satisfaction is essential. This study was conducted in Meruyung Village, Limo District, Depok City on June 24-July 3, 2023, using descriptive-quantitative method to discover the service quality, product quality, and price offered by sellers, and how these three factors affect customer satisfaction of sacrificial animals. Convenience sampling was used to determine the respondents, which is by meeting people at the sales stalls who have bought goats or sheep as sacrificial animals at least once in Meruyung Village. This study involved 70 respondents. Data was obtained using a Likert scale questionnaire via Google Form and processed using multiple regression analysis. The results shows that the quality of service and product, as well as the price factor offered by sacrificial animal sellers, together affect customer satisfaction with sacrificial animals in Meruyung Village, Limo District, Depok City by 36.5%, but only the factor of product quality has a partially significant influence. Therefore, sellers must ensure product quality that meets the requirements of sacrificial animals and customer preferences, as this significantly affects satisfaction. Abstrak Dalam menghadapi persaingan pada pemasaran hewan kurban, dengan waktu yang cenderung singkat dan bersamaan, pedagang perlu memenuhi kepuasan pelanggan sebagai salah satu strategi kompetitifnya. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Meruyung, Kota Depok pada tanggal 24 Juni hingga 3 Juli 2023 metode kuantitatif-deskriptif untuk mencari tau kualitas pelayanan, kualitas produk kambing-domba kurban serta harga yang ditawarkan oleh penjual, serta seberapa berpengaruh ketiga faktor tersebut terhadap kepuasan pelanggan. Penentuan sampel dilakukan secara convenience sampling, yaitu dengan menemui orang-orang di lapak penjualan yang telah membeli kambing atau domba sebagai hewan kurban setidaknya sekali di Kelurahan Meruyung. Penelitian ini melibatkan sebanyak 70 responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert pada media Google Form, dan dilakukan analisis menggunakan regresi berganda. Temuan penelitian menerangkan bahwa kualitas pelayanan, kualitas produk, serta faktor harga yang diberikan oleh penjual hewan kurban secara bersamaan mempengaruhi kepuasan pelanggan terhadap hewan kurban di Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok sebesar 36,5%, namun hanya faktor kualitas produk yang memiliki pengaruh yang signifikan sebagian. Oleh karena itu, penjual harus memastikan kualitas produk yang memenuhi persyaratan hewan
Article
Full-text available
This study departs from the phenomenon of dying the sacrificial animals before the day of slaughtering at Luhak Nan Tigo, a communal in West Sumatra, Luhak Tanah Datar, Luhak Limo Puluah and Luhak Agam. The death of the sacrificial animals before the day of slaughter certainly makes a problem between the Shohibul Kurbaan and the organizing committee to determine the status of ownership and legal an animal itself. The main issues of this paper at least talk about the regulation of the sacrificial animals at Luhak Nan Tigo and the form of settlement by related parties to the phenomenon. This study was analyzed with a qualitative descriptive model that began describing a phenomenon and then drew a concrete conclusion from various basic sharia laws regarding the status of animal ownership and the value of the sacrificial animals itself. The results of the study found that the process of collecting funds and purchasing the sacrificial animals in Luhak Nan Tigo which became one of the regulations in the view of Islamic law didn’t experience debate, ranging from age, ownership status, to the health of the sacrificial animals. However, the phenomenon of the death of this the sacrificial animals has various forms of settlement which are not regulated exclusively by Islamic law, so the solution found is one cow for more than seven people, replace together, two cows for three groups, and replacing one cow with two goats. The settlement is analyzed with Islamic legal sources and some forms of settlement can be said to be less relevant if viewed in terms of the value and essence of the sacrificial animal itself.
Article
Full-text available
Puncu District is one of the 26 sub-districts in Kediri Regency. The majority of the residents' livelihoods are farmers, farm laborers, and ranchers. Residents who have livestock as a source of income other than the agricultural business sector, on average, still apply conventional maintenance patterns. Sacrifice is a teaching that is almost unified in terms of the time of its implementation with the pilgrimage. However, it differs in terms of the place and the perpetrators. Sacrifice is usually performed during Eid al-Adha. The celebration of Eid al-Adha is accompanied by the slaughter of sacrificial animals which are carried out simultaneously. There are several problems in the management of livestock, one of which is regarding the management of livestock which is still not good and the livestock production is not optimal. Livestock management in this case is all aspects that affect livestock business, such as: nutrition for animal feed, cage construction, cage sanitation, maintenance methods, vaccination or treatment programs, seed selection, to livestock production and reproduction factors. This activity is carried out in the form of a fostered village with several activities such as counseling, survey of livestock, and distribution of sacrificial animals. With this service activity in the form of a guided village, it is hoped that it will be able to develop management of goat farm management, starting from livestock seeds to the process of selling and distributing livestock as sacrificial animals.
Article
Full-text available
One of the exciting topics in the socio-scientific issue is cloning. This issue is seen as a debatable issue in religion and science. In the practice of science learning in class, Biology teachers are required to be able to present this topic proportionally. This research aims to study how the arguments of Biology teachers in Islamic organization-based senior high schools in Indonesia face the cloning issue of sacrificed animals. This research was conducted in three Islamic organization-based senior high schools. This research uses the qualitative method by observation process on the learning of cloning topic in the class, questionnaire, and an in-depth interview with Biology teachers of XII grade from the three different schools in Banten Province, Indonesia. Results of the research show that related to the cloning issue of sacrifice (Qurban) animals is not only related to the religious aspect; there is the existence of specific argumentation patterns in the mind of the teachers. The designs are presented in the frameworks of economic (Organization A), social humanity (Organization B), and knowledge (Organization C). These three frameworks of organization give the primary colors for each teacher's argumentation. Thus, further studies must explore the effects of Islamic organizations on the arguments and the practice of cloning topic teaching at Islamic organization-based senior high schools.
Article
Full-text available
Contextual interpretation is a popular discourse in the contemporary era in the study of global interpretation. In Indonesia, this discourse is also rolling and has become a hot topic of discussion among commentators. Contextual interpretation then becomes the new alternative chosen by commentators in studying the Qur’an. To prove this hypothesis and at the same time find out to what extent the contextual interpretation discourse has been discussed, the authors examine journal articles from MORAEF, Garuda, and Google Scholar using a systematic literature review method. The journal article search used the keywords “tafsir”, “interpretation”, “contextual”, and “al-Qur’an”, which were applied to the three search sources in the period 2009-2020. This study found that the discourse of contextual interpretation received a positive response in Indonesia. However, there are no significant developments or updates. Quantitatively, the address is proliferating from year to year from 2009-to 2020. Meanwhile, the quality of the study is stagnant and undeveloped. This is because the discourse of contextual interpretation in Indonesia is identical to the figure of Abdullah Saeed. Saeed’s methodology has become a reference for many researchers because it is considered to have wooden steps compared to other contextualist thinkers.
Islam Kaafah Tantangan Sosial dan Aplikasinya di Indonesia
  • Fuad Amsari
Amsari, Fuad. 1995. Islam Kaafah Tantangan Sosial dan Aplikasinya di Indonesia, Jakarta: Gema Isani Press.
  • Abdurrahman Dkk
Abdurrahman dkk. 2011. Al-Qur'an dan Isu-isu Kontemporer, Yogyakarta: elSAQ Press.
  • Nashruddin Baidan
Baidan, Nashruddin. 2011. Wawasan Baru Ilmu Tafsir, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Madzahibut Tafsir: Peta Metodologi penafsiran al-Qur'an Periode Klasik Hingga kontemporer
  • Abdul Mustaqim
Mustaqim, Abdul. 2003. Madzahibut Tafsir: Peta Metodologi penafsiran al-Qur'an Periode Klasik Hingga kontemporer. Yogyakarta: Nun Pustaka.
Khazanah Tafsir Indonesia, dari Hermeneutika hingga Ideologi
  • Islah Gusmian
Gusmian, Islah. 2003. Khazanah Tafsir Indonesia, dari Hermeneutika hingga Ideologi, Jakarta: Teraju.
Ulumul Qur'an: Telaah Tekstualitas dan Kontekstualitas AlQur'an
  • Ahmad Izzan
Izzan, Ahmad, 2011. Ulumul Qur'an: Telaah Tekstualitas dan Kontekstualitas AlQur'an, Bandung: Tafakkur.
  • Ngainun Naim
Naim, Ngainun. 2009. Pengantar Studi Islam, Yogyakarta: Teras.
  • Syafrudin
Syafrudin, 2009. Paradigma Tafsir Tekstual & Kontekstual, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Arah Baru Studi Ulum Al-Qur'an. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  • Aksin Wijaya
Wijaya, Aksin. 2009. Arah Baru Studi Ulum Al-Qur'an. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.