ArticlePDF Available

Instagram TV: Konvergensi Penyiaran Digital dan Media Sosial

Authors:

Abstract

Along with the development of the internet, the existence of a merger between one platform with another platform brings new features favored by the community, including the Social TV platform. Social TV presents an opportunity for the community to make privately owned TV that can be watched quickly and massively. Through content presented by social TV, the audience communicates directly while watching the social TV. One example of Social TV in Indonesia is Instagram TV. Instagram TV is a form of media convergence. Media convergence, however, was initiated and made possible by digital technology (Huang et al., 2006). The absence of regulations governing Social TV makes it seem as if the community can act freely in producing content on Instagram TV without regard to the impacts that will occur, such as comments that can be written freely, or the content produced. This study uses a text-based qualitative method with interviews as a data collection technique to show the phenomenon of Social TV IG TV being the impact of digital broadcasting. The results of this study are Instagram Tv is a clear example of the convergence of digital broadcasting and social media. One impact of the convergence of digital broadcasting and social media is the shift of viewers from conventional to digital. The impact of convergence needs to be monitored, for example is with regulation.
251
Bianca Michelle Datubara, dkk. Instagram TV: Konvergensi Penyiaran Digital...
MediaTor, Vol 12 (2), Desember 2019, 251-263
DOI: https://doi.org/10.29313/mediator.v12i2.4778
Instagram TV: Konvergensi Penyiaran Digital dan Media Sosial
1Bianca Michelle Datubara, 2Irwansyah
1Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Jakarta 10430
2Ilmu Komunikasi FISIP UI, Jakarta 10430
E-mail: 1 biancamichelledb@gmail.com; 2 dr.irwansyah.ma@gmail.com
Abstrak. Seiring dengan perkembangan internet, adanya penggabungan antara satu platform
dengan platform lainnya melahirkan tur baru yang digemari masyarakat, termasuk platform
Sosial TV. Sosial TV menghadirkan kesempatan bagi masyarakat untuk membuat saluran TV milik
pribadi yang dapat dipertontonkan secara cepat dan massive. Melalui konten yang disajikan oleh
sosial TV, penonton melakukan komunikasi secara langsung sambil menonton sosial TV tersebut.
Salah satu contoh Sosial TV di Indonesia adalah Instagram TV. Instagram TV merupakan bentuk
konvergensi media. Konvergensi media, bagaimanapun, dimulai dan dimungkinkan oleh teknologi
digital (Huang et al., 2006). Belum adanya regulasi yang mengatur Sosial TV membuat masyarakat
seakan dapat bertindak bebas dalam memproduksi konten di Instagram TV tanpa mengindahkan
dampak-dampak yang akan terjadi, seperti komentar-komentar yang bisa dituliskan dengan
bebas, maupun konten yang diproduksi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis
teks dengan wawancara sebagai teknik pengumpulan data untuk menunjukkan fenomena Sosial TV
IG TV menjadi dampak dari broadcasting digital. Hasil dari penelitian ini adalah Instagram Tv
adalah salah satu contoh nyata adanya konvergensi dari penyiaran digital dan media sosial. Salah
satu dampak dari adanya konvergensi penyiaran digital dan media sosial ini adalah pergeseran
penonton dari konvensional ke digital. Dampak dari konvergensi perlu diawasi, salah satunya
dengan regulasi.
Kata kunci: Social TV, Instagram, Internet
Abstract. Along with the development of the internet, the existence of merger between one platform
with another platform bring new features favored by the community, including the Social TV plat-
form. Social TV presents an opportunity for the community to make privately owned TV channel
that can be watched quickly and massively. Through content presented by social TV, the audience
communicates directly while watching the social TV. One example of Social TV in Indonesia is
Instagram TV. Instagram TV is a form of media convergence. Media convergence, however, was
initiated and made possible by digital technology (Huang et al., 2006). The absence of regulations
governing Social TV makes it seem as if the community can act freely in producing content on
Instagram TV without regard to the impacts that will occur, such as comments that can be written
freely, or the content produced. This study uses a text-based qualitative method with interviews as
a data collection technique to show the phenomenon of Social TV IG TV being the impact of digital
broadcasting. The results of this study are Instagram Tv is a clear example of the convergence of
digital broadcasting and social media. One impact of the convergence of digital broadcasting and
social media is the shift of viewers from conventional to digital. The impact of convergence needs
to be monitored, one of the examples is with regulation.
Keyword: Social TV, Instagram, Internet
252
MediaTor, Vol 12 (2), Desember 2019, 251-263
PENDAHULUAN
Memasuki era revolusi industri
4.0 dan berkembangnya internet di
seluruh dunia membuat media sosial
menjadi media utama bagi masyarakat
dalam mencari informasi. Tidak hanya itu,
media sosial digunakan oleh masyarakat
untuk berbagai macam kegiatan,
termasuk hiburan. Hal ini diperkuat
dengan denisi media sosial yakni media
sosial adalah alat berbasis web untuk
interaksi yang, di samping percakapan,
memungkinkan pengguna untuk berbagi
konten seperti foto, video, dan tautan
(Boyd & Ellison, 2008). Aktivitas
penggunaan internet untuk mengakses
media sosial di Indonesia terbilang
cukup tinggi. Menurut We Are Social
Tahun 2019, dari 268,2 juta penduduk di
Indonesia, sampai dengan Januari 2019
pengguna internet di Indonesia mencapai
150 juta orang dengan angka peneterasi
56%. Hal ini setara dengan peneterasi
penggunaan media sosial pada angka
56% dan 150 juta orang penggunanya di
Indonesia. Pengguna internet di Indonesia
meningkat kurang lebih 13% atau
sebanyak 17 juta orang dalam rentang
waktu Januari 2018 sampai dengan
Januari 2019. Data yang diperoleh We
Are Social 2019 ini menunjukkan bahwa
seiring bertambahnya tahun, bertambah
pula minat manusia untuk menggunakan
media sosial guna memenuhi kebutuhan
informasinya sehari-hari.
Menurut We Are Social 2019,
di Indonesia, masyarakat rata-rata
menggunakan internet selama 8 jam 36
menit sehari. Waktu tersebut digunakan
untuk mengakses internet dari berbagai
macam alat. We Are Social 2019 juga
menyebutkan bahwa untuk mengakses
media sosial, masyarakat Indonesia
menghabiskan waktu selama 3 jam
26 menit sehari dari berbagai macam
device dan 2 jam 52 menit sehari untuk
menonton secara streaming. Pergeseran
analog ke era digital seperti saat ini
menciptakan pilihan lain bagi masyarakat
untuk menikmati hiburan. Menurut Binns
(2019) platform televisi didenisikan
selama bertahun-tahun oleh dua hal:
posisi singular di rumah, dan linearitas
siarannya. Pada 1974, Raymond Williams
menguraikan bagaimana televisi mewarisi
format media yang lebih tua, seperti
berita, acara bincang-bincang, olahraga,
iklan, dan drama dari radio; tetapi juga,
bagaimana platform menciptakan bentuk
hibrida seperti drama-dokumenter
dan variasi (Binns, 2019). Saat ini TV
streaming menjadi salah satu pilihan
masyarakat untuk menonton, selain
yang biasa dilakukan di televisi ataupun
bioskop. TV streaming dianggap lebih
praktis dan mempunyai banyak pilihan
program karena TV streaming merupakan
produk berbasis internet. Layanan dan
penggunaan video maupun TV streaming
video berdasarkan koneksi internet,
tentu juga menawarkan eksibilitas dan
interaksi yang lebih besar melalui koneksi
internet dua arah. Proliferasi aplikasi
seluler dengan kemampuan streaming
video berarti bahwa lalu lintas video
seluler dengan cepat menjadi bentuk
dominan dalam jaringan seluler (Li,
Zhang, & Yuan, 2011). Video maupun TV
yang disajikan dalam bentuk streaming
biasanya memiliki kecepatan dan gambar
yang lebih jernih dibandingkan TV
kontemporer. Namun kelemahannya,
penonton harus memili koneksi internet
yang stabil untuk menonton video dengan
lebih nyaman.
Tentu saja, dalam lanskap media
kontemporer, siaran televisi bersaing
dengan platform media lainnya.
Pertumbuhan TV streaming terus
berkembang dari tahun ke tahun. Awalnya,
TV streaming hanya dapat diakses pada
komputer atau laptop, namun sekarang
kemajuannya sudah bertambah pesat
dan telepon seluler atau smartphone
menjadi media alternatif untuk menonton
TV streaming. Bahkan sekarang, media
253
Bianca Michelle Datubara, dkk. Instagram TV: Konvergensi Penyiaran Digital...
sosial sudah mulai memasukan unsur
video streaming dan bahkan unsur TV ke
dalamnya. Informa Telecoms & Media
(2008) menyebutkan bahwa penurunan
ekonomi global belum dapat mengubah
perkiraan optimis potensi pertumbuhan
tinggi TV seluler dalam waktu dekat. Asia
dianggap sebagai sarang pengembangan
TV streaming dan TV seluler karena
gaya hidup masyarakat di Asia dan
penetrasi telepon seluler yang tinggi dan
teknologinya yang sudah berkembang
(Lin, 2018). Menurut TechinAsia 2018,
pengguna smartphone di Indonesia adalah
sebanyak 103 juta orang (Millward,
2014). Angka ini menunjukkan bahwa
pengguna smartphone yang bersifat aktif
meningkat hampir dua kali lipat sejak
tahun 2013. Sedangkan di dunia, pengguna
smartphone aktif berada di angka 2,56
milyar orang di seluruh dunia (Millward,
2014). Dari data yang diberikan,
Indonesia diperkirakan akan melampaui
sesama negara berkembang lainnya
termasuk Brazil dalam hal smartphone
pada beberapa tahun ke depan. Hal ini
lah yang mendukung aktivitas-aktivitas
lain yang akan dijalankan dan diciptakan
dengan basis internet dan media sosial
menjadi mudah diminati oleh sebagian
besar orang.
Penyebaran TV seluler berbasis
internet berskala besar menghadirkan
peluang dan tantangan luar biasa bagi
operator seluler dan penyedia teknologi.
Penyedia layanan internet atau broadband
berlomba-lomba memberikan kualitas
terbaik dan kecepatan internet yang tinggi
untuk memberikan kenyamanan pada
masyarakat saat menggunakan internet
dan mendukung perkembangan industri
teknologi komunikasi. Pernyataan ini
sejalan dengan yang dikatakan oleh
Gareld dan Watson (1997) bahwa
memiliki infrastruktur jaringan yang
berkembang sangat penting untuk
mengembangkan ekosistem teknologi
informasi dan komunikasi (TIK) yang
lebih baik (Choi, Wong, Chang, & Park,
2016) bre-optic technologies, and
hybrid\\nbre coaxial (HFC).
Media sosial seperti YouTube
atau Facebook, Twitter, Instagram,
dan lainnya kini juga semakin lazim
dan menjadi lebih populer dan mulai
menggabungkan teknologi streaming
ke dalam tur mereka. Pertumbuhan
video steraming dan kemampuan
smartphone untuk menyediakan konten
TV streaming langsung kepada pengguna
seluler menjadi kesempatan besar bagi
masyarakat untuk menikmatinya. TV
seluler serta aplikasi yang menyediakan
tur tersebut sampai saat ini telah
tersebar di seluruh dunia (Li, Zhang, &
Yuan, 2011). Baik teknologi penyiaran
digital maupun teknologi data nirkabel
berbasis internet dapat digunakan untuk
mendukung penyebaran TV seluler di
dunia.
Konvergensi media lebih
dari sekadar pergeseran teknologi.
Konvergensi mengubah hubungan antara
teknologi, industri, pasar, genre, dan
audiens yang ada. Konvergensi mengacu
pada suatu proses, tetapi bukan titik
akhir. Berkat proliferasi saluran dan
portabilitas komputasi baru dan teknologi
telekomunikasi, masyarakat memasuki
era di mana media akan ada di mana-mana
dan akan menggunakan semua jenis media
terkait dengan satu sama lain. Ponsel
bukan hanya perangkat telekomunikasi
tetapi juga memungkinkan untuk bermain
game, mengunduh informasi dari internet
dan mengirim foto (Jenkins, 2004).
Penggabungan antara satu
platform ke platform lainnya menjadi
bukti bahwa teknologi komunikasi
akan memberikan kemudahan bagi
hidup manusia, baik untuk memperoleh
informasi maupun hiburan. Implikasi
dari perkembangan infrastruktur berbasis
teknologi komunikasi dan informasi
pada adopsi keseluruhan tinjauan ke
masa depan strategis dan struktur pasar
254
MediaTor, Vol 12 (2), Desember 2019, 251-263
foresight menarik untuk dipertimbangkan.
Begitu pula tentang penggabungan
media sosial yang sekarang menjadi
platform untuk menonton video secara
streaming. Bahkan beberapa platform
media sosial turut membubuhkan nama
TV pada tur video streaming mereka
untuk meyakinkan bahwa tur tersebut
mengandung sifat-sifat yang dimiliki
oleh televisi konvensional.
Salah satu contoh pengabungan
platform yang sudah nyata dilakukan
adalah penggabungan media sosial
dengan media kontemporer televisi atau
yang biasa disebut dengan sosial TV.
Beberapa media sosial telah menciptakan
sosial TV sebagai salah satu media
pemenuhan informasi masyarakat,
contohnya Instagram TV yang diproduksi
oleh platform media sosial Instagram.
METODE
Metode yang digunakan pada
penelitian ini adalah pendekatan
kualitatif berbasis teks. Metode kualitatif
dipengaruhi oleh paradigma naturalistik-
interpretatif Weberian, perspektif post-
positivistik, kritis, dan post-modernisme.
Peneliti pada penelitian kualitatif
memulai dengan cara yang umum seperti
topik-topik umum dan ide yang samar
sehingga dapat disempurnakan dan
diperjelas menjadi konsep yang lebih
tepat ketika peneliti melakukan penelitian
(Neuman, 2017). Biasanya, penelitian
kualitatif mengamati proses, peristiwa,
dan otentisitas dalam setiap kejadiannya
(Somantri, 2004).
Pada penelitian ini, penulis
mengumpulkan data melalui observasi
dan wawancara mendalam. Observasi
dilakukan dengan mengamati bagaimana
perilaku pengunggah dan penonton pada
Sosial TV, khususnya di media sosial
Instagram. Nasution (1988) menyatakan
bahwa observasi adalah dasar semua
ilmu pengetahuan. Para ilmuwan hanya
dapat bekerja berdasarkan data, yaitu
fakta mengenai dunia kenyataan yang
diperoleh melalui observasi (Sugiyono
2009: 226). Penulis juga mewawancarai
Koordinator Litbang Komisi Penyiaran
Indonesia (KPI) Pusat, Andi Andrianto
untuk melihat bagaimana Sosial TV
mulai diminati dan menyaingi televisi
konvensional.
TEMUAN DAN PEMBAHASAN
Sosial TV dapat diartikan sebagai
kombinasi atau penggabungan antara TV
kontemporer dan media sosial. Sosial TV
memungkinkan interaksi sosial diantara
penonton dan pelaku produksi. Hal ini
merupakan cara baru dan berbeda. Dalam
aspek ini, sosial TV dapat disebut sebagai
platform canggih untuk media sosial
dengan menggunakan internet sebagai
media komunikasi (Shin, 2013). Biasanya
media sosial hanya menjadi platform
bagi masyarakat untuk berkomunikasi
dan menunjukkan eksistensinya kepada
para pengikutnya melalui unggahan-
unggahannya. Namun, media sosial
sekarang memberikan kesempatan
kepada masyarakat untuk mendapatkan
informasi dan hiburan secara lebih jauh
lagi.
Lim (2015) juga menjelaskan
sosial TV didenisikan sebagai
komunikasi backchannel real-time di
situs jejaring sosial (Hwang & Lim, 2015)
Melalui konten yang disajikan oleh sosial
TV, penonton melakukan komunikasi
secara langsung sambil menonton sosial
TV tersebut. Menariknya, penonton sosial
TV sosial memang mengatakan bahwa
mereka menikmati berbagi pemikiran
dan pendapat mereka dengan orang lain
di media sosial daripada hanya menonton
TV (Doughty et al., 2012). Melalui
kenyataan tersebut, dapat diketahui
bahwa ada alasan dari masyarakat secara
nyata mengapa masyarakat memilih
untuk terlibat dalam menonton sosial TV
(Kim, Yang, & Kim, 2019).
Salah satu strategi dari sosial TV
255
Bianca Michelle Datubara, dkk. Instagram TV: Konvergensi Penyiaran Digital...
adalah membangun hubungan dengan
audiens, mengarahkan percakapan
tentang pemrograman, dan meningkatkan
rating atau nilai dari pemilik-pemilik
akun sosial TV. Melalui sosial TV,
penonton dapat berinteraksi dengan
penonton lainnya melalui komentar-
komentar yang diberikan secara langsung
kepada konten yang dimuat oleh si
content creator. Penonton dari sosial
TV merasa mereka seolah-olah bersama
saat interaksi dilakukan dengan cara
memberikan komentar pada konten yang
mereka tonton. Hal ini mengakibatkan
pengguna media sosial merasakan
pengalaman komunal dengan berinteraksi
atau berkomunikasi secara berkelompok
walaupun tidak bertemu secara sik.
Pengalaman seperti ini dapat dijelaskan
oleh perasaan kehadiran sosial. Kehadiran
sosial didenisikan sebagai feeling
atau ‘perasaan bahwa aktor lain secara
bersama-sama terlibat dalam interaksi
yang dilakukan secara komunikatif’
(Hwang & Lim, 2015).
Menonton sosial TV dapat dilalui
dengan menggunakan beberapa platform
komunikasi. Secara umum, ada dua
jenis platform yang biasanya digunakan
oleh penonton sosial TV, yakni publik
dan pribadi. Platform komunikasi
publik merujuk pada seperangkat alat
dan layanan yang memungkinkan
melakukan percakapan terbuka dengan
orang lain, seperti umpan berita Twitter
dan timeline Facebook. Di sisi lain,
platform pribadi merujuk pada platform
yang memungkinkan pengguna untuk
melakukan percakapan dengan orang-
orang seperti pesan teks atau SMS dan
WhatsApp.
Namun, media sosial sekarang
turut menjadi platform yang paling
diminati masyarakat untuk menonton
sosial TV. TechInAsia 2018 menyebutkan,
penetrasi penonton televisi dengan minat
masyarakat menonton Youtube sudah
hamper sama, dengan penetrasi penonton
televisi pada 57% dan penonton Youtube
pada 53% (Millward, 2014). Pasalnya,
melalui sosial TV yang ada di media
sosial seperti Youtube maupun Instagram,
masyarakat dapat memilah-milah konten
mana yang ingin mereka tonton sesuai
dengan orang atau public gure yang
mereka ikuti atau follow di media sosial
tersebut. Tidak hanya public gure saja,
masyarakat awam di media sosial pun
turut dapat menciptakan kontennya
sendiri dan menciptakan sosial TV milik
mereka. Bahkan, melalui situs media
sosial yang digunakan sebagai wadah
video, pemilik akun dapat membubuhkan
nama ‘TV’ pada channel mereka.
Media sosial Instagram Menjadi
Platform TV Streaming
Instagram merupakan bentuk
komunikasi yang relatif baru di mana
pengguna dapat langsung membagikan
status mereka secara langsung dengan
mengunggah foto dan dapat dibubuhi
dengan lter yang menjadi tur awal pada
saat aplikasi ini diluncurkan (Manikonda,
Hu, & Kambhampati, 2014). Instagram,
tempat berbagi foto online, berbagi video
dan layanan jejaring sosial, dengan cepat
muncul sebagai media baru yang menjadi
sorotan dalam beberapa tahun terakhir.
We Are Sosial 2019 juga menyebutkan
sejak diluncurkan pada tahun 2010,
pengguna Instagram di dunia ada sampai
Januari 2019 sebanyak 62 juta orang.
Menurut We Are Social 2019, Instagram
berada pada urutan 4 (empat) media sosial
yang paling diminati dan aktif digunakan
di Indonesia dengan penetrasi sebanyak
80%. Pada urutan pertama adalah
Youtube dengan penetrasi di angka 88%,
dilanjutkan dengan WhatsApp 83% dan
Facebook 81% (Millward, 2014).
Pada tahun 2018 Instagram
menciptkan tur baru yakni Instagram TV
(IGTV). Instagram TV atau merupakan
salah satu tur di Instagram yang
memungkinkan pengguna mengunggah
256
MediaTor, Vol 12 (2), Desember 2019, 251-263
video dengan durasi yang lebih lama
dari IG Story, yakni selama 1 jam. Ada
aplikasi tambahan yang diperlukan untuk
membuat channel pada Instagram TV.
Nantinya, Instagram TV yang telah dibuat
akan dengan otomatis terhubung ke
dalam Instagram si pengguna. Pengguna
juga dapat memilih konten-konten yang
akan mereka ciptakan yang nantinya akan
ditonton oleh followers mereka.
Instagram menjadi salah satu
contoh penggabungan antara media sosial
dengan TV kontemporer yang ditunjukkan
dengan Instagram TV. Tampilan IG TV
pun dibuat menarik dengan unggahan
video yang dapat dimuat dengan cukup
lebar dan durasi waktu yang lebih
lama dibandingkan dengan unggahan
video pada feed Instagram (GAMBAR
1). Instagram TV pada media sosial
Instagram tentu diminati banyak orang.
Saat ini, Instagram TV dapat dibilang
sudah bisa bersaing dengan Yotube dan
TV Kontemporer. Banyak selebriti di
Indonesia mulai memakai Instagram
TV sebagai salah satu cara mereka
memberikan konten kepada masyarakat.
Tidak hanya untuk per-seorangan, bahkan
perusahaan dan lembaga pun sudah mulai
menggunakan Instagram TV sebagai
strategi komunikasi massa mereka.
Salah satu selebriti Indonesia
yang menggunakan Instagram TV untuk
memberikan informasi dan menambah
eksistensi dirinya adalah Gisela Anastasia
dengan akun Instagram @gisel_la
(GAMBAR 2). Mempertontonkan aksi
lucu anak perempuannya yakni Gempita,
Gisel memperoleh 1.242.108 penonton
dalam videonya sepanjang 1 jam 2 menit
tersebut. Konten-konten yang diberikan
Gisel kebanyakan berisi konten hiburan
dengan Gempita. Dari salah satu contoh
konten Instagram TV Gisel pada Gambar
2, ia juga menerima 407 komentar dari
penonton Instagram TV-nya tersebut.
Penonton memberikan komentar-
komentar yang diberikan langsung dari
penonton membuat penonton merasakan
bahwa mereka sedang menonton
bersama-sama dengan penonton lainnya.
Penonton pun bisa mencari informasi,
seperti komentar yang diberikan oleh
akun @itstia19 yang menanyakan nama
permainan yang sedang dimainkan oleh
Gempita di konten tersebut. Nantinya,
komentar @itstia19 bisa dibalas melalui
penonton lain melalui tur reply
(GAMBAR 3).
Cohen dan Lancaster (2014)
mengungkapkan bahwa keterlibatan
penonton yang bertatap muka langsung
dan media sosial dapat diprediksi oleh
penularan emosional penonton yang
GAMBAR 1. Tampilan IG TV pada platform Instagram
Sumber: idcloudhost.com
257
Bianca Michelle Datubara, dkk. Instagram TV: Konvergensi Penyiaran Digital...
berkomunikasi melalui komentar-
komentar yang diberikan, kebutuhan
mereka untuk menjadi lebih dekat dan
menjadi bagian dari si pembuat konten, dan
tiga dimensi dari orientasi penayangan,
yakni apa saja kebutuhan perusahaan
atau si pembuat konten, kebutuhan
untuk solitude, dan pemantauan audiens.
Lim, Hwang, Kim, dan Biocca (2015)
menjelaskan ada tiga tingkat keterlibatan
sosial TV (yaitu, fungsional, emosional,
dan komunal) pada penonton sosial TV.
Hubungan komunal diartikan sebagai
loyalitas saluran sosial TV, sedangkan
keterlibatan emosional lebih mengarah
pada loyalitas saluran melalui peningkatan
komitmen dari pembuat konten terhadap
penontonnya. Oleh karena itu, penting
bagi pembuat konten untuk melibatkan
pemirsa dengan kegiatan sosial TV,
yang pada gilirannya dapat membantu
menjaga konsistensi penayangan dan
mengembangkan hubungan ikatan
dengan pemirsa.
Dalam akun Instagram @gisel_la
yang dimiliki oleh Gisela Anastasia, Gisel
GAMBAR 2. Unggahan video IG TV pada akun @
gisel_la
Sumber: Instagram
GAMBAR 3. Komentar
Penonton IG TV pada
Instagram Gisela Anastasia
@gisel_la
Sumber: Instagram
terbilang cukup konsisten mengupload
konten INSTAGRAM TV dengan konten
keseluruhan rata-rata bersama Gempita.
Hubungan komunal konten Instagram
TV Gisel terbilang baik. Namun tidak ada
kedekatan emosional yang terjalin antara
Gisel sebagai pembuat konten dengan
penontonnya. Hal ini dibuktikan bahwa
tidak adanya komentar-komentar yang
dibalas oleh Gisel.
Hal berbeda terjadi dengan
Instagram TV milik diva kondang Titi
Dwi Jayati atau yang akrab dikenal
dengan nama Titi DJ. Instagram TV
yang memiliki username @ti2dj dapat
dikatakan tidak memiliki kedekatan
atau hubungan komunal dikarenakan ia
tidak terlalu sering mengupload video
dalam Instagram TV. Terbukti sepanjang
tahun 2018 sampai 2019, ia hanya
memiliki 4 konten di Instagram TV.
Namun Titi DJ dapat dikatakan memiliki
hubungan emosional yang baik dengan
penggemarnya. Hal ini ditunjukkan
258
MediaTor, Vol 12 (2), Desember 2019, 251-263
dengan ia terus membalas komentar-
komentar yang diberikan penontonnya.
Sikap ini dinyatakan baik karena melalui
komentar-komentar yang ia balas, ia dapat
menjalin hubungan yang lebih harmonis
dengan para penggemarnya.
Namun, terjadinya hubungan
langsung antara publik gur dengan
para penggemarnya melalui komentar-
komentar yang disediakan oleh Instagram,
dapat juga mengganggu privasi si publik
gur itu sendiri lebih dalam lagi. Seperti
contoh komentar-komentar negatif yang
ditujukan kepada Gisella melalui Sosial
TV miliknya di Instagram. Terlihat
dari salah satu contoh komentar negatif
yang dituliskan oleh akun Instagram @
loekman_d yang bertanya bagaimana
bahwa Gempi tahu bahwa Wijin adalah
orang ketiga dari hubungan Gisel dan
mantan suaminya (GAMBAR 4).
Konvergensi Media pada Instagram
TV
Revolusi komunikasi dan
teknologi menjadi salah satu faktor yang
turut membawa perkembangan baik di
dunia penyiaran maupun pers. Internet
dengan kelebihannya menyebarkan berita
secara global dan massive tanpa batas telah
mempengaruhi media massa termasuk
kegiatan jurnalistiknya. Media di era
digital saat ini adalah media yang sangat
maju dan berkembang yang berbasiskan
informasi (Fuadi, 2002). Konvergensi
media adalah salah satu contoh nyata dari
adanya revolusi komunikasi. Revolusi
komunikasi melahirkan dunia baru.
Kebutuhan informasi untuk manusia
dapat diperoleh dengan mudah. Aktivitas
informasi dengan cara memproduksi,
memproses dan mendistribusikan
informasi juga semakin dapat dilakukan
oleh siapapun dan dalam waktu kapan
pun.
Instagram TV menjadi bentuk
dari adanya konvergensi media, yakni
penggabungan antara media penyiaran dan
media sosial. Konvergensi media adalah
bergabungnya atau terkombinasinya
berbagai jenis media, yang sebelumnya
dianggap terpisah dan berbeda (misalnya,
komputer, televisi, radio, dan surat kabar),
ke dalam sebuah media tunggal. Gerakan
konvergensi media tumbuh berkat adanya
kemajuan teknologi akhir-akhir ini,
khususnya dari munculnya internet dan
digitalisasi informasi (Putri, Hamdan, &
Yulianti, 2017).
Tingkat konvergensi akan tidak
merata dalam budaya tertentu, dengan
mereka yang paling makmur dan paling
melek teknologi menjadi adapter awal dan
segmen lain dari populasi yang berjuang
untuk mengejar ketinggalan. Konvergensi
juga merupakan risiko bagi industri
kreatif karena mengharuskan perusahaan
media untuk memikirkan kembali asumsi
lama tentang apa artinya mengonsumsi
media, misalnya asumsi yang membentuk
keputusan pemrograman dan pemasaran.
Jika konsumen lama diasumsikan pasif,
GAMBAR 4. Komentar negatif Penonton INSTAGRAM TV di Instagram Gisela
Anastasia @gisel_la
Sumber: Instagram
259
Bianca Michelle Datubara, dkk. Instagram TV: Konvergensi Penyiaran Digital...
konsumen baru bisa bersifat aktif. Jika
konsumen lama dapat diprediksi dan
diam, maka konsumen baru bermigrasi,
menunjukkan loyalitas yang menurun
terhadap jaringan atau bahkan media
(Jenkins, 2004).
Penyebaran perangkat dan
layanan Internet of Things (IoT) semakin
cepat dan sebagian besar operator
jaringan seluler menganggap jaringan
komunikasi Machine-To-Machine
(M2M) sebagai sumber pendapatan baru
yang signikan. Hadirnya Instagram TV
yang merupakan gabungan antar platform
di era digital ini membuat siapapun bisa
menciptakan konten TV digital untuk
ditonton oleh siapa saja dan disebarkan
secara luas. Hal ini biasa disebut dengan
user generated content. User generated
content adalah sarana penting yang
digunakan oleh pengguna internet
untuk dapat mengekspresikan diri dan
berkomunikasi dengan orang lain secara
online (Boyd dan Ellison, 2008). Melalui
user generated content ini, konten dapat
diproduksi dengan bebas di media sosial
tanpa adanya larangan-larangan yang
mengikat.
Berbeda dengan televisi
kontemporer yang memiliki Komisi
Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai
regulator dan Pedoman Perilaku Penyiaran
dan Standar Program Siaran (P3SPS)
sebagai kaidah-kaidah yang berlaku
dalam penyiaran, belum ada regulasi
yang mengatur penyiaran yang berada di
ranah digital seperti Sosial TV. Undang-
undang No.32 Tahun 2002 menyebutkan
bahwa penyiaran sebagai kegiatan
komunikasi massa mempunyai fungsi
sebagai media informasi, pendidikan,
hiburan yang sehat, kontrol dan perekat
sosial. Instagram TV sebagai sosial TV
yang juga merupakan salah satu tools
dari komunikasi massa belum memiliki
aturan atau pedoman bagaimana konten
Instagram TV seharusnya berlaku.
Saat ini, pengawasan internet
dilakukan oleh Kementerian Komunikasi
dan Informatika dan dilandasi oleh
payung hukum dari Undang-undang
Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi
dan Transaksi Elektronik (UU ITE).
Namun, masih menjadi perdebatan siapa
yang berhak mengawasi video streaming
yang sudah menyerupai TV pada media
sosial ini. Pasalnya, Komisi Penyiaran
Indonesia tidak memiliki wewenang
untuk mengawasi penyiaran dalam
bentuk streaming.
Andi Andrianto, Koordinator
Penelitian dan Pengembangan (Litbang)
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)
Pusat menyatakan perkembangan dan
pergeseran aktivitas broadcasting ini tidak
lepas dari adanya aktivitas internet yang
sudah mulai tinggi. Hal ini bisa dilihat
dari adanya integrasi antara internet dan
aktivitas media mainstream. Integrasi
tersebut dapat dilihat dengan lahirnya
Instagram TV sebagai penggabungan
antara media televisi dengan internet atau
media sosial.
Misalnya aktivitas broadcasting
yang ada di media sosial seperti
Instagram TV yang mana kita tahu
bahwa aktivitas itu dekat dengan
kegiatan-kegiatan broadcasting
sebetulnya. Ini menunjukan bahwa
distribusi informasi, kemasan
informasi, kemudian saluran-saluran
dan media tidak hanya terpaku pada
media mainstream dalam hal ini
radio dan televisi yang lekat dengan
aktivitas broadcast. Artinya ada suatu
tren baru yang berkembang ke arah
media sosial yang sudah semakin
banyak digunakan dan diakses oleh
masyarakat. (Andrianto, 2019)
Media sosial tentu semakin
banyak digunakan untuk berbagai
aktivitas. Aktivitas di media sosial pun
terbilang bebas sehingga apapun dapat
diunggah ke dalam platform media sosial.
Kebebasan ini lah yang cenderung sering
kali disalahartikan oleh masyarakat.
260
MediaTor, Vol 12 (2), Desember 2019, 251-263
Bebas seakan-akan tidak mengindahkan
kaidah-kaidah yang berlaku. Pasalnya,
tidak adanya regulator di dalam media
sosial membuat luas dan massive nya
jangkauan media sosial tidak dapat
diawasi sampai ke akar-akarnya.
Media sosial belum masuk menjadi
ranah pengawasan KPI. Untuk itulah
melalui perubahan dan revisi UU
Penyiaran ini KPI berupaya untuk
juga melakukan usulan kepada DPR
RI untuk memasukan poin apakah
media sosial ini juga akan diawasi
oleh KPI. Karena tanpa regulasi
dan dasar hukum yang kuat, tentu
KPI tidak bisa menjalankan itu. Jadi
intinya adalah KPI sekarang belum
melakukan pengawasan terhadap
media sosial dimana konten-
kontennya jauh juga lebih sebetulnya
berbahaya dibandingkan konten
yang ada di televisi maupun radio.
(Andrianto, 2019)
Sejauh ini persoalan siapakah
yang menjadi regulator dari aktivitas
media sosial terbilang masih menjadi satu
hal yang cukup serius yang harus dibahas
dan dicarikan solusinya. Undang-undang
No.32 Tahun 2002 tentang Penyiaran hanya
mengamanatkan pengawasan penyiaran
atau aktivitas broadcasting kepada media
mainstream seperti televisi dan radio,
tidak termasuk aktivitas broadcasting
yang saat ini sudah terintegrasi kepada
media sosial. Hal ini juga dikemukakan
oleh Andrianto (2019) bahwa bagaimana
pun juga posisi KPI sebagai regulator
penyiaran ini punya landasan hukum
yang kuat dalam menjalankan tugas dan
fungsinya. Berkaitan dengan itu, KPI baru
bisa menjalankan fungsi pengawasannya
terhadap televisi dan radio karena tidak
adanya payung hukum yang menyatakan
KPI berhak mengawasi media sosial.
Belum ada pengawasan yang
jelas, apalagi sanksi hukum yang
diberikan. Jadi relatif jauh lebih
bebas. Nah ini yang perlu diwaspadai
dan mesti diantisipasi dengan
kejelasan regulasi mengenai siapa
yang mengawasi dan batasan mana
mereka boleh menayangkan konten.
(Andrianto, 2019)
Masih banyak kelemahan-
kelemahan yang terdapat pada pasal-
pasal di UU ITE sehingga banyaknya
pelanggaran konten yang ada di media
sosial tidak dijerat secara serius. Padahal
aktivitas di media sosial pun cukup dapat
menimbulkan kesempatan-kesempatan
menghadirkan konten yang berbahaya
seperti ujaran kebencian, radikalisme,
dan kekerasan yang pastinya meresahkan
banyak orang. Andrianto (2019)
seharusnya ada pembahasan khusus
mengenai bagaimana regulasi merespon
perkembangan media hari ini yang sudah
muncul beberapa tren baru. Pedoman
Perilaku Penyiaran dan Standar Program
Siaran (P3SPS) yang menjadi pedoman
KPI dalam mengawasi penyiaran pun
dinyatakan belum dapat digunakan untuk
mengawasi aktivitas broadcasting di
media sosial.
Sejauh ini P3SPS diturunkan dari
UU Penyiaran No.32 Tahun 2002
yang memang masih dengan pola
lama. Denisi broadcast-nya pun
masih pola lama. Artinya harus
ada perubahan denisi dulu, baru
ada perubahan poin-poin UU yang
diperlukan. P3SPS tentu merespon
juga dengan perubahan-perubahan
yang baru. P3SPS kita yang hari ini
belum merespon soal itu, tentu ini ada
pembahasan khusus apakah harus
ada aturan baru turunan dari UU
Penyiaran yang merespon tentang
perkembangan internet dan media
sosial tersebut atau dimasukkan
ke dalam sub bagian P3SPS untuk
membahas soal internet dan media
baru itu. Kalau yang sekarang
poinnya belum masuk. (Andrianto,
2019)
261
Bianca Michelle Datubara, dkk. Instagram TV: Konvergensi Penyiaran Digital...
Tidak hanya dari sisi hukum
yang berlaku, untuk pemenuhan fungsi
ekonomi dari media penyiaran digital
Instagram TV ini pun tidak berpatokan
pada iklan. Media televisi kontemporer
menggunakan iklan sebagai pemasukan
mereka. Namun, dalam Instagram TV,
iklan bukan satu-satunya cara mereka
menghasilkan keuntungan. Oleh
karena itu, media televisi nasional yang
mengandalkan iklan sebagai satu-satunya
sumber pendapatan harus mencari
alternatif lain agar dapat bertahan dan
bersaing dengan industri media lainnya
(Sumartias & Hazni, 2018). Seakan takut
kalah bersaing di dunia digital, saat ini
televisi-televisi nasional pun sudah mulai
mencoba untuk melakukan produksinya
dengan bergeser kepada ranah digital atau
streaming.
Selain kualitas presentasi dan
program, penerapan konvergensi
media adalah cara untuk tetap unggul
dalam persaingan di industri media
televisi. Negroponte mengatakan bahwa
kombinasi industri media tradisional dan
industri komputer akan menciptakan jenis
komunikasi baru (Sumartias & Hazni,
2018). Hal ini lah yang sudah menjadi
prediksi industri teknologi komunikasi
dari tahun ke tahun, yakni bergabungnya
media tradisional dan industri komputer.
Namun konvergensi media pada media
penyiaran harus dikawal dengan adanya
regulator di setiap negara agar konten yang
disajikan tetap sesuai dengan nilai-nilai
kebangsaan. Di Belanda, taruhan antara
penyiar publik dan media sosial tercermin
dalam potensi stasiun media sosial yang
mempertimbangkan keterlibatan audiens
dengan niat komersial dan intervensi
teknis yang tidak sesuai dengan nilai-nilai
publik (Van Dijck & Poell, 2015). Hal ini
tidak boleh terjadi di Indonesia.
Salah satu dampak dari
konvergensi media yang lain adalah
masyarakat terus-menerus meninggalkan
media tradisional, hal ini termasuk
koran atau TV dan terus bergeser ke
arah online. Faktor paling penting yang
menarik masyarakat ke arah digital ini
adalah kenyataan bahwa mereka dapat
memilih konten yang mereka inginkan
pada saat mereka menginginkannya
(Nikas, Alepis, & Patsakis, 2018). Selain
itu, konten digital dapat dinikmati dimana
saja dengan segala kecanggihan yang
dimilikinya.
Bahkan lebih buruk daripada
kehilangan pemirsa atau penonton,
konvergensi media juga menimbulkan
pergeseran produser penyiaran. Semakin
banyak dari masyarakat akan lebih
tertarik dengan potensi inovatif dari
produksi multiplatform. Ruang internet
juga memberikan suatu anugerah bagi
produsen independen yang dan para
pengusaha yang ingin membuat dan
mendistribusikan program web khususnya
media penyiaran berbasis digital (Van
Dijck & Poell, 2015).
Konvergensi media penyiaran
digital dengan media sosial seperti
Instagram Tv menyuguhkan lebih banyak
audiens dengan pilihan koten yang
juga lebih banyak macamnya. Tidak
hanya perihal produksi dan konsumsi,
konvergensi media juga menjadi tanda
akan perubahan dari berbagai bidang
komunikasi termasuk media, budaya,
khalayak, teknologi, dan industri
(Sumartias & Hazni, 2018). Lebih
banyaknya khalayak yang terjun kepada
dunia media digital tentu mempengaruhi
setiap pergerakan di dunia tradisional.
Konvergensi media
bagaimanapun diprakarsai oleh teknologi
digital. Konvergensi media ini lebih dari
sekedar penggabungan dari media namun
lebih dalam konvergensi media dalam
arti konvergensi konten, konvergensi
teknologi, dan terutama konvergensi
peran, yang telah terjadi tidak hanya
di perusahaan media yang bergabung
maupun yang tidak, seperti Instagram TV
yang hanya menggabungkan dua konsep
262
MediaTor, Vol 12 (2), Desember 2019, 251-263
media massa menjadi satu (Huang, 2006).
Oleh karena itu, konvergensi media harus
terus diawasi.
SIMPULAN
Adanya konvergensi media dan
penggabungan antar platform seperti
media mainstream dan media sosial
merupakan salah satu keunggulan
penggunaan internet pada saat ini. Sosial
TV yakni Instagram TV menjadi salah satu
contohnya. Konvergensi media adalah
bergabungnya atau terkombinasinya
berbagai jenis media, yang sebelumnya
dianggap terpisah dan berbeda (misalnya,
komputer, televisi, radio, dan surat
kabar), ke dalam sebuah media tunggal.
Konvergensi media penyiaran digital
dengan media sosial seperti Instagram
Tv menyuguhkan lebih banyak audiens
dengan pilihan koten yang juga lebih
banyak macamnya. Tidak hanya perihal
produksi dan konsumsi, konvergensi
media juga menjadi tanda akan perubahan
dari berbagai bidang komunikasi termasuk
media, budaya, khalayak, teknologi,
dan industri (Sumartias & Hazni,
2018). Lebih banyaknya khalayak yang
terjun kepada dunia media digital tentu
mempengaruhi setiap pergerakan di
dunia tradisional. Konvergensi media
ini lebih dari sekedar penggabungan dari
media namun lebih dalam konvergensi
media dalam arti konvergensi konten,
konvergensi teknologi, dan terutama
konvergensi peran, yakni peran platform-
platform yang bergabung menjadi satu.
Adanya konvergensi media salah
satunya Instagram Tv memungkinkan
masyarakat untuk memiliki channel TV
pribadi dan dapat membuat kontennya
secara bebas. Namun, belum adanya
regulasi yang menekankan konsekuensi-
konsekuensi hukum yang menjadi
pedoman dari konten di Instagram Tv ini
dapat menciptakan konten-konten yang
tidak sesuai dengan kaidah Pancasila, baik
pada konten penyiaran maupun komentar
dengan bahasa-bahasa tidak pantas yang
ditujukan kepada publik gur atau orang
yang mengunggah konten pada Instagram
Tv. Pasalnya Komisi Penyiaran Indonesia
(KPI) sebagai regulator penyiaran tidak
diberikan wewenang untuk mengawasi
aktivitas broadcasting di bidang internet,
termasuk media sosial. Pemerintah
harus mengambil langkah guna
mengantisipasi dampak-dampak negative
darikonvergensi media penyiaran digital
dan media sosial, salah satunya adalah
konten-konten yang berbahaya bagi
kedaulatan negara.
DAFTAR PUSTAKA
Binns, D. (2019). The Netix documentary
house style : Streaming TV and slow
media, (December 2018).
Boyd, D. M., & Ellison, N. B. (2008). Social
Network Sites: Denition, History,
and Scholarship. Journal of Computer-
Mediated Communication, 13, 210-230
Choi, S. M., Wong, S. F., Chang, Y., & Park,
M. C. (2016). Analysis of the dynamic
broadband technology competition
Implications for national information
infrastructure development. Industrial
Management and Data Systems, 116 (6),
1223–1241. https://doi.org/10.1108/
IMDS-09-2015-0394
Fuadi, M. E. (2002). Surat Kabar Digital
sebagai Media Konvergensi di Era
Digital. MediaTor.
Huang, E., Davison, K., Shreve, S., Davis,
T., Bettendorf, E., & Nair, A. (2006).
Facing the challenges of convergence:
Media professionals’ concerns of
working across media platforms.
Convergence, 12(1), 83–98. https://doi.
org/10.1177/1354856506061557
Hwang, Y. C., & Lim, J. S. (2015). The im-
pact of engagement motives for social
TV on social presence and sports chan-
nel commitment. Telematics and In-
formatics, 32(4), 755–765. https://doi.
org/10.1016/j.tele.2015.03.006
Jenkins, H. (2004). The Cultural Logic of Me-
dia Convergence. International Journal
of Cultural Studies, 7(1), 33–43. https://
doi.org/10.1177/1367877904040603
263
Bianca Michelle Datubara, dkk. Instagram TV: Konvergensi Penyiaran Digital...
Kim, J., Yang, H., & Kim, J. (2019). Being
social during the big dance: Social pres-
ence and social TV viewing for March
Madness in public and private platforms.
The Social Science Journal. https://doi.
org/10.1016/j.soscij.2019.04.004
Li, Y., Zhang, Y., & Yuan, R. (2011). Mea-
surement and analysis of a large
scale commercial mobile inter-
net TV system, 209. https://doi.
org/10.1145/2068816.2068837
Lin, T. C. (2018). The Gordian Knot of Sin-
gapore ’ s Mobile TV Policy , Journal
of International Commercial Law and
Technology , 5 ( 1 ), 11-21 . ( A good
journal ranked by the law school , Syd-
ney Technologica ... The Gordian Knot
of Mobile TV Policy in Singapore,
5(January 2010), 11–21.
Manikonda, L., Hu, Y., & Kambhampati, S.
(2014). Analyzing User Activities, De-
mographics, Social Network Structure
and User-Generated Content on Insta-
gram. Retrieved from http://arxiv.org/
abs/1410.8099
Millward, S. (2014). Indonesia diproyeksi
lampaui 100 juta pengguna smartphone
di 2018, keempat di dunia. https://id.te-
chinasia.com/jumlah-pengguna-smart-
phone-di-indonesia-2018, diunduh pada
16 Mei 2019
Neuman, W. Laurence. (2017). Metodologi
Penelitian Sosial: Pendekatan Kualita-
tif dan Kuantitatif. Jakarta: PT Indeks.
Nikas, A., Alepis, E., & Patsakis, C. (2018). I
know what you streamed last night: On
the security and privacy of streaming.
Digital Investigation, 25, 78–89. https://
doi.org/10.1016/j.diin.2018.03.004
Putri, D. W., Hamdan, S. R., & Yulianti, Y.
(2017). Perilaku Bermedia Digital Da-
lam Pelaksanaan Tridharma Perguruan
Tinggi Dikalangan Dosen Unisba. Me-
diator: Jurnal Komunikasi, 10(1), 11–
24. https://doi.org/10.29313/mediator.
v10i1.2731
Shin, D. H. (2013). Dening sociability and
social presence in Social TV. Com-
puters in Human Behavior, 29(3),
939–947. https://doi.org/10.1016/j.
chb.2012.07.006
Somantri, G. R. (2004). Out-source call
center operates in the Moscow region.
Elektrosvyaz, 9(5), 26. https://doi.
org/10.7454/mssh.v9i2.122
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuanti-
tatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: CV Al-
fabeta.
Sumartias, S., & Hazni, M. (2018). Conver-
gence Trends in the Television Media
Industry - A Case Study on the Imple-
mentation of Media Convergence in
Metro TV Jakarta. KnE Social Sciences,
2(4), 83. https://doi.org/10.18502/kss.
v2i4.871
Van Dijck, J., & Poell, T. (2015). Making
public television social? Public ser-
vice broadcasting and the challenges
of social media. Television and New
Media, 16(2), 148–164. https://doi.
org/10.1177/1527476414527136
... Due to the focus on the third era, manufacturers then increase production in their primary business with distinctive features to remain competitive in a more diverse market and keep producing products desired by the community (Andhyka et al., 2020). Later in 2019, Marketing 4.0 started and made marketing activity begins to incorporate both online and offline interaction between the consumers and the company that will make life easier to obtain information and various other things (Datubara & Irwansyah, 2019;Kotler & Keller, 2016). Marketing 4.0 has become more adaptable to the use of more advanced machines and technology such as artificial intelligence (AI) and other technologies to increase productivity (Fuciu & Dumitrescu, 2018). ...
Article
Full-text available
The development of technology has significantly changed the way society lives. In this digitalized world, every activity has been done with the help of technology, including marketing activity. Marketing has evolved in 4 eras; each era has its own distinctive and focus. Throughout this marketing revolution, online advertising has effectively been one of the best tools that significantly affect the relationship between consumers and the company. Very few studies have analyzed the effectiveness of Marketing 4.0 that combines online and offline strategy in the advertisement world and developing countries like Indonesia. Therefore, using the method of meta-synthesis aggregative as a systematic review, this study aims to dig deeper into the effectiveness of Marketing 4.0 in advertising, especially online advertising in developing countries, such as Indonesia, and how it may affect the future society or Society 5.0. This study believed that using online advertising in Marketing 4.0 is an effective way to communicate with the consumers; however, some variables should be analyzed in knowing the effectiveness of online advertising. In the future, more studies should also be done in the developing countries context so that marketers can better know how to make an advertisement.
... The information for human's daily needs can be obtained easily. Anyone can also carry out information creation activities like producing, processing, and distributing information at any time (Datubara & Irwansyah, 2019). Radio can be enjoyed while doing other jobs such as studying, relaxing, driving a car. ...
Article
Full-text available
The development of communication technologies has changed people's lives who are now more likely to use Internet-based or digital communication media. BKKBN West Sumatra is a government agency which innovates by using digital media called "GenRe Radio." This study aims to examine the use of the digital radio communication media genre in population programs, family planning, and family development and analyse the communication process performed by genre radio in the content of broadcasting programs. The research method used is a qualitative method based on a case study. The sample collection technique in this study was based on purposive sampling techniques. Informants in this study amounted to six people. This research shows that BKKBN uses digital radio communication media to transmit information about population, family planning, and family development in western Sumatra. The utilization of the digital radio communication media genre can increase the use of birth control and the suitable age to marry. Information and inducements to attract listeners are conveyed through the official Instagram post @genreradio107.9fm. The public can also participate in interactive talk show broadcast programs.
... Indonesia is a country with quite active social media users. According to We Are Social, in 2019, out of 268.2 million people in Indonesia, 150 million people used social media, and the penetration rate reached 56%; this data shows an increase in public interest in Indonesia every year in using social media (Datubara & Irwansyah, 2019) since the early 2000s, social media had multiplied when Friendster became the platform that dominated social media. , Social media has now become a living part of modern society. ...
Article
Digital-based media art is growing massively because it is in line with the existence and usefulness of digital-based devices, which are increasingly crucial in their function in society, such as photography which is not just for capturing moments and aesthetic needs but the need to offer information to others. It no longer presents the image as it is but can also deliver a 'fantasy' and appearance that does not happen in the real world through the editing process. The easier it is for virtual access to be obtained through devices in their hands, people are increasingly flooded with text and images with different content. To minimize misinformation, it takes public agility to sort out information and maturity in tracing cyberspace, mainly social media. Agan Harahap, an artist who uses the medium of photography as his language, often uses the process of editing photos to provide a representation of the 'new reality in his work. Harahap, who is interested in this phenomenon, uses social media as a means of publication so that it can be appreciated and provide an overall awareness process. The method used in this study is a case study through a semiotic approach to reading the symbols used by Harahap in his work. With the direction of the medium of photography and social media, Harahap arouses people's awareness to be aware of the reality offered in a piece of information. Kajian Semiotika dalam Karya Agan Harahap: Manipulasi Realitas pada Media Sosial Abstrak Seni media berbasis digital tumbuh secara masiv karena sejalan dengan keberadaan dan kegunaan gawai berbasis digital yang semakin krusial fungsinya di masyarakat. Seperti fotografi yang tidak hanya sekedar untuk menangkap momen dan kebutuhan estetik saja namun kebutuhan menawarkan sebuah informasi bagi orang lain. Tak lagi menghadirkan gambar apa adanya, namun juga mampu menghadirkan sebuah ‘fantasi’ dan tampilan yang sebenarnya tak terjadi di dunia nyata melalui proses editing. Semakin mudahnya akses virtual didapatkan melalui gawai dalam genggaman, masyarakat kian dibanjiri oleh teks maupun image yang memiliki beragam konten. Dibutuhkan kesigapan masyarakat untuk memilah informasi dan kedewasaan dalam menelusuri dunia maya, khususnya media sosial untuk meminimalisir informasi yang salah. Agan Harahap, sebagai seniman yang memanfaatkan media fotografi sebagai bahasa ungkapnya, acapkali melakukan proses pengeditan foto untuk memberikan sebuah representasi ‘realitas baru’ dalam karyanya. Harahap yang tertarik dengan fenomena ini menggunakan media sosial sebagai sarana publikasi agar dapat diapresiasi dan memberikan proses penyadaran secara luas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah studi kasus melalui pendekatan semiotika untuk membaca simbol yang digunakan Harahap dalam karyanya. Dengan pendekatan medium fotografi dan media sosial, Harahap berupaya menggugah kesadaran masyarakat untuk mawas terhadap realitas yang ditawarkan dalam sebuah informasi.
Article
Full-text available
Bu araştırmanın amacı, Instagram resmi bloğunun kullanım pratiklerini ortaya koymaktır. Çalışma, Instagram’ın bir şirket olarak kendisini yeni medya ortamında nasıl temsil ettiğini ortaya koyması açısından, alandaki önemli bir boşluğu doldurmaya adaydır. Mevcut araştırma, “Instagram resmi blog yazılarının temaları ve alt kategorileri nelerdir?”, “Instagram’a getirilen yeni özellikler kullanıcılarda neyi teşvik etmektedir?” ve “Instagram’a gelen yeni özellikler yakınsama bağlamında ne söylemektedir?” sorularına yanıt aramaktadır. Bu soruları yanıtlamak amacıyla blog yazıları içerik analizinin altında yer alan tematik incelemeye tabi tutulmuştur. Analiz neticesinde 3 ana tema ortaya çıkmıştır. Bunlar; kurumsal, ilişkisel ve filantropik temalarıdır. Ana temalar kendi içinde alt temalara ayrılmaktadır. Çalışmada bu kategoriler yakınsama bağlamında ele alınarak, Instagram’ın blogları kullanım amacı tartışmaya açılmıştır.
Article
Full-text available
Penelitian ini bertujuan untuk untuk meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa kelas B prodi Pendidikan Sejarah pada mata kuliah sejarah Asia Tenggara. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam 3 siklus. Tiap siklus terdiri dari tahapan perencanaan, Implementasi Tindakan, Observasi dan Analisis dan Refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara studi dokumentas dan studi literature. Hasil penelitian menunjukan bahwa Penggunakan Model Project Based Learning Digital Storyteling pada mata kuliah Sejarah Asia Tenggara di prodi pendidikan sejarah dapat diterapkan dengan baik dilihat dari skor rata pada siklus satu mendapat 43,33%, pada siklus II mendapat skor sebanyak 70%, artinya mengalami peningkatan sebanyak 26,67%. Pada siklus III skor rata perolehan setiap kelompok adalah 90,55% itu artinya mengalami peningkatan sebanyak 20,55%. Sedangkan untuk kepercayaan diri mengalami peningkatan siklus satu mendapat 40%, pada siklus II mendapat 63 % dan siklus III mendapat 86%.
Article
Full-text available
This study is based on news dissemination about the Corona Virus Disease 2019, COVID-19, as a global pandemic. The massive amount of coronavirus news dissemination provokes the audiences to behave inappropriately. This study uses the theory of agenda-setting, which elaborates on the process of forming opinion in national television media. After that, the theory of media exposure is used to analyze the impact of exposure to the COVID-19 dissemination on social media. The research method used is a combination of qualitative and quantitative methods, namely, survey and interview in social media that is on the WhatsApp group of students and lecturers in the Province of South Sulawesi. The results of this study; First, the process of forming an opinion by the public media has not done proportionally, the information dissemination of the coronavirus had covered the dissemination of other important cases, such as the legal and corruption issues. Second, the effect of the COVID-19 news dissemination on social media not only had an impact on people's health but also a multi-effect toward the economic, religious, and psychological condition. The multi-dimensional impacts are responsible for setting the exposure of COVID-19 news dissemination as the single issue that makes the diversion of opinion and other issues occurred, such as legal and corruption cases which are no longer being a public talk.
Article
Full-text available
Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui pola konsumsi berita di Bandar Lampung sekaligus melihat jenis media massa serta berita yang dipercaya dan paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif menggunakan metode survei. Indikator penelitian berupa akses dan terpaan media serta motif keaktifan khalayak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para digital natives dan digital immigrants memiliki ketertarikan dan pola konsumsi tinggi terhadap berita karena kemampuan mereka dalam menggunakan teknologi digital dan internet. Hal ini berbeda dengan digital settlers yang tingkat ketertarikan dan pola konsumsi beritanya rendah.
Article
Full-text available
Streaming services have significantly changed the way that films and TV series are produced and received. The full effects of these changes have yet to be seen, but this article offers an inquiry and critical analysis of some of these changes as they pertain to stand-alone and serial documentaries produced by Netflix. This article contends that there is an emergent ‘house style’ for Netflix original content, particularly documentary, that is in part dictated by platform constraints, but also by an adherence to the principles of Slow Media. To demonstrate, I observe a couple of key moments episodes of Chef’s Table (2015-) and Shot in the Dark (2017-), as well as the feature-length documentary The Ivory Game (2016). The findings of the article suggest that the consumption of on-demand content — and more specifically its being chosen by the viewer, rather than observed in the flow of network-era television — affords producers certain concessions around the choices they make. In the examples discussed, there is a clear focus on quality and high production values, bringing Netflix-produced content in line with the tenets of the Slow Media movement.
Article
Full-text available
Streaming media are currently conquering traditional multimedia by means of services like Netflix, Amazon Prime and Hulu which provide to millions of users worldwide with paid subscriptions in order to watch the desired content on-demand. Simultaneously, numerous applications and services infringing this content by sharing it for free have emerged. The latter has given ground to a new market based on illegal downloads which monetizes from ads and custom hardware, often aggregating peers to maximize multimedia content sharing. Regardless of the ethical and legal issues involved, the users of such streaming services are millions and they are severely exposed to various threats, mainly due to poor hardware and software configurations. Recent attacks have also shown that they may, in turn, endanger others as well. This work details these threats and presents new attacks on these systems as well as forensic evidence that can be collected in specific cases.
Article
Full-text available
Perkembangan teknologi informasi berdampak pada perkembangan Media Massa sebagai channel komunikasi melalui media baru seperti media digital dan konvergensi media. Dari sekian jenis media massa, diantaranya digunakan sebagai media pembelajaran atau yang disebut teks pedagogik atau teks akademik.Teks akademik saat ini hadir dalam bentuk media digital dan media konvergensi, seperti e-book dan e-journal. Dalam memenuhi tiga unsur tridharma, dosen dituntut untuk dapat beradaptasi dengan teknologi informasi dalam bentuk media baru tersebut. Mulai dari penyediaan sumber bahan ajar sampai pada sumber data dan pengunggahan karya ilmiah. dalam hal ini dosen berperan sebagai penerima dan penyedia konten. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai perilaku bermedia digital dalam melaksanakan tridharma perguruan tinggi di kalangan dosen Unisba terutama adaptasi dan upaya penggunaanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan perilaku serta belum menyeluruhnya penggunaan media digital dalam memenuhi tridharma perguruan tinggi pada dosen Unisba. Selain terlihat adanya tren menggunakan media digital pada perkuliahan, mencari referensi ilmiah dan publikasi hasil penelitian serta PKM. Hasil penelitian juga menunjukkan perbedaan perilaku pada dosen pria dengan wanita dalam penggunaan media digital.
Article
Full-text available
Purpose The objectives of this paper are to (1) investigate the effect of inter-platform competition on the adoption of different broadband technologies (i.e., among xDSL, fibre-optic technologies, and HFC), (2) examine the direction of the effect, and (3) identify potential technology convergence and the speed of technology innovation. Design/methodology/approach It uses Lotka-Volterra equation to determine the dynamic competition pattern for xDSL, fibre-optics, and HFC. Findings The influence of inter-platform competition on the adoption rate may vary depending on the market conditions, the phase of the adoption period, and the types of competing technology. Even though new technology has competitive advantage, it still requires time to acquire market share. Even though fibre-optic is leading in the market, alternative technologies have also garnered significant market share in the early stage. Specifically, HFC has gained its own market position, making it a valuable alternative in the short-term. Nonetheless, the market will eventually converge to fibre-optics. Originality/value (mandatory) Our findings show that inter-platform competition does not always exert positive influence on broadband adoption as indicated in previous literature. Instead, the influence may vary from negative to neural. This information is an important knowledge addition to the literature. Overall, our study has important implications to governmental effort in managing market competitions and in planning national broadband infrastructure policies. It also provides valuable implications on how ISPs should strategize their investment in new broadband technologies.
Article
In response to a recent trend in a TV viewing behavior, the current study examined the role of motives for social TV viewing in public and private communication platforms. Using an online survey, data were collected from college students in the U.S., who engaged in social TV viewing for March Madness, the NCAA men's basketball tournament. Primary findings indicate that the entertainment and communication motives for social TV viewing are stronger in the public platform than in private. Conversely, the social motive is slightly stronger in the private platform than in the public one. Further, in the public platform, the entertainment motive is found to be the strongest motive for social TV viewing; in the private platform, the communication motive is the strongest. Additionally, social presence has a mediation effect on social TV enjoyment.
Article
This study aims to determine the trend of convergence in the television media industry, specifically the implementation of media convergence in Metro TV. Data for the case study were gathered from observations and interviews with journalists. The results showed that the media industry in Indonesia, especially Metro TV has expandedits coverage broadcast, characterized by the use of streaming technology and distributed through online sites. But until now in the Indonesian media industry, especially Metro TV, media convergence has notimplemented an effective system. Media industries affiliated with a group (Media Group) operate independentlyof each other with little coordination. Broadcast media industry in Indonesia is still reluctant to switch to digital broadcasting due to the high costs of replacing the analog broadcasting.
Article
Instagram is a relatively new form of communication where users can instantly share their current status by taking pictures and tweaking them using filters. It has seen a rapid growth in the number of users as well as uploads since it was launched in October 2010. Inspite of the fact that it is the most popular photo sharing application, it has attracted relatively less attention from the web and social media research community. In this paper, we present a large-scale quantitative analysis on millions of users and pictures we crawled over 1 month from Instagram. Our analysis reveals several insights on Instagram which were never studied before: 1) its social network properties are quite different from other popular social media like Twitter and Flickr, 2) people typically post once a week, and 3) people like to share their locations with friends. To the best of our knowledge, this is the first in-depth analysis of user activities, demographics, social network structure and user-generated content on Instagram.
Article
This article investigates how the rise of social media affects European public service broadcasting (PSB), particularly in the United Kingdom and The Netherlands. We explore the encounter of “social” and “public” on three levels: the level of institution, professional practice, and content. After investigating these three levels, we address the more general question of how public broadcasters are coping with the challenges of social media. How can public television profit from the abilities of social media to engage new young audiences (and makers) without compromising public values? And will PSB be able to extend the creation of public value outside its designated space to social media at large? While the boundaries between public and corporate online space are becoming progressively porous, the meaning of “publicness” is contested and reshaped on the various levels of European public broadcasting.
Article
Social TV, a new interactive television service, has been rapidly developing. With the conceptual model of sociability, this study empirically investigates the effects of perceived sociability on the motivations and attitudes toward Social TV. A model is created to validate the relationship of perceived sociality to social presence, usability, and intention. Empirical findings show the key influence of sociability on users’ acceptance and intent to continue using Social TV. Implications of the findings are discussed in terms of building a theory of sociability and providing practical insights into developing a meaningful sociable TV interface.