ArticlePDF Available

Penggambaran Trauma Arima Kousei Dalam Anime Your Lie In April Menggunakan Metode Analitik

Authors:

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud trauma Arima Kousei dalam anime Your Lie in April karya Naoshi Arakawa dengan menggunakan metode analitik. Subjek penelitian ini adalah anime Your Lie in April karya Naoshi Arakawa. Penelitian difokuskan pada permasalahan yang berkaitan dengan masalah trauma kejiwaan yang dialami tokoh utama dengan menggunakan pendekatan psikologi sastra. Data diperoleh dengan teknik simak dan catat. Data yang menjadi objek penelitian yaitu kutipan dan gambar yang menggambarkan wujud trauma kejiwaan Arima Kousei. Lalu teknik yang digunakan pengarang dalam menggambarkan trauma kejiwaan pada tokoh Arima Kousei yaitu menggunakan metode analitik. Metode analitik adalah metode dimana pengarang menggambarkan watak-watak tokoh dengan mendeskripsikan wataknya secara langsung.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Arima Kousei mengalami trauma kejiwaan karena merasa bersalah atas kematian ibunya. Untuk penelitian selanjutnya, jika ingin meneliti karya sastra dari anime Your Lie in April ada baiknya untuk meneliti mengenai psikologis tokoh lain yang terdapat dalam anime tersebut. Bukan hanya cerita dari tokoh utamanya saja yang menonjol karena trauma yang dialaminya, terdapat cerita dari tokoh lainnya juga yang menyimpan kemungkinan permasalahan menarik untuk dijadikan objek penelitian. Kata kunci: karya sastra, psikologi sastra, trauma, anime ABSTRACT This study aims to describe the form of trauma Arima Kousei in the anime Your Lie in April by Naoshi Arakawa using analytical methods. The subject of this research is the anime Your Lie in April by Naoshi Arakawa. The research is focused on problems related to psychiatric trauma problems experienced by the main character by using a literary psychology approach. Data obtained by listening and note techniques. The data that are the object of research are quotes and pictures that illustrate the form of Arima Kousei's psychiatric trauma. Then the technique used by the author in describing psychiatric trauma to the figure of Arima Kousei is using analytic methods. Analytic method is a method in which the author describes the character's character by describing his character directly. The results of the study indicate that Arima Kousei suffered a psychological trauma because he felt guilty for the death of his mother. For further research, if you want to examine the literary works of the anime Your Lie in April it is better to examine the psychological character of other characters contained in the anime. Not only the story of the main character who stands out because of the trauma he experienced, there are stories of other characters who also save the possibility of interesting problems to be the object of research. Keywords: literary works, literary psychology, trauma, anime
Jurnal Program Studi Sastra Jepang
P-ISSN : 2301-5519 | E-ISSN : 2301-5527
8
JANARU SAJA Volume 7 Nomor 1, Mei 2018
JANARU SAJA
Penggambaran Trauma Arima Kousei
Dalam Anime Your Lie In April
Menggunakan Metode Analitik
Indah Angelia Kurnia
Japanese Departement, Universitas Komputer Indonesia
indahangeliakurnia@yahoo.com
ABSTRACT
This study aimed to determine the portrayal of Arima Kousei's trauma in the anime Your Lie in April
by Naoshi Arakawa through analytic methods. Analytic method is a method in which the author
describes the character's character by describing his character directly. This research uses descriptive
analysis method. The data source of this study is the anime Your Lie in April episodes 1 to 11. From the
results of the study it can be seen that the description of Arima Kousei's trauma through analytical
methods is a psychological trauma caused by guilt in the past, namely the death of his mother.
Keywords: trauma, anime, analytic method
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggambaran trauma Arima Kousei dalam anime Your Lie
in April karya Naoshi Arakawa melalui metode analitik. Metode analitik adalah metode dimana
pengarang menggambarkan watak-watak tokoh dengan mendeskripsikan wataknya secara langsung.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis. Sumber data penelitian ini adalah anime Your
Lie in April episode 1 hingga 11. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa penggambaran trauma
Arima Kousei melalui metode analitik adalah trauma kejiwaan yang disebabkan rasa bersalah dimasa
lalu yaitu kematian sang ibu.
Kata kunci: trauma, anime, metode analitik
1 PENDAHULUAN
Febrianty (2016) berpendapat
bahwa karya sastra adalah hasil dari
pemikiran manusia sebagai gambaran
hidup yang didalamnya terkandung
nilai-nilai keindahan, sebagai sarana
hiburan dan dapat memberi pelajaran
hidup kepada pembaca.
Fungsi karya sastra bukan hanya
sebagai bahan bacaan dan hiburan saja,
karya sastra merupakan salah satu
objek untuk penyaluran perasaan, hobi,
bahkan kritikan sosial (Djojosuroto,
2006). Kajian sastra memandang
karya sastra sebagai kegiatan kejiwaan
baik dari sang penulis maupun para
pembacanya
Penelitian sastra itu diperlukan,
karena sastra berkembang sangat cepat
dalam perkembangan ilmu dunia.
Karya-karya sastra sendiri yang umum
yaitu puisi, prosa, drama dan lain-lain.
Hasil karya sastra berupa prosa adalah
novel, cerpen, cerita bergambar atau
lebih dikenal dengan komik atau
manga di Jepang. Karya sastra
berkembang dan bergeser. Karya
Jurnal Program Studi Sastra Jepang
P-ISSN : 2301-5519 | E-ISSN : 2301-5527
9
JANARU SAJA Volume 7 Nomor 1, Mei 2018
JANARU SAJA
sastra bergeser menjadi manga, begitu
juga manga bergeser menjadi anime.
Salah satu anime yang terkenal
adalah anime Your Lie in April karya
Naoshi Arakawa yang diangkat dari
manga.
Your Lie in April menceritakan
tentang seorang pianis bernama Arima
Kousei yang memiliki konflik batin
saat memainkan piano semenjak
kematian ibunya. Hal itu terjadi karena
Arima Kousei mempunyai kenangan
masa kecil yang buruk. Sedari kecil,
Arima Kousei selalu berlatih piano
hingga berjam-jam. Meskipun selalu
menjuarai kompetisi piano, ibunya
tidak menunjukan rasa kepuasan
melihat sang anak menjadi pemenang.
Kala itu, saking kesalnya, terucap
kalimat tak pantas dari Arima Kousei
untuk ibunya “orang sepertimu
(ibunya) sebaiknya mati saja!”. Tidak
lama dari kejadian tersebut, ibunya
benar-benar meninggal. Semenjak
kejadian itu, Arima Kousei tidak dapat
mendengar nada piano yang
dimainkannya dan menyangka bahwa
itu adalah kutukan dari mendiang sang
ibu yang membuat Arima Kousei
mengalami trauma ketika bermain
piano.
Hal inilah yang memunculkan
pertanyaan bagi penulis bagaimana
mengidentifikasi wujud trauma yang
diperlihatkan dari emosi atau tingkah
laku Arima Kousei sebagai tokoh
utama. Banyaknya hal-hal yang
mendorong untuk melakukan
penelitian ini dimana menurut penulis
penelitian ini penting dilakukan,
karena dapat memberikan jawaban
bahwa terdapat gangguan kepribadian
yang diperlihatkan oleh Arima Kousei
dalam anime Your Lie in April.
Penelitian ini dilakukan untuk
mengkaji wujud trauma tokoh utama
dalam anime Shigatsu wa Kimi no Uso,
baik berupa penjelasan secara
langsung maupun tidak langsung.
Dengan melihat wujud trauma yang
diceritakan dalam anime tersebut,
diharapkan dapat memberikan
manfaat pada pembaca, diantaranya
agar lebih mengetahui isu-isu
mengenai trauma dan tindakan yang
seharusnya dilakukan untuk mencegah
hal-hal yang dapat menimbulkan
trauma. Dari hasil penelitian ini akan
memberikan dampak positif bagi
psikologi pembaca dan terdapat pesan
moral yang dapat diambil.
Teori yang digunakan adalah
psikologi abnormal Mendatu. Teori
tersebut mengemukakan kejadian-
kejadian traumatis yang dialami Arima
Kousei dalam anime Your Lie in April
dan digambarkan menggunakan
metode analitik.
Jurnal Program Studi Sastra Jepang
P-ISSN : 2301-5519 | E-ISSN : 2301-5527
10
JANARU SAJA Volume 7 Nomor 1, Mei 2018
JANARU SAJA
Penulis melakukan penelitian
dengan menggunakan pendekatan
psikologi yang berjudul
“Penggambaran Trauma Arima
Kousei dalam Anime Your Lie in April
Menggunakan Metode Analitik”.
2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Trauma
Trauma adalah pengalaman yang
menghancurkan rasa aman dan harga
diri, sehingga menimbulkan luka
psikologis yang sulit untuk
disembuhkan (Supratika, 1995). Jika
seseorang mengalami trauma, maka
rasa aman dan nyaman akan
menghilang dalam menjalani
kehidupannya sehari-hari.
Giller (1999) dalam Safaria dan
Ekasaputra (2009) mengemukakan
bahwa trauma psikologis adalah
pengalaman dari suatu kejadian yang
menyebabkan situasi tidak mampu
untuk mengintegrasikan pengalaman
emosionalnya, pengalaman secara
subjektif yang mengancam hidup
seseorang.
2.1.1 Jenis Trauma
Trauma terbagi menjadi tiga jenis,
yaitu:
1) Trauma Psokologis
Trauma psikologis adalah
cedera psikologis karena
menghadapi peristiwa yang
menekan atau mengancam
hidupnya. Inilah jenis trauma
yang paling sering terjadi.
Penderita yang mengalami
trauma psikologis pun paling
banyak. (Mendatu, 2010)
2) Trauma Fisik
Trauma fisik adalah cedera fisik
yang berbahaya bagi keselamatan,
misalnya seperti pengambilan
ginjal, patah tulang, pendarahan
hebat, putus tangan dan kaki, dan
yang lainnya. Trauma dalam
pengertian ini digunakan dalam
dunia medis.
3) Trauma Post-cult
Trauma post-cult adalah
persoalan emosional berat yang
muncul ketika anggota kelompok
pemujaan (cults) atau gerakan
religius baru karena mengalami
perasaan tidak terlibat atau tidak
tergabung (Mendatu, 2010).
Trauma ini terjadi ketika
seseorang masuk ke dalam
kelompok pemujaan dan tidak
mengalami perasaan terlibat atau
tergabung di dalam kelompok.
Sehingga orang tersebut
merasakan pertentangan di dalam
dirinya antara tetap memilih dan
menyakini kelompoknya atau
keluar dari kelompok karena
Jurnal Program Studi Sastra Jepang
P-ISSN : 2301-5519 | E-ISSN : 2301-5527
11
JANARU SAJA Volume 7 Nomor 1, Mei 2018
JANARU SAJA
tidak sejalan dengan
pemikirannya.
2.1.2 Jenis Peristiwa Trauma
Menurut Mendatu (2010)
peristiwa yang bisa menimbulkan
trauma terdapat beragam jenisnya.
Dibedakan dalam tiga jenis yang
berbeda, yakni trauma impersonal,
trauma interpersonal, dan trauma
kelekatan.
1) Trauma Impersonal
Peristiwa traumatiknya tidak
melibatkan perasaan penderita
dengan orang lain. Kejadiannya
benar-benar bersifat impersonal
bagi penderita. Berikut beberapa
bentuknya, yaitu bencana alam,
bencana yang terkait dengan
manusia dan teknologi, dan
kecelakaan (Mendatu, 2010).
2) Trauma Interpersonal
Trauma interpersonal yaitu
peristiwa traumatiknya melibatkan
perasaan penderita, melibatkan diri
penderita atau orang-orang dekat
penderita, sebagai korban, pelaku,
atau saksi matanya. Berikut adalah
beberapa bentuknya, yaitu sakit atau
cedera yang membahayakan atau
kronis, kekerasan dengan segala
ragam bentuknya, kehilangan atau
kematian orang dekat, dikhianati
oleh orang-orang yang pernah
dipercayai, perang, dan kriminalitas
(Mendatu, 2010).
3) Trauma Kelekatan
Trauma kelekatan atau sering
juga disebut trauma perkembangan
merupakan jenis trauma yang paling
melibatkan perasaan. Trauma ini
muncul ketika peristiwa ditafsirkan
oleh korban akan mengancam
kebutuhannya untuk menjalin
kelekatan dengan orang lain.
Biasanya trauma ini terjadi pada
masa anak-anak. Trauma ini
disebabkan oleh perlakuan salah
satu dari orang-orang dekat korban.
Berikut bentuk peristiwa yang bisa
menimbulkan trauma kelekatan,
yaitu kekerasan fisik dan psikologis
oleh orang dekat, kekerasan seksual
terhadap anak oleh orang dekat,
penolakan terhadap kehadiran anak
atau anak diperlakukan kejam,
diabaikan kebutuhan emosionalnya,
diabaikan kebutuhan fisiknya, dan
secara paksa dipisahkan dengan
orang yang sangat dekat (Mendatu,
2010).
2.2 Psikologi Sastra
Dalam kaitannya dengan sastra,
psikologi merupakan ilmu bantu yang
relevan karena proses pemahaman
terhadap karya sastra dapat diambil
ajaran-ajaran dan kaidah psikologi.
Hal ini didukung oleh pendapat
Jurnal Program Studi Sastra Jepang
P-ISSN : 2301-5519 | E-ISSN : 2301-5527
12
JANARU SAJA Volume 7 Nomor 1, Mei 2018
JANARU SAJA
Atmadja (1986) yang mengemukakan
bahwa hubungan psikologi dan sastra
adalah di satu pihak karya sastra
dianggap sebagai hasil aktivitas dan
ekspresi manusia.
Jadi antara karya sastra dan
psikologi terdapat hubungan timbal
balik, hubungan itu bukanlah
hubungan yang sederhana, namun
merupakan hubungan yang dapat
dipahami. Dari hal tersebut dapat
dikatakan bahwa secara ilmu sastra
dapat berhubungan dengan ilmu
psikologi yang disebut psikologi
sastra.
Psikologi itu sendiri dibagi
menjadi beberapa macam jenis yang
sebagian besar saling berhubungan,
seperti psikologi umum yang
mendalami tingkah laku manusia,
psikologi perkembangan yang
membahas mengenai pembentukan
sifat manusia, hingga psikologi
abnormal yang mempelajari tentang
penyimpangan kebiasaan-kebiasaan
dari seorang manusia pada umumnya.
Fenomena psikologis merupakan
salah satu hal yang paling sering
ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Sisi psikologis tersebut dapat berupa
kehidupan yang menyimpang seperti
trauma, psikopat, seksualitas ataupun
kepribadian-kepribadian yang asing
ditemui dalam kehidupan normal.
Tokoh merupakan salah satu sorotan
utama dalam mengkaji karya sastra
melalui pendekatan psikologi. Hal ini
menyebabkan sastra menjadi bahan
bacaan yang mendapatkan porsi
cukup banyak dibaca dan diteliti oleh
masyarakat.
Meskipun sastrawan jarang
berpikir secara psikologis, namun
karyanya tetap bisa bernuansa
kejiwaan. Hal ini dapat diterima
karena antara sastra dan psikologi
memiliki hubungan lintas yang
bersifat tak langsung, dan fungsional.
Dengan demikian, antara
psikologi dan karya sastra memiliki
hubungan fungsional yaitu sama-sama
berguna sebagai sarana mempelajari
aspek kejiwaan manusia. Bedanya,
gejala kejiwaan yang ada dalam karya
sastra adalah gejala kejiwaan manusia
yang imajiner, sedangkan dalam
psikologi adalah manusia riil.
Meskipun sifat-sifat manusia dalam
karya sastra bersifat imajiner tetapi di
dalam menggambarkan karakter dan
jiwanya, pengarang menjadikan
manusia yang hidup di alam nyata
sebagai model di dalam penciptaanya.
Oleh karena itu, dalam sastra ilmu
psikologi digunakan sebagai salah satu
pendekatan untuk meneladani atau
mengkaji tokoh-tokohnya. Maka,
dalam menganalisis tokoh dalam karya
Jurnal Program Studi Sastra Jepang
P-ISSN : 2301-5519 | E-ISSN : 2301-5527
13
JANARU SAJA Volume 7 Nomor 1, Mei 2018
JANARU SAJA
sastra dan perwatakannya seorang
pengkaji sastra harus berdasarkan pada
teori dan hukum-hukum psikologi yang
menjelaskan perilaku dan karakter
manusia.
Menurut Wellek dan Warren
(1989), psikologi sastra mempunyai
empat kemungkinan penelitian.
Pertama, penelitian terhadap
psikologi pengarang sebagai pribadi.
Kedua, penelitian proses kreatif
dalam kaitannya dengan kejiwaan.
Ketiga, penelitian hukum-hukum
psikologi yang diterapkan pada karya
sastra. Dan yang keempat, penelitian
dampak psikologis teks sastra kepada
pembaca (Wellek dan Warren, 1989).
Pada poin ketiga pendapat Wellek dan
Warren lebih banyak digunakan
dalam meneliti sebuah karya sastra
karena dalam kaitannya dengan
unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh
fiksional yang terkandung dalam
karya. Karya sastra memasukkan
berbagai aspek kehidupan
didalamnya, khususnya manusia.
Aspek-aspek kemanusiaan inilah
yang merupakan objek utama
psikologi sastra pada umumnya sebab
dalam diri manusia yang berperan
sebagai tokoh itulah yang menjadi
aset ditanamkannya aspek kejiwaan
tersebut.
2.3 Anime Sebagai Karya Sastra
Anime merupakan salah satu
bagian dari karya sastra karena
terdapat dua unsur, unsur intrinsik
dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik
yaitu unsur yang membangun karya
sastra itu sendiri, sedangkan unsur
ekstrinsik merupakan unsur yang
berada diluar karya sastra, tetapi
secara tidak langsung mempengaruhi
isi dari karya sastra tersebut.
2.3.1 Unsur Intrinsik
Menurut Mahayana (2006),
unsur intrinsik pada dasarnya sama
dengan analisis struktural. Karya
sastra dianggap mempunyai sejumlah
elemen yang saling berkaitan dan
masing-masing mempunyai fungsi
sendiri.
Unsur intrinsik menurut
Nurgiyantoro (2005), adalah unsur-
unsur yang membangun suatu karya
sastra. Unsur-unsur intrinsik yang
dimaksud yaitu: tokoh dan penokohan,
plot atau alur, latar, tema, gaya, sudut
pandang, dan amanat.
Peristiwa dalam karya fiksi sama
halnya dengan peristiwa dalam
kehidupan sehari-hari, selalu diemban
oleh pelaku atau tokoh. Pelaku yang
mengemban peristiwa didalam suatu
cerita fiksi yang mampu menjalin
suatu cerita disebut dengan tokoh.
Sedangkan cara pengarang
Jurnal Program Studi Sastra Jepang
P-ISSN : 2301-5519 | E-ISSN : 2301-5527
14
JANARU SAJA Volume 7 Nomor 1, Mei 2018
JANARU SAJA
menampilkan seorang pelaku atau
tokoh disebut dengan penokohan
(Aminuddin, 1987).
Nurgiyantoro (2000)
menyatakan bahwa secara garis besar
ada dua cara teknik pelukisan tokoh
dalam suatu karya sastra:
1) Teknik Analitik
Pelukisan tokoh cerita dilakukan
dengan memberi deskripsi, uraian
atau penjelasan secara langsung.
Tokoh cerita dihadirkan oleh
pengarang kepada pembaca secara
tidak berbelit-belit, melainkan begitu
saja dan langsung disertai deskripsi
kediriannya, yang mungkin berupa
sikap, sifat, watak, tingkah laku, atau
bahkan juga ciri fisiknya.
2) Teknik Dramatik
Penampilan tokoh cerita dalam
teknik dramatik, artinya mirip
dengan yang ditampilkan pada
drama, dilakukan secara tidak
langsung. Artinya, pengarang tidak
mendeskripsikan secara eksplisit
sifat dan sikap serta tingkah laku
tokoh. Pengarang membiarkan para
tokoh cerita untuk menunjukkan
kediriannya sendiri melalui berbagai
aktivitas yang dilakukan, baik secara
verbal lewat kata maupun nonverbal
lewat tindakan atau tingkah laku dan
juga melalui peristiwa yang terjadi.
Metode dramatik mencakup
tujuh varian yaitu teknik cakapan,
teknik arus kesadaran, teknik
perbuatan tokoh, teknik pandangan
tokoh lain, teknik pikiran tokoh, dan
teknik pelukisan perasaan tokoh, dan
teknik pelukisan latar tempat.
2.3.2 Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur-
unsur yang berada diluar karya
sastra. Tetapi secara tidak langsung
mempengaruhi sistem organisme
karya sastra. Unsur ekstrinsik dapat
dikatakan sebagai unsur yang
mempengaruhi cerita sebuah karya
sastra namun tidak ikut menjadi
bagian didalamnya. Namun, unsur
ekstrinsik berpengaruh terhadap
totalitas cerita yang dihasilkan.
3 METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini penulis
menggunakan pendekatan psikologi
sastra, karena penelitian ini berkaitan
dengan kajian trauma yang dialami
tokoh dalam sebuah karya sastra.
Metode merupakan kegiatan
ilmiah yang berkaitan dengan suatu
cara kerja (sistematis) untuk
memahami suatu subjek atau objek
penelitian, sebagai upaya untuk
menemukan jawaban yang dapat
dipertanggung jawabkan secara ilmiah
Jurnal Program Studi Sastra Jepang
P-ISSN : 2301-5519 | E-ISSN : 2301-5527
15
JANARU SAJA Volume 7 Nomor 1, Mei 2018
JANARU SAJA
dan termasuk keabsahannya (Ruslan,
2003). Metode yang digunakan untuk
penelitian ini deskriptif analisis.
Sumber data penelitian ini adalah
anime Your Lie in April episode 1
hingga 11. Data yang diambil berupa
kutipan yang berkaitan dengan teori
trauma dan karakterisasi dalam anime
Your Lie in April.
4 HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian mengenai wujud
trauma dalam anime ini
menggunakan pendekatan psikologi
sastra. Hasil penelitian yang ada
selanjutnya ditampilkan dengan
kutipan yang diambil dalam anime
Your Lie in April. Kutipan-kutipan
tersebut menunjukkan bentuk trauma
yang diterima tokoh utama dalam
anime Your Lie in April dengan
menggunakan metode analitik.
Dalam anime Your Lie in April,
Naoshi Arakawa selaku pengarang
menggunakan metode analitik untuk
menggambarkan trauma kejiwaan
pada tokoh Arima Kousei.
Metode ini juga dipakai oleh
pengarang untuk menunjukkan
karakteristik Arima Kousei yang
terdapat dalam kutipan 1 sebagai
berikut.
Kutipan 1
椿 : 美和が言ってよ「彼と出会
った瞬間私の人生が変わっ
たの」
椿 :「見るもの聞くもの感じるも
の私の風景全部が色づき
めたの」って
公生 : でも。。。僕には。。。僕
にはモノトーンに見える
公生 : 譜面のように鍵盤のように
Tsubaki : Miwa ga itte yo“kare to
deatta shunkan watashi no
jinsei ga kawatta no”
Tsubaki : “Miru mono kiku mono
kanjiru mono watashi no
fūkei zenbu ga iro dzuki
hajimeta no” tte
Kousei : Demo... boku ni wa... boku ni
wa monotōn ni mieru
Kousei : Fumen no youni kenban no
youni
Tsubaki : “Miwa berkata “Saat aku
bertemu dengannya,
hidupku berubah” ”
Tsubaki : “Semua yang kulihat, semua
yang kudengar, semua
yang kurasakan, segala hal
disekitarku mulai berwarna”
Kousei : “Tapi.. bagiku.. bagiku dunia
ini justru terlihat monoton”
Jurnal Program Studi Sastra Jepang
P-ISSN : 2301-5519 | E-ISSN : 2301-5527
16
JANARU SAJA Volume 7 Nomor 1, Mei 2018
JANARU SAJA
Kousei : “Seperti catatan not, seperti
tuts piano”
(Anime Your Lie in April Episode
1, 09:39-10:05)
Berdasarkan kutipan 1, pengarang
menggambarkan secara langsung
sosok Kousei memiliki kehidupan
yang membosankan. Dilihat dari
kalimat “..bagiku semuanya terlihat
monoton”, dari kalimat tersebut
dijelaskan bahwa kehidupan sehari-
hari Kousei tampak monoton.
Kehidupannya tidak seindah dan
berwarna seperti teman-temannya.
Seperti tuts piano, yang identik dengan
warna hitam dan putih. Begitu pula
dengan kehidupan yang Kousei jalani
saat ini.
Pengarang juga secara gamblang
menggambarkan perasaan Kousei
yang membenci piano dan berduka
akibat ditinggal mati oleh ibunya,
ditunjukkan dalam kutipan 2 sebagai
berikut.
Kutipan 2
公生 : いよいよヨーロッパのコン
クールを視野に入れた 3
, 母が死んだ
公生 : ピアノは嫌いだ
公生 : それでもしがみついている
のはきっと。。僕には何も
ないから
公生 : ピアノを除けば僕は空っぽ
で。。不細工な余韻しか残
らない
Kousei : Iyo iyo Eropa Concour wo
shiya ni ireta 3 nen mae,
haha ga shinda
Kousei : Piano wa kirai da
Kousei : Sore demo shigami tsuiteiru
no wa kitto.. boku ni wa nani
mo nai kara
Kousei : piano wo nozokeba boku wa
karappo de.. busaiku na
yoinshika nokoranai
Kousei : “Tiga tahun lalu, justru saat
aku sedang bersiap
menghadapi kompetisi piano
di Eropa, ibu meninggal
dunia”
Kousei : “Aku membenci piano”
Kousei : “Tapi aku tetap tidak bisa
lepas dari piano.. soalnya,
aku tidak punya apa-apa lagi”
Kousei : “Kalau piano juga direbut, aku
akan merasa hampa.. yang
tersisa hanya kenangan pahit”
(Anime Your Lie in April Episode 1,
13:56-14:09)
Jurnal Program Studi Sastra Jepang
P-ISSN : 2301-5519 | E-ISSN : 2301-5527
17
JANARU SAJA Volume 7 Nomor 1, Mei 2018
JANARU SAJA
Dalam kutipan 2, dengan jelas
diceritakan bahwa Kousei mengalami
trauma sehingga membuatnya
membenci piano. Pada saat akan
mengikuti kompetisi piano, sang ibu
meninggal dunia. Hal tersebut lah
yang membuat Kousei menyimpan
duka yang mendalam akibat ditinggal
mati oleh ibunya, Saki.
Meskipun Kousei membenci
piano, namun ia tidak bisa lepas dari
piano. Piano sudah ada di dalam diri
Kousei. Dari kutipan tersebut
dijelaskan secara langsung terdapat
pertentangan batin di dalam diri
Kousei yang digambarkan langsung
oleh pengarang.
Kutipan 3
公生 : 聞こえないのは僕の演奏す
るピアノの音だけ
公生 : これは罰
公生 : 指が鍵盤を叩く音も鍵盤が
沈む音も聞こえるのに自
分の音だけが聞こえない
公生 : きっとこれは罰なんだ
カオリ : 甘ったれんな~!
Kousei : Kikoenai no wa boku no
ensou suru piano no oto dake
Kousei : Kore wa batsu
Kousei : Yubi ga kenban wo tataku oto
mo kenban ga shizumu oto mo
kikoeru no ni jibun no oto
dake ga kikoenai
Kousei : Kitto kore wa bachi nanda
Kaori : Amattaren na~!
Kousei : “Hanya suara dari permainan
piano ku yang tak bisa
kudengar”
Kousei : “Ini hukuman”
Kousei : “Meskipun aku bisa
mendengar suara jariku yang
menekan tuts, dan juga suara
tuts yang kutekan, hanya suara
dari nada yang kumainkan itu
sama sekali tak bisa kudengar”
Kousei : “Sudah pasti ini hukuman”
Kaori : “Jangan cengeng~!”
(Anime Your Lie in April Episode 3,
07:20-07:39)
Dari kutipan 3 juga dijelaskan
secara langsung bahwa Kousei
mengatakan jika dirinya tidak dapat
mendengar suara piano yang ia
mainkan. Kousei menganggap itu
adalah hukuman yang ia terima.
Pengarang menggambarkan secara
langsung kendala yang Kousei hadapi
saat ia memainkan piano. Kendala
tersebut adalah Kousei yang tidak
dapat mendengar nada piano yang
hanya ia mainkan.
Jurnal Program Studi Sastra Jepang
P-ISSN : 2301-5519 | E-ISSN : 2301-5527
18
JANARU SAJA Volume 7 Nomor 1, Mei 2018
JANARU SAJA
5 KESIMPULAN
Penggambaran trauma yang
dialami tokoh Arima Kousei
berdasarkan metode analitik yaitu
pelukisan tokoh cerita dilakukan
dengan memberi deskripsi, uraian atau
penjelasan secara langsung oleh
pengarang adalah bahwa Arima
Kousei mengalami trauma kejiwaan
karena merasa bersalah atas kematian
ibunya. Karena pada saat Arima
Kousei mengucapkan kalimat penuh
amarah yang mengatakan jika ibunya
meninggal itu lebih baik, pada esoknya
pula sang ibu meninggal dunia.
Kejadian tersebut terjadi saat Arima
Kousei selesai mengikuti kompetisi
piano, karena Arima Kousei
melakukan beberapa kesalahan kecil
yang disadari oleh ibunya. Di tempat
umum sang ibu memarahi, membentak,
hingga memukul kepala Arima Kousei
dengan tongkat hingga berdarah.
Karena mendapat perlakuan seperti
itulah yang membuat Arima Kousei
mengeluarkan semua perasaan kepada
ibunya yang sudah lama ia pendam
hingga melontarkan kalimat yang ia
sesali sampai saat ini.
6 REFERENSI
Atmadja, J. 1986. Notasi Tentang
Karya sastra Dan Semiotika
Sastra. Ende: Nusa Indah.
Djojosuroto, K. 2006. Analisis Teks
Sastra dan Pengajarannya.
Yogyakarta: Pustaka.
Febrianty, F. 2016. Representasi
Samurai Sebagai Kelas Atas
Dalam Stratifikasi Sosial
Masyarakat Jepang Di Zaman
Edo Dalam Novel Tokaido Inn
Karya Dorothy Dan Thomas
Hoobler. Bandung: Majalah
Ilmiah UNIKOM.
Mahayana, S. M. 2006. Bermain
Dengan Cerpen: Apresiasi dan
Kritik Cerpen Indonesia.
Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Mendatu, A. 2010. Pemulihan Trauma;
Strategi Penyembuhan Trauma
untuk Diri Sendiri, Anak dan
Orang Lain di Sekitar Anda.
Yogyakarta: Panduan.
Nurgiyantoro, B. 2000. Teori
Pengkajian Fiksi. Yogyakarta:
Gajah Mada University Press.
Ruslan, R. 2003. Metode Penelitian PR
dan Komunikasi. Jakarata: PT.
Raja Grafindo Persada.
Jurnal Program Studi Sastra Jepang
P-ISSN : 2301-5519 | E-ISSN : 2301-5527
19
JANARU SAJA Volume 7 Nomor 1, Mei 2018
JANARU SAJA
Safaria, Triantoro dan Ekasaputra, N.
2009. Manajemen Emosi Sebuah
Panduan Cerdas Bagaimana
Mengelola Emosi Positif dalam
Hidup Anda. Jakarta: Bumi
Aksara.
Supratika, A. 1995. Mengenal Perilaku
Abnormal. Yogyakarta:
Kanisius.
Wellek, R., dan Warren, A. 1989.
Teori Kesusastraan. Jakarta:
Gramedia.
ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication.
Notasi Tentang Karya sastra Dan Semiotika Sastra
  • J Atmadja
Atmadja, J. 1986. Notasi Tentang Karya sastra Dan Semiotika Sastra. Ende: Nusa Indah.
Analisis Teks Sastra dan Pengajarannya
  • K Djojosuroto
Djojosuroto, K. 2006. Analisis Teks Sastra dan Pengajarannya. Yogyakarta: Pustaka.
Bermain Dengan Cerpen: Apresiasi dan Kritik Cerpen Indonesia
  • S M Mahayana
Mahayana, S. M. 2006. Bermain Dengan Cerpen: Apresiasi dan Kritik Cerpen Indonesia.