ArticlePDF Available

Perencanaan dan Analisis Fronthaul Microwave Menggunakan Spektrum Frekuensi 71 Ghz untuk Radio Access Network dengan Metode Drive Test 4G LTE [Planning and Analysis of Fronthaul Microwave Using Spectrum Frequency 71 GHz for Radio Access Network]

Authors:
  • institut teknologi telkom purwokerto

Abstract

Di Indonesia, tidak semua daerah telah terintegrasi oleh jaringan 4G LTE dengan baik, sehingga memerlukan perencanaan 4G LTE yang tepat. Penelitian ini melakukan perancangan penambahan eNodeB baru dengan metode fronthaul microwave 4G LTE, dengan tujuan untuk memperbaiki bad coverage pada suatu area melalui peningkatan coverage dan kapasitas jaringan. Link fronthaul menggunakan frekuensi 71 GHz, penempatannya dengan menggunakan metode drive test untuk mencari bad coverage di Purwokerto Utara, Purwokerto Barat, dan Purwokerto Selatan. Hasil dari penentuan daerah bad coverage kemudian dibuat site hop berdasarkan site existing terdekat dengan daerah bad coverage tersebut. Dari hasil simulasi menggunakan Atoll 3.3.0, rata-rata kenaikan RSRP setelah ditambahkan fronthaul RSRP-nya, -91,7 dBm, naik 20%, dan CINR sebesar 13,95 dB, kenaikan sebesar 12%. Sedangkan untuk throughput, mengalami kenaikan setelah ditambahkan fronthaul, rata-rata menjadi 90,75 Mbps, dari 52,12 Mbps, naik 72%. Untuk simulasi link fronthaul microwave 71 GHz, level daya terima saat tidak terjadi hujan, sebesar rata-rata RSL -27,52 dBm, dan pada saat hujan, RSL turun, -58,17 dBm, dari ambang batas minimum -48 dBm. Untuk keandalan sistem, mendapat annual multipath availability pada 6 hop sebesar 99,999%, akan tetapi pada annual rain, availability rata-rata sebesar 99,90%. In Indonesia, not all regions have been integrated by the 4G LTE network, so it needs the optimal 4G LTE Planning. In this study, we plan the new eNodeB with fronthaul microwave 4G LTE method to solve the bad coverage problem in certain area by increasing coverage and capacity network with this method. The fronthaul links uses 71 GHz frequency and the placement of this link uses the drive test method to look for bad coverage in the North Purwokerto, West Purwokerto, and South Purwokerto. The results of the bad coverage were then used as a hopping site based on the site closest to the area's bad coverage. From the simulation results using Atoll 3.3.0, the average RSRP increases after fronthaul RSRP added, -91.7 dBm, up 20%, and CINR by 13.95 dB, rose by 12%. While for throughput, increased after adding fronthaul, on average to 90.75 Mbps, from 52.12 Mbps, up 72%. For the 71 GHz fronthaul microwave link simulation, the level of receiving power when there is no rain, RSL -27.52 dBm on average, and when it rains, RSL drops, -58.17 dBm, from the minimum threshold of -48 dBm. For system feasibility, the availability of annual multipath at six hops is 99.999%, but on average annual rainfall, availability is 99.90%.
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol. 17 No.1 (2019): 4760
DOI: 10.17933/bpostel.2019.170104 47
Perencanaan dan Analisis Fronthaul Microwave
Menggunakan Spektrum Frekuensi 71 Ghz untuk Radio
Access Network dengan Metode Drive Test 4G LTE
Planning and Analysis of Fronthaul Microwave Using
Spectrum Frequency 71 GHz for Radio Access Network
with Drive Test Method 4G LTE
Firmansyah Pandu Wibawa1, Muntaqo Alfin Amanaf 2, Ade Wahyudin3
1,2Institut Teknologi Telkom Purwokerto
1,2Jl. D. I. Panjaitan No. 128, Purwokerto, Jawa Tengah 53147, Indonesia
3Sekolah Tinggi Multi Media
3Jl. Magelang KM. 6, Sleman, DI Yogyakarta
email: 1firmansyahpanduw@gmail.com, 2muntaqo@ittelkom-pwt.ac.id, 3adew001@kominfo.go.id
INFORMASI ARTIKEL A B S T R A C T
Diterima 25 Januari 2019
Direvisi 16 Juni 2019
Disetujui 21 Juni 2019
Keywords:
Fronthaul
BBU
RRH
Receive Signal Level
Microwave
In Indonesia, not all regions have been integrated by the 4G LTE network, so it
needs the optimal 4G LTE Planning. In this study, we plan the new eNodeB
with fronthaul microwave 4G LTE method to solve the bad coverage problem
in certain area by increasing coverage and capacity network with this method.
The fronthaul links uses 71 GHz frequency and the placement of this link uses
the drive test method to look for bad coverage in the North Purwokerto, West
Purwokerto, and South Purwokerto. The results of the bad coverage were then
used as a hopping site based on the site closest to the area's bad coverage.
From the simulation results using Atoll 3.3.0, the average RSRP increases after
fronthaul RSRP added, -91.7 dBm, up 20%, and CINR by 13.95 dB, rose by
12%. While for throughput, increased after adding fronthaul, on average to
90.75 Mbps, from 52.12 Mbps, up 72%. For the 71 GHz fronthaul microwave
link simulation, the level of receiving power when there is no rain, RSL -27.52
dBm on average, and when it rains, RSL drops, -58.17 dBm, from the minimum
threshold of -48 dBm. For system feasibility, the availability of annual
multipath at six hops is 99.999%, but on average annual rainfall, availability is
99.90%.
A B S T R A K
Kata kunci :
Fronthaul
BBU
RRH
Level Daya Terima
Microwave
Di Indonesia, tidak semua daerah telah terintegrasi oleh jaringan 4G LTE
dengan baik, sehingga memerlukan perencanaan 4G LTE yang tepat. Penelitian
ini melakukan perancangan penambahan eNodeB baru dengan metode
fronthaul microwave 4G LTE, dengan tujuan untuk memperbaiki bad coverage
pada suatu area melalui peningkatan coverage dan kapasitas jaringan. Link
fronthaul menggunakan frekuensi 71 GHz, penempatannya dengan
menggunakan metode drive test untuk mencari bad coverage di Purwokerto
Utara, Purwokerto Barat, dan Purwokerto Selatan. Hasil dari penentuan daerah
bad coverage kemudian dibuat site hop berdasarkan site existing terdekat
dengan daerah bad coverage tersebut. Dari hasil simulasi menggunakan Atoll
3.3.0, rata-rata kenaikan RSRP setelah ditambahkan fronthaul RSRP-nya, -91,7
dBm, naik 20%, dan CINR sebesar 13,95 dB, kenaikan sebesar 12%.
Sedangkan untuk throughput, mengalami kenaikan setelah ditambahkan
fronthaul, rata-rata menjadi 90,75 Mbps, dari 52,12 Mbps, naik 72%. Untuk
simulasi link fronthaul microwave 71 GHz, level daya terima saat tidak terjadi
hujan, sebesar rata-rata RSL -27,52 dBm, dan pada saat hujan, RSL turun, -
58,17 dBm, dari ambang batas minimum -48 dBm. Untuk keandalan sistem,
mendapat annual multipath availability pada 6 hop sebesar 99,999%, akan
tetapi pada annual rain, availability rata-rata sebesar 99,90%.
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol. 17 No.1 (2019): 4760
48
1. Pendahuluan
Sudah beberapa operator yang melayani jaringan 4G di kecamatan Purwokerto, seperti operator
Telkomsel, Indosat Ooredoo, XL Axiata, H3I, dan Smartfren. Terdapat beberapa titik yang sudah tersedia
jaringan 4G, namun memiliki layanan 4G LTE yang buruk, yang menyebabkan bad coverage. Untuk
itulah, dibuat perencanaan jaringan baru untuk menunjang layanan yang tersedia. Jaringan tersebut
sebenarnya belum dikembangkan di Indonesia, akan tetapi di negara-negara maju lainnya, fronthaul
microwave sudah diterapkan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui parameter apa saja yang
dibutuhkan untuk membuat fronthaul dan mengetahui kelayakan fronthaul microwave frekuensi 71 GHz
dengan redaman yang dihasilkan pada daerah perencanaan. Fronthaul diciptakan untuk membuat
terobosan baru menggunakan arsitektur C-RAN. Dengan adanya fronthaul, dapat mengatasi area bad
coverage dengan meningkatkan kapasitas dan throughput. Selain itu, fronthaul digunakan untuk
mengurangi nilai dari biaya CAPEX dan OPEX, di mana biaya tersebut merupakan biaya terbesar dari
suatu jaringan seluler, seperti biaya pengadaan perangkat pada shelter dan maintenance perangkat setiap
eNodeB-nya. Dengan adanya fronthaul, maka hanya menggunakan satu BBU saja, sehingga dapat
mengurangi biaya CAPEX dan OPEX sebesar 40%. Penelitian kali ini menggunakan dua software, yaitu
Atoll 3.3.0 untuk menghitung dari sisi coverage dan capacity, serta software Pathloss 5.0 untuk
menghitung link fronthaul microwave.
Penelitian yang dilakukan oleh Aleksandra Cheko Henrik Lehnman Crsitansen, Ying Yan, Lara
Scolari, membahas mengenai Cloud Ran For Mobile Network tahun 2014, yakni bagaimana gambaran
secara rinci untuk arsitektur seluler yang akan datang, yang disebut dengan CRAN, di mana CRAN
mempunyai potensi untuk mengurangi biaya penyebaran jaringan dengan penambahan sel dan biaya
operasional lain, sehingga mampu meningkatkan sistem, mobilitas, dan kinerja cakupan atau penambahan
cakupan, serta dapat mengefisiensikan daya yang digunakan, di mana untuk penggunaan fiber optik
sebagai transmisi dari BBU ke RRH, dapat menampung kapasitas link satu channel mencapai 40 Gbps.
Sedangkan jika transmisi fronthaul menggunakan microwave, biasanya mencapai 2,5 Gbps, dengan
catatan, untuk penggunaan fronthaul microwave menggunakan frekuensi tinggi (E-Band), yaitu 70 GHz
sampai 80 GHz, tergantung perangkat yang digunakan dan modulasi serta bandwidth yang digunakan
untuk menampung kapasitas yang besar (Lehrmann et al., 2014).
Penelitian yang dilakukan Muhammad Hawary pada tahun 2018 membahas mengenai Perencanaan
dan Analisa Fronthaul Fiber Optik untuk Komunikasi Radio pada Jaringan LTE. Penelitian ini dilakukan
di kota Pekanbaru, di mana sebagai transport untuk transmisi fronthaul dari base band unit (BBU) ke
remote radio head (RRH), menggunakan kabel fiber optik. Perangkat fiber optik yang digunakan memiliki
spesifikasi yang sesuai digunakan untuk transmisi fronthaul fiber optic, sehingga mampu menghasilkan
loss kabel yang kecil, dan perangkat yang digunakan adalah kabel jenis SMF dan NZDF. Parameter yang
diukur pada penelitian ini adalah dengan membandingkan dua jenis kabel dengan melihat parameter level
daya terima, Q factor, dan BER, di mana untuk hasil simulasi parameter level daya terima menghasilkan
rata-rata -12 dBm sampai -18 dBm, untuk BER adalah rata-rata 14,45 × 10-35 sesuai dengan daya kirim,
sehingga pada penelitian ini, dari parameter yang telah dianalisis, maka kabel yang mendapatkan performa
terbaik dalam perencanaan fronthaul fiber optik adalah NZSDF (Hawary et al., 2018).
2. Tinjauan Pustaka
2.1. Fronthaul
Fronthaul merupakan media transport jaringan radio akses network pada seluler untuk
menghubungkan base station dengan antena sektoral berdasarkan pusat controller-nya. Jadi controller
yang dimaksud di sini adalah suatu microwave RTN-380, yakni generasi ke-2 dari microwave E-band
outdoor. Fronthaul ini menggunakan arsitektur C-RAN, yang kemungkinan dapat berbagi sumber daya,
seperti untuk akses seluler dengan arsitektur seperti Gambar 1 (Bartelt et al., 2015). Pada implementasi di
kota Zhuhai, pada jaringan TD-SCDMA menunjukkan adanya efisiensi biaya dan fleksibilitas instalasi,
Perencanaan dan Analisis Fronthaul Microwave Menggunakan Spektrum...( Firmansyah Pandu Wibawa,Muntaqo Alfin Amanaf,Ade Wahyudin )
49
dan lebih hemat dalam penggunaan energi pada jaringan fronthaul, sehingga dapat mengurangi biaya
CAPEX dan OPEX sebesar 53% dan 30% masing-masing untuk sel baru pada penggunaan arsitektur C-
RAN (Susanto and Hartono, 2017).
Gambar 1. Arsitektur Fronthaul pada Jaringan LTE (Bartelt et al., 2015)
2.2. Base Band Unit (BBU)
BBU merupakan sebuah perangkat yang berisi port-port yang digunakan untuk menyambung semua
perangkat yang terdapat pada sisi base transceiver station (BTS). BBU juga memproses baseband dalam
sistem telekomunikasi yang berfungsi sebagai pusat kerja dari suatu BTS itu sendiri, yang merupakan
prosesor untuk mengatur masuk dan keluarnya suatu data, fungsi cooler, alarm, dan penggunaan frekuensi
(Susanto and Hartono, 2017).
2.3. Remote Radio Head (RRH)
RRH merupakan transceiver radio jarak jauh yang langsung terhubung ke unit base station radio
melalui interface listrik atau nirkabel. RRH disebut remote karena biasanya dipasang di lokasi tower top,
yang secara fisik agak jauh dari perangkat keras base station yang dipasang di lokasi rak indoor dalam
suatu teknologi sistem nirkabel, seperti GSM, CDMA, UMTS, dan LTE. Peralatan ini akan digunakan
untuk memperluas cakupan BTS, NodeB, atau eNodeB, seperti daerah perdesaan dan perkotaan. RRH
biasanya terhubung melalui kabel serat optik dengan menggunakan protokol common public radio
interface (CPRI) (Susanto and Hartono, 2017).
2.4. Transmisi Microwave
Microwave merupakan bentuk dari pancaran radio yang ditransmisikan dengan melalui udara, serta
diterima dengan menggunakan peralatan semacam antena yang berbentuk bundar, dan biasanya dipasang
di gedung yang tinggi atau tower. Sinyal microwave tidak dapat diblok oleh gedung atau lembah. Untuk
melakukan transmisi, harus dihindari adanya penghalang atau kemiringan bumi. Agar posisi antargedung
tidak terhalang, maka diperlukan menara untuk menempatkan antena lebih tinggi lagi, agar tetap dalam
posisi line of sight (LOS) (Wahyudin, Hikmaturokhman, and S. Alia, 2017).
Kelebihan menggunakan microwave:
a. Jangkauan yang luas untuk komunikasi point to point;
b. Instalasi yang mudah dan waktu yang dibutuhkan untuk penggelaran jauh lebih cepat dibandingkan
fiber optic;
c. Data rate tinggi;
d. Dapat menggunakan frekuensi unlicensed band dalam propagasinya di udara (Wahyudin and
Hikmaturokhman, 2018).
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol. 17 No.1 (2019): 4760
50
3. Metode Penelitian
3.1. Perhitungan Coverage
Perencanaan berdasarkan cakupan atau planning by coverage adalah metode yang digunakan untuk
melakukan estimasi jumlah eNodeB berdasarkan cakupannya, dengan memperhatikan kualitas yang
diterima oleh cell edge. Untuk membuat planning coverage, hal yang paling utama dilakukan adalah
perhitungan link budget, yang berguna untuk mendapatkan hasil prediksi nilai MAPL antara transmitter
dengan receiver pada sisi uplink dan downlink (Forconi and Vaser, 2015).
3.1.1. Model Propagasi Cost-231 Hata
Tabel 1. Parameter Link Budget LTE Frekuensi 1800 Mhz (Motorola, 2011)
Downlink Link Budget
Transmitter-EnodeB
Satuan
Nilai
Kalkulasi
Tx Power
dBm
46
a
Tx Antenna Gain
dBi
18
b
Cable Loss
dB
2
c
EIRP
dBm
62
d=a+b-c
Receiver-UE
UE Noise Figure
dB
7
e
Thermal Noise
dB
-173,844
f=kT
SINR
dB
11
g
Bandwidth System
71,30334
h=15*12*75*1000
Receiver Sensitivity
dBm
-84,5412
i=e+f+g+h
Interference Margin
dB
4
j
Rx Antenna Gain
dBi
0
k
Body Loss
dB
0
l
MAPL
dB
142,5412
n=d-i-j-k+l
Model propagasi cost-231 Hata adalah model propagasi yang digunakan pada daerah outdoor. Pada
perencanaan ini, pemodelannya menggunakan frekuensi 1800 Mhz. Untuk dapat menghitung model
propagasi, dapat menggunakan persamaan sebagai berikut:
Lurban = 46,3+ 33,9log(f) 13,82 log (hte) a(hre) + (44,9 6,55 log (hte)) log d + CM………………..1)
Sedangkan untuk mencari nilai a(hm), dapat menggunakan persamaan 2:
a(hre) = (1,1 log(f) 0,7) x hre (1,58 log (f) 0,8)) ……………………………………………….……..2)
Dengan :
f : frekuensi yang dimulai dari 150 Mhz hingga 2000 Mhz
hte : Tinggi efektif eNodeB berdasarkan kisaran 30 m hingga 200 m
hre : Tinggi efektif antena UE dari 1 m sampai 10 m
d : Jarak antar EnodeB dengan UE (km)
CM : 0 dB digunakan untuk ukuran medium kota dan daerah suburban
CM : 3 dB digunakan untuk daerah pusat kota (metropolitan)
3.2. Perhitungan Capacity
Perencanaan kapasitas merupakan tahapan awal dalam perencanaan kapasitas yang bertujuan untuk
menentukan cell radius dan mengestimasi jumlah eNodeB yang diperlukan (Huawei, 2011).
Perencanaan dan Analisis Fronthaul Microwave Menggunakan Spektrum...( Firmansyah Pandu Wibawa,Muntaqo Alfin Amanaf,Ade Wahyudin )
51
3.2.1. Forecasting Jumlah Pelanggan
Forecasting adalah metode awal yang digunakan untuk mengetahui dan juga memprediksi jumlah
pelanggan yang akan menggunakan layanan, terutama layanan LTE pada suatu daerah pada beberapa tahun
yang akan datang (Parindra, 2015). Metode forecasting ini menggunakan persamaan 3.
Un = Uo x (1+Fp)N………………………………………….......3)
dengan:
Un : jumlah pelanggan pada tahun ke-n
Uo : jumlah pelanggan pada tahun acuan
Fp : faktor pertumbuhan pelanggan
N : tahun yang akan diprediksi
3.2.2. Single User Throughput (SUT)
SUT merupakan hasil penjumlahan semua throughput setiap layanan saat kondisi jam sibuk yang
digunakan pada satu user. SUT didapatkan berdasarkan traffic model dan service model (Huawei, 2011).
SUT = ………………………………………4)
dengan :
Busy Hour Session Attempt (BHSA) : Untuk setiap user
Penetration Rate : Proporsi dari tipe layanan
Peak to Average Ratio (PAR) : Persentase lonjakan traffic
3.600 : Jumlah detik dalam satu jam
3.2.3. Perhitungan Network Throughput
Network throughput didapatkan dari service model dan data jumlah user yang digunakan pada daerah
perencanaan. Network throughput adalah total yang didapatkan dari throughput demand yang dibutuhkan
untuk dapat melayani seluruh user pada wilayah perencanaan (Huawei, 2011).
Network Throughput = total target user x single user throughput .......................................5)
3.2.4. Perhitungan Cell Throughput
Cell throughput biasa disebut cell capacity, yang merupakan suatu cell yang dapat menangani
kapasitas secara maksimal. Untuk menghitung cell throughput, dapat mengacu modulasi dan code rate
yang digunakan (Huawei, 2011).
DL Throughput cell + CRC = (168 36- 12) × code bits × code rate × Nrb × C × 1000……….…6)
di mana:
CRC : 24
168 : jumlah resource element (RE) dalam 1 ms
36 : jumlah resource control channel RE dalam 1 ms
12 : jumlah reference signal RE dalam 1 ms
24 : jumlah reference signal RE dala 1 ms pada uplink
Code bits : modulation Efficiency
Code rate : channel coding rate
Nrb : jumlah resource block yang digunakan
C : mode antena MIMO
3.2.5. Perhitungan Jumlah Site
Untuk menentukan total site yang dibutuhkan, maka terlebih dahulu menghitung total jumlah cell
yang didapatkan (Huawei, 2011).
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol. 17 No.1 (2019): 4760
52
………………………………………...7)
………………………………………….8)
3.3. Perhitungan Link Budget Fronthaul Microwave
Untuk menentukan link budget fronthaul microwave, maka dibutuhkan perencanaan sesuai parameter
yang terdapat pada microwave, sehingga tercipta suatu line of sight yang diharapkan sesuai dengan
ketentuan. Oleh karena itu, dibutuhkan perhitungan sebagai berikut (Wahyudin, Temmerman Simanihuruk,
and Hikmaturokhman, 2018):
3.3.1. Jalur Transmisi Microwave
Jarak antar-BTS dapat dihitung dengan cara menentukan posisi nominal dua titik pada garis bumi dan
menghitung jaraknya. Letak nominal titik biasanya dinyatakan dalam garis lintang dan garis bujurnya
(Wahyudin, Temmerman Simanihuruk, and Hikmaturokhman, 2018).
…………………….………...…9)
3.3.2. Gain Antena
Gain antenna mengukur kemampuan dengan mengirimkan gelombang ke arah yang akan dituju
(Wahyudin and Hikmaturokhman, 2018).
G = 20 log f + 20 log d+ 10 log η + 20,4…………………………………….10)
di mana:
G : gain/penguatan antena (dB)
η : efisiensi antena (%)
d : diameter antena (m)
f : frekuensi kerja (GHz = Hertz yang sudah dikonversi ke 109)
3.3.3. Free Space Loss (FSL)
FSL merupakan redaman yang ada sepanjang ruang antara antena pemancar dan penerima. Pada ruang
ini, tidak diizinkan adanya suatu penghalang, karena transmisinya sendiri berkarakter LOS (Wahyudin and
Hikmaturokhman, 2018).
FSL = 92,45 +20 log f (km) + 20 logD (km)……………………….……….11)
di mana:
FSL : free space loss (dB)
f : frekuensi
D : jarak antara antena pemancar dan penerima (km)
3.3.4. Effective Isotropic Radiated Power (EIRP)
EIRP adalah daya mkasimum gelombang sinyal mikro yang keluar dari antena transmitter untuk
menunjukkan nilai efektif daya yang dipancarkan antena pemancar, dalam arti lain, daya tersebut sudah
mengalami penguatan (Wahyudin and Hikmaturokhman, 2018).
EIRP = PTX + Gant - LTX.................................................................................12)
di mana:
EIRP : effective Isotropic Radiated Power (dBm)
PTX : daya Pancar (dBm)
Gant : gain Antena (dBi), LTX : Loss Pemancar (dB)
Perencanaan dan Analisis Fronthaul Microwave Menggunakan Spektrum...( Firmansyah Pandu Wibawa,Muntaqo Alfin Amanaf,Ade Wahyudin )
53
3.3.5. Redaman Hujan
Redaman hujan sangat berpengaruh ketika akan melakukan perencanaan fronthaul arena, termasuk
pada perencanaan LOS. Untuk pembagian daerah, setiap area sangat berpengaruh terhadap metode ITU-R
Virgants-Barnett, yaitu pembagian daerah hujan berdasarkan ITU-R Pn 837-1 (Wahyudin,
Hikmaturokhman, and S. Alia, 2017).
Aeff : A× D × r……………………………………………………………. 13)
A : a × Rb………………………………………………………………..14)
r : ………………………………………………………………..15)
di mana:
Aeff : redaman hujan efektif (dB)
A : redaman karena hujan (dB/km)
R : besarnya curah hujan dalam (mm/jam)
r : faktor reduksi
D : panjang Lintasan (km)
3.3.6. Isotropic Received Level (IRL)
IRL merupakan nilai level daya isotropic yang diterima oleh stasiun penerima. Nilai IRL ini bukan
nilai daya yang diterima oleh sistem atau rangkaian decoding, akan tetapi nilai ini adalah nilai level daya
terima antena stasiun penerima. Saat hujan pun, untuk IRL memengaruhi, yakni saat hujan dapat
menggunakan persamaan 14 (Hikmaturrokhman, Wahyudi, and Sulaiman, 2014).
IRL = EIRP FSL…………………………………………………..……16)
IRL = EIRP (FSL+Latm)……………………………………………….17)
dengan:
RSL : received signal level (dBm)
IRL : isotropic received level (dBm)
FSL : free space loss (dB)
3.3.7. Received Signal Level (RSL)
Received signal level (RSL) merupakan level daya yang diterima oleh peranti pengolah decoding.
Nilai RSL ini dipengaruhi oleh rugi-rugi jalur di sisi antena penerima dan gain antena penerima
(Hikmaturrokhman, Wahyudi, and Sulaiman, 2014).
....................................................................18)
di mana:
GRX : gain Antena Penerima (dBi)
LRX : Loss Penerima (dB)
3.3.8. Availability
Availability adalah ukuran keandalan sistem. Semua sistem idealnya harus menggunakan availability
100%. Akan tetapi, hal tersebut tidak mungkin, karena dalam sistem pasti terdapat kegagalan sistem dalam
memberikan pelayanan, atau sering disebut dengan ketidakandalan (unavailability). Istilah lain dari
availability adalah reliability, yaitu kemampuan sistem dalam memberikan pelayanan. Untuk menghitung
unavailability (u𝑛𝐴𝑣𝑝𝑎𝑡), menggunakan persamaan 19, dan menghitung availability (A𝑣𝑝𝑎𝑡),
menggunakan persamaan 20 (Wahyudin and Hikmaturokhman, 2018).
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol. 17 No.1 (2019): 4760
54
u𝑛𝐴𝑣𝑝𝑎𝑡=𝑎×𝑏×2,5×𝑓×𝐷3×106×10𝐹𝑀/10…………….…….............19)
A𝑣𝑝𝑎𝑡 = (1−𝑈𝑛𝐴𝑣𝑝𝑎𝑡) × 100%.........................................................20)
di mana:
D = Panjang lintasan (km)
F = Frekuensi (GHz)
a = Faktor kekasaran bumi
a:4 = Untuk daerah halus, laut, danau, dan gurun
a:1 = Untuk daerah kekasaran rata-rata, daratan
a:1/2 = Untuk pegunungan dan dataran tinggi
b = Faktor iklim
b: 1/2 = Untuk daerah panas dan lembab
b: 1/4 = Untuk daerah normal
b: 1/8 = Untuk daerah pegunungan (sangat kering)
3.4. Perencanaan Link Fronthaul
Penelitian link fronthaul frekuensi 71 GHz dilakukan di kota Purwokerto berdasarkan hasil drive test
yang digambarkan pada Gambar 2. Dari gambar tersebut, didapatkan 6 bad coverage, di mana setiap
masing-masing bad coverage terdapat pada Kecamatan Purwokerto Utara, Purwokerto Barat, dan
Purwokerto Selatan. Untuk penentuan link fronthaul, dapat dibuat dengan site hop antara site Existing yang
terdekat dengan bad coverage, dan melihat jarak terdekat dengan site yang akan dibuat link fronthaul,
karena penelitian ini menggunakan frekuensi 71 GHz dengan jarak maksimal 1,5 km. Untuk penentuan
link fronthaul dari hasil drive test, dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 2. Bad Coverage dari Hasil Drive Test
Pada Tabel 2, terdapat 6 hop yang akan dibuat link fronthaul masing-masing kecamatan menggunakan satu
site existing, dan ditambahkan dengan eNodeB baru untuk membuat link tersebut agar dapat mencukupi
area bad coverage, meningkatkan throughput pada daerah perencanaan, dan dapat menciptakan availability
yang baik pada link fronthaul.
Perencanaan dan Analisis Fronthaul Microwave Menggunakan Spektrum...( Firmansyah Pandu Wibawa,Muntaqo Alfin Amanaf,Ade Wahyudin )
55
Tabel 2. Perencanaan Site Hop Link Fronthaul
Nama Site EnodeB Existing
Nama Site EnodeB Baru Fronthaul
Site Bobosan
Site 1 Beji
Site 2 Karangsalam
Site Pasirmuncang
Site 3 Alfamart Pasirmuncang
Site 4 Perumahan GS Bantar Soka
Site Tanjung
Site 5 Tanjung
Site Pamujan
Site 6 Gunung Tugel
Pada Gambar 3, dijelaskan bahwa fronthaul adalah transmisi antara base band unit (BBU) yang
berada pada existing site (site yang sudah ada) dengan remote radio head (RRH) yang berada eNodeB baru
(site baru), dengan media transmisi yang digunakan pada penelitian ini adalah microwave. Tugas dari BBU
sendiri adalah untuk menerjemahkan aliran data yang yang berasal dari pusat jaringan pada sentral, di
mana sinyal yang dikirim dari BBU melalui udara dan berfungsi sebagai aliran data yang diambil dari
RRH, dan mengubahnya dalam bentuk yang sesuai dengan jalur pada suatu jaringan. Sedangkan, tugas
ODU adalah untuk mengubah atau mengonversi sinyal yang memiliki frekuensi rendah (intermediate
frequency) dari modem yang berada pada antena microwave, yang besarnya adalah 71 GHz, dan
mengubahnya menjadi sinyal radio frequency (RF) yang diterima oleh RRH, yang kemudian berfungsi
untuk memperluas cakupan EnodeB yang dipancarkan oleh antena sektoral dan diterima oleh user. Pada
link fronthaul, tugas dari RRH dapat mendukung cakupan sinyal yang dapat memberikan kapasitas yang
tinggi pada area-area tertentu yang memiliki bad coverage. Melalui fronthaul, transmisi dari BBU menuju
RRH dapat menghemat biaya, efektif, dan terutama penghematan daya RRH, yang dapat mengoperasikan
relay dan meneruskan sinyal yang diterima oleh UE ke titik terpusat, yakni BBU.
Gambar 3. Desain Link Fronthaul Microwave
Pada penelitian ini, terdapat beberapa parameter yang akan dianalisis, yaitu sisi radio akses,
menggunakan software Atoll 3.3.0, meliputi perencanaan coverage dan parameter: yang dianalisis adalah
reference signal receive power (RSRP) dan carrier to interference noise ratio (CINR). Sedangkan,
perencanaan kapasitas untuk mengetahui kebutuhan throughput pada tiga daerah perencanaan, yakni
Purwokerto Barat, Purwokerto Utara, dan Purwokerto Selatan. Software Pathloss 5.0 digunakan untuk
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol. 17 No.1 (2019): 4760
56
menyimulasikan link fronthaul microwave, dan parameter yang diukur adalah receive signal level (RSL),
annual multipath availability, dan annual rain availability.
Spesifikasi Perangkat Microwave untuk Link Fronthaul pada simulasi perencanaan link fronthaul
dapat dilihat pada Tabel 3. Spesifikasi tersebut berdasarkan data perangkat yang digunakan di lapangan.
Tabel 3. Spesifikasi Perangkat Radio Microwave (Pasolink, 2016)
Manufacturer
NEC
Model
iPasolink Ex Advanced
Application type
Adaptive Modulation and Bandwidth Radio
Frequency Range
7176 Ghz dan 8186 Ghz
Tx Power
9 dBm
Rx Threshold 1E-BER-6
-48 dBm
Modulation
QPSK/8PSK/16/32/64/128/256QAM with AMBR
Bandwidth
62.5/125/250/500/750/1000/2000MHz (ETSI/ANSI)
Maximum Link Capacity
10 Gbps (2000Mhz/128QAM)
4. Hasil Penelitian dan Pembahasan
4.1. Perencanaan Coverage
Hasil penelitian ini berupa simulasi pada sisi radio akses, yaitu RSRP, sedangkan CINR untuk sisi
coverage menggunakan perhitungan cost 231, dan sisi capacity menyimulasikan seberapa besar throughput
pada daerah perencanaan. Gambar 4 menampilkan hasil perbandingan RSRP sebelum dan sesudah
ditambahkan eNodeB baru untuk membuat link fronthaul, berdasarkan penempatan eNodeB baru adalah
bad coverage.
Gambar 4. Perbandingan Before dan After eNodeB Baru RSRP untuk Link Fronthaul
Pada Gambar 4, dijelaskan bahwa ketika daerah tinjauan, yakni Purwokerto Utara, Purwokerto Barat,
dan Purwokerto Selatan, belum ditambahkan eNodeB baru, yakni masih terdapat beberapa daerah yang
masih terindikasi bad coverage berdasarkan hasil drive test, dengan rata-rata parameter RSRP sebesar -
103,49 dBm, di mana pada klasifikasi tersebut masih dalam keadaan normal, akan tetapi mendekati ke
klasifikasi buruk. Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka ditambahkan eNodeB baru untuk menutupi atau
Perencanaan dan Analisis Fronthaul Microwave Menggunakan Spektrum...( Firmansyah Pandu Wibawa,Muntaqo Alfin Amanaf,Ade Wahyudin )
57
mencakup area bad coverage di masing-masing kecamatan sesuai dengan kebutuhan site yang akan
ditambahkan, di mana untuk penambahan eNodeB baru, untuk pengaturan pada Atoll, sama dengan yang
ada pada site existing, hanya saja, penempatan antena sektoral harus sesuai dengan arah pancaran ke area
bad coverage, dengan memperhatikan area tersebut, juga area yang memiliki penduduk yang tidak terlalu
sedikit, agar pada penempatan eNodeB baru tersebut tidak sia-sia. Setelah ditambahkan eNodeB baru,
maka nilai parameter RSRP meningkat menjadi rata-rata -91,7 dBm, dengan persentase kenaikan 20% dan
dalam klasifikasi good. Oleh karena itu, perencanaan eNodeB baru untuk mencakup area bad coverage
berhasil, karena mengalami peningkatan.
Grafik yang ditampilkan pada Gambar 5 merupakan hasil perbandingan parameter CINR sebelum dan
sesudah ditambahkan eNodeB baru untuk mengatasi area bad coverage pada daerah perencanaan, dengan
menambahkan eNodeB baru untuk membuat link fronthaul. CINR sendiri merupakan perbandingan antara
daya carrier dengan daya noise, di mana pada simulasi tersebut, bahwa ketika sebelum ditambahkan
eNodeB baru, maka daya carrier atau pembawa dengan daya noise yang dihasilkan buruk, karena hanya
ada satu site, sehingga tidak mampu membawa daya carrier yang bagus. Setelah ditambahkan eNodeB
baru, maka daya carrier dan noise-nya mampu melingkupi site existing yang memiliki daya carrier yang
rendah. Pada hasil tersebut, menunjukkan rata-rata parameter CINR setelah ditambahkan eNodeB baru
meningkat nilainya menjadi 13,95 dB dalam klasifikasi good untuk tiga kecamatan, sehingga mengalami
kenaikan sebesar 12%. Angka tersebut merupakan angka yang baik, sebagai kenaikan parameter yang
bagus pada simulasi coverage, untuk parameter CINR berhasil dalam perancangan.
Gambar 5. Perbandingan Before dan After CINR ENodeB Baru untuk Link Fronthaul
4.2. Perencanaan Capacity
Dari hasil simulasi user connected dan throughput pada Tabel 4, setelah ditambahkan eNodeB baru
untuk link fronthaul, pada daerah perencanaan mengalami kenaikan throughput rata-rata 90,77 Mbps,
dengan persentase kenaikan 83% dari sebelum ditambahkan new site. Jadi, penyebab throughput
meningkat setelah ditambahkan eNodeB baru pada daerah tersebut adalah karena semakin dekat user
dengan site dan semakin banyak user yang connect.
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol. 17 No.1 (2019): 4760
58
Tabel 4. Hasil Simulasi User Connected dan Throughput Before dan After ENodeB baru untuk Link Fronthaul
Simulasi Average
Capacity
Jumlah
User
User
Connected
User
Rejected
Persentase
User
Connected
(%)
Throughput UL
dan DL (Mbps)
Demand
DL
Result
DL
Purwokerto Utara tanpa
Fronthaul
9.249
8.782
466
95
158,2
71,06
Purwokerto Utara dengan
Fronthaul
9.242
9.242
0
100
155,85
129,08
Purwokerto Barat tanpa
Fronthaul
5.639
5.445
194
96,6
96,24
40,15
Purwokerto Barat dengan
Fronthaul
5.634
5.634
0
100
95,82
80,82
Purwokerto Selatan tanpa
Fronthaul
4.435
4.121
315
92,9
75,71
45,27
Purwokerto Selatan
dengan Fronthaul
4.432
4.432
0
100
75,53
62,41
4.3. Analisis Hasil Perancangan Link Fronthaul Microwave Frekuensi 71 GHz
Gambar 6. Perbandingan RSL saat Tidak Hujan dan saat Terjadi Hujan
Pada Gambar 6, dijelaskan bahwa hasil simulasi RSL atau level daya terima saat kondisi tidak hujan,
hasilnya di atas ambang batas, yakni rata-rata 6 hop, perencanaan hasil RSL sebesar -27,80 dBm. Akan
tetapi, saat terjadi hujan, nilai RSL akan turun di bawah ambang batas minimum, yakni rata-rata -57,23
dBm. Pada saat terjadi hujan, butiran hujan pun memengaruhi nilai RSL, karena membawa noise. Jadi,
semakin tinggi frekuensi, maka jarak semakin jauh, kemudian saat terjadi hujan, maka level daya terima
akan buruk.
Perencanaan dan Analisis Fronthaul Microwave Menggunakan Spektrum...( Firmansyah Pandu Wibawa,Muntaqo Alfin Amanaf,Ade Wahyudin )
59
Gambar 7. Perbandingan Annual Multipath Availability dan Annual Rain Availability
Pada hasil simulasi fronthaul microwave (Gambar 7), keandalan sistem saat terjadi multipath dan saat
terjadi hujan, hasilnya akan berbeda. Link fronthaul saat terjadi mulitpath setahun rata-rata keandalan
sistem pada 6 hop perencanaan nilainya baik, yaitu 99,999%. Akan tetapi, saat terjadi hujan, rata-rata
untuk seluruh hop perencanaan hasil availability 90,90%. Jadi, perencanaan fronthaul menggunakan
frekuensi di kecamatan Purwokerto Utara, Purwokerto Barat, dan Purwokerto Selatan saat terjadi hujan,
keandalan sistemnya buruk.
5. Simpulan dan Saran
Hasil perencanaan fronthaul microwave frekuensi 71 GHz di tiga kecamatan Purwokerto, dilihat pada
sisi radio akses, terutama dari sisi coverage, dengan rata-rata RSRP -91,7 dBm dan CINR sebesar 13,94
dBm, maka capacity meningkat 90,7 Mbps dengan persentase kenaikan 83%. Nilai level daya terima link
fronthaul microwave saat terjadi hujan menurun, -57,23 dBm, di bawah ambang batas minimum yang
ditetapkan, yaitu -48 dBm. Sedangkan, saat tidak terjadi hujan, RSL-nya di atas ambang batas minimum,
yaitu -27,80 dBm. Untuk availability dalam setahun saat hanya terjadi multipath, keandalan sistemnya
pada 5 hop perencanaan 99,999%, dan saat terjadi hujan, keandalan sistemnya menurun 99,90%. Jadi,
dapat disimpulkan bahwa penelitian fronthaul microwave frekuensi 71 GHz di kecamatan Purwokerto
Utara, Purwokerto Selatan, dan Purwokerto Barat, dari sisi coverage berhasil diimplementasikan, di mana
link fronthaul akan buruk saat terjadi hujan. Setelah melakukan perancangan fronthaul microwave di atas,
sebaiknya jarak untuk penentuan link fronthaul lebih pendek, maksimal 500 m.
6. Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Rafi, selaku Staff Supervisor, dan Bapak Adit, selaku
Technical Support PT Telkomsel Purwokerto, yang telah memberikan ilmu, masukan, dan data site
existing untuk melancarkan pengerjaan penelitian ini.
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol. 17 No.1 (2019): 4760
60
Daftar Pustaka
Bartelt, Jens et al. 2015. “Fronthaul and Backhaul Requirements of Flexibly Centralized Radio Access Networks.” IEEE Wireless
Communications 22(5): 105111.
Forconi, Sonia, and Manuela Vaser. 2015. “4G LTE Architectural and Functional Models of Video Streaming and VoLTE
Services.” International Conference on Ubiquitous and Future Networks, ICUFN: 787792.
Hawary, Muhammad, Ir Akhmad Hambali, M Irfan Maulana, and Prodi S Teknik. 2018. “Perencanaan dan Analisa Fronthaul
Fiber Optik untuk Komunikasi Radio pada Jaringan LTE.” 5(3): 5438–5443.
Hikmaturrokhman, Alfin, Eka Wahyudi, and Hendri Sulaiman. 2014. “Analisa Pengaruh Interferensi Terhadap Availability Pada
Jaringan Analisa Pengaruh Interferensi Terhadap Availability Pada Jaringan Transmisi Microwave Menggunakan Software
PATHLOSS 5.0 Studi Kasus Di PT . Alita Praya Mitra.” Ecotipe 1(April).
Huawei. 2011. “LTE Network Capacity Dimensioning.”
Lehrmann, Henrik et al. 2014. “Cloud RAN for Mobile Networks - a Technology Overview.”
Motorola. 2011. LTE RF Planning Guide.
Parindra, Yoyok Dwi. 2015. “LTE – Planning & Basic Optimization Introduction.”
Pasolink, NEC. 2016. “NEC Ipasolink Ex Advanced.”
Susanto, Tri, and K.J Hartono. 2017. “Research Strategy of C-Ran Implementation in Telkomsel Through Collaboration of Ng-
Pon2 Network in Telkom Access Using Strategic Situation.” Manajemen Indonesia 17(April 2017): 4966.
Wahyudin, Ade, and Alfin Hikmaturokhman. 2018. Perancangan Jaringan Gelombang Mikro Menggunakan Pathloss 5.0. ed. Uke
Kurniawan Usman. Purwokerto: CV. Pustaka Ilmu Group Yogyakarta.
Wahyudin, Ade, Alfin Hikmaturokhman, and S Alia. 2017. “Comparison Analysis Of Passive Repeater Links Prediction Using
Methods: Barnett Vigants & ITU Models.” : 142–147.
Wahyudin, Ade, Erna Temmerman Simanihuruk, and Alfin Hikmaturokhman. 2018. “Perencanaan Dan Analisa Kapasitas
Jaringan Transport Operator X Dengan Menggunakan Metode Overbooking Area Jombang Rawa.” 19(1): 29–36.
... The effective height of the transmitter antenna in meter (m), the distance between the receiver and the transmitter in meter, and the mobile antenna height is also in meter. The losses due to diffraction, an average of weighted losses due to clutter, and some multiplying factors related to many parameters [15]. ...
... It determines the fading of the strength of the received signal over a distance range of 1-20 km. Therefore, it is suitable for mobile channel characterization of popular cellular technologies [15], [17]. The following (1) is related to SPM to get path loss: (1) where k1 is a constant offset, k2 is a multiplying factor of log10(d), k3 is a multiplying factor for the logarithm of the effective transmitter antenna height, k4 is a multiplying factor for the diffraction loss, k5 is a multiplying factor for log10(d)*log10(Hefftx), k6 is a multiplying factor for the effective receiver antenna height, Heffrx, k7 is a multiplying factor for log10(Heffrx), fclutter is the average weight losses for the clutter with Kclutter as its multiplying factor, and KhillLOS is the correction constant for hilly regions in LOS. ...
... You can define several corrective formulas and associate a formula with each clutter class to adapt the Hata model to a wide variety of environments. The Okumura-Hata propagation model can take into account losses due to diffraction, using a 1 knife-edge Deygout method, and using the ground altitude given in the DTM [15]. ...
... Perkembangan teknologi terutama di bidang telekomunikasi yang semakin pesat berbanding terbalik dengan kondisi kenyataan di lapangan yaitu penerapan teknologi seluler di Purwokerto untuk memenuhi kebutuhan masyarakat masih terkendala disebabkan oleh jaringan yang masih tidak stabil sehingga menyebabkan bad coverage di beberapa titik. Titik yang temasuk dalam bad coverage berada di Kecamatan Purwokerto Barat dan Purwokerto Utara (Wibawa, 2019). Kepadatan penduduk di daerah Purwokerto cukup tinggi berjumlah 254.903 penduduk yang tersebar di empat Kecamatan yaitu Kecamatan Purwokerto Timur, Kecamatan Purwokerto Barat, Kecamatan Purwokerto Selatan dan Kecamatan Purwokerto Utara (Banyumas, 2018). ...
Article
Full-text available
ABSTRAK Kualitas jaringan 4G (LTE) yang masih tidak stabil sehingga menyebabkan bad coverage. Untuk meningkatkan kualitas jarigan 4G (LTE) dapat dilakukan dengan optimasi physical tuning antena sektoral. Physical tuning antena sektoral meliputi perubahan tinggi antena, azimuth dan tilting antena. Pada penelitian ini dilakukan optimasi physical tuning antena sektoral menggunakan metode Automatic Cell Planning (ACP) untuk memenuhi kebutuhan coverage di daerah Purwokerto Barat dan Purwokerto Utara. Perolehan persentase coverage site existing belum memenuhi standar KPI Operator untuk RSRP sebesar 78,491% ≥ (100) dBm dan CINR sebesar 65,698% ≥ (0) dB. Hasil optimasi physical tuninng antena sektoral menggunakan metode ACP sudah memenuhi standar KPI Operator untuk RSRP sebesar 90,037% ≥ (100) dBm dan CINR sebesar 94,868% ≥ (0) dB. Kata kunci: LTE, optimasi, physical tuning, Automatic Cell Planning, Atoll ABSTRACT The quality of the 4G (LTE) network is still unstable, causing bad coverage. To improve the quality of 4G network (LTE) can be done by sectoral antenna tuning optimization. Physical tuning of sectoral antennas includes changes in antenna height, azimuth and tilting antenna. In this study a sectoral antenna tuning physical optimization was carried out using the Automatic Cell Planning (ACP) method to meet coverage needs in West Purwokerto and North Purwokerto areas. The percentage of existing coverage sites has not met the KPI Operator standard for RSRP of 78.491% 100 (100) dBm and CINR of 65.669% ≥ (0) dB. The results of sectoral antenna tuning optimization using the ACP method have met the KPI Operator standard for RSRP of 90.037% ≥ (100) dBm and CINR of 94.868% ≥ (0) dB. Keywords: LTE, optimization, physical tuning, Automatic Cell Planning, Atoll
Book
Full-text available
Seiring dengan perkembangan dan pemanfaatan Teknologi Seluler 2G, 3G dan 4G maka diperlukanlah jaringan yang saling menghubungkan antar pemancar dan penerima atau Base Trasceiver Station (BTS). Jaringan tersebut dapat menggunakan berbagai medium seperti fiber optik dan gelombang mikro. Perancangan jaringan dengan menggunakan medium gelombang mikro memiliki kelebihan selain mudah dalam instalasi juga mampu menjangkau wilayah yang sulit diimplementasikan pada media lain. Buku ajar yang anda pegang ini memberikan paparan yang sangat lengkap mengenai perancangan jaringan gelombang mikro secara teoritis maupun praktis, karena materi yang tampilkan akan sangat dekat dengan implementasi di lapangan. Sehingga mampu dijadikan pegangan dalam perancangan sistem komunikasi gelombang mikro dilapangan. Pembahasan buku ajar ini dimulai dari konsep komunikasi gelombang mikro serta implmentasi dan regulasinya. Kemudian dilanjutkan dengan teori mengenai propagasi serta interferensi, dan perhitungan link budget. Keunggulan lain dari buku ini adalah terdapat pembahasan langkah demi langkah bagaimana merancang jaringan gelombang mikro dan konfigurasinya dengan simulasi menggunakan perangkat lunak Pathloss 5. Kami berharap dengan adanya buku ini, dapat memberikan inspirasi , wawasan serta menjadi referensi bagi kalangan akademisi di Perguruan Tinggi maupun praktisi di Dunia Industri pada bidang telekomunikasi khususnya jaringan gelombang mikro. Register terlebih dahulu, untuk melihat buku dibawah ini http://telcoconsultant.net/viewtopic.php?f=28&t=1355
Article
Full-text available
Cloud radio access networks promise considerable benefits compared to decentralized network architectures, but they also put challenging requirements on the fronthaul and backhaul network. Flexible centralization can relax these requirements by adaptively assigning different parts of the processing chain to either the centralized baseband processors or the base stations based on the load situation, user scenario, and availability of fronthaul links. In this article, we provide a comprehensive overview of different functional split options and analyze their specific requirements. We compare these requirements to available fronthaul technologies, and discuss the convergence of fronthaul and backhaul technologies. By evaluating the aggregated fronthaul traffic, we show the benefits of flexible centralization and give guidelines on how to set up the fronthaul network to avoid over- or under-dimensioning.
Article
Full-text available
Cloud Radio Access Network (C-RAN) is a novel mobile network architecture which can address a number of challenges the operators face while trying to support growing end-user's needs. The main idea behind C-RAN is to pool the Baseband Units (BBUs) from multiple base stations into centralized BBU Pool for statistical multiplexing gain, while shifting the burden to the high-speed wireline transmission of In-phase and Quadrature (IQ) data. C-RAN enables energy efficient network operation and possible cost savings on baseband resources. Furthermore, it improves network capacity by performing load balancing and cooperative processing of signals originating from several base stations. This paper surveys the state-of-the-art literature on C-RAN. It can serve as a starting point for anyone willing to understand C-RAN architecture and advance the research on C-RAN.
Conference Paper
Microwave is a kind of wireless communication using radio link transmission at high frequency medium between two base stations in cellular systems. Microwave link should be line of sight (LOS) between transmitter and receiver (no obstacle). But, in the real case, there are some obstacles in microwave link between two base stations. Therefore, this paper uses a microwave passive repeater to solve the obstacle problems. The passive repeater is used to repeat information signals by changing the direction of the radio link transmission. This paper implements Barnett Vigants and ITU-R P.530-7/8 methods in passive repeater using software simulation. The difference between two methods is the availability value due to multipath and unavailability value due to rain. On a microwave transmission network using the Barnett Vigants method, resulting higher unavailability value than the use of ITU-R method P.530 7/8. The unavailability value using Barnett Vigants method obtained was 0.023%, it means the outage time of link microwave is 7244 second per year. If compared with metode ITU-R P.530 7/8 method, the unavailability was 0.000087 % or outage time system is for 26 second per year. So the availability using ITU-R P.530 7/8 method is 99. 9999133%.
Conference Paper
User experience about the provisioning of a service over LTE mobile networks has become a crucial aspect for Mobile Network Operators. Monitoring network performances may not be sufficient, because they have to be correlated to the specific service experienced by the user. In order to do this, it is important to model network architecture in relation to the service. For this reason, in this paper, several LTE functional models have been proposed, for real time services like VoLTE and Video Streaming with MNO's CDN and OTT, in which the standardized LTE architecture is strictly modeled on the service offered to the user. The main contribution of this research relies on the possibility for the MNO to adopt the 4G architectural LTE Video Streaming and VoLTE network, based on the respectives functional model, to conduct the accurate QoE assessment.
Perencanaan dan Analisa Fronthaul Fiber Optik untuk Komunikasi Radio pada Jaringan LTE
  • Muhammad Hawary
  • Ir Akhmad Hambali
  • Prodi S Irfan Maulana
  • Teknik
Hawary, Muhammad, Ir Akhmad Hambali, M Irfan Maulana, and Prodi S Teknik. 2018. "Perencanaan dan Analisa Fronthaul Fiber Optik untuk Komunikasi Radio pada Jaringan LTE." 5(3): 5438-5443.
LTE Network Capacity Dimensioning
  • Huawei
Huawei. 2011. "LTE Network Capacity Dimensioning."
LTE -Planning & Basic Optimization Introduction
  • Yoyok Parindra
  • Dwi
Parindra, Yoyok Dwi. 2015. "LTE -Planning & Basic Optimization Introduction."
NEC Ipasolink Ex Advanced
  • Nec Pasolink
Pasolink, NEC. 2016. "NEC Ipasolink Ex Advanced."
Research Strategy of C-Ran Implementation in Telkomsel Through Collaboration of Ng-Pon2 Network in Telkom Access Using Strategic Situation
  • Tri Susanto
  • K Hartono
Susanto, Tri, and K.J Hartono. 2017. "Research Strategy of C-Ran Implementation in Telkomsel Through Collaboration of Ng-Pon2 Network in Telkom Access Using Strategic Situation." Manajemen Indonesia 17(April 2017): 49-66.