ArticlePDF Available

APAKAH IKLAN TELEVISI MASIH KUAT MEMPERSUASI KONSUMEN DI ERA TEKNOLOGI, KOMUNIKASI, DAN INFORMASI

Authors:

Abstract

Pada saat ini semakin marak perusahaan yang berlomba-lomba untuk melakukan inovasi produknya agar dapat tetap bertahan di pasar. Strategi yang dapat dilakukan perusahaan untuk tetap bertahan di pasar dan menarik minat pelanggan terhadap produknya perlu melakukan strategi promosi yaitu periklanan. Iklan dapat dilakukan melalui banyak media yaitu media televisi, radio, surat kabar, majalah, dan online. Di era teknologi, komunikasi, dan informasi saat ini yang sudah berkembang tidak membuat iklan melalui media televisi lemah. Melalui media televisi dikatakan efektif berdasarkan penelitian karena pertumbuhan belanja selalu meningkat setiap tahunnya sehingga tepat sebagai tempat belanja iklan dan tempat para produsen untuk melakukan promosi. Namun disisi lain dikatakan tidak efektif berdasarkan penelitian karena dinilai biaya tinggi, segmentasi yang terlalu luas, dan jadwal tayang yang tidak teratur. Maka dari itu, topik ini perlu ditelaah lebih dalam untuk mengetahui apakah iklan televisi masih efektif atau tidak.
Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi Asia
Volume 13 Number 1 Pages 37-45, 2019
Nationally Accredited: No. 3/E/KPT/2019
h t t p : / / j u r n a l . s t i e . a s i a . a c . i d / i n d e x . p h p / j i b e k a
*Corresponding author
e-mail: calvinsinatra1998@gmail.com (C. S. Jusuf)
37
APAKAH IKLAN TELEVISI MASIH KUAT MEMPERSUASI
KONSUMEN DI ERA TEKNOLOGI, KOMUNIKASI DAN INFORMASI
Calvin Sinatra Jusuf*1,,David Rivaldy Hermanto2
1,2Universitas Ma Chung, Indonesia
INFO ARTIKEL
ABSTRACT
DOI: 10.32812/jibeka.v13i1.100
ISSN-P: 0126-1258
ISSN-E: 2620-875X
Keywords: Advertising,
Television Advertising, The
Power Of Television Advertising
At this time more large companies are competing to innovate their
products in order to remain on the market. The strategy that companies
can do to stay in the market and attract customers' interest in their
products needs to be a promotional strategy, namely through advertising.
In the current era of technology, communication and information, which is
increasingly modern and developing, it does not make advertising
through television media weak. Through television media, it is said to be
effective based on research because the growth of spending always
increases every year so that it is appropriate as a place to shop for
advertisements and places for producers to carry out promotions.
Therefore, the purpose of this study is to see whether advertising on
television media is still strong in persuading consumers in the era of
technology, communication and information. The research method used
in this study uses qualitative research methods. The results of this study
state that television advertising is still said to be effective because many
companies still rely on and feel the advantages of advertising activities
through television media. Then television advertisements are said to be
ineffective because of high costs, a society that is not selective, and
technical difficulties.
ABSTRAK
Kata Kunci: Periklanan, Iklan
Televisi, Kekuatan Iklan Televisi
Pada saat ini semakin banyak perusahaan-perusahaan besar yang
berlomba-lomba untuk melakukan inovasi produknya agar dapat
tetap bertahan di pasar. Strategi yang dapat dilakukan perusahaan
untuk tetap bertahan di pasar dan menarik minat pelanggan
terhadap produknya perlu melakukan strategi promosi yaitu melalui
periklanan. Di era teknologi, komunikasi, dan informasi saat ini yang
sudah semakin modern dan berkembang tidak membuat iklan
melalui media televisi dikatakan lemah. Melalui media televisi
dikatakan efektif berdasarkan penelitian karena pertumbuhan belanja
selalu meningkat setiap tahunnya sehingga tepat sebagai tempat
belanja iklan dan tempat para produsen untuk melakukan promosi.
Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah melihat apakah iklan di
media televisi masih kuat dalam mempersuasi konsumen di era
teknologi, komunikasi, dan informasi. Metode penelitian yang
digunakan pada penelitian ini menggunakan metode penelitian
kualitatif. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa iklan televisi masih
dikatakan efektif karena banyak perusahaan yang masih
mengandalkan serta merasakan keunggulan melakukan kegiatan
advertising melalui media televisi. Lalu iklan televisi dikatakan tidak
efektif karena adanya biaya yang tinggi, masyarakat yang tidak
selektif, dan kesulitan teknis.
© 2019 Jibeka. All rights reserved
Calvin Sinatra Jusuf & David Rivaldy Hermanto
Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi Asia
Volume 13 Number 1 (2019) 37-45
38
I.Pendahuluan
Pada saat ini, semakin maraknya perusahaan-perusahaan yang berinovasi dan selalu
berkembang untuk menjual berbagai macam produknya agar tetap bertahan di pasar. Hal ini
menyebabkan para perusahaan berlomba-lomba dalam memenangkan persaingan dan
dapat menarik minat pelanggan terhadap produk yang ditawarkan tersebut. Terdapat salah
satu cara atau strategi yang dapat dilakukan perusahan untuk tetap bertahan di dunia pasar
dan menarik minat pelanggan terhadap produknya yang dapat membantu dalam
peningkatan penjualan yaitu dengan menggunakan strategi promosi (Sunarti, 2017). Strategi
promosi memiliki berbagai macam jenis, salah satu jenisnya yaitu periklanan (Gunawan,
2014).
Kriyantono (2008), mengemukakan bahwa iklan adalah suatu komunikasi nonpersonal
yang pada umumnya memberikan pesan secara persuasif yang berasal dari sponsor yang
jelas. Hal ini dapat mempengaruhi konsumen dalam membeli produk tersebut. Iklan
merupakan salah satu media promosi yang bertujuan untuk menyampaikan pesan ke
konsumen agar dapat mempengaruhi, mengingatkan, dan merubah pikiran konsumen untuk
mengambil keputusan dalam membeli produk yang diiklankan tersebut. Kelebihan
melakukan media promosi iklan adalah dapat mendorong para konsumen dalam mencari
produk yang diinginkan sesuai dengan kebutuhannya, bahkan dapat mendorong konsumen
yang sebelumnya tidak loyal menjadi loyal (Anggraini, 2014). Dalam melakukan periklanan
pentingnya perusahaan mengenalkan produknya dengan bersifat detail dan jelas sehingga
dapat menjelaskan segala hal-hal yang penting mengenai kualitas dari produk tersebut.
Hariyana (2016), mengemukakan konsumen yang awal mulanya tidak loyal menjadi loyal
karena setelah mengetahui kualitas dari produk tersebut akan munculnya sikap suka
mengenai produk tersebut sehingga loyalitas pada merek dari produk akan tercapai.
Terdapat banyak media yang dapat menjadi alat dalam menyampaikan pesan iklan
antara lain melalui radio, televisi, majalah, dan surat kabar.Menurut Sunarti (2017),
menyatakan bahwa melalui media televisi dapat membuat orang melihat gambar produk
serta suara pesan yang dibuat oleh pengiklan sehingga terasa lebih menarik dan pesan
yang disampaikan jelas, sedangkan dalam melalui media cetak hanya dapat melihat gambar
tidak dengan mendengar pesan yang disampaikan, dan apabila melalui iklan radio hanya
dapat mendengar pesan yang disampaikan namun tidak dapat melihat bentuk dari produk
yang ditawarkan. Dalam iklan televisi agar pesan yang disampaikan lebih cepat diterima dan
diingat oleh konsumen biasanya ditayangkan berulang kali dengan waktu yang singkat.
Maka dari itu, iklan di televisi harus dibuat dengan menarik, menyenangkan, meyakinkan,
dan jelas dalam menyampaikan pesan dari produk tersebut sehingga membuat konsumen
menjadi terpengaruh secara langsung atau tidak langsung dan secara cepat atau lambat
(Zulsufiyani, 2015).
Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin canggih, munculnya kemajuan
dalam bidang teknologi, komputer, dan telekomunikasi mendukung adanya perkembangan
teknologi internet. Dengan penggunaan teknologi internet membuat para perusahaan
menjadi untung karena menurut pendapat Irmawati (2011), menjelaskan secara praktis
melalui internet dapat digunakan menjadi alat untuk melakukan bisnis terutama dalam
pemasaran, penjualan, dan pelayanan pelanggan. Oleh karena itu, saat ini dalam
melakukan promosi iklan tidak hanya dapat dilakukan melalui media televisi, surat kabar,
majalah, dan radio saja namun dapat melalui iklan online. Mujiyana (2013), menyatakan bila
melalui iklan online merupakan potensi bisnis yang sangat bagus karena jumlah pengguna
internet dari tahun ke tahunnya selalu mengalami peningkatan di seluruh dunia.
Iklan online maupun iklan melalui media televisi bertujuan untuk memberikan
informasi kepada konsumen mengenai produk, mempersepsikan produk dalam benak
konsumen agar munculnya sikap suka terhadap produk, dan meyakinkan konsumen untuk
memiliki atau menggunakan produk yang diiklankan (Soemanagara, 2008). Dapat diketahui
tujuan utama dari periklanan yaitu mempengaruhi sikap konsumen untuk melakukan
pembelian mengenai produk tersebut. Amirullah (2002) menyatakan pendapat bahwa,
keputusan konsumen diambil melalui proses penilaian dan pemilihan dari berbagai alternatif
yang ada dan sesuai dengan kepentingan tertentu untuk menetapkan pillihan yang
Calvin Sinatra Jusuf & David Rivaldy Hermanto
Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi Asia
Volume 13 Number 1 (2019) 37-45
39
menguntungkan bagi konsumen sendiri. Hal ini menyatakan adanya berbagai pertimbangan
konsumen dalam melakukan keputusan pembelian.
Pada awal mulanya, produsen melakukan promosi iklan melalui media televisi namun
seiring berkembangnya waktu banyaknya produsen yang beralih melakukan promosi iklan
melalui media digital atau online. Namun munculnya argumen yang menyatakan bahwa
melalui media televisi membutuhkan biaya yang besar, segmentasi yang terlalu luas, dan
jadwal tayang yang tidak teratur. Maka dari itu, tujuan artikel ini akan berfokus untuk
mengkaji “apakah iklan televisi masih kuat mempersuasi kosumen di era teknologi
komunikasi dan informasi?”. Hasil dari kajian diharapkan menarik perhatian masyarakat
terutama bagi produsen yang akan melakukan promosi iklan.
II.Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, Metode penelitian kualitatif
merupakan penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang
dialami oleh subjek penelitian. Tujuan dari penelitian kualitatif adalah memperoleh gambaran
seutuhnya mengenai suatu hal menurut pandangan manusia yang diteliti. Penelitian
kualitatif berhubungan dengan ide, persepsi, pendapat atau kepercayaan orang yang diteliti
dan semuanya tidak dapat diukur dengan angka. Sumber data penelitian ini adalah data
primer. Menurut Supriyono (2017) data primer adalah sumber data penelitian yang diperoleh
secara langsung dari sumber asli atau pihak pertama. Oleh karena itu, data primer dapat
berupa pendapat subjek penelitian atau narasumber, hasil observasi terhadap suatu benda,
kejadian atau kegiatan, dan hasil pengujian. Agar dapat mengumpulkan serta melengkapi
informasi-informasi yang diinginkan, peneliti diharuskan untuk mengumpulkan banyak data
yang memiliki tujuan untuk menjawab informasi yang diinginkan dan dicari. Teknik
pengumpulan data yang dilakukan biasanya dengan dokumen, observasi, dan pemaknaan.
III.Hasil Penelitian dan Pembahasan
Iklan atau juga bisa disebut sebagai advertising, awalnya merupakan suatu kata yang
berasal dari bahasa Yunani, yang memiliki arti suatu proses yang bisa membujuk konsumen
dalam melakukan pembelian atau suatu transaksi dan akan membawa dampak positif bagi
perusahaan yang membuat iklan tersebut (Durianto, 2003). Suhandang (2005)
mendefinisikan iklan sebagai kegiatan komunikasi pada konsumen dengan memberikan
informasi produk yang ditawarkan oleh perusahaan di lingkungan pasar yang bisa berupa
suatu jasa maupun barang. Berdasarkan pengertian yang lebih baru atau modern menurut
Wells dan Moriarty (2006), iklan adalah bentuk kegiatan komunikasi interaktif dan persuasif
serta juga sebagai media masa nonpersonal yang memiliki tujuan agar mendapat jumlah
penonton iklan yang banyak, selain itu juga bisa menjadi penghubung dengan pihak sponsor.
Tujuan utama dari periklanan adalah meningkatkan penjualan dari segi jasa, ide,
maupun produk. Adanya periklanan ini menyebabkan konsumen langsung berpikir untuk
membeli produk yang diiklankan walaupun produk jenis terbaru juga akan hadir di masa
yang akan datang. Lalu, periklanan juga memiliki arti bagaimana suatu produsen dapat
melakukan komunikasi dengan efektif dan efisien. Menurut Junaedi (2013) terdapat tiga
tujuan iklan, yaitu:
1. Media informasi
Iklan memiliki fungsi dalam memberikan informasi suatu produk, barang, maupun
jasa kepada masyarakat. Hal ini juga tidak melalui produk saja, melainkan juga bisa
dalam bentuk yang lain.
2. Mempengaruhi konsumen
Iklan bisa berfungsi sebagai pengubah sikap dan pikiran konsumen dalam
mengambil keputusan pembelian suatu produk sesuai dengan apa yang diinginkan
oleh produsen pembuat iklan.
Calvin Sinatra Jusuf & David Rivaldy Hermanto
Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi Asia
Volume 13 Number 1 (2019) 37-45
40
3. Mengingatkan konsumen
Iklan juga memiliki tujuan agar konsumen selalu ingat dengan produk yang
dihasilkan perusahaan sehingga konsumen menjadi loyal ke perusahaan dengan
mengkonsumsi produk tersebut.
Widyatama (2011), iklan adalah suatu bentuk yang pesannya disampaikan melalui
kegiatan komunikasi dan bisa menjadi keunggulan dalam alat pemasaran seperti
memasarkan produk dan juga gagasan atau ide bisa disalurkan dapat tersampaikan ke
konsumen dengan baik. Bungin (2011), menyatakan bahwa sebuah dunia imajinasi memiliki
kekuatan dalam mengubah komoditas menuju suatu imajinasi yang menarik. Setelah itu
imajinasi tersebut keluar dan hal tersebut akan ada pada dunia yang nyata melalui media-
media. Selain itu, iklan televisi menurut Bungin (2011), adalah sebuah media yang dapat
menjual produknya yaitu barang atau jasa bukan memberikan alasan bahwa sebuah iklan
hanya melaporkan suatu produknya dan tidak ada kaitan dengan rasa suka kepada iklan-
iklan yang ditayangkan. Serta, agar sebuah iklan di televisi dapat menjadi efektif yang tidak
hanya mengandung informatif atas produk yang ditawarkan maka perlunya ada suatu pesan
yang dapat menarik perhatian para pemirsa (Wahyu, 2010).
Kekuatan yang dimiliki oleh media televisi menurut Kasali (2007) adalah sebagai
berikut:
1. Efisiensi biaya
Iklan memilik keunggulan dalam hal menjangkau konsumen yang menjadi target
pasar sangat luas, sehingga banyak masyarakat melihat jika pemasangan iklan pada
media televisi merupakan hal paling efektif.
2. Memiliki dampak yang kuat
Konsumen dapat menerima suatu pesan dari iklan dalam bentuk suara serta gambar
yang memiliki efek yang kuat dibandingkan dengan konsumen menerima suatu
pesan melalui salah satu pesan yang disampaikan yaitu gambar saja atau suara saja.
3. Pengaruh yang kuat
Media televisi dianggap memiliki keunggulan dalam hal mempengaruhi serta
merubah sikap para konsumennya. Sebab dalam sebuah iklan di media televisi
memiliki daya tarik sendiri yang dapat mempengaruhi untuk menarik perhatian
pemirsanya. Keberhasilan komunikasi dengan pemirsa dapat berhasil jika adanya
daya tarik didalam iklan tersebut.
Terdapat tiga jenis dasar iklan televisi yang dikemukakan oleh Anggraini (2014), yaitu:
1. Iklan yang menjual
Iklan ini berfokus pada bagian atau atribut pada suatu produk, dan memiliki tujuan
yaitu menstimulus ketertarikan pada produk dan membuat konsumen ingin untuk
membeli
2. Iklan citra
Iklan ini memiliki fokus pada menciptakan suatu citra untuk produk, servis, atau
perusahaan. Iklan jenis ini juga dapat menjual seuatu ide yang memiliki tujuan agar
membuat konsumen memiliki perasaan positif mengenai perusahaan, produk, atau
jasa, yang berujung pada penjualan.
3. Informasi tentang suatu kegiatan atau pesan public
Berfokus pada mempengaruhi serta menginformasikan kepada publik mengenai
sesuatu yang ada dalam kehendak sendiri, biasanya penjualan bukanlah menjadi
tujuan akhir.
Calvin Sinatra Jusuf & David Rivaldy Hermanto
Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi Asia
Volume 13 Number 1 (2019) 37-45
41
Menurut Swastha dan Irawan (2001) setiap keputusan pembelian pada konsumen
memiliki 7 komponen dalam struktur pembelian.
1. Keputusan tentang jenis produk
Konsumen mengambil keputusan dalam mengeluarkan biaya untuk alasan lain atau
untuk membeli sejumlah produk yang diinginkan.
2. Keputusan tentang bentuk produk
Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli suatu bentuk produk tertentu.
3. Keputusan tentang merek
Konsumen harus mengambil keputusan tentang merek mana yang akan dibeli
karena pada setiap merek memiliki perbedaan mengenai kelebihan dan
kekurangannya masing-masing.
4. Keputusan tentang penjualannya
Konsumen harus mengambil keputusan dimana akan membeli produk tersebut.
5. Keputusan tentang jumlah produk
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang produk dengan seberapa banyak
jumlah yang akan dibelinya.
6. Keputusan tentang waktu pembelian
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang kapan untuk melakukan pembelian.
7. Keputusan tentang cara pembayaran
Konsumen diharuskan mengambil suatu keputusan mengenai bagaimana metode
dalam melakukan pembayaran terhadap produk yang akan dibeli, baik dalam bentu
angsuran maupun tunai.
Menurut Tjiptono (2008), iklan merupakan suatu wujud komunikasi secara tidak
langsung dan didasari mengenai informasi tentang keuntungan yang dimiliki produk dan
keunggulan yang terdapat pada produk tersebut. Berhubungan dengan keputusan
pembelian Lamb et.al., (2001) menjelaskan bahwa empat variabel dalam bauran promosi
dapat mempengaruhi konsumen dalam membuat keputusan pembelian, di mana salah satu
variabelnya adalah periklanan. Penelitian Wibowo (2012) mengungkapkan bahwa melalui
iklan televisi secara dapat memiliki pengaruh positif serta signifikan dalam mempengaruhi
keputusan pembelian konsumen. Hal ini akan berdampak pada keputusan membeli
konsumen seperti periklanan. Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa suatu
periklanan yang dilakukan oleh sebuah perusahaan dapat mempengaruhi konsumen dalam
hal keputusan pembelian.
Puspitasari (2009), mengungkapkan bahwa konsumen dapat mengambil keputusan
pembelian ketika pesan yang disampaikan dibuat menjadi lebih efektif dan menarik. Oleh
karena itu menurut Wahyu (2010), untuk menjadikan suatu iklan efektif, iklan harus menarik
perhatian pemirsa, dan tidak hanya sekedar menampilkan informasi mengenai barang yang
ditawarkan. Sebab menurut Situmorang (2008), pada umumnya masing-masing konsumen
memiliki rasa ingin membeli suatu produk yang memiliki kualitas memuaskan. Saat kualitas
di antara jenis produk yang sama sangat seimbang, maka konsumen tersebut akan memilih
produk yang diinginkan berdasarkan iklan yang dibuat oleh masing-masing produsen.
Dengan hal terseebut, maka dapat disimpulkan bahwa daya tarik dari iklan dapat
mempengaruhi perilaku konsumen untuk membeli sehingga dapat dikatakan apabila
promosi melalui periklanan tersebut adalah efektif.
Dapat dilihat melalui data dari Internet World Stats (2018), bahwa mulai dari tahun
2000-2018 jika pertumbuhan pengguna internet di dunia mengalami pertumbuhan sebesar
1,052%. Hal ini dapat diketahui bahwa sebagian besar orang di dunia telah mengenal
internet. Selain itu, terdapat data pengguna internet terbanyak di dunia yaitu pada bagian
Asia dengan memperoleh 48,7%. Serta pada Negara Indonesia sendiri dengan populasi
penduduk sebanyak 266.794.980 yang menggunakan internet sebanyak 143.260.000 atau
sebesar 53,7% sendiri. Oleh karena itu, banyak perusahaan yang mengandalkan media
internet sebagai tempat untuk memasarkan produk-produknya serta sebagai sarana dalam
menonton televisi online. Dalam hal berbisnis, internet merupakan dampak yang positif dan
Calvin Sinatra Jusuf & David Rivaldy Hermanto
Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi Asia
Volume 13 Number 1 (2019) 37-45
42
baik untuk melakukan penjualan (Chandra, 2001). Dampak yang positif karena internet
menjangkau seluruh wilayah, cepat dalam menyampaikan pesan informasi secara universal,
dan tidak memerlukan biaya dalam jumlah yang banyak (Adelaar, 2002). Tidak hanya dalam
penjualan melalui internet memiliki beberapa keunggulan yang dapat dinikmati oleh
konsumen maupun perusahaan seperti kenyamanan, dapat diakses selama 24 jam sehari,
efisiensi, alternatif, serta bersifat personal (Chandra, 2001).
Disamping memiliki keunggulan melalui akses internet namun juga memiliki
kelemahan karena melalui Survei Nielsen Cross-platform 2017 oleh Micom (2017),
menyatakan bahwa meskipun banyak konsumen lebih mengandalkan media internet, akan
tetapi survei tersebut menyatakan bahwa akses internet yang dinilai kurang begitu cepat
menjadi alasan paling utama dari para konsumen (yaitu sebesar 27% tidak ingin menonton
secara online). Selain itu, juga terdapat alasan lain yang ditemukan yaitu penggunaan yang
dinilai cukup sulit dan banyak konsumen yang lebih memilih untuk menyukai televisi
tradisional (yaitu sebesar 24%). Pada tahun 2016, iklan melalui media di televisi yang
dicatat oleh perusahaan riset Nielsen Indonesia mengatakan jika pertumbuhan belanja iklan
masih di menangkan oleh media televisi dengan sebesar Rp 103,8 triliun (yaitu 77%) dari
seluruh perolehan belanja iklan (Fauzi, 2017).
Menurut Zulsufiyani & Rusni (2015) menyatakan bahwa keputusan pembelian yang
dilakukan konsumen tidak hanya terpengaruh dari tayangan iklan yang menarik namun juga
adanya informasi yang disampaikan mengenai produk mereka seperti kualitas, harga, dll
dapat mempengaruhi pemirsa menyaksikan iklan sampai selesai. Tidak hanya memasarkan
produk dalam skala nasional dan mempengaruhi konsumen untuk membeli tetapi dapat
dikatakan efektif karena melalui media televisi dapat membangun dan mengangkat brand
awareness konsumen terhadap produk yang diiklankan tersebut (Gunawan & Dharmayanti,
2014). Selain itu, terdapat menurut Sufa & Munas (2012), menyatakan bahwa media televisi
paling banyak diminati oleh pemasar karena dalam media tersebut adalah audiovisual yang
termasuk canggih dan menarik, berdurasi kurang dari 60 detik yang disaksikan oleh
konsumen diseluruh dunia. Melalui media televisi digunakan oleh peruahaan-perusahaan
untuk menjadi salah satu media promosi yang dapat meningkatkan hasil penjualannya
(Huda, 2013). Dengan hal ini, media di televisi merupakan media advertising yang efektif
untuk memasarkan suatu produk dalam skala nasional dan memiliki kekuatan dalam
mempengaruhi para konsumennya untuk melakukan keputusan pembelian (Wibowo &
Karimah, 2012).
Ada data pula yang menyatakan media televisi merupakan media yang unggul karena
dari survei Nielsen Consumer Media View oleh Lubis (2017) dilakukan di 11 kota di seluruh
Indonesia yang dapat disimpulkan bahwa penetrasi dari media televisi memimpin dengan
perolehan hasil sebesar 96%. Lalu pada urutan kedua terdapat media luar ruang yaitu
sebesar 53% dan disusul dengan internet, radio, koran, tabloid dan majalah dengan masing
memiliki perolehan sebesar 44%, 37%, 7%, 3%. Selain itu, survei Neilsen membuktikan
konsumen yang melakukan kegiatan belanja pada bulan Januari hingga bulan Juli pada
tahun 2017 melalui iklan yang dipasang di televisi dan media bisa mencapai sebesar Rp
82,1 triliun. Hal ini dapat disimpulkan bahwa masih banyak perusahaan yang masih
mengandalkan serta merasakan keunggulan melakukan kegiatan advertising melalui media
televisi terhadap merek maupun produk dari perusahaan tersebut, sehingga jumlah belanja
melalui media iklan di televisi dapat dibilang masih sangat tinggi.
Menurut Nielsen Advertising Informastion Services oleh Lubis (2017),pada bulan
Januari hingga Juli 2017 belanja iklan pada media televisi mencapai Rp 82,1 triliun
disebabkan oleh adanya trend yang meningkat pesat pada belanja iklan di bulan-bulan
tersebut. Lalu pada periode bulan Januari hingga Juli 2016, pertumbuhan belanja iklan
terlihat memiliki hasil yang bergerak positif dengan hasil sebesar 6% yang dipengaruhi oleh
kenaikan biaya atau tarif. Oleh karena itu, dari hal ini menyebabkan belanja iklan melalui
media televisi mencapai pada tahun 2017 mengalami peningkatan total belanja sebesar Rp
82,1 Triliun. Selain itu, Nielsen mengungkapkan jika media televisi memiliki kontribusi dan
keunggulan paling besar pada belanja iklan dan berbanding terbalik belanja iklan melalui
media radio, koran, majalah serta tabloid.
Calvin Sinatra Jusuf & David Rivaldy Hermanto
Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi Asia
Volume 13 Number 1 (2019) 37-45
43
Data yang diperoleh dari Redwing mengatakan bahwa perolehan iklan di Indonesia
masih didominasi oleh media televisi nasional dengan mencapai lebih dari 60% dari tahun
2012-2017 dan hasil terendah melalui perolehan iklan digital karena mulai dari tahun 2012-
2017 mengalami peningkatan hanya sebesar 13,8% serta saat ini media televisi nasional
masih dikuasi oleh perusahaan-perusahaan besar (Karimuddin, 2014). Dari hasil survei
tersebut dapat dilihat bahwa keefektifan media televisi sebagai belanja iklan dianggap lebih
tepat sasaran dibandingkan dengan media lainnya. Selain itu, iklan melalui media online
(digital) juga dapat diketahui bahwa masih belum mampu dalam menggantikan media
televisi sebagai saran promosi yang digunakan oleh para produsen.
Berdasarkan teori menurut Shrimp (2003) dalam website Go Marketing oleh (Lapan,
2016) menyatakan bahwa tidak efektif melakukan promosi dalam media televisi karena
adanya biaya yang tinggi, masyarakat yang tidak selektif, dan kesulitan teknis. Pada biaya
yang tinggi dianggap tidak efektif ketika iklan tersebut tidak meninggalkan pesan yang ingin
disampaikan kepada pemirsa. Untuk masyarakat yang tidak selektif, karena televisi memiliki
jangkauan yang sangat luas sehingga susah untuk menentukan segmentasinya. Terakhir
mengenai kesulitan teknis karena jadwal tayangnya yang mudah dapat berubah-ubah
sehingga tidak fleksibel. Maka dari itu dapat dikatakan bahwa media televisi lebih efektif jika
digunakan untuk perusahaan-perusahaan yang besar karena dari perusahaan besar mampu
mengeluarkan biaya untuk memasang iklan di televisi.
IV.Kesimpulan
Berdasarkan tujuan dari artikel ini untuk mengetahui apakah iklan televisi masih kuat
dalam mempersuasi konsumen di era teknologi komunikasi, dan informasi. Iklan melalui
media televisi dinyatakan efektif jika digunakan oleh perusahaan-perusahaan yang besar
karena melalui televisi memberikan keuntungan yang besar bagi perusahaan tersebut.
selain itu media televisi dapat memasarkan produk dalam skala nasional serta dapat
membangun dan mengangkat brand awareness konsumen terhadap produk yang dimiliki
dan juga media televisi memiliki audiovisual yang canggih dan menarik yang dapat menarik
minat konsumen. Selain itu, dapat dinyatakan tidak efektif jika digunakan oleh UMKM, online
shop, atau usaha-usaha kecil lainnya karena dapat diketahui bahwa melalui iklan di televisi
membutuhkan biaya yang besar. Oleh karena itu, dinyatakan bahwa media televisi
merupakan sebagai tempat belanja iklan dan tempat untuk melakukan promosi produk oleh
para produsen yang tepat karena sampai saat ini walaupun sudah di era teknologi
komunikasi dan informasi namun masih tidak ada media lain yang mampu untuk
mengalahkan media televisi. Bagi penelitian selanjutnya agar penelitian dapat dikatakan
akurat, peneliti dapat menggunakan metode penelitian kuantitatif serta teknik analisis data
yang dapat digunakan yaitu regresi linear sederhana dengan teknik pengambilan sampel
non-probability sampling. Variabel-variabel yang dapat digunakan berupa variabel iklan
televisi dan variabel minat beli. Tujuan dari adanya variabel-variabel tersebut adalah untuk
melihat pengaruh iklan pada media televisi terhadap minat beli konsumen.
Daftar Pustaka
Adelaar, Thomas. (2000). “Electronic Commerce and the Implications for Market Structure:
The Example of the Art and Antiques Trade,” Journal of Computer-Mediated
Communication, 5 (3).
Amirullah. (2002). Perilaku Konsumen. Cetakan Pertama. Jakarta: Graha Ilmu
Anggraini, F. (2014). Anlisis Pengharuh Iklan Televisi dan Endorser terhadap Purchase
Intention Pond's Men dengan Brand Awareness Sebagai Variabel Intervening. Jurnal
Manajemen Pemasaran, 2(1), 1-14.
Calvin Sinatra Jusuf & David Rivaldy Hermanto
Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi Asia
Volume 13 Number 1 (2019) 37-45
44
Bungin, Burhan. (2011). Konstruksi Sosial Media Massa: Kekuatan Pengaruh Media Massa,
Iklan Televisi dan Keputusan Konsumen Serta Kritik Terhadap Peter L. Berger &
Thomas Luckman. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Chandra, Gregorius. (2001). Pemasaran Global. ed 1. Yogyakarta: penerbit Andi.
Durianto. Darmadi dkk. (2003). Invasi Pasar Dengan Iklan Yang Efektif. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama.
Fauzi, Achmad. (2017). Belanja Iklan di Media pada 2016 Cappai Rp 134,8 Triliun, 5 Juni
2018. Dari
https://ekonomi.kompas.com/read/2017/02/01/201241826/belanja.iklan.di.media.pad
a.2016.capai.rp.134.8.triliun
Gunawan, F. A., & Dharmayanti, D. (2014). Analisis Pengaruh Iklan Televisi dan Endorser
terhadap Purchase Itention Pond's Men dengan Brand Awareness Sebagai Variabel
Intervening. Jurnal Manajemen Pemasaran Petra, 2(1).
Hariyana, N. (2016). Pengaruh Media Televisi terhadap Keputusan Pembelian dan Loyalitas
Produk Iklan di Wilayah Eks Karisidenan Besuki Jawa Timur. Jurnal FEB UNEJ, I.
Huda, K. (2013). Pengaruh Tayangan Iklan Televisi Terhadap Keputusan Pembelian dengan
Brand Image sebagai Variabel Intervening di Surabaya. Jurnal Ilmu dan Riset
Manajemen, II.
Indriarto, Fidelis. (2006). Studi Mengenai Faktor Kekhawatiran dalam Proses Penyampaian
Pesan Iklan. Jurnal Sains Pemasaran Indonesia. No. 3, hal 243-268.
Irmawati, D. (2011). Pemanfaattan E-Commerce dalam Dunia Bisnis. Jurnal Ilmiah Orasi
Bisnis, VI.
Junaedi, Fajar. (2013). Jurnalisme Penyiaran dan Reportase Televisi. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.
Karimuddin, Amir. (2014). Segmen Iklan Digital di Indonesi Diperkirakan Capai 8,8% Total
Market Share Tahun 2017, 5 Juni 2018. Dari https://dailysocial.id/post/segmen-iklan-
digital-di-indonesia-diperkirakan-capai-88-total-market-share-tahun-2017
Kasali, Rhenald. (2007). Manajemen Periklanan: Konsep dan Aplikasinya di Indonesia.
Jakarta : Pustaka Utama.
Kriyantono, Rachmat. (2008). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : Kencana Prenada
Media Group.
Lamb, Hair dan Mc Daniel. 2001. Pemasaran Jilid Satu. Ahli Bahasa David Octarevia.
Jakarta: Salemba Empat.
Lapan, Hartono. (2016). Kelebihan dan Kelemahan Iklan Televisi Sebagai Media Periklanan.
Go Marketing Strategic.com, 5 Juni 2018. Dari
https://www.gomarketingstrategic.com/2016/07/kelebihan-dan-kelemahan-iklan-
televisi.html
Lubis, Mia. (2017). Belanja Iklan Tumbuh Perlahan. Nielsen.com, 13 September 2017. Dari
http://www.nielsen.com/id/en/press-room/2017/BELANJA-IKLAN-TUMBUH-
PERLAHAN.html
Calvin Sinatra Jusuf & David Rivaldy Hermanto
Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi Asia
Volume 13 Number 1 (2019) 37-45
45
Lubis, Mia. (2017). Tren Baru di Kalangan Pengguna Internet di Indonesia. Nielsen.com, 13
September 2017. Dari https://www.nielsen.com/id/en/press-room/2017/TREN-BARU-
DI-KALANGAN-PENGGUNA-INTERNET-DI-INDONESIA.html
Micom, Ro. (2017). Survei Nielsen: Masyarakat Indonesia Makin Gemar Internetan, 13
Sepember 2017. Dari http://mediaindonesia.com/read/detail/114722-survei-nielsen-
masyarakat-indonesia-makin-gemar-internetan
Mujiyana, & Elissa, I. (2013, September). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Keputusan Pembelian Internet Pada Toko Online. Jurnal TI Undip, VIII(3).
Puspitasari, Intan. (2009). Pengaruh Efektivitas Iklan Terhadap Pembentukan Brand
Awareness. Tesis. Program Magister Manajemen Universitas Diponegoro.
Situmorang, James. R. (2008). Mengapa Harus Iklan. Jurnal Administrasi Bisnis. IV, No. 2,
hal 188-200.
Soemanagara. (2008). Strategic Marketing Communication. Bandung: Alfabeta.
Sufa, F., & Munas, B. (2012). Analisis Pengaruh Daya Tarik Iklan, Kualitas Pesan Iklan,
Frekuensi Penayanggan Iklan terhadap Efektivitas Iklan Televisi Mie Sedap.
Diponegoro Journal Of Management, I(1), 226-233.
Suhandang. (2005). Periklanan: Manajemen, Kiat, dan Strategi. Bandung: Nuansa.
Stats, Internet World. (2018). Usage and Population Statistic, 5 Juni 2018. Dari
https://www.internetworldstats.com/
Sunarti, Yulianto, E., & Khusnaeni , N. L. (2017, Jnui). Pengaruh Iklan Terhadap Sikap
Konsumen Serta Dampaknya Pada Keputusan Pembelian. Jurnal Administrasi Bisnis
(JAB), 47(2).
Supriyono. (2017). Akuntansi Keprilakuan. Jakarta: Grasindo.
Sutisna. (2003). Prilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Swastha, B dan Irawan. (2004). Manajemen Pemasaran Modern. Edisi Kedua. Liberty.
Yogyakarta.
Tjiptono, Fandy. (2008). Strategi Pemasaran. Edisi Ketiga. Yogyakarta: CV. Andi Offiset.
Wells, W., Moriarty, S. and Burnett, J. (2006). Advertising: Principles & Practice, 7th ed.
Wibowo, S. F., & Karimah , M. P. (2012). Pengaruh Iklan Televisi dan Harga Terhadap
Keputusan Pembelian Sabun Lux. Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia, 3(1).
Widyatama, Rendra. (2007). Pengantar Periklanan. Yogyakarta : Pustaka Book Publisher.
Qolby, U.S. (2014). Pengaruh Iklan Terhadap Konsumen (Survei pada Pengunjung yang
Pernah Bermain Game Pro Evolution Soccer di Flux Capital Of Entertaiment
Kecamatan Blimbing Kota Malang). Jurnal Administrasi Bisnis. 10(1).
Zulsufiyani, R., & Rusni. (2015, September). Iklan di Televisi dan Keputusan Membeli
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara. Jurnal Simbolika , 1(2).
... Sehingga perusahaan komersil yang menggunakan Televisi sebagai sarana produksi mengatur tiap scane dari iklan tersebut sedemikian rupa supaya mampu mengajak dan mempersuasi audience untuk membeli produk tersebut. (Jusuf & Hermanto, 2019) Terdapat pula beberapa penjelasan terkait media audio visual yang merupakan alat periklanan yang sangat intens merangsang imajinasi dan pemikiran penonton melalui gambar gambar yang ditayangkan, sehingga memiliki pengaruh yang cukup signifikan (M Irawan Saputra, Dewanto Putra Fajar, 2017). Hal ini dibuktikan oleh sebuah produk yang sudah lazim dimasyarakat khususnya di lingkungan sekitar kita yakni Pocari Sweat. ...
Article
Full-text available
Advertising is one way that companies use to promote their products or services to the public. The object analyzed in this research is the advertisement for Pocari Sweat version of Ramadhan 1442 H. As a commercial product, Pocari Sweat is not spared from a promotion so that Pocari Sweat makes an advertisement video with the theme of Ramadan. The purpose of this study was to analyze the audio visuals of the Ramadan 1442 H version of the Pocari Sweat advertisement. This study used a descriptive qualitative method using Roland Barthes' semiotic analysis approach. The results of this study indicate that the Ramadan 1442 H version of the Pocari Sweat advertisement intends to improve the company's image by using television advertising media and using rising actresses to become advertisement stars. In addition, this advertisement also intends to promote the product through advertising messages that the Pocari Sweat product is very useful for those who are fasting.
Article
Full-text available
Various research related to ICT is growing in the world, including in Indonesia. Unfortunately, there is not much research that discusses the development of ICT research in the country. This article analyzes the development of ICT research in Indonesia, including the field of study that is the study of authors. The research data comes from a collection of studies that are recorded on the Garuda portal as an index site about research in Indonesia.
ResearchGate has not been able to resolve any references for this publication.