Conference PaperPDF Available

ANALISIS KOGNITIF MAHASISWA BIOLOGI MELALUI LITERASI SAINS TERHADAP MATERI ZOOLOGI VERTEBRATA

Authors:

Abstract

Pembelajaran Zoologi Vertebrata yang dilakukan selama ini kurang memberikan hasil yang memuaskan. Selama ini, mahasiswa hanya membuktikan teori namun kurang memahami konsep Zoologi Vertebrata dengan baik. Hal ini terbukti dari rata-rata hasil belajar mahasiswa hanya mencapai skor 62 (data tahun 2013) dan skor 65 (tahun 2014). Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan: 1) perbedaan hasil belajar mahasiswa dengan penerapan pembelajaran literasi sains dan hanya dengan pembelajaran konvensional dan 2) besarnya pengaruh pembelajaran literasi sains dalam meningkatkan hasil belajar mahasiswa Biologi dalam materi Zoologi Vertebrata. Desain penelitian yang digunakan adalah post-test only control group design. Sampel berjumlah 36 orang di kelas eksperimen dan 34 di kelas kontrol. Kompetensi ilmiah yang diukur adalah mengidentifikasi masalah, menjelaskan fenomena ilmiah dan menggunakan bukti ilmiah. Hasil analisis data post test menggunakan uji statistic uji t dengan taraf nyata α=5% dibantu oleh software SPSS 17.0 for windows diperoleh Asymp.Sig. (2-tailed) sebesar 0.000. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar antara mahasiswa yang mempelajari Zoologi Vertebrata dengan pembelajaran literasi sains dan yang diajar dengan pembelajaran konvensional. Pembelajaran berbasis literasi sains ini memberikan pengaruh terhadap peningkatan hasil belajar mahasiswa sebesar 49,15%. Selain hasil belajar secara kognitif, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pembelajaran literasi sains juga dapat meningkatkan aktivitas mahasiswa. Kata kunci: kognitif, literasi sains, zoologi vertebrata
ANALISIS KOGNITIF MAHASISWA BIOLOGI MELALUI LITERASI
SAINS TERHADAP MATERI ZOOLOGI VERTEBRATA
Diana Hernawati 1,2), Mohamad Amin1),Vita Meylani2)
1) Program Studi Pendidikan Biologi, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang
Jl. Semarang No. 5, Malang
2) Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Siliwangi
Jl. Siliwangi No. 24 Tasikmalaya
Surel: hernawatidiana@yahoo.co.id
ABSTRAK
Pembelajaran Zoologi Vertebrata yang dilakukan selama ini kurang memberikan hasil yang
memuaskan. Selama ini, mahasiswa hanya membuktikan teori namun kurang memahami
konsep Zoologi Vertebrata dengan baik. Hal ini terbukti dari rata-rata hasil belajar
mahasiswa hanya mencapai skor 62 (data tahun 2013) dan skor 65 (tahun 2014). Penelitian
ini bertujuan untuk menjelaskan: 1) perbedaan hasil belajar mahasiswa dengan penerapan
pembelajaran literasi sains dan hanya dengan pembelajaran konvensional dan 2) besarnya
pengaruh pembelajaran literasi sains dalam meningkatkan hasil belajar mahasiswa Biologi
dalam materi Zoologi Vertebrata. Desain penelitian yang digunakan adalah post-test only
control group design. Sampel berjumlah 36 orang di kelas eksperimen dan 34 di kelas
kontrol. Kompetensi ilmiah yang diukur adalah mengidentifikasi masalah, menjelaskan
fenomena ilmiah dan menggunakan bukti ilmiah. Hasil analisis data post test menggunakan
uji statistic uji t dengan taraf nyata α=5% dibantu oleh software SPSS 17.0 for windows
diperoleh Asymp.Sig. (2-tailed) sebesar 0.000. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat
perbedaan hasil belajar antara mahasiswa yang mempelajari Zoologi Vertebrata dengan
pembelajaran literasi sains dan yang diajar dengan pembelajaran konvensional. Pembelajaran
berbasis literasi sains ini memberikan pengaruh terhadap peningkatan hasil belajar
mahasiswa sebesar 49,15%. Selain hasil belajar secara kognitif, hasil penelitian juga
menunjukkan bahwa pembelajaran literasi sains juga dapat meningkatkan aktivitas
mahasiswa.
Kata kunci: kognitif, literasi sains, zoologi vertebrata
Prosiding Seminar Nasional Biologi/IPA dan Pembelajarannya
PENDAHULUAN
Produk-produk kerja ilmiah yang banyak
dihasilkan selama ini, mengharuskan setiap orang
untuk mempelajari literasi sains [6].
Kebermaknaan dalam pembelajaran sains bagi
siswa dapat diperoleh jika siswa memiliki
kemampuan literasi sains yang baik. Literasi sains
ini bersifat multidimensional dalam aspek
pengukurannya yaitu dalam konten sains, proses
sains, dan konteks aplikasi [6]. Berdasarkan hasil
studi PISA membuktikan bahwa rata-rata peserta
didik Indonesia memiliki kemampuan literasi sains
yang rendah dibandingkan dengan rata-rata
Internasional yang mencapai skor 500 [8]. Bahkan
jika dilihat menurut level literasi yang dikeluarkan
oleh PISA, siswa Indonesia sebagian besar masih
berada pada level 2 maksimal level 3 untuk
kategori kemampuan sainsnya [4]. Rendahnya
mutu hasil belajar sains siswa menunjukkan bahwa
proses pembelajaran sains di sekolah-sekolah
Indonesia kurang melatih literasi sains siswa.
Kecenderungan pembelajaran sains saat ini adalah
peserta didik mempelajarinya sebagai produk,
menghafalkan konsep, teori dan hukum. Keadaan
ini diperparah oleh pembelajaran yang berorientasi
pada tes/ujian [9]. Hasil studi tersebut menjadi
salah satu dasar mengapa siswa sulit mendapatkan
makna dari pembelajaran sains yang diberikan.
Dalam mata kuliah Zoologi Vertebrata pun
pembelajaran sains dianggap sulit oleh sebagian
besar mahasiswa Pendidikan Biologi. Hal tersebut
dikarenakan materi pada mata kuliah Zoologi
Vertebrata terlalu luas (membahas seluruh
kingdom Animalia) dan rumit (banyak
menggunakan bahasa ilmiah dan taksonomi),
mahasiswa kurang terampil dalam
mengaplikasikan pengetahuan yang
dimilikinya, sehingga tingkat pemahaman
mahasiswa pada kajian ini cukup rendah.
Berdasarkan paparan sebelumnya, untuk
mengetahui kemampuan kognitif hasil belajar
mahasiswa biologi dalam materi Zoologi
Vertebrata melalui literasi sains, yang bertujuan
agar mahasiswa tidak hanya unggul dalam aspek
konten saja, akan tetapi juga dalam aspek proses
sains dan konteks aplikasi sains. Materi Zoologi
Vertebrata yang dimaksud dibatasi hanya pada
materi Pisces.
Literasi sains merupakan kemampuan
kompleks seseorang yang memungkinkannya
untuk memahami, mengkritik, dan
mengaplikasikan pengetahuan dan proses sainsnya
[10] sehingga seseorang mampu menyelesaikan
masalah yang dihadapinya terutama dalam
menghadapi persaingan global saat ini. Literasi
sains seseorang dapat ditingkatkan melalui proses
pembelajaran yang dapat melatih skillnya tidak
terkecuali kemampuan kognitifnya [4,10,11]. Salah
satu cara meningkatkan kemampuan literasi sains
seseorang banyak dilakukan melalui proses
praktik/percobaan seperti dalam kajian Biologi dan
bidang ilmu pengetahuan lainnya yang bersifat
aplikatif [2,3,5]. Oleh karena itu untuk
menganalisis kemampuan kognitif mahasiswa
Biologi dalam materi Zoologi Vertebrata dapat
dilakukan menggunakan literasi sains melalui kerja
praktikum sehingga mahasiswa mampu
memecahkan masalah yang dihadapinya dalam
kehidupan sehari-hari.
METODE
Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode eksperimen dengan pendekatan
kuantitatif dan kualitatif. Populasi dalam penelitian
ini adalah keseluruhan mahasiswa Pendidikan
Biologi FKIP Universitas Siliwangi yang belum
memperoleh materi Zoologi Vertebrata dan
diajarkan oleh dosen yang sama. Sampel dalam
penelitian ini adalah kelas 3A dan 3B dengan
jumlah siswa sebanyak 34 orang. Pengambilan
sampel pada penelitian ini dilakukan dengan teknik
random sampling yaitu pengambilan sampel secara
acak dengan asumsi semua kelas bersifat homogen
[14].
Desain penelitian ini menggunakan
Eksperimental, yaitu dengan posttest only control
group design,
X0 O
Kel. Kontrol
X1 O1
Kel. Eksperimen
Keterangan :
XO : Perlakuan yang tidak diberikan dengan
menggunakan literasi sains
X1 : Perlakuan yang diberikan dengan
menggunakan literasi sains
O : Hasil dari tanpa perlakuan
O1 : Hasil dari perlakuan
Teknik pengumpulan data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah teknik pengukuran
Prosiding Seminar Nasional Biologi/IPA dan Pembelajarannya
hasil belajar melalui tes, observasi, dan wawancara
langsung. Teknik pengukuran dilakukan dengan
memberikan skor pada tes yang dikerjakan oleh
mahasiswa sesuai dengan teori Bloom [1] pada
ranah kognitif yang mencakup:. dimensi
pengetahuan (konseptual, faktual, dan prosedural)
dan kemampuan berpikir (C1-mengingat, C2-
memahami, C3-menerapkan, C4-menganalisis, dan
C5-mengevaluasi) dan LKM praktikum untuk
setiap kelompok. Tes yang diberikan berupa tes
tertulis yang berbentuk essay untuk mengukur
literasi sains mahasiswa pada domain konten dan
konteks sains, sedangkan LKM praktikum dengan
menggunakan rating scale sebagai rubric penilaian
untuk mengukur domain proses sains dengan
memberikan tanda check (√) pada skor yang sesuai
dengan kriteria yang telah ditentukan. Teknik
observasi dilakukan dengan menggunakan daftar
check list yaitu dengan memberikan tanda check
(√) saat melakukan pengamatan pada komponen-
komponen pernyataan yang tertera dalam SAP
dengan kesesuaian dosen mengajar dan terdapat
kolom keterangan yang dapat diisi dengan respon
yang diberikan mahasiswa. Sedangkan jenis
wawancara langsung yang dilakukan adalah
wawancara tidak terstruktur dengan menggunakan
pedoman wawancara. Kreatifitas pewawancara
sangat diperlukan, bahkan hasil wawancara lebih
banyak tergantung dari pewawancara [7].
Soal tes yang digunakan dilakukan validasi
dan dilihat reliabilitasnya. Validitas yang diukur
adalah validitas isi dengan diperoleh hasil validasi
1 menggunakan perhitungan menurut Gregory
yang menunjukkan bahwa instrument penelitian
telah valid dan layak untuk digunakan.
Berdasarkan hasil uji coba soal diperoelh
reliabilitas r11 = 0,59, maka dapat disimpulkan
bahwa tingkat reliabilitas tes tergolong cukup.
Teknik pengolahan data untuk tes literasi
sains mahasiswa didasarkan pada data tes hasil
belajar dan teknik observasi. Teknik analisis data
digunakan untuk melihat perbandingan hasil
belajar mahasiswa pada kelas kontrol dan kelas
eksperimen, Analisis data yang digunakan adalah
uji normalitas dengan menggunakan Uji Chi-
Square (
χ
2), karena kedua data berdistribusi
normal maka selanjutnya dilakukan uji
homogenitas dengan menggunakan uji F
maksimum. Karena datanya homogen maka untuk
pengujian hipotesis dilakukan
dengan uji t.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
A. Literasi Sains Mahasiswa
Domain yang diukur dari literasi sains
ini adalah konten sains, proses sains, dan
konteks sains. Untuk domain konten dan
konteks sains diukur berdasarkan hasil tes soal
essay yang berjumlah 6 buah soal, sedangkan
untuk proses sains diukur berdasarkan hasil
praktikum mahasiswa dari hasil LKM
praktikum.
1. Hasil Domain Proses Sains Mahasiswa
Domain proses sains ini diukur berdasarkan
hasil LKM praktikum Mahasiswa.
Praktikum yang dilakukan ada 5 acara
praktikum tentang pisces meliputi sirip
ikan, struktur tubuh, ada tidaknya
gelembung renang, sisik pada ikan dan
gurat sisi.. Masing-masing kelas sampel
penelitian dibagi menjadi 7 kelompok
untuk melakukan praktikum dan diskusi
kelompok. Berikut ini merupakan hasil dari
tiap-tiap aspek proses sains mahasiswa
untuk tiap kelompoknya yang ditampilkan
pada Tabel 1.
Tabel 1. Rekapitulasi Persentase Aspek
Proses Sains Mahasiswa
Kelompok Parameter Total
I II III
1 6 6 8 20
2 6 4 8 18
3 5 3 8 16
4 6 2 6 14
5 8 7 8 23
6 7 7 8 22
7 8 5 8 21
Jumlah 46 34 54 134
% 82,1
4
60,7
1
96,4
3
Keterangan:
Parameter I : mengidentifikasi pertanyaan
ilmiah
Parameter II : menjelaskan fenomena ilmiah
Parameter III : menggunakan bukti ilmiah
2. Analisis Data Domain Konten dan
Konteks Sains Mahasiswa
Tahap akhir dari penelitian ini adalah
dengan pemberian tes berbentuk essay
kepada mahasiswa. Tes dalam bentuk essay
Prosiding Seminar Nasional Biologi/IPA dan Pembelajarannya
ini membantu mahasiswa untuk
mengorganisasikan pikirannya dalam
menuliskan pendapatnya untuk menjawab
setiap pertanyaan. Hasil tes menunjukkan
skor minimal yang diperoleh mahasiswa
yaitu 47 dan skor maksimal yang diperoleh
mahasiswa yaitu 100. Berikut ini
merupakan persentase hasil capaian
jawabann 36 mahasiswa untuk setiap butir
soal ditampilkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Rekapitulasi Persentase Hasil
Jawaban setiap Butir Soal
No.
Soal
Skor
Maks
Skor Total
Mahasiswa
Skor
yang
diperoleh
%
1 2 72 62 86,11
2 5 180 175 97,22
3 6 216 150 69,44
4 5 180 140 57,78
5a 3 108 105 97,22
5b 4 144 84 58,33
6 2 72 57 79,17
B. Kategori Literasi Sains Mahasiswa
Berdasarkan pengolahan data rekapitulasi
jawaban mahasiswa, maka diperoleh rata-rata
nilai mahasiswa sebesar 68,92. Dengan
demikian, standar deviasi yang diperoleh
sebesar 15,79. Nilai akhir yang diperoleh siswa
dari pengolahan data proses sains sebesar 40%
dan tes mahasiswa sebesar 60% dikelompokkan
untuk mengetahui kategori literasi sains
mahasiswa. Kategori literasi sains mahasiswa
ditentukan menjadi 3 yaitu tinggi, sedang, dan
rendah. Kategori literasi sains dapat dilihat pada
Tabel 3.
Tabel 3. Rekapitulasi Persentase Kategori
Literasi Sains Mahasiswa
Ketentuan Kategori
Mahasisw
a
Persentasee
(%)
Nilai
mahasiswa
> 84,71
Tinggi 8 22,22
53,13
Nilai
mahasiswa
84,71
Sedang 28 77,78
Nilai
mahasiswa
Rendah 0 0
< 84,71
Pembahasan
A. Analisis Literasi Sains Mahasiswa
1. Analisis Data Domain Proses Sains
Mahasiswa
Proses sains merupakan bagian dari literasi
sains yang mengukur kemampuan
mahasiswa untuk menggunakan
pengetahuannya dengan melatih mahasiswa
untuk mengidentifikasi fenomena ilmiah,
sehingga mampu menjelaskan fenomena
tersebut berdasarkan konsep materi yang
diterima dengan menggunakan bukti-bukti
ilmiah melalui suatu percobaan berdasarkan
aplikasi yang terdapat di lingkungan
sekitarnya. Berdasarkan tabel 1, adapun
aspek proses sains yang diukur antara lain:
a. Aspek mengidentifikasi pertanyaan
ilmiah
Pada aspek ini persentase yang
diperoleh sebesar 82,14%. Kriteria yang
diukur pada aspek ini merupakan
ketepatan dalam menuliskan hasil
pengamatan pada percobaan. Aspek ini
melatih kemampuan mahasiswa untuk
dapat mengidentifikasi fakta
berdasarkan hasil percobaan.
Berdasarkan tabel 1 terdapat 5
kelompok yang masih belum tepat
dalam mengamati hasil percobaan
dikarenakan kurang teliti, sedangkan 2
kelompok lainnya sudah teliti dan tepat
dalam menuliskan hasil percobaan.
b. Aspek menjelaskan fenomena ilmiah
Pada aspek ini persentase yang
diperoleh sebesar 60,71%. Kriteria yang
diukur pada aspek ini merupakan
ketepatan dalam menginterpretasikan
jawaban berdasarkan pertanyaan dalam
LKM. Aspek ini ingin mengukur sejauh
mana mahasiswa memahami konsep
suatu materi, sehingga dapat
menggunakan pengetahuan yang telah
dimilikinya berdasarkan fenomena yang
terjadi dalam kehidupan sekitarnya.
Dengan demikian mahasiswa
memahami bahwa sains sangat dekat
dengan kehidupan mereka. Berdasarkan
tabel 1 tidak ada satu kelompok pun
yang tepat dalam memaparkan jawaban
Prosiding Seminar Nasional Biologi/IPA dan Pembelajarannya
dari setiap pertanyaan yang terdapat
dalam LKM. Pada saat diskusi
kelompok, tergambarkan bahwa
mahasiswa masih belum tepat untuk
menjelaskan keterkaitan konsep materi
mengenai struktur pendukung renang
pada Pisces terhadap peristiwa
kemampuan berenang ikan air tawar
dan air laut berdasarkan aplikasi dalam
kehidupan sehari-hari.
c. Aspek menggunakan bukti ilmiah
Pada aspek ini persentase yang
diperoleh sebesar 96,43%. Kriteria yang
diukur pada aspek ini merupakan
ketepatan dalam menuliskan simpulan.
Berdasarkan tabel 1, hampir seluruh
kelompok menuliskan secara tepat
simpulan dari setiap percobaan yang
dilakukan.
2. Analisis Data domain Konten dan
Konteks Sains Mahasiswa
Domain konten sains merupakan pokok
bahasan dari materi Pisces dengan sub
materi struktur pendukung renang pada
Pisces, sedangkan konteks sains merupakan
aplikasi dari materi struktur pendukung
renang yang berkaitan dnegan kehidupan
sehari-hari. Konten dan konteks sains dapat
tergambarkan berdasarkan rekapitulasi
jawaban mahasiswa.
Hasil analisis soal pada tabel 2
menunjukkan bahwa pada soal no 1
persentase capaian jawaban mahasiswa
pada soal ini sebesar 86,11%. Konten sains
yang terdapat dalam soal ini adalah
klasifikasi Pisces yang berkesesuaian
dengan isi materi. Hal ini menggambarkan
mahasiswa telah memahami konten sains
dari materi tersebut, meskipun demikian
masih terdapat mahasiswa yang belum
memahami konten sains tersebut. Hal ini
dikarenakan mahasiswa kurang dilatih
dalam mengerjakan soal-soal yang
ditampilkan dalam bentuk gambar atau
grafik, sehingga mahasiswa belum terbiasa
dalam membaca gambar atau grafik
tersebut.
Berdasarkan tabel no 2 menunjukkan bahwa
pada soal no 2 persentase jawaban
mahasiswa pada soal ini sebesar 97,22%.
Soal nomor 2 ini merupakan soal mengenai
alasan Pisces berenang. Konten sains yang
terdapat dalam soal ini adalah factor yang
mempengaruhi dan menyebabkan ikan
berenang. Soal ini memberikan keterkaitan
factor yang menyebabkan Pisces berenang
dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian
besar mahasiswa dapat mengerjakan soal
ini.
Soal nomor 3 merupakan soal aplikasi
dalam kehidupan sehari-hari yang sering
terjadi di sekitar mereka mengenai ikan
tuna yang harganya mahal dikaitkan dengan
kemampuan berenangnya. Berdasarkan
tabel 2 persentase jawaban mahasiswa pada
soal ini sebesar 69,44%. Hal ini
menggambarkan bahwa sebagian
mahasiswa telah memahami konten dan
konteks sains dari materi tersebut. Soal ini
merupakan soal penerapan struktur
pendukung renang pada Pisces, sehingga
mahasiswa menyadari bahwa sains banyak
terdapat di sekitar mereka. Berdasarkan
interpretasi jawaban mahasiswa bahwa
keseluruhan mahasiswa dapat menjawab
bahwa ada keterkaitan antara harga tuna
yang mahal dengan struktur otot yang
dimilikinya dan kecepatan berenangnya.
Hal ini menunjukkan bahwa literasi sains
dapat melatih kemampuan analisis
mahasiswa dalam mengaitkan konsep
materi terhadap aplikasi dalam kehidupan
sehari-hari. Kesulitan mahasiswa masih
terletak dalam menjelaskan hal tersebut,
dikarenakan sebagain mahasiswa masih
belum memahami secara konten sains.
Rendahnya kemampuan mahasiswa dalam
konten sains ini menyebabkan perlunya
mahasiswa diberikan latihan-latihan soal
yang aplikatif dalam pembelajarannya.
Soal nomor 4 merupakan soal penerapan
adaptasi Clarias batrachus dan Thunnus sp.
yang tidak memiliki gelembung renang
dapat bertahan hidup dan bergerak di dalam
air. Berdasarkan tabel 2 persentase apaian
jawaban mahasiswa pada soal ini sebesar
57,78%. Berdasarkan interpretasi jawaban
mahasiswa bahwa sebagian besar
mahasiswa mampu menganalisis faktor
adaptasi Clarias batrachus dan Thunnus sp.
yang tidak memiliki gelembung renang
dapat bertahan hidup dan bergerak di dalam
air.
Prosiding Seminar Nasional Biologi/IPA dan Pembelajarannya
Soal nomor 5 merupakan soal untuk melatih
kemampuan mahasiswa dalam membaca
tabel dan mampu menginterpretasikannya
ke dalam bentuk penjelasan kalimat
berdasarkan tabel tersebut. Konten sains
yang terdapat dalam soal nomor 5 ini adalah
faktor biotik kandungan air yang
mempengaruhi kemampuan bertahan Pisces
di air. Berdasarkan tabel 2 persentase
capaian jawaban mahasiswa pada soal
nomor 5a dan 5b sebesar 97,22% dan
58,33%. Kategori soal untuk
menggambarkan tabel hanya satu orang saja
yang tidak tepat dalam menjawab tersebut.
Ketidaktepatan mahasiswa tersebut karena
belum memahami konten sains, sehingga
mahasiswa tersebut terbalik dalam
menguraikan tabel yang disediakan.
Kategori soal menjelaskan hubungan tabel
berdasarkan analisis jawaban mahasiswa
masih tergolong rendah. Dengan demikian,
siswa masih belum paham terhadap konten
sains tersebut.
Soal nomor 6 merupakan soal aplikasi
dalam kehidupan sehari-hari mengenai
proses kecepatan berenang pada ikan
tergantung pada struktur sirip, bentuk
badan, dan komponen penyusun otot pada
ikan air laut. Berdasarkan tabel 2 persentase
capaian jawaban mahasiswa sebesar
79,17% yang menggambarkan sebagian
mahasiswa telah memahami konten dan
konteks sains. Berdasarkan interpretasi
jawaban mahasiswa, sebagian mahasiswa
masih kesulitan dalam membuat
kesimpulan. Hal tersebut dikarenakan
mahasiswa kurang dilatih dalam
mengerjakan soal analisis yang selanjutnya
dibuat simpulan.
Berdasarkan hasil capaian jawaban
mahasiswa dilakukan wawancara kepada
beberapa mahasiswa untuk mengetahui
hambatan mahasiswa dalam menjawab soal
yang diberikan. Hasil wawancara tersebut
menggambarkan bahwa beberapa
mahasiswa kurang tertarik pada mata kuliah
Zoologi Vertebrata, karena terlalu banyak
bahasa ilmiah dan konsep yang harus
dipahami. Oleh karena itu, ketika dosen
menjelaskan mahasiswa tersebut kurang
memperhatikan. Mahasiswa yang lain
mengutarakan masih belum paham dalam
menganalisis hubungan konsep materi
terhadap peristiwa dalam kehidupan sehari-
hari dan banyaknya konsep materi yang
harus dipahami. Sebagian lagi yang
memperoleh nilai maksimal mengutarakan
bahwa telah paham dengan materi yang
diajarkan karena menyimak penjelasan dari
dosen dan mencari informasi dari referensi
lain.
B. Analisis Kategori Literasi Sains Mahasiswa
Hasil analisis domain proses sains, konten
sains, dan konteks sains mahasiswa pada tabel 3
menunjukkan bahwa kategori literasi sains dari
36 mahasiswa yang dominan diperoleh adalah
kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa
kemampaun literasi sains mahasiswa dapat
dilatih, meskipun belum secara keseluruhan.
Hal ini dikarenakan mahasiswa belum terbiasa
dengan pembelajaran yang diterapkan. Selain
itu, mahasiswa belum terbiasa mengerjakan
soal-soal literasi sains berbentuk aplikasi yang
terkait dengan konsep materi yang menuntut
kemampuan analisis untuk mengerjakannya.
Oleh karena itu, dibutuhkan kemampuan dari
dosen untuk mempersiapkan pembelajaran yang
sedemikian rupa, sehingga dapat menggali dan
mengoptimalkan kemampuan literasi sains
mahasiswa.
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis data yang diperoleh dapat
disimpulkan kategori literasi sains mahasiswa
pendidikan Biologi FKIP Universitas Siliwangi
dengan persentase yang diperoleh sebesar 77,78%
termasuk kategori sedang, hal ini menunjukkan
bahwa kemampuan literasi sains mahasiswa dapat
dialtih sehingga kemampuan kognitifnya juga
meningkat .
DAFTAR PUSTAKA
[1] Anderson, O.W., & D.R Krathwol, (2001), a
Taxonomy for Learning, Teaching and
Assesing, Addison Wesley Longman Inc.,
New York,
[2] Bauer, K. L, (1996), An Analysis of
Attitudes Regarding Scientific Literacy
among Students and Faculty in the
Department of Biological Sciences, Idaho
State University (Order No. 9701769).
Prosiding Seminar Nasional Biologi/IPA dan Pembelajarannya
Available from Proquest Dissertations &
Theses Full Text: The Humanities And
Social Sciences Collection. (304331451).
[3] Bisanz, J., Zimmerman, C., & Bisanz, G. L.,
(1998), Everyday Scientific Literacy: do
Students Use Information about the Social
Context and Methods of Research to
Evaluate News Briefs about Science,
Alberta Journal of Educational Research, 44
(2), 188.
[4] Bybee, R. W, (2009), Program for
International Student Assessment (PISA)
2006 And Scientific Literacy: A Perspective
for Science Education Leaders*. Science
Educator, 18(2), 1-13.
[5] Jagger, S. L., & Yore, L. D., (2012), Mind
The Gap: Looking for Evidence-Based
Practice of Science Literacy for All in
Science Teaching Journals, Journal of
Science Teacher Education, 23(6), 559-577.
[6] Koballa, T., Kemp, A., & Evans, R., (1997),
The Spectrum of Scientific Literacy, The
Science Teacher, 64 (7), 27-31.
[7] Suharsimi, Arikunto, (2010), Prosedur
Penelitian suatu Pendekatan Praktik,
Jakarta:Rineka Cipta.
[8] Toharudin, Uus., Hendrawati, Sri., &
Ustaman, Andrian, (2007), Membangun
Literasi Sains Peserta Didik, Bandung:
Humaniora. Trianto. (2007). Model
Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan
Praktek. Jakarta: Prestasi Pustaka.
[9] Trianto, (2007), Model Pembelajaran
Terpadu dalam Teori dan Praktek. Jakarta:
Prestasi Pustaka.
[10] Wendt, J. L, (2013), the Effect of Online
Collaborative Learning on Middle School
Student Science Literacy and Sense of
Community (Order No. 3559209), Available
from Proquest Dissertations & Theses Full
Text: The Humanities and Social Sciences
Collection. (1353391474).
[11] Westby, C., & Torres-Velaquez, D, (2000),
Developing Scientific Literacy, Remedial
and Special Education, 21 (2), 101.
Prosiding Seminar Nasional Biologi/IPA dan Pembelajarannya
ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication.
ResearchGate has not been able to resolve any references for this publication.