ArticlePDF Available

Peran Ekosistem Mangrove Bagi Mitigasi Pemanasan Global

Authors:

Abstract

Ekosistem mangrove merupakan ekosistem di daerah pesisir tropis dan subtropis yang berperan penting sebagai ekosistem pelindung pantai dari abrasi dan tsunami; produsen makanan bagi makhluk hidup pesisir serta ekosistem penyerap dan penyimpan karbon bagi ekosistem pesisir. Sebagai penyerap dan penyimpan karbon, mangrove dapat menyimpan karbon lebih banyak dari hampir semua ekosistem di bumi, sehingga ekosistem ini dapat berperan penting pula dalam upaya mitigasi pemanasan global. Mangrove dapat menyimpan karbon lebih banyak dari hampir semua ekosistem di bumi. Hampir 40% dari biomassa pohon adalah karbon, dimana melalui proses fotosintesis dapat menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan mengubahnya menjadi karbon organik (karbohidrat). Penyimpanan karbon pada ekosistem mangrove dapat dalam biomassa vegetasinya seperti dalam batang, daun, akar, umbi, buah dan lainnya. Estimasi potensi penyimpanan karbon dalam vegetasi mangrove sebagai mitigasi pemanasan global, menjadikan indikator penting bagi konservasi ekosistem mangrove. Kata Kunci : Mangrove, Pemanasan Global, Dampak
PERAN EKOSISTEM MANGROVE BAGI MITIGASI PEMANASAN
GLOBAL
Adilah Dinilhuda1) Aji Ali Akbar1,2) Jumiati1)
1)Program Studi Teknik Lingkungan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura, Pontianak
2) Correspondent author: aji.ali.akbar.2011@gmail.com
ABSTRAK
Ekosistem mangrove merupakan ekosistem di daerah pesisir tropis dan subtropis yang berperan penting sebagai
ekosistem pelindung pantai dari abrasi dan tsunami; produsen makanan bagi makhluk hidup pesisir serta
ekosistem penyerap dan penyimpan karbon bagi ekosistem pesisir. Sebagai penyerap dan penyimpan karbon,
mangrove dapat menyimpan karbon lebih banyak dari hampir semua ekosistem di bumi, sehingga ekosistem ini
dapat berperan penting pula dalam upaya mitigasi pemanasan global. Mangrove dapat menyimpan karbon lebih
banyak dari hampir semua ekosistem di bumi. Hampir 40% dari biomassa pohon adalah karbon, dimana melalui
proses fotosintesis dapat menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan mengubahnya menjadi karbon organik
(karbohidrat). Penyimpanan karbon pada ekosistem mangrove dapat dalam biomassa vegetasinya seperti dalam
batang, daun, akar, umbi, buah dan lainnya. Estimasi potensi penyimpanan karbon dalam vegetasi mangrove
sebagai mitigasi pemanasan global, menjadikan indikator penting bagi konservasi ekosistem mangrove.
Kata Kunci : Mangrove, Pemanasan Global, Dampak
ABSTRACT
(The Role of Mangrove Ecosystems for Mitigating Global Warming) Mangrove are ecosystems in tropical and
subtropical coastal areas that an important role as a coastal protective ecosystem from abrasion and tsunami;
food producers for coastal living creatures as well as absorbent and carbon storage ecosystems for coastal
ecosystems. As carbon absorbers and storage, mangroves can store more carbon than almost all forest ecosystems
on earth, so this ecosystem can play an important role in mitigating global warming. Mangroves can be carbon
sink ecosystems. Nearly 40% of tree biomass is carbon, which through photosynthesis can absorb carbon dioxide
from the atmosphere and convert it to organic carbon (carbohydrates). Storage of carbon in mangrove ecosystems
can be in vegetation biomass such as in stems, leaves, roots, tubers, fruit and others. The estimation of the
potential of carbon storage in mangrove vegetation as a mitigation of global warming, makes it an important
indicator for the conservation of mangrove ecosystems.
Keywords: Mangrove, Global Warming, Impact
1. PENDAHULUAN
Ekosistem mangrove berfungsi sebagaimana
ekosistem hutan lainnya, yaitu penyerap karbon.
Mangrove sebagai suatu ekosistem memiliki fungsi
ekologi berupa pemecah ombak, mencegah abrasi,
sebagai produsen makanan bagi makhluk hidup
pesisir, serta upaya mitigasi pemanasan global.
Mangrove dapat menyimpan karbon lebih banyak
dari hampir semua hutan di bumi. Potensi
penyerapan karbon dipengaruhi oleh kemampuan
pohon untuk menyerap karbon melalui proses
fotosintesis. Tumbuhan memerlukan Karbon
dioksida (CO2) pada proses fotosintesis yang akan
diserap dari udara di atmosfer. Karbon yang diserap
akan tersimpan dalam bentuk biomassa tumbuhan
(Rachmawati et al., 2014).
Hampir 40% dari biomassa pohon adalah
karbon, dimana pohon melalui proses fotosintesis
menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan
mengubahnya menjadi karbon organik (karbohidrat)
dan menyimpannya dalam biomassa tubuhnya
seperti dalam batang, daun, akar, umbi, buah dan
lainnya. Cara yang dapat digunakna untuk
mengetahui simpanan karbon adalah dengan
menghitung biomassa dari tumbuhan tersebut
(Rahmah et al., 2015). Biomassa dari penyerapan
karbon merupakan jasa hutan sebagai upaya
pemulihan lingkungan dengan pengurangan CO2 di
udara. Kehilangan atau terdegradasinya ekosistem
mangrove akan menjadi sumber karbon dalam
jumlah besar untuk efek rumah kaca (Sondak et al.,
2015). Merosotnya penyerapan atau penyimpanan
karbon dioksida berhubungan erat dengan biomassa
tegakan, jumlah biomassa suatu kawasan diperoleh
dari produksi dan kerapatan biomassa yang diduga
dari pengukuran diameter, tinggi, berat jenis dan
kepadatan setiap jenis pohon. Penurunan luas
ekosistem hutan mangrove berhubungan dengan
penyerapan dan penyimpan karbon guna
pengurangan kadar CO2 di udara (Dharmawan dan
Samsoedin, 2012). Pentingnya estimasi potensi
penyimpanan karbon dalam vegetasi mangrove
sebagai mitigasi pemanasan global, menjadikan
isyarat agar melakukan konservasi terhadap
ekosistem mangrove (Senoaji dan Hidayat, 2016).
Ekosistem mangrove berperan dalam memberikan
jasa lingkungan dalam penyimpanan karbon yang
berdampak baik bagi lingkungan dan manusia.
Dampak pemanasan global karena meningkatnya
konsentrasi gas-gas di atmosfir seperti CO2 akan
mempengaruhi peningkatan temperatur bumi.
Peningkatan ini mengakibatkan iklim global
berubah seperti perubahan curah hujan dan naiknya
intensitas frekwensi badai, naiknya pasang surut laut
akibat memuainya air laut pada temperatur yang
lebih tinggi. Dampak pemanasan globail lainnya
seperti, es abadi akan mencair di kawasan kutub
bumi, salinitas menurun dan sedimentasi meningkat
di kawasan pesisir dan lautan, sehingga semakin
mengancam keberlanjutan sumber daya alam pesisir
dan laut sebagai penyangga kehidupan manusia
(Latuconsina, 2010).
Artikel ini bertujuan untuk mengulas
pentingnya ekosistem mangrove dalam mitigasi
bencana khususnya bencana pemanasan global.
2. METODE
Artikel ini merupakan suatu kajian
berdasarkan pustaka dari berbagai ragam sumber.
Pembahasan mendalam dilakukan guna
menghubungkan segala peranan dan dampak
mangrove bagi lingkungan dan manusia. Windiani
(2010) menyatakan hutan merupakan sumber daya
alam yang mempunyai multi fungsi sangat penting
bagi kehidupan. Manusia merupakan agen yang
memanfaatkan sumber daya alam. Pemanfaatan
sumber daya alam oleh manusia akan
menimbulkan perubahan terhadap ekosistem yang
akan mempengaruhi kelestarian sumber daya alam
itu sendiri. Senoaji dan Hidayat (2016) menyatakan
bahwa hutan mangrove merupakan salah satu hutan
yang memiliki peranan besar terhadap perubahan
global. Peranan mangrove sebagai mitigasi
pemanasan global yang menjadikan indikator
untuk melakukan konservasi terhadap ekosistem
mangrove. Kajian yang dilakukan dengan
mengintegrasikan berbagai pustaka terkini dalam
memperkaya informasi. Kata kunci dalam
penelusuran pustaka berdasarkan kata: mangrove,
pemanasan global, dampak.
3. PEMBAHASAN
A. Pengertian Mangrove, Tempat Hidup Dan
Syarat Hidupnya
Pengertian diartikan berbeda- beda menurut
para ahli. Mangrove di definisikan menurut sebagai
tumbuhan yang terdapat di daerah pasang surut
maupun sebagai komunitas (Tomlinson, 1986;
Wightman, 1989). Menurut Saerang (1983)
mangrove juga didefinisikan sebagai formasi
tumbuhan daerah litoral yang khas di pantai daerah
tropis dan sub tropis yang terlindung. Sementara itu
Soerianegara (1987) mendefinisikan hutan
mangrove sebagai hutan yang terutama tumbuh pada
tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara
sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut, dan
terdiri atas jenis-jenis pohon Aicennia, Sonneratia,
Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Lumnitzera,
Excoecaria, Xylocarpus, Aegiceras, Scyphyphora
dan Nypa. Pada intinya mangrove merupakan
vegetasi yang tumbuh di daerah pasang surut (Rusila
et al, 2006). Ekosistem mangrove atau berupa hutan
mangrove dapat didefinisikan sebagai ekosistem
hutan dengan faktor fisik yang ekstrem berupa
habitat tergenang air dengan salinitas tinggi di pantai
dan sungai dengan kondisi tanah berlumpur
(Herianto dan Subiandono, 2016).
Setiap jenis hutan memiliki karakteristik
lingkungan masing-masing yang terdiri dari tipe
tanah, kedalaman, salinitas tanah dan pasang surut.
Komunitas hutang mangrove maisng-masing juga
menghasilkan komposisi sampah alam, pelepasan
kabon dalam siklus daur ulang dan komponen
komunitas yang berbeda. Menurut Lugo and
Snedaker dalam FAO (1994), mengklasifikasikan
mangrove menjadi 6 tipe hutan berdasarkan bentuk,
geologi dan siklus hidrologi yaitu:
a. Overwash Mangrove Forest merupakan
hutan mangrove yang berada di pulau dengan
spesies dominan yaitu mangrove merah.
Hutan mangrove ini sering tergenang dan
tersiram air pasang, yang mengakibatkan
tingginya tingkat ekspor organik. Dan
ketinggian pohon maksimum sekitar 7m.
b. Fringe Mangrove Forest merupakan hutan
mangrove yang ditemukan atau hidup di
sepanjang perairan atau garis pantai yang
memiliki ketinggian lebih tinggi dari tingkat
pasang naik rata-rata. Tinggi mangrove
maksimum adalah sekitar 10 m.
c. Riverine Mangrove Forest yaitu hutan
mangrove yang berada di pinggiran sungai
dan sungai pasang surut. Hutan ini memiliki
tipe mangrove yang tinggi mencapai 18-20m.
d. Basin Mangrove Forest ialah hutan
mangrove memiliki mangrove betipe kerdil
yang terdapat di bagian dalam rawa-rawa.
Terdapat jenis mangrove merah di bagian
pasang surut. Jenis mangrove pada daerah
pedalaman didominasi oleh mangrove putih
dan hitam . Tinggi mangrove di hutan ini
mencapai 15 m.
e. Hammock Forest umumnya mirip dengan
basin mangrove forest dengan ketinggian
yang sedikit lebih tinggi dibandingkan
dengan daerah sekitarnya. Semua spesies
mangrove dapat tumbuh tetapi tingginya
jarang lebih dari 5m.
f. Scrub of Dwarf Forest merupakan jenis hutan
di pinggiran pantai datar yang berada di
Florida Selatan dan Florida Keys. Nutrisi
menjadi faktor pembatas pertumbuhan
sehingga hanya tumbuh di daerah tersebut
dengan tinggi jarang melebihi 1,5 m.
Pertumbuhan dan perkembangan mangrove
sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Faktor iklim
merupakan faktor utama yang mempengaruhi
kehidupan mangrove. Faktor-faktor yang
mempengaruhi seperti; suhu, angin dan badai, hujan
dan zona kehidupan (dearah). Bentuk pertahanan
mangrove dalam pertumbuhan merupakan suatu
adaptasi dari mangrove terhadap lingkungan. Faktor
adaptasi yang berperan dalam pertumbuhan
mangrove seperti; letak delta, hidrologi dan
drainase, sedimen dan kekeruhan, klasifikasi estuari
pantai, akresi dan erosi, pasang surut, salinitas
(FAO, 1994).
Menurut Hariphin et al (2016), faktor
lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan
mangrove meliputi kelembaban substrat (%), pH
substrat, suhu udara (ºC), suhu substrat (ºC), dan
salinitas (‰). Perairan dengan nilai pH 5,6-7,5
termasuk perairan yang produktif, sedangkan
perairan dengan pH 7,5-8,5, adalah perairan yang
memiliki produktivitas yang sangat tinggi. Suhu
udara mangrove untuk dapat tumbuh dengan baik
pada suhu rata-rata ˃20ºC dan perbedaan suhu
musiman tidak melebihi 5ºC. Suhu berperan penting
dalam proses fisiologi seperti fotosintesis dan
respirasi. Syarat pertumbuhan lainnya dikemukakan
dalam Hamran et al (2014) yaitu syarat
pertumbuhan mangrove yang ideal memiliki suhu
substrat berkisar 27-31C. Suhu substrat sangat
membantu dalam proses dekomposisi mineral di
habitat mangrove, yang digunakan oleh tanaman
mangrove untuk memenuhi kebutuhan energinya
selama mengalami pertumbuhan. Salinitas dari
lingkungan sekitar mangrove berkontribusi terhadap
ketahanan serta jenis mangrove untuk tumbuh di
suatu daerah. Perkembangan mangrove ideal
memiliki salinitas bervariasi antara 0,5-35%.
Tumbuhan mangrove tumbuh subur di daerah
dengan salinitas 10-30 . Salinitas yang sangat
tinggi (±35‰) berpengaruh buruk, karena dampak
negatif tekanan osmotik. Kelembaban substrat
dipengaruhi oleh tutupan kanopi sehingga
kelembaban substrat lebih stabil. Setiap jenis
mangrove memiliki kriteria masing-masing dalam
kelembaban substrat yang ideal untuk pertumbuhan
dan perkembangannya.
B. Penyebab Kerusakan Ekosistem Mangrove
Luas hutan mangrove di Indonesia pada
Tahun 1999 mencapai 8,60 juta Ha dan yang telah
mengalami kerusakan sekitar 5,30 juta Ha. Kondisi
kerusakan hutan mangrove di Indonesia dapat
dibedakan menjadi hutan mangrove rusak berat
mencapai luas 42%, hutan mangrove rusak seluas
29%, hutan mangrove dalam kondisi baik seluas
kurang dari 23% dan hutan mangrove dalam kondisi
sangat baik hanya seluas 6% dari keseluruhan luas
mangrove. Berkurangnya luasan ekosistem
mangrove alami terjadi seiring meningkatnya
kebutuhan manusia yang mendorong deforestasi
hutan mangrove untuk memenuhi kebutuhan
tersebut (Umayah et al, 2016). Kerusakan mangrove
dapat terjadi secara alami atau melalui tekanan
masyarakat sekitarnya. Kerusakan ekosistem
mangrove secara alami memiliki kadar kerusakan
jauh lebih kecil dari pada kerusakan akibat ulah
manusia. Kerusakan alami umumnya merupakan
siklus alam yang selalu terjadi dan kerusakan
tersebut dapat pulih karena alam dapat memperbaiki
dirinya sendiri. Kerusakan alami terjadi karena
peristiwa alam seperti adanya angin topan atau badai
dan iklim kering berkepanjangan yang
menyebabkan akumulasi kadar garam dalam
tanaman (Ario et al., 2015).
Kerusakan juga diakibatkan oleh ulah
manusia karena banyaknya aktifitas manusia di
sekitar kawasan hutan mangrove yang berakibat
pada perubahan karakteristik fisik dan kimiawi
disekitar habitat mangrove. Perubahan tersebut
membuat hutan mangrove tidak lagi sesuai bagi
kehidupan dan perkembangan flora dan fauna hutan
mangrove (Ario et al., 2015). Terdapat dua jenis
tekanan utama yang menjadi penyebab terjadinya
degradasi hutan mangrove, yaitu tekanan ekstemal
dan tekanan internal. Tekanan ekstemal adalah
tekanan yang datang dari luar ekosistem mangrove
itu sendiri, seperti konversi hutan mangrove menjadi
pemukiman, industri atau rekreasi. Tekanan internal
adalah tekanan mangrove yang bersumber dari
masyarakat sekitar hutan mangrove untuk
memanfaatkan ekosistem (Arizona et al., 2009).
Perubahan alih fungsi lahan dan pemanfaatan kayu
mangrove untuk berbagai keperluan, pembuatan
tambak, pemukiman, dan sebagainya merupakan
kerusakan yang diakibatkan ulah manusia (Ario et
al, 2015). Tingkat kerusakan ekosistem mangrove
menjadi sangat cepat akibat pencemaran
lingkungan, reklamasi dan sedimentasi dan lainnya
(Setyawan dan Winarno, 2006).
Konversi atau perubahan alih fungsi lahan
mangrove diperuntukkan sebagai tempat
pemukiman terus meningkat seirama dengan
meningkatnya populasi serta pesatnya
pembangunan. Masyarakat cenderung melirik hutan
mangrove untuk mendirikan rumah. Keterbatasan
lahan untuk pemukiman khususnya di wilayah yang
berpenduduk padat menjadikan alasan masyarakat
untuk melakukan alih fungsi hutan mangrove.
Kerusakan lahan mangrove semakain diperparah
dengan adanya pemanfaatan mangrove sebagai
bahan bangunan. Masyarakat yang bertepat tinggal
di sekitar hutan mangrove cenderung akan
menggunakan batang pohon mangrove untuk
membangun rumah (Pramudji, 2000).
Konversi lahan mangrove yang diperuntukan
sebagai lahan pertanian dan pertambakan dalam
usaha memenuhi kebutuhan hidup. Pembukaan
lahan mangrove (clear cutting) menyebabkan lahan
tersebut menimbulkan berbagai masalah, antara lain
lingkungan yang asin, kandungan pirit (FeS2) yang
tinggi, kondisi yang anaerob dan akibatnya lahan ini
menjadi rusak. Terbukanya lahan mangrove juga
akan menyebabkan proses oksidasi mengeluarkan
asam sulfat, sehingga tanah menjadi sangat asam
dan mengandung banyak garam terlarut. Kondisi
seperti yang diuraikan di atas, dampaknya adalah
menyebabkan lahan tersebut tidak cocok untuk
pertambakan dan pertanian (misalnya padi) tidak
tumbuh atau produktivitasnya sangat rendah.
Tingginya kandungan pirit dalam substrat juga akan
menjadi masalah dalam perikanan tambak
(Pramudji, 2000).
Erosi dan sedimentasi merupakan salah satu
kerusakan alami. Besarnya kerusakan yang terjadi
dipercepat oleh dampak dari aktivitas konversi lahan
mangrove yang terus meningkat. Peningkatan
kerusakan secara tidak langsung mengakibatkan
terjadinya pengikisan di sepanjang pantai (Arizona
et al, 2009). Laju sedimentasi yang semakin cepat
mengakibatkan banyak timbunan sampah serta
pencemaran lainnya yang tidak terurai kemudian
terakumulasi dan ikut mencemari ekosistem
mangrove (Pattipeilohy, 2014)
C. Peran Ekosistem Mangrove Bagi Manusia:
Peran Pelindung Pantai, Perikanan, Hidrologi,
Dan Simpanan Karbon
Mangrove memiliki manfaat yang luas secara
biogeokimia lingkungan dan sosial ekonomi
masyarakat. Kekayaan manfaat dari ekosistem
mangrove juga berhubungan dengan fungsi fisik
sebagai mitigasi bencana. Menurut Saparinto dalam
Baderan (2017) hutan mangrove secara fisik dapat
berfungsi menjaga garis pantai agar tetap stabil,
melindungi pantai dan tebing sungai dari proses
abrasi, meredam dan menahan hempasan badai
tsunami, sebagai kawasan penyangga proses intrusi
atau rembesan air laut ke darat. Peranan mangrove
menurut Senoaji dan Hidayat (2016) yaitu mangrove
sebagai penahan lumpur dan perangkap sedimen
yang diangkut oleh aliran air permukaan, pencegah
intrusi air laut ke daratan, serta dapat menjadi
penetralisir pencemaran perairan pada batas
tertentu.
Ekosistem mangrove memiliki manfaat
biologis dalam produktivitas penyedia makanan
berlimpah bagi berbagai jenis hewan laut dan
menyediakan tempat berkembang biak, memijah
dan membesarkan anak bagi beberapa jenis ikan,
kerang, kepiting dan udang. Secara tidak langsung
kehidupan manusia tergantung pada keberadaan
ekosistem mangrove pada wilayah pesisir. Berbagai
jenis ikan baik yang bersifat herbivora, omnivora
maupun karnivora hidup mencari makan di sekitar
mangrove terutama pada waktu air pasang.
Pengurangan hutan mangrove tentu akan
menurunkan produktivitas perikanan tangkap
(Kariada dan Irsadi, 2014). Ketersediaan hewan laut
yang dapat di konsumsi tentunya akan memberikan
manfaat secara social maupun ekonomi bagi
masayarakat sekitar.
Hutan mangrove memiliki peranan dalam
sistem hidrologi Daerah Aliran Sungai (DAS)
maupun siklus hidrologi daerah pesisir. Kawasan
hutan mangrove yang berada di tepian sungai
berfungsi sebagai penyangga tata air daerah hilir
(Windiani, 2010). Mangrove memiliki toleransi
yang tinggi terhadap logam berat yang dalam jumlah
besar. Zat pencemar yang ada diperairan akan
diserap mangrove sehingga kualitas air bagi
makhluk hidup menjadi baik dan konsentrsai zat
pecemar dalam hewan laut sedikit. Mangrove juga
merupakan tempat hidup berbagai jenis gastropoda,
kepiting pemakan detritus, dan bivalvia pemakan
plankton sehingga akan memperkuat fungsi
mangrove sebagai biofilter alami (Kariada dan
Irsadi, 2014).
Keseimbangan ekologi lingkungan perairan
pantai akan tetap terjaga apabila keberadaan
mangrove dipertahankan karena mangrove dapat
berfungsi sebagai biofilter, agen pengikat dan
perangkap polusi baik perairan maupun udara
(Mulyadi et al., 2010). Fungsi kimia, sebagai proses
daur yang menghasilkan oksigen, menyerap karbon
dioksida serta menyimpan karbon (Baderan, 2017).
Fungsi optimal mangrove dalam penyerapan karbon
mencapai 77,9% (Heriayanto dan Subiandono,
2016). Rosot karbon dioksida berhubungan erat
dengan biomassa tegakan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa ekosistem mangrove memiliki
peranan yang penting dalam mengurangi efek gas
rumah kaca sebagai mitigasi perubahan iklim karena
mampu mereduksi CO2 melalui mekanisme
“sekuestrasi”, yaitu penyerapan karbon dari
atmosfer dan penyimpanannya dalam bentuk
biomassa yang mencapai 296 ton C/ha (Rahman et
al., 2017). Selama pohon atau tegakan itu hidup,
maka proses penyerapan karbon dioksida dari
atmosfer terus berlangsung.
D. Dampak Kerusakan Mangrove Terhadap
Global Warming
Biomassa hutan sangat relevan dengan isu
perubahan iklim. Biomasa hutan berperan penting
dalam siklus biogeokimia terutama dalam siklus
karbon. Keseluruhan karbon hutan, sekitar 50%
diantaranya tersimpan dalam vegetasi hutan.
Sebagai konsekuensi, jika terjadi kerusakan hutan,
kebakaran, pembalakan d sebagainya akan
menambah jumlah karbon di atmosfer (Sutaryono,
2009). Karbon dioksida merupakan salah satu emisi
yang dihasilkan dari berbagai aktivitas. Gas karbon
dioksida bersifat dapat menyerap radiasi infra
merah. Konsentrasi karbondioksida yang terus
meningkat dapat membuat radiasi yang dipancarkan
oleh bumi tidak dapat lepas ke angkasa luar
sehingga terperangkap di bumi. Kondisi
terperangkapnya radiasi di bumi dapat membentuk
efek rumah kaca yang mengakibatkan perubahan
iklim. Karbon dioksida masuk ke dalam atmosfer
dapat berasal dari dua sumber yaitu sumber alami
dan buatan. Sumber alami tergolong penting
meliputi proses pernafasan makhluk hidup di bumi
serta bahan organik. Sumber buatan dapat meliputi
pembakaran bahan bakar fosil, industri, pembakaran
hutan dan perubahan tata guna lahan. Konsentrsai
karbon dioksida di udara akan terus meningkat dari
tahun ke tahun sebesar 1,8 ppm atau 0,5% tiap
tahunnya (Ravindranat, 2008).
Bentang mangrove memiliki arti penting bagi
iklim global (Sigit, 2014). Hutan mangrove
berpotensi menyerap karbon lebih banyak
dibandingkan dengan tumbuhan lainnya karena
mangrove dikategorikan sebagai hutan lahan basah.
Kemampuan mangrove dalam menyimpan karbon
dapat mengurangi peningkatan emisi karbon di
alam. Penelitian pendukung dilakukan oleh tim
peneliti dari US Forest Service Pasifik Barat Daya
dan Stasiun Penelitian Utara, Universitas Helsinki
dan Pusat Penelitian Kehutanan International
menemukan bahwa mangrove per hektar dapat
menyimpan karbon empat kali lebih besar dari pada
hutan tropis lainnya di seluruh dunia (Baderan,
2017). Penyelamatan mangrove dapat menurunkan
emisi karbon Indonesia ke tingkat 26% (41% jika
ada komitmen bantuan Internasional) pada tahun
2020. Indonesia sendiri memiliki 3,1 juta ha
mangrove atau hampir seperempat kawasan
mangrove yang ada di dunia yang sangat berpotensi
sebagai penyerap karbon di ekosistem pesisir.
Menurut Daniel Murdiyarso, peneliti iklim dari
Pusat Penelitian Hutan Internasional (CIFOR,
2014), satu hektar mangrove mampu untuk
menyerap antara 600-1800 ton karbon atau jika
digunakan rataan maka 1.200 ton karbon dapat
dipertahankan dalam 1 hektar bentang hutan
mangrove. Jika mangrove di Indonesia 3,1 juta ha,
sekurang-kurangnya 3 miliar metrik ton karbon
dapat diselamatkan untuk tidak terlepas sebagai
emisi ke udara. Kehilangan hutan mangrove maka
akan melepaskan karbon dioksida dalam jumlah
besar sebanding dengan karbon yang telah diserap
(Sondak, 2015). Deforestasi atau kerusakan
mangrove dapat menyebabkan peningkatan dari
emisi karbon dioksida 20% (CO2) di atmosfer
(Prasetyo et al, 2017).
E. Dampak Global Warming bagi Kehidupan
Manusia
Perubahan iklim ditandai dengan akibat
adanya lubang ozon yang berarti sinar UV
memancarkan sinarnya secara langsung, tanpa
adanya penyaring (lapisan ozon). Semua mahkluk
hidup di bumi tidak akan mampu bersentuhan
langsung dengan sinar UV tersebut. Cahaya
matahari yang kita terima atau rasakan setiap hari,
sudah merupakan hasil penyaringan dari ozon,
sehingga sudah tidak berbahaya lagi bagi manusia
dan mahkluk hidup lainnya di muka bumi (Samidjo
dan Suharso, 2017). Hasil pengukuran para ilmuan
telah membuktikan terjadinya peningkatan sinar
ultraviolet-B ke permukaan bumi sebanyak 30 %,
yang berdampak buruk terhadap manusia dan
makhluk hidup lainnya (Latuconsina, 2010).
Dampak perubahan iklim yang sangat dirasakan
adalah terjadinya peningkatan suhu, peningkatan
curah hujan dan terjadinya perubahan iklim ekstrim.
Perubahan iklim ini akan berpengaruh terhadap
kesehatan manusia baik secara langsung maupun
secara tidak langsung (Raksanagara et al, 2015).
Perubahan iklim secara langsung akan
berdampak negatif bagi kesehatan manusia terutama
yang berhubungan dengan kejadian penyakit,
terutama penyakit yang ditularkan oleh vektor
seperti demam berdarah. Efek perubahan iklim yang
tidak langsung terhadap kesehatan manusia adalah
melalui penyakit yang ditularkan serangga dan
hewan pengerat-menular (misalnya, malaria,
demam berdarah, virus demam west nile, penyakit
lyme dan hantavirus pulmonary syndrome);
meningkat asap dan polusi udara; penyakit yang
ditularkan melalui air dan makanan yang
berhubungan dengan penyakit (misalnya, giardiasis,
infeksi e. coli, dan keracunan kerang); radiasi ultra
violet kuat yang dapat menyebabkan kanker kulit
dan katarak. Berdasarkan data WHO pada tahun
2003, dilaporkan bahwa terjadinya perubahan iklim
berperan dalam terjadinya penyakit diare sebesar
2,4% dan penyakit malaria sebesar 2%. Pada tahun
2000, WHO menduga bahwa sekitar 150.000
kematian disebabkan oleh perubahan iklim
(Raksanagara et al, 2015).
Pola iklim yang terganggu juga menyebabkan
efek tidak langsung terhadap kesehatan manusia.
Efek terhadap pola hujan yang meningkatkan
bencana banjir dapat menyebabkan peningkatan
kejadian penyakit perut karena efeknya pada sumber
air dan penyediaan air bersih, penyakit malaria,
demam berdarah dengue, chikungunya dan penyakit
lainnya yang ditularkan melalui rodent seperti
leptospirosis (Keman, 2007). Perubahan temperatur,
kelembaban udara, dan curah hujan yang ekstrem
mengakibatkan nyamuk lebih sering bertelur
sehingga vektor yang tertularkan penyakit pun
bertambah (Triana, 2008).
Kondisi iklim yang tidak stabil dapat juga
menyebabkan peningkatan kejadian bencana alam,
seperti badai, angin siklon puting beliung,
kekeringan, dan kebakaran hutan, yang berdampak
terhadap kesehatan fisik dan mental masyarakat
yang terserang. Efek tidak secara langsung ini
menjadi sangat serius pada daerah di dunia dengan
penduduk miskin (Keman, 2007). Perubahan iklim
yang tidak menentu akibat dari pemanasan global
sudah banyak dirasakan saat ini. Beberapa daerah di
Indonesia telah mengalami curah hujan yang sangat
rendah sehingga terjadi krisis air (kekeringan).
Sedangkan di daerah lainnya malah curah hujan
yang sangat tinggi, sehingga terjadi banjir dan tanah
longsor (Samidjo dan Suharso, 2017).
F. Upaya Konservasi Mangrove Sebagai Salah
Satu Bentuk Mitigasi Global Warming
Peranan hutan mangrove dalam penyimpanan
karbon sangat berpengaruh terhadap global
warming. Kerusakan hutan mangrove yang semakin
meningkat akan memberikan dampak besar terhadap
percepatan perubahan dunia. Upaya yang dilakukan
sebagai mitigasi global warming melalui
pendekatan masyarakat, pemulihan hutan dengan
penanaman, pembangunan pelindung pantai, dan
pendekatan ekonomi.
Kerusakan mangrove dapat dicegah dengan
adanya keterlibatan masyarakat dalam proses
rehabilitasi lahan. Kegiatan rehabilitasi akan
berdampak langsung pada masyarakat sekitar
mangrove. Hal ini dapat diketahui dengan
melakukan kajian melalui komunikasi yang efektif
pada masyarakat (Umayah et al., 2016).
Keterlibatan masyarakat dalam reabilitasi lahan
dapat meningkatnya kesadaran masyarakat akan
peranan mangrove dan keberhasilan rencana.
Masyarakat yang sadar akan peranan hutan
mangrove akan memberikan dampak berkurangnya
kerusakan pada hutan mangrove.
Penanaman mangrove merupakan salah satu
upaya untuk mengembalikan hutan mangrove.
Upaya penanaman secara perlahan akan berangsur-
angsur memperbaiki hutan mangrove. Penanaman
mangrove sebaiknya dilakukan berdasarkan kondisi
lingkungan. Setiap mangrove memiliki kriteria rona
lingkungan untuk tumbuh. Jenis mangrove yang
sesuai dengan kondisi lingkungan dapat
meningkatkan kesuksesan uoaya yang dilakukan
dan mempercepat pemulihan suatu ekosistem
(Novianty, 2012).
Merehabilitasi habitat hutan mangrove
memerlukan peningkatan bangunan pelindung
pantai dan pesisir. Penyesuaian RTRW pesisir dan
laut terhadap perubahan kondisi (lahan,
infrastruktur, sosial dan lingkungan (Swedi, 2005).
Peningkatan pelindung pantai adan pesisir perlu
dilakukan sebelum proses rehabilitasi atau
penanaman mangrove kembali. Pembangunan
breakwater merupakan suatu rekayasa terhadap
lingkungan yang berfungsi meredam gelombang.
Keberadaan breakwater dapat memberikan
kesempatan bagi mangrove untuk tumbuh dan
berkembang (Novianty, 2012).
Upaya konservasi lainnya guna mengurangi
laju degradasi hutan mangrove dapat dirancang
mekanisme hutan mangrove sebagai kawasan hutan
yang memberikan jasa lingkungan. Jasa lingkungan
tersebut berupa potensi hutan mangrove sebagai
penyerap karbon yang dapat dijual kepada pihak-
pihak investor (Dharmawan dan Siregar, 2008).
Hutan merupakan ekosistem vegetasi yang
didalamnya terjadi interaksi dengan lingkungan,
penghasil oksigen dan penghasil biomassa dari
pemanfaatan karbon dioksida. Isu perubahan iklim
dan pemansan global semakin marak sehingga untuk
menanganinya dilakukan mekanisme REDD
(Reducing Emision from Deforestation and
Degradation) dalam perdagangan karbon
International. Hutan alam memiliki potensi yang
besar untuk diikutsertakan dalam mekanisme
REDD. Indonesai yang berpartisipasi aktif dalam
REDD+. Selama ini perhatian untuk mengurangi
maupun mencegah emisi telah dilakukan Indonesia
sesuai dengan dengan ketentuan REDD+ (Reducing
Emissions from Deforestation and Forest
Degradation). Belum masuknya soil pool dalam
perhitungan TREH hutan mangrove dapat
memberikan penilaian rendah (underestimate)
terhadap emisi CO2 yang terlepas akibat deforestasi
dan degradasi sekaligus kemampuan hutan
mangrove dalam menyerap karbon, sehingga nilai
TREH masih perlu disempurnakan. Masuknya soil
pool juga dapat memengaruhi tingkat rujukan hutan
(TRH) dimana akresi tanah setelah kegiatan
restorasi dapat memberikan implikasi pada tingkat
serapan karbon di hutan mangrove (Sidik et al.,
2017).
4. KESIMPULAN
Kondisi kerusakan ekosistem mangrove di
Indonesia tergolong rusak berat mencapai luas 42%
dan keadaan rusak seluas 29% yang melebihi
setengah dari ekosistem mangrove yang ada.
Kerusakan ekosistem mangrove diakibatkan oleh
siklus alam dan aktivitas manusia dalam memenuhi
kebutuhan hidup. Dampak kerusakan ekosistem
mangrove akan mempengaruhi dari segi ekonomi
berupa pendapatan manusia, perubahan prilaku
masyarakat dari segi sosial dan kerusakan
lingkungan hutan. Kerusakan ekosistem mangrove
secara besar akan memberikan efek terhadap adanya
global warming yang memperngaruhi iklim untuk
keberlangsungan kehidupan makhluk hidup. Upaya
yang dilakukan sebagai mitigasi global warming
melalui pendekatan masyarakat, pemulihan hutan
dengan penanaman, pembangunan pelindung pantai,
dan pendekatan ekonomi.
5. UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
Dr. Aji Ali Akbar, M.Si. dan Jumiati, S.Si, M.Si
selaku pembimbing dalam penulisan artikel ini.
Terima kasih juga kepada rekan-rekan yang telah
membantu dalam penulisan artikel ini. Semoga
penulisan ini dapat bermanfaat dalam
pengembangan ilmu pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA
Ario, Raden; Subardjo, Petrus; Dan Handoyo,
Gentur. 2015. Analisis Kerusakan Mangrove
Di Pusat Restorasi Dan Pembelajaran
Mangrove (Prpm), Kota Pekalongan. Jurnal
Kelautan Tropis, 18(2), 6469.
Arizona, Meivy dan Sunarto. 2009. Kerusakan
Ekosistem Mangrove Akibat Konversi Lahan
Di Kampung Tobati Dan Kampung Nafri,
Jayapura. Jurnal Kerusakan Ekosistem
Mangrove, 23(3), 18-39.
Baderan, Dewi Wahyuni K. 2017. Distribusi Spasial
dan Luas Kerusakan Hutan Mangrovedi
Wilayah Pesisir Kwandang Kabupaten
Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo. Jurnal
Geoeco, 3(1), 1-8.
Baderan, Dewi Wahyuni K. 2017. Serapan Karbon
Hutan Mangrove Gorontalo. Edisi Pertama.
Cetakan Pertama. CV. Budi Utama.
Yogyakarta.
Dharmawan, I.W.S., dan Siregar, C.A., 2011.
Karbon Tanah dan Pendugaan Karbon
Tegakan Avicennia marina (Forsk) Vierh di
Ciasem, Purwakarta. Jurnal Penelitian Hutan
dan Konservasi Alam, 5(4), 317-328.
Hariphin; Linda,Riza; dan Lovadi, Irwan. 2014.
Analisa Vegetasi Mangrove Di Desa Sebubus
Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas. Jurnal
Protobiont, 3(2), 201-208.
Hariphin; Linda,Riza; Dan Rusmiyanto,Elvi. 2016.
Analisis Vegetasi Hutan Mangrove Di
Kawasan Muara Sungai Serukam Kabupaten
Bengkayang. Jurnal Protobiont, 5(3), 66-72.
Herianto dan Subiandono, Endro. 2016. Peran
Biomasa Mangrove Dalam Menyimpan
Karbon Di Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Jurnal Analisis Kebijakan, 13(1), 1-12.
Kariada, Nana Dan Irsadi, Andin. 2014. Peranan
Mangrove Sebagai Biofilter Pencemaran Air
Wilayah Tambak Bandeng Tapak, Semarang.
Jurnal Manusia Dan Lingkungan, 21(2),
188-194.
Keman,Soedjajadi. 2007. Perubahan Iklim Global,
Kesehatan Manusia Dan Pembangunan
Berkelanjutan. Jurnal Kesehatan
Lingkungan, 3(2), 195 204.
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 201
Tahun 2004. Tentang Kriteria Baku dan
Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove.
Latuconsina, Husain. 2010. Dampak Pemanasan
Global Terhadap Ekosistem Pesisir Dan
Lautan. Jurnal Ilmiah Agribisnis Dan
Perikanan (Agrikan Ummu-Ternate), 3(1),
30-37.
Mulyadi, Edi; Hendriyanto, Okik; Dan Fitriani, Nur.
2010. Konservasi Hutan Mangrove Sebagai
Ekowisata. Jurnal Ilmiah Teknik
Lingkungan, 1(Edisi Khusus), 51-58.
Pattipeilohy, Mery. 2014. Fenomena Pendangkalan
Zona Pasang Suruthutan Mangrove Teluk
Dalam Ambonserta Upaya Pengembangan
Ekowisata. Jurnal Pena Sains, 1(2), 56-63.
Pramudji. 2000. Dampak Perilaku Manusia Pada
Ekosistem Hutan Mangrove Di Indonesia.
Journal Of Oseana, 25(2), 13-20.
Prasetyo, Dimas Panji Budi; Nuraini, Ria Azizah Tri
dan Supriyantini. 2017. Estimation Carbon
Stock n Mangrove Vegetation at Mangrove
Area of Ujung Piring Jepara District.
International Journal of Marine and Aquatic
Resource Concervation and Co-existence,
2(1), 38-45.
Rachmawati, Ditha; Setyobudiandi, Isdradjad; dan
Hilmi, Endang. 2014. Potensi Estimasi
Karbon Tersimpan Pada Vegetasi Mangrove
Di Wilayah Pesisir Muara Gembong
Kabupaten Bekasi. Jurnal Omni-Akuatika,
13(19), 85 91.
Rahma, Fajar; Basri, Hairul; dan Sufardi. 2015.
Potensi Karbon Tersimpan Pada Lahan
Mangrove Dan Tambak Di Kawasan Pesisir
Kota Banda Aceh. Jurnal Manajemen
Sumberdaya Lahan, 4(1), 527-534.
Raksanagara, Ardini S; Arisanti, Nita; Dan
Rinawan, Fedri. 2015. Dampak Perubahan
Iklim Terhadap Kejadian Demam Berdarah
Di Jawa Barat. Jurnal Sarjana Kedokteran,
1(1), 43-47.
Rusila Noor, Y., M. Khazali, dan I N.N.
Suryadiputra. 2006. Panduan Pengenalan
Mangrove di Indonesia. Edisi Pertama.
Cetakan Kedua. PHKA/WI-IP. Bogor.
Rahman; Effendi, Hefni; dan Rusman, Iman. 2017.
Estimasi Stok dan Serapan Karbon pada
Mangrove di Sungai Tallo, Makassar. Jurnal
Ilmu Kehutanan, 1(1), 19-28.
Ravindranat, Ostwald. 2008. Carbon Inventory
Methods : Handbook For Greenhouse Gas
Inventory, Carbon Mitigation and
Roundwood Production Project. Switzerland
: Springer Science and Business Media B.V.
Samidjo, Jacobus dan Suharso, Yohanes. 2017.
Memahami Pemanasan Global dan
Perubahan Iklim. Jurnal Ilmiah, 24(2), 1-10.
Senoaji, G dan Hidayat, Muhamad Fajrin.2016.
Peranan Ekosistem Mangrove Di Pesisir Kota
Bengkulu Dalam Mitigasi Pemanasan Global
Melalui Penyimpanan Karbon. Jurnal
Manusia Dan Lingkungan, 23(3), 327-333.
Setyawan, Ahmad Dwi Dan Winarno, Kusumo.
2006. Permasalahan Konservasi Ekosistem
Mangrove Di Pesisir Kabupaten Rembang,
Jawa Tengah. Jurnal Biodiversitas, 7(2), 159-
163.
Sidik, Frida; Supriyanto, Bambang dan Lugina,
Mega. 2017. Tingkat Rujukan Emisi Hutan
Mangrove Delta Mahakam. Jurnal Analisis
Kebijakan Kehutanan, 14(2), 93-104.
Sondak, Calvyn, F.A. 2015. Estimasi Potensi
Penyerapan Karbon Biru (Blue Carbon) oleh
Hutan Mangrove Sulawesi Utara. Journal Of
Asean Studies On Maritime Issues, 1(1), 24-
29.
Sutaryono, Dandun. 2009. Perhitungan Biomassa.
Wetlands International Indonesia
Programme. Bogor.
Swedi, Nawa. 2005. Upaya Pencegahan dan
Penanggulangan Dampak Pemanasan Global.
Jurnal Teknik Lingkungan, 6(2), 397-401.
Triana, Vivi. 2008. Pemanasan Global. Jurnal
Kesehatan Masyarakat, 2(2), 159-163.
Umayah, Sari; Gunawan, Haris; dan Isda, Mayta
Novaliza. 2016. Tingkat Kerusakan
Ekosistem Mangrove Di Desa Teluk Belitung
Kecamatan Merbau Kabupaten Kepulauan
Meranti. Jurnal Riau Biologia, 1(4), 24-30.
Windani. 2010. Strategi Pemberdayaan Masyarakat
Di Kawasan Hutan Sebagai Langkah
Antisipatif Dalam Penanganan Bencana
Banjir Dan Tanah Longsor Di Kabupaten
Trenggalek. Jurnal Sosial Humaniora, 3(1),
148-161.
... Magrove plants have important benefits in coastal areas. One of the functions of mangrove forests is to prevent potential disasters in coastal areas [4], can be used as disaster mitigation (wave absorbers, beach protectors, breakwaters and tsunamis) [5], green belts [6], as well as coastal protection, fisheries, hydrology, and carbon sinks [7]. ...
... The existence of mangrove forests required to be optimized because one of the functions of mangrove forests can prevent potential disasters in coastal areas [4], it can be used as disaster mitigation (wave absorbers, beach protectors, breakwaters, and tsunamis) [5], green belt [6], and coastal protection, fisheries, hydrology, and carbon sinks [7]. Efforts to maintain, conserve, and revitalize mangrove ecosystem functions can be realized through an eco-tourism approach to governance [8][9][10]. ...
... With such a structure, the function of mangroves is excellent as a protector of coastal areas from the threat of erosion and abrasion, protecting residential areas from storms and winds from the sea, preventing seawater intrusion, as a place to live and breed various wildlife. The use of mangrove forests for the protection of coastal areas from various coastal disasters has been studied by several experts, such as natural disaster mitigation [1,31], tsunami mitigation [34], seawater intrusion mitigation [35], and global warming mitigation [7]. Furthermore, Indarsih and Masruri [36] found that coastal abrasion mitigation efforts in Rembang Regency were more effective based on natural ecosystems, such as maximizing the existence of mangrove vegetation through planting mangroves along the coast. ...
Natural disasters that occur in the city of Dumai such as degradation of mangrove forests, coastal abrasion and tidal flooding can be mitigated by maintaining the existence of mangrove forests. Mangrove forests have important benefits on the coast of the city of Dumai, so they need to be protected together. One of the efforts to maintain the existence of mangroves can be through the use of mitigation-based mangrove ecotourism, especially in the Bandar Bakau area of Dumai City. The data collection technique in this study used a quadratic transect and added secondary data from the relevant agencies. Based on the results of the study found 9 types of mangroves that have a role as mitigation in ecotourism locations and there are biota supporting tourism, namely 13 species of birds, 7 species of reptiles and 16 species of molluscs. To maintain the sustainability of the ecotourism area of Bandar Bakau, several disaster mitigations have been carried out for retaining cliffs (revetment), reforestation of mangroves, construction of facilities that adapt to the environment, coastal education, and outreach to the community. In addition, it is very potential to develop several other forms of mitigation such as: beach nourishment, breakwater or construction of embankments to minimize abrasion, as well as construction of diversion canals and tidal flood control gates, strengthening regulations. legislation, making land use policies, policies on flood and wave resistant building standards, policies on exploration and community economic activities, promoting local cultural wisdom of maritime communities.
... The higher the mangrove density, the greater the carbon content, where the stand density, stand composition and structure, and the quality of the mangrove growth sites affect the increase in biomass and carbon content of mangrove trees. Mangroves' ability to store carbon can reduce the rise in carbon emissions in nature (Alongi, 2020;Dinilhuda et al. 2018;Turner et al.2009;). Mangroves per hectare can store four times as much carbon as other tropical forests worldwide. ...
Article
Full-text available
Zulhalifah, Syukur A, Santoso D, Karnan. 2021. Species diversity and composition, and above-ground carbon of mangrove vegetation in Jor Bay, East Lombok, Indonesia. Biodiversitas 22: 2066-2071. Mangroves play a very important role to mitigate global warming. This study aimed to assess the species diversity and composition as well as the above-ground biomass and carbon content of mangroves in Jor Bay (Teluk Jor), Lombok Island, Indonesia. A purposive sampling method was implemented using transects and square plots as data collection techniques. The data was analyzed to reveal the frequency, density, dominance, above-ground biomass, and carbon content. The results of this study found seven mangrove species, namely Avicennia marina, Ceriops tagal, Rhizophora apiculata, Rhizophora stylosa, Sonneratia alba, Sonneratia caseolaris, and Lumnitzera racemosa. In general, Sonneratia alba was the most important species in terms of frequency, density, and dominance followed by Rhizophora apiculata. In total, mangrove vegetation in Jor Bay stored 697.45 ton C/ha, or equivalent to carbon monoxide uptake of 2559.63 CO 2 / ha. In accordance with species composition, Sonneratia alba had the largest contribution to total carbon content with 453.76 tons C/ha), followed by Rhizophora apiculata with 74.47 tons C/ha. These findings suggest that mangrove vegetation in Jor Bay stored large amount of carbon in the form of above-ground biomass, implying the importance to preserve this area for carbon conservation.
Article
Full-text available
Abstrak Mangrove menjadi salah satu ekosistem lahan basah yang berperan penting dalam menyerap karbon. Namun, secara alami ekosistem mangrove juga mampu mengemisikan gas rumah kaca kedalam atmosfer. Metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang berdampak signifikan terhadap perubahan iklim. Penelitian tentang siklus metana telah dilakukan di ekosistem mangrove TAHURA Ngurah Rai Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur konsentrasi gas metana pada tiga zona ekosistem mangrove. Metode chamber tertutup digunakan dalam pengambilan sampel gas yang kemudian dianalisis dalam gas kromatografi dengan sensor flame ionization detector (FID). Karakter ekologi mangrove yang terdiri dari parameter struktur komunitas mangrove dan lingkungan diukur dari setiap plot kuadrat pengambilan sampel gas. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi gas metana tertinggi ditemukan pada zona darat dengan rata-rata 3,698 ± 0,986 mg. L-1. Walaupun demikian, konsentrasi gas metana pada dua zona lainnya tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan zona darat. Variabilitas konsentrasi gas metana tidak berbeda signifikan dengan kondisi struktur komunitas mangrove yang berbeda antar zona. Penelitian ini hanya menemukan variasi nilai potensial redoks (ORP) yang berhubungan signifikan dengan konsentrasi gas metana. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa karakter ekologi mangrove yang cukup seragam di kawasan sehingga, tidak menimbulkan perbedaan yang signifikan pada konsentrasi gas metana antar zona. Namun, parameter kondisi substrat lainnya perlu dilibatkan dalam penelitian berikutnya.
Article
Full-text available
Lingkungan merupakan determinan kesehatan yang dapat memengaruhi kesehatan masyarakat selain faktor perilaku, pelayanan kesehatan dan genetik serta kependudukan. Pada saat terjadi perubahan lingkungan termasuk perubahan iklim global yang menjadi isu sangat penting. Perubahan iklim tersebut dipicu oleh terjadinya pemanasan global (global warming) dan efek rumah kaca (greenhouse effect). Perubahan iklim yang terjadi dapat berupa peningkatan suhu, kelembaban, peningkatan curah hujan yang menjadi faktor risiko terhadap derajat kesehatan masyarakat karena timbulnya penyakit menular yang ditularkan melalui udara, air dan vektor. Penyakit Demam Berdarah merupakan penyakit menular yang ditularkan melalui perantara vektor nyamuk dan erat kaitannya dengan perubahan iklim. Tempat perindukan nyamuk ini sangat dipengaruhi oleh ketinggian tempat (altitude), kemiringan lereng (slope) dan penggunaan lahan (land use), sedangkan unsur cuaca memengaruhi metabolisme, pertumbuhan, perkembangan dan populasi nyamuk tersebut. Curah hujan dengan penyinaran yang relatif panjang turut memengaruhi habitat perindukan nyamuk. Tujuan penelitian ini adalah mengumpulkan informasi awal untuk mengukur keterkaitan perubahan iklim khususnya perubahan curah hujan dengan terjadinya demam berdarah di Jawa Barat. Metode yang digunakan untuk analisis kerentanan masalah kesehatan yang disebabkan oleh perubahan iklim ini (curah hujan) yang merupakan faktor determinan kesehatan yang berpengaruh terhadap kejadian penyakit tular vektor (demam berdarah). Data yang didapat dianalisis berdasarkan teori derajat kesehatan masyarakat (Henrik L Blum) yang menyatakan bahwa lingkungan, dalam hal ini adalah perubahan suhu, curah hujan, kelembaban akan memengaruhi kejadian penyakit yang ditularkan oleh vektor seperti demam berdarah. Dari data awal yang dikumpulkan dapat dikatakan bahwa Curah hujan merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian DBD, di mana curah hujan mempunyai nilai prediksi yang berhubungan dengan terjadinya demam berdarah. Walaupun demikian, terdapat perbedaan waktu (time lag) antara peningkatan curah hujan dan peningkatan kasus. Perubahan iklim berpengaruh terhadap kerentanan kesehatan, sehingga perubahan iklim ini harus dihadapi. Oleh karena itu, melindungi diri dari perubahan iklim dibagi atas upaya mitigasi (minimalisasi penyebab dan dampak) dan adaptasi (menanggulangi risiko kesehatan). Early warning system terhadap kejadian luar biasa DBD harus dilaksanakan di setiap daerah dengan memperhatikan kecenderungan perubahan faktor iklim. Selain itu diperlukan perbaikan lingkungan yang harus disertai dengan perubahan faktor lain seperti perilaku dan pelayanan kesehatan.Kata kunci: Curah Hujan, Demam Berdarah, Perubahan Iklim, Penyakit Tular, Vektor
Article
Full-text available
Forest Reference Emission Level (FREL) is one of four required elements for developing countries in implementing REDD+ activities, and serves as a benchmark in assessing REDD+ performance. This study assessed the emission level from mangrove deforestation in Mahakam Delta - East Kalimantan, aiming to enhance the baseline for subnational FREL document. Over the observation period of 1980-2001, conversion of mangrove forest into aquaculture ponds has resulted in a massive mangrove loss, with an estimation of 3,183 hectare/year, or equivalent to the release of 0.46 Tg CO2e/year. If soil pool was also included in the calculation, mangrove deforestation in Mahakam Delta between 1980 and 2001 emitted 2.9 TgCO2e/year. The CO2 emission from aquaculture ponds may couple with mangrove deforestation, which released 52 Gg CO2 /year from the pond oor. After 2001, the rate of mangrove deforestation decreased, allowing mangrove forests to recover with the expansion rate of 1,546 hectare/ year during 2001-2011 or equivalent to the carbon sequestration or removal of 0.67-4.7 TgCO2e/year. The results of the study suggest the way to improve the existing FREL by raising the importance of mangrove as “blue” carbon, with reference of the 2013 IPCC Guideline: Wetland Supplement. Keyword: Mangrove forest; FREL; CO2 emission; soil pool; Mahakam Delta.
Article
Global environmental problems such as climate change, tropical deforestation, loss of biodiversity and desertification are receiving serious attention of all stakeholders including scientists, citizens and policymakers. Interestingly, all these environmental issues are linked to land-use systems. Climate change and its manifestations, particularly rising temperatures, changing precipitation patterns and sea level rise (IPCC 2007a), are of global environmental concern and have the potential to impact most natural ecosystems (such as forests, grasslands and wetlands) and socioeconomic systems (such as food production, fisheries and coastal settlements) in all countries. Under extreme conditions, the impacts are likely to be catastrophic to human survival and may lead to irreversible loss of natural ecosystems. Climate change in the long term is projected to adversely affect supply of fresh water, production of food and forest products and ultimately economic development of both industrialized and developing countries (IPCC 2007b).
Kerusakan Ekosistem Mangrove Akibat Konversi Lahan Di Kampung Tobati Dan Kampung Nafri
  • Meivy Arizona
  • Dan Sunarto
Arizona, Meivy dan Sunarto. 2009. Kerusakan Ekosistem Mangrove Akibat Konversi Lahan Di Kampung Tobati Dan Kampung Nafri, Jayapura. Jurnal Kerusakan Ekosistem Mangrove, 23(3), 18-39.
Distribusi Spasial dan Luas Kerusakan Hutan Mangrovedi Wilayah Pesisir Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo
  • Dewi Baderan
  • K Wahyuni
Baderan, Dewi Wahyuni K. 2017. Distribusi Spasial dan Luas Kerusakan Hutan Mangrovedi Wilayah Pesisir Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo. Jurnal Geoeco, 3(1), 1-8.
  • Dewi Baderan
  • K Wahyuni
Baderan, Dewi Wahyuni K. 2017. Serapan Karbon Hutan Mangrove Gorontalo. Edisi Pertama. Cetakan Pertama. CV. Budi Utama. Yogyakarta.
Peran Biomasa Mangrove Dalam Menyimpan Karbon Di Kubu Raya
  • Endro Herianto Dan Subiandono
Herianto dan Subiandono, Endro. 2016. Peran Biomasa Mangrove Dalam Menyimpan Karbon Di Kubu Raya, Kalimantan Barat. Jurnal Analisis Kebijakan, 13(1), 1-12.