ArticlePDF Available

PELATIHAN PERANCANGAN IKLAN LAYANAN MASY ARAKA T

Authors:

Abstract

Iklan adalah sebuah keistimewaan. Iklan sudah menjadi satu dengan kehidupan kita. Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu dikelilingi dan diserang oleh iklan. Dimanapun, kita bertemu dengan iklan. Iklan terbagi dalam iklan cetak, iklan radio dan iklan televisi. Saat sekarang ini, iklan yang paling mudah menarik konsumen adalah iklan televisi. Tanpa mengesampingkan iklan cetak maupun iklan radio, iklan televisi lebih tepat sasaran dan efektif. Semua itu karena keunggulan audio visual yang dimiliki oleh televisi yang memberikan keterlibatan emosi bagi pemirsanya dengan menghadirkan komunikasi audio visual. Dengan semakin berkembangnya media yang melanda anak muda maka para pemuda sekiranya perlu dibekali keahlian membuat iklan yang bagus dan bermanfaat. Pengabdian ini ditujukan kepada anak-anak muda Muhammadiyah. Agar keahlian membuat iklan bisa digunakan untuk berdakwah. Pelatihan ini dilaksanakan dengan memberi pelatihan teknik dasar kamera, praktek mengambil gambar lalu diakhiri dengan materi editing video Kata kunci: iklan, pemuda, layanan masyarakat
Jurnal Pemberdayaan,
Vol.1, No. 2, Oktober 2017, hal. 489-496
ISSN: 2580-2569
Diterbitkan oleh Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat
Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
Pelatihan Perancangan Iklan Layanan Masyarakat
489
PELATIHAN PERANCANGAN IKLAN LAYANAN
MASYARAKAT
Oleh: Gibran Pratishara dan Anang Masduki
Prodi Ilmu Komunikasi UAD
Email;anang.masduki@fsbk.uad.ac.id
Ringkasan
Iklan adalah sebuah keistimewaan. Iklan sudah menjadi satu dengan kehidupan kita. Dalam
kehidupan sehari-hari, kita selalu dikelilingi dan diserang oleh iklan. Dimanapun, kita bertemu
dengan iklan. Iklan terbagi dalam iklan cetak, iklan radio dan iklan televisi. Saat sekarang ini, iklan
yang paling mudah menarik konsumen adalah iklan televisi. Tanpa mengesampingkan iklan cetak
maupun iklan radio, iklan televisi lebih tepat sasaran dan efektif. Semua itu karena keunggulan audio
visual yang dimiliki oleh televisi yang memberikan keterlibatan emosi bagi pemirsanya dengan
menghadirkan komunikasi audio visual. Dengan semakin berkembangnya media yang melanda anak
muda maka para pemuda sekiranya perlu dibekali keahlian membuat iklan yang bagus dan
bermanfaat. Pengabdian ini ditujukan kepada anak-anak muda Muhammadiyah. Agar keahlian
membuat iklan bisa digunakan untuk berdakwah. Pelatihan ini dilaksanakan dengan memberi
pelatihan teknik dasar kamera, praktek mengambil gambar lalu diakhiri dengan materi editing video
Kata kunci: iklan, pemuda, layanan masyarakat
Abstract
Advertising is a privilege. Advertising has become one with our lives. In everyday life, we
are always surrounded and attacked by advertisements. Wherever we meet the ads. Ads are divided
into print ads, radio ads and television ads. Currently, the most user-friendly ads are television ads.
Without ruling out print ads or radio ads, television ads are more targeted and effective. It's all
because of the audio-visual advantages possessed by television that gives emotional engagement to
its viewers by delivering audio-visual communications. With the growing media that hit young
people then the youths if necessary to provide expertise to make a good and useful advertising. This
devotion is addressed to Muhammadiyah youths. In order to make advertising expertise can be used
to preach. This training is carried out by providing basic camera technique training, image taking
practice and ending with video editing materials
Keywords: advertising, youth, community service
A. LATAR BELAKANG
Pemuda adalah generasi emas yang memiliki potensi dan kemampuan luarbiasa
untuk mengembangkan diri guna memberi manfaat pada orang lain. Selain itu sebagai
agent of change pemuda harus membekali dirinya dengan kemampuan dan skill yang lebih
untuk mencapai tujuannya. Jika tidak maka akan digilas oleh sejarah.
Semakin berkembangnya media komunikasi akhir-akhir ini, maka dituntut semakin
cerdas dan kreatif pula bagi generasi muda untuk menyebarkan dakwah Islam. Begitu pula
yang terjadi pada kader IMM di DIY. Mereka para mahasiswa yang datang dari berbagai
daerah maka perlu dan penting dibekali ilmu untuk bisa membuat video iklan layanan
masyarakat sebagai bentuk respon dari kepekaan terhadap fenomena social yang terjadi di
masyarakat. Sehingga hal tersebut bisa digunakan untuk mengembangkan dan memperluas
dakwah Islam di daerahnya masing-masing.
ISSN: 2580-2569
Jurnal Pemberdayaan,
Vol. 1, No. 2, Oktober 2017, Hal. 489-496
Gibran Pratishara dan Anang Masduki
490
B. KERANGKA TEORI
Berbeda dengan iklan cetak yang hanya mengandalkan visual, dalam arti kata
gambar dan tulisan, dan iklan radio yang hanya mengandalkan stimulus audio, dalam iklan
televisi pemirsa dapat melihat adegan, mendengar perkataannya dan merasakan suasananya
karena adanya stimulus visual yang diperkuat oleh stimulus audio.
Periklanan merupakan sebuah aktivitas yang digunakan sebagai salah satu fungsi
pemasaran untuk mengkomunikasikan informasi persuasif dari suatu produk barang atau
jasa. Iklan juga memiliki tujuan untuk meningkatkan penjualan barang atau jasa di pasaran
sesuai target yang ditetapkan. (Rendra Widyatama: 2007).Pada dasarnya, periklanan dibagi
menjadi dua yaitu iklan komersial dan iklan layanan masyarakat.
1. Iklan
Iklan adalah suatu praktek penyampaian pesan yang sudah lama dilakukan
manusia. Istilah advertising atau iklan itu sendiri datang dari kata kerja bahasa latin
advertere yang artinya “mengarahkan perhatian seseorang ke-”. Pada prinsipnya iklan
adalah upaya penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan. Karena iklan
merupakan upaya penyampaian pesan dari komunikator ke komunikan, maka aktifitas iklan
adalah aktifitas komunikasi. Bentuk iklan paling awal disampaikan melalui bentuk lisan,
yaitu penyampaian pesan-pesan dalam bentuk personal yang dilakukan secara tatap muka
melalui mulut ke mulut. Hal semacam ini oleh para para ahli sejarah disebut mentransfer
pesan. Bahasa yang digunakan sangat sederhana dan cenderung sangat tidak terstruktur
dengan baik dan efektif, bahkan pesan-pesan disampaikan dengan bantuan komunikasi non
verbal visual melalui gerak tubuh (gestural). (Rendra Widyatama: 2007)
Banyak ahli yang memaknai iklan dalam beberapa pengertian. Ada yang
mengartikan dengan mengacu dalam sudut pandang komunikasi, murni periklanan,
pemasaran, bahkan ada yang memaknai iklan dalam perspektif psikologi. Dari semua
definisi tersebut akan membawa pengertian ke arah yang berbeda-beda. Bila dalam
perspektif komunikasi iklan cenderung menekankan sebagai proses penyampaian pesan
dari komunikator kepada komunikan, dalam perspektif iklan, iklan cenderung menekankan
pada aspek penyampaian pesan yang kreatif dan persuasif yang disampaikan melalui media
khusus. Dalam perspektif pemasaran, iklan lebih menekankan pada pemaknaan iklan
sebagai alat pemasaran, yaitu menjual produk. Sementara dalam perspektif psikologi lebih
menekankan pada aspek persuasif. (Rendra Widyatama: 2007) Iklan merupakan suatu
proses komunikasi yang mempunyai kekuatan sangat penting sebagai alat pemasaran yang
membantu menjual barang, memberikan layanan, serta gagasan atau ide-ide melalui
saluran tertentu dalam bentuk informasi yang persuasif.Yaitu informasi yang didalamnya
terdapat sebuah ajakan atau rayuan secara halus.
Komunikasi periklanan tidak hanya menggunakan bahasa sebagai alatnya, tetapi
juga alat komunikasi lainnya seperti gambar, gerak, warna, teks, dan bunyi. Maka dalam
periklanan diperlukan media. Sebagai sarana komunikasi, masing-masing media itu
memiliki kekuatan sekaligus kelemahan. Kekuatan dan kelemahan media itu juga harus
diketahui dan dipertimbangkan oleh tim kreatif di Creative Departement dalam biro iklan
karena hal ini berkaitan erat dengan teknik eksekusi kreatifnya. (Agus Madjadikara: 2009)
Jurnal Pemberdayaan,
Vol.1, No. 2, Oktober 2017, hal. 489-496
ISSN: 2580-2569
Diterbitkan oleh Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat
Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
Pelatihan Perancangan Iklan Layanan Masyarakat
491
Terdapat istilah tritunggal periklanan dalam dunia periklanan. Tritunggal
periklanan terdiri dari pemasang iklan, biro iklan, dan pemilik media. Tritunggal periklanan
inilah yang membentuk sebuah bisnis periklanan. Pemasang iklan akan bekerja sama
dengan biro iklan yang kemudian biro akan bekerja sama dengan pemilik media yang
menyediakan ruang dan waktu siaran iklan. Secara umum sebuah biro iklan bekerja sebagai
perantara antara pemasang iklan dengan mereka yang menyediakan tempat untuk
memasang iklan. Peranan utama dari biro iklan adalah merancang (mempersiapkan) dan
melaksanakan kampanye periklanan bagi pemasang iklan atau biasa disebut klien. (Frank
Jefkins: 1997). Pada perkembangannya iklan dianggap sebagai aspek penyampai pesan
yang kreatif, sebagai alat pemasaran persuasive, atau dapat mempengaruhi pola pikir
masyarakat. Menurut pendapat Dunn dan Barban (1978)
Iklan merupakan bentuk kegiatan komunikasi non-personal yang disampaikan
lewat media dengan membayar ruang yang dipakai untuk menyampaikan pesan yang
bersifat membujuk (persuasive) kepada konsumen oleh perusahaan, lembaga non-
komersial, maupun pribadi yang berkepentingan.
2. Iklan Layanan Masyarakat
Iklan layanan masyarakat adalah iklan yang digunakan untuk menyampaikan
informasi, mempersuasi atau mendidik khalayak dimana tujuan akhirnya bukan untuk
mendapatkan keuntungan ekonomi, melainkan keuntungan sosial. Keuntungan sosial yang
dimaksud adalah munculnya penambahan pengetahuan, kesadaran sikap, dan perubahan
perilaku terhadap masalah yang diiklankan, serta mendapatkan citra baik di mata
masyarakat.(Rendra Widyatama:2007)
Sedangkan iklan non komersial atau iklan layanan masyarakat adalah:
“Iklan yang merupakan bagian dari kampanye social marketing yang bertujuan
menjual gagasan atau ide untuk kepentingan atau pelayanan masyarakat (ILM), atau dalam
bahasa inggrisnya Public Service Advertising (PSA)”.(Rendra Widyatama:2007)
Pada kedua definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Iklan Layanan
Masyarakat adalah iklan yang bertujuan untuk menawarkan gagasan, ide atau pengumuman
yang berkaitan dan bertujuan untuk mencapai keuntungan sosial berupa munculnya
penambahan pengetahuan, kesadaran sikap dan perubahan perilaku berkaitan dengan iklan
yang diiklankan.
3. Strategi Kreatif Merancang Iklan Televisi
Iklan layanan masyarakat dengan iklan komersial mempunyai bentuk fisik yang
sama, karena keduanya merupakan media penyampaian pesan audio visual yang berfungsi
untuk mempengaruhi khalayak luas sebagai komunikan agar mempunyai interpretasi yang
sama dengan komunikator. Oleh karena itu, perencanaan sebuah iklan layanan masyarakat
mengacu pada konsep iklan komersial. Dalam struktur biro iklan tersebut terdapat creative
department, dimana dalam department inilah pesan-pesan periklanan berbagai media
diciptakan, digodok dan dikembangkan. (Agus S Majadikara: 2009)
Creative Department terdiri dari copywriter dan art director. Keduanya harus
mampu bekerja sama untuk bisa menciptakan iklan yang berhasil. Copywriter bertugas
untuk menulis dan menterjemahkan kata-kata yang terangkum dalam kalimat perdagangan.
ISSN: 2580-2569
Jurnal Pemberdayaan,
Vol. 1, No. 2, Oktober 2017, Hal. 489-496
Gibran Pratishara dan Anang Masduki
492
Hasil dari pekerjaan seorang copywriter adalah copywriting. Frank Jefkins seorang pakar
periklanan mendefinisikan copywriting adalah seni penulisan pesan penjualan yang paling
persuasive dan kuat yang dilatarbelakangi kewiraniagaan (salesmanship) melalui media
cetak. (Agustrijanto: 2001)
Sedangkan menurut Bovee dan arens copywriting merupakan kekuatan kata-kata
yang terangkum dalam kalimat yang membangun kekuatan headline dan pesan dari suatu
iklan (the word that make up the headline anf massage of the ad). (Agustrijanto: 2001)
Agar copywriting yang diciptakan membuat target audience memiliki interpretasi yang
sama sesuai yang diharapkan, maka sangat penting bagi seorang copywriter untuk
memperkirakan tahapan-tahapan penulisan dan efeknya kepada pemirsa yaitu dengan
menggunakan metode pyramid copywriter (the copywriter’s pyramid) yang meliputi:
1. Tingkat Pertama(dasar pyramid) : Attention
Yakni menilai struktur bangun kata dalam copywriting sebagai format fundamental
yang bertendensi menstimulus serta menciptakan persepsi baru di benak pirsawan bidikan.
2. Tingkat Kedua : Interest
Yaitu proses menciptakan ketertarikan dengan jalan mencermati psikologis
audience. Kata-kata yang digunakan harus memberikan iterpretasi berupa keyakinan penuh
tentang adanya jaminan nilai guna atas produk atau jasa yang diiklankan.
3. Tingkat Ketiga : Credibility
Yakni kredibilitas atau kepercayaan sebagai sesuatu yang sering dan wajar
dipertanyakan oleh konsumen karena tingkat pemahaman konsumen dalam mengartikan
iklan beragam.
4. Tingkat Keempat : Desire
Yaitu dorongan menjadikan pemirsa bidikan memiliki rasa untuk bertindak sesuai
tujuan iklan.
5. Tingkat Kelima : Action
Yaitu langkah akhir berupa tindakan nyata.( Budiman Hakim:2006)
Selain copywriter, terdapat sebuah peran penting yang menentukan keberhasilan
sebuah iklan yang dilakukan oleh art director. Art director bertanggung jawab mencari
konsep dan mendapatkan ide bersama copywriter sekaligus mengeksekusi ide tersebut ke
dalam bentuk visual.
Seorang art director dengan keahliannya sering mampu menciptakan visual yang
mampu bercerita secara total. Total dalam artian komunikasi yang utuh. Sehingga
seringkali iklan yang dibuat art director tidak lagi membutuhkan kata-kata. Hal ini tentu
baik sekali karena tanpa copywriting seharusnya iklan tersebut jadi lebih simple.( Budiman
Hakim:2006)
Budiman Hakim (2006:50), dalam bukunya”Lanturan Tapi Relevan”
mengemukakan dalam konsep SUPER A, salah satunya yaitu simple.
Sebuah iklan haruslah simple. Dalam konteks ini, pengertian simple diartikan
dengan tidak banyak elemen dan komunikatif. Komunikatif berarti berarti mempunyai
kekuatan untuk mengajak konsumennya berkomunikasi sehingga konsumen dapat
menemukan makna lain di balik makna yang terdapat di permukaanya. Sebuah iklan yang
baik, tampilan dan output-nya memang simple tapi pemikirannya sama sekali tidak simple.
Sering sekali kita memerlukan pemikiran yang sangat bertingkat, mendalam dan melebar.
Jurnal Pemberdayaan,
Vol.1, No. 2, Oktober 2017, hal. 489-496
ISSN: 2580-2569
Diterbitkan oleh Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat
Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
Pelatihan Perancangan Iklan Layanan Masyarakat
493
4. Penyutradaraan Iklan
Di Indonesia, director pada sebuah karya audio visual biasa disebut sutradara.
Peran sutradara mulai dari menganalisis naskah, mengkreasikan rekayasa artistik,
memindahkan bahasa tulisan ke dalam bahasa visual, memimpin kerabat kerja di berbagai
divisi (Naratama: 2004). Untuk itu, ilmu penyutradaraan sangat dibutuhkan dalam
pembuatan iklan layanan masyarakat. Naratama (2004:54) dalam bukunya “Menjadi
Sutradara Televisi” menjelaskan sutradara sebagai berikut:
Sutradara televisi adalah seorang yang mempunyai visi mengembangkan nilai-nilai
filosofis yang terkandung dalam pikiran dan kreatifitasnya. Sedangkan filosofi dalam
penyutradaraan televisi merupakan sebuah daya pemikiran atas nilai-nilai seni visual yang
diwujudkan dalam kenyataan visual itu sendiri.
Menurut kelompok kerja FFTV IKJ, director adalah:
Director adalah seseorang yang bertanggung jawab terhadap kualitas gambar
(film) yang tampak di layar dimana di dalamnya ia bertugas mengontrol teknik sinematik,
penampilan pemeran, kredibilitas, dan kontinuitas cerita yang disertai elemen-elemen
dramatik pada produksinya. (Naratama: 2004).
Pengertian tersebut menjelaskan bahwa sutradara adalah orang yang bertugas
mem-visual-kan naskah cerita ke dalam bentuk gambar dan suara yang tampak di layar
beserta elemen-elemen yang ada di naskah. Tugas seorang sutradara ada di tahap produksi,
namun tidak menutup kemungkinan untuk ada di tahap pra-produksi dan pasca produksi.
Pada tahap pra produksi sutradara mempunyai andil untuk menerangkan tentang apa saja
yang akan di-visual-kan. Hal ini mencegah sikap arogan sutradara yang menuntut segala
hal yang mungkin tidak bisa dilakukan saat proses produksi. Pemahaman terhadap proses
pasca produksi harus dimiliki seorang sutradara agar shot-shot yang diambil nanti tidak
mustahil dieksekusi oleh editor saat proses editing nantinya.
1. Rumus 5-C :
Hartoko (1997:17) menjelaskan bahwa seorang sutradara harus memiliki
pemahaman tentang 5-C, yaitu close up (pengambilan jarak dekat), camera angle
(sudut pengambilan kamera), composition (komposisi), cutting (pergantian gambar),
dan continuity (persambungan gambar-gambar) yaitu :
a. Close Up
Pemahaman terhadap skenario sebelum produksi sangat penting, kemudian diuraikan
melalui shooting script. Pengambilan jarak dekat (close up) digunakan untuk lebih
menegaskan emosi, perasaan, penegasan karakter pemeran dan harus diperhatikan.
b. Camera angle
Pengayaan terhadap sudut kamera perlu dipahami agar tidak menimbulkan kesan
monoton dan cenderung membosankan. Kombinasi antara shot dan camera angle perlu
dicermati agar unsur filmis yang ada semakin kaya.
c. Composition
Komposisi adalah unsur visual yang memberikan makna keindahan dari sebuah film
dan video. Sebagai orang yang awam, tentunya tidak semua penonton mengerti setiap
informasi yang di-visual-kan, jadi perlu adanya komposisi yang menarik untuk
menuntun mata penonton.
ISSN: 2580-2569
Jurnal Pemberdayaan,
Vol. 1, No. 2, Oktober 2017, Hal. 489-496
Gibran Pratishara dan Anang Masduki
494
d. Cutting
Diartikan sebagai pergantian gambar dari satu scene ke scene lainnya. Cutting
termasuk dalam aspek pikturisasi yang berkaitan dengan unsur penceritaan dalam
urutan gambar-gambar. Sutradara harus mampu memainkan imajinasinya ketika
menangani proses shooting. Imajinasi yang berjalan tentunya bagaimana nantinya jika
potongan-potongan scene ini diedit dan ditayangkan di monitor.
e. Continuity
Continuity adalah unsur persambungan gambar-gambar. Sejak awal, sutradara bisa
memproyeksikan pengadegan dari satu scene ke scene lainnya.
2. Peran Sutradara
Menurut Alan Wurtzel (1985: 522) dalam bukunya “Television Production”,
peran sutradara meliputi 3 konsep yaitu :
a. Directorial Choice
The program director faces a wide range of choices, and the finished
program is the sum total of the choices the director has made
b. View Point
The Director should approach every program with a particular perspective
which provide unity and focus for the production choices
c. Visualization
The director must be able to conceive the visual elements of the showin his
on her mind; s eyes before translating them onto the television screen.
C. PEMBAHASAN
Pelatihan ini dilaksanakan tanggal 19 dan 20 Juli 2017. Bekerjasama dengan DPD
IMM DIY dimana pesertanya berjumlah 25 orang. Yang mencakup IMM BSKM, IMM
Sleman, IMM UMY dan IMM UAD. Tempat pelaksanaan dilakukan di laboratorium
multimedia prodi ilmu komunikasi UAD yang terletak dikampus 5 Wirosaban.
Dalam materi pertama yaitu filosofi pembuatan iklan dan teknik kamera
disampaikan teori tentang filosofi copywraiter, yaitu
1. Tingkat Pertama(dasar pyramid) : Attention
Yakni menilai struktur bangun kata dalam copywriting sebagai format
fundamental yang bertendensi menstimulus serta menciptakan persepsi baru
di benak pirsawan bidikan.
2. Tingkat Kedua : Interest
Yaitu proses menciptakan ketertarikan dengan jalan mencermati psikologis
audience. Kata-kata yang digunakan harus memberikan iterpretasi berupa
keyakinan penuh tentang adanya jaminan nilai guna atas produk atau jasa
yang diiklankan.
3. Tingkat Ketiga : Credibility
Yakni kredibilitas atau kepercayaan sebagai sesuatu yang sering dan wajar
dipertanyakan oleh konsumen karena tingkat pemahaman konsumen dalam
mengartikan iklan beragam.
4. Tingkat Keempat : Desire
Jurnal Pemberdayaan,
Vol.1, No. 2, Oktober 2017, hal. 489-496
ISSN: 2580-2569
Diterbitkan oleh Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat
Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
Pelatihan Perancangan Iklan Layanan Masyarakat
495
Yaitu dorongan menjadikan pemirsa bidikan memiliki rasa untuk bertindak
sesuai tujuan iklan.
5. Tingkat Kelima : Action
Yaitu langkah akhir berupa tindakan nyata.
Selanjutnya diberikan teori tatacara pengunaan kamera, cara mengambil
gambar, cara menggunakan pencahayaan dan cara mengambil fokus gambar yang baik.
Rata-rata peserta masih baru dan asing dengan kamera DSLR. Sehingga mereka memulai
dari nol. Selain itu peserta juga diberi penjelasan singkat terkait teori. Dimana dipaparkan
mengenai perbedaan iklan dan film pendek. Sehingga secara substansi peserta memahami
jenis dan karakternya.
Selanjutnya pengambilan gambar. Peserta diminta membuat kelompok yang terdiri
dari dua orang kemudian diberi kamera satu buah. Mereka selama 5 jam diminta hunting
gambar disekitar kampus 5 dengan bimbingan fasilitator. Kemudian sekitar jam 14.00
mereka diminta berkumpul untuk mengumpulkan gambar yang barusaja di shoot.
Teknik pengambilan gambar diantaranya:
1. Menetapkan adegan atau tema yang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan
2. Mengembangkan tema tersebut dan berusaha untuk membagi-bagi kejadian atau
moment menjadi serangkaian bidikan atau serangkaian kejadian yang berurutan.
3. Kita harus membidik urutan kejadian tersebut dengan berbagai jenis atau ukuran
bidikan
4. Bila akan mengubah atau memotong dua bidikan yang berurutan, hendaknya
memberi sisipan bidikan dengan ukuran bidikan yang berbeda mencolok juga dari
dua sudut bidik yang berbeda pula
5. Selain itu, perlu mengantisipasi adegan yang selanjutnya diharapkan Agar alunan
yang wajar dari rangkaian bidikan kita bisa terangkai
6. Membantu terciptanya alunan tadi. Sudut bidik yang berlawanan arah menciptakan
kesinambungan bidikan yang sangat berharga. Demikian pula bidikan-bidikan
berdasarkan arah pandangan
7. Membidik satu objek dengan durasi yang panjang sangat tidak disarankan.
Menunjukkan hal-hal yang penting saja agar menarik. Untuk menggabungkannya,
manfaatkan fasilitas fade in/out yang terdapat pada hampir semua perangkat
handycam.
8. Untuk memberikan kesan yang meyakinkan bidikan-bidikan tersebut perlu
dipertahankan paling tidak selama tiga detik supaya siswa dapt menangkap atau
menghayati suatu adegan.
Adapun hari kedua, gambar video yang ada di kamera dimasukan ke CPU masing-
masing untuk diberi pelatihan editing. Gambar yang ada di komputer di rangkai menjadi
satu kesatuan dan diberi pencahayaan. Peserta diacari cara memotong, merangkai, memberi
ilustrasi cahaya dan menamabahkan suara.
Langkah-langkah editing video sebagai berikut:
1. Import video yang akan edit ke dalam software editing. Video yang import nantinya
akan terpecah menjadi beberapa video. Misalkan untuk video dengan durasi 3 – 5
menit, biasanya akan terbagi dalam 18 buah potongan video. Drag potongan video
tersebut pada bagian bawah layar agar dapat diedit.
ISSN: 2580-2569
Jurnal Pemberdayaan,
Vol. 1, No. 2, Oktober 2017, Hal. 489-496
Gibran Pratishara dan Anang Masduki
496
2. Apabila ingin memberi efek pada video tersebut maka klik menu View Video
Effect. Efek-efek yang dapat kamu berikan antara lain efek blur, film ages older,
mirror, rotate, dan masih banyak efek lainnya. Bisa menambahkan efek untuk
perpindahan tampilan dari video satu ke video lainnya. Efek-efek yang telah
diterapkan akan di-preview sehingga dapat melihat hasilnya.
3. Efek lain yang dapat diberikan pada video antara lain subtitle dan judul. Ketik judul
video yang diinginkan. Letakkan di awal, tengah atau akhir video sesuai dengan
keinginan. Kemudian drag ke atas menu pemberi judul. maka akan terlihat pilihan
menu untuk menganimasikan judul tersebut.
4. Langkah terakhir adalah mengoreksi apakah video tersebut sudah sesuai dengan
keinginan kita. Jika sudah bisa save video tersebut.
Hambatan yang dialami pertama adalah rata-rata peserta masih asing dengan
kamera sehingga fasilitator harus memulai dari nol. Kedua, rata-rata perserta tidak
memiliki kamera sehingga meminjam pada prodi komunikasi UAD. Selain itu jika memang
intens belajar agar bisa maka diharapkan mereka bisa membeli kamera.
D. KESIMPULAN DAN SARAN
Hasil yang diperoleh melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan
rekomendasi penting yang perlu disampaikan berkaitan dengan kegiatan pengabdian
kepada masyarakat adalah sebagai berikut:.
Para peserta memperoleh pengetahuan dan bisa memahami teknik kamera, bisa
mengoptasikannya dan bisa mengedit video sehingga menjadi sebuah film pendek yang
inspiratif. Kami menyarankan agar lebih banyak lagi pengabdian pada masyarakat yang
berbasis IT khususnya pembuatan video atau film pendek. Untuk membekali generasi
Muda Muhammadiyah dengan pemahaman pembuatan film untuk menunjang kegiatan
dakwah islam.
DAFTAR PUSTAKA
Agustrijanto. (2001) Copywriting, Remaja Rosdakarya, Bandung
Hakim, Budiman. (2005), Lanturan Tapi Relevan, Galang Press, Yogyakarta
Jefkins, Frank. (1997). Periklanan. Erlangga. Jakarta.
Madjadikara, Agus S. (2009), Bagaimana Biro Iklan Memproduksi Iklan, Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta
Naratama. (2004), Menjadi Sutradara Televisi, Grasindo, Jakarta.
Widyatama, Rendra. (2007), Pengantar Periklanan, Pustaka, Yogyakarta
Wurtzel, Alan. (1985), Television Production, McGraw-Hill Book, Singapore.
... Copywriting identik dengan kemampuan mengolah kata sehingga menciptakan unsur seni didalamnya yang dapat menimbulkan efek persuasif (Pratishara & Masduki, 2017). ...
Article
Pengabdian kepada masyarakat dijalankan untuk memberikan kontribusi nyata bagi bangsa Indonesia, khususnya dalam mengembangkan kesejahteraan dan kemajuan bangsa salah satunya melalui bisnis. Copywriting identik dengan kemampuan mengolah kata sehingga menciptakan unsur seni di dalamnya yang dapat menimbulkan efek persuasif. Copywriting sangat erat kaitannya dengan kegiatan promosi sebagai bagian dari branding. Memahami teknik copywriting merupakan salah satu kunci sukses penjualan. Tanpa teknik copywriting, kemungkinan besar post di media sosial kurang mendapatkan respon dari pelanggan. Permasalahan yang dihadapi anak Panti Asuhan Ahmad Yani yaitu belum mengetahui terkait copywriting. Diharapkan dengan pelaksanaan pengabdian masyarakat ini dapat memberikan ilmu untuk anak Panti Asuhan Ahmad Yani dalam meningkatkan kemandirian dan kreatifitasnya dalam membangun suatu usaha nantinya serta menjadi talenta digital kelak. Hasil yang didapat dari kegiatan ini yaitu peserta mampu mengikuti dan dapat memahami pentingnya menjadi talenta digital dengan copywriting sebagai sarana penerapan ilmu dan dapat meningkatkan kreatifitas.
Bagaimana Biro Iklan Memproduksi Iklan, Gramedia Pustaka Utama
  • Agus S Madjadikara
  • Menjadi Sutradara Televisi
  • Jakarta Grasindo
  • Rendra Widyatama
Madjadikara, Agus S. (2009), Bagaimana Biro Iklan Memproduksi Iklan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Naratama. (2004), Menjadi Sutradara Televisi, Grasindo, Jakarta. Widyatama, Rendra. (2007), Pengantar Periklanan, Pustaka, Yogyakarta Wurtzel, Alan. (1985), Television Production, McGraw-Hill Book, Singapore.