ArticlePDF Available

MITIGASI BENCANA LONGSOR SAMPAH, ANALISIS PENYEBAB DAN UPAYA PENCEGAHANNYA

Authors:
  • Badan Riset dan Inonasi Nasional

Abstract

Avalanche or sliding can occur in landfill site.This disaster received great attention when it occured in Leuwigajah landfill site which death toll hundreds of lifes. Landfill slide disaster was caused by several factors such as increasing levels of waste water contain due to rain water; lack of bonds strength between the waste particles because there is no compacting process; height and slope; soften of landfills base because of water infiltration and vibration caused by trucks and bulldozers activities. To prevent the landfill slide disaster compacting waste needs to be done regularly in order to increase density and reduce water percolation; permeability should also be kept homogeneous by maintaining drainage systems; and control pressure by looking at changes in the composition and conditions of the waste. Landfill stability test is necessary to detect the landfill slide danger.
i
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana, Vol. 9, No. 2, Tahun 2014
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI MITIGASI BENCANA
Terbit 2 kali setahun, mulai Juni 2006
ISSN: 0126-4907
Volume 9 Nomor 2, Desember 2014
Pembina:
Deputi Kepala Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam
Pemimpin/Penanggung Jawab Redaksi:
Direktur Pusat Teknologi Sumberdaya Lahan, Wilayah dan Mitigasi Bencana
Ketua Dewan Penyunting:
Dr. Ir. Iwan G. Tejakusuma, M.Sc
Geologi Lingkungan dan Kuarter, Modeling Hidrodinamika dan Transport
Anggota Dewan Penyunting:
Ir. Wisyanto, MT / Geodinamika
Ir. Heru Sri Naryanto, M.Sc / Geologi Lingkungan dan Bencana Geologi
Dr. Udrekh, M.Sc / Geologi Kelautan
Drs. Bambang Marwanta, MT / Geosika
Dra. Hanggari Sittadewi M.Si / Biologi dan Lingkungan
Ir. Suryana Prawiradisastra / Hidrogeologi dan Manajemen Risiko Bencana
Mitra Bestari:
Ir. Lilik Kurniawan, MT
Redaksi Pelaksana:
Jubaidi Rochman, Ritha Riyandari S.Kel, Diyah Krisna Yuliana, ST
Alamat Redaksi:
Pusat Teknologi Sumberdaya Lahan, Wilayah dan Mitigasi Bencana
Gedung BPPT II Lantai 18, Telp.: 021-316-9684, 316-9671, 316-9652
Fax.: 021-316-9683, e-mail: mitigasi@webmail.bppt.go.id
Kata Pengantar
Dengan rendah hati dan penuh rasa syukur ke Hadirat Tuhan YME, kami menghadirkan Jurnal
Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana ke hadapan pembaca. Tulisan kali ini menghadirkan
bahasan yang berkaitan dengan bencana alam juga berkaitan dengan bencana lingkungan.
Selanjutnya kami memberikan kesempatan kepada publik yang tertarik terhadap masalah
bencana untuk mempublikasikan tulisannya melalui jurnal ini. Tulisan dapat berupa kebencanaan
dengan aspek teknis, ekonomi, sosial, teknologi dan lingkungan. Semoga isi tulisan yang ada
dalam jurnal ini dapat menambah wawasan dan meningkatkan perhatian kita terhadap masalah
kebencanaan. Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
memberikan kontribusi pada penerbitan jurnal ini (redaksi).
iii
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana, Vol. 9, No. 2, Tahun 2014
Kata Pengantar ...........................................................................................
Daftar Isi .....................................................................................................
Pendekatan Proses Pembentukan Awan dan Hujan Berdasarkan Satelit
Saat Kejadian Puting Beliung Di Bogor 25 Oktober 2014
Erwin Mulyana ..........................................................................................
Mitigasi Bencana Longsor Sampah Analisis Penyebab Dan Upaya
Pencegahannya
Sri Wahyono ..............................................................................................
Rencana Tindak Dan Indikator Kinerja Mitigasi Bencana Alam
CB Herman Edyanto .................................................................................
Pemetaan Potensi Bencana Banjir Di Kabupaten Sorong Selatan
Eko Widi Santoso ......................................................................................
Kajian Bencana Banjir Bandang Dan Penanggulangannya Di Provinsi
Sumatera Barat
Ritha Riyandari ..........................................................................................
Analisis Risiko Bencana Gempabumi Di Kabupaten Bantul
Wisyanto ....................................................................................................
Geologi Dan Bencana Di Kota Balikpapan Kalimantan Timur
Iwan G. Tejakusuma ..................................................................................
Kajian Banjir Dan Pengendaliannya Di Kabupaten Pelalawan
Taty Hernaningsih .....................................................................................
i
iii
1
6
19
28
33
44
54
62
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI MITIGASI BENCANA
Volume 9 Nomor 2, Desember 2014
Daftar Isi
Halaman
6
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana, Vol. 9, No. 2, Tahun 2014
MITIGASI BENCANA LONGSOR SAMPAH
ANALISIS PENYEBAB DAN UPAYA PENCEGAHANNYA
ABSTRACT: Avalanche or sliding can occur in landll site.This disaster received
great attention when it occured in Leuwigajah landll site which death toll hundreds
of lifes. Landll slide disaster was caused by several factors such as increasing
levels of waste water contain due to rain water; lack of bonds strength between the
waste particles because there is no compacting process; height and slope; soften
of landlls base because of water inltration and vibration caused by trucks and
bulldozers activities. To prevent the landll slide disaster compacting waste needs
to be done regularly in order to increase density and reduce water percolation;
permeability should also be kept homogeneous by maintaining drainage systems;
and control pressure by looking at changes in the composition and conditions of
the waste. Landll stability test is necessary to detect the landll slide danger.
Keywords: Landll slide, disaster, compacting, mitigation
1. PENDAHULUAN
Longsor dapat terjadi pada benda
apapun entah itu tanah, batu, maupun
material tambang. Longsor juga dapat terjadi
di tempat pembuangan akhir sampah (TPA).
Seperti halnya longsor material lain, dalam
volume yang besar, longsor sampah juga
mengakibatkan kerugian sik dan korban
jiwa. Contoh bencana longsor sampah yang
mendapat perhatian besar bangsa Indonesia
adalah bencana longsor TPA Leuwigajah
Cimahi yang terjadi sekitar satu dekade yang
lalu dengan korban ratusan jiwa.
Dari catatan para peneliti dan berita media
massa, contoh bencana longsor sampah juga
dapat ditemui di negara lain baik di negara
sedang berkembang maupun di negara maju,
baik yang beriklim tropis maupun temperata.
Bencana longsor juga tidak sebatas pada TPA
open dumping, tetapi juga terjadi pada TPA
yang dirancang aman terhadap lingkungan
(sanitary landll).
Penyebab longsor sampah di TPA telah
menarik para ahli untuk menyelidikinya.
Meneliti longsor sampah tidak terlepas dari
ilmu geoteknik khususnya tentang ilmu
mekanika. Khusus ilmu mekanika sampah, llmu
tersebut telah berkembang pada akhir dekade
ini terutama di Jerman. Penelitian tentang
geoteknik sampah secara mendalam telah
menghasilkan rekomendasi teknis tentang
state of the art analisis stabilitas tumpukan
sampah yang bermanfaat dalam pencegahan
bencana longsor sampah, khususnya untuk
Jerman sendiri.
2. TEORI DAN METODA PENELITIAN
2.1. Teori Longsor Sampah
Longsor biasa dimaknai sebagai
perpindahan material pada arah tegak,
mendatar atau miring terhadap kedudukan
awalnya. Longsor sampah sering dikategorikan
sebagai longsor dalam pengkategorian yang
sempit yaitu longsor gelinciran translasional
(slide) atau longsor gelinciran rotasional
(slump) (Stewart Sharpe, 1938, dalam Hansen,
1984).
Sri Wahyono1
1 Pusat Teknologi Lingkungan, BPPT,
Jl. M. H. Thamrin No. 8, Jakarta 10340,
email: swahyono@yahoo.com
7
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana, Vol. 9, No. 2, Tahun 2014
Bencana longsor sampah mirip dengan
longsor tanah sehingga dapat ditinjau dari
ilmu geoteknik. Secara teoritis, pada lokasi
yang berbeda ketinggian akan ada gaya
dorong sehingga sampah yang lebih tinggi
kedudukannya cenderung bergerak ke bawah.
Di samping gaya yang mendorong ke bawah
terdapat pula gaya dalam sampah yang
bekerja menahan dorongan tersebut sehingga
kedudukan sampah tetap stabil. Gaya
pendorong berupa gaya berat, sedangkan
gaya penahan berupa gaya geseran, gaya
kohesi, dan kekuatan geser tanah. Jika gaya
pendorong lebih besar dari gaya penahan,
maka sampah akan mulai runtuh sepanjang
bidang gelincir sehingga terjadilah longsor.
Oleh karena itu, kejadian longsor sampah
dapat diterangkan dengan rumus perhitungan
Faktor keamanan (safety factor) lereng tanah
yang diperkenalkan oleh Fellenius (Zakaria,
Z, 2009). Menurut rumus Felenius, faktor
keamanan (F) dihitung dari perbandingan
antara gaya tahan (
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana, Volume # Nomor #, Tahun 2015
bawah. Di samping gaya yang mendorong ke
bawah terdapat pula gaya dalam sampah
yang bekerja menahan dorongan tersebut
sehingga kedudukan sampah tetap stabil.
Gaya pendorong berupa gaya berat,
sedangkan gaya penahan berupa gaya
geseran, gaya kohesi, dan kekuatan geser
tanah. Jika gaya pendorong lebih besar dari
gaya penahan, maka sampah akan mulai
runtuh sepanjang bidang gelincir sehingga
terjadilah longsor.
Oleh karena itu, kejadian longsor sampah
dapat diterangkan dengan rumus perhitungan
Faktor keamanan (safety factor) lereng tanah
yang diperkenalkan oleh Fellenius (Zakaria, Z,
2009). Menurut rumus Felenius, faktor
keamanan (F) dihitung dari perbandingan
antara gaya tahan () dengan gaya dorong
(s). Semakin tinggi nila F akan semakin stabil
kondisi tumpukan sampah. Persamaannya
adalah sebagai berikut:
Gaya tahan () adalah besarnya gaya kohesi
sampah sepanjang bidang gelincir (cL)
ditambah dengan bobot gaya massa sampah
(W) pada sudut bidang gelincir () dan sudut
geser dalam (). Persamaannya adalah
sebagai berikut:
Sementara itu, gaya dorong (s) adalah
besarnya bobot masa (W) pada sudut bidang
gelincir (). Persamaannya adalah sebagai
berikut:
S = W sin
Gambar 1. Sketsa Benda di Lereng dan Gaya yang
Bekerja. (Dimodifikasi dari Zakaria, Z,
2009).
Kekuatan gaya tahan material sampah
pada suatu lereng dapat dilampau oleh gaya
dorong karena beberapa hal seperti
penambahan kadar air sampah akibat infiltrasi
air hujan; rendahnya kekuatan ikatan antar
partikel sampah karena kurangnya
pemadatan sampah dan karakter sampah;
bentuk geometris penampang lereng
misalnya ketinggian dan kemiring lereng; jenis
dan keadaan lapisan dasar TPA misalnya
tanah menjadi lunak karena adanya infiltrasi
air; getaran sampah misalnya akibat aktivitas
penurunan sampah dari truk dan gerakan
buldozer.
2.2. Tujuan
Tulisan ini bertujuan untuk
mengidentifikasi beragam bencana longsor
sampah, dampak longsor sampah terhadap
lingkungan dan masyarakat setempat,
) dengan gaya dorong
(s). Semakin tinggi nila F akan semakin stabil
kondisi tumpukan sampah. Persamaannya
adalah sebagai berikut:
Gaya tahan (
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana, Volume # Nomor #, Tahun 2015
bawah. Di samping gaya yang mendorong ke
bawah terdapat pula gaya dalam sampah
yang bekerja menahan dorongan tersebut
sehingga kedudukan sampah tetap stabil.
Gaya pendorong berupa gaya berat,
sedangkan gaya penahan berupa gaya
geseran, gaya kohesi, dan kekuatan geser
tanah. Jika gaya pendorong lebih besar dari
gaya penahan, maka sampah akan mulai
runtuh sepanjang bidang gelincir sehingga
terjadilah longsor.
Oleh karena itu, kejadian longsor sampah
dapat diterangkan dengan rumus perhitungan
Faktor keamanan (safety factor) lereng tanah
yang diperkenalkan oleh Fellenius (Zakaria, Z,
2009). Menurut rumus Felenius, faktor
keamanan (F) dihitung dari perbandingan
antara gaya tahan () dengan gaya dorong
(s). Semakin tinggi nila F akan semakin stabil
kondisi tumpukan sampah. Persamaannya
adalah sebagai berikut:
Gaya tahan () adalah besarnya gaya kohesi
sampah sepanjang bidang gelincir (cL)
ditambah dengan bobot gaya massa sampah
(W) pada sudut bidang gelincir () dan sudut
geser dalam (). Persamaannya adalah
sebagai berikut:
Sementara itu, gaya dorong (s) adalah
besarnya bobot masa (W) pada sudut bidang
gelincir (). Persamaannya adalah sebagai
berikut:
S = W sin
Gambar 1. Sketsa Benda di Lereng dan Gaya yang
Bekerja. (Dimodifikasi dari Zakaria, Z,
2009).
Kekuatan gaya tahan material sampah
pada suatu lereng dapat dilampau oleh gaya
dorong karena beberapa hal seperti
penambahan kadar air sampah akibat infiltrasi
air hujan; rendahnya kekuatan ikatan antar
partikel sampah karena kurangnya
pemadatan sampah dan karakter sampah;
bentuk geometris penampang lereng
misalnya ketinggian dan kemiring lereng; jenis
dan keadaan lapisan dasar TPA misalnya
tanah menjadi lunak karena adanya infiltrasi
air; getaran sampah misalnya akibat aktivitas
penurunan sampah dari truk dan gerakan
buldozer.
2.2. Tujuan
Tulisan ini bertujuan untuk
mengidentifikasi beragam bencana longsor
sampah, dampak longsor sampah terhadap
lingkungan dan masyarakat setempat,
) adalah besarnya gaya kohesi
sampah sepanjang bidang gelincir (cL)
ditambah dengan bobot gaya massa sampah
(W) pada sudut bidang gelincir (
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana, Volume # Nomor #, Tahun 2015
bawah. Di samping gaya yang mendorong ke
bawah terdapat pula gaya dalam sampah
yang bekerja menahan dorongan tersebut
sehingga kedudukan sampah tetap stabil.
Gaya pendorong berupa gaya berat,
sedangkan gaya penahan berupa gaya
geseran, gaya kohesi, dan kekuatan geser
tanah. Jika gaya pendorong lebih besar dari
gaya penahan, maka sampah akan mulai
runtuh sepanjang bidang gelincir sehingga
terjadilah longsor.
Oleh karena itu, kejadian longsor sampah
dapat diterangkan dengan rumus perhitungan
Faktor keamanan (safety factor) lereng tanah
yang diperkenalkan oleh Fellenius (Zakaria, Z,
2009). Menurut rumus Felenius, faktor
keamanan (F) dihitung dari perbandingan
antara gaya tahan () dengan gaya dorong
(s). Semakin tinggi nila F akan semakin stabil
kondisi tumpukan sampah. Persamaannya
adalah sebagai berikut:
Gaya tahan () adalah besarnya gaya kohesi
sampah sepanjang bidang gelincir (cL)
ditambah dengan bobot gaya massa sampah
(W) pada sudut bidang gelincir () dan sudut
geser dalam (). Persamaannya adalah
sebagai berikut:
Sementara itu, gaya dorong (s) adalah
besarnya bobot masa (W) pada sudut bidang
gelincir (). Persamaannya adalah sebagai
berikut:
S = W sin
Gambar 1. Sketsa Benda di Lereng dan Gaya yang
Bekerja. (Dimodifikasi dari Zakaria, Z,
2009).
Kekuatan gaya tahan material sampah
pada suatu lereng dapat dilampau oleh gaya
dorong karena beberapa hal seperti
penambahan kadar air sampah akibat infiltrasi
air hujan; rendahnya kekuatan ikatan antar
partikel sampah karena kurangnya
pemadatan sampah dan karakter sampah;
bentuk geometris penampang lereng
misalnya ketinggian dan kemiring lereng; jenis
dan keadaan lapisan dasar TPA misalnya
tanah menjadi lunak karena adanya infiltrasi
air; getaran sampah misalnya akibat aktivitas
penurunan sampah dari truk dan gerakan
buldozer.
2.2. Tujuan
Tulisan ini bertujuan untuk
mengidentifikasi beragam bencana longsor
sampah, dampak longsor sampah terhadap
lingkungan dan masyarakat setempat,
) dan sudut
geser dalam (
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana, Volume # Nomor #, Tahun 2015
bawah. Di samping gaya yang mendorong ke
bawah terdapat pula gaya dalam sampah
yang bekerja menahan dorongan tersebut
sehingga kedudukan sampah tetap stabil.
Gaya pendorong berupa gaya berat,
sedangkan gaya penahan berupa gaya
geseran, gaya kohesi, dan kekuatan geser
tanah. Jika gaya pendorong lebih besar dari
gaya penahan, maka sampah akan mulai
runtuh sepanjang bidang gelincir sehingga
terjadilah longsor.
Oleh karena itu, kejadian longsor sampah
dapat diterangkan dengan rumus perhitungan
Faktor keamanan (safety factor) lereng tanah
yang diperkenalkan oleh Fellenius (Zakaria, Z,
2009). Menurut rumus Felenius, faktor
keamanan (F) dihitung dari perbandingan
antara gaya tahan () dengan gaya dorong
(s). Semakin tinggi nila F akan semakin stabil
kondisi tumpukan sampah. Persamaannya
adalah sebagai berikut:
Gaya tahan () adalah besarnya gaya kohesi
sampah sepanjang bidang gelincir (cL)
ditambah dengan bobot gaya massa sampah
(W) pada sudut bidang gelincir () dan sudut
geser dalam (). Persamaannya adalah
sebagai berikut:
Sementara itu, gaya dorong (s) adalah
besarnya bobot masa (W) pada sudut bidang
gelincir (). Persamaannya adalah sebagai
berikut:
S = W sin
Gambar 1. Sketsa Benda di Lereng dan Gaya yang
Bekerja. (Dimodifikasi dari Zakaria, Z,
2009).
Kekuatan gaya tahan material sampah
pada suatu lereng dapat dilampau oleh gaya
dorong karena beberapa hal seperti
penambahan kadar air sampah akibat infiltrasi
air hujan; rendahnya kekuatan ikatan antar
partikel sampah karena kurangnya
pemadatan sampah dan karakter sampah;
bentuk geometris penampang lereng
misalnya ketinggian dan kemiring lereng; jenis
dan keadaan lapisan dasar TPA misalnya
tanah menjadi lunak karena adanya infiltrasi
air; getaran sampah misalnya akibat aktivitas
penurunan sampah dari truk dan gerakan
buldozer.
2.2. Tujuan
Tulisan ini bertujuan untuk
mengidentifikasi beragam bencana longsor
sampah, dampak longsor sampah terhadap
lingkungan dan masyarakat setempat,
). Persamaannya adalah
sebagai berikut:
Sementara itu, gaya dorong (s) adalah
besarnya bobot masa (W) pada sudut bidang
gelincir (
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana, Volume # Nomor #, Tahun 2015
bawah. Di samping gaya yang mendorong ke
bawah terdapat pula gaya dalam sampah
yang bekerja menahan dorongan tersebut
sehingga kedudukan sampah tetap stabil.
Gaya pendorong berupa gaya berat,
sedangkan gaya penahan berupa gaya
geseran, gaya kohesi, dan kekuatan geser
tanah. Jika gaya pendorong lebih besar dari
gaya penahan, maka sampah akan mulai
runtuh sepanjang bidang gelincir sehingga
terjadilah longsor.
Oleh karena itu, kejadian longsor sampah
dapat diterangkan dengan rumus perhitungan
Faktor keamanan (safety factor) lereng tanah
yang diperkenalkan oleh Fellenius (Zakaria, Z,
2009). Menurut rumus Felenius, faktor
keamanan (F) dihitung dari perbandingan
antara gaya tahan () dengan gaya dorong
(s). Semakin tinggi nila F akan semakin stabil
kondisi tumpukan sampah. Persamaannya
adalah sebagai berikut:
Gaya tahan () adalah besarnya gaya kohesi
sampah sepanjang bidang gelincir (cL)
ditambah dengan bobot gaya massa sampah
(W) pada sudut bidang gelincir () dan sudut
geser dalam (). Persamaannya adalah
sebagai berikut:
Sementara itu, gaya dorong (s) adalah
besarnya bobot masa (W) pada sudut bidang
gelincir (). Persamaannya adalah sebagai
berikut:
S = W sin
Gambar 1. Sketsa Benda di Lereng dan Gaya yang
Bekerja. (Dimodifikasi dari Zakaria, Z,
2009).
Kekuatan gaya tahan material sampah
pada suatu lereng dapat dilampau oleh gaya
dorong karena beberapa hal seperti
penambahan kadar air sampah akibat infiltrasi
air hujan; rendahnya kekuatan ikatan antar
partikel sampah karena kurangnya
pemadatan sampah dan karakter sampah;
bentuk geometris penampang lereng
misalnya ketinggian dan kemiring lereng; jenis
dan keadaan lapisan dasar TPA misalnya
tanah menjadi lunak karena adanya infiltrasi
air; getaran sampah misalnya akibat aktivitas
penurunan sampah dari truk dan gerakan
buldozer.
2.2. Tujuan
Tulisan ini bertujuan untuk
mengidentifikasi beragam bencana longsor
sampah, dampak longsor sampah terhadap
lingkungan dan masyarakat setempat,
). Persamaannya adalah sebagai
berikut:
S = W sin
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana, Volume # Nomor #, Tahun 2015
bawah. Di samping gaya yang mendorong ke
bawah terdapat pula gaya dalam sampah
yang bekerja menahan dorongan tersebut
sehingga kedudukan sampah tetap stabil.
Gaya pendorong berupa gaya berat,
sedangkan gaya penahan berupa gaya
geseran, gaya kohesi, dan kekuatan geser
tanah. Jika gaya pendorong lebih besar dari
gaya penahan, maka sampah akan mulai
runtuh sepanjang bidang gelincir sehingga
terjadilah longsor.
Oleh karena itu, kejadian longsor sampah
dapat diterangkan dengan rumus perhitungan
Faktor keamanan (safety factor) lereng tanah
yang diperkenalkan oleh Fellenius (Zakaria, Z,
2009). Menurut rumus Felenius, faktor
keamanan (F) dihitung dari perbandingan
antara gaya tahan () dengan gaya dorong
(s). Semakin tinggi nila F akan semakin stabil
kondisi tumpukan sampah. Persamaannya
adalah sebagai berikut:
Gaya tahan () adalah besarnya gaya kohesi
sampah sepanjang bidang gelincir (cL)
ditambah dengan bobot gaya massa sampah
(W) pada sudut bidang gelincir () dan sudut
geser dalam (). Persamaannya adalah
sebagai berikut:
Sementara itu, gaya dorong (s) adalah
besarnya bobot masa (W) pada sudut bidang
gelincir (). Persamaannya adalah sebagai
berikut:
S = W sin
Gambar 1. Sketsa Benda di Lereng dan Gaya yang
Bekerja. (Dimodifikasi dari Zakaria, Z,
2009).
Kekuatan gaya tahan material sampah
pada suatu lereng dapat dilampau oleh gaya
dorong karena beberapa hal seperti
penambahan kadar air sampah akibat infiltrasi
air hujan; rendahnya kekuatan ikatan antar
partikel sampah karena kurangnya
pemadatan sampah dan karakter sampah;
bentuk geometris penampang lereng
misalnya ketinggian dan kemiring lereng; jenis
dan keadaan lapisan dasar TPA misalnya
tanah menjadi lunak karena adanya infiltrasi
air; getaran sampah misalnya akibat aktivitas
penurunan sampah dari truk dan gerakan
buldozer.
2.2. Tujuan
Tulisan ini bertujuan untuk
mengidentifikasi beragam bencana longsor
sampah, dampak longsor sampah terhadap
lingkungan dan masyarakat setempat,
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana, Volume # Nomor #, Tahun 2015
bawah. Di samping gaya yang mendorong ke
bawah terdapat pula gaya dalam sampah
yang bekerja menahan dorongan tersebut
sehingga kedudukan sampah tetap stabil.
Gaya pendorong berupa gaya berat,
sedangkan gaya penahan berupa gaya
geseran, gaya kohesi, dan kekuatan geser
tanah. Jika gaya pendorong lebih besar dari
gaya penahan, maka sampah akan mulai
runtuh sepanjang bidang gelincir sehingga
terjadilah longsor.
Oleh karena itu, kejadian longsor sampah
dapat diterangkan dengan rumus perhitungan
Faktor keamanan (safety factor) lereng tanah
yang diperkenalkan oleh Fellenius (Zakaria, Z,
2009). Menurut rumus Felenius, faktor
keamanan (F) dihitung dari perbandingan
antara gaya tahan () dengan gaya dorong
(s). Semakin tinggi nila F akan semakin stabil
kondisi tumpukan sampah. Persamaannya
adalah sebagai berikut:
Gaya tahan () adalah besarnya gaya kohesi
sampah sepanjang bidang gelincir (cL)
ditambah dengan bobot gaya massa sampah
(W) pada sudut bidang gelincir () dan sudut
geser dalam (). Persamaannya adalah
sebagai berikut:
Sementara itu, gaya dorong (s) adalah
besarnya bobot masa (W) pada sudut bidang
gelincir (). Persamaannya adalah sebagai
berikut:
S = W sin
Gambar 1. Sketsa Benda di Lereng dan Gaya yang
Bekerja. (Dimodifikasi dari Zakaria, Z,
2009).
Kekuatan gaya tahan material sampah
pada suatu lereng dapat dilampau oleh gaya
dorong karena beberapa hal seperti
penambahan kadar air sampah akibat infiltrasi
air hujan; rendahnya kekuatan ikatan antar
partikel sampah karena kurangnya
pemadatan sampah dan karakter sampah;
bentuk geometris penampang lereng
misalnya ketinggian dan kemiring lereng; jenis
dan keadaan lapisan dasar TPA misalnya
tanah menjadi lunak karena adanya infiltrasi
air; getaran sampah misalnya akibat aktivitas
penurunan sampah dari truk dan gerakan
buldozer.
2.2. Tujuan
Tulisan ini bertujuan untuk
mengidentifikasi beragam bencana longsor
sampah, dampak longsor sampah terhadap
lingkungan dan masyarakat setempat,
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana, Volume # Nomor #, Tahun 2015
bawah. Di samping gaya yang mendorong ke
bawah terdapat pula gaya dalam sampah
yang bekerja menahan dorongan tersebut
sehingga kedudukan sampah tetap stabil.
Gaya pendorong berupa gaya berat,
sedangkan gaya penahan berupa gaya
geseran, gaya kohesi, dan kekuatan geser
tanah. Jika gaya pendorong lebih besar dari
gaya penahan, maka sampah akan mulai
runtuh sepanjang bidang gelincir sehingga
terjadilah longsor.
Oleh karena itu, kejadian longsor sampah
dapat diterangkan dengan rumus perhitungan
Faktor keamanan (safety factor) lereng tanah
yang diperkenalkan oleh Fellenius (Zakaria, Z,
2009). Menurut rumus Felenius, faktor
keamanan (F) dihitung dari perbandingan
antara gaya tahan () dengan gaya dorong
(s). Semakin tinggi nila F akan semakin stabil
kondisi tumpukan sampah. Persamaannya
adalah sebagai berikut:
Gaya tahan () adalah besarnya gaya kohesi
sampah sepanjang bidang gelincir (cL)
ditambah dengan bobot gaya massa sampah
(W) pada sudut bidang gelincir () dan sudut
geser dalam (). Persamaannya adalah
sebagai berikut:
Sementara itu, gaya dorong (s) adalah
besarnya bobot masa (W) pada sudut bidang
gelincir (). Persamaannya adalah sebagai
berikut:
S = W sin
Gambar 1. Sketsa Benda di Lereng dan Gaya yang
Bekerja. (Dimodifikasi dari Zakaria, Z,
2009).
Kekuatan gaya tahan material sampah
pada suatu lereng dapat dilampau oleh gaya
dorong karena beberapa hal seperti
penambahan kadar air sampah akibat infiltrasi
air hujan; rendahnya kekuatan ikatan antar
partikel sampah karena kurangnya
pemadatan sampah dan karakter sampah;
bentuk geometris penampang lereng
misalnya ketinggian dan kemiring lereng; jenis
dan keadaan lapisan dasar TPA misalnya
tanah menjadi lunak karena adanya infiltrasi
air; getaran sampah misalnya akibat aktivitas
penurunan sampah dari truk dan gerakan
buldozer.
2.2. Tujuan
Tulisan ini bertujuan untuk
mengidentifikasi beragam bencana longsor
sampah, dampak longsor sampah terhadap
lingkungan dan masyarakat setempat,
Gambar 1. Sketsa benda di lereng dan gaya
yang bekerja.
(Dimodikasi dari Zakaria, Z, 2009).
Kekuatan gaya tahan material sampah
pada suatu lereng dapat dilampau oleh
gaya dorong karena beberapa hal seperti
penambahan kadar air sampah akibat
inltrasi air hujan; rendahnya kekuatan ikatan
antar partikel sampah karena kurangnya
pemadatan sampah dan karakter sampah;
bentuk geometris penampang lereng misalnya
ketinggian dan kemiring lereng; jenis dan
keadaan lapisan dasar TPA misalnya tanah
menjadi lunak karena adanya inltrasi air;
getaran sampah misalnya akibat aktivitas
penurunan sampah dari truk dan gerakan
buldozer.
2.2. Tujuan
Tulisan ini bertujuan untuk mengidentikasi
beragam bencana longsor sampah, dampak
longsor sampah terhadap lingkungan dan
masyarakat setempat, mengkaji faktor-faktor
penyebab longsor dan upaya pencegahannya.
8
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana, Vol. 9, No. 2, Tahun 2014
Lokasi Tahun Volume Longsoran
(m
3
)
Longsor
Dampak Longsor
TPA Sarajevo,
Yugoslavia
Desember
1977
200.000
Dua jembatan dan 5 rumah hancur. Kerusakan
lingkungan yang luas. Tidak ada korban jiwa
TPA Umraniye-
Hekimbashi, Turki
1993
12.000-15.000
Sedikitnya 39 meninggal, 11 rumah hancur. Saluran air
minum hancur. Selokan air tertimbun sampah.
TPA Ramkey, Colerain,
AS
Maret 1996 1.200.000 360 Menimbun area TPA di bawahnya.
TPA Payatas, Quenzon
City, Filipina
Juli
2000
10.000-12.000
278 meninggal, 80-350 hilang. Tidak diketahui secara
pasti jumlah rumah yang hancur.
TPA Dona Juana,
Bogota, Columbia
1997
1.500.000
Sungai tertimbun sampah. Kerusakan lingkungan. Tidak
ada korban jiwa.
TPA Bulbull, Durban,
Afrika Selatan
1997
150.000-180.000
Tidak ada kerusakan lingkungan. Longsor di lokasi TPA.
Tidak ada korban jiwa.
Lokasi Tahun
Volume
Longsoran
(m )
Jarak
Longsoran
(m)
Dampak Longsor
TPA
Leuwigajah,
Cimahi
1993 7 rumah tertimbun, tidak ada korban jiwa
2005 500.000-
750.000
900 147 meninggal, beberapa hilang. Lembah tertimbun
sampah.
TPA
Bantargebang,
Bekasi
8 September2006 (BPPT,
2006; republika online;
tempo.co; indosiar.co)
25.000 100 2 orang meninggal, 7 luka berat, 3 unit truk, warung
kopi, saluran air dan jalan akses tertimbun.
TPA Galuga,
Bogor
Januari 2002 (okezone.com) - - Tidak ada korban jiwa.
20 Februari 2010
(pikiranrakyat online.com)
- - Tanpa korban jiwa, 5 ha sawah tertimbun, kolam lindi
juga tertimbun.
16 Maret 2010 (kompas.com) - 500 4 orang meninggal, 7 terluka, 3 ha sawah tertimbun
TPA Sumur
Batu, Bekasi
6 Maret 2012 (poskotanews.
com)
6.500 - Menutup lintasan jalan dan menimbun 1 rumah
pemulung
17 Mei 2012
(antaranews.
com)
- - 1 korban meninggal, menimbun 2 gubuk pemulung
4 Februari 2014
(indopos.co.id)
- - Tidak ada korban jiwa
7 Januari 2015
(suararakyatindonesia.org)
- - Tidak ada korban jiwa
TPA Babakan
Cisarua, Canjur
18 Januari 2013 (tempo.co) - - 1 tewas, 4 terluka
TPA Cibeureum,
Banjar
9 Februari 2014 - - -
19 Maret 2014
(harapanrakyat.com)
- - -
20 Desember 2014
(harapanrakyat.com)
- 100 Tidak ada korban jiwa. Menimbun sawah, saluran air
dan jalan akses kampung
Lokasi Jenis Longsor Bentuk Geometris Kondisi
Sampah Kadar Air Getaran
TPA Sarajevo,
Yugoslavia
Longsor
rotasional
Tinggi 50 meter,
Kemiringan 40-75
o
.
Terletak di atas bukit
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
-
TPA Umraniye-
Hekimbashi,
Turki
Longsor
translasional
Kemiringan 45
o.
Terletak
di atas bukit
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
Penutupan oleh
buldozer dan
truk
TPA Ramkey,
Colerain, AS
Longsor
rotasional
Tinggi 75 meter.
Terbentuk tebing akibat
penggalian sedalam 2
sampai 42 meter
Ada proses
pemadatan
- -
TPA Payatas,
Quenzon City, ,
Filipina
Longsor
rotasional
Tinggi 18-30 meter,
Kemiringan 34-40
o
.
Penggalian parit .
Terletak di atas bukit
Tidak ada
pemadatan.
Pembakaran
sampah
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
-
TPA Dona
Juana, Bogota,
Columbia
Longsor
translasional.
Lapisan dasar
lempung dan
geomembran
- Jarang
dilakukan
proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan resirkulasi lindi
-
TPA
Leuwigajah,
Cimahi
Longsor
traslasional.
Lapisan dasar
tanah jenis
conglomerate
Tinggi 70 meter,
Kemiringan 30-50
o
.
Terletak di atas bukit
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
-
TPA
Bantargebang,
Bekasi
Longsor
rotasional
Tinggi 18-21 meter,
Kemiringan 45
o
.
Tanpa proses
pemadatan
- unloading truk
dan perataan
sampah oleh
buldozer.
TPA Galuga,
Bogor
Longsor
rotasional
Tinggi 50 meter,
Kemiringan 40-75
o
.
Tanggul penahan jebol.
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
-
TPA Sumur
Batu, Bekasi
Longsor
rotasional
Tinggi 15 meter, Sistem
terasering. Kemiringan
45
o
.
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan
-
TPA Babakan
Cisarua, Canjur
Longsor
rotasional
Sampah di atas tebing
setinggi 100 meter
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
-
TPA Cibeureum,
Banjar
Longsor
rotasional
Tinggi 50 meter,
Kemiringan 40-75
o
.
Terletak di atas bukit
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
-
3
sekitarsekitarsekitar
2.3. Metoda
Metodologi umum yang dipakai dalam
tulisan ini lebih ditekankan pada kajian
penyebab longsor sampah dan upaya
pencegahannya berdasarkan literatur yang
tersedia.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Bencana Longsor Sampah
Informasi bersifat ilmiah yang menganalisis
longsor sampah di dalam literatur teknis masih
terbatas, apalagi di Indonesia. Di antara
literatur tentang longsor sampah antara lain
dapat ditemukan dalam tulisan Koelsch et al
(2005) dan Geoffrey Blight (2008). Dr. Koelsch
adalah pakar geoteknik sampah dari Jerman
yang selain meneliti stabilitas sampah di
berbagai TPA di negaranya juga melakukan
forensik analisis terhadap bencana longsor
di negara lain, termasuk bencana longsor
sampah TPA Leuwigajah (bersama pakar TPA
Indonesia, Prof. Enry Damanhuri). Sementara
itu, Geoffrey Blight pakar dari University of the
Witwatersrand, Johannesburg, Afrika Selatan,
telah melakukan mengulas beberapa kejadian
bencana longsor sampah skala besar yang
terjadi antara tahun 1977 sampai 2005.
3.2. Bencana Longsor Sampah di Luar
Negeri
Longsor Sampah di TPA Sarajevo.
Menurut Blight (2008), longsor sampah di
Tabel 1. Bencana longsor sampah di luar negeri.
Sarajevo merupakan bencana longsor sampah
yang pertama kali tercatat di dalam literatur
teknis. TPA Sarajevo merupakan TPA yang
beroperasi sejak tahun 1970-an, melayani
pembuangan sampah dari 350.000 jiwa, dan
terletak di pegunungan yang berjarak 6 km
dari pusat kota. Sampah ditimbun mulai dari
bagian atas bukit hingga mencapai 50 meter
dengan kemiringan 40-75 derajat. Seperti
halnya TPA open dumping lain, TPA Sarajevo
juga dioperasikan tanpa proses pemadatan
dan tidak memiliki drainase yang baik. Pada
bulan Desember 1977, sampah TPA Sarajevo
longsor, tergelincir menuju lembah yang
ketinggiannya lebih rendah 120 meter. Sampah
merangsek hingga sejauh 1 km dengan volume
di atas 100.000 m3 tersebar dengan ketebalan
antara 1,5 sampai 2,5 meter. Pada saat terjadi
longsor, para saksi mata mendengar sura
dentuman yag keras. Bencana longsor ini
menghancurkan dua jembatan dan 5 rumah.
Masih beruntung bencana ini tanpa menelan
korban jiwa. Peristiwa longsor sebenarnya
pernah pula terjadi beberapa tahun
sebelumnya, tetapi dengan intensitas yang
kecil yang hanya melibatkan volume longsoran
sampah sekitar 20.000 m3.
Longsor Sampah di TPA Umraniye-
Hekimbashi, Istambul Turki.
Blight (2008) mengatakan pula bahwa
longsor sampah yang tercatat di literatur teknis
selain TPA Sarajevo adalah longsor sampah
di TPA Umraniye-Hekimbashi, Istambul,
Turki yang terjadi pada bulan April 1993. TPA
tersebut berada di atas pegunungan dengan
9
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana, Vol. 9, No. 2, Tahun 2014
operasi pembuangan sampah dari bagian atas
bukit hingga membentuk kemiringan sampah
hingga 45 derajat. TPA ini juga dioperasikan
tanpa pemadatan dan sering dilakukan
pembakaran. Bencana longsor juga disertai
dengan ledakan keras seperti yang terjadi di
TPA Sarajevo. Diperkirakan sekitar 12.000 m3
sampah bercampur air meluncur seperti lumpur
menuju lembah di bawahnya. Diperkirakan
kecepatan longsoran mencapai 60 km/jam.
Bencana ini menghancurkan 11 rumah liar dan
menelan korban jiwa 39 orang.
Pada saat sebelum longsor, inltrasi
air hujan ke dalam badan sampah tidak
terkendali. Pada saat itu juga sedang dilakukan
secara intensif aktivitas pelapisan penutup
dengan tanah dan bongkaran bangunan yang
dilakukan dengan buldozer.
Longsor Sampah di TPA Payatas, Filipina.
TPA Payatas terletak di Quezon City,
Filipina. TPA tersebut mulai beroperasi sejak
tahun 1973. Blight (2008) mengabarkan bahwa
semenjak tahun 1988, TPA tersebut mendapat
tambahan sampah sebanyak 1.500 - 1.800 ton
per hari dari kota Manila. Pada tahun 2000,
tumpukan sampah mengokupasi lahan berbukit
sekitar 12,7 Hektar (Ha) dengan ketinggian 18-
30 meter. Penumpukan sampah dilakukan dari
bagian atas bukit dan kemudian diratakan ke
bagian tepi. Sepuluh hari menjelang longsor,
hujan deras mengguyur hingga menciptakan
genangan air di puncak tumpukan sampah.
Operator TPA kemudian membuat parit untuk
mengalirkan genangan air ke lereng bawah.
Kemiringan lereng pada saat itu sekitar 34-
40 derajat. Tanda-tanda akan terjadi longsor
terasa pada dini hari di bulan Juli 2000 berupa
suara gemuruh dari badan sampah. Tiga jam
kemudian, terjadi bencana longsor sampah.
Diperkirakan 9.000-10.000 m3 sampah
merangsek longsor menenggelamkan seluruh
permukiman kumuh pemulung yang tidak
jauh berada di bawahnya. Longsor sampah
ini menelan korban jiwa terbesar sepanjang
sejarah. Lima puluh delapan orang berhasil
diselamatkan dari timbunan sampah, 278
mayat berhasil dievakuasi, dan antara 80
hingga 350 orang hilang terbenam material
sampah tidak diketemukan hingga kini. Dengan
demikian korban yang meninggal diperkirakan
mencapai 600 orang.
Gambar 2. Longsor TPA Payata, Filipina.
Longsor Sampah di TPA Dona Juana,
Bogota.
Dikabarkan oleh Blight (2008), TPA
Dona Juana di Bogota didisain sebagai
bioreaktor landll yaitu sanitary landll dalam
pegoperasiannya dilakukan resirkulasi lindi
untuk mempercepat laju stabilisasi sampah.
TPA tersebut berjarak 20 kilometer (km) dari
pusat kota dan menerima sampah setiap
harinya sebanyak 4.500 ton. Bagian dasar
landll berupa lapisan tanah lempung yang
dilapisi dengan geomembran PVC. Sistem
pengumpulan lindi terdiri atas perforated pipe
di atas lapisan dasar kerikil yang mengalirkan
lindi ke stasiun pemompaan. Dari station
pemompaan, lindi diresirkulasi ke badan
sampah dengan pipa injeksi yang dipasang
serial. Gas TPA dialirkan ke keluar melalui
sumur gas vertikal yang dipasang secara
bertahap sesuai dengan ketinggian sampah.
TPA terletak di lereng pegunungan, di atas
sebuah sungai. Meskipun didisain sebagai
sanitary landll, pengoperasian TPA tersebut
jarang dilakukan pemadatan. Drainase air
hujan dan resirkulasi lindi yang berlebihan
mengakibatkan sampah terlalu lembap.
Bencana longsor terjadi pada sore hari ketika
salah satu lereng longsor diikuti dengan
lereng-lereng berikutnya. Proses longsor
berlangsung hingga 4 jam dengan luncuran
sampah sejauh 0,5 km sehingga membendung
10
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana, Vol. 9, No. 2, Tahun 2014
sungai dan menimbun lembah di bawahnya.
Volume sampah yang longsor diperkirakan
sebanyak 1.500.000 m3 sampah. Untungnya,
tidak satupun korban jiwa ditemukan.
Longsor sampah di TPA Ramkey, Colerain,
AS.
Florian Kolsch dan Gunnar Ziehmann
(2004) menganalisis longsor sampah di TPA
Ramkey, TPA terbesar keempat di Amerika
Serikat (AS). TPA Ramkey berdiri sejak tahun
1945. Setiap tahunnya menerima sampah
sebanyak 1,6 juta ton. Pada tahun 2004, sekitar
30 Ha lahan TPA digunakan, sedangkan lahan
lainnya sekitar 54 Ha telah ditutup. Ketinggan
tumpukan sampah sebelum longsor mencapai
75 meter. Bagian lahan yang telah ditutup
tersebut yang kemudian longsor pada Maret
1996. Sekitar 1,2 juta m3 sampah merangsek
menimbun 5 ha area TPA di bawahnya, hingga
sejauh 360 meter. Longsor menyisakan tebing
sampah setinggi 60 meter dengan panjang
300 meter. Bencana longsor berlangsung
cepat yaitu sekitar 5 menit. Tanda-tanda
longsor dapat dilihat pada beberapa hari
selumnya berupa retakan-retakan permukaan
TPA. Retakan-retakan sampah terjadi akibat
adanya kegiatan penggalian sampah sedalam
2,5 meter di kaki timbunan sampah yang
rencananya digunakan sebagai jalan akses.
Selain itu juga dilakukan penggalian sedalam
42 meter untuk perluasan area TPA. Pada TPA
tersebut juga tidak ada upaya mengendalikan
gas yang dihasilkannya.
Gambar 3. Longsor TPA Ramkey, AS.
3.3. Bencana Longsor Sampah di Indonesia
Kasus longsor sampah di Indonesia
yang tercatat dalam literatur teknis hanya
TPA Leuwigajah, Cimahi. Sedangkan lainnya
sebatas tercatat di pemberitaan media massa
seperti peristiwa longsor sampah di TPA
Bantargebang (Bekasi), TPA Sumur Batu
(Bekasi), TPA Galuga (Bogor), TPA Cisarua
(Cianjur) dan TPA Cibeureum (Banjar).
Longsor Sampah di TPA Leuwigajah,
Cimahi.
Kejadian longsor sampah yang paling
buruk di Indonesia adalah di TPA Leuwigajah,
Cimahi. Seperti juga yang ada di TPA Payata, di
TPA Leuwigajah juga dihuni banyak pemulung.
Dalam siaran pers (press release) BPPT (2004)
tentang tragedi longsornya TPA Leuwigajah
disebutkan bahwa TPA Leuwigajah terletak di
wilayah Cimahi dengan luas sekitar 25 hektar
dan beroperasi sejak tahun 1986. TPA ini
setiap harinya menerima sampah sebanyak
4000 m3 yang berasal dari Kabupaten dan
Kota Bandung serta dari Kota Cimahi. Volume
sampah tertinggi berasal dari Kota Bandung
yaitu sekitar 2.500 m3/hari, sedangkan
Kabupaten Bandung sekitar 1.000 m3/hari.
Sementara itu, sampah yang berasal dari Kota
Cimahi sendiri hanya sekitar 460 m3. Metode
yang digunakan adalah open dumping dengan
topogra terjal bertanah dasar conglomerate.
Dasar dari lembah memiliki kemiringan sekitar
3-6 derajat dan mengandung lapisan tipis tanah
lempung di atas tanah bebatuan. Sebelum
bencana longsor terjadi, lembah diguyur hujan
deras. Lereng tumpukan tempat membuang
sampah diperkirakan 30 sampai 50 derajat.
Bencana longsor diperkirakan terjadi karena
longsor yang terjadi pada lapisan lempung
dasar TPA. Sebanyak 147 orang meninggal,
dan beberapa dinyatakan hilang.
Longsor Sampah di TPA Bantargebang,
Bekasi.
TPA Bantar Gebang adalah TPA milik
pemerintah DKI Jakarta, namun terletak di
kota Bekasi, sekitar 50 km dari pusat kota
11
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana, Vol. 9, No. 2, Tahun 2014
Jakarta. TPA tersebut merupakan TPA terbesar
di Indonesia dengan luas total TPA adalah 108
Ha (area efektif: 68.46 Ha) dan dibagi menjadi
5 zona. TPA telah dioperasikan sejak tahun
1989 dan menerima sekitar 4.500 ton sampah
per hari sampah domestik dan sampah industri
tidak berbahaya. Pada awal bulan September
2006 dini hari, Zona 3A yang memiliki tinggi
18-21 meter mengalami longsor. Kemiringan
bagian tepi tumpukan sampah sekitar 45
derajat. Operasi sampah pada zona tersebut
tidak dilakukan pemadatan. Longsor terjadi
ketika aktivitas pembongkaran sampah dari
truk dilakukan. Aktivitas pembongkaran
sampah juga melibatkan alat berat berupa
excavator. Longsor sampah merangsek hingga
sejauh 100 meter panjang area longsor sekitar
50 meter (republikaonline; tempo.co; indosiar.
co, 8 September 2006). Diperkirakan volume
sampah yang longsor sebanyak 50.000 m3
(BPPT, 2006). Longsor menimbun puluhan
pemulung dan dua di antaranya tewas. Satu
unit kendaraan truk rusak berat dan dua unit
rusak ringan. Longsor juga menutup jalan
operasinal.
Longsor Sampah di TPA Galuga, Bogor.
TPA Galuga merupakan TPA yang
digunakan baik oleh Pemerintah Kota
maupun Kabupaten Bogor. Pemkot Bogor
sendiri membuang sampah 1.650 m3/hari
dan Kabupaten Bogor 800 m3/hari. TPA
tersebut mengokupasi lahan seluas 31,8 Ha.
Longsor sampah di TPA Galuga setidaknya
sudah berlangsung minimal 3 kali. Longsor
sampah yang paling mutakhir terjadi pada
tanggal 16 Maret 2010, sore hari. Hujan
deras terjadi pada pagi dan siang harinya.
Tanggul beton penahan sampah tidak kuat
menahan tekanan sampah. Sampah yang
bercampur air memberikan tekanan yang
kuat sehingga menjembol tanggul. Bencana
tersebut menewaskan empat orang pemulung
dan 7 orang terluka. Longsoran sampah juga
menimbun sekitar 3 Ha sawah (kompas.
com, 16 Maret 2010). Sebulan sebelumnya,
longsor sampah juga pernah terjadi yaitu pada
tanggal 20 Februari 2010, untungnya tanpa
korban. Hanya persawahan yang tertimbun
sampah, sekitar 5 Ha. Penyebab longsor juga
akibat jebolnya tanggul setelah hujan deras.
Ketinggian sampah sebelum longsor sekitar 50
meter (pikiran rakyat online.com, 20 Februari
2010). Jauh beberapa tahun sebelumnya
pada Januari 2002, TPA Galuga juga pernah
mengalami longsor (okezone.com,2002).
Longsor Sampah di TPA Sumur Batu,
Bekasi.
TPA Sumur Batu, Kota Bekasi dioperasikan
sejak tahun 2003. Letaknya sekitar 3 km dari
pusat kota. TPA tersebut luasnya sekitar 10 Ha
dengan kapasitas tampung sampah hingga 2,5
juta m3. Pada tahun 2007 sampah yang telah
tertimbun di dalamnya sekitar 541 ribu ton.
TPA tersebut melayani 2,25 juta jiwa dengan
timbulan sampah sekitar 7.227 m3/hari.
Kejadian longsor sampah di TPA Sumur Batu
tidak hanya sekali. Pada awal Maret 2012,
Zona 1 TPA tersebut longsor setelah diguyur
hujan (poskotanews.com, 6 Maret 2012). Zona
tersebut memang sudah overload dengan
ketinggian tumpukan sampah mencapai 15
meter. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam
peristiwa ini. Longsor sampahan menutup
lintasan jalan dan menimpa sebuah gubuk
pemulung. Dua bulan kemudian pada Mei
2012 longsor kembali terjadi, ketika sampah
diratakan di atas tumpukan sampah yang
ketinggiannya mencapai 20 meter antaranews.
com, 17 Mei 2012). Longsor kala itu menelan
satu jiwa. Dua tahun kemudian, pada awal
Februari 2014, longsor terjadi di Zona 5 pasca
hujan besar (indopos.co.id, 4 Februari 2012).
Ketinggian zona tersebut mencapai 12 meter.
Beruntung pada longsor tersebut tidak ada
korban jiwa. TPA Sumur Batu kembali longsor
pada tanggal awal januari 2015 di zona yang
lain yaitu Zona 1 dan 2 suararakyatindonesia.
org, 7 Jauari 2015). Zona tersebut sejak
tahun 2014 mendapat limpahan sampah yang
sebelumnya dibuang di Zona 5 yang sudah
penuh. Untung tidak ada korban jiwa. Longsor
terjadi setelah TPA diguyur hujan.
Longsor Sampah di TPA Babakan Cisarua,
12
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana, Vol. 9, No. 2, Tahun 2014
Cianjur.
TPA Babakan Cisarua merupakan TPA
yang berada di atas tebing setinggi 100
meter. Longsor terjadi ketika terjadi hujan
menewaskan satu orang dan melukai 4
orang. Sampah berguguran ke bawah tebing
menimpa orang yang sedang memperbaiki
pipa air (tempo.co.id, 18 Januari 2014).
Longsor Sampah di TPA Cibeureum, Kota
Banjar.
Longsor sampah juga pernah diberitakan
oleh media massa di TPA Cibeureum, Kota
Lokasi Tahun Volume Longsoran
(m
3
)
Longsor
Dampak Longsor
TPA Sarajevo,
Yugoslavia
Desember
1977
200.000
Dua jembatan dan 5 rumah hancur. Kerusakan
lingkungan yang luas. Tidak ada korban jiwa
TPA Umraniye-
Hekimbashi, Turki
1993
12.000-15.000
Sedikitnya 39 meninggal, 11 rumah hancur. Saluran air
minum hancur. Selokan air tertimbun sampah.
TPA Ramkey, Colerain,
AS
Maret 1996
1.200.000
Menimbun area TPA di bawahnya.
TPA Payatas, Quenzon
City, Filipina
Juli
2000
10.000-12.000
278 meninggal, 80-350 hilang. Tidak diketahui secara
pasti jumlah rumah yang hancur.
TPA Dona Juana,
Bogota, Columbia
1997
1.500.000
Sungai tertimbun sampah. Kerusakan lingkungan. Tidak
ada korban jiwa.
TPA Bulbull, Durban,
Afrika Selatan
1997
150.000-180.000
Tidak ada kerusakan lingkungan. Longsor di lokasi TPA.
Tidak ada korban jiwa.
Lokasi Tahun
Volume
Longsoran
(m )
Jarak
Longsoran
(m)
Dampak Longsor
TPA
Leuwigajah,
Cimahi
1993 7 rumah tertimbun, tidak ada korban jiwa
2005 500.000-
750.000
900 147 meninggal, beberapa hilang. Lembah tertimbun
sampah.
TPA
Bantargebang,
Bekasi
8 September2006 (BPPT,
2006; republika online;
tempo.co; indosiar.co)
25.000 100 2 orang meninggal, 7 luka berat, 3 unit truk, warung
kopi, saluran air dan jalan akses tertimbun.
TPA Galuga,
Bogor
Januari 2002 (okezone.com) - - Tidak ada korban jiwa.
20 Februari 2010
(pikiranrakyat online.com)
- - Tanpa korban jiwa, 5 ha sawah tertimbun, kolam lindi
juga tertimbun.
16 Maret 2010 (kompas.com) - 500 4 orang meninggal, 7 terluka, 3 ha sawah tertimbun
TPA Sumur
Batu, Bekasi
6 Maret 2012 (poskotanews.
com)
6.500 - Menutup lintasan jalan dan menimbun 1 rumah
pemulung
17 Mei 2012
(antaranews.
com)
- - 1 korban meninggal, menimbun 2 gubuk pemulung
4 Februari 2014
(indopos.co.id)
- - Tidak ada korban jiwa
7 Januari 2015
(suararakyatindonesia.org)
- - Tidak ada korban jiwa
TPA Babakan
Cisarua, Canjur
18 Januari 2013 (tempo.co) - - 1 tewas, 4 terluka
TPA Cibeureum,
Banjar
9 Februari 2014 - - -
19 Maret 2014
(harapanrakyat.com)
- - -
20 Desember 2014
(harapanrakyat.com)
- 100 Tidak ada korban jiwa. Menimbun sawah, saluran air
dan jalan akses kampung
Lokasi Jenis Longsor Bentuk Geometris Kondisi
Sampah Kadar Air Getaran
TPA Sarajevo,
Yugoslavia
Longsor
rotasional
Tinggi 50 meter,
Kemiringan 40-75
o
.
Terletak di atas bukit
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
-
TPA Umraniye-
Hekimbashi,
Turki
Longsor
translasional
Kemiringan 45
o.
Terletak
di atas bukit
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
Penutupan oleh
buldozer dan
truk
TPA Ramkey,
Colerain, AS
Longsor
rotasional
Tinggi 75 meter.
Terbentuk tebing akibat
penggalian sedalam 2
sampai 42 meter
Ada proses
pemadatan
- -
TPA Payatas,
Quenzon City, ,
Filipina
Longsor
rotasional
Tinggi 18-30 meter,
Kemiringan 34-40
o
.
Penggalian parit .
Terletak di atas bukit
Tidak ada
pemadatan.
Pembakaran
sampah
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
-
TPA Dona
Juana, Bogota,
Columbia
Longsor
translasional.
Lapisan dasar
lempung dan
geomembran
- Jarang
dilakukan
proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan resirkulasi lindi
-
TPA
Leuwigajah,
Cimahi
Longsor
traslasional.
Lapisan dasar
tanah jenis
conglomerate
Tinggi 70 meter,
Kemiringan 30-50
o
.
Terletak di atas bukit
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
-
TPA
Bantargebang,
Bekasi
Longsor
rotasional
Tinggi 18-21 meter,
Kemiringan 45
o
.
Tanpa proses
pemadatan
- unloading truk
dan perataan
sampah oleh
buldozer.
TPA Galuga,
Bogor
Longsor
rotasional
Tinggi 50 meter,
Kemiringan 40-75
o
.
Tanggul penahan jebol.
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
-
TPA Sumur
Batu, Bekasi
Longsor
rotasional
Tinggi 15 meter, Sistem
terasering. Kemiringan
45
o
.
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan
-
TPA Babakan
Cisarua, Canjur
Longsor
rotasional
Sampah di atas tebing
setinggi 100 meter
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
-
TPA Cibeureum,
Banjar
Longsor
rotasional
Tinggi 50 meter,
Kemiringan 40-75
o
.
Terletak di atas bukit
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
-
3
sekitarsekitarsekitar
Lokasi Tahun Volume Longsoran
(m
3
)
Longsor
Dampak Longsor
TPA Sarajevo,
Yugoslavia
Desember
1977
200.000
Dua jembatan dan 5 rumah hancur. Kerusakan
lingkungan yang luas. Tidak ada korban jiwa
TPA Umraniye-
Hekimbashi, Turki
1993
12.000-15.000
Sedikitnya 39 meninggal, 11 rumah hancur. Saluran air
minum hancur. Selokan air tertimbun sampah.
TPA Ramkey, Colerain,
AS
Maret 1996
1.200.000
Menimbun area TPA di bawahnya.
TPA Payatas, Quenzon
City, Filipina
Juli
2000
10.000-12.000
278 meninggal, 80-350 hilang. Tidak diketahui secara
pasti jumlah rumah yang hancur.
TPA Dona Juana,
Bogota, Columbia
1997
1.500.000
Sungai tertimbun sampah. Kerusakan lingkungan. Tidak
ada korban jiwa.
TPA Bulbull, Durban,
Afrika Selatan
1997
150.000-180.000
Tidak ada kerusakan lingkungan. Longsor di lokasi TPA.
Tidak ada korban jiwa.
Lokasi Tahun
Volume
Longsoran
(m )
Jarak
Longsoran
(m)
Dampak Longsor
TPA
Leuwigajah,
Cimahi
1993 7 rumah tertimbun, tidak ada korban jiwa
2005 500.000-
750.000
900 147 meninggal, beberapa hilang. Lembah tertimbun
sampah.
TPA
Bantargebang,
Bekasi
8 September2006 (BPPT,
2006; republika online;
tempo.co; indosiar.co)
25.000 100 2 orang meninggal, 7 luka berat, 3 unit truk, warung
kopi, saluran air dan jalan akses tertimbun.
TPA Galuga,
Bogor
Januari 2002 (okezone.com) - - Tidak ada korban jiwa.
20 Februari 2010
(pikiranrakyat online.com)
- - Tanpa korban jiwa, 5 ha sawah tertimbun, kolam lindi
juga tertimbun.
16 Maret 2010 (kompas.com) - 500 4 orang meninggal, 7 terluka, 3 ha sawah tertimbun
TPA Sumur
Batu, Bekasi
6 Maret 2012 (poskotanews.
com)
6.500 - Menutup lintasan jalan dan menimbun 1 rumah
pemulung
17 Mei 2012
(antaranews.
com)
- - 1 korban meninggal, menimbun 2 gubuk pemulung
4 Februari 2014
(indopos.co.id)
- - Tidak ada korban jiwa
7 Januari 2015
(suararakyatindonesia.org)
- - Tidak ada korban jiwa
TPA Babakan
Cisarua, Canjur
18 Januari 2013 (tempo.co) - - 1 tewas, 4 terluka
TPA Cibeureum,
Banjar
9 Februari 2014 - - -
19 Maret 2014
(harapanrakyat.com)
- - -
20 Desember 2014
(harapanrakyat.com)
- 100 Tidak ada korban jiwa. Menimbun sawah, saluran air
dan jalan akses kampung
Lokasi Jenis Longsor Bentuk Geometris Kondisi
Sampah Kadar Air Getaran
TPA Sarajevo,
Yugoslavia
Longsor
rotasional
Tinggi 50 meter,
Kemiringan 40-75
o
.
Terletak di atas bukit
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
-
TPA Umraniye-
Hekimbashi,
Turki
Longsor
translasional
Kemiringan 45
o.
Terletak
di atas bukit
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
Penutupan oleh
buldozer dan
truk
TPA Ramkey,
Colerain, AS
Longsor
rotasional
Tinggi 75 meter.
Terbentuk tebing akibat
penggalian sedalam 2
sampai 42 meter
Ada proses
pemadatan
- -
TPA Payatas,
Quenzon City, ,
Filipina
Longsor
rotasional
Tinggi 18-30 meter,
Kemiringan 34-40
o
.
Penggalian parit .
Terletak di atas bukit
Tidak ada
pemadatan.
Pembakaran
sampah
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
-
TPA Dona
Juana, Bogota,
Columbia
Longsor
translasional.
Lapisan dasar
lempung dan
geomembran
- Jarang
dilakukan
proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan resirkulasi lindi
-
TPA
Leuwigajah,
Cimahi
Longsor
traslasional.
Lapisan dasar
tanah jenis
conglomerate
Tinggi 70 meter,
Kemiringan 30-50
o
.
Terletak di atas bukit
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
-
TPA
Bantargebang,
Bekasi
Longsor
rotasional
Tinggi 18-21 meter,
Kemiringan 45
o
.
Tanpa proses
pemadatan
- unloading truk
dan perataan
sampah oleh
buldozer.
TPA Galuga,
Bogor
Longsor
rotasional
Tinggi 50 meter,
Kemiringan 40-75
o
.
Tanggul penahan jebol.
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
-
TPA Sumur
Batu, Bekasi
Longsor
rotasional
Tinggi 15 meter, Sistem
terasering. Kemiringan
45
o
.
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan
-
TPA Babakan
Cisarua, Canjur
Longsor
rotasional
Sampah di atas tebing
setinggi 100 meter
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
-
TPA Cibeureum,
Banjar
Longsor
rotasional
Tinggi 50 meter,
Kemiringan 40-75
o
.
Terletak di atas bukit
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
-
3
sekitarsekitarsekitar
Tabel 2. Bencana longsor sampah di Indonesia.
Tabel 3. Kondisi TPA sebelum longsor.
Banjar. Longsor terjadi setelah tiga hari hujan
deras pada tanggal 20 Desember 2014,
sore hari. Tanggul yang dibuat di lereng
TPA tidak kuat menahan tekanan sampah
(harapanrakyat.com, 20 Desember 2014).
Sampah yang longsor merupakan material
sampah yang sebelumnya ditata kembali
akibat longsor yang terjadi sebelumnya, Maret
2014 (harapanrakyat.com, 19 Maret 2014)).
Longsoran sampah menimbun areal sawah
hingga sejauh 100 meter dengan ketebalan
sampah 2-3 meter. Selain itu, longsor sampah
juga menutup jalan akses kampung.
13
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana, Vol. 9, No. 2, Tahun 2014
Lokasi Tahun Volume Longsoran
(m
3
)
Longsor
Dampak Longsor
TPA Sarajevo,
Yugoslavia
Desember
1977
200.000
Dua jembatan dan 5 rumah hancur. Kerusakan
lingkungan yang luas. Tidak ada korban jiwa
TPA Umraniye-
Hekimbashi, Turki
1993
12.000-15.000
Sedikitnya 39 meninggal, 11 rumah hancur. Saluran air
minum hancur. Selokan air tertimbun sampah.
TPA Ramkey, Colerain,
AS
Maret 1996
1.200.000
Menimbun area TPA di bawahnya.
TPA Payatas, Quenzon
City, Filipina
Juli
2000
10.000-12.000
278 meninggal, 80-350 hilang. Tidak diketahui secara
pasti jumlah rumah yang hancur.
TPA Dona Juana,
Bogota, Columbia
1997
1.500.000
Sungai tertimbun sampah. Kerusakan lingkungan. Tidak
ada korban jiwa.
TPA Bulbull, Durban,
Afrika Selatan
1997
150.000-180.000
Tidak ada kerusakan lingkungan. Longsor di lokasi TPA.
Tidak ada korban jiwa.
Lokasi Tahun
Volume
Longsoran
(m )
Jarak
Longsoran
(m)
Dampak Longsor
TPA
Leuwigajah,
Cimahi
1993 7 rumah tertimbun, tidak ada korban jiwa
2005 500.000-
750.000
900 147 meninggal, beberapa hilang. Lembah tertimbun
sampah.
TPA
Bantargebang,
Bekasi
8 September2006 (BPPT,
2006; republika online;
tempo.co; indosiar.co)
25.000 100 2 orang meninggal, 7 luka berat, 3 unit truk, warung
kopi, saluran air dan jalan akses tertimbun.
TPA Galuga,
Bogor
Januari 2002 (okezone.com) - - Tidak ada korban jiwa.
20 Februari 2010
(pikiranrakyat online.com)
- - Tanpa korban jiwa, 5 ha sawah tertimbun, kolam lindi
juga tertimbun.
16 Maret 2010 (kompas.com) - 500 4 orang meninggal, 7 terluka, 3 ha sawah tertimbun
TPA Sumur
Batu, Bekasi
6 Maret 2012 (poskotanews.
com)
6.500 - Menutup lintasan jalan dan menimbun 1 rumah
pemulung
17 Mei 2012
(antaranews.
com)
- - 1 korban meninggal, menimbun 2 gubuk pemulung
4 Februari 2014
(indopos.co.id)
- - Tidak ada korban jiwa
7 Januari 2015
(suararakyatindonesia.org)
- - Tidak ada korban jiwa
TPA Babakan
Cisarua, Canjur
18 Januari 2013 (tempo.co) - - 1 tewas, 4 terluka
TPA Cibeureum,
Banjar
9 Februari 2014 - - -
19 Maret 2014
(harapanrakyat.com)
- - -
20 Desember 2014
(harapanrakyat.com)
- 100 Tidak ada korban jiwa. Menimbun sawah, saluran air
dan jalan akses kampung
Lokasi Jenis Longsor Bentuk Geometris Kondisi
Sampah Kadar Air Getaran
TPA Sarajevo,
Yugoslavia
Longsor
rotasional
Tinggi 50 meter,
Kemiringan 40-75
o
.
Terletak di atas bukit
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
-
TPA Umraniye-
Hekimbashi,
Turki
Longsor
translasional
Kemiringan 45
o.
Terletak
di atas bukit
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
Penutupan oleh
buldozer dan
truk
TPA Ramkey,
Colerain, AS
Longsor
rotasional
Tinggi 75 meter.
Terbentuk tebing akibat
penggalian sedalam 2
sampai 42 meter
Ada proses
pemadatan
- -
TPA Payatas,
Quenzon City, ,
Filipina
Longsor
rotasional
Tinggi 18-30 meter,
Kemiringan 34-40
o
.
Penggalian parit .
Terletak di atas bukit
Tidak ada
pemadatan.
Pembakaran
sampah
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
-
TPA Dona
Juana, Bogota,
Columbia
Longsor
translasional.
Lapisan dasar
lempung dan
geomembran
- Jarang
dilakukan
proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan resirkulasi lindi
-
TPA
Leuwigajah,
Cimahi
Longsor
traslasional.
Lapisan dasar
tanah jenis
conglomerate
Tinggi 70 meter,
Kemiringan 30-50
o
.
Terletak di atas bukit
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
-
TPA
Bantargebang,
Bekasi
Longsor
rotasional
Tinggi 18-21 meter,
Kemiringan 45
o
.
Tanpa proses
pemadatan
- unloading truk
dan perataan
sampah oleh
buldozer.
TPA Galuga,
Bogor
Longsor
rotasional
Tinggi 50 meter,
Kemiringan 40-75
o
.
Tanggul penahan jebol.
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
-
TPA Sumur
Batu, Bekasi
Longsor
rotasional
Tinggi 15 meter, Sistem
terasering. Kemiringan
45
o
.
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan
-
TPA Babakan
Cisarua, Canjur
Longsor
rotasional
Sampah di atas tebing
setinggi 100 meter
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
-
TPA Cibeureum,
Banjar
Longsor
rotasional
Tinggi 50 meter,
Kemiringan 40-75
o
.
Terletak di atas bukit
Tanpa proses
pemadatan
Kemungkinan kadar air tinggi akibat
infiltrasi air hujan dan drainase yang
buruk
-
3
sekitarsekitarsekitar
3.4. Penyebab Longsor Sampah
Bencana longsor sampah mirip dengan
longsor tanah sehingga dapat ditinjau dari
ilmu geoteknik. Secara teoritis, pada lokasi
yang berbeda ketinggian akan ada gaya
dorong sehingga sampah yang lebih tinggi
kedudukannya cenderung bergerak ke arah
bawah. Di samping gaya yang mendorong ke
bawah terdapat pula gaya dalam sampah yang
bekerja menahan dorongan tersebut sehingga
kedudukan sampah tetap stabil. Gaya
pendorong berupa gaya berat, sedangkan
gaya penahan berupa gaya geseran, gaya
kohesi, dan kekuatan geser tanah. Jika gaya
pendorong lebih besar dari gaya penahan,
maka sampah akan mulai runtuh sepanjang
bidang gelincir sehingga terjadilah longsor.
Kekuatan gaya tahan material sampah pada
suatu lereng dapat dilampau oleh gaya dorong
karena beberapa hal seperti penambahan kadar
air sampah akibat inltrasi air hujan; rendahnya
kekuatan ikatan antar partikel sampah karena
kurangnya pemadatan sampah dan kareakter
sampah; bentuk geometris penampang lereng
misalnya ketinggian dan kemiring lereng; jenis
dan keadaan lapisan dasar TPA misalnya
tanah menjadi lunak karena adanya inltrasi
air; getaran sampah misalnya akibat aktivitas
penurunan sampah dari truk dan gerakan
buldozer.
Tumpukan sampah memiliki karakteristik
kekuatan gaya tahan yang berbeda dari
tanah. Kekuatan sampah dipengaruhi
oleh kandungan serat (ber) dan foil yang
dimilikinya. Komponen-komponen tersebut
menghasilkan efek yang mirip dengan
penguatan tambahan (reinforcement). Sama
seperti tanah yang diperkuat dengan tulangan,
gaya tahan sampah dipengaruhi oleh ikatan
antara partikel granular dan kekuatan tarik
dalam komponen berserat. Gaya tahan
14
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana, Vol. 9, No. 2, Tahun 2014
karena efek penguatan serat disebut kohesi
ber. Kohesi ber tergantung pada tegangan
normal (beban). Gaya tahan meningkat sesuai
kedalaman tumpukan. Gaya tahan total yang
dihasilkan dari sampah jauh lebih tinggi dari
gaya tanah tanah.
Tanpa perlu mempelajari jauh ke dalam
rincian geoteknik, kesimpulan umum dapat
diambil dari pemahaman dasar mekanika
sampah. Karena anisotropi efek penguatan,
bagian dari daerah longsor yang terletak secara
horizontal berkontribusi jauh lebih sedikit bagi
stabilitas keseluruhan daripada bagian yang
curam. Oleh karena itu, bagian dalam dari
lereng TPA lebih penting daripada bagian luar,
bagian bawah (kaki dan sekitarnya). Akibatnya,
longsor sampah akan lebih besar dari pada
longsor tanah.
Kekuatan gaya tahan yang tinggi dari
sampah umumnya menghasilkan longsor yang
melalui dasar TPA karena material tersebut
lebih lemah daripada sampah di atasnya.
Longsor tersebut disebut longsor translasional
(translational slide) seperti yang terjadi di
TPA Leuwigajah, TPA Dona Juana dan TPA
Umraniye-Hekimbashi.
Meskipun penguatan meningkat sesuai
beban normal karena penahan oleh ber,
peningkatan penguatannya dibatasi oleh
kekuatan serat. Oleh karena itu, tidak mungkin
untuk meningkatkan tinggi TPA bahkan
dengan sudut kemiringan yang konstan tanpa
menganalisis sifat-sifat penguatan. Lebih jauh,
penguatan sensitif terhadap kerusakan. Sekali
efek penguatan menghilang, hal itu tidak dapat
dipulihkan.
Walaupun demikian, bentuk bidang
gelincir yang paling dominan dijumpai pada
bencana longsor sampah di TPA di Indonesia
adalah bentuk bidang gelincir yang mendekati
bentuk busur lingkaran. Longsor sampah
seperti itu dikenal sebagai longsor rotasional
(rotational slide) yang bersifat berputar.
Hampir pada semua kasus, air hujan
menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya
longsor sampah. Inltrasi air yang tidak
terkendali ke dalam badan sampah menjadi
masalah bagi kestabilan lereng. Kehadiran
air akan menurunkan sifat sik dan mekanik
tanah. Kenaikan kandungan air meningkatkan
tekanan pori yang mengakibatkan gaya tahan
sampah menjadi kecil sehingga sampah
menjadi mudah longsor. Oleh karena itu tidak
mengherankan jika bencana longsor sampah
umumnya terjadi pada saat musim hujan.
Rendahnya kekuatan ikatan antar material
atau kohesivitas sampah juga menjadi salah
satu faktor penyebab longsor. Kekuatan
kohesivitas sampah dipengaruhi oleh ada
tidaknya aktivitas pemadatan sampah dan
sifat internal sampah sendiri yang heterogen.
Hampir pada semua kejadian longsor sampah,
kegiatan pemadatan sampah dengan alat
berat tidak dilakukan atau kalaupun dilakukan,
tidak reguler. Hal tersebut mengakibatkan
tumpukan sampah menjadi densitasnya relatif
longgar. Jika densitasnya longgar maka ikatan
(kohesitas) sampah akan lemah.
Dominansi jenis-jenis sampah tertentu
juga mengakibatkan kohesivitas sampah
menjadi rendah seperti misalnya dominansi
sampah organik dan sampah kantung plastik.
Secara teoritis, kohesi sampah tergantung
pada kepadatan sampah dan jenis kandungan
sampahnya, tidak tergantung dari tegangan
vertikal yang bekerja pada bidang gesernya.
Gesekan antara material sampah besarnya
berbanding dengan tegangan vertikal pada
bidang gesernya.
Kohesitas sampah juga dapat menurun
drastis apabila sampah dibakar. Menjadi
pengetahuan umum bahwa praktik pembakaran
biasanya terjadi pada saat musim kemarau
entah oleh faktor alam ataupun kesengajaan.
Ketidakseimbangan beban di puncak
dan di kaki lereng tumpukan sampah juga
merupakan faktor pemicu longsor. Beban di
puncak bisanya dikarenakan adanya aktivitas
penurunan dan perataan sampah oleh truk
sampah dan buldozer. Pergerakan truk dan
buldozer di atas tumpukan sampah yang tidak
dipadatkan akan menyebabkan berubahnya
keseimbangan tekanan pada bagian
lereng sampah. Getaran dan beban yang
ditimbulkannya meningkatkan gaya dorong
sampah ke bagian bawah lereng. Jika gaya
15
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana, Vol. 9, No. 2, Tahun 2014
dorong tersebut melewati gaya tahan maka
dapat terjadi longsor seperti yang terjadi di TPA
Bantargebang.
Pemicu terjadinya longsor lainnya yaitu
kegiatan penggalian di bagian kaki lereng
tumpukan sampah. Penggalian di kaki lereng
akan mengakibatkan berkurangnya beban
di daerah kaki lereng tumpukan sampah
yang berdampak pada menurunnya faktor
keamanan. Makin besar pengurangan beban
di kaki lereng, makin besar pula penurunan
faktor keamanan lerengnya. Akibatnya lereng
akan makin labil. Longsor akibat hal ini terjadi
di TPA Ramkey, Amerika Serikat. TPA tersebut
longsor karena pengurangan beban di kaki
lereng berupa penggalian sedalam 2 sampai
42 meter untuk akses jalan dan perluasan TPA.
Berbagai faktor pemicu longsor tersebut
umumnya dapat ditemukan pada setiap
kejadian longsor sampah. Hal tersebut terjadi
karena umumnya TPA yang longsor adalah
TPA tipe open dumping di mana proses
pemadatatan sampah tidak dilakukan, sistem
drainasenya buruk, topogranya di lereng bukit
dan mengalami curah hujan yang tinggi.
3.5. Kasus Longsor Leuwigajah
Penyebab utama longsor sampah TPA
Leuwigajah dapat diketahui dari hasil riset tim
forensik yang berasal dari ITB dan Jerman.
Pasca longsor, mereka melakukan riset sifat
mekanika tanah, kegagalan geometri dan
parameter-arameter yang mempengaruhi
stabilitas TPA Leuwigajah. Dari hasil riset
forensik dan pemodelan diketahui bahwa
longsor TPA Leuwigajah merupakan kombinasi
dari inltrasi air hujan yang menyebabkan
lapisan dasar TPA menjadi lunak dan
kohesitas sampah (Kolsch et al, 2005).
Bencana longsor sampah akibat
kombinasi antara tekanan air di lapisan dasar
Gambar 4. Bencana longsor TPA
Leuwigajah, Cimahi.
Gambar 5. Penampang longsor sampah TPA Leuwigajah – Cimahi ( Blight, 2008).
16
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana, Vol. 9, No. 2, Tahun 2014
dengan hilangnya kekuatan ikatan partikel
karena pembakaran sampah. Pada musim
hujan, inltrasi air hujan memang tinggi
tetapi tidak seragam karena buruknya sarana
drainase dan tingginya muka air di dalam
TPA. Sedangkan pada musim kemarau sering
terjadi kebakaran TPA yang mengakibarkan
hilangnya sifat kohesitas sampah (Kolsch et
al, 2005).
Bagian sampah yang longsor umumnya
merupakan sampah berumur lama yang sudah
terdegradasi. Kelembapannya sekitar 30-40%.
Hal ini mengindikasikan bahwa inltrasi air
hujan yang mengguyur TPA sebelum bencana
longsor berlangsung leluasa. Hal tersebut juga
ditunjukkan oleh terlihat jenuhnya sampah
pada lapisan dasar TPA akibat inltrasi air dari
lapisan di atasnya. Hal tersebut menyebabkan
lapisan tanah di lereng TPA menjadi lunak
sehingga gaya tahannya menjadi lemah dan
tidak kuat lagi dalam memegang timbunan
sampah. Oleh karena itu terjadilah longor.
Setelah longsor, terlihat beberapa area lapisan
dasar TPA terbuka. Air yang berasal dari
tumpukan sampah di atasnya dan mata air baru
membentuk aliran air di sepanjang dasar TPA.
Disimpulkan bahwa air tanah dan inltrasi air
hujan serta berkurangnya kohesitas sampah
mengakibatkan berkurangnya stabilitas
tumpukan sampah.
Timbunan sampah yang terlalu tinggi
dari lapisan dasar dapat menimbulkan beban
berlebih di bagian bawah timbunan sehingga
dapat mengganggu kestabilan timbunan
tersebut di saat musim hujan (Kolsch et al,
2005).
3.6. Upaya Pencegahan Bencana Longsor
Sampah
Umumnya longsor terjadi di TPA tipe open
dumping di mana proses pemadatatan sampah
tidak dilakukan, sistem drainasenya tidak
dikendalikan dengan baik, topogra sampah di
lereng bukit dengan pengurugan sampah dari
bagian atas bukit, sering terjadi pembakaran
sampah ada musim kemarau, dan lokasinya
bercurah hujan tinggi.
Inltrasi air hujan melalui rongga sampah
yang tidak terpadatkan dengan baik dan
melalui batas antara timbunan dan lereng
batuan/tanah dasar yang kedap air membentuk
muka air (water table) pada batas dasar
timbunan sampah dan lapisan batuan/tanah
dasar (Adrin Tohari, 2005). Proses penjenuhan
dan pembentukan muka air ini menyebabkan
pelunakan lapisan bawah timbunan sehingga
tidak mampu menopang berat beban timbunan
di atasnya sehingga terjadi longsor.
Oleh karena itu, adanya sistem drainase
air resapan dan air permukaan yang baik
merupakan suatu keharusan pada TPA
sampah untuk mencegah pembentukan muka
air di dalam timbunan sampah. Timbunan
sampah yang terlalu tinggi dari lapisan batuan/
tanah dasar juga menimbulkan beban berlebih
di bagian bawah timbunan sehingga dapat
mengganggu kestabilan timbunan tersebut di
saat musim hujan (Adrin Tohari, 2005).
Untuk mencegah timbulnya bencana
longsor sampah, Kolsch dan Ziehmann (2004)
menyarankan beberapa hal sebagai berikut:
Pemadatan sampah harus dilakukan
dengan baik agar densitas sampah
tinggi dan perkolasi airnya rendah.
Permeabilitasnya juga harus dijaga
agar selalu homogen dengan
memelihara sistem drainase. Hal
itu untuk mencegah adanya halangan
dan gangguan terhadap keseimbangan
air.
Mengendalikan bagian yang
mengalami tekanan dengan melihat
perubahan komposisi dan kondisi
sampah.
Jika diperlukan dilakukan pengukuran
untuk memperbaiki karakteristik
kekuatan sampah.
Drainase yang baik bermanfaat untuk
mengendalikan air permukaan sehingga
air permukaan dari puncak-puncak lereng
dapat mengalir lancar dan inltrasi berkurang
(Zakaria, 2009). Untuk membantu sistem
drainase yang baik diperlukan pula rutinitas
17
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana, Vol. 9, No. 2, Tahun 2014
penutupan sel dan penutupan nal tumpukan
sampah dengan material yang dapat mencegah
inltrasi air yang berlebihan misalnya dengan
material tanah dan geomembran. Selain itu
juga diperlukan beberapa underdrain untuk
mencegah tumpukan sampah jenuh dengan
air atau mengurangi muka air tanah.
Seperti halnya untuk mencegah longsor
sampah, risiko bencana longsor sampah
dapat pula dikurangi dengan mengurangi
beban di puncak lereng dengan cara membuat
terasering dengan kemiringan lereng yang
aman. Selain itu dapat pula dengan menambah
beban di kaki lereng dengan cara membuat
dinding penahan atau dengan membuat batu
bronjong (Zakaria, 2009).
Pendekatan dalam menangani TPA selain
didasari oleh hasil rekomendasi studi kelayakan
teknik, juga didasari pula oleh pengelolaan
lingkungannya. Diharapkan mengenai TPA
rawan longsor dapat dikenal lebih jauh lagi
sehingga dapat mengantisipasi kekuatan dan
keruntuhan suatu lereng. Hubungan antara
faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan
kondisi sik dan mekanik perlu diketahui pula.
Pengaruh kenaikan kadar air, peletakan beban,
getaran terhadap tubuh lereng, merupakan
kajian yang paling baik untuk mengenal kondisi
suatu lereng TPA.
Jadi pada prinsipnya ada dua cara
yang dapat digunakan untuk menstabilkan
TPA, yaitu memperkecil gaya dorong atau
momen penyebab longsor dan memperbesar
gaya tahan atau momen penahan longsor
(Gabriella et al, 2014). Gaya atau momen
penyebab longsor dapat diperkecil dengan
cara yang seperti disebutkan yaitu merubah
bentuk lereng, yaitu dengan cara merubah
lereng lebih datar atau memperkecil sudut
kemiringan, memperkecil ketinggian lereng,
dan merubah lereng menjadi lereng bertingkat.
Sedangkan gaya tahan atau momen penahan
longsor dapat diperbesar dengan beberapa
cara yaitu dengan mengurangi air pori di dalam
lereng melalui drainase yang baik dan dengan
cara mekanis yaitu dengan memasang tiang
pancang atau tembok penahan tanah.
Uji stabilitas TPA juga perlu dilakukan. Di
Jerman, analisis stabilitas TPA harus dilakukan
sekali dalam setahun dengan angka faktor
keselamatan minimal adalah 1,30. Stabilitas
TPA adalah salah satu hal yang diperhitungkan
dalam desain geoteknik TPA (Kolsch, F dan
Ziehmann, G., 2004). Pada awal 1990-an,
Pemerintah Jerman meningkatkan upaya
untuk menyelidiki mekanik sampah. Melalui
riset tersebut dapat ditemukan solusi masalah
stabilitas sampah sehingga permasalahan
stabilitas TPA di sana terselesaikan.
4. KESIMPULAN
Bencana longsor sampah di berbagai TPA
hendaknya menjadi pelajaran bagi kita untuk
tidak mengulangi kejadian serupa yakni dengan
mengoperasikan TPA sesuai dengan kaidah
teknis. Perhatian perlu dialamatkan kepada
TPA yang berada di lereng bukit dan TPA yang
telah memiliki ketinggian tertentu terutama
ketika musim hujan tiba karena bencana
longsor mengintai setiap saat. Kebiasaan
membakar sampah di TPA, membiarkan
tumpukan tanpa dipadatkan, ketiadaan
drainase yang baik, dan ketidakpedulian
pada penataan lereng menjadikan ancaman
longsor semakin besar. Para pemulung yang
biasa bekerja dan bermukim di sekitar perlu
hati-hati. Adalah kewajiban bagi pemerintah
daerah untuk membangun TPA ramah
lingkungan sesuai dengan persayaratan teknis
dan mengopersikannya secara baik. Jika hal
ini dilaksanakan maka bencana longsor TPA
dapat dicegah.
DAFTAR PUSTAKA
Adrin Tohari. 2005. Pelajaran Berharga dari
Bencana Leuwigajah. Kompas, Kamis 24
Maret 2005
BPPT. 2006. Laporan Tragedi Longsor
Bantargebang. Pusat Teknologi
Lingkungan, BPPT. September 2006
18
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana, Vol. 9, No. 2, Tahun 2014
Blight, G. 2008. Slope Failures in Municipal
Solid Waste Dumps and Landlls: A Review.
Waste Management and Research. 2008:
26: 448–463
Gabriella, V., Pangemanan, M., Turangan,
A., dan Sompie, O. 2014. Analisis
Kestabilan Lereng Dengan Metode
Fellenius (Studi Kasus: Kawasan
Citraland). Jurnal Sipil Statik Vol.2 No.1,
Januari 2014 (37-46) ISSN: 2337-6732.
Hansen, M.J., 1984, Strategies for Classication
of Landslides, (ed. : Brunsden, D, & Prior,
D.B., 1984, Slope Instability, John Wiley &
Sons, p.1-25
Kocasoy, G. dan Curi, K. 1995. The Ümraniye-
Hekimbashi Open Dump Accident. Waste
Management & Research, 13, 305–314.
Kolsch, F. dan Gunnar Ziehmann. 2004.
Landll Stability, Risks and Challenges.
May-June 2004. Waste Mangement
World.
Kolsch, F., Fricke, K., Mahler, C. Dan
Damanhuri, E.. 2005. Stability of landlls
– the Bandung Dumpsite Disaster. In:
Sardinia 2005, Tenth International Waste
Management and Landll Symposium,
Cagliari, Italy.
Merry, S.M., Kavazanjian, E. dan Fritz, W.U.
2005. Reconnaisance of The July 10
2000, Payatas Landll Failure. ASCE
Journal of Performance of Constructed
Facilities, 19, 00–107.
Press release BPPT. 2004. Evaluasi dan
Rencana Rehabilitasi TPA Leuwigajah
Pasca Longsor.
Paramita, I. 2011. Sari Evaluasi Lahan Dan
Persepsi Stakeholders Tempat
Pembuangan Akhir Sampah (TPA)
Galuga dan Kawasan Sekitarnya,
Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten
Bogor. Program Studi Manajemen
Sumberdaya Lahan, Departemen Ilmu
Tanah Dan Sumberdaya Lahan, Fakultas
Pertanian Institut Pertanian Bogor.
www.antaranews.com Amin Tewas Terkubur
Longsor Sumur Batu. 17 Mei 2012.
www.harapanrakyat.com. Gunungan Sampah
di TPA Cibeureum Kota Banjar Kembali
Longsor. 21 Desember 2014.
www.indopos.co.id. TPA Sumur Batu Longsor.
Indopos.co.id. 5 Februari 2014.
www.kompas.com. Empat Korban Tewas TPA
Galuga Bogor Dimakamkan. 17 Maret
2010.
www.okezone.com. Longsor di TPA Galuga
sudah Kali Kedua. 17 Maret 2010.
www.pikiranrakyatonline.TPA Galuga Longsor
Timbun 5 Hektar Sampah. 20 Februari
2010.
www.poskotanews.com.Gunungan Sampah
Setinggi 15 Meter Longsor. 6 Maret 2012.
www.republikaonline.com. Longsor Sampah,
Puluhan Tertimbun. 9 September 2006.
www.suararakyatindonesia.org. Longsor
Kembali Menimpa TPA Sumur Batu
Bekasi. 9 Januari 2015.
www.tempo.co. Longsor di TPA Bantargebang
Dua Tewas. 8 September 2006. TPA
Bantargebang Longsor. 8 September
2006. Indosiar.co.
www.tempo.co. Tempat Pembuangan Longsor
Sampah, 1 orang Tertimbun. 19 Januari
2013.
Zakaria, Z. 2009. Analisis Kestabilan Lereng
Laboratorium Geologi Teknik. Seri
Mata Kuliah Program Studi Teknik Geologi,
Universitas Padjadjaran.
... Longsor sampah adalah longsor yang diakibatkan oleh beberapa faktor yaitu akibat ledakan metana ataupun karena hujan deras selama berhari-hari. Longsor sampah dalam volume yang besar, longsor sampah juga dapat mengakibatkan kerugian fisik dan korban jiwa (3). ...
Article
The Sarimukti Final Disposal Site (TPA) has two landslide disasters, namely garbage, and soil landslides, garbage landslide disasters occur due to waste that has exceeded capacity, while landslide disasters occur because the landfill location is on a steep slope and is on high ground motion conditions. Landslides can endanger the safety and disrupt the activities of people living in the Sarimukti TPA area. The people who are the object of research are people who live in the Sarimukti TPA area. The community is dominated by scavengers. In the scavenger community living in the TPA, there are vulnerable age groups, namely the elderly, seniors, toddlers, and women. The purpose of this study was to identify the condition of the capacity of the scavenger community at TPA Sarimukti. The methodology used is quantitative by conducting capacity analysis. The capacity assessment was obtained from the results of the interview recapitulation and based on the existing conditions of the Sarimukti TPA area. The results of the analysis obtained are the capacity of the Sarimukti TPA community in dealing with disasters, the condition of the low capacity of the scavenger community causes the scavenger community to experience difficulties in preventing, preparing, overcoming, and repairing the impact of the disaster. Abstrak. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti tedapat dua bencana longsor yaitu longsor sampah dan tanah, bencana longsor sampah terjadi akibat tumpukan sampah yang sudah melebihi kapasitas, sedangkan bencana longsor tanah terjadi karena lokasi TPA yang berada pada kemiringan lereng curam dan kondisi gerakan tanah tinggi. Bencana longsor dapat membahayakan keselamatan dan menganggu aktivitas masyarakat yang tinggal di kawasan TPA Sarimukti. Masyarakat yang menjadi objek penelitian adalah masyarakat yang tinggal di kawasan TPA Sarimukti. Masyarakat tersebut didominasi oleh pemulung. Dalam masyarakat pemulung yang tinggal di TPA terdapat kelompok usia rentan yaitu lansia, manula, balita dan wanita. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi kondisi kapasitas masyarakat pemulung di TPA Sarimukti. Metodelogi yang digunakan yaitu kuantitatif dengan melakukan analisis kapasitas. Penilaian kapasitas diperoleh dari hasil rekapitulasi wawancara dan berdasarkan kondisi eksisting kawasan TPA Sarimukti. Hasil analisis yang diperoleh yaitu kapasitas masyarakat TPA Sarimukti dalam menghadapi bencana rendah, kondisi kapasitas masyarakat pemulung yang rendah menyebabkan masyarakat pemulung menjadi mengalami kesulitan dalam mencegah, mempersiapkan, mengatasi dan memperbaiki dampak dari bencana.
Article
The open dump of Ümraniye-Hekimbaşi was the main solid disposal site of the Asiatic side of Istanbul. At this site, which was in operation since 1976, 1500–2000 tonnes of solid wastes were disposed of daily. No waste compaction was undertaken during placement. The slope formed by the solid wastes was very steep (3 vertical to I horizontal), and recently demolition wastes were disposed of on top of these wastes. On 28 April 1993, an “explosion” took place, followed by the displacement of a large mass of solid wastes which engulfed II houses causing the death of 39 people. This paper investigates the possible reasons for this accident and concludes that it was caused by the initial sliding of the solid wastes, which were not deposited in a stable way, followed by an explosion of the methane generated and retained in the landfill.
Article
Between 1977 and 2005 six large-scale failures of municipal solid waste dumps and landfills have been recorded in the technical literature. The volumes of waste mobilized in the failures varied from 10-12 000 m(3) in a failure that killed nearly 300 people to 1.5 million m(3) in a failure that caused no deaths or injuries. Of the six failures, four occurred in dumps that, as far as is known, had not been subjected to any prior technical investigation of their shear stability. The remaining two failures occurred in engineer-designed landfills, one of which practised leachate recirculation, and the other co-disposed of liquid waste along with solid waste. The paper reviews, describes and analyses the failures and summarizes their causes.
  • V Gabriella
  • M Pangemanan
  • A Turangan
  • O Dan Sompie
Gabriella, V., Pangemanan, M., Turangan, A., dan Sompie, O. 2014. Analisis Kestabilan Lereng Dengan Metode Fellenius (Studi Kasus: Kawasan Citraland). Jurnal Sipil Statik Vol.2 No.1, Januari 2014 (37-46) ISSN: 2337-6732.
Strategies for Classification of Landslides
  • M J Hansen
  • D Brunsden
  • D B Prior
Hansen, M.J., 1984, Strategies for Classification of Landslides, (ed. : Brunsden, D, & Prior, D.B., 1984, Slope Instability, John Wiley & Sons, p.1-25
Stability of landfills -the Bandung Dumpsite Disaster
  • F Kolsch
  • K Fricke
  • C Dan Mahler
  • E Damanhuri
Kolsch, F., Fricke, K., Mahler, C. Dan Damanhuri, E.. 2005. Stability of landfills -the Bandung Dumpsite Disaster. In: Sardinia 2005, Tenth International Waste Management and Landfill Symposium, Cagliari, Italy.
Reconnaisance of The
  • S M Merry
  • E Kavazanjian
  • W U Fritz
Merry, S.M., Kavazanjian, E. dan Fritz, W.U. 2005. Reconnaisance of The July 10 2000, Payatas Landfill Failure. ASCE Journal of Performance of Constructed Facilities, 19, 00-107. Press release BPPT. 2004. Evaluasi dan Rencana Rehabilitasi TPA Leuwigajah Pasca Longsor.
Analisis Kestabilan Lereng Laboratorium Geologi Teknik. Seri Mata Kuliah Program Studi Teknik Geologi
  • Z Zakaria
Zakaria, Z. 2009. Analisis Kestabilan Lereng Laboratorium Geologi Teknik. Seri Mata Kuliah Program Studi Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran.