ArticlePDF Available

Morfologi Kawasan Dan Tipologi Rumah Adat Kampung Mahmud Kabupaten Bandung

Authors:

Abstract

Indonesia is an archipelago country that has diverse ethnic, cultural and customs. The diversity is reflected in the environment and traditional buildings of indigenous villages in each region. Currently, there are still some areas that still have and maintain the traditional village. One of them is the area of West Java. Kampung Mahmud is a peri-urban village in the city of Bandung. Kampung Mahmud has located in the village ofMekarrahayu Margaasih district of Bandung. Still retaining customs with respect toKaruhun (ancestors) is the hallmark of this village. The modernization and construction of the bridge by the government in 1997 has influenced changes in Mahmud village both macro on the region and micro on the building. This paper aims to find out the morphology of Kampung Adat Mahmud area and to know Typology of traditional house of Mahmud village. The method used in this paper is descriptive qualitative. The data collection method was conducted by literature study from journal and book about the theory of typology, morphology as well as about the traditional village of Mahmud. Data analysis method using diachronic and synchronous approach. The results obtained that the morphology of Mahmud customary village area in the form of orientation and the addition of building period. The orientation which initially centered on the mosque as a place of worship turned into centered toward the ancestral grave and then to the connecting road. While the typology of house building is influenced by climate factor, culture, environment, building technique, customary law, religion, and social relation of society.
| 9 |
LOCAL WISDOM, 10 (1): 9-17, 2018
Local Wisdom Scientific Online Journal
ISSN: 2086-3764
IMPLEMENTASI KEARIFAN LOKAL DALAM STRATEGI
PENGEMBANGAN WISATA PANTAI SENDANG BIRU UNTUK
PELESTARIAN PULAU SEMPU
Fenny Widiana1, Respati Wikantiyoso2
1Mahasiswa Magister Arsitektur Lingkungan Binaan Universitas Brawijaya
2Guru Besar Teknik Arsitektur Universitas Merdeka Malang
fenny.widiana@gmail.com
0852 340 72322
Abstrak
Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki ribuan pulau
dari Sabang sampai Merauke, dimana setiap pulaunya memiliki keunikan tersendiri.
Salah satu pantai di kabupaten Malang adalah pantai Sendang Biru. Pantai Sendang
Biru memiliki potensi sumber daya perikanan yang besar di jawa Timur. Daya tarik
berupa tempat pelelangan ikan dan pulau Sempu yang berada di sebrang pantai yang
ditetapkan sebagai cagar alam melalui Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia
Belanda pada tahun 1928. Permasalahan pada pulau Sempu adalah adanya wisata
illegal sehingga membuat sebagian wilayahnya menjadi rusak dan sebagian kawasan di
pulau Sempu akan diubah menjadi Taman Wisata Alam (TWA). Metode kajian ini
menggunakan metode deskriptif untuk menidentifikasi kearifan lokal dan menganalisa
sehingga mendapatkan strategi pengembangan kawasan wisata Pantai Sendang Biru.
Ditemukan bahwa kearifan lokal dapat dijadikan dasar pengembangan wisata kuliner
dan atraksi kehidupan nelayan pada Pantai Sendang biru. Dengan pengembangan
kualitas wisata di Pantai Sendang Biru diharapkan dapat melestarikan Pulau Sempu.
Abstract
Indonesia is the largest archipelago country in the world that has thousands of islands from
Sabang to Merauke, where each island has its own uniqueness. One of the beaches in Malang
Regency is Sendang Biru beach. Sendang Biru Beach has great fishery resource potential in East
Java. The attractiveness of fish auction sites and Sempu island located along the coast which is
designated as a nature reserve through the Decree of the Governor General of Dutch East Indies in
1928. Problems on the island of Sempu is the illegal tourism that makes some of its territories
become damaged and some areas on the island Sempu will be transformed into a Nature Tourist
Park. This study method uses the descriptive method to identify local wisdom and analyze so get
strategy development of tourist area of Sendang Biru Beach. Found that local wisdom can be used
as the basis for the development of culinary tourism and attractions of fisherman life on the blue
Sendang Beach. With the development of the quality of tourism in Pantai Sendang Biru is ex-
pected to preserve Sempu Island.
Kata kunci:
kearifan lokal,
wisata pantai,
pulau sempu,
Keywords:
local wisdom, beach
tourism, Sempu
island
@ 2017 The Authors. Published by GKAK UNMER Malang
*Corresponding Author: baskoro.az is@gmail.com
LOCAL WISDOM, Vol. 10 No. 1 Januari 2018
Local Wisdom Scientific Online Journal
| 10 |
Pendahuluan
Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki ribuan pulau dari Sabang
sampai Merauke, dimana setiap pulaunya memiliki keunikan tersendiri. Malang merupakan salah satu
kota/kabupaten di Pulau Jawa bagian timur yang memiliki pantai yang berbatasan langsung dengan
Samudra Hindia. Pantai pada bagian selatan kabupaten Malang biasa disebut dengan pantai laut selatan.
Terdapat sekitar 45 pantai eksotik yang dapat menjadi objek tujuan wisata karena keindahan alamnya.
Hamparan laut yang luas, dataran, hempasan angin, udara, beragam jenis tanaman dan pepo-
honan serta beragam jenis satwa merupakan beberapa komponen yang dimiliki daerah beriklim tropis
seperti Indonesia, khususnya kota Malang. Komponen-komponen tersebut bergabung membentuk kondisi
seperti siang, malam, cerah, mendung, panas, dingin, teduh, terik dan sebagainya. Kondisi tersebut
adalah bahasa alam untuk mengekspresikan keseimbangan ekosistem (Antaryama, 2009).
Masyarakat di masa lalu memahami dengan baik bahasa-bahasa alam. Bahasa-bahasa alam di-
kumpulkan dengan pengalaman coba-coba (trial and error) dalam jangka waktu yang lama menjadi se-
bah sistem pengetahuan yang digunakan untuk mengelola alam. Menurut Sistem pengetahuan tersebut
menjadi khas pada suatu tempat dan berorientasi pada bahasa alam sering disebut dengan kearifan
lokal (local wisdom) (Antaryama, 2009).
Salah satu pantai di kabupaten Malang adalah pantai Sendang Biru. Pantai Sendang Biru memiliki
potensi sumber daya perikanan yang besar di jawa Timur. Daya tarik berupa tempat pelelangan ikan
dan pulau Sempu yang berada di sebrang pantai. Pulau Sempu ditetapkan sebagai cagar alam melalui
Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Besluit van den Gouverneur Generaal van Nederlandsch
Indie) Nomor 46 Stbl No. 69 Tanggal 15 Maret 1928. Penetapan pulau seluas 877 Ha berdasarkan pada
faktor botanis, estetis dan topografi (geologis) dengan potensi flora, fauna dan letaknya yang dekat
dengan pulau Jawa memberikan nilai lebih terkait dengan keterwakilan kondisi hutan dan ekosistem
daratan Pulau Jawa (Irawanto, 2017). Menurut UU No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya
Alam Hayati dan Ekosistemnya, penetapan kawasan hutan sebagai cagar alam karena kondisi alam,
flora dan fauna yang khas memerlukan perlindungan bagi kepentingan ilmu pengetahuan dan
kebudayaan.
Masyarakat di sekitar pantai Sendang Biru meyakini bahwa keberadaan pula Sempu adalah berkah.
Kerusakan pada pulau Sempu akan membawa kerusakan pada kehidupan masyarakat seperti yang
diungkapkan Saptoyo, salah satu warga, bahwa pesan nenek moyang terdahulu mulai terbukti (Miski,
2017)
Ketika Sempu rusak, maka akan merusak kehidupan masyarakat sekitar, baik secara fisik maupun
moral.”
Permasalahan
Permasalahan saat ini yang terdapat pada pulau Sempu adalah adanya wisata illegal sehingga
membuat sebagian wilayahnya menjadi rusak. Banyak masyarakat yang tidak peduli pada kondisi
alam pulau Sempu. Sebagian kawasan di pulau Sempu akan diubah menjadi Taman Wisata Alam (TWA).
TWA dapat berpotensi merusak kawasan cagar alam karena wisatawan pasti mempengaruhi kondisi
alam. Menurut data Aliansi Peduli Cagar Alam Sempu (Istiawan, 2017), wisatawan yang secara illegal
Implementasi Kearifan Lokal dalam Strategi Pengembangan Wisata Pantai Sendang Biru untuk Pelestarian Pulau Sempu
Fenny Widiana, Respati Wikantiyoso
| 11 |
berkunjung ke pulau Sempu meninggalkan banyak sampah. Sampah di pulau Sempu tidak dapat diangkut
keluar kecuali dengan perahu. Penurunan status cagar alam menjadi taman wisata alam mengundang
para investor untuk dapat mengolah pulau Sempu menjadi destinasi wisata.
Tujuan Penulisan/Pembahasan
Tujuan penulisan kajian ini adalah untuk mengetahui strategi pengembangan pantai Sendang
Biru untuk melestarikan pulau Sempu dan mempertahankan statusnya sebagai cagar alam.
Metode Penelitian
Kajian ini merupakan kajian deskriptif dengan sumber bahan berupa pustaka, literature atau
penelitian terdahulu terkait dengan pantai Sendang Biru dan Pulau Sempu. Data tersebut digunakan
untuk mengidentifikasi kearifan lokal pantai Sendang Biru dan Pulau Sempu. Indentifikasi kearifan
lokal kemudian dianalisa sehingga mendapatkan strategi pengembangan pantai Sendang Biru untuk
melestarikan pulau Sempu.
Pantai Sendang Biru
Pantai Sendang Biru merupakan salah satu pantai yang berada di kabupaten Malang. Pantai Sen-
dang Biru terletak di desa Tambak Rejo, kecamatan Sumber Manjing Wetan pada 08o37‘ - 08o41‘ LS dan
112o35‘ - 112o43‘ BT dengan ketinggian 0–100 m di atas permukaan laut. Batas admnistrasi pantai Sendang
Biru adalah:
Sebelah utara: desa Kendung Banteng
Sebelah timur: desa Tambak Asri
Sebelah selatan: samudra Indonesia
Sebelah Barat: desa Sitiarjo
Gambar 1. Letak lokasi Pantai Sendang Biru dan Pulau Sempu.
Sumber :(Ir awant o, 2017)
LOCAL WISDOM, Vol. 10 No. 1 Januari 2018
Local Wisdom Scientific Online Journal
| 12 |
Pantai Sendang Biru merupakan pantai laut selatan yang curam dan berkarang dengan gelom-
bang sedang hingga besar, arus pasang yang kuat yang terjadi dua kali sehari. Topografi wilayah
Sendang Biru bebukit-bukit dengan lereng sedang hingga curam. Berada di ketinggian 50-250 meter di
atas permukaan air laut, memiliki kemiringan lereng datar (<3%), agak landai (3-8%), agak curam (25-
40%) dan sangat curam (40%). Pantai Sendang Biru terdiri dari beberapa bagian, bagian pantai dengn
batuan kapur, karang dan berdinding terjal; sebagian yang lain merupakan pantai landai dengan panjang
50-100 m pada sisi timur dan barat. Tanah di wilayah Sendang Biru adalah batu kapur yang tidak subur
dan mudah tererosi. Sehingga potensi perikananlah yang paling menonjol sebagai mata pencaharian
masyarakat sekitar dengan hasil andalan tuna dan cakalang.
Masyarakat Pantai Sendang Biru
Manusia dan alam memiliki hubungan yang erat yang terlihat dari aktifitas-aktifitas yang dila-
kukan manusia untuk berinteraksi dengan kondisi iklim setempat. Interaksi ini dilakukan untuk me-
menuhi kebutuhan dan kenyamanan. Masyarakat Sendang Biru sebagian besar menggantungkan
hidupnya dari hasil laut yang berlimpah.
Matapencaharian nelayan
Kawasan pantai Sendang Biru memiliki selat dengan barrier pulau Sempu. Keamanan para nela-
yan yang menangkap ikan lebih terjamin karena tidak berhadapann langsung dengan Samudra Hindia.
Perairan Samudra Hindia sangatt kaya akan sumber daya ikan pelagis besar seperti madidihang (Thunnus
albacares), tuna mata besar (Thunnus obesus), albakora (Thunnus allalunga), tuna sirip biru selatan (Thunnus
macoyii), dan tuna abu-abu (Thunnus tonggol) dan cakalang (Katsuwonus pelamis) (Hermawan, 2006). Komisi
Nasional pengkajian Stok Sumber Daya ikan Laut melakukan pengkajian pada tahun 1998. Dilaporkan
bahwa sumber daya ikan tuna di wilayah selatan pulau Jawa sebesar 22.000 ton/tahun dengan tingkat
produksi 10.000 ton/tahun. Hal tersebut memperlihatkan bahwa tingkat pemanfaatan baru 45% dan
pengembangan masih terbuka sebesar 55%.
Pantai Sendang Biru berdasarkan geografis, topografis, dan oceanografis adalah pantai terbaik
kedua di selatan Jawa setelah Cilacap (Hermawan, 2006). Potensi pelabuhan ikan di Pantai Sendang
Biru yaitu Pusat Pendaratan Ikan Pondokdadap adalah:
1. Berada di tepi Samudra Hindia yang merupakan wilayah Peengelolaan perikanan IX, dan sebagai
alur migrasi terbesar ikan pelagis besar terutama ikan tuna
2. Pulau Sempu sebagai barrier, dengan panjang selat 4 km, lebar 400-1500 m. Hal ini menyebabkan
perairan yang relatif tenang,
3. Terjangkau oleh transportasi,
4. Kedalaman rataan 20 m, cocok untuk berlabuhnya armada penangkapan baik dari nelayan Sendang
Biru maupun dari luar daerah.
Implementasi Kearifan Lokal dalam Strategi Pengembangan Wisata Pantai Sendang Biru untuk Pelestarian Pulau Sempu
Fenny Widiana, Respati Wikantiyoso
| 13 |
Gambar 2. Letak lokasi
Pantai Sendang Biru dan Pulau Sempu.
Sumber: (Hermawan, 2006)
Secara geografis daerah Sendang Biru terbagi atas daerah perbukitan dan pantai yang membagi
penduduknya menjadi:
1. Nelayan atas, berasal dari etnik Jawa, beragama Kristen karena adanya pengaruh Belanda. Nelayan
atas ini memiliki dua pekerjaan, yaitu sebagai nelayan dan petani ladang karena tempat tinggalnya
yang berada di daerah bukit.
2. Nelayan bawah, nelayan yang hidup di kawasan pantai dan berasal dari etnik Madura. Beragama
Islam dan menekuni pekerjaan sebagai nelayan.
3. Nelayan andong, adalah nelayan pendatang dari Cilacap, Bugis, Banyuwangi dan Kalimantan. Nelayan
Andong menetap di Sendang Biru dengan mengontrak rumah selama musim melaut.
Berdasarkan perekonomiannya, kelompok nelayan dibedakan menjadi Nelayan “tidak” beruntung
atau buruh nelayan (ABK), Kelompok nelayan yang memiliki kapal dan ABK, Kelompok bukan nelayan
yang memiliki kapal dan ABK yang sering disebut juragan.
Masyarakat Sendang Biru mengenal Jaringan sosial rumah tangga nelayan-buruh atau disebut
dengan pandhiga. Jaringan sosial ini memperlihatkan, mengembangkann dan memeilhara hubungan
sosial berdasarkan kekerabatan. Dikenal pula hubungan patron-klien yang disebut pengambek, yaitu hu-
bungan timbal balik antara pemilik modal dan ABK. Juragan atau pemilik modal memberikan per-
lindungan berupa pinjaman kepada ABK yang nantinya akan dikurangi setelah pembagian bagi hasil
tangkapan ikan saat melaut dikurangi dengan biaya kehidupan di kapal saat melaut. Hubungan ini
dapat menimbulkan aspek negatif dan terjadi karena pemilik modal menguasai sumber daya yang
tidak dimiliki oleh ABK dan adanya hubungan kekerabatan sesama etnik.
LOCAL WISDOM, Vol. 10 No. 1 Januari 2018
Local Wisdom Scientific Online Journal
| 14 |
Adanya pengelompokan nelayan ini menyebabkan kondisi perekonomian nelayan ABK men-
dapatkan hasil yang tidak pasti dari pekerjaannya, sehingga mereka merubah matapencahariannya
sebagai pengantar wisatawan untuk mengelilingi bahkan memasuki pulau Sempu yang terlarang.
Ritual petik laut
“Petik laut” berasal dari kata petik (bahasa jawa) yang berarti ambil pungut dan laut. Secara
harafiah berarti memetik hasil usaha dari laut atau memetik hasil kelestarian kehidupan dari laut (Mar-
tin, 2011).
Ritual petik laut merupakan tradisi budaya masyarakat Sendang Biru. Setiap kebudayaan ma-
nusia memiliki beberapa unsur seperti religi, mata pencaharian, pengetahuan, organisasi dan teknologi
(Martin, 2011). Sesuai dengan matapencaharian masyarakat Sendang Biru sebagai nelayan, ritual ini
dimaksudkan sebagai upacara syukuran atas hasil panen laut yang diberikan oleh Sang Pencipta.
Ritual petik laut dilaksanakan setiap tanggal 27 September oleh masyarakat Sendang Biru. Ritual
ini sarat akan berbagai pernak-pernik perelatan karena berasal dari masyarakat yang berbeda latar
belakang budayanya. Pelaksanaan ritual petik laut memiliki serangkaian acara, antara lain:
1. Menjelang malam 27 September diadakan tasyakuran di itempat pelelangan pelabuhan perikanan
Sendang Biru,
2. Keesokan paginya mempersiapkan perahu gitik dan sesaji yang akan dikirap atau dengan istilah
ider bumi. Sesaji yang dikirap berupa gunungan tumpeng besar berwarna kuning, dilengkapi dengan
sepasang temanten (boneka sepasang pengantin). Sesaji dikirap ke perkampungan nelayan dan
berakhir di pelabuhan Sendang Biru.
Gambar 3. Gunungan sesaji ritual petik laut
Sumber: (Martin, 2011)
3. Pelarungan perahu gitik dengan gunungan dan simbol temanten diawali dengan memotong tali
perahu yang tertambah di pelabuhan. Sesaji yang sudah dilarung diperebutkan para nelayan yang
berada di tengah laut.
Implementasi Kearifan Lokal dalam Strategi Pengembangan Wisata Pantai Sendang Biru untuk Pelestarian Pulau Sempu
Fenny Widiana, Respati Wikantiyoso
| 15 |
Gambar 4. Prosesi larung sesaji dalam ritual petik laut
Sumber: (Martin, 2011)
4. Pada malam harinya diadakan pagelaran wayang kulit semalam suntuk sebagai penutup ritual
petik laut.
Ritual petik laut memiliki makna mendalam tentang hubungan masyarakat Sendang Biru dengan
sistem kearifan lokal yang dimilikinya. Kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Sendang Biru adalah
pengelolaan sumber daya alam termasuk sumber daya kelautan/ikan, pesisir dan hutan sebagai hubungan
timbal balik manusia dengan alam sekitarnya.
Pulau Sempu
Pulau Sempu terletak di sebelah selatan pantai Sendang Biru. Terbentang 3,9 km dari barat ke
timur dan 3,6 km dari utara ke selatan. Pulau Sempu berbatasan langsung dengan Samudra Indonesia di
sebelah selatan dan timur, sedangkan pada bagian utara hingga barat berbatasan dengan selat Sempu
yang memimsahkannya dengan Pulau Jawa. Pulau Sempu adalah pulau tidak berpenduduk dan memi-
liki keanekaragaman tumbuhan yang cukup beragam. Keanekaragaman tumbuhan pada pulau Sempu
terdiri dari tumbuhan tingkat pohon sejumlah 296 jenis, tumbuhan tingkat tiang sejumlah 214 jenis,
tumbuhan tingkat semak 103 jenis, dan tumbuhan bawah 126 jenis. Keanekaragaman satwa di pulau
Sempu terdiri atas aves 47 jenis, mamalia 16 jenis, amfibi 4 jenis dan reptile 5 jenis. Selain jenis tum-
buhan dan satwa yang tersebut diatas diperkirakan masih banyak spesies yang belum teridentifikasi
menurut BBKSDA Jatim 2009 (Irawanto, 2017).
Topografi pulau Sempu berupa kontur yang bergelombang dan berbukit-bukit. Memiliki medan
dengan lereng sedang (0-8%) hingga curam (>45%). Berada pada ketinggian 0-102 m di atas permukaan
laut, memiliki jenis tanah litosol dan mediteran merah kecoklatan. Secara fisik jenis tanah tersebut
dapat dilihat sebagai lapipsan humus yang tipis pada bagian pantai yang curam di wilayah selatan.
LOCAL WISDOM, Vol. 10 No. 1 Januari 2018
Local Wisdom Scientific Online Journal
| 16 |
Pulau Sempu yang ditetapkan sebagai cagar alam merupakan kawasan yang tepat untuk pene-
litian vegetasi. Pulau Sempu memiliki batas ekologi dengan empat tipe ekosistem yang memiliki ciri
khas berbeda namun masih dalam satu kesatuan. Ekosistem-ekosistem yang terdapat pada Pulau Sempu
adalah ekosistem hutan tropis dataran rendah pada sebagian besar daratan pulau, ekosistem hutan
mangrove di beberapa pantai bagian utara, ekosistem danau, dan ekosistem hutan pantai dengan
hamparn pasir putih pada sepanjang pantai utara ke arah barat.
Pulau Sempu juga memiliki sumber air tawar meskipun dikelilingi oleh selat dan samudra. Beberapa
sumber air tawar tesebut adalah Telaga Lele seluas 1 ha yang dihuni banyak ikan lele, telaga Sat seluas
1,5 ha dan hanya berair pada musim hujan, dan Air tawar yang tertutup air pasang laut. Terdapat pula
Laguna Segara Anakan berisi air pasang laut dari Samudra Hindia. Keindahan laguna terkesan utuh
dan alami ini yang mengundang wisatawan sebagaii daya tarik tersendiri. Namun kunjungan wisatawan
yang seraca illegal dapat merusak sebagian wilayah pulau Sempu. Kerusakan terdapat pada jalan setapak
yang dilalui wisatawan serta tercemarnya pasir putih dengan tumpukan sampah yang tersebar di wilayah
pantai.
Pembahasan
Analisis terhadap kearifan lokal terkait dengan sistem budaya masyarakat Sendang Biru sebagai
nelayan dengan menggunakan variable religi dan pandangan hidup, mata pencaharian, organisasi
masyarakat serta pengetahuan dan teknologi. Religi dan pandangan hidup terlihat dari ritual petik laut
dengan pandangan hidup etnik Jawa dan Madura. Mata pencahariannya terkait pekerjaan sebagai nelayan
yang mendorong perekonomian lokal. Organisasi masyarakat dengan adanya organisasi nelayan (HNI)
dan organisasi antar kelompok pemilik kapal dengan ABK yang berasal dari etnik yang sama dengan
sistem kekerabatan, dan KUD Mina. Untuk pengetahuan masyarakat Sedang Biru muncul pada ketrampilan
dalam melaut seperti mengemudikan kapal, pengetahuan tentang alat tangkap ikan, pengetahuan sumber
daya ikan, teknologi perkapalan dan cuaca.
Dengan melihat kearifan lokal yang terdapat pada pantai Sendang Biru maka rekomendasi stra-
tegi pengembangan wisata dengan menjual potensi perikanan Sendang Biru. Wisata yang paling cocok
adalah:
1. wisata kuliner dengan membangun tempat-tempat makan di sepanjang pantai dengan peneduh-
peneduh alami.
2. Menjadikan ritual petik laut sebagai daya tarik dalam kalender wisata kabupaten Malang,
3. Menjadikan kehidupan nelayan dalam mencari ikan/melaut sebagai atraksi wisata untuk
memperkenalkan kehidupan masyarakat lokal dalam menghargai alam
4. Mengajak serta masyarakat dalam pelestarian Pulau Sempu dengan menambah pemahaman pen-
tingnya kelestarian Pulau Sempu.
5. Wisata alam Pulauu Sempu namun dengan pengawasan dan waktu yang terbatas
Implementasi Kearifan Lokal dalam Strategi Pengembangan Wisata Pantai Sendang Biru untuk Pelestarian Pulau Sempu
Fenny Widiana, Respati Wikantiyoso
| 17 |
Dengan adanya pengembangan wisata di Pantai Sendang Biru diharapkan dapat menarik wisata
dan tetap melestarikan Pulau Sempu.
Kesimpulan
Pulau Sempu sebagai cagar budaya dapat dilestarikan dengan pengembangan wisata pantai
Sendang Biru yang memperhatikan kearifan dan potensi lokal. Sehingga menjadi daya tarik tersendiri
untuk berwisata hanya di pantai Sendang Biru. Dengan demikian kelestarian dan status cagar alam
Pulau Sempu dapat dipertahankan.
Referensi (Trebuchet 10 Bold)
Antaryama, I. G. N. (2009). Bahasa Alam, Manusia dan Arsitektur di Darah Tropis Lembab/ : Sebuah Rujukan
Arsitektur di Indonesia. Kearifan Lokal, 1, 20.
Hermawan, D. (2006). Prospektif Pengembangan Kawasan Pesisir Sendang Biru Untuk Industri Perikanan Terpadu,
13(2).
Irawanto, R. (2017). Kajian pustaka keanekaragaman tumbuhan di Cagar Alam Pulau Sempu, Jawa Timur, 3(Irawanto
2011), 138–146. https://doi.org/10.13057/psnmbi/m030123
Istiawan, H. (2017, September). Pulau Sempu, Antara Konservasi dan Komersialisasi. Okezone News.
Martin, R. (2011). Ritual Petik Laut pada Masyarakat Nelayan Sendang Biru, Malang/ : Sebuah Telaah Budaya
Bahari. In International Conference ICSSIS (hal. 340–351). Jakarta.
Miski. (2017, September 2). Selamatkan Pulau Sempu! Warga yakini Kerusakan Pulau Sempu Akan Rusak Kehidupan
Masyarakat. MalangVoice.
ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication.
Conference Paper
Full-text available
Irawanto R, Abywijaya IK, Mudiana D. 2017. Literature study of plants diversity in Sempu Island Nature Reserve, East Java. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon 3: 138-146. Purwodadi Botanic Garden have the task of plant conservation through inventories, exploration, collection and maintenance of plants, especially on dry lowland plants. Exploration activities and plants collection aim to conserve and save the plants from extinction, as well as conduct research and documentation of plant diversity in a region. It's related of the global strategy for plant conservation (GSPC) target is known and documentation of plants diversity, especially in threatened habitats could be a priority. Sempu island's status as a nature reserve has a diversity of ecosystem and biodiversity of flora and fauna that are endemic and unique. This study aims to determine the plant's diversity in Island Sempu Nature Reserve based on a literature review of various studies that have been done. This study is a database for planning exploration activities, collecting, and documenting the plant's diversity in Sempu Island - East Java. Based on the literature review there are 282 species of plant diversity in Sempu Island, included in 80 families, contained in 10 blocks/location areas, namely Telaga Lele, Telaga Sat, Telaga Dowo, Gladakan, Baru-baru, Gua Macan, Teluk Ra’as, Teluk Semut, Air Tawar, dan Waru-Waru.Tenth blocks represent plants vegetation of mangrove forest, coastal forest, lowland tropical forests, and meadows.
Bahasa Alam, Manusia dan Arsitektur di Darah Tropis Lembab/ : Sebuah Rujukan Arsitektur di Indonesia
  • I G N Antaryama
Antaryama, I. G. N. (2009). Bahasa Alam, Manusia dan Arsitektur di Darah Tropis Lembab/ : Sebuah Rujukan Arsitektur di Indonesia. Kearifan Lokal, 1, 20.
Prospektif Pengembangan Kawasan Pesisir Sendang Biru Untuk Industri Perikanan Terpadu
  • D Hermawan
Hermawan, D. (2006). Prospektif Pengembangan Kawasan Pesisir Sendang Biru Untuk Industri Perikanan Terpadu, 13(2).
Pulau Sempu, Antara Konservasi dan Komersialisasi
  • H Istiawan
Istiawan, H. (2017, September). Pulau Sempu, Antara Konservasi dan Komersialisasi. Okezone News.
Ritual Petik Laut pada Masyarakat Nelayan Sendang Biru, Malang/ : Sebuah Telaah Budaya Bahari
  • R Martin
Martin, R. (2011). Ritual Petik Laut pada Masyarakat Nelayan Sendang Biru, Malang/ : Sebuah Telaah Budaya Bahari. In International Conference ICSSIS (hal. 340-351). Jakarta.