ArticlePDF Available

PENGETAHUAN REMAJA TERHADAP HIV-AID

Authors:

Abstract

Remaja yang terinfeksi HIV-AID di Indonesia menunjukkan angka yang cenderung meningkat, ketidak tahuan remaja menjadi pemicu peningkatan tersebut. Pengetahuan cara penularan HIV-AID sangat penting untuk mendorong remaja terhindar dari HIV-AID. Remaja berisiko sangat tinggi, karena remaja hubungan yang singkat dan pasangan yang banyak (pacar). Pengetahuan remaja ini termasuk salah satu indicator dalam Millenium Develepment Goals (MDGs) sehingga harus terus dipantau oleh Negara-negara berkembang termasuk Indonesia.Tujuan dari penulisan atikel ini untuk mendeskripsikan pengetahuan HIV-AID dikalangan remaja berusia 15-24 tahun.Untuk keperluan analisis artikel ini digunaka data dari hasil SDKI Indonesia tahun 2017.Berdasarkan data tersebut, diketahui mayoritas remaja pernah mendengar tentang HIV-AID, namun bila dikaji berdasarkan jenis kelamin, ternyata remaja wanita lebih banyak yang pernah mendengar tentang HIV-AID dibanding remaja pria. Sumber informasi yang banyak diketahui yakni dari guru sekolah, teman dan internet.Cara pencegahan nya, sebagian besar remaja menyatakan dengan cara membatasi hubungan seksual hanya dengan satu pasangan saja. Secara umum, tingkat pengetahuan tentang cara pencegahan HIV-AIDS meningkat seiring tingkat pendidikan remaja. Temua lainnya, masih ditemukan remaja yang belum pernah mendengar HIV-AID dan tidak mengetahui cara mencegah penularannya. Walaupun kelompok ini jumlah kecil namun perlu mendapat intervensi agar terhindar dari virus HIV-AID, baik yang berada di perkotaan maupun di perdesaan
Prosiding Penelitian &
Pengabdian Kepada
Masyarakat
e ISSN : 2581-1126
p ISSN : 2442-448X Vol 5, No: 3 Hal: 288 - 293 Desember 2018
288
PENGETAHUAN REMAJA TERHADAP HIV-AID
Nunung Nurwati1, Binahayati Rusyidi2
1Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran
2Departemen Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran
nunung.nurwati@unpad.ac.id, binahayati@unpad.ac.id
ABSTRAK
Remaja yang terinfeksi HIV-AID di Indonesia menunjukkan angka yang cenderung meningkat, ketidak tahuan
remaja menjadi pemicu peningkatan tersebut. Pengetahuan cara penularan HIV-AID sangat penting untuk
mendorong remaja terhindar dari HIV-AID. Remaja berisiko sangat tinggi, karena remaja hubungan yang
singkat dan pasangan yang banyak (pacar). Pengetahuan remaja ini termasuk salah satu indicator dalam
Millenium Develepment Goals (MDGs)
sehingga harus terus dipantau oleh Negara-negara berkembang
termasuk Indonesia.Tujuan dari penulisan atikel ini untuk mendeskripsikan pengetahuan HIV-AID dikalangan
remaja berusia 15-24 tahun.Untuk keperluan analisis artikel ini digunaka data dari hasil SDKI Indonesia tahun
2017.
Berdasarkan data tersebut, diketahui mayoritas remaja pernah mendengar tentang HIV-AID, namun bila dikaji
berdasarkan jenis kelamin, ternyata remaja wanita lebih banyak yang pernah mendengar tentang HIV-AID
dibanding remaja pria. Sumber informasi yang banyak diketahui yakni dari guru sekolah, teman dan internet.
Cara pencegahan nya, sebagian besar remaja menyatakan dengan cara membatasi hubungan seksual hanya
dengan satu pasangan saja. Secara umum, tingkat pengetahuan tentang cara pencegahan HIV-AIDS
meningkat seiring tingkat pendidikan remaja.
Masih ada remaja yang belum pernah mendengar HIV-AID dan tidak mengetahui cara mencegah
penularannya. Walaupun kelompok ini jumlah kecil namun perlu mendapat perhatian lebih dari semua pihak
agar kelompok ini terhindar dari virus HIV-AID, baik yang berada di perkotaan maupun di perdesaan.
Kata kunci: Remaja. Perkotaan. Perdesaan. Pengetahuan HIV-AID. Indonesia
Pendahuluan
HIV-AID termasuk salah satu penyakit yang
sangat ditakuti, karena hingga saat ini belum
ditemukan obatnya, sehingga orang yang
terkena penyakt tersebut dpat dikatakan tidak
memiliki harapan hidup panjang.Fenomena
orang dengan HIV-AID jumlahnya cenderung
meningkat baik di Negara maju maupun
Negara berkembang termasuk Indonesia. Dari
beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan
bahwa orang dengan HIV-AID tidak hanya
terdapat di kota-kota besar di Pulau Jawa
seperti Jakarta, Bandung maupun Denpasar,
tetapi juga terdapat di Pulau lainnya seperti
Pulau Papua, Sulawesi.
Penyakit tersebut tidak hanya ada pada orang
dewasa tetapi juga bisa mengenai anaka-anak
maupun remaja. Seiring dengan meningkatnya
jumlah remaja umur 15-24 di dunia yang
terinfeksi HIV . Orang yang terkena atau
terinfeksi penyakit tersebut tentunya
dipengaruhi oleh beberapa factor, diantaranya
pengetahuan tentang HIV-AID, pendidikan,
ekonomi, wilayah dan tradisi.Fakta lapangan
memperlihatkan bahwa masarakat masih sulit
menerima kehadiran orang dengan HIV-AID,
hal ini dikarenakan adanya anggapan bahwa
penyakit tersebut dapat menular secara mudah
dan menganggap penderita merupakan orang
yang berperilaku negative (sering gonta-ganti
pasangan). Ketidak tahuan ini bisa berdampak
pada si penderita, dimana sipenderita akan
menutup diri dan tidak mau memeriksakan
kondisi kesehatan, karena hkawatir diketahui
dan diasingkan oleh masyarakat. Dengan
demikian pengetahuan tentang HIV-AIDS
menjadi aspek yang sangat penting dalam
meningkatkan akses pelayanan HIV dan
perubahan perilaku. Tentunya sikap dan
Prosiding Penelitian &
Pengabdian Kepada
Masyarakat
e ISSN : 2581-1126
p ISSN : 2442-448X Vol 5, No: 3 Hal: 288 - 293 Desember 2018
289
perilaku sangat dipengaruhi oleh
pengetahuannya, seperti yang dikemukakan
oleh Notoatmodjo (2003) bahwa pengetahuan
atau kognitif merupakan aspek yang sangat
penting untuk terbentuknya sikap dan
perilaku.Artinya sikap dan perilaku terhadap
suatu objek sangat tergantung pada
pengetahuan tentang objek tersebut.
Pengetahuan dapat diartikan sebagai informasi
yang secara terus menerus diperlukan oleh
seseorang untuk memahami pengalaman
(Potter, Perry, Stockert, Hall, & Peterson,
2016). Pengetahuan yang tepat dapat
memberikan manfaat yang baik. Begitu pula
dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS.
Pengetahuan orang terhadap HIV-AID akan
mempengaruhi sikap dan perilaku, orang
dengan pengetahuan tentang HIV-AID yang
kurang maka akan bersikap dan berperilaku
menjauhi orang yang terinfeksi penyakit
tersebut,bahkan ada yang beranggapan
penyakit tersebut tidak berbahaya dan tidak
mematikan. Sebaliknya apabila
pengetahuannya cukup maka sikap yang
diberikan pada penderita berbeda, mereka
dalam hal ini masyarakat akan lebih menerima
kehadiran penderita. Padahal bila pengetahuan
dan pemahaman tentang HID-AID benar maka
penularannya dapat dicegah.
Data yang ditunjukkan UNICEF (United
Nations International Children’s Emergency
Fund), tahun 2005 sebanyak 71.000 remaja
usia 10-19 tahun meninggal akibat virus HIV
jumlah ini meningkat menjadi 110.000 remaja
pada tahun 2012. Selama periode 2005-2012
telah mengalami kenaikan sebesar 50 persen
(UNICEF, 2017).
Berdasarkan data dari Kementrian Kesehatan
RI hingga 2015 remaja yang terinfeksi HIV
berjumlah 28.060 orang (15,2 persen).
Sebanyak 2089 orang (3 persen) di antaranya
sudah dengan AIDS. Remaja selalu berisiko
tinggi karena mereka memiliki hubuungan
yang singkat dan pasangan yang banyak, atau
pacar atau tunangan dengan perilaku berisiko.
Penularan HIV terjadi dinilai salah satunya
karena kurangnya pengetahuan terkait
HIV/AIDS di kalangan para remaja.
Pengetahuan remaja tentang HIV-AID
merupakan bagian dari indikator Millenium
Development Goals (MDGs), dan harus
dipantau secara berkala oleh semua negara-
negara berkembang termasuk
Indonesi.Berdasarkan hal tersebut, tulisan ini
menyajikan pengetahuan dan sikap remaja
terhadap HIV-AID di Indonesia.
Metode
Untuk keperluan analisa tulisan ini
menggunakan data dari hasil Survey
Demografi Dan Kesehatan Indonesia 2017:
Kesehatan Reproduksi Remaja (SDKI).
Dilaksanakan bersama oleh Badan Pusat
Statistik (BPS), Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan
Kementerian Kesehatan (KEMENKES).
Batasan usia remaja yang digunakan dalam
SDKI yaitu penduduk yang berusia 15-24
tahun dan belum kawin.
SDKI 2017 menggunakan empat macam
kuesioner, salah satunya kuesioner Remaja.
Seluruh kuesioner SDKI 2017 mengacu pada
kuesioner DHS (Demographic Health Survey)
2015 versi terbaru yang sudah
mengakomodasi beberapa isu internasional
terbaru. Data yang digunakan untuk keperluan
tulisan ini hanya mengambil informasi yang
ada keterkaitan dengan pengetahuan dan sikap
remaja terhadap HIV-AID. Selanjutnya data
tersebut dikelompokkan berdasarkan
kelompok social demoghafi, kemudian
ditampilkan dalam bentuk tabel frekuensi .
Selanjutnya dari masing-masing tabel
diintepretasi secara kualitatif.
Pembahasan
Masa remaja merupakan masa peralihan antara
masa anak-anak ke masa dewasa. Pada masa
perkembangan ini, remaja mencapai
kematangan fisik, mental, sosial dan
emosional (Mohammad Ali dan Mohammad
Asrori.,2012.). Pada masa perkembangan
remaja juga merupakan tahapan pubertas.
Prosiding Penelitian &
Pengabdian Kepada
Masyarakat
e ISSN : 2581-1126
p ISSN : 2442-448X Vol 5, No: 3 Hal: 288 - 293 Desember 2018
290
Tahapan pubertas (puberty) adalah sebuah
periode dimana kematangan fisik berlangsung
cepat, yang melibatkan perubahan hormonal
dan tubuh, yang terutama berlangsung dimasa
remaja awal (Jhon W. Santroct.2011). Piaget
(dalam Moh Ali :2012), menyatakan pada
tahapan ini remaja sudah mulai berinteraksi
dengan lingkungan, teman sebaya dan orang
dewasa. Masa remaja mulai timbul ada rasa
tertarik terhadap lawan jenis, bila dibiarkan
tanpa ada control dari keluarga maupun
masyarakat, biasanya remaja akan “bebas
berpacaran”,berganti-ganti pasangan
berpotensi untuk terjangkit virus HIV-AID.
Berdasarkan hasil SDKI mayoritas remaja
wanita maupun pria pernah mendengar tentang
HIV-AID, namun demikian masih ada remaja
yang tidak pernah mendengar, walaupun
persentasenya kecil jika tidak segera diberi
pengetahuan dan pemahaman HIV-AID
terutama penanganan dan pencegahannya akan
menimbulkan dampak, misalnya karena
ketidak tahuannya maka remaja sering
melakukan hubungan seksual dengan lebih
dari satu pria.
Tabel 1 menunjukkan semakin tinggi
kelompok umur maka semakin tinggi pula
persentase yang pernah mendengar informasi
tentang HIV-AID, tampaknya remaja
kelompok umur 20-24 persentasenya lebih
tinggi dibanding dengan remaja kelompok
umur 15-19 tahun. Berdasarkan jenis kelamin
tampaknya remaja wanita lebih banyak yang
pernah mendengar tentang HIV-AID
dibanding remaja pria.Informasi ini bisa
dijadikan sebagai salah satu indicator, semakin
banyak pengetahuan terkait dengan HIV-AID
yang didengar dan diperoleh remaja maka
diharapkan mampu untk mencegahnya, dan
lebih berhati-hati dalam pergaulan.Seperti
yang dikemukakan oleh Lestyani (2015)
bahwa pengetahuan yang diperoleh seseorang
dapat mempengaruhi sikap dan perilakunya.
Sikap dan perilaku yang diperlihatkan
seseorang ada yang negative atau positive, ini
tergantung dari pengetahuan dan pemahaman
seseorang terhadap objek yang
dihadapinya.Sikap akan mendorong untuk
berperilaku. Jika sikap terhadap objek
negative, biasanya akan menghindari
melakukan perilaku tersebut. Jika pernyataan
ini dikaitkan dengan kontek kajian ini, maka
remaja yang yang memiliki pengetahuan yang
baik , artinya bahwa ,remaja akan tahu dan
paham apa itu HIV-AID, bagaimana
pencegahannya dan dimana tempat layanan
kesehatan yang manu menerima penderita
HIV-AID dan hal-hal apa saja yang perlu
diperhatikan jika berteman dengan penderita
(orang dengan HIV-AID). Sebaliknya apabila
pengetahuan tentang HIV-AID kurang,
biassanya akan bersikap negative terhadap
HIV-AID. Artinya karena ketidaktahuannya
tersebut, remaja akan bersikap menghindari
dan menganggap bahwa HIV-AID adalah
penyakit menakutkan dan mematikan serta
dapat menular, sehingga akan berusaha tidak
mau berteman dan bergaul dengan penderita
(orang dng HIV-AID).
Tabel 1
Persentase Remaja yang pernah mendengar
tentang HIV-AIDS, menurut Umur
Umur
Wanita
Pria
Pernah
Tdk
pernah
Pernah
Tdk
pernah
15-19
89,9
10,1
83,9
16,1
20-24 95,8 4,2 89,5 10,5
Sumber; Diolah dari data SDKI, 2017
Remaja yang berada dan tinggal di perkotaan
memiliki pengetahuan tentang HIV-AID lebih
baik disbanding dengan remaja yang berada di
daerah pedesaan. Tabel 2 menunjukkan remaja
wanita yang tinggal di perkotaan hamper
seluruhnya pernah mendengar dan mengetahui
tentang HIV-AID dan hanya sedikit yang
belum pernah mendengar HIV-AID.Keadaan
seperti ini juga ditemukan pada remaja pria,
mayoritas yang tinggal di perkotaan pernah
mendengar dan memiliki pengetahuan tentang
HIV-AID disbanding dengan yang tidak
pernah mendengar.
Remaja yang berada dan tinggal di daerah
pedesaan baik wanita maupun pria mayoritas
Prosiding Penelitian &
Pengabdian Kepada
Masyarakat
e ISSN : 2581-1126
p ISSN : 2442-448X Vol 5, No: 3 Hal: 288 - 293 Desember 2018
291
pernah dan mengetahui tentang HIV-AID dan
hanya sedikit sekali yang tidak pernah
mendengar hal tersebut. Informasi ini
menunjukkan bahwa tempat tinggal memiliki
pengaruh pada pengetahuan tentang HIV-AID,
hal ini dimungkinkan sumber informasi
relative lebih banyak dan mudah
mengaksesnya di perkotaan daripada di
pedesaan.Keterbatasan sumber informaasi ini
yang diduga penyebab kurangnya pengetahuan
remaja tentang HIV-AID. Sebenarnya hal ini
tidak menjadi penyebab utama, karena dari
Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana serta dari Dinas Kesehatan
Setempat telah melaksanakan pogram-
program yang bertujuan untuk memberikan
pengetahuan dan pemahaman pada seluruh
masyarakat temasuk remaja tentang
pencegahan dan penularan virus HIV-AID.Di
beberapa sekolah pengetahuan tentang
kesehatan reproduksi remaja didalamnya
termasuk materi tentang HIV-AID sudah
dijadikan sebagai muatan lokal, tujuan agar
remaja paham apa itu kesehatan reproduksi
dan HIV-AID, sehingga tidak akan terbawa
arus oleh pergaulan yang melanggar nilai dan
norma yang berlaku.
Namun demikian jika mencermati data di
tabel 1 maupun 2, masih ada remaja yang
pernah mendengar HIV-AID, tampaknya
program tersebut perlu diefektifkan lagi,
tentunya perlu bekerja sama dengan berbagai
elemen masyarakat setempat, karena
pecegahan HIV-AID tidak bisa dilakukan
hanya oleh 1 dinas atau departemen saja,
karena permasalahan yang ditimbulkannya
akan menjadi komplek.
Tabel 2
Persentase Remaja yang pernah mendengar
tentang HIV-AIDS, Menurut Tempat Tinggal
Wanita
Pria
Pernah
Tdk
pernah
Pernah
Tdk
pernah
94,7
5.3
91,0
9
87,6
12,6
80,2
19.8
Sumber; Diolah dari data SDKI, 2017
Pendidikan ternyata berpengaruh terhadap
pengetahuan remaja tentang HIV-AID, table 3
menunjukkan secara umum remaja yang
berpendidikan lebih tinggi akan memiliki
pengetahuan HIV-AID lebih baik daripada
remaja dengan pendidikan rendah.Informasi
ini sangat berguna untuk melakukan edukasi
dan atau intervensi kepada remaja harus
disesuaikan dengan pendidikan. Tentunya
materi dan cara atau metode edukasinyapun
harus berbeda. Biasanya remaja dengan tingkat
pendidikan yang lebih tinggi akan mudah
diedukasi, karena wawasannya sudah
berkembang, lain hal dengan remaja yang
berpendidikan rendah (SD atau tidak sekolah)
materi dan cara harus lebih simple dan
sederhana dengan bahasa yang mudah
dimengerti oleh mereka. Dengan demikian
pendidikan sangat berperan dalam hal
menyerapan informasi HIV-AID.
Tabel 3
Persentase Remaja yang pernah mendengar
tentang HIV-AIDS, Menurut Pendidikan
Pendidikan
Wanita
Pria
Pernah
Tdk
pernah
Pernah
Tdk
pernah
Tdk sekolah
26,0
74
53,6
46,4
Tdk tamat
SD
26,4
73,6
39,4
60,6
Tamat SD
46,6
53,4
55,5
45,5
Tdk tamat
SLTA
89,5
10,5
84,7
15,3
Tamat
SLTA ke
atas
91,8
8,2
97,4
2,6
Sumber; Diolah dari data SDKI, 2017
Data yang tersaji di SDKI 2017 yaitu tentang
sumber informasi HIV-AID, pertanyaan
ditujukan kepada remaja yang pernah
mendengar tentang HIV-AID saja baik remaja
wanita maupun pria. Dari table 4 ditunjukkan
mengenai sumber informasi, tampak cukup
beragam, remaja wanita sebagian besar
mendapat informasi HIV-AID dari guru atau
sekolah, hal ini dimungkinkn karena di
sekolah-sekolah sudah ada mata pelajaran
muatan local yaitu Kesehatan Reproduksi
Remaja.selain itu TV, internet dan teman atau
Prosiding Penelitian &
Pengabdian Kepada
Masyarakat
e ISSN : 2581-1126
p ISSN : 2442-448X Vol 5, No: 3 Hal: 288 - 293 Desember 2018
292
keluarga juga menjadi sumber informasi HIV-
AID bagi remaja wanita.
Remaja pria sumber informasi HIV-AID
hampir 2/3 berasal dari TV dari TV, tampak
keberadaan TV bagi remaja pria bisa dijadikan
sebagai sumber segala informasi. Berbeda
dengan remaja wanita yang masoritas
bersumber dari guru atau sekolah. Sumber
informasi yang banyak digunakan oleh remaja
pria yakni yang berasal dari internet dan teman
atau keluarga. Keberadaan teman cukup
berperan bagi remaja untuk dijadikan sebagai
sumber informasi, hal ini sejalan dengan masa
remaja, dimana mereka lebih berani dan tidak
merasa malu jika mencari tahu tentang HIV-
AID kepada teman daripada kepada tenaga
kesehatan.Informasi yang disampaikan oleh
teman belum tentu benar,seharusnya tenaga
kesehatan atau guru sekolah yang lebih
berperan dalam menjelaskan HIV-AID agar
mereka terhindar dari virus HIV-AID, begitu
pula dengan keluarga, budaya di Indonesia
masih menganggap tabu bila orang tua
membicarakan reproduksi dengan anak.
Seperti yang dikemukakan oleh Siti Kamsiah
(2014), teman sebaya merupakan tempat
remaja untuk memperoleh informasi yang
tidak mereka dapatkan di dalam lingkungan
keluarga, pendapat ini sama seperti yang
disampaikan oleh Papalia (2014) teman
sebaya merupakan suatu kelompok baru, yang
memiliki ciri, norma, dan kebiasaan yang jauh
berbeda dengan apa yang ada di lingkungan
keluarga.
Secara umum,data hasil SDKI 2017
menginformasikan, tidak seluruh remaja di
Indonesia paham dan tahu tentang HIV-AID,
karena ketidaktahuan ini yang diduga menjadi
salah factor tingginya angka penderita.
Tampaknya masih diperlukan penyebaran atau
sosialisasi tentang HIV-AID perlu lebih
diintensifkan lagi, termasuk materi dan cara
pelaksanaan kegiatan, orang atau lembaga
yang melaksanakannya.Selain itu, yang perlu
diperhatikan yakni tempat tinggal remaja
antara perkotaan dan perdesaan, karena kota
dan desa memiliki karakteristik yang berbeda.
Di daerah perkotaan informasi tentang HIV-
AID relatih lebih mudah di akses dan
pergaulan remaja lebih terbuka dibandingkan
dengan remaja yang berada di perdesaan.
Pergaulan remaja di perdesaan masih dibatasi
dengan norma, nilai yang lebih ketat, namun
akses ke informasi tentang HIV-AID masih
sedikit.
Fakta ini bisa dijadikan dasar untuk menyusun
program penyuluhan atau edukasi tentang
HIV-AID, yang harus di edukasi tidak hanya
remaja saja tetapi keluarga dalam hal ini orang
tua juga perlu di edukasi agar dapat
memberikan informasi yang benar.
Tabel 4
Persentase Remaja Berdasarkan Sumber
informasi Tentang HIV-AID
Sumber Informasi
Wanita
Pria
Radio
6,7
6,3
TV
58,8
73,8
Koran/majalah
10,4
11,8
Poster
6,5
8,2
Tenaga kesehatan
13,7
7
Lembaga keagamaan
0,8
0
Guru/sekolah
60,5
17,7
Perkumpulan massyarakat
4,4
3,3
Teman/keluarga
23,1
44,3
Tempat bekerja
3,3
10,8
Internet
37,5
37,2
lainnya
0,6
0
Sumber; Diolah dari data SDKI, 2017
Remaja yang memiliki pengetahuan HIV-AID
umumnya mengatakan, cara untuk mencegah
penularan HIV-AID yaitu dengan
menggunakan kondom setiap kali melakukan
hubungan seksual. Selain itu, yakni dengan
membatasi hubungan seksual hanya dengan
satu pasangan saja.
Informasi tersebut menggambarkan bahawa
alat kontrasepsi berupa kondom sudah familiar
di kalangan remaja, untuk mendapatkannya
sangat mudah karena di seluruh toko atau
warung menyediakan alat kontrasepsi tersebut.
Beberapa waktu yang lalu pemerintah melalui
BKKBN menyediakan ATM Kondom di
beberapa tempat yang cukup mudah dijangkau
oleh remaja. Awalnya tujuan dari diadakannya
ATM Kondom untuk mencegah penyebaran
Prosiding Penelitian &
Pengabdian Kepada
Masyarakat
e ISSN : 2581-1126
p ISSN : 2442-448X Vol 5, No: 3 Hal: 288 - 293 Desember 2018
293
virus HIV-AID, tetapi disalah gunakan oleh
remaja.
Simpulan
Remaja wanita memiliki tingkat pengetahuan
yang lebih tinggi tentang HIV-AIDS
dibanding dengan remaja pria. Pengetahuan
tentang HIV-AID di kalangan remaja sudah
baik, dan mengetahui cara pencegahan
penularannya. Sumber informasi HIV-AID
bagi remaja wanita sebagian besar dari guru
atau sekolah dan teman atau keluarga ,
sedangkan remaja pria lebih banyak
mendapatkannya dari TV dan dari teman atau
keluarga.
Mayoritas remaja baik wanita maupun pria
mengatakan bahwa penularan HIV-AIDS
dapat dicegah dengan menggunakan kondom
setiap kali melakukan hubungan seksual atau
dengan membatasi hubungan seksual hanya
dengan satu pasangan saja.
Dengan demikian, ada hubungan antara
pengetahuan dengan sikap. Remaja dengan
pengetahuan HIV-AID cukup bagus,
cenderung akan bersikap lebih berhati-hati dan
lebih paham terhadap cara pencegahan dan
penularan virus HIV/AIDS.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional,Badan Pusat ,
Kementrian Kesehatan, USAID.
2018. Survei Demografi Dan
Kesehatan Indonesia. Jakarta.
Indonesia
Jhon W. Santroct.2011. Life Span
Development : perkembangan masa
hidup jilid 1.Jakarta : Erlangga. Hal
404
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
2016. Situasi HIV/AIDS di Indonesia.
Retrieved from
www.depkes.go.id/article/view/1701
0600004/situasi-hiv-aids-di-
indonesia.htm
Lestyani, U. 2015. Hubungan Tingkat
Kecemasan dengan Sikap dalam
Menghadapi Menarche pada Siswi
Kelas V di SD Wilayah Kec.
Karangnongko Kab. Klaten. STIKES
Aisyiyah Yogyakarta
Mohammad Ali dan Mohammad
Asrori.,2012.Psikologi Remaja
Perkembangan Peserta didik. Jakarta
: PT. Bumi Aksara. Hal 67
Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Prinsip-prinsip
Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat.
Jakarta : Rineka Cipta.
Papalia, Diane E. dkk. 2014. Menyelami
Perkembangan Manusia (Alih
Bahasa: Fitriana Wuri Herarti).
Jakarta: Salemba Humanika.
Potter, P., Perry, A., Stockert, P., Hall, A., &
Peterson, V. 2016. Fundamentals of
Nursing
(9th ed.). St. Louis, Missouri: Mosby, Elsevier
Siti Kamsiah. 2014. Pengaruh Interaksi Teman
Sebaya terhadap Perilaku Konsumtif
Mahasiswa Fakultas Ilmu Agama
Islam Universitas Negeri Yogyakarta.
Fakultas Ilmu Agama Islam
Universitas Islam Indonesia.
Yogyakarta.
UNICEF. (2017). HIV and AIDS. Retrieved
from www.unicef.org/hiv
... Masa pubertas (puberty) merupakan sebuah tahapan dimana kematangan fisik berlangsung cepat, yang melibatkan perubahan hormonal dan tubuh, yang terutama berlangsung dimasa remaja awal menyatakan pada tahapan ini remaja sudah mulai berinteraksi dengan lingkungan, teman sebaya dan orang dewasa. Masa remaja mulai muncul ada rasa tertarik kepada lawan jenis, apabila dibiarkan tanpa adanya kontrol dari keluarga maupun masyarakat, remaja akan bebas berperiku merokok, penyalahgunaan narkotika serta obat-obatan terlarang (narkoba), Pecandu narkoba suntik, pacaran serta berganti-ganti pasangan akan berisiko terjangkit virus HIV AIDS (19). Adapun aktifitas pacaran pada remaja yang dapat mengarah pada HIV AIDS seperti ciuman bibir, mencium leher, meraba daerah erogen, bersentuhan alat kelamin dan melakukan hubungan seks. ...
Article
HIV AIDS merupakan permasalahan kesehatan yang sangat rentan berisiko terjadi pada usia remaja karena remaja masa peralihan dari anak-anak kemasa dewasa. Kabuputen Parigi Moutong merupakan daerah tertinggal yang sementara berkembang. Temuan kasus HIV AIDS serta adanya kasus penyalahgunaan narkoba pada usia remaja dikarenakan bebasnya pergaulan serta kurangnya kontrol dari orang tua. Hal ini cendrung mengakibatkan remaja berisiko terkena penyakit HIV AIDS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan, sikap, norma subjektif remaja terhadap kontrol perilaku HIV AIDS di Wilayah kerja Puskesmas Parigi tahun 2021. Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif dengan pendekatan eksploratif. Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Parigi pada bulan April tahun 2021. Data dikumpulkan melalui metode wawancara mendalam dengan 13 informan diantaranya 8 remaja sebagai informan utama, 5 informan pendukung yang teridiri dari tiga kepala sekolah, satu petugas kesehatan dan satu orang tua remaja. Data hasil penelitian selanjutnya dianalisis dengan menggunakan metode tematik. Hasil penelitian diperoleh remaja memiliki pengetahuan yang kurang tentang HIV AIDS, sehubungan dengan efektifitas penyebaran informasi kesehatan HIV AIDS dikalangan remaja sekolah serta minat remaja untuk ingin tahu tentang HIV AIDS yang masih kurang. Remaja mempunyai sikap, norma subjektif serta persepsi yang positif terhadap kontrol perilaku HIV AIDS. Kesimpulan remaja masih memiliki pengetahuan yang kurang tentang HIV AIDS, sementara itu remaja memiliki sikap, norma subjektif dan kontrol perilaku yang positif terhadap perilaku HIV AIDS sehingga remaja dapat mencegah /menghindari perilaku HIV AIDS.
... Hal tersebut dapat terjadi karena semakin tinggi/cukup pengetahuan seseorang tentang HIV/AIDS akan menimbulkan kewaspadaan dalam diri pribadinya. Remaja dengan pengetahuan HIV/AIDS yang bagus cenderung bersikap hati-hati terhadap lingkungannya [17]. ...
Conference Paper
HIV/AIDS masih menjadi masalah di Indonesia yang menduduki peringkat kelima negara paling berisiko terhadap HIV/AIDS di Asia. Jumlah kasus HIV/AIDS terus mengalami peningkatan sejak pertama kali dilaporkan tahun 1987. Satu-satunya cara untuk mengidentifikasi infeksi HIV adalah dengan tes darah yang dilakukan secara sukarela. Jumlah orang yang melakukan tes HIV terus meningkat sejak tahun 2013, tetapi mengalami penurunan pada tahun 2017 sebesar 41,76 persen dari tahun sebelumnya. Sikap diskriminatif masyarakat terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA) merupakan hambatan besar dalam pemeriksaan, pencegahan dan pengobatan HIV/AIDS. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menjelaskan variabel - variabel yang memengaruhi sikap diskriminatif penduduk perempuan dan laki-laki terhadap (ODHA) di tiga povinsi dengan pelaporan kasus HIV dan tiga provinsi dengan pelaporan kasus AIDS terendah. Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari The DHS Program Demographic and Health Survey tahun 2017. Metode analisis yang digunakan adalah regresi logistik biner. Hasil analisis menunjukan bahwa sikap diskriminatif penduduk terhadap ODHA mencapai lebih dari tujuh puluh persen. Variabel usia, akses terhadap media, pengetahuan komprehensif mengenai HIV/AIDS dan tingkat pendidikan berpengaruh signifikan terhadap sikap diskriminatif terhadap ODHA. Akses terhadap media, pengetahuan komprehensif mengenai HIV/AIDS masih perlu ditingkatkan untuk menurunkan perlakukan/sikap diskriminatif terhadap ODHA guna mendukung suksesnya program identifikasi, pencegahan,dan pengobatan HIV/AIDS.
ResearchGate has not been able to resolve any references for this publication.