ArticlePDF Available

Hubungan Penolong Persalinan, Inisiasi Menyusu Dini dan Dukungan Petugas Kesehatan dengan Perilaku Ibu Dalam Pemberian ASI Eksklusif

Authors:

Abstract

Air susu ibu (ASI) merupakan cairan hasil sekresi kelenjar payudara ibu yang merupakan makanan utama untuk bayi usia 0 sampai 6 bulan. ASI adalah nutrisi alamiah terbaik bagi bayi dengan kandungan gizi paling sesuai untuk pertumbuhan optimal. Capaian ASI eksklusif Puskesmas Blabak Kabupaten Kediri mengalami penurunan yakni dari 92,66% pada tahun 2016 menjadi 59,00% pada tahun 2017. Penurunan capaian tersebut dapat berasal dari berbagai faktor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji hubungan penolong persalinan, Inisiasi Menyusu Dini dan dukungan petugas kesehatan dengan perilaku ibu dalam pemberian ASI eksklusif. Penelitian ini termasuk jenis observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 80 orang ibu yang memiliki bayi usia 6-12 bulan di Puskesmas Blabak Kabupaten Kediri. Pengukuran dilakukan dengan memberikan kuesioner untuk mendapatkan informasi tentang variabel penelitian. Variabel penelitian independen adalah penolong persalinan, Inisiasi Menyusu Dini dan dukungan petugas kesehatan. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah perilaku ibu dalam pemberian Asi eksklusif. Hasil penelitian ini menunjukkan variabel berhubungan dengan perilaku ibu dalam pemberian ASI ekslusif adalah penolong persalinan (p=0,025), Inisiasi Menyusu Dini (p=0,000). Sedangkan dukungan petugas kesehatan tidak berhubungan dengan perilaku ibu dalam pemberian ASI ekslusif (p=1,000).Kata kunci: ASI eksklusif, IMD, penolong persalinan
6
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 3 (2) 2018
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah
Alamat Website: http://journal.um-surabaya.ac.id/index.php/JKM
Hubungan Penolong Persalinan, Inisiasi Menyusu Dini dan Dukungan Petugas Kesehatan dengan
Perilaku Ibu dalam Pemberian ASI Eksklusif
Binti Maratus Sholikah1
1Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia
INFORMASI ABSTRACT
Korespondensi :
bintimsholikah@gmail.
com
Keywords:
exclusive breastfeeding,
IMD, birth attendant
Breast milk (ASI) is a secretion of maternal gland secretion which is the main
food for infants aged 0 to 6 months. Breast milk is the best natural nutrient
for babies with the most appropriate nutrient content for optimal growth.
Exclusive Breastfeeding achievement of Blabak Health Center of Kediri
Regency decreased from 92.66% in 2016 to 59,00% in 2017. The decrease of
achievement can come from various factors.
The purpose of this study was to examine the relationship of birth attendants,
early breastfeeding initiation and support of health workers with maternal
behavior in exclusive breastfeeding. This research is an observational type
with cross sectional approach. The sample of this research are 81 mothers
who have babies 6-12 months old at Blabak Health Center of Kediri Regency.
Measurements were made by giving a questionnaire to obtain information
about the research variables. Independent research variables are birth
attendants, Early Breastfeeding Initiation and support of health workers.
Dependent variable in this research is mother’s behavior in giving exclusive
breastfeeding.
The results of this study indicate variables related to mother’s behavior in
exclusive breastfeeding is a birth attendant (p = 0,045), Initiation of Early
Breastfeeding (p = 0,001). While the support of health workers is not related
to the mother’s behavior in exclusive breastfeeding (p = 1,000).
7
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 3 (2) 2018
PENDAHULUAN
Daur hidup manusia terdiri dari beberapa fase
dimana salah satunya adalah fase bayi yang tergolong
dalam kelompok rawan gizi (Raharjo, 2014). Bayi
membutuhkan asupan nutrisi yang sesuai dengan
metabolisme tubuhnya. Asupan terbaik untuk bayi
yaitu ASI (Air Susu ibu) karena memiliki semua
nutrisi yang dibutuhkan untuk perkembangan dan
pertumbuhan yang optimal. Pemberian ASI eksklusif
dapat meningkatkan imunitas serta mencegah
kesakitan dan kematian pada bayi.
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 450/
MENKES/SK/VI/2004 tentang Pemberian ASI
Ekskusif di Indonesia menjelaskan bahwa pemberian
ASI eksklusif selama 6 bulan kemudian dilanjutkan
sampai anak berumur 2 tahun atau lebih diiringi
dengan makanan tambahan yang sesuai. Hal tersebut
sesuai dengan alternatif solusi yang diberikan World
Health Organization (WHO) dan United Nation
Children Fund (UNICEF) yaitu anak sebaiknya diberi
ASI minimal selama 6 bulan guna menurunkan angka
kesakitan dan kematian anak.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33
Tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif
juga menjelaskan bahwa ASI merupakan cairan hasil
sekresi kelenjar payudara ibu. ASI eksklusif yaitu
memberikan ASI saja kepada bayi mulai dilahirkan
sampai enam bulan tanpa melakukan penambahan
dan/atau penggantian dengan makanan atau minuman
lain. Peraturan tersebut menyebutkan bahwa setelah
melahirkan ibu harus memberikan ASI eksklusif pada
bayinya kecuali ada indikasi medis, bayi terpisah dari
ibu atau ibu tidak ada.
ASI memiliki banyak manfaat salah satunya yakni baik
untuk pencernaan. ASI mengandung protein yang
terikat dengan zat besi yaitu laktoferin. Pertumbuhan
kuman penyebab diare seperti Staphilokokus dan
E.Coli dapat dihambat oleh laktoferin dengan mengikat
zat besi hingga kuman tidak dapat berkembang biak.
Kuman membutuhkan zt besi untuk berkembang
biak. Kandungan lysozim dapat meningkat dengan
pemberian ASI. ASI memiliki kandungan lisozym 300
kali lebih banyak dibandingkan kandungan lisozym
pada susu sapi. Lisozym dapat membantu mengatasi
diare dengan memecah dinsing bakteri (Dewi, 2016.)
Peningkatan program ASI eksklusif adalah bentuk
usaha pemerintah dalam mencapai Sustainable
Development Goals (SDGs). Target ASI eksklusif
secara nasional di Indonesia yaitu 80%. Pemerintah
Kabupaten Kediri sadar tentang pentingnya pemberian
ASI ekslusif dan makanan yang tepat untuk bayi dan
anak adalah investasi untuk membentuk sumber daya
masyarakat yang unggul di masa depan. Hal tersebut
sesuai dengan program 1000 HPK (Hari Pertama
kehidupan) oleh pemerintah pusat. Pemberian
intervensi gizi yang sesuai pada 1000 HPK dapat
menurunkan angka stunting yang saat ini menjadi
masalah yang dihadapi oleh Indonesia (Prol Dinkes
Kab. Kediri, 2016). Puskesmas Blabak adalah salah
satu unit pelaksana teknis dinas Kabupaten kediri
yang memiliki tanggungjawab dalam penyelenggaraan
pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya. Capaian
ASI eksklusif Puskesmas Blabak Kabupaten Kediri
mengalami penurunan dari 92,66% pada tahun 2016
menjadi 59,00% pada tahun 2017.
Penurunan capaian tersebut dapat berasal dari
berbagai faktor. Faktor yang diduga mempengaruhi
perilaku ibu dalam pemberian ASI eksklusif yakni
penolong persalinan, Inisiasi Menyusu Dini dan
dukungan petugas kesehatan. Inisiasi Meyusu Dini
(IMD) memiliki pengaruh terhadap pelaksanaan ASI
eksklusif. Ibu yang memiliki fasilitasi IMD berpeluang
lebih besar memberikan ASI ekslusif serta penolong
persalinan memiliki memiliki peran dalam Inisiasi
Menyusu Dini. Bidan juga memiliki pengaruh yang
signikan terhadap praktik Inisiasi Menyusu Dini dan
praktik ASI eksklusif (Raharjo, 2014). Keberhasilan
dalam pemberian ASI eksklusif juga dipengaruhi oleh
dukungan tenaga kesehatan (Azriani & Wasnidar,
2014).
Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui hubungan
ntara penolong persalinan, Inisiasi Menyusu Dini
dan dukungan petugas kesehatan dengan perilaku
ibu dalam pemberian ASI eksklusif. Hasil yang
didapatkan dari penelitian ini diharapkan mampu
memberikan informasi kepada instansi terkait sebagai
bahan perbaikan kinerja dan sebagai data ilmiah untuk
penelitian selanjutnya.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan yakni penelitian
kuantitatif dengan desain analitik observasional karena
tidak melakukan perlakuan kepada subjek penelitian,
hanya melakukan pencarian informasi dan pendataan
serta melakukan analisis pengaruh antar variabel yang
diteliti. Rancang bangun penelitian ini yakni cross
sectional yaitu dilakukan pada satu periode tertentu.
Tujuan dari penelitian ini yakni mengetahui hubungan
antara penolong persalinan, Inisiasi Menyusu Dini
8
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 3 (2) 2018
dan dukungan petugas kesehatan dengan perilaku
ibu dalam pemberian ASI eksklusif. Pengambilan
data dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Blabak.
Penurunan terbesar capaian ASI eksklusif terjadi di
Puskesmas Blabak yakni sebesar 33,66%. Populasi
yang digunakan dalam penelitian ini yakni ibu yang
memiliki bayi usia 6-12 bulan yang tinggal di wilayah
kerja puskesmas Blabak Kabupaten Kediri sejumlah
578 orang. Sampel dalam penelitian ini yakni sebagian
dari ibu yang memiliki bayi usia 6-12 bulan yang
tinggal di wilayah kerja Puskesmas Blabak. Simple
random sampling digunakan untuk pengambilan
sampel dan didapatkan hasil sejumlah 80 orang.
Analisis univariat dilakukan untuk mengetahui
deskripsi frekuensi variabel penelitian. Analisis bivariat
dilakukan dengan uji chi square untuk mengetahui
hubungan masing-masing variabel penelitian dengan
perilaku pemberian ASI eksklusif.
HASIL
Deskripsi Perilaku Ibu dalam Pemberian ASI
Eksklusif
Perilaku pemberian ASI merupakan praktik responden
ibu bayi (6-12 bulan) di wilayah kerja Puskesmas
Blabak Kabupaten Kediri dalam memberikan ASI
kepada bayinya. Perilaku pemberian ASI dikategorikan
menjadi 2 yakni ASI eksklusif dan ASI tidak eksklusif.
ASI ekslusif apabila bayi hanya diberikan asupan
berupa ASI saja saat usia 0-6 bulan. ASI tidak eksklusif
yakni ketika bayi mendapatkan asupan lain selain ASI
saat usia 0-6 bulan.
Tabel 1. Jumlah Responden berdasarkan Perilaku
Pemberian ASI
Perilaku Ibu Jumlah (n) Persentase
(%)
ASI Tidak Eksklusif 35 43,2
ASI Eksklusif 46 56,8
Total 81 100,0
Tabel 1 menunjukkan bahwa persentase responden
yang memberikan ASI eksklusif sejumlah 56,3%.
Sedangkan 43,8% responden lainnya tidak
memberikan ASI secara eksklusif.
Deskripsi Penolong Persalinan dengan Perilaku
Ibu dalam Pemberian ASI Eksklusif
Penolong persalinan memiliki peran yang penting
dalam keberhasilan pemberian ASI secara eksklusif.
Ibu dapat belajar menyusui dibantu oleh penolong
persalinan. Penolong persalinan juga berperan dalam
mendorong ibu dalam pemberian ASI eksklusif
kepada bayinya (Nkala & Msuya, 2011).
Tabel 2. Tabulasi Silang Perilaku Responden dalam
Pemberian ASI Eksklusif berdasarkan Penolong
Persalinan
Penolong
Persalinan
Perilaku Ibu
Jumlah (n)
ASI Tidak
Eksklusif
ASI
Eksklusif
Bidan 23 40 63
Dokter 12 6 18
Total 35 46 81
Penolong persalinan yakni petugas kesehatan yang
membantu ibu dalam proses persalinan. Tabel 2
memiliki arti bahwa mayoritas responden yakni
sejumlah 63 orang melakukan persalinan dengan
dibantu bidan. Mayoritas responden yang proses
persalinannya dibantu oleh bidan memberikan ASI
secara eksklusif kepada bayinya. Sedangkan responden
yang proses persalinannya dibantu oleh dokter
mayoritas tidak memberikan ASI secara eksklusif.
Hubungan Inisiasi Menyusu Dini dengan Perilaku
Ibu dalam Pemberian ASI Eksklusif
Proses bayi setelah lahir yang menyusu sendiri
dinamakan permulaan menyusu atau inisiasi menyusu
dini (early initiation). Kemampuan untuk menyusu
sendiri dimiliki oleh bayi manusia apabila terjadi
kontak kulit anatar bayi dan ibunya pada satu jam
setelah dilahirkan. Cara bayi melakukan inisiasi
menyusu dini ini dinamakan the breast crawl atau
merangkak mencari payudara (Roesli, 2008).
Tabel 3. Tabulasi Silang Perilaku Responden dalam
Pemberian ASI Eksklusif berdasarkan Inisisiasi
Menyusu Dini
Inisiasi Menyusu
Dini
Perilaku Ibu
Jumlah (n)
ASI Tidak
Eksklusif
ASI
Eksklusif
Melakukan 20 42 62
Tidak Melakukan 15 4 19
Total 35 46 81
Inisiasi Menyusu Dini merupakan proses setelah
melahirkan dimana bayi mencari puting susu ibunya
dan kemudian menyusu. Tabel 3 menunjukkan
bahwa mayoritas responden yakni sejumlah 61
orang melakukan Inisiasi Menyusu Dini. Mayoritas
responden yang melakukan IMD memberikan ASI
9
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 3 (2) 2018
eksklusif kepada bayinya. Sedangkan responden
yang tidak melakukan proses Inisiasi Menyusu Dini,
mayoritas tidak memberikan ASI secara eksklusif.
Deskripsi Dukungan Petugas Kesehatan dengan
Perilaku Ibu dalam Pemberian ASI Eksklusif
Dukungan petugas kesehatan yakni keikutsertaan
petugas kesehatan dalam upaya menyukseskan
pelaksanaan ASI eksklusif bagi ibu. Dukungan petugas
kesehatan berupa pemberian informasi mengenai cara
merawat payudara, tentang ASI dan Inisiasi Menyusu
Dini.
Tabel 4. Tabulasi Silang Perilaku Responden dalam
Pemberian ASI Eksklusif berdasarkan Penolong
Persalinan Dukungan Petugas Kesehatan
Dukungan
Petugas Kesehatan
Perilaku Ibu Jumlah
(n)
ASI Tidak
Eksklusif
ASI
Ekslusif
Tidak Mendukung 11 15 26
Mendukung 24 31 55
Total 35 46 81
Tabel 4 memperlihatkan bahwa mayoritas petugas
kesehatan mendukung ibu untuk melakukan
perilaku pemberian ASI eksklusif. Responden yang
mendapat dukungan petugas kesehatan kebanyakan
tidak memiliki perilaku pemberian ASI eksklusif.
Kebalikannya, responden yang tidak mendapat
dukungan petugas kesehatan justru kebanyakan
memberikan ASI eksklusif.
Uji Hubungan Penolong Persalinan, Inisiasi
Menyusu Dini dan Dukungan Petugas Kesehatan
dengan Perilaku Ibu dalam Pemberian ASI
Eksklusif
Tabel 5 Hubungan Penolong Persalinan, Inisiasi
Menyusu Dini, Dukungan Petugas Kesehatan,
Dukungan Suami dan Pekerjaan terhadap Perilaku
Ibu dalam Pemberian ASI Eksklusif
Variabel pPR (CI 95%)
Penolong Persalinan 0,045 3,47 (1,15-10,51)
Inisiasi Menyusu Dini 0,001 7,87 (2,31-26,80)
Dukungan Petugas
Kesehatan 1,000 0,94 (0,36-2,43)
Uji Chi Square dilakukan untuk mengetahui hubungan
antara penolong persalinan, Inisiasi Menyusu Dini
dan dukungan petugas kesehatan dengan perilaku ibu
dalam pemberian ASI eksklusif. Berdasarkan tabel 5
diketahui bahwa beberapa variabel penelitian yakni
penolong persalinan (p=0,045) dan Inisiasi Menyusu
Dini (p=0,001) memiliki hubungan dengan perilaku
ibu dalam pemberian ASI eksklusif dikarenakan
p≤0,05. Sedangkan dukungan petugas kesehatan
(p=1,000) tidak memiliki hubungan dengan perilaku
ibu dalam pemberian ASI secara ekslusif karena
p>0,05.
PEMBAHASAN
Perilaku Ibu dalam Pemberian ASI Eksklusif
Air susu ibu (ASI) merupakan hasil sekresi kelenjar
payudara ibu yang berbentuk cairan dan menjadi
asupan utama bagi bayi usia 0 sampai 6 bulan.
ASI merupakan asupan alami terbaik untuk bayi
karena mengandung gizi yang paling cocok untuk
pertumbuhan optimal. Pemberian ASI merupakan
proses alami dalam kewajiban ibu mengasuh anaknya.
Selama kehamilan, payudara telah disiapkan agar
ibu dapat segera memberikan ASI setelah bayinya
dilahirkan.
Cara yang tidak tertandingi dalam upaya penyediaan
asupan yang ideal bagi perkembangan dan
pertumbuhan bayi adalah dengan menyusui. Hal
tersebut merupakan bagian dari proses reproduksi dan
memiliki keterkaitan dengan kesehatan ibu. Saat bayi
berusia lebih dari 6 bulan, ibu harus memberi makanan
pendamping dengan tetap menyusui lanjutan hingga
usia 2 tahun atau lebih (WHO, 2018).
Responden yang memberikan ASI eksklusif sejumlah
46 orang atau 56,8%. Sedangkan 35 responden lainnya
atau 43,2% tidak memberikan ASI secara eksklusif.
Pemberian asupan selain ASI juga tidak sesuai dengan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor
33 Tahun 2012 yang menyebutkan bahwa setiap ibu
yang melahirkan harus memberikan ASI eksklusif
kepada bayi yang dilahirkannya. ASI eksklusif yang
dimaksud dalam peraturan ini yakni ASI diberikan
kepada bayi selama 6 bulan pertama kehidupannya
tanpa menambahkan dan atau mengganti dengan
makanan lain. Ada responden yang mengganti ASI
dengan susu formula untuk diberikan kepada bayi
usia 0-6 bulan, beberapa responden memberikan ASI
kepada bayi usia 0-6 bulan serta menambahkan susu
formula, pisang atau juga air putih sehingga tidak
dapat dikatakan ASI eksklusif.
10
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 3 (2) 2018
Hubungan Penolong Persalinan dengan Perilaku
Ibu dalam Pemberian ASI Eksklusif
Hubungan antara penolong dengan perilaku
ibu dalam pemberian ASI eksklusif diketahui
melalui uji Chi Square. Uji hubungan penolong
persalinan dengan perilaku pemberian ASI eksklusif
menunjukkan hasil yang signikan dengan p=0,045
PR 3,47 (1,15-10,51). Terdapat hubungan antara
penolong persalinan dengan perilaku pemberian ASI
eksklusif. Hasil tersebut juga menunjukkan bahwa ibu
yang persalinannya dibantu oleh bidan 3,47 kali lebih
mungkin untuk memberikan ASI eksklusif daripada
ibu yang persalinannya dibantu oleh dokter. Hal ini
tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh
Sugianti (2015) bahwa penolong persalinan tidak
memiliki hubungan yang signikan dengan pemberian
ASI eksklusif. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa
persalinan yang ditolong oleh dokter atau bidan
memiliki peluang yang sama dalam memberikan ASI
eksklusif (Sugianti, 2015).
Responden pada penelitian ini sebagian besar
persalinannya ditolong oleh bidan karena melahirkan
secara normal. Responden yang proses persalinannya
dibantu oleh dokter kebanyakan karena melahirkan
secara sectio caesaria. Bayi yang dilahirkan oleh
ibu secara sectio caesaria biasanya memiliki masalah
sehingga bayi diberikan ke dokter anak untuk
mendapatkan perawatan yang dibutuhkan. Bayi akan
kehilangan kontak dengan ibunya dalam waktu yang
cukup lama hingga tenaga medis selesai melakukan
pemeriksaan. Kontak antara bayi dan ibu baru terjadi
setelah proses menjahit luka operasi selesai. Karena
takut bayi kedinginan karena suhu operasi yang dingin,
mmaka bayi segera dibedong dan dibawa ke ruang
bayi (Priscilla dan Elmatris, 2011). Kehilangan kontak
dengan ibu bayi dalam waktu lama menyebabkan
bayi harus diberi asupan prelakteal (asupan yang
diberikan sebelum ASI keluar) yang biasanya berupa
susu formula. Alasan lain yang ditemukan yakni ibu
tidak bisa memberikan ASI karena masih dibius atau
bayi tidak berada satu ruangan dengan ibu sehingga
ibu baru bisa memberi ASI setelah 2 atau 3 hari pasca
melahirkan.
Hari pertama atau 24 jam setelah melahirkan merupakan
saat yang sangat penting untuk dilakukannya inisiasi
menyusu dini yang dapat menentukan keberhasilan
menyusui selanjutnya. Penelitian yang dilakukan
oleh Dewi (2016) menemukan bahwa semua ibu
yang menjalani persalinan secara sectio caesaria
tidak memulai menyusui bayinya pada hari pertama
melahirkan. Respon pengeluaran prolaktin akan
sangat menurun jika pemberian ASI dimulai lebih dari
dua hari setelah post partum. Situasi tersebut terjadi
pada persalinan dengan sectio caesaria (Dewi, 2016).
Hubungan Inisiasi Menyusu Dini dengan Perilaku
Ibu dalam Pemberian ASI Eksklusif
Uji Chi Square dilakukan untuk mengetahui hubungan
antara Inisiasi Menyusu Dini, dengan perilaku ibu
dalam pemberian ASI eksklusif. Uji Chi Square
menunjukkan hasil yang signikan dengan p=0,001
PR 7,87 (2,31-26,80). Terdapat hubungan antara
penolong persalinan dengan perilaku pemberian
ASI eksklusif. Hasil tersebut juga menunjukkan
bahwa ibu yang melakukan inisiasi menyusu dini
7,87 kali lebih mungkin untuk memberikan ASI
eksklusif daripada ibu yang tidak melakukan inisiasi
menyusu dini. Hal ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan Azriani dan Wasnidar (2014) bahwa ada
hubungan yang signikan antara pelaksanaan IMD
dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. IMD
yakni pemberian kesempatan terjadinya kontak kulit
antara bayi yang baru lahir dengan ibunya minimal
selama satu jam atau sampai menyusu pertama selesai
dilakukan. Penelitian lain yang dilakukan oleh Priscilla
dan Elmatris (2011) menemukan bahwa terdapat
hubungan yang signikan antara pelaksanaan inisiasi
menyusu dini dengan pemberian ASI eksklusif. Ibu
yang melaksanakan inisiasi menyusu dini sebagian
besar memberikan ASI ekslusif.
Inisiasi Menyusu Dini akan meningkatkan
kepercayaan diri ibu untuk tetap memberikan ASI
hingga merasa pemberian makanan atau minuman
apapun tidak perlu diberikan untuk bayinya (Fikawati
dan Syaq, 2010). Priscilla dan Elmatris (2011)
juga menjelaskan bahwa menyusui dini memiliki
pengaruh terhadap ibu dalam memberikan ASI yakni
ASI eksklusif selama 6 bulan dan ASI lanjutan atau
pemberian ASI dengan makanan tambahan hingga
bayi berusia 2 tahun. IMD membuat ibu merasakan
sentuhan bayi ketika diletakkan di dada atau perutnya.
Ibu yang merasakan sentuhan tersebut dapat melihat
bayi yang lahir sehat dan selamat sehingga tidak
merasa stres dan memicu produksi hormon prolaktin.
Bayi akan memiliki daya hisap yang kuat dan lama
disusui ketika pernah melakukan inisiasi menyusu
dini. Hal tersebut membuat ibu memiliki ASI yang
lebih banyak dan bayi yang telah disusui akan tertidur
sehingga makanan atau minuman tambahan tidak
perlu diberikan ke bayi.
11
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 3 (2) 2018
Manfaat yang dimiliki IMD sangat besar bagi bayi
sehingga sangat penting dilakukan oleh ibu. Salah satu
upaya penurunan angka kematian bayi adalah melalui
IMD. Kegagalan menyusu dini akan jauh berkurang
karena bayi yang melakukan menyusu dini akan dapat
menyusu kemudian. IMD menjaga bayi bertahan
hidup secara alami dengan mendapat ko lostrum yang
sangat bermanfaat. Kemampuan bertahan hidup
yang alami akan hilang apabila bayi baru lahir tidak
mendapat kesem patan untuk melakukan inisiasi
menyusu dini. Bayi memiliki insting dan reek yang
sangat kuat sehingga sangat siap untuk mendapat
asupan gizi segera (Astuti, 2013).
Hubungan Dukungan Petugas Kesehatan dengan
Perilaku Ibu dalam Pemberian ASI Eksklusif
Tenaga kesehatan juga berdampak terhadap pemberian
ASI eksklusif. Dukungan petugas kesehatan sangat
penting dalam mendorong tercapainya pemberian
ASI eksklusif. Petugas kesehatan harus meyakinkan
serta menjelaskan secara bijaksana kepada ibu
tentang manfaat menyusui. Petugas kesehatan dapat
memberikan dukungan mulai dari masa kehamilan
yakni ketika ibu memeriksakan kehamilannya.
Hal yang dapat dilakukan yakni memberikan
pendidikan kesehatan dan membantu persiapan
diri. Pendidikan kesehatan dapat berupa informasi
mengenai ASI eksklusif. Persiapan diri dapat berupa
persiapan sik, persiapan mental serta persiapan
pelaksanaan IMD. Persiapan sik berupa gizi ibu dan
kebersihan payudara. Persiapan mental berupa upaya
meningkatkan keyakinan dan memotivasi ibu untuk
memberikan ASI secara eksklusif serta membantu
persiapan pelaksanaan IMD. Pendampingan
menyusui merupakan bentuk dukungan lain yang
dapat diberikan oleh petugas kesehatan (Azriani dan
Wasnidar, 2014).
Uji hubungan dukungan petugas kesehatan dengan
perilaku pemberian ASI eksklusif menunjukkan hasil
yang tidak signikan dengan p=1,000 PR 0,94 (0,36-
2,43). Hasil tersebut menunjukkan tidak terdapat
hubungan antara penolong persalinan dukungan
petugas kesehatan dengan perilaku pemberian ASI
eksklusif. Hal tersebut tidak sejalan dengan hasil
penelitian Astuti (2013) yang menemukan bahwa
ada hubungan yang bermakna antara peranan petugas
kesehatan dengan pemberian ASI Eksklusif. Ibu yang
mendapat dukungan dari petugas kesehatan memiliki
peluang untuk memberikan ASI eksklusif sebesar
9.45 kali lebih tinggi dibandingkan dengan ibu yang
tidak mendapat dukungan dari petugas kesehatan
(Astuti, 2013). Hasil penelitian ini juga tidak sesuai
dengan penelitian Hargono dan Kurniawati (2014)
yang menyatakan bahwa dukungan petugas kesehatan
sangat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif oleh
ibu. Edukasi dan bimbingan dari petugas kesehatan
tentang pemberian ASI eksklusif mendukung praktek
pemberian ASI Eksklusif.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, didapatkan
kesimpulan bahwa penolong persalinan memiliki
hubungan yang signikan dengan perilaku ibu dalam
pemberian ASI eksklusif dengan p=0,045. Inisisasi
Menyusu Dini memiliki hubungan yang signikan
dengan perilaku ibu dalam pemberian ASI eksklusif
dengan p=0,001 dan dukungan petugas kesehatan
tidak memiliki hubungan dengan perilaku ibu dalam
pemberian ASI eksklusif karena p=1,000.
SARAN
Diharapkan kepada seluruh petugas kesehatan untuk
membantu menyukseskan keberhasilan ASI ekslusif
mulai dari saat pemeriksaan kehamilan dengan
memberikan informasi seputar ASI dan Inisiasi
Menyusu Dini. Saat persalinan bagi bidan, dokter
maupun perawat untuk membantu menyukseskan
Inisiasi Menyusu Dini. Pasca persalinan dengan terus
meningkatkan motivasi dan memantau ibu untuk
memberikan ASI secara eksklusif.
DAFTAR PUSTAKA
Alanrisa, A., Salimo, H., and Pamungkasari,
E.P., (2017). Factors Associated with Exclusive
Breastfeeding: Application of PRECEDE-
PROCEED Model and eory of Planned
Behavior. Journal of Maternal and Child Health,
2(1), 42-53.
Astuti, A. (2013). Determinan Pemberian ASI
Eksklusif pada Ibu Menyusui. Jurnal Health
Quality, 4(1), 1-76.
Azriani, D. and Wasnidar. (2014). Keberhasilan
Pemberian ASI Eksklusif. Jurnal Health Quality,
4(2), 77-141.
Dewi, U.M. (2016). Faktor yang Mempengaruhi
Praktik Menyusui pada Ibu Post sectio Saecarea
di RSI A. Yani Surabaya. Jurnal ilmiah Kesehatan,
9(1), 43-47.
Dinkes Kediri. (2016). Prol Dinas kesehatan
kabupaten kediri Tahun 2016. Kediri: Dinas
12
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 3 (2) 2018
Kesehatan kabupaten Kediri.
Fikawati, S., and Syaq, A. (2009). Penyebab
Keberhasilan dan Kegagalan Praktik pemberian
ASI Eksklusif. Jurnal Kesehatan Masyarakat
Nasional, 4(3), 120-131.
Fikawati, S. And Syaq, A. (2010). Kajian
Implementasi dan Kebijakan Air Susu Ibu
Eksklusif dan Inisiasi Menyusu Dini di Indonesia.
Jurnal Makara Kesehatan, 14(1), 17-24.
Keputusan Menteri Kesehatan republik Indonesia
Nomor 450/MENKES/SK/IV/2004 tentang
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara Eksklusif
pada Bayi di Indonesia. Jakarta: Presiden Republik
Indonesia.
Hargono, R., and Kurniawati, D. (2014). Faktor
Determinan yang mempengaruhi Kegagalan
Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Usia 6-12
Bulan di Kelurahan Mulyorejo Wilayah Kerja
Puskesmas Mulyorejo Surabaya. Jurnal Promosi
dan Pendidikan Kesehatan Indonesia, 2(1), 15-27.
Nkala T.E., and Msuya, S.E. (2011). Prevalence and
Predictors of Exclusive Breastfeeding Among
Women in Kigoma Region, Western tanzania:
A Community Based Cross Sectional Study.
International Breastfeeding Journal, 6(17), 1-7.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor
33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu
Eksklusif. Jakarta: Presiden Republik Indonesia.
Priscilla, V., and Elmatris, Sy. (2011). Hubungan
Pelaksanaan Menyusu Dini dengan Pemberian
ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Tanah
Garam Kota Solok. Jurnal Kesehatan Masyarakat,
6(1), 16-23.
Raharjo, B.B. (2014). Prol Ibu dan Peran Bidan
dalam Praktik Inisiasi Menyusu Dini dan ASI
Eksklusif. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 10(1), 56-
63.
Roesli, U. (2008). Inisiasi Menyusu Dini Plus ASI
Eksklusif. Jakarta: Pustaka Bunda.
Santi, D.E. (2016). Perbedaan Efektitas ASI dan
Susu Formula Rendah Laktosa terhadap Durasi
Penyembuhan Gastro Enteritis Akut Pada
Anak Usia 2-12 Bulan. Jurnal Keperawatan
Muhammadiyah, 1(1), 79-85.
Sugianti, E. (2015). Determinan Pemberian ASI
Eksklusif di kabupaten Sidoarjo: Studi Kasus pada
Puskesmas Trosobo, Kecamatan Taman. Jurnal
Cakrawala, 9(1), 1-18.
World Health Organization. (2017). Breastfeeding.
Swiss: World Health Organization. Tersedia di:
http://www.who.int/topics/breastfeeding/en/. [27
Juni 2017].
World Health Organization. (2018). Exclusive
Breastfeeding. World Health Organization.
Tersedia di htttp://www.who.int/nutrition/topics/
exclusive breastfeeding/en/. [5 Mei 2018]
... Selain dukungan keluarga, dukungan dari petugas kesehatan seperti bidan sangat berpengaruh pada praktik pemberian ASI. Ibu yang mendapat dukungan tenaga kesehatan kurang mempunyai kemungkinan untuk tidak memberikan ASI eksklusif 10,5 kali lebih besar dari pada ibu yang mendapat dukungan tenaga kesehatan baik Windari et al., 2017;Sholikah, 2018;Permatasari and Sudiartini, 2020). Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk mengkaji hubungan dukungan keluarga dan dukungan petugas kesehatan dalam pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Hiang Kabupaten Kerinci. ...
Article
Full-text available
The coverage of exclusive breastfeeding in the working area of the Hiang Health Center is still low. Family support and support from health workers such as midwives are very influential in the breastfeeding practice. Therefore, this study aimed to examine the relationship between family support and support from health workers in exclusive breastfeeding. This research was an analytical observation with a cross-sectional approach which was carried out in the working area of the Hiang Health Center, Kerinci Regency, Jambi in April-May 2021. Data processing was carried out with univariate and bivariate analysis using the chi-square test. The results showed that lack of family support, especially in-laws was 4,07 times at risk (95% CI: 1,81-9,12) and lack of support from health workers was 3,46 times at risk (95% CI: 1,50-7,96). These two factors were inhibiting factors in exclusive breastfeeding. Health workers need to improve breastfeeding education and counseling services and involve husbands and in-laws in these activities so that they will support mothers in the practice of exclusive breastfeeding.
Research
Full-text available
ANALISIS KEBIJAKAN DAN IMPLEMENTASI PROGRAM INISIASI MENYUSU DINI (IMD) DI INDONESIA
Article
This research aims to identify factors that can effect the behavior of mothers during exclusive breastfeeding for infants aged 0-6 months in Malei Community Health Center in Poso. The design of this research is observational analytic with Cross Sectional design. The sample of 82 respondents, who were the total of population, consisted of mothers who had babies aged 6-12 months. Data collection tool was questionnaires and techniques of data analysis were univariate data and bivariate data. The results showed age factors (p = 0.158), education (p = 0.360) and employment (p = 0.543), did not have a meaningful relationship on exclusive breastfeeding behavior. While the duration of breastfeeding factors (p = 0.007), family support (p = 0.005) and knowledge (p = 0.005), have a significant relationship with exclusive breastfeeding behavior in Malei Community Health Center, Poso. Conclusions, the duration of breastfeeding factors, family support and knowledge, have a relationship towards mother's exclusive breastfeeding behavior in Malei Community Health Center, Poso Regency. Thus, this study suggests to increase family support and duration of breastfeeding for each mother and providing knowledge about exclusive breastfeeding for antenatal activities and postnatal lactation support, both at the hospital and at the community health center up to six months after giving birth.Keywords: Duration of breastfeeding, Family support, knowledge, Exclusive breastfeeding
Article
Full-text available
Target cakupan ASI eksklusif oleh Depkes RI sebesar 80% masih sulit dilaksanakan. Berbagai studi menunjukkan cakupan ASI eksklusif di Indonesia masih sangat rendah. Ada berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan ASI eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk menggali berba-gai faktor predisposisi, pemungkin, dan pendorong yang berhubungan dengan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan ASI eksklusif di Puskesmas Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Disain studi adalah studi kualitatif dengan 14 informan yaitu ibu bayi yang berusia >6-24 bulan yang dibagi berdasarkan keberhasilan pelaksanaan ASI eksklusifnya. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dilakukan triangulasi sumber data mencakup bidan puskesmas dan suami serta triangulasi analisis oleh pakar. Pendidikan, pengetahuan, dan pengalaman ibu adalah faktor predisposisi yang berpengaruh positif terhadap keberhasilan ASI eksklusif, sedangkan IMD adalah faktor pemungkin yang kuat terhadap keberhasilan ASI eksklusif. Dari segi faktor pendorong, dukungan tenaga kesehatan penolong persalinan paling nyata pengaruhnya dalam keberhasilan pelaksanaan ASI eksklusif. Di sisi lain, iklan susu formula di media massa ternyata mempengaruhi keberhasilan ASI eksklusif terutama pada ibu yang berpendidikan rendah. Disarankan untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang pelaksanaan ASI eksklusif khususnya pada saat antenatal care dan bukannya setelah persalinan. Perlu ditegakkan aturan ketat ik-lan susu formula baik di media massa maupun kampanye terselubung melalui tenaga kesehatan penolong persalinan.Kata kunci : ASI eksklusif, pengetahuan ibu, inisiasi menyusu diniAbstractCoverage of exclusive breastfeeding (EBF) was targeted by Ministry of Health RI to reach 80%. The target is very difficult to achieve. Studies showed that EBF rate in Indonesia are very low. There are various factors affecting the success or failure of EBF. This study aims at digging information on predisposing, enabling, and reinforcing factors associated with success of EBF in Jagakarsa community health center, South Jakarta. Design of the study is qualitative with 14 informants that is mother with infant age >6-24 months and divided based on the success of EBF implementation. Data was collected through in-depth in-terview and was triangulated based on data sources including midwives and husbands as well as analysis triangulation by expert. Education, knowledge, and experience are predisposing factors that influence the success of EBF, while early breastfeeding initiation is a strong enabling factor, and support from mid-wife acts as a strong reinforcing factor. The study also found that advertisement of formulated milk was very successful in influencing mother’s success in EBF especially for those with low education. It is suggested to increase mother’s knowledge about EBF during antenatal care and not after the delivery. Legal aspect and rules should be implemented in a stricter way and to cover both mass-media advertisement and hidden campaign through health personnel. Key words : Exclusive breastfeeding, mother’s knowledge, early breastfeeding initiation
Article
Full-text available
ABSTRACT: Exclusive breastfeeding (EBF) for the first six months of infants' lives is a cost effective intervention in saving children's lives and can avert 13 - 15% of the 9 million deaths of children under 5 years old in resource poor settings. However, EBF rates have been shown to be low in resource poor settings, ranging between 20 and 40%. In Tanzania, the prevalence of EBF among infants under 6 months is 41%, with limited information on predictors of EBF. The aim of the study was to determine prevalence of EBF and its predictors in Kigoma Municipality, Western Tanzania. A cross-sectional study was conducted in March to May 2010 among 402 consenting women, with infants aged 6 to 12 months, from randomly selected households. A questionnaire was used to collect information on demographic characteristics, knowledge of EBF, infant feeding practices, and on HIV status. The prevalence of EBF among women in Kigoma Municipality was 58%. Knowledge of EBF was relatively higher (86%) compared to the practice. In the multivariable analysis, women with adequate knowledge of EBF (AOR 5.4), women who delivered at health facilities (AOR 3.0) and women who had no problems related to breasts, like engorgement/cracked nipples (AOR 6.6) were more likely to exclusively breastfeed compared to others. Prevalence of EBF in Kigoma municipality was slightly higher than the national figure of 41%, however it was way below the EBF prevalence of 90% recommended by the WHO. Strategies that target improving knowledge and skills for lactation management among women, as well as strategies to improve health facility delivery, may help to improve EBF in this setting.
Article
Full-text available
Study on Policy and Implementation of Exclusive and Early Initiation of Breastfeeding in Indonesia. In Indonesia, the Ministry of Health has set an Exclusive Breast Feeding [EBF] target of 80%, which is considered asunrealistic, especially where the current trend of EBF is showing a decline. The aim of this paper is to review the implementation and the policy of EBF and Early Initiation of breastfeeding (EI) in Indonesia based on existing studies. The policy, as stated in Kepmenkes No. 237/1997, PP No. 69/1999, and Kepmenkes No. 450/2004, was analysed using content, context, process and actor models, and triangulated by an advocacy coalition framework. Review on implementation shows that EBF practice in Indonesia is still very low and midwives have not been facilitating EI optimally. Policies on EBF are not complete and not comprehensive. EI has not been included explicitly and several aspects of policy content should have been updated. The advocacy coalition framework analysis confirms the findings of earlier analysis by emphasizing weaknesses in the external system as well as policy sub-system in the development of EBF policy. It is suggested to update and renew the existing EBF policy as to be more relevant in terms of content, context, process, and actor. An EBF policy should always include an Early Initiation component. The new policy should also include sanction, reward, and monitoring and evaluation to strengthen the implementation of the policy in community.Keywords: early initiation, exclusive breastfeeding, policy
Faktor Determinan yang mempengaruhi Kegagalan Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Usia
  • R Hargono
  • D Kurniawati
Hargono, R., and Kurniawati, D. (2014). Faktor Determinan yang mempengaruhi Kegagalan Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Usia 6-12
Hubungan Pelaksanaan Menyusu Dini dengan Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Tanah Garam Kota Solok
  • V Priscilla
  • Elmatris
  • Sy
Priscilla, V., and Elmatris, Sy. (2011). Hubungan Pelaksanaan Menyusu Dini dengan Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Tanah Garam Kota Solok. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 6(1), 16-23.
Profil Ibu dan Peran Bidan dalam Praktik Inisiasi Menyusu Dini dan ASI Eksklusif
  • B B Raharjo
Raharjo, B.B. (2014). Profil Ibu dan Peran Bidan dalam Praktik Inisiasi Menyusu Dini dan ASI Eksklusif. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 10(1), 56-63.
Inisiasi Menyusu Dini Plus ASI Eksklusif
  • U Roesli
Roesli, U. (2008). Inisiasi Menyusu Dini Plus ASI Eksklusif. Jakarta: Pustaka Bunda.
Perbedaan Efektifitas ASI dan Susu Formula Rendah Laktosa terhadap Durasi Penyembuhan Gastro Enteritis Akut Pada Anak Usia 2-12 Bulan
  • D E Santi
Santi, D.E. (2016). Perbedaan Efektifitas ASI dan Susu Formula Rendah Laktosa terhadap Durasi Penyembuhan Gastro Enteritis Akut Pada Anak Usia 2-12 Bulan. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah, 1(1), 79-85.
Determinan Pemberian ASI Eksklusif di kabupaten Sidoarjo: Studi Kasus pada Puskesmas Trosobo
  • E Sugianti
Sugianti, E. (2015). Determinan Pemberian ASI Eksklusif di kabupaten Sidoarjo: Studi Kasus pada Puskesmas Trosobo, Kecamatan Taman. Jurnal Cakrawala, 9(1), 1-18.
Exclusive Breastfeeding. World Health Organization
World Health Organization. (2018). Exclusive Breastfeeding. World Health Organization. Tersedia di htttp://www.who.int/nutrition/topics/ exclusive breastfeeding/en/. [5 Mei 2018]