Available via license: CC BY-SA
Content may be subject to copyright.
Jurnal Akuntabilitas Manajemen Pendidikan
Volume 6, No 2, September 2018 (183-192)
Online: http://journal.uny.ac.id/index.php/jamp
Jurnal Akuntabilitas Manajemen Pendidikan
ISSN 2337-7895 (print) ISSN 2461-0550 (online)
PELAKSANAAN TUGAS DAN FUNGSI KEPALA SEKOLAH
PENDIDIKAN MENENGAH NEGERI
Hendrikus Nai 1*, Wiwik Wijayanti 2
1SMP Negeri 2 Tanah Merah Boven Digoel-Papua
2Universitas Negeri Yogyakarta
1Jl. Van Kan WET, Sokanggo, Mandobo, Boven Digoel, Prov. Papua, 99663, Indonesia
1Jl. Colombo No. 1, Depok, Sleman 55281, Yogyakarta, Indonesia
* Corresponding Author. Email: hendrikusnai@gmail.com
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan tugas dan fungsi kepala sekolah
dalam hal pengarahan, pengambilan keputusan, dan pendelegasian wewenang serta
pengembangan sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis
fenomenologi.Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan
studi dokumen. Analisis data yang digunakan adalah model analisis interaktif Milles &
Huberman untuk mendeskripsikan dan menganalisis empat aspek pelaksanaan tugas dan
fungsi kepala sekolah yang dijalankan pada kedua sekolah tersebut. Penelitian ini
menghasilkan empat temuan utama. Pertama,pengarahan dan pemberian motivasi oleh kepala
sekolah pada umumnya dilakukan pada saat upacara bendera dan rapat bersama dewan guru.
Kedua, pengambilan keputusan oleh kepala sekolah dilakukan melalui rapat dewan guru dan
karyawan sekolah. Ketiga, Pendelegasian wewenang kepala sekolah menengah negeri di
Tanah Merah Kabupaten Boven Digoel Papua dilakukan secara formal, non formal dan
pendelegasian otomatis.. Keempat, program pengembangan sekolah belum dilakukan secara
maksimal oleh kepala sekolah.
Kata kunci: tugas dan fungsi, kepala sekolah, sekolah menengah negeri
THE IMPLEMENTATION OF DUTIES AND FUNCTIONS
OF STATE HIGH SCHOOL PRINCIPALS
Abstract
The purpose of this study was to determine the school principal implementation of duties and functions:
directing done by the principal, the decision made by the principal, the delegation of authority made by
the principal, and the development of schools. This was a qualitative study using phenomenology
approach.. Data collection technique used observation, interview and document study. Analysis of the
data used was an interactive model Miles & Huberman to describe and analyze four aspects of leadership
that run on two schools. This research results in four major findings. First, guidance and motivation by
principals are generally performed at a flag raising ceremony and meeting with the teachers. Second,
the decision made by the school’s principal was done through meetings by teachers and school
employees. Third, the delegation of authority from school principal in the state high schools in Tanah
Merah District Digoel Papua is done formally, non formally and automatically. Fourth, school
development has not been done maximally yet by the school’s principal.
Keywords: Duties and function, school principal, high school
Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.21831/amp.v6i2.10182
184 − Jurnal Akuntabilitas Manajemen Pendidikan
Volume 6, No 2, September 2018
Pendahuluan
Dalam UUD 1945 pasal 30 ayat 1
menegaskan (Republik Indonesia, 1945)
“Setiap warga negara berhak mendapatkan
pendidikan” Dengan kata lain, pendidikan
diselenggarakan tanpa membeda-bedakan
suatu golongan atau kelompok baik di dae-
rah perkotaan maupun di daerah pedesaan,
baik bagi golongan kaya maupun dari go-
longan tidak mampu dan dari golongan
lainnya. Mengingat pendidikan diselengga-
rakan dengan menggunakan prinsip ber-
keadilan, demokratis, dan dilaksanakan se-
cara merata di seluruh nusantara. Untuk da-
pat menjamin terlaksananya prinsip-prinsip
tersebut, seorang kepala sekolah harus be-
nar-benar memahami tugas pokok dan
fungsinya di sekolah. Perubahan-perubah-
an kebijakan di bidang pendidikan harus
mudah diakses di daerah-daerah terpencil
seperti di pedalaman-pedalaman Papua, un-
tuk menjamin pemerataan kualitas pendi-
dikan. Untuk itu, kita bisa membayangkan
untuk menjadi kepala sekolah di daerah
yang serba sulit dibutuhkan ketahanan men-
tal, daya juang dan semangat pengabdian
yang tinggi. Kemampuan menjalankan tu-
gas dan fungsi kepala sekolah yang optimal
di daerah-daerah tersebut tentunya tidak
semudah membalikkan telapak tangan. Pa-
da tahun 2004 pemerintah daerah kabupa-
ten Boven Digoel berani mendirikan seko-
lah untuk pendidikan menengah yakni
SMA Negeri 1 Tanah Merah dan SMK Ne-
geri 1 Tanah Merah. Pendirian kedua seko-
lah tersebut mendapat animo yang begitu
besar dari masyarakat sampai saat ini,
sehingga perlu dijamin kualitasnya dengan
menempatkan seorang kepala sekolah yang
berkompeten dalam menjalankan tugas dan
fungsinya dengan baik.
Kenyataan bahwa masih ada bebera-
pa daerah-daerah terpencil di Papua, terma-
suk di Tanah Merah Kabupaten Boven Di-
goel yang kurang optimal dalam menye-
lenggarakan pendidikan tidak dapat di-
pungkiri. Hal ini perlu menjadi perhatian
serius jika kita ingin menyelenggarakan
pendidikan yang setara dengan pendidikan
di negara lain. Mengingat Indonesia meru-
pakan negara kepulauan yang setiap dae-
rahnya memiliki kondisi geografis yang
berbeda-beda. Jadi, tidak heran apabila di
suatu daerah dapat menyelenggarakan pen-
didikan yang berkualitas dengan memiliki
komponen-komponen pendidik yang me-
nunjang, namun di daerah lainnya masih
kurang optimal dalam memanfaatkan kom-
ponen pendidikan yang dimilikinya untuk
menunjang penyelenggaraan pendidikan
yang berkualitas. Tidak dapat dipungkiri,
letak geografis dan sumber daya yang ter-
dapat di daerah tersebut merupakan faktor
yang mempengaruhi kualitas pendidikan
yang diselenggarakan.
Permasalahan utama pelayanan pen-
didikan pada dasarnya berkaitan dengan
peningkatan efektivitas kepemimpinan ke-
pala sekolah. Kepemimpinan kepala seko-
lah sangat tergantung pada berbagai aspek,
yaitu lingkungannya, sarana prasarananya,
bagaimana pola penyelenggaraannya (tata
laksana), dukungan sumber daya manusia,
dan kelembagaan serta adanya konsep-kon-
sep yang akurat dan jelas. Hal tersebut da-
pat dilihat melalui implementasi pengelola-
an manajemen oleh seorang kepala sekolah
di sekolah yang dipimpinnya.
Berdasarkan permasalahan di atas,
maka peneliti tertarik melakukan penelitian
terkait dengan Tugas dan fungsi kepala se-
kolah menengah negeri di Tanah Merah
Kabupaten Boven Digoel, Papua. Penelitian
ini fokus pada tugas fungsi kepala sekolah
dalam memberikan pengarahan, mengam-
bil keputusan, mendelegasikan wewenang,
dan mengembangkan sekolahnya.
Berkaitan dengan fungsi kepemim-
pinan kepala sekolah, Leithwood & Duke
(Chen, 2013, p. 303) mendefinisikan sebagai
berikut: (a) Instructional influencing teachers
in ways that will impact students’ learning; (b)
transformational increasing the commitment
and capacity of staff; (c) moral appealing to
others by appealing to notions of right and
wrong; (d) Participative (involving other mem-
bers of the school community beyond the Prin-
cipal; (e) Managerial (operating the school effi-
ciently; (f) Contingent adapting behavior to fit
the situation.
Kepala sekolah sebagai pimpinan di
sekolah memiliki tanggung jawab penting
185
Pelaksanaan Tugas dan Fungsi Kepala Sekolah ... −
Hendrikus Nai, Wiwik Wijayanti
Jurnal Akuntabilitas Manajemen Pendidikan
Volume 6, No 2, September 2018
dalam usahanya mewujudkan visi, misi,
dan tujuan sekolah. Oleh karena itu, menu-
rut fungsinya, seorang pemimpin yakni ke-
pala sekolah memiliki tugas-tugas penting.
Berkaitan dengan fungsi seorang ke-
pala sekolah sebagai konselor, Wahab (2008,
p. 95) mengatakan sebagai berikut, “Setiap
dan semua pemimpin harus siap dan ber-
sedia memberikan kesempatan kepada ang-
gota organisasi untuk berkonsultasi dalam
mengatasi/menyelesaikan masalah-masa-
lah yang berhubungan dengan pekerjaan.
Disamping itu juga tidak mustahil berkon-
sultasi mengenai masalah-masalah pribadi
yang berhubungan langsung atau tidak
langsung dengan pekerjaan”.
Berdasarkan pendapat di atas maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa pada ba-
gian fungsi sebagai konselor, kepala seko-
lah hendaknya menjadi rekan kerja dan
teman bagi guru agar dapat menjalin komu-
nikasi. Komunikasi yang terjalin baik akan
semakin membuka kesempatan untuk sa-
ling terbuka terhadap berbagai permasalah-
an yang dihadapi untuk dicari solusi ter-
hadap permasalahan tersebut.
Kepala sekolah sebagai instruktur
hendaknya mempunyai peran sebagai guru
yang bijaksana, yang memungkinkan setiap
bawahan semakin lama semakin profesio-
nal dalam melaksanakan tugasnya. Seorang
bawahan tentu dalam proses melaksanakan
tugas tidak terlepas dari kesalahan. Oleh ka-
rena itu, kepala sekolah penting memposisi-
kan diri sebagai instruktur untuk senantiasa
mengarahkan guru dan staf dalam melak-
sanakan tugas di sekolah.
Kepala sekolah hendaknya memiliki
kemampuan yang profesional khususnya
dalam mengelola guru maupun staf di se-
kolah. Berkaitan dengan kemampuan pro-
fesional yang hendaknya dimiliki oleh se-
orang kepala sekolah, Danim (2006, p. 218)
mengatakan sebagai berikut, “Kemampuan
yang harus dimiliki pemimpin pendidikan
antara lain membangkitkan inspirasi guru,
menciptakan kerjasama antarguru, mencip-
takan kerjasama antarstaf, mengembangkan
program supervise, mengelola kegiatan
pembelajaran, mengatur program pengem-
bangan, dan melaksanakan kegiatan lain
yang erat kaitannya dengan pencapaian
tujuan pendidikan.
Kepala sekolah memiliki peran pen-
ting dalam kegiatan rapat di sekolah. Ke-
pala sekolah memposisikan diri sebagai
pengarah, membantu guru sampai pada
pengambilan keputusan yang dapat dipa-
hami oleh setiap orang dan dapat diterima
oleh seluruh bawahannya. Kegiatan rapat
yang dilakukan di sekolah khususnya tentu
tidak terlepas dari proses kepemimpinan
kepala sekolah. Oleh karena itu, kepala se-
kolah memiliki peran penting dalam me-
mimpin rapat, mendengarkan aspirasi para
guru, dan membantu mengatasi permasa-
lahan-permasalahan yang dibahass di da-
lam rapat.
Berkaitan dengan tugas kepala seko-
lah sebagai pemimpin rapat, Stoner (Wah-
josumidjo, 1999, pp. 41–42) mengatakan dua
fungsi pokok kepala sekolah, yakni: (1) Task
related atau problem solving function, dalam
fungsi ini pemimpin memberikan saran da-
lam pemecahan masalah serta memberikan
sumbangan informasi dan pendapat; (2)
Group maintenance function atau social func-
tion meliputi: pemimpin membantu kelom-
pok beroperasi lebih lancer, pemimpin
memberikan persetujuan atau melengkapi
anggota kelompok lain, misalnya menjem-
batani kelompok yang sedang berselisih
pendapat, memperhatikan diskusi-diskusi
kelompok. Seorang pemimpin yang efektif
adalah seorang pemimpin yang mampu
menampilkan kedua fungsi tersebut de-
ngan jelas.
Kepala sekolah juga memiliki tugas
yang sangat penting dalam pengambilan
keputusan, karena keberhasilan seorang pe-
mimpin sangat ditentukan oleh keterampil-
an dalam pengambilan keputusan. Proses
pengambilan keputusan tersebut akan ber-
dampak luas terhadap mekanisme organi-
sasi yang dipimpinnya. Berkaitan dengan
pengambilan keputusan, Usman (2014, p.
441) mengatakan bahwa “Proses peng-
ambilan keputusan meliputi tiga kegiatan,
yaitu (1) kegiatan yang menyangkut pe-
ngenalan, penentuan, dan diagnosis masa-
lah; (2) kegiatan yang menyangkut pengem-
bangan alternatif pemecahan masalah; (3)
186 − Jurnal Akuntabilitas Manajemen Pendidikan
Volume 6, No 2, September 2018
kegiatan yang menyangkut evaluasi dan
memilih pemecahan terbaik.
Pendapat tersebut di atas didukung
pula oleh pendapat Wahab (2008, p. 92)
yang mengatakan bahwa “dalam fungsi
pengambilan keputusan sebagai pelaksana-
an strategi kepemimpinan, agar lebih akurat
dalam kepemimpinan untuk mengefektif-
kan organisasi, seorang pemimpin perlu
mengikutsertakan anggota organisasi, se-
suai posisi dan tanggung jawabnya masing-
masing”.
Kepala sekolah tidak dapat menger-
jakan sendiri seluruh pekerjaan di sekolah,
oleh karena itu kepala sekolah yang baik
tentulah mendelegasikan sebagian tugas
dan wewenang kepada bawahannya. Pen-
delegasian tugas dan wewenang ini ber-
tujuan agar jalannya organisasi tidak meng-
alami kendala, dan terhindar dari unsur-
unsur penyalahgunaan wewenang. Berda-
sarkan pengertian tentang arti kepemim-
pinan di atas dapat diambil pengertian se-
cara komprehensif yaitu pemimpin adalah
pribadi yang memiliki kecakapan khusus
atau superioritas tertentu, sehingga pemim-
pin memiliki kewibawaan dan kekuasaan
untuk menggerakkan orang lain, serta pe-
mimpin harus berpengetahuan yang luas,
dan bervisi jauh ke depan serta memenuhi
syarat-syarat tertentu dan mampu mem-
pengaruhi kegiatan-kegiatan anggota ke-
lompoknya.
Definisi tentang kepemimpinan men-
jadi hal yang penting untuk dikaji lebihj
dalam, karena kajian tentang kepemimpin-
an bukan merupakan pembahasan baru.
Oleh karena itu, penelitian ini akan me-
nyajikan beberapa definisi kepemimpinan
dari berbagai literatur yang diperoleh pene-
liti diantaranya (Usman, 2012, p. 3): menga-
takan, “kepemimpinan adalah proses mem-
pengaruhi orang lain agar berperilaku se-
perti yang diharapkannya untuk mencapai
tujuan akhir organisasi”. Lebih lanjut juga
disampaikan oleh Bush (Usman, 2014, p.
311) mengatakan, “Kepemimpinan adalah
tindakan-tindakan mempengaruhi orang
lain untuk mencapai tujuan akhir yang di-
harapkan”. Kepemimpinan menurut Sharma
(Usman, 2014, p. 308) adalah: (1) tindakan-
tindakan yang mempengaruhi orang lain
untuk mencapai tujuan akhir yang diharap-
kan; (2) mempengaruhi masyarakat, ba-
wahan, institusi-institusi, dan siswa; (3)
bimbingan mewujudkan yang abstrak se-
perti visi dan sebagainya; (4) membujuk
bawahan untuk menyampaikan minatnya
Selznick (Wahjosumidjo, 2003, pp. 42–
47) mengatakan ada empat macam tugas
penting seorang pemimpin yaitu: (1) men-
definisikan misi dan peran organisasi (in-
volves the definiton of the institutional organi-
zational mission and role), (2) pengejawantah-
an tujuan organisasi (the institutional embo-
diment of purpose), (3) mempertahankan ke-
utuhan organisasi (to defend the organzation’s
integration), (4) mengendalikan konflik in-
ternal yang terjadi di dalam organisasi (the
ordering of internal conflict).
Fungsi utama pemimpin pendidikan
menurut Rosmiati dan Kurniady (Tim
Dosen Administrasi Pendidikan Universitas
Pendidikan Indonesia, 2013, p. 126) sebagai
berikut: (a) membantu terciptanya suasana
persaudaraan, kerjasama, dengan penuh
rasa kebebasan; (b) pemimpin membantu
kelompok untu mengorganisir diri yaitu
ikut serta dalam memberikan rangsangan
dan bantuan kepada kelompok dalam me-
netapkan dan menjelaskan tujuan, (c) Pe-
mimpin membantu kelompok dalam me-
netapkan prosedur kerja, yaitu membantu
kelompok dalam menganalisis situasi untuk
kemudian menetapkan prosedur mana
yang paling prktis dan efektif, Pemimpin
bertanggung jawab dalam mengambil ke-
putusan bersama dengan kelompok, (d) Pe-
mimpin memberi kesempatan kepada ke-
lompok untuk belajar dari pengalaman. Pe-
mimpin mempunyai tanggungjawab untuk
melatih kelompok menyadari proses dan isi
pekerjaan yang dilakukan dan berani meni-
lai hasilnya secara jujur dan objektif, (e)
Pemimpin bertanggung jawab dalam me-
ngembangkan dan mempertahankan eksis-
tensi organisasi.
Berdasarkan ketiga pendapat tentang
fungsi kepemimpinan tersebut, penulis me-
nyimpulkan bahwa fungsi kepemimpinan
adalah menciptakan struktur untuk penca-
paian tujuan, bertanggung jawab dalam
187
Pelaksanaan Tugas dan Fungsi Kepala Sekolah ... −
Hendrikus Nai, Wiwik Wijayanti
Jurnal Akuntabilitas Manajemen Pendidikan
Volume 6, No 2, September 2018
mengembangkan organisasi, mempertahan-
kan dan mengamankan integritas organi-
sasi, serta mendamaikan perbedaan yang
terjadi dalam kelompok menuju ke arah
kesepakatan bersama.
Prinsip-prinsip kepemimpinan abad
ke-21 Menurut Reinhartz & Beach (Usman,
2014, pp. 407-412) sebagai berikut: (1) Ke-
pemimpinan harus dapat dipercaya (cre-
dible), (2) Kepemimpinan harus mengguna-
kan kebenaran, (3) Kepemimpinan harus
menggunakan pengetahuan nilai inti ber-
sama, (4) Kepemimpinan harus mendengar-
kan seluruh suara guru, siswa, staf, orang
tua, dll, (5) Kepemimpinan harus meng-
hasilkan visi yang baik, (6) Kepemimpinan
harus berdasarkan data yang benar, (7) Ke-
pemimpinan harus berjalan dengan intro-
speksi dan refleksi, (8) Kepemimpinan harus
memberdayakan dirinya sendiri dan orang
lain, serta melibatkan orang lain dalam in-
formasi dan pengambilan keputusan, (9)
Kepemimpinan melibatkan pengidentifika-
sian dan perlakuan terhadap hambatan-
hambatan personal dan organisasional un-
tuk berubah.
Kepemimpinan kepala sekolah yang
efektif dimulai dari melaksanakan visi, misi
dan tujuan pendidikan. Ketiga hal tersebut
menjadi indicator efektivitas kepemimpin-
an kepala sekolah. Berdasarkan hal terse-
but, Mendels (2012, p. 55) mengatakan,
“Effective leadership begins with the develop-
ment of a schoolwide vision of commitment to
high standards and the success of all students.
The principal helps to spell out that vision and
get all others on board with it”. Pendapat ter-
sebut jelas menegaskan bahwa pentingnya
untuk mewujudkan visi, misi, dan tujuan
sekolah dengan strategi menempatkan se-
tiap sumber daya manusia, yakni guru dan
staf pada posisi yang sesuai dengan ke-
mampuan. Penyesuaian antara tugas dan
kompetensi yang dimiliki ini akan sangat
berpengaruh terhadap pelaksanaan kinerja.
Oleh karena itu, kepala sekolah diharapkan
bisa melihat potensi yang ada di sekolah
sebagai sumber daya manusia yang akan
menunjang keberhasilan pencapaian visi,
misi, dan tujuan sekolah.
Triana (2015, p. 171) dalam bukunya
Perilaku Organisasi menyatakan, “Kepala se-
kolah sebagai pimpinan lembaga pendidik-
an formal memiliki tugas dan tanggung
untuk mengelola segala sumber daya untuk
mencapai tujuan pendidikan”. Kepala se-
kolah merupakan salah satu komponen
pendidikan yang paling berperan dalam
meningkatkan kualitas pendidikan. Untuk
itu kepala sekolah harus mengetahui tugas-
tugas yang harus ia laksanakan. Adapun
tugas-tugas dari kepala sekolah seperti
yang dikemukakan Wahjosumidjo (2003, p.
97) adalah sebagai berikut. Kepala sekolah
bekerja dengan dan melalui orang lain. Ke-
pala sekolah bertanggung jawab dan mem-
pertanggungjawabkan. Kepala sekola ber-
tindak dan bertanggungjawab atas segala
tindakan yang dilakukan oleh bawahan.
Perbuatan yang dilakukan oleh para guru,
siswa, staf, dan orang tua siswa tidak dapat
dilepaskan dari tanggung jawab kepala
sekolah.
Hermino (2014, p. 128) menyatakan
bahwa Kepala sekolah dapat bertindak
sebagai konsultan bagi guru-guru, berusaha
meningkatkan kemampuan staff, melibat-
kan kelompok dalam mengambil keputus-
an, dan mampu melakukan perubahan
program pendidikan yang berdasarkan eva-
luasi dan perencanaan kelompoknya, serta
memberi kesempatan setiap orang untuk
berpartisipasi dalam program pengajaran.
Berkaitan dengan visi, Kaya (2015, p.
600) mengatakan, “Vision serves three impor-
tant functions by clarifying the general direction
of change: telling where to go, simplifying hun-
dreds or thousands of more detailed decisions,
and helping to quickly and efficiently coordi-
nates”. Lebih lanjut dalam sebuah organisasi
dibutuhkan adanya kerja sama yang baik.
Maka dari itu, Mensoor, Danial, Javad, et al.
(Kaya, 2015, p. 600) mengatakan, sebagai be-
rikut. Organizations cannot achieve competitive
advantage over others just by offering products
or delivering services in which we realize human
resource undoubtedly plays a vital role. That is
the reason why today many organizations are
paying great attention to employee engagement
and motivate employees to achieve organiza-
tional goals effectively.
188 − Jurnal Akuntabilitas Manajemen Pendidikan
Volume 6, No 2, September 2018
Berdasarkan pendapat di atas, maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa visi seko-
lah hanya akan terwujud apaila terciptanya
kerjasama yang baik di sekolah. Kerjasama
yang baik antara kepala sekolah dengan
bawahan, maupun antar bawahan. Dengan
demikian, Tujuan sekolah guna mewujud-
kan tujuan pendidikan nasional dapat ter-
selenggara melalui lembaga sekolah.
Metode Peneitian
Jenis penelitian ini adalah kualitatif
yang mengadopsi model Miles & Huber-
man (1994, p. 10). Penelitian dilakukan di
Tanah Merah Kabupaten Boven Digoel, Pa-
pua sebagai lokasi penelitiannya. Objek pe-
nelitiannya fokus pada sekolah menengah
negeri di daerah tersebut. Sekolah yang di-
maksud adalah SMA Negeri 1 Tanah Merah
dan SMK Negeri 1 Boven Digoel. Penelitian
dilakukan selama kurang lebih empat bu-
lan, mulai 08 Januari-26 April 2016.
Unit analisis yang digunakan dalam
penelitian ini adalah kelembagaan. Meng-
ingat penelitian ini difokuskan pada kepala
sekolah menengah negeri di Tanah Merah
Kabupaten Boven Digoel, Papua, maka se-
cara rinci unit analisisnya adalah pelaksana-
an tugas dan fungsi kepala sekolah pada 2
sekolah menengah negeri di daerah terse-
but. Kedua sekolah menengah negeri terse-
but terdiri dari SMA Negeri 1 Tanah Merah,
dan SMK N 1 Boven Digoel.
Sumber data utama dalam penelitian
ini adalah kata-kata dan tindakan kepala
sekolah menengah negeri di Tanah Merah
Kabupaten Boven Digoel, Papua. Data akan
dihimpun melalui observasi, wawancara,
dan studi pustaka yang terkait dengan pe-
laksanaan tugas dan fungsi kepala sekolah.
Selain itu, diperlukan juga data dari para
pendidik dan tenaga kependidikan sebagai
data tambahan yang mampu memberikan
gambaran tentang pelaksanaan tugas dan
fungsi kepala sekolah di sekolah menengah
negeri tersebut.
Pengukuran keabsahan data dilaku-
kan dengan trianggulasi yakni untuk mela-
kukan validasi terhadap data-data peneliti-
an yang telah didapatkan di lapangan.
Analisis data dilakukan dengan pro-
ses mencari dan menyusun secara sistema-
tis data yang diperoleh dari hasil wawan-
cara, catatan lapangan, dan bahan-bahan
lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan
temuannya dapat diinformasikan kepada
orang lain (Sugiyono, 2015, p. 334).
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Pengarahan
SMA Negeri 1 Tanah Merah
Fakta yang terjadi menunjukkan bah-
wa kegiatan pengarahan yang dilakukan
oleh kepala sekolah pada sekolah mene-
ngah negeri di Tanah Merah, Kabupaten
Boven Digoel-Papua dilakukan ketika rapat
maupun upacara bendera di sekolah. Peng-
arahan seharusnya diberikan untuk pening-
katan kualitas pembelajaran, disiplin siswa
dan perbaikan proses belajar mengajar da-
lam kelas. Oleh karena itu, kegiatan peng-
arahan ini sangat penting dilakukan. Akan
tetapi, kondisi yang terjadi adalah kegiatan
pengarahan yang dirasakan oleh guru yang
dilakukan oleh kepala sekolah masih sangat
kurang dan terlalu umum. Selain itu pula,
kegiatan evaluasi dan control yang seharus-
nya dilakukan, masih tidak dilakukan oleh
kepala sekolah.
SMK Negeri 1 Boven Digoel
Fenomena yang terjadi dalam kegiat-
an pengarahan berlangsung lebih baik
dibandingkan dengan SMA 1 Negeri Tanah
Merah. Kepala sekolah di Sekolah SMA Ne-
geri 1 Tanah Merah menanamkan penting-
nya pengarahan diberikan kepada guru,
staf dan siswa. Oleh karena itu, kepala se-
kolah senantiasa memberikan pengarahan,
tidak hanya bersifat formal dalam situasi
formal yakni rapat dan upacara, melainkan
pengarahan bersifat personal kepada guru
maupun siswa. Pengarahan yang diberikan
disertai juga dengan praktik nyata yang
diberikan oleh kepala sekolah. Dalam artian
bahwa kepala sekolah tidak hanya membe-
rikan perintah, melainkan juga melaksana-
kan secara langsung apa yang diperintah-
189
Pelaksanaan Tugas dan Fungsi Kepala Sekolah ... −
Hendrikus Nai, Wiwik Wijayanti
Jurnal Akuntabilitas Manajemen Pendidikan
Volume 6, No 2, September 2018
kan tersebut, sehingga dapat diikuti oleh
guru, staf dan juga siswa.
Fenomena mendukung pernyataan
Wahab (2008, p. 93) mengatakan bahwa
Setiap pemimpin harus memahami bahwa
di dalam posisi dan perannya secara implicit
terdapat kekuasaan dan/atau wewenang
dan tanggung jawab, yang harus dijalankan
secara efektif. Salah satu diantaranya ialah
kekuasaan dan/atau wewenang memerin-
tahkan anggotanya untuk melakukan sesu-
atu dalam melaksanakan tugas dan tang-
gung jawabnya sebagai anggota organisasi.
Pengambilan Keputusan
SMA Negeri 1 Tanah Merah
Kegiatan rapat yang dipimpin lang-
sung oleh kepala sekolah kemudian meng-
evaluasi berbagai kegiatan yang telah dilak-
sanakan serta menyampaikan rencana-ren-
cana kegiatan sekolah yang akan dilaksana-
kan untuk kedepannya. Laguerre (Bento &
Ribeiro, 2013, p. 122) mengatakan, “The
leaders know and defend their values and take
their decisions taking into consideration their
values. The led ones identify in its leader a high
level of self-conscience concerning the values,
beliefs, emotions, self-identity and abilities”.
Mendukung pernyataan di atas, lebih lanjut
diperkuat oleh Roux (Bento & Ribeiro, 2013,
p. 122) yang mengatakan bahwa The authen-
tic leaders act in agreement with their deep
values and personal convictions to construct the
credibility, the respect and the confidence of its
followers, stimulating diverse points of view and
the construction of networks making that the
followers recognize it as an authentic leader.
SMK Negeri 1 Boven Digoel
Pengambilan keputusan merupakan
suatu hal yang sangat penting bagi individu
maupun organisasi. Mengambil keputusan
kadang-kadang mudah tetapi lebih sering
sulit sekali. Kemudahan atau kesulitan
mengambil keputusan tergantung pada ba-
nyaknya alternatif yang tersedia. Semakin
banyak alternatif yang tersedia, kita akan
semakin sulit dalam mengambil keputusan.
Keputusan yang diambil memiliki tingkat
yang berbeda-beda. Ada keputusan yang
tidak terlalu berpengaruh terhadap organi-
sasi, tetapi ada keputusan yang dapat me-
nentukan kelangsungan hidup organisasi.
Oleh karena itu, hendaknya mengambil ke-
putusan dengan hati-hati dan bijaksana.
Berbeda dengan hasil penelitian di
SMA Negeri 1 Tanah Merah. SMK Negeri 1
Boven Digoel memiliki manajemen kepe-
mimpinan yang lebih baik khususnya da-
lam hal pengambilan keputusan rapat.
Kepala sekolah menjadi pemimpin rapat
mengambil keputusan tidak sepihak. Ke-
pala sekolah berkolaborasi dengan guru,
mendengarkan gagasan guru dan kemu-
dian mengambil keputusan berdasarkan
kesepakatan bersama
Pendelegasian Wewenang
SMA Negeri 1 Tanah Merah
Fenomena yang terjadi dalam hal
pendelegasian wewenang sudah berjalan
sebagaimana yang harus dilakukan oleh
kepala sekolah. Akan tetapi, transparansi
dalam pendelegasian wewenang ini belum
terlihat dengan baik di sekolah tersebut.
Dikatakan belum terlihat oleh karena, pen-
delegasian wewenang masih bersifat lisan
tanpa ada penugasan tertulis yang diketa-
hui oleh seluruh guru maupun staf di seko-
lah. Selain itu pula, pendelegasian wewe-
nang tersebut masih tidak merata dilakukan
oleh kepala sekolah. Hal tersebut menye-
babkan sumber daya manusia juga tidak
berkembang baik. Dikatakan tidak berkem-
bang baik oleh karena tidak adanya kesem-
patan yang diberikan kepada guru untuk
memegang tanggung jawab tertentu yang
diberikan oleh kepala sekolah.
SMK Negeri 1 Boven Digoel
Pengorganisasian ini tidak hanya se-
kedar pendelegasian beban tugas dalam
mengajar kepada guru seperti yang selama
ini dilaksanakan di sekolah-sekolah yang
kurang maju.Pengorganisasian tidak hanya
sekedar membagi kedudukan tanpa jelas
tolak ukur keberhasilan pelaksanaan dari
tugas yang telah didelegasikan. Pengorga-
nisasian meliputi semua tugas yang ada dan
dalam hal ini dimulai dari penafsiran yang
sama atas tujuan yang hendak dicapai se-
190 − Jurnal Akuntabilitas Manajemen Pendidikan
Volume 6, No 2, September 2018
hingga membantu memformulasikannya
kedalam berbagai bidang dan menjelaskan
siapa yang bertanggungjawab dalam pelak-
sanaannya. Selama ini pengorganisasian di-
terjemahkan dalam pengertian yang sangat
sederhana dan tidak substansial. Pengorga-
nisasian hanya sekedar membagi jam meng-
ajar,memilih wali kelas,wakil Kepala seko-
lah tanpa diikuti oleh fungsi-fungsi lainnya,
sehingga masing-masing pelaksana yang
ditunjuk tidak memiliki program yang tepat
guna dan berwawasan luas ke depannya.
Program Pengembangan Sekolah yang Me-
liputi Sumber Daya Manusia, Sarana dan
Prasarana, dan Program Pembelajaran
SMA Negeri Tanah Merah
Pendidikan adalah usaha sadar yang
dengan sengaja dirancangkan untuk men-
capai tujuan yang telah ditetapkan. Pendi-
dikan bertujuan untuk meningkatkan kuali-
tas sumber daya manusia. Salah satu usaha
untuk meningkatkan kualitas sumber daya
manusia ialah melalui proses pembelajaran
di sekolah.
Dalam usaha meningkatkan kualitas
sumber daya pendidikan, guru merupakan
komponen sumber daya manusia yang ha-
rus dibina dan dikembangkan terus-mene-
rus. Pembentukan profesi guru dilaksana-
kan melalui program pendidikan prajabat-
an maupun program dalam jabatan. Tidak
semua guru yang dididik di lembaga pen-
didikan terlatih dengan baik dan memenuhi
kualifikasi. Potensi sumber daya guru itu
perlu terus bertumbuh dan berkembang
agar dapat melakukan fungsinya secara po-
tensial. Selain itu pengaruh perubahan yang
serba cepat mendorong guru-guru untuk
terus-menerus belajar menyesuaikan diri
dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi serta mobilitas masyarakat.
SMK Negeri 1 Boven Digoel
Fenomena yang ada dalam hal pe-
ngembangan sumber daya manusia yakni
guru sudah berjalan dengan baik. Pemera-
taan kesempatan untuk mengikuti pelatih-
an juga dilakukan oleh kepala sekolah.
Selain itu, kepala sekolah juga memantau
perkembangan guru untuk kemudian dila-
kukan evaluasi guna peningkatan berkelan-
jutan. Berkaitan dengan hal sarana dan pra-
sarana, kepala sekolah juga terampil dalam
menjalin kerjasama dengan pihak luar guna
membantu menyediakan sarana dan pra-
sarana yang akan menunjang proses belajar
mengajar. Masalah pembiayaan di sekolah
juga memiliki transparansi yang kemudian
membuat para guru dapat bekerja dengan
baik tanpa ada rasa curiga maupun ketidak-
percayaan dari guru kepada pengelolaan
keuangan dari kepala sekolah.
Simpulan
Berdasarkan deskripsi dan dan ana-
lisis data hasil wawancara, hasil pengamat-
an dan studi dokumen dapat disimpulkan
bahwa pelaksanaan tugas dan fungsi kepala
sekolah menengah negeri di Tanah Merah
Kabupaten Boven Digoel Papua sebagai
berikut.
Pengarahan dan pemberian motivasi
oleh kepala sekolah pada umumnya dilaku-
kan pada saat upacara bendera dan rapat
bersama dewan guru. Perbedaanya terletak
pada ketegasan kepala sekolah dalam me-
ngendalikan guru-guru dan karyawannya.
Pengambilan keputusan oleh kepala
sekolah dilakukan melalui rapat dewan gu-
ru dan karyawan sekolah. Perbedaannya
terletak pada fungsi kontrol dan evaluasi
yang dilakukan oleh kepala sekolah.
Pendelegasian wewenang kepala se-
kolah sekolah menengah negeri di Tanah
Merah Kabupaten Boven Digoel Papua di-
lakukan secara formal, nonformal dan pen-
delegasian otomatis. Pendelegasian formal
dilakukan melalui keputusan kepala seko-
lah dengan surat pendelegasian wewenang
secara resmi. Pendelegasian nonformal di-
lakukan secara lisan, sedangkan pendelega-
sian otomatis adalah adalah kesepakatan
bahwa jika kepala sekolah berhalangan oto-
matis wakil kepala sekolah urusan kuriku-
lum mengambil alih tugas kepala sekolah.
Program pengembangan sekolah be-
lum dilakukan secara maksimal oleh kepala
sekolah. Sarana dan prasarana sekolah
menengah negeri di Tanah Merah Boven
191
Pelaksanaan Tugas dan Fungsi Kepala Sekolah ... −
Hendrikus Nai, Wiwik Wijayanti
Jurnal Akuntabilitas Manajemen Pendidikan
Volume 6, No 2, September 2018
Digoel Papua memenuhi standar dan cukup
memadai dalam mendukung proses pem-
belajaran di sekolah. Namun terbatasnya
kualitas sumber daya guru dan karyawan di
sekolah menyebabkan tidak optimalnya
pemanfaatan sarana dan prasarana tersebut
dalam proses pembelajaran.
Kepala sekolah menengah negeri di
semua tingkatan di Tanah Merah Boven
Digoel Papua selalu melakukan program
perbaikan pembelajaran di sekolah setiap
awal semester dan awal tahun pelajaran.
Namun jarangnya supervisi yang dilakukan
menyebabkan program ini tidak berjalan
optimal di sekolah. Pembinaan dan pengem-
bangan staf atas inisiatif kepala sekolah
tidak pernah dilakukan. Hal ini menyebab-
kan rendahnya kualitas sumber daya ma-
nusia di sekolah.
Saran-saran yang dapat disampaikan
pada penelitian ini adalah sebagai berikut.
Untuk kepala sekolah yang menjalankan tu-
gas dan fungsinya dengan memimpin seca-
ra demokratis dengan gaya pengambilan
keputusan yang partisipatif, seperti yang
SMA Negeri 1 Tanah Merah, dan SMK
Negeri 1 Tanah Merah, sebaiknya disertai
dengan ketegasan kepala sekolah dalam
menegakan disiplin guru, karyawan, dan
siswa. Ketidaktegasan kepala sekolah nam-
pak dari tidak disiplinnya guru dan karya-
wan dalam menjalankan tugasnya, yang
berimbas juga pada ketidakdisiplinan siswa
dalam mengikuti proses belajar-mengajar di
sekolah. Hal ini menjadi akar masalah
rendahnya mutu pendidikan di Kabupaten
Boven Digoel.
Berikutnya, kepala sekolah sebaiknya
adalah orang yang mampu menjalankan tu-
gas dan fungsinya degan memimpin secara
autokratif dengan gaya pengambilan kepu-
tusan yang direktif, namun harus mampu
juga membangun komunikasi yang intensif
dengan bawahan, memahami situasi, kon-
disi, dan karakter individu bawahannya su-
paya tidak tercipta jarak yang terlalu jauh
antara bawahan dan atasan. Pengendalian
diri seorang kepala sekolah dalam meng-
hadapi setiap masalah juga sangat penting,
supaya bawahan tidak merasa tertekan dan
terpaksa dalam menjalankan tugas-tugas-
nya di sekolah.
Jika menjalankan tugas dan fungsinya
dengan memimpin secara demokratis yang
keputusannya partisipatif disertai ketegas-
an dan keteladanan, dan juga memimpin
secara autoratif yang keputusannya direktif
disertai pengendalian diri dan adanya ko-
munikasi yang manusiawi, maka pening-
katan mutu pendidikan sekolah menengah
negeri di Tanah Merah Kabupaten Boven
Digoel, Papua akan mengalami peningkat-
an yang signifikan.
Daftar Pustaka
Bento, A. V., & Ribeiro, M. I. (2013).
Authentic leadership in school
organizations. European Scientific
Journal, 9(31). Retrieved from
https://eujournal.org/index.php/esj
/article/view/2051
Chen, W. (2013). School leadership in ICT
implementation: Perspectives from
Singapore. The Asia-Pacific Education
Researcher, 22(3), 301–311.
https://doi.org/10.1007/s40299-012-
0055-8
Danim, S. (2006). Visi baru manajemen
sekolah dari unit birokrasi ke lembaga
akademik. Jakarta: Bumi Aksara.
Hermino, A. (2014). Kepemimpinan
pendidikan di era globalisasi.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kaya, A. (2015). The relationship between
spiritual leadership and
organizational citizenship behaviors: a
research on school principals’
behaviors. Educational Sciences: Theory
& Practice, 15(3).
https://doi.org/10.12738/estp.2015.3.
1988
Mendels, P. (2012). The effective principal:
five pivotal practices that shape
instructional leadership. Feature
Leadership, 33(1). Retrieved from
http://www.wallacefoundation.org/
knowledge-center/Documents/The-
Effective-Principal.pdf
192 − Jurnal Akuntabilitas Manajemen Pendidikan
Volume 6, No 2, September 2018
Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1994).
Qualitative data analysis: an expanded
source book. Thousand Oaks: Sage
Publications, Inc.
Republik Indonesia. Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 (1945).
Sugiyono. (2015). Metode penelitian
pendidikan, pendekatan kuantitatif,
kualitatif,dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Tim Dosen Administrasi Pendidikan
Universitas Pendidikan Indonesia.
(2013). Manajemen pendidikan.
Bandung: Alfabeta.
Triana, C. (2015). Perilaku organisasi dalam
pendidikan. Bandung: Remaja
Rosdakarya Offset.
Usman, H. (2012). Kepemimpinan pendidikan
kejuruan. Yogyakarta: UNY Press.
Usman, H. (2014). Manajeman: teori, praktik,
dan riset pendidikan (4th ed.). Jakarta:
PT Bumi Aksara.
Wahab, A. A. (2008). Anatomi organisasi dan
kepemimpinan pendidikan. Bandung:
Alfabeta.
Wahjosumidjo. (1999). Kepemimpinan kepala
sekolah: tinjauan teoritik dan
permaslahannya. Jakarta: Rajagrafindo
Perkasa.
Wahjosumidjo. (2003). Kepemimpinan kepala
sekolah: tinjauan teoritik dan
permasalahannya. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.