ArticlePDF Available

ANALISIS KADAR KLORIN PADA TEH CELUP BERDASARKAN WAKTU SEDUHAN

Authors:

Abstract

Abstact Background: Tea is the most widely consumed beverages by all levels of society because in addition to economical, tea is also thought to provide health benefits. Compounds that contribute to the health of the body such as tannins, catechins, flavanols and cafein. Along with its development era community prefers tea bag as it is easy and practical use. Without realizing it, the longer the brewed tea bag in the water substance called chlorine bleach paper contained in tea bags rather the bag of tea bags will also be dissolved. Method: This research includes the study of laboratory experiments. Object in this study is 4 (four) brand of tea bag and then examined in a Laboratory Ambon Pattimura University Biology Education using thiosulfate titration methode. Result: Anova and Tukey test results indicate that there are differences in the levels of chlorine-based treatment duration and type of tea steeping. The study test showed was obtained at the highest levels of chlorine treatment A1P4 (0,413 ppm) and A4P1 treatment resulted in the lowest levels of chlorine (0,058 ppm). Conclusion: There are differences in the levels of chlorine in various brands of tea bag is tea bag Sariwangi, sosro teabag, teabag teapot and teabag keg Based Tji long steeping time 2 minutes, 4 minutes, 6 minutes and 8 minutes.
Biopendix, 1 (1), 2014
24
ANALISIS KADAR KLORIN PADA TEH CELUP
BERDASARKAN WAKTU SEDUHAN
S. Wansi1), Theopilus W & Syahran W2)
1) Alumni Progam Studi Pendidikan Biologi
2) Progarm Studi Pendidikan Biologi
E-mail: wansibio@yahoo.com
Abstact
Background: Tea is the most widely consumed beverages by all levels of society because in addition
to economical, tea is also thought to provide health benefits. Compounds that contribute to the health
of the body such as tannins, catechins, flavanols and cafein. Along with its development era
community prefers tea bag as it is easy and practical use. Without realizing it, the longer the brewed
tea bag in the water substance called chlorine bleach paper contained in tea bags rather the bag of
tea bags will also be dissolved.
Method: This research includes the study of laboratory experiments. Object in this study is 4 (four)
brand of tea bag and then examined in a Laboratory Ambon Pattimura University Biology Education
using thiosulfate titration methode.
Result: Anova and Tukey test results indicate that there are differences in the levels of chlorine-based
treatment duration and type of tea steeping. The study test showed was obtained at the highest levels
of chlorine treatment A1P4 (0,413 ppm) and A4P1 treatment resulted in the lowest levels of chlorine
(0,058 ppm).
Conclusion: There are differences in the levels of chlorine in various brands of tea bag is tea bag
Sariwangi, sosro teabag, teabag teapot and teabag keg Based Tji long steeping time 2 minutes, 4
minutes, 6 minutes and 8 minutes.
Keyword: Keywords: Tea bags, Steeping time and Chlorine
Abstrak
Latar Belakang: Teh merupakan minuman yang paling banyak dikonsumsi oleh semua lapisan
masyarakat karena selain ekonomis, teh juga dianggap dapat memberikan manfaat bagi kesehatan.
Senyawa-senyawa yang berperan bagi kesehatan tubuh antara lain tanin, katekin, flavanol dan kafein.
Seiring dengan berkembangnya jaman maka masyarakat lebih memilih teh celup karena mudah dan
praktis penggunaannya. Tanpa disadari, semakin lama teh celup diseduh dalam air maka zat pemutih
kertas yang disebut klorin yang terdapat pada teh celup tepatnya pada kantong teh celup juga akan
terlarut.
Metode: Penelitian ini termasuk dalam penelitian eksperimen laboratorium. Objek dalam penelitian ini
adalah 4 (empat) merek teh celup dan kemudian diperiksa di Laboratorium Pendidikan Biologi
Universitas Pattimura Ambon dengan menggunakan metode titrasi thiosulfat.
Hasil: Hasil uji Anova dan uji Tukey menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kadar klorin
berdasarkan perlakuan lama waktu seduhan dan jenis teh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar
klorin tertinggi diperoleh pada perlakuan A1P4 (0,413 ppm) dan perlakuan A4P1 menghasilkan kadar
klorin paling rendah (0,058 ppm).
Kesimpulan: Terdapat perbedaan kadar klorin pada berbagai merek teh celup yaitu teh celup
sariwangi, teh celup sosro, teh celup poci dan teh celup tong tji berdasakan lama waktu seduhan 2
menit, 4 menit, 6 menit dan 8 menit.
Kata Kunci: Teh celup, Waktu seduhan dan Klorin
PENDAHULUAN Teh merupakan salah satu jenis
tanaman yang tumbuh subur di tanah air
Biopendix, 1 (1), 2014
25
kita, terutama di daerah-daerah yang
berhawa dingin. Pada umumnya
masyarakat kita terbiasa minum teh dalam
kehidupan kesehariannya. Selama ini teh
yang kita minum berasal dari daun teh
(Semeru, 1995). Teh merupakan minuman
yang paling banyak dikonsumsi oleh semua
lapisan masyarakat karena selain
ekonomis, teh juga dianggap dapat
memberikan manfaat bagi kesehatan.
Senyawa-senyawa yang berperan bagi
kesehatan tubuh antara lain tanin, katekin,
flavanol dan kafein. Akan tetapi, seiring
dengan berkembangnya jaman maka
masyarakat lebih memilih sesuatu yang
mudah dan praktis begitu pula dengan pola
konsumsi teh. Aneka produk olahan dari
bahan baku teh banyak dijumpai di pasaran
dalam bentuk yang siap minum seperti teh
kotak, teh botol dan lain-lain. Di antara
produk tersebut, teh celup merupakan suatu
produk yang sudah dikenal dan sangat
digemari oleh masyarakat karena sangat
praktis penggunaannya (Suryaningrum,
dkk, 2007).
Produk teh celup yang paling populer di
masyarakat yaitu teh celup sariwangi dan
teh celup sosro. Kedua teh celup ini
merupakan merek teh lokal terkemuka yang
secara eksklusif beroperasi dalam segmen
teh celup dengan suatu cara moderen untuk
minum teh yang lain dari teh bubuk. Selain
kedua teh celup tersebut ada juga merek
teh celup lain yang lumayan populer seperti
teh celup poci, teh celup tong tji dan teh
celup walini (Bambang, 2010).
Menurut Sari (2003), konsumen lebih
menyukai teh celup dari pada teh seduh
karena membutuhkan waktu lama untuk
menyeduhnya. Teh celup merupakan bubuk
teh yang dibungkus kertas berpori-pori
halus dan tahan panas. Penggunaan teh
celup sangat mudah karena konsumen
hanya tinggal mencelupkan teh yang telah
dikemas tersebut ke dalam air panas
sampai warna air berubah. Selain itu,
seringkali konsumen berlama-lama
mencelupkan teh celupnya ke dalam air
panas dengan asumsi bahwa semakin lama
kantong teh celup dicelupkan dalam air
panas maka semakin banyak khasiat teh
tertinggal dalam minuman. Tetapi tidak
demikian karena menurut Fulder (2004),
waktu penyeduhan yang lebih lama (4-8
menit) tidak lagi memiliki efek
menenangkan karena daun teh sudah tidak
lagi mengandung komposisi seperti kafein
yang dianggap menenangkan. Tetapi yang
harus diwaspadai dari penggunaan teh
celup adalah adanya bahan kimia dalam
kantong teh celup. Zat pemutih kertas yang
disebut klorin yang terdapat pada teh celup
tepatnya pada kantong teh celup juga akan
terlarut.
Dampak dari teh celup yang
mengandung klorin untuk kesehatan baru
akan muncul 15 hingga 20 tahun
mendatang, khususnya bila kita
mengonsumsi teh celup dengan lama waktu
seduhan yang salah secara terus menerus.
Gangguan kesehatan yang dapat
ditimbulkan akibat mengonsumsi teh celup
yang mengandung klorin dalam jangka
panjang menyebabkan penyakit pada paru-
paru seperti pneumonitis, sesak nafas,
emphisema dan bronkitis (Tirthawidhi,
2011).
Berdasarkan fakta bahwa adanya zat
klorin yang terkandung dalam teh celup
tepatnya pada kantong teh celup dan
bahayanya terhadap kesehatan masyarakat
maka penulis tertarik melakukan penelitian
ini. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui perbedaan kadar klorin
berdasarkan lama waktu seduhan dan jenis
teh celup serta untuk mengetahui interaksi
antara lama waktu seduhan dan jenis teh
celup. Penelitian ini termasuk dalam
penelitian eksperimen laboratorium.
METODE
Alat dan Bahan yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu panci, kompor, beaker
glass, termometer, jam atau stop watch,
gelas ukur, erlenmeyer, mikroburet,
timbangan analitik, batang pengaduk,
pinset, teh celup, aquadest, Na2S2O3,
CH3COOH, KI dan indikator kanji atau
amilum.
Prosedur penelitian dimulai dengan
menyeduh teh celup yaitu pertama air
dimasukkan ke dalam panci dan direbus
dengan menggunakan kompor. Kemudian
air rebus diukur sebanyak ±250 ml dengan
menggunakan gelas ukur. Setelah itu, air
tersebut dituangkan ke dalam beaker glass
sambil memasukkan termometer
kedalamnya dan menunggu hingga suhu air
turun sampai 80°C. Kemudian teh celup
Biopendix, 1 (1), 2014
26
dimasukkan pada air tersebut dan diseduh
masing-masing selama 2 menit, 4 menit, 6
menit dan 8 menit. Kemudian teh celup
tersebut diangkat dengan pinset.
Setelah itu dilanjutkan dengan prosedur
penelitian untuk kadar klorinnya dengan
metode titrasi thiosulfat yaitu pertama
mengambil volume sampel (seduhan teh
celup) sebanyak 200 ml dengan gelas ukur
dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer.
Tuangkan 5 ml CH3COOH ke dalam
sampel. Tambahkan ±1 g KI dan
mengaduknya terus. Menitrasi sampel
dengan Na2S2O3 0,010 N dengan
mikroburet hingga warna kuning akan
tampak. Tambahkan 2 ml kanji atau amilum
sehingga sampel akan tampak berwarna
biru. Kemudian menitrasi sampel dengan
Na2S2O3 0,010 N dengan mikroburet
sampai warna biru hilang pada titik akhir
titrasi. Cara menghitung kadar klorin
dengan rumus:
Dimana:
A : Titran Na2S2O3 untuk sampel (mL)
B : Titran Na2S2O3 untuk blangko sampel
(mL)
N : Normalitas larutan titran Na2S2O3 (N)
V : Volume sampel (mL)
Data dalam penelitian ini diperoleh
dengan cara observasi dan kepustakaan
serta dianalisis dengan program SPSS versi
16 dengan uji parametrik menggunakan
analisis Varians dan dilanjutkan dengan
menggunakan uji Tukey.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian analisis
kadar klorin pada merek teh celup
berdasarkan waktu seduhan yang dilakukan
pada Laboratorium menunjukkan bahwa
setiap teh celup memiliki kadar klorin yang
berbeda pada setiap merek dan waktu
seduhan. Hasil penelitian yang diperoleh
dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1. Data Hasil Penelitian Kadar Klorin Pada Teh Celup (ppm).
Perlakuan
Ulangan
Total
Rata-Rata
U1
U2
U3
A1P1
0,132
0,177
0,088
0,397
0,132
A1P2
0,265
0,221
0,177
0,663
0,221
A1P3
0,354
0,398
0,265
1,017
0,339
A1P4
0,443
0,443
0,354
1,24
0,413
A2P1
0,088
0,132
0,088
0,308
0,102
A2P2
0,132
0,177
0,132
0,441
0,147
A2P3
0,265
0,221
0,221
0,707
0,235
A2P4
0,398
0,354
0,310
1,062
0,354
A3P1
0,044
0,088
0,088
0,22
0,073
A3P2
0,088
0,132
0,177
0,397
0,132
A3P3
0,177
0,177
0,221
0,575
0,191
A3P4
0,265
0,265
0,310
0,84
0,28
A4P1
0,088
0,044
0,044
0,176
0,058
A4P2
0,132
0,088
0,132
0,352
0,117
A4P3
0,177
0,132
0,177
0,486
0,162
A4P4
0,221
0,265
0,265
0,751
0,250
Data Hasil Penelitian April 2014
Ket : A1 = Teh celup sariwangi P1 = Lama seduhan 2 menit
A2 = Teh celup sosro P2 = Lama seduhan 4 menit
A3 = Teh celup poci P3 = Lama seduhan 6 menit
A4 = Teh celup tong tji P4 = Lama seduhan 8 menit
Tabel di atas terlihat bahwa kadar
klorin dengan lama seduhan 2 menit pada
merek teh sariwangi adalah 0.132 ppm
lebih besar dari merek sosro 0.102 ppm
merek poci 0.073 ppm, dan merek tongtji
0.058 ppm. Tetapi lebih sedikit adalah pada
merek tongtji yaitu 0.058 ppm.
Biopendix, 1 (1), 2014
27
Hasil analisis klorin pada merek teh
yang berbeda dengan waktu seduhan yang
berbeda juga terdapat nilai yang berbeda
dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini.
Tabel 4.2. Hasil Analisis Kadar Klorin Pada Teh Celup dari Berbagai Lama Waktu
Seduhan.
Merek teh
Waktu
seduhan
Mean
Minimum
Maksimum
Std
deviation
Sariwangi
2 menit
0.132
0.088
0.177
0.044
4 menit
0.221
0.177
0.265
0.044
6 menit
0.339
0.265
0.398
0.067
8 menit
0.413
0.354
0.443
0.051
Sosro
2 menit
0.102
0.088
0.132
0.025
4 menit
0.147
0.132
0.177
0.025
6 menit
0.235
0.221
0.265
0.025
8 menit
0.354
0.310
0.398
0.044
Poci
2 menit
0.073
0.044
0.088
0.044
4 menit
0.132
0.088
0.177
0.025
6 menit
0.191
0.177
0.221
0.044
8 menit
0.280
0.265
0.310
0.025
Tong tji
2 menit
0.058
0.044
0.088
0.025
4 menit
0.117
0.088
0.132
0.025
6 menit
0.162
0.132
0.177
0.025
8 menit
0.250
0.221
0.265
0.025
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa
nilai rata-rata tertinggi terdapat pada lama
waktu seduhan 8 menit pada merek teh
celup sariwangi adalah 0.413 yang mana
lebih besar dari pada nilai rata-rata merek
teh celup sosro 0.354, teh celup poci 0.280
dan teh celup tongtji 0.250. Nilai minimum
terdapat pada lama waktu seduhan 2 menit
pada merek teh celup tongtji yaitu 0.044,
sedangkan nilai maksimum terdapat pada
lama waktu seduhan 8 menit pada merek
teh celup sariwangi yaitu 0.443. Standar
deviasi terendah terdapat pada merek teh
celup tongtji yaitu 0.025 dan standar deviasi
tertinggi pada merek teh celup sariwangi
yaitu 0.067.
Biopendix, 1 (1), 2014
28
Grafik 1. Box Plot Pada Jenis Teh Celup Merek Berbeda
Pada boxplot di atas terlihat bahwa
data pada jenis merek teh celup
berdistribusi normal yakni nilai p lebih besar
dari nilai taraf statistic yaitu 0.05. Data
normal ditunjukan oleh uji Shapiro-Wilk
pada taraf 0.05 pada merek teh sariwangi
0.862 sosro 0.739 poci 0.951 dan tongji
0.954. Karena berdistribusi normal maka uji
statistic yang digunakan adalah uji varians
atau Anova dapat dilihat pada tabel berikut
ini.
Tabel 3. Uji ANOVA Untuk Kadar Klorin Pada Berbagai Teh Celup dari Berbagai Lama
Waktu Seduhan.
Merek Teh
F
Sig.
Sariwangi
16,683
,001*
Sosro
37,814
,000*
Poci
28,650
,000*
Tongtji
30,005
,000*
Taraf 0,05 atau 5%
Ket: * terdapat perbedaan bermakna
Hasil uji Anova pada berbagai merek
teh celup dengan waktu yang berbeda yakni
2 menit, 4 menit, 6 menit dan 8 menit
menunjukkan terdapat perbedaan
bermakna dimana nilai p lebih kecil
daripada taraf statistic 0,05. Terdapat
perbedaan bermakna pada berbagai merek
teh celup dan lama waktu seduhan maka
dilanjutkan dengan uji lanjut menggunakan
uji Tukey dapat dilihat pada tabel 4 berikut.
Biopendix, 1 (1), 2014
29
Tabel 4. Signifikansi Dari Uji Tukey Untuk Kadar Klorin Pada Berbagai Teh Celup
Berdasarkan Lama Waktu Seduhan.
Dependent Variable
Kelompok
(I)
Kelompok
(J)
Sig.
sariwangi
2 menit
6 menit
.006*
8 menit
.001*
4 menit
8 menit
.009*
sosro
2 menit
6 menit
.004*
8 menit
.000*
4 menit
6 menit
.034*
8 menit
.000*
6 menit
8 menit
.007*
poci
2 menit
6 menit
.007*
8 menit
.000*
4 menit
8 menit
.002*
6 menit
8 menit
.036*
tongtji
2 menit
6 menit
.005*
8 menit
.000*
4 menit
8 menit
.001*
6 menit
8 menit
.012*
Taraf 0,05 atau 5%
Ket: *: terdapat perbedaan bermakna
Berdasarkan tabel 4 di atas uji statistik
dengan menggunakan uji Tukey pada taraf
0,05 terlihat bahwa pada perbandingan
antara berbagai merek teh celup yaitu
merek teh sariwangi, sosro, poci dan tongtji
dengan lama waktu seduhan yang
bervariasi yaitu 2 menit, 4 menit, 6 menit,
dan 8 menit pada kelompok (i) dengan
kelompok (j) ternyata terdapat perbedaan
bermakna pada kadar klorin dimana nilai p
lebih kecil dari nilai taraf statistic 0,05 untuk
lebih jelas dapat dilihat pada lampiran 5 uji
Tukey.
Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
lamanya waktu seduhan pada teh celup
pada perlakuan lama waktu seduhan 2
menit, 4 menit, 6 menit dan 8 menit,
berpengaruh terhadap kadar klorin pada teh
celup. Berdasarkan uji anova, perlakuan
lama waktu seduhan berpengaruh terhadap
kadar klorin dimana nilai p yaitu 0.001,
0.000, 0.000 dan 0.000 lebih kecil dari pada
taraf statistik 0,05. Hasil uji dilanjutkan
dengan uji Tukey 0,05 menunjukkan
terdapat perbedaan yang sangat bermakna
pada perbandingan antara lama waktu
seduhan 2 menit dengan 8 menit. Hal ini
menunjukkan bahwa kadar klorin tertinggi
diperoleh pada lama waktu seduhan 8
menit pada merek teh celup sariwangi
0,413 ppm. Sedangkan kadar klorin
terendah diperoleh pada lama waktu
seduhan 2 menit pada merek teh celup
yaitu tong tji 0,058 ppm.
Data tersebut menunjukkan bahwa
semakin lama waktu seduhan, maka kadar
klorin akan semakin tinggi. Hal ini
disebabkan semakin lama waktu seduhan
maka semakin banyak klorin yang larut
dalam air. Sesuai pernyataan yang
dikemukakan oleh Suyitno, dkk (1989)
bahwa salah satu faktor yang
mempengaruhi kelarutan suatu zat adalah
waktu, dimana semakin lama waktu kontak
maka semakin banyak zat yang dapat larut
dalam air. Hal ini didukung pula oleh sifat
klorin yang dapat larut dalam air dan
bereaksi (Cotton dan Wilkinson, 1989).
Menurut Keenan (1989), reaksi antara klorin
dengan air adalah sebagai berikut:
Cl + HOH HCl + OH
Sedangkan perlakuan jenis teh dan
interaksi antara lama waktu seduhan dan
jenis teh, berdasarkan uji anova
menunjukkan terdapat pengaruh yang
artinya bahwa perlakuan jenis teh dan
interaksi antara lama waktu seduhan dan
jenis teh berpengaruh terhadap kadar
Biopendix, 1 (1), 2014
30
klorin. Hasil uji Tukey pada taraf 0,05
menunjukkan bahwa pada merek teh
sariwangi, sosro, poci dan tongtji dengan
perbandingan lama waktu seduhan 2 menit
dengan 6 menit, 2 menit dengan 8 menit,
dan 4 menit dengan 8 menit berpengaruh
pada kadar klorin. Sedangkan untuk merek
teh sosro, poci dan tong tji perbandingan
lama waktu seduhan 6 menit dengan 8
menit berpengaruh pada kadar klorin
kecuali untuk merek teh sariwangi tidak
berpengaruh pada kadar klorin. Dan hanya
untuk merek teh sosro perbandingan lama
waktu seduhan 4 menit dengan 6 menit
berpengaruh pada kadar klorin. Menurut
Setiorini, dkk (2010), hal ini diduga karena
perbedaan kualitas kertas yang digunakan
pada kantong teh celup untuk setiap merek
teh celup berbeda sehingga jika teh celup
tersebut diseduh ke dalam air maka jumlah
kadar klorinnya akan berbeda pula.
Hasil ini sejalan dengan penelitian
terdahulu oleh Suryaningrum, dkk (2007),
menunjukkan bahwa pada merek teh celup
hitam dan teh celup hijau pada lama waktu
seduhan 2 menit, 4 menit, 6 menit dan 8
menit terdapat perbedaan kadar klorin pada
penelitian terdahulu dengan hasil yang
didapat pada penelitian ini. Hasil pada
penelitian terdahulu rata-rata kadar klorin
pada teh celup hitam 0,041 ppm dan teh
celup hijau 0,046 ppm. Tetapi pada
penelitian ini terjadi peningkatan kadar
klorin dari penelitian terdahulu yang
disebabkan oleh banyaknya zat klorin yang
terlarut dalam air (Suyitno, 1989).
Pada penelitian ini dimana perlakuan
jenis teh dan interaksi antara lama waktu
seduhan dan jenis teh berdasarkan uji
anova dan uji tukey berpengaruh terhadap
kadar klorin. Penelitian ini sejalan dengan
penelitian terdahulu oleh Setorini, dkk
(2010) pada berbagai merek teh celup
hitam dengan lama waktu seduhan yang
bervariasi menunjukkan terdapat perbedaan
terhadap kadar klorin yang diduga karena
perbedaan kualitas kertas pada kantong teh
celup yang digunakan.
Menurut World Health Organization
(WHO) dalam Suryaningrum, dkk (2007),
nilai ambang batas residu klorin dalam air
adalah 0,5 ppm. Klorin yang dihasilkan
penelitian pada teh celup adalah berkisar
antara 0,058-0,413 ppm. Data tersebut
menunjukkan bahwa air hasil seduhan pada
teh celup mengandung klorin yang aman
untuk dikonsumsi manusia. Akan tetapi
perlu diwaspadai akumulasi kronik dalam
tubuh karena klorin dapat menimbulkan
efek bagi kesehatan. Dampak dari teh celup
yang mengandung klorin itu tidak terjadi
sekarang. Dampak untuk kesehatan baru
akan muncul 15 hingga 20 tahun
mendatang, khususnya bila kita
mengonsumsi teh celup dengan lama waktu
seduhan yang salah secara terus menerus.
Gangguan kesehatan yang dapat
ditimbulkan akibat mengonsumsi teh celup
yang mengandung klorin dalam jangka
panjang menyebabkan penyakit pada paru-
paru seperti pneumonitis, sesak nafas,
emphisema dan bronkitis (Tirthawidhi,
2011). Disisi lain hasil penelitian terdapat
hasil uji hipotesis dimana ‟terdapat
perbedaan kadar klorin pada teh celup yang
berbeda berdasarkan waktu seduhan yang
berbeda”. Hal ini berarti hipotesis kerja (H1)
diterima dan hipotesis nol (H0) ditolak
karena berdasarkan uji anova nilai F hitung
lebih besar dibandingkan dengan nilai F
tabel (16.683, 37.814, 23.650,
30.005>3.84).
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian kadar
klorin pada teh celup, maka diperoleh
kesimpulan bahwa terdapat perbedaan
kadar klorin pada berbagai merek teh celup
yaitu teh celup sariwangi, teh celup sosro,
teh celup poci dan teh celup tong tji
berdasakan lama waktu seduhan 2 menit, 4
menit, 6 menit dan 8 menit. Hal ini dapat
dilihat dari data yang didapat menunjukkan
bahwa kadar klorin tertinggi diperoleh pada
lama waktu seduhan 8 menit pada merek
teh celup sariwangi 0,413 ppm. Sedangkan
kadar klorin terendah diperoleh pada lama
waktu seduhan 2 menit pada merek teh
celup yaitu tong tji 0,058 ppm.
DAFTAR PUSTAKA
Adiwisastra, A. 1989. Sumber, Bahaya
serta Penanggulangan Keracunan.
Penerbit Angkasa Bandung.
Ambar, Roy. 2012. 2 Kandungan Teh Hijau
Yang Bermanfaat Untuk Tubuh.
Bambang. 2010. Pengetahuan Dasar Teh.
Teh Dan Penggunaannya.
Biopendix, 1 (1), 2014
31
Cotton, F.A dan Wilkinson, Georffrey. 1989.
Kimia Organik Dasar. Jakarta : UI
Press.
Dewantoro, Anton. 2009. I Sleep with My
Eyes Open. Teh (Kandungan teh,
manfaat teh, jenis teh, dan
karakteristiknya, kekurangan anjuran
minum teh).
Diablo. 2008. Agriculture. Morfologi
Tanaman Teh.
Fulder, S. 2004. Khasiat Teh Hijau. Prestasi
Pustaka Publisher. Jakarta.
Karinda. 2012. Teh Dan Segala
Manfaatnya.
Keenan, C. W. 1989. Ilmu Kimia Untuk
Universitas. Jakarta : Erlangga.
MacDougall, J. A. 1994. Ekspose
Pencemaran Di Sumut. Ekspose
Singkat Kasus Pencemaran Di
Sumatera Utara.
Marthadison, Trisatya. 2012. Khasiat Teh
Secara Lengkap.
Muawiah, Abu. 2009. Pemuda Dalam Islam.
Ternyata Teh Celup Berbahaya.
Prasetyo. 2003. Analisis Kadar Zat Klorin
Pada Air Seduhan Teh Hitam Celup
Bermerek Yang Beredar Di Wilayah
Kota Denpasar. Universitas Udayana.
Jimbaran.
Pattigrew, Jane. 2002. A Social History Of
Tea. Teh (Sejarah Teh dan Asal Mula
Teh).
PT. Sinar Sosro. 2008. Tanaman Teh.
PT. Sinar Sosro. 2013. Sejarah Sinar
Sosro.
PT. Sumisho E-commercee Indonesia.
2014. Teh Celup Sosro.
PT. Sumisho E-commercee Indonesia.
2014. Teh Celup Poci.
PT. Teh Dua Burung. 2013. Teh Celup
Tong Tji.
Rahmawati, Yusna. 2012.Teh Hitam dan
Komponen Kimia Daun Teh.
Sari, D. Y. 2003. Kompas Kesehatan. Teh
Celup Pemicu Kanker.
Semeru, Ashari. 1995. Hortikultural : Aspek
Budidaya. Jakarta : UI Press.
Setiorini, Santi, dkk. 2010. Analisa Kadar
Klorin Pada Kantong Teh Celup serta
Pengaruhnya Terhadap Mutu Teh.
Prodi Kesehatan Lingkungan Madiun
Jurusan Kesehatan Lingkungan
Politeknik Kesehatan, Depertemen
Kesehatan Surabaya.
Setiawan, Yohanes. 2013. Sariwangi Teh
Asli. Teh Celup Sariwangi.
Sinuhaji, Dian Novita. 2009. Perbedaan
Kandungan Klorin (Cl) Pada Beras
Sebelum dan Sesudah Dimasak Tahun
2009. Fakultas Kesehatan Masyarakat,
Universitas Sumatera Utara.
Sulirawati, Das. 2010. Belajar Kimia
Menarik SMA/MA Kelas X.
Suryaningrum, Riana Dyah, dkk. 2007.
Peningkatan Kadar Tanin dan
Penurunan Kadar Klorin. Jurusan
Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas
Malang.
Suyitno. 1989. Petunjuk Laboratorium
Rekayasa Pangan. Yogyakarta: Pau
Pangan dan Gizi UGM .
Tirthawidhi, Bayu. 2011. Fakta Tentang
Klorin.
U.S. Department Of Health And Human
Service. 2007. Chlorine .
Walidaini, Birrul. 2012. Karya Ilmiah
Mahasiswa Universitas Padang.
Bahaya Teh Celup. Universitas Negeri
Padang.
Wibowo, Trimanto. 2009. Pengaruh
Pemberian Seduhan Kelopak Rosela
(Hibiscus sabdariffa) Terhadap Kadar
Trigliserida darah Tikus Putih (Rattus
norvegicus). Fakultas Kedokteran
Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Widiansyah, Oktafian. 2008. Mengenal
Jenis-Jenis Teh.
Wrasiati, Lhu Putu. 2009. Studi Aktivitas
Antioksidan Bubuk dan Seduhan Teh
Hijau (Camelia sinensis) yang beredar
Di Kota Denpasar. Jurusan Teknologi
Industri Pertanian.
Yudana dan Luize. 1998. Intisari Indomedia.
Mengenal Ragam dan Manfaat Teh.
... According to WHO, the chlorine limit requirements for drinking water quality requirements are below 5 mg/L [10]. Health problems that can be caused by consuming chlorine-containing drinks in the long term can cause lung diseases such as pneumonitis, shortness of breath, emphysema, and bronchitis [11]. Furthermore, it can be caused directly to liver, bladder, intestinal cancers, arteriosclerosis, high blood pressure, bronchitis, dyspnea, and allergies [12]. ...
... found in tea bags, precisely in tea bags made of paper will also be dissolved in tea brewing [11,19]. That can be caused by the solubility of a substance and temperature of the water. ...
Article
Full-text available
One of the manual brewing techniques is the pour-over V60 method. It uses a filter paper, which is suspected of containing chlorine as a paper bleaching agent that will dissolve in coffee. Health problems that can be caused by consuming chlorine-containing beverages in the long term can cause directly disease related to liver, bladder, intestinal cancers, arteriosclerosis, high blood pressure, pneumonia, bronchitis, dyspnea, and allergies. This study aims to determine the chlorine content of brewed robusta coffee using the brew V60 method. The chlorine test with the colour reaction method and the precipitation test as qualitative analysis to determine chlorine levels is an argentometric titration with the Mohr method. This research shows that all three samples of filter paper and coffee with V60 brewing method contain chlorine. The titration result shows that chlorine levels in filter paper brand A are 81.9 mg/L, brand B 49.9 mg/L, and brand C 69.9 mg/L. Levels of chlorine in V60 brewed coffee brand A are 44.6 mg/L, brand B 21.9 mg/L, and brand C 28.6 mg/L. This research concludes that the chlorine content in filter paper and V60 coffee brewing beverages on brand A, brand B, and brand C is unqualified according to WHO regulation about chlorine qualification for clean drinking water, which is 5 mg/L.
Article
09E02644 Beras merupakan bahan makanan yang merupakan sumber energi bagi manusia. Beras yang baik adalah beras yang dapat menghasilkan nasi yang empuk dan memberikan aroma yang harum. Nasi merupakan salah satu bahan makanan pokok yang mudah diolah dan disajikan, enak, mengandung energi yang cukup tinggi, sehingga berpengaruh besar terhadap aktivitas tubuh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan klorin pada beras sebelum dimasak dan mengetahui residu klorin pada nasi. Penelitian ini merupakan penelitian survei deskriptif. Objek dalam penelitian ini adalah 10 (sepuluh) jenis beras dan kemudian diperiksa di balai Laboratorium Kesehatan Daerah Medan dengan menggunakan metode titrasi. Berdasarkan hasil penelitian terdapat kandungan klorin pada beras sebesar 45,361 ppm. Pada saat pencucian beras pertama terdapat kandungan klorin sebesar 36,810 ppm, sedangkan pada saat pencucian beras kedua terdapat kandungan klorin sebesar 25,595 ppm. Terjadi penurunan kandungan klorin pada setiap proses pencucian yang dilakukan terhadap beras, dimana kandungan klorin semakin rendah setelah proses pencucian beras kedua. Kandungan klorin pada saat suhu nasi 750C adalah sebesar 6,945 ppm, sedangkan kandungan klorin pada saat suhu nasi mencapai suhu kamar (± 250C) adalah sebesar 3,488 ppm. Terjadi penurunan kandungan klorin pada nasi yang diukur pada suhu yang berbeda, dimana kadar residu klorin pada nasi semakin rendah pada suhu kamar (± 250C). Kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahwa kandungan klorin tetap ada baik pada saat setelah pencucian beras sebanyak dua kali maupun pada saat nasi dalam keadaan dingin, sehingga dapat membahayakan kesehatan manusia baik jangka pendek maupun jangka panjang. Menurut Permenkes RI No. 772/Menkes/Per/XI/88, menyatakan bahwa klorin dilarang digunakan pada beras. Disarankan kepada masyarakat khususnya para ibu rumah tangga sebaiknya melakukan pencucian beras sebanyak dua atau tiga kali pencucian dengan tujuan untuk mengurangi residu klorin pada beras. Rice is the food-stuff which is source of energy for human being. Good rice is rice which can yield the soft cooked-rice and give the odorous aroma. Cooked-rice is one of the fundamental food-stuff which is easy to processed and served, delicious, contain a high enough of energy, so that have a big effect to body activity. The aim of this research is to know the chlorine content of rice before cooked and know the chlorine residue of rice. This research is the descriptive survey research. Object of this research is ten types of rice and than checked in Hall of Medan Health Laboratory by using titration method. Based on the research result is known that there was chlorine content of rice about 45,361 ppm. At the first wash of rice there was chlorine content about 36,810 ppm, while at the second washes of rice there was chlorine content about 25,595 ppm. The reduction of chlorine content was happened at every wash process of rice, which the chlorine content was become lower after the second washes of rice. The chlorine content of cooked-rice which measured at 750C was about 6,945 ppm, while the chlorine content of cooked-rice which measured at room temperature (± 250C) was about 3,488 ppm. The reduction of chlorine content was happened at cooked-rice which measured at the different temperature, which the chlorine residue of cooked-rice was become lower at room temperature (± 250C). The conclusion of this research is there was chlorine content still found either after the second washes of rice or at the cool cooked-rice, so that can endanger for the human health either short range or long range. Based on the Health Ministry Regulation of Indonesian Republic No. 772/Menkes/Per/XI/88 states that chlorine is forbade to using in rice. Suggested to the society and particularly to the housewife is better to wash rice about two or three times of washes as a mean to decrease the chlorine residue of rice. dr. Devi Nuraini Santi, Mkes. ; Ir. Indra Chahaya, MSi
I Sleep with My Eyes Open. Teh (Kandungan teh, manfaat teh, jenis teh, dan karakteristiknya, kekurangan anjuran minum teh)
  • Anton Dewantoro
Dewantoro, Anton. 2009. I Sleep with My Eyes Open. Teh (Kandungan teh, manfaat teh, jenis teh, dan karakteristiknya, kekurangan anjuran minum teh).
Ekspose Pencemaran Di Sumut. Ekspose Singkat Kasus Pencemaran Di Sumatera Utara
  • J A Macdougall
MacDougall, J. A. 1994. Ekspose Pencemaran Di Sumut. Ekspose Singkat Kasus Pencemaran Di Sumatera Utara.
Analisis Kadar Zat Klorin Pada Air Seduhan Teh Hitam Celup Bermerek Yang Beredar Di Wilayah Kota Denpasar
  • Prasetyo
Prasetyo. 2003. Analisis Kadar Zat Klorin Pada Air Seduhan Teh Hitam Celup Bermerek Yang Beredar Di Wilayah Kota Denpasar. Universitas Udayana. Jimbaran.
Teh Hitam dan Komponen Kimia Daun Teh
  • Yusna Rahmawati
Rahmawati, Yusna. 2012.Teh Hitam dan Komponen Kimia Daun Teh.
Hortikultural : Aspek Budidaya
  • Ashari Semeru
Semeru, Ashari. 1995. Hortikultural : Aspek Budidaya. Jakarta : UI Press.
Analisa Kadar Klorin Pada Kantong Teh Celup serta Pengaruhnya
  • Setiorini
  • Santi
Setiorini, Santi, dkk. 2010. Analisa Kadar Klorin Pada Kantong Teh Celup serta Pengaruhnya Terhadap Mutu Teh. Prodi Kesehatan Lingkungan Madiun Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan, Depertemen Kesehatan Surabaya.
Belajar Kimia Menarik SMA/MA Kelas X
  • Das Sulirawati
Sulirawati, Das. 2010. Belajar Kimia Menarik SMA/MA Kelas X.
Peningkatan Kadar Tanin dan Penurunan Kadar Klorin
  • Riana Suryaningrum
  • Dkk Dyah
Suryaningrum, Riana Dyah, dkk. 2007. Peningkatan Kadar Tanin dan Penurunan Kadar Klorin. Jurusan Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Malang.
Petunjuk Laboratorium Rekayasa Pangan
  • Suyitno
Suyitno. 1989. Petunjuk Laboratorium Rekayasa Pangan. Yogyakarta: Pau Pangan dan Gizi UGM.