Conference PaperPDF Available

BLOCKCHAIN-TEKNOLOGI MATA UANG KRIPTO (CRYPTO CURRENCY)

Authors:

Abstract

Kehadiran bitcoin sebagai salah satu tonggak penting naiknya popularitas mata uang kripto (crypto currency). Hadirnya bitcoin tidak lepas dari munculnya masalah atas peran institusi finansial dalam sebuah transaksi. Peran institusi finansial merupakan bentuk sistem/model kepercayaan (trust model/system) dari dua pihak yang sepakat untuk melakukan transaksi jual beli. Meskipun begitu, sistem/model kepercayaan yang sudah ada dapat membuat proses transaksi menjadi tidak mudah dan cepat bila antara institusi finansial memiliki perbedaan, terutama dalam hal memproses transaksi. Hilangnya peran institusi finansial/pemerintah merupakan kelebihan dari mata uang kripto/bitcoin. Hal inilah yang membuat bitcoin tidak serta merta diakui oleh banyak negara di dunia sebagai alat tukar layaknya mata uang yang sudah kita kenal. Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran atas peluang yang dapat dimanfaatkan dari teknologi yang berperan dalam mata uang kripto. Bagian pertama berisi penjelasan tentang apa itu bitcoin dan blockchain. Setelah itu, bagian kedua akan mengulas tentang uang digital dan elektronik dari sudut pandang peraturan yang berlaku di Indonesia. Bagian ketiga akan mengulas tentang pemanfaatan teknologi blockchain untuk hal-hal diluar dari mata uang kripto. Bagian terakhir adalah penutup yang berisi kesimpulan atas hal-hal yang sudah disajikan sebelumnya.
Prosiding SENDI_U 2018 ISBN: 978-979-3649-99-3
BLOCKCHAIN - TEKNOLOGI MATA UANG KRIPTO (CRYPTO CURRENCY)
Rina Candra Noorsanti1, Heribertus Yulianton2, Kristophorus Hadiono3
1,2Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi, Universitas Stikubank
3Program Studi Sistem Informasi, Fakultas Teknologi Informasi, Universitas Stikubank
e-mail: 1r_candra_ns@edu.unisbank.ac.id, 2heri@edu.unisbank.ac.id,
3kristophorus.hadiono@edu.unisbank.ac.id
ABSTRAK
Kehadiran bitcoin sebagai salah satu tonggak penting naiknya popularitas mata uang kripto (crypto
currency). Hadirnya bitcoin tidak lepas dari munculnya masalah atas peran institusi finansial dalam sebuah
transaksi. Peran institusi finansial merupakan bentuk sistem/model kepercayaan (trust model/system) dari dua
pihak yang sepakat untuk melakukan transaksi jual beli. Meskipun begitu, sistem/model kepercayaan yang
sudah ada dapat membuat proses transaksi menjadi tidak mudah dan cepat bila antara institusi finansial
memiliki perbedaan, terutama dalam hal memproses transaksi. Hilangnya peran institusi finansial/pemerintah
merupakan kelebihan dari mata uang kripto/bitcoin. Hal inilah yang membuat bitcoin tidak serta merta diakui
oleh banyak negara di dunia sebagai alat tukar layaknya mata uang yang sudah kita kenal.
Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran atas peluang yang dapat dimanfaatkan dari teknologi
yang berperan dalam mata uang kripto. Bagian pertama berisi penjelasan tentang apa itu bitcoin dan
blockchain. Setelah itu, bagian kedua akan mengulas tentang uang digital dan elektronik dari sudut pandang
peraturan yang berlaku di Indonesia. Bagian ketiga akan mengulas tentang pemanfaatan teknologi blockchain
untuk hal-hal diluar dari mata uang kripto. Bagian terakhir adalah penutup yang berisi kesimpulan atas hal-
hal yang sudah disajikan sebelumnya.
Kata Kunci: Blockchain, bitcoin, mata uang kripto, mata uang digital.
1. PENDAHULUAN
Berbicara mengenai blockchain, tidak akan lepas dari kemunculan bitcoin. Bitcoin sendiri merupakan
sebuah fenomena awal munculnya mata uang digital yang tidak terhubung sama sekali dengan mata uang yang
sudah dikenal yang digunakan sampai saat ini. Bitcoin disebut juga sebagai cryptocurrency (mata uang kripto)
atau mata uang yang dienkripsi. Hadirnya bitcoin merupakan sebuah jawaban atas kebutuhan akan transaksi
daring (online) yang cepat, mudah dan transparan serta diterima oleh kedua belah pihak yang sepakat
melakukan transaksi. Secara sederhana, kemunculan bitcoin dapat diartikan sebagai sebuah digital disruption
dalam sistem keuangan terutama pada sistem finansial yang sudah ada.
1.1 Apa itu ‘Bitcoin’
Sejarah munculnya mata uang kripto, bitcoin, tidak pernah jelas sampai saat ini. Munculnya bitcoin
diawali pada tahun 2008 dengan munculnya sebuah artikel berjudulBitcoin: A Peer-to-peer Electronic Cash
yang ditulis oleh seseorang menggunakan nama Satoshi Nakamoto. Artikel tersebut dikirim pada sebuah forum
email (mailing list) kriptografi. Masih pada tahun yang sama, seseorang membeli sebuah domain dengan nama
bitcoin.org dan setahun setelah itu bitcoin pertama muncul [1].
Munculnya bitcoin tidak lepas dari keinginan untuk dapat bertransaksi online dengan mudah dan cepat
tanpa harus melibatkan pihak ke tiga (institusi finansial/pemerintah), sehingga hal-hal yang muncul akibat
adanya pihak ke tiga dapat dihilangkan seperti biaya transfer antar institusi finansial. Peran institusi finansial
dalam sebuah transaksi merupakan bentuk sistem/model kepercayaan (trust model/system) dari dua pihak yang
sepakat untuk melakukan transaksi jual beli. Meskipun begitu, sistem/model kepercayaan yang sudah ada dan
terbentuk selama ini dapat membuat proses transaksi menjadi tidak mudah dan cepat bila diantara institusi
finansial tersebut memiliki perbedaan yang berkaitan dengan cara memproses transaksi. Bertitik tolak pada hal
tersebut, maka diperlukan sebuah sistem pembayaran elektronik berbasiskan pembukitan kriptografi yang
memungkinkan dua pihak yang ingin bertransaksi dapat melakukan transaksi secara langsung tanpa melalui
pihak ke tiga [2], [3]. Penggunaan bitcoin sebagai alat tukar memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut [4]:
(1) bitcoin menawarkan kemungkinan pengurangan biaya transaksi untuk perdagangan online; (2) bitcoin
memberikan anonimitas yang lebih besar daripada kartu kredit; (3) desentralisasi yang dimiliki oleh bitcoin dan
mata uang digital lainnya, memungkinkan bitcoin dan mata uang digital lainnya tidak mengalami inflasi yang
parah seperti halnya pada mata uang tradisional yang digunakan sampai saat ini.
Kehadiran bitcoin/mata uang kripto mau tidak mau menarik perhatian dunia keuangan/finansial. Daya
tarik tersebut selain dari sisi mata uang yang benar-benar murni digital, juga karena pemanfaatan jaringan peer-
to-peer untuk menjalankan sistem uang digital. Mata uang kripto memungkinkan seseorang untuk dapat
bertransaksi dengan biaya yang lebih rendah, pembayaran lebih cepat, dan tidak bergantung pada institusi
finansial/pemerintah. Bila dilihat lagi lebih lanjut, hadirnya mata uang kripto dimana dalam hal ini adalah
1
Prosiding SENDI_U 2018 ISBN: 978-979-3649-99-3
bitcoin, memberikan sebuah realita bahwa mata uang/koin tersebut benar-benar dimiliki oleh orang tersebut.
Selain itu, hal lain yang menarik dari munculnya mata uang kripto adalah teknologi yang memungkinkan sistem
mata uang kripto bekerja, yaitu teknologi blockchain. Sub bagian selanjutnya akan memberikan informasi
mengenai apa itu blockchain, teknologi yang digunakan dalam sistem mata uang kripto.
1.2 Apa itu ‘Blockchain’
Blockchain atau dapat disebut juga sebagai teknologi pembukuan terdistribusi (Distributed Ledger
Technology/DLT) merupakan sebuah konsep dimana setiap peserta/pihak yang tergabung dalam jaringan
terdistribusi memiliki hak akses terhadap pembukuan tersebut. Konsep yang dibawa oleh blockchain merupakan
penerapan konsep yang sudah ada, yaitu konsep database terdistribusi. Konsep ini lahir bersamaan dengan
lahirnya bitcoin sekaligus sebagai jawaban atas permasalahan tidak adanya pihak ke tiga (institusi
finansial/pemerintah) untuk membangun kepercayaan diantara pihak-pihak yang melakukan transaksi di
lingkungan yang tidak aman.
Selain itu, ada juga masalah lain yang dikenal dengan dengan sebutan masalah jendral bizantium
(Byzantine generals’ problem) dan masalah ini adalah masalah yang umum terjadi di bidang komputasi
terdistribusi. Byzantine generals’ problem merupakan sebuah masalah yang merujuk pada sebuah kumpulan
besar pasukan di mana setiap jenderal memiliki kekuasaan atas sekumpulan tentara dan tiap-tiap kumpulan
tersebut terletak di lokasi yang berbeda/terdistribusi. Satu kumpulan tentara dipimpin oleh seorang jendral dan
satu kumpulan tesebut sering juga disebut sebagai simpul. Secara umum, para jendral tersebut memiliki
kemampuan/preferensi yang berbeda-beda, sehingga memungkinkan beberapa simpul berpura-pura
berkomunikasi atas nama seorang jenderal. Mereka, para jenderal tersebut, harus membuat sebuah keputusan
umum apakah akan menyerang, mundur atau mengambil tindakan lain. Kegagalan sebuah simpul dalam bentuk
pemberian jawaban yang berbeda untuk simpul yang lain akan memberikan hasil yang berbeda dan hasil akhir
dari keseluruhan pasukan dapat dipastikan dalam keadaan termanipulasi. Dalam proses transaksi bitcoin,
seseorang dapat saja melakukan transaksi ganda (double-spending) atas nilai bitcoin yang sama bila tidak
tersedia sebuah metode untuk memastikan bahwa informasi yang keluarkan oleh seseorang adalah benar.
Masalah jendral bizantium ini dapat diatasi dengan penerapan konsensus Nakamoto [5].
Secara konseptual, teknologi blockchain dapat disamakan dengan teknologi yang digunakan pada basis
data terdistribusi. Pada basis data terdistribusi informasi yang tercatat akan disimpan dan dibagikan kepada
setiap anggota di jaringan tersebut. Teknologi ini juga yang mewujudkan penghilangan/ketidakhadiran pihak ke
tiga (institusi finansial/pemerintah) bagi mata uang kripto, dan konsep ketidakhadiran pihak ke tiga ini
merupakan sebuah konsep yang sudah cukup lama ada (sekitar 30 tahun). Selain itu, teknologi blockchain juga
dapat mencegah terjadinya transaksi ganda/double-spending dengan mengkombinasikan teknologi jaringan
peer-to-peer dan kunci publik kriptografi. Secara literal, teknologi blockchain dapat diartikan sebagai kumpulan
potongan-potongan informasi yang dikaitkan satu sama lain dengan memanfaatkan fungsi hash dan enkripsi dari
bidang kriptografi [4].
Karakteristik dari teknologi blockchain yang dapat dirangkum dari penelitian sebelumnya adalah sebagai
berikut [6]: (1) memiliki pembukuan yang terdistribusi/tersebar didalam jaringan peer-to-peer serta dapat
diakses oleh semua anggota yang tergabung di dalam jaringan tersebut. Proses pembukuan merupakan sebuah
proses yang selalu diverifikasi dengan menerapkan konsensus yang telah disepakati oleh setiap simpul di dalam
jaringan; (2) memiliki informasi tidak berubah dan aman dari perubahan karena adanya proses verifikasi dan
semua simpul memiliki nilai informasi yang sama; (3) memiliki transparansi untuk semua anggota sehingga
dapat melihat informasi yang tersimpan di dalam blockchain tetapi tidak dapat mengubah apapun; (4) memiliki
Smart Contracts, sebuah media/cara untuk menyimpan semua aturan dan kebijakan yang akan digunakan saat
negosiasi ketentuan kontrak. Media/cara tersebut akan secara otomatis melakukan verifikasi dan eksekusi saat
konsensus dari setiap anggota tercapai. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa, informasi yang disimpan
dengan memanfaatkan teknologi blockchain adalah benar dan valid.
1.3 Cara Kerja Blockchain
Blockchain adalah kumpulan lebih dari satu blok yang membentuk rantai. Setiap blok memiliki 3 elemen
yaitu data, nilai hash dari blok, dan nilai hash dari blok sebelumnya. Data yang disimpan dalam blok bergantung
pada tipe blok. Sebagai contoh, blockchain pada bitcoin, dimana komponen data akan berisi detil transaksi
seperti penerima, pengirim, dan nilai koin.
Ada beberapa mekanisme/teknik yang dipakai di dalam blockchain sehingga keamanan dari blockchain
lebih berjamin. Mekanisme pertama adalah pemanfaatan teknik hash, dengan memanfaatkan teknik hash dari
kriptografi, blok akan memiliki nilai hash yang mengidentifikasi blok dan seluruh isinya dan bersifat unik. Saat
blok dibuat nilai hash-nya sekaligus dihitung. Mengubah sesuatu dalam blok akan mengakibatkan nilai hash-nya
berubah. Dengan kata lain, nilai hash bermanfaat untuk mendeteksi perubahan blok. Elemen ketiga dari blok
adalah nilai hash dari blok sebelumnya. Teknik memanfaatkan hash inilah yang membuat blockchain menjadi
lebih aman, karena jika ada yang mengubah salah satu blok dalam rantai blok maka nilai hashnya akan berubah
dan blok berikutnya akan menjadi tidak valid lagi karena tidak menyimpan nilai hash yang valid dari blok
2
Prosiding SENDI_U 2018 ISBN: 978-979-3649-99-3
sebelumnya. Artinya, perubahan yang dilakukan terhadap sebuah blok akan mengakibatkan seluruh rantai blok
menjadi tidak valid.
Mekanisme yang kedua adalah mekanisme proof-of-work. Mekanisme ini adalah mekanisme untuk
memperlambat pembuatan blok baru. Mekanisme ini hadir dengan tujuan untuk mempersulit perubahan sebuah
blok karena mengubah sebuah blok berarti harus menghitung proof-of-work seluruh blok. Dalam kasus bitcoin
dibutuhkan waktu 10 menit untuk membuat blok baru dan menambahkan blok ke rantai.
Mekanisme ketiga yang digunakan untuk mengamankan blockchain selain hash dan proof-of-work
adalah pengelolaan secara terdistribusi. Blockchain menggunakan jaringan peer-to-peer dimana semua orang
diijinkan untuk bergabung. Ketika seseorang bergabung dia akan mendapatkan salinan lengkap blockchain.
Pada saat sebuah blok baru dibuat, blok baru tersebut akan dikirimkan ke semua orang yang tergabung di dalam
jaringan. Setiap node akan memverifikasi blok untuk memastikan validitas dari blok. Jika semua blok bernilai
valid, maka setiap node akan menambahkan node yang baru tersebut ke blockchainnya sendiri.
Semua node dalam jaringan ini membuat konsensus. Mereka sepakat mengenai mana blok yang valid
mana yang tidak. Blok yang tidak valid akan ditolak oleh node yang lain dalam jaringan. Jadi untuk berhasil
mengubah blockchain kita harus mengubah semua blok dalam rantai, mengulangi proof-of work tiap blok, dan
mengendalikan lebih dari 50% peer-to-peer. Hanya dengan cara itu blok yang diubah bisa diterima oleh semua
orang.
Blockchain juga secara terus-menerus dikembangkan. Salah satu perkembangan yang terakhir pembuatan
kontrak cerdas. Kontrak ini adalah sebuah program yang disimpan pada blokchain dan dapat digunakan untuk
secara otomatis menukar koin berdasarkan suatu kondisi.
Dari penjelasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa ada 3 teknik/mekanisme yang digunakan untuk
membuat blockchain menjadi lebih aman. Tiga teknik/mekanisme tersebut adalah penggunaan hash, mekanisme
proof-of-work, dan pengelolaan secara terdistribusi.
2. UANG DIGITAL DAN ELEKTRONIK
Bagian ini akan menjelaskan mengenai mata uang dari sudut pandang yang berlaku di Indonesia dan
kemudian melihat bitcoin dari sudut pandang tersebut. Penjelasannya akan dimulai dengan melihat terlebih
dahulu bentuk mata uang rupiah yang ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia, kemudian melihat juga
perluasan cakupan mata uang rupiah menjadi mata uang rupiah dalam bentuk elektronik.
2.1 Mata Uang Rupiah
Saat berbicara mengenai mata uang yang berlaku di negara Republik Indonesia, rupiah, informasi
mengenai mata uang rupiah yang berlaku di seluruh wilayah negara Republik Indonesia dapat dilihat dari
undang-undang no. 7 tahun 2011. Berdasarkan UU No. 7 tahun 2011, pasal 1 menyatakan bahwa mata uang
yang berlaku di negara Republik Indonesia adalah uang yang dikeluarkan oleh negara Republik Indonesia dan
disebut dengan nama rupiah. Pasal 2 menyebutkan bahwa jenis atau macam mata uang yang diakui berdasarkan
undang-undang yang berlaku adalah mata uang berbentuk kertas dan logam. Pada pasal 11, disebutkan dengan
jelas bahwa Bank Indonesia merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang untuk mencetak, mengeluarkan,
mengedarkan, mencabut, menarik mata uang rupiah.
Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa mata uang yang beredar di Negara Republik
Indonesia adalah mata uang yang dikeluarkan oleh Negara Republik Indonesia dan disebut sebagai rupiah,
memiliki jenis mata uang kertas dan mata uang logam, serta, lembaga yang berwenang untuk mengatur mata
uang rupiah adalah Bank Indonesia dan bukan lembaga yang lain.
2.2 Mata Uang Rupiah dalam bentuk Elektronik
Pada sub bab sebelumnya dijelaskan mengenai mata uang fisik yang beredar dan digunakan di Negara
Republik Indonesia, rupiah; maka pada sub bab ini akan dijelaskan mengenai mata uang rupiah dalam bentuk
elektronik.
Mata uang rupiah secara undang-undang memang hanya memiliki 2 jenis yaitu dalam bentuk kertas dan
logam. Munculnya mata uang rupiah dalam bentuk elektronik merupakan sebuah evolusi karena tuntutan
perkembangan jaman dan hadirnya teknologi berbasis elektronik yang membuat proses transaksi menjadi lebih
mudah. Kehadiran mata uang rupiah dalam bentuk elektronik tentunya tidak lepas dari peran Bank Indonesia
sebagai satu-satunya lembaga yang berwenang mengatur mata uang rupiah. Peraturan mengenai mata uang
rupiah dalam bentuk elektronik dapat dilihat pada Peraturan Bank Indonesia no. 11/PBI/2009. Peraturan tersebut
memberikan rambu-rambu dan aturan main yang harus diikuti oleh pelaku ekonomi yang ingin memanfaatkan
proses transaksi elektronik dalam kegiatan usahanya.
Definisi mata uang rupiah dalam bentuk elektronik dapat dilihat pada pasal 4, yaitu nilai uang elektronik
adalah nilai uang yang disimpan secara elektronik pada suatu media yang dapat dipindahkan untuk kepentingan
transaksi pembayaran dan/atau transfer dana. Sedangkan pada pasal 3 ayat 3 dari butir a sampai butir d
memberikan penjelasan secara lebih rinci mengenai mata uang rupiah dalam bentuk elektronik sebagai berikut:
(a) mata uang rupiah dalam bentuk elektronik diterbitkan atas dasar nilai uang yang disetor terlebih dahulu oleh
3
Prosiding SENDI_U 2018 ISBN: 978-979-3649-99-3
pemegang kepada penerbit; (b) nilai uang disimpan secara elektronik dalam media chip atau server; (c)
digunakan sebagai alat pembayaran kepada pedagang yang bukan penerbit mata uang tersebut; (d) nilai uang
yang disetor oleh pemegang dan dikelola oleh penerbit bukan merupakan simpanan seperti yang dimaksud
dalam undang-undang perbankan.
2.3 Mata Uang Kripto dari Sudut Pandang Peraturan di Negara Republik Indonesia
Berdasarkan peraturan yang berlaku, dapat disimpulkan bahwa mata uang kripto tidak memiliki dasar
hukum. Sehingga, mata uang krypto seperti bitcoin tidak diakui sebagai alat tukar dan mata uang yang sah. Hal
tersebut sesuai dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia tanggal 6 bulan 2 tahun 2014.
Meskipun secara legal mata uang kripto tidak diakui sebagai alat tukar dan mata uang yang sah, Bank Indonesia
tidak melarang rakyat Indonesia untuk menggunakan mata uang kripto. Resiko dari penggunaan mata uang
kripto oleh rakyat Indonesia menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing.
Uang elektronik tidak dapat disamakan dengan mata uang kripto meskipun sama-sama berbentuk
elektronik atau digital. Uang elektronik merupakan mata uang rupiah yang berbentuk elektronik dan menurut
Peraturan Bank Indonesia no. 11/PBI/2009 pasal 4, uang elektronik adalah nilai uang yang disimpan secara
elektronik pada suatu media yang dapat dipindahkan untuk kepentingan transaksi pembayaran dan/atau transfer
dana.
Mata uang kripto merupakan mata uang digital tetapi bukan uang elektronik karena pengertian uang
elektronik yang berlaku di negara Indonesia merupakan bentuk lain dari mata uang rupiah yang mekanisme
pengelolaannya berbeda. Uang elektronik, berdasarkan Peraturan Bank Indonesia no. 11/PBI/2009 pasal 3 ayat
3 butir a dan d, disebutkan bahwa uang elektronik merupakan uang rupiah yang harus disetorkan terlebih dahulu
oleh pemegang kepada penerbit dan nilai uang yang disetor oleh pemegang dan dikelola oleh penerbit bukan
merupakan simpanan seperti yang dimaksud dalam undang-undang perbankan.
Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa mata uang kripto merupakan mata uang yang bukan mata
uang dan nilai tukar yang sah menurut peraturan yang berlaku serta bukan termasuk dalam golongan uang
elektronik. Penggunaan mata uang kripto seperti bitcoin tidak dilarang oleh Bank Indonesia, meskipun tidak
dilarang, resiko yang timbul dari penggunaan mata uang kripto merupakan tanggung jawab pribadi yang
bersangkutan.
3. PEMANFAATAN TEKNOLOGI BLOCKCHAIN
Tingkat keamanan yang baik yang ada pada teknologi blockchain yang digunakan oleh mata uang kripto
dapat dimanfaatkan untuk hal lain. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk memanfaatkan sistem keamanan
dari teknologi blockchain yang memiliki 3 macam mekanisme tersebut.
Memanfaatkan teknologi blockchain untuk keamanan dataset dan sistem dari Internet of Things (IoT)
merupakan hal baru yang menjanjikan. Keamanan dataset dari IoT merupakan hal yang penting, mengingat
sensivitas dataset IoT dan kebutuhan untuk sebuah standar dalam mekanisme pertukaran/pembagian dataset dari
IoT diantara peneliti, praktisi, dan pemangku kepentingan lainnya. Kemajuan teknologi, terutama kemajuan
yang terjadi dibidang semi-konduktor dan telekomunikasi, menyebabkan kita dapat memanfaatkan alat-alat
yang ada terhubung ke jaringan internet dengan mudah. Kemajuan ini juga mendorong pergeseran kebutuhan
akan teknologi dari masyarakat, yang awalnya membutuhkan perangkat teknologi informasi untuk mengolah
data menjadi masyarakat yang menghasilkan begitu banyak data dan semuanya itu terhubung ke jaringan
internet.
Melihat kemajuan yang seperti ini, diperlukan sebuah mekanisme yang cukup tangguh, terutama dalam
bidang Internet of Everything (IoE) yang cakupannya lebih luas daripada hanya IoT saja. Data yang dihasilkan
dari Internet of Battlefield Things (IoBT) atau Internet of Medical Things (IoMT), merupakan data yang sensitif
sehingga diperlukan sebuah mekanisme komunikasi yang dapat diandalkan dalam menjaga kerahasiaan,
keutuhan, dan keamanan data yang dihasilkan oleh alat-alat dari IoE [7].
Pemerintahan atau organisasi juga dapat memanfaatkan kelebihan yang dimiliki oleh blockchain dalam
hal komunikasi dan proses data antar bagian organisasi atau pemerintah. Blockchain dapat dimanfaatkan untuk
menjaga keutuhan data dari kegiatan pencatatan transaksi, peristiwa, sertifikat, dan kepemilikan yang ada di
dalam organisasi atau pemerintahan.
Secara garis besar, pemanfaatan blockchain untuk organisasi atau pemerintahan dapat dibagi menjadi 2
bagian, yaitu: (1) dari sisi perspektif pemerintahan oleh blockchain, dimana organisasi dapat mengadopsi
teknologi blockchain dan diterapkan pada proses yang terjadi di dalam organisasi, seperti penyediaan layanan
dan mengatur transaksi; (2) dari sisi perspektif tata kelola blockchain atau Blockchain Governance, dimana
organisasi atau pemerintahan yang menentukan bagaimana seharusnya blockchain digunakan, bagaimana
blockchain digunakan untuk beradaptasi terhadap perubahan sekaligus untuk memastikan bahwa nilai-nilai
publik dan kebutuhan masyarakat terpenuhi [5].
Selain dua contoh yang telah disebutkan dalam pemanfaatan teknologi blockchain, teknologi blockchain
dapat dimanfaatkan juga di bidang manajemen proyek konstruksi. Di dalam proyek konstruksi, kegiatan yang
terjadi selalu melibatkan lebih dari satu perusahaan. Kegiatan manajemen proyek konstruksi merupakan
4
Prosiding SENDI_U 2018 ISBN: 978-979-3649-99-3
kegiatan yang kompleksitasnya cukup besar dan secara umum hubungan yang terjadi diantara perusahaan
konstruksi yang saling bekerja sama berbentuk hirarkis atau peer-to-peer. Hubungan tersebut terjadi pada saat
mereka saling bertukar informasi secara intensif dan kesatuan manajemen informasi agar proyek konstruksi
yang dikerjakan bersama dapat berjalan dengan lancar. Kesatuan manajemen informasi ini diperlukan agar
komunikasi antar perusahaan konstruksi dapat berjalan lebih baik dan terarah, apalagi ditunjang dengan
kehadiran teknologi komunikasi seperti saat ini.
Ketika teknologi yang digunakan dalam pengerjaan proyek konstruksi bersifat tidak menghambat, pola
komunikasi diantara perusahaan konstruksi berbentuk peer-to-peer. Bentuk atau pola komunikasi ini sama
dengan pola terdistribusi peer-to-peer yang dimiliki oleh teknologi blockchain. Dalam kondisi seperti itu,
teknologi blockchain dapat memberikan sebuah infrastruktur yang dapat dipercaya bagi seluruh perusahaan
konstruksi yang terlibat di dalam proyek konstruksi. Biasanya, model manajemen informasi yang diterapkan
dalam proyek konstruksi menggunakan model manajemen informasi terpusat.
Model terpusat inilah sebagai sebuah titik masuk penerapan blockchain untuk mengelola informasi.
Pengelolaan informasi ini meliputi informasi tentang siapa melakukan apa dan kapan, sehingga informasi
tersebut dapat digunakan sebagai dasar atau bukti sebuah kegiatan telah terjadi dan siapa yang melakukannya
serta kapan itu terjadi. Penerapan teknologi blockchain untuk mencatat kegiatan konstruksi dapat digunakan
untuk meningkatkan kehandalan dan kepercayaan masing-masing perusahaan konstruksi terhadap catatan
kegitan konstruksi tersebut. Teknologi blockchain dapat juga diterapkan untuk mengamankan data yang
dihasilkan sensor pada ruang penyimpanan material.
Kesimpulannya, teknologi blockchain dapat memberikan alternatif yang dapat diterapkan dalam
masalah-masalah yang terjadi pada proyek konstruksi dan dapat juga sebagai sebuah bingkai kerja (framework)
teknologi informasi untuk diterapkan di proyek konstruksi [8].
4. PENUTUP DAN KESIMPULAN
Kehadiran mata uang kripto, dalam hal ini bitcoin, merupakan sebuah fenomena yang muncul karena
tuntutan pelaku usaha yang menginginkan proses transaksi yang lebih cepat dan terpercaya. Hadirnya mata uang
kripto memang menimbulkan kontroversi karena membuat tatanan keuangan yang sudah berjalan dan dikenal
selama berabad-abad seakan-akan menjadi hal yang tertinggal. Kontroversi dari mata uang kripto tidak serta
merta harus disikapi dengan tindakan yang negatif, tetapi harus disikapi dengan bijak. Dari segi peraturan
perundangan yang berlaku di negara Republik Indonesia, mata uang kripto memang tidak diakui sebagai alat
tukar yang sah, tetapi masyarakat tidak dilarang untuk memanfaatkannya dan resiko yang timbul dari pemakaian
mata uang kripto merupakan tanggung jawab pribadi masing-masing. Mata uang kripto dari sudut pandang
peraturan dan perundangan yang berlaku tidak dapat digolongkan menjadi mata uang elektronik karena prosedur
dari mata uang elektronik masih terkait dengan jenis mata uang yang diakui oleh negara Republik Indonesia.
Teknologi blockchain yang dibawa oleh mata uang kripto memiliki peluang untuk diterapkan tidak hanya
pada mata uang kripto. Blockchain sendiri memiliki 3 (tiga) elemen, yaitu elemen data, nilai hash dari blok, dan
nilai hash dari blok sebelumnya. Penerapan hash pada blok data dan nilai hash dari blok sebelumnya serta
penerapan penyebaran blockchain pada jaringan peer-to-peer membuat teknologi blockchain untuk saat ini dapat
diandalkan. Pada artikel ini diberikan 3 (tiga) contoh penerapan teknologi blockchain untuk bidang diluar dari
mata uang kripto, yaitu pada sistem keamanan dan keabsahan dataset dari IoT, pemanfaatan blockchain untuk
proses yang terjadi di dalam organisasi, dan pencatatan log book harian dari manajemen konstruksi.
Melihat dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa teknologi blockchain
yang muncul dapat dimanfaatkan untuk bidang lain yang memerlukan sebuah mekanisme keamanan dan
kehandalan yang dapat diterima oleh pihak-pihak yang terlibat di dalam transaksi ataupun proses kegiatan
lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Harris, C., 2018, The History of Bitcoin – Crypto Currency News, https://cryptocurrencynews.com/the-
history-of-bitcoin/, diakses tgl 20 Juni 2018.
[2] Milton, J., 2017, Bitcoin explained: What is it, what is it worth, will the bubble burst?,
http://www.nme.com/blogs/bitcoin-explained-history-price-controversy-bubble-2166807, diakses tgl 20
Juni 2018.
[3] Nakamoto, S., 2008, Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System, https://bitcoin.org/bitcoin.pdf,
diakses tgl 20 Juni 2018.
[4] Efanov, D., and Roschin, P., 2018, The All-Pervasiveness of the Blockchain Technology, Procedia
Computer Science, vol. 123, hal. 116–121.
5
Prosiding SENDI_U 2018 ISBN: 978-979-3649-99-3
[5] Ølnes, S., Ubacht, J., and Janssen, M., 2017, Blockchain in Government: Benefits and Implications of
Distributed Ledger Technology for Information Sharing, Goverment Information Quarterly, No. 3, Vol.
34, hal. 355–364.
[6] Saberi, S., Kouhizadeh, M., and Sarkis, J., 2018, Blockchain Technology: A Panacea or Pariah for
Resources Conservation and Recycling?, Resources, Conservation and Recycling, no. November 2017,
vol. 130, hal. 80–81.
[7] Banerjee, M., Lee, J., and Choo, K.-K. R., 2017, A Blockchain Future to Internet of Things Security: A
Position Paper, Digital Communications and Networks, no. October, hal. 1-12.
[8] Turk, Ž., and Klinc, R., 2017, Potentials of Blockchain Technology for Construction Management,
Procedia Engineering, no. June, vol. 196, hal. 638–645.
6
... Teknik memanfaatkan hash inilah yang membuat Blockchain menjadi lebih aman, karena jika ada yang mengubah salah satu blok dalam rantai blok maka nilai hashnya akan berubah dan blok berikutnya akan menjadi tidak valid lagi karena tidak menyimpan nilai hash yang valid dari blok sebelumnya. Artinya, perubahan yang dilakukan terhadap sebuah blok akan mengakibatkan seluruh rantai blok menjadi tidak valid [13]. ...
... Pengimplementasian dari teknologi Blockchain pada Sistem Event dapat mengamankan informasi pendaftaran event. Blockchain memiliki tiga teknik/mekanisme antara lain adalah penggunaan hash, mekanisme proof-of-work, dan pengelolaan secara terdistribusi [13]. ...
... Artinya, perubahan yang dilakukan terhadap sebuah blok akan mengakibatkan seluruh rantai blok menjadi tidak valid [13]. Contoh hasil dari pembuatan blok dapat dilihat pada Gambar 4. ...
... The fundraising users and funders have indicated that the functional requirements of the system may implement the following use case designs [14]. The research on blockchain crypto currency technology aims at illustrating the opportunities obtained from the technology that plays a role in crypto currency [15]. The research on security and privacy uses blockchain [16]. ...
Article
Full-text available
User data security innovation is a particular concern in protecting one's privacy rights, which is one of the serious violations when an attacker can bypass the user authentication so that it looks like something legitimate and becomes legal. Based on these issues, the research aims at optimizing and evaluating the blockchain-based authentication systems to minimize data leakage, manipulate the data, and modify the data. Blockchain is one of the innovations that can solve this problem. Data or transactions in the blockchain are saved in hash form to make it difficult for hackers to break into them. The Blockchain implementation uses the Solidity programming language to build smart contracts and other tools such as MetaMask, Ganache, and Truffle. The Network Forensics Development Life Cycle (NFLDC) is used as a framework with the following five stages: Initiation, Acquisition, Implementation, Operation, and Disposition. Based on the research conducted, the attack strategy against blockchain-based systems consists of several scenarios covering the Burp Suite, XSS, SQL Injection, and DoS. The results show that the percentage of authentication optimization reaches a value of 90.1%, and 8.9% is the percentage for evaluating systems such as the possibility of cyberattack. Based on these results, this research has achieved its goals and may assist in further research. Doi: 10.28991/esj-2021-SP1-015 Full Text: PDF
... Often people who act as trusted third parties record information on the Blockchain. In the case of tracking or other unethical business practices, an individual can easily enter the Blockchain system that the business is legitimate and upstream actors can be deceived [17]. ...
Article
Full-text available
In the disruptive 4.0 era that emphasizes technological sophistication, blockchain is present as a technology that increasingly influences human life, helping humans in all aspects, including education. The role of blockchain technology in the world of education is to test the validity of diplomas, the increasing number of fake diplomas for an interest, both for work and continuing education to a higher level. The purpose of this research with the implementation of blockchain is expected to make it easier for users to verify the authenticity of a diploma. This study uses the SWOT analysis method to identify all possibilities that exist in blockchain technology. The final result of this research, the system will print a physical certificate in the form of paper in general, then the certificate will be printed a QR code. To verify numeric code on QR Code via scanning on smartphone or QR Reader. It is hoped that the blockchain technology applied to digital assets can reduce cases of forgery of diplomas and other important documents.
... Utilizing this hash makes Blockchain more secure because if someone changes one of the blocks in the Blockchain, the hash value will change, and the next block will become invalid because it does not store the valid hash value of the previous block. This technique means that a block's changes will invalidate the entire Blockchain [21,22]. Blockchain also has several concepts (apart from distributed databases) such as block hash and consensus protocols (proof-of-work, proof-of-stake, etc.) [23]. ...
Article
Full-text available
Payload authentication is vulnerable to Man-in-the-middle (MITM) attack. Blockchain technology offers methods such as peer to peer, block hash, and proof-of-work to secure the payload of authentication process. The implementation uses block hash and proof-of-work methods on blockchain technology and testing is using White-box-testing and security tests distributed to system security practitioners who are competent in MITM attacks. The analyisis results before implementing Blockchain technology show that the authentication payload is still in plain text, so the data confidentiality has not minimize passive voice. After implementing Blockchain technology to the system, white-box testing using the Wireshark gives the result that the authentication payload sent has been well encrypted and safe enough. The percentage of security test results gets 95% which shows that securing the system from MITM attacks is relatively high. Although it has succeeded in securing the system from MITM attacks, it still has a vulnerability from other cyber attacks, so implementation of the Blockchain needs security improvisation.
Article
Full-text available
Blockchain technology enables distributed, encrypted and secure logging of digital transactions. It is the underlying technology of Bitcoin and other cryptocurrencies. Blockchain is expected to revolutionize computing in several areas, particularly where centralization was unnatural and privacy was important. In the paper, we present research on where and how this technology could be useful in the construction industry. The work is based on the study of literature on open issues that exist in construction process management. These are than matched to the capabilities of blockchain. We are motivated by the fact that construction projects involve a dynamic grouping of several companies. We study the degree to which the relationships among them are hierarchical or peer-to-peer and note that particularly in information intensive phases, centralization of information management was necessary because of technology. When using un-constraining technology, communication patterns among participants show a peer-to-peer nature of the relationships. In such environment, blockchain can provide a trustworthy infrastructure for information management during all building life-cycle stages. Even if building information modelling (BIM) is used, which assumes a centralized building information model, there is a role for blockchain to manage information on who did what and when and thus provide a basis for any legal arguments that might occur. On the construction site blockchain can improve the reliability and trustworthiness of construction logbooks, works performed and material quantities recorded. In the facility maintenance phase, blockchain's main potential is the secure storage of sensor data which are sensitive to privacy. We conclude that blockchain provides solutions to many current problems in construction information management. However, it is more likely that it will be built into generic IT infrastructure on top of which construction applications are built, rather than used directly by authors of construction related software. It has a potential to make construction processes less centralized which opens needs for research in that direction.
Article
Full-text available
Conceptually, the blockchain is a distributed database containing records of transactions that are shared among participating members. Each transaction is confirmed by the consensus of a majority of the members, making fraudulent transactions unable to pass collective confirmation. Once a record is created and accepted by the blockchain, it can never be altered or disappear. Nowadays the blockchain technology is considered as the most significant invention after the Internet. If the latter connects people to realize on-line business processes, the former could decide the trust problem by peer-to-peer networking and public-key cryptography. The purpose of this paper is to consider on distinct use cases at the all-pervasive impact of the blockchain technology and look at this as an inalienable part of our daily life.
Article
Full-text available
Internet-of-Things (IoT) are increasingly found in civilian and military contexts, ranging from Smart Cities to Smart Grids to Internet-of-Medical-Things to Internet-of-Vehicles to Internet-of-Military-Things to Internet-of-Battlefield-Things, etc. In this paper, we survey articles presenting IoT security solutions published in English since January 2016. We make a number of observations, include the lack of publicly available IoT datasets that can be used by the research and practitioner communities. Given the potential sensitive nature of IoT datasets, there is a need to develop a standard for the sharing of IoT datasets among the research and practitioner communities and other relevant stakeholders. We then posit the potential for blockchain technology in facilitating secure sharing of IoT datasets (e.g. using blockchain to ensure the integrity of shared datasets) and securing IoT systems, before presenting two conceptual blockchain-based approaches. We then conclude this paper with nine potential research questions.
Article
A purely peer-to-peer version of electronic cash would allow online payments to be sent directly from one party to another without going through a financial institution. Digital signatures provide part of the solution, but the main benefits are lost if a trusted third party is still required to prevent double-spending. We propose a solution to the double-spending problem using a peer-to-peer network. The network timestamps transactions by hashing them into an ongoing chain of hash-based proof-of-work, forming a record that cannot be changed without redoing the proof-of-work. The longest chain not only serves as proof of the sequence of events witnessed, but proof that it came from the largest pool of CPU power. As long as a majority of CPU power is controlled by nodes that are not cooperating to attack the network, they'll generate the longest chain and outpace attackers. The network itself requires minimal structure. Messages are broadcast on a best effort basis, and nodes can leave and rejoin the network at will, accepting the longest proof-of-work chain as proof of what happened while they were gone.
The History of Bitcoin -Crypto Currency News
  • C Harris
Harris, C., 2018, The History of Bitcoin -Crypto Currency News, https://cryptocurrencynews.com/thehistory-of-bitcoin/, diakses tgl 20 Juni 2018.
Bitcoin explained: What is it, what is it worth
  • J Milton
Milton, J., 2017, Bitcoin explained: What is it, what is it worth, will the bubble burst?, http://www.nme.com/blogs/bitcoin-explained-history-price-controversy-bubble-2166807, diakses tgl 20 Juni 2018.