ArticlePDF Available

Abstract and Figures

Ocimum basilicum L. or basil is widely used as a community producing the essential oils. By human the Ocimum basilicum has been used as medicine, vegetable, and spices. This article is based on offline and online media literature. Offline literature used the books, disertations, thesis, whereas online media used Web, Scopus, Pubmed, and scientific journals. The main essential oils in the Ocimum basilicum have monotherpene derivatives (camphor, limonene, 1,8-cineole, linalool, geraniol) and phenylpropanoid derivatives (eugenol, methyleugenol, chavicol, estragole, methyl-cinnamate). The traditional medicine its utilized as a carminative, stomach and antispasmodial, nausea, bloating, and dysentery. Based on its, bioessay have activity as an antioxidant, anti-bacterial, and anti-cancer. PENDAHULUAN Ocimum merupakan salah satu genus dari famili Lamiaceae yang kaya akan minyak essensial. Genus Ocimum memiliki lebih dari 150 spesies (Javanmardi et al., 2002; Sajjadi, 2006). Minyak essensial merupakan senyawa yang mudah menguap sehingga menghasilkan aroma khas. Oleh sebab itu, senyawa tersebut banyak digunakan dalam industri makanan, minuman, dan dalam pengobatan. Beberapa minyak essensial oil yang telah dikomersialkan yaitu geraniol dan lavender. Ocimum basilicum atau yang dikenal juga sebagai kemangi merupakan salah jenis dari genus Ocimum yang banyak digunakan masyarakat sebagai penghasil minyak essensial. Secara empirik di Indonesia, kemangi sangat mudah ditemukan di pekarangan maupun di lanskap lainnya serta diperdagangkan secara luas di berbagai pasar tradisional dan pasar modern. Dalam kehidupan sehari-hari O. basilicum dimanfaatkan sebagai obat, sayur, dan bumbu masak. Oleh masyarakat lokal Indonesia O. basilicum dimanfaatkan sebagai lalapan, bahan tambahan pada berbagai masakan seperti pepes, gulai ikan, dan rica-rica (sejenis tumis daging ayam maupun daging lainnya). Makanan yang diberi bahan tambahan O. basilicum memiliki aroma khas sehingga meningkatkan selera cita rasa dan mengakibatkan masakan lebih awet. Dalam pengobatan, O. basilicum digunakan dalam aroma terapi maupun untuk mengobati berbagai jenis penyakit. Pengobatan tradisional memanfaatkan O. basilicum sebagai obat karminatif, sakit perut, dan anti pasmodial, mual, kembung,
No caption available
… 
Content may be subject to copyright.
557
ISSN e-journal 2579-7557
MINYAK ESSENSIAL PADA KEMANGI (Ocimum basilicum L.)
Marina Silalahi
Prodi Pendidikan Biologi FKIP, Universitas Kristen Indonesia, Jakarta.
Corresponding author: marina.silalahi@uki.ac.id, marina_biouki@yahoo.com
Abstract
Ocimum basilicum L. or basil is widely used as a community producing the essential oils. By human the Ocimum
basilicum has been used as medicine, vegetable, and spices. This article is based on offline and online media
literature. Offline literature used the books, disertations, thesis, whereas online media used Web, Scopus,
Pubmed, and scientific journals. The main essential oils in the Ocimum basilicum have monotherpene
derivatives (camphor, limonene, 1,8-cineole, linalool, geraniol) and phenylpropanoid derivatives (eugenol,
methyleugenol, chavicol, estragole, methyl-cinnamate). The traditional medicine its utilized as a carminative,
stomach and antispasmodial, nausea, bloating, and dysentery. Based on its, bioessay have activity as an
antioxidant, anti-bacterial, and anti-cancer.
Keywords: Ocimum basilicum, essential oils, anti-cancer, and anti-bacterial
PENDAHULUAN
Ocimum merupakan salah satu
genus dari famili Lamiaceae yang kaya
akan minyak essensial. Genus Ocimum
memiliki lebih dari 150 spesies
(Javanmardi et al., 2002; Sajjadi, 2006).
Minyak essensial merupakan senyawa
yang mudah menguap sehingga
menghasilkan aroma khas. Oleh sebab itu,
senyawa tersebut banyak digunakan dalam
industri makanan, minuman, dan dalam
pengobatan. Beberapa minyak essensial oil
yang telah dikomersialkan yaitu geraniol
dan lavender.
Ocimum basilicum atau yang
dikenal juga sebagai kemangi merupakan
salah jenis dari genus Ocimum yang
banyak digunakan masyarakat sebagai
penghasil minyak essensial. Secara empirik
di Indonesia, kemangi sangat mudah
ditemukan di pekarangan maupun di
lanskap lainnya serta diperdagangkan
secara luas di berbagai pasar tradisional
dan pasar modern. Dalam kehidupan
sehari-hari O. basilicum dimanfaatkan
sebagai obat, sayur, dan bumbu masak.
Oleh masyarakat lokal Indonesia O.
basilicum dimanfaatkan sebagai lalapan,
bahan tambahan pada berbagai masakan
seperti pepes, gulai ikan, dan rica-rica
(sejenis tumis daging ayam maupun daging
lainnya). Makanan yang diberi bahan
tambahan O. basilicum memiliki aroma
khas sehingga meningkatkan selera cita
rasa dan mengakibatkan masakan lebih
awet.
Dalam pengobatan, O. basilicum
digunakan dalam aroma terapi maupun
untuk mengobati berbagai jenis penyakit.
Pengobatan tradisional memanfaatkan O.
basilicum sebagai obat karminatif, sakit
perut, dan anti pasmodial, mual, kembung,
Jurnal Pro-Life Volume 5 Nomor 2, Juli 2018
558
ISSN e-journal 2579-7557
dan disentri (Ozcan dan Chalchat, 2002;
Sajjadi, 2006). Etnis Batak di Sumatera
Utara, memanfaatkan O. basilicum sebagai
salah satu komponen atau bahan ramuan
oukup (Silalahi, 2014). Oukup merupakan
sauna tradisional etnis Batak Karo yang
memanfaatkan tumbuhan yang kaya akan
minyak essensial dari famili Rutaceae dan
Zingiberaceae. Minyak essensial dari O.
basilicum secara tradisional diperoleh dari
seluruh bagian yang terdapat di atas tanah
meliputi batang, daun, dan bunga melalui
proses distilasi (Trevisan et al., 2006).
Walaupun demikian, daun segar
merupakan bagian yang paling sering
dimanfaatkan khususnya dalam bidang
kuliner.
Pemanfaatan tumbuhan sebagai
obat maupun sebagai bumbu masak
berhubungan dengan kandungan metabolit
sekundernya terutama minyak essensial.
Berbagai peneliti menyatakan bahwa
minyak essensial memiliki berbagai
macam bioaktivitas. Tulisan ini membahas
lebih detail mengenai minyak essensial
yang terkandung dalam O. basilicum dan
bioaktivitasnya.
METODE PENELITIAN
Penulisan artikel ini didasarkan
studi literatur yang diperoleh secara online
maupun off line. Artikel online berupa
jurnal maupun hasil penelitian. Tulisan ini
didasarkan pada kajian literatur baik secara
online dan offline. Offline didasarkan pada
berbagai buku literatur seperti Plants
Resources of South East Asian dan buku
lainnya. Media online didasarkan pada
Web, Scopus, Pubmed, dan media on-line
yang digunakan untuk publikasi dari
berbagai Scientific journals.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Ocimum basilicum (L.)
Genus Ocimum termasuk dalam
famili Lamiaceae yang tersebar di daerah
tropis dan sub tropis (Asia, Afrika, dan
Amerika). Tanaman ini diduga berasal dari
India, Afghanistan, Pakistan, India bagian
Utara, dan Iran. Namun, saat ini telah
dibudidayakan hampir di seluruh dunia
(Moghaddam et al., 2011). Ocimum
basilicum merupakan salah satu spesies
dari genus Ocimum yang telah banyak
dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan
obat-obatan. Masyarakat Indonesia secara
umum mengenal O. basilicum dengan
nama kemangi dan dianggap bermanfaat
secara ekonomi karena telah
diperjualbelikan sebagai komoditi
ekonomi, baik dalam bentuk segar,
simplisia, maupun minyak essensial.
Ocimum basilicum merupakan
tanaman annual, tumbuhan asli (native)
yang berasal dari India dan Asia lainnya,
tingginya mencapai 20 - 60 cm, dengan
Marina Silalahi: Minyak Essensial pada Kemangi (Ocimum basilicum L.)
559
ISSN e-journal 2579-7557
bunga berwarna putih-ungu (Klimankova
et al., 2008). Kemangi merupakan
tumbuhan herba menahun, memiliki batang
berbentuk segi empat dengan ketebalan
hingga mencapai 6 mm. Batang memiliki
banyak percabangan, bewarna hijau terang
hingga ungu gelap, dan terkadang seperti
berkayu. Daun merupakan daun tunggal,
berhadapan, dengan panjang tangkai daun
1 4,5 cm, berbentuk bulat telur hingga
elips. Helaian daun berukuran 1 5 cm x
0,5 2 cm dengan pinggiran daun rata (de
Guzman and Simeonsma, 1999).
Bunga O. basilicum memiliki
labiate (bibir) berwarna putih, merah muda
(rose) hingga ungu (violet). Kalik (kelopak
bunga) berbentuk bilabiate dan corolla
(mahkota bunga) memiliki 4 lobus
(Moghaddam et al., 2011). Bibir bagian
bawah sederhana dengan 4 stamen
berbaring di dalamnya (Sajjadi, 2006)
(Gambar 1).
Gambar 1. Ocimum basilicum L. (1). bunga; (2) taruk (shoot); (3). pembungaan (4)
flouter (de Guzman dan Simeonsma, 1999).
Jurnal Pro-Life Volume 5 Nomor 2, Juli 2018
560
ISSN e-journal 2579-7557
Genus Ocimum memiliki sekitar 64
(Zarlaha et al., 2014) - 200 spesies (Dhiza,
2010) dan O. basilicum merupakan jenis
yang telah banyak dibudidayakan (Sajjadi,
2006) sebagai penghasil minyak essensial.
Said-Al Ahl et al. (2015) menyatakan di
Mesir dikenal empat varietas kemangi
yaitu (O. basilicum var. odoratus, O.
basilicum var. alba, O. basilicum var.
thyrsiflorum, dan O. basilicum var.
purpurascens). Lebih lanjut Said-Al Ahl et
al. (2015) menyatakan bahwa ke empat
varietas tersebut memiliki kandungan
minyak essensial yang berbeda. Sajjadi
(2006) menyatakan bahwa di Iran terdapat
dua cultivar O. basilicum yang disebut
dengan O. basilicum L. cv. hijau dan O.
basilicum L. cv. ungu.
Minyak Essensial
Minyak essensial merupakan salah
satu jenis metabolit sekunder yang
dihasilkan tumbuhan yang bernilai secara
ekonomi. Tumbuhan memanfaatkan
metabolit sekunder sebagai pertahanan
terhadap serangan berbagai mikroba,
serangga, maupun herbivora lainnya. Jenis
metabolit sekunder yang disintesis
tumbuhan sangat bervariasi antara satu
spesies dengan spesies lainnya, bahkan
terkadang dalam spesies yang sama juga
terdapat variasi tergantung faktor
lingkungan. Berbagai faktor dilaporkan
mempengaruhi kandungan metabolit
sekunder yaitu faktor eksternal dan
internal. Beberapa faktor ekternal yang
sangat berpengaruh terhadap kandungan
metabolit sekunder antara lain: topografi,
cuaca, dan iklim (Zarlaha et al., 2014).
Metabolit sekunder merupakan
senyawa yang dihasilkan dari proses
metabolisme sekunder dengan
menggunakan senyawa antara yang
dihasilkan pada berbagai tahapan
metabolisme primer seperti pada proses
glikolisis. Perbedaan senyawa prekusor
maupun proses metabolisme akan
mempengaruhi jenis metabolit sekunder
yang dihasilkan (Taiz dan Zeinger, 2006).
Hal tersebut mengakibatkan banyaknya
variasi atau jenis metabolisme yang
dihasilkan tumbuhan.
Terpenoid merupakan salah satu
metabolit sekunder yang dibangun sub-unit
C5 yang dikenal dengan nama
monoterpenoid (C10), seskuiterpenoid
(C15), diterpenoid (C20), dan triterpenoid
(C30). Monoterpenoid (C10) dan
seskuiterpenoid (C15) merupakan senyawa
yang mudah menguap atau sebagian besar
penyusun minyak essensial atau yang
dikenal juga sebagai minyak atsiri. Minyak
atsiri adalah campuran senyawa volatil,
terbentuk dan diakumulasikan oleh
tanaman pada kelenjar rambut dan sel, dan
kelenjar minyak (Zarlaha et al., 2014).
Minyak essensial bersifat bersifat lipofilik,
Marina Silalahi: Minyak Essensial pada Kemangi (Ocimum basilicum L.)
561
ISSN e-journal 2579-7557
larut dalam pelarut alkohol dan lipida
(Zarlaha et al., 2014).
Lawrence (1988) menyatakan
bahwa essensial oil yang terdapat di dalam
O. basilicum disintesis melalui melalui dua
macam jalur biokimia yaitu jalur asam
shikimat seperti fenilpropanoid (metil
chavicol, eugenol, methyleugenol, dan
metil cinnamate) dan jalur asam mevalonat
seperti terpen (linalool dan geraniol).
Ocimum basilicum mengandung hingga
1,5% minyak esensial, yang komposisinya
paling banyak adalah linalool dan eugenol
(Zarlaha et al., 2014) (Gambar 2).
Perbedaan komposisi minyak esensial pada
O. basilicum yang dibudidayakan di
berbagai lokasi geografis menyebabkan
klasifikasi kemangi dilakukan berdasarkan
kemotipe/ komponen kimia umum
(Lawrence, 1992).
Kandungan senyawa kimia atau
metabolit sekunder yang terdapat pada O.
basilicum bervariasi dipengaruhi oleh
faktor lingkungan (Zarlaha et al., 2014)
maupun faktor internalnya (Da-Silva et al.,
2003). Faktor lingkungan yang
mempengaruhi kuantitas dan komposisi
minayak atsiri pada kemangi antara lain:
kondisi tanah tempat penanaman,
perubahan iklim, dan periode pemanenan
(Zarlaha et al., 2014), sedangkan faktor
internal antara lain variasi kemotipe, warna
daun dan bunga, aroma dan asal tanaman
(Da-Silva et al., 2003).
Sebanyak 75 senyawa diidentifikasi
sebagai komponen penyusun minyak
esensial dari O. basilicum (Beatovic et al.,
2015). Komponen utama minyak esensial
yang terdapat dalam kemangi antara lain:
(-)-linalool, (-)-camphor, α-huulene,
eucaliptol, eugenol, (-)-bornyl acetate,
methyl chavicol, (-)-trans-caryophyllene,
alpha-trans-bergamotene, dan cadinol
(Zheljazkov 2008; Dhiza, 2010; Said-Al
Ahl dan Mahmoud 2010). Walaupun
demikian kandungan essensial oil pada
kemangi memiliki banyak variasi. Said-Al
Ahl et al. (2015) menyatakan bahwa
kandungan minyak atsiri O. basilicum var.
thyrsiflorum lebih tinggi dibandingkan
dengan O. basilicum var. alba dan O.
basilicum var. purpurascens dan O.
basilicum var. odoratus, namun kandungan
utamanya adalah eugenol (38,36 - 57,79%)
dan linalool (27,30 - 39,74%). Konsentrasi
eugenol dan linalool pada O. basilicum
saling berlawanan yaitu ketika konsentrasi
eugenol meningkat maka konsentrasi
linalool menurun dan sebaliknya (Said-Al
Ahl et al., 2015).
Faktor lingkungan yang
mempengaruhi minyak esesnsial pada
kemangi antara lain: nutrisi tanaman,
waktu pemanenan dan lama pengeringan.
Nutrisi yang sangat mempengaruhi
Jurnal Pro-Life Volume 5 Nomor 2, Juli 2018
562
ISSN e-journal 2579-7557
essensial oil terutama unsur makroelemen
dan mikroelemen, yang secara langsung
maupun tidak langsung akan
mempengaruhi pH tanah. Nitrogen
merupakan makroelemen unsur yang
secara signifikan mempengaruhi kadar
essensial oil yang dihasilkan kemangi
(Zheljazkov et al., 2008). Konsentrasi
linalool dan methylchavicol akan menurun
pada tanah basa (Said-Al Ahl and
Mahmoud, 2010). Penambahan
mikronutrien seperti seng dan besi pada
tanah normal akan menurunkan
konsentrasi linalool; sebaliknya terjadi
peningkatan kandungan linalool dengan
menggunakan perlakuan tanah basa (Said-
Al Ahl and Mahmoud, 2010).
Eugenol
Ethyl eugenol
Isoeugenol
Linalool
Gambar 2. Minyak essensial turunan phenolik pada O. basilicum (Zarlaha et al., 2014).
Selain faktor makro dan
mikronutrien, waktu pemanenan dan lama
pengeringan mempengaruhi kadar minyak
essensial oil. Pemanenan pada pukul 8:00
dan 12:00 memberikan hasil minyak
esensial yang lebih tinggi. Setelah lima
hari pengeringan, konsentrasi linalool
meningkat dari 45,18% menjadi 86,80%.
Ocimum basilicum harus dipanen pada
pagi hari dan biomassa dikeringkan pada
suhu 40ºC selama lima hari untuk
mendapatkan linalool minyak esensial
yang tinggi (Filho et al., 2006).
Adanya pengaruh sejumlah faktor
lingkungan tersebut mengakibatkan jenis
minyak essensial yang berhasil dilaporkan
oleh setiap peneliti bervariasi yaitu
sebanyak 30 jenis (Unnithan et al., 2013),
49 jenis (Özcan dan Chalchat, 2002) dan
75 jenis (Beatovic et al. 2015). Walaupun
demikian, komponen utamanya relatif
sama antara lain, metil eugenol, α-
cubebene, nerol dan ε-muurolene (Özcan
dan Chalchat, 2002), kopaene, p-menth-2-
en-1-ol, eugenylacetae, bornyl acetate, α-
himachalene, rosifoliol dan (2,5%)
(Unnithan et al., 2013), metil chavicol,
Marina Silalahi: Minyak Essensial pada Kemangi (Ocimum basilicum L.)
563
ISSN e-journal 2579-7557
linalool, epi-α-cadinol (5,9%) dan trans-α-
bergamotene (Sajjadi, 2006)
Selain faktor lingkungan, jenis
maupun konsentrasi minyak esensial yang
terkandung pada kemangi juga dipengaruhi
faktor internal terutama varietas.
Kandungan utama essensial oil pada O.
basilicum L. cv. ungu adalah metil
chavicol (52,4%), linalool (20,1%), epi-α-
cadinol (5,9%) dan trans-α-bergamotene
(5,2%), sedangkan O. basilicum L. cv.
hijau memiliki komponen utama antara
lain metil chavicol (40,5%), geranial
(27,6%), neral (18,5%) dan caryophyllene
oxide (5,4%)(Sajjadi, 2006).
Manfaat Minyak Essensial
Ocimum basilicum digunakan
sebagai obat, sayur, dan bumbu masak.
Sebagai bahan obat tradisional kemangi
digunakan sebagai obat karminatif, sakit
perut, anti spasmodik, mengobati mual,
kembung, dan disentri (Ozcan dan
Chalchat, 2002; Sajjadi, 2006). Berbagai
bioassaynya O. basilicum memiliki
berbagai aktivitas di antaranya antioksidan
(Beatovic et al., 2015; Potelito et al.,
2007), antibakteri (Moghaddam et al.,
2011; Unnithan et al., 2013) dan
antikanker (Zarlaha et al., 2014).
1. Antioksidan
Antioksidan merupakan senyawa
yang menghambat radikal bebas. Senyawa
sintetis yang paling banyak digunakan
sebagai antioksidan antara lain: butylated
hydroxytoluene (BHT), butylated
hydroxyanisole (BHA) (Potelito et al.,
2007). Senyawa fenolik merupakan
senyawa alami yang dihasilkan tumbuhan
yang memiliki aktivitas sebagai
antioksidan (Agatiet al., 2012). Radikal
bebas pada tumbuhan umumnya
disebabkan oleh paparan sinar ultraviolet
(UV) yang terlalu intensif. Oleh sebab itu,
tumbuhan mensintesis senyawa fenolik
sebagai bentuk pertahanan diri terhadap
radikal bebas (Takahashi dan Badger
2011).
Untuk menguji kemampuan suatu
senyawa sebagai penangkal radikal bebas
digunakan 2,20-diphenyl-1-picrylhydrazyl
(DPPH). Hasil uji DPPH terhadap minyak
essensial dari O. bailicum menunjukkan
kapasitas antioksidan yang sangat tinggi
dengan nilai IC50 = 0,03 μg / mL
(Beatovic et al., 2015). Minyak essensial
yang terkandung pada kemangi berupa
eugenol, chavicol, linalool dan a-terpineol
bersifat sebagai antioksidan (Potelito et
al., 2007).
2. Antibakteri
Anti mikroba merupakan senyawa
yang dapat menghambat pertumbuhan
mikroba. Ekstrak O. basilicum mampu
menghambat pertumbuhan bakteri
(Moghaddam et al., 2011; Unnithan et al.
2013), plasmodium (Sajjadi, 2006), dan
Jurnal Pro-Life Volume 5 Nomor 2, Juli 2018
564
ISSN e-journal 2579-7557
jamur (Beatovic et al., 2015). Kemampuan
O. basilicum dalam mengahambat
pertumbuhan bakteri dipengaruhi oleh
kultivarnya (Beatovic et al., 2015). Hal
tersebut diduga adanya perbedaan
kandungan minyak essensial pada setiap
kultivar O. basilicum (Said-Al Ahl et al.,
2015).
Ekstrak kemangi menghambat
pertumbuhan bakteri gram negatif
(Escherichia coli, Pseudomonas
aeruginosa) dan bakteri gram positif
(Bacillus cereus, Staphylococcus aureus)
(Moghaddam et al., 2011). Walaupun
demikian, aktivitas antibakteri terhadap
gram positif (Staphylococcus auerus) lebih
tinggi dibandingkan bakteri gram negatif
(Escherichia coli) (Unnithan et al., 2013).
Hal tersebut berhubungan dengan
perbedaan struktur dinding sel bakteri
gram positif yang lebih sederhana
dibandingkan dengan bakteri gram negatif,
yang mengakibatkan minyak essensial sulit
menembus dindingnya.
Zona hambat ekstrak O. basilicum
terhadap berbagai spesies bakteri
bervariasi yaitu: Staphylococcus aureus
(29,20-30,56 mm), Bacillus cereus (10,66-
16,11 mm), Escherichia coli (17.48-23.58
mm) dan untuk Pseudomonas aeruginosa
lebih besar dibandingkan dengan yang
lainya. Minimum inhibitory concentration
(MIC) untuk bakteri gram positif adalah
sebagai: B. cereus yang berkisar 36-18
μg/mL, S. aureus 18 μg/mL, dan untuk
bakteri gram negatif bakteri E. coli dan P.
aeruginosa adalah 18-9 μg/mL
(Moghaddam et al., 2011).
3. Antikanker
Kanker merupakan salah satu jenis
penyakit yang menyebabkan kematian
tertinggi pada manusia. Kanker disebabkan
oleh pertumbuhan sel yang tidak
terkendali, oleh karena itu senyawa
antikanker merupakan senyawa yang dapat
menghambat pembelahan sel. Hingga saat
ini senyawa antikanker sebagian besar
masih diekstrak langsung dari tumbuhan.
Catharanthus roseus dan Taxus sp.
merupakan tumbuhan yang telah lama
digunakan sebagai antikanker dan bahkan
senyawa katarantin dan taxol telah berhasil
dipuifikasi.
Beberapa penelitian telah berhasil
menunjukkan potensi O. basilicum sebagai
antikanker. Zarlaha et al. (2014)
menyatakan bahwa ekstrak etanol dan
minyak esensial O. basilicum, memiliki
aktivitas sebagai antikanker pada empat sel
kanker sel manusia yang berbeda yaitu sel
kanker serviks adeno karsinoma sel HeLa,
sel melanoma manusia FemX, sel
myelogenous leukemia K562 kronis, dan
sel ovarium manusia SKOV3 secara in
vitro. Senyawa minyak esensial eugenol,
isoeugenol, dan linalool yang diektrak dari
Marina Silalahi: Minyak Essensial pada Kemangi (Ocimum basilicum L.)
565
ISSN e-journal 2579-7557
O. basilicum menunjukkan aktivitas
sitotoksik yang signifikan terutama
terhadap sel SKOV3. Dalam model silico
telah ditunjukkan bahwa isoeugenol secara
efektif menghambat aksi enzim
siklooksigenase dan lipoxygenase (Zarlaha
et al., 2014). Enzim ini merupakan salah
satu enzim yang terlibat dalam pembelahan
sel.
KESIMPULAN
1. Kandungan minyak essesnsial utama
pada O. basilicum berasal dari derivat
monotherpene (camphor, limonene,
1,8-cineole, linalool, geraniol) dan
derivat phenylpropanoid (eugenol,
methyleugenol, chavicol, estragole,
methyl-cinnamate).
2. Pengobatan tradisional memanfaatkan
kemangi sebagai obat karminatif,
sakit perut dan antispasmodial, mual,
kembung, dan disentri.
3. Berdasarkan bioassaynya O. basilicum
memiliki aktivitas sebagai antioksidan,
antibakteri dan antikanker.
DAFTAR PUSTAKA
Agati G, Azarello E, Pollastri S, dan
Tattini M. 2012. Flavonoids as
antioxidants in plants: Location and
functional significance. Plant
Science 196: 67-76.
Beatovic D, Krstic-Miloševic D,
Trifunovic S, Šiljegovic J,
Glamoclija J, Ristic M, dan Jelacic S.
2015. Chemical composition,
antioxidant and antimicrobial
activities of the essential oils of
twelve Ocimum basilicum L.
cultivars grown in Serbia Rec. Nat.
Prod. 9(1): 62-75.
Da-Silva F, Santos RHS, Diniz ER,
Barbosa LCA, Casali VWD, dan De-
Lima RR. 2003. Content and
composition of basil essential oil at
two different hours in the day and
two seasons. Braz. J. Med. Plants
6(1): 33-38.
de Guzman CC, dan Siemonsma JS. 1999.
Spices Plant Resources of South-East
Asia. Backhuys Publishers, Leiden
Dzida K. 2010. Biological value and
essential oil content in sweet basil
(Ocimum basilicum L.) depending on
calcium fertilization and cultivar.
Acta Sci. Pol., Hortorum Cultus 9(4):
153-161.
Filho JLSC, Blank AF, Alves PB, Ehlert
PAD, Melo AS, Cavalcanti SCH,
Arrigoni-Blank MDF, dan Silva-
Mann R. 2006. Influence of the
harvesting time, temperature and
drying period on basil (Ocimum
basilicum L.) essential oil. Brazilian
Journal of Pharmacognosy 16(1):
24-30.
Javanmardi J, Khaligi A, Kashi A, Bais
HP, dan Vivanco JM. 2002.
Chemical characterization of basil
(Ocimum basilicum L.) found in
local accessions and used in
traditional medicine in Iran. J. Agr.
Food Chem 50: 5878-5883.
Klimankova E, Holadova K, Hajslova J,
Cajka T, Poustka J, dan Koudela M.
2008. Aroma profiles of five basil
(Ocimum basilicum L.) cultivars
grown under conventional and
organic conditions. Food Chemistry
107: 464472.
Jurnal Pro-Life Volume 5 Nomor 2, Juli 2018
566
ISSN e-journal 2579-7557
Lawrence BM. 1992. Chemical
components of Labiatae oils and
their exploitation. In: Advances in
Labiatae Science. Harley, R.M. and
Reynolds, T. (Eds), Royal Botanical
Gardens: Kew, UK: 399- 436.
Lawrence BM. 1988. In: Lawrence B.M.,
Mookheyee B.D., Willis B.J. (eds):
Developments in Food Sciences,
Flavors and Fragrances: a World
Perspective. Elsevier, Amsterdam.
Moghaddam, AMD, Shayegh J, Mikaili P,
dan Shara JD. 2011. Antimicrobial
activity of essential oil extract of
Ocimumbasilicum L. leaves on a
variety of pathogenic bacteria.
Journal of Medicinal Plants
Research 5(15): 3453-3456.
Özcan M, dan Chalchat JC. 2002.Essential
oil composition of Ocimum
basilicum L. and Ocimum minimum
L. in Turkey. Czech J. Food Sci. 20:
223228.
Politeo O, Jukica M, dan Milosa M. 2007.
Chemical composition and
antioxidant capacity of free volatile
aglycones from basil (Ocimum
basilicum L.) compared with its
essential oil. Food Chemistry 101(1):
379385
Said-Al Ahl HAH, Meawad AA, Abou-
Zeid EN, dan Ali MS. 2015.
Evaluation of volatile oil and its
chemicalconstituents of some basil
varieties in Egypt. International
Journal of Plant Science and
Ecology1(3): 103-106.
Said-Al Ahl HAH. dan Mahmoud AA.
2010. Effect of zinc and / or iron
foliar application on growth and
essential oil of sweet basil (Ocimum
basilicum L.) under salt stress. Ozean
Journal of Applied Sciences 3(1): 97-
111.
Sajjadi SE. 2006. Analysis of the essential
oils of two cultivated basil (Ocimum
basilicum L.) from Iran. Daru14(3):
128-130.
Silalahi M. 2014. The Ethnomedicine of
The Medicinal Plants in Sub-ethnic
BatakNorth Sumatra and The
Conservation Perspective.
[Disertation]. Program Studi Biologi,
Program Pasca Sarjana, FMIPA,
Universitas Indonesia. [unpublished].
Taiz L. dan Zeiger E. 2006. Plant
Physiology. Sinauer Associates, Inc,
Sunderland
Takahashi S. dan Badger MR. 2011.
Photoprotection in plants: a new light
on photosystem II damage. Trends in
Plant Science 16(1): 53-60.
Trevisan MTS, Silva MGV, Plundstein B,
Spiengelhalder B.dan Owen RW.
2006. Characterization of the volatile
pattern and antioxidant capacity of
essensial oils from different species
of Genus Ocimum. J. Agr. Food
Chem 50: 4378-4382.
Unnithan CR, Dagnaw W, Undrala S. dan
Ravi S. 2013. Chemical Composition
and Antibacterial activity of
Essential oil of Ocimumbasilicum of
Northern Ethiopia International
Research Journal of Biological
Sciences 2(9): 1-4.
Zheljazkov VD. 2008. Yield and
compositition of Ocimum basilicum
L. and Ocimum sanctum L. Grown at
four location. Hortscience 43(3):
737-741.
Zarlaha A, Kourkoumelis N, Stanojkovic
TP, Kovala-Demertzi D. 2014.
Cytotoxic activity of essential oil and
extracts of ocimumbasilicum against
human carcinoma cells. Molecular
docking study of isoeugenol as a
potent cox and lox inhibitor.Digest
Journal of Nanomaterials and
Biostructures 9(3): 907-917.
... (Kosim et al., 2015) menyatakan, bahwa perbedaan nilai total antioksidan pada pangan dipengaruhi oleh perbedaan level bahan /rempah yang digunakan. Hal ini didukung oleh (Silalahi, 2018) menyatakan, bahwa terdapatnya senyawa fenolik pada kemangi yang merupakan sebagai senyawa alami yang berperan sebagai antioksidan pada setiap produk yang diberikan ekstrak kemangi. Hasil penelitian yang terbaik adalah pada perlakuan 25% Karena antiokidan primer mengikat radikal bebas dan memberikan sebuah atom hidrogen atau elektron untuk menstabilkan radikal bebas, Disisi lain antioksidan sekunder bekerja dengan menekan pembentukan dengan radikal bebas dan kemudian mencegah kerusakan oksidatif (Soehendro et al., 2015). ...
Article
Full-text available
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi ekstrak kemangi yang terbaik sebagai bahan pembuatan dendeng sapi dengan menganalisis kadar air, pH, Antioksidan Dan Organoleptik pada dendeng sapi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Yaitu Perendaman daging dengan konsentrasi kemangi yang berbeda. Penggunaan kemangi mempuyai tiga taraf konsentrasi perendaman yaitu P1=20%, P2=25%, P3= 30%, P4=35%. Kebutuhan untuk perendaman daging dengan kemangi adalah 20 unit sampel. Variabel yang diukur adalah kadar air, pH, antioksidan, dan organoleptik meliputi warna, rasa, tekstur dan kesukaan. Pengujian parameter terlebih dahulu di uji normalitasnya dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk. Apabila sebaran datanya normal diuji dengan ANOVA pada taraf 5%, apabila terdapat pengaruh di lanjutkan dengan uji Wilayah Ganda Duncan. Antioksidan di uji secara deskriptif dan pengujian sifat organoleptik (warna, rasa, tekstur dan kesukaan) menggunakan uji Non Parametrik Kruskal-Walis dan dilanjutkan, uji beda nyata Man Witney. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi kemangi yang berbeda dapat memberikan pengaruh yang nyata (P <0,05) terhadap kadar air, pH dan organoleptik. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak kemangi dapat menurunkan kadar air, menormalkan nilai pH, meningkatkan organoleptik. Pemberian konsentrasi kemangi 25% sampai 35% dapat miningkatkan aktivitas antioksidan pada dendeng.
... Penambahan kemangi pada masakan menimbulkan aroma khas yang dapat meningkatkan keawetan masakan dan meningkatkan cita rasa dari masakan. Aroma kemangi yang khas dan kuat ini dapat dimanfaatkan untuk menghilangkan bau mulut apabila dikonsumsi setelah kita makan (Silalahi, 2018). Selain itu, Ocimum basilicum L memiliki manfaat sebagai antivirus, antimikroba, dan larvasida (Kashyap et al., 2011). ...
Article
Full-text available
Basil leaf essential oil hard candy with the addition of cherry leaf extract is an innovation in the food sector in an effort to develop functional food products by adding antioxidant activity through natural ingredients. Basil is a plant that is often used as a producer of essential oils. The addition of basil to dishes creates a distinctive aroma that enhances the taste buds and results in longer cooking. Cherry leaves contain various compounds such as flavonoids, tannins, triterpene, sanponins and polyphonols which have antioxidant activity. This study aims to determine the best formulation of hard candy basil essential oil with the addition of cherry leaf extract based on chemical, physical, and sensory analysis. The experimental design in this study was a completely randomized design (CRD). In this study there were 5 formulas, namely, Formula 1 (80% addition of cherry leaf extract per volume of material), Formula 2 (60% addition of cherry leaf extract per volume of material), Formula 3 (50 % addition of cherry leaf extract per volume of material), Formula 4 (40 % addition of cherry leaf extract per volume of material), Formula 5 (20 % addition of cherry leaf extract per volume of material). Data analysis in this study used the One Way ANOVA method, with the DMRT further test at the 95% significance level. Based on the research results obtained Formula 5 was the best formula with a water content of 1.844 %, ash content of 2.141 %, reducing sugar content of 18.338 %, water activity of 0.525, pH of 6.850, and antioxidant activity of 6.643 %, color 82.594 0Hue, hardness of 477.660 N, and cohesiveness. 0.120 N, with the overall panelist acceptance rate being somewhat favorable. In addition, these formula is recommended for producing basil leaf essential oil hard candy. Keyword Hard candy; Muntingia leaves extract; Sugar; Basil leaves essential oil This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
... Ketidakmampuan ekstrak etanol daun kemangi dalam memberikan efek antibakteri terhadap Escherichia coli dikarenakan E.coli yang termasuk bakteri gram negatif ini memiliki struktur dinding sel yang lebih kompleks jika dibandingkan dengan bakteri gram positif. (29) Ini sejalan dengan penelitian Maria Angelina dkk yang menyatakan bahwa ekstrak etanol daun kemangi lebih berpotensi dalam menghambat bakteri gram positif dibandingkan bakteri gram negatif. (21) Dinding sel bakteri gram negatif tersusun dari peptidoglikan dan membran luar yang terdiri dari tiga komponen yaitu lipoprotein, lipopolisakarida dan membran periplasma sehingga lebih sulit untuk ditembus oleh zat antibakteri. ...
Article
Full-text available
Penyakit infeksi masih menjadi permasalahan kesehatan bagi negara-negara di dunia. Salah satu mikroorganisme bakteri penyebab penyakit infeksi adalah Escherichia coli. Upaya pengobatan penyakit infeksi hinggga saat ini masih menggunakan antibiotik, namun penggunaan antibiotik dapat menimbulkan dampak resistensi antibiotik, juga efek samping di bidang kesehatan serta biaya kesehatan yang meningkat sehingga dapat digunakan alternatif lewat penggunaan tanaman herbal. Salah satu tanaman herbal yang dapat digunakan adalah kemangi. Tanaman ini mempunyai kandungan kimia diantaranya minyak atsiri, alkaloid, fenol, saponin, tanin, triterpenoid dan steroid yang beberapa diantaranya memiliki aktivitas antibakteri. Tujuan penelitian ini untuk menguji aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol daun kemangi terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Metode jenis penelitian yang digunakan adalah true experimental design dengan rancangan penelitian posttest only control group test. Pengujian aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol daun kemangi menggunakan metode dilusi cair. Sampel penelitian terdiri dari kontrol positif siprofloksasin, kontrol negatif aquades, dan kelompok konsentrasi 100%, 80%, 60%, 40%, 20%, 10%, 5%, 2,5%, 1,25% dengan tiga kali pengulangan untuk setiap kelompok. Hasil pengujian tidak didapatkan adanya aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun kemangi terhadap bakteri Escherichia coli pada hasil uji di setiap konsentrasi menunjukkan adanya pertumbuhan bakteri di setiap pengulangan dari konsentrasi 100%, 80%, 60%, 40%, 20%, 10%, 5%, 2,5% dan 1,25%. Kesimpulan dari penelitian ini di dapat bahwa ekstrak etanol daun kemangi (Ocimum sanctum L.) tidak memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli
Article
Full-text available
BACKGROUND: Lots of plants that are used in Southeast Asian and Indonesian cuisine have antibacterial properties. AIM: This study aimed to find out the effectiveness of lemon basil (Ocimum citriodorum) and key lime (Citrus aurantifolia S.) extract combination on Streptococcus mutants’ inhibition. METHODS: Lemon Basil and Key Lime were extracted and combined with several following concentration, respectively, (30–70%, 40–60%, 50–50%, 60–40%, and 70–30%). S. mutants were cultured using Brain-heart Infusion Broth overnight. The inhibition range from the extract combination was measured and analyzed. RESULTS: All combinations except 60–40 showed significant effectivity against S. mutants compared to control (p < 0.05). Post hoc tests revealed that only the combination Lemon Basil-Key Lime 30–70% that has a significantly wider inhibition range compared to L50%-K50% (p = 0.034), L60%-K40% (p = 0.007), and L70%–K30% (p = 0.023). CONCLUSION: Combination extract of Lemon Basil and Key lime has effectivity against oral micro bacteria, especially S. mutants.
Article
Introduction: Indonesia as a tropical country is vulnerable to mosquito-borne diseases like dengue fever, chikungunya, and zika by Aedes aegypti mosquito. Various efforts have been made to eradicate mosquitoes, one of which is by fogging. But this method only eradicates adult mosquitoes and its smoke can also have a bad impact for human health. Therefore, a variety of herbal plants began to be used as biolarvacide, including basil plants (Ocimum basilicum). Methods: This is an experimental research by comparing the lethal effect between concentration and time. In this experiment there were 10 larvas used for each concentration, which were 0,4%, 0,7%, 1,0%, 1,5%, and 2,0%. The lethal effect arising in larval groups is observed every 1 hour in the first 6 hours, and subsequently every 3 hours until 24 hours after exposure. Results: With one way ANOVA test, the result is p=0,012 (p<0,05) this shows that there is a significance difference between the different concentrations and the lethal effect of A.aegypti larvae. With Friedman test, the result is p=0,000 (p<0,05), this shows that there is a significance difference between the different time of exposure of the extract and the lethal effect of A.aegypti larvae. Conclusion: Leaves extract of O.basilicum has lethal effect as biolarvacide against A.aegypti larvae. The higher concentration and the longer time of exposure to O.basilicum extract, increases the lethal effect of A.aegypti larvae.
Article
Full-text available
A pot experiment was carried out during two successive seasons to evaluate four basil varieties (Ocimum basilicum var. odoratus, Ocimum basilicum var. alba, Ocimum basilicum var. thyrsiflorum and Ocimum basilicum var. purpurascens) and their behavior in Egypt. Essential oil content and its composition of four basil varieties were studied.There were significant differences between the varieties under study in the volatile oil content. Ocimum basilicum var. thyrsiflorum was more produced essential oil content in the two cuts of both seasons. With behave of Ocimum basilicum var. alba and Ocimum basilicum var. purpurascens reciprocal behavior in both seasons. Whereas, Ocimum basilicum var. odoratus was less produced essential oil content in the two cuts of both seasons. The major constituents of four basil varieties essential oil were eugenol (38.36 to 57.79%) and linalool (27.30 to 39.74%). Als, it was found that both eugenol and linalool have a reverse behavior. When increasing eugenol concentration decreasing linalool compound and vice versa. Ocimum basilicum var. alba gave the highest and lowest percentages of eugenol and linalool, respectively followed by Ocimum basilicum var. purpurascens and Ocimum basilicum var. thyrsiflorum then Ocimum basilicum var. odoratus. The four basil varieties were eugenol and linalool chemotype.
Article
Full-text available
A pot experiment was carried out during two successive seasons to evaluate four basil varieties (Ocimum basilicum var. odoratus, Ocimum basilicum var. alba, Ocimum basilicum var. thyrsiflorum and Ocimum basilicum var. purpurascens) and their behavior in Egypt. Essential oil content and its composition of four basil varieties were studied.There were significant differences between the varieties under study in the volatile oil content. Ocimum basilicum var. thyrsiflorum was more produced essential oil content in the two cuts of both seasons. With behave of Ocimum basilicum var. alba and Ocimum basilicum var. purpurascens reciprocal behavior in both seasons. Whereas, Ocimum basilicum var. odoratus was less produced essential oil content in the two cuts of both seasons. The major constituents of four basil varieties essential oil were eugenol (38.36 to 57.79%) and linalool (27.30 to 39.74%). Als, it was found that both eugenol and linalool have a reverse behavior. When increasing eugenol concentration decreasing linalool compound and vice versa. Ocimum basilicum var. alba gave the highest and lowest percentages of eugenol and linalool, respectively followed by Ocimum basilicum var. purpurascens and Ocimum basilicum var. thyrsiflorum then Ocimum basilicum var. odoratus. The four basil varieties were eugenol and linalool chemotype.
Article
Full-text available
The antiproliferative activity of the ethanolic extract and the essential oil of O. basilicum, cultivated in Greece, was evaluated in vitro against four different humans cancer cell lines: the human cervix adenocarcinoma HeLa cells, human melanoma FemX cells, human chronic myelogenous leukaemia K562 cells and human ovarian SKOV3 cells. Qualitative analysis has been carried out with HPLC and LC/ESI-MS measurements and the prevalent constituents of the extract which were rosmarinic and caffeic acid and of the essential oil which were eugenol, isoeugenol and linalool have been tested with the above cell lines. All phytochemicals showed significant cytotoxic activity particularly against SKOV3 cell lines. Mild but definite inhibition was noticed regarding the extract and the essential oil. Remarkably, caffeic acid was found to be in the same range compared to cisplatin against the four cell lines exhibiting significant anticancer activity while isoeugenol is more cytotoxic than eugenol. In silico modelling has shown that isoeugenol can effectively inhibit cyclooxygenase and lipoxygenase enzymatic action.
Article
Full-text available
ÖZCAN M., CHALCHAT J.-C. (2002): Essential oil composition of Ocimum basilicum L. and Ocimum minimum L. in Turkey. Czech J. Food Sci., 20: 223-228. The constituents of essential oils isolated by hydrodistillation of the overground parts of Ocimum basilicum L. and Ocimum minimum L. from Turkey were examined by GC-MS. A total of 49 and 41 components, respectively, were identified accounting for 88.1% and 74.4% of the oils of O. basilicum and O. minimum, respectively. The oil of O. basilicum contained, as main components, methyl eugenol (78.02%), α -cubebene (6.17%), nerol (0.83%) and ε-muurolene (0.74%). Major compounds in the volatile oil of O. minimum were geranyl acetate (69.48%), terpinen-4-ol (2.35%) and octan-3-yl-acetate (0.72%). The essential oil of O. basilicum was characterised by its high content of methyl eugenol (78.02%), whereas the most important essential oil constituent of O. minimum was geranyl acetate (69.48%).
Article
Full-text available
The chemical compositions of the essential oils of Ocimum basilicum L. cv. purple and Ocimum basilicum L. cv. green cultivated in Iran were investigated by GC-MS. Twenty constituents (98.5% of the total oil) were identified in the volatile oil of O. basilicum L. cv. Purple. The main constituents found in the oil were methyl chavicol (52.4%), linalool (20.1%), epi-α-cadinol (5.9%) and trans-α-bergamotene (5.2%). In the volatile oil of O. basilicum L. cv. green, twelve components were characterized representing 99.4% of the total oil. Methyl chavicol (40.5%), geranial (27.6%), neral (18.5%) and caryophyllene oxide (5.4%) were the major components. Methyl chavicol is the dominant constituent in each of the two oils. Although the oil of green basil was characterized by a highccontent (46.1%) of citral (neral and geranial), citral was not detected in the oil of purple basil oil.
Article
Full-text available
The effect of salinity and Fe and/or Zn application on the vegetative growth, dry matter yield and essential oil production and its constituents were studied at the farm station of the National Research Centre, at Shalakan, Kalubia Governorate, Egypt on sweet basil (Ocimum basilicum L.) during 2006 and 2007 seasons. The highest plant height, number of branches, fresh and dry matter yield as well as essential oil yield was recorded in normal soil which decreased with the increase in the salinity. Increasing the soil salinity increased essential oil %. The addition of micronutrients had an active effect comparing with control, highest plant height and number of branches being with iron application and zinc gave the highest value of fresh weight, whereas a mixture of iron + zinc gave the highest values of dry matter and essential oil yield under normal soil condition. In contrast application a mixture of iron + zinc gave the highest essential oil % under soil salinity condition. Concerning essential oil constituents, linalool and methylchavicol were the major compounds. The concentration of linalool and methylchavicol decreased with saline soil treatment. Addition of micronutrients decreased linalool in normal soil; on the contrary there was an increase in linalool content by using soil salinity treatment. Highest linalool content (52.14%) was recorded in saline soil with spraying mixture of zinc+iron. Spraying plants with zinc and /or zinc+ iron increased the content of methylchavicol in normal soil, and it's content (44.01%) was the highest in normal soil with zinc spraying. All the spraying treatments except mixture of zinc+iron increased the content of methylchavicol in saline soil. The highest decrease in linalool (25.687%) and methylchavicol (20.34%) was caused with zinc+iron in normal and saline soils, respectively.
Article
Full-text available
As in the recent years the usage of the herbal materials has been increased, it seems necessary to study the antibacterial effects of them. The basil herb, which is easily cultured worldwide, may be a potentially good candidate to be used as a plant with antibacterial activity. The essential oil was distilled using a Clevenger-type apparatus and extracted from plant leaves. The antibacterial properties of basil essential oil was studied on the standard gram-negative bacteria including Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, and gram-positive ones including Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, then agar disk diffusion, minimal inhibition concentration (MIC) and minimum bactericidal concentration (MBC) were detected. The results of agar disk diffusion tests showed the inhibition zones as follow: S. aureus 29.20-30.56 mm, B. cereus 10.66-16.11 mm, E. coli 17.48-23.58 mm and for P. aeruginosa the maximum inhibition zones were seen. The results of this study showed the presence of bacteriostatic effects of basil essential oil on all the test bacteria. The MICs for gram-positive bacteria were as: B. cereus ranging 36-18 μg/mL, S. aureus 18 μg/mL, and for Gram-negative bacteria of E. coli and P. aeruginosa were 18-9 μg/mL.
Article
Full-text available
Sunlight damages photosynthetic machinery, primarily photosystem II (PSII), and causes photoinhibition that can limit plant photosynthetic activity, growth and productivity. The extent of photoinhibition is associated with a balance between the rate of photodamage and its repair. Recent studies have shown that light absorption by the manganese cluster in the oxygen-evolving complex of PSII causes primary photodamage, whereas excess light absorbed by light-harvesting complexes acts to cause inhibition of the PSII repair process chiefly through the generation of reactive oxygen species. As we review here, PSII photodamage and the inhibition of repair are therefore alleviated by photoprotection mechanisms associated with avoiding light absorption by the manganese cluster and successfully consuming or dissipating the light energy absorbed by photosynthetic pigments, respectively.
Article
The present paper examines the chemical composition and antioxidant capacity of free volatile aglycones from basil compared to their essential oil. The comparison of chemical composition of volatile aglycones with the chemical composition of essential oil reveals four common compounds: eugenol, chavicol, linalool and α-terpineol. For the evaluation of the mentioned antioxidant capacities, two different methods were performed: the 2,2′-diphenyl-1-picrylhydrazyl radical scavenging method (DPPH) and ferric reducing/antioxidant power assay (FRAP). DPPH method shows that free volatile aglycones possess good antioxidant properties comparable with that of the essential oil and well-known antioxidant butylated hydroxytoluene (BHT), but less than pure eugenol. The results obtained by FRAP method show that these compounds are some less effective antioxidants than essential oil and BHT.