Conference PaperPDF Available

PENGETAHUAN LOKAL MASYARAKAT SUKU DAYA DAN SUKU SALING, SUMATERA SELATAN DALAM PENGOBATAN PENYAKIT DEGENERATIF DAN METABOLIK BERBASIS TUMBUHAN

Authors:
  • National Research and Innovation Agency (BRIN)

Abstract

Pengetahuan atau kearifan tradisional masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya alam khususnya tumbuhan dalam pengobatan merupakan kekayaan budaya yang perlu digali agar pengelolaan tradisional tersebut tidak punah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk-bentuk kearifan lokal masyarakat khususnya suku Daya dan suku Saling Provinsi Sumatera Selatan dalam pemanfaatan tumbuhan untuk mengobati penyakit degenerative dan metabolik. Metode yang digunakan adalah metode survey dan wawancara secara langsung pada sejumlah masyarakat suku Daya dan suku Saling dengan metode snowball sampling. Dalam penelitian ini didapatkan informasi lebih kurang 55 jenis tumbuhan yang berkhasiat obat. Pengetahuan mengenai tumbuhan dan ramuan pengobatan tersebut diperoleh secara turun-temurun. Dasar pengobatan masyarakat suku Daya dan suku Saling adalah secara Islam yaitu semua selalu diawali dengan bacaan “Basmallah”. Pada umumnya tumbuhan yang digunakan untuk pengobatan penyakit masih diperoleh secara liar di perkarangan, kebun karet, semak belukar dan ladang. Sebagian tumbuhan obat mulai dibudidayakan di perkarangan rumah. Jenis-jenis tumbuhan yang diinventarisir dalam penelitian ini perlu dikaji lebih lanjut untuk mengetahui efektivitas dan kandungannya dalam penyembuhan suatu penyakit.
Aspek Sosial Ekonomi & Kebijakan
237
PENGETAHUAN LOKAL MASYARAKAT SUKU DAYA DAN SUKU SALING, SUMATERA SELATAN
DALAM PENGOBATAN PENYAKIT DEGENERATIF DAN METABOLIK BERBASIS TUMBUHAN
Efendi Agus Waluyo1, Asmaliyah1 dan Suryanto2
1 Peneliti Balai Penelitian Kehutanan Palembang
2Peneliti Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumberdaya Alam Samboja
ABSTRAK
Pengetahuan atau kearifan tradisional masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya alam khususnya
tumbuhan dalam pengobatan merupakan kekayaan budaya yang perlu digali agar pengelolaan
tradisional tersebut tidak punah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk-bentuk kearifan lokal
masyarakat khususnya suku Daya dan suku Saling Provinsi Sumatera Selatan dalam pemanfaatan
tumbuhan untuk mengobati penyakit degenerative dan metabolik. Metode yang digunakan adalah
metode survey dan wawancara secara langsung pada sejumlah masyarakat suku Daya dan suku Saling
dengan metode snowball sampling. Dalam penelitian ini didapatkan informasi lebih kurang 55 jenis
tumbuhan yang berkhasiat obat. Pengetahuan mengenai tumbuhan dan ramuan pengobatan tersebut
diperoleh secara turun-temurun. Dasar pengobatan masyarakat suku Daya dan suku Saling adalah
secara Islam yaitu semua selalu diawali dengan bacaan Basmallah”. Pada umumnya tumbuhan yang
digunakan untuk pengobatan penyakit masih diperoleh secara liar di perkarangan, kebun karet, semak
belukar dan ladang. Sebagian tumbuhan obat mulai dibudidayakan di perkarangan rumah. Jenis-jenis
tumbuhan yang diinventarisir dalam penelitian ini perlu dikaji lebih lanjut untuk mengetahui efektivitas
dan kandungannya dalam penyembuhan suatu penyakit.
Kata kunci: kearifan lokal, Suku Saling, Suku Daya, tumbuhan obat
I. PENDAHULUAN
Masyarakat Indonesia sudah cukup lama mengenal dan menggunakan tumbuhan
berkhasiat obat sebagai upaya untuk mengobati penyakit sebelum adanya pengobatan modern
dengan obat-obat sintetik. Pengetahuan tentang tanaman obat merupakan warisan budaya dari
leluhur, berdasarkan pengalaman turun menurun. Berbagai macam penyakit dan keluhan
ringan maupun berat dapat diobati dengan memanfaatkan ramuan dari tumbuh-tumbuhan
tertentu yang mudah didapat di sekitar perumahan. Oleh karena itu pengetahuan tentang
tanaman obat sangat penting untuk dijaga dan dikembangkan sebagai bentuk kekayaan bangsa
(Kartasaputra, 1996). Etnobotani merupakan suatu alat atau cara untuk mendokumentasikan
suatu pengetahuan seseorang, khususnya dalam kaitannya dengan tumbuhan yang berkhasiat
sebagai obat (Suryadarma, 2008).
Menurut Zuhud (1991), tumbuhan obat adalah tumbuhan yang bagian-bagiannya (daun,
batang, atau akar) mempunyai khasiat sebagai obat dan digunakan sebagai bahan mentah
dalam pembuatan obat modern dan tradisional. Lebih lanjut diungkapkan bahwa, tumbuhan
obat sebagai tumbuhan yang penggunaan utamanya adalah untuk keperluan obat-obatan dan
belum dibudidayakan. Abdiyani (2008) mengungkapkan bahwa kelebihan pengobatan dengan
menggunakan ramuan tumbuhan obat tradisional secara umum dinilai lebih aman dari pada
penggunaan obat modern. Hal ini disebabkan karena obat tradisional memiliki efek samping
yang relatif lebih sedikit dari pada obat modern.
Penyakit-penyakit dalam kelompok degeneratif dan metabolik adalah dua kelompok
penyakit yang banyak diderita oleh manusia. Beberapa di antaranya mempunyai resiko
kematian yang tinggi, seperti jantung, diabetes dan stroke. Penyakit degeneratif adalah
Prosiding Seminar Hasil Penelitian
238
penyakit yang mengiringi proses penuaan dan penyakit metabolik termasuk kelompok penyakit
medis yang berkaitan dengan produksi energi di dalam sel manusia. Kebanyakan penyakit
metabolik adalah penyakit genetik atau penyakit keturunan, meski sebagian di antaranya
disebabkan makanan, racun, infeksi, dan sebagainya. Stimulan terjangkitnya dua kelompok
penyakit ini adalah gaya hidup yang kurang sehat.
Pengetahuan atau kearifan tradisional masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya
alam khususnya tumbuhan merupakan kekayaan budaya yang perlu digali agar pengelolaan
tradisional tersebut tidak punah. Penelitian ini dilakukan dalam rangka untuk mengkaji bentuk-
bentuk kearifan lokal masyarakat khususnya suku Daya dan suku Saling, Provinsi Sumatera
Selatan dalam pemanfaatan tumbuhan untuk mengobati penyakit degenerative dan metabolik.
II. METODE PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei di Kecamatan Lengkiti Kabupaten Ogan
Komering Ulu (OKU) dan Kecamatan Saling, Kabupaten Empat Lawang, Propinsi Sumatera
Selatan. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah GPS, kamera digital, alat
perekam, spritus, kantong plastik, gunting tanaman, kertas merang, kertas label, kertas
mounting, benang, sprayer, kuisioner dan panduan wawancara yang sudah dipersiapkan
terlebih dahulu dan buku identifikasi. Responden pada penelitian ini adalah para pengobat
tradisional (Battra) yang merupakan penduduk asli suku Daya dan suku Saling.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan kuisoner penelitian, yang
dipersiapkan terlebih dahulu untuk menginventarisasi pengetahuan lokal dengan sasaran para
battra, yang dituntun melalui panduan wawancara. Wawancara dilakukan dengan cara
mencatat, dan mendokumentasikan hal-hal yang dikemukakan oleh responden yang
berhubungan dengan keterangan mengenai cara pemanfaatannya, baik itu cara
pengelolaannya dan takaran tiap jenis tumbuhan yang akan digunakan untuk pengobatan,
bagian tumbuhan yang digunakan. Cara untuk mendapatkan informan (pengobat
tradisional/Battra) dilakukan dengan menggunakan metode snowball sampling. Informan
ditentukan berdasarkan keterangan dari tokoh masyarakat adat, kepala suku, kepala desa
kepala kampung, dan sumber terpercaya lainnya. Data berupa tumbuhan obat, koleksi sampel
tumbuhan obatnya dalam bentuk dokumentasi (foto), deskripsi morfologi dan pembuatan
herbarium kering. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan
menggunakan analisis secara naratif.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Deskripsi Etnis
Suku Daya adalah suatu komunitas masyarakat yang menetap di pinggir aliran sungai
Ogan di Kabupaten Ogan Komering Ulu. Populasi suku Daya ini diperkirakan telah mencapai
lebih dari 50.000 orang, yang tersebar di beberapa tempat di Provinsi Sumatra Selatan hingga
ke wilayah Provinsi Lampung.
Masyarakat suku Daya berbicara dalam bahasa Daya, yang mana bahasa ini termasuk
dalam dialek bahasa Melayu, yang sering disebut juga sebagai dialek Daya. Tidak diketahui apa-
kah orang Daya ini memiliki bahasa sendiri selain bahasa Melayu yang digunakan sekarang ini.
Mengingat bahwa suku Daya ini adalah penduduk asli wilayah ini, dan tergolong ke dalam ke-
lompok protomalayan, mereka telah ada sebelum kehadiran orang-orang Melayu di wilayah ini.
Suku saling juga salah satu suku asli sumatera selatan yang berdiam di sekitar daerah
aliran Sungai Saling. Daerah adat mereka yang disebut Marga Saling, berada dalam wilayah
Aspek Sosial Ekonomi & Kebijakan
239
Kecamatan Saling kabupaten Empat Lawang, Provinsi Sumatera Selatan. Tidak ada catatan yang
pasti tentang jumlah warga masyarakat ini. Bahasa Saling termasuk kelompok bahasa Melayu,
tetapi dengan dialek dan ciri-ciri yang khas.
2. Pengetahuan lokal dan kearifan tentang pengobatan Suku Daya
Penelitian mengenai pengobatan tradisional di suku Daya, dilakukan di Kecamatan
Lengkiti, Kabupaten Ogan Komering Ulu. Penentuan lokasi ini didasarkan atas pertimbangan
bahwa di wilayah tersebut masih banyak didiami suku Daya asli, selain itu wilayahnya juga
berbatasan langsung dengan hutan lindung. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak dinas
kehutanan setempat dan dari pihak desa, ada beberapa pengobat tradisional, tetapi
kebanyakan hanya tukang urut tulang bukan pengobatan menggunakan tumbuhan obat. Ada
beberapa narasumber yang direncanakan ditemui tetapi hanya ada 2 pengobat tradisional
(Battra) yang memenuhi syarat dan menggunakan tumbuhan obat di wilayah tersebut yang bisa
ditemui. Data narasumber Battra disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Data narasumber pengobat tradisional Suku Daya
No
Nama
Umur (Thn)
Jenis
Kelamin
Alamat
Keterangan
1
Cik Mas
63
Perempuan
Ds. Tanjung
Lengakap
Mulai Praktek tahun 1985, banyak
menanam tumbuhan obat
2
Tarmizi
54
Laki-laki
Ds. Tanjung
Agung
Lebih dikenal sebagai tukang urut
atau ahli tulang
Dalam kaitannya dengan masalah kesehatan, masyarakat suku Daya saat ini telah
menggunakan obat-obatan sintetik (modern) karena wilayah yang menjadi tempat tinggalnya
saat ini telah banyak fasilitas-fasilitas kesehatan seperti puskemas dan polindes serta tenaga
kesehatan yang memadai seperti dokter, bidan, mantri, dan perawat. Seseorang dikatakan
dalam keadaan sakit jika ada sesuatu yang dideritanya sehingga dia tidak dapat beraktivitas
sehari-hari seperti biasanya. Seseorang yang sakit biasanya berobat ke bidan atau dokter
terdekat terlebih dahulu untuk mendapatkan kesembuhan akan tetapi jika belum sembuh-
sembuh mereka mulai mencari pengobatan alternatif ke Battra.
Orang daya menyebut obat tradisional dengan sebutan “Obat Ungga’an atau Obat
Kampung. Seorang Battra biasanya mendapat pengetahuan pengobatan berasal dari orang
tuanya ataupun dari mimpi yang mereka sebut sebagai “wahyu”. Mereka biasanya mendapat
wahyu dari “beliau” setelah melakukan sholat Tahajud di malam hari. Dalam melakukan
pengobatan biasanya seorang Battra mengawali dengan bacaan Basmalah dan ditambah
“jampi” yang berasal dari ayat-ayat Al Qur’an dan bahasa lokal. Jampi tidak bisa beliau berikan
kepada sembarang orang.
Obat tradisional yang digunakan adalah tumbuhan yang berasal dari hutan dan kebun di
sekitar mereka. Jenis-jenis tumbuhan yang masih banyak dijumpai biasanya langsung diambil di
hutan tetapi untuk jenis yang mulai sulit ditemukan, mereka mulai menanamnya di kebunnya
seperti yang dilakukan oleh ibu Cik Mas, seorang Battra asli suku Daya dari Desa Tanjung
Lengkayap. Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat umumnya terdapat di pekarangan
rumah, kebun karet dan semak belukar. Keadaan ini sesuai dengan hasil penelitian Hariyadi,
(2011) bahwa jenis-jenis tumbuhan yang banyak dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat
bukanlah berasal dari hutan alam, melainkan dari ekosistem yang sudah banyak mendapat
sentuhan manusia (human made ecosystem), khsusunya semak belukar dan kawasan
Ibu Cik Mas telah memulai praktek pengobatan mulai tahun 1985. Pengobatan yang
dilakukan beliau secara umum ada 2 macam yaitu obat dari dalam yaitu yang diminum dan obat
Prosiding Seminar Hasil Penelitian
240
dari luar yaitu untuk mandi yang mereka sebut “mandian”. Untuk mandian dia selalu
menambahkan sedikit beras dalam air rebusan bahan obat tradisional hal ini filosofinya adalah
bahwa semua urusan sakit itu pulangnya ke beras atau makan.
Demikian juga dengan Pak Tarmizi, seorang Battra dari Tanjung Agung yang telah
melakukan pengobatan dari 10 tahun yang lalu. Ia selalu mengawali pengobatannya dengan
bacaan Basmalah. Dia mendapat ilmu pengobatan dari orang tuanya terutama ibunya yang
sudah berumur 100-an tahun. Dia lebih dikenal sebagai tukang urut atau ahli tulang. Doa yang
digunakan untuk segala macam penyakit sama yaitu 3 doa segala penyakit : Bismilah, Fatihah
dan Sholawat Nabi. Sama halnya dengan ibu Cik Mas, Pak Tarmizi juga menggunakan tumbuhan
obat yang masih ada di sekitar rumah, dan ada juga yang ditanam di pekarangan. Obat yang
digunakan ada obat dalam yang diminum dan obat luar baik yang dimandikan dan dibalurkan.
Biasanya dalam setiap ramuan yang digunakan, ia selalu menambahkan bagian akar dari
tumbuhan tersebut. Hal ini mengandung makna bahwa membuang penyakit itu harus dari akar-
akarnya. Cara yang berbeda dari pengobatan beliau ini adalah dia selalu menambahkan madu
dalam setiap resep obat yang diminum. Jenis-jenis tumbuhan yang banyak digunakan dalam
mengobati penyakit khususnya penyakit degeneratif dan metabolik disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Penyakit degeneratif dan metabolik serta tumbuhan obat yang digunakan
No
Nama Penyakit
Nama Tumbuhan Obat
Bagian yang digunakan
1
Darah Tinggi,
Jantung
Bawang Putih (Allium sativum)
Blimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi)
Kertau (Urana lobata L.)
Kembang Darah Tinggi (Widelia biflora)
Umbi
Daun
Daun
Bunga
2
Rematik/ Asam
Urat
Balik Angin (Mallotus paniculatus)
Kula-kula Pedang (Asplenius nidus)
Gajah Duduk (Crotalaria inaca L.)
Cimurai
Tapak Kuda (Centella asiatica L. Urban)
Sambiloto (Androgaphis paniculata)
Pasak Bumi (Eurycoma longifolia)
Perlako/Kapulaga (Amomum sp.)
Daun
Daun
Seluruh bagian
Daun
Seluruh Bagian
Daun
Akar
Umbi
3
Diabetes
Manggis (Garcinia mangostana)
Kayu Lampas/Tembesu (Fagraea fragrans)
Kulit buat
Daun
4
Sakit Kuning/
Lever
Gerunggang (Pertusadina eurhynca)
Akar Tebas Kuing
Tomat Ceper/Tomat Dusun (Lycopersicum sp.)
Bambu Kuning (Bambusa sp.)
Kulit Bantang
Akar
Buah
Anakan/rebung
5
Maag, Lambung
Ketepeng (Senna alata/Cassia alata)
Daun
6
Batu Ginjal,
Kencing batu
Akar Batang Sipik (Tetracera sp.)
Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus)
Keji Beling (Strobilanthes criptus)
Batang
Seluruh bagian
Seluruh bagian
8
Ambien
Pinang (Areca catechu)
Akar Sebakbak/Akar serbabak (Spatholobus
ferrungianus)
Ruk duruk/Senduduk (Melastoma
malabatricum)
Kayu Heling
Buah
Batang
Akar
Kulit bagian dalam (kulit
ari)
Peladang merah/Dang Radang (Coleus
scutellarioides L.)
Daun
Aspek Sosial Ekonomi & Kebijakan
241
Suku Saling
Pemilihan suku Saling sebagai obyek kajian tumbuhan obat ini adalah didasarkan dari
informasi bahwa di daerah Saling ini jaman dahulu masih terkenal menggunakan racun dari
tumbuh-tumbuhan. Dari informasi tersebut maka diharapkan akan didapatkan pula banyak
infomasi mengenai menggunaan tumbuhan untuk pengobatan. Ada beberapa Battra yang
berhasil diwawancari sebagai narasumber.
Tabel 3. Data narasumber pengobat tradisional suku Saling
No
Nama
Umur
(Thn)
Jenis
Kelamin
Alamat
Keterangan
1
Nurhimah (Bu Nol)
65
Perempuan
Ds. Taba
Banyak informasi tumbuhan obat
2
Jimat Ali
42
Laki-laki
Ds. Taba
Banyak pakai jampian
3
Ependi
55
Laki-Laki
Ds. Taba
Tahun 90-an mulai mengobati
4
Hamdani
49
Laki-Laki
Ds. Taba
-
Pengobatan tradisional di suku Saling saat ini diposisikan sebagai pengobatan alternatif.
Karena sebagian besar yang telah melakukan praktek pengobatan tradisional telah melakukan
pengobatan medis terlebih dahulu. Mereka menyebutnya sebagai “Ubat Ula’an” atau obat
dusun. Seseorang yang sakit biasa telah melakukan pengobatan secara medis baik ke dokter
maupun bidan terdekat tetapi sudah tidak sembuh maka mereka melanjutkan dengan
pengobatan tradisional. Di daerah kajian yaitu di Desa Taba Kecamatan Saling, secara umum
ada 2 macam Battra, yaitu Battra yang menggunakan obat tradisional baik dari tumbuhan dan
Battra yang tidak menggunakan tumbuhan sebagai obat tetapi menggunakan “terawangan”
dan meditasi. Dari Battra yang menggunakan tumbuhan untuk pengobatan dapat diketahui
beberapa jenis tumbuna yang bisa digunakan untuk pengobatan penyakit khususnya
degeneratif dan metabolik. Jenis-jenis tumbuhan yang banyak digunakan dalam pengobatan
disajikan pada Tabel 4.
Battra yang menggunakan tumbuhan sebagai obat biasanya mendapat bahan tanaman
dari hutan dan lingkungan sekitarnya. Sama halnya dengan suku Daya, pengobatan disini juga
menggunakan obat dari dalam dan luar, demikian juga dengan doa yang digunakan. Mereka
mengistilahkan doa itu sebagai “bisikan”. Bisikan yang digunakan selalu diawali dengan bacaan
Basmallah, mereka yakin bahwa segala macam penyakit dan penyembuhan itu berasal dari
Tuhan dan pengobatan itu hanya caranya saja. Setelah membaca basmalah diteruskan dengan
bisikan yang menggunakan bahasa Saling.
No
Nama Penyakit
Nama Tumbuhan Obat
Bagian yang digunakan
10
Asma/Sesak Nafas
Kemuning (Murraya paniculata)
Sirih (Piper betle)
Kecubung (Datura metel)
Daun
Air Batang
Bunga
11
Stroke
Jahe Merah (Zingiber officinale)
Jeringau (Acorus calamus)
Bangle (Zingiber cassumunar)
Umbi/rimpang
Umbi/rimpang
Umbi/rimpang
12
Jantung/Angin
duduk
Bawang Putih
Wortel (Daucatus carota L.)
Buah
Buah
13
Kolesterol
Delima (Punica sp.)
Buah
14
Sakit Pinggang
Penyambung Nyawa
Daun
Prosiding Seminar Hasil Penelitian
242
Tabel 4. Penyakit degeneratif dan metabolik serta tumbuhan obat yang digunakan
No
Nama Penyakit
Nama Tumbuhan Obat
Bagian yang digunakan
1
Darah Tinggi
Mengkudu
Jeru Limau urut /Jeruk Purut
Buah dan daun
Pucuk daun
2
Rematik/Asam Urat
Cabe
Serai
Daun
Batang
3
Diabetes
Kunyit
Umbi
4
Sakit Kuning/Lever
Kenidai(Bridelia tomentosa Blume)
Tuba Api
Kapung
Jengkol (Pithecelobium lobatum)
Kabau
Medang Tanduk (Alsedaphne sp.)
Daun
Daun
Daun
Daun
Daun
Daun
5
Maag, Lambung
Kates (Carica papaya)
Boding abang (Graptophyllatus pictum)
Setati (Wedelia montana BL.)
Kembang Bunga Raye (Hibiscus rosasinensis)
Buah
Daun
Daun
Daun
6
Batu Ginjal, Kencing batu
Asam Jawa
Kelapa Muda (Cocos nucifera)
Nangka
Buah
Air
Pucuk Daun
8
Ambien
Akar Sembilan Lapis
Akar dan pucuk
10
Asma/Sesak Nafas
Asam Jawa
Pisang (Musa sp.)
Bawang Putih (Allium sativum)
Buah
Buah
Umbi
11
Jantung/Angin duduk
Jahe Merah (Zingiber officinale)
Umbi
IV. KESIMPULAN
Masyarakat suku Daya dan suku Saling di Sumatera Selatan memanfaatkan lebih kurang
55 jenis tumbuhan yang berkhasiat obat. Pengetahuan mengenai tumbuhan dan ramuan
pengobatan tersebut diperoleh secara turuntemurun. Dasar pengobatan masyarakat suku
Daya dan suku Saling adalah secara Islam yaitu semua selalu diawali dengan bacaan
Basmallah”. Pada umumnya tumbuhan yang digunakan untuk pengobatan penyakit masih
diperoleh secara liar di perkarangan, kebun karet, semak belukar dan ladang. Sebagian
tumbuhan obat mulai dibudidayakan di perkarangan rumah. Jenis-jenis tumbuhan yang
diinventarisir dalam penelitian ini perlu dikaji lebih lanjut untuk mengetahui efektivitas dan
kandungannya dalam penyembuhan suatu penyakit.
DAFTAR PUSTAKA
Abdiyani S. 2008. Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Bawah Berkhasiat Obat di Dataran Tinggi
Dieng. Jurnal Peneltian Hutan dan Konservasi Alam 6: 79-92.
Hariyadi B. 2011. Obat Rajo Obat Ditawar: Tumbuhan Obat dan Pengobatan Tradisional
Masyarakat Serampas Jambi. Biospecies 4(2): 29 34.
Kartasaputra, G..1996. Budidaya Tanaman Berkhasiat Obat. CV Amalia. Jakarta, hal 25.
Aspek Sosial Ekonomi & Kebijakan
243
Suryadharma, I. 2008. Diktat Kuliah Etnobotani. Jurusan Pendidikan Biologi. Fakultas
Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Zuhud, E.A.M, Azis S, Ghulamahdi M, Andarwulan N, Darusman LK. 2001. Dukungan teknologi
pengembangan obat asli Indonesia dari segi budidaya, pelestarian dan pasca panen.
Lokakarya Pengembangan Agribisnis berbasis Biofarmaka. Pemanfaatan dan Pelestarian
Sumber Hayati mendukung Agribisnis Tanaman Obat.
Prosiding
SEMINAR HASIL PENELITIAN
BALAI PENELITIAN TEKNOLOGI PERBENIHAN TANAMAN HUTAN
BALAI PENELITIAN KEHUTANAN PALEMBANG
Bandar Lampung, 11 Agustus 2015
Editor:
Nina Mindawati
Yulianti Bramasto
Agus Astho
Mamat Rahmat
Dede Jajat Sudrajat
Hak Cipta oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan
Dilarang menggandakan buku ini sebagian atau seluruhnya, baik dalam bentuk fotokopi, cetak,
mikrofilm, elektronik maupun dalam bentuk lainnya, kecuali untuk keperluan pendidikan atau keperluan
non komersial lainnya dengan mencantumkan sumbernya, seperti berikut:
Untuk sitiran seluruh buku, ditulis: Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan (2015). Prosiding
Seminar Bersama Hasil Penelitian Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan dan Balai
Penelitian Kehutanan Palembang "Teknologi Perbenihan, Silvikultur dan Kelembagaan dalam
Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan", 11 Agustus 2015. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Hutan. Badan Litbang dan Inovasi. Bogor.
Untuk sitiran sebagian dari buku, ditulis: Nama Penulis dalam Pusat Penelitian dan Pengembangan
Hutan (2015). Prosiding Seminar Bersama Hasil Penelitian Balai Penelitian Teknologi Perbenihan
Tanaman Hutan dan Balai Penelitian Kehutanan Palembang "Teknologi Perbenihan, Silvikultur dan
Kelembagaan dalam Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan", 11 Agustus 2015. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Hutan. Badan Litbang dan Inovasi. Bogor. Halaman ...........
ISBN: 978-602-98588-4-6
Prosiding ini diterbitkan oleh:
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan
Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Alamat:
Jl. Gunung Batu No. 5 Bogor PO BOX 331
Telp (0251) 631238, 631507 Fax (0251) 7520005
E-mail: p3hka_pp@yahoo.co.co.id
Dicetak dengan Pembiayaan dari DIPA
Balai Penelitian Kehutanan Palembang TA. 2015
ISBN: 978-602-98588-4-6
Prosiding
Seminar Hasil Penelitian
Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan
Balai Penelitian Kehutanan Palembang
Teknologi Perbenihan, Silvikultur dan Kelembagaan
dalam Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan
Bandar Lampung, 11 Agustus 2015
KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
BADAN PENELITIAN, PENGEMBANGAN DAN INOVASI
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HUTAN
2015
iii
KATA PENGANTAR
Keberhasilan institusi Litbang ditentukan oleh tingkat produktivitasnya dalam
menghasilkan IPTEK serta tingkat pemanfaatan IPTEK yang telah dihasilkannya oleh masyarakat.
Karena itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan menaruh harapan besar kepada Badan
Litbang dan Inovasi Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BLI LHK) agar mampu mencapai derajat
keberhasilan tersebut. BLI LHK diharapkan mampu menjadi penyedia landasan ilmiah bagi
berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh KLHK dan menjadi pilar utama dalam memberikan
solusi yang tepat atas permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan
lingkungan hidup dan kehutanan.
Sebagai upaya untuk menggapai harapan Menteri LHK di muka, Balai Penelitian
Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan dan Balai Penelitian Kehutanan Palembang telah
menyelenggarakan Seminar Bersama Hasil Litbang di Bandar Lampung pada tanggal 11 Agustus
2015. Seminar tersebut juga didukung oleh Pusat Pembiayaan Pembangunan Hutan,
Pemerintah Daerah dan UPT KLHK wilayah Provinsi Lampung.
Seminar yang mengusung tema “Teknologi Perbenihan, Silvikultur dan Kelembagaan
dalam Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahantersebut dimaksudkan untuk menjembatani
proses transfer IPTEK antara BLI KLHK dengan pengguna. Kehadiran penyuluh dan berbagai
mitra dapat menjadi indikator terjalinnya hubungan baik antara BLI KLHK dengan mitra.
Kehadiran mereka diharapkan dapat menjadi jembatan emas yang dapat menghubungkan BLI
KLHK dengan masyarakat sebagai pengguna utama hasil litbang.
Pada seminar tersebut juga diberikan kesempatan bagi semua peserta untuk berdiskusi,
saling berbagi pengetahuan dan pengalaman serta bersama-sama membahas beragam
tantangan dan permasalahan yang dapat menghambat program peningkatan produktivitas
hutan dan lahan. Hal tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan solusi terhadap permasalahan
yang ada, serta untuk menjaring input balik (feedback) tentang aspek dan topik riset yang
dibutuhkan pada masa mendatang.
Prosiding ini disusun sebagai outcome dari pelaksanaan seminar tersebut. Ucapan
terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan sumbangsihnya
sehingga acara tersebut terselenggara dengan sukses. Tak lupa, ucapan terima kasih juga
dihaturkan kepada semua pihak yang telah meluangkan waktunya untuk mengumpulkan
bahan, menyunting dan memproses pencetakkan sehingga prosiding ini dapat tersaji di
hadapan pembaca.
Palembang, Desember 2015
Kepala Pusat Litbang Hutan
dto
Ir. Djohan Utama Perbatasari, MM.
NIP. 196012301988011001
vi
B. ASPEK SILVIKULTUR
1. Aplikasi Teknik Silvikultur dan Penggunaan Benih Unggul dari Sumber Benih untuk
Meningkatkan Produktifitas Tanaman Tembesu (Fagraea fragrans Roxb) di Hutan
Rakyat
Imam Muslimin, Agus Sofyan dan Abdul Hakim Lukman ............................................ 115
2. Pengenalan Program Simulasi Perencanaan Usaha pada Kesatuan Pengelolaan
Agus Sumadi dan Hengki Siahaan ............................................................................... 127
3. Pengaruh Bahan Setek Terhadap Pertumbuhan Setek Jabon
(Anthocepalus cadamba)
Nurmawati Siregar ....................................................................................................... 139
4. Penggunaan Serbuk Sabut Kelapa dan Arang Sekam Padi dalam Pembibitan
Bambang Lanang (Michelia champaca L.)
Danu dan Rina Kurniaty ............................................................................................... 145
5. Pengaruh Teknik Pengemasan terhadap Kualitas Bibit Meranti Bapa (Shorea
selanica (Dc.) Blume) untuk Transportasi
Naning Yuniarti ............................................................................................................ 153
6. Pengaruh Pupuk Daun pada Pertumbuhan Bibit Sungkai di Persemaian
Sahwalita ................................................................................................................... 161
7. Tembesu (Fagraea fragrans Roxb): Jenis Alternatif untuk Bahan Baku Kayu
Dharmawati F. Djam’an ............................................................................................... 171
8. Pertumbuhan Bibit Jabon Putih (Anthocephalus cadamba) Umur 5 Bulan pada
Beberapa Macam Media dan Naungan
Agus Astho Pramono dan Rina Kurniaty ...................................................................... 177
9. Peningkatan Produktivitas Hutan Rakyat Melalui Penerapan Teknik Budidaya
Intensif pada Beberapa Jenis Tanaman Hutan Unggulan
Yulianti Bramasto, M. Zanzibar, Danu, Dida Syamsuwida dan Nurhasybi .................. 185
10. Peran BPDAS dalam Peningkatan Produktivitas Hutan Rakyat
Muswir Ayub dan Idi Bantara ...................................................................................... 199
C. ASPEK SOSIAL, EKONOMI DAN KEBIJAKAN
1. Efektivitas Kelembagaan dalam Peningkatan Produktivitas Hutan Produksi dan Hutan
Lindung: Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) sebagai Solusi?
Bramasto Nugroho....................................................................................................... 207
2. Kajian Sosial, Ekonomi dan Kebijakan dalam Budidaya Kayu Pertukangan Lokal:
Pembelajaran dari Masyarakat Di Provinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu
Nur Arifatul Ulya ......................................................................................................... 217
3. Kajian Pengelolaan Kolaboratif Kawasan Hutan di Taman Hutan Raya Wan Abdul
Rahman, Provinsi Lampung
Ari Nurlia, Edwin Martin dan Bondan Winarno ........................................................... 229
4. Pengetahuan Lokal Masyarakat Suku Daya dan Suku Saling, Sumatera Selatan
dalam Pengobatan Penyakit Degeneratif dan Metabolik Berbasis Tumbuhan
Efendi Agus Waluyo, Asmaliyah dan Suryanto ............................................................ 237
Lampiran
325
Lampiran 3. Daftar Peserta Seminar
No
Nama Lengkap
Instansi
1
Mohamad Yuriza
Dishut Lampung Selatan
2
Ibnu SM
P3H
3
Josri T
KLH Kab. Way kanan
4
Audi Zulifikar
Dishut Prov. Lampung
5
Novi Sri Wahyuni, S.Hut
Dishut Prov. Lampung
6
Lasminin
KTH Lampung Barat
7
Yayah Suryana
KWI
8
Bagus Novianto
BPK Manokwari
9
Kurniawati PP
BPTPTH
10
E.Kosasih
KTH Lampung Barat
11
Pairin
PKS
12
Cucu Suryadi
PKL
13
Joko Wiyono
BLHD IS
14
Ponijan
Dishut Lampung Barat
15
Dudi Syamsudin
BPDAS WSS
16
Sapto Hutomo
SET Bakorluh Prop. Lampung
17
Sutopo
BP2K Lampung Barat
18
Duwi Jalestari
BPDAS WSS
19
Nuruh Hasanah
BPDAS WSS
20
Retno Arum
BPDAS WSS
21
Andi Kristanto
BLH Lampung Tengah
22
Rahadian
BLH Lampung Tengah
23
Oki Suryanto
LH Metro
24
Misto
BPK Makassar
25
Untung G
LH Metro
26
Untung W
BPLHD
27
Drinus Arruan
BALTOK KSDA
28
M. Nurdin A
BBPBTH Yogyakarta
29
Sri Wahyuni
BBPBTH Yogyakarta
30
Rustam Efendi
PKSM Lampung Utara
31
Buraidi
PKSM Pringsewu
32
Jacky Pah
Penyuluh Kehutaan, Pringsewu
33
Fatimah
BPPLH, Bandar Lampung
34
Isyanto
YKWS
35
Rama Zakaria
PT-TN
36
Nopi Yuansyah
Kawan Tani
37
Kaslan
TP4K
38
Mulyadi
BPDAS WSS
39
Hermansyah
Wanacala
Lampiran
326
No
Nama Lengkap
Instansi
40
Apriadi
BPDAS WSS
41
Sri Supriatin
BPLH Pringsewu
42
S. Febri Fitri
PT. Silvia Inhutani
43
Surya Gafar
Humas Protokol
44
M. Aldu
Humas Protokol
45
Gatot Azhari
BKP3 Bandar Lampung
46
Sartono
PT. Silvia Inhutani
47
Farida K
Dishut Prov. Lampung
48
Asri P
Dishut Prov. Lampung
49
Muamar Z
BPKH Wil XX
50
Bayu Oktanardi
BPKH Wil XX
51
Nano Rohadi
Humas Pemda
52
Fior
Humas Pemda
53
Mega Liberty M
BPKH Wil XX
54
Agus Salim
IAIN
55
Budi Satria
KPHP Muara Dua
56
Indra D
BKSDA
57
Tatan Rustandi
BKSDA
58
Nico Y
BPKH Wil XX
59
Okdonanto
KPHP Bukit Punggur
60
Jauhari
KPHP Bukit Punggur
61
Khairul A
BP2HP Lampung Barat
62
Sudarmono
BP4K TBB
63
Tasisno
PK3M
64
BungS
PK3M
65
Hedro
HUTAN
66
Drs. Sutikno, MM
KA BP4 K
67
Dwi Maylinds
KPH Muara Dua
68
Eko Sutrisno, SST
PK BPUK Lampung Utara
69
Adhie M
BBTNBBS
70
Joko Wahyo
BP4K
71
Siswadi, SP
BP4K
72
Gustami
P2H
73
Sulastri,SP
BP4K
74
Ekadiatun, SP., MH
BP4K
75
Musdir Ayub
BPDAS WSS
76
Hidarsan
BP4K
77
Elvira Aziza
Dishut Prov. Lampung
78
Dedi Idwin
KPHL Kota Agung
79
Iwansyah N
TBB
Lampiran
327
No
Nama Lengkap
Instansi
80
Siti Munawaroh
KPH Kota Agung
81
Mardhotila
KPHL Batutegi
82
Sikraid
BPDAS WSS
83
Aris Supriyadi
PKSM Pringsewu
84
Kijon
RILOU
85
Heri Nurcahyo, SP
RJF BPYR
86
Warsito
TP4K
87
Zulhasry DP
BPLHD
88
Asnuri HB
BPLHD
89
Christine W
UNILA
90
Ardhi Mihada
Dishut Prov. Lampung
91
Bambang Utomo
POLINELA
92
Made Same
POLINELA
93
Iton BP
BPK Aek Nauli
94
Kasmuri
Humas CH3
95
Purbowisti
BP4K Pesawaran
96
Umar Mansyur
BP4K Pesawaran
97
Budiono
BP4K Pesawaran
98
Kusnadi
Petani Binaan
99
Suhiryanto
BP4K Pringsewu
100
Syamsul Hudha
Petani Binaan
101
Rikha Anyanie Surya
BKSDA Lampung
102
Aswindi
Kelompok HKM
103
Muhajir
Kelompok HKM
104
Jonfu Alhudri
BBTNBBS
105
Aditya VH
BP2HP VI
106
Agus Wibowo
BP2HP VI
107
Astika W
BPPHP WIL VI Bandar Lampung
108
Ria Melini
BPPHP WIL VI Bandar Lampung
109
Rustianingsih
BPPHP WIL VI Bandar Lampung
110
Eko Yustanto
BP2HP WIL VI
111
Popi Tri Astuti
BP2HP WIL VI
112
Suwanto
BP4K Lampung Tengah
113
Derson Elphiwika
Aqua Danone Forkapel
114
Sulaiman
KTH Lampung
115
Israd
KTH Lampung
116
Jamino
PKSMLT
117
Sunarmi W
Forum HKM Prov. Lampung
118
Andestina
Distana Kebun Teh Bandar Lampung
119
Fajar
Partnership Jakarta
Lampiran
328
No
Nama Lengkap
Instansi
120
Amalia Prameswari
Kemitraan Jakarta
121
Fajar Sumantri
PKSM Tanggamus
122
Ahmad S
PKSM Tanggamus
123
Sujarwo
Kelompok HKM
124
Subando
KTH Bagi Makmur
125
Agung M
KTH HKM
126
M. Zaini
PKSM Tanggamus
127
Adam Sari
GMWT
128
Sumijar
GMWT
129
Abdul Rahman
GMWT
130
Munaldi
GIAP OKTAN
131
Nurmawati S
BPTPTH
132
Eliya S
BPTPTH
133
Rina K
BPTPTH
134
Naning Y
BPTPTH
135
A Chairun A
Balitbang
136
Dr. Sukismanto Aji
Balitbang
137
Arinal Djunaidi
Balitbang
138
Frans O
Protokol
139
Mashami
Protokol
140
M. Zanzibar
BPTPTH
141
Dwi Haryadi
BPTPTH
142
Dewi Mayasari
BLH Kab. Pesawaran
143
Sylviani
Puspijak Bogor
144
Sri sulawati
Puspijak Bogor
145
Imam Muslimin
BPK Palembang
146
Dodi
UPTD KDHL
147
Mustari
KPHL Pesawaran
149
Erdi Suroso
Litbang LH Unila
150
Jajang Suparman
BP4K Tulang Bawang
151
Armen Qodar
BP2KP PS5 BARAI
152
Ahmad
BP2KP PS5 BARAI
153
Mashabi
Mitra Bentola
154
Doni S
BP4K-TUBA
155
Gusman Hatta
BP4K-TUBA
156
Poni Budiano
BPLHD Kab. TBB
157
Subakir
BKSDA
158
Edison
NATALA
159
Mas Agus Foresli
Distanbunhut TUBA
160
Agung Subekti
PTPN VIII
Lampiran
329
No
Nama Lengkap
Instansi
161
Asmaliyah
BPK Palembang
162
Renaldi P
KPHP
163
Khairul Anwar
KPHK Rajabasa
164
Sri Masruroh
KPHK Rajabasa
165
Sapuan
Dishutbun PSS Barat
166
Puskan Efendi
Kadishutbun PSS
167
Danu
BPTPTH
168
Bastoni
BPK Palembang
169
Hatta S
Penangkaran
170
Hamdani
KABID BLH WASDAL
171
Laili Wati
KABID HWT BUN
172
Sugoto
BPLK Lampung Timur
173
Heri Maryanto
BPLK Lampung Timur
174
Tri Yuli Amimtoro
PKSM
175
Kasmuri
GAPORTAN
176
Sutrisno
Penangkar
177
Buchsin
Penangkar
178
E. Sugiri
Penangkar
179
Fari Purwanto
Penangkar
180
Iwan K
Penangkar
181
Wiji
BP2K
182
Luluh S
Dishut LU
183
Wagino
HKM
184
Edi
HKM
185
Komar
PMK S
186
Suharnoto
HKM-Bukit Kota-Lampung Utara
187
Zulhaidin
HKM
188
Khairul Amri
BP4K Lampung
189
Wsuin
BP4K TGMS
190
Eko
BP4K TGMS
191
Yudianto
Stain Metro
192
Suhairi
Stain Metro
193
Agus Riyadi
BPDAS WSS
194
Billy Sapto P
PT. TBK Indomie
195
Hagniyo W
BBTNBBS
196
Mamat Rahmat
BPK Palembang
197
Ika Widiarti
BBTNBBS
198
Aditia W
BBTNBBS
199
Riyanto
BBTNBBS
200
Dadan R
BBTNBBS
Lampiran
330
No
Nama Lengkap
Instansi
201
Zohiri
Disbunhut Pesawaran
202
Suharyono
BP4K Lampung Timur
203
Budi Subroto SST
BP4K
204
Purwadi
BP4K
205
Darno
BP4K
206
Suwanto
Disbunhut Lampung Timur
207
Iskandar Muda
PEMDA
208
January
BP4K TGMS
209
Ruskan Efendi
Dishut PSS Barat
210
Iskandar
Pesawaran
... Namun saat ini, pengguna obat tradisional ini tidak terbatas hanya di pedesaan saja, tetapi juga di kota-kota besar yang memiliki banyak fasilitas kesehatan dan mudah mendapatkan obat modern. Obat tradisional kemungkinan digunakan sebagai obat alternatif karena mahalnya atau tidak tersedianya obat modern dan adanya kepercayaan bahwa obat tradisional lebih aman (Dewoto, 2007) serta penyakitnya belum sembuh juga walaupun sudah menggunakan obat modern ( Waluyo et al., 2015). ...
Book
Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman yang sangat tinggi. Tidak hanya pada keanekaragaman hayatinya saja, melainkan juga pada keanekaragaman etnis dan budaya, termasuk tradisi dalam penggunaan tumbuhan berkhasiat obat sebagai bagian dari pengobatan tradisional. Badan Pusat Statistik 2010 merinci terdapat 1.340 etnis di Indonesia yang masing-masing memiliki pengetahuan tentang pengobatan tradisional menggunakan tumbuhan berkhasiat obat. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika tumbuhan berkhasiat obat yang dikenal sangat banyak jenisnya. Departemen Kesehatan Republik Indonesia dalam Kebijakan Obat Tradisional Indonesia tahun 2006 menyatakan bahwa terdapat sekitar 30.000 jenis tumbuhan yang terdapat di Indonesia, tidak kurang dari 9.600 jenis memiliki khasiat obat, namun hasil penelitian Turjaman (2015) menyebutkan baru sekitar 1.200 jenis tumbuhan obat yang telah digunakan dan diteliti sebagai obat tradisional, tetapi risetnya belum maksimal. Sedangkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebutkan jumlah jenis tumbuhan yang sudah didaftarkan untuk penggunaan obat tradisional atau jamu berkisar 283 jenis tanaman dan 180 jenis di antaranya diperoleh dari hutan, 30% diantaranya sudah dibudidayakan, dan sisanya dipanen langsung dari alam. Tumbuhan berkhasiat obat merupakan tumbuhan yang memiliki senyawa yang bermanfaat untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit, melakukan fungsi biologis tertentu, hingga mencegah serangan serangga dan jamur. Tumbuhan obat dapat berupa tumbuhan pangan, tumbuhan hortikultura maupun tumbuhan liar seperti semak belukar dan tumbuhan hutan. Badan Pusat Statistik tahun 2018 merilis data bahwa presentasi penduduk Indonesia yang mempunyai keluhan sakit adalah sebesar 28,62% dan dari jumlah tersebut ternyata 69,43% nya memilih untuk melakukan pengobatan sendiri. Salah satu penyebabnya adalah melonjaknya harga obat sintetis dan resiko efek sampingnya bagi kesehatan, sehingga masyarakat lebih memilih gaya hidup kembali ke alam (back to nature) dan cenderung menggunakan tumbuhan berkhasiat obat. Pengetahuan tentang jenis, tata cara penggunaan, manfaat serta kandungan farmakologi tumbuhan berkhasiat obat sangat berguna dalam pengembangan obat baru. Kehati (2017) menyebutkan 11% dari 252 senyawa obat yang oleh World Health Organization (WHO) dinyatakan sebagai senyawa obat dasar dan esensil, berasal dari tumbuhan berbunga. Bahkan sampai saat ini pun banyak senyawa-senyawa obat yang digunakan dalam pengobatan modern yang berasal dari tumbuhan dan berakar dari
ResearchGate has not been able to resolve any references for this publication.