ResearchPDF Available

Estimasi Stok dan Serapan Karbon pada Mangrove di Sungai Tallo, Makassar Stock Estimation and Carbon Absorption of Mangrove in Tallo River, Makassar Riwayat naskah

Authors:

Abstract and Figures

The mangrove ecosystem has a higher ability of CO 2 absorption than other vegetations. However, the effort to establish the mangrove to be a carbon stock area has not been achieved. Makassar has Tallo River, covered with mangrove vegetation along its riverbank, which is potent to be managed as a green open space. The observations indicated that Tallo River was located in the center part of Makassar city and was dominated by Nypa fruticans along the riverbanks in 18,514 trees and a density of 4,256 trees/ha, stored carbon of 21.82 tons C/ha, and absorbs 80.02 tons CO 2 /ha. Rhizophora mucronata was the second dominant species in 8.492 trees and density of 2,352 trees/ha, stored carbon of 19.94 tons C/ha, and absorbs 73.13 tons CO 2 /ha. The third dominant species was Avicennia alba in 2,421 trees and density of 3,228 trees/ha, stored carbon of 263.85 tons C/ha, and absorbs 197.89 tons CO 2 /ha. The density and ability to absorb values of the mangrove is highly suitable to be managed for a green open space to supply fresh air and CO 2. INTISARI Ekosistem mangrove memiliki kemampuan menyerap CO 2 lebih tinggi dibandingkan dengan vegetasi tumbuhan lainnya. Namun upaya pengelolaannya sebagai kawasan penyimpan stok karbon masih belum maksimal. Kota Makassar memiliki Sungai Tallo yang sepanjang bantarannya ditumbuhi oleh vegetasi mangrove dan sangat potensial untuk dikelola sebagai ruang terbuka hijau. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa Sungai Tallo terletak tepat di tengah kota Makassar dan sepanjang bantaran sungai didominasi oleh spesies Nypa fruticans dengan jumlah 18.514 pohon dan kerapatan 4.256 pohon/ha, menyimpan karbon sebesar 21,82 ton C/ha, menyerap 80,02 ton CO 2 /ha. Spesies dominan kedua adalah Rhizophora mucronata dengan jumlah 8.492 pohon dan kerapatan 2.352 pohon/ha, menyimpan karbon sebesar 19,94 ton C/ha, menyerap 73,13 ton CO 2 /ha. Spesies dominan ketiga yaitu Avicennia alba dengan jumlah 2.421 pohon dan kerapatan 3.228 pohon/ha, KATA KUNCI ekosistem mangrove kerapatan mangrove serapan karbon stok karbon Sungai Tallo
Content may be subject to copyright.
19
Estimasi Stok dan Serapan Karbon pada Mangrove di Sungai Tallo,
Makassar
Stock Estimation and Carbon Absorption of Mangrove in Tallo River, Makassar
Rahman1*, Hefni Effendi1,2, & Iman Rusmana3
1Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Institut Pertanian Bogor, Bogor, 16680
*E-mail : abdurrahman291@yahoo.com
2Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Institut Pertanian Bogor, Bogor, 16680
3Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor, Bogor, 16680
Jurnal Ilmu Kehutanan
Journal of Forest Science
https://jurnal.ugm.ac.id/jikfkt
HASIL PENELITIAN
Riwayat naskah:
Naskah masuk (received): 7 April 2016
Diterima (accepted): 16 Nopember 2016
KEYWORDS
mangrove ecosystem
density of mangrove
carbon absorption
carbon stock
Tallo River
ABSTRACT
The mangrove ecosystem has a higher ability of CO2 absorption than other
vegetations. However, the effort to establish the mangrove to be a carbon
stock area has not been achieved. Makassar has Tallo River, covered with
mangrove vegetation along its riverbank, which is potent to be managed as a
green open space. The observations indicated that Tallo River was located in
the center part of Makassar city and was dominated by Nypa fruticans along
the riverbanks in 18,514 trees and a density of 4,256 trees/ha, stored carbon of
21.82 tons C/ha, and absorbs 80.02 tons CO2/ha. Rhizophora mucronata was
the second dominant species in 8.492 trees and density of 2,352 trees/ha,
stored carbon of 19.94 tons C/ha, and absorbs 73.13 tons CO2/ha. The third
dominant species was Avicennia alba in 2,421 trees and density of 3,228
trees/ha, stored carbon of 263.85 tons C/ha, and absorbs 197.89 tons
CO2/ha. The density and ability to absorb values of the mangrove is highly
suitable to be managed for a green open space to supply fresh air and CO2.
INTISARI
Ekosistem mangrove memiliki kemampuan menyerap CO2 lebih tinggi
dibandingkan dengan vegetasi tumbuhan lainnya. Namun upaya
pengelolaannya sebagai kawasan penyimpan stok karbon masih belum
maksimal. Kota Makassar memiliki Sungai Tallo yang sepanjang
bantarannya ditumbuhi oleh vegetasi mangrove dan sangat potensial
untuk dikelola sebagai ruang terbuka hijau. Hasil pengamatan
menunjukkan bahwa Sungai Tallo terletak tepat di tengah kota Makassar
dan sepanjang bantaran sungai didominasi oleh spesies Nypa fruticans
dengan jumlah 18.514 pohon dan kerapatan 4.256 pohon/ha, menyimpan
karbon sebesar 21,82 ton C/ha, menyerap 80,02 ton CO2/ha. Spesies
dominan kedua adalah Rhizophora mucronata dengan jumlah 8.492
pohon dan kerapatan 2.352 pohon/ha, menyimpan karbon sebesar 19,94
ton C/ha, menyerap 73,13 ton CO2/ha. Spesies dominan ketiga yaitu
Avicennia alba dengan jumlah 2.421 pohon dan kerapatan 3.228 pohon/ha,
KATA KUNCI
ekosistem mangrove
kerapatan mangrove
serapan karbon
stok karbon
Sungai Tallo
Pendahuluan
Pemanasan global merupakan salah satu
peristiwa alam yang perlu diwaspadai, bukan hanya di
Indonesia, tetapi berkembang menjadi isu global.
Kontributor terbesar pemanasan global saat ini adalah
karbondioksida dan metana yang dihasilkan dari
berbagai aktivitas manusia seperti pembakaran bahan
bakar fosil, kendaraan bermotor, dan mesin industri
yang menyebabkan gas karbon terakumulasi (IPCC
2001). Sutaryo (2009) menyatakan bahwa suatu
ekosistem sangat diperlukan keberadaannya sebagai
vegetasi yang dapat menyerap gas karbondioksida
sebelum terlepas ke atmosfir. Penyerapan gas
karbondioksida oleh tumbuhan terjadi melalui proses
fotosintesis.
Ekosistem mangrove memiliki fungsi ekologis
yang sangat penting terutama bagi wilayah pesisir.
Salah satu fungsi ekologis mangrove adalah sebagai
penyimpan karbon. Rosot karbondioksida ber-
hubungan erat dengan biomassa tegakan. Jumlah
biomassa suatu kawasan diperoleh dari produksi dan
kerapatan biomassa yang diduga dari pengukuran
diameter, tinggi, berat jenis, dan kerapatan setiap
jenis pohon. Biomassa dan rosot karbon pada
mangrove merupakan salah satu manfaat mangrove di
luar potensi biofisik lainnya, seperti penyerap dan
penyimpan karbon guna pengurangan kadar CO2 di
udara. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Hairiah
dan Rahayu (2007), dan Komiyama et al. (2008) yang
melaporkan bahwa ekosistem mangrove memiliki
peranan yang penting dalam mengurangi efek gas
rumah kaca sebagai mitigasi perubahan iklim karena
mampu mereduksi CO2 melalui mekanisme
sekuestrasi”, yaitu penyerapan karbon dari atmosfer
dan penyimpanannya dalam bentuk biomassa. Tiap
hektar ekosistem mangrove dapat menyimpan karbon
empat kali lebih banyak dibanding dengan ekosistem
lainnya (Daniel et al. 2011). Hal ini sejalan dengan hasil
penelitian sebelumnya yang melaporkan bahwa
tumbuhan mangrove memiliki kemampuan yang baik
dalam menyerap karbon bahkan mencapai 296 ton
C/ha (Siddique et al. 2012; Alemaheyu et al. 2014).
Jenis mangrove yang tumbuh di Indonesia
sebanyak 38 spesies, diantaranya dari marga
Rhizophora, Bruguiera, Avicennia, Sonneratia,
Xylocarpus, Barringtonia, Luminitzera, Ceriops, dan
Nypa (Supriharyono 2000). Secara ekologis
pemanfaatan ekosistem mangrove di daerah pantai
yang tidak dikelola dengan baik akan menurunkan
fungsi ekosistem yang berdampak negatif terhadap
potensi biota dan fungsi ekosistem lainnya.
Makassar memiliki Sungai Tallo yang merupakan
habitat ekosistem mangrove. Beddu (2011) melapor-
kan bahwa Sungai Tallo dikelilingi oleh vegetasi
mangrove yang beragam, terutama didominasi jenis
Nypa, Avicennia, dan Rhizophora. Informasi nilai stok
dan serapan karbon mangrove di wilayah Makassar
belum tersedia khususnya di sepanjang di Sungai
Tallo. Selain itu upaya pemerintah untuk menetapkan
kawasan ini sebagai ruang terbuka hijau tentu
memerlukan informasi ilmiah terkait kemampuan
serapan karbon dari tiap mangrove yang terdapat di
kawasan tersebut. Berdasarkan hal tersebut maka
penelitian tentang stok karbon pada ekosistem
mangrove di Sungai Tallo perlu dilakukan.
20
Jurnal Ilmu Kehutanan
Volume 10 No. 2 - Juli-September 2016
menyimpan karbon sebesar 53,96 ton C/ha, menyerap 197,87 ton CO2/ha.
Nilai kerapatan dan kemampuan serapan mangrove tersebut sangat sesuai
untuk dikelola pada ruang terbuka hijau penyuplai udara segar dan
penyerap CO2.
© Jurnal Ilmu Kehutanan Allright reserved
Bahan & Metode
Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian
ini terdiri dari tali nilon untuk membuat plot dan
transek garis, meteran untuk mengukur panjang sisi
plot, transek, dan diameter pohon, timbangan untuk
menimbang berat basah dan berat kering pohon atau
subsampel pohon, GPS untuk mengetahui titik
koordinat substasiun penelitian, sampel daun, batang,
buah dan akar mangrove sebagai obyek penelitian,
serta oven untuk mengeringkan subsampel berat
basah daun, buah, batang, dan akar mangrove.
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di bantaran Sungai Tallo.
Sungai Tallo adalah sungai yang bermuara di dua
kabupaten/kota yaitu antara Kota Makassar dan
Kabupaten Gowa dengan panjang sungai mencapai 10
km. Sungai ini terletak pada koordinat 5o 07' 3,05" LS
119o 25' 19,86" BT. Sepanjang bantaran sungai
ditumbuhi oleh mangrove yang didominasi oleh Nypa
fruticans, Rhizophora mucronata, dan Avicennia alba.
Lokasi penelitian dibagi dalam 3 stasiun serta 12
titik pengamatan (Gambar 1) yaitu: Stasiun 1 (satu):
Jembatan Sungai Tallo - Pulau Lakkang (titik: 1-6),
Stasiun 2 (dua): Pulau Lakkang - Jembatan tol ( titik:
7-10), dan Stasiun 3 (tiga): Jembatan tol - Muara
Sungai Tallo (titik: 11-12).
Pengukuran kerapatan mangrove
Pengukuran kerapatan mangrove dilakukan
dengan metode acak (purposive sampling) dengan
mempertimbangkan keterwakilan berdasarkan
tingkat kerapatan mangrove. Pengukuran kerapatan
mangrove dilakukan dengan membuat plot berukur-
an 10 x 10 m2 sebanyak 60 plot pada masing-masing
titik pengamatan. Sebanyak 5 plot diletakkan searah
lajur sungai pada masing-masing sisi sungai di titik
pengamatan. Selanjutnya dilakukan pendataan
terhadap jumlah dan jenis spesies mangrove yang
21
Jurnal Ilmu Kehutanan
Volume 10 No. 2 - Juli-September 2016
Gambar 1. Lokasi penelitian dan titik pengamatan
Figure 1. Research site and observation point
ditemukan. Plot diletakkan searah dengan lajur
bantaran sungai seperti yang tersaji pada Gambar 2.
Pengukuran salinitas
Pengukuran salinitas perairan dilakukan meng-
gunakan handrefractometer di tiga stasiun pengamat-
an selama 6 kali dengan 3 kali ulangan. Satuan
konsentrasi alat ini dinyatakan dalam ppt (part per
thousand). Pengukuran salinitas dimaksudkan untuk
melihat pola zonasi yang terbentuk berdasarkan
perbedaan salinitas pada suhu 0-35° C, nilai 1 ppt = 1
psu (particle salinity unit) (NOAA 2006). Klasifikasi
salinitas air dapat dilihat pada Tabel 1.
Pengukuran biomassa, stok, dan serapan karbon
mangrove
Biomassa diperoleh dari persamaan alometrik
yang telah dikembangkan oleh Fromard et al. (1998)
dan Komiyama et al. (2005) untuk tipe vegetasi tegak-
an pohon setelah dilakukan pengukuran diameter
batang setinggi dada. Mangrove tipe palem seperti
jenis Nypa yang belum diketahui persamaan
alometrik untuk menghitung biomassanya dilakukan
pengukuran biomassa dengan menebang mangrove
pada range diameter (pangkal dan pelepah) dari
terkecil hingga yang terbesar sekitar 10-15 pohon
dengan terlebih dahulu melakukan pengukuran
terhadap berat basah, berat kering, dan massa jenis
mangrove.
Analisis kerapatan mangrove
Kerapatan mangrove dianalisis dengan rumus:
Analisis biomassa, stok dan serapan karbon
Besarnya nilai biomassa mangrove untuk vegetasi
pohon dihitung menurut persamaan allometrik yang
telah dikembangkan sebelumnya (Tabel 2). Nilai
biomassa mangrove spesies Nypa fruticans dihitung
dengan mengukur berat kering total melalui proses
pengeringan subcontoh mangrove pada suhu 130° C
selama 48 jam lalu dihitung dengan menggunakan
persamaan berikut (Hairiah & Rahayu 2007) :
Besarnya nilai stok karbon diperoleh dari hasil
perkalian biomassa dengan nilai fraksi karbon
(Kementerian Kehutanan 2012) seperti pada Tabel 3.
Adapun besaran nilai serapan karbon atau CO2
ekivalen dihitung menurut persamaan Heriyanto
(2012) sebagai berikut:
22
Jurnal Ilmu Kehutanan
Volume 10 No. 2 - Juli-September 2016
Berat kering (kg) =
Subcontoh berat kering (gram) x Berat basah (kg)
Subcontoh berat basah (gram)
K (pohon/ha) =
Jumlah pohon mangrove spesies ke-i x 10.000 m2
Luas plot (100 m )
2
CO (kg CO /pohon) =
2 2
Mr.CO (44 gr/mol) x Stok karbon (kg/pohon)
2
Mr.C (12 gr/mol)
CO (kg CO /ha) =
2 2
Kerapatan mangrove (pohon/ha) x stok karbon (kg/ha)
Gambar 2. Lay out penempatan plot pengukuran kerapatan mangrove
Figure 2. Lay out the plot placement of measuring mangrove density
10 m
10 m
10 m 10 m
10 m DaratMuara sungai
10 m
Analisis model allometrik Nypa fruticans
Penyusunan model allometrik N. fruticans
dilakukan dengan menggunakan software Minitab.
Hasil & Pembahasan
Kondisi umum ekosistem mangrove
Spesies mangrove yang ditemukan di Sungai
Tallo sebanyak tiga spesies yakni N. fruticans, R.
mucronata, dan A. alba. Jumlah ini tergolong rendah
dibandingkan hasil penelitian yang dilaporkan oleh
Jamili et al. (2009) di perairan Pulau Keledupa,
Wakatobi dengan jumlah 8 spesies, di perairan Desa
Bambangan Pulau Sebatik terdapat 19 spesies
(Ardiansyah et al. 2012), di sekitar Jembatan
Suramadu, Surabaya dengan jumlah 5 spesies
(Susanto et al. 2013), dan di pesisir Desa Kembar,
Maminasa dengan jumlah 7 spesies (Rahman 2014).
Perbedaan ini dapat disebabkan oleh salinitas dan
karakter substrat yang ada di masing-masing lokasi.
Jumlah individu dan kerapatan mangrove di
Sungai Tallo, Makassar disajikan pada Tabel 4. Hasil
tersebut (Tabel 4) menunjukkan bahwa kerapatan
mangrove terbesar ditunjukkan oleh N. fruticans
dengan total 18.514 pohon dan kerapatan 4.256
pohon/ha, R. mucronata 8.492 pohon dengan
kerapatan 2.354 pohon/ha, dan A. alba 2.421 pohon
dengan kerapatan 3.228 pohon/ha. Pola pertumbuhan
mangrove di Sungai Tallo telah membentuk pola
zonasi yang teratur sesuai tingkat salinitas perairan.
N. fruticans tumbuh ke arah darat di daerah payau,
pada kisaran salinitas 15-20 psu, R. mucronata tumbuh
di antara daerah Nypa dan A. alba, pada kisaran
salinitas 20-25 psu, A. alba tumbuh di daerah muara
yang langsung berhadapan dengan laut pada kisaran
salinitas 25-32 psu (Gambar 3). Hasil tersebut relatif
sama dengan yang dilaporkan oleh Noor et al. (2006)
bahwa N. fruticans menempati daerah yang tertutup
ke arah darat dengan salinitas payau, Rhizophora sp
menempati daerah di antara Avicennia sp dan N.
23
Jurnal Ilmu Kehutanan
Volume 10 No. 2 - Juli-September 2016
Jenis mangrove Fraksi C (%) Jenis mangrove Fraksi C (%)
Avicennia sp
Bruguiera cylindrica
Rhizophora mucronata
Rhizophora apiculata
47
46
46
46
Sonneratia alba
Bruguiera gymnorhiza
Nypa fruticans
Avicennia marina
47
47
39
47
Tabel 3. Nilai fraksi karbon beberapa spesies mangrove
Table 3. Carbon fraction value some species of mangrove
Sumber : Kemenhut (2012)
Source : Kemenhut (2012)
Spesies Kerapatan (ind/100 m2)Luas area tumbuh spesies (m2)
Jumlah individu
pohon
Kerapatan
(phn/ha)
St. 1 St. 2 St. 3
N. fruticans 63 11 0
4256
R. mucronata 0 24 23
2354
A. alba 3 3 32,2
St. 1
St. 2
St. 3
26250
17250
0
0
16965
19110
0 0 7500
18514
8492
2421 3228
Tabel 4. Data jumlah individu dan kerapatan mangrove di Sungai Tallo, Makassar.
Table 4. Data of individual tree number and mangrove density in Tallo River, Makassar
Spesies Persamaan alometrik Sumber
Rhizophora apiculata
Rhizophora mucronata
Xylocarapus granatum
Avicennia sp
Avicennia marina
B = 0,0275 (DBH)3,22
B = 0,128 (DBH)2,60
B = 0,145 (DBH)2,55
2,46
2,3524
Amira (2008), Pambudi (2011)
Fromard et al.
(1998)
Poungparn et al.
(2002)
Komiyama et al.
(2005)
Dharmawan & Siregar (2008)
Tabel 2. Persamaan allometrik beberapa spesies mangrove.
Table 2. Allometric equation some species of mangrove
fruticans, sedangkan Avicennia menempati daerah
yang secara langsung berhadapan dengan laut dengan
salinitas asin. N. fruticans menjadi dominan karena
secara umum Sungai Tallo memiliki salinitas yang
cenderung payau dan sesuai untuk kehidupan dan
pertumbuhan N. fruticans.
Mangrove dengan kerapatan >1500 pohon/ha
tergolong sangat padat, >1000 - <1500 tergolong padat,
dan <1000 tergolong jarang (KLH 2004). Berdasarkan
hal tersebut, maka tingkat kerapatan mangrove di
bantaran Sungai Tallo tergolong sangat padat. Nilai
kerapatan mangrove tersebut dapat dipertahankan
dengan membuat regulasi yang bersifat mengikat bagi
masyarakat sehingga tidak dilakukan pengrusakan
mangrove.
Biomassa
Secara umum nilai biomassa setiap spesies
mangrove berbeda dan dipengaruhi oleh kemampuan
sekuestrasi yang dapat dianalisis berdasarkan nilai
massa jenis, diameter pohon ataupun ketinggiannya.
Hasil analisis berat kering total pada tiap spesies N.
fruticans yaitu 13,15 kg/pohon dengan rata-rata
diameter pangkal sebesar 23,94 cm dan dan diameter
pelepah 4,00 cm (Tabel 5). Model allometrik
hubungan antara diameter pangkal (DB) dan
biomassa yaitu B = 0,098(DB)1,4934 dengan (R2) = 0,991.
Model persamaan allometrik hubungan diameter
24
Jurnal Ilmu Kehutanan
Volume 10 No. 2 - Juli-September 2016
Gambar 3. Pola zonasi mangrove di Sungai Tallo, Makassar
Figure 3. Mangrove zonation pattern in Tallo river, Makassar
Tabel 5. Rata-rata diameter pangkal dan pelepah N. fruticans hubungannya dengan biomassa
Table 5. Average of base and stem diameter of N. fruticans and corelation with biomass
No
Diameter
(cm) (kg)
Total berat basah Subsampel berat basah
(g)
Subsampel berat kering
(g)
Total
berat
kering
DP
Dp
Akar
Pelepah
Daun
Buah
Akar
Pelepah
Daun
Buah
Akar Pelepah
Daun
Buah
1 57,91
7,65
17,61
97,81
16,81
5,02
300
500
400
400
76,00
122,20
164,02
105
36,58
2 55,36
6,94
15,83
96,14
15,12
2,81
300
500
400
400
75,40
120,80
163,83
103,8
34,13
3 47,09
5,77
13,24
89,02
12,37
2,12
300
500
400
400
76,00
120,67
164,06
104,16
30,46
4 35,64
5,24
9,41
70,15
9,45
0
300
500
400
0
75,54
121,88
164,20
0
23,35
5 29,91
4,57
7,21
62,67
5,28
0
300
500
400
0
75,62
122,04
163,29
0
19,27
6 24,18
4,23
5,72
51,54
3,92
0
300
500
400
0
74,48
122,16
163,38
0
15,61
7 21,64
4,07
5,15
36,23
1,72
0
300
500
400
0
76,12
120,43
165,05
0
10,74
8 20,36
3,54
4,08
22,08
1,54
0
300
500
400
0
74,68
122,20
164,24
0
7,04
9 16,23
3,29
2,98
16,40
1,02
0
300
500
400
0
76,08
122,12
164,22
0
5,18
10 12,73
3,22
1,46
14,82
0,98
0
300
500
400
0
75,24
121,81
163,98
0
4,38
11
11,45
2,91
1,04
12,26
0,82
0
300
500
400
0
75,06
122,02
163,76
0
3,59
12
9,86
2,73
0,86
9,06
0,69
0
300
500
400
0
75,18
120,89
164,14
0
2,69
13
7,32
2,28
0,72
7,15
0,53
0
300
500
400
0
74,83
122,22
164,00
0
2,14
14
5,09
1,88
0,52
4,21
0,41
0
300
500
400
0
74,86
121,24
164,20
0
1,32
15
4,39
1,62
0,38
2,04
0,36
0
300
500
400
0
75,38
122,25
164,12
0
0,74
Rerata
23,94
4,00
5,75
39,44
4,73
0,66
300
500
400
80
75,36
121,66
164,03
20,86
13,15
Keterangan : DB = diameter pangkal, DS = diameter pelepah
Remarks : DB = base diameter, DS = stem diameter
pelepah (DS) dengan biomassa adalah B =
0,222(DS)2,7048 dengan (R2) sebesar 0,964 (Gambar 4).
Berdasarkan luas area tumbuh dan tingkat
kepadatan mangrove, maka nilai total biomassa N.
fruticans sebesar 243,42 ton. Nilai biomassa ini lebih
besar dibandingkan biomassa R. mucronata dan A.
alba dengan nilai berturut-turut 156,51 ton dan 114,83
ton (Gambar 5). Hal ini karena kepadatan N. fruticans
dan luas area tumbuhnya lebih besar dibandingkan
dengan spesies R. mucronata dan A. alba. Nilai
biomassa mangrove pada tiap luasan hektar spesies A.
alba sebesar 153,10 ton/ha dan lebih besar dibanding-
kan N. fruticans dan R. mucronata yang berturut-turut
sebesar 55,96 ton/ha dan 43,38 ton/ha (Gambar 6).
Hal ini kemungkinan karena nilai massa jenis A. alba
sebesar 0,74 kg/dm3 dan lebih besar dibandingkan
spesies N. fruticans dan R. mucronata dengan massa
jenis masing-masing 0,15 kg/dm3 dan 0,69 kg/dm3.
Potensi biomassa spesies R. mucronata yang
terdapat di sungai Tallo lebih besar dibandingkan
potensi biomassa R. mucronata pada ekosistem
mangrove Muara Gembong, Bekasi (Rachmawati
2014) dan Indragiri Hilir Riau (Hilmi 2003)
berturut-turut 34,31 ton/ha dan 11,78 ton/ha. Biomassa
A. alba di Sungai Tallo lebih besar dibandingkan
dengan yang terdapat di mangrove Muara Gembong,
Bekasi (Rachmawati 2014) dan lebih kecil dibanding-
25
Jurnal Ilmu Kehutanan
Volume 10 No. 2 - Juli-September 2016
B = 0,222DS2,7048
R = 0,964
2
B = 0,098DB
1,4394
R = 0,091
2
(a) (b)
Gambar 4. (a). Model allometrik hubungan diameter pangkal dan biomassa N. fruticans, (b). Model allometrik hubungan
diameter pelepah dan biomassa N. fruticans.
Figure 4. (a). Allometric model of corelation between base diameter and biomass of N. fruticans, (b). Allometric model of
corelation between stem diameter and biomass of N. fruticans.
0.00 20.00 40.00 60.00 80.00
0
10
20
30
40
Biomassa (kg)
(Biomass (kg))
Diameter pangkal (cm)
(Diameter of Base (cm))
0
0
10
15
20
25
30
35
40
0.00 2.00 4.00 6.00 8.00
Diameter pelepah (cm)
(Diameter of Stem (cm))
Biomassa (kg)
(Biomass (kg))
Gambar 6. Biomassa mangrove berdasarkan kerapatan
pohon.
Figure 6. Mangrove biomass based on tree density
Gambar 5. Biomassa mangrove berdasarkan jumlah pohon
Figure 5. Mangrove biomass based on tree number
kan dengan biomassa A. alba yang terdapat di
ekosistem mangrove Taman Nasional Alas Purwo
(Heriyanto 2012) yang berturut-turut sebesar 4,78
ton/ha dan 217,22 ton/ha. Perbedaan nilai biomassa
tiap spesies yang sama pada ekosistem yang berbeda
dapat terjadi karena adanya kerapatan mangrove atau
perbedaan jumlah total pohon yang ditemukan pada
suatu area.
Stok karbon
Hasil analisis stok karbon total berdasarkan nilai
biomassa menurut jumlah pohon mangrove dan luas
area tumbuh serta fraksi karbon pada tiap spesies
yaitu sebesar 94,93 ton C - N. fruticans, 71,99 ton C - R.
mucronata, dan 53,97 ton C - Avicennia alba (Gambar
7). Nilai stok karbon mangrove spesies N. fruticans, R.
mucronata, dan A. alba pada tiap luasan hektar
berturut-turut sebesar 21,82 ton C/ha, 19,96 ton C/ha,
dan 71,96 ton C/ha (Gambar 8).
Nilai stok karbon R.mucronata dan A. alba
tersebut lebih besar dibandingkan dengan stok
karbon pada mangrove yang ada di Muara Gembong
Bekasi dengan nilai masing-masing yakni 17,60 ton
C/ha dan 2,42 ton C/ha (Rachmawati 2014). Berbeda
dengan spesies R. mucronata yang terdapat di
mangrove Taman Nasional Alas Purwo, nilai stok
karbonnya justru lebih besar yakni 108,61 ton C/ha
(Heriyanto 2012). Tak berbeda jauh dengan biomassa,
perbedaan stok karbon spesies yang sama pada
ekosistem yang berbeda juga disebabkan oleh
perbedaan kepadatan atau jumlah individu pada
suatu area.
Serapan karbon (CO2 ekivalen)
Hasil analisis serapan karbon (CO2 ekuivalen)
total berdasarkan nilai stok karbon menurut jumlah
pohon mangrove dan luas area tumbuh serta
perbandingan massa molekul karbondioksida dengan
karbon pada tiap spesies sebesar 348,09 ton CO2 - N.
fruticans, 263,98 ton CO2 - R. mucronata, dan 197,89
ton CO2 - A. alba (Gambar 9). Nilai serapan karbon
(CO2 ekivalen) mangrove spesies N. fruticans, R.
mucronata, dan A. alba pada tiap luasan hektar
berturut-turut sebesar 80,02 ton CO2/ha, 73,17 ton
CO2/ha, dan 263,85 ton CO2/ha (Gambar 10). Nilai
serapan karbon A. alba pada tiap hektarnya lebih
besar dibandingkan spesies N. fruticans dan R.
mucronata. Hal ini karena adanya massa jenis A. alba
lebih besar juga dibandingkan dengan massa jenis N.
fruticans dan R. mucronata.
Seperti halnya dengan hasil perhitungan pada
biomassa dan stok karbon, nilai serapan karbon R.
mucronata dan A. alba di sungai Tallo lebih besar
dibandingkan dengan serapan karbon pada mangrove
di Muara Gembong Bekasi dengan nilai masing-
masing yakni 64,53 ton CO2/ha dan 8,87 ton CO2/ha
26
Jurnal Ilmu Kehutanan
Volume 10 No. 2 - Juli-September 2016
Gambar 7. Stok karbon mangrove berdasarkan jumlah pohon
Figure 7. Carbon stock of mangrove based on tree number
Gambar 8. Stok karbon mangrove berdasarkan kerapatan
pohon
Figure 8. Carbon stock of mangrove based on tree density
(Rachmawati 2014). Sebaliknya, serapan karbon R.
mucronata di Sungai Tallo lebih kecil dibandingkan
dengan serapan karbon mangrove di Taman Nasional
Alas Purwo dengan nilai 398,60 ton CO2/ha
(Heriyanto 2012). Hal ini kemungkinan disebabkan
oleh perbedaan jumlah dan kerapatan pohon
mangrove yang terdapat di lokasi tersebut. Serapan
karbon mangrove tiap spesies berbeda karena tipe
pertumbuhan mangrove N. fruticans berupa pelepah
yang menyerupai palem dengan kandungan air yang
tinggi, sedangkan R. mucronata dan A. alba berbentuk
pohon sehingga batangnya lebih keras.
Kesimpulan
Mangrove di Sungai Tallo Makassar tergolong
sangat padat dan didominasi oleh N. fruticans, R.
mucronata, dan A. alba. Kerapatan mangrove
berbanding lurus dengan besarnya biomassa, stok,
dan serapan karbon sehingga perlu adanya peraturan
untuk menjaga kelestarian mangrove agar kualitas
udara dapat terjaga dengan baik. Stok dan serapan
karbon mangrove tiap spesies berbeda berdasarkan
tipe pertumbuhan mangrove, misalnya N. fruticans
berupa pelepah yang menyerupai palem sehingga
menyimpan karbon lebih rendah, sedangkan R.
mucronata dan A. alba berbentuk pohon sehingga
batangnya lebih keras dan menyimpan karbon lebih
besar.
Daftar Pustaka
Alemaheyu F, Richard O, James MK, Wasonga O. 2014.
Assesment of mangroves covers change and biomass in
Mide Creek, Kenya. Open Journal of Forestry 4:398-413.
Amira S. 2008. Pendugaan biomassa jenis Rhizophora
apiculata B1 di hutan mangrove Batu Ampar Kabupaten
Kubu Raya, Kalimantan Barat. Skripsi (Tidak
dipublikasikan). Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Ardiansyah WI, Rudhi P, Nirwani S. 2012. Struktur
komposisi dan vegetasi ekosistem mangrove di Kawasan
Pesisir Pulau Sebatik Kabupaten Nunukan, Kalimantan
Timur. Journal of Marine Research 1:203-215.
Beddu S. 2011. Bantaran sungai sebagai konservasi lansekap
alami (Studi kasus: bantaran Sungai Tallo Makassar).
Jurnal Teknik Lingkungan 5:1-7.
Daniel C, Danoto J, Kauffman B, Murdiyarso D, Kurnianto S,
Stidham M, Kannine M. 2011. Mangroves among the
most carbon-rich forests in the tropics. Nature
Geoscience 4:293-297. doi: 10.1038/naturgeo.2011.206.
Dharmawan IWS, Siregar CA. 2008. Karbon tanah dan
penduga karbon tegakan Avicennia marina (Forsk)
Vierh di Ciasem, Purwakarta. Jurnal Penelitian Hutan
dan Konservasi Alam 5:317-328.
Fromard F, Puig H, Mougin E, Betoulle JL, Cadamuro L.
1998. Structure, above-ground biomass and dynamics of
mangrove ecosystems: new data from French Guiana.
Oecologia 115:39-53.
Ghufron M, Kordi K, Andi BT. 2007. Pengelolaan kualitas air
dalam budidaya perairan. Hlm. 224. Rineka Cipta.
Jakarta.
Hairiah K, Rahayu S. 2007. Pengukuran karbon tersimpan di
berbagai macam lenggunaan lahan. World Agroforestry
Centre. ICRAF, SEA Regional Office. Hlm. 3-4.
Universitas Brawijaya, Indonesia.
Heriyanto NM, Subiandono R. 2012. Komposisi dan struktur
tegakan, biomassa dan potensi kandungan karbon hutan
27
Jurnal Ilmu Kehutanan
Volume 10 No. 2 - Juli-September 2016
Gambar 9. Serapan karbon mangrove berdasarkan jumlah
pohon
Figure 9. Carbon absorption of mangrove based on tree
number
Gambar 10. Serapan karbon mangrove berdasarkan kerapatan
pohon
Figure 10. Carbon absorption of mangrove based on tree density
mangrove di Taman Nasional Alas Purwo. Jurnal
Penelitian Hutan dan Konservasi Alam 9(1): 023-032.
Hilmi E. 2003. Model penduga kandungan karbon pada
pohon kelompok jenis Rhizophora spp dan Bruguiera
spp dalam tegakan hutan mangrove (Studi kasus: di
Indragiri Hilir Riau). Disertasi (Tidak dipublikasikan).
Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change). 2001.
Climate change 2001: The scientific basis. Hlm. 881.
Cambridge University Press, Cambridge.
Jamili, Dede S, Ibnul Q, Edi G. 2009. Struktur dan komposisi
mangrove di Pulau Kaledupa Taman Nasional Wakatobi,
Sulawesi Tenggara. Skripsi (Tidak dipublikasikan).
Universitas Haluoleo, Kendari.
Kemenhut (Kementerian Kehutanan). 2012. Pedoman
penggunaan model alometrik untuk pendugaan
biomassa dan stok karbon di Indonesia. Hlm. 29.
Kemenhut, Jakarta.
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 201.
Tahun 2004. Tentang kriteria baku dan pedoman
kerusakan mangrove.
Komiyama A, Ong JE, Poungparn S. 2008. Allometry,
biomass and productivity of mangrove forest: A review.
Aquatic Botany 89:128-137.
Komiyama A, Poungparn S, Kato S. 2005. Common
allometric equation for estimating the tree weight of
mangroves. Journal of Tropical Ecology 21:471-477.
NOAA (National Oceanic and Atmospheric
Administration). 2006. Conversion of specific gravity to
salinity for ballast water regulatory management.
United States Department of Commerce.
Noor YR, Khazali M, Suryadiputra INN. 2006. Panduan
pengenalan mangrove di Indonesia. Hlm. 112-113. PKA,
WI – PI. Bogor.
Pambudi GP. 2011. Pendugaan biomassa beberapa kelas
umur tanaman jenis Rhyzophora apiculata BI pada areal
PT. Bina Ovivipari Semesta, Kabupaten Kubu Raya,
Kalimantan Selatan. Skripsi (Tidak dipublikasikan).
Institut Pertanian Bogor, Bogor
Poungparn S, Komiyama A, Jintana V, Piriyayaota S,
Sangtiean T, Tanapermpool P, Patanaponpaiboon P,
Kato S. 2002. A quantitative analysis on the root system
of a mangrove, Xylocarpus granatum Koenig. Tropics
12:35–42.
Rachmawati D, Setyobudiandi I, Hilmi E. 2014. Potensi
estimasi karbon tersimpan pada vegetasi mangrove di
wilayah pesisir Muara Gembong, Kabupaten Bekasi.
Omni-Akuatika 13(19):85-91.
Rahman. 2014. Struktur komunitas mangrove berdasarkan
perbedaan substrat di Desa Kembar Maminasa
Kecamatan Maginti, Kabupaten Muna. Skripsi (Tidak
dipublikasikan). Universitas Hasanuddin,Makassar.
Siddique HRM, Hossain M, Chowdhury KRM. 2012.
Allometric relationship for estimating above-ground
biomass of Aegialitis rotundifolia roxb of sundarbans
mangrove forest, in Bangladesh. Journal of Forestry
Research 23(1):23-28.
Supriharyono. 2000. Pelestarian dan pngelolaan sumber
daya alam wilayah pesisir tropis. Hlm. 158. Gramedia,
Jakarta.
Susanto AH, Thin S, Hery P. 2013. Struktur komunitas
mangrove di sekitar Jembatan Suramadu sisi Surabaya.
Skripsi (Tidak dipublikasikan): Universitas Airlangga,
Surabaya.
Sutaryo D. 2009. Penghitungan biomassa : Sebuah
pengantar untuk studi karbon dan perdagangan karbon.
Hlm. 39. Wetlands Internasional Indonesia Programme.
28
Jurnal Ilmu Kehutanan
Volume 10 No. 2 - Juli-September 2016
Conference Paper
Full-text available
Scientist and environmentalist highlight the negative impact of a shrimp farm. The last decade analyzed numerous greenhouse gas emissions and aquaculture activities previously discussed. However, there are limited studies that reveal the emission of CO 2 and CH 4 related to aquaculture activities. The purpose of this study, therefore, is to examine the daily dynamics of these gases flux across the water-air interface of the shrimp ponds using a 3-day observation method and by examining the environmental factors responsible. This research was carried out in TIR Karawang shrimp farm area, with the gas samples were taken six times daily every 4 hours and analyzed using the gas chromatography. The results of this study show that in 24 hours, the minimum CO 2 emission (-0.15841±0.19220 mg m-2 minute-1) found at 00.00-02.00 local time, and the maximum (0.22544±0.18361 mg m-2 minute-1) at 12.00-14.00 local time. Conversely, the minimum CH 4 emission (-0.00024±0.00023 mg m-2 minute-1) was at 00.00-02.00 local time and the maximum (0.00023±0.00017 mg m-2 minute-1) at 12.00-14.00 local time. The dominant environmental factor influencing both gases is temperature. The semi-intensive shrimp farm CO 2-e calculated is 0.02707 g C m-2 day-1 , for 2,500 m 2 ponds within a 110-day of culture, with 7.44545 kg C emitted.
Article
Full-text available
Tree biomass plays a key role in sustainable management by providing different aspects of ecosystem. Estimation of above ground biomass by non-destructive means requires the development of allometric equations. Most researchers used DBH (diameter at breast height) and T H (total height) to develop allometric equation for a tree. Very few species-specific allometric equations are currently available for shrubs to estimate of biomass from measured plant attributes. Therefore, we used some of readily measurable variables to develop allometric equations such as girth at collar-height (G CH) and height of girth measuring point (G MH) with total height (T H) for A. rotundifolia, a mangrove species of Sundarbans of Bangladesh, as it is too dwarf to take DBH and too irregular in base to take Girth at a fixed height. Linear, non-linear and logarithmic regression techniques were tried to determine the best regression model to estimate the above-ground biomass of stem, branch and leaf. A total of 186 regression equations were generated from the combination of independent variables. Best fit regression equations were determined by examining co-efficient of determination (R 2), co-efficient of variation (C V), mean-square of the error (M Serror), residual mean error (R sme), and F-value. Multiple linear regression models showed more efficient over other types of regression equation. The performance of regression equations was increased by inclusion of G MH as an independent variable along with total height and G CH .
Article
Full-text available
Mangroves have important ecological and economical roles for the environment, but their existences at Surabaya shores near Suramadu bridge are threatened by various factors i.e., land conversion, pollution and that bridge existence, so that it needs efforts for monitoring the changes at that place. The purposes of this research were to identify the diversity, domination, and zonation of mangrove community in the area of Suramadu bridge at Surabaya. Data’s were taken using belt transect method, by making a line transect perpendicular from shore line. Five transect plots were then made in series with each plot measuring 10 x 10 meters square to the criteria of tree, 5 x 5 meters square to sapling criteria, and 2 x 2 meters for seedlings criteria. In each plot was identified species, stem diameter of each stand of mangroves and the number of individuals of each species of mangrove. The datas were analyzed using Mueller and Dumbois formula to obtain the value of density, dominance, frequency, and importance of the plant. Shannon Weaver index and dominance index by using Simpson’s formula were calculated to obtain an diversity index. The results showed that it was found seven species of mangrove that composed the vegetation and it consisted of four different families of mangroves plant: Avicenniaceae (Avicennia marina and A. alba), Sonneratiaceae (Sonneratia alba), Rhizophoraceae (Rhizophora stylosa, R. apiculata and R. mucronata) and Meliaceae (Xylocarpus molucensis). The highest importance to criteria was existed on Avicennia marina (235,68%). Mangrove diversity in this area was low (1.1) and it was dominated by A. marina. Mangrove zonation from coastline to land in a row respectively are A. marina, S.alba and A. alba. Rhizophora stylosa and Rhizophora mucronata at midzone. Xylocarpus molucensis and Rhizophora apiculata at zone bordering land. The low diversity and distribution pattern was influenced by physical and chemical condition that relatively same in sampling area and tolerated by mangroves for growing and developing.
Article
Full-text available
The article presents new results on the structure and the above-ground biomass of the various population types of mangroves in French Guiana. Nine mangrove stands were studied, each composed of three to ten adjoining plots with areas that varied depending on the density of the populations. Structural parameters and indices were calculated. Individuals representative of the three groups of taxa present were felled:Avicennia germinans (L) Stearn, Rhizophora spp., and Laguncularia racemosa (L) Gaertn. The trunks, branches and leaves were sorted and weighed separately. The biomass was obtained by determining the allometric relationships, the general equation selected being of the type y = a o x a1, where the diameter (x) is the predictive variable. The total above-ground biomass varied from 31 t ha−1 for the pioneer stages to 315 t ha−1 for mature coastal mangroves, but with large variations depending on the structural characteristics at each site. The results place the Guianese mangroves among those with high biomass, although lower than those reported for Asia. Based on the relationships between structural parameters and standing biomass, in particular with the use of the “self-thinning rule”, population dynamics models are proposed.
Article
A quantitative analysis was done for the root system of Xylocarpus granatum with reference to the Pipe model theory of tree form proposed by Shinozaki et al. (1964a, b). For this objective, six root systems of X. granatum were excavated using a water-pump, and the roots were weighed for respective diameter categories. A significant allometric relationship between the squared stem-base diameter and the individual root weight was seen. The coefficient of this relationship was statistically regarded to be 1.0, meaning that the individual root weight is proportional to the squared value of stem-base diameter. We also analyzed the relationship between diameter and number of roots for the six sample trees. The number of roots with a given diameter and length was calculated from the weight and the specific gravity of roots. Significant linear relationships were recognized in this relationship for the six sample trees. For all sample trees, the coefficients of relationships were statistically regarded to be - 2.0. From these analyses based on population and individual level, we conclude that the root system of X. granatum obeys the pipe model. Application of this model is helpful in the estimation of root biomass, since individual root weight can be estimated from a proportional constant and the stem-base diameter of a mangrove tree.
Article
We review 72 published articles to elucidate characteristics of biomass allocation and productivity of mangrove forests and also introduce recent progress on the study of mangrove allometry to solve the site- and species-specific problems. This includes the testing of a common allometric equation, which may be applicable to mangroves worldwide. The biomass of mangrove forests varies with age, dominant species, and locality. In primary mangrove forests, the above-ground biomass tends to be relatively low near the sea and increases inland. On a global scale, mangrove forests in the tropics have much higher above-ground biomass than those in temperate areas. Mangroves often accumulate large amounts of biomass in their roots, and the above-ground biomass to below-ground biomass ratio of mangrove forests is significantly low compared to that of upland forests (ANCOVA, P < 0.01). Several studies have reported on the growth increment of biomass and litter production in mangrove forests. We introduce some recent studies using the so-called “summation method” and investigate the trends in net primary production (NPP). For crown heights below 10 m, the above-ground NPP of mangrove forests is significantly higher (ANOVA, P < 0.01) than in those of tropical upland forests. The above-ground litter production is generally high in mangrove forests. Moreover, in many mangrove forests, the rate of soil respiration is low, possibly because of anaerobic soil conditions. These trends in biomass allocation, NPP, and soil respiration will result in high net ecosystem production, making mangrove forests highly efficient carbon sinks in the tropics.
Assesment of mangroves covers change and biomass in Mide Creek
  • F Alemaheyu
  • O Richard
  • M K James
  • O Wasonga
Alemaheyu F, Richard O, James MK, Wasonga O. 2014. Assesment of mangroves covers change and biomass in Mide Creek, Kenya. Open Journal of Forestry 4:398-413.