ArticlePDF Available

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU SEKSUAL PADA REMAJA YANG BERPACARAN DI KOTA DENPASAR (Factors Related to Sexual Behavior among Teenager Dating in Denpasar City)

Authors:

Abstract and Figures

Semakin dininya usia pacaran pada remaja berdampak pada meningkatkatnya peluang untuk berperilaku seksual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual pada remaja yang berpacaran di Kota Denpasar. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan cross-sectional study. Besar sampel dalam penelitian ini yaitu berjumlah 880 remaja sekolah yang berpacaran dengan metode pengambilan sampel berupa nonprobability sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proporsi remaja yang berperilaku seksual berat yaitu sebayak 22,1%. Faktor yang berhubungan dengan terjadinya perilaku seksual berat pada remaja yang berpacaran yaitu umur >15 tahun (OR=3,0; 95%CI=1,9-4,8; p<0,001), jenis kelamin laki-laki (OR=3,0; 95%CI=2,2-4,2; p<0,001), tingkat pendidikan SMA dibandingkan SMP (OR=3,9; 95%CI =2,4-6,2; p<0,001), tingkat pendidikan SMK dibandingkan SMP (OR=2,4; 95%CI =1,5-3,9; p=0,001), bersekolah di swasta (OR=2,2; 95%CI=1,6-3,1; p<0,001), tidak pernah mengak-ses informasi terkait kesehatan reproduksi (OR=2,0; 95%CI =1,3-3,0; p=0,001), mengakses konten pornografi (OR=4,1; 95%CI=2,8-6,1; p<0,001), pengetahuan yang kurang (OR=1,7; 95%CI=1,2-2,4; p=0,006), dan sikap yang kurang (OR=3,1; 95%CI=2,2-4,5; p<0,001). Terdapat hubungan antara umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status sekolah, akses informasi terkait kesehatan reproduksi, akses konten pornografi, pengetahuan, dan sikap terhadap perilaku seksual pada remaja yang berpacaran. Diperlukan penyampaian informasi yang komprehensif terkait kesehatan reproduksi dan seksual dengan melibatkan partisipasi aktif orang tua dan guru. Kata Kunci: perilaku seksual, remaja yang berpacaran
Content may be subject to copyright.
Abstrak
Abstract
Korespondensi Penulis:
JKMA
75
Arkel Penelian
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN
DENGAN PERILAKU SEKSUAL PADA
REMAJA YANG BERPACARAN
DI KOTA DENPASAR
Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas
diterbitkan oleh:
Program Studi S-1 Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas
p-ISSN 1978-3833
e-ISSN 2442-6725
11(2)75-83
@2017 JKMA
hp://jurnal.m.unand.ac.id/index.php/jkma/
Diterima 12 Mei 2017
Disetujui 15 Juli 2017
Dipublikasikan 1 Agustus 2017
I Gus Ngurah Edi Putra1,2 , Putu Erma Pradnyani1,2 , Ni Nyoman Astri Arni1,2, Ni
Luh Eka Purni As1,2
1Kisara (Kita Sayang Remaja) PKBI Daerah Bali
2Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Udayana
The earlier age for dating among teenagers has an impact to increase the chance of sexual behavior. This study aimed to identify the
factors related to sexual behavior among teenager dating in Denpasar City. This study was observational analytic with cross-sectional
approach. Sample size was 880 students dating with sampling technique using nonprobability sampling. This study showed the propor-
tion of teenager who had risky sexual behavior was 22,1%. Factors related to risky sexual behavior among teenager dating were aged >15
years old (OR=3,0; 95%CI=1,9-4,8; p<0,001), male (OR=3,0; 95%CI=2,2-4,2; p<0,001), education level of senior high school compared
to junior high school (OR=3,9; 95%CI =2,4-6,2; p<0,001), education level of vocational high school compared to junior high school
(OR=2,4; 95%CI =1,5-3,9; p=0,001), private school (OR=2,2; 95%CI=1,6-3,1; p<0,001), never accessed to health reproductive infor-
mation (OR=2,0; 95%CI =1,3-3,0; p=0,001), accessed to pornography content (OR=4,1; 95%CI=2,8-6,1; p<0,001), lack of knowledge
(OR=1,7; 95%CI=1,2-2,4; p=0,006), and lack of attitude (OR=3,1; 95%CI=2,2-4,5; p<0,001). There were relationship between age, sex,
educational level, school status, the access of health reproductive information, the access to pornography content, knowledge, and attitude
toward risky sexual behavior. Giving information comprehensively regarding reproductive and sexual health is essential approach through
involving active participation from parents and teachers.
Kata Kunci: perilaku seksual, remaja yang berpacaran
Semakin dininya usia pacaran pada remaja berdampak pada meningkatkatnya peluang untuk berperilaku seksual. Penelitian ini bertu-
juan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual pada remaja yang berpacaran di Kota Denpasar. Penelitian ini
merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan cross-sectional study. Besar sampel dalam penelitian ini yaitu berjumlah
880 remaja sekolah yang berpacaran dengan metode pengambilan sampel berupa nonprobability sampling. Hasil penelitian ini menun-
jukkan bahwa proporsi remaja yang berperilaku seksual berat yaitu sebayak 22,1%. Faktor yang berhubungan dengan terjadinya perilaku
seksual berat pada remaja yang berpacaran yaitu umur >15 tahun (OR=3,0; 95%CI=1,9-4,8; p<0,001), jenis kelamin laki-laki (OR=3,0;
95%CI=2,2-4,2; p<0,001), tingkat pendidikan SMA dibandingkan SMP (OR=3,9; 95%CI =2,4-6,2; p<0,001), tingkat pendidikan SMK
dibandingkan SMP (OR=2,4; 95%CI =1,5-3,9; p=0,001), bersekolah di swasta (OR=2,2; 95%CI=1,6-3,1; p<0,001), tidak pernah mengak-
ses informasi terkait kesehatan reproduksi (OR=2,0; 95%CI =1,3-3,0; p=0,001), mengakses konten pornografi (OR=4,1; 95%CI=2,8-6,1;
p<0,001), pengetahuan yang kurang (OR=1,7; 95%CI=1,2-2,4; p=0,006), dan sikap yang kurang (OR=3,1; 95%CI=2,2-4,5; p<0,001).
Terdapat hubungan antara umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status sekolah, akses informasi terkait kesehatan reproduksi, akses
konten pornografi, pengetahuan, dan sikap terhadap perilaku seksual pada remaja yang berpacaran. Diperlukan penyampaian informasi
yang komprehensif terkait kesehatan reproduksi dan seksual dengan melibatkan partisipasi aktif orang tua dan guru.
Keywords : sexual behaviour, teenagers dating
FACTORS RELATED TO SEXUAL BEHAVIOR AMONG TEENAGER DATING IN
DENPASAR CITY
Kisara (Kita Sayang Remaja) PKBI Daerah Bali, Jl.Gatot Subroto IV No. 6, Denpasar
Email : ediputra.ign@gmail.com Telepon/HP: (0361) 430200
JKMA
76
Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas |April 2017 - September 2017 | Vol. 11, No. 2, Hal. 75-83
Pendahuluan
Remaja merupakan bagian dari kompo-
sisi umur penduduk yang tersebar di seluruh
dunia. United Nations Population Fund (UNFPA)
memperkirakan bahwa jumlah remaja di seluruh
dunia pada tahun 2014 mencapai 1,8 milyar dan
diperkirakan 90% diantaranya hidup di negara
berkembang.(1) Indonesia sebagai negara berkem-
bang memiliki proporsi populasi remaja sekitar
26,7% dari 237,6 juta jiwa penduduk Indonesia
pada tahun 2010.(2) Tingginya populasi remaja
yang diiringi pesatnya perkembangan akses in-
formasi dan teknologi menyebabkan semakin
meningkatnya permasalahan pada remaja. Salah
satu permasalahan yang cukup memprihatin-
kan pada remaja saat ini yaitu semakin dininya
usia pacaran hingga timbulnya kecenderungan
berperi laku seksual.(3)
Data dari Survei Demografi dan Keseha-
tan Indonesia (SDKI) tahun 2012 menyebutkan
33,3% remaja perempuan dan 34,5% remaja laki–
laki berusia 15 – 19 tahun mulai berpacaran saat
mereka belum berusia 15 tahun.(4) Munculnya
tren penurunan usia remaja untuk mulai berpaca-
ran tentunya memperpanjang masa-masa rawan
sehingga meningkatkan peluang remaja untuk
melakukan hal yang tidak diinginkan yang cende-
rung mengarah pada perilaku seksual. Sarwono
mendefinisikan perilaku seksual sebagai bentuk
perilaku yang disebabkan oleh hasrat (keinginan
seksual) yang dapat terjadi dengan lawan jenis
maupun dengan sesama jenis.(3) Perilaku seksual
dapat dibedakan menjadi dua, yaitu perilaku sek-
sual ringan meliputi berpegangan tangan, berciu-
man pipi dan berciuman bibir dan perilaku sek-
sual berat seperti meraba-raba dada, meraba-raba
alat kelamin hingga hubu ngan seksual yang lebih
intim.(5)
Penelitian yang dilakukan oleh PILAR PKBI
Jawa Tengah tahun 2014 dengan responden rema-
ja dari berbagai SMA di Kota Semarang menun-
jukkan bahwa dalam pacaran perilaku seksual
remaja yang dilakukan yaitu antara lain mencium
bibir (51%), mencium leher (28%), petting (22%),
dan bahkan beberapa diantaranya sudah melaku-
kan hubungan seksual (intercouse) (6,2%).(6) Begitu
pula hasil Riskesdas tahun 2010 mendapatkan
bahwa remaja baik laki-laki maupun perempuan
usia 10-24 tahun sudah menunjukkan kecen-
derungan berperilaku seksual pra-nikah. Umur
saat pertama kali melakukan hubungan seksual
sudah terjadi pada usia yang sangat muda, yaitu
pada usia 8 tahun dengan proporsi pada perem-
puan yaitu 0,5% dan 0,1% pada laki-laki. Seba-
gian besar perempuan melakukan hubungan sek-
sual pada umur 19 tahun (14,3%) dan laki-laki
pada umur 20 tahun (18,4%).(7)
Fenomena perilaku seksual pada remaja
tentunya akan meningkatkan risiko terjangkit
infeksi menular seksual (IMS) termasuk HIV/
AIDS, meningkatkan kasus kehamilan yang tidak
diinginkan (KTD), dan bahkan kecenderungan
untuk melakukan tindakan aborsi. Data yang di-
ungkapkan oleh PKBI Daerah Bali bahwa pada
tahun 2015 dari 1162 kasus IMS di Provinsi Bali,
sebanyak 7,7 % berasal dari kelompok umur 15-
19 tahun.(8) Selain itu, situasi terkait kesehatan
seksual dan reproduksi remaja di Kota Denpasar
sebagai daerah perkotaan di Provinsi Bali juga
cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan data
yang dihimpun dari KPA Provinsi Bali hingga
akhir Mei 2015, jumlah temuan kasus HIV/AIDS
mencapai 11.856 kasus, dan terbanyak ditemukan
di kota Denpasar yakni sebesar 39,2%, sedangkan
dari total kasus yang ditemukan, sebanyak 2% be-
rasal dari kelompok umur 15-19 tahun dan 38,1%
pada kelompok umur 20-29 tahun.(9)
Perilaku seksual yang dilakukan remaja
tentunya terjadi akibat berbagai faktor. Menurut
Notoatmodjo, ada beberapa faktor yang mempe-
ngaruhi perilaku seseorang yaitu faktor internal
dan faktor eksternal. Faktor internal terdiri dari
karakteristik orang yang bersangkutan, tingkat ke-
cerdasan, tingkat emosional, dan jenis kelamin.
Faktor eksternal terdiri dari lingkungan, baik
lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan
politik.(10) Hasil penelitian yang dilakukan oleh
Lisnawati dan Lestari menunjukkan bahwa faktor
internal seperti jenis kelamin dan pengetahuan
berhubungan signifikan dengan perilaku seksu-
al pranikah.(5) Penelitian tersebut juga didukung
oleh penelitian Kusumastuti yang menunjukkan
bahwa adanya akses informasi akan turut mem-
bentuk pengetahuan remaja tentang seks pra-
77
Putra, Pradnyani, Arni, As | Perilaku Seksual Pada Remaja Yang Berpacaran
nikah yang akan mendorong keputusan untuk
berperilaku seksual.(11) Hasil penelitian tersebut
menyimpulkan bahwa pengetahuan yang baik
terkait seks pranikah akan menyebabkan remaja
memiliki sikap yang baik dan mendorong terwu-
judnya perilaku yang positif (perilaku mencegah
seks pranikah).
Kota Denpasar sebagai Ibu Kota Provinsi
Bali tentunya tidak luput dari permasalahan per-
ilaku seksual remaja. Hal ini mengingat pula Kota
Denpasar sebagai wilayah perkotaan yang iden-
tik dengan kemudahan akses informasi dan per-
gaulan remaja yang cenderung bebas yang dapat
memicu terjadinya perilaku seksual terutama
pada remaja yang berstatus pacaran. Maka dari
itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
faktor yang berhubungan dengan perilaku seksu-
al pada remaja yang berpacaran di Kota Denpasar
yang dapat diwakili oleh remaja SMP dan SMA/
SMK sebagai kelompok umur remaja.
Metode
Penelitian ini merupakan penelitian obser-
vasional analitik dengan rancangan cross- sectional
study. Penelitian ini merupakan bagian dari pe-
nelitian Kisara (Kita Sayang Remaja) PKBI Dae-
rah Bali yang berjudul Gambaran Pengetahuan,
Sikap, dan Perilaku tentang Kesehatan Repro-
duksi dan Seksual pada Remaja di Kota Denpasar
yang dilaksanakan selama bulan Juli sampai Sep-
tember 2016 di 24 sekolah (SMP, SMA, dan SMK)
dengan responden sebanyak 1.200 siswa. Populasi
target dalam penelitian ini yaitu adalah seluruh
remaja yang berpacaran, sedangkan populasi ter-
jangkau yaitu seluruh remaja yang berpacaran di
Kota Denpasar dalam kurun waktu dilaksanakan-
nya penelitian. Sampel penelitian ini kemudian
dipilih secara nonprobability sampling dari 1.200
siswa dengan mengecek kelengkapan data dan
mengeluarkan data yang tidak lengkap (missing)
sehingga diperoleh besar sampel yaitu 880 remaja
yang berstatus pacaran.
Variabel tergantung dalam penelitian ini
yaitu perilaku seksual yang dibedakan menjadi
perilaku seksual ringan meliputi berpegangan
tangan, berciuman pipi dan berciuman bibir dan
perilaku seksual berat seperti meraba-raba dada,
meraba-raba alat kelamin hingga hubungan seksu-
al yang lebih intim.(5) Variabel bebas dalam pene-
litian ini yaitu karakteristik (umur, jenis kelamin,
pendidikan, status sekolah), akses informasi kese-
hatan reproduksi, akses terhadap konten por-
nografi, pengetahuan terkait kesehatan reproduk-
si, dan sikap terkait perilaku seksual. Analisis data
dalam penelitian ini dilakukan secara univa riat
dan bivariat. Analisis bivariat bertujuan untuk
menggambarkan distribusi frekuensi variabel be-
bas maupun variabel tergantung dengan menyer-
takan nilai absolut dan persentase untuk variabel
kategorikal, serta nilai rata-rata (mean) dan stan-
dar deviasi (SD) untuk variabel numerik. Analisis
bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan
antara tiap variabel bebas dengan variabel ter-
gantung dengan menggunakan analisis statistik
berupa regresi logistik sederhana (simple logistic
regression) karena dapat digunakan untuk ana-
lisis variabel bebas lebih dari dua kategori. Hasil
analisis bivariat disajikan dengan tabulasi silang
de ngan menyertakan ukuran asosiasi berupa odd
ratio (OR) serta 95% confident interval (CI) dan
p-value untuk mengetahui tingkat signifikansi.
Hasil
Sampel dalam penelitian ini yaitu berjum-
lah 880 remaja yang berpacaran yang terdiri dari
siswa SMP, SMA dan SMK. Berdasarkan tabel 1,
maka dapat dilihat sebagian besar remaja yang
telah berpacaran berumur >15 tahun (75,8%)
dan sebagian besar berjenis kelamin perempuan
(61,0%). Berdasarkan tingkat pendidikan yang
sedang ditempuh menunjukkan bahwa 26,2%
res ponden merupakan pelajar SMP, 36,5% meru-
pakan pelajar SMA, dan 37,3% merupakan pela-
jar SMK. Proporsi remaja yang berpacaran dalam
penelitian ini seimbang antara remaja yang berse-
ko lah d i nege ri dan remaja yang bersekolah di swast a.
Variabel akses terhadap infomasi kesehatan
reproduksi menunjukkan bahwa sebagian besar
remaja telah mengakses informasi kesehatan re-
produksi dari berbagai sumber (86,8%). Selain
itu, lebih dari sebagian remaja pernah mengakses
konten pornografi (59,0%). Dilihat dari pengeta-
huan remaja terkait kesehatan reproduksi, maka
hanya sebagai kecil remaja yang memilki pengeta-
78
Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas |April 2017 - September 2017 | Vol. 11, No. 2, Hal. 75-83
huan yang baik (31,2%) dan terkait sikap terhadap
perilaku seksual, kurang dari sebagian remaja
yang telah memiliki sikap yang baik (41,0%).
Gambar 1 menunjukkan bahwa bentuk
perilaku seksual yang dilakukan oleh remaja yang
berpacaran meliputi 88,1% remaja pernah ber-
gandengan tangan, 68,0% pernah berpelukan,
58,3% pernah berciuman pipi, 35,6% pernah
berciuman bibir, 20,9% pernah meraba badan,
17,6% pernah meraba kelamin, 14,3% pernah
melakukan petting, 9,8% pernah melakukan
oral seks, 6,5% pernah melakukan vaginal seks,
dan 2,6% pernah melakukan anal seks. Perilaku
sek sual remaja tersebut kemudian dikategorikan
menjadi perilaku seksual ringan meliputi ber-
pegangan tangan, berciuman pipi dan berciuman
bibir dan perilaku seksual berat seperti meraba-ra-
ba dada, meraba-raba alat kelamin hingga hubu-
ngan sek sual yang lebih intim.(5) Berdasarkan
pengkategorian tersebut, maka didapatkan bah-
wa 77,9% remaja berperilaku seksual ringan dan
22,1% remaja berperilaku seksual berat.
Analisis bivariat pada tabel 2 menunjukkan
bahwa berdasarkan karakteristik, umur remaja
>15 tahun meningkatkan peluang untuk berpe-
rilaku seksual berat 3,0 kali dibandingkan dengan
remaja yang berumur ≤15 tahun dan hubungan
tersebut bermakna secara statistik (95%CI=1,9-
4,8; p<0,001). Begitu pula, jenis kelamin laki-laki
meningkatkan peluang untuk berperilaku seksual
berat 3,0 kali dibandingkan dengan jenis kelamin
perempuan dan hubungan tersebut bermakna se-
cara statistik (95%CI=2,2-4,2; p<0,001). Variabel
tingkat pendidikan juga menjukkan hubungan
yang bermakna dengan terjadinya perilaku sek-
sual. Remaja SMA meningkatkan peluang untuk
melakukan perilaku seksual berat 3,9 kali diban-
dingkan remaja SMP (95%CI=2,4-6,2; p<0,001)
dan begitu pula remaja SMK meningkatkan pe-
luang untuk melakukan perilaku seksual berat 2,4
kali dibandingkan remaja SMP (95%CI OR=1,5-
3,9; p=0,001). Selain itu, remaja yag berasal dari
Variabel Frekuensi
(n=880)
Persen-
tase (%)
Umur
(Min; Max) (11,8;19,6)
(Mean; SD) (16,2;1,4)
≤ 15 tahun 213 24,2
> 15 tahun 667 75,8
Jenis Kelamin
Perempuan 537 61 , 0
Laki-laki 343 39,0
Pendidikan
SMP 231 26,2
SMA 321 36,5
SMK 328 37,3
Status Sekolah
Negeri 440 50,0
Swasta 440 50,0
Akses Informasi
Ya 764 86,8
Tidak 116 13,2
Akses Pornografi
Tidak Pernah 361 41, 0
Pernah 519 59,0
Pengetahuan
Baik 275 31,2
Kurang 605 68,8
Sikap
Baik 360 41, 0
Kurang 520 59,0
Perilaku Seksual
Ringan 686 77,9
Berat 194 22,1
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Faktor yang Berhubungan
dengan Perilaku Seksual pada Remaja yang Ber-
pacaran di Kota Denpasar
Gambar 1. Perilaku Seksual pada Remaja yang Berpaca-
ran di Kota Denpasar
2,61%
6,47%
9,77%
14,32%
17,61%
20,91%
35,57%
58,30%
67,95%
88,07%
Gandeng Tangan
Berpelukan
Cium Pipi
Cium Bibir
Merab a Badan
Merab a Kelamin
Petti ng
Oral S eks
Vaginal Se ks
Anal Se ks
79
Putra, Pradnyani, Arni, As | Perilaku Seksual Pada Remaja Yang Berpacaran
sekolah swasta cenderung meningkatkan peluang
untuk melakukan perilaku seksual berat 2,2 kali
dibandingkan remaja yang berasal dari sekolah
negeri dan hubungan tersebut bermakna secara
statistik (95%CI=1,6-3,1; p<0,001).
Analisis bivariat terhadap variabel akses
informasi menunjukkan bahwa remaja yang ti-
dak pernah memperoleh informasi terkait kese-
hatan reproduksi meningkatkan peluang untuk
berpe rilaku seksual berat 2,0 kali dibandingkan
remaja yang pernah memperoleh informasi terse-
but (95%CI=1,3-3,0; p=0,001). Hasil penelitian
ini juga mendapatkan bahwa mengakses kon ten
pornografi merupakan salah satu faktor yang
memicu remaja untuk berperilaku seksual sebesar
4,1 kali dibandingkan remaja yang tidak pernah
mengakses konten pornografi (95%CI=2,8-6,1;
p<0,001). Berkaitan dengan pengetahuan remaja
terkait kese hatan reproduksi, maka remaja yang
berpenge tahuan kurang cenderung memiliki pe-
luang 1,7 kali untuk berperilaku seksual berat
(95%CI=1,2-2,4; p=0,006). Begitu pula, hal terse-
Variabel
Perilaku Seksual
OR 95% CI pRingan Berat
n % n %
Umur
≤ 15 tahun 191 89,7 22 10,3 ref 1,9-4,8 <0,001
> 15 tahun 495 74,2 172 25,8 3,0
Jenis Kelamin
Perempuan 459 85,5 78 14,5 ref
Laki-laki 227 66,2 116 33,8 3,0 2,2-4,2 <0,001
Pendidikan
SMP 207 89,6 24 10,4 ref
SMA 222 69,2 99 30,8 3,9 2,4-6,2 <0,001
SMK 257 78,4 71 21,6 2,4 1,5-3,9 0,001
Status Sekolah
Negeri 372 84,6 68 15,4 ref
Swasta 314 71,4 126 28,6 2,2 1,6-3,1 <0,001
Akses Informasi
Ya 609 79,7 155 20,3 ref
Tidak 77 66,4 39 33,6 2,0 1,3-3,0 0,001
Akses Pornografi
Tidak Pernah 326 90,3 35 9,7 ref
Pernah 360 69,4 159 30,6 4,1 2,8-6,1 <0,001
Pengetahuan
Baik 230 83,6 45 16,4 ref
Kurang 456 75,7 149 24,3 1,7 1,2-2,4 0,006
Sikap
Baik 318 88,3 42 11,7 ref
Kurang 368 70,8 152 29,2 3,1 2,2-4,5 <0,001
Tabel 2. Analisis Bivariat Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Seksual pada Remaja yang Berpacaran di Kota
Denpasar
80
Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas |April 2017 - September 2017 | Vol. 11, No. 2, Hal. 75-83
but sejalan dengan sikap yang kurang meningkat-
kan peluang untuk berperilaku seksual sebesar
3,1 kali (95%CI=2,2-4,5; p<0,001).
Pembahasan
Dewasa ini, perilaku pacaran merupakan
hal yang telah dianggap wajar untuk dilakukan
oleh sebagian besar remaja. Hal ini tentu bertolak
belakang dengan zaman dulu yang masih meng-
ganggap pacaran sebagai sesuatu yang tabu. Per-
bedaan yang paling mencolok dengan gaya paca-
ran remaja saat ini yaitu cenderung remaja bersifat
permisif untuk melakukan apapun sebagai wujud
keseriusan pada pasangannya. Semua perilaku
tersebut akan dapat mempengaruhi remaja un-
tuk melakukan perilaku seksual yang lebih jauh.
(12) Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian
ini dimana 22,1% remaja yang berpacaran sudah
melakukan perilaku seksual yang tergolong berat.
Dalam penelitian ini, variabel umur dan
tingkat pendidikan berhubungan dengan peri laku
seksual pada remaja. Hasil penelitian ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Mushofa
yang mendapatkan semakin bertambahnya umur
pada remaja akan memperpanjang masa-masa
rawan sehingga meningkatkan pe luang untuk
berperilaku seksual pranikah.(13) Hal ini tentunya
tidak terlepas dari peranan sistem bio logis dalam
tubuh yang mendorong aktifnya kinerja hormon
seksual seiring bertambahnya umur pada remaja.
Hormon tersebut akan memberikan dorongan
seksual dalam diri remaja sehingga berupaya un-
tuk mewujudkan dorongan tersebut dalam ben-
tuk perilaku seksual.(14) Selain itu, dengan sema-
kin bertambahnya umur pada remaja tentunya
akan diiringi oleh meningkatnya tahapan dalam
siklus pendidikan formal yang ditempuh rema-
ja dari SMP hingga ke jenjang yang lebih tinggi
seper ti SMA atau SMK sehingga variabel umur
dan tingkat pendidikan memiliki korelasi yang
positif. Maka dari itu, proporsi remaja SMA dan
SMK yang melakukan perilaku seksual berat lebih
banyak dibandingkan dengan remaja SMP karena
hormon seksual yang cenderung meningkat pada
usia remaja SMA dan SMK sehingga seringkali
merasa bahwa sudah saatnya berperilaku seksual
karena sudah merasa matang secara fisik.
Jenis kelamin merupakan salah faktor yang
berhubungan dengan perilaku seksual pada rema-
ja yang berpacaran. Hasil yang sama didapatkan
oleh Lisnawati dan Lestari yang menujukkan
bahwa ada hubungan antara jenis kelamin de-
ngan perilaku seksual remaja (p=<0,001). Hal ini
terjadi akibat norma yang berlaku di masyarakat
lebih longgar pada laki- laki dibandingkan pada
perempuan. Seorang perempuan diharapkan
dapat menjaga keperawanannya, tetapi tidak per-
nah membahas masalah keperjakaan pada laki-la-
ki sebelum menikah.(5) Norma yang berlaku di
masyarakat tersebut mendorong para orang tua
untuk lebih protektif pada remaja perempuan
dibandingkan remaja laki-laki.(14) Selain itu, hasil
penelitian Fisher et.al. mendapatkan bahwa sexual
cognitions pada laki-laki lebih besar dibandingkan
perempuan sehingga remaja laki-laki cenderung
memikirkan lebih banyak tentang hal-hal seksu-
al dibandingkan perempuan.(15) Oleh karena itu,
dapat dipahami bahwa jenis kelamin laki-laki le-
bih berpeluang meningkatkan perilaku seksual
berat dibandingkan jenis kelamin perempuan.
Hasil penelitian ini juga mendapatkan bah-
wa status sekolah berhubungan dengan perilaku
seksual pada remaja. Remaja yang menempuh
pendidikan di sekolah swasta cenderung mening-
katkan peluang untuk berperilaku seksual berat
dibandingkan dengan remaja yang menempuh
pendidikan di sekolah negeri. Hasil yang bertolak
belakang diperoleh oleh penelitian yang dilaku-
kan oleh Fathiya yang mendapatkan bahwa tidak
ada perbedaan perilaku seksual pada remaja SMA
baik pada sekolah negeri maupun swasta di Kabu-
paten Tegal.(16) Kondisi berbeda yang didapatkan
pada hasil penelitian ini dapat disebabkan karena
perbedaan konteks daerah serta perbedaan kultur
atau budaya adaptif yang berlaku pada sekolah
negeri dan swasta.(17) Perbedaan budaya yang ada
secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap
proses siswa dalam merespon hal-hal yang ber-
hubungan dengan reproduksi dan seksual. Hasil
penelitian ini yang mendapatkan bahwa sekolah
negeri memiliki perilaku seksual yang lebih baik
sejalan dengan penelitian Puspitasari yang dilaku-
kan pada siswa SMA negeri dan swasta di Kabupa-
ten Sukoharjo. Hasil penelitian tersebut menyim-
81
Putra, Pradnyani, Arni, As | Perilaku Seksual Pada Remaja Yang Berpacaran
pulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan
antara siswa SMA negeri dan swasta yaitu siswa
SMA negeri cenderung memiliki pengetahuan
yang lebih tinggi (p=0,033) dan perilaku seksual
yang lebih baik (p=0,001).(18)
Penelitian ini mendapatkan bahwa akses
informasi terhadap kesehatan reproduksi, penge-
tahuan, serta sikap berhubungan dengan perilaku
seksual pada remaja yang berpacaran. Paparan
remaja terhadap informasi terkait kesehatan re-
produksi dan seksual dari sumber yang tepat akan
berpengaruh terhadap pembentukan pengeta-
huan dan sikap yang baik sehingga dapat mence-
gah remaja untuk berperilaku seksual pranikah.
(11,19) Terbentuknya perilaku yang didasari oleh
pengetahuan dan sikap umumnya lebih langgeng
dibandingkan perilaku yang tidak didasari oleh
pengetahuan dan sikap.(14) Rendahnya pengeta-
huan terkait kesehatan reproduksi dan seksual
pada remaja dapat disebabkan karena terbatasnya
akses informasi yang diperoleh oleh remaja. Hal
tersebut memunculkan rasa ingin tahu remaja un-
tuk memperoleh informasi dari berbagai sumber
yang belum tentu benar dan tepat. Tidak kom-
prehensifnya informasi yang diperoleh remaja
akan rentan menimbulkan pengetahuan yang
setengah-setengah dan menimbulkan persepsi
yang keliru dan juga sikap yang kurang baik. Hal
tersebut akan menggiring remaja untuk mencoba
segala sesuatu sebagai jalan untuk menjawab rasa
keingintahuannya.
Rasa keingintahuan remaja dengan me-
ngakses konten pornografi tidak hanya mem-
bentuk pengetahuan terhadap ponografi, tetapi
juga sampai pada aspek afektif dan kecenderung
berperi laku.(13) Membaca dan melihat konten
pornografi hanya akan membentuk fantasi yang
merang sang dan memicu rasa keingintahuan
remaja untuk meniru dan mempraktikkannya.
Konten pornografi dapat mempengaruhi remaja
untuk melakukan suatu bentuk perilaku sehing-
ga baik secara sadar maupun tidak sadar akan
mempe ngaruhi sikap dan perilaku remaja se-
hari-hari teru tama dalam hal seksualitas. Sayang-
nya, konten pornografi hanya menunjukkan sisi
fantasi yang menyenangkan saja sehingga mem-
buat banyak remaja melupakan dampak buruk
yang mungkin terjadi akibat perilaku seksual yang
dilakukan. Paparan secara terus-menerus tersebut
akan memberikan dorongan yang semakin kuat
pada remaja untuk berperilaku seksual.(14)
Fenomena perilaku seksual pada remaja
dapat dijelaskan melalui teori Lawrence Green
bahwa timbulnya perilaku sangat dipengaruhi
oleh faktor predisposisi (predisposing factors) disam-
ping juga perlunya dukungan dari faktor pemung-
kin (enabling factors) dan faktor penguat (reinforcing
factors).(10) Faktor predisposisi merupakan faktor
yang memiliki peranan penting seperti pengeta-
huan dan sikap yang berpengaruh terhadap ter-
bentuknya perilaku seksual. Berkaitan dengan hal
tersebut, maka suatu kebutuhan prioritas untuk
memberikan pendidikan kesehatan reproduksi
dan seksual yang komprehensif untuk mence-
gah remaja memiliki pengetahuan yang sete-
ngah-setengah dan memperbaiki persepsi yang
selama ini keliru. Pemberian informasi ini juga
harus mempertimbangkan beberapa karakteris-
tik demografi yang dalam penelitian ini memiliki
hubungan yang signifikan dengan perilaku sek-
sual pada remaja.
Pemberian informasi perlu dilakukan sema-
kin dini pada remaja mengingat semakin bertam-
bahnya umur, dorongan seksual akan semakin
meningkat.(13) Paparan informasi yang lebih dini
akan menjadi bekal remaja dalam menyaring tam-
bahan informasi dari sumber lain yang mungkin
akan mereka terima seiring bertambahnya umur
dan semakin meningkatnya pendidikan formal
yang ditempuh. Selain itu, pemberian informasi
ini juga perlu dilakukan lebih intensif pada rema-
ja laki-laki mengingat laki-laki memiliki sexual
cognitions yang lebih besar sehingga mengalami
dorongan seksual yang lebih kuat. Mengingat
proporsi remaja yang menempuh pendidikan di
sekolah swasta lebih banyak yang berperilaku sek-
sual berat, maka frekuensi pemberian informasi
kesehatan reproduksi dan seksual dapat dilaku-
kan lebih intensif di sekolah swasta yang pembe-
riannya dapat diselaraskan dengan mata pelajaran
di sekolah.
Upaya tersebut tentunya memerlukan keter-
libatan beberapa tokoh penting seperti orang
tua dan guru di sekolah yang merupakan faktor
82
Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas |April 2017 - September 2017 | Vol. 11, No. 2, Hal. 75-83
pemungkin dan penguat terhadap perilaku sek-
sual remaja. Sebagai orang yang berpengalaman,
orang tua dan guru tersebut berperan menjem-
batani kebutuhan remaja untuk mengakses infor-
masi kesehatan reproduksi dan seksual. Guru di
sekolah dapat memberikan pemahaman secara
ilmiah terkait dampak perilaku seksual terhadap
remaja yang dapat dilakukan dengan menyelipkan
materi kesehatan reproduksi ketika jam pelajaran
ataupun dengan menambahkan mata pelajaran
kesehatan reproduksi dalam kurikulum sekolah.
(16) Peran orang tua dapat diwujudkan dengan
meningkatkan fungsi kontrol dan meningkat-
kan pesan pada remaja untuk mencegah perilaku
seksual pranikah dan beberapa peri laku berisiko
seperti penggunaan alkohol, napza, dan perilaku
lainnya. Mengingat sikap memiliki peranan cukup
dominan terhadap perilaku sek sual remaja, maka
pemberian informasi tidak hanya sebatas kom-
ponen pengetahuan saja, melainkan mencangkup
komponen nilai-nilai dan sikap yang harus dimili-
ki remaja karena sikap merupakan pijakan remaja
untuk berperilaku.(13)
Kesimpulan
Proporsi perilaku seksual berat pada rema-
ja yang berpacaran yaitu sebesar 22,1%. Terdapat
hubungan antara umur, jenis kelamin, tingkat
pendidikan, status sekolah, akses informasi terkait
kesehatan reproduksi, akses konten pornografi,
pengetahuan, dan sikap terhadap perilaku sek sual
pada remaja yang berpacaran.
Penyampaian informasi terkait keseha-
tan reproduksi dan seksual secara komprehen-
sif diperlukan sebagai faktor predisposisi untuk
mencegah terjadinya perilaku seksual remaja. Pe-
nyampaian informasi ini tidak hanya mencangk-
up aspek penge tahuan saja, tetapi juga komponen
nilai- nilai dan sikap yang harus dimiliki remaja.
Pelibatan aktif guru dan orang tua merupakan fak-
tor pemungkin dan penguat yang berperan pen-
ting dalam menjembatani akses remaja terhadap
informasi, nilai-nilai, serta sikap yang dapat ber-
pengaruh terhadap perilaku seksual remaja.
Ucapan Terima Kasih
Ucapan terima kasih peneliti sampaikan ke-
pada Kisara (Kita Sayang Remaja) PKBI Daerah
Bali yang telah memberikan kesempatan peneli-
ti untuk melakukan penelitian ini serta berbagai
pihak yang telah membantu peneliti dari tahap
pengumpulan data hingga diseminasi hasil pene-
litian ini.
Daftar Pustaka
1. United Nations Population Fund (UNPFA).
The Power of 1,8 Billion Adolescent, Youth and
Transformation of The Future. UNPFA. 2014.
2. Badan Kependudukan dan Keluarga Beren-
cana Nasional (BKKBN). Kajian Profil Pen-
duduk Remaja (10-24 Tahun): Ada Apa dengan
Remaja?. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengem-
bangan Kependudukan-BKKBN. 2013.
3. Sarwono, S.W. Psikologi Remaja (Edisi Revisi).
Tanggerang: RajaGrafindo Persada. 2012.
4. Kementrian Kesehatan RI. Survei Demografi
dan Kesehatan Indonesia 2012. Jakarta: Kemen-
trian Kesehatan RI. 2013.
5. Lisnawati, Lestari, N.S. Faktor-Faktor Yang
Berhubungan dengan Perilaku Seksual Remaja di
Cirebon. Jurnal CARE. 2015; 3(1):1-8.
6. Alfiani, D.A. Perilaku Seksual Remaja dan Fak-
tor Determinannya di SMA Se-Kota Semarang.
Skripsi. Semarang: Jurusan Bimbingan dan
Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Univer-
sitas Negeri Semarang 2013.
7. Kementerian Kesehatan RI. Riset Kesehatan
Dasar 2013. Jakarta: Kementrian Kesehatan
RI 2014.
8. Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia
(PKBI) Daerah Bali. Data Kasus IMS di Provin-
si Bali Tahun 2015. Denpasar: PKBI Daerah
Bali 2016.
9. KPA Kota Denpasar. Situasi Kasus HIV/AIDS
di Propinsi Bali Menurut Kelompok Resiko dan Je-
nis Kelamin Kumulatif dari Tahun 1987 s.d. Mei
2015; [Diakses 24 Maret 2016]. Available at:
http://bursakerja.denpasarkota.go.id/kpa/
data-hivaids.php
10. Notoatmodjo, S. Promosi Kesehatan dan Ilmu
Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta. 2007.
11. Kusumastuti, S. Pengaruh Faktor Personal dan
83
Putra, Pradnyani, Arni, As | Perilaku Seksual Pada Remaja Yang Berpacaran
Lingkungan Terhadap Perilaku Seksual pada
Remaja. Tesis. Surakarta: Program Pascasarja-
na, Universitas Sebelas Maret 2015.
12. Evi, Sudirman, N., Suriah. Perilaku Seksual
pada Remaja yang Berpacaran di SMA Negeri
2 Kairatu Kabupaten Seram Bagian Barat. Jur-
nal Media Kesehatan Masyarakat Indonesia.
2013; 9(4): 250-256.
13. Mushofa, S.B., Winarti, P. Faktor yang Mem-
pengaruhi Perilaku Seks Pranikah Mahasiswa di
Pekalongan Tahun 2009-2010. Jurnal Keseha-
tan Reproduksi. 2010; 1(1): 33-41.
14. Mahmudah, Yaunin, Y., Lestari, Y. Faktor-Fak-
tor yang Berhubungan dengan Perilaku Seksual
Remaja di Kota Padang. Jurnal Kesehatan An-
dalas. 2016; 5(2): 448-454.
15. Fisher, T.D., Moore, Z.T., Pittenger, M.J. Sex
on The Brain?: An Examination of Frequency of
Sexual Cognitions as A Function of Gender, Ero-
tophilia, and Social Desirability. The Journal of
Sex Research. 2012; 49(1):69-77.
16. Fathiya, N. Perbedaan Pengetahuan, Sikap dan
Perilaku Seksual pada Siswa SMA Negeri dan
Swasta di Kabupaten Tegal Tahun 2009. Skrip-
si. Semarang: Universitas Negeri Semarang.
2009.
17. Sari, N. Perbedaan Pengetahuan Kesehatan Re-
produksi, Sikap Seksualitas, dan Perilaku Pacaran
pada Pelajar SLTA Dampingan PKBI Jateng dan
Pada Pelajar SLTA Kontrol di Kota Semarang.
Skripsi. Surakarta: Universitas Muhammadi-
yah Surakarta. 2015.
18. Puspitasari, D.A. Perbedaan Perilaku Pencarian
Informasi, Pengetahuan Kesehatan Reproduksi
dan Perilaku Seksual Remaja Sekolah Lanjutan
Tingkat Atas (SLTA) Negeri dan Swasta di Kabu-
paten Sukoharjo. Skripsi. Surakarta: Universi-
tas Muhammadiyah Surakarta. 2010.
19. Pawestri, Wardani, R. S., Sonna. Pengetahuan,
Sikap, dan Perilaku Remaja Tentang Seks Pra-
nikah. Jurnal Keperawatan Maternitas. 2013;
1(1): 46-54.
... Lisnawati dan Lestari (2015) menemukan pada siswa SMK di Cirebon bahwa perilaku seksual yang sudah dilakukan adalah: berpegangan tangan (88,7%), berciuman pipi (51,2%), berciuman bibir (43,9%), meraba-raba dada (23,8%), meraba-raba alat kelamin (14,2%), melakukan oral seks (7,1%), dan melakukan hubungan seksual (4,1%). Begitu juga di kota Denpasar, dimana dari 880 remaja berpacaran ditemukan 88,1% pernah bergandengan tangan, 68,0% pernah berpelukan, 58,3% pernah berciuman pipi, 35,6% pernah berciuman bibir, 20,9% pernah meraba badan, 17,6% pernah meraba kelamin, 14,3% pernah melakukan petting, 9,8% pernah melakukan oral seks, 6,5% pernah melakukan vaginal seks, dan 2,6% pernah melakukan anal seks (Putra et al., 2017). Pratama dan Notobroto (2017) menemukan di Surabaya pada siswa SMK berusia 16-18 tahun bahwa 47,2% responden melakukan perilaku seksual berisiko rendah (berpegangan tangan, berpelukan, mencium pipi, mencium kening), 25,8% berperilaku seksual berisiko sedang (mencium leher, mencium bibir), serta 27% berperilaku seksual tinggi (meraba/merangsang bagian tubuh yang sensitif, saling menempelkan alat kelamin/petting, berhubungan kelamin). ...
... Studies of group differences dilakukan dengan membandingkan skor skala dari dua kelompok remaja yang diharapkan memiliki perilaku seksual pranikah yang berbeda. Kelompok yang dibandingkan adalah laki-laki dan perempuan, sesuai dengan hasil penelitian-penelitian sebelumnya bahwa laki-laki cenderung lebih banyak melakukan perilaku seksual dibandingkan perempuan (Häfner & Epstude, 2017;Putra et al., 2017). Apabila skor total remaja laki-laki pada skala perilaku seksual pranikah lebih tinggi secara signifikan dibandingkan remaja perempuan, maka skala ini dapat dikatakan valid. ...
... Tabel 4 menunjukkan skor total skala perilaku seksual pranikah remaja laki-laki (M=6,084, SD=2,990) lebih tinggi secara signifikan dibandingkan remaja perempuan (M=5,686,SD=2,747),t(655) = 1,764,p<0,. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian Häfner dan Epstude (2017) serta Putra et al., 2017), dimana perilaku seksual remaja laki-laki lebih tinggi. ...
Preprint
Adolescent's premarital sexual behaviors widely discussed nowadays. Their sexual behaviors with their girlfriend/boyfriend start from kissing, light making out, heavy making out, until intercourse. Objective of this study is to develop a scale to measure adolescent's premarital sexual behaviors using Guttman scale based on an order of behaviors in the degree of intimacy with their girlfriend/boyfriend. This scale of adolescent's premarital sexual behavior consists of 11 statements that describe level of premarital sexual behavior, i.e.: touching (3 statements), kissing (3 statements), petting (4 statements), and intercourse (1 statement). Participants are 657 adolescents (358 boys, 299 girls) aged 15 to 24 years old (M=19,09, SD=3,001) live in around Tangerang and Jakarta, work as students and employees, had or in a dating relationship with an opposite sex, and at least done one of sexual behaviors with their girlfriend/boyfriend. Scalogram analysis found that CR = .946 and CS = .756, which shows that the scale has good reproducibility. In other words, adolescent's premarital sexual behaviors adolescent's premarital sexual behavior has an order in the degree of intimacy, starts from touching, kissing, petting, and intercourse. The validity of the scale is evidenced by the total score of teenage boys who is significantly higher than for girls, t(655) = 1.764, p < .039. This study concludes that the scale of adolescent premarital sexual behavior is reliable and valid, so it can be used by other researches. Abstrak Perilaku seksual pada remaja marak dibahas akhir-akhir ini. Perilaku seksual yang dilakukan oleh remaja saat berpacaran dengan lawan jenis dimulai dari berciuman, bercumbu ringan, bercumbu berat, dan kemudian hubungan intim. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan sebuah alat ukur seksual pranikah remaja menggunakan skala Guttman yang didasari adanya urutan perilaku dalam derajat keintiman dengan pacar. Skala perilaku seksual pranikah remaja terdiri 11 pernyataan yang menggambarkan tahapan perilaku seksual pranikah, yaitu touching (3 pernyataan), kissing (3 pernyataan), petting (4 pernyataan), dan intercourse (1 pernyataan). Penelitian ini melibatkan 657 remaja (358 laki-laki, 299 perempuan) berusia 15 hingga 24 tahun (M=19,09, SD=3,001) berdomilisi di sekitar Tangerang dan Jakarta, berprofesi sebagai pelajar dan pekerja, pernah atau sedang terlibat dalam hubungan berpacaran dengan lawan jenis dan minimal telah melakukan satu perilaku seksual pranikah bersama pacar. Hasil analisis skalogram diperoleh nilai CR = 0,946 dan CS = 0,756, yang menunjukkan bahwa skala memiliki reproduksibilitas yang baik. Dengan kata lain, perilaku seksual pranikah remaja memiliki urutan dalam derajat keintiman, mulai dari touching, kissing, petting, dan intercourse. Selain itu, validitas skala dibuktikan dengan skor total remaja laki-laki yang lebih tinggi secara signifikan dibandingkan remaja perempuan, t (655) = 1,764, p < 0,039. Penelitian ini menyimpulkan bahwa skala perilaku seksual pranikah remaja reliabel dan valid, sehingga dapat digunakan oleh penelitian selanjutnya.
... 5 Globally, AIDS is the second leading cause of death in adolescents aged 10-19 years. The number of AIDSrelated deaths among [15][16][17][18][19] year olds has more than doubled since 2000. In 2015, there were 29 new infections found every hour in average between this age group worldwide. ...
... Putra stated that men are three times more likely to engage in sexual behavior compared to women. 17 Fisher's study results, in Putra found that male adolescents tended to think more about sexual matters than females. 17 According to Mahmudah, men have a greater likelihood of engaging in risky sexual behavior than women. ...
... 17 Fisher's study results, in Putra found that male adolescents tended to think more about sexual matters than females. 17 According to Mahmudah, men have a greater likelihood of engaging in risky sexual behavior than women. 18 Sofni LM,19 explained that this is because women were more concerned about their health than men. ...
Article
Full-text available
In 2016 Special Region of Yogyakarta was ranked 9th as the province with the highest number of people suffered from HIV/AIDS especially at Sleman regency. Globally, AIDS was the second leading cause of adolescents’s death aged of 10-19 years. The purpose of this study was to find out factors affecting the behaviour of the adolescents towards HIV/AIDS prevention. This research using with cross sectional study design. The sampling technique which used was stratified random sampling resulted in 59 respondents from 11th grade students at SMA Negeri 2 Sleman were selected as sample. Data were collected using questionnaire and analyzed using Chi-Square test and Multiple Logistic Regression. The result showed that most respondents 66,1% had sufficient knowledge. Students who showed supportive attitude was 54,2%. Information obtained were mostly from electronic media. Thirty one students (52,5%) showed a positive behaviour toward HIV/AIDS prevention. Chi-Square test’s result showed that factors significantly related to adolescent’s behaviour toward HIV/AIDS prevention were knowledge and attitude. Variables most affecting was attitude (p-value=0,008; PR=4,4; 95% CI=1,4-13,1).
... Remaja laki-laki usia 20-24 tahun lebih banyak (14%) melakukan hubungan seksual dibandingkan dengan kelompok usia 15-19 tahun (4%). Hasil yang sama juga ditemukan bahwa laki-laki cenderung lebih banyak melakukan perilaku seksual dibandingkan perempuan (Häfner & Epstude, 2017;Putra et al., 2017). Dari penelitian-penelitian ini diketahui bahwa jenis kelamin mempengaruhi perilaku seksual yang dilakukan oleh remaja. ...
... Jenis kelamin memiliki pengaruh terhadap perilaku seksual remaja, dimana remaja laki-laki memiliki perilaku seksual yang lebih tinggi dibandingkan remaja perempuan. Hasil ini mengkonfirmasi temuan pada penelitian Putra et al., (2017), SDKI tahun 2017 (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, 2018) serta Häfner dan Epstude (2017) yang menemukan bahwa remaja laki-laki memiliki perilaku seksual yang lebih tinggi dibandingkan remaja perempuan. ...
Article
Masa remaja merupakan masa peralihan individu dari masa kanak-kanak menuju dewasa, dengan ditandai adanya perubahan fisik maupun psikologis. Dalam dunia remaja dan dewasa muda di Indonesia, seksualitas tidak tabu dilakukan, tetapi tabu dibicarakan. Sejumlah penelitian menunjukkan perilaku seksual yang dilakukan oleh remaja, dimana remaja laki-laki cenderung memiliki perilaku seksual yang lebih tinggi, Pola asuh orang tua juga mempengaruhi perilaku seksual pada remaja, meskipun ditemukan sejumlah hasil yang tidak konsisten. Menurut Baumrind, pola asuh orang tua terbagi menjadi tiga, yaitu Otoritarian, Otoritatif, dan Permisif. Penelitian ini ingin mengetahui pengaruh pola asuh orang tua dan jenis kelamin terhadap perilaku seksual pada remaja. Partisipan penelitian berjumlah 400 remaja (232 laki-laki dan 168 perempuan). Ada dua instrumen penelitian yang digunakan, yaitu alat ukur pola asuh orang tua dan alat ukur perilaku seksual remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh tidak berpengaruh terhadap perilaku seksual. Begitu pula bahwa interaksi antara pola asuh dan jenis kelamin tidak berpengaruh pada pola asuh. Jenis kelamin mempengaruhi perilaku seksual pada remaja, dimana remaja laki-laki memiliki perilaku seksual yang lebih tinggi.
... Lisnawati dan Lestari (2015) menemukan pada siswa SMK di Cirebon bahwa perilaku seksual yang sudah dilakukan adalah: berpegangan tangan (88,7%), berciuman pipi (51,2%), berciuman bibir (43,9%), meraba-raba dada (23,8%), meraba-raba alat kelamin (14,2%), melakukan oral seks (7,1%), dan melakukan hubungan seksual (4,1%). Begitu juga di kota Denpasar, dimana dari 880 remaja berpacaran ditemukan 88,1% pernah bergandengan tangan, 68,0% pernah berpelukan, 58,3% pernah berciuman pipi, 35,6% pernah berciuman bibir, 20,9% pernah meraba badan, 17,6% pernah meraba kelamin, 14,3% pernah melakukan petting, 9,8% pernah melakukan oral seks, 6,5% pernah melakukan vaginal seks, dan 2,6% pernah melakukan anal seks (Putra et al., 2017). Pratama dan Notobroto (2017) menemukan di Surabaya pada siswa SMK berusia 16-18 tahun bahwa 47,2% responden melakukan perilaku seksual berisiko rendah (berpegangan tangan, berpelukan, mencium pipi, mencium kening), 25,8% berperilaku seksual berisiko sedang (mencium leher, mencium bibir), serta 27% berperilaku seksual tinggi (meraba/merangsang bagian tubuh yang sensitif, saling menempelkan alat kelamin/petting, berhubungan kelamin). ...
... Studies of group differences dilakukan dengan membandingkan skor skala dari dua kelompok remaja yang diharapkan memiliki perilaku seksual pranikah yang berbeda. Kelompok yang dibandingkan adalah laki-laki dan perempuan, sesuai dengan hasil penelitian-penelitian sebelumnya bahwa laki-laki cenderung lebih banyak melakukan perilaku seksual dibandingkan perempuan (Häfner & Epstude, 2017;Putra et al., 2017). Apabila skor total remaja laki-laki pada skala perilaku seksual pranikah lebih tinggi secara signifikan dibandingkan remaja perempuan, maka skala ini dapat dikatakan valid. ...
Article
Adolescent’s premarital sexual behaviors widely discussed nowadays. Their sexual behaviors with their girlfriend/boyfriend start from kissing, light making out, heavy making out, until intercourse. Objective of this study is to develop a scale to measure adolescent’s premarital sexual behaviors using Guttman scale based on an order of behaviors in the degree of intimacy with their girlfriend/boyfriend. This scale of adolescent’s premarital sexual behavior consists of 11 statements that describe level of premarital sexual behavior, i.e.: touching (3 statements), kissing (3 statements), petting (4 statements), and intercourse (1 statement). Participants are 657 adolescents (358 boys, 299 girls) aged 15 to 24 years old (M=19,09, SD=3,001) live in around Tangerang and Jakarta, work as students and employees, had or in a dating relationship with an opposite sex, and at least done one of sexual behaviors with their girlfriend/boyfriend. Scalogram analysis found that CR = .946 and CS = .756, which shows that the scale has good reproducibility. In other words, adolescent’s premarital sexual behaviors adolescent’s premarital sexual behavior has an order in the degree of intimacy, starts from touching, kissing, petting, and intercourse. The validity of the scale is evidenced by the total score of teenage boys who is significantly higher than for girls, t(655) = 1.764, p < .039. This study concludes that the scale of adolescent premarital sexual behavior is reliable and valid, so it can be used by other researches.
... All rights reserved (7.1%), and sexual intercourse (4.1%). Similar result found in Denpasar, where 880 teenagers who involved in a romantic relationship, 88.1% had held hands, 68% had hugging, 58.3% had to kiss on cheek, 35.6% had kissing on lips, 20.9% had body touching, 17.6% had touching on genital, 14.3% had petting, 9.8% had oral sex, 6.5% had vaginal sex, and 2.6% had anal sex (Putra, Pradnyani, Artini, & Astiti, 2017). ...
... Touching, as the least intimate, had the highest frequency than other sexual behaviors. This result consistent with all previous researches who studied sexual behavior in youth (BKKBN, 2018, Suwarni & Selviana, 2015, Putra, Pradnyani, Artini, & Astiti, 2017. Moreover, this present study showed an increase in the number of premarital sexual behaviors conducted by youth. ...
Conference Paper
Sex is one of the pleasures of life are the most controversial, especially in youth who had been unmarried. The objective of this study is to describe premarital sexual behavior among youth who involve in a romantic relationship. Respondents were 353 youth (167 men, 186 women) age 15 – 24 years old (M = 20.91, SD = 3.012), live in around Jakarta and Tangerang. Premarital sexual behavior was measured by premarital sexual behavior scale, consists of 11 items Guttman-type scale. Items were described four types of sexual behavior, i.e. touching, kissing, petting, and sexual intercourse. The coefficient of reproducibility (CR) and coefficient of scalability (CS) of the scale were .971 and .865, respectively. It means that sexual behavior measured by scale can be sorted by level intimacy with their partner, from touching to sexual intercourse. Results showed that 23% respondents had sexual intercourse with their partner, 33%-48% had petting, 77%-88% had kissed, and 92%-99% had touching with their partner. Men had a higher sexual behavior than women.
Article
Full-text available
It is commonly believed that men think about sex much more often than do women, but the empirical evidence in this area is fairly weak. By means of a golf tally counter, 283 college students kept track of their thoughts pertaining to food, sleep, or sex for one week. Males reported significantly more need-based cognitions overall, but there was no significant interaction between sex of participant and type of cognition recorded. Therefore, although these young men did think more about sex than did young women, they also thought more about food and sleep. In contrast, a retrospective estimated frequency of need-based cognitions obtained at the start of the study revealed a sex difference in sexual cognitions, but not thoughts about eating or sleeping. Erotophilia and sexual desirability responding were significant predictors of frequency of sexual cognitions for women, but not for men. Overall, erotophilia was a better predictor of sexual cognition than was sex of participant. Taken as a whole, the results suggest that, although there may be a sex difference in sexual cognitions, it is smaller than is generally thought, and the reporting is likely influenced by sex role expectations.
Article
AbstrakRendahnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan kontrol dari orangtua dapat membuat remaja berperilaku seksual berisiko. Banyak factor yang dapat mempengaruhi perilaku seksual remaja. Di Sumatera Barat, Padang menduduki urutan ke 3 terbanyak remaja berperilaku seksual berisiko setelah Payakumbuh dan Bukit Tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual remaja di Kota Padang. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan desain cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 158 orang yang diambil dengan cara multistage random sampling. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan 95%. Hasil analisis menunjukkan responden yang berperilaku seksual berisiko (20,9%), jenis kelamin laki-laki (38,6%), pubertas di usia <11 tahun (6,3%), tingkat pengetahuan kurang ((1,9%), mendapat paparan tinggi dengan sumber informasi seksual (19,6%) dan yang memiliki sikap negatif (34,8%). Variabel yang memiliki nilai p<0,05 adalah jenis kelamin, paparan dengan sumber informasi seksual dan sikap terhadap berbagai perilaku seksual. Dapat disimpulkan bahwa perilaku seksual remaja di Kota Padang dipengaruhi oleh jenis kelamin laki-laki, paparan tinggi dengan sumber informasi seksual dan sikap negatif terhadap berbagai perilaku seksual.Kata kunci: perilaku seksual, remaja, faktor yang mempengaruhi AbstractLack of knowledge about reproduction health and parents control can make adolescent have risky sexual behavior. Many factors that can related sexual behavior in adolescent. In West Sumatera, Padang city is on rank 3rd after Payakumbuh and Bukit Tinggi who have most adolescent with risky sexual behavior. The objective of this study was to observe the factors that can be related to adolescent sexual behavior in Padang. Type of this research was analytic with cross sectional study. Total samples in this research were 158 respondents which are taken by multistage random sampling. Data analysis was done by chi-square test with significance level is 95%. The result of analysis showed that respondents who have risky sexual behavior (20,9%), males (38,6%), enter the stage puberty in <11 years old (6,3%), have a lack of knowledge (1,9%), get high exposure with sexual resources (19,6%) and have negative attitude (34,8%). Variables that have p<0,05 are gender, exposure with sexual resource and attitude toward sexual behavior. It can be concluded that adolescent sexual behavior in Padang City be affected by males, high exposure with internet and negative attitude toward sexual behavior. Keywords: sexual behavior, adolescent, factor that related
Psikologi Remaja (Edisi Revisi). Tanggerang: RajaGrafindo Persada
  • S W Sarwono
Sarwono, S.W. Psikologi Remaja (Edisi Revisi). Tanggerang: RajaGrafindo Persada. 2012.
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI
  • Kementrian Kesehatan
Kementrian Kesehatan RI. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI. 2013.
Perilaku Seksual Remaja dan Fak tor Determinannya di SMA SeKota Semarang
  • D A Alfiani
Alfiani, D.A. Perilaku Seksual Remaja dan Fak tor Determinannya di SMA SeKota Semarang. Skripsi. Semarang: Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang 2013.
  • R I Kementerian Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI 2014.
Situasi Kasus HIV/AIDS di Propinsi Bali Menurut Kelompok Resiko dan Je nis Kelamin Kumulatif dari Tahun
  • Denpasar Kpa Kota
KPA Kota Denpasar. Situasi Kasus HIV/AIDS di Propinsi Bali Menurut Kelompok Resiko dan Je nis Kelamin Kumulatif dari Tahun 1987 s.d. Mei 2015; [Diakses 24 Maret 2016]. Available at: http://bursakerja.denpasarkota.go.id/kpa/ data-hivaids.php
Jakarta: Rineka Cipta
  • S Notoatmodjo
  • Promosi Kesehatan Dan Ilmu
  • Perilaku
Notoatmodjo, S. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta. 2007.
Pengaruh Faktor Personal dan Lingkungan Terhadap Perilaku Seksual pada Remaja. Tesis. Surakarta: Program Pascasarjana
  • S Kusumastuti
Kusumastuti, S. Pengaruh Faktor Personal dan Lingkungan Terhadap Perilaku Seksual pada Remaja. Tesis. Surakarta: Program Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret 2015.