ArticlePDF Available

Effectiveness of Acupuncture and Infrared Therapies for Reducing Musculoskeletal Pain in the Elderly

Authors:

Abstract

Background: According to the World Health Organization, the most frequent health problems experienced by the elderly is musculoskeletal pain. The common treatment for musculoskeletal pain is Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAID) drugs. These drugs, however, give undesireable side effects such as disorders in digestion, renal function, and increased blood pressure. Acupuncture and infrared therapies have been widely known as cheap and safe for musculoskeletal pain. However, their relative effectiveness are not yet clear. This study aimed to determine the effectiveness of acupuncture and infrared therapies for reducing musculoskeletal pain in the elderly. Subjects and Method: This was an experiment study with randomized controlled trials design. The study was conducted at the elderly integrated health post Klodran, Karanganyar, Central Java, in May, 2016. A total sample of 60 elderlies was selected for this study using random sampling technique. This sample was randomized into 4 groups, each consisting of 15 study subjects: (1) acupressure; (2) acupuncture; (3) infrared; (4) acupuncture and infrared. The dependent variable was musculoskeletal pain. The independent variable was type of pain relief therapy. The data was analyzed by Kruskall Wallis Test, and post-hoc test using Mann-Whitney. Results: Kruskall Wallis Test showed mean differences in the reduction of musculosceletal pain between the four groups, and they were statistically significant, as follows: acupressure (mean= 1.3; SD= 0.5), acupunture (mean= 2.3; SD= 0.5), infrared (mean= 1.6; SD= 0.6), and acupuncture and infrared (mean= 3.9; SD= 0.4). Mann-Whitney test showed the most effective treatment for reducing musculoskeletal pain was acupunture and infrared combination therapy (mean difference= 2.53; p
Widowati et al./ Effectiveness of Acupuncture and Infrared Therapies
e-ISSN: 2549-0265 (online) 41
Effectiveness of Acupuncture and Infrared Therapies
for Reducing Musculoskeletal Pain in the Elderly
Risna Widowati1), Bhisma Murti2), Eti Poncorini Pamungkasari3)
1)Acupuncture Unit, School of Health Polytechnics, Ministry of Health, Surakarta
2)Masters Program in Public Health, Sebelas Maret University
3) Department of Public Health, Faculty of Medicine, Sebelas Maret University
ABSTRACT
Background: According to the World Health Organization, the most frequent health problems
experienced by the elderly is musculoskeletal pain. The common treatment for musculoskeletal
pain is Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAID) drugs. These drugs, however, give
undesireable side effects such as disorders in digestion, renal function, and increased blood
pressure. Acupuncture and infrared therapies have been widely known as cheap and safe for
musculoskeletal pain. However, their relative effectiveness are not yet clear. This study aimed to
determine the effectiveness of acupuncture and infrared therapies for reducing musculoskeletal
pain in the elderly.
Subjects and Method: This was an experiment study with randomized controlled trials design.
The study was conducted at the elderly integrated health post Klodran, Karanganyar, Central Java,
in May, 2016. A total sample of 60 elderlies was selected for this study using random sampling
technique. This sample was randomized into 4 groups, each consisting of 15 study subjects: (1)
acupressure; (2) acupuncture; (3) infrared; (4) acupuncture and infrared. The dependent variable
was musculoskeletal pain. The independent variable was type of pain relief therapy. The data was
analyzed by Kruskall Wallis Test, and post-hoc test using Mann-Whitney.
Results: Kruskall Wallis Test showed mean differences in the reduction of musculosceletal pain
between the four groups, and they were statistically significant, as follows: acupressure (mean= 1.3;
SD= 0.5), acupunture (mean= 2.3; SD= 0.5), infrared (mean= 1.6; SD= 0.6), and acupuncture and
infrared (mean= 3.9; SD= 0.4). Mann-Whitney test showed the most effective treatment for
reducing musculoskeletal pain was acupunture and infrared combination therapy (mean
difference= 2.53; p<0.001).
Conclusion: Acupunture and infrared combination is the most effective treatment for reducing
musculoskeletal pain in the elderly.
Keywords: musculoskeletal pain, acupressure, acupuncture, infrared, elderly
Correspondence:
Risna Widowati. Acupuncture Unit, School of Health Polytechnics, Ministry of Health, Surakarta,
Central Java. Email: risna.widowati@gmail.com. HP +6281555742729.
LATAR BELAKANG
Tahun 2010 populasi lanjut usia di dunia
adalah sekitar 524 juta jiwa dan diperkira-
kan akan terus meningkat pada tahun 2050
dengan peningkatan sebesar tiga kali lipat
yaitu sekitar 1.5 milyar. Peningkatan popu-
lasi lanjut usia ini terutama akan terjadi
pada negara-negara berkembang termasuk
Indonesia (WHO, 2011; Yasamy et al.,
2012). Indonesia merupakan negara ber-
struktur tua, hal ini dapat dilihat dari
persentase penduduk lanjut usia tahun
2008, 2009 dan 2012 telah mencapai di
atas 7% dari keseluruhan penduduk Indo-
nesia. Persentase sebaran penduduk lanjut
usia di Provinsi Jawa Tengah sebesar
10.34% menempati urutan ketiga setelah
Yogyakarta sebesar 13.04% dan Jawa
Timur sebesar 10.40% (Kemenkes, 2013).
Lambat laun dengan terus bertambahnya
Indonesian Journal of Medicine (2017), 2(1): 41-51
https://doi.org/10.26911/theijmed.2017.02.01.05
42 e-ISSN: 2549-0265 (online)
jumlah lanjut usia didunia maka tidak
menutup kemungkinan jika dunia ini lebih
banyak dihuni oleh lanjut usia dibanding-
kan dengan anak-anak. Hal ini mengindi-
kasikan bahwa masalah kesehatan yang
terkait dengan lanjut usia juga akan se-
makin meningkat tiap tahunnya (Barber
dan Gibson, 2009).
Memasuki usia yang semakin tua,
seorang lanjut usia akan mengalami banyak
kendala di dalam hidupnya. Kendala-
kendala tersebut dapat mempengaruhi
kesehatan lanjut usia baik secara fisik
maupun mental. Kesehatan yang terganggu
dapat memicu turunnya kualitas hidup dari
lanjut usia tersebut. Usia yang sudah tua
menyebabkan seorang lanjut usia memiliki
banyak keterbatasan seperti keterbatasan
gerak, fisik yang lemah serta gangguan ke-
sehatan mental dalam hidupnya sehingga
seorang lanjut usia tidak mampu hidup
sendiri dan membutuhkan perawatan kese-
hatan yang baik dalam waktu yang lama.
Kesehatan mental dan kesehatan fisik
seorang lanjut usia sangat terkait erat. Jika
kesehatan fisik terganggu maka akan mem-
pengaruhi kesehatan mental, begitupula
sebaliknya (Park, 2012).
Menurut data WHO (World Health
Organization), gangguan kesehatan yang
banyak dialami oleh lanjut usia adalah
nyeri muskuloskeletal. Hal ini sesuai
dengan hasil laporan dari WHO’s global
Burden of Disease Study dan The Bone dan
Joint Monitoring Project pada tahun 2003
bahwa beban penyakit yang diakibatkan
oleh nyeri muskuloskeletal meningkat se-
iring bertambahnya usia. Nyeri muskulo-
skeletal yang banyak dialami lanjut usia
antara lain osteoarthritis, rheumathoid
arthritis, osteoporosis dan nyeri punggung
bawah atau biasa disebut dengan low back
pain (Fejer dan Ruhe, 2012).
Penanganan nyeri muskuloskeletal
yang sering dilakukan adalah dengan
pemberian obat-obatan jenis NSAIDs (Non-
Steroidal Anti-Infalammatory Drugs).
Terapi obat-obatan nonsteroid dalam
jangka panjang terutama pada lanjut usia
dapat memberikan efek samping yang
kurang diinginkan seperti gangguan pen-
cernaan, gangguan fungsi ginjal dan
kenaikan tekanan darah. Penanganan nyeri
muskuloskeletal yang lain bisa dilakukan
dengan terapi sinar inframerah dan terapi
akupunktur. Akupunktur merupakan terapi
yang relatif murah (White et al., 2012) dan
salah satu terapi yang relatif aman tanpa
menimbulkan efek samping yang ber-
bahaya (Kimet al., 2013).
Penelitian akupunktur untuk penang-
anan nyeri muskuloskeletal sudah banyak
dilakukan di luar negeri maupun di Indo-
nesia (Vickers dan Foster, 2013). Beberapa
jurnal penelitian menyatakan bahwa terapi
akupunktur memberikan efek yang baik
dalam penanganan nyeri muskuloskeletal
(Madsen et al., 2009). Hal ini sesuai
dengan hasil penelitian yang dilakukan di
Jerman dan Belanda, bahwa dengan mela-
kukan terapi akupunktur secara rutin, nyeri
muskuloskeletal dapat tertangani dengan
baik sehingga kualitas hidup pasien juga
akan meningkat (Berg et al., 2010).
Penanganan nyeri dengan terapi sinar
inframerah telah dilakukan sejak puluhan
tahun yang lalu, hal ini terbukti dengan
adanya beberapa penelitian yang telah
dilakukan oleh Stelican et al., (1992) dan
Branco et al., (1999) tentang efektivitas
penggunaan terapi sinar inframerah untuk
penanganan nyeri khususnya nyeri musku-
loskeletal. Penelitian lain yang dilakukan
oleh Pallotta et al., (2012) menunjukkan
bahwa terapi inframerah juga efektif untuk
meredakan nyeri inflamasi lutut pada tikus.
Penggunaan terapi akupunktur dan
terapi inframerah sama-sama efektif dalam
penanganan nyeri muskuloskeletal. Akan
tetapi, penelitian yang menggunakan kom-
Widowati et al./ Effectiveness of Acupuncture and Infrared Therapies
e-ISSN: 2549-0265 (online) 43
binasi terapi keduanya untuk penanganan
nyeri muskuloskeletal belum pernah dila-
kukan. Sehingga penelitian ini perlu dilaku-
kan untuk mengetahui efektivitas antara
terapi akupunktur, terapi inframerah dan
kombinasi keduanya dalam penanganan
nyeri muskuloskeletal khususnya pada
lanjut usia.
Puskesmas Colomadu II Karanganyar
memiliki wilayah kerja di lima desa. Salah
satu desa yang memiliki posyandu lanjut
usia aktif adalah di desa Klodran. Peserta
posyandu lanjut usia di desa ini rutin
mengikuti kegiatan di Posyandu setiap
bulannya. Berdasarkan studi pendahuluan
yang telah dilakukan, dari 89 orang peserta
posyandu Lanjut usia Klodran, sebanyak
84% mengeluhkan nyeri muskuloskeletal.
Hal inilah yang mendorong penulis untuk
melakukan penelitian pemberian terapi
akupunktur dan inframerah dalam me-
nangani nyeri muskuloskeletal para lanjut
usia di Desa Klodran Colomadu,
Karanganyar.
Tujuan dari penelitian ini adalah
menganalisis efek terapi akupunktur dan
inframerah dalam menurunkan nyeri
muskuloskeletal pada lanjut usia.
SUBJEK DAN METODE
1. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian ekspe-
rimen dengan desain RCT (Randomised
Controlled Trials).
2. Populasi dan Sampel
Populasi sasaran adalah pasien lanjut usia
yang mengalami nyeri muskuloskeletal.
Populasi terjangkau (accesible population)
dalam penelitian ini adalah lanjut usia
posyandu lansia di Klodran Colomadu,
Karanganyar yang mengalami gangguan
nyeri muskuloskeletal sejumlah 75 lanjut
usia. Besar sampel penelitian yang diambil
peneliti adalah sebanyak 60 lanjut usia
dengan cara simple random sampling.
Subjek penelitian yang berjumlah 60 orang
akan dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan,
masing-masing kelompok berjumlah 15
orang.
Variabel dependen dalam penelitian
ini adalah nyeri muskuloskeletal dan
variabel independennya adalah terapi peng-
hilang nyeri yaitu terapi akupunktur, terapi
inframerah, akupresur, terapi akupunktur
dan terapi sinar inframerah.
3. Definisi Operasional
Nyeri muskuloskeletal merupakan nyeri
yang berasal dari sistem muskuloskeletal,
yang terdiri dari tulang, sendi dan jaringan
lunak pendukung yaitu otot, ligamen, tendo
dan bursa.
Terapi penghilang nyeri merupakan
suatu terapi yang dalam penelitian ini akan
diteliti dan dibandingkan kemampuannya
dalam menurunkan nyeri muskuloskeletal
dari 4 jenis perlakuan yaitu terapi
akupunktur merupakan suatu terapi peng-
obatan dengan penusukan jarum pada titik-
titik akupunktur (acupoint) yang sudah
dipetakan di tubuh manusia. Penusukan
dilakukan menggunakan jarum filiform
sampai subjek penelitian merasakan sen-
sasi De Qi (sensasi rasa berat, baal dan
ngilu) pada area titik yang ditusuk.
Perlakuan kedua adalah terapi infra-
merah yang merupakan terapi dalam
bidang Ilmu Kedokteran Fisik dan Reha-
bilitasi yang menggunakan gelombang
elektromagnetik inframerah dengan karak-
teristik panjang gelombang 770 nm-106 nm.
Terapi dengan menggunakan alat yang
disebut infrafill. Terapi dilakukan dengan
melakukan penyinaran ke area keluhan
subjek penelitian. Penyinaran dilakukan
hingga kulit subjek penelitian terasa hangat
dan tampak eritema.
Perlakuan ketiga adalah terapi aku-
punktur dan terapi inframerah yaitu suatu
terapi gabungan antara terapi akupunktur
yang kemudian disinari dengan sinar infra-
Indonesian Journal of Medicine (2017), 2(1): 41-51
https://doi.org/10.26911/theijmed.2017.02.01.05
44 e-ISSN: 2549-0265 (online)
merah. Perlakuan keempat adalah terapi
akupresur yaitu suatu terapi pengobatan
dengan pemijatan/penekanan pada titik-
titik akupunktur (acupoint) yang sudah
dipetakan di tubuh manusia. Pemijatan/
penekanan dilakukan dengan mengguna-
kan jari-jari tangan.
4. Pengumpulan Data
Jenis data penelitian ini adalah data primer
yang diambil langsung oleh peneliti ter-
hadap subjek penelitian pada sebelum dan
sesudah penelitian. Data yang diambil
berupa karakteristik subjek penelitian dan
penurunan nilai VAS pada saat sebelum
dan sesudah dilakukan perlakuan. Peng-
ambilan data dilakukan dalam 3 tahap,
yaitu:
a. Mengurus Perijinan
Mengurus perijinan dilakukan setelah
proposal penelitian disetujui oleh penguji.
Peneliti akan mengajukan ijin kepada
komite etik terkait dengan ethical clear-
ence. Selanjutnya peneliti akan mengurus
surat ijin penelitian dari Prodi Ilmu Kes-
ehatan Masyarakat (IKM) yang digunakan
untuk ijin penelitian di Puskesmas
Colomadu II.
b. Tahap Persiapan
Subjek penelitian yang akan diberikan
perlakuan terapi diwajibkan untuk menan-
datangani informed consent setelah men-
dapat penjelasan dari peneliti. Pemberian
terapi kepada subjek penelitian akan
dilakukan sebanyak 12 kali terapi dengan
jadwal 3 kali per minggu. Subjek penelitian
akan dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan.
Kelompok pertama akan diberikan terapi
akupunktur, kelompok kedua akan diberi-
kan terapi inframerah, kelompok ketiga
akan diberikan terapi akupunktur dengan
terapi inframerah dan kelompok keempat
adalah kelompok kontrol yang akan diberi-
kan akupresur. Subjek penelitian akan
diukur skala nyerinya menggunakan VAS
(Visual Analog Scale) sebelum perlakuan
dan setelah selesai 12 kali perlakuan. Hasil
pengukuran skala nyeri akan dicatat dan
selanjutnya dianalisis.
c. Tahap Pelaksanaan
Kelompok pertama diberikan terapi aku-
punktur, kelompok kedua diberikan terapi
inframerah, kelompok ketiga diberikan
terapi kombinasi akupunktur dan infra-
merah, kelompok keempat diberikan terapi
akupresur.
5. Analisis data
Karakteristik sampel data kontinu di-
sajikan dalam mean, median, standar
deviasi (SD), nilai minimum dan nilai
maksimum. Karakteristik data kategorikal
disajikan atau dideskripsikan dalam fre-
kuensi (n) dan persen (%).
Analisis bivariat dilakukan untuk
menganalisis:
1) Perbedaan efek intervensi di dalam nyeri
muskuloskeletal diuji secara statistik
dengan uji parametrik yaitu One Way
ANOVA jika data frekuensi nyeri musku-
loskeletal tersebut berdistribusi normal
dan homogen. Jika data frekuensi ter-
sebut tidak terdistribusi normal dan
tidak homogen maka diuji dengan uji
nonparametrik yaitu Kruskal-Wallis.
2) Homogenitas frekuensi nyeri muskulo-
skeletal diuji dengan menggunakan
Levene test. Hasil uji dikatakan homo-
gen atau varians data sama jika p > 0.05.
3) Kemaknaan/signifikansi statistik dari
perbedaan efek intervensi terhadap nyeri
muskuloskeletal ditentukan oleh nilai p.
4) Jika distribusi frekuensi data nyeri
muskuloskeletal normal dan homogen
maka perbedaan efek intervensi ter-
hadap nyeri muskuloskeletal antara
pasangan-pasangan kelompok diuji
dengan Post Hoc test yaitu tes yang dila-
kukan setelah One Way ANOVA meng-
gunakan LSD (Least Significant Diffe-
rence) test.
Widowati et al./ Effectiveness of Acupuncture and Infrared Therapies
e-ISSN: 2549-0265 (online) 45
5) Tetapi jika distribusi frekuensi data nyeri
muskuloskeletal tidak normal dan tidak
homogen maka pasangan kelompok ter-
sebut diuji dengan uji Dunnet C.
6. Persetujuan Etis
Penelitian ini telah mendapatkan ijin dari
komisi etik RS Dr. Moewardi/Fakultas
Kedokteran Universitas Sebelas Maret
Surakarta, No: 401/V/HREC/2016, pada
tanggal 3 Mei 2016.
Data yang terkait dengan subjek
penelitian hanya digunakan untuk kepen-
tingan penelitian saja. Subjek penelitian
menandatangani informed consent sebe-
lum diberikan perlakuan.
HASIL
Total subjek penelitian adalah 60 lanjut
usia yang menderita keluhan nyeri musku-
loskeletal. Subjek penelitian terdiri dari 45
lansia dalam kelompok perlakuan yang
mendapatkan terapi akupunktur sebanyak
15 subjek penelitian, terapi inframerah se-
banyak 15 subjek penelitian, kombinasi
terapi akupunktur dan terapi inframerah
sebanyak 15 subjek penelitian. Sedangkan
pada kelompok kontrol yang diberikan
terapi akupresur sebanyak 15 lanjut usia
dengan nyeri muskuloskeletal.
1. Karakteristik Subjek Penelitian
Tabel 1 menunjukkan karakteristik subjek
penelitian berdasarkan jenis kelamin dido-
minasi oleh perempuan sejumlah 39 orang
(65%) dan sisanya sejumlah 21 orang (35%)
adalah berjenis kelamin laki-laki. Berdasar-
kan karakteristik usia, usia terbanyak
adalah pada kelompok usia 60-74 tahun
sejumlah 45 orang (75%). Berdasarkan
jenis nyeri yang dirasakan oleh subjek
penelitian, jenis nyeri terbanyak adalah
nyeri bahu sejumlah 17 orang (28.3%),
nyeri lutut sejumlah 13 orang (13%) dan
nyeri pinggang bawah (LBP) sejumlah 12
orang (12%).
Tabel 1. Deskripsi karakteristik subjek penelitian pada variabel kategorik jenis
kelamin, usia dan jenis nyeri
Variabel
Frekuensi
Persentase
Jenis Kelamin
Laki-laki
21
35%
Perempuan
39
65%
Usia
45-59 tahun
7
11.7%
60-74 tahun
45
75%
≥75 tahun
8
13.3%
Jenis Nyeri
Bahu
17
28.3%
Pinggang menjalar ke paha
5
8.3%
Kepala
1
1.7%
Pinggang bawah
12
12%
Lutut
13
13%
Pergelangan kaki
3
3%
Pergelangan tangan
5
5%
Tangan
1
1%
Tengkuk
3
3%
Tabel 2 menunjukkan usia tertua subjek
penelitian adalah 88 tahun sedangkan usia
termuda adalah 50 tahun dengan rata-rata
usia 68.7 tahun. Berdasarkan hasil penu-
runan skor nyeri (VAS) penurunan nilai
VAS maksimum adalah pada kelompok
akupunktur dan inframerah yaitu sebesar 4
dan nilai penurunan minimum di kelompok
ini juga yang paling banyak dibandingkan
dengan kelompok lain yaitu sebesar 3.
Indonesian Journal of Medicine (2017), 2(1): 41-51
https://doi.org/10.26911/theijmed.2017.02.01.05
46 e-ISSN: 2549-0265 (online)
Tabel 2 Deskripsi karakteristik subjek penelitian pada variabel kontinu
mean
SD
Nilai maksimum
Nilai minimun
68.65
6.4
88
50
2.3
1.1
4
1
2.3
0.5
3
2
1.6
0.6
3
1
3.9
0.4
4
3
1.3
0.5
2
1
2. Analisis Bivariat
Perbedaan efek intervensi di dalam nyeri
muskuloskeletal diuji secara statistik
dengan uji parametrik yaitu One Way
ANOVA. Syarat yang harus dipenuhi dalam
uji One Way ANOVA adalah data harus
terdistribusi normal dan homogen. Uji
Kolmogorov-Smirnov pada Tabel 3 menun-
jukkan p<0.05 sehingga data tidak ter-
distribusi normal. Sedangkan pada uji
homogenitas dengan uji Levene test
didapatkan nilai p<0.05 sehingga dapat
disimpulkan bahwa data tidak ter-distribusi
normal dan tidak homogen.Oleh karena itu,
uji analisis yang dilakukan selanjutnya
adalah menggunakan Uji Kruskall Wallis.
Tabel 3 Tes normalitas data distribusi skor nyeri
Kelompok
Tes Kolmogorov-Smirnov
n
Mean
SD
p
Nyeri sebelum Perlakuan
60
5.2
0.8
Kelompok Akupresur
15
4.9
0.9
0.012
Kelompok Akupunktur
15
5.2
1.4
0.100
Kelompok Inframerah
15
4.6
1.9
0.091
Kelompok Akupunktur dan inframerah
15
6.1
1.4
0.133
Nyeri Sesudah Perlakuan
60
2.9
1.2
Kelompok Akupresur
15
3.5
0.6
<0.001
Kelompok Akupunktur
15
2.9
0.8
0.001
Kelompok Inframerah
15
3.0
1.1
0.027
Kelompok Akupunktur dan inframerah
15
2.2
1.8
0.070
Penurunan Nyeri
60
2.3
1.1
Kelompok Akupresur
15
1.3
0.5
<0.001
Kelompok Akupunktur
15
2.3
0.5
<0.001
Kelompok Inframerah
15
1.6
0.6
0.001
Kelompok Akupunktur dan inframerah
15
3.9
0.4
<0.001
Tabel 4 Hasil uji Kruskall Wallis
Kelompok
n
Mean Rank
p
Penurunan Nyeri
<0.001
Kelompok Akupresur
15
15.5
Kelompok Akupunktur
15
33.5
Kelompok Inframerah
15
20.4
Kelompok Akupunktur dan inframerah
15
52.6
Hasil uji Kruskall-Wallis didapatkan nilai
p<0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwa
ada perbedaan efek intervensi diantara
terapi akupunktur, terapi inframerah,
terapi kombinasi akupunktur dan infra-
merah serta terapi akupresur dalam menu-
runkan nyeri muskuloskeletal pada lanjut
usia. Tabel 4 di atas menunjukkan nilai
mean rank tertinggi adalah pada kelompok
akupunktur dan inframerah sebesar 52.6.
Widowati et al./ Effectiveness of Acupuncture and Infrared Therapies
e-ISSN: 2549-0265 (online) 47
Hal ini dapat disimpulkan bahwa penurun-
an VAS pada terapi kombinasi akupunktur
dan inframerah paling efektif jika diban-
dingkan dengan terapi akupunktur, terapi
inframerah dan terapi akupresur.
Tabel 5 Hasil Uji Mann-Whitney
Kelompok
n
Mean Difference
p
Akupunktur
Inframerah
15
0.73
0.006
Akupunktur
Akupunktur dan
Inframerah
15
-1.53
<0.001
Akupunktur
Akupresur
15
1.00
<0.001
Inframerah
Akupunktur dan
inframerah
15
-2.27
<0.001
Inframerah
Akupresur
15
0.27
0.305
Akupunktur dan inframerah
Akupresur
15
2.53
<0.001
Untuk mengetahui apakah ada perbedaan
penurunan nyeri antar kelompok menggu-
nakan uji Mann-Whitney. Tabel 5 menun-
jukkan bahwa ada perbedaan penurunan
nyeri muskuloskeletal secara signifikan
antara kelompok akupunktur dengan
kelompok inframerah, kelompok akupunk-
tur dengan kombinasi akupunktur dan
inframerah, kelompok akupunktur dengan
akupresur, kelompok inframerah dengan
kom-binasi akupunktur dan inframerah,
kelompok kombinasi akupunktur dan
inframerah dengan kelompok akupresur.
Namun pada kelompok inframerah dan
kelompok akupresur tidak terdapat per-
bedaan yang signifikan dalam penurunan
nyeri muskuloskeletal.
PEMBAHASAN
1. Pengaruh terapi akupunktur ter-
hadap penurunan nyeri muskulo-
skeletal dibandingkan dengan
terapi akupresur
Terapi akupunktur merupakan suatu terapi
pengobatan dengan penusukan jarum pada
titik-titik akupunktur (acupoint) yang
merupakan sel aktif listrik yang mem-
punyai sifat tahanan listrik rendah dan
konduktivitas listriknya tinggi sehingga
titik akupunktur akan lebih cepat meng-
hantarkan listrik dibandingkan dengan sel-
sel yang lain (Saputra dan Sudirman,
2009).
Berdasarkan hasil penelitian menun-
jukkan bahwa penurunan nyeri muskulo-
skeletal dengan terapi akupunktur lebih
efektif dibandingkan dengan terapi
akupresur. Hal ini sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh Molsberger et al.,
(2010) dan penelitian Itoh et al., (2014)
bahwa terapi akupunktur dapat menurun-
kan nilai VAS lebih baik dibandingkan
dengan pemberian terapi orthopedic dalam
meringankan nyari bahu. Hal yang sama
juga disampaikan dalam Coeytaux and
Garland (2013) bahwa terapi akupunktur
sangat baik untuk menangani berbagai
macam nyeri terutama nyeri kronis. Pene-
litian di Jepang yang dilakukan oleh Mori
et al., (2013) mengungkapkan jika terapi
akupunktur selain dapat menurunkan nilai
VAS juga dapat me-ningkatkan jumlah
limfosit dan granulosit pada penderita
nyeri bahu, punggung bawah dan nyeri
lutut. Hal ini disebabkan oleh penusukan
titik akupunktur dapat mempengaruhi jalur
saraf nosiseptif, proprioseptif dan otonom.
Terapi akupunktur dapat meningkatkan
enkephalin dan dinorfin pada tulang
belakang dan otak tengah sehingga dapat
meningkatkan endorphin pada kompleks
hypothalamus pituitary. Aliran enkephalin
di otak tengah juga dapat menstimulasi
Indonesian Journal of Medicine (2017), 2(1): 41-51
https://doi.org/10.26911/theijmed.2017.02.01.05
48 e-ISSN: 2549-0265 (online)
keluarnya monoamine, serotonin dan nor-
epinefrin di tulang belakang sehingga dapat
menghambat nyeri, termasuk nyeri musku-
loskeletal (Audette dan Ryan, 2004).
Penelitian tentang akupresur untuk
menurunkan nyeri sudah banyak dilakukan
dan terbukti. Hal ini sesuai dengan pene-
litian yang dilakukan oleh (Levett et al.,
2014) yang menyatakan bahwa akupresur
sangat bermanfaat untuk mengurangi nyeri
saat persalinan. Selain itu, terapi akupresur
juga dapat menyembuhkan nyeri punggung
bawah pekerja kantoran (Purepong et al.,
2015). Meskipun demikian, ternyata dalam
penelitian ini efek terapi akupresur masih
belum sebaik terapi akupunktur. Penu-
runan nyeri nilai VAS dengan terapi
akupresur memiliki mekanisme yang sama
dengan terapi akupunktur hanya saja
media yang digunakan berbeda. Terapi
akupresur menggunakan jari tangan terapis
sedangkan terapi akupunktur mengguna-
kan jarum. Rang-sangan menggunakan jari
tangan terapis hanya pada permukaan
superficial saja sedangkan rangsangan
jarum langsung menembus kulit dan dapat
memberikan efek pada sistem imunologi,
neurokimia dan neurbiologi secara
langsung (Bell dan Preston, 2006; Nani, et
al., 2015; Wong, 2010).
2. Pengaruh terapi inframerah di-
bandingkan dengan terapi aku-
presur terhadap penurunan nyeri
muskuloskeletal
Terapi inframerah merupakan terapi yang
menggunakan gelombang elektromagnetik
inframerah yang dapat mem-pengaruhi
secara langsung terhadap pembuluh darah
kapiler, pembuluh limfe, ujung-ujung saraf
dan jaringan lain di bawah kulit (Porter,
2008).
Berdasarkan hasil penelitian menun-
jukkan bahwa penurunan nyeri muskulo-
skeletal dengan terapi inframerah tidak
lebih baik dibandingkan dengan terapi
akupresur. Hal ini sesuai dengan penelitian
Nitz dan Nitz (2014) bahwa penanganan
nyeri dapat menggunakan teknik pemanas-
an menggunakan inframerah. Hasil pene-
litian ini juga sesuai dengan Rayegani et al.,
(2012) bahwa teknik pemanasan dapat
menurunkan nilai VAS pada penderita
osteoarthritis. Penurunan nilai VAS ini
disebabkan oleh inframerah dapat mem-
berikan efek menurunkan ketegangan otot,
menurunkan kekakuan sendi, meningkat-
kan aliran darah dan merileksasi sistem
saraf. Penurunan nyeri menggunakan infra-
merah juga dipengaruhi oleh efek keluar-
nya endorphin, peningkatan serotonin dan
efek antiinflamasi (Hawkins dan Abra-
hamse, 2007).
Pemberian terapi inframerah dan
akupresur dalam penelitian ini secara
signifikan tidak dapat dibedakan mana
yang lebih baik. Hal ini dikarenakan pema-
nasan menggunakan terapi infra-merah
yang hanya dilakukan selama 10 menit saja.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh
Haryanto (2003) menunjukkan bahwa
pemberian inframerah selama 15 menit
dapat meningkatkan ambang nyeri pada
subjek sehat. Kesimpulannya adalah pem-
berian inframerah pada penelitian ini yang
hanya dilakukan selama 10 menit belum
memberikan efek analgetik secara maksi-
mal. Demikian pula dengan terapi akupre-
sur yang pemberian rangsangnya secara
superfisial saja sehingga efek penurunan
nyeri yang dihasilkan tidak sebaik terapi
akupunktur dan tidak lebih baik dari terapi
inframerah (Bell dan Preston, 2006).
3. Pengaruh kombinasi terapi aku-
punktur dan terapi inframerah ter-
hadap penurunan nyeri muskulo-
skeletal dibandingkan terapi aku-
punktur, terapi inframerah, dan
terapi akupresur.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan
bahwa kombinasi terapi akupunktur dan
Widowati et al./ Effectiveness of Acupuncture and Infrared Therapies
e-ISSN: 2549-0265 (online) 49
inframerah dapat menurunkan nyeri
muskuloskeletal paling efektif jika diban-
dingkan dengan terapi akupunktur, terapi
inframerah maupun terapi akupresur.
Terapi akupunktur yang dikombinasi
dengan terapi inframerah memiliki efek
ganda dalam menurunkan nyeri muskulo-
skeletal.
Terapi akupunktur bekerja bekerja
melalui empat domain yaitu: 1) reaksi
inflamasi lokal, 2) transduksi interseluler
meridian, 3)refleks kutaneosomato-viscera,
dan 4)transmisi neural ke otak (neuro
akupunktur). Reaksi inflamasi lokal ditan-
dai dengan adanya vasodilatasi. Transduksi
interseluler meridian ditandai dengan per-
tukaran ion listrik dijalur meridian. Refleks
kutaneosomato-viscera ditandai dengan
mengaktifkan sistem modulasi nyeri
dengan cara menekan transmisi dan per-
sepsi dari rangsangan nyeri pada level yang
berbeda pada sistem saraf pusat (Gellman,
2006; Saputra dan Sudirman, 2009 dan
Yun et al., 2005). Sedangkan mekanisme
inframerah dalam pengurangan rasa nyeri
dapat terjadi melalui mild heating yang
menimbulkan efek sedatif pada ujung-
ujung saraf sensoris superfisial sedangkan
strong heating dapat menimbulkan coun-
ter irritation sehingga rasa nyeri dapat ber-
kurang (Vincket al., 2006). Sehingga hal
inilah yang menyebabkan terapi kombinasi
akupunktur dan inframerah paling efektif
dalam menurunkan nyeri muskuloskeletal.
Penelitian terkait penggunaan kombinasi
terapi akupunktur dan inframerah untuk
penurunan nyeri muskuloskeletal belum
pernah dilakukan namun di China ada
penelitian yang mengemukakan bahwa
terapi akupunktur dan terapi inframerah
merupakan dua pilihan terapi terbanyak
yang dipilih penderita nyeri punggung
bawah untuk mengatasi keluhan nyerinya
(Chen et al., 2015). Sehingga kombinasi
terapi ini sangat baik dalam penurunan
nyeri muskuloskeletal.
REFERENCE
Audette JF, Ryan AH (2004). The role of
acupuncture in pain management, 15:
749772.
Barber JB, Gibson SJ (2009). Treatment of
chronic non-malignant pain in the
elderly: safety consider-ations. Drug
Safety, 32(6): 45774.
Bell DM, Preston JC (2006). Acupressure
and postoperative nausea and
vomiting. AANA Journal Course,
73(25): 379385.
Berg I, Van Den, Tan L, Brero H, Van Tan
KT, Janssens AC, JW Hunink MGM
(2010). Health-related quality of life
in patients with musculoskeletal
complaints in a general acupuncture
practice: an observational study. Acu-
puncture in Medicine, 28: 130135.
Chen L, Cheng L, Zhang Y, He X, Knaggs
RD (2015). Acupuncture or Low Fre-
quency Infrared Treatment for Low
Back Pain in Chinese Patients: A
Discrete Choice Experiment. PLoS
ONE, 115.
Coeytaux RR, Garland E (2013). Acupunc-
ture for the treatment or management
of chronic pain. North Carolina
Medical Journal, 74(3): 2215.
Fejer R, Ruhe A (2012). What is the pre-
valence of musculoskeletal problems
in the elderly population in developed
countries? A systematic critical lite-
rature review. Chiro-practice &
Manual Therapies, 20(1): 31.
Gellman H (2006). Acupuncture Treat-
ment for Musculoskeletal Pain.
Florida: Taylor & Francis.
Hawkins D, Abrahamse H (2007). Photo-
therapy a treatment modal-ity for
wound healing and pain relief, 10,
99109.
Indonesian Journal of Medicine (2017), 2(1): 41-51
https://doi.org/10.26911/theijmed.2017.02.01.05
50 e-ISSN: 2549-0265 (online)
Hinman RS, McCrory P, Pirotta M, Relf I,
Crossley KM, Reddy P, Bennell KL
(2012). Efficacy of acupuncture for
chronic knee pain: protocol for a
randomised controlled trial using a
Zelen design. BMC Complementary
and Alternative Medicine, 12(1), 161.
Itoh K, Saito S, Sahara S, Naitoh Y, Imai K,
Kitakoji H (2014). Randomized trial
of trigger point acupuncture treat-
ment for chronic shoulder pain: a
preliminary study. Journal of Acu-
puncture and Meridian Studies, 7(2),
5964.
Kemenkes (2013). Gambaran Kesehatan
Lanjut Usia di Indonesia. Buletin
Jendela Data dan Informasi ke-
sehatan. Jakarta: Pusat Data dan
Informasi Kementerian Kesehatan RI.
Kim E, Lim C, Lee E, Lee S, Kim K (2013).
Comparing the effects of individual-
ized, standard, sham and no acu-
puncture in the treatment of knee
osteoarthritis: a multicenter ran-
domized controlled trial, Comple-
mentary Therapies in Medicine. 2(4)
17.
Levett KM, Smith CA, Dahlen HG, Ben-
soussan A (2014). Acupuncture and
acupressure for pain ma-nagement in
labour and birth: A critical narrative
review of current systematic review
evidence. Complementary Therapies
in Med-icine, 22(3), 523540.
Madsen MV, Gøtzsche PC, Hróbjartsson A
(2009). Acupuncture treatment for
pain: systematic review of rando-
mised clinical trials with acupuncture,
placebo acupuncture, and no acu-
puncture groups. BMJ (Clinical R-
esearch Ed.), 338(January 2008),
a3115.
Molsberger AF, Schneider T, Gotthardt, H,
Drabik A (2010). German Randomi-
zed Acupuncture Trial for chronic
shoulder pain (GRASP) - a pragmatic,
controlled, patient-blinded, multi-
centre trial in an outpatient care
environment. Pain, 151(1), 14654.
Mori H, Kuge H, Tanaka TH, Taniwaki E,
Hanyu K (2013). Effects of acupunc-
ture treatment on natural killer cell
activity, pulse rate, and pain reduc-
tion for older adults: an uncontrolled,
observational study, 11(2), 101105.
Nani D, Maryati S, Rahmaharyanti R, Nani
D (2015). Effect of acupressure
therapy point HT 6 and LI 4 on post
cesarean sectio’s pain, 3(1), 119122.
Nitz AJ (2014). Physical Therapy Mana-
gement of the Shoulder. Journal of
the American Physical Therapy Asso-
ciation, 66, 19121919.
Pallotta RC, Bjordal JM, Frigo L, Cesar E,
Leal P, Teixeira S, Lopes-martins R
ÁB (2012). Infrared (810-nm) low-
level laser therapy on rat experi-
mental knee inflammation, Lasers in
Medical Science. 27(11) 7178.
Park J (2012). How effective are nonphar-
macological interventions for chronic
pain management in the elderly?
Aging Health, 8(4): 399401.
Park JE, Ryu YH, Liu Y, Jung HJ, Kim AR,
Jung SY, Choi SM (2013). A literature
review of de qi in clinical studies.
Acupuncture in Medicine: Journal of
the British Medical Acupuncture
Society, 31(2), 13242.
Porter S (2008). Tidy’s Physiotherapy.
Philadelphia: Elsevier Churchill
Livingstone.
Purepong N, Channak S, Boonyong S,
Thaveeratitham P, Janwantanakul P
(2015). The effect of an acupressure
backrest on pain and disability in
office workers with chronic low back
pain: A randomized, controlled study
and patients preferences. Comple-
mentary Therapies in Medicine,
Widowati et al./ Effectiveness of Acupuncture and Infrared Therapies
e-ISSN: 2549-0265 (online) 51
23(3): 347355.
Rayegani SM, Bahrami MH, Elyaspour D
(2012). Therapeutic Effects of Low
Level Laser Therapy ( LLLT ) in Knee
Osteoarthritis, Compared to Thera-
peutic Ultrasound, 3(2), 7174.
Saputra K, Sudirman S (2009). Akupunktur
untuk Nyeri dengan Pendekatan
Neurosain. Jakarta: Sagung Seto.
Telemeco T A, Schrank EC (2013). The
Effect of Light Therapy on Superficial
Radial Nerve Conduction Using a
Clustered Array of Infrared Super
luminous Diodes and Red Light
Emitting Diodes, 4(1), 1724.
Vickers AJ, Foster NE (2013). analysis,
Acupuncture in Medicine: Journal of
the British Medical Acupuncture
Society, 172(19): 14441453.
Vinck E, Cagnie B, Coorevits P, Vander-
straeten G, Cambier D (2006). Pain
reduction by infrared light-emitting
diode irradiation: A pilot study on
experimentally induc-ed delayed-
onset muscle soreness in humans.
Lasers in Medical Science, 21, 1118.
White A, Richardson M, Richmond P,
Freedman J, Bevis M (2012). Group
acupuncture for knee pain: evaluation
of a cost-saving initiative in the health
service. Acupuncture in Medicine:
Journal of the British Medical Acu-
puncture Society, 30(3), 1705.
WHO (2011). Global Health and Aging.
Wong M (2010). Science-based Mecha-
nisms to Explain the Action of Acu-
puncture, 17(2), 510.
Yasamy MT, Dua T, Harper M, Saxena S
(2012). A Growing Concern Drug
Safety, 33 (5) 49.
Yun TM, Mila M, Zang HC (2005). Bio-
medical Acupuncture for Pain Mana-
gement. Philadelphia: Elsevier Chur-
chill Livingstone.
... This sensation is called de-qi, indicating effective and efficient qi flow [51]. Acupuncture is cost-effective [52] and safe [53], with minimal side effects [54] not only for adults but also for children [55] and the elderly [53], when a qualified acupuncturist conducts the treatment. ...
... This sensation is called de-qi, indicating effective and efficient qi flow [51]. Acupuncture is cost-effective [52] and safe [53], with minimal side effects [54] not only for adults but also for children [55] and the elderly [53], when a qualified acupuncturist conducts the treatment. ...
Article
Thyroid dysfunction, affecting people of all ages, not only damages human growth and energy metabolism but is also comorbid with other illnesses such as cardiovascular disease, kidney disease and gastrointestinal disorders. With the increasing acceptance of alternative and complementary therapies, acupuncture, a traditional Chinese medical practice, has also been employed to address this problem. Analysing 29 clinical projects that were retrieved from 29 major digital databases and include 1757 patients aged 7–79 years from China, Italy, Korea, Macedonia and Russia, this narrative review offers an overview of the efficacy, and evaluated the safe and cost-effective use of acupuncture against hyperthyroidism, hypothyroidism and thyroid-relevant illnesses. Findings indicated reductions in patient symptoms and improvements in biomarkers where acupuncture was used alone or in combination therapy. In addition to showing the role of acupuncture as an alternative and complementary medicine or as an adjunctive therapy for curative and rehabilitative purposes, more well-designed researches are needed to achieve reliable data.
... Untuk mengatasi problematik tersebut, maka diperlukan intervensi yang dapat menurunkan nyeri dan meningkatkan ekspansi thoraks juga meningkat yaitu dengan pemberian infrared dan deep breathing exercise. Berdasarkan hasil penelitian Widowati, et al, (2017) menyatakan bahwa pemberian tindakan infrared dengan 4 kali pada pasien efusi pleura post water seal drainage WSD dapat menurunkan nyeri sehingga akan memberikan dampak peningkatan pada pergerakan ekspansi thoraks. Infrared adalah salah satu modalitas fisioterapi yang memiliki pancaran gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang 7.700 A o -4 juta A o yang diberikan pada pasien diarea bekas incisi post water seal drainage (WSD) (Prasetya, et al., 2018). ...
Article
Full-text available
Semakin banyak masyrakat dari usia muda hingga tua yang menjadi perokok aktif, serta pencemaran udara didalam ataupun diluar ruangan tempat kerja merupakan faktor salah satu penyebab terjadinya gangguan paru salah satunya efusi pleura. Efusi pleura merupakan penyakit yang dapat timbul dari penyakit primer seperti gagal jantung kongestif, sirosis hari dan sindrom nefrotik dengan keadaan meningkatnya cairan didalam cavum pleura, sehingga diberikan tindakan pemasangan water seal drainage (WSD) untuk mempertahankan tekanan udara dalam paru agar dapat normal. Efusi pleura post WSD menyebabkan gangguan berupa sesak napas, terjadinya perubahan pola nafas dan perubahan postur tubuh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui penatalaksanaan fisioterapi dengan infrared dan deep breathing exercise terhadap expansi thoraks pada penderita efusi pleura post WSD. Metode penelitian ini menggunakan studi kasus pada penderita efusi pleura post WSD rawat inap di RS Umum Dungus Madiun dengan frekuensi terapi Infrared 4x dan deep breathing exercise dengan 8x selama 9 hari. Nyeri diukur dengan menggunakan VAS dan Ekspansi thoraks diukur dengan menggunakan pita ukur. Hasil penelitian didapatkan bahwa infrared dan deep breathing exercise dapat menurunkan nyeri dan meningkatkan ekspansi thoraks pada penderita efusi pleura post WSD.
... Masih banyak pula lansia yang menganggap remeh kesehatannya dengan mengkonsumsi makanan secara berlebih, kurang mengatur pola makan, serta mengkonsumsi obatobatan di pasaran secara berkala (Kuniano, 2015). Hal ini akan mengakibatkan organ yang tidak sakit menjadi radang (Widowati et al., 2017). Berbagai upaya telah dilakuakn oleh PRA Prenggan untuk mengantisipasi dan meminimalisir hal tersebut. ...
Article
Full-text available
Acupuncture is a popular but controversial treatment option for low back pain. In China, it is practised as traditional Chinese medicine; other treatment strategies for low back pain are commonly practised as Western medicine. Research on patient preference for low back-pain treatment options has been mainly conducted in Western countries and is limited to a willingness-to-pay approach. A stated-preference, discrete choice experiment was conducted to determine Chinese patient preferences and trade-offs for acupuncture and low frequency infrared treatment in low back pain from September 2011 to August 2012 after approval from the Department of Scientific Research in the study settings. Eight-six adult outpatients who visited the 'traditional medicine department' at a traditional Chinese medicine hospital and the 'rehabilitation department' at a Western medicine hospital in Guangdong Province of China for chronic low back pain during study period participated in an interview survey. A questionnaire containing 10 scenarios (5 attributes in each scenario) was used to ask participants' preference for acupuncture, low frequency infrared treatment or neither option. Validated responses were analysed using a nested-logit model. The decision on whether to receive a therapy was not associated with the expected utility of receiving therapy, female gender and higher out-of-pocket payment significantly decreased chance to receive treatments. Of the utility of receiving either acupuncture or low frequency infrared treatment, the treatment sensation was the most important attribute as an indicator of treatment efficacy, followed by the maximum efficacy, maintenance duration and onset of efficacy, and the out-of-pocket payment. The willingness-to-pay for acupuncture and low frequency infrared treatment were about $618.6 and $592.4 USD per course respectively, demonstrated patients' demand of pain management. The treatment sensation was regarded as an indicator of treatment efficacy and the most important attribute for choosing acupuncture or low frequency infrared treatment. The high willingness-to-pay demonstrated patients' demand of pain management. However, there may be other factors influencing patients' preference to receive treatments.
Article
BI SyndromeFacial ParalysisShoulder PainScapula-Chest Pain (Jia-Qi Pain)Elbow PainParalysis Of The Radial NerveCarpal PainBucked ShinsSplintsTendon And Ligament ProblemsFetlock And Pastern PainHeel And Hoof PainHip PainSciatic And Femoral Nerve ParalysisStifle PainHock PainCervical BI Syndrome And Wobbler's SyndromeEquine Protozoal Myeloencephalitis (EPM)Lyme DiseaseLaryngeal Paralysis Or HemiplegiaTying Up (Exertional Rhabdomyolysis)AnhidrosisSeizures
Article
Introduction: Low-level laser therapy (LLLT) is thought to have analgesic and biomodulatory effects. Our objective was to assess the pain-relieving effect of LLLT and possible changes in joint stiffness and disability of patients with knee osteoarthritis (KOA) and compare it to the more commonly used modality; therapeutic ultrasound(US). Methods: 37 patients with mild or moderate KOA were randomized to receive either LLLT, placebo LLLT or US. All patients received a common treatment including acetaminophen (up to 2gr/d) and medical advices for lifestyle modification and exercise. Treatments were delivered 5 times a week over a period of 2 weeks. Active laser group was treated with a diode laser (wavelength 880nm, continuous wave, power 50 mW) at a dose of 6J/point (24J/knee). The placebo control group was treated with an ineffective probe (power 0 mW) of the same appearance. The third group received pulsed ultrasound with an intensity of 1.5-2w/cm 2, and for 5 minutes per knee. Visual Analogue Scale (VAS) and Western Ontario MacMaster (WOMAC) questionnaires were used for data gathering before,1 and 3 months after completing the therapy. Results: Pain reduced in all 3 groups but laser was superior in comparison. Stiffness improved 1 mo after therapy in the laser group but not in the others. Disability decreased in both laser and US groups (more significantly in the laser group) but not in the placebo group. Conclusion: Our results show that LLLT reduces pain, joint stiffness and disability in KOA and is superior to placebo and US.
Article
This study investigated the effects of an acupoint-stimulating lumbar backrest on pain and disability in office workers who suffering from low back pain (LBP) as well as the preference influence on pain and disability. Sixty-four participants were randomly assigned to two groups: one with no intervention (n=32) and another with 1 month of backrest use (n=32). An additional group (n=37) who wished to try 1 month of acupressure backrest were recruited to indicate the preference effect. Pain and disability were two key outcomes. Significant differences between control and randomized acupressure backrest groups were found at 2 week period for disability and at 4 weeks for pain after the backrest use. Also, significant differences were found in both groups for 3 month period with an increase of the treatment effect on pain and disability. Both control and randomized acupressure backrest groups showed greater improvement in pain and disability scores which were more than the minimal clinically important change (30% improvement for both outcomes). No significant difference was found for pain and disability between the randomized and preferred backrest groups. These findings suggested 1-month of acupressure backrest use could improve LBP conditions. Preference was not a powerful moderator to the significant treatment effect. Copyright © 2015 Elsevier Ltd. All rights reserved.
Article
Lasers, light emitting diodes (LEDs) and super luminous diodes (SLDs) are widely used to treat selected musculoskeletal, integumentary and neurological conditions.The mechanisms underlying the reported treatment effects of light therapy are unclear and the physiologic effect of light on a variety of tissues, particularly neurological, is mostly unknown. A few researchers have reported on the effects of lasers and to a lesser extent infrared LEDs on nerve conduction in superficial nerves, but there is little evidence of the effects of SLDs and red LEDs on conduction parameters of peripheral nerves. The purpose of this study was to examine the effects of a light therapy generated by cluste rprobe containing an array of infrared super luminous and red light emitting diodes on superficial radial nerve conduction. This was a single blind, randomized controlled trial conducted in an academic clinical laboratory. Thirty-two healthy participants (mean age = 25 years) were randomized to a treatment group or a placebo group. The treatment group received light irradiation through the application of a cluster probe containing 32 infrared (880nm) SLDs and 4 red (660nm) LEDs for 30 seconds at a dose of 6 J/cm(2) to each of the two 5 cm(2) segments of skin overlying the superficial radial nerve. The placebo group received identical set-up without the application of light irradiation. Negative peak latency (NPL) and conduction velocity (NCV) for the superficial radial nerve were measured before treatment and for 10-minutes following treatment at 2-minute intervals. Skin temperature was monitored throughout. No significant differences between groups and over time for NPL, NCV, or temperature difference scores were identified. However, a significant increase in skin temperature was measured over time at each time point compared to baseline. Light irradiation using a cluster probe containing infrared super luminous and red light emitting diodes does not impact the neurophysiological properties of the superficial radial nerve.
Article
There is evidence for the efficacy of acupuncture treatment for chronic shoulder pain, but it remains unclear which acupuncture modes are most effective. We compared the effect of trigger point acupuncture (TrP), with that of sham (SH) acupuncture treatments, on pain and shoulder function in patients with chronic shoulder pain. The participants were 18 patients (15 women, 3 men; aged 42–65 years) with nonradiating shoulder pain for at least 6 months and normal neurological findings. The participants were randomized into two groups, each receiving five treatment sessions. The TrP group received treatment at trigger points for the muscle, while the other group received SH acupuncture treatment on the same muscle. Outcome measures were pain intensity (visual analogue scale, VAS) and shoulder function (Constant–Murley Score: CMS). After treatment, pain intensity between pretreatment and 5 weeks after TrP decreased significantly (p < 0.001). Shoulder function also increased significantly between pretreatment and 5 weeks after TrP (p < 0.001). A comparison using the area under the outcome curves demonstrated a significant difference between groups (p = 0.024). Compared with SH acupuncture therapy, TrP therapy appears more effective for chronic shoulder pain.