ArticlePDF Available

Efektifitas Self Management Module dalam Mengatasi Morning Sickness

Authors:

Abstract

Perubahan fisiologis pada kehamilan trimester pertama banyak menimbulkan keluhan, salah satunya adalah mual muntah. Ibu hamil yang mengalami mual muntah kebanyakan tidak mengetahui cara mengatasinya, hanya membiarkan saja ketika keluhan itu datang. Ibu baru pergi ke tempat pelayanan kesehatan ketika keluhan tersebut sudah mengganggu aktifitas. Mual muntah pada kehamilan seharusnya dapat diatasi dengan perubahan perilaku. Self management module dapat merubah perilaku dengan informasi untuk mengatasi mual muntah tanpa penggunaan terapi farmakologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh self management module dalam mengatasi morning sicknes pada ibu hamil. Penelitian ini merupakan penelitian pre experiment dengan rancangan pre and posttest one group. Data dikumpulkan melalui pengukuran frekuensi mual muntah menggunakan (PUQE)-24. Responden yang terlibat sebanyak 30 orang. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil uji normalitas menunjukkan data terdistribusi tidak normal. Rerata nilai pretest=6,52 (SD=1,947) dan posttest=4,52 (SD=1,895). Terdapat 27 responden yang mengalami penurunan skor, dua orang mengalami peningkatan skor, dan satu orang memiliki skor yang sama saat pretest maupun posttest. Perbedaan nilai pretest dan posttest dianalisis menggunakan uji Wilcoxon, sehingga diperoleh nilai signifikansi 0,000 (p
10 JKP - Volume 5 Nomor 1 April 2017
Efektitas Self Management Module dalam
Mengatasi Morning Sickness
Lutfatul Latifah, Nina Setiawati, Eti Dwi hapsari
Jurusan Keperawatan FIKes UNSOED
Email: latifah.lutfatul@gmail.com
Abstrak
Perubahan siologis pada kehamilan trimester pertama banyak menimbulkan keluhan, salah satunya adalah
mual muntah. Ibu hamil yang mengalami mual muntah kebanyakan tidak mengetahui cara mengatasinya,
hanya membiarkan saja ketika keluhan itu datang. Ibu baru pergi ke tempat pelayanan kesehatan ketika keluhan
tersebut sudah mengganggu aktitas. Mual muntah pada kehamilan seharusnya dapat diatasi dengan perubahan
perilaku. Self management module dapat merubah perilaku dengan informasi untuk mengatasi mual muntah
tanpa penggunaan terapi farmakologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh self management
module dalam mengatasi morning sicknes pada ibu hamil. Penelitian ini merupakan penelitian pre experiment
dengan rancangan pre and posttest one group. Data dikumpulkan melalui pengukuran frekuensi mual muntah
menggunakan (PUQE)-24. Responden yang terlibat sebanyak 30 orang. Data dianalisis menggunakan
uji Wilcoxon. Hasil uji normalitas menunjukkan data terdistribusi tidak normal. Rerata nilai pretest=6,52
(SD=1,947) dan posttest=4,52 (SD=1,895). Terdapat 27 responden yang mengalami penurunan skor, dua orang
mengalami peningkatan skor, dan satu orang memiliki skor yang sama saat pretest maupun posttest. Perbedaan
nilai pretest dan posttest dianalisis menggunakan uji Wilcoxon, sehingga diperoleh nilai signikansi 0,000
(p<0,05). Terdapat perbedaan skor PUQE sebelum dan sesudah pemberian self management module morning
sickness. Self management module morning sickness efektif dalam mengatasi morning sickness pada ibu hamil.
Kata kunci: Morning sickness, PUQE, self management module, terapi nonfarmakologi.
Eectiveness Self Management Module in Overcoming Morning Sickness
Abstract
Physiological changes during the rst-trimester prenatal period may cause many problems, one of which is morning
sickness. Many pregnant women having morning sickness did not know the solution. Mostly, they ignored it. They
went to the health services when the problem got worse and interfered their activities. After all, morning sickness
should be solved by behavior change. Self-management module can vary the behavior by giving information to
overcome morning sickness without pharmacological therapy. A quantitative research with pre-experiment, pre
and post-test one group design, this study, therefore, aims at determining the eect of self-management module
in overcoming morning sickness on pregnant women. Data were collected by Pregnancy-Unique Quantication
of Emesis (PUQE)-24 scoring system. The study participants were 30 pregnant women. Data were analyzed by
Wilcoxon. Based on the normality test results, data distribution was abnormal. The mean value of pretest = 6.52
(SD = 1.947) and post-test = 4.52 (SD = 1.895). There were 27 respondents who experienced a decline in scores,
two of whom increased scores and one had similar pretest and posttest scores. Dierences in the pretest and
posttest values using Wilcoxon test signicance value of 0.000 (p <0.05). There was a dierence PUQE scores
before and after administration of self-management module morning sickness. It could be concluded that the
self management module of morning sickness is eective in overcoming pregnant women’s morning sickness.
Keywords: Morning sickness, non-pharmacological therapy, PUQE, self management module.
11JKP - Volume 5 Nomor 1 April 2017
Pendahuluan
Wanita hamil mengalami mual dan muntah
terutama pada trimester pertama yaitu saat
usia kehamilan sekitar 6 dan 12 minggu,
tetapi sekitar 20% wanita hamil dapat
mengalami mual muntah hingga usia
kehamilan 20 minggu (Jewell, 2003). Koren
et al. (2005) menyatakan bahwa mual dan
muntah merupakan gangguan medis tersering
selama kehamilan. Jewell dan Young (2003)
mengidentikasi angka kejadian mual
antara 70-85%, dengan sekitar setengah dari
persentase ini mengalami muntah. Menurut
O’Brien dan Naber (1992), lebih dari 70%
wanita hamil yang mengalami mual dan
muntah selama kehamilan, 28% diantaranya
melaporkan bahwa mual dan muntah tersebut
menyebabkan aktitasnya terganggu.
Mual dan muntah pada kehamilan,
umumnya dikenal sebagai "morning
sickness" yang memengaruhi sekitar 80%
wanita hamil (Matthews et al., 2010).
Wanita hamil yang mengalami mual muntah
kebanyakan tidak mengetahui cara mengatasi
keluhan mual muntah. Saat keluhan itu
datang, mereka hanya membiarkannya saja
dan tetap melakukan aktivitasnya. Apabila
keluhan sudah mengganggu aktivitas, mereka
akan pergi ke Rumah Sakit, Klinik, atau
Puskesmas terdekat dan mereka akan diberi
obat antimuntah. Meskipun aman bagi janin,
sebagian antiemetik kontraindikasi terhadap
kehamilan (Mazzotta & Magee, 2000).
Penggunaan obat untuk ibu hamil perlu
diperhatikan karena terjadi banyak perubahan
farmakokinetik maupun farmakodinamik
obat saat terjadi kehamilan.
Mual dan muntah saat hamil sebenarnya
adalah gangguan yang ringan, kondisi ini
pada kenyataannya dapat diatasi dengan
pengendalian diri (Matthews et al., 2010).
Kusmana, Latifah, dan Susilowati (2012)
melakukan penelitian tentang pengaruh
hipnoterapi dalam menurunkan frekuensi
mual dan muntah pada ibu hamil, hasil
penelitian menyatakan ada pengaruh
hipnoterapi terhadap penurunan frekuensi
mual dan muntah. Hipnoterapi yang
dilakukan berisi penguatan dan pengendalian
diri terhadap keinginan mual muntah dengan
cara terapis memberikan kata-kata sugestif
agar ibu hamil secara alam bawah sadar
mengendalikan organ pencernaannya untuk
tidak mengalami mual dan muntah. Selain
pengendalian diri, mual muntah juga dapat
diatasi dengan menciptakan perilaku untuk
mengurangi keluhan (Ward & Hisley, 2009).
Menciptakan perilaku untuk hidup sehat
sesuai kondisi pasien merupakan bagian dari
self management.
Self management merupakan istilah yang
digunakan pada promosi dan pendidikan
kesehatan serta berguna bagi pasien yang
mengalami gangguan sik maupun psikologis
melalui perbaikan perspektif diri dan
kesejahteraan pasien (Kate & Halsted, 2003).
Kondisi morning sickness, selain disebabkan
oleh hormon kehamilan, juga karena kondisi
psikologis ibu hamil itu sendiri (Littleton
& Engebretson, 2002). Beberapa penelitian
membuktikan bahwa self management dapat
memperbaiki kondisi pasien (Bourbeau
et al., 2003; Buml & Garret, 2005; Lorig,
Sobel, Ritter, Laurent, & Hobbs, 2001),
tetapi belum ada penelitian self management
untuk mengatasi morning sickness. Terdapat
setidaknya dua hal dalam self management,
yaitu (1) manajemen pengobatan dan (2)
mempertahankan, merubah, dan menciptakan
perilaku hidup sehat yang baru sesuai dengan
kondisi pasien (Corbin & Straus dalam Kate
& Halsted , 2003).
Self management morning sickness
mengadopsi konsep dari Corbin dan Straus
dalam Kate dan Halsted (2003) tersebut,
yang dituangkan dalam bentuk modul
berisi pengetahuan dasar morning sickness,
kebiasaan dan intervensi yang dapat
mengurangi morning sickness, diet untuk
mencegah morning sickness, dan menu
makanan sehat yang dapat disusun sendiri
oleh ibu. Modul yang disusun sendiri oleh
peneliti ini bertujuan agar ibu hamil dapat
mengedukasi diri sendiri sehingga mampu
untuk mengatur hidup sendiri, mengatur
tujuan, dan menyediakan penguat untuk diri
sendiri dalam menangani mual muntah yang
dialami.
Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan
Mei sampai September 2014 di wilayah
kerja Puskesmas Kembaran, Kecamatan
Lutfatul Latifah : Efektitas Seif Management Modul dalam mengatasi Morning Sickness
12 JKP - Volume 5 Nomor 1 April 2017
Kembaran, Kabupaten Banyumas. Sampel
dalam penelitian ini sejumlah 30 responden
yang memenihi kriteria inklusi dan eksklusi.
Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah
ibu hamil yang mengalami mual muntah.
Sedangkan kriteria eksklusinya adalah
ibu hamil yang mengalami hiperemesis
gravidarum dan gastritis. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh self
management morning sickness module dalam
mengatasi morning sickness dengan melihat
penurunan skor mual muntah dalam 24 jam
terakhir.
Penelitian ini menggunakan 2 instrumen,
yaitu kuesioner data demogra dan Pregnancy-
Unique Quantication of Emesis and Nausea
(PUQE)-24 scoring system. Kuesioner data
demogra berisi 5 pertanyaan, yaitu usia,
pendidikan, pekerjaan, usia kehamilan,
dan status gravida responden. Instrumen
Pregnancy-Unique Quantication of Emesis
and Nausea (PUQE) scoring system adalah
instrumen penelitian yang dikembangkan
oleh Koren et al. (2002) dan telah divalidasi
oleh Koren et al. (2005) kemudian digunakan
dalam beberapa penelitian (Lacasse et al.,
2008; Kusmana, Latifah, & Susilowati,
2012). PUQE scoring system yang digunakan
tersebut adalah untuk mengukur tingkat
keparahan mual dan muntah pada kehamilan
dalam 12 jam sehingga disebut Pregnancy-
Unique Quantication of Emesis (PUQE)-
12 hour. Ebrahimi, Mastepe, Bournissen,
dan Koren (2009) kemudian memodikasi
PUQE-12 hour menjadi PUQE-24. PUQE-
24 adalah sistem penilaian untuk mengukur
tingkat keparahan mual muntah kehamilan
dalam 24 jam. Skor PUQE untuk setiap pasien
dihitung dengan menggunakan tiga kriteria
untuk menilai keparahan mual muntah selama
kehamilan (jumlah jam merasakan mual,
jumlah episode muntah, dan jumlah episode
muntah kering dalam 24 jam terakhir). Skor
PUQE dihitung dengan menambahkan nilai-
nilai dari masing-masing kriteria, dan dapat
berkisar dari minimal 1 sampai maksimal
15. Penelitian ini menggunakan instrumen
penelitian PUQE-24. Pengukuran skor PUQE
dilakukan 2 kali, yaitu sebelum memberikan
modul dan setelah 2 minggu pemberian
modul. Diantara pengukuran dilakukan juga
monitoring terhadap penggunaan modul
yaitu seminggu setelah pemberian modul.
Modul self management morning sickness
dikembangkan sendiri oleh peneliti. Modul ini
berisi informasi tentang perubahan sik dan
psikologis yang berkaitan dengan morning
sickness, pengetahuan dasar tentang morning
sickness (pengertian dan penyebab), serta
penanganan morning sickness (kebiasaan dan
intervensi yang dapat mengurangi morning
sickness, diet untuk mencegah morning
sickness dan menu makanan sehat).
Analisis data untuk mengetahui pengaruh
pemberian self management module terhadap
frekuensi mual muntah dilakukan dengan
melihat skor PUQE-24 menggunakan uji
Wilcoxon. Penurunan skor PUQE diketahui
dengan melihat selisih rerata penurunan skor
pretest dan posttest.
Penelitian ini dilaksanakan melalui 2
tahap, yaitu persiapan dan pelaksanaan. Pada
tahap pelaksanaan dilakukan pengumpulan
data demogra responden, mengukur skor
Table 1 Motherisk Pregnancy-Unique Quantication of Emesis and Nausea (PUQE)-24
Scoring System
Dalam 24 jam terakhir, untuk
berapa lama Anda merasa mual
atau tidak nyaman pada perut?
Tidak sama
sekali
1 jam atau kurang 2-3 jam 4–6 jam > 6 jam
Score 1 2 3 4 5
Dalam 24 jam terakhir, apakah
Anda muntah-muntah?
Tidak muntah 1-2 kali 3-4 kali 5-6 kali ≥ 7 kali
Score 1 2 3 4 5
Dalam 24 jam terakhir, berapa kali
Anda telah mengalami muntah
kering?
Tidak pernah 1-2 kali 3-4 kali 5-6 kali ≥ 7 kali
Score 1 2 3 4 5
Lutfatul Latifah : Efektitas Seif Management Modul dalam mengatasi Morning Sickness
13JKP - Volume 5 Nomor 1 April 2017
PUQE-24, dan memberikan modul morning
sickness untuk dipelajari oleh responden.
Setelah satu minggu, peneliti kembali
mengunjungi responden untuk memastikan
responden melakukan intervensi seperti
yang tertulis di dalam modul. Satu minggu
kemudian dilakukan pengukuran kembali
skor PUQE-24.
Hasil Penelitian
1. Karekteristik Responden
Pada tabel 3 dapat diketahui bahwa nilai
PUQE pada ibu hamil yang mengalami mual
muntah sebelum diberikan self management
module morning sickness memiliki nilai rata-
rata 6,52 dengan nilai maksimum 11 dan
Tabel 2 Karekteristik Responden
Karekteristik N %
Usia
a. < 20 tahun 26,67
b. 20-35 tahun 27 90,00
c. >35 tahun 13,33
Pendidikan
a. SD 6 20,00
b. SMP 12 40,00
c. SMA 10 33,33
d. S1 26,67
Pekerjaan
a. IRT 23 76,67
b. Pedagang 26,67
c. Karyawan 516,67
Usia Kehamilan
a.1-12 minggu 18 60,00
b.13-24 minggu 12 40,00
c.>25 minggu 00,00
Status Gravida
a.Primigravida 12 40,00
b.Multigravida 18 60,00
Gejala Morning Sickness
Pretest
a.Tidak ada 0 0
b.Ringan 22 73,33
c.Sedang 8 26,67
d.Berat 0 0
Posttest
a. Tidak ada 9 30
b. Ringan 18 60
c. Sedang 3 10
d. Berat 0 0
Lutfatul Latifah : Efektitas Seif Management Modul dalam mengatasi Morning Sickness
14 JKP - Volume 5 Nomor 1 April 2017
nilai minimumnya 4. Nilai PUQE setelah
self management module morning sickness
memiliki nilai rata-rata 4,52 dengan nilai
maksimum 12 dan nilai minimum 3.
Pembahasan
Ditinjau dari karekteristik responden (Tabel
1), usia terbanyak berada pada rentang 20-35
tahun. Tidak jauh berbeda dengan penelitian
yang dilakukan oleh Shrim, Weisz, Gindes,
Dulitzky, dan Almog (2010), rata-rata usia
ibu hamil yang mengalami mual muntah
adalah 29 tahun. Sari (2013) menjelaskan
tentang hubungan antara usia ibu hamil
dengan kejadian hiperemesis gravidarum,
pada ibu hamil yang berusia kurang dari 20
tahun, rahim belum berfungsi secara optimal.
Secara psikologis, ibu hamil yang berumur
kurang dari 20 tahun belum siap menerima
kehamilannya, belum matang emosinya,
cenderung labil, dan belum siap untuk
menjadi orang tua. Hal ini dapat memicu
konik mental atau stres yang membuat ibu
tidak memperhatikan asupan nutrisinya yang
berlanjut pada mual dan muntah. Sedangkan
mual muntah yang terjadi pada ibu hamil
yang berusia diatas 35 tahun dikarenakan
oleh kondisi psikologis akibat takut memiliki
anak di usia tua, sehingga perubahan emosi
ini memicu muntah yang berlebihan.
Tingkat pendidikan responden terbanyak
adalah SMP sebesar 40%. Hasil penelitian ini
tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan
oleh Suwarnisih (2011), dimana didapatkan
data pendidikan ibu hamil yang mengalami
mual muntah yang terbanyak adalah lulus
2. Nilai Pregnancy-Uniqe Quantication of Emesis and Nausea (PUQE)-24 Sebelum dan
Sesudah Diberikan Self Management Module Morning Sickness
Tabel 3 Nilai Pregnancy-Uniqe Quantication of Emesis and Nausea (PUQE)-24 Sebelum dan
Sesudah Diberikan Self Management Module Morning Sickness
Variabel Mean SD Minimum Maksimum
Pretest 6,52 1,947 4 11
Posttest 4,52 1,895 3 12
Tabel 4 Wilcoxon Signed Ranks Test
NMean Rank Sum of Ranks
Posttest - Pretest Negative Ranks 27a 15,76 425,50
Positive Ranks 2b 13,17 39,50
Ties 1c
Total 30
3.Pengujian Hipotesis
Uji Wilcoxon digunakan karena data tidak memenuhi syarat uji parametrik. Hasil analisis
tercantum pada tabel 4 dan 5.
Katerangan :
a. Posttest < Pretest
b. Posttest > Pretest
c. Posttest = Pretest
Tabel 5 Hasil Analisis Statistik dengan WIlcoxon
Variabel Mean SD Nilai p
Sebelum 6,52 1,947 0,000
Sesudah 4,52 1,895
Lutfatul Latifah : Efektitas Seif Management Modul dalam mengatasi Morning Sickness
15JKP - Volume 5 Nomor 1 April 2017
SMA sejumlah 18 responden (45,5%). Hal ini
dimungkinkan karena wilayah tempat tinggal
responden pada penelitian ini merupakan
wilayah pedesaan dan jenjang sekolah yang
terdekat dengan wilayah tersebut paling
tinggi adalah SMP.
Karekteristik responden berdasarkan
pekerjaan, menunjukkan bahwa responden
dalam penelitian ini adalah ibu rumah tangga,
pedagang, dan karyawan swasta. Hampir
seluruh responden merupakan ibu rumah
tangga yaitu sejumlah 23 orang (76,67%).
Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian
yang dilakukan Suwarnisih (2011), dimana
karyawan swasta merupakan profesi yang
banyak didapatkan dalam penelitiannya.
Sedangkan dalam penelitian yang dilakukan
Elsa dan Pertiwi (2012), didapatkan hasil
yang sama dengan penelitian ini yaitu ibu
rumah tangga merupakan mayoritas ibu
hamil yang mengalami mual muntah yaitu
32,14%.
Pekerjaan berhubungan dengan kondisi
sosial ekonomi yang juga memengaruhi
pola makan, aktitas, dan stres pada ibu
hamil. Apabila seorang ibu ikut membantu
penghasilan dalam rumah tangga, maka
pada saat hamil mereka lebih banyak
mengeluarkan tenaga dan pikiran. Sehingga
efeknya dapat berpengaruh pada kondisi
sik dan psikologis. Kondisi tersebut dapat
menyebabkan stimulasi pada pusat muntah di
otak yang menyebabkan mual muntah. Selain
itu, perjalanan ke tempat kerja yang mungkin
terburu-buru di pagi hari tanpa waktu yang
cukup untuk sarapan, dapat menyebabkan
mual dan muntah (Tiran, 2009).
Sesuai dengan tujuan penelitian, hasil
penelitian ini menggambarkan kecenderungan
penurunan skor PUQE-24 dari sebelum
pemberian dan sesudah pemberian modul.
Rerata skor PUQE-24 mengalami penurunan
sebesar 2 poin yaitu sebesar 6,52 dengan
standar deviasi 1,947 sebelum perlakuan, dan
4,52 dengan standar deviasi 1,895 setelah
perlakuan. Hasil analisis statistik dengan
uji Wilcoxon menunjukkan sejumlah 27
reponden (90%) mengalami penurunan skor
PUQE-24 dengan nilai p=0,000. Hal ini
membuktikan bahwa terdapat pengaruh yang
signikan pada pemberian self management
module dalam mengatasi morning sickness.
Kohen et al. (2005) mengkatagorikan
tingkat keparahan mual muntah dalam
kehamilan menjadi 3 katagori. Nilai skor 0-3
tidak ada gejala, nilai skor 4-6 gejala ringan,
nilai skor 7-12 sedang, dan nilai skor 13
katagori berat. Berdasarkan karekteristik
frekuensi morning sickness, sebelum
perlakuan terdapat 73,33% responden
mengalami mual muntah ringan dan 26,67%
mengalami mual muntah sedang. Tidak ada
responden yang mengalami mual muntah
berat. Setelah perlakuan, responden yang
mengalami mual muntah ringan menjadi
60%, sedang 10% dan 30% menjadi tidak
mengalami mual muntah. Dari 22 responden
yang mengalami mual muntah katagori
ringan saat pretest, sebanyak 19 responden
mengalami penurunan skor, 2 responden
mengalami peningkatan, dan 1 responden
memiliki skor tetap. Dari 19 responden yang
mengalami penurunan skor, 7 responden
menjadi tidak mengalami mual muntah sama
sekali, dan 12 responden tetap mengalami
mual muntah ringan tetapi skornya berkurang.
Sedangkan 8 responden yang mengalami
mual muntah dengan katagori sedang setelah
diberikan perlakuan, sebanyak 2 responden
menjadi tidak mengalami mual muntah sama
sekali, 5 responden mengalami penurunan
skor menjadi kategori mual muntah ringan,
dan 1 responden tetap mengalami mual
muntah sedang tetapi skornya berkurang.
Hasil uji statistik Wilcoxon menunjukkan
perbedaan yang signikan antara skor PUQE
sebelum pemberian modul self management
morning sickness dan sesudah pemberian. Hal
ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh
modul self management morning sickness
terhadap penurunan frekuensi mual muntah
pada ibu hamil. Penurunan skor PUQE
sebelum dan sesudah perlakuan pada ibu yang
mengalami morning sickness katagori sedang
lebih besar dibandingkan dengan katagori
ringan. Hal ini dibuktikan dengan penurunan
pada katagori sedang sebesar 50%, sementara
pada katagori ringan hanya 21,3%. Walaupun
terdapat perbedaan, akan tetapi modul ini
sama-sama berpengaruh terhadap penurunan
skor PUQE, sehingga dapat disimpulkan
bahwa modul self management ini efektif
dalam mengatasi morning sickness pada ibu
hamil.
Penggunaan modul self management
morning sickness untuk menurunkan
Lutfatul Latifah : Efektitas Seif Management Modul dalam mengatasi Morning Sickness
16 JKP - Volume 5 Nomor 1 April 2017
frekuensi mual muntah pada ibu hamil baru
pertama kali diteliti di Indonesia. Namun,
modul self management sebenarnya sudah
diterapkan pada beberapa perawatan mandiri
penyakit kardiovaskular dan skizofrenia.
Metode perawatan self management sudah
pernah diteliti pengaruhnya pada penyakit
kronis yaitu penyakit kardiovaskuler, diabetes
melitus, penyakit paru obstruktif kronik, dan
penyakit skizofrenia. Pasien diabetes yang
mengikuti program self management terbukti
secara signikan mengalami perbaikan pada
keadaan klinisnya (penurunan gula darah),
dapat mencapai target perawatan diri, dan
merasa puas dengan pelayanan kesehatan
(Buml & Garret, 2005). Pasien dengan
penyakit kronik secara umum mengalami
peningkatan kesehatan dan penurunan jumlah
kunjungan ke rumah sakit dalam satu tahun
setelah melakukan self management (Lorig,
Sobel, Ritter, Laurent, & Hobbs, 2001).
Penelitian pada penyakit paru obstruktif
menahun (PPOM) juga memperlihatkan
hasil yang sama postitifnya. Pada pasien
yang mengikuti program self management
mengalami penurunan keparahan penyakit
sebanyak 39,8%, penurunan jumlah
kunjungan ke rumah sakit sebanyak 57,1%,
penurunan jumlah kunjungan ke dokter secara
insidental sebanyak 58,9%, dan penurunan
kunjungan ke unit gawat darurat sebesar 41%
(Bourbeau et al., 2003).
Self management menjadi salah satu
istilah yang umum dipakai pada promosi
kesehatan dan pendidikan kesehatan pasien.
Self management sangat berguna bagi pasien
terutama pasien dengan penyakit kronis dimana
hanya pasien yang dapat bertanggungjawab
terhadap perawatan penyakitnya sehari-
hari selama masa sakitnya. Pasien dengan
penyakit kronis selain mengalami gangguan
sik, biasanya juga mengalami gangguan
psikologis dan kesejahteraan. Oleh sebab itu,
program self management seringkali berfokus
untuk memperbaiki persepktif diri dan
kesejahteraan pasien (Kate & Halsted, 2003).
Modul self management morning sickness
ini berisi tentang beberapa intervensi untuk
mengatasi mual muntah selama kehamilan,
diantaranya adalah konsumsi minuman jahe,
pengaturan makanan, mobilisasi bertahap
saat pagi hari, akupresur, dan relaksasi.
Beberapa penelitian telah membuktikan
bahwa produk jahe yang dapat berupa
minuman maupun ekstrak, terbukti dalam
mengatasi mual dan muntah selama kehamilan
(Saswita, 2011; Fischer-Rasmussen et al.,
2001). McKinney et al. (2009) mengatakan
bahwa pengaturan makan dengan makan
porsi sedikit tetapi sering, menghindari
makanan yang berminyak, lebih banyak
mengkonsumsi protein dibandingkan dengan
karbohidrat, dan memisahkan antara makan
dan minum dapat mengurangi kejadian mual
dan muntah selama kehamilan. Wentorf
dan Dykes (2001) serta Artika (2006),
menemukan bahwa akupresur dengan
melakukan penekanan pada titik P6 (titik
Neiguan) signikan dalam mengurangi mual
muntah selama kehamilan.
Selama jalannya penelitian tidak terdapat
responden yang mengeluhkan kesulitan
dalam menerapkan tugas dan anjuran pada
modul self management morning sickness.
Namun, beberapa responden menyatakan
bahwa tidak semua tugas yang ada dalam
modul bisa dilaksanakan, yang pertama
adalah akupresur pada pagi hari. Responden
tidak dapat melakukannya karena terkait
pekerjaan reponden. Kedua adalah memakan
biskuit sebelum beranjak dari tempat tidur,
beberapa responden menyatakan bahwa tidak
terbiasa untuk makan setelah bangun tidur.
Keterbatasan dalam penelitian ini adalah
jumlah responden yang hanya memenuhi
syarat uji non parametrik. Selain itu, peneliti
hanya mengukur skor mual muntah saat
posttest sehingga tidak diketahui tugas dan
anjuran dalam modul self management
morning sickness apa saja yang sudah
dilakukan oleh responden. Peneliti juga tidak
mengukur pengetahuan responden tentang
mual muntah dan cara mengatasinya saat
pre dan posttest sehingga peneliti tidak dapat
mengukur sejauh mana responden memahami
modul dan apakah responden melaksanakan
tugas dan anjuran dengan cara yang benar.
Simpulan
Pada hasil penelitian ini, dapat disimpulkan
bahwa self management module morning
sickness dapat digunakan untuk mengatasi
morning sickness. Walaupun penurunan skor
PUQE lebih besar pada responden dengan
Lutfatul Latifah : Efektitas Seif Management Modul dalam mengatasi Morning Sickness
17JKP - Volume 5 Nomor 1 April 2017
morning sickness katagori sedang, akan
tetapi secara keseluruhan modul ini dapat
digunakan pada responden dengan morning
sickness katagori ringan maupun sedang.
Hasil penelitian ini dapat berimplikasi
terhadap pengembangan ilmu keperawatan,
khususnya keperawatan maternitas, yaitu
self management module mengenai morning
sickness dapat diberikan sebagai acuan pada
ibu hamil yang melakukan kunjungan ANC
di berbagai pelayanan kesehatan.
Penelitian lebih lanjut diperlukan dengan
melibatkan jumlah responden yang lebih besar
dan area yang lebih luas. Selain itu juga perlu
adanya kelompok kontrol yang homogen baik
responden yang mengalami morning sickness
katagori ringan maupun sedang. Penelitian
selanjutnya dapat juga melihat perbedaan
tingkat pengetahuan responden sebelum dan
sesudah diberikan self management module
serta mengidentikasi tugas-tugas yang
terdapat dalam self management module
yang tidak dapat dipraktikan oleh responden.
Daftar Pustaka
Artika, P. (2006). Pengaruh akupresur pada
titik perikardium 6 terhadap penurunan
frekuensi muntah pada primigravida trimester
pertama dengan emesis gravidarum (Tugas
Akhir). Fakultas Kedokteran, Universitas
Brawijaya, Malang.
Bourbeau, J., Julien, M., Maltais, F., Rouleau,
M., Beaupré, A., & Bégin, R. (2003).
Reduction of hospital utilization in patients
with chronic obstructive pulmonary disease.
Arch Intern Med, 585–591.
Buml, B.M., & Garret, D.G. (2005). Patient
self management program of diabetes: First-
year clinical, humanistic and economic
outcomes. Journal of American Pharmachist
Association, 130–137.
Ebrahimi, N., Maltepe, C., Bournissen, F.G.,
& Koren, G. (2009). Nausea and vomiting
of pregnancy: Using the 24-hour Pregnancy-
Unique Quantication of Emesis (PUQE-24)
Scale. J Obstet Gynaecol Can, 803–807.
Elsa, W.V., & Pertiwi, H.W. (2012). Hubungan
paritas ibu hamil trimester i dengan kejadian
emesis gravidarum di Puskesmas Teras.
Jurnal Kebidanan, IV(02).
Fischer-Rasmussen, W., Kjaer, S.K., Dahl,
C., & Asping, U. (1991). Ginger treatment
of hyperemesis gravidarum. Eur J Obstet
Gynecol Reprod Biol. 4, 38(1), 19–24.
Jewell, D. (2003). Nausea and vomiting in
early pregnancy. American Family Physician,
68(1), 143–4.
Jewell, D., & Young, G. (2003). Interventions
for nausea and vomiting in early pregnancy.
Cochrane Database Syst Rev: CD000145.
Kate, R.L., & Halsted , R.W. (2003). Self
management education: History, denition,
outcomes and mechanism. Ann Behav Med,
1–7.
Koren, G., Boskovic, R., Hard, M., Maltepe,
C., Navioz, Y., & Einarson, A. (2002).
Motherisk-PUQE scoring system for nausea
and vomiting of pregnancy. American Journal
of Obstetrics and Gynecology, 186S(5 suppl),
S228 – S231.
Koren, G., Piwko, C., & Ahn, E. (2005).
Validation studies of the Pregnancy Unique-
Quantication of Emesis (PUQE) scores.
PMID: 16147725 (PubMed - indexed for
MEDLINE).
Kusmana, Y.H., Latifah, L., & Susilowati,
I. (2012). Pengaruh hipnoterapi terhadap
mual dan muntah pada ibu hamil trimester
pertama di Puskesmas Baturaden 2 (Skripsi).
Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Lacasse, A., Rey, E., Ferreira, E., Morin, C.
& Berard, A. (2008). Validity of a Modied
Pregnancy-Unique Quantication of Emesis
and Nausea (PUQE) scoring index to asses
severity of nausea and vomiting of pregnancy.
Am J Obstet Gynecol;198:71.e1–71.e7.
Littleton, L.Y., & Engebretson, J.C. (2002).
Maternal, neonatal and woman's health
nursing. New York: Delmar.
Lorig, K.R., Sobel, F.S., Ritter, P.R.,
Lutfatul Latifah : Efektitas Seif Management Modul dalam mengatasi Morning Sickness
18 JKP - Volume 5 Nomor 1 April 2017
Lutfatul Latifah : Efektitas Seif Management Modul dalam mengatasi Morning Sickness
Laurent, D., & Hobbs, M. (2001). Eect of
management program on patient with chronic
disease. American College of Phsycians.
Matthews, A., Dowswell, T., Haas, D.M.,
Doyle, M., & O'Mathúna, D.P. (2010).
Interventions for nausea and vomiting in
early pregnancy. Cochrane Database Syst
Rev; 9, CD007575.
Mazzotta, P., & Magee, LA. (2000). A risk-
benet assessment of pharmacological and
nonpharmacological treatments for nausea
and vomiting of pregnancy. PubMed, 59(4),
781-800.
McKinney, E.S., James, S.R., Murray, S.S., &
Ashwil, J.W. (2009). Maternal-child nursing
(3rd ed.). St. Louis, Missouri: Saunders
Elsevier.
O'Brien, B., & Naber, S. (1992). Nausea and
vomiting during pregnancy: Eects on the
quality of women's lives. Birth, 19(3), 138–
143.
Sari, S. (2013). Hubungan beberapa
faktor risiko ibu hamil dengan hiperemesis
gravidarum (Skripsi). Universitas Jambi,
Jambi.
Saswita, Dewi, Y.I., & Bayhakki. (2011).
Efektitas minuman jahe dalam mengurangi
emesis gravidarum pada ibu hamil trimester
I. Jurnal Ners Indonesia, 1(2).
Shrim, A., Welsz, B., Gindes, L., Dulitzki,
M., & Almog, B. (2010). Preferences of
caregiver when experiencing nausea and
vomiting during pregnancy. J. Perinat. Med.,
38, 157–160.
Suwarnisih. (2011). Tingkat pengetahuan
ibu tentang emesis gravidarum pada ibu
hamil trimester I di Rb Bidan Sulastri Gond
(Laporan Penelitian). Akademi Kebidanan
Mitra Husada Karanganyar, Karanganyar.
Tiran, D. (2009). Mual dan muntah kehamilan.
Jakarta: EGC.
Ward, S.K., & Hisley, S.M. (2009). Maternal-
child nursing care optimizing outcomes for
mothers, children, & families. Philadelphia:
F.A. Davis Company.
Werntoft, E., & Dykes, A.K. (2001). Eect
of acupressure on nausea and vomiting
during pregnancy. A randomized, placebo-
controlled, pilot study. J Reprod Med., 46(9),
835–9.
... Demographic variables (such as maternal age, gestational age, gravida, parity, history of nausea vomiting, abortion history, education, employment and economic status) were reported to be associated with the incidence of nausea and vomiting in pregnant women (2,7,8) taken using a questionnaire filled out by the respondents themselves. While the variable severity of vomiting nausea was measured using Unique Quantification of Emesis and Nausea (PUQE) -24 scoring system developed by Ebrahimi, Maltepe, Bournissen, & Koren (9) and has been translated into Indonesian and used in previous research (10). Descriptive statistics were used to analyze the description of each socio-demographic variable and the severity of nausea and vomiting. ...
Article
Full-text available
Nausea vomiting in pregnancy or commonly referred to as morning sickness is a common complaint in the first trimester, although it can also occur in the second trimester or all trimester. The purpose of this study was to determine the characteristic of pregnant women who experience morning sickness in rural areas. Respondents in this study were pregnant women who experienced morning sickness during July-September 2018 in rural areas of Banyumas District, Central Java Province, Indonesia. This study have used quantitative descriptive design.The results of univariate analysis of 61 pregnant women involved, 77% age of mothers were at low risk, 39,3% were junior high school education, 82% were not working, 60% were pregnant in the first trimester, 61,7% were multigravida, 55.7% did not have a history of nausea and vomiting, and 73,8% in the category of mild nausea and vomiting. It can be concluded that pregnant women who experience nausea and vomiting in rural areas are the majority of those who are of low risk, do not work, are pregnant for the first time, have early pregnancy, and with mild nausea and vomiting.
... Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa mual muntah pada kehamilan dapat diatasi dengan menggunakan non farmakoterapi baik berupa makanan atau minuman maupun intervensi lain. Beberapa non farmakoterapi untuk mengurangi keluhan mual muntah pada ibu hamil antara lain minuman jahe hangat (Wulandari, Kustriyanti and Aisyah, 2019), Pemberian sirup jahe merah (Suparmi and Kusumadewi, 2018), pemberian terapi aroma jeruk (Dhilon and Azni, 2018), pemberian aromaterapi ginger oil (Carolin and Ummah, 2019); konsumsi es krim (Kiswati, 2017), pemberian self management module morning sickness (Latifah, Setiawati and Dwi, 2017), dan pemberian akupresure titik p6 (Mariza and Ayuningtias, 2019 ...
Article
Full-text available
Emesis gravidarum dapat menyebabkan stress bagi ibu hamil sehingga dapat mempengaruhi kehamilan dan gangguan perkembangan janin. Salah satu cara agar ibu hamil mampu mengatasi keluhannya secara lebih aman adalah memberikan informasi tentang terapi non farmakologis dengan optimalisasi kelas ibu hamil melalui peran kader kesehatan. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku ibu hamil dalam mengatasi keluhan emesis gravidarum menggunakan terapi non farmakologis dengan optimalisasi kelas ibu hamil melalui peran kader kesehatan sejumlah 37 orang. Metode yang dilaksanakan dengan ceramah, diskusi, demonstrasi, tanya jawab dan praktik. Kegiatan optimalisasi kelas ibu hamil melalui peran kader kesehatan sangat tepat dalam meningkatkan tingkat pengetahuan dan ketrampilan kader sehingga mereka mampu mendampingi ibu hamil sebagai upaya peningkatan kesehatan masa kehamilan dalam mengatasi emesis gravidarum menggunakan terapi non farmakologis. Diharapkan Bidan Desa maupun Puskesmas yang terlibat aktif dalam kesehatan masa kehamilan agar terus membina serta memantau kegiatan dalam upaya meningkatkan kesehatan masa kehamilan.
... Mereka dapat mengurangi keluhan mual muntahnya dengan terapi non farmakologis yang sudah terbukti mampu menurunkan derajat mual mual muntah. Beberapa hasil penelitian telah membuktikan bahwa konsumsi permen jahe (Astuti, 2016), rebusan jahe merah dan daun mint (Soa, Amelia and Octaviani, 2018), seduhan jahe (Nugrahani, 2017), konsumsi pisang kapok (Ratih and Qomariah, 2017), Lemon inhalasi aromatherapy (Astriana, Putri and Aprilia, 2015) dan (Maternity, Ariska and Sari, 2017), aromaterapi lavender (Rahayu and Sugita, 2018), aromaterapi peppermint (Kartikasari, Ummah and Taqiiyah, 2017) dan self management module (Latifah, Setiawati and Dwi, 2017) mampu mengurangi mual muntah pada kehamilan. g. ...
Article
Full-text available
Mual muntah adalah gejala yang normal dalam kehamilan. Namun, apabila berlebihan sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari dan keadaan umum menjadi buruk yang disebut hiperemesis gravidarum dapat berakibat fatal bagi ibu dan janin. Tujuan penelitian ini adalah menggali berbagai hal tentang kejadian hiperemesis gravidarum yang dialami oleh ibu hamil trimester I. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif. Partisipan berjumlah lima belas orang terdiri dari ibu hamil, suami ibu hamil, bidan rumah sakit dan bidan desa. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan analisa menggunakan teknik induktif. Penelitian ini mengidentifikasi tujuh tema yaitu 1) Persepsi tentang hiperemesis gravidarum; 2) Faktor - faktor yang mempengaruhi hiperemesis gravidarum; 3) Kronologi hiperemesis gravidarum; 4) Pengobatan baik farmakologis maupun non farmakologis yang diterima ibu hamil dalam mengatasi hiperemesis gravidarum dari sejak keluhan awal; 5) Bentuk dukungan yang diterima ibu baik dari keluarga maupun tenaga kesehatan pada saat mengalami hiperemesis gravidarum; 6) Harapan ibu terhadap keluarga dan tenaga kesehatan untuk hiperemesis gravidarum; 7) Hambatan dalam mengatasi hiperemesis gravidarum. Harapannya agar bidan lebih aktif dalam memberikan informasi tentang hiperemesis gravidarum beserta cara mengatasinya; bagi ibu hamil supaya mencari informasi tentang hiperemesis gravidarum dari berbagai sumber dan mencari sumber dukungan untuk mengatasi hiperemesis gravidarum.
Article
Full-text available
To compare the antiemetic effect of acupressure at the Neiguan point (P6) in a group of healthy women with normal pregnancy and nausea and vomiting during pregnancy (NVP) with a similar group receiving acupressure at a placebo point and another, similar group not receiving any treatment. A randomized, placebo-controlled, pilot study involving 60 women. It is possible to reduce NVP significantly with acupressure at P6 as compared to acupressure at a placebo point or no treatment at all in healthy women with normal pregnancies. Relief from nausea appeared one day after starting treatment in both the P6 and placebo groups but lasted for only six days in the placebo group. The P6 group, however, experienced significantly less nausea after 14 days as compared to the other two groups. This study involved 60 healthy women with normal pregnancy and suffering from NVP. According to the results, in healthy women with normal pregnancy it is possible to reduce NVP significantly at P6 as compared to acupressure at a placebo point and to no treatment.
Article
Nausea and vomiting are the most common symptoms experienced in early pregnancy, with nausea affecting between 70 and 85% of women. About half of pregnant women experience vomiting. To assess the effects of different methods of treating nausea and vomiting in early pregnancy. We searched the Cochrane Pregnancy and Childbirth Group trials register (December 2002) and the Cochrane Central Register of Controlled Trials (The Cochrane Library, Issue 4, 2002). Randomised trials of any treatment for nausea and/or vomiting in early pregnancy. Two reviewers assessed the trial quality and extracted the data independently. Twenty-eight trials met the inclusion criteria. For milder degrees of nausea and vomiting, 21 trials were included. These trials were of variable quality. Nausea treatments were: different antihistamine medications, vitamin B6 (pyridoxine), the combination tablet Debendox (Bendectin), P6 acupressure and ginger. For hyperemesis gravidarum, seven trials were identified testing treatments with oral ginger root extract, oral or injected corticosteroids or injected adrenocorticotropic hormone (ACTH), intravenous diazepam and acupuncture. Based on 12 trials, there was an overall reduction in nausea from anti-emetic medication (odds ratio 0.16, 95% confidence interval 0.08 to 0.33). Anti-emetic medication appears to reduce the frequency of nausea in early pregnancy. There is some evidence of adverse effects, but there is very little information on effects on fetal outcomes from randomised controlled trials. Of newer treatments, pyridoxine (vitamin B6) appears to be more effective in reducing the severity of nausea. The results from trials of P6 acupressure are equivocal. No trials of treatments for hyperemesis gravidarum show any evidence of benefit. Evidence from observational studies suggests no evidence of teratogenicity from any of these treatments.
Article
With up to 80% of pregnant women experiencing nausea and vomiting of pregnancy (NVP), it is critical to have a graded scale of its severity as a guide for appropriate treatment. In 2002 we introduced the Pregnancy-Unique Quantification of Emesis (PUQE) scoring system, which assessed the severity of nausea and vomiting in pregnancy (NVP) based on three physical symptoms: nausea, vomiting, and retching over the previous 12 hours. We present here validation of an extension of the original PUQE, by assessing NVP over 24 hours. This extension is deemed more clinically relevant, because assessment of symptoms over only 12 hours may encompass sleeping hours and hence may not adequately capture the length and severity of the symptoms. In this study we assessed the external validity of the new PUQE-24 by examining its ability to evaluate several characteristics associated with NVP: (a) ability to take multivitamin supplements; (b) rates of hospitalization and emergency room visits for severe symptoms; (c) sleep patterns; (d) liquid intake; and (e) the woman's self-rated well-being scores. Data collected prospectively from 315 women counselled via the Motherisk NVP line were used for the validation. PUQE-24 showed strong correlation with all parameters examined except for sleep patterns and hydration status. The well-being score, however, correlated significantly with hydration status. Capturing 24 hours rather than 12 hours of symptoms may better direct management of NVP and predict its outcome.
Article
More than 70 percent of all pregnant women experience nausea and vomiting during pregnancy, and 28 percent report that symptoms cause them to change their usual activities. We investigated the magnitude of problems that nausea and vomiting impose on the lifestyle of pregnant women and their families. Twenty-seven women who were experiencing different degrees of nausea and vomiting were selected from 147 pregnant women and asked to participate in semistructured telephone interviews. All participants reported changes in family, social, or occupational functioning as a result of these symptoms. Nausea and vomiting can impose substantial lifestyle limitations on pregnant women that can have short- and long-term consequences for them and their families. Both the duration and severity of symptoms were greater for many participants than is generally believed. All participants reported that recumbent rest or dietary alterations provided relief. Caregivers should recognize and validate the need for pregnant women to make changes in lifestyle that will enable them to achieve comfort.
Article
Thirty women participated in a double-blind randomized cross-over trial of the efficacy of a natural product, the powdered root of ginger (Zingiber officinale), and placebo in hyperemesis gravidarum. Three patients had to be withdrawn. Each woman swallowed capsules containing either 250 mg ginger or lactose q.i.d. during the first 4 days of the treatment period. Interrupted by a 2 days wash-out period the alternative medication was given in the second 4-day period. The severity and relief of symptoms before and after each period were evaluated by two scoring systems. The scores were used for statistical analyses of possible differences. Subjectively assessed, 19 women (70.4%) stated preference to the period in which ginger, as was later disclosed, had been given (P = 0.003). More objectively assessed by relief scores a significantly greater relief of the symptoms was found after ginger treatment compared to placebo (P = 0.035). No side effects were observed. The possible mutagenic and antimutagenic characters of ginger reported in a study of E. coli have not been evaluated with respect to any significance in humans. Powdered root of ginger in daily doses of 1 g during 4 days was better than placebo in diminishing or eliminating the symptoms of hyperemesis gravidarum.
Article
Despite evidence of fetal safety, most antiemetics are contraindicated in pregnancy. We summarise a risk-benefit analysis of the literature on safety and effectiveness of pharmacotherapy and nontraditional therapy for nausea and vomiting of pregnancy (NVP) to provide evidence-based guidelines on the management of NVP. The medical literature was scanned for controlled studies on the human teratogenicity and effect of various antiemetics in pregnant women. Data were pooled based on drug/therapy class and summarised to determine relative risk with 95% confidence interval (for malformations and failure rates for NVP) and homogeneity (chi-square test). Evidence from controlled trials has demonstrated the safety and efficacy of the following drugs for the treatment of varying degrees of NVP: doxylamine/pyridoxine+/-dicycloverine (dicyclomine), antihistamine H1 receptor antagonists, and phenothiazines (as a group). However, pooled data for doxylamine/pyridoxine+/-dicycloverine, H1 antagonists and phenothiazines were not homogeneous. Other therapies, such as pyridoxine alone, metoclopramide, ondansetron and the corticosteroids may be beneficial in managing NVP. However, limited efficacy studies and the paucity of well-controlled safety studies may limit the use of some of these agents among patients not responsive to first-line agents. Well-controlled safety and effectiveness trials in patients with NVP are lacking for nonpharmacological treatments (e.g. acupressure). NVP can be managed safely and effectively. Further trials must be conducted in order to determine the true effectiveness of certain agents in patients with NVP.