ArticlePDF Available

Perilaku Agresif Siswa dari Keluarga Broken Home

Authors:

Abstract

This research is based because of the aggressive behavior shown by the students, especially students who come from a broken home. The purpose of this study is to describe the aggressive behavior that is owned by a student who comes from a broken home in terms of attacking people physically, verbally, and damaging and destroying property and wealth of others. The results of this research shows that in general student’s aggressivebehavior are on average level. Implications of research in guidance and counseling is as the basis for programs to prevent and cope with aggressive behavior that is owned by the students, especially students who come from a broken home. Cooperation with the homeroom teacher mentors, teachers and other school personnel will also help identify students who have an aggressive behavior, especially students who come from a broken home to immediately provided services.
http://ejournal.unp.ac.id/index.php/konselor
Konselor
Volume 5 | Number 4 | Desember 2016
ISSN: Print 1412-9760 – Online 2541-5948
Doi:
Received October 19, 2016; Revised Nopember 19, 2016; Accepted December 30, 2016
238
Perilaku Agresif Siswa dari Keluarga Broken Home
Randi Pratama, Syahniar &Yeni Karneli
Universitas Negeri Padang
e-mail: Randipratama@gmail.com
Abstract
This research is based because of the aggressive behavior shown by the students, especially students
who come from a broken home. The purpose of this study is to describe the aggressive behavior that
is owned by a student who comes from a broken home in terms of attacking people physically,
verbally, and damaging and destroying property and wealth of others. The results of this research
shows that in general student’s aggressivebehavior are on average level. Implications of research in
guidance and counseling is as the basis for programs to prevent and cope with aggressive behavior
that is owned by the students, especially students who come from a broken home. Cooperation with
the homeroom teacher mentors, teachers and other school personnel will also help identify students
who have an aggressive behavior, especially students who come from a broken home to immediately
provided services.
Keywords:Broken Home, Aggressive Behavior
Copyright ©2016 Universitas Negeri Padang All rights reserved
PENDAHULUAN
Masa remaja merupakan salah satu masa seorang individu berada dalam proses transisi antara masa anak-
anak memasuki masa dewasa. Dalam masa transisi ini begitu banyak masalah yang dialami oleh diri
individu, baik masalah yang berasal dari dirinya sendiri maupun masalah yang berasal dari luar dirinya.
Menurut Elida Prayitno (2006) mitos yang sering dipercaya tentang ciri remaja yang sedang berkembang
adalah permunculan tingkah laku yang negatif seperti suka melawan, gelisah, periode badai dan tidak stabil.
Salah satu perilaku negatif yang dimunculkan oleh remaja adalah perilaku agresif.
Baron (dalam E. Koeswara, 1998: 5) menyatakan “agresi adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk
melukai atau mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut.
Salah satu penyebab dari perilaku agresif yang dilakukan oleh remaja adalah keadaan keluarga. Menurut
Elida Prayitno (2006: 75) emosi negatif yang dialami remaja dipengaruhi oleh sebagai berikut:
1. Merasa kebutuhan fisik mereka tidak terpenuhi secara layak sehingga timbul ketidakpuasan,
kecemasan, dan kebencian terhadap nasib mereka sendiri.
2. Merasa dibenci, disia-siakan, dan tidak diterima oleh siapapun termasuk orang tua mereka sendiri.
3. Merasa lebih banyak dirintangi, dibantah, dihina, serta dipatahkan daripada disokong, disayangi dan
ditanggapi, khususnya mengenai ide-ide mereka.
4. Merasa tidak mampu atau bodoh.
5. Merasa tidak senang dengan kondisi keluarga mereka yang tidak harmonis seperti orang tua yang
sering bertengkar, kasar, pemarah, cerewet, atau bercerai. Oleh karena itu dalam diri mereka akan
hilang perasaan nyaman, aman dan bahagia.
6. Merasa menderita dan iri yang mendalam terhadapsaudara-saudara kandung karena dibedakan dan
diperlakukan secara tidak adil.
Menurut Kartini Kartono (1998) perilaku agresif pada remaja dilatarbelakangi oleh: (1) faktor eksternal,
yaitu: ejekan teman, keluarga yang berantakan, lingkungan sekolah yang tidak menguntungkan, media audio
visual yang menayangkan adegan kekerasan. (2) faktor internal, yaitu persepsi remaja terhadap lingkungan
http://ejournal.unp.ac.id/index.php/konselor
Konselor
Volume 5 | Number 4 | Desember 2016
ISSN: Print 1412-9760 – Online 2541-5948
Doi:
Received October 19, 2016; Revised Nopember 19, 2016; Accepted December 30, 2016
238
Perilaku Agresif Siswa dari Keluarga Broken Home
Randi Pratama, Syahniar &Yeni Karneli
Universitas Negeri Padang
e-mail: Randipratama@gmail.com
Abstract
This research is based because of the aggressive behavior shown by the students, especially students
who come from a broken home. The purpose of this study is to describe the aggressive behavior that
is owned by a student who comes from a broken home in terms of attacking people physically,
verbally, and damaging and destroying property and wealth of others. The results of this research
shows that in general student’s aggressivebehavior are on average level. Implications of research in
guidance and counseling is as the basis for programs to prevent and cope with aggressive behavior
that is owned by the students, especially students who come from a broken home. Cooperation with
the homeroom teacher mentors, teachers and other school personnel will also help identify students
who have an aggressive behavior, especially students who come from a broken home to immediately
provided services.
Keywords:Broken Home, Aggressive Behavior
Copyright ©2016 Universitas Negeri Padang All rights reserved
PENDAHULUAN
Masa remaja merupakan salah satu masa seorang individu berada dalam proses transisi antara masa anak-
anak memasuki masa dewasa. Dalam masa transisi ini begitu banyak masalah yang dialami oleh diri
individu, baik masalah yang berasal dari dirinya sendiri maupun masalah yang berasal dari luar dirinya.
Menurut Elida Prayitno (2006) mitos yang sering dipercaya tentang ciri remaja yang sedang berkembang
adalah permunculan tingkah laku yang negatif seperti suka melawan, gelisah, periode badai dan tidak stabil.
Salah satu perilaku negatif yang dimunculkan oleh remaja adalah perilaku agresif.
Baron (dalam E. Koeswara, 1998: 5) menyatakan “agresi adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk
melukai atau mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut.
Salah satu penyebab dari perilaku agresif yang dilakukan oleh remaja adalah keadaan keluarga. Menurut
Elida Prayitno (2006: 75) emosi negatif yang dialami remaja dipengaruhi oleh sebagai berikut:
1. Merasa kebutuhan fisik mereka tidak terpenuhi secara layak sehingga timbul ketidakpuasan,
kecemasan, dan kebencian terhadap nasib mereka sendiri.
2. Merasa dibenci, disia-siakan, dan tidak diterima oleh siapapun termasuk orang tua mereka sendiri.
3. Merasa lebih banyak dirintangi, dibantah, dihina, serta dipatahkan daripada disokong, disayangi dan
ditanggapi, khususnya mengenai ide-ide mereka.
4. Merasa tidak mampu atau bodoh.
5. Merasa tidak senang dengan kondisi keluarga mereka yang tidak harmonis seperti orang tua yang
sering bertengkar, kasar, pemarah, cerewet, atau bercerai. Oleh karena itu dalam diri mereka akan
hilang perasaan nyaman, aman dan bahagia.
6. Merasa menderita dan iri yang mendalam terhadapsaudara-saudara kandung karena dibedakan dan
diperlakukan secara tidak adil.
Menurut Kartini Kartono (1998) perilaku agresif pada remaja dilatarbelakangi oleh: (1) faktor eksternal,
yaitu: ejekan teman, keluarga yang berantakan, lingkungan sekolah yang tidak menguntungkan, media audio
visual yang menayangkan adegan kekerasan. (2) faktor internal, yaitu persepsi remaja terhadap lingkungan
http://ejournal.unp.ac.id/index.php/konselor
Konselor
Volume 5 | Number 4 | Desember 2016
ISSN: Print 1412-9760 – Online 2541-5948
Doi:
Received October 19, 2016; Revised Nopember 19, 2016; Accepted December 30, 2016
238
Perilaku Agresif Siswa dari Keluarga Broken Home
Randi Pratama, Syahniar &Yeni Karneli
Universitas Negeri Padang
e-mail: Randipratama@gmail.com
Abstract
This research is based because of the aggressive behavior shown by the students, especially students
who come from a broken home. The purpose of this study is to describe the aggressive behavior that
is owned by a student who comes from a broken home in terms of attacking people physically,
verbally, and damaging and destroying property and wealth of others. The results of this research
shows that in general student’s aggressivebehavior are on average level. Implications of research in
guidance and counseling is as the basis for programs to prevent and cope with aggressive behavior
that is owned by the students, especially students who come from a broken home. Cooperation with
the homeroom teacher mentors, teachers and other school personnel will also help identify students
who have an aggressive behavior, especially students who come from a broken home to immediately
provided services.
Keywords:Broken Home, Aggressive Behavior
Copyright ©2016 Universitas Negeri Padang All rights reserved
PENDAHULUAN
Masa remaja merupakan salah satu masa seorang individu berada dalam proses transisi antara masa anak-
anak memasuki masa dewasa. Dalam masa transisi ini begitu banyak masalah yang dialami oleh diri
individu, baik masalah yang berasal dari dirinya sendiri maupun masalah yang berasal dari luar dirinya.
Menurut Elida Prayitno (2006) mitos yang sering dipercaya tentang ciri remaja yang sedang berkembang
adalah permunculan tingkah laku yang negatif seperti suka melawan, gelisah, periode badai dan tidak stabil.
Salah satu perilaku negatif yang dimunculkan oleh remaja adalah perilaku agresif.
Baron (dalam E. Koeswara, 1998: 5) menyatakan “agresi adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk
melukai atau mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut.
Salah satu penyebab dari perilaku agresif yang dilakukan oleh remaja adalah keadaan keluarga. Menurut
Elida Prayitno (2006: 75) emosi negatif yang dialami remaja dipengaruhi oleh sebagai berikut:
1. Merasa kebutuhan fisik mereka tidak terpenuhi secara layak sehingga timbul ketidakpuasan,
kecemasan, dan kebencian terhadap nasib mereka sendiri.
2. Merasa dibenci, disia-siakan, dan tidak diterima oleh siapapun termasuk orang tua mereka sendiri.
3. Merasa lebih banyak dirintangi, dibantah, dihina, serta dipatahkan daripada disokong, disayangi dan
ditanggapi, khususnya mengenai ide-ide mereka.
4. Merasa tidak mampu atau bodoh.
5. Merasa tidak senang dengan kondisi keluarga mereka yang tidak harmonis seperti orang tua yang
sering bertengkar, kasar, pemarah, cerewet, atau bercerai. Oleh karena itu dalam diri mereka akan
hilang perasaan nyaman, aman dan bahagia.
6. Merasa menderita dan iri yang mendalam terhadapsaudara-saudara kandung karena dibedakan dan
diperlakukan secara tidak adil.
Menurut Kartini Kartono (1998) perilaku agresif pada remaja dilatarbelakangi oleh: (1) faktor eksternal,
yaitu: ejekan teman, keluarga yang berantakan, lingkungan sekolah yang tidak menguntungkan, media audio
visual yang menayangkan adegan kekerasan. (2) faktor internal, yaitu persepsi remaja terhadap lingkungan
Randi Pratama, Syahniar&Yeni Karneli239
(Perilaku Agresif Siswa Dari Keluarga Broken Home)
KONSELOR |Volume 5 Number 4 Desember 2016, pp 238-246
sekitar. Ahli lain Sarlito W. Sarwono & Meinarno (2009: 152) menyatakan perilaku agresif dipicu oleh
sosial, personal, kebudayaan, situasional, sumber daya dan media massa.
Salah satu lingkungan sosial yang ada di sekitar dan yang paling utama adalah lingkungan keluarga. Senada
dengan pendapat Robert E. Baron (2005) hubungan sosial pertama ada di keluarga, dan anak-anak belajar apa
yang diharapkan dari orang lain dan bagaimana berinteraksi dengan mereka sebagaimana mereka berinteraksi
dengan orang tua, kakak atau adik, kakek atau nenek, dan anggota keluarga yang lain.
Berdasarkan pendapat dari para ahli, dapat disimpulkan bahwa perilaku agresif dipengaruhi oleh beberapa
faktor. Salah satunya yaitu faktor keluarga broken home. Hal ini menjelaskan bahwa keluarga sangat
mempengaruhi dalam proses perkembangan perilaku anak.
Lingkungan keluarga merupakan suatu unit sosial terkecil di dalam masyarakat. Brugges & Liok (dalam
Elida Prayitno, 2006) mengemukakan rumusan tentang keluarga yaitu sekelompok orang yang terdiri atas
suami, istri dan anak-anak yang hidup bersama dengan berbagi kasih sayang, perhatian, ide, kebahagiaan
maupun kesedihan dan pengalaman untuk tujuan bersama yaitu bahagia.
Keluarga yang terdiri atas ayah, ibu dan anak disebut dengan keluarga utuh. Akan tetapi fakta yang
ditemukan di lapangan, bahwa banyak keluarga yang tidak utuh seperti tanpa ayah dan ibu. Keadaan seperti
ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti perceraian, kematian pasangan, kehamilan di luar nikah maupun
keinginan untuk tidak menikah dan memutuskan untuk mengadopsi anak. Kondisi yang demikian disebut
dengan keluarga broken home. Sebagaimana diungkapkan oleh Sofyan S. Willis (2010: 105) broken home
terjadi apabila struktur keluarga itu tidak utuh lagi, misalnya karena kematian salah satu orang tua atau
perceraian, kehidupan keluarga tidak harmonis lagi”. Syamsu Yusuf (2009: 44) mengemukakan “ broken
home adalah keluarga yang tidak stabil atau berantakan yang ditandai dengan perceraian orangtua, atau
mereka yang mempunyai orang tua yang single (single parent)”.
Keadaan broken home seperti perceraian, akan menimbulkan dampak negatif terhadap semua anggota
keluarga. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Save M. Dagun (2002: 113) “peristiwa perceraian dalam
keluarga senantiasa membawa dampak yang mendalam”. Kasus ini menimbulkan stres, tekanan dan
menimbulkan perubahan fisik dan mental yang dapat dialami oleh semua anggota keluarga, ayah, ibu dan
anak. Masalah yang dapat timbul oleh keadaan ini salah satunya adalah perilaku agresif yang ditunjukan oleh
anak.
Dari penjelasan para ahli dapat disimpulkan bahwa broken home adalah suatu keadaan yang tidak
menguntungkan di dalam keluarga, seperti perceraian, kematian pasangan, maupun kehidupan di dalam
keluarga yang tidak harmonis lagi. Keadaan keluarga yang demikian akan membuat siswa memunculkan
perilaku agresif di dalam kehidupannya di sekolah. Baik terhadap guru maupun terhadap teman sebayanya.
Bimbingan dan konseling merupakan suatu upaya pemberian bantuan kepada peserta didik agar peserta didik
mampu berkembang secara optimal untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan
negara.
Prayitno & Eman Amti (2004: 225-226) menjelaskan empat fungsi pokok didalam layanan bimbingan dan
konseling yaitu fungsi pemahaman, fungsi pencegahan, fungsi pengentasan, dan fungsi pemeliharaan dan
pengembangan.
Selain fungsi, bimbingan konseling memiliki layanan-layanan yang erat hubungannya dengan proses
pemberian bantuan kepada siswa atau individu yang mengalami masalah. Tetapi, kenyataan yang terjadi di
lapangan, kurang optimalnya pemberian layanan bimbingan dan konseling kepada siswa yang mengalami
masalah, khususnya siswa yang bermasalah dalam perilaku agresif. Hal ini sesuai dengan pengamatan
penulis selama mengikuti praktek lapangan di SMA N 11 Padang bulan Januari-Juni 2013 dimana ditemukan
adanya guru BK dalam pemberian layanan terlihat guru BK hanya memberikan layanan konseling
perorangan saja dalam mengatasi masalah yang dialami oleh siswa, khususnya masalah yang dialami oleh
siswa dari keluarga broken home, tanpa mempertimbangkan pemberian layanan-layanan lain.
http://ejournal.unp.ac.id/index.php/konselor
KONSELOR ISSN: 1412-9760 240
Copyright ©2016 Universitas Negeri Padang All rights reserved
Menurut hasil penelitian Nike Rahayu (2013) di SMK Muhammadiyah 1 Padang terdapat hubungan negatif
antara intimasi dalam keluarga dengan tingkah laku agresif siswa. Berarti dapat disimpulkan bahwa anak-
anak yang berada di dalam keluarga yang tidak harmonis atau broken home, maka akan menimbulkan
perilaku agresif yang semakin meningkat oleh siswa.
Hal ini didukung oleh observasi yang penulis lakukan pada tanggal 7-12 Oktober 2013 di SMA N 11 Padang
ditemukan peserta didik yang berasal dari keluarga broken home dan mengalami berbagai masalah pribadi
seperti: berkelahi dengan siswa lain, menyerang teman, sering cabut saat jam pelajaran berlansung, bolos saat
jam pelajaran, tidak memperhatikan guru menerangkan pelajaran, peserta didik suka berkelahi dan melawan
kepada guru.
Berdasarkan wawancara yang penulis lakukan kepada 3 orang guru BK dan 2 orang wali kelas di SMA N 11
Padang, terungkap bahwa siswa yang berasal dari keluarga broken home seringkali berlaku agresif terhadap
guru dan juga teman sebayanya
Penelitian ini akan mendeskripsikan (1) perilaku agresif siswa yang berasal dari keluarga broken home secara
fisik, (2) perilaku agresif siswa yang berasal dari keluarga broken home secara verbal, (3) perilaku agresif
siswa yang berasal dari keluarga broken home merusak dan menghancurkan harta benda orang lain dan (4)
memberi implikasi layanan bimbingan dan konseling untuk mengatasi perilaku agresif siswa dari keluarga
broken home.
METODOLOGI
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dengan sampel sebanyak 35 orang siswa yang berasal dari
keluarga broken home yang dipilih dengan teknik purpose sampling. Instrumen yang digunakan dalam
penelitian ini angket. Data dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistik deskriptif.
HASIL
Berdasarkan hasil pengolahan data, maka hasil penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Tabel 1. Gambaran keseluruhanPerilaku Agresif Siswa dari Keluarga Broken Home
Kategori
F
%
Sangat Tinggi
4
11
Tinggi
3
9
Sedang
16
46
Rendah
12
34
Sangat Rendah
0
0
Berdasarkan Tabel 1 perilaku agresif pada siswa yang berasal dari keluarga broken home secara keseluruhan
dapat diketahui bahwa 11% perilaku agresif pada siswa berada pada kategori sangat tinggi, 9% perilaku
agresif pada siswa berada pada kategori tinggi, 46% perilaku agresif pada siswa berada pada kategori sedang,
34% perilaku agresif pada siswa berada pada kategori rendah, dan 0% tingkat perilaku agresif pada siswa
berada pada kategori sangat rendah.
PEMBAHASAN
Pembahasan ini dilakukan berdasarkan tujuan penelitian yaitu bagaimana perilaku agresif siswa dari keluarga
broken home secara fisik, bagaimana perilaku agresif siswa dari keluarga broken home secara verbal,
perilaku agresif siswa dari keluarga broken home merusak dan menghancurkan benda orang lain, dan
bagaimana implikasi layanan bimbingan dan konseling untuk mengatasi perilaku agresif siswa dari keluarga
broken home.
Randi Pratama, Syahniar&Yeni Karneli241
(Perilaku Agresif Siswa Dari Keluarga Broken Home)
KONSELOR |Volume 5 Number 4 Desember 2016, pp 238-246
A. Perilaku Agresif pada Siswa yang Berasal dari Keluarga Broken Home Berkaitan dengan
Menyakiti Orang Secara Fisik
Berdasarkan pengolahan data dapat disimpulkan bahwa perilaku agresif pada siswa yang berasal
dari keluarga broken home berkaitan menyakiti orang secara fisik,sebagian besar siswa yang berasal
dari keluarga broken home di SMA N 11 Padang berada pada kategori rendah. Kekerasan secara
fisik dapat berupa tindakan menyerang, menampar dan bahkan menganiaya orang lain.
Dalam perilaku agresif secara fisik, Elida Prayitno (2006: 139) mengungkapkan bentuk-bentuk
perilaku menyimpang salah satunya tingkah laku agresif yaitu tingkah laku merusak kehidupan
orang kehidupan orang lain, misalnya merampas (mengompas), menipu, mencuri, berkelahi secara
kelompok maupun individu.
Dari hasil penelitian terdapat 11% siswa yang berasal dari keluarga broken home yang mengalami
perilaku agresif yang terkategori sangat tinggi dan 20% yang mengalami perilaku agresif tinggi
untuk menyerang orang secara fisik.Oleh sebab itu, konselor perlu memberikan layanan yang tepat
untuk diberikan kepada siswa yang bersangkutan.
Selain itu, dari hasil penelitian, tidak ada siswa yang berasal dari keluarga broken home mengalami
perilaku agresif yang berada pada kategori sangat rendah dan 40% siswa mengalami perilaku agresif
pada kategori rendah untuk menyerang orang secara fisik. Oleh sebab itu, konselor juga perlu
memberikan usaha preventif (pencegahan) agar nantinya siswa tersebut tercegah dari kemungkinan
mengalami perilaku agresif untuk kategori yang lebih tinggi.
B. Perilaku Agresif pada Siswa yang Berasal dari Keluarga Broken Home Berkaitan dengan
Menyakiti Orang Secara Verbal
Berdasarkan pengolahan data dapat disimpulkan bahwa perilaku agresif pada siswa yang berasal
dari keluarga broken home berkaitan menyakiti orang secara fisik,sebagian besar siswa yang berasal
dari keluarga broken home di SMA N 11 Padang berada pada kategori sedang. Tingkah laku agresif
menyakiti orang secara verbal sering dilakukan oleh remaja, baik dalam keadaan tertekan maupun
dalam bergaul dengan teman sebayanya. Sarlito Sarwono (2002: 142) menyatakan pria lebih
cenderung untuk menampilkan agresi instrumental sedangkan wanita menunjukkan emosi
emosionalnya dalam wujud mencaci, berkata kasar, menghina dan sebagainya.
Dari hasil penelitian terlihat bahwa 11% siswa yang berasal dari keluarga broken home mengalami
perilaku agresif yang berkategori sangat tinggi dan 11% mengalami perilaku agresif tinggi untuk
menyerang orang secara verbal. Oleh sebab itu, konselor/Konselor perlu memberikan layanan yang
tepat untuk diberikan kepada siswa yang bersangkutan. Bahwa sikap menyerang orang lain secara
verbal dapat menyebabkan orang lain merasa tersinggung dan dapat memicu pertengkaran.
Selain itu, dari hasil penelitian tidak ada siswa yang berasal dari keluarga broken home mengalami
perilaku agresif berada pada kategori sangat rendah dan 29% siswa mengalami perilaku agresif pada
kategori rendah. Oleh sebab itu, konselor juga perlu memberikan usaha preventif (pencegahan) agar
nantinya siswa tersebut tercegah dari kemungkinan mengalami perilaku agresif untuk kategori yang
lebih tinggi.
C. Perilaku agresif pada Siswa yang Berasal dari Keluarga Broken Home Berkaitan dengan
Merusak dan Menghancurkan Harta Benda dan Kekayaan Orang Lain
Berdasarkan pengolahan data dapat disimpulkan bahwa perilaku agresif pada siswa yang berasal
dari keluarga broken home berkaitan dengan merusak dan menghancurkan harta benda dan kekayaan
orang lain,sebagian besar siswa yang berasal dari keluarga broken home di SMA N 11 Padang
berada pada kategori sedang.
Seseorang dalam melampiaskan emosinya, jika tidak bisa melampiaskan pada orang yang
bersangkutan, maka akan melampiaskannya kepada harta benda yang dimiliki oleh orang tersebut.
http://ejournal.unp.ac.id/index.php/konselor
KONSELOR ISSN: 1412-9760 242
Copyright ©2016 Universitas Negeri Padang All rights reserved
Sedangkan apabila dalam lingkungan sekolah , apabila siswa melanggar peraturan dan dimarahi
biasanya dia akan melampiaskan pada bangunan sekolah. Hal ini sesuai dengan pendapat Elida
Prayitno (2006: 139) menyatakan ada tiga bentuk agresi salah satunya tingkah laku merusak
lingkungan alam sekitar seperti mencoret-coret bangunan, melempari bangunan serta
menghancurkan milik orang lain..
Dari hasil penelitian terlihat bahwa 6% siswa yang berasal dari keluarga broken home mengalami
perilaku agresif yang berkategori sangat tinggi dan 20% siswa mengalami perilaku agresif tinggi
untuk merusak dan menghancurkan harta benda dan kekayaan orang lain.Oleh sebab itu, konselor
perlu memberikan layanan kepada siswa dalam rangka memberikan pelayanan agar siswa yang
berasal dari keluarga broken home tidak melampiaskan sikap agresifnya terhadap hal-hal atau harta
benda yang dimiliki orang lain.
D. Kaitan Perilaku Agresif Siswa yang Berasal dari Keluarga Broken Home dengan Sistem
Kekerabatan Matrilineal di Minangkabau
Menurut teori, sebagian siswa yang berasal dari keluarga broken home akan berperilaku agresif.
Sebagaimana yang dingkapkan oleh Abu Ahmadi (2009: 230) “situasi keluarga yang broken home
memiliki pengaruh yang negatif dan tidak menguntungkan bagi perkembangan anak dan akan terjadi
maladjustment ”. Sementara berdasar hasil penelitian yang peneliti lakukan diperoleh hasil bahwa
perilaku agresif siswa yang berasal dari keluarga broken home di SMA N 11 Padang sebagian besar
berada pada kategori sedang dengan persentase 46%, selanjutnya kategori kurang agresif dengan
34%, sangat agresif 11%, agresif 9% dan tidak adanya perilaku agresif siswa yang berkategori tidak
agresif.
Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa siswa yang berasal dari keluarga broken home tidak selalu
bersikap agresif atau sedang dengan persentase 46%. Bahkan persentase terbesar selanjutnya
mengungkapkan bahwa siswa yang berasal dari keluarga broken home berkategori kurang agresif
dengan persentase 34%. Secara tidak langsung hasil penelitian ini cukup berlawanan dengan teori
yang dijabarkan di atas.
Fenomena ini salah satunya disebabkan karena latar belakang budaya yang ada di masyarakat itu
sendiri. Di sekolah tempat penulis lakukan penelitian, yaitu di SMA N 11 Padang sebagian besar
siswa, khususnya siswa yang berasal dari keluarga broken home merupakan masyarakat
Minangkabau.
Masyarakat Minangkabau merupakan masyarakat yang menganut agam Islam. Dalam falsafah hidup
mereka dikenal pepatah “Adat bersandi sarak, sarakbersandi Kitabullah”, yang artinya seluruh
ketentuan-ketentuan hidup diatur oleh ketentuan-ketentuan yang bersumber dari Al Qur’an. Seorang
anggota keluarga dari suku Minangkabau akan kehilangan suku Minangnya jika dia menganut
agama lain di luar Islam. Masyarakat Minangkabau juga merupakan masyarakat tradisional yang
menganut sistem matrilineal yang terbesar di dunia. Fenomena ini menjadi keunikan tersendiri di
tengah banyaknya suku di Indonesia yang cenderung menganut sistem patrilineal.
Sistem kekerabatan matrilineal menurut TIM MGMP BAM (2012: 14) adalah sistem kekerabatan
yang mana garis keturunan anak ditarik berdasarkan garis keturunan ibu. Hal ini membuat seorang
anak di Minangkabau cenderung lebih dekat terhadap ibu dari pada ayahnya, karena sepanjang, anak
tersebut tinggal tumbuh dan berkembang dalam keluarga ibu dia akan mewarisi suku, sako dan
pusako dari adat atau kaum ibunya. Oleh karena itu, jika terjadi perceraian antara orang tua, anak di
Minangkabau biasanya akan tinggal bersama ibu dan berada dekat dalam pengawasan mamaknya.
Sistem kekerabatan matrilineal inilah yang menjadi salah satu penyebab mengapa anak yang berasal
dari keluarga broken home perilakunya cenderung kurang agresif. Hal ini secara tidak langsung
memperlihatkan bahwa anak yang berasal dari keluarga broken home yang tinggal bersama ibu dan
dekat dengan pengawasan mamak akan membuat anak tersebut bersikap baik dan tidak menunjukan
perilaku agresif yang berlebihan.Berarti teori yang menyebutkan bahwa siswa yang berasal dari
Randi Pratama, Syahniar&Yeni Karneli243
(Perilaku Agresif Siswa Dari Keluarga Broken Home)
KONSELOR |Volume 5 Number 4 Desember 2016, pp 238-246
keluarga broken home cenderung bersikap agresif tidak sesuai dengan keadaan yang ada di dalam
sistem kekerabatan di Minangkabau.
E. Implikasi Terhadap Bimbingan dan Konseling
Berdasarkan hasil temuan penelitian tentang perilaku agresif pada siswa diperoleh gambaran bahwa
secara umum perilaku agresif pada siswa berada pada kategori sedang. Untuk itu, konselor perlu
memberikan layanan untuk mengurangi tingkat perilaku agresif pada siswa yang berasal dari
keluarga broken home melalui layanan-layanan yang disesuaikan dengan permasalahan terkait
dengan perilaku agresif pada siswa.
Prayitno & Erman Amti (2004) menjelaskan bahwa bimbingan adalah proses pemberian bantuan
yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-
anak, remaja, ataupun orang dewasa agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan
dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat
dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku. Selanjutnya, Prayitno & Erman Amti (2004:
105) menyatakan “konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara
konseling oleh seorang ahli (konselor) kepada individu yang memiliki masalah (klien) yang
bermuara pada teratasi masalah yang dihadapi klien.
Berdasar pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa konseling adalah suatu usaha pemberian
bantuan kepada klien secara tatap muka sehingga masalah yang dialami oleh klien dapat teratasi
secara optimal dan tercapainya kehidupan efektif sehari-hari oleh klien tersebut.
Dari pengertian tersebut terlihat bahwa salah satu tujuan dari penyelenggaraan bimbingan dan
konseling adalah tercapainya kehidupan efektif sehari-hari (KES) dalam kehidupan diri siswa,
khususnya disini diperuntukkan bagi siswa yang berasal dari keluarga broken home. Adapun
layanan yang dapat diberikan kepada siswa adalah:
1. Layanan Informasi
Dalam menjalani kehidupan dan perkembangannya, individu membutuhkan berbagai informasi
baik untuk keperluan kehidupannya sehari-hari sekarang maupun untuk perencanaan
kehidupannya di masa depan. Prayitno dan Erman Amti (2004: 260) menjelaskan “layanan
informasi berguna untuk memberikan pemahaman kepada individu yang berkepentingan
tentang berbagai hal yang diperlukan untuk menjalani suatu tugas atau kegiatan”. Layanan
informasi ini dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada individu tentang berbagai hal
yang berguna dalam diri individu tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa sebagian besar perilaku agresif pada siswa yang
berasal dari keluarga broken home di SMA N 11 Padang berada pada kategori sedang dengan
persentase 49%. Dari hasil penelitian tersebut maka konselor dapat memberikan layanan
informasi dengan materi layanan seperti pentingnya kontrol diri dalam pergaulan, dampak
perilaku agresif dan lain sebagainya.
2. Layanan Penguasaan Konten
Prayitno (2004: 3) menjelaskan pengertian layanan penguasaan konten adalah layanan
penguasaan konten merupakan layanan bantuan kepada individu untuk menguasai kemampuan
atau kompetensi tertentu melalui kegiatan belajar. Tujuannya adalah untuk menambah
wawasan dan pemahaman, mengarahkan penilaian, sikap, menguasai cara-cara atau kebiasaan
tertentu untuk memenuhi kebutuhannya dan mengatasi masalah-masalahnya.
Jadi, dapat disimpulkan layanan penguasaan konten adalah suatu layanan yang bertujuan untuk
menambah wawasan dan pemahaman, mengarahkan penilaian, sikap, dan menguasai berbagai
hal untuk memenuhi kebutuhan dan mengentaskan masalah yang dialami oleh klien itu sendiri.
http://ejournal.unp.ac.id/index.php/konselor
KONSELOR ISSN: 1412-9760 244
Copyright ©2016 Universitas Negeri Padang All rights reserved
Dengan layanan penguasaan konten ini diharapkan klien mampu untuk mengembangkan
hidupnya secara optimal.
Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa sebagian besar perilaku agresif pada siswa yang
berasal dari keluarga broken home di SMA N 11 Padang berada pada kategori sedang dengan
persentase 49%. Dengan layanan penguasaan konten, kita sebagai calon konselor bisa
mencontohkan bagaimana bersikap yang baik dengan masyarakat disekitar tempat tinggalnya.
Siswa dilatihkan untuk bersikap baik sehingga dia benar-benar paham dan mampu
menerapkannya di lingkungannya.
3. Layanan Konseling Individual
Prayitno (2004) menjelaskan kegiatan layanan konseling perorangan berlangsung secara tatap
muka antara klien dengan konselor dalam rangka pembahasan dan pengentasan
permasalahannya, fungsi utama layanan ini adalah fungsi pengentasan. Jadi, layanan konseling
perorangan ini adalah layanan yang bertujuan untuk mengentaskan masalah yang dialami oleh
klien.
Berdasarkan hasil penelitian, terlihat bahwa 11% siswa yang berasal dari keluarga broken
home di SMA N 11 Padang mengalami perilaku agresif yang berada pada kategori sangat
tinggi dan 20% mengalami perilaku agresif yang berada pada kategori tinggi. Oleh sebab itu,
konselor perlu bekerja sama dengan personil sekolah lainnya dalam mengidentifikasi siswa,
khususnya siswa yang berasal dar keluarga broken home yang terindikasi mengalami perilaku
agresif tersebut yang selanjutnya diberikan layanan konseling individual. Pemberian layanan
konseling individual adalah agar siswa yang terindikasi mengalami perilaku agresif tersebut
nantinya lebih mampu menyadari dampak dari perilaku agresif yang berlebihan dan diharapkan
lebih mampu mengontrol emosi dirinya.
4. Layanan Bimbingan Kelompok
Prayitno (2004) menyatakan bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan yang diberikan
dalam suasana kelompok. Dalam bimbingan kelompok ini memungkinkan siswa untuk
memperoleh informasi tentang keperluan tertentu untuk anggota kelompok. Lebih jauh,
informasi itu berguna untuk menyusun rencana dan membuat keputusan, atau keputusan lain
yang relevan dengan dengan informasi yang dibutuhkan.
Dengan layanan bimbingan kelompok, pemimpin kelompok atau konselor selain melatih
anggota kelompok untuk berbicara di depan umum, juga bisa untuk memberikan informasi
tentang akibat-akibat dari perilaku agresif yang dilakukan. Sehingga anggota kelompok tidak
mau lagi untuk berperilaku agresif lagi.
5. Layanan Konseling Kelompok
Prayitno (2004) menerangkan layanan konseling kelompok memungkinkan siswa memperoleh
kesempatan bagi pembahasan dan pengentasan masalah yang dialami melalui dinamika
kelompok. Dengan layanan ini, diharapkan siswa atau klien, mampu untuk secara terbuka
menyampaikan masalah yang dialaminya sehingga masalah yang dialaminya dapat dientaskan
bersama-sama melalui dinamika kelompok. Selain itu layanan ini juga bertujuan untuk melatih
keberanian siswa atau klien untuk berbicara di depan umum. Layanan konseling kelompok
pada dasarnya adalah layanan konseling perorangan yang dilakukan di dalam suasana
kelompok. Menurut Prayitno & Erman Amti (2004: 311) mengatakan “di dalam kegiatan
konseling kelompok ada konselor yang langsung menjabat sebagai pemimpin kelompok, dan
para anggota kelompok yang jumlahnya bervariasi antara 5-10 orang”.
Dengan layanan konseling kelompok, konselor bersama-sama siswa dapat membahas apa
penyebab dari perilaku agresif. Siswa diminta untuk menyampaikan pendapat tentang perilaku-
perilaku agresif yang ada disekitar dan bagaimana akibat dari perilaku agresif. Jika siswa sudah
Randi Pratama, Syahniar&Yeni Karneli245
(Perilaku Agresif Siswa Dari Keluarga Broken Home)
KONSELOR |Volume 5 Number 4 Desember 2016, pp 238-246
benar-benar paham akan buruknya perilaku agresif, maka siswa tidak akan mau lagi untuk
berperilaku agresif di lingkungan sekitarnya.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian diproleh data bahwa perilaku agresif siswa dari keluarga broken home
di SMA N 11 Padang sebagian besar berada pada kategori sedang. Adapun rinciannya yang
berkaitan dengan sub variabel menyerang orang secara fisik, menyerang orang secara verbal dan
merusak dan menghancurkan harta benda dan kekayaan orang lain dikemukakan beberapa
kesimpulan, yakni:
1. Perilaku agresif siswa yang berasal dari keluarga broken home di SMA N 11 padang untuk sub
variabel menyerang orang secara fisik sebagian besar berada pada kategori rendah.
2. Perilaku agresif siswa yang berasal dari keluarga broken home di SMA N 11 padang untuk sub
variabel menyerang orang secara verbal sebagian besar berada pada kategori sedang.
3. Perilaku agresif siswa yang berasal dari keluarga broken home di SMA N 11 padang untuk sub
variabel merusak dan menghancurkan harta benda dan kekayaan orang lain sebagian besar
berada pada kategori sedang.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan pada bab IV, maka dapat dikemukakan
beberapa saran, yaitu:
1. Kepada guru BK agar dapat lebih meningkatkan kualitas playanannya dalam membantu siswa-
siswa yang mengalami kasus broken home, sehingga tidak terjerumus ke dalam hal-hal negatif.
2. Kepada kepala sekolah, hendaknya lebih mengayomi dan memperhatikan siswa yang
mengalami kasus broke home, dan juga memberi arahan serta motivasi kepada semua guru
untuk membantu mengatasi perilaku agresif siswa yang berasal dari keluarga broken home
tersebut.
3. Kepada siswa, untuk siswa yang broken home hendaknya dapat menjaga diri untuk agar tidak
berlaku agresif di dalam pergaulannya dan kepada siswa lainnya agar dapat membina
hubungan baik serta bersosialisasi dengan siswa yang berasal dari keluarga broken home.
4. Peneliti selanjutnya agar dapat memperkaya penelitian ini dengan mengambil variabel tentang
faktor penyebab terjadinya perilaku agresif dan upaya guru BK dalam menanggulangi perilaku
agresif siswa di sekolah.
DAFTAR RUJUKAN
Abu Ahmadi. (2009). Psikologi Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.
Baron, R. A., & Byrne, D. (2005). Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga.
E. Koeswara. (1998). Agresi Manusia. Bandung: Eresco.
Elida Prayitno. (2006). Psikologi Perkembangan Remaja. Padang: UNP Press.
Kartini Kartono. (1998). Peranan Keluarga Memandu Anak. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Nike Rahayu. (2013). Hubungan antara intimasi dalam keluarga dengan tingkah laku agresif siswa. Skripsi
tidak diterbitkan. Padang: BK FIP UNP.
http://ejournal.unp.ac.id/index.php/konselor
KONSELOR ISSN: 1412-9760 246
Copyright ©2016 Universitas Negeri Padang All rights reserved
Prayitno. (2004). Layanan L1-L9. Padang: BK FIP UNP.
Prayitno & Erman Amti. (2004). Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.
Sarlito W. Sarwono & E. A. Meinarno. (2009). Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.
Save M. Dagun. (2002). Psikologi Keluarga. Jakarta. Rineka Cipta.
Sofyan S. Willis. (2010). Remaja dan Masalahnya. Bandung: Alfabeta.
Syamsu Yusuf & J. Nurihsan. (2009). Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Remaja Rosdakarya.
TIM MGMP BAM. (2012). Bahan Ajar Budaya Alam Minangkabau. Padang: Disdik
... Based on the results of research by Sriwahyuningsih, Yusuf, & Daharnis (2016), the level of aggressive behavior of students is in the medium category with a percentage of 66.97%. Pratama, Syahniar, & Karneli's (2016) research results also show that aggressive behavior in students is in the moderate category with a percentage of 46%. The results of the research by Aulya, Ilyas, & Ifdil (2016) also showed that the aggressive behavior of male students was in the high category with a percentage of 23% and the aggressive behavior of female students was in the high category with a percentage of 18%. ...
... To reduce aggressive behavior among students at school, both counselors and educators need to strive to improve student identity (Morsunbul, 2015). Counselors need to provide preventive measures so that students in schools are prevented from engaging in aggressive behavior in higher categories (Pratama, Syahniar, & Karneli, 2016). Institutionally, guidance and counseling are part of the overall educational program in schools, which is designated to assist or facilitate students to achieve optimal developmental tasks and be able to adapt to the environment (Nengsih, N., Firman, F., & Iswari, 2015). ...
Article
The low self-identity of students causes aggressive behavior. The phenomenon of aggressive behavior is the act of attacking others directly or indirectly to hurt others both physically and psychologically. Aggressiveness among adolescents is increasing from year to year, based on data released by the Central Statistics Agency, in 2007 it was recorded that 3145 adolescents aged ? 18 years of age became criminals and continued to increase to 3280 in 2007, and 4123 in 2008. Self-identity is one of the factors that influence the emergence of aggressive behavior. The purpose of this study is to describe the self-identity of students at SMK Muhammadiyah 1 Padang City. This research uses descriptive analysis. The sample of this study was 114 students who were taken using purposive sampling technique. The instrument used was "Self-identity scale in preventing aggressiveness" with a reliability value of 0.881. The results showed that: (1) the aspect of Identity diffusion was in the medium category with a percentage of 67%; (2) Identity foreclosure aspects are in the medium category with a percentage of 39%; (3) the Identity aspect of the moratorium is in the low category with a percentage of 45%; and (4) Identity achievement is in the low category with a percentage of 41.2%. The results of the study generally show that the students' self-identity is in the medium category with a percentage of 71.1% and it needs to be improved in order to prevent aggressive behavior.
... Individual counseling services, on the other hand, are the most visible service used in junior high schools, owing to the obvious problem of students from broken homes. Guidance and counseling teachers gather various information about what is required to solve the problems of broken home students, such as observing students, seeing student report cards before handing them over to the homeroom teacher, and counseling guidance teachers observing their behavior in the report cards where there is an assessment of attitudes, crafts, and students attendance (Pratama et al., 2016). Individual counseling service is a method of directly offering support (guide) to individuals (students) by meeting with counselors (BK teachers) and clients face to face (students). ...
... Another barrier is a lack of seminar activities related to mastery and the capacity to employ counseling approaches. As a result, the actions and time of the teacher (counselor) are required to enhance knowledge and insight so that counseling activities can operate smoothly (Pratama et al., 2016). ...
... Dampak yang diterima anak ini akan terlihat dari perilaku anak dan umumnya akan muncul permasalahan di sekolahnya. Riset lainnya membuktikan bahwa anak-anak menunjukkan perilaku agresif (Pratama, Syahniar & Karneli, 2016), menurunnya prestasi belajar (Gintulangi, Puluhulawa & Ngiu, 2018). ...
Article
This study aims to explore more about the effectiveness of individual counseling services in dealing with broken home children. This study uses a type of qualitative research with a thematic analysis approach based on the six-step thematic analysis from Braun and Clarke (2006). The research participants were three BK teachers and three students who experienced a broken home and had received individual counseling services from BK teachers. The results of the study found that there was a change in behavior between before and after attending individual counseling services. Before attending counseling, there were various problems experienced by children as a result of a broken home, such as difficulty controlling emotions, insecurity and loss of self-confidence, loss of interest in learning to difficulty socializing with their environment. The changes in behavior after attending individual counseling services are that there are better changes in behavior, such as: more confident, motivated in learning.
... Pengertian remaja dari segi umur yaitu individu yang berada dalam rentangan usia antara 13 sampai 21 tahun. Sejalan dengan itu, Pratama, R., Syahniar, S., & Karneli, Y. (2016) menyatakan masa remaja merupakan salah satu masa seorang individu berada dalam proses transisi antara masa anak-anak memasuki masa dewasa. Dalam masa transisi ini begitu banyak masalah yang dialami oleh diri individu, baik masalah yang berasal dari dirinya sendiri maupun masalah yang berasal dari luar dirinya. ...
Article
Full-text available
Penlitian ini bertitik tolak dari adanya siswa yang mengalami kesulitan dalam berinteraksi sosial teman sebaya dengan baik dan belum matang secara emosional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif korelasional. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI dan XII di SMK Negeri 5 Padang. Jumlah sampel sebanyak 260 orang siswa yang ditetapkan dengan teknik Proportional Random Sampling. Instrumen penelitian ini adalah angket ditetapkan dengan skala Likert. Analisis data deskriptif dengan teknik persentase dan untuk uji korelasional dengan bantuan program SPSS versi 20.0. Hasil penelitian menunjukkan: (1) kemampuan interaksi sosial teman sebaya siswa berada pada kategori baik, (2) kematangan emosi siswa berada pada kategori matang, dan (3) terdapat hubungan positif dan signifikan dengan derajat hubungan kuat antara kemampuan interaksi sosial teman sebaya dengan kematangan emosi siswa, dengan koefisien korelasi rhitung ≥ rtabel yaitu 0,759 ≥ 0,138 dan nilai signifikan sebesar 0,000.
... Besides, they often show a lack of social responsibility, poorintimate relationships, dropping out of school, dealing with antisocial peers, have a lowlevel of self-worth. According to Aziz (2015); Pratama, Syahniar, & Karneli (2016), victims of broken homesfearteachers since they are considered harmful and aggressive, violating school rules, speaking harshly, resisting/opposing, not moral orpolite, lazy to go to school, like being truant, do not like learning, oftenmake noise andseek attention, anddisturb friends and teachers. Furthermore, children lose concentration during learning as a result of the separation between parents, leading to anacademic failure (Rahmi, Mudjiran, & Nurfarhanah, 2014;Tumiyem, Daharnis, & Alizamar, 2015). ...
Article
Full-text available
Resilience is the ability of an individual to rise from adversity or the problems faced. It is needed in dealing with various bitter events such asparental divorce. To attainresilience, children need emotional and optimistic arrangements in dealing with problems. The purpose of this study, therefore, wasto examinechildren's resilience in the face of parental divorce based on the regulation of emotions and optimism. This wasa case study conducted in the city of Padang. The subjects in this study were two students with the criteria of having divorced parents in lessthan seven months or with the provision that the divorce occurred within the study period. Data analysis techniques usedwereinteractive models. The results showed resilience in children was different evenwhilefacing the same problem, such as parental divorce. For instance, one of the respondents,OT, had an excellent emotional arrangement while facing the parental divorce, while the other one, BT,was poor. The level of optimism in children also declined due to parental divorce.
Article
Full-text available
Dalam penelitian ini, konsep diri yang dimiliki oleh remaja broken home yaitu rendah dan cenderung memunculkan perilaku negatif. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap konsep diri remaja broken home dan cara meningkatkan konsep diri (self concept) remaja broken home. Subjek dalam penelitian ini adalah 4 orang yang memiliki inisial IS, AH, NA, dan RD. Konsep diri remaja broken home lebih rendah atau negatif. Ini dibuktikan dengan sikap, seperti merasa sedih, kurang percaya diri, berpikir negatif dan bahkan stres. Untuk meningkatkan konsep diri remaja broken home dilakukan dengan mengubah pola pikir subjek sehingga mereka selalu berpikir positif tentang diri mereka dan keluarga mereka, melalui konseling spiritual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konseling spiritual mampu meningkatkan konsep diri remaja broken home menjadi positif, hal ini dapat dilihat dari sikap berpikir positif seperti bersikap tulus dan mampu menerima masalah yang dihadapi dan mampu mengendalikan emosi dengan mengingat Tuhan hati mereka menjadi tenang dan berusaha memperbaiki diri menjadi lebih baik.
Article
Full-text available
Lucky individuals get a family as the first and main social group that helps a person grow and develop. A person's personality will be formed as the interaction in the family goes, following the flow and patterns of education in it. The incompleteness of the family structure due to separation or the death of parents is what causes the family to be physically damaged, resulting in the family not being optimal and affecting personality development. Suicide is usually one of the most frequently used solutions, which often occurs in children who have just experienced a physically broken home. Individuals commit suicide when they feel depressed and think that they do not pay attention and benefit themselves in life. Symptoms will appear when the individual is about to commit suicide, either stellar or express. This research and article aims to determine the profile of children who have a family background. The purpose of this study itself is to determine the personality profile of someone with a physical broken home background based on the Edward Personal Preference Schedule (EPPS). The study used a descriptive method with a quantitative approach. The results of the study if physically broken home students have a high personality tendency on the Succorance and Aggression variables and low on the Intraception variable, Students from broken home families due to divorce have a high personality tendency on the Exhibition, Succorance, Heterosexuality and Aggression variables and low on the Achievement variable, Personality of early adulthood individuals with suicidal tendencies, namely the three subjects had high needs on the loyalty variable, affiliation variable, exhibition variable, success variable, and deficiency variable, and low needs on the dominance variable, resilience variable and heterosexual variable. Keywords: physically broken home, EPPS, suicide, personality. Abstrak Individu yang beruntung mendapatkan keluarga sebagai kelompok social pertama dan utama yang membantu tumbuhkembang dari kepribadian seseorang. Kepribadian seseorang akan terbentuk menjadi semakin baku seiring berjalannya interaksi di dalam keluarganya, mengikuti arus keharmonisan dan pola didik di dalamnya. Ketidaklengkapan susunan keluarga karena perpisahan ataupun kematian orang tua itulah yang dinamakan physically broken home mengakibatkan fungsi keluarga menjadi tidak optimal dan mempengaruhi perkembangan kepribadian. Bunuh diri biasanya menjadi salah satu solusi yang paling sering dipakai, yang sering terlintas pada anak yang baru mengalami physically broken home. Bunuh diri dilakukan individu ketika merasa depresi dan berfikir tidak adanya perhatian serta kebermanfaatan dirinya di dalam hidup. Gejala-gejala akan muncul ketika individu hendak melakukan tindakan bunuh diri baik tersirat maupun tersurat. Penelitian dan peninjauan artikel ini ditujukan guna mengetahui profil kepribadian Anak yang mempunyai latar belakang keluarga. Tujuan dari penelitian ini sendiri adalah untuk mengetahui profil kepribadian seseorang yang berlatar belakang physically broken home berdasarkan Edward Personal Preference Schedule (EPPS). Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian didapati jika (1) Siswa physically broken home memiliki kecenderungan kepribadian tinggi pada variabel Succorance dan Aggression serta rendah pada variabel Intraception. (2) Siswa dari keluarga broken home karena perceraian kecenderungan kepribadiannya tinggi pada variabel Exhibition, Succorance, Heterosexuality dan Aggression serta rendah pada variabel Achievement. (3) Kepribadian individu usia dewasa awal dengan kecenderungan bunuh diri, yaitu ketiga subyek memiliki needs yang tinggi pada variabel deference, variabel affiliation, variabel exhibition, variabel succorance, dan variabel abasement, dan needs yang rendah pada variabel dominance, variabel endurance dan variabel heterosexual Kata kunci: physically broken home, EPPS, Bunuh diri, kepribadian
Article
Full-text available
Persepsi merupakan proses subjektif pengolahan bagaimana manusia dapat menilai suatu objek. Banyak hal yang mempengaruhi persepsi, antara lain stimulus yang ada, faktor lingkungan, pengamatan serta pengalaman. Perilaku muncul berdasarkan persepsi yang dimiliki oleh masing-masing individu. Fenomena yang terjadi di SMPN 9 Palangka Raya yaitu siswa enggan berkonsultasi secara suka rela dengan guru BK yang artinya siswa hanya datang ke guru BK jika dipanggil karena telah melakukan pelanggaran.Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran hubungan antara persepsi siswa dengan layanan bimbingan konseling di Kelas VIII SMPN 9 Palangka Raya.Populasi penelitian ini adalah siswa SMPN 9 Palangka Raya yang terdiri dari 3 (tiga) kelas VIII-A VIII-B VIII-C yang berjumlah 72 siswa. Sedangkan sampel penelitian dengan menggunakan total sampling yaitu menarik semua populasi sebagai sampel.Teknik Pengumpulan data pada penelitian menggunakanangket dan wawancara. Selanjutnya hasil dari data angket dianalisis dengan teknik perhitunganproduk moment diperoleh nilai r hitung yaitu sebesar 0,841. Selanjutnya nilai r hitung tersebut dikonsultasikan dengan r tabel produk moment dengan N = 72 dan taraf kebenaran 1 %, yaitu, 0,368. Didapat hasil yaitu, 4,841 > 0,368. Kesimpulan dari analisis di atas, yaitu ada hubungan yang siginifikan antara persepsi siswa terhadap layanan BK yang ada di SMPN 9 Palangka Raya.
Article
Full-text available
The purpose of this study is (1) to find out the behavior of adolescents who are raised by normal families. (2) knowing the behavior of teenagers who are raised by broken home families and (3) knowing the comparison or differences in the behavior of teenagers who are raised by normal families and broken home families. The research method used a mixed method research or a combination of quantitative and qualitative with a population of 150 teenagers living in RW.03, RW.05 and RW.06 and obtained a sample of 60 teenagers to study. Then the data analysis technique used in the study used the independent sample t-test formula. Based on the research that has been done, the results of the research are as follows: (1) the behavior of adolescents who are cared for by normal families using an average analysis technique that has been through validity and reliability tests gets a score of 3.95 which is in the interval of 3.67 – 5.00 which means that the behavior of adolescents is quite good. (2) and the behavior of adolescents who are cared for by broken home families using an average analysis technique that has been through validity and reliability tests obtains a score of 2.72 which is in the interval 2.34 - 3.66, which means that adolescent behavior is classified as poor. . (3) based on the independent sample t-test test output in the equal variances assumed section, it is known that the value of sig.(2-tailed) is 0.000 <0.05.
Psikologi Perkembangan Remaja
  • Elida Prayitno
Elida Prayitno. (2006). Psikologi Perkembangan Remaja. Padang: UNP Press.
Peranan Keluarga Memandu Anak. Jakarta: Raja Grafindo Persada
  • Kartini Kartono
Kartini Kartono. (1998). Peranan Keluarga Memandu Anak. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Hubungan antara intimasi dalam keluarga dengan tingkah laku agresif siswa
  • Nike Rahayu
Nike Rahayu. (2013). Hubungan antara intimasi dalam keluarga dengan tingkah laku agresif siswa. Skripsi tidak diterbitkan. Padang: BK FIP UNP.
Remaja dan Masalahnya
  • S Sofyan
  • Willis
Sofyan S. Willis. (2010). Remaja dan Masalahnya. Bandung: Alfabeta.
Bahan Ajar Budaya Alam Minangkabau
  • Tim Mgmp
TIM MGMP BAM. (2012). Bahan Ajar Budaya Alam Minangkabau. Padang: Disdik
Hubungan antara intimasi dalam keluarga dengan tingkah laku agresif siswa. Skripsi tidak diterbitkan Padang: BK FIP UNPkonselor Copyright ©2016 Universitas Negeri Padang All rights reserved Prayitno
  • Nike Rahayu
Nike Rahayu. (2013). Hubungan antara intimasi dalam keluarga dengan tingkah laku agresif siswa. Skripsi tidak diterbitkan. Padang: BK FIP UNP. http://ejournal.unp.ac.id/index.php/konselor Copyright ©2016 Universitas Negeri Padang All rights reserved Prayitno. (2004). Layanan L1-L9. Padang: BK FIP UNP.
Psikologi Sosial. Jakarta: Rineka Cipta
  • Abu Ahmadi
Abu Ahmadi. (2009). Psikologi Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.