BookPDF Available

Sistem Kekebalan Tubuh

Authors:

Abstract and Figures

2 SISTEM KEKEBALAN TUBUHPada dasarnya, ada tiga macam strategi pertahanan tubuh: 1) Barier sikal (kulit dan mukosa yang utuh) dan kimia (asam lambung); 2) Respons imun alami (innate/non-spesik), misal fagositosis; 3) Respons imun adaptif (didapat/spesik). Pada se bagian besar kasus, pertahanan terhadap patogen penyerang yang merusak dapat dilakukan oleh barier sikal dan respons imun alami, tetapi bila tidak berhasil, respons imun adaptif akan diaktivasi.GARIS PERTAHANAN TUBUH PERTAMAKulit utuh merupakan proteksi utama yang penting dan ber peran sebagai barier sik untuk menghentikan invasi mikro organisme dan substansi lain. Sekret kulit, seperti asam keringat dan asam lemak dari kelenjar lemak, berperan dalam meng hancurkan dan mengurangi pertumbuhan bakteri pada per mukaan kulit. Populasi mikro!ora normal yang berkolonisasi pada permukaan kulit akan menghambat pertumbuhan mikro organisme patogen potensial dengan cara mengompetisi ruang dan makanan yang tersedia. Membran mukosa, seperti mukosa pencernaan, pernapasan, urinari, dan reproduksi, berfungsi untuk melindungi tubuh dari invasi mikroorganisme asing. Urin dan sekret mukosa akan men-dorong dan mengeluarkan mikroorganisme ke arah luar tubuh. Barier kimia dilakukan, misal oleh enzim antimikroba, lisosim, dalam pernapasan, air mata, saliva, hidung, dan asam lambung.Setiap hari tubuh manusia dapat terkontaminasi dengan be-ratus-ratus bakteri yang dapat memasuki tubuh melalui ber bagai cara, misalnya melalui konsumsi makanan, tetapi ham pir semua-nya dimatikan oleh mekanisme pertahanan tubuh. Begitu pun tiap hari manusia mengonsumsi beratus-ratus bakteri dan lagi-lagi hampir semuanya mati dalam saliva atau asam lambung. Dalam keadaan ini, saliva atau asam lambung me rupakan media pertahanan tubuh. Namun, kadang-kadang satu bakteri dapat Page 5 Strategi Pertahanan Tubuh 3lolos dan me nyebabkan keracunan makanan. Dalam hal ini, suatu efek yang sangat nyata dari kegagalan sistem imun, yang dapat terlihat adalah mual dan diare, ke duanya merupakan dua gejala yang sangat umum terjadi.Selain itu, setiap hari manusia menghirup ribuan bakteri dan virus yang ada di udara. Sistem imun memerangi bahan patogen ini tanpa masalah. Kadang bakteri dapat mengalahkan sistem imun dan tubuh terserang demam, !u, atau keadaan yang lebih buruk lagi. Demam atau !u merupakan suatu tanda yang dapat terlihat dari kegagalan kerja sistem imun untuk menghentikan agen penyebab. Bila tubuh kemudian sembuh dari demam atau !u, ini menjadi tanda bahwa sistem imun tubuh mampu meng-hilangkan agen penyerang sesudah men dapatkan pengalaman dari kekalahan sebelumnya. Sebaliknya, bila sistem imun tidak melakukan sesuatu, tubuh tidak akan sembuh dari demam atau apapun juga.
No caption available
… 
Content may be subject to copyright.
1
BAB 1
STRATEGI PERTAHANAN TUBUH
GARIS PERTAHANAN TUBUH PERTAMA .............................. 2
RESPONS IMUN .................................................................. 3
KELAINAN RESPONS IMUN ................................................. 5
2 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
Pada dasarnya, ada tiga macam strategi pertahanan tubuh: 1)
Barier sikal (kulit dan mukosa yang utuh) dan kimia
(asam lambung); 2) Respons imun alami (innate/non-
spesik), misal fagositosis; 3) Respons imun adaptif (didapat/
spesik). Pada se bagian besar kasus, pertahanan terhadap patogen
penyerang yang merusak dapat dilakukan oleh barier sikal dan
respons imun alami, tetapi bila tidak berhasil, respons imun
adaptif akan diaktivasi.
GARIS PERTAHANAN TUBUH PERTAMA
Kulit utuh merupakan proteksi utama yang penting dan ber peran
sebagai barier sik untuk menghentikan invasi mikro organisme
dan substansi lain. Sekret kulit, seperti asam keringat dan asam
lemak dari kelenjar lemak, berperan dalam meng hancurkan dan
mengurangi pertumbuhan bakteri pada per mukaan kulit. Populasi
mikro!ora normal yang berkolonisasi pada permukaan kulit akan
menghambat pertumbuhan mikro organisme patogen potensial
dengan cara mengompetisi ruang dan makanan yang tersedia.
Membran mukosa, seperti mukosa pencernaan, pernapasan,
urinari, dan reproduksi, berfungsi untuk melindungi tubuh dari
invasi mikroorganisme asing. Urin dan sekret mukosa akan men-
dorong dan mengeluarkan mikroorganisme ke arah luar tubuh.
Barier kimia dilakukan, misal oleh enzim antimikroba, lisosim,
dalam pernapasan, air mata, saliva, hidung, dan asam lambung.
Setiap hari tubuh manusia dapat terkontaminasi dengan be-
ratus-ratus bakteri yang dapat memasuki tubuh melalui ber bagai
cara, misalnya melalui konsumsi makanan, tetapi ham pir semua-
nya dimatikan oleh mekanisme pertahanan tubuh. Begitu pun tiap
hari manusia mengonsumsi beratus-ratus bakteri dan lagi-lagi
hampir semuanya mati dalam saliva atau asam lambung. Dalam
keadaan ini, saliva atau asam lambung me rupakan media
pertahanan tubuh. Namun, kadang-kadang satu bakteri dapat
Strategi Pertahanan Tubuh 3
lolos dan me nyebabkan keracunan makanan. Dalam hal ini, suatu
efek yang sangat nyata dari kegagalan sistem imun, yang dapat
terlihat adalah mual dan diare, ke duanya merupakan dua gejala
yang sangat umum terjadi.
Selain itu, setiap hari manusia menghirup ribuan bakteri dan
virus yang ada di udara. Sistem imun memerangi bahan patogen
ini tanpa masalah. Kadang bakteri dapat mengalahkan sistem
imun dan tubuh terserang demam, !u, atau keadaan yang lebih
buruk lagi. Demam atau !u merupakan suatu tanda yang dapat
terlihat dari kegagalan kerja sistem imun untuk menghentikan
agen penyebab. Bila tubuh kemudian sembuh dari demam atau
!u, ini menjadi tanda bahwa sistem imun tubuh mampu meng-
hilangkan agen penyerang sesudah men dapatkan pengalaman
dari kekalahan sebelumnya. Sebaliknya, bila sistem imun tidak
melakukan sesuatu, tubuh tidak akan sembuh dari demam atau
apapun juga.
RESPONS IMUN
Sistem imun bekerja setiap saat dengan beribu cara yang ber beda,
tetapi tidak terlihat. Suatu hal yang menyebabkan tubuh benar-
benar menyadari kerja sistem imun adalah di saat sistem imun
gagal karena beberapa hal. Tubuh juga menyadari saat sistem
imun bekerja dengan menimbulkan efek samping yang dapat
dilihat atau dirasakan. Contohnya, saat bagian tubuh ada yang
terluka, bakteri dan virus memasuki tubuh melalui luka. Sistem
imun mengadakan respons dan menghilangkan agen penyerang
sementara bagian tubuh yang terluka menjadi sembuh. Pada kasus
yang jarang terjadi, sistem imun gagal dan luka meradang,
terinfeksi, dan biasanya terisi nanah (pus). Radang dan nanah me-
rupakan efek samping dari kerja sistem imun. Contoh lain, saat
digigit nyamuk, timbul merah, bengkak, dan gatal. Kesemuanya
4 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
ini merupakan tanda-tanda yang dapat terlihat dari kerja sistem
imun.
Sistem imun merupakan kumpulan mekanisme dalam suatu
mahluk hidup yang melindunginya terhadap infeksi dengan
mengidentikasi dan membunuh substansi patogen. Sistem ini
dapat mendeteksi bahan patogen, mulai dari virus sampai parasit
dan cacing serta membedakannya dari sel dan jaringan normal.
Deteksi merupakan suatu hal yang rumit karena bahan patogen
mampu beradaptasi dan melakukan cara-cara baru untuk meng-
infeksi tubuh dengan sukses.
Sebagai suatu organ kompleks yang disusun oleh sel-sel
spesik, sistem imun juga merupakan suatu sistem sirkulasi yang
terpisah dari pembuluh darah yang kesemuanya bekerja sama
untuk menghilangkan infeksi dari tubuh. Organ sistem imun
terletak di seluruh tubuh, dan disebut organ limfoid.
Pembuluh limfe dan kelenjar limfe merupakan bagian dari
sistem sirkulasi khusus yang membawa cairan limfe, suatu cairan
transparan yang berisi sel darah putih terutama limfosit. Kata
lymph dalam bahasa Yunani berarti murni, aliran yang bersih,
suatu istilah yang sesuai dengan penampilan dan kegunaannya.
Cairan limfe membasahi jaringan tubuh, sementara pembuluh
limf mengumpulkan cairan limfe serta membawanya kembali ke
sirkulasi darah. Kelenjar limfe berisi jala pembuluh limfe dan
menyediakan media bagi sel sistem imun untuk mempertahankan
tubuh terhadap agen penyerang. Limfe juga merupakan media
dan tempat bagi sel sistem imun memerangi benda asing.
Sel imun dan molekul asing memasuki kelenjar limfe melalui
pembuluh darah atau pembuluh limfe. Semua sel imun keluar
dari sistem limfatik dan akhirnya kembali ke aliran darah. Begitu
berada dalam aliran darah, sel sistem imun, yaitu limfosit dibawa
ke jaringan di seluruh tubuh, bekerja sebagai suatu pusat penjagaan
terhadap antigen asing.
Strategi Pertahanan Tubuh 5
KELAINAN RESPONS IMUN
Dapat terjadi banyak masalah dari kerja sistem imun yang keliru
atau tidak diharapkan, contohnya alergi, diabetes melitus, artritis
reumatoid, penolakan jaringan transplantasi, AIDS (Acquired
Immune De!ciency Syndrome), dan tumor ganas limfoma. Alergi
hanyalah merupakan kerja sistem imun yang berlebihan terhadap
suatu rangsang tertentu yang bagi orang lain tidak mengakibatkan
hal demikian. Diabetes melitus (DM) disebabkan oleh sistem
imun yang secara tidak tepat menyerang sel pankreas dan
merusaknya. Penyakit radang sendi (artritis reumatoid) disebabkan
oleh kerja sistem imun yang tidak sewajarnya pada jaringan sendi.
Kegagalan transplantasi organ disebabkan oleh kerja sistem imun
berlebih, dan sering kali menolak organ yang ditrans plantasikan
Gambar 1.1 Organ dan jaringan sistem imun sebagai barier proteksi
tubuh terhadap infeksi
6 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
tersebut. Pada AIDS, kelainan fungsi imun terjadi karena sel yang
bekerja dalam sistem imun berkurang baik dalam jumlah maupun
fungsinya, seperti sel makrofag dan sel T, karena kerja virus.
Kelainan dalam bentuk peningkatan jumlah dan fungsi sel-sel
sistem imun, selain terjadi pada alergi dan keadaan hiper-
sensitivitas, dapat pula terjadi pada tumor ganas, misalnya lim-
foma.
Ada beberapa penyakit yang ditandai dengan desiensi sis-
tem imun. Contohnya, AIDS yang disebabkan oleh HIV (Human
Immunode!ciency Virus), yang menurunkan meka nisme pertahan-
an imun hospes oleh adanya infeksi oleh virus ini dan perubahan
sel-sel kunci sistem imun. Makrofag adalah sasaran utama, virus
hidup dan memperbanyak diri dalam makrofag. Virus meng-
hentikan aktivitas makrofag tetapi tidak membunuhnya. Di
samping itu, virus menginvasi sel T-helper secara langsung atau
melalui makrofag yang terinfeksi. Sel T-helper secara normal
mengaktivasi sistem imun termasuk makrofag. Sel T-helper yang
terinfeksi akan terbunuh, sehingga tidak dapat memberi sinyal
kepada makrofag untuk memerangi infeksi tertentu. Makrofag
yang terinfeksi tidak akan berfungsi wajar untuk memerangi
penyakit, sekalipun sel-sel makrofag ini diberi sinyal oleh sel
T-helper. Akibatnya, penderita menjadi peka terhadap organisme
yang dalam keadaan normal tidak pernah menimbulkan penyakit
(patogen oportunistik). Pneumocystis Carinii, meningitis, sar-
koma Kaposi dan kandi diasis merupakan tanda utama AIDS.
Virus dapat hidup laten dalam hospes selama beberapa tahun
sebelum akhirnya muncul tanda penyakit. Pengamatan terhadap
mekanisme laten AIDS menunjukkan bahwa AIDS teraktivasi
hanya bila tombol genetik penderita dihilangkan. Ada penderita
yang dapat membentuk substansi untuk mencegah terjadinya hal
ini. Bila bahan itu tidak dibentuk, terjadilah in feksi oportunistik
dan kanker. Sekali terinfeksi, hospes menjadi pembawa sifat
(carrier) dan dapat melepas virus ke orang lain.
Strategi Pertahanan Tubuh 7
Virus HIV tidak dapat ditularkan secara sederhana. Pe-
nularannya adalah melalui hubungan seks, pemakaian jarum
suntik bersama, dan dari ibu yang terinfeksi ke bayi sebelum atau
selama kehamilan. Secara seksual, ditularkan melalui hubungan
anal di antara homoseksual dan biseksual, yang merupakan
jumlah penderita AIDS terbesar. Dapat juga ditularkan melalui
pasangan heteroseksual, seperti halnya penyakit yang ditular kan
melalui hubungan seks, dan penyakit ini berhubungan dengan
klamidia, gonore, silis, dan hepatitis B. Rongga mulut dapat
meng indikasikan penurunan respons imun dengan banyak mani-
festasi. Semua penderita yang terinfeksi HIV dengan atau tanpa
manifestasi penyakit merupakan pembawa virus.
Penyakit autoimun terjadi bila sistem imun gagal untuk
mengenali dirinya sendiri. Pada keadaan ini, antibodi dibentuk
melawan protein hospes yang dianggap sebagai antigen. Kompleks
antigen-antibodi akan terbentuk dan meningkatkan reaksi.
Beberapa contoh penyakit autoimun adalah penyakit artritis
reumatoid, lupus eritematosis sistemik (SLE), tiroiditis, demam
reumatik, glomerulonefritis, anemia hemolitika, miastenia gravis,
multipel sklerosis, dan diabetes tipe I. Pada penyakit-penyakit
ini, terjadi kekeliruan pada fungsi sistem imun, yaitu meng han-
curkan sel-sel atau komponen sel tubuh, dengan menganggapnya
sebagai antigen.
Ada beberapa tipe diabetes melitus. Pada diabetes melitus
tipe I yang menyerang anak usia muda, terdapat kekurangan
suplai insulin. Tampaknya sel-sel imun menyerang pankreas dan
merusak sel-sel beta yang menghasilkan insulin. Tanpa insulin,
sel-sel tidak dapat mengubah gula dalam aliran darah, merusak
dinding pembuluh darah terutama kapiler. Terjadi komplikasi,
seperti penyakit jantung dan ginjal, sirkulasi yang buruk, kebutaan
dan stroke. Gejala sistemis berasal dari ke tidakmampuan
mereabsorpsi air sehingga terjadi poliuria (sering kencing), sering
makan (polifagia), dan haus (polidipsia). Polidipsia ini dapat
8 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
menyebabkan mulut kering dan lidah terasa terbakar. Diabetes
melitus tipe 2 lebih sering dijumpai pada penderita yang lebih
tua, kurang parah dibanding tipe 1 dan tidak bergantung pada
insulin, karena masih dapat dikontrol oleh diet atau obat anti-
diabetik.
Pada artritis reumatoid, kompleks antigen-antibodi melawan
jaringan sendi, berakumulasi, dan menimbulkan respons radang.
Akumulasi cairan dan mediator kimia pada rongga sendi meng-
hasilkan pembengkakan dan sakit. Terapi untuk melawan radang
adalah dengan menggunakan aspirin atau obat berisi aspirin untuk
mengurangi pembentukan prostaglandin.
Desiensi atau abnormalitas komponen sistem imun akan
membantu sel tumor untuk menghindar dari dikenali dan dirusak
oleh sel T. Sebaliknya, sistem imun dapat bereaksi berlebihan
(imunoproliferatif) dalam bentuk reaksi hipersensitivitas (alergi).
Respons imun terhadap swa-antigen (self-antigen) terjadi pada
penyakit alergi dan autoimun.
Antigen yang dikenal sebagai alergen dapat menghasilkan
reaksi alergi. Alergen ini dapat berupa makanan, obat, serbuk
sari, debu, kosmetik, tanaman, atau minyak tumbuhan. Penderita
alergi membentuk IgE yang terikat pada basol dalam darah dan
sel mast dalam jaringan sekitar pembuluh darah. Ikatan IgE
terhadap sel mast menyebabkan sel ini melepas granula dalam sel
yang mengandung bahan kimia histamin. Histamin melebarkan
pembuluh darah, hal ini merupakan suatu aktivitas untuk mem-
bawa sel-sel imun ke daerah jejas. Keadaan ini menyebabkan
pembengkakan dan radang yang berhubungan dengan alergi.
Pada alergi serbuk sari, granula-granula yang dilepas oleh sel
mast menyebabkan bersin dan pengeluaran air mata secara tiba-
tiba. Pengobatannya adalah dengan antihistamin dan kortikostero-
id yang diisap untuk mengurangi radang. Respons analaktik da-
pat membahayakan hidup, menyebabkan syok dan asksia. Pada
ke adaan ini, epinefrin diberikan untuk melawan efek histamin.
Strategi Pertahanan Tubuh 9
Reaksi hipersensitivitas tipe I, II, dan III melibatkan antibodi.
Tipe IV melibatkan sel- T, dan dinamakan reaksi yang dimediator
oleh sel atau reaksi tertunda karena membutuhkan waktu sebelum
sel berespons terhadap alergen. Secara tipikal, reaksi dimulai
minimal 24 jam atau lebih sesudah serangan, contohnya reaksi
terhadap cairan monomer dalam mahkota selubung sementara,
gigi tiruan, dan mahkota jembatan.
Penyakit yang ditandai oleh reaksi hipersensitivitas tertunda
adalah tuberkulosis dan silis stadium III. Penyakit yang juga
disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas tertunda terhadap mikro-
organisme adalah demam rematik. Berminggu-minggu sebelum-
nya, penderita mengalami infeksi streptokokus hemolitikus beta
yang menyerang orofaring atau kulit.
Beberapa individu terkondisi dengan reaksi hipersensitivitas
tertunda terhadap organisme atau toksin-toksinnya. Keadaan ini
dapat menyerang jantung (karditis), sendi (artritis), ginjal (glo-
merulonefritis), kulit, dan tempat lain disertai dengan demam.
Penyakit jantung rematik menyerang endokardium dan katup. Pada
proses penyembuhannya terjadi pembentukan jaringan parut
dengan kalsikasi. Katup mitral dalam keadaan khusus dapat
menutup (stenosis), menyebabkan aliran yang cepat pada jantung
(murmur). Meskipun demikian, kerusakan dapat berlangsung per -
lahan. Insusiensi katup dan stenosis akan menegangkan (strain)
jantung selama bertahun-tahun, menyebabkan hipertro kompen-
sasi dan mungkin kegagalan jantung. Penderita dengan kerusakan
katup pada penyakit jantung rematik cenderung meng alami infeksi
endokarditis (SBE, = subacute bacterial endocarditis). SBE me-
rupa kan infeksi bakteri pada katup jantung yang se belumnya sudah
dirusak oleh anomali kongenital, aterosklerosis, atau penyakit
jantung rematik. Infeksi ini disebabkan oleh bakte riemia, me-
netapnya dan bertumbuhnya bakteri (vegetasi) pada katup jantung
yang sudah rusak. SBE adalah penyakit serius dan penderitanya
dapat mengalami gagal jantung serta meninggal.
10
11
BAB 2
SISTEM IMUN
REGULASI SISTEM IMUN ................................................... 13
GANGGUAN REGULASI SISTEM IMUN ............................... 14
RESPONS IMUN
INNATE
/NON-SPESIFIK/ALAMI ................ 16
RESPONS IMUN ADAPTIF .................................................. 18
12 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
Sistem imun merupakan suatu jejaring yang didesain untuk
homeostasis molekul yang besar (oligomer) dan sel ber-
dasarkan pada proses pengenalan yang spesik. Pengenalan
dari struktur suatu oligomer oleh reseptor sel imun merupakan
komponen penting dari kekhususan sistem imun.
Sistem imun terbentuk dari jejaring kompleks sel imun,
sitokin, jaringan limfoid, dan organ, yang bekerja sama dalam
meng eliminasi bahan infeksius dan antigen lain. Antigen yang
me rupakan substansi yang menimbulkan respons imun (misalnya
bakteri, serbuk sari, jaringan transplantasi), mempunyai beberapa
komponen yang dinamakan epitop. Tiap-tiap epitop menimbulkan
pembentukan antibodi spesik atau menstimulasi sel limfosit T
spesik. Antigen merupakan generator antibodi. Obat antigenik
yang digunakan untuk mendidik sistem imun dinamakan vaksin.
Bentuk modikasi dari antigen original digunakan dalam bentuk
vaksinasi dengan tujuan menstimulasi pembentukan sel T dan sel
B memori tanpa menyebabkan suatu penyakit.
Apabila bahan infeksius tidak dapat dihentikan oleh barier
sik dan khemis, bahan infeksius akan masuk melalui kulit atau
membran mukosa dan selanjutnya mengawali terjadinya lini
pertama dari mekanisme pertahanan imunologi yang dinamakan
respons imun innate atau nonspesik atau alami. Bila bahan
patogen tidak dapat dieliminasi oleh respons imun innate, penyakit
akan menyerang sehingga respons imun adaptif atau spesik atau
didapat akan diaktivasi, agar tubuh pulih kembali.
Respons imun dikategorikan menjadi respons imun innate
(alami/nonspesik) dan respons imun adaptif (spesik). Contoh
komponen imunitas innate adalah sel fagosit (sel monosit,
makrofag, neutrol) yang secara herediter mempunyai sejumlah
peptida antimikrobial dan protein yang mampu membunuh ber-
macam-macam bahan patogen, bukan hanya satu bahan patogen
yang spesik. Sebaliknya, respons imun adaptif akan meningkat
sesudah terpapar oleh suatu bahan patogen. Pada respons imun
Sistem Imun 13
adaptif spesik, sel limfosit (sel T dan sel B) merupakan komponen
dasar yang berperan penting, mengindikasikan adanya respons
imun yang spesik. Kemampuan sel T dan sel B untuk mengenali
struktur spesik oligomer pada suatu bahan patogen dan mem-
bentuk progeni juga merupakan struktur yang dikenali, dan mem-
buat sistem imun mampu merespons lebih cepat dan efektif ketika
terpapar kembali dengan bahan patogen tersebut.
Dengan demikian, dua perbedaan penting dari respons imun
innate dan adaptif adalah respons imun adaptif lebih spesik
untuk bahan patogen/antigen tertentu dan meningkat pada tiap
paparan selanjutnya oleh antigen yang sama. Namun, keduanya
bekerja sama pada beberapa tahapan (misalnya, dengan melepas
faktor stimulus sitokin) untuk merusak antigen penyerang.
REGULASI SISTEM IMUN
Regulasi Fisiologis
Sistem imun meningkat saat tidur dan istirahat, dan melemah
oleh stres. Diet dapat memengaruhi sistem imun, contohnya buah
segar, sayuran, dan makanan kaya asam lemak tertentu dapat
memelihara kesehatan sistem imun. Asupan nutrisi yang kurang
pada janin dapat menyebabkan penurunan sistem imun untuk
seumur hidupnya. Dalam pengobatan tradisional, beberapa
tanaman herbal seperti bawang putih, elderberry, jamur sitake,
dan lingzhi, serta madu dipercaya dapat menstimulasi sistem
imun. Penelitian menunjukkan bahwa bahan-bahan tersebut dapat
menstimulasi sistem imun meskipun cara kerjanya kompleks dan
sulit untuk dikenali.
Hormon dapat mengatur kepekaan sistem imun. Contohnya,
hormon pada wanita diketahui dapat menstimulasi baik respons
imun innate maupun adaptif. Sebaliknya, androgen seperti
testosteron agaknya menekan sistem imun. Hormon lain yang
tampaknya juga meregulasi sistem imun adalah prolaktin dan
14 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
hormon pertumbuhan. Selain itu, vitamin D juga dapat meregulasi
sistem imun. Diperkirakan bahwa penurunan progresif dari kadar
hormon seiring bertambahnya usia ikut bertanggung jawab ter-
hadap melemahnya respons imun di usia tua. Sebaliknya, beberapa
hormon diregulasi oleh sistem imun, misalnya aktivitas hormon
tiroid. Beberapa penyakit autoimun, seperti lupus erite matosus
lebih banyak mengenai wanita dan serangannya sering kali ber-
samaan dengan masa pubertas.
GANGGUAN REGULASI SISTEM IMUN
Imunosupresi
Respons imun dapat dimanipulasi dengan tujuan untuk menekan
respons sesuai dengan yang diinginkan. Hal ini dilakukan pada
keadaan seperti autoimunitas, alergi, dan penolakan transplantasi.
Obat imunosupresan digunakan untuk mengontrol kelainan
autoimun atau keadaan in!amasi ketika terjadi kerusakan jaringan
yang berlebihan dan juga untuk mencegah penolakan transplantasi
sesudah transplantasi suatu organ dilakukan.
Obat anti-in!amasi sering digunakan untuk mengontrol efek
in!amasi, dalam hal ini kortikosteroid yang merupakan obat
paling kuat. Namun, obat tersebut dapat mempunyai efek samping
yang toksik dan penggunaannya harus terkontrol. Obat anti-
in!amasi dosis rendah sering digunakan dalam kaitannya dengan
pemakaian obat sitotoksik atau imunosupresan. Obat sitotoksik
menghambat respons imun dengan mematikan sel seperti sel T
yang teraktivasi. Namun, pembunuhan ini tidak selektif dan organ
lain serta tipe sel lain ikut terkena. Obat imunosupresan seperti
siklosporin mencegah sel T memberi respons yang benar terhadap
sinyal dengan menghambat jalan penyaluran sinyal.
Sebaliknya, respons proteksi sistem imun dapat pula disti-
mulasi. Stimulasi respons imun digunakan untuk memerangi
bahan patogen yang pada umumnya menghindari sistem imun.
Sistem Imun 15
Kanker
Ketika sel normal berubah menjadi sel kanker, beberapa antigen
sel kanker mengalami perubahan. Sel kanker seperti kebanyakan
sel tubuh pada umumnya, secara konstan melepaskan sedikit
protein dari permukaan sel ke dalam sistem sirkulasi. Sering kali
antigen tumor merupakan salah satu protein di antara protein
yang dicurahkan. Antigen yang dicurahkan ini menyebabkan aksi
pertahanan sistem imun termasuk sel T-sitotoksik, NK (natural
killer), dan makrofag.
Sel yang berpatroli dalam sistem imun menyediakan immune
surveilance yang kontinu dan luas bagi tubuh, yang menangkap
dan mematikan sel yang sedang mengalami transformasi ke-
ganasan. Kanker berkembang saat immune surveillance ini rusak
atau be kerja tidak tepat.
Organisme patogen
Keberhasilan serangan suatu bahan patogen bergantung pada
kemampuannya untuk menghindari respons imun tubuh. Se-
lanjutnya, bahan patogen mengembangkan berbagai cara untuk
membuatnya berhasil menginfeksi tubuh dengan menghindari
pengrusakan oleh sistem imun. Misalnya, bakteri sering mengalah-
kan barier sik dengan menyekresi enzim yang mencerna barier
atau dengan cara menyuntikkan proteinnya ke dalam tubuh hospes
yang dapat menghentikan pertahanan tubuh hospes.
Sementara strategi yang digunakan oleh beberapa bahan
pato gen untuk mengalahkan sistem imun innate adalah dengan
re pli kasi intraselular yang juga dinamakan patogenesis intra-
selular. Patogen menghabiskan hampir seluruh siklus hidupnya di
dalam sel hospes yang digunakan sebagai benteng pertahanan
ter hadap kontak langsung dengan sel imun, antibodi, dan
komplemen. Beberapa contoh bahan patogen intraselular antara
lain adalah virus, bakteri yang menyebabkan keracunan makanan
16 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
(salmonella), dan parasit yang menyebabkan malaria (Plasmodium
falciparum). Bakteri lain seperti Mycobacterium tuberculosis,
hidup di dalam kapsul pelindung yang melindunginya dari efek
lisis dari komplemen.
Banyak bahan patogen menyekresi substansi yang mengu-
rangi atau menyimpangkan respons imun. Ada pula bakteri yang
membentuk biolm untuk melindungi diri dari sel dan protein
sistem imun. Biolm ini ditemukan pada banyak infeksi. Ada
juga bakteri yang membentuk protein permukaan yang terikat
pada antibodi sehingga membuat antibodi menjadi tidak efektif,
contohnya antara lain streptokokus (protein G) dan stalokokus
aureus (protein A).
Mekanisme yang digunakan virus untuk menghindari sistem
imun adaptif bersifat lebih kompleks. Cara sederhana adalah
dengan cepat mengubah epitop yang tidak esensial (asam amino
dan atau gula) pada permukaannya, sementara mempertahankan
epitop esensial tetap tersembunyi. Sebagai contoh adalah HIV,
yang secara teratur memutasikan protein pada kapsulnya untuk
dapat memasukkan dirinya ke dalam sel target. Perubahan antigen
virus yang sangat sering terjadi ini dapat digunakan sebagai
penjelasan untuk kegagalan vaksinasi yang menggunakan protein
virus secara langsung. Strategi lain yang umum digunakan oleh
virus adalah dengan menyelubungi antigen virus dengan molekul
hospes demi untuk menghindar agar tidak dikenali oleh sistem
imun. Pada HIV, kapsul yang menyelubungi virion (partikel
lengkap virus) dibentuk dari lapisan luar sel hospes sebagai
mantel virus yang membuat virus menjadi sulit teridentikasi
sebagai non-self protein oleh sistem imun.
RESPONS IMUN
INNATE
/NON-SPESIFIK/ALAMI
Respons imun innate atau respons imun non-spesik atau respons
imun alami sudah ada sejak lahir dan merupakan komponen
Sistem Imun 17
normal yang selalu ditemukan pada tubuh sehat. Respons ini
meliputi: pertahanan sik/mekanik, pertahanan biokimia, per-
tahanan humoral, dan pertahanan selular.
Dinamakan non-spesik karena tidak ditujukan terhadap
mikroba tertentu, telah ada, dan siap berfungsi sejak lahir. Respons
ini merupakan pertahanan terdepan dalam menghadapi serangan
mikroba dan dapat memberikan respons langsung, siap mencegah
mikroba masuk tubuh dan dengan cepat menyingkirkannya.
Jumlahnya dapat ditingkatkan oleh infeksi, misal sel leukosit
meningkat selama fase akut penyakit.
Respons imun innate dimediasi oleh rangkaian kompleks
dari peristiwa selular dan molekular termasuk fagositosis, radang,
Gambar 2.1. Diagram respons imun non-spesi!k dan spesi!k sesudah
terserang mikroorganisme dan antigen. Respons imun selular dan
humoral terlihat bersama dengan tahapan fagositosis oleh neutro!l.
18 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
aktivasi komplemen, dan sel NK. Berbeda dengan respons imun
adaptif yang meningkat pada tiap paparan selanjutnya dengan
antigen yang sama, respons imun innate tidak berubah saat
paparan berikutnya.
RESPONS IMUN ADAPTIF
Sering kali respons imun non-spesik (aktivitas fagositosis, NK,
in!amasi) yang didapat saat lahir dan terjadi pada beberapa jam
pertama infeksi tidak cukup mengatasi patogen sehingga penyakit
terjadi dan tubuh harus menyembuhkan diri dengan mengaktivasi
respons imun adaptif melawan patogen penyerang. Respons imun
adaptif dimediasi oleh sel limfosit. Terjadi dengan cara aktivasi,
Antibodi Antibodi dibentuk oleh sel plasma dari diferensiasi
sel limfosit B. Meningkatkan fagositosis dengan
opsonisasi. Menetralisasi antigen dan mengaktivasi
komplemen. Kompleks Ag/Ab dapat terikat pada sel
efektor, seperti sel NK dan makrofag, menyebabkan
destruksi antigen oleh ADCC (antibody-dependent
cell mediated-cytotoxicity)
Komplemen Merupakan lebih dari 20 glikoprotein serum yang
ketika diaktivasi dapat menyebabkan lisis sel,
peradangan, dan opsonisasi
MHC (Major
Histocomptability
Complex)
Molekul MHC mengikat dan menyajikan antigen
peptida pada permukaan sel untuk dikenali oleh
reseptor antigen spesi!k dari sel T (TCR, T cell
receptor). Ada 2 kelas: MHC-I pada semua sel ber-
inti, MHC-II pada sel imun penyaji antigen
CD4 Merupakan molekul yang diekspresikan pada sel
T-helper, mengikat antigen peptida yang disajikan
oleh MHC-II
CD8 Mrupakan molekul yang diekspresikan pada sel
T-sitotoksik mengikat antigen peptida yang disajikan
oleh MHC-I
Sistem Imun 19
proliferasi, dan diferensiasi bermacam-macam sel limfosit me-
lalui AMI (antibody mediated immune response) atau CMI (cell-
mediated immune response), menghasilkan pemusnahan patogen
penyerang.
Begitu infeksi disembuhkan, sebagian besar antigen spesik
limfosit mengalami apoptosis, sementara sebagian kecil sel lim-
fosit berdiferensiasi menjadi sel limfosit-memori yang berumur
panjang dan tetap berada dalam sirkulasi darah untuk 10 tahunan
sesudah paparan pertama oleh patogen tertentu. Bila terjadi
paparan antigen yang sama untuk kedua kalinya, antigen akan
dapat dimusnahkan dengan sangat cepat (hitungan jam) dan
esien oleh sel memori dan individu dikatakan mengalami imun
atau kekebalan spesik terhadap patogen itu. Namun, bahan
patogen mampu mengadakan berbagai strategi (seperti mutasi
atau menurunkan sifat imunogenik antigen) untuk mengalahkan
pertahanan tubuh sehingga terjadi peperangan konstan antara
penyerang dan hospes.
Ada 2 tipe respons imun adaptif, yaitu AMI dan CMI. Sel
paling penting dalam respons imun adaptif adalah limfosit (25-
30% dari populasi sel darah putih). Ada 2 macam limfosit, yaitu
limfosit B dan limfosit T dengan perbandingan 1:5. Limfosit B
ber tanggung jawab terhadap respons imun yang dimediasi anti-
bodi.
AMI (
antibody mediated immune responsse
)
Limfosit B berkembang menjadi sel imunokompeten dewasa
dalam sumsum merah tulang. Tiap limfosit B mengekspresikan
reseptor antigen tunggal spesik (misalnya, antibodi) pada
permukaan sel. Pada imunitas dimediasi antibodi (AMI), ikatan
antigen dengan reseptor antigen (misalnya, antibodi) pada sel B
menyebabkan aktivasi dan diferensiasi sel B menjadi sel plasma
pembentuk antibodi. Namun, aktivasi penuh dan diferensiasi sel
20 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
B menjadi sel plasma sebagai respons terhadap sebagian besar
antigen membutuhkan sinyal ko-stimulator yang dibentuk oleh
interaksi sel B dengan CD4+ sel T-helper (sel T mengekspresi
molekul CD4). Ikatan molekul CD154 pada CD4+ sel T ke
molekul CD40 pada sel B bersama pem bentukan sitokin (IL-4
dan IL-5) oleh sel CD4+ T-helper menyebabkan aktivasi penuh
dari sel B dan diferensiasi sel B menjadi sel plasma pembentuk
antibodi.
Tiap sel plasma menyekresi sekitar 2000 antibodi/detik untuk
melawan antigen asal dan proses ini berlanjut sekitar 4-5 hari.
Pembentukan antibodi oleh sel plasma meningkat oleh aktivasi
sitokin IL-6. Antibodi yang disekresi beredar dalam sirkulasi
darah dan limfatik, terikat pada antigen asal dan menandainya
untuk dimusnahkan oleh beberapa mekanisme, termasuk aktivasi
sistem komplemen, memicu fagositosis via opsonisasi dan me-
mediasi ADCC (Antibody Dependent Cell Mediated Citotoxicity)
dengan sel efektor seperti sel makrofag, NK, dan neutrol.
CMI (
cell-mediated immune responsse
)
Kontras dibandingkan dengan AMI, CMI melawan patogen pe-
nyerang dengan dimediasi oleh limfosit T. Limfosit T bertanggung
jawab terhadap imunitas dimediasi sel (CMI) dalam melawan
antigen asing. Mengembangkan respons imun dimediasi sel T
ter hadap antigen spesik untuk melawan antigen tumor merupakan
tujuan vaksinasi kanker.
Sel T berkembang dari pra-sel T dalam sumsum tulang dan
menjadi dewasa dalam timus menjadi sel T pengekspresi CD4+
atau sel T pengekspresi CD8+. Seperti sel B, aktivasi sel T yang
berhasil membutuhkan keberadaan 2 sinyal, sinyal pengenalan
dan sinyal ko-stimulator. Sinyal pengenalan adalah pengenalan
antigen oleh reseptor antigen pada permukaan sel T yang
dinamakan reseptor sel T (TCR = T-cell receptors) yang meng-
Sistem Imun 21
hasilkan pergerakan sel T dari fase istirahat (Go) ke fase G1 dari
siklus sel. Namun, berbeda dengan sel B yang dapat langsung
terikat pada antigen dengan reseptor antigen yang unik (antibodi),
TCRs pada sel T CD4+ dan sel T CD8+ hanya dapat mengenali
suatu fragmen antigen yang telah diproses dan disajikan dalam
hubungan dengan antigen self yang unik pada permukaan sel
yang dinamakan antigen MHC (Major Histocomptability
Complex).
CD8+ sel T yang mengenali antigen target, berproliferasi
dan diferensiasi menjadi sel T-sitotoksik CD8+ (Tc), yang
membunuh antigen target dengan mengirimkan sitokin berdosis
letal (limfotoksin dan perforin) atau langsung menyebabkan
apoptosis. Sel T pengekspresi CD4+ antigen disebut sel T-helper
(TH0). Ikatan antigen pada sel T-helper CD4+ menyebabkan
proliferasi dan diferensiasi sel menjadi 2 turunan sel T-helper
CD4+ , yaitu sel TH1 dan TH2. Sel TH1 membentuk sitokin (IL-2
dan TNF) yang menstimulasi respons imun dimediasi sel (CMI)
melawan patogen intraselular dan sel tumor. Pembentukan sitokin
oleh sel TH1 akan membantu pemusnahan antigen target oleh sel
makrofag dari sistem imun non-spesik. Hal ini menunjukkan
bahwa sel T-helper CD4+ merupakan tulang punggung sistem
imun. Sel TH2 membentuk sitokin (IL-4, IL-5, IL-6) yang berperan
sentral dalam regulasi respons imun dimediasi antibodi (AMI)
dalam melawan antigen ekstra-selular dan patogen.
Peran sel T-helper CD4+ menjadi kritis pada AIDS dimana
sel ini merupakan target dari virus. Pada inidividu normal, jumlah
sel T-helper CD4+ dalam darah berkisar 800-1.200 sel/mm3. Bila
jumlahnya berkurang sampai di bawah 200/mm3 berarti kondisi
pasien sudah mengarah ke stadium akhir dari infeksi HIV dan
pasien menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik oleh mikroba
dan juga kanker seperti sarkoma Kaposi atau limfoma, yang se-
cara normal tidak terjadi pada individu sehat. Kasus AIDS men-
dukung pendapat yang menyatakan bahwa imunosupresi dapat
22 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
meningkatkan insidensi kanker. Juga mendukung konsep bahwa
imunosurveilance tubuh berperan dalam sistem pertahanan tubuh
Di samping sel T-helper CD4+ dan sel T-sitotoksik CD8+,
ter dapat populasi lain dari sel limfosit T yang menghambat
respons imun dengan melepaskan inhibitor sitokin. Sel ini di-
namakan sel T supresor (Ts).
23
BAB 3
KOMPONEN SISTEM IMUN
FUNGSI KOMPONEN SISTEM IMUN .................................. 27
24 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
Ada 2 tipe utama dari sel-sel sistem imun spesik, yaitu sel
T dan sel B. Keduanya berasal dari sel-sel prekusor
sumsum tulang embrionik yang kemudian dimodikasi
secara spesik; yang melalui timus menjadi sel T, yang melalui
bursa limfatikus dalam sumsum tulang, hati, limpa, atau usus
menjadi sel B.
Baik sel T maupun sel B beredar dalam darah dan jaringan
limfoid seperti kelenjar limfe. Ada beberapa sel T, termasuk sel
T-helper, supresor, dan killer. Sel B berkembang menjadi sel
plasma yang membentuk antibodi. Sel T-helper mengontrol dan
menjalankan sistem imun spesik dan memerintah sel-sel lain.
Sesudah antigen dihasilkan oleh makrofag, sel T akan me-
nerima atau mengikat antigen dengan suatu reseptor spesik pada
permukaan sel. Sel T yang terstimulasi akan mengeluarkan
mediator kimiawi yang dinamakan limfokin, interleukin, dan
interferon. Mediator ini akan mendorong proliferasi sel imun.
Pelepasan mediator kimiawi menyebabkan sel B menjadi sel
plasma. Sel plasma membentuk antibodi, suatu protein spesik
yang terikat pada bahan penyebab.
Antibodi dinamakan imunoglobulin, dijumpai dalam serum
dan merupakan komponen cairan humoral utama. IgG yang
merupakan 80% dari antibodi tubuh, merupakan imunoglobulin
yang paling banyak. Antibodi yang disekresi oleh kelenjar liur
adalah IgA (13%) dan sangat berperan dalam pertahanan per-
mukaan mukosa. IgM (6%) merupakan antibodi yang meng-
aktifkan sistem komplemen. IgD (1%) terlibat dalam immune
tolerance. IgE (1%) terlibat dalam reaksi hipersensitivitas imediat,
antibodi ini menyebabkan sel mast melepaskan hitamin dalam
jumlah besar, menyebabkan vasodilatasi berat.
Interferon yang dilepaskan oleh sel T, akan menyebabkan
makrofag diaktivasi sedemikian rupa sehingga dapat memfagosit
lebih baik dan mematikan benda asing dengan lebih esien. Pada
saat bersamaan, sel B dan sel T-sitotoksik diaktivasi. Sel-sel ini
Komponen Sistem Imun 25
menjadi banyak dan dapat mengenali antigen pada permukaan sel
yang terinfeksi oleh benda asing. Sel T-sitotoksik menginjeksi
protein ke dalam membran sel yang akan membentuk lubang
dalam membran, menyebabkan bagian dalam sel terbuka dan me-
matikan sel. Di samping mematikan sel-sel yang terinfeksi dengan
organisme terutama virus, sel T-sitotoksik dapat mematikan sel-
sel tumor. Tumor dapat mempunyai antigen yang berbeda dari
dirinya sendiri dan sel T-sitotoksik dapat menyerang sel-sel tumor.
Sistem imun pada saat serangan organisme yang pertama
akan mencapai aktivitas seluler dan humoral yang hebat dalam
periode sekitar 1 minggu dan berakhir selama beberapa minggu.
Dengan terbunuhnya organisme, terjadi penurunan serangan oleh
sistem imun ini. Sel T-supresor menghentikan sistem ini dengan
mengirimkan tanda untuk menekan aktivitas sitotoksis dan
aktivitas pembentukan antibodi. Sel T-supresor ini juga menekan
terjadinya perubahan sel T menjadi sitotoksik dan mencegah
tubuh menyerang dirinya sendiri. Sebelum sel T dan sel B hilang,
terbentuk sel-sel memori yang beredar dalam darah dan sistem
limfatik untuk bertahun-tahun lamanya. Kemudian bila organisme
menyerang lagi, sel-sel memori ini segera mengenali antigen
tersebut dan segera menyerangnya, termasuk di dalamnya adalah
antibodi dalam serum, mukus, saliva, dan air mata sehingga
penyerang dapat mengenalinya dari semua pintu masuk.
Peran sentral pada semua tipe respons imun dilakukan oleh
CD4+ sel T-helper. CD4+ sel T-helper yang terstimulasi oleh
antigen, berdiferensiasi menjadi turunan CD4+ sel T-helper, yaitu
sel TH1 dan TH2.
Sitokin yang dilepaskan oleh sel TH1 membantu respons
imun selular dengan meningkatkan populasi sel T-sitotoksik
CD8+ dan aktivasi makrofag yang merupakan faktor yang ber-
peran dalam respons imun innate/non-spesi!k. Pembentukan
sitokin oleh makrofag juga mengaktivasi proliferasi dan di-
ferensiasi sel T-helper.
26 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
Tabel 3.1. Sel Sistem Imun
Tabel 3.2. Sitokin yang Berperan Penting dalam Respons Imun
Fagosit Mencerna dan memakan benda asing/patogen (fagosi-
tosis), contoh: makrofag, neutro!l
Antigen
Presenting
Cells
Memproses dan menyajikan antigen ke limfosit-T,
contoh: sel dendritik, makrofag, sel B
Sel Natural
Killer (NK)
Membunuh sel tumor dan sel terinfeksi virus, merupakan
sel limfosit namun bukan sel limfosit-B dan T, kurang
spesi!k dan kurang memori
Sel Limfosit-B
(sel B)
Mengekspresikan antibodi pada permukaan sel yang
dapat berikatan dengan antigen dan berdiferensiasi
menjadi sel plasma sebagai sel pembentuk antibodi
Sel Plasma Bentuk limfosit-B yang menyekresi antibodi
Sel T-
sitotoksik (Sel
T-Killer, Sel
Tc)
Turunan sel limfosit-T (CD8+) yang mengenali antigen
asing (yang diekspresikan pada sel dan yang berikatan
dengan molekul MHC-1) dan membunuhnya dengan
melepaskan sitokin perforin dan limfotoksin. Sel T
sitotoksik juga melepas sitokin lain yang menstimulasi
fagositosis dan menghambat replikasi virus
Sel T-helper
(Th, T4)
Turunan sel limfosit-T (CD4+) yang membentuk sitokin
untuk menstimulasi respons imun yang dimediasi sel
(CMI) dan respons imun yang dimediasi antibodi (AMI)
Sel T-memori Berkembang sesudah paparan pertama oleh antigen
tertentu. Menetap dalam sirkulasi dan mengenali anti-
gen semula sampai bertahun-tahun sesudah paparan
pertama serta merespons dengan sangat cepat dan
e!sien pada paparan kedua dan selanjutnya
Sel T-supresor Sel yang menurunkan respons imun
IL-1 Terutama berasal dari sel makrofag, berperan dalam ter-
jadinya demam, aktivasi sel T, dan makrofag
Komponen Sistem Imun 27
IL-2 Disekresi oleh sel T-helper, ko-stimulator proliferasi sel
T-helper, sel T-sitotoksik dan sel B, mengakitvasi sel
NK
IL-4 Diproduksi oleh sel T, sel B dan makrofag. Turut dalam
aktivasi sel B, diferensiasi sel TH2, dan supresi sel TH1
IL-5 Terutama berasal dari sel T-helper dan sel mast. Fungsi
utama mengaktivasi kemoatraksi dari eosino!l
IL-6 Terutama berasal dari sel makrofag, endotel, dan sel T.
Berperan dalam mensintesis protein fase akut dalam
hati. Menginduksi proliferasi sel pembentuk antibodi
Interferon
(IFN)
Dibentuk oleh sel makrofag, limfosit, dan NK. Merupakan
aktivator makrofag yang utama. Berperan dalam meng-
aktivasi sel NK dan meningkatkan respons AMI dan CMI
serta mempunyai aktivitas antivirus.
Tumor
Necrosis
Factor (TNF)
Terutama berasal dari sel makfrofag dan T-helper. Sito-
toksis terhadap sel tumor. Meningkatkan aktivitas sel
fagosit
Limfotoksin
(LT)
Disekresi oleh sel T-sitoksik. Membunuh sel oleh aktivasi
rangkaian enzim sel yang menginduksi endonuklease
untuk mendegradasi DNA sel (apoptosis)
Perforin Disekresi oleh sel T-sitotoksik dan NK. Membentuk
struk tur tubular yang melubangi lapisan lemak dari sel
target sehingga menyebabkan lisis osmotis
Transforming
Growth
Factor (TGF )
Dibentuk oleh sel T dan monosit. Menghambat proliferasi
sel T dan B serta menghambat aktivitas sel NK
FUNGSI KOMPONEN SISTEM IMUN
1. Fungsi Leukosit
a. Kemotaksis
Begitu leukosit memasuki jaringan ikat, sel ini harus
mampu ber migrasi dan menempati jaringan yang terluka.
28 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
Hal ini terlaksana dengan baik oleh kemotaksis yang
bergantung pada kemampuan leukosit untuk merasakan
gradien kimiawi yang melintasi badan sel dan bermigrasi
ke arah yang lebih tinggi konsentrasi kimiawinya.
Fagosit hanya merasakan sejumlah kecil bahan kimiawi
yaitu kemotaksin karena mempunyai reseptor kemotak-
sin. Reseptor untuk kemotaksis adalah protein yang ter-
golong dalam famili protein-G.
b. Fagositosis
Contoh sel fagosit adalah sel neutrol, monosit, dan
makrofag. Seperti tipe lain dari sel darah putih, sel
fagosit berasal dari sel pumca (stem) pluripoten dalam
sumsum merah tulang. Neutrol dan monosit/makrofag
merupa kan sel yang cukup esien dalam fagositosis
sehingga dinamakan fagosit profesional. Fagositosis
oleh neutrol lebih bersifat primitif dari pada fagositosis
oleh makrofag dalam sistem imun. Sel fagosit tertarik
ke tempat infeksi oleh proses kemotaksis. Contoh faktor
kemotaksis adalah produk dari mikrobial, sel jaringan
Tabel 3.3. Contoh Kemotaksin untuk Neutro!l
Kemotaksin Sumber
TNF
IL-8
Platelet activang factor
Leukotrin B4
C5a
Neutrophil chemotactic factor
IL-1
IFN
N-formyl-methionyl peptides
Makrofag/monosit
Neutro!l (PMN), endotel
Banyak sel
Serum/plasma
Sel mast
Sel B, makrofag
Sel T yang teraktivasi
Bakteri
Komponen Sistem Imun 29
dan leukosit yang rusak, komponen komplemen (misal
C5a), dan sitokin tertentu.
Fagositosis merupakan proses multitahap dengan
sel fagosit memakan dan merusak agen infeksius.
Fagositosis merupakan proses pencernaan partikel
(dalam ukuran yang dapat terlihat oleh mikroskop
cahaya) oleh sel. Fagositosis dilakukan dalam fagosom,
suatu vakuola yang struktur membrannya tidak jelas dan
berisi bahan patogen.
Sistem imun melakukan opsonisasi, yaitu mekanis-
me melapisi patogen dengan suatu molekul antibodi atau
protein komplemen yang membuat fagosit dapat meng-
ikat dan mencerna patogen itu. Selanjutnya proses di-
lanjutkan dengan penyatuan membran plasma sel fagosit
dengan permukaan mikroorganisme. Kemudian terjadi
perluasan membran plasma (pseudopodia) dan sel
fagosit menelan patogen. Terbentuk fagosom (vakuol
fagosistik) yang menyatu dengan lisosom sehingga pa-
togen dapat dicerna oleh enzim pencernaan yang sesuai
(misalnya lisosim) dan bahan kimiawi bakterisidal.
Saat mikroba dapat dicerna, mikroba ini akan dapat
dibunuh. Fagosit membunuh bakteri dengan 2 mekanis-
me, yaitu mekanisme berdasarkan reduksi oksigen yang
dinamakan mekanisme oksidatif dan mekanisme non-
oksidatif. Mekanisme oksidatif membutuhkan keberada-
an oksigen, potensi oksidasi reduksi. Mekanisme ini
tidak optimal dilakukan di daerah krevikular gingiva.
Jadi, fagosit juga harus me miliki mekanisme pembunuh
bakteri dengan mekanisme non-oksidatif. Neutrol tidak
membutuhkan oksigen untuk energi dan dapat berfungsi
dalam kondisi anaerob. Mekanisme non-oksidatif mem-
butuhkan penyatuan fago som dan lisosom membentuk
30 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
fagolisosom yang menghasilkan sekresi komponen
lisosom ke dalam fago lisosom. Neutrol mempunyai 2
macam lisosom atau granula. Granula yang pertama
adalah granula spesik untuk sekresi ekstraselular dan
intrafagolisosom dan yang ke dua adalah granula azurol
terutama untuk sekresi in trafagolisosom. Bahan yang
dicerna dikeluarkan dari sel (eksositosis).
c. Pemprosesan dan penyajian antigen
Molekul MHC
Molekul MHC merupakan suatu tempat pada lengan
pendek kromosom 6 (6p21.3) yang mengode sejumlah
molekul termasuk molekul MHC kelas I, II, dan III yang
terlibat dengan pengikatan antigen, pemprosesan, dan
penyajiannya. Ada 2 tipe utama molekul self-MHC yang
juga dinamakan HLA (Human Leucocyte Antigen), yaitu
molekul MHC kelas I dan molekul MHC kelas II
Semua sel memproses dan menyajikan antigen yang
berasal dari sel (antigen intrasel) pada molekul MHC
kelas I. Molekul MHC kelas I ditemukan pada semua sel
tubuh kecuali pada sel eritrosit. Molekul MHC kelas I
menyajikan antigen intrasel TCR pada sel T CD8+, dan
sel NK.
Molekul MHC kelas III meliputi faktor komplemen
B, C2, dan C4.
Antigen yang berasal dari sumber di luar sel di-
sajikan oleh sel penyaji antigen khusus (APC, Antigen
Precenting Cell) pada molekul MHC kelas II. Ada 3
APC khusus, yaitu sel dendritik periferal, derivat
monosit, dan sel B. Molekul MHC kelas II ditemukan
hanya pada permukaan sel penyaji antigen (APC,
Antigen Presenting Cell) seperti sel makrofag, sel B,
dan sel dendritik. Molekul MHC kelas II berperan
Komponen Sistem Imun 31
penting dalam penyajian antigen eksogen ke reseptor sel
T pada sel T-helper CD4+. Sel-sel ini khusus menyajikan
antigen ke sel T CD4+yang mengenali antigen pada
molekul MHC kelas II. Ini merupakan hal penting karena
CD4+ sel T mengontrol proliferasi sel T lain dan sel B.
Sel penyaji antigen khusus memroses antigen dan meng-
ekspresikannya pada molekul MHC kelas II (misal,
HLA-DP, HLA=DQ, HLA-DR). Antigen ekstrasel ini
diproses oleh fagositosis dan menghasilkan molekul
peptida pada molekul MHC kelas II di permukaan sel.
Molekul MHC kelas I, II dan III pada manusia ber-
sifat pleomork berdasarkan adanya variasi gen tertentu.
Ini menyebabkan antigen yang terikat pada molekul
MHC kelas I dan II seseorang belum tentu terikat pada
individu lain. Adanya pleomork merupakan faktor
pertimbangan ada tidaknya penolakan yang signikan
dalam transplantasi sehingga ada istilah histokom pa-
tibilitas. Bila jaringan donor tidak cocok dengan MHC,
akan terjadi bermacam-macam antigen baru yang
Gambar 3.1 Diagram hubungan antara sel T dengan molekul
MHC kelas I, MHC kelas II, dan antigen (warna merah)
32 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
dikenali sebagai benda asing dan jaringan donor ditolak
oleh respons imun.
Sesudah pengikatan fragmen komplek antigen MHC
pada TCR, sel T menjadi aktif hanya bila me nerima
sinyal kedua (sinyal ko-stimulator). Sinyal kedua ini
penting untuk aktivasi penuh sel T dengan cara: membuat
sel T resisten terhadap apoptosis (ke matian sel yang
terprogram), meningkatkan regulasi reseptor faktor per-
tumbuhan pada sel T sehingga men stimulasi proliferasi
sel T, dan mengurangi jumlah waktu yang diperlukan
untuk menstimulasi proliferasi sel T.
Molekul ko-stimulator umumnya merupakan mole-
kul adhesi sel yang membuat 2 sel melekat satu dengan
yang lain untuk periode lama dan menyebabkan proli-
ferasi dan diferensiasi sel T. Contoh: aktivasi dan dife-
rensiasi sel T CD4+ menjadi sel T-helper membutuhkan
ikatan molekul CD28 pada CD4+ sel T ke molekul
CD80/CD86 yang tersaji pada APC, menghasilkan pem-
bentukan IL-2, ekspresi Il-2, progresi siklus sel, dan
proliferasi sel T teraktivasi. Pengenalan antigen oleh
reseptor antigen pada sel limfosit dalam absennya sinyal
ko-stimulator menyebabkan tidak terbentuknya sitokin
yang menghasilkan suatu keadaan yang dinamakan
anergi (keadaan tidak adanya respons imunologi) atau
menyebabkan meningkatnya apoptosis.
Berbeda dengan sel T-helper CD4+, aktivasi penuh
sel T-sitotoksik melawan sel target dicetuskan oleh ikatan
molekul CD2 pada CD8+ sel T dengan molekul CD58
sel target dan dengan interaksi LFA-1 (Lymphocyte
Functional Antigen-1) pada sel T dengan molekul adhesi
interselular-1 (ICAM-1, Intercellular Adhesion Molecule
1) pada sel target.
Komponen Sistem Imun 33
2. Neutro!l dan Monosit/Makrofag
Neutrol dan monosit merupakan sel fagositik dari leukosit.
Perbedaan mendasar dari keduanya adalah neutrol meng-
alami diferensiasi hampir lengkap dalam sumsum tulang
selama 14 hari, sedangkan monosit keluar dari sumsum
tulang sesudah 2 hari dalam keadaan yang relatif tidak dewasa
dan berdiferensiasi dalam jaringan. Keduanya berukuran
sama (diameter 10µm) dan berada dalam darah.
Neutrol berumur pendek (1-5 hari). Neutrol juga
dikenal dengan nama PMN (leukosit polimorfonuklear) dan
merupakan sel leukosit terbanyak dalam darah, yaitu sekitar
dua per tiga populasi leukosit (4000-8000 sel/mm3). Neutrol
memiliki lisosom dalam sitoplasmanya. Oleh karena neutrol
tidak perlu mengalami diferensiasi untuk melakukan fungsi-
nya, sel ini cocok untuk respons segera. Neutrol mengadakan
respons sangat cepat terhadap infeksi. Dalam merespons
infeksi, sumsum tulang membentuk neutrol 1-2x1011 per
hari. Jumlah neutrol tidak berkurang dengan bertambah
usia. Ketika neutrol meninggalkan darah, sel ini selalu
mempertahankan ukurannya yang kecil dan karenanya di-
namakan mikrofag. Neutrol hanya memfagosit patogen
yang kecil seperti virus atau bakteri. Neutrol memiliki
reseptor untuk metabolit dari molekul komplemen C3 dan
membentuk reseptor komplemen 1,3,4 (CR1, CR3, CR4).
Reseptor-reseptor ini membuat neutrol dapat berpartisipasi
dalam respons radang dan mencerna molekul asing dan sel
asing dalam proses fagositosis.
Makrofag merupakan bagian non-spesik dari sistem
imun yang memusnahkan dan merusak secara tidak selektif
atau berusaha untuk merusak organisme asing atau debris.
Telah disepakati bahwa monosit dianggap sebagai ma krofag
saat sel ini meninggalkan darah. Monosit menyem purnakan
34 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
diferensiasinya dalam jaringan lokal dan dia meter nya men-
jadi lebih besar dari 22 µm, didesain sebagai makrofag.
Kontras dengan neutrol, makrofag (big eaters) dalam
jaringan yang berasal dari darah, merespons lebih lambat
terhadap rangsang kemotaktik, tetapi lebih esien dalam
mefagosit sisa jaringan patogen yang masih hidup dan yang
sudah mati. Makrofag membunuh agen infeksi melalui be-
berapa mekanisme, seperti sekresi mo lekul yang sangat
banyak, misalnya interferon (antivirus) atau lisosim (anti-
bakteri) dan membentuk radikal oksigen, asam nitrat, serta
produk yang mengandung klorin. Ma krofag yang teraktivasi
membentuk sejumlah sitokin (IL-1, IL-8, TNF dan IFN) yang
menstimulasi respons in!amasi dan menambah tentara dari
sel imun dan molekul ke tempat infeksi agar lebih efektif
memusnahkan patogen pe nyerang
Makrofag hidup menetap dalam jaringan tertentu (sel
kupffer dalam hati, mikroglia dalam otak) atau bergerak ke
seluruh tubuh untuk mencari patogen (makrofag patroli).
Karena makrofag mengalami diferensiasi dan hidup dalam
jaringan lokal, sel ini cocok untuk berkomunikasi dengan
limfosit dan sel lain di sekitarnya. Makrofag hidup bulanan
atau tahunan, cukup panjang untuk menyajikan antigen ke
sel T. Sangat penting dalam aktivasi respons imun adaptif
melawan patogen dengan menyajikan fragmen antigen yang
diproses pada permukaan selnya yang berkaitan dengan
molekul MHC-II, ke CD4+ limfosit-T, menyebabkan aktivasi
CD4+ limfosit T-helper, sehingga terjadi stimulasi respons
imun selular dan humoral melawan agen infeksius.
Makrofag dan limfosit membentuk respons in!amasi
kronis. Monosit/makrofag mempunyai reseptor CR1, CR3,
CR4, CR5a, beberapa kelas dari reseptor Fc dan molekul
penting dalam penyajian antigen (reseptor MHC kelas I dan
Komponen Sistem Imun 35
CD1). Begitu makrofag mencerna organisme, bagian dari
organisme yang teridentikasi (sebagai antigen), tampak
pada permukaan makrofag pada MHC. Antigen ini berfungsi
sebagai marker yang kemudian memberi tanda pada sel T
yang secara spesik mengenal penyerangnya.
3. Limfosit
Tiga tipe utama limfosit dibedakan berdasarkan pada reseptor
antigennya, menjadi limfosit-T, limfosit-B, dan sel pembunuh
alami (NK, natural killer). Dalam darah, sel B dan sel T ber-
sifat tidak aktif dan berukuran kecil (8-10 µm).
Sel NK dapat berdiferensiasi secara luas dalam sumsum
tulang dan tampak dalam darah sebagai suatu limfosit besar
bergranular. Dengan diameter >15 µm, sel menjadi lebih
besar dari sel leukosit lainnya dalam darah.
Limfosit-T (sel T)
Limfosit-T merupakan 80-90% limfosit darah tepi. Juga
dijumpai di daerah parakorteks kelenjar limfe. Pengaktifan
limfosit-T sama dengan limfosit-B. Limfosit ini mempunyai
reseptor permukaan untuk antigen, membentuk sel T-memori
dan limfokin (untuk merespons rangsangan antigen), dan
mempunyai imunoglobulin permukaan dalam jumlah lebih
sedikit.
Limfosit-T mengenali berbagai antigen dengan meng-
guna kan kompleks transmembran beranitas lemah yaitu
reseptor antigen sel T (TCR, T-cell antigen receptor). Antigen
dikenali oleh sel T dalam kaitannya baik dengan molekul
MHC kelas I maupun MHC kelas II. Sel T dibagi berdasarkan
adanya ko-reseptor CD4 atau CD8. Ko-reseptor CD4 terikat
secara reversibel untuk molekul MHC kelas II (HLA-DR,
HLA-DP, HLA-DQ) yang ditemukan pada sel dendritik,
makrofag, dan sel B.
36 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
CD4+ sel T mengawali dan membantu respons imun
dalam melakukan proliferasi dan membedakan sinyal. Ko-
reseptor CD8 untuk molekul MHC kelas I yang berada pada
semua sel. CD8+ sel T terutama adalah sel T sitotoksik yang
terlibat dalam pengontrolan antigen intrasel (misal, bakteri,
fungi, hifa jamur, dan virus).
Limfosit-B (sel B)
Limfosit-B ditemukan dalam sumsum tulang, folikel limfoid,
pulpa putih dari limpa, dan merupakan 10-20% limfosit
darah perifer. Namanya berasal dari bursa of fabricus (organ
burung yang bertanggung jawab untuk pembentukan produksi
limfosit-B).
Limfosit-B membantu mengontrol antigen ekstraselular,
seperti bakteri, jamur, dan virion. Limfosit-B mengenali anti-
gen yang bervariasi dengan menggunakan reseptor antigen
sel B (BCR, B-cell antigen receptor) yang merupakan re-
septor antigen beranitas kuat. Sel B berikatan dengan re-
septor permukaan IgM, IgD untuk mengikat antigen sehingga
terjadi proliferasi limfosit-B, membentuk ekspansi klonal.
Interaksi anitas kuat antara BCR dan antigen mampu mem-
buat sel B mengikat dan mencerna antigen tanpa menyajikan
antigen. Dengan kata lain, antigen terikat kuat tanpa tereks-
presi. Sebelum antigen terekspresi, sel B mengekspresikan
IgM sebagai bagian dari BCR. Antigen yang dicerna dide-
gradasi dan disajikan pada sel T.
Sesudah paparan antigen, limfosit-B berdiferensiasi
mem bentuk sel plasma yang terdidik untuk membentuk dan
menyekresi antibodi dari isotipe IgM. Limfosit-B lainnya,
dengan adanya sel T dapat berdiferensiasi melalui jalur
memori, membentuk limfosit B-memori. Sel B memori ber-
tanggung jawab untuk serangan cepat dari respons antibodi
sekunder. Sel B memori meningkatkan populasi sel plasma
Komponen Sistem Imun 37
saat paparan kedua dari antigen dan menghasilkan antibodi
beranitas kuat dengan isotipe yang sesuai.
4. Antibodi
Antibodi merupakan protein (imunoglobulin). Dihasilkan
oleh sel plasma yang berasal dari proliferasi dan diferensiasi
sel B yang terjadi setelah kontak dengan antigen. Dikla-
sikasikan berdasarkan kegunaannya, yang utama adalah
antibodi netralisasi yang berfungsi untuk melawan toksin,
melapisi bakteri dengan opsonin untuk membantu proses
fagositosis antibodi dengan mengikat bakteri.
IgA merupakan antibodi utama dalam saliva, berfungsi
menghalangi perlekatan bakteri ke epitel mulut, faring, dan
gastrointestinal. IgD, berperan sebagai reseptor antigen di
permukaan limfosit. IgE ditemukan dengan jumlah sangat
sedikit dalam serum, berpartisipasi dalam reaksi hiper-
sensitivitas tipe I. IgG merupakan pertahanan utama terhadap
Gambar 3.2. Antibodi tersusun oleh 2 lengan berat dan lengan ringan.
Bagian dari lengan yang unik dan berubah-ubah membiarkan antibodi
mengenali antigen yang sesuai.
38 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
mikroorganisme dan toksin. IgM adalah antibodi pertama
yang disekresikan untuk merespons rangsangan antigen
5. Sel Pembunuh Alami (NK)
Sel NK merupakan subpopulasi limfosit yang berperan
penting dalam respons imun alami dengan memediasi efek
sitotoksis dalam sel target dan dengan melepas sitokin (IFN
dan TNF). Sel NK mengenali dan membunuh sel tumor
tertentu dan sel yang terinfeksi virus. Jumlah NK meningkat
dengan meningkatnya usia, tetapi kapasitas toksisitasnya
menurun, yang menyebabkan menurunnya respons sitotok-
sisitas ter hadap antigen pada agen infeksi atau terhadap sel
tumor pada usia tua
Tidak seperti limfosit-T atau limfosit-B, sel NK kurang
spesik dan kurang memori, tetapi dapat menginduksi lisis
spontan dari sel terinfeksi virus dan sel tumor dengan
menyekresi perforin dan enzim litik lainnya. Sel NK dapat
menginduksi ADCC (antibody-dependent cell mediated-
cytotoxicity) pada sel target dengan mengikatnya pada bagian
Fc antibodi. Contohnya, protozoa dan cacing terlalu besar
untuk dimakan oleh sel fagosit sehingga perlu diliputi oleh
antibodi saat sisi antigen dari antibodi (misal, IgG1 dan IgG3
manusia) terikat pada antigen tersebut sehingga bagian Fc
antibodi yang bebas dapat terikat pada reseptor Fc dari sel
NK dan terjadi pembunuhan sel secara langsung oleh
ADCC.
Sel NK mempunyai beberapa kelas reseptor antigen,
termasuk KIR (Killer Inhibitory Receptors) dan KAR (Killer
Activating Receptors). Reseptor-reseptor ini akan mengenali
antigen yang berhubungan dengan molekul MHC kelas I,
molekul MHC kelas I sendiri, atau suatu glikoprotein per-
mukaan lainnya.
Komponen Sistem Imun 39
Sel normal mempunyai molekul MHC kelas I yang me-
nyajikan antigen yang dikenali sebagai self yang ber-
interaksi dengan KIR dan melindungi sel dari pembunuhan
yang dimediasi sel NK. Perubahan antigen yang disajikan
oleh molekul MHC kelas I terjadi pada sel tumor dan sel
yang terinfeksi virus, menyebabkan aktivasi sel NK karena
KIR tidak mendeteksi cukup self antigen. Selain itu, sel dapat
menyajikan self antigen sebagai respons terhadap stres atau
perubahan lainnya, yang dikenali oleh KAR. Aktivasi KAR
dapat mengacuhkan inhibisi KIR dan menyebabkan sel NK
membunuh sel target.
6. Komplemen
Komplemen merupakan suatu rangkaian interaksi dari sekitar
30 membran yang berhubungan dengan reseptor sel dengan
glikoprotein serum yang larut. Komponen larut dari sistem
ini berjumlah sekitar 5% (3-4 mg/mL) dari total protein
serum. Sebagian besar komponen yang larut disintesis dalam
hati, namun banyak juga yang dibentuk oleh makrofag (misal,
C1, C2, C3, C4, C5, Faktor B, C1-INA, Faktor D, dan Faktor
H). C3 merupakan komponen penting dari komplemen, me-
rupakan komponen terbesar, yaitu sekitar sepertiga total
kom plemen.
Komponen larut dari sistem komplemen pertama kali di-
lihat ketika menyebabkan bakteriolisis dan sitolisis dalam
hubungannya dengan antibodi (suatu komplemen dari anti-
bodi) dan kemudian dalam hubungannya dengan tidak adanya
antibodi. Efek litik ini menjadi terkenal dan mewakili hanya
1 fungsi dari komplemen. Sistem komplemen berperan
penting dalam memusnahkan mikroba selama respons imun
innate dan adaptif.
Komplemen merupakan protein yang bila diaktifkan
akan melindungi terhadap infeksi dan berperan dalam fase
40 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
in!amasi dengan berperan sebagai: opsonin untuk meningkat-
kan fagositosis; faktor kemotaksis; melisis bakteri dan pa-
rasit. Ada 3 jalur utama aktivasi komplemen, dua di antaranya
diinisiasi oleh mikroba dalam keadaan tidak adanya antibodi,
jalur ini dinamakan jalur alternatif atau jalur lectin. Jalur
ketiga diinisiasi oleh isotipe antibodi tertentu yang melekat
pada antigen, pengaktifan jalur ini dinamakan jalur klasik.
Beberapa protein dalam sistem komplemen berinteraksi
dalam sekuen yang tepat. Protein komplemen yang dalam
jumlah besar di dalam plasma dinamakan C3, berperan
sentral dalam ketiga jalur pengaktifan di atas. C3 secara
spontan terhidrolisis dalam plasma dengan kadar rendah
namun produknya tidak stabil dan cepat hancur serta meng-
hilang. Jalur alternatif terpicu saat produk pecahan hidrolisis
C3 yang dinamakan C3b dideposit pada permukaan mikroba.
Di sini, C3b membentuk ikatan kovalen yang stabil dengan
protein atau polisakarida mikroba yang melindunginya dari
pengrusakan selanjutnya. C3b dicegah untuk berikatan stabil
dengan sel hospes normal oleh beberapa protein regulator
yang berada pada sel hospes dan tidak ditemukan pada
mikroba. Mikroba yang terikat dengan C3b menjadi substrat
bagi pengikatan protein lain, dinamakan faktor B, yang
dipecahkan oleh protease plasma untuk membentuk fragmen
Bb. Fragmen ini tetap melekat pada C3b dan kompleks
C3bBb secara enzimatik memecahkan lebih banyak C3 se-
bagai suatu jalur alternatif konvertasi C3 sehingga aktivitas
konvertasi ini membentuk lebih banyak molekul C3b dan
C3bBb.
Sistem komplemen merupakan komponen pusat dari
respons in!amasi yang mampu membuat endotel dan leukosit
mengenali dan mengikat substansi asing dalam keadaan ke-
kurangan reseptor. Sistem komplemen mengandung rangkai-
an protein tidak aktif dalam darah dan dapat diaktivasi
Komponen Sistem Imun 41
sesudah pengikatan antibodi pada bakteri dan sel asing lain
atau dengan jalur alternatif dengan melibatkan kapsul poli-
sakarida bakteri. Sekali diaktivasi, sistem komplemen mem-
bentuk sejumlah protein aktif yang dapat meningkatkan
in!amasi dan fagositosis serta memicu lisis sel.
Komplemen memicu in!amasi dengan membentuk:
Substansi vasoaktif yang dinamakan * kinin-like, C2a,
yang menginduksi sakit, meningkatkan permeabilitas
dan pelebaran pembuluh darah
C3a, C4a, dan C5a yang berperan meningkatkan reaksi *
in!amasi dengan menstimulasi pelebaran arteri, pe le-
pasan histamin oleh sel mast dan basol, serta kemotaksis
sel neutrol
Molekul yang dinamakan analatoksin, C3a, dan C5a *
yang menghasilkan analaksis dengan menginduksi
sekret sel mast
Kemotaksin, C5a yang menarik leukosit dan menstimulasi *
sekresi fagosit
C5b-C6, C7, C8, C9 berperan dalam memicu lisis sel *
dengan membentuk kompleks dengan membran yang
diserang
Fragmen C3b merupakan opsonin penting yang me-*
nyelubungi permukaan sel patogen. Opsonin C3b terikat
pada agregasi molekul, partikel atau sel, yang membuat
fagosit mampu mencernanya. Sel fagosit (makrofag,
monosit, neutrol) mempunyai reseptor C3b yang mem-
bantu pemusnahan patogen dengan memicu fagositosis
7. Sitokin
Sitokin merupakan protein hormon yang kurang spesik dan
lebih terlokalisasi dibanding hormon endokrin serta dapat
menstimulasi atau menghambat fungsi normal sel. Baik
42 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
sistem imun selular maupun humoral dikoordinasi oleh
sitokin (60 sitokin).
Sitokin terbagi dalam beberapa famili, termasuk inter-
leukin, interferon, tumor necrosis factor,colony stimulating
factor, dan kemokin yang mengatur migrasi sel di antara dan
di dalam jaringan.
8. Interleukin
Ada 22 interleukin (IL-1 sampai IL-22). IL-1, disekresi oleh
makrofag dan monosit, menstimulasi respons in!amasi dan
mengaktivasi limfosit. IL-2, diproduksi oleh limfosit T-helper,
menstimulasi proliferasi dari T-helper, T-sitotoksik dan
limfosit-B, serta mengaktivasi sel NK.
IL-10 dan TGF, merupakan imunosupresan, menghambat
respons sitotoksis sistem imun (sel T dan sel makrofag) ter-
hadap antigen tumor dan agen infeksi. Obat yang memblok
aksi imunosupresi IL-10 dan TGF pada sistem imun me-
rupakan substansi yang berperan penting dalam terapi kanker
manusia. Obat yang menstimulasi fungsi IL-10 dan TGF,
ber guna untuk menekan respons imun patologis seperti pada
penyakit autoimun, alergi, dan penolakan transplantasi.
9. Interferon
Interferon merupakan sitokin berupa glikoprotein yang di-
pro duksi oleh: makrofag yang diaktifkan, sel NK, berbagai
sel tubuh yang mengandung inti dan dilepas sebagai respons
terhadap infeksi virus. INF berperan dalam antivirus, meng-
induksi sel di sekitar sel terinfeksi virus, menjadi resisten
terhadap virus, mengaktifkan sel NK untuk memusnahkan
sel terinfeksi virus, dan menyingkirkan sumber infeksi
43
BAB 4
IMUNOPATOLOGI
RESPONS IMUN DALAM INFLAMASI .................................. 44
RESPONS IMUN PADA JARINGAN TRANSPLANTASI ......... 51
44 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
RESPONS IMUN DALAM INFLAMASI
Mikroorganisme menggunakan beberapa cara untuk
meng hindar dari sistem imun hospes: merusak antibodi
atau hidup dalam sel fagosit; membuat variasi atau
mengganti antigen; mengakibatkan imunosupresi respons imun
spesik dan non-spesik.
Kerusakan jaringan tubuh oleh infeksi mikroba, bahan sis
(panas, benda tajam), dan kimiawi (luka bakar asam) menimbulkan
peristiwa kompleks respons siologi non-spesik (in!amasi)
yang bertujuan untuk:
Melokalisasi infeksi dan mencegah penyebaran mikroba pe-฀
nyerang,
Memobilisasi sel imun (sel neutro dan monosit) serta ฀
molekul dari darah ke area infeksi,
Menetralisasi toksin, dan฀
Mereparasi dan menggantikan jaringan yang rusak.฀
Peran Pembuluh Limfe dan Kelenjar Limfe pada Inflamasi
Sistem limfatik dan kelenjar limfe berfungsi untuk mengairi se-
hingga cairan limfe berakumulasi dalam matriks ekstravaskular.
Kelenjar limfe mewakili pertahanan sekunder tubuh bila respons
in!amasi lokal mengalami kegagalan dalam menetralkan agen
penyebab. Pembuluh limfe juga digunakan untuk mengantarkan
antigen dan limfosit dari bagian tepi ke kelenjar limfe yang lebih
di tengah tempat berkumpulnya sel T, B, dan sel penyaji antigen.
Jumlah pembuluh limfe hampir sebanyak kapiler. Katup-katup
pembuluh limfe mengatur arah aliran limfe dari distal ke
proksimal.
Aliran limfe akan meningkat pada keadaan in!amasi. Aliran
limfe berperan dalam resolusi respons radang dan membasahi
dalam bentuk cairan edema yang juga mengandung sisa leukosit
Imunopatologi 45
yang keluar dari pembuluh darah dan sisa sel yang berasal dari
ruang ekstravaskular. Sayang sekali, cairan limfe ini dapat juga
merupakan saluran untuk penyebaran bahan jejas sehingga dapat
terjadi in!amasi sekunder yang melibatkan saluran limfatik
(limfangitis) atau kelenjar getah bening regional (limfadenitis).
Contohnya, pada infeksi tangan, dapat meluas ke aliran limfatik
lengan di atasnya (limfangitis) dan kelenjar getah bening ketiak
dapat membesar (limfadenitis). Untungnya, pertahanan sekunder
ini sering dapat mengatasi daerah infeksi, meskipun kadang-
kadang berlebihan sehingga organisme infeksius dapat tercurah
melalui aliran limfatik yang secara progresif membesar dan men-
capai aliran darah, menyebabkan terjadinya bakteriemia. Fagosit
mononuklear dari hepar, limpa, dan sumsum tulang merupakan
tempat pertahanan berikutnya meskipun dapat juga dikalahkan
oleh infeksi yang masif. Pada keadaan ini, bermacam-macam
jaringan tubuh dapat terjangkit oleh mikroba, dengan katup
jantung, ginjal, sendi, dan otak merupakan tempat yang disukai.
Sel sistem imun yang penting dalam in!amasi dan pertahanan
tubuh adalah mast, sel histiosit, sel dendritik periferal (DC),
neutrol, monosit/makrofag, sel T, sel B, dan sel NK. Sel-sel ini
mempunyai reseptor yang merupakan molekul pada permukaan
sel yang mampu membuat sel berinteraksi dengan molekul-
molekul lain atau dengan sel lain. Reseptor-reseptor ini me-
re!eksikan fungsi sel. Reseptor diidentikasi berdasarkan pe-
namaan sistematik yang dikenal dengan sistem CD (cluster of
differentiation), contoh CD1, CD2.
Sel mast penting dalam radang imediat (segera), memiliki
reseptor untuk komponen komplemen (C3a dan C5a) dan reseptor
untuk bagian Fc dari molekul antibodi IgE dan IgG (Fc R dan
Fc R). Stimulasi reseptor ini menyebabkan aktivasi dan sekresi
substansi vasoaktif yang meningkatkan permeabilitas dan dilatasi
pembuluh darah, yang merupakan dua tanda dari analaksis.
Analaksis dapat mengancam kehidupan bila meluas (sistemis),
46 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
tetapi biasanya terlokalisasi dan merupakan hal penting yang
diperlukan dalam mengawali respons in!amasi melawan invasi
lokal mikroba. Sel mast mempunyai banyak granula dalam sito-
plasma sel yang mengandung mediator radang seperti histamin,
faktor kemotaksis eosinol, dan heparin. Sel mast dapat mem-
bentuk mediator radang lain seperti SRS (slow-reacting substances
of anaphylaxis), TNF-(Tumor Necrosis Factor-), dan leukotrin
C4.
Sel histiosit berasal dari mieloid, tersebar luas, membentuk
sistem sel dendritik terkait dengan kolagen (collagen associated
dendritic cells). Sel histiosit tersebar dekat pembuluh darah dan
mempunyai reseptor untuk komponen komplemen C3a yang
berpartisipasi dalam radang imediat. Sel histiosit mengekspresi-
kan molekul MHC (Major Histocomptability Complex) kelas II.
Sel makrofag jaringan ini menstimulasi in!amasi dengan pe-
lepasan sitokin (IL-1, IL-8, TNF) yang menyebabkan vasodilatasi,
pe ningkatan permeabilitas vaskular, dan kemotaksis neutrol dan
monosit.
Sel dendritik periferal (DC) adalah sel leukosit dengan
sitoplasma menonjol atau seperti dendrit. Sel Langerhans me-
rupakan sel dendritik periferal yang terletak di bagian basal dari
lapisan epitel gepeng. Sel dendritik mencerna antigen lokal dan
mengirimkan antigen tersebut ke kelenjar limfe me lalui sistem
limfatik aferen. Sel dendritik mengekspresikan molekul MHC
kelas II dalam kadar tinggi dan molekul CD1, molekul ICAM-1
(Inter Cellular Adhesion Mole cule-1), LFA-3 (Leukocyte Function
associated Antigen-3), serta faktor-faktor ko-stimu lator.
Fagosit dan sekresi sistem komplemen dapat melebarkan
pembuluh darah (vasodilatasi) yang merupakan suatu kom ponen
dari respons radang. Vasodilatasi meningkatkan aliran darah ke
area yang rusak, menimbulkan merah dan panas di tempat jejas
serta peningkatan konsentrasi komplemen dan faktor kemotaksis
lain ke area infeksi sehingga meningkatkan migrasi fagosit,
Imunopatologi 47
fagositosis di tempat jejas dan reparasi jaringan terjadi saat
substansi yang membahayakan dan yang rusak dapat dihilang-
kan.
Respons Imun pada Sifilis
Selama infeksi awal dengan Treponema pallidum, antibodi ter-
deteksi saat termanifestasinya chancre. IgG dan IgM menetap
dalam waktu lama pada pasien yang tidak mendapat perawatan.
Tidak jelas bagaimana organisme ini dapat menetap saat terjadi
respons imun yang sangat kuat. Mungkin hal ini karena lapisan
luar dari treponema yang virulen sedemikian padat sehingga
melindunginya terhadap efek dari perlekatan dengan antibodi.
Pada pasien yang mendapatkan pengobatan, kadar IgM berkurang
tetapi IgG menetap sampai bertahun-tahun. Silis berlanjut me-
lalui stadium-stadium klinis meskipun antibodi dalam tubuh pen-
derita menetap.
Pada silis stadium awal, imunitas yang dimediasi sel ter-
hambat. Limfosit tampak berkurang responsnya terutama terhadap
antigen treponema. Namun, individu dengan silis sekunder dan
tersier stadium lanjut menunjukkan imunitas dimediasi sel ter-
hadap antigen treponema. Seperti diketahui, antigen terponema
ini dapat menghambat migrasi leukosit pada penderita silis. Jadi
berarti, baik imunitas dimediasi sel maupun imunitas dimediasi
antibodi tidak cukup memberikan perlindungan terhadap silis.
Walaupun demikian, pasien yang tidak mendapat pengobatan
mempunyai daya resistensi relatif terhadap silis dan perkem-
bangan chancre yang mengikuti infeksi sekunder jarang terjadi
pada pasien ini.
48 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
Respons Imun pada Penyakit Periodontal
Antigen mikroba memasuki jaringan gingiva dan terjadi interaksi
dari substansi asing ini dengan antibodi spesik pada gingiva.
Penelitian imuno"uoresen membuktikan bahwa ada kompleks
antigen-antibodi dan pengendapan C3 pada jaringan gingiva.
Interaksi ini mengaktivasi komplemen dan mekanisme kerusakan
jaringan lain di samping antibodi memberi efek perlindungan
dengan menetralkan toksin bakteri atau enzim melalui peningkatan
fagositosis dan pemusnahan mikroorganisme dalam plak. Pen-
derita periodontitis kronis dewasa menunjukkan titer antibodi
terhadap P. gingivalis yang secara signikan lebih tinggi diban-
dingkan penderita gingivitis atau juvenile periodontitis. Sebalik-
nya titer antibodi A. actinomycetemcomitans yang terlihat pada
penderita juvenile periodontitis lebih tinggi dibanding pada
penderita periodontitis kronis dewasa. Ini sesuai dengan pola
mikroorganisme yang ditemukan pada penderita.
Aktivasi komplemen merupakan mekanisme penting dalam
proses in"amasi lokal yang terjadi pada penyakit periodontal.
Aktivasi jalur klasik oleh kompleks antigen-antibodi atau jalur
alternatif dengan substansi seperti endotoksin akan membentuk
fragmen komplemen yang mempunyai potensi biologis. Aktivasi
kedua jalur ini menghasilkan pembentukan C3a dan C5a yang
dapat meningkatkan permeabilitas pembuluh darah, di samping
daya kemotaksis dari C5a terhadap neutrol dan monosit. Meka-
nisme kerusakan jaringan lainnya dimana komplemen berperan
signikan adalah pelepasan enzim litik oleh neutrol, stimulasi
pelepasan limfokin oleh limfosit-B, dan aktivasi prostaglandin
yang memediasi resorpsi tulang. Pembentukan mediator radang
ini berkontribusi secara signikan dalam radang kronis dan ke-
rusakan jaringan pada penyakit periodontal.
Aktivasi komplemen pada kelainan periodontal terjadi
melalui jalur klasik dengan adanya antigen dan antibodi spesik
Imunopatologi 49
seperti IgG atau IgM. Antigen poten atau substansi asing me-
masuki jaringan gingiva dan menyensitisasinya untuk membentuk
antibodi spesik. Antigen bakteri ditemukan pada jaringan
periodontal yang mengalami in"amasi dan juga terbukti adanya
titer antibodi yang signikan terhadap antigen bakteri tersebut
yang berasal dari mikro"ora periodontal. Interaksi antara antibodi
spesik dan antigen bakteri baik dalam jaringan gingiva maupun
poket periodontal menyebabkan aktivasi komplemen jalur klasik
dan pembentukan mediator radang.
Aktivasi jalur alternatif dapat juga terjadi pada penyakit
periodontal. Bakteri Gram negatif yang dominan dalam
periodontitis, mengandung endotoksin pada membran luarnya.
Endotoksin berpotensi sebagai aktivator dalam jalur alternatif.
Produk dari bakteri Gram positif termasuk actinomycetes dan
streptokokus juga mengaktivasi komplemen dalam keadaan
absennya antibodi spesik. Aktivasi jalur alternatif akan mem-
bentuk mediator in"amasi yang sama seperti yang dihasilkan
oleh aktivasi jalur klasik seperti C3a dan C5a. Pada penyakit
periodontal, cairan sulkus gingiva berubah dari transudat serum
menjadi eksudat dan kecepatan alirannya meningkat. C3 keluar
dari cairan sulkus gingiva lesi periodontal berat. Ada korelasi
yang kuat antara jumlah C3 yang keluar dengan beratnya in"amasi
dan kerusakan jaringan yang terjadi. Pengeluaran komplemen
berkurang secara signikan bersamaan dengan dilakukannya
pengobatan penyakit periodontal.
CMI merupakan faktor penting dalam patogenesis penyakit
periodontal. Pada lesi gingiva awal, respons selular ditandai oleh
banyaknya limfosit berukuran kecil atau medium bersamaan
dengan limfoblas. Respons selular merupakan tanda hipersen si-
tivitas lambat. Pada lesi periodontal kronis, sel plasma pembentuk
antibodi banyak ditemukan di samping sel T.
CMI diawali oleh limfosit-T ketika terpapar oleh antigen
yang sesuai, yang mensensitisasi dan mengubahnya serta mere-
50 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
plikasinya. Sel T yang sudah berubah ini melanjutkan sirkulasinya
dalam saluran limfatik dan darah ke jaringan atau organ lain. Bila
sel T bertemu dengan antigen spesik akan membentuk limfokin
yang langsung merusak jaringan. Limfokin juga mengaktivasi sel
monosit lain untuk merusak jaringan. Sel hospes yang mempunyai
antigen di permukaannya merupakan subjek reaksi sitotoksik
yang dimediasi langsung oleh sel T. Limfokin mempunyai be-
berapa efek merusak jaringan termasuk broblas, pelarutan
serabut kolagen, dan stimulasi resorpsi tulang.
Limfosit menghasilkan faktor penghambat migrasi yang
menghambat migrasi makrofag. Limfotoksin (LT) dihasilkan
oleh sel limfosit yang tersensitisasi pada penderita penyakit
periodontal dan bersifat sitotoksik terhadap broblas gingiva. LT
tidak dibentuk oleh limfosit dari penderita yang tidak mengalami
penyakit periodontal maupun limfosit yang tak terstimulasi pada
penderita dengan penyakit periodontal.
Limfokin atau sitokin lainnya yang disebut OAF (Osteoclast
Activating Factor) ditemukan pada penderita penyakit perio-
dontal. OAF menginduksi aktivitas osteoklas dalam tulang.
Aktivitas OAF dibedakan dari parathormon (suatu metabolit
vitamin D aktif) dan berbeda dari prostaglandin. OAF homolog
dengan Il-1
Kerusakan tulang alveolar merupakan tanda karakteristik
dari penyakit periodontal tingkat lanjut. Hubungan pasti antara
resorpsi tulang alveolar dengan plak gigi sudah diketahui, namun
bagaimana cara tulang mengalami resorpsi belum dipahami
secara lengkap. Beberapa jalur yang mungkin terjadi telah di-
uraikan dimana pembentukan plak gigi memberikan akses ke
tulang alveolar dan menyebabkan resorpsi tulang. Pembentukan
plak dapat menstimulasi sel progenitor dalam periodontium untuk
berdiferensiasi menjadi osteoklas. Kompleks bahan dari kuman
dan enzim hidrolitik dari plak berperan langsung dalam de-
kalsikasi tulang dan hidrolisis matrik, organik. Pembentukan
Imunopatologi 51
plak dapat menstimulasi sel jaringan gingiva yang bertindak
sebagai ko-faktor yang menginaktivasi bahan yang meresorpsi
tulang dengan membentuk mediator yang menstimulasi sel pro-
genitor untuk secara langsung membentuk osteoklas yang me-
resorpsi tulang. Resorpsi tulang alveolar pada penyakit peridontal
bersifat multifaktor, melibatkan interaksi antara komponen plak
gigi dan mediator yang terbentuk pada jaringan periodontal.
Respons Imun terhadap Virus
Virus tidak selalu membunuh sel yang terinfeksi. Virus dapat me-
nimbulkan mekanisme pertahanan non-spesik pada hospes dan
yang paling berperan adalah dengan menginduksi interferon.
Respons imun baik humoral maupun selular berperan dalam
pengen dalian infeksi virus.
Protein yang disandikan virus biasanya merupakan sasaran
dari respons imun. Imunitas humoral melindungi hospes terhadap
infeksi ulang oleh virus yang sama. Antibodi menetralkan dan
menahan dimulainya infeksi virus pada tahap perlekatan atau
pelepasan selubung. Antibodi sekretori IgA berperan penting
dalam perlindungan terhadap infeksi virus melalui saluran napas
atau cerna. Sel yang terinfeksi virus dilisis oleh limfosit
T-sitotoksik yang mengenali polipeptida virus pada permukaan
sel.
RESPONS IMUN PADA JARINGAN
TRANSPLANTASI
Sejak transplantasi jaringan diperkenalkan, sudah disadari bahwa
akan terjadi penolakan jaringan transplantasi yang berasal dari
orang lain. Transplantasi jaringan menghasilkan kondisi klinis
dengan aspek peran sistem imun merupakan hal penting yang
perlu diperhatikan.
52 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
Studi di era tahun 1940-1950 menyatakan bahwa penolakan
jaringan transplantasi merupakan fenomena imunologi karena
memperlihatkan spesisitas dan memori serta dimediasi oleh sel
limfosit. Pada respons imun terhadap transplantasi, sistem imun
merespons bukan terhadap mikroba (seperti lazimnya), tetapi
terhadap sel non-infeksius yang dianggap sebagai benda asing.
Pada transplantasi, respons imun merupakan penghalang
keberhasilan transplantasi. Oleh karena itu, metode penekanan
respons imun menjadi tujuan dari ahli imunologi. Respons imun
normal terhadap organ atau jaringan transplantasi yang berasal
dari individu yang tidak kompatibel menyebabkan terjadinya
penolakan transplantasi. Penolakan terjadi sebagai hasil reaksi
radang yang merusak jaringan transplantasi. Sel imun dalam
jaringan atau organ transplantasi dapat menyerang dan merusak
jaringan hospes, menyebabkan terjadinya penyakit graft vs
host.
Antigen Jaringan Transplantasi
Antigen jaringan transplantasi sebagai benda asing diekspresikan
pada hampir setiap sel yang ditransplantasi dari seorang ke orang
lain, dan merupakan substansi khusus yang menginduksi respons
imun terhadap sel jaringan transplantasi yang berbeda dari sel
hospes. Pada uji coba transplantasi antar hewan dengan galur
(strain) sejenis dan berbeda, ditunjukkan bahwa jaringan trans-
plantasi di antara galur sejenis dapat diterima, sebaliknya jaringan
transplantasi di antara galur berbeda ditolak. Hasil ini menunjukkan
bahwa penolakan jaringan transplantasi ditentukan oleh gen yang
diturunkan, yang produksinya diekspresikan pada semua jaringan.
Transplantasi pada hewan yang identik dinamakan syngeneic.
Transplantasi pada hewan yang berasal dari 1 spesies dan berbeda
dengan hewan lain dari spesies yang sama dinamakan alogenik.
Transplantasi pada hewan yang beda spesies dinamakan
Imunopatologi 53
xenogeneic. Jaringan transplantasi alogenik dan xenogeneic di-
namakan alograf dan xenograf dan hasilnya selalu ditolak. Antigen
yang menjadi target penolakan dinamakan alloantigen dan
xenoantigen. Reaksi penolakan antigen ini yang dilakukan oleh
antibodi dan sel T dinamakan aloreaktif dan xenoreaktif.
Di klinik, transplantasi umumnya terjadi di antara individu
alogenik yang merupakan anggota spesies hasil perkawinan yang
bukan keluarga dekat, yang berbeda satu dengan lainnya (kecuali
kembar identik). Respons imun yang banyak dibahas adalah yang,
menyangkut alograf. Antigen alograf yang merupakan target
utama dari penolakan merupakan protein yang dikode oleh MHC.
MHC pada manusia adalah HLA kompleks (Human Leucocyte
Antigen Complex). Fungsi molekul MHC adalah mengekspresikan
antigen peptida untuk dikenali oleh limfosit-T. Setiap individu
mengekspresikan 6 kelas allel MHC 1 (1 allel HLA-A, B, C dari
tiap orang tua) dan minimal 6 klas allel MHC II (1 allel HLA-DR,
DQ, DP dan kombinasinya dari tiap orang tua). Gen MHC sangat
polimork, minimal ada 120 allel gen HLA-A dan 250 allel gen
HLA-B sehingga tiap individu mengekspresikan banyak protein
MHC yang tampak asing bagi sistem imun individu lain kecuali
pada kasus kembar identik. Semua molekul MHC merupakan
target penolakan meskipun HLA-C dan HLA-DP terbatas poli-
morsmenya dan perbedaannya sedikit.
Pada tiap individu, semua sel T CD4+dan sel T CD8+terseleksi
selama maturasi untuk mengenali peptida yang diekspresikan
oleh molekul MHC hospes.Seleksi ini merupakan dasar dari
self MHC restriction dari limfosit-T yang merupakan modal
dasar dari sel T. Bila semua sel T dewasa terseleksi untuk hanya
mengenali peptida yang diekspresikan oleh molekul MHC hospes,
sel T seseorang akan mengenali antigen molekul MHC orang lain
(alogenik) sebagai benda asing. Sel T dewasa dapat mengenali
molekul MHC hospes yang mengekspresikan peptida asing
karena adanya proses memori. Dengan demikian, pengenalan
54 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
antigen MHC dari sel orang lain merupakan suatu respons imun
yang sudah sangat diketahui sehingga alasan mengapa individu
bereaksi melawan molekul MHC individu lain sudah dimengerti
dengan baik.
Molekul MHC alogenik yang berisi peptida yang berasal dari
sel alogenik tampak mirip dengan molekul MHC hospes yang
berikatan dengan peptida asing dan pengenalan molekul MHC
alogenik pada alograf merupakan contoh dari reaksi silang.
Banyak klon sel T spesik untuk peptida asing yang terikat pada
molekul MHC hospes bereaksi silang dengan tiap molekul MHC
alogenik asalkan molekul MHC alogenik tersebut menyerupai
komplek MHC hostes dengan peptida asingnya sehingga akibat-
nya banyak MHC sel T-spesik untuk peptida antigen yang ber-
beda-beda dapat mengenali setiap molekul MHC alogenik.
Meskipun protein MHC merupakan antigen utama yang
menstimulasi penolakan graf, protein polimork lainnya juga
brperan dalam reaksi penolakan. Antigen Non-MHC yang dapat
menginduksi penolakan graf disebut antigen histokompatibilitas
minor yang umumnya merupakan bentuk allel dari protein normal
sel yang berbeda antara donor dan resipien. Reaksi pe nolakan
yang ditimbulkan oleh antigen histokompatibilitas minor umum-
nya tidak sekeras reaksi melawan protein MHC asing. Dua ke-
adaan dimana antigen minor merupakan target penting pe nolakan
adalah pada reaksi terhadap transfusi darah dan trans plantasi
sumsum tulang.
Induksi Respons Imun Melawan Jaringan Transplantasi
Induksi respons imun yang dimediasi sel T melawan jaringan
transplantasi sama halnya dengan respons penolakan sistem imun
terhadap jaringan tumor. Sel T pada resipien dapat mengenali
alloantigen donor pada graf dengan berbagai cara, bergantung
pada sel-sel dalam graf mengekspresikan alloantigen-nya. Sel T
Imunopatologi 55
resipien dapat mengenali molekul MHC alogenik pada graf yang
diekspresikan oleh sel penyaji antigen (APC, antigen precenting
cell) graf atau oleh APC hospes.
Ketika sel T-resipien mengenali molekul MHC alogenik
donor pada APC graf, sel T diaktivasi dan proses ini dinamakan
presentasi langsung alloantigen (direct allorecognition). Presen-
tasi langsung hanya terjadi bila graf berisi APCs yang berasal dari
donor seperti misalnya, sel-sel dendritik. Presentasi langsung
menstimulasi terjadinya sel T aloreaktif yang mengenali dan
menyerang sel-sel graf.Namun, bila graf tidak berisi APC
bagaimana dapat menstimulasi sel T. Pada keadaan ini, mungkin
sel graf dicerna oleh APC resipien dan alloantigen donor diproses
dan disajikan oleh molekul MHC pada APC resipien, proses ini
dinamakan indirect allorecognition (presentasi alloantigen tidak
langsung) dan proses ini sama dengan presentasi silang dari
antigen tumor.
APC yang menyajikan semua alloantigen dengan cara
langsung atau tidak langsung juga mempunyai ko-stimulator
yang menstimulasi sel T-helper dan aloreaktif CTL (Citotoxyc T
Lymphocites). Namun bila aloreaktif CTL diinduksi dengan cara
tidak langsung, CTL harus spesik bagi alloantigen yang di-
ekspresikan oleh molekul MHC hospes pada APC hospes.
Bagaimana CTL mengenali molekul MHC alogenik graf dimana
tidak ada MHC hospes tidaklah dimengerti dengan baik. Ke-
mungkinan ketika alloantigen graf dipresentasikan secara tidak
langsung, sebagian besar populasi sel T yang merespons adalah
sel T CD4+ dan sel ini memasuki graf bersama APC hospes,
mengenali antigen graf yang diekspresikan APC, dan sitokin
yang disekresikan merusak graf melalui reaksi tipe hipersensitivi-
tas lambat. Diduga penolakan alograf cara langsung lebih berperan
dalam penolakan akut yang dimediasi CTL sedangkan cara tak
langsung lebih berperan pada penolakan kronis.
56 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
Klasifikasi Penolakan
Graft
Penolakan graf berdasarkan pada gambaran klinis dan patologis-
nya diklasikasi menjadi penolakan hiperakut, akut, dan kronis.
Klasikasi ini ditentukan dari pihak klinikus dan ditetapkan ber-
dasarkan uji waktu yang sangat nyata. Klasikasi ini dimediasi
oleh tipe respons imun yang khusus.
Penolakan hiperakut
Penolakan hiperakut terjadi dalam waktu beberapa menit sesudah
transplantasi dan ditandai oleh trombosis pembuluh darah graf,
iskemi, dan nekrosis graf. Penolakan hiperakut dimediasi oleh
antibodi (yang beredar dalam darah) yang spesik terhadap
antigen pada sel endotel graf yang sudah ada sebelum transplantasi,
kemungkinan karena transfusi sebelumnya dan reaksi melawan
alloantigen pada sel darah yang ditransfusi. Antibodi ini terikat
pada antigen endotel pembuluh darah graf, mengaktivasi kom-
plemen dan sistem pembekuan darah, dan menyebabkan jejas
pada endotel dan pembentukan beku darah.
Penolakan hiperakut bukan masalah yang umum terjadi pada
transplantasi karena setiap resipien diuji antibodinya terhadap
sel-sel donor yang potensial (tes cross-match). Namun, pe-
nolakan hiperakut merupakan penghalang utama pada xenotrans-
plantasi.
Penolakan akut
Penolakan akut terjadi dalam hitungan hari atau minggu sesudah
transplantasi dan merupakan penyebab utama dari kegagalan dini
graf. Penolakan akut dimediasi terutama oleh sel T yang bereaksi
melawan alloantigen dalam graf.Sel T ini dapat merupakan
CTL yang langsung merusak sel graf donor atau sel T yang
Imunopatologi 57
bereaksi menolak sel pembuluh darah graf yang berakhir pada
kerusakan pembuluh darah.
Antibodi juga mempunyai kontribusi dalam penolakan akut.
Terapi imunosupresi akhir-akhir ini didesain terutama untuk men-
cegah dan mengurangi penolakan yang dimediasi sel T.
Penolakan kronis
Merupakan bentuk lambat dari kerusakan graf yang terjadi setelah
berbulan-bulan atau tahun dan berakhir pada kehilangan fungsi
graf yang progresif.Dapat bermanifestasi sebagai brosis graf
atau penyempitan pembuluh darah bertahap (arteriosklerosis).
Keadaan ini disebabkan oleh sel T yang bereaksi melawan
graf alloantigen dan menyekresi sitokin yang menstimulasi
proli ferasi dan aktivitas broblas dan sel otot halus pembuluh
darah dalam graf.Oleh karena terapi penolakan akut telah
mengalami kemajuan, penolakan kronis dapat menjadi penyebab
utama ke gagalan graf.
Pencegahan dan Pengobatan Penolakan Graf
Kunci utama pencegahan dan pengobatan pada penolakan trans-
plantasi organ adalah imunosupresi yang didesain terutama untuk
menghambat aktivasi dan fungsi efektor sel T. Obat imunosupresi
yang paling banyak dipakai di klinik transplantasi adalah
siklosporin yang berfungsi memblok fosfatase sel T yang di-
butuhkan untuk mengaktifkan transkripsi faktor NFAT (nuclear
factor of activated cell T) sehingga menghambat transkripsi gen
sitokin dalam sel T. Pengembangan siklosporin sebagai obat yang
bermanfaat membuka era baru dalam transplantasi jantung, hati,
dan paru.
Banyak bahan imunosupresi lain yang digunakan untuk me-
lengkapi atau menggantikan siklosporin. Semua obat ini me-
nangani problem imunosupresi nonspesik (misalnya, obat meng-
58 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
hambat respons berlebihan pada graf) sehingga pasien yang
diobati dengan obat imunosupresi menjadi rentan terhadap infeksi
terutama infeksi mikroba intrasel dan meningkatkan insidensi
kanker terutama yang disebabkan oleh virus onkogen.
Kesesuaian allel HLA donor dan resipien berperan penting
dalam meminimalkan penolakan graf selama periode sebelum
tersedianya siklosporin di klinik. Meskipun demikian, imuno-
supresi menjadi begitu efektif pada keadaan kesesuaian HLA
tidak dianggap penting pada banyak tipe transplantasi organ,
terutama karena resipien sering kali menjadi sangat sakit bila
harus menunggu donor yang paling sesuai.
Tujuan jangka panjang ahli imunologi transplantasi adalah
menginduksi toleransi imunologi yang spesik untuk graf
alloantigen. Bila ini tercapai, penerimaan graf tanpa menutup
atau mengunci respons imun lain pada hospes dapat dilakukan.
Kendala besar dalam transplantasi adalah kurangnya organ
donor yang cocok sehingga xenotransplantasi merupakan solusi
yang memungkinkan. Percobaan eksperimental dengan xeno-
transplantasi menunjukkan penolakan hiperakut merupakan
masalah besar dengan alasan individu sering memiliki antibodi
yang bereaksi dengan sel-sel dari spesies lain. Antibodi ini
dinamakan antibodi alami karena pembentukannya tidak mem-
butuhkan pemaparan sebelumnya dengan xenoantigen. Diduga
antibodi ini dihasilkan untuk melawan bakteri yang secara normal
menghambat pencernaan dan merupakan antibodi yang beraksi
silang dengan sel dari spesies lain. Xenograf juga merupakan
subjek penolakan akut yang lebih besar dibanding alograf.
Dewasa ini tengah dilakukan usaha untuk memodikasi jaringan
xenogeneic guna mencegah penolakannya oleh resipien atau
spesies lain.
Imunopatologi 59
Transplantasi Darah
Transplantasi sel darah dinamakan transfusi dan ini merupakan
bentuk tertua dari transplantasi di klinik kedokteran. Penghalang
utama transfusi adalah adanya grup antigen darah asing, pro-
totipenya adalah antigen ABO. Antigen-antigen ini diekspresikan
oleh sel darah merah, sel endotel, dan banyak tipe sel lain.
Molekul ABO adalah glycosphingolipid yang berisikan inti
glikan yang melekat dengan sphingolipid. Nama A dan B merujuk
pada gula terminal (N-acetylgalactosamine dan galaktosa). AB
berarti mengandung keduanya dan O berarti tidak mengandung
satu pun. Individu yang mengekspresikan 1 kelompok antigen
darah bersifat toleran terhadap antigen tersebut tetapi mengandung
antibodi melawan kelompok lainnya. Ada keyakinan bahwa
antibodi ini dibentuk melawan antigen yang sama, yang dieks-
presikan oleh mikroba usus dan bereaksi silang dengan antigen
darah ABO. Antibodi yang dibentuk sebelumnya bereaksi me-
lawan sel-sel darah yang ditransfusi, yang mengekspresikan
antigen target dan hasilnya mungkin berupa reaksi transfusi yang
berat.
Masalah ini dihindari dengan menyesuaikan darah resipien
dengan donor serta melakukan praktik kedokteran standar. Oleh
karena kelompok antigen darah adalah gula, tidak meningkatkan
respons sel T. Kelompok antigen darah lainnya selain antigen
ABO juga terlibat dalam reaksi transfusi dan ini umumnya kurang
berbahaya.
Transplantasi Sumsum Tulang
Penggunaan transplantasi sumsum tulang semakin meningkat
untuk memperbaiki kerusakan hematopoeitik atau untuk me-
ngembalikan sel sumsum tulang yang rusak oleh penyinaran dan
kemoterapi kanker. Sistem imun bereaksi sangat kuat menolak
sel sumsum tulang alogenik sehingga keberhasilan transplantasi
60 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
membutuhkan kesesuaian HLA yang sangat akurat dari donor
dan resipien. Bila sel T alogenik dewasa ditransplantasi bersama
sel sumsum tulang, sel T dewasa dapat menyerang jaringan
resipien dan menimbulkan reaksi klinis serius yang dinamakan
penyakit graft versus hostes.
Meskipun graf sukses, resipien sering mengalami imuno-
desiensi berat sementara sebelum sistem imun mereka pulih
kembali. Di luar semua masalah yang terjadi, transplantasi sel
sumsum tulang menjadi hal yang sangat menarik untuk terapi
berbagai penyakit dan merupakan suatu metode penggantian
gen.
61
BAB 5
SISTEM IMUN DAN KANKER
IMUNOLOGI TUMOR .......................................................... 62
ANTIGEN TUMOR .............................................................. 64
MEKANISME IMUNOLOGI SITOTOKSITAS
SEL TUMOR ....................................................................... 65
PENOLAKAN SEL TUMOR TERHADAP IMUNOLOGI
SITOTOKSISITAS ............................................................... 68
HUBUNGAN RESPONS IMUN, USIA, DAN
TINGGINYA INSIDENSI KANKER ....................................... 70
TEORI IMUN SURVEILAN .................................................. 71
STRATEGI IMUNOTERAPI UNTUK PASIEN KANKER .......... 71
62 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
IMUNOLOGI TUMOR
Peran penting lain dari sistem imun adalah mengidentikasi
dan menghilangkan tumor atau kanker. Meningkatnya
respons imun pada penderita kanker merupakan petanda
baik yang menjanjikan untuk pengobatan. Kanker merupakan
kondisi keganasan klinis yang saat ini makin meningkat in-
sidensinya. Dalam kaitannya dengan respons pertahanan tubuh
terhadap adanya kondisi klinis ini, aspek peran sistem imun
merupakan hal penting yang perlu diperhatikan. Sebagai contoh,
sekitar 40% insidensi tumor ganas pembuluh darah sarkoma
Kaposi dijumpai pada penderita AIDS. Sarkoma Kaposi juga
dapat mengenai pasien penerima organ transplantasi yang sedang
mendapatkan terapi imunosupresif dosis tinggi.
Akhir-akhir ini diketahui beberapa faktor yang berhubungan
dengan perkembangan kanker pada manusia termasuk rokok,
alkohol, diet, polusi udara, bahan infeksi (virus dan bakteri),
kimiawi, radiasi, dan faktor turunan. Terpaparnya sel normal
dengan faktor ini menyebabkan mutasi gen yang luas seperti: gen
supresor tumor sebagai gen yang mengode faktor per tumbuhan;
reseptor faktor pertumbuhan; faktor motilitas dan invasi yang
menyebabkan terjadinya transformasi keganasan dari sel normal
melalui ekspresi atau pelepasan produk abnormal atau produk
normal dengan kadar tinggi.
Seharusnya, sistem imun yang berfungsi normal dapat
mencegah insidensi dari kanker. Namun, kenyataannya tumor
mampu berkembang pada pasien dengan keadaan imun normal.
Hal ini mengindikasikan bahwa imunitas terhadap tumor
seringkali lemah dan mudah sekali dikalahkan oleh cepatnya per-
tumbuhan tumor. Fungsi siologis sistem imun adaptif adalah
mencegah pertumbuhan sel yang mengalami transformasi atau
merusaknya sebelum menjadi tumor yang berbahaya Aktivitas ini
dinamakan immune survelaince.
Sistem Imun dan Kanker 63
Insidensi kanker meningkat pada usia lanjut bersamaan
dengan penyakit infeksi karena kemampuan sistem imun untuk
mengenali dan memengaruhi respons imun yang kuat terhadap
patogen menjadi berkurang seiring bertambahnya usia. Insidensi
kanker juga meningkat pada pasien imunosupresi seperti pada
pasien yang sedang mendapat terapi obat sitotoksik dan pasien
AIDS.
Respons imun terhadap tumor atau kanker berarti sistem
imun merespons bukan terhadap mikroba (seperti lazimnya), te-
tapi terhadap sel non-infeksius yang dianggap sebagai benda
asing. Marker antigen tumor sebagai benda asing diekspresikan
pada hampir setiap sel penderita yang menjadi target transformasi
malignan. Marker antigen ini bekerja melalui mekanisme khusus
yang menginduksi respons imun terhadap tipe-tipe sel kanker
yang berbeda tersebut. Namun, umumnya sel kanker hampir
identik dengan sel tubuh sehat sehingga esiensi sistem imun
lebih rendah dalam hal memerangi tumor atau kanker dibanding
dengan memerangi bahan infeksius. Di samping itu, mayoritas
antigen tumor atau kanker manusia adalah antigen terkait tumor
(tumor associated antigen) dan diekspresikan dalam jumlah lebih
kecil dalam sel normal.
Tumor ganas dapat menimbulkan respons in"amasi kronis
yang tidak ada hubungannya dengan nekrosis ataupun infeksi
dari jaringan tumor itu sendiri meskipun inltrat in"amasi ter-
utama sel T dan makrofag, yang diduga memediasi respons imun
serta antigen yang menimbulkan respons sel-sel tersebut tidak
dapat diidentkasi. Adanya sel jaringan limfoid dan makrofag
dalam stroma jaringan kanker menunjukkan suatu reaksi terhadap
anti gen tumor, meskipun efektivitasnya dalam membatasi pertum-
buhan kanker masih dipertanyakan.
64 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
ANTIGEN TUMOR
Bila sistem imun seseorang mampu bereaksi melawan suatu
tumor, berarti tumor harus mengekspresikan antigen yang dapat
terlihat sebagai nonself  oleh sistem imun penderita. Tumor
ganas mengekspresikan bermacam-macam molekul yang dapat
dikenali oleh sistem imun sebagai antigen asing. Sel yang meng-
alami transformasi neoplastik mengekspresikan antigen yang
tidak ditemukan pada sel normal. Bagi sistem imun, antigen ini
tampak sebagai benda asing dan keberadaannya menyebabkan
sel-sel imun menyerang sel tumor.
Banyak antigen tumor merupakan produksi dari gen mutan
atau translokasi onkogen atau gen supresor tumor yang diduga
berperan dalam proses transformasi keganasan. Pada beberapa
tumor di manusia, antigen yang meningkatkan respons imun
tampak seluruhnya sebagai protein normal yang diekspresikan
berlebihan atau yang ekspresinya normal terbatas pada jaringan
khusus atau tingkatan perkembangan tertentu, tetapi tidak teratur.
Normal self antigen tidak meningkatkan respons imun, tetapi
bila diekspresikan berlebihan dapat meningkatkan respons imun.
Antigen yang diekspresikan oleh tumor berasal dari beberapa
sumber. Beberapa di antaranya berasal dari virus onkogenik,
seperti human papilloma virus yang menyebabkan kanker leher
rahim. Lainnya merupakan protein organisme yang terbentuk
dalam tingkat rendah pada sel normal, tetapi mencapai kadar
tinggi pada sel tumor. Contohnya, enzim tirosinase yang di-
ekspresikan dengan kadar tinggi yang mentransformasi sel kulit
tertentu (misal sel melanosit) menjadi tumor yang dinamakan
melanoma. Sumber antigen tumor yang ketiga adalah protein
yang secara normal penting untuk meregulasi pertumbuhan dan
keberadaaan sel yang umumnya mengalami mutasi menjadi
molekul yang menginduksi kanker, yang dinamakan onkogen.
Sistem Imun dan Kanker 65
Pada tumor yang diinduksi virus, antigen tumor umumnya me-
rupakan produk dari virus. Antigen tumor disajikan pada molekul
MHC kelas 1 dengan cara yang sama dengan antigen virus.
Antigen spesik tumor yang teridentikasi saat ini adalah
kompleks peptida yang terikat pada molekul antigen leukosit
manusia (HLA) pada permukaan sel tumor. Hal ini yang me-
mungkinkan sel T mengenali sel tumor sebagai sesuatu yang
abnormal.
MEKANISME IMUNOLOGI SITOTOKSISITAS
SEL TUMOR
Respons utama dari sistem imun terhadap tumor adalah merusak
sel abnormal menggunakan sel T sitotoksik, kadang dengan
bantuan sel T-helper:
Sitotoksisitas dimediasi sel T
฀
Sel makrofag mampu mengidentikasi sel kanker. Sel ma-
krofag bersatu dengan sel kanker dan memasukkan toksinnya
untuk membunuh sel kanker. Sel penyaji antigen hospes
(APC) mencerna sel tumor dan antigen sel tumor diproses
serta diekspresikan oleh MHC kelas I dan molekul MHC
kelas II sehingga antigen tumor dikenali oleh sel T CD8+ dan
sel T CD4+ seperti setiap protein lain yang diekspresikan
oleh APC profesional. Pada saat bersamaan, APC profe sional
mengekspresikan ko-stimulator yang memberikan sinyal
kedua untuk aktivasi sel T. Proses ini dikenal dengan nama
presentasi silang atau cross-priming. Konsep pre sentasi
silang dipakai untuk mengembangkan metode vak sinasi
melawan tumor.
Begitu sel T CD8+ berdiferensiasi menjadi efektor CTLs,
akan mampu membunuh sel kanker dan mengekspresikan
antigen relevan tanpa persyaratan untuk ko-stimulasi. Dengan
demikian, CTLs mungkin diinduksi oleh presentasi silang
66 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
antigen tumor oleh sel penyaji antigen hospes, tetapi CTL
efektif memerangi jaringan tumor tersebut.
Mekanisme imun lain dapat berperan memerangi tumor.
Respons anti-tumor dari sel T CD4+ dan antibodi dapat di-
deteksi pada pasien, tetapi kurang dipercaya bahwa respons
ini melindungi individu terhadap pertumbuhan tumor. Per-
cobaan in vitro menunjukkan bahwa sel makrofag yang ter-
aktivasi dan sel-sel pembunuh alami (NK cells) mampu
mem bunuh sel tumor, tetapi peran proteksi dari mekanisme
efektor ini dalam jaringan tumor seseorang belumlah jelas.
Sel T dari jaringan penderita tumor dapat mentransfer
imunitas bila disuntikkan ke hewan normal. Sebaliknya
transfer imunitas menghilang oleh pemberian antibodi
langsung terhadap antigen sel T.
Sitotoksisitas dimediasi sel natural killer (NK)฀
Pada dasarnya, sel NK membunuh sel tumor dengan cara
yang sama dengan sel T-sitotoksik, terutama bila sel tumor
mengandung sedikit molekul MHC kelas 1 pada permuka-
annya dibanding dengan sel normal yang merupakan
fenomena umum dari suatu tumor. Tidak seperti limfosit T
atau limfosit B, sel NK kurang spesik dan kurang memori,
tetapi dapat menginduksi lisis spontan dari sel tumor dengan
menyekresi perforin dan enzim litik lainnya. Sel NK mem-
punyai aktivitas membunuh sel tumor yang tidak bergantung
pada sensitisasi sebelumnya dan mempunyai efek mematikan
lebih hebat. Sel NK dapat menginduksi ADCC (antibody-
dependent cell mediated-cytotoxicity) pada sel target dengan
mengikatnya pada bagian Fc antibodi.
Sel tumor yang resisten terhadap aksi NK dapat dilisis
oleh NK yang diaktivasi oleh interleukin IL-2. Aktivasi NK
melalui cara ini dinamakan LAK (lymphokine activated
killer). Percobaan in vitro menunjukkan bahwa makrofag
Sistem Imun dan Kanker 67
yang teraktivasi bersama sel NK mampu membunuh sel
tumor, tetapi peran proteksi dari mekanisme efektor ini dalam
jaringan tumor seseorang belumlah jelas.
Sitotoksisitas dimediasi sel makrofag฀
Sel makrofag mengenali sel kanker, bersatu dengan sel
kanker, memasukkan toksinnya ke dalam sel kanker untuk
membunuhnya. Sel makrofag mampu membunuh sel kanker
dengan cara non-spesik, tetapi perannya dalam mengontrol
tumor ganas tidak jelas.
Percobaan in vitro bahkan menunjukkan bahwa ada
faktor yang berasal dari makrofag yang dapat menstimulasi
proliferasi sel tumor. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut,
makrofag dapat memicu pertumbuhan tumor saat sel-sel
tumor mengeluarkan sitokin yang dapat menarik makrofag
yang kemudian membentuk sitokin dan faktor-faktor per-
tumbuhan yang mengakibatkan pertumbuhan dari tumor itu
sendiri. Selain itu, kombinasi keadaan hipoksia dalam tumor
dan pembentukan sitokin oleh makrofag akan menginduksi
sel-sel tumor untuk mengurangi pembentukan protein yang
mencegah metastasis dan dengan demikian menyebabkan
terjadinya penyebaran sel-sel kanker.
Sitotoksisitas dimediasi sel bergantung antibodi (ADCC)฀
Antigen tumor dapat meningkatkan respons antibodi humoral
tetapi antibodi (imunoglobulin) sendiri tidak dapat membunuh
sel tumor. Antibodi dapat berpartitispasi dalam ADCC se-
hingga antibodi terikat baik pada antigen tumor maupun pada
reserptor Fc dari sel efektor yang akan membawa sel efektor
langsung berkontak dengan target. Sel efektor dapat me-
rupakan sel limfosit T sitotoksik, sel makrofag, ataupun sel
neutrol
68 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
Sitotoksisitas dimediasi komplemen฀
Kadang-kadang antibodi dibentuk untuk melawan sel tumor
yang membuat sel tumor dihancurkan oleh sistem komplemen.
Sel tumor yang diselubungi dengan antibodi spesik dapat
dilisis oleh aktivasi komplemen
PENOLAKAN SEL TUMOR TERHADAP
IMUNOLOGI SITOTOKSISITAS
Terbentuk dan berkembangnya suatu tumor atau keganasan yang
terdeteksi secara klinis menunjukkan bahwa sel tumor mampu
menghindar dari dikenali dan dirusak oleh sistem imun. Dari pe-
meriksaan biopsi dan serum terbukti bahwa pasien kanker mampu
menghasilkan respons CMI dan AMI namun bukti akhir-akhir ini
me nyatakan bahwa respons imun sangat lemah dalam efektivitas-
nya memusnahkan semua sel tumor atau hanya mampu mengenali-
nya saja.
Respons imun sering gagal dalam mengamati pertumbuhan
tumor karena respons imun ini menjadi tidak efektif atau karena
tumor menolak serangan sistem imun. Penolakan sel tumor ter-
hadap efek sitotoksitas sistem imun dapat disebabkan oleh be-
berapa faktor, seperti:
Variasi antigen tumor฀
Sebagian besar antigen tumor adalah antigen terkait tumor
(tumor associated antigen) dan dijumpai dalam jumlah
yang lebih rendah pada sel normal serta memiliki kemampuan
imunogenik yang rendah. Respons imun melawan tumor
dapat lemah karena banyak antigen tumor yang merupakan
bahan imunogenik lemah. Hal ini karena antigen tumor hanya
sedikit berbeda dari self antigen
Sistem Imun dan Kanker 69
Menurunnya ekspresi dari antigen yang sangat ฀
imunogenik
Banyak tumor menghentikan ekspresi antigen yang me-
rupakan target dari serangan sistem imun. Tumor demikian
dinamakan varian kehilangan antigen tumor sehingga sel
tumor terus tumbuh dan menyebar
Menurunnya ekspresi molekul MHC kelas 1฀
Molekul MHC kelas I penting untuk pengenalan antigen dan
pembunuhan sel tumor oleh sel T-sitotoksik CD8+. Ada
tumor yang menghentikan ekspresi molekul MHC kelas I
sehingga tidak dapat mengekspresikan antigen terhadap sel T
CD8+ sehingga sel NK mengenali ketiadaan molekul MHC
kelas I dengan menyiapkan mekanisme membunuh MHC
kelas I yang bukan sel tumor. Sel tumor cenderung kekurangan
molekul permukaan yang bertindak sebagai ko-stimulator
yang diperlukan untuk aktivasi sel T. Misalnya, kekurangan
molekul MHC kelas I pada permukaan sel tumor yang mem-
buatnya tidak terdeteksi oleh sel T sitotoksik. Antigen yang
disajikan oleh APC ke sel T dalam keadaan absennya sinyal
ko-stimulator atau sitokin mitogenik menyebabkan keadaan
absennya respons imun (anergi imunologi).
Mekanisme menyingkirkan respons imun oleh sel tumor
฀
Dalam perkembangannya, tumor membentuk mekanisme
untuk menyingkirkan respons imun. Misalnya, sel ganas
mengekspresikan faktor imunosupresi yang bervariasi yang
membuatnya mampu menghentikan respons imunologi ter-
hadap tumor. Contohnya: menyekresi sitokin TGF-ß, yang
menekan respons imun melalui penekanan aktivitas makrofag
dan limfosit. Pelepasan sitokin (TGF-ß dan IL-10) oleh sel
tumor dan sel T akan menekan respons terhadap sel kanker
dan menyebabkan terjadinya suatu keadaan tumor tolerance.
70 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
Imunotoleran฀
Imunotoleran terjadi terhadap antigen tumor sehingga sistem
imun tidak lagi menyerang sel tumor. Sering kali pertumbuhan
tumor melampaui pertahanan sistem imun
HUBUNGAN RESPONS IMUN, USIA, DAN
TINGGINYA INSIDENSI KANKER
Meningkatnya akumulasi mutasi gen dengan bertambahnya usia
merupakan salah satu faktor yang berperan pada meningkatnya
insidensi kanker pada usia tua. Karena insidensi kanker meningkat
cepat pada usia tua, penuaan merupakan faktor penting yang ber-
hubungan dengan kanker manusia.
Akhir-akhir ini terbukti bahwa malfungsi sistem imun ber-
peran dalam meningkatnya insidensi kanker. Penjelasannya
adalah bahwa dengan meningkatnya usia, semakin tinggi ke-
mungkinan terjadi kerusakan respons imun sehingga kerentanan
terhadap infeksi meningkat, respons terhadap vaksin tidak men-
cukupi, dan kadar kelainan autoimun tinggi. Jumlah sel NK me-
ningkat dengan meningkatnya usia, tetapi kapasitas toksisitasnya
menurun sehingga terjadi penurunan respons sitotoksisitas ter-
hadap antigen sel tumor pada usia tua.
Satu perubahan yang umum terjadi pada usia tua, yaitu pe-
nurunan CMI meskipun tak ada perubahan signikan pada AMI
dan respons imun innate pada usia tua. Penurunan CMI seperti
yang dimediasi oleh sel T-helper CD4+ akan mengurangi ke-
seluruhan respons imun melawan sel kanker. Penurunan CMI
pada usia tua disebabkan oleh fenomena multifaktor di bawah
ini:
berkurangnya populasi limfosit-T istirahat dan peningkatan
฀
populasi sel T- memori antigen spesik,
respons sel T yang buruk terhadap mitogen, dan฀
Sistem Imun dan Kanker 71
berkurangnya ekspresi molekul ko-stimulator (misal CD28) ฀
pada sel T bersamaan dengan meningkatnya molekul reseptor
inhibitor pada sel T-helper CD4+
TEORI IMUN SURVEILAN
Sistem imun secara konstan berpatroli di seluruh tubuh terhadap
sel tumor yang dikenali sebagai benda asing untuk dimusnahkan
sebelum tumor terdeteksi secara klinis. Pernyataan ini dibuktikan
ber dasarkan fakta bahwa tumor yang diinltrasi oleh banyak sel
imun (limfosit-T CD8+, makrofag, NK) mempunyai per tahanan
yang lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa sel imun bertanggung
jawab terhadap peningkatan pertahanan pasien.
Teori imun surveilan juga didukung oleh bukti bahwa insiden
kanker lebih tinggi pada usia tua dan periode neonatal, saat
respons imun kurang esien. Juga pada kenyataan bahwa insidensi
kanker lebih tinggi pada penderita imunodesiensi, misalnya
pada pasien AIDS. Sekitar 40% penderita infeksi HIV akan ter-
serang keganasan seperti Sarkoma Kaposi atau limfoma.
Insidensi tumor tertentu meningkat pada transplantasi organ
yang diberi imunosupresor dan regresi tumor yang terjadi sesudah
diberi obat anti-imunosupresor membuktikan bahwa sistem imun
berperan penting sebagai pertahanan tubuh. Regresi spontan dari
tumor ganas terjadi pada melanoma, karsinoma sel ginjal,
neuroblastoma, limfoma, dan hepatoselular yang menunjukkan
bahwa sistem imun berperan sangat penting
STRATEGI IMUNOTERAPI UNTUK
PASIEN KANKER
Saat ini pengobatan untuk kanker yang sudah menyebar (yang
tidak dapat lagi dibedah) bergantung pada kemoterapi dan radiasi,
keduanya mempunyai efek merusak pada jaringan normal. Oleh
72 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
karena respons imun sangat spesik, diharapkan nantinya imunitas
spesik terhadap tumor dapat digunakan untuk memberantas
tumor tanpa melukai pasien. Imunoterapi terhadap tumor tetap
merupakan tujuan utama ahli imunologi dan banyak pendekatan
terapi dicoba pada hewan coba dan manusia.
Imunoterapi bagi pasien kanker bertujuan untuk mem per-
siapkan proteksi terhadap sel kanker, baik dengan meningkatkan
respons imun melawan sel kanker atau dengan mengoreksi dan
menghilangkan toleransi melawan antigen tumor dengan meng-
gunakan sistem imun pasien sendiri. Strategi utama dalam imu-
noterapi kanker bertujuan untuk menyiapkan efektor antitumor
(antibodi dan sel T) pasien, mengaktifkan imunitas pasien me-
lawan tumor, dan menstimulasi respons imun anti-tumor dari
pasien sendiri. Identikasi antigen asal tidak hanya berperan
penting dalam biologi dan patologi dari bermacam-macam tipe
kanker, namun juga diperlukan untuk mengaktifkan respons CMI
dan AMI, yang merupakan dasar untuk mengembangkan strategi
imunoterapi yang lebih efektif dalam hal mendidik sistem imun
tubuh (contohnya dengan pemberian vaksin kanker).
Dahulu strategi yang digunakan terutama efektif dalam peng-
hancuran antigen ekstrasel. Akhir-akhir ini, ada 2 strategi utama
imunoterapi melawan kanker manusia, yaitu terapi ber dasarkan
pemberian antibodi monoklonal dan terapi dengan pengembangan
vaksin kanker.
Salah satu strategi imunoterapi tumor paling dini dilakukan
berdasarkan pada macam-macam bentuk imunisasi pasif dengan
efektor imun diinjeksikan pada pasien kanker. Antibodi mono-
klonal pelawan bermacam-macam antigen tumor yang sering kali
berpasangan dengan toksin poten telah dicobakan pada banyak
kanker. Antibodi terikat pada antigen tumor dan tidak saja meng-
aktifkan mekanisme efektor hospes seperti fagosit atau sistem
komplemen, tetapi juga membawa toksin ke sel tumor. Contohnya
pada kanker payudara, dengan memberikan antibodi melawan
Sistem Imun dan Kanker 73
produk HER2/neu onkogen yang terekspresi berlebihan pada
kanker payudara. Contoh lain adalah antibodi spesik untuk
CD20 yang diekspresikan pada sel B, yang digunakan untuk
meng obati tumor sel B, umumnya dalam kombinasi dengan ke-
moterapi. Karena CD20 tidak diekspresikan oleh sel punca he-
matopoeitik, sel B normal dibentuk kembali sesudah pengobatan
dengan antibodi dihentikan.
Banyak strategi imunoterapi kanker yang baru didasarkan
pada usaha mendorong respons imun hospes untuk melawan
tumor. Salah satu cara menstimulasi respons imun melawan tumor
adalah memvaksinasi pasien dengan sel tumornya sendiri atau
antigen dari sel-sel tersebut. Alasan penting untuk mendapatkan
antigen tumor adalah untuk membentuknya dan menggunakannya
untuk vaksinasi individu melawan tumornya sendiri.
Kendala dalam mengenali antigen tumor imunogenik dan
mengembangkannya menjadi vaksin yang efektif meyakinkan
ahli imunologi tumor bahwa strategi terapi terbaik mungkin
adalah membiarkan pasien membentuk respons imun spesik ter-
hadap tumornya sendiri dan mendesain terapi untuk mengop-
timalkan respons ini. Satu pendekatan untuk mencapai tujuan ini
adalah mengobati pasien dengan sitokin yang menstimulasi
respons imun. Sitokin pertama yang digunakan dengan cara ini
adalah interleukin 2 (IL-2), tetapi aplikasinya terbatas karena
efek toksiknya yang serius. Banyak sitokin lain telah dicobakan
pada terapi sistemis atau lokal di jaringan tumor.
Tujuan utama vaksinisasi adalah langsung membunuh tumor
dengan menginduksi CMI (sel T spesik antigen) dan respons
imun anti-tumor pada pasien. Namun, vaksinasi terhadap antigen
tumor yang menetap harus dilakukan pada usia muda saat sistem
imun paling esien dalam mengenali dan merusak antigen asing
Akhir-akhir ini telah dikembangkan beberapa tipe vaksin
kanker termasuk vaksin yang berisi:
74 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
1. Sel tumor autolog yang utuh (berasal dari pasien itu sendiri)
atau sel tumor alogenik yang utuh (berasal dari pasien lain),
dimodikasi dengan perubahan sik, modikasi gen (dengan
IL-2), atau mencampur dengan adjuvants (misal, pada BCG
dengan suatu strain M.bovis) yang mendorong respons sistem
imun melawan sel tumor manusia.
2. Ekstrak kasar sel tumor.
3. Ekstrak yang sudah dimurnikan (contoh, gangliosid pada
melanoma).
4. Peptida (contoh, protein yang diperoleh dari melanoma)
5. Protein yang dipanaskan tinggi.
6. Sel dendritik yang dirangsang oleh antigen tumor, molekul
ko-stimulator dan sitokin.
7. Vaksin yang berbasis DNA dan RNA.
8. Anti-idiopatik antibodi sebagai deputy/utusan antigen.
9. Pendekatan yang dinamakan imunoterapi selular adaptif
sedang dicobakan pada beberapa kanker metastasis yang
dilakukan dengan cara menyuntikkan sel T yang agaknya
berisi CTL tumor spesik yang dapat menemukan sel tumor
dan kemudian merusaknya. Limfosit-T dapat di isolasi dari
darah atau inltrat tumor dari seorang pasien, dibiakkan
dalam perbenihan dengan faktor pertumbuhan, dan di-
injeksikan kembali ke dalam jaringan tubuh pasien. Banyak
strategi stimulasi imunitas anti-tumor berdasarkan pada
pemahaman yang mendalam mengenai aktivasi limfosit dan
regulasinya. Ide menarik yang mendorong respons imun
hospes melawan tumor adalah menghilangkan sinyal peng-
hambatan normal dari limfosit-T. Pada model hewan coba,
ternyata memblok reseptor inhibitor sel T CTLA-4 meng-
hasilkan respons imun yang kuat melawan jaringan tumor
yang ditransplantasi.
10. Pada beberapa pendekatan yang telah dilakukan ternyata gen
sitokin dapat diekspresikan pada sel tumor dan digunakan
Sistem Imun dan Kanker 75
untuk imunisasi pasien sehingga dengan cara ini diharapkan
respons sel T terhadap antigen tumor menjadi meningkat.
Prinsip yang sama dilakukan pada pemberian sel tumor yang
mengekspresikan ko-stimulator B7 sebagai vaksin tumor.
11. Pendekatan pemanfaatan substansi yang memblok aksi
imunosupresi IL-10 dan TGF pada sistem imun berperan
penting dalam terapi kanker manusia mengingat IL-10 dan
TGF bersifat imunosupresan dan menghambat respons
sitotoksis sistem imun (sel T dan makrofag) terhadap antigen
tumor.
12. Vaksin mungkin diresepkan sebagai protein yang dikombi-
nasi.
13. Pendekatan vaksinasi lain, menggunakan plasmid berisi
komplemen DNA (cDNA) mengkode suatu antigen tumor.
Menyuntikkan plasmid menyebabkan cDNA terekspresi
dalam sel hospes, termasuk sel APC yang mengambil alih
fungsi plasmid. Sel hospes membentuk antigen tumor, jadi
menginduksi respons sel T spesik.
14. Perhatian akhir-akhir ini difokuskan pada mengembangkan
sel dendritik dari individu (dengan mengisolasi prekusor sel
dari darah dan membiakkannya dalam perbenihan dengan
faktor pertumbuhan), menghasilkan sel dendritik terhadap
antigen tumor, dan menggunakannya sebagai vaksin. Di-
harapkan sel dendritik mengandung antigen tumor sehingga
akan menyerupai jalur normal dari presentasi silang (cross
presentation) dan akan membentuk CTL melawan sel tumor.
Kapasitas luar biasa dari sel dendritik untuk menangkap dan
memroses antigen tumor bersama dengan kapasitasnya untuk
menyajikan fragmen antigen tersebut, (dengan molekul MHC
kelas I dan kelas II) kepada sel T CD4+ dan sel T CD8+ serta
mengaktifkan respons imun merupakan dasar dari sumber
vaksin kanker manusia yang ideal
76 SISTEM KEKEBALAN TUBUH
15. FDA (Food Drug Administration) US, 2006 telah mengem-
bangkan vaksin Gardasil untuk HPV yang dapat melindungi
wanita terhadap kanker serviks, lesi prakanker dan kutil
genital
16. Vaksin HPV yang sangat imunogenik dan memberikan
proteksi dengan membentuk antibodi terhadap anti-HPV
mem punyai potensi mengurangi insiden kanker servik se-
besar 70%
Antigen tumor yang menetap akan dikenali dan diingat oleh
sel-B dan sel-T memori yang telah ada dalam sistem imun. Ini
dapat dijadikan dasar teori untuk pencegahan kanker manusia.
Kemajuan dalam imunologi tumor, biologi selular dan molekular
dari kanker, bersama dengan kemajuan teknologi rekayasa
genetika dan perkembangan antibodi monoklonal dalam peng-
gunaannya secara rutin melalui pendekatan imunologi untuk
pencegahan dan pengobatan kanker manusia merupakan hal
penting yang akan segera terwujud.
Sistem Imun pada Pasien Kemoterapi
Semua sel imun tubuh (neutrol, limfosit, monosit, NK) ber-
kembang dari sel punca dalam sumsum tulang. Dalam sumsum
tulang, ada 1 sel punca untuk tiap 100.000 sel darah. Neutrol
merupakan 54-63% populasi leukosit. Sumsum tulang membentuk
1011 neutrol/hari. Pada individu normal, jumlah neutrol tak di-
pengaruhi oleh usia. Neutrol hidup singkat dalam sirkulasi.
Neutrol merupakan sel imun pertama yang sampai di tempat
infeksi dan garis pertahanan pertama melawan invasi patogen.
Limfosit sangat penting untuk memediasi respons imun adaptif
terhadap antigen intra dan ekstrasel termasuk sel kanker. Setiap
hari, 1000 juta limfosit mati dan diganti oleh sel punca dalam
sumsum tulang.
Sistem Imun dan Kanker 77
Efek samping yang paling umum dan berbahaya dari ke-
moterapi dan radioterapi intensif adalah supresi sumsum tulang
sehingga sebagai konsekuensinya terjadi pengurangan jumlah sel
leukosit dalam darah (leukopenia) khususnya neutropenia yang
merupakan komplikasi umum dari kemoterapi kanker dan
menyebabkan 4-21% kematian pada pasien kanker.
Rekayasa genetika telah berhasil membentuk rekombinan
hematopoeitik sitokin yang dinamakan CSF (colony stimulating
factor) yang mampu melakukan stimulasi proliferasi dan di-
ferensiasi populasi sel leukosit yang berbeda. Contohnya, faktor
stimulator koloni granulosit manusia yang efektif untuk: me-
nurunkan neutropenia; mengurangi kerusakan dan lama kemo-
terapi; mengurangi rawat inap dan insidensi infeksi; dan me-
ningkatkan kualitas hidup pasien penerima kemoterapi.
78
79
DAFTAR PUSTAKA
Abbas, A.K. dan Lichtman, A.H. Basic Immunology. 2004. Ed.2.
Saunders. Philadelphia
Bellanti, J.A. Immunology III. 1985. Saunders. Philadelphia
Gabriel, J. 2007. The Biology of Cancer, Ed.2. John Wiley and
Sons, Cornwall, England
Helbert, M. 2006. Flesh and Bones of Immunology. Mosby,
Edinburg.
Newman, M.G., Takei, H.H., Carranza, F.A. Carranzas Clinical
Periodontology. 2003. Ed.9. Saunders. Philadelphia
Schuster, G.S.. 1993. Oral Microbiology Infectious Disease.
Ed.3
80
81
INDEKS
A
AIDS, 5.
gonore, 7.
hepatitis B, 7.
HIV, 6.
homoseksual, 7.
klamidia, 7.
makrofag, 6.
sel T, 6.
silis, 7.
Air mata, 2.
Alergen, 8.
debu, 8.
kosmetik, 8.
minyak tumbuhan, 8.
obat, 8.
serbuk sari, 8.
tanaman, 8.
Alergi, 5.
Alkohol, 62.
Allel, 53.
Alloantigen, 53.
Alogenik, 52.
Alograf, 53.
Aloreaktif, 53.
AMI, 19.
Analaksis, 45.
Analatoksin, 41.
Anemia hemolitika, 7.
Anergi, 31.
Antibodi, 7, 37.
Antibodi alami, 58.
Antibodi monoklonal, 72.
Antibodi netralisasi, 37.
Antigen, 4, 7, 12.
Antigen ABO, 59.
Antigen histokompatibilitas
minor, 54.
transfusi darah, 54.
transplantasi sumsum tulang,
54.
Antigen marker, 35.
82 Indeks
Antihistamin, 8.
APC, 30.
Apoptosis, 19.
Arteriosklerosis, 57.
Artritis reumatoid, 5, 7.
Asam lambung, 2.
Asam lemak, 2.
Asam nitrat, 34.
Asksia, 8.
Aspirin, 8.
Ateroskelerosis, 9.
B
Bakteremia, 9, 45.
Bakteriolisis, 39.
Barier sikal kulit, 2.
Bawang putih, 13.
Benda asing, 4.
Biolm, 16.
C
C3b, 40.
fragmen Bb, 40.
substrat, 40.
Cacing, 4.
Cairan edema, 44.
Cairan limf, 4.
Cairan sulkus gingiva, 49.
Cd4, 18.
Chancre, 47.
CMI, 20.
Colony stimulating factor, 77.
D
Demam, 3.
Demam reumatik, 7.
Diabetes melitus, 5.
kebutaan, 7.
polidipsia, 7.
mulut kering dan lidah
terbakar, 8.
polifagia, 7.
poliuria, 7.
stroke, 7.
tipe 1, 7.
tipe 2, 8.
obat antidiabetik, 8.
tidak bergantung insulin, 8.
Diare, 3.
Diet, 13, 62.
E
Efek lisis, 16.
Eksositosis, 30.
Endokarditis, 9.
Endotoksin, 49.
Enzim tirosinase, 64.
Epinefrin, 8.
Epitop, 12.
F
Fagolisosom, 29.
Fagositosis, 2, 17, 28.
makrofag, 28.
Indeks 83
monosit, 28.
neutrol, 28.
Fagosom, 29.
Faktor turunan, 62.
Flu, 3.
G
Gagal jantung, 9.
Gangliosid, 74.
Glikoprotein, 39.
Glomerulonefritis, 7, 9.
Glycosphingolipid, 59.
H
Heparin, 46.
Hipersensitivitas lambat, 49.
Hipoksia, 67.
Histamin, 8, 24, 41, 46.
Histiosit, 45, 46.
HIV, 7.
hubungan seks, 7.
ibu ke bayi, 7.
jarum suntik, 7.
HLA kompleks, 53. 65.
Hormon tiroid, 14.
I
IgA, 24, 37.
IgD, 24, 37.
IgE, 24, 37.
reaksi hipersensitivitas tipe 1,
37.
vasodilatasi berat, 24.
IgG, 24, 37.
IgM, 24.
Ikatan kovalen, 40.
Immune surveilaince, 62, 71.
Imuno"uoresen, 48.
Imunoglobulin, 24.
serum, 24.
Imunosupresi, 14.
Imunoterapi selular adaptif, 74.
Imunotoleran, 70.
Infeksi streptokokus hemolitikus
beta, 9.
In"amasi, 34.
Insulin, 7.
sel beta, 7.
Interaksi sel B dan CD4+ sel
T-helper, 20.
Interferon, 24, 42.
Interleukin, 24, 42.
Inti glikan, 59.
Iskemi, 56.
J
Jamur sitake, 13.
K
Kandidiasis, 6.
Kanker, 15, 62.
penuaan, 70.
vaksin, 72.
Kapsul polisakarida bakteri, 41.
Karditis, 9.
Kekurangan vitamin D, 14.
Kelenjar limf, 24.
Kemotaksin, 28.
Kemoterapi, 59, 73, 77.
neutropenia, 77.
84 Indeks
Keracunan makanan, 3.
Keringat, 2.
Kinin-like, 41.
Klon sel T spesik, 54.
Klorin, 34.
Kompleks antibodi-antigen, 7, 8.
Komplemen, 39.
C3, 39.
jalur alternatif, 40.
jalur klasik, 40.
Kortikosteroid, 8, 14.
Kulit, 2.
L
Leukopenia, 77.
Leukosit, 17.
Leukotrin C4, 46.
Limfadenitis, 45.
Limfangitis, 45.
Limfoblas, 49.
Limfokin, 24, 50.
Limfoma, 5, 6, 21.
Limfosit, 4, 35, 76.
B, 19, 35, 36.
folikel limfoid, 36.
pulpa putih limpa, 36.
sumsum tulang, 36.
B-memori, 36.
T, 19, 35.
Limfotoksin, 50.
Limpa, 4.
Lisosim, 2, 29.
Luka bakar asam, 44.
Lupus eritematosus, 7, 14.
M
Madu, 13.
Makrofag, 67.
Makrofag patroli, 34.
Mantel virus, 16.
Marker antigen, 63.
Mekanisme non-oksidatif, 29.
Mekanisme oksidatif, 29.
Melanoma, 64.
Melanosit, 64.
Meningitis, 6.
Miastenia gravis, 7.
Mikrofag, 33.
Mikroglia, 34.
Mikroskop cahaya, 29.
Molekul MHC, 30.
kelas I, 30.
kelas II, 30.
kelas III, 30.
Monosit, 33, 45, 76.
Mual, 3.
Multipel sklerosis, 7.
Murmur, 9.
Mutasi, 19.
Mutasi gen, 62.
N
Nanah, 3.
Nekrosis graf, 56.
Neutrol, 33, 45, 76.
leukosit polimorfonuklear, 33.
O
Oligomer, 12.
Indeks 85
Opsonin, 37, 40.
Opsonisasi, 18, 29.
Organ limfoid, 4.
Osteoclast activating factor, 50.
P
Parasit, 4.
Patogen oportunistik, 6.
Pembawa virus, 7.
Pembuluh limf, 4, 44.
Penolakan graf, 56.
akut, 56.
hiperakut, 56.
xenotransplantasi, 56.
Penolakan jaringan transplantasi,
5, 14.
Penyakit graf versus hospes, 52,
60.
Penyakit jantung rematik, 9.
Peptida, 54, 74.
Perforin, 21, 38.
Periodontitis, 48.
Plak, 50.
Plasmid, 75.
Pleomork, 31.
penolakan transplantasi, 31.
Pneumosystis carinii, 6.
Poket periodontal, 49.
Polusi udara, 62.
Presentasi langsung alloantigen,
55.
Presentasi silang, 65.
Presentasi tidak langsung
alloantigen, 55.
Progeni, 13.
Prolaktin, 13.
Prostaglandin, 8, 48.
Protease plasma, 40.
Protein, 64, 74.
Pseudopodia, 29.
R
Radang, 3, 17.
Radikal oksigen, 34.
Radioterapi, 77.
Reaksi hipersensitivitas, 9.
monomer, 9.
tipenya, 9.
Reaksi silang, 54.
Reaksi tertunda, 9.
demam rematik, 9.
silis stadium III, 9.
tuberkulosis, 9.
Rekayasa genetika, 76.
Reseptor antigen sel T, 35.
Reseptor sel T, 20.
Resorpsi tulang, 48.
Responss analaktik, 8.
Responss imun adaptif, 2, 12.
Responss imun alami, 2.
Responss imun innate, 12.
Rokok, 62.
S
Saliva, 2.
Salmonella, 16.
Sarkoma Kaposi, 6, 21, 62.
Sel B memori, 12.
Sel dendritik, 55
Sel dendritik periferal, 45.
86 Indeks
Sel Kupffer, 34.
Sel Langerhans, 46.
Sel mast, 41, 45.
Sel memori, 19, 25.
Sel pembunuh alami, 35, 38.
KAR, 38.
KIR, 38.
Sel plasma, 20.
Sel T helper, 21.
Sel T helper CD4+, 21.
Sel T supresor, 22.
Sel target, 16.
Silis, 47.
Siklosporin, 14, 57.
fosfatase sel T, 57.
Sistem cluster of differentiation,
45.
Sistem imun pasien sendiri, 72.
Sitokin, 12, 41, 57, 67.
colony stimulating factor, 41.
interferon, 42.
interleukin 2, 73, 42.
kemokin, 41.
tumor necrosis factor, 42.
Sitolisis, 39.
Stenosis, 9.
Stres, 13.
Sumsum merah tulang, 19.
Syngeneic, 52.
Syok, 8.
T
Tes cross-match, 56.
Testosteron, 13.
Tiroiditis, 7.
Toksin, 37.
Transfusi, 59.
Translokasi onkogen, 64.
Transplantasi, 51.
darah, 59.
penolakan, 51.
sumsum tulang, 59.
Treponema pallidum, 47.
Trombosis, 56.
Tumor tolerance, 69.
V
Vaksin kanker, 72, 74.
Gardasil, 76.
kanker serviks, 76.
kutil genital, 76.
lesi prakanker, 76.
Vaksin, 12.
Varian kehilangan antigen
tumor, 69.
Virion, 16, 36.
Virus, 3, 51.
X
Xenoantigen, 53.
Xenogeneic, 53.
Xenograf, 53.
Xenoreaktif, 53.
Xenotransplantasi, 58.
... Pengulangan vaksinasi (booster) membuat titer antibodi yang terbentuk akan lebih cepat dibanding yang pertama, hal tersebut dikarenakan sel memori setelah vaksinasi pertama telah terbentuk sehingga akan mempercepat pembentukan antibodi pada vaksinasi ke 2 dan seterusnya (Kencana dkk., 2016). Imunitas yang didapat oleh individu setelah pertama kali terpapar antigen atau vaksinasi akan membentuk Limfosit B dan limfosit T yang nantinya akan berperan dalam imunitas spesifik, dimana Limfosit T berperan dalam sistem imun spesifik selular yang mengaktifasi fagosit untuk menghancurkan mikroba yang telah tercerna, sedangkan limfosit B yang teraktivasi oleh antigen akan terdiferensiasi menjadi sel plasma membentuk (Sudiono, 2014;Rahmawati dkk., 2018). Gambaran antibodi yang terbentuk akan membantu pengambilan keputusan di lapangan, apakah ayam perlu dilakukan vaksinasi ulang (booster) atau tidak, agar ayam dapat bertahan dari infeksi ND yang ada di lapangan. ...
Article
Full-text available
Newcatle disease (ND) is a disease in poultry that can cause considerable losses for farmers. Common symptoms seen at the beginning of infection are decreased appetite for chickens, lethargy, conjunctivitis, and decreased egg production. There is no effective treatment for ND disease. One of the efforts to prevent ND is to do vaccination and good biosecurity. This study aimed to determine ND antibody titer in layer chicken in Narmada district, West Lombok. The serum sample used was 87 divided according to the length of post vaccination 4 weeks, 8 weeks and 12 weeks post vaccination. The method used to determine the antibody profile was the Haemaglutination inhibition test. A total of 87 serum chickens were sampled, and the antibody titer was still protective 26-211. Measuring antibody titer can help farmer to make health programs even better, so that livestock more resistant to virus infection.
... Pengaktifan makrofag dihasilkan oleh sitokin proinflamasi dan interleukin. Sitokin yang berperan yaitu monosit, neutrofil, Macropahge inflamantory protein (MIP) dan sel T. 11,12 Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak sekali sumber daya alam terutama sumber daya dari laut, salah satunya adalah Acanthus ilicifolius. tumbuhan yang memiliki senyawa bioaktif yaitu antibakterial, antifungal, antiinflamasi, antioksidan, antikanker, antileukemia dan analgesik. ...
Article
Full-text available
p> Background: Corticosteroid has a strong anti-inflammatory effect, unfortunately long-term usege of corticosteroid drugs can suppressed immune system. This condition makes Candida albicans as an opportunistic phatogen caused Oral Candidiasis. Macrophages have an important role in the first defense against infection. Methanol extract of A.ilicifolius leaf has anti-fungal, anti-inflammatory compounds to fight the growth of Candida albicans. Purpose: To determine the effect of methanol extract of A.ilicifolius leaf theraphy to the amount of macrophages in the healing pricess of oral candidiasis models with immunosuppressed conditions. Method: This study was true experimental with post test only control group design. Thirty-six strain wistar, 3 months old, and 250 grams of weight which were given dexamethason 0.5 mg and tetracycline 0.5mg for 7days, after Candida albican(ATCC10231) was induced for 2 weeks (3 times/week). Rats were divided into 6 groups: untreated(K-), nystatin(K+), A.ilicifolius 8%(P1), A.ilicifolius 12%(P2), A.ilicifolius 16%(P3), A.ilicifolius 20%(P4 ) all groups were treated for 2 weeks. After being treated, the rats tongue biopsied to examine the macrophages with Haematoxylin-eosin staining and observed with microscope (400x magnification). Data analyzed statistically by One-way ANOVA. Results: the amount of macrophages at K+(47.60±4.16), P4(40.20±3.56), P3(36.20±1.92), P2(17.00±2.45) were greater than K-(15.60±4.56), P1(14.60±2.70). there are no significant difference between group K- with P1 and P2, P3 with P4. There are significant difference between group K- with K+, K- with P3 and P4. K+ with P1, P2, P3 and P4. Group P1 with P3 and P4. Group P2 with P3 and P4. Conclusion: A.ilicifolius extract can increase the amount of macrophages in oral candidiasis immunosuppression models</em
... Sistem imunitas dalam tubuh mempunyai fungsi yang kompleks, salah satunya adalah sebagai benteng pertahanan utama dari adanya invasi dan infeksi oleh mikroorganisme, jamur, parasit dan virus dengan mengidentifikasi dan membunuh substansi patogen (Sudiono, 2014). Mekanisme sistem imunitas didalam tubuh untuk melindungi tubuh dari infeksi adalah pembentukan antibodi (immunoglobulin), seiring dengan bertambahnya usia, akan terjadi berbagai kemunduran pada organ tubuh yang menyebabkan tubuh rentan terkena infeksi dan penyakit. ...
Article
Full-text available
Background: The phlebitis incidence was found as the fourth highest infection in hospitalized patients. Indonesia has contributed in phlebitis incidence as the fifth highest in the world wide after India, Iran, Malaysia, and Philippines. Purpose: This study was aimed to analyze the influence of patients’ characteristic with intravena catheter to phlebitis incidence. Methods: The study design was case control study with 45 respondents in case group (diagnosed with phlebitis) and control (undiagnosed with phlebitis) group in public hospital Haji Surabaya from January to April 2017. The independent variables in this study were age, sex, nutrioninal status, hypertension history, and diabetes mellitus history. Meanwhile, the dependent variable was phlebitis incidence. Data were analyzed with multiple logistic regression. Results: Phlebitis was influenced by patients’ characteristics namely age (p = 0,01; OR = 9,63; 95% CI =3,67 < OR < 25,25), sex (p = 0,01; OR = 4,84; 95% CI =1,85 < OR < 12,66), nutritional status (p = 0,01; OR = 4,01; 95% CI = 1,69 < OR < 9,66), hypertension history (p = 0,01; OR = 6,18; 95% CI = 2,47 < OR < 15,51), and diabetes mellitus history (p = 0.01; OR = 17.88; 95% CI = 6,05 < OR < 52,85). Conclusion: Patients’ characteristics had influence on phlebitis incidence such as age, sex, nutritional status, hypertension history, and diabetes mellitus history.
Article
Full-text available
According to Regulation No. 53 of 2015 of the Minister of Health of the Republic of Indonesia, a high risk of HBV infection in health workers is a problem that requires attention, and vaccination knowledge is critical to reducing these risk factors. Furthermore, because some people do not produce a sufficient antibody-forming (anti-HBs) response to HBsAg, testing for evidence of protective immunity against hepatitis B vaccination is required (Hepatitis B Surface Antigen). The purpose of the study was to determine the mapping of the characteristics of anti-HBs antibodies response after hepatitis B vaccination in health workers in terms of age, gender, ethnicity, smoking habits, obesity, vaccination frequency, last time of vaccination. Sixty vaccinated health workers were used to creating the research sample. Anti-HBs levels/titers in serum were measured using the Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) method, and a questionnaire was used to compile the data for this study. Age, gender, smoking, obesity, and vaccination dose were all used to map the outcomes of the anti-HBs antibody immune response study. Anti-HBs antibody response in health workers was graded as poor in 36 people (60%) and strong in 24 (40%). Regarding ethnic origin, lifestyle, obesity, and vaccination dose (frequency), there was no significant link between post-vaccination anti-HBs antibody response in health workers. In terms of age and gender, there is a strong association between post-vaccination anti-HBs antibody responses in health workers. Low antibody titers should be revaccinated to enhance anti-HBs titers, and health workers who smoke should quit because it reduces the levels of anti-HBs titers produced clinically.
Article
Full-text available
Xestospongia sp. is one of marine sponge belongs to demosponges class that mainly found in Southeast Sulawesi and the secondary metabolites contained in Xestospongia sp. suspected to have immunomodulatory activity. A previous study exhibited the immunomodulatory of Xestospongia sp. ethanolic extract (XEE) at dose of 300 and 400 mg/Kg BW by affecting the phagocytic activity of macrophages. Thus, this study aims to investigate the effect of XEE towards interferon-gamma (IFN-γ) and tumor necrosis factor-alpha (TNF-α) at dose of 300 and 400 mg/Kg BW. Wistar male rats are divided into 4 groups (n=6) randomly and treated for 7 days orally each as follow: group I (XEE dose of 300 mg/KgBW); group II (XEE dose of 400 mg/KgBW); group III (0.5% NaCMC); and group IV (commercial phylantii extract). On day 8, animals were infected with Staphylococcus aureus and left for 1 hour. Animals were sacrificed and the blood was drawn by cardiac puncture (3 mL), followed by analyzed under ELISA Kit for IFN-γ and TNF-α. Collected data were analyzed statistically using SPSS ®. The IFN-γ levels obtained were 350.113; 392.970; 118.416; and 61.958 ρg/mL, respectively and the TNF-α were 2808; 1308; 778; and 845.5 ρg/mL, respectively. According to results obtained, both doses of XEE are affecting the IFN-γ and TNF-α levels (p<0.05) compared to group III as negative control, and group IV as positive control. As conclusion, XEE of both doses is increasing IFN-γ and TNF-α levels of animals that respond to phagocytic activity.
ResearchGate has not been able to resolve any references for this publication.