ArticlePDF Available

MUSEUM TELEKOMUNIKASI SELULER DI KOTA SURAKARTA

Authors:

Abstract

p> Nowadays cellular telecommunications has become one in our everyday activity. Cellular telecommunications is a method of communication over long distances using electromagnetic media that is divided into sections called cells. Issues underlying planning and design of the Cellular Telecommunications Museum in Surakarta, including the excessive use of cellular devices in Indonesia; high levels of cellular devices disposal that are not used but still feasible to use; indifference of society towards the use of cellular devices; the necessity for a place that act as information media for society and to take care the cellular devices; and the potentials of Surakarta as the museum site as seen from its history, economics, and social to cellular telecommunications. Design problem that arise from the existing issue is how to plan the museum as a place to storage, preservation, exhibitions, and educational for the cellular telecommunications technology in Surakarta. The objective of this design is to get the museum design as a place to storage, preservation, exhibitions, and educational for the cellular telecommunications technology in Surakarta. The result obtained is a museum design as a place to storage, preservation, exhibitions, and educational for the cellular telecommunications technology that can contribute on the use and maintenance of old mobile devices that are still feasible to use to the public through the focus of attracting public attention to visit the museum by the use of design aesthetic and arrangement of museum rooms which displays the features of cellular technology as a matter of museum collections, and also providing a place to supporting activities related to cellular technology. Keyword: Cellular Device, Cellular Telecommunications. Exhibitions, Education, History, Preservation, Museum, Storage. </p
MUSEUM TELEKOMUNIKASI SELULER DI KOTA SURAKARTA
Papin Longaun Rosy, Mohammad Muqoffa, Samsudi
Program Studi Arsitektur
Universitas Sebelas Maret Surakarta
Email : papin.lr.93@gmail.com
Abstract: Nowadays cellular telecommunications has become one in our everyday activity. Cellular
telecommunications is a method of communication over long distances using electromagnetic media
that is divided into sections called cells. Issues underlying planning and design of the Cellular
Telecommunications Museum in Surakarta, including the excessive use of cellular devices in Indonesia;
high levels of cellular devices disposal that are not used but still feasible to use; indifference of society
towards the use of cellular devices; the necessity for a place that act as information media for society
and to take care the cellular devices; and the potentials of Surakarta as the museum site as seen from
its history, economics, and social to cellular telecommunications. Design problem that arise from the
existing issue is how to plan the museum as a place to storage, preservation, exhibitions, and
educational for the cellular telecommunications technology in Surakarta. The objective of this design
is to get the museum design as a place to storage, preservation, exhibitions, and educational for the
cellular telecommunications technology in Surakarta. The result obtained is a museum design as a place
to storage, preservation, exhibitions, and educational for the cellular telecommunications technology
that can contribute on the use and maintenance of old mobile devices that are still feasible to use to the
public through the focus of attracting public attention to visit the museum by the use of design aesthetic
and arrangement of museum rooms which displays the features of cellular technology as a matter of
museum collections, and also providing a place to supporting activities related to cellular technology.
Keyword: Cellular Device, Cellular Telecommunications. Exhibitions, Education, History,
Preservation, Museum, Storage.
1. PENDAHULUAN
Dewasa ini telekomunikasi seluler telah
menjadi keseharian kita, di mana sejak
kemunculannya di dekade 1980-an, sekarang
setidaknya telah menyentuh 6 miliar pengguna
di seluruh dunia. Telekomunikasi seluler
bekerja sebagai metode komunikasi jarak jauh
dengan menggunakan media elektromagnetik
yang dibagi dalam bagian-bagian yang disebut
sel, dari sinilah teknologi ini dinamai.
Di Indonesia sendiri selama satu dekade
terahir saja telah terdapat penambahan
penggunaan perangkat seluler sebesar hampir
300 juta perangkat, dengan penambahan
pertahun yang mencapai 31 juta perangkat per
tahun
1
, hal ini menunjukkan antusiasme
masyarakat Indonesia yang sangat besar dalam
penggunaan perangkat seluler.
Pemakaian yang sangat besar ini tetapi
tidak diimbangi dengan pengolahan setelah
1
http://data.un.org/Data.aspx?q=telephone&d=
ITU&f=ind1Code%3aI271
pemakaiannya, menurut statistik
2
rata-rata
perangkat seluler diganti setiap 18 bulan
dengan perbandingan rata-rata masa hidup
sebuah perangkat hingga tujuh tahun, sekitar 70
persen dari perangkat seluler yang diganti itu
didiamkan atau dibuang, 20 persennya dijual
kembali, dan hanya 10 persennya didaur ulang,
hal ini berarti dalam setahun lebih dari 27 juta
perangkat di seluruh Indonesia akan menjadi
barang tak berguna di mana setiap tahun angka
ini akan semakin besar kecuali jika masyarakat
dapat disadarkan untuk menghargai atau
setidaknya peduli terhadap pemakaian
perangkat seluler.
Masyarakat dapat disadarkan melalui
sejarah seluler di mana dengan mengangkat
sejarah perkembangan telekomunikasi seluler,
perangkat yang sudah tidak terpakai dapat
dilestarikan dengan menggandeng komunitas
kolektor perangkat seluler yang sudah ada, di
mana kolektor-kolektor ini dapat membantu
2
http://www.e-cycle.com/tag/mobile-phone-
recycling-statistics/
Arsitektura, Vol. 14 No2, Oktober 2016
dalam penggadaan dan juga perawatan
perangkat seluler.
Menurut PP No.19 tahun 1995, museum
merupakan pilihan yang tepat dalam rangka
memperkenalkan masyarakat terhadap sejarah
dan pentingnya teknologi seluler karena
museum memiliki dua fungsi utama yaitu
sebagai tempat pelestarian dan sumber
informasi, kemudian dalam UU No.11 tahun
2010 sebagai dasar hukum tentang
permuseuman, dapat disimpulkan bahwa dasar
dari perencanaan museum ini adalah dalam
rangka mewujudkan museum sebagai wadah
penyimpanan, perawatan, pameran, dan
pendidikan teknologi telekomunikasi seluler.
Perangkat seluler memiliki banyak
bentuk dan dimensi, dengan bentuk yang paling
umum adalah telepon genggam, terdapat
banyak jenis dan model yang beredar sehingga
peralatan seluler dibatasi pada peralatan seluler
yang pernah atau sedang dipasarkan di
Indonesia, atau perangkat yang bersifat pertama
dalam jenisnya, selain itu terdapat koleksi
tambahan yang berupa alat peraga,
dokumentasi dan perangkat asing yang tidak
digunakan di Indonesia, di mana dari semua itu
diperlukan penanganan sendiri untuk
menyimpan dan merawatnya dan
pengkondisian yang tepat untuk pameran.
Kota Surakara menjadi fokus
penempatan museum yang direncanakan dari
pertimbangan bahwa Kota Surakarta sudah
familiar dengan telekomunikasi seluler sejak
awal diperkenalkan di Indonesia, Kota
Surakarta juga telah menjadi pusat dari
penjualan perangkat telekomunikasi seluler dan
pusat dari pertemuan komunitas kolektor
perangkat seluler di Jawa Tengah bahkan di
Indonesia.
Museum yang direncanakan memiliki
fokus sebagai wadah penyimpanan, perawatan,
penyajian, dan pendidikan perkembangan
teknologi telekomunikasi seluler yang dapat
memberikan kontribusi tentang pemakaian dan
pengolahan perangkat seluler yang tidak lagi
digunakan secara luas tetapi masih layak pakai
kepada masyarakat luas dengan cara menarik
perhatian masyarakat untuk berkunjung ke
museum melalui desain estetika dan penataan
museum yang menampilkan fitur-fitur dari
teknologi seluler sebagai materi koleksi
museum, dan juga pemberian wadah kegiatan
pendukung yang berhubungan dengan
teknologi seluler. Di mana museum dikelola
oleh lembaga pemerintah yang dibantu oleh
komunitas lokal, lebih lanjut Museum
Telekomunikasi Seluler merupakan ruang
publik sehingga pemilihan, pengolahan tapak
aksesibilitas dan juga peruangan harus
diperhatikan.
2. METODE
Berdasarkan konsep perencanaan dan
perancangan, museum yang direncanakan
berfokus pada kegiatan penyimpanan,
perawatan, pameran, dan pendidikan teknologi
telekomunikasi seluler.
2.1 Penentuan Kegiatan dan Peruangan
Hal pertama yang dilakukan adalah
penentuan kegiatan terutama kegiatan
pengunjung museum yang berhubungan dengan
pendidikan dilakukan di mana penentuan
kegiatan ini bermuara pada hubungan dan
besaran ruang, terdapat satu poin penting
selama perhitungan kebutuhan ruang yang
dilakukan yaitu pemberian ruang kosong
tambahan untuk pengembangan jangka panjang
museum.
2.2 Penentuan Lokasi Tapak
Setelah konsep kegiatan dan peruangan
didapatkan, pemilihan tapak ditentukan dengan
beberapa poin utama yaitu, antara lain
aksesibilitas terutama dari pusat kota, dan luas
dari analisis peruangan yang telah dilakukan.
2.3 Penentuan Pencapaian ke Tapak
Pencapaian pada tapak di bedakan menjadi
dua yaitu pencapaian utama dan pencapaian
samping, pada tahap ini ditentukan letak dari
pencapaian tersebut.
2.4 Penentuan Pemintakan (Zonasi)
Selanjutnya pemintakan pada tahap ini
ditetapkan penentuan pemintakan meliputi
pemintakan secara horizontal dan vertikal
sesuai dengan kebutuhan peruangan yang telah
di lakukan pada tahap sebelumnya.
2.5 Penentuan Bentuk dan Tampilan
Bangunan
Tahap selanjutnya adalah penentuan tampak
dan juga massa bangunan, didapati poin penting
yaitu penggunaan unsur teknologi
telekomunikasi seluler sebagai pembentuk
massa dan tampak bangunan, penggunaannya
dibatasi pada simbol-simbol yang digunakan
pada teknik maupun teknologi seluler, bukan
produk dari teknologi seluler sendiri.
Papin Longaun Rosy, Mohammad Muqoffa, Samsudi, Museum Telekomunikasi Seluler di Kota Surakarta
2.6 Penyimpanan dan Pameran
Pada tahap ini meliputi penentuan jumlah
materi koleksi yang akan disimpan dan
dipamerkan, jenis penyimpanan yang akan
digunakan, periodisasi ruang pamer, teknis
penyajian materi koleksi, dan perhitungan jarak
pandang nyaman pada ruang pamer.
2.7 Penentuan Sistem Bangunan
Sistem bangunan yang terdiri dari struktur,
utilitas dan estetika (bahan bangunan dan
lansekap) ditentukan setelah semua parameter
pada tahap sebelumnya didapat sehingga
pelaksanaan perencanaan dan perancangan
Museum Telekomunikasi Seluler di Kota
Surakarta ini dapat memenuhi kriteria dan juga
fokus yang telah ditentukan.
3. ANALISIS
3.1 Analisis Peruangan
Tabel 1.Kebutuhan Ruang Publik
PELAKU
KEGIATAN
PERUANGAN
Pengunju
ng
Datang/pergi
Hall utama
Parkir
Tempat parkir
Membeli tiket/
informasi
Front desk
Melihat koleksi
Ruang pamer
Membaca buku
Perpustakaan
Seminar/diskusi
R. seminar
Praktek
R. workshop
Melihat video
R. teater
Istirahat
R. istirahat
Metabolisme
KM/WC
Sholat
Musholla
Membeli suvenir
Retail
Bertamu ke
pengelolaan
Ruang tamu
Kegiatan
penunjang
Ruang
serbaguna
Pada Tabel 1. terlihat kebutuhan peruangan
yang mewadahi kegiatan pengunjung museum
Tabel 2. Kebutuhan Ruang Pengelola
PELAKU
KEGIATAN
PERUANGAN
Pengelola
Datang/pergi
Pintu samping
Parkir
Tempat parkir
Bekerja
Ruang
pengelolaan,
penyimpanan,
perawatan,
studi, dll
Rapat
R. rapat
Metabolisme
KM/WC
Sholat
Musholla
Makan
Kafetaria
Menerima tamu
Ruang tamu
Kegiatan
penunjang
Ruang
serbaguna
Datang/pergi
Pintu samping
Parkir
Tempat parkir
Memberi materi
Ruang
serbaguna,
seminar,
workshop
Metabolisme
KM/WC
Sholat
Musholla
Makan
Kafetaria
Pada Tabel 2. terlihat kebutuhan peruangan
yang mewadahi kegiatan pengunjung museum
3.2 Analisis Tapak
Penentuan lokasi museum didasarkan atas
beberapa pertimbangan yang dapat
mempengaruhi keberhasilan dari objek yang
direncanakan.
1. Tujuan
Mendapatkan lokasi tapak museum yang
sesuai dengan kebutuhan dan juga syarat
pendirian museum
2. Dasar pertimbangan:
Berada pada wilayah pembagian
pembangunan Kota Surakarta yang sesuai
dengan RTRW Kota Surakarta yang
berlaku, Aksesibilitas ke tapak yang
tinggi, letak yang strategis dan berada di
pusat kota, ketersediaan utilitas publik
pada tapak, luas lahan yang mencukupi,
eksisting tapak yang datar dan mudah
untuk diolah, serta bebas dari polusi udara
dan air.
3.3 Analisis Pencapaian
Pencapaian ke dalam bangunan harus
mudah diakses, mudah dilihat dan memiliki
sirkulasi yang aman akan menstimulus orang
untuk masuk dalam area bangunan.
1. Tujuan: menentukan main entrance dan
side entrance
Arsitektura, Vol. 14 No2, Oktober 2016
2. Dasar Pertimbangan: kemudahan akses,
sirkulasi tapak yang aksesibel, arus
kendaraan dan potensi jalan, tingkat
keamanan.
3. Proses analisis
Main Entrance (ME)
Mudah dijangkau dan terlihat jelas.
Menghadap langsung ke jalan utama
untuk kemudahan sirkulasi kendaraan
masuk dan ke luar tapak.
Side Entrance (SE)
Tidak mengganggu keberadaan ME.
Membantu sirkulasi pengguna.
Gambar 1. Pola Pencapaian Tapak
Pada Gambar 1 terlihat pemisahan pola
pencapaian untuk pengunjung dan pengelola
museum
3.4 Analisis Pemintakatan (Penzoningan)
Pemintakatan berdasarkan sifat kegiatan
dan keadaan dalam tapak dilakukan sebagai
acuan dalam penataan peruangan, namun tetap
memperhatikan modul-modul struktur yang
telah diterapkan.
1. Tujuan: Menentukan mintakat (zoning)
berdasarkan sifat kegiatan dan keadaan
pada tapak.
2. Dasar pertimbangan: analisis peruangan,
analisis pengolahan tapak, analisis
struktur.
3. Proses analisis: persyaratan ruang,
berdasarkan kelompok kegiatan dan
analisis pengolahan tapak.
Gambar 2. Pemintakan pada Tapak (Horizontal)
Pada Gambar 2 terlihat pola pemintakan pada
tapak di mana semakin membutuhkan privasi
suatu kegiatan maka semakin ke dalam
pemintakannya.
Gambar 3. Pemintakan pada Massa Bangunan
(Vertikal)
Pada Gambar 3 terlihat pola pemintakan pada
bangunan di mana semakin membutuhkan
privasi suatu kegiatan maka semakin ke atas
pemintakannya.
3.5 Analisis Bentuk dan Tampilan
Bangunan
3.5.1 Analisis Bentuk Bangunan
Tampilan bangunan museum yang
direncanakan diolah dengan menggunakan
unsur dari telekomunikasi seluler itu sendiri,
baik secara bentuk massa maupun ornamentasi
massanya.
Poin-poin pertimbangan yang digunakan
pada pembentukan bentuk dasar bangunan
adalah sebagai berikut:
1. Karakter bangunan.
2. Kondisi dan bentuk tapak.
3. Efisiensi dan fleksibilitas baik fungsi
maupun peruangan.
4. Nilai estetika bangunan.
5. Pencerminan terhadap kegiatan yang
ditampung.
6. Kemudahan sirkulasi dan pencapaian
Bentuk dasar massa bangunan dibentuk
dari massa segienam yang diambil dari
visualisasi seluler yang juga berbentuk sama,
ME
ME
SE
SE
PUBLIK
SEMI PUBLIK
PRIVAT
PUBLIK
SEMI PUBLIK
PRIVAT
Papin Longaun Rosy, Mohammad Muqoffa, Samsudi, Museum Telekomunikasi Seluler di Kota Surakarta
bentuk segienam tersebut digunakan sebagai
modul ruang, modul segienam kemudian ditata
menurut sifat dari kegiatan pada massa yang
hendak diwadahi.
Gambaa
Gambar 4. Penataan Massa Bangunan Utama
Lantai 1
Gambar 5. Penataan Massa Bangunan Utama
Lantai 2
Gambar 6. Penataan Massa Bangunan Utama
Lantai 3
Gambar 4,5 dan 6 adalah penataan massa
bangunan utama yang terdiri dari tiga lantai,
tiap lantai disusun secara berbeda sesuai dengan
sifat dari kegiatan ditiap lantai tersebut:
1. Lantai 1 merupakan pusat kegiatan
pameran yang bersifat publik/teratur
sehingga massa ditata secara linier.
2. Lantai 2 memiliki kegiatan semi-publik
dan publik sehingga massa ditata secara
linier dan memusat pada titik-titik
kegiatan semi publik.
3. Lantai 3 merupakan lantai khusus
pengelolaan, di mana sifat kegiatan yang
diwadahi bersifat privat/tertutup,
sehingga penataannya secara memusat.
Selain bangunan utama terdapat bangunan
pendukung lainnya seperti bangunan serbaguna
dan bangunan servis yang ditata dari penataan
memusat sebagai berikut:
Gambar 7. Penataan Massa Bangunan Penunjang
Gambar 7 menunjukan pembentukan massa
penunjang (massa kanan, serbaguna, massa kiri
servis) yang didapat dari pemisahan penataan
memusat yang menjadi pusat kegiatan pada
bangunan penunjang.
Massa yang sudah ada ditata sesuai
dengan kebutuhan ruang yang ada, terutama
pada bangunan utama di mana massa ketiga
lantai ditumpuk menjadi satu massa gabungan
(Gambar 8), dan pemisahan massa servis
menjadi satu tumpuk karena kebutuhan
peruangan yang tidak besar pada massa servis
(Gambar 9)
Gambar 8. Massa Gabungan Bangunan Utama
Gambar 9. Massa Gabungan Bangunan
Pendukung
Massa gabungan kemudian ditata di tapak
yang sudah ada dengan pemisah antar bangunan
berupa ruang yang dibentuk pula seperti
segienam agar kontinuitas penggunaan bentuk
dasar segienam tetap terlihat dan massa
keseluruhan menyerupai jaringan seluler seperti
yang terlihat dalam Lampiran 1.
3.5.2 Analisis Tampilan Bangunan
Tampilan bangunan Museum
Telekomunikasi Seluler dipusatkan pada
penggunaan secondary skin yang mengadopsi
bentuk massa bangunan pula.
Gambar 10. Secondary Skin pada Bangunan
Utama Museum
Pada Gambar 10 secondary skin yang
digunakan menutupi hampir seluruh permukaan
bangunan yang menghadap ke sisi barat, hal ini
Arsitektura, Vol. 14 No2, Oktober 2016
bertujuan selain untuk memberikan kesan
monumental karena penggunaan yang
menyeluruh pada bangunan, selain itu
secondary skin ini juga bersifat fungsional
karena menghalangi sinar matahari langsung
yang dapat memberi panas berlebih ke dalam
bangunan.
Secondary skin ini terbuat dari lembaran
gypsum board dan fiberglass yang disangga
pada rangka aluminium yang kemudian
ditambatkan ke rangka bangunan dengan
menggunakan baja ringan, penggunaan gypsum
board dan fiberglass yang memiliki tekstur
kasar ini bertujuan agar pemantulan cahaya
matahari tersebar sehingga tidak menimbulkan
silau.
3.6 Analisa Penyimpanan dan Pameran
Materi Koleksi Museum
3.6.1 Analisis penyimpanan materi koleksi
museum
Penyimpanan materi koleksi pada
Museum Telekomunikasi Seluler yaitu sekitar
3180 unit materi koleksi yang dibagi menjadi
tiga kategori yaitu:
1. Penyimpanan utama, sebesar 2720 unit
2. Penyimpanan karantina, sebesar 460 unit
3. Penyimpanan sementara sekitar 240 unit
Materi koleksi disimpan didalam lemari
khusus kedap udara yang menjaga materi
koleksi dari debu dan juga organisme yang
dapat merusak, selain itu penyimpanan di
dalam ruang dijaga dalam rentang tertentu
yaitu:
1. Suhu : 20-25oc
2. Kelembaban : 45-60%
3. Luminasi maks : 200 lux dari cahaya
buatan (LED, TL, FL)
4. Bebas listrik statis
5. Bebas polusi udara
Kebutuhan akan suhu udara yang
dibawah rata-rata suhu udara di Kota Surakarta
berimbas dengan penggunaan pendingin udara
yang dinyalakan selama 24 jam.
3.6.2 Analisis pameran materi koleksi
museum
1. Periodisasi pameran
Pameran pada Museum
Telekomunikasi Seluler mengacu
pada Pedoman Pendirian Museum
(Direktorat Permuseuman,
1999/2000) di mana pameran dibagi
menjadi dua jenis yaitu pameran
tetap dan pameran sementara,
pameran utama dibagi menjadi tujuh
periode dengan tambahan satu
pameran sementara menghasilkan
delapan ruang pamer yang dibagi
menjadi periode sebagai berikut:
a. Periode 0G (Periode Pra-
analog/Radio) jumlah 30 unit
b. Periode 1G (Periode Analog)
jumlah 40 unit
c. Periode 2G era 90an (Periode
Digital-Awal) jumlah 160
unit
d. Periode 2G era 2000 (Periode
Multimedia) 400 unit
e. Periode 3G era 2000 (Periode
Digital-Modern) 600 unit
f. Periode 3G era 2010 (Periode
Ponsel Pintar) 400 unit
g. Periode 4G (Periode
Broadband) 200 unit
Perangkat seluler yang tidak
masuk kategori di atas menjadi
koleksi pendukung dan
ditempatkan pada pameran
sementara yang dirotasi temanya
setiap beberapa waktu
2. Sistem penyajian materi
Penyajian materi koleksi pada
utamanya menggunakan bidang
pamer yang dilindungi dengan
kaca, terdapat empat sistem
penyajian materi koleksi, yaitu:
a. Penyajian horizontal dengan
ukuran dasar 1,2x1m
b. Penyajian vertikal dengan
ukuran dasar 2x0,6m
c. Penyajian bertingkat dengan
ukuran dasar 0,6x0,6m dan
1,2x1,2m
d. Penyajian interaktif dengan
ukuran dasar 2x0,6m
Papin Longaun Rosy, Mohammad Muqoffa, Samsudi, Museum Telekomunikasi Seluler di Kota Surakarta
Gambar 11. Perbandingan Penyajian Materi
Koleksi
Gambar 11 menunjukan perbandingan baik
ukuran maupun jenis penyajian materi koleksi
yang digunakan, bentuk dari bidang pamer
tersendiri tidak terbatas dalam satu bentuk,
asalkan masih dalam batas ukuran dasar yang
telah ditetapkan.
3. Kenyamanan pandang
Kenyamanan pandang materi koleksi
diperhitungkan dari dua bidang pandang
nyaman manusia di mana manusia dapat
mengamati satu benda secara
keseluruhan tanpa harus menggerakkan
bola matanya, yaitu sebesar 60-70o
vertikal dan 15-30o horizontal (Buxton,
2015), sehingga jika diketahui besar
rata-rata materi koleksi yaitu 19x13cm
maka jarak pandang nyaman yang
didapat sebesar 18-37cm.
3.7 Analisis Struktur Bangunan
Sistem struktur pada bangunan museum
dibagi menjadi tiga yaitu sub structure, super
structure, dan upper structure,
Kriteria pemilihan sistem struktur didasarkan
sebagai berikut:
1. Kesesuaian jenis struktur dengan
karakter bangunan
2. Kesesuaian struktur dengan bentuk dan
tampilan bangunan
3. Kondisi tanah pada tapak yang terpilih.
4. Kemudahan pemasangan saat
konstruksi.
5. Keawetan material.
Gambar 12. Potongan Bangunan Utama dan
Bangunan Serbaguna
Pada Gambar 12, sub structure yang
digunakan pada massa bangunan utama dan
bangunan serbaguna adalah pondasi sumuran
dengan pertimbangan tinggi bangunan dan juga
eksisting sekitar bangunan yang merupakan
kawasan permukiman, di mana pelaksanaan
pondasi sumuran yang tidak mengganggu
masyarakat sekitar tetapi masih dapat
menopang bangunan bertingkat, sedangkan
bangunan servis seperti pada Gambar 13 yang
terdiri dari satu tingkat menggunakan pondasi
batu kali
Gambar 13. Potongan Bangunan Servis
Sistem super structure bangunan
museum menggunakan sistem rangka beton,
sedangkan upper structure bangunan museum
menggunakan sistem atap plat bondek, atap plat
bondek merupakan jenis atap yang
menggunakan beton bertulang seperti atap dak
tetapi juga menggunakan plat khusus pada
bagian bawah, atap yang dihasilkan plat bondek
lebih murah dan lebih rapi daripada dak biasa,
selain itu atap plat bondek lebih tahan api
dengan kekuatan yang sama dengan atap dak
biasa, plat yang digunakan dapat dilihat pada
Gambar 14.
Arsitektura, Vol. 14 No2, Oktober 2016
Gambar 13. Detail dan 3D Plat Bondek
3.8 Analisis Sistem Pencahayaan dan
Penanganan Kebakaran
Sebagai bangunan museum, sistem utilitas
yang dirasa paling penting dan memiliki fokus
tersendiri sehingga layak untuk dipaparkan
yaitu:
3.8.1 Analisis sistem pencahayaan
Sistem pencahayaan pada Museum
Telekomunikasi Seluler, terutama pencahayaan
buatan didasarkan oleh kriteria berikut ini:
1. Fungsi bangunan sebagai museum.
2. Materi koleksi museum.
3. Kenyamanan dan keamanan pengguna.
4. Bebas dari radiasi ultraviolet.
Pencahayaan buatan dimaksimalkan
pada area pamer untuk memelihara materi
koleksi dan menciptakan suasana yang sesuai
dengan karakter perangkat seluler sebagai
materi koleksi, di mana standar 50-200 lux
dengan warna warm-neutral white (2500-
4000oK) optimal untuk pencahayaan pada
ruang pamer, angka ini dapat dicapai dengan
penggunaan lampu LED tanpa menimbulkan
kerusakan pada materi koleksi.
Gambar 14. Tipe Pencahayaan yang Digunakan
pada Ruang Pamer
Pada Gambar 14 ditunjukkan tipe-tipe
pencahayaan buatan yang digunakan, searah
jarum jam dari pojok kiri atas yaitu:
1. Pencahayaan langsung yang bersifat
monoton yang digunakan sebagai
pencahayaan secara umum pada ruang
pamer.
2. Pencahayaan tidak langsung yang bersifat
lembut digunakan untuk pemberian efek
suasana tenang.
3. Pencahayaan searah yang bersifat
memberikan penekanan pada materi
koleksi, dan
4. Pencahayaan dua arah yang menonjolkan
benda, digunakan untuk penanda point of
interest pada satu ruang pamer, misal
model digunakan bersamaan dengan
pencahayaan tidak langsung jika yang
ditonjolkan adalah materi koleksi
perangkat seluler agar tidak merusak.
3.8.2 Analisis sistem penanganan
kebakaran
Kriteria:
1. Fungsi bangunan sebagai museum
2. Materi koleksi museum
3. Kenyamanan dan keamanan pengguna
Sistem penanganan kebakaran pada
museum utamanya menggunakan sistem
sprinkler air dan gas, sistem air digunakan pada
tempat-tempat umum yang tidak terdapat
materi koleksi, sedangkan sistem gas digunakan
pada titik-titik vital di mana sistem air dapat
merusak koleksi seperti ruang penyimpanan,
ruang arsip, ruang perpustakaan dan ruang
pamer. Selain itu sistem penanganan kebakaran
pada bangunan museum juga di bantu dengan
alarm api/gas, fire extinguisher, indoor hydrant,
dan outdoor hydrant.
4. KESIMPULAN (KONSEP DESAIN)
Konsep rancangan museum dengan
fokus sebagai wadah penyimpanan, perawatan,
penyajian, dan pendidikan perkembangan
teknologi telekomunikasi seluler. Dari hasil
analisa serta hasil korelasi dari beberapa data di
atas, maka diperoleh hasil berupa rancangan
Museum Telekomunikasi Seluler di Kota
Surakarta sebagai berikut.
Nama Obyek : Museum Telekomunikasi
Seluler Indonesia
Lokasi : Jl. Dr. Wahidin
Papin Longaun Rosy, Mohammad Muqoffa, Samsudi, Museum Telekomunikasi Seluler di Kota Surakarta
Luas Lahan : + 22.263,5 m2
Luas Bangunan : + 9282,6424 m2
Daya Tampung : 300-400 orang
Kegiatan : museum dan pusat studi
Pengolahan peruangan pada Lampiran 2
dan 3 secara konsisten menggunakan unsur segi
enam pada area publik lantai satu dan dua,
sedangkan area yang tidak atau tidak terlalu
nampak unsur segienamnya dapat diidentifikasi
sebagai area privat/semi privat, sebagai contoh
pada Lampiran 4 di mana lantai 3 bangunan
berfungsi secara penuh sebagai area pengelola
yang bersifat privat, tidak digunakan
pengelolaan segi enam secara penuh pada
peruangannya.
Sementara itu desain eksterior bangunan
seperti yang terlihat pada Gambar 15
menunjukkan desain pengolahan tapak dan juga
eksterior bangunan pada bagian depan (tampak
barat), dan pada Gambar 16 menunjukkan
desain pengolahan eksterior bangunan belakang
museum (tampak timur).
Gambar 15. Eksterior Bagian Barat
Gambar 16. Eksterior Bagian Timur
Sementara itu desain interior museum
difokuskan sebagaimana ruang publik didesain,
di mana terdapat penggunaan tanda-tanda yang
jelas terutama tanda arah keluar dan juga ruang
ruang utama seperti pada gambar lobby utama
(Gambar 17 dan 18)
Gambar 17. Interior Ruang Lobby
Gambar 18. Interior Ruang Lobby
Pada Gambar 19 ditunjukkan bagaimana
ruang pamer ditata, di sini ruang pamer yang
ditunjukkan adalah ruang pamer periode 0G di
mana suasana ruang pamer dibuat satu tema
dengan periodisasi materi koleksi, pada contoh
ini karena ruang yang diwakili merupakan era
sebelum dekade 1980an, maka penggunaan
media foto hitam putih, panel kayu, wallpaper
geometris berwarna cerah yang populer pada
era sebelum 1980an memberikan suasana yang
menyeluruh pada ruang pamer pertama.
Gambar 19. Interior Ruang Pamer 1
REFERENSI
Direktorat permuseuman, 1999/2000,
Pedoman Pendirian Museum.
Buxton, Pamela, 2015, Metric Handbook
Planning and Design Data Fifth
Edition.
PP No.19 tahun 1995
UU No.11 tahun 2010
http://data.un.org/Data.aspx?q=telephone&d=
ITU&f=ind1Code%3aI271
http://www.e-cycle.com/tag/mobile-phone-
recycling-statistics/
Arsitektura, Vol. 14 No2, Oktober 2016
LAMPIRAN
Lampiran 1. Situasi bangunan museum
Lampiran 2. Denah lantai dasar bangunan utama museum
Arsitektura, Vol. 14 No2, Oktober 2016
Lampiran 3. Denah lantai dua bangunan utama museum
Lampiran 4. Denah lantai tiga bangunan utama museum
ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication.
ResearchGate has not been able to resolve any references for this publication.