ArticlePDF Available

ANALISIS HIGHER ORDER THINKING SKILLS (HOTS) MENGGUNAKAN INSTRUMEN TWO-TIER MULTIPLE CHOICE PADA MATERI KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN UNTUK SISWA KELAS XI SMA N 1 SURAKARTA

Authors:

Abstract

Abstrak Keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills) dalam pembelajaran merupakan aplikasi proses berpikir untuk situasi yang kompleks dan memiliki banyak variabel. Semua siswa dapat berpikir, tetapi kebanyakan dari siswa membutuhkan dorongan dan bimbingan untuk proses berpikir tingkat tinggi. Test yang mendorong keterampilan berpikir tingkat tinggi diperlukan untuk mendorong siswa memiliki kemampuan ini. Instrumen tes Two-tier Multiple Choice mendorong siswa untuk berpikir tingkat tinggi dan memiliki keterampilan penalaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa kelas XI SMA N 1 Surakarta pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan. Penelitian ini menggunakan instrumen penilaian Two-tier Multiple Choice untuk mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi. Subjek dalam penelitian ini adalah 95 siswa terdiri dari 3 kelas yang memiliki nilai rata-rata kelas tinggi, sedang, dan rendah. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan kesimpulan yang didapatkan adalalah sebanyak 7,4% siswa memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi sangat rendah, 25,2% rendah, 52,7% sedang dan 14, 7% tinggi. Kata kunci : HOTS, Two-tier Multiple Choice, Kelarutan dan hasil kali kelarutan MAKALAH PENDAMPING
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS) 2015 | 159
SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN SAINS
“Pengembangan Model dan Perangkat Pembelajaran
untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi”
Magister Pendidikan Sains dan Doktor Pendidikan IPA FKIP UNS
Surakarta, 19 November 2015
ANALISIS HIGHER ORDER THINKING SKILLS (HOTS)
MENGGUNAKAN INSTRUMEN TWO-TIER MULTIPLE
CHOICE PADA MATERI KELARUTAN
DAN HASIL KALI KELARUTAN
UNTUK SISWA KELAS XI
SMA N 1 SURAKARTA
Ari Syahidul Shidiq.1, Mohammad Masykuri2, dan Elfi Susanti V. H.3
1 Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia PMIPA, FKIP, UNS, Surakarta
2,3Dosen Program Studi Pendidikan Kimia PMIPA, FKIP, UNS, Surakarta
Email korespondensi : arisyahidul@yahoo.co.id
Abstrak
Keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills) dalam
pembelajaran merupakan aplikasi proses berpikir untuk situasi yang kompleks dan
memiliki banyak variabel. Semua siswa dapat berpikir, tetapi kebanyakan dari
siswa membutuhkan dorongan dan bimbingan untuk proses berpikir tingkat tinggi.
Test yang mendorong keterampilan berpikir tingkat tinggi diperlukan untuk
mendorong siswa memiliki kemampuan ini. Instrumen tes Two-tier Multiple
Choice mendorong siswa untuk berpikir tingkat tinggi dan memiliki keterampilan
penalaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterampilan berpikir tingkat
tinggi siswa kelas XI SMA N 1 Surakarta pada materi kelarutan dan hasil kali
kelarutan. Penelitian ini menggunakan instrumen penilaian Two-tier Multiple
Choice untuk mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi. Subjek dalam
penelitian ini adalah 95 siswa terdiri dari 3 kelas yang memiliki nilai rata-rata
kelas tinggi, sedang, dan rendah. Berdasarkan hasil penelitian yang telah
dilakukan kesimpulan yang didapatkan adalalah sebanyak 7,4% siswa memiliki
keterampilan berpikir tingkat tinggi sangat rendah, 25,2% rendah, 52,7% sedang
dan 14, 7% tinggi.
Kata kunci : HOTS, Two-tier Multiple Choice, Kelarutan dan hasil kali kelarutan
MAKALAH
PENDAMPING
Inovasi Pendidikan dan
Pembelajaran Sains
untuk Membangun
Kemampuan Berpikir
Tingkat Tinggi
ISSN: 2407-4659
160 | Pengembangan Model dan Perangkat Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi
I. PENDAHULUAN
Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Selain itu, pendidikan
nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepata Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab [1].
Guna mewujudkan tujuan dan fungsi pendidikan, maka setiap lulusan
Sekolah Menengah Atas (SMA/MA) haruslah memiliki kompetensi minimal yang
menunjang tujuan pendidikan nasional. Berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan
(SKL) pada Peraturan Mentri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 untuk
SMA/MA setiap lulusan SMA/MA harus memiliki dan dapat menerapkan
kompetensi pengetahuan secara logis, kritis, kreatif dan inovatif [2][3].
Semua siswa dapat berpikir, tapi kebanyakan dari mereka membutuhkan
dorongan dan bimbingan untuk proses berpikir tingkat tinggi. Keterampilan
berpikir tingkat tinggi ini dapat diajarkan dan dipelajari. Semua siswa memiliki
hak untuk belajar dan mengaplikasikan kemampuan berpikir, seperti pengetahuan
lainnya. Keterampilan berpikir tingkat tinggi ditentukan dari keluasan penggunaan
pikiran untuk tantangan yang baru [4]. Higher Order Thinking Skills (HOTS) atau
keterampilan berpikir tingkat tinggi menurut King, Goodson, dan Rohani (2004:
1-2) meliputi berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan kreatif. Semuanya
diaktifkan ketika individu mendapatkan masalah yang tidak familiar, tidak tentu
dan penuh pertanyaan [5]. Sedangkan kategori berpikir tingkat tinggi menurut
Brookhart (2010: 14-15) meliputi beberapa aspek, yaitu: 1) Analisis, evaluasi,
kreasi, 2) Penalaran yang logis atau logika beralasan (logical reasoning), 3)
Keputusan dan berpikir kritis, 4) Pemecahan masalah, 5) Kreatifitas dan berpikir
kreatif [6].
Test yang mengarah pada keterampilan berpikir tingkat tinggi dapat
diberikan guna mendorong siswa untuk memiliki keterampilan ini. Instrumen tes
Two-tier Multiple Choice sama seperti format soal pilihan ganda tradisional tetapi
seperti namanya, Two-tier Multiple Choice mengandung dua tingkat pertanyaan
yang saling terhubung. Tujuan dari lapis kedua ini adalah mendorong siswa untuk
berpikir tingkat tinggi dan memiliki keterampilan penalaran. Tingkat pertama dari
pertanyaan biasanya berkaitan dengan pernyataan pengetahuan sedangkan tingkat
kedua dari pertanyaan memfasilitasi pengujian siswa belajar di tingkat berpikir
yang lebih tinggi. Instrumen pertanyaan ini membuat lebih mudah untuk menguji
tingkat pemikiran siswa yang lebih tinggi dibandingkan dengan soal pilihan ganda
konvensional [3] [7].
II. METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di SMA N 1 Surakarta, dengan subjek 95 siswa
terdiri dari 3 kelas yang memiliki rata-rata kelas tinggi, sedang, dan rendah.
Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah instrumen Two-tier Multiple
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS) 2015 | 161
Choice untuk mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi. Teknik analisa data
dalam penelitian ini adalah deskripsi kuantitatif. Analisis keterampilan berpikir
tingkat tinggi dengan menggunakan instrumen Two-tier Multiple Choice
menggunakan pedoman penskoran dari Shidiq, A. S., Masyuri, M., dan Susanti,
V. H (2014) seperti pada Tabel 1.
Tabel 1. Pedoman Penskoran Instrumen Two-tier Multiple Choice
Kriteria
Skor
Tidak ada jawaban
0
Menjawab lebih dari satu
0
Satu Jawaban benar pada Second Tier
0
Satu Jawaban benar pada First Tier
1
Dua Jawaban benar pada First and Second tier
2
III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3.1.Instrumen Two-tier Multiple Choice untuk mengukur HOTS
Mengacu pada penelitian yang telah dilakukan oleh Shidiq, A. S.,
Masykuri, M., dan Susanti, V. H (2014), instrumen Two-tier Multiple Choice
yang digunakan untuk mengukur HOTS mengacu pada 5 indikator, yaitu:
a. Siswa dapat menggunakan keterampilan berpikir analisis
b. Siswa dapat menggunakan keterampilan berpikir evaluatif
c. Siswa dapat menggunakan keterampilan berpikir kreatif
d. Siswa dapat menggunakan keterampilan berpikir kritis
e. Siswa dapat menggunakan keterampilan berpikir logis untuk memecahkan
masalah.
Skala penilaian HOTS dibagi kedalam 5 kategori dengan skala seperti
pada Tabel 2.
Tabel 2. Skala Penilaian Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi
Skala
X ≤ 12
12 < X ≤ 20
20 < X ≤ 28
28 < X ≤ 36
36 < X
Sumber: Shidiq, A. S., Masyuri, M., dan Susanti, V. H (2014)
3.2.Hasil Analisis HOTS pada Kelas Kategori Kelas Rendah
Pengujian HOTS pada kelas kategori rendah dilakukan pada kelas XI
IPA 7 yang terdiri dari 31 siswa. Hasil pengujian ditunjukkan oleh Gambar 1.
162 | Pengembangan Model dan Perangkat Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi
Gambar 1. Grafik HOTS Kelas XI IPA 7
3.3. Hasil Analisis HOTS pada Kategori Kelas Sedang
Pengujian HOTS kelas kategori sedang dilakukan pada kelas XI IPA 6
yang terdiri dari 33 siswa, hasil pengujian ditunjukkan oleh Gambar 2.
Gambar 2. Grafik HOTS Kelas XI IPA 6
3.4. Hasil Analisis HOTS pada Kategori Kelas Tinggi
Pengujian HOTS kelas kategori tinggi dilakukan pada kelas XI IPA 1
yang terdiri dari 31 siswa, hasil pengujian ditunjukkan oleh Gambar 3.
Gambar 2. Grafik HOTS Kelas XI IPA 1
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS) 2015 | 163
3.5. Pembahasan
Instrumen penilaian Two-tier Multiple Choice (TTMC) yang diberikan
selain sebagai alat evaluasi pada tes formatif untuk mengetahui kemampuan siswa
juga sebagai intrumen guna mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi pada
siswa, karena instrumen TTMC ini dikembangkan berdasarkan indikator Higher
Order Thinking Skillss (HOTS). Sehingga skor yang dipeloreh siswa pada tes
dengan menggunakan instrumen penilaian Two-tier Multiple Choice ini dapat
berfungsi ganda. Tingkat berpikir siswa dibagi kedalam 5 kategori, yaitu sangat
rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi [3].
Pengujian dilakukan pada kelas yang memiliki rata-rata rendah, sedang
dan tinggi. Hal ini dimaksudkan guna melihat perbedaan HOTS disetiap jenjang
yang berbeda tersebut. Berdasarkan data pada Gambar 1 yang merupakan kelas
dengan kategori rendah, menunjkkan hasil persentase HOTS siswa dengan
kategori sangat rendah sebesar 16,1%, rendah 38,7% dan sedang 45,2%. Pada
kelas ini belum terdapat siswa dengan kategori HOTS tinggi dan sangat tinggi.
Hal ini dikarenakan kelas XI IPA 7 memiliki nilai rata-rata paling rendah
dibandingkan dengan kelas lainnya. Sedangkan dari Gambar 2 terlihat bahwa
persentase HOTS siswa dengan kategori sangat rendah sebesar 3%, rendah 21,2%,
dan sedang 75,7%. Dibandingkan dengan kelas sebelumnya pada kelas XI IPA 6
memiliki persentase yang lebih baik dibandingkan dengan kelas XI IPA 1.
Persentase siswa dengan kemampuan HOTS sedang meningkat tajam, sehingga
bisa disimpulkan kemampuan HOTS yang dimiliki kelas XI IPA 6 lebih baik
dibandingkan dengan kelas XI IPA 7. Gambar 3 menunjukan persentase HOTS
dari kelas XI IPA 1 yang merupakan kelas dengan rata-rata nilai tinggi, hasilnya
adalah siswa dengan kategori sangat rendah sebesar 3,2%, rendah 16,1%, sedang
35,5%, 45,2% tinggi. Pada kelas ini menunjukkan hasil pengujian yang terbaik
dari kelas lainnya, karena pada kelas ini terdapat siswa dengan kategori HOTS
tinggi sebesar 45,2% yang tidak ditemukan pada kelas lainnya. Grafik
perbandingan HOTS untuk ketiga kelas disajikan pada Gambar 4.
Gambar 4. Perbandingan Hasil Analisis HOTS
Mengajar dan menilai dengan penilaian berpikir tingkat tinggi, menurut
Brookhart (2010: 8-13) dapat mengetahui pemahaman tentang bagaimana
pemikiran siswa dan apa yang mereka pelajari dapat ditingkatkan dengan
164 | Pengembangan Model dan Perangkat Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi
menggunakan penilaian spesial yang didesain untuk mengungkap pemikiran siswa
[3] [6]. Memberikan tugas ataupun menilai kemampuan siswa dengan istrumen
untuk berpikir tingkat tinggi yang telah disesuaikan dengan intelektual, proses
berpikir dan realitas khidupan yang ada dapat memotivasi siswa. Hal ini karena
siswa tidak lagi sibuk memikirkan hal yang abstrak mengenai apa yang mereka
pelajari tetapi sibuk dengan hal baru sesuai dengan realitas yang ada [6].
Menurut Tan dan Treagust (1999) instrumen Two-tier multiple choice
yang dikembangkan pada materi ikatan kimia merupakan instrumen yang dapat
digunakan untuk mengidentifikasi alternatif konsep ikatan kimia pada siswa,
sehingga instrumen ini memiiki banyak fungsi yang akan memberikan efektivitas
yang baik jika digunakan [8]
Penelitian yang dilakukan Heong, et al (2012) menunjukan bahwa
kesulitan dalam menghasilkan ide-ide yang dialami oleh siswa akan menyebabkan
siswa mengalami masalah teknis dalam menyelesaikan tugas mereka. Hal ini
adalah sebuah faktor utama yang mempengaruhi prestasi siswa. Oleh karena itu,
siswa perlu belajar HOTS untuk mengatasi kesulitan dalam menghasilkan ide-ide.
HOTS menjadi penting karena dapat membantu siswa untuk menyelesaikan tugas.
Sebagai konsekuensi dari hal ini, siswa harus dibantu untuk memperoleh HOTS;
baik melalui pengajaran konvensional, lingkungan belajar atau tugas individu [9].
Pada hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Murphy, C., Bianchi, L.,
McCullagh, J dan Kerr, K. (2013) disebutkan pengaruh lain dari pengembangan
keterampilan berpikir melalui ilmu pengetahuan di sekolah adalah meningkatkan
ketertarika dan motivasi siswa juga keingintahuan akan suatu fenomena,
memberikan kesempata kepada siswa untuk meningkatkan pemahama melalui
observasi, mendorong pengembangan konsep ilmiah dengan menghubungkan
pengetahuan yang siswa dapatkan disekolah dengan yang siswa dapatkan pada
kegiatan sehari-hari [10].
Penelitian lain tentang meningkatkan HOTS menggunakan pendekatan
inkuiri dilakukan oleh Madhuri, G. V., Kantamreddi, V. S. S. N., dan Goteti, L. N.
S. P. (2011) hasilnya disebutkan bahwa penelitian yang telah didesain dapat
meningkatkan konsep, teknik, dan keterampilan juga untuk memaksimalkan
potensi siswa dalam pembelajaran dan memanfaatkan keterampilan berpikir
tingkat tinggi seperti analisis, sintesis dan evaluasi [11].
IV. SIMPULAN DAN SARAN
4.1 Simpulan
Kesimpulan dari penelitian ini adalah kelas dengan nilai rata-rata tinggi
memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi yang lebih baik dibandingkan
dengan kelas dengan nilai rata-rata sedang dan rendah. Persentase keterampilan
berpikir tingkat tinggi yang terbagi kedalam 5 kategori adalah sebanyak 7,4%
siswa memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi sangat rendah, 25,2% rendah,
52,7% sedang, 14, 7% tinggi dan 0% sangat tinggi.
4.2 Saran
Hasil penelitian yang telah dilakukan mengarah pada pentingnya
mendorong siswa untuk dapat memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS) 2015 | 165
(HOTS), maka perlu dilakukan pembelajaran dan penilaian yang mengacu pada
peningkatan HOTS. Pembelajaran yang dapat dilakukan adalah dengan
menggunakan pendekatan inkuiri, sedangkan untuk penilaian dapat menggunakan
instrumen Two-tier Mutiple Choice
V. DAFTAR PUSTAKA
[1] Kemendiknas. (2003) Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
[2] .(2006). Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan
Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta: Departemen Pendidikan
Nasional, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah.
Direktorat Pembinaan Pendidikan Menengah Atas.
[3] Shidiq, A. S., Masykuri, M., Susanti, V. H. E. (2014). Pengembangan
Instrumen Penilaian Two-tier Multiple Choice untuk Mengukur
Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking Skills)
pada Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan untuk Siswa
SMA/MA Kelas XI, Jurnal Pendidikan Kimia, Vol. 3. No.4 Tahun
2014, hal 83-92, ISSN 2337-9995
[4] Heong, Y. M., Widad, J., Kiong, Tee Tze, Razali, M. (2011). The Level of
Marzuno Higher Order Thinking Skills among Technical Education
Students. International Journal of Social Science and Humanity, vol.
1, No.2,
[5] King, F. J., Goodson, L., Rohani, F. (2004). Higher Order Thinking Skill. A
publication of the Educational Services Program, now known as the
Center for Advancement of Learning and Assessment.
[6] Brookhart, S. M. (2010). How to Assess Higher-Order Thinking Skill in
Your Classroom, Virginia: ASCD
[7] Cullinane, A., Liston, M. (2011). Two-tier Multiple Choice Question
(MCQs)-How Effective are they: A Pre-servis Teachers’ Perspective.
UK: IOSTE-NW Europe
[8] Tan, K. C. D., Treagust, D. F. (1999). Evaluating Student’ Understanding of
Chemical Bonding: A Two-tier Multiple-choice Diagnoctic Instrument
Provide an Easy to use Means to Assessing 14-16 years-old Students’
Alternative Conceptions of Chemical Bonding. Schools Science
Review, 81 (294)
[9] Heong, Y. M., Yunos, J. Md., Othman, W., Hassan, R., Kiong, T. T., and
Mohaffyza, M. (2012). The need analysis of learning higher order
thinking skills for generating ideas. Elsevier Procedia Social and
Behavioral science 59 (2012) 197-203
[10] Murphy, C., Bianchi, L., McCullagh, J dan Kerr, K. (2013). Scaling up
higher order thinking skills and personal capabilities in primary
166 | Pengembangan Model dan Perangkat Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi
acience: theory-into-policy-intopractice. Elsevier: Thinking skills and
Creativity 10 (2013) 173-188.
[11] Madhuri, G. V., Kantamreddi, V. S. S. N., dan Goteti, L. N. S. P. (2011).
Promoting higher order thinking skills using nquiry-based learning.
European Journal of Engineering Education. Vol37. No.2. May 2012,
117-123
PERTANYAAN
No.
Penanya
Pertanyaan
Jawaban
1.
Eko Prihandono
Grafik kemampuan
selalu linier, apa
sebabnya (khusus
SMAN 1 Surakarta)?
Guru dapat memfasilitasi
siswa untuk dapat berpikir
tingkat tinggi, caranya
dengan memberikan
pembiasaan instrument
HOTS dan menggunakan
pendekatan dan metode
yang mendukung HOTS
seperti Inkuiri
... HOTS juga merupakan jawaban dalam menjawab tantangan dalam pembelajaran abad 21. HOTS merupakan aplikasi proses berpikir untuk situasi yang kompleks dan memiliki banyak variabel (Ari Syahidul Shidiq, Mohammad Masykuri, dan Elfi Susanti V. H, 2015). Pembelajaran untuk mencapai HOTS memerlukan sinergi yang kuat antara seluruh pelaku pendidikan. ...
Conference Paper
Full-text available
... Dari hasil wawancara ini dosen merasakan mahasiswa perlu dirangsang untuk berpikir tingkat tinggi melalui teknik penilaian yang diberikan. Sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Shidiq, Masykuri, & Susanti (2015), proses pembelajaran dan penelitian yang berkarakteristik HOTS akan mendorong peserta didik menumbuhkan daya berpikirnya melalui proses penilaian berbasis HOTS dengan mengembangkan instrumeninstrumen soal yang berbasis HOTS. ...
Article
Full-text available
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan instrument penilaian berbasis HOTS pada mata kuliah Pendidikan IPS. Hal tersebut bertitik tolak dari belum dikembangkannya instrument penilaian yang dapat merangsang mahasiswa untuk berpikir tingkat tinggi, sedangkan Pendidikan IPS memiliki tradisi pembelajaran salah satunya adalah reflective inkuiri. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif kuantitatif, dengan sampel penelitian yaitu dosen pengasuh mata kuliah Pendidikan IPS dan Mahasiswa kampus indralaya Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Sriwijaya yang berjumlah 56 orang. Data penelitian diperoleh melalui wawancara, observasi dan angket. Wawancara digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai teknik penilaian pada mata kuliah PPIS. Observasi dilakukan untuk menganalisis instrumen penilaian dan jawaban UAS mata kuliah PIPS. Angket digunakan untuk mendapatkan informasi kebutuhan mahasiswa akan instrumen penilaian berbasis HOTS. Dari hasil wawancara di peroleh informasi mengenai butir soal dibuat belum berbasis HOTS dan belum bervariasi. Observasi yang dilakukan pada instrument penilaian UAS menunjukkan bahwa butir soal 80% masih berfokus pada MOTS, dan dari lembar jawaban mahasiswa dapat diketahui mahasiswa masih menjawab pertanyaan soal dari proses hafalan. Hasil angket yang di peroleh menunjukkan 92,9% mahasiswa berpendapat untuk memahami konsep-konsep ilmu sosial perlu di buatkan soal-soal pemecahan masalah yang dapat melatih HOTS. Sehingga bisa disimpulkan bahwa, dosen dan mahasiswa membutuhkan instrument penilaian berbasis HOTS pada mata kuliah PIPS.
... Another alternative method that can be used is problem-based learning (Aydin-Gunbatar et al., 2018;Quattrucci, 2018), dan project-based learning (Baptist & Subali, 2019) and Guided-inquiri. In addition, the demands of learning etiquette 21 encourage the use of student-centered learning methods so that students can increase their level of thinking, creative, critical, communication and collaboration skills (Jumrodah et al., 2019;Maryuningsih et al., 2019;Saputri et al., 2018;Shidiq et al., 2014Shidiq et al., , 2015. ...
Article
The sophistication of technology and access to information in the twenty-first century pushed education providers to transform preparing students to face a more challenging future. Effective and relevant teaching and learning strategies are needed in biology learning to meet the needs of future generations. Therefore, this study aims to observe the biology learning process in one of senior high school. A qualitative research approach with an observation method was used in this study. This research was conducted in class X SMA N 1 Tanjung, Brebes, Central Java. Data collection techniques used in this study are observation check list, questionnaires, and interviews. Observation of the biology learning process carried out focused on the lesson plan document, learning process, and interviews as well as student and teacher questionnaires on the biology learning process. The data collection process was carried out 3 times. The results obtained from this study indicate that teachers already know the demands of the curriculum and the needs of the 21st century. This can be seen from the of lesson plans made by the teacher. However, other findings from this study are, the skills of teachers in implementing the lesson plan with discovery learning methods are still not optimal. Learning activities undertaken have not yet led to the provision of student skills needed in 21st century. This research is expected to be used as a reference for improving the process of learning biology
... Research that aims to develop high order thinking skills-based learning has been successfully carried out by several previous researchers, Shidiq, et al. (2015) concluded that all students can think, but most students need encouragement and guidance for higher order thinking processes. Fanani (2018: 57) states that through HOTS-based learning, it will be able to increase student motivation and increase learning achievement; Furthermore, Sara, et al (2020: 52) revealed that the low HOTS of students started from a lack of understanding of the material being taught and its use in everyday life, less thorough in the process of solving questions. ...
Article
Full-text available
This study is descriptive explorative which aims to see the needs of teachers and students in implementing High Order Thinking Skills (HOTS) based learning in thematic learning. The research objectives were achieved through observation, interviews and document study. The results of observations show that in learning students have problems with learning interest, this can be seen when students do activities that are not related to learning. Meanwhile, the results of the interviews which were supported by document study data revealed that in the thematic book the conceptual presentation was not given in depth. It is necessary to add various activities that support the student learning process. In addition, the teacher argues that it is necessary to provide pictures as an illustration of the teaching concept given, this is because elementary school students are in the 7-11 year age range who are still in the concrete operational thinking stage which requires textbooks that can present abstract concepts. concretely. Based on this, it is natural that students are not interested in participating in learning. This study concludes that the thematic textbooks currently used have shortcomings in the presentation of HOTS material and supporting activities. To cover these shortcomings, it is necessary to develop thematic books that have a more complete concept of material and are made according to the characteristics of elementary school students and contain various activities to support HOTS ability improvement. The development of textbooks is needed as an effort to increase learning interest so that learning objectives can be maximally achieved.
... Students do not only remember, repeat, or recite in HOTS but also involving higher-order thinking processes. Hence, students still need encouragement and guidance (Shidiq et al., 2015). HOTS questions in the assessment context aim to measure the ability for (1) transferring one concept to another, (2) processing and applying information, (3) looking for the links from various information, (4) using the information to solve problems, and (5) examining ideas and information critically (Setiawati et al., 2018). ...
Article
Full-text available
This research aims to study students’ High Order Thinking Skills (HOTS) in Primary Teacher Education Department of Universitas Negeri Semarang (UNNES) viewed from their Self-Regulated Learning (SRL). The research method in this research is a mixed method of a sequential explanatory model. This research was conducted in the Department of Primary Teacher Education at UNNES for students of class 2020 in the Basic Mathematical Concept course. Data collection techniques using questionnaires, documentation, interviews. Analysis of quantitative data in the form of validity and reliability of the instrument was followed by descriptive analysis. Qualitative data analysis was performed by triangulation and descriptive statistical analysis. Analysis of quantitative data found two categories of the level of SRL, namely medium and high levels. The results of the analysis of student answers were obtained: (1) Students with moderate SRL category interpret the questions into Mathematical language, and the way they identified the problem is less communicative, while the students with high SRL category interpret the questions into Mathematical language communicatively; (2) Based on students’ ability to evaluate, students with moderate SRL category have not been fluent yet, while the students with high SRL category have been fluent in evaluating, and (3) Based on their creativity, students with moderate SRL still need more practices, while students with high SRL category have been fluent. The conclusion of this study is the ability to interpret problems and the habit of examining problem-solving carried out into the differences between the two categories.
... The results of test of scientific literacy skills on particular materials of natural science subject are medium by category, affected by such factors as curriculum and education systems, selection of methods and models of learning, facilities and infrastructures, learning resources, and teaching materials [21,22]. Researches conducted in a number of favorite schools where the students gain high average scores also reveal that the students' competencies on HOTS are still very low [23]. The outcomes of 2018 Computer-Based National Examination at Junior High School level for science subject are down. ...
Article
Full-text available
This study aimed to investigating the effect of problem-based learning with char-acter emphasis toward the students’ higher-order thinking skills (HOTS) and characters. This study an experimental research using the single factor independ-ent group design which conducted on secondary school in Mataram - Indonesia. The treatment was given to three independent randomly selected groups, namely Problem-Based Learning with Character Emphasis (PBL-CE), Problem Based-Learning (PBL), and Regular Learning (RL). The data of the students’ HOTS were collected through essay tests and the data of the students’ characters were collected through self-assessment sheets, and analyzed using MANOVA. The results showed that the highest mean score for HOTS was found in the PBL-CE group, its was significantly different with RL group, and not significantly differ-ent with PBL group. Meanwhile, for the average score of student characters, the PBL-CE group scored higher and was significantly different from the other two groups (PBL and RL). The generalization of the study results has shown that there is an effect of problem-based learning with character emphasis on students' higher order thinking skills and character.
... Research about HOTS have been conducted by researchers in developing textbooks or module based on HOTS (Musfiqi & Jailani, 2014;Nur, 2017), in developing test instruments (Budiman & Jailani, 2014;Hamdi, Suganda, & Hayati, 2018;Julianingsih, Rosidin, & Wahyudi, 2017;Noprinda & Soleh, 2019;Ahmad et al., 2017), in Mathematics (Nisa & Retnawati, 2018;Tanujaya, Mumu, & Margono, 2017), in analyzing students' HOT (Shidiq, Masykuri, & Susanti, 2015), in teachers' understanding and practices about HOTS (Driana & Ernawati, 2019;Retnawati et al., 2018;Siti, 2015), in the relationship between HOTS and Japanese language classes (Toyoda, 2016). Some researchers have also researched improving and developing students' HOTS (Baguma et al., 2019;Jerome, Lee, & Ting, 2017;Mulyaningsih & Itaristanti, 2018;Arum, Sudarmi, & Pattiserlihun, 2019;Suryamiati, Pasah, & Eka, 2019;Wahid & Karimah, 2018;Widodo & Kadarwati, 2013;Zulfin et al., 2018). ...
Article
Full-text available
The purpose of the research was to examine (1) whether or not the HOTS instruction was more effective than the LOTS (Lower Order Thinking Skills) instruction in teaching speaking for daily context to the first semester students at English Education department; (2) whether the students who had high self-motivation had better speaking ability than those who had low self-motivation; and (3) whether there was an interaction between teaching strategies and students’ self-motivation. By using a quantitative research with the quasi-experimental type, the data were derived from tests and questionnaires. The results show that (1) HOTS instruction is more effective than the LOTS instruction in teaching speaking for daily context to the first semester students at the English Education Department; (2) the students who have high motivation have better speaking skills than the students who have low motivation; (3) there is an interaction between teaching strategies and motivation in teaching speaking for daily context. It can be concluded that HOTS instruction is an effective strategy in teaching speaking viewed from students’ motivation. The effectiveness of the strategy is affected by students’ motivation.
... Higher Order Thinking Skills in learning are applications of thought processes for complex situations and have many variables. All students can think, but most students need encouragement and guidance for higher-order thinking processes [20]. Thinking skills distinguish how far the teacher's science uses activities that encourage students to use their higher cognitive skills so as to think. ...
Article
Full-text available
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemahaman Guru Geografi SMA terakreditasi A di Kota Singaraja tentang asesmen autentik berbasis HOTS, menganalisis kandungan HOTS pada asesmen autentik yang dikembangkan guru Geografi SMA terakreditasi A di Kota Singaraja, dan mengkaji kendala yang dihadapi Guru Geografi SMA terakreditasi A di Kota Singaraja dalam mengembangkan asesmen autentik berbasis HOTS. Penelitian ini merupakan studi populasi yang dilaksanakan di SMA terakreditasi A di Kota Singaraja. Objek penelitian: pemahaman guru terhadap asesmen autentik berbasis HOTS, kandungan HOTS dalam asesmen autentik yang dikembangkan, dan Kendala yang dihadapi dalam mengembangkan asesmen berbasis HOTS. Data dikumpulkan melalui metode observasi, wawancara, dan dokumentasi, selanjutnya dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan pemahaman guru terkategori cukup. Soal-soal yang dibuat oleh guru belum sepenuhnya mengandung HOTS dan masih terkategori cukup. Kendala yang dihadapi guru dalam penerapan asesmen autentik berbasis HOTS bervariasi antar sekolah, kendala utama yang dihadapi adalah waktu dan siswa.
Article
Full-text available
ABSTRAK Implementasi kurikulum 2013 menuntut guru untuk melakukan penilaian HOTS. Pada dasarnya penilaian HOTS harus diawali dengan pembelajaran yang HOTS juga. Hasil yang didapatkan berdasarkan pengamatan di SIB Thailand bawasannya masih ditemukan adanya (1) beberapa guru yang masih memerlukan updating tentang pengetahuan terutama kurikulum 2013, (2) kurang lebih 45% siswa masih pasif ketika diajar dan keaktifan kelas sering didominasi oleh anak-anak yang pintar. (3) dalam proses pembelajaran soal-soal yang dibuat guru kebanyakan masih pada level C1-C3, dan (4) kemampuan siswa dalam berfikir kritis dan analitis sangat kurang. Berdasarkan analisis masalah tersebut, tujuan penelitian ini untuk meningkatkan kemampuan guru-guru terhadap pembelajaran dan penilaian HOTS. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif. Adapun hasil yang didapatkan meliputi (a) hasil contoh perangkat pembelajaran dan penilaian HOTS yang meliputi RPP, (b) Lembar Kegiatan Siswa (LKS), (c) evaluasi pembelajaran, (d) instrumen penilaian HOTS, dan (e) video pembelajaran dan penilaian HOTS. Kata kunci: Pembelajaran, Penilaian, HOTS ABSTRACT The implementation of the 2013 curriculum requires teachers to conduct HOTS assessments. Basically the HOTS assessment must begin with HOTS learning as well. The results obtained based on observations at SIB Thailand are still found in (1) some teachers who still need updating of knowledge, especially the 2013 curriculum, (2) approximately 45% of students are still passive when taught and class activeness is often dominated by smart children. (3) in the learning process the questions made by the teacher are mostly still at levels C1-C3, and (4) the ability of students in critical and analytical thinking is very lacking. Based on the analysis of the problem, the purpose of this study was to improve the ability of teachers to learn and assess HOTS. The research method used is qualitative research. The results obtained include (a) the results of examples of HOTS learning and assessment devices which include lesson plans, (b) Student Activity Sheets (LKS), (c) learning evaluation, (d) HOTS assessment instruments, and (e) videos learning and assessment HOTS. Key words: Learning, Assessment, HOTS
Article
Full-text available
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen penilaian Two-tier Multiple Choice yang memiliki validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, daya pembeda dan indeks pengecoh yang memenuhi kriteria sebagai suatu soal yang baik dan mengembangkan instrumen Two-tier Multiple Choice pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan menjadi instrumen penilaian yang mampu mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi.Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang terdiri dari analisis kebutuhan dan penelitian awal, perencanaan, pengembangan bentuk awal produk, revisi dan uji lapangan awal, revisi dan uji lapangan utama, dan revisi dan uji pelaksanaan lapangan. Subjek penelitian pada penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMAN 1 Surakarta dan SMAN Sragen Bilingual Boarding School tahun ajaran 2013/2014. Data penelitian diperoleh melalui wawancara, tes dan angket.Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan kesimpulan yang didapatkan adalah instrumen penilaian Two-tier Multiple Choice yang dikembangkan dinyatakan layak dan memenuhi kriteria sebagai suatu soal yang baik dengan hasil validitas isi (CV) 1,00, memiliki reliabilitas tes rata-rata 0,92 yang tergolong sangat tinggi, memiliki tingkat kesukaran dengan persentase 4,1% (mudah), 79,2% (sedang), dan 16,7% (sukar), memiliki daya pembeda dengan persentase 18,7% (sangat baik), 39,6% (baik), 14,6% (cukup), 27,1% (jelek), dan memiliki indeks pengecoh dengan persentase 26,1% (sangat baik), 21,9% (baik), 30,2% (kurang), 18,2% (buruk), dan 3,6% (sangat buruk) dan instrumen Two-tier Multiple Choice untuk mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan yang dikembangkan cukup mampu mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi dengan angka konsistensi 41,6%. Kata Kunci: Penelitian dan pengembangan (R&D), Two-tier multiple choice, Higher order thinking skills, kelarutan dan hasil kali kelarutan PENDAHULUAN Proses pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan pendidikan yang sesuai dengan fungsi dan tujuannya. Proses pendidikan merupakan kegiatan sosial atau pergaulan antara pendidik dan peserta didik dengan menggunakan isi atau materi pendidikan, metode, dan alat pendidikan tertentu yang berlangsung dalam suatu lingkungan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan [1].Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan satuan pendidikan dalam mengelola proses pembelajaran. Penilaian merupakan bagian yang penting dalam proses pembelajaran. Dengan melakukan penilaian, pendidik sebagai pengelola kegiatan pembelajaran dapat mengetahui kemampuan yang dimiliki peserta didik, ketepatan metode mengajar yang digunakan, dan keberhasilan peserta didik dalam meraih kompetensi yang telah ditetapkan.
Conference Paper
Full-text available
In recent times an increasing emphasis has been placed on the learning enhancement purposes of assessment (Heywood, 2000; Holroyd, 2000). If changes are to occur in the pedagogy of Biology and student learning, changes in assessment methods are needed (Greer 2001; Brown et al. 1997; Gibbs 1999; BIO2010) as there is a very strong relationship between assessment design and the effectiveness of student learning in the biological sciences (Boud 1988; Mc Innis & Devlin 2002). There is a general viewpoint that the methods in the Irish education system need to be changed (Bennett & Kennedy, 2001; NCCA 2003; Looney, 2006). Assessment of Second Level Biology in Ireland has come under increasing scrutiny in recent years. The Biology Syllabus was altered in 2002, which included a change in the format and types of questions used in the summative assessment examination paper. Many of the essay style or extended answer questions were removed and replaced with short answer questions. More recently a new proposed curriculum change was announced (NCCA, 2007). Revision of this new syllabus will place an emphasis on the rejuvenation of the summative examinations.
Article
Full-text available
Higher order thinking skills is an important aspect in teaching and learning especially at higher education institutions. Thinking skills practices are part of the generic skills that should be infused in all technical subjects. Students with higher order thinking skills are able to learn, improve their performance and reduce their weaknesses. Hence, the purpose of this research was to identify the level of Marzano Higher Order Thinking Skills among technical education students in the Faculty of Technical Education (FPTek), Universiti Tun Hussein Onn Malaysia. A total of 158 students of FPTek were randomly selected as sample. A set of questionnaires adapted from Marzano Rubrics for Specific Task or Situations (1993) was used as research instrument. This is a quantitative research and the gathered data was analyzed using Statistical Package for Social Science (SPSS) software. The findings indicated that students perceived they have moderate level for investigation, experimental inquiry, comparing, deducing, constructing support, inducing and invention. However, decision making, problem solving, error analyzing, abstracting, analyzing perspectives and classifying are at low level. The Eta analysis indicated that there is a very low positive relationship between the level of Marzano Higher Order Thinking Skills and gender, academic achivement as well as socio economic status. Besides that, the findings also showed that there is no statistically significant difference in gender, academic achivement and socio economic status on the level of Marzano Higher Order Thinking Skills. However, there is significant difference in socio economic status on the level of decision making.
Article
Full-text available
Generating of idea is thinking skills activity which require high level of creative thinking and actions. Hence, the purpose of this research was to analyse the needs of learning higher order thinking skills for generating ideas among technical students based on the opinions of academic staffs. The findings indicated that deadlock of ideas is the most important factor in the difficulty in generating ideas among these students. The difficulty of generating ideas is a key factor in affecting the achievements of the students' assignments. Thus, students need to learn higher order thinking skills to address the difficulty in generating ideas.
Article
Active learning pedagogies play an important role in enhancing higher order cognitive skills among the student community. In this work, a laboratory course for first year engineering chemistry is designed and executed using an inquiry-based learning pedagogical approach. The goal of this module is to promote higher order thinking skills in chemistry. Laboratory exercises are designed based on Bloom's taxonomy and a just-in-time facilitation approach is used. A pre-laboratory discussion outlining the theory of the experiment and its relevance is carried out to enable the students to analyse real-life problems. The performance of the students is assessed based on their ability to perform the experiment, design new experiments and correlate practical utility of the course module with real life. The novelty of the present approach lies in the fact that the learning outcomes of the existing experiments are achieved through establishing a relationship with real-world problems.
How to Assess Higher-Order Thinking Skill in Your Classroom
  • S M Brookhart
Brookhart, S. M. (2010). How to Assess Higher-Order Thinking Skill in Your Classroom, Virginia: ASCD
Evaluating Student' Understanding of Chemical Bonding: A Two-tier Multiple-choice Diagnoctic Instrument Provide an Easy to use Means to Assessing 14-16 years-old Students' Alternative Conceptions of Chemical Bonding
  • K C D Tan
  • D F Treagust
Tan, K. C. D., Treagust, D. F. (1999). Evaluating Student' Understanding of Chemical Bonding: A Two-tier Multiple-choice Diagnoctic Instrument Provide an Easy to use Means to Assessing 14-16 years-old Students' Alternative Conceptions of Chemical Bonding. Schools Science Review, 81 (294)
Higher Order Thinking Skill. A publication of the Educational Services Program, now known as the Center for Advancement of Learning and Assessment
  • F J King
  • L Goodson
  • F Rohani
King, F. J., Goodson, L., Rohani, F. (2004). Higher Order Thinking Skill. A publication of the Educational Services Program, now known as the Center for Advancement of Learning and Assessment.
Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah
(2006). Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat Pembinaan Pendidikan Menengah Atas.