ArticlePDF Available

Korelasi Antara Ketinggian Tempat, Sifat Kimia Tanah, dan Mutu Fisik Biji Kopi Arabika di Dataran Tinggi Garut

Authors:

Abstract and Figures

em> Altitude defines the climatic elements which in turn affect the soil chemical properties. Growth, productivity, qualities, and coffee flavor determines by a number of factors, one of which is the chemical properties in the soil. The research aimed to analyze the correlation between altitude, soil chemical properties, and physical quality of Arabica coffee beans in highland areas of Garut. The research was carried out in Garut Regency, West Java, from April to Agustus 2014. The research used survey method with purposive random sampling from selected locations. Parameters observed were soil chemical properties, percentage of normal beans and the beans weight at the altitude of 1.000–1.600 m asl. The data were then analyzed using correlation method. The result showed a significant correlation between altitude with soil chemical properties and Arabica coffee beans physical quality in Garut highlands. The higher the altitude, the higher level of soil chemical properties, such as pH, C-organic, N-total, Na, and KTK, in contrary with total P<sub>2</sub>O<sub>5</sub> . Higher altitude and chemical properties inline with higher percentage of normal beans and the weight of 100 Arabica coffee beans. </em
Content may be subject to copyright.
Korelasi Antara Ketinggian Tempat, Sifat Kimia Tanah, dan Mutu Fisik Biji Kopi Arabika di Dataran Tinggi Garut
(Handi Supriadi, Enny Randriani, dan Juniaty Towaha)
KORELASI ANTARA KETINGGIAN TEMPAT, SIFAT KIMIA TANAH, DAN MUTU
FISIK BIJI KOPI ARABIKA DI DATARAN TINGGI GARUT
CORRELATION BETWEEN ALTITUDE, SOIL CHEMICAL PROPERTIES, AND
PHYSICAL QUALITY OF ARABICA COFFEE BEANS IN HIGHLAND AREAS OF GARUT
* Handi Supriadi, Enny Randriani, dan Juniaty Towaha
Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar
Jalan Raya Pakuwon Km 2 Parungkuda, Sukabumi 43357 Indonesia
* handibalittri@gmail.com
(Tanggal diterima: 8 Desember 2015, direvisi: 29 Desember 2015, disetujui terbit: 18 Maret 2016)
ABSTRAK
Ketinggian tempat mempengaruhi unsur-unsur iklim yang akan berdampak terhadap sifat kimia tanah. Pertumbuhan, produktivitas,
mutu, dan citarasa kopi ditentukan oleh beberapa faktor, salah satunya sifat kimia tanah. Tujuan penelitian adalah menganalisis
korelasi antara ketinggian tempat, sifat kimia tanah, dan mutu fisik biji kopi Arabika di dataran tinggi Kabupaten Garut. Penelitian
dilakukan di dataran tinggi Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, mulai bulan April sampai Agustus 2014. Penelitian menggunakan
metode survei dengan pemilihan lokasi dan ketinggian tempat secara purposive serta pengambilan sampel tanah dan biji kopi secara
acak di masing-masing lokasi. Parameter yang diamati adalah sifat kimia tanah, persentase biji normal, dan berat biji kopi Arabika pada
ketinggian tempat 1.0001.600 m dpl. Data dianalisis menggunakan korelasi. Hasil penelitian menunjukkan korelasi yang nyata
antara ketinggian tempat dengan beberapa sifat kimia tanah dan mutu fisik biji kopi Arabika di dataran tinggi Garut. Semakin tinggi
tempat maka semakin meningkat pula sifat kimia tanah seperti pH, C-organik, N-total, Na, dan KTK, tetapi sebaliknya untuk P2O5
total. Meningkatnya tinggi tempat dan beberapa sifat kimia tanah tersebut seiring dengan meningkatnya pula persentase biji normal
dan berat 100 biji kopi Arabika.
Kata kunci: Kopi Arabika, sifat kimia tanah, ketinggian tempat, biji normal, berat biji
ABSTRACT
Altitude defines the climatic elements which in turn affect the soil chemical properties. Growth, productivity, qualities, and coffee flavor determines by
a number of factors, one of which is the chemical properties in the soil. The research aimed to analyze the correlation between altitude, soil chemical
properties, and physical quality of Arabica coffee beans in highland areas of Garut. The research was carried out in Garut Regency, West Java, from
April to Agustus 2014. The research used survey method with purposive random sampling from selected locations. Parameters observed were soil
chemical properties, percentage of normal beans and the beans weight at the altitude of 1.000–1.600 m asl. The data were then analyzed using
correlation method. The result showed a significant correlation between altitude with soil chemical properties and Arabica coffee beans physical
quality in Garut highlands. The higher the altitude, the higher level of soil chemical properties, such as pH, C-organic, N-total, Na, and KTK, in
contrary with total P2O5. Higher altitude and chemical properties inline with higher percentage of normal beans and the weight of 100 Arabica
coffee beans.
Keywords: Arabica coffee, soil chemical properties, normal beans, beans weight, altitude
PENDAHULUAN
Pertanaman kopi Arabika di Kabupaten Garut
terdapat di kawasan pegunungan dengan ketinggian
tempat yang beragam, antara 1.0001.600 m dpl.
Teknologi budi daya tanaman kopi, khususnya
pemupukan, yang diterapkan petani pada umumnya
hampir sama di semua lokasi dan ketinggian tempat.
Meskipun demikian, mutu fisik biji kopi Arabika yang
dihasilkan petani bervariasi antar ketinggian tempat.
Beberapa hasil penelitian telah membuktikan pengaruh
ketinggian tempat terhadap mutu fisik dan citarasa kopi
45
J. TIDP 3(1), 4552
Maret, 2016
(Leonel, Philippe, & Segovia, 2006; Silva, de Queiroz,
Ferreira, Corrêa, & Rufino, 2015).
Ketinggian tempat berpengaruh terhadap suhu
udara dan curah hujan (Ping et al., 2013; Saeed,
Barozai, Ahmad, & Shah, 2014). Semakin tinggi
tempat, suhu udara semakin rendah dan curah hujan
semakin tinggi serta tanahnya semakin subur (Sari,
Santoso, & Mawardi, 2013; Van Beusekom, González,
& Riveras, 2015). Perubahan kedua faktor iklim
tersebut akan berdampak pada proses dekomposisi
bahan organik dan komposisi kimia di dalam tanah serta
proses pematangan buah (Somporn, Kamtuo,
Theerakulpisut, & Siriamornpun, 2012).
Informasi mengenai sifat kimia tanah dapat
dijadikan pedoman dalam pemilihan lokasi penanaman
kopi dan menentukan dosis pupuk yang tepat dan sesuai
dengan kebutuhan tanaman (Núñez et al., 2011; Maro,
Mrema, Msanya, & Teri, 2013). Dengan demikian,
pengelolaan tanaman kopi dapat lebih efisien dan biaya
produksi dapat ditekan (Amaral et al., 2011; Hanisch,
Dara, Brinkmann, & Buerkert, 2011).
Kemampuan tanah untuk menyediakan unsur
hara bagi tanaman tergantung pada sifat kimia tanah
seperti pH, karbon organik, dan kandungan mineral di
dalam tanah (Kufa, 2011). Unsur hara yang tersedia di
dalam tanah terdiri dari unsur hara makro, yaitu
nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), kalsium (Ca),
magnesium (Mg), natrium (Na), dan unsur hara mikro,
yakni boron (B), seng (Zn), tembaga (Cu), dan besi
(Fe). Setiap unsur hara tersebut berperan terhadap
pertumbuhan dan produksi tanaman kopi (Núñez et al.,
2011).
Penelitian bertujuan menganalisis korelasi
antara ketinggian tempat, sifat kimia tanah, dan mutu
fisik biji kopi Arabika di dataran tinggi Kabupaten
Garut.
BAHAN DAN METODE
Penelitian dilakukan di dataran tinggi
Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, mulai bulan
April sampai Agustus 2014. Penelitian menggunakan
metode survei dengan pemilihan lokasi pengembangan
kopi Arabika dan ketinggian tempat secara purposive
(Tabel 1) serta pengambilan sampel tanah dan biji kopi
per lokasi secara acak.
Lokasi penelitian memiliki jenis tanah Andosol
dan iklim tipe B (Schmidt & Ferguson, 1951). Sampel
tanah diambil dari masing-masing lokasi secara komposit
pada kedalaman 020 cm di bawah tajuk tanaman kopi.
Kultivar kopi Arabika yang terdapat di lokasi penelitian
termasuk dalam kelompok Typica atau dikenal dengan
nama “Kopi Buhun”.
Tabel 1. Lokasi dan ketinggian tempat pengambilan contoh
tanah di wilayah Kabupaten Garut
Table 1. The location and altitude of soil sampling in Garut
Regency
No.
Lokasi
Ketinggian tempat
(m dpl)
1
Tenjonagara
1.000
2
Pangauban
1.150
3
Cikandang
1.200
4
Cibodas
1.253
5
Simpang 1
1.272
6
Simpang 2
1.304
7
Margamulia
1.317
8
Sirnajaya
1.326
9
Sukalilah
1.345
10
Pamalayan
1.371
11
Kerkop
1.400
12
Legok Gede
1.458
13
Kramatwangi 1
1.557
14
Kramatwangi 2
1.600
Sampel tanah dibawa ke laboratorium untuk
selanjutnya dianalisis kandungan kemasaman tanah
(pH), karbon (C)-organik, nitrogen (N)-total, C/N,
P2O5 tersedia, kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium
(K), natrium (Na), kapasitas tukar kation (KTK), dan
kejenuhan basa (KB). Penetapan nilai pH H2O
menggunakan pH meter. Kandungan C-organik, N-
total, dan P2O5, masing-masing diukur menggunakan
metode Walkey & Black, Kjeldahl, dan Bray I.
Kandungan basa dapat ditukarkan (Ca, Mg, K, dan Na)
diukur melalui perkolasi amonium asetat 1 M (pH 7),
sedangkan KTK melalui destilasi langsung (Balai
Penelitian Tanah, 2009).
Dari masing-masing lokasi juga diambil sampel
buah kopi secara acak dan diolah secara basah. Biji kopi
yang diperoleh dijemur hingga kadar air 12% (Sumirat,
2008). Peubah yang diamati meliputi persentase biji
normal dan berat 100 biji. Data sifat kimia tanah,
ketinggian tempat, dan mutu fisik biji kopi selanjutnya
dianalisis dengan metode korelasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Korelasi Ketinggian Tempat dengan Sifat Kimia
Tanah
Hasil analisis menunjukkan nilai pH di lokasi
penelitian bervariasi antara 5,306,74 dengan kategori
masam (M), agak masam (AM), dan netral (N) (Tabel
2). Kemasaman (pH) tanah yang terbaik untuk
pertumbuhan dan produksi serta mutu kopi Arabika
adalah 5,86,2 (Maro, Msanya, & Mrema, 2014)
sehingga secara umum tanah di lokasi penelitian sesuai
untuk pengembangan tanaman kopi Arabika.
46
Korelasi Antara Ketinggian Tempat, Sifat Kimia Tanah, dan Mutu Fisik Biji Kopi Arabika di Dataran Tinggi Garut
(Handi Supriadi, Enny Randriani, dan Juniaty Towaha)
Kemasaman tanah (pH) nyata berkorelasi
positif dengan ketinggian tempat (Tabel 4), yaitu nilai
pH cenderung meningkat seiring dengan bertambahnya
ketinggian tempat. Salah satu faktor penyebabnya adalah
kandungan bahan organik tanah yang lebih tinggi (Tabel
2). Bahan organik dapat meningkatan pH tanah yang
nilainya sangat tergantung dari kualitas bahan organik
(Nazari, Soemarno, & Agustina, 2012; Nigussie &
Kissi, 2012).
Peningkatan pH disebabkan adanya proses
dekomposisi dari berbagai jenis bahan organik sehingga
menghasilkan kation-kation basa. Soepardi (1983) cited
in Nazari et al. (2012) menyatakan bahwa hasil akhir
sederhana dari perombakan bahan organik, antara lain
berupa kation-kation basa, seperti Ca, Mg, K dan Na.
Pelepasan kation-kation basa ke dalam larutan tanah
menyebabkan tanah jenuh dengan kation-kation
tersebut dan pada akhirnya meningkatkan pH tanah.
Kandungan C-organik pada ketinggian tempat
1.0001.326 m dpl termasuk kategori tinggi,
sedangkan pada ketinggian 1.3451.600 m dpl
tergolong sangat tinggi (Tabel 2). Ini menunjukkan
bahwa daerah pengembangan kopi Arabika tersebut
kaya akan bahan organik (Sari, Santoso & Mawardi,
2013). Sumber utama bahan organik adalah
serasah/humus yang berasal dari guguran daun dan
ranting tanaman kopi serta penaung maupun tanaman
lainnya yang jumlahnya cukup melimpah. Menurut Ping
et al. (2013) curah hujan yang lebih tinggi dan suhu yang
lebih rendah di daerah pegunungan akan meningkatkan
jumlah serasah/humus yang merupakan sumber utama
bahan organik.
Tabel 2. Sifat kimia tanah pada pertanaman kopi Arabika di Garut berdasarkan ketinggian tempat
Table 2. Soil chemical properties in Arabica coffee plantations in Garut based on its altitude
Ketinggian
Tempat
( m dpl)
pH Kriteria* C-organik
(%) Kriteria* N-total
(%) Kriteria*
P
2
O
5
Tersedia
(ppm)
Kriteria*
1.000
5,61
AM
4,45
T
0,24
S
77,35
ST
1.150
5,83
AM
4,72
T
0,26
S
77,34
ST
1.200
5,30
M
4,74
T
0,27
S
73,00
ST
1.253
5,47
M
4,75
T
0,29
S
71,20
ST
1.272
5,83
AM
4,76
T
0,33
S
61,50
ST
1.304
5,81
AM
4,90
T
0,35
S
64,40
ST
1.317
5,92
AM
3,29
T
0,23
S
61,50
ST
1.326
6,45
AM
4,91
T
0,43
S
64,30
ST
1.345
6,74
N
5,64
ST
0,49
S
51,70
ST
1.371
6,25
AM
5,86
ST
0,52
T
48,10
ST
1.400
5,40
M
6,50
ST
0,53
T
55,80
ST
1.458
6,09
AM
6,85
ST
0,54
T
55,01
ST
1.557
6,60
N
7,83
ST
0,56
T
42,60
ST
1.600
6,61
N
7,84
ST
0,56
T
41,70
ST
Tempat
Basa dapat ditukarkan (cmol(+)/kg
KTK
(cmol(+)/kg) Kriteria*
K
Kriteria*
Ca
Kriteria*
Mg
Kriteria*
Na
Kriteria*
0,82
T
20,54
ST
3,45
T
0,23
R
25,15
T
0,32
R
19,14
T
2,77
T
0,25
R
22,20
S
0,98
T
16,40
T
2,12
T
0,47
S
35,29
T
0,99
T
16,41
T
2,12
T
0,45
S
35,30
T
1,53
ST
23,33
ST
4,02
T
0,22
R
34,40
T
0,34
R
17,03
T
2,05
T
0,33
R
44,91
ST
1,32
ST
23,26
ST
4,03
T
0,41
S
51,80
ST
0,24
R
12,30
T
5,52
T
0,55
S
51,82
ST
0,22
R
11,25
T
0,87
R
0,37
R
34,90
T
0,23
R
11,27
T
0,88
R
0,36
R
34,91
T
1,02
ST
27,78
ST
6,62
T
0,88
T
63,80
ST
1,05
ST
27,77
ST
6,60
T
0,87
T
63,82
ST
0,33
R
17,74
T
5,94
T
0,62
S
65,77
ST
1,45
ST
17,61
T
3,51
T
0,71
S
64,95
ST
Keterangan : AM = agak masam, M = masam, N = netral, R = rendah, S = sedang, T = tinggi, ST = sangat tinggi (* = Balai Penelitian Tanah,
2009)
Notes : AM = slightly acidic, M = acidic, N = neutral, R = low, S = medium, T = high, ST = very high (* = Soil Research Institute, 2009)
47
J. TIDP 3(1), 4552
Maret, 2016
Tabel 3. Mutu fisik biji kopi Arabika di Garut berdasarkan ketinggian tempat
Table 3. Physical quality of Arabica coffee beans in Garut based on its altitude
Ketinggian tempat
(m dpl)
Biji normal
(%)
Berat 100 biji
(g)
1.000
57,42
15,39
1.150
67,45
18,73
1.200
69,86
16,78
1.253
75,00
18,60
1.272
62,92
19,02
1.304
72,68
18,73
1.317
81,12
22,36
1.326
81,52
22,77
1.345
83,16
20,20
1.371
89,98
22,77
1.400
92,86
23,23
1.458
94,44
23,01
1.557
92,86
24,18
1.600
98,26
24,49
Berdasarkan hasil analisis, kandungan C-
organik tanah nyata berkorelasi positif dengan
ketinggian tempat (Tabel 4). Pada daerah yang lebih
tinggi proses dekomposisi serasah berjalan lambat
sehingga terjadi akumulasi C-organik di dalam tanah
(Bhattacharyya et al., 2008 cited in Charan et al., 2013;
Kidanemariam et al., 2012). Hasil penelitian serupa juga
dilaporkan oleh Kidanemariam et al. (2012) di wilayah
Ethiopia, serta Sari et al. (2013) dan Sipahutar, Marbun,
& Fauzi (2014) di dataran tinggi Sumatera Utara.
Hasil analisis menunjukkan kandungan N-total
pada ketinggian 1.000-1.345 m dpl termasuk dalam
katergori sedang (S), sedangkan pada ketinggian 1.371-
1.600 m dpl termasuk kategori tinggi (T) (Tabel 2).
Korelasi positif nyata terlihat antara kandungan N-total
dengan ketinggian tempat (Tabel 4). Ini berarti bahwa
kandungan N-total cenderung naik seiring dengan
bertambahnya ketinggian tempat. Kandungan N di
dalam tanah selain ditentukan oleh ketersediaan N-total,
juga dipengaruhi oleh kandungan bahan organik di
dalam tanah (Rusdiana & Lubis, 2012). Beberapa
peneliti melaporkan bahwa kandungan bahan organik
(C-organik) yang tinggi dapat meningkatkan proses
nitrifikasi sehingga kandungan N meningkat
(Kidanemariam et al., 2013; Purwanto, Hartati, &
Istiqomah, 2014; Sipahutar et al., 2014).
Nilai P2O5 pada semua ketinggian tempat,
berdasarkan hasil analisis, termasuk kategori sangat
tinggi (ST). Menurut Sukarman & Dariah (2014), tanah
Andosol di Indonesia mempunyai kandungan P2O5
tersedia yang sangat tinggi, yaitu 32313 ppm dengan
nilai rata-rata 152 ppm. Begitu juga menurut Sari et al.
(2013), P2O5 tersedia mencapai 70 ppm pada tanah
Andosol di Ijen-Raung, Jawa Timur.
Nilai P2O5 tersedia berkorelasi negatif dengan
ketinggian tempat (Tabel 4). Hasil tersebut
menunjukkan bahwa P2O5 tersedia nilainya menurun
dengan meningkatnya ketinggian tempat. Hasil
penelitian ini serupa dengan yang dilaporkan oleh Sari et
al. (2013), Vincent, Sundqvist, Wardle, & Giesler
(2014), dan Sipahutar et al. (2014). Suhu udara yang
lebih tinggi dapat menstimulasi aktivitas mikrob dan
kandungan P2O5 tersedia di dalam tanah, meningkatkan
mineralisasi mikrob dan serapan P2O5 oleh tanaman
sehingga dapat meningkatkan akselerasi siklus P2O5
serta kandungan P2O5 tersedia cenderung lebih tinggi
(Rui, Wang, Chen, Zhou, & Wang, 2012).
Kation basa Na nyata berkorelasi positif dengan
ketinggian tempat (Tabel 4). Pada tempat yang lebih
tinggi, kandungan bahan organiknya lebih tinggi
dibandingkan dengan tempat yang lebih rendah (Tabel
2). Kandungan Na nyata dipengaruhi oleh C-organik.
Perombakan bahan organik tersebut akan menghasilkan
kation basa, di antaranya Na (Soepardi, 1983 cited in
Nazari, Soemarno, & Agustina, 2012; Nigussie, Kissi,
Misganaw, & Ambaw, 2012).
Nilai kapasitas tukar kation (KTK) tanah
berkorelasi positif dengan ketinggian tempat (Tabel 4).
Diduga, semakin meningkat ketinggian tempat,
kerapatan vegetasinya juga semakin besar sehingga
menyumbang bahan organik lebih banyak (Sari et al.,
2013). Koloid organik ini juga memiliki daya jerap
kation lebih besar daripada koloid liat sehingga
penambahan bahan organik ke tanah dapat
meningkatkan nilai KTK tanah (Kufa, 2011; Nazari et
al., 2012; Kilambo et al., 2015).
48
Korelasi Antara Ketinggian Tempat, Sifat Kimia Tanah, dan Mutu Fisik Biji Kopi Arabika di Dataran Tinggi Garut
(Handi Supriadi, Enny Randriani, dan Juniaty Towaha)
Tabel 4. Korelasi antara ketinggian tempat, sifat kimia tanah, dan mutu fisik biji kopi Arabika
Table 4. Correlation between altitude, soil chemical properties, and physical quality of Arabica coffee beans
Parameter pH C- organik N-total P2O5 total K Ca Mg Na KTK Biji
Normal
Berat
100 biji
Ketinggian
0,62* 0,80** 0,85** -0,92** 0,09 0,04 0,37 0,70** 0,85** 0,91** 0,90**
Tempat
Biji Normal
0,54* 0,87** 0,87** -0,85** -0,02 0,04 0,36 0,81** 0,82** - -
Berat 100 biji
0,61* 0,79** 0,79** -0,84** 0,01 0,09 0,50 0,69** 0,83** - -
Keterangan : * dan ** masing-masing nyata pada taraf 5% dan 1%
Notes : * and ** significant at 5% and 1% levels respectively
Korelasi antara Ketinggian Tempat, Sifat Kimia
Tanah, dan Mutu Fisik Biji Kopi
Mutu fisik biji kopi di antaranya ditentukan
oleh persentase biji normal dan berat biji yang juga
menentukan tingkat produktivitas dan harga kopi di
pasaran. Mutu yang baik akan menghasilkan
produktivitas dan nilai jual yang tinggi. Mutu fisik biji
kopi dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan
tumbuh (Sumirat, 2008; Nugroho, Mawardi, Yusianto,
& Arimersetiowati, 2012). Faktor lingkungan tumbuh
tanaman meliputi kandungan unsur hara tanah dan
ketinggian tempat termasuk ke dalam.
Persentase biji normal di lokasi penelitian
bervariasi antara 57,42%98,26% dan berat 100 biji
kopi Arabika bervariasi antara 15,3924,49 g (Tabel 3).
Persentase biji normal di atas 80% tergolong tinggi
(Hulupi, Mawardi, & Yusianto, 2012). Biji kopi yang
diambil dari ketinggian tempat 1.3171.600 m dpl
memenuhi kriteria tersebut. Hasil analisis menunjukkan
bahwa ketinggian tempat berkorelasi positif dengan
mutu fisik biji kopi (Tabel 4). Semakin tinggi
tempat/lokasi maka mutu fisik biji kopi (persentase biji
normal dan berat 100 biji) semakin baik. Laporan Da
Silva et al. (2005) juga menunjukkan bahwa berat 100
biji kopi meningkat dengan bertambahnya ketinggian
tempat. Suhu yang lebih rendah pada tempat yang lebih
tinggi akan memperlambat proses pematangan buah
kopi sehingga pembentukan biji kopi lebih sempurna
dan lebih berisi (berat) (Bote & Struik, 2011; Bertrand
et al., 2011; Somporn et al., 2012). Hasil analisis
korelasi sifat kimia tanah dengan ketinggian tempat juga
mengindikasikan bahwa semakin tinggi tempat, semakin
baik sifat kimia tanah sehingga mutu dan produksi biji
juga akan lebih baik.
Kondisi tanah yang asam (pH di bawah 5)
dapat meningkatkan kandungan aluminium trivalen
(Al3+) (Lidon & Barreiro, 2002 cited in Cyamweshi et
al., 2014) yang dapat meracuni tanaman (Hoshino et
al., 2000 cited in Cyamweshi et al., 2014). Kehadiran
unsur tersebut mempengaruhi proses fisiologis dan
biokimia di dalam jaringan tanaman sehingga
produktivitas berkurang (Mora et al., 2006 cited in
Cyamweshi et al., 2014). Keberadaan Al pada tanah
asam membuat beberapa nutrisi penting seperti P, Ca,
dan Mg menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Unsur Al
dapat menghambat perkembangan dan fungsi akar
sehingga berdampak negatif terhadap produktivitas
tanaman (Obiri-Nyarko, 2011). Salah satu cara untuk
menaikkan pH tanah ialah dengan pengapuran.
Cyamweshi et al. (2014) melaporkan pengapuran
dengan dosis 1,25 ton/ha dapat meningkatkan pH tanah
sebesar 16,60% dan meningkatkan produksi kopi
60,53%.
Persentase biji normal dan berat 100 biji kopi
Arabika berkorelasi positif dengan pH tanah (Tabel 3).
Clemente, Martinez, Alves, & Lara (2013) dan Kilambo
et al. (2015) melaporkan bahwa pH tanah selain
berpengaruh terhadap produktivitas dan citarasa juga
menentukan kualitas biji kopi Arabika. C-organik tanah
dan kandungan N juga berkorelasi positif dengan
persentase biji normal dan berat 100 biji (Tabel 4).
Menurut Maro et al. (2014) untuk tumbuh dan
berproduksi optimal tanaman kopi memerlukan bahan
organik (C-organik) di atas 2%. Kandungan C-organik
tanah di daerah dataran tinggi Garut juga sesuai dengan
kebutuhan kopi Arabika (Tabel 2).
Untuk tumbuh dan berproduksi optimal
tanaman kopi Arabika juga memerlukan unsur N dengan
kadar di atas 0,12% (Maro et al., 2014). Pasokan N
yang cukup akan meningkatkan jumlah cabang
plagiotrop (cabang produksi), luas daun, dan produksi
pati, serta karbohidrat lainnya yang berperan dalam
pembentukan dan pertumbuhan biji kopi (Guimarães &
Mendes, 1997 cited in Clemente et al., 2013). Selain itu,
unsur hara N berpengaruh terhadap pertumbuhan
tanaman dan kandungan kafein dalam jaringan tanaman
kopi.
49
J. TIDP 3(1), 4552
Maret, 2016
Tanaman kopi Arabika di daerah pegunungan
Garut sudah tidak perlu diberi unsur P karena tanahnya
sudah mengandung unsur P2O5 tersedia yang sangat
tinggi (Tabel 2). Kandungan unsur P2O5 tersedia yang
diperlukan oleh tanaman kopi Arabika di atas 30 ppm
(Maro et al., 2014). Hasil uji korelasi menunjukkan
kandungan P2O5 berkorelasi negatif dengan persentase
biji normal dan berat 100 biji di daerah dataran tinggi
Garut (Tabel 4), artinya peningkatan kadar P2O5
cenderung berisiko terhadap mutu fisik kopi.
Unsur P sangat diperlukan pada awal
perkembangan tanaman dan menentukan produktivitas
tanaman kopi (Silva & Lima, 2014; Dias, Neto,
Guimarães, Reis, & de Oliveira, 2015). Keberadaannya
dalam jaringan tanaman mempengaruhi penyerapan
unsur penting lain yang menentukan dalam proses
pertumbuhan dan perkembangan tanaman kopi
selanjutnya (Silva, Lima, & Bottega, 2013). Namun,
kandungan P yang berlebih (sangat tinggi) seperti di
lokasi penelitian (Tabel 2) akan mempercepat proses
pematangan buah sehingga pengisian biji tidak optimal,
akibatnya ukuran biji mengecil dan beratnya berkurang
(Somporn et al., 2012; Martins et al., 2015).
Batas kritikal unsur hara K, Ca, dan Mg di
dalam tanah untuk tanaman kopi masing-masing adalah
0,4; 0,89; 0,8 cmol/kg (Iloyanomon, Daniel, &
Aikpokpodion, 2011). Kandungan kation-kation basa
(K, Ca, dan Mg) di daerah pegunungan Garut (Tabel 2)
sudah sesuai untuk tanaman kopi Arabika, kecuali
kandungan K di ketinggian tempat 1.150, 1.304, 1.326,
1.345, 1.371, dan 1.557 m dpl yang nilainya di bawah
batas kritis. Untuk meningkatkan kandungan unsur K di
lokasi-lokasi tersebut di antaranya dapat dilakukan
dengan pemberian pupuk KCl.
Unsur K memainkan peran penting dalam
sintesis protein, karbohidrat, dan adenosin trifosfat
(ATP), pengaturan tekanan osmotik, serta toleransi
terhadap hama dan penyakit melalui efek daya tahan dan
permeabilitas membran plasma (Marschner, 2012 cited
in Moura et al., 2015). Selain itu, unsur K juga berperan
dalam reproduksi tanaman kopi, terutama pada hasil
dan ukuran biji (Clemente et al., 2013), menentukan
kualitas citarasa dengan mengaktifkan enzim polifenol
oksidase serta menentukan kandungan kafein dan fenol
dalam biji kopi (Gonthier, Witter, Spongberg, &
Philpott, 2011; Clemente et al., 2013; Mancuso,
Soratto, Crusciol, & Castro, 2014; Clemente,
Martinez, Alves, Finger, & Cecon, 2015).
Unsur kasium (Ca) berpengaruh terhadap
produksi buah dan citarasa kopi. Semakin tinggi
kandungan Ca maka produksinya semakin tinggi dan
citarasa semakin baik (Castro-Tanzia, Dietschc, Urenaa,
Vindasa, & Chandlerc, 2012; Silva et al., 2013).
Kekurangan unsur Mg akan mendorong terjadinya
gugur daun sehingga berpengaruh langsung terhadap
sintesis klorofil, reaksi fitokimia, dan fungsi stomata,
akibatnya pertumbuhan tanaman kopi terhambat (Da
Silva et al., 2014).
Unsur Na nyata berkorelasi positif dengan
persentase biji normal dan berat 100 biji (Tabel 4). Hal
tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi unsur Na
maka kualitas biji kopi semakin baik. Di lokasi
penelitian kandungan Na umumnya tergolong rendah
sampai sedang dan Ca tergolong tinggi sampai sangat
tinggi (Tabel 2), kondisi ini sesuai untuk tanaman kopi.
Walaupun kandungan Na yang tinggi dapat
meningkatkan salinisasi tanah sehingga dapat
mengakibatkan produksi kopi berkurang (Ferreira et al.,
2011), jika terdapat Ca yang cukup maka tanaman akan
terlindungi dari cekaman akibat unsur Na (Jouyban,
2012; Chemura, Kutywayo, Chagwesha, & Chidoko,
2014).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa KTK
berpengaruh nyata terhadap mutu fisik biji kopi. Nilai
KTK di lokasi penelitian sesuai untuk tanaman kopi
karena untuk tumbuh dan berproduksi optimal tanaman
kopi memerlukan nilai KTK di atas 15 me/100 g
(Direktorat Jenderal Perkebunan, 2014). Pada Tabel 4,
terlihat bahwa terdapat korelasi yang nyata dengan
indeks positif antara KTK dengan persentase biji normal
dan berat 100 biji.
KESIMPULAN
Terdapat korelasi yang nyata antara ketinggian
tempat dengan beberapa sifat kimia tanah dan mutu fisik
biji kopi Arabika di dataran tinggi Garut. Semakin tinggi
tempat maka semakin meningkat pula sifat kimia tanah
seperti pH, C-organik, N-total, Na, dan KTK, tetapi
sebaliknya untuk P2O5 total. Meningkatnya tinggi
tempat dan beberapa sifat kimia tanah tersebut dapat
meningkatkan pula mutu biji fisik kopi Arabika yang
meliputi persentase biji normal dan berat 100 biji.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih disampaikan kepada
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Garut beserta staf
yang telah memberikan dukungan informasi untuk
kegiatan penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Amaral, J.F.T., Martinez, H.E.P., Laviola, B.G., Tomaz, M.A.,
Filho, E.I.F., & Cruz, C.D. (2011). Productivity and
efficiency of nutrient use in coffee crops. Coffee Science,
Lavras, 6(1), 6574.
50
Korelasi Antara Ketinggian Tempat, Sifat Kimia Tanah, dan Mutu Fisik Biji Kopi Arabika di Dataran Tinggi Garut
(Handi Supriadi, Enny Randriani, dan Juniaty Towaha)
Balai Penelitian Tanah. (2009). Analisis kimia tanah, tanaman, air, dan
pupuk (p. 234). Bogor: Balai Penelitian Tanah.
Bertrand, B., Alpizar, E., Lara, L., SantaCreo, R., Hidalgo, M.,
Quijano, J.M., ... Etienne, H. (2011). Performance of
Coffea arabica F1 hybrids in agroforestry and full-sun
cropping systems in comparison with American pure line
cultivars. Euphytica, 181, 147158.
Bote, A.D., & Struik, P.C. (2011). Effects of shade on growth,
production and quality of coffee (Coffea arabica) in Ethiopia.
Journal of Horticulture and Forestry, 3(11), 336341.
Castro-Tanzia, S., Dietschc, T., Urenaa, N., Vindasa, L., &
Chandlerc, M. (2012). Analysis of management and site
factors to improve the sustainability of smallholder coffee
production in Tarrazú, Costa Rica. Agriculture, Ecosystems,
and Environment, 155, 172181.
Charan, G., Bharti, V. K., Jadhav, S.E., Kumar, S., Acharya, S.,
Kumar, P., ... Srivastava, R.B. (2013). Altitudinal
variations in soil physico-chemical properties at cold desert
high altitude. Journal of Soil Science and Plant Nutrition,
13(2), 267277.
Chemura, A., Kutywayo, D., Chagwesha, T.M., & Chidoko, P.
(2014). An assessment of irrigation water quality and
selected soil parameters at mutema irrigation scheme,
Zimbabwe. Journal of Water Resource and Protection, 6, 132
140.
Clemente, J.M., Martinez, H.E.P., Alves, L.C., & Lara, M.C.R.
(2013). Effect of N and K doses in nutritive solution on
growth, production and coffee bean size. Rev. Ceres. Viçosa,
60(2), 279285.
Clemente, J.M., Martinez, H.E.P., Alves, L.C., Finger, F.L., &
Cecon, P.R. (2015). Effects of nitrogen and potassium on
the chemical composition ofcoffee beans and on beverage
quality. Maringá, 37(3), 297305.
Cyamweshi, R.A., Nabahungu, N.L., Mukashema, A., Ruganzu,
V., Gatarayiha, M.C., Nduwumuremyi, A., & Mbonigaba,
J.J. (2014). Enhancing nutrient availability and coffee yield
on acid soils of the central plateau of Southern Rwanda.
Global Journal of Agricultural Research, 2(2), 4455.
Da Silva, E.A., Mazzafera, P., Brunini, O., Sakai, E., Arruda, F.B.,
Mattoso, L.H.C., ... Pires, R.C.M. (2005). The influence
of water management and environmental conditions on the
chemical composition and beverage quality of coffee beans.
Braz. J. Plant Physiol., 17, 229238.
Da Silva, D.M., Brandão, I.R., Alves, J.D., de Santos, M.O., de
Souza, K.R.D., & de Silveira, H.R.O. (2014).
Physiological and biochemical impactsof magnesium-
deficiency in two cultivars of coffee. Plant and Soil, 382(1),
133150.
Dias, K.G de L., Neto, A.E.F., Guimarães, P.T.G., Reis, T.H.P.,
& de Oliveira, C.H.C. (2015). Coffee yield and phosphate
nutrition provided to plants by various phosphorus sources
and levels. Ciênc. Agrotec., Lavras, 39(2), 110120.
Direktorat Jenderal Perkebunan. (2014). Pedoman teknis budidaya
kopi yang baik (p. 60). Jakarta: Direktorat Jenderal
Perkebunan.
Ferreira, D.C., de Souza, J.A.R., Batista, R.O., Campos, C.M.M.,
Matangue, M.T.A., & Moreira, D.A. (2011). Nutrient
inputs in soil cultivated with coffee crop fertigated
withdomestic sewage. Revista Ambiente and Água - An
Interdisciplinary Journal of Applied Science, 6(3), 7785.
Gonthier, D.J., Witter, J.D., Spongberg, A.L., & Philpott, S.M.
(2011). Effect of nitrogen fertilization on caffeine
productionin coffee (Coffea arabica). Chemoecology, 21, 123
130.
Hanisch, S., Dara, Z., Brinkmann, K., & Buerkert, A. (2011). Soil
fertility and nutrient status of traditional Gayo coffee
agroforestry systems in the Takengon region, Aceh
Province, Indonesia. Journal of Agriculture and Rural
Development in the Tropics and Subtropics, 112(2), 87100.
Hulupi, R., Mawardi, S., & Yusianto. (2012). Pengujian sifat unggul
beberapa klon harapan kopi arabika di kebun percobaan
Andungsari, Jawa Timur. Pelita Perkebunan, 28(2), 6271.
Iloyanomon, C.I., Daniel, M.A., & Aikpokpodion, P.E. (2011). Soil
fertility evaluation of coffee (Coffea canephora) plantations of
differentages in Ibadan, Nigeria. J. Soil Nature, 5(1), 1721.
Jouyban, Z. (2012). The effects of salt stress on plant growth. Tech.
J. Engin. & App. Sci., 2(1), 710.
Kidanemariam, A., Gebrekidan, H., Mamo, T., & Kibret, K.
(2012). Impact of altitude and land use type on some
physical and chemical properties of acidic soils in Tsegede
Highlands, Northern Ethiopia. Open Journal of Soil Science,
2, 223233.
Kilambo, Deusdedit, L., Mlwilo, Bahati, L., Mtenga, Damian, J.,
... Godsteven, P. (2015). Effect of soils properties on the
quality of compact Arabica hybrids in Tanzania. American
Journal of Research Communication, 3(1), 15–19.
Kufa, T. (2011). Chemical properties of wild coffee forest soils in
Ethiopia and management implications. Agricultural Sciences,
2(4), 443450.
Leonel, L., Philippe, V., & Segovia, N. (2006). Effects of altitude,
shade, yield and fertilization on coffee quality (Coffea arabica L .
var. Caturra ) produced in agroforestry systems of the Northern
Central Zones of Nicaragua. Presented at 2nd International
Symposium on Multi-Strata Agroforest.
Mancuso, M.A.C., Soratto, R.P., Crusciol, C.A.C., & Castro,
G.S.A. (2014). Effect of potassium sources and rates
onarabica coffee yield, nutrition, and macronutrient export.
R. Bras. Ci. Solo, 38, 14481456.
Maro, G.P., Mrema, J.P., Msanya, B.M., & Teri, J.M. (2013).
Farmers’ perception of soil fertility problems and their
attitudes towards integrated soil fertility management for
coffee in Northern Tanzania. Journal of Soil Science and
Environmental Management, 4(5), 9399.
Maro, G., Msanya, B., & Mrema, J. (2014). Soil fertility evaluation
for coffee (Coffea arabica) in Hai and Lushoto Districts,
Northern Tanzania. International Journal of Plant and Soil
Science, 3(8), 934947.
Martins, L.D., Rodrigues, W.N., Machado, L.S., Brinate, S.V.B.,
Colodetti, T.V., Amaral, J.F.T., & Tomaz, M.A. (2015).
Evidence of genetic tolerance to low availability of
phosphorus in the soil among genotypes of Coffea canephora.
Genetics and Molecular Research, 14(3), 1057610587.
51
J. TIDP 3(1), 4552
Maret, 2016
Moura, W.M., Soares, Y.J.B., Júnior, A.T.A., de Lima, P.C.,
Martinez, H.E.P., Amaral, G.A., & Gravina. (2015).
Genetic diversity in arabica coffee grown inpotassium-
constrained environment. Ciênc. Agrotec., Lavras, 39(1), 23
31.
Nazari, Y.A., Soemarno, & Agustina, L.(2012). Pengelolaan
kesuburan tanah pada pertanaman kentang dengan aplikasi
pupuk organik dan anorganik. Indonesian Green Technology
Journal, 1(1), 7–12.
Nigussie, A., Kissi, E., Misganaw, M., & Ambaw, G. (2012). Effect
of biochar application on soil properties and nutrient
uptake of lettuces (Lactuca sativa) grown in chromium
polluted soils. American-Eurasian J. Agric. & Environ. Sci.,
12(3), 369376.
Nigussie, A., & Kissi, E. (2012). The contribution of coffee
agroecosystem to soil fertility in Southwestern Ethiopia.
African Journal of Agricultural Research, 7(1), 7481.
Nugroho, D., Mawardi, S., Yusianto, & Arimersetiowati, R.
(2012). Karakterisasi mutu fisik dan cita rasa biji kopi
Arabika varietas Maragogip (Coffea arabica L. var.
Maragogype Hort. ex Froehner) dan seleksi pohon induk di
Jawa Timur. Pelita Perkebunan, 28(1), 113.
Núñez, P.A., Pimentel, A., Almonte, I., Sotomayor-Ramírez, D.,
Martínez, N., Pérez1, A., & Céspedes1, C.M. (2011). Soil
fertility evaluation of coffee (Coffea spp.) production
systems and management recommendations for the
Barahona Province, Dominican Republic. J. Soil Sci. Plant
Nutr., 11(1), 127140.
Obiri-Nyarko, F. (2011). Ameliorating soil acidity in Ghana: A
concise review of approaches. ARPN Journal of Science and
Technology, 2, 142154.
Ping, C., Gary, J., Michaelson, Cynthia, A., Stiles, & González, G.
(2013). Soil characteristics, carbon stores, and nutrient
distribution in eight forest types along an elevation
gradient, eastern Puerto Rico. Ecological Bulletins, 54, 67
86.
Purwanto, Hartati, S., & Istiqomah, S. (2014). Pengaruh kualitas
dan dosis seresah terhadap potensial nitrifikasi tanah dan
hasil jagung manis. Sains Tanah-Jurnal Ilmu Tanah dan
Agroklimatologi, 11(1), 1120.
Rui, Y.C., Wang, Y.F., Chen, C.R., Zhou. X.Q., & Wang, S.P.
(2012). Warming andgrazing increase mineralization of
organic P in an alpine meadow ecosystem of Qinghai-Tibet
Plateau, China. Plant and Soil, 357, 7387.
Rusdiana, O., & Lubis, R.S. (2012). Pendugaan korelasi antara
karakteristrik tanah terhadap cadangan karbon (carbon
stock) pada hutan sekunder. Jurnal Silvikultur Tropika, 1,
1421.
Saeed, S., Barozai, M.Y.K., Ahmad, A., & Shah, S.H. (2014).
Impact of altitude on soil physical and chemical properties
in Sra Ghurgai (Takatu mountain range) Quetta,
Balochistan. International Journal of Scientific & Engineering
Research, 5(3), 730735.
Sari, N.P., Santoso, T.I., & Mawardi, S. (2013). Sebaran tingkat
kesuburan tanah pada perkebunan rakyat kopi Arabika di
dataran tinggi Ijen-Raung menurut ketinggian tempat dan
tanaman penaung. Pelita Perkebunan, 29(2), 93107.
Schmidt, F.H., & Ferguson, J.H.A. (1951). Rainfall types based on wet
and dry period ratios for Indonesia with Western New Guinea (p.
77). Djakarta: Kementerian Perhubungan, Djawatan
Meteorologi dan Geofisik/ Verhandelingen.
Silva, S.A., Lima, J.S.S., & Bottega, E.L. (2013). Yield mapping of
arabic coffee and their relationship with plant nutritional
status. Journal of Soil Science and Plant Nutrition, 13(3), 556
564.
Silva, S.A., & Lima, J.S.S. (2014). Spatial estimation of foliar
phosphorus indifferent species of the genus coffea based on
soil properties. R. Bras. Ci. Solo, 38, 14391447.
Silva, S. de A., de Queiroz, D. M., Ferreira, W. P. M., Corrêa, P.
C., & Rufino, J. L. dos S. (2015). Mapping the potential
beverage quality of coffee produced in the Zona da Mata,
Minas Gerais, Brazil. Journal of the Science of Food and
Agriculture, 96, 30983108. https://doi.org/10.1002/
jsfa.7485
Sipahutar, A.H., Marbun, P., & Fauzi. (2014). Kajian C-organik, N
dan P humitropepts pada ketinggian tempat yang berbeda di
Kecamatan Lintong Nihuta. Jurnal Online Agroekoteknologi,
2(4), 13321338.
Somporn, C., Kamtuo, A., Theerakulpisut, P., & Siriamornpun, S.
(2012). Effect of shading on yield, sugar content, phenolic
acids and antioxidant property of coffee beans (Coffea
arabica L. cv. Catimor) harvested from north-eastern
Thailand. J. Sci. Food Agric., 92(9), 19561963.
Sukarman, & Dariah, A. (2014). Tanah andosol di Indonesia:
Karakteristik, potensi, kendala, dan pengelolaannya untuk
pertanian (p. 144). Bogor: Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.
Sumirat, U. (2008). Dampak kemarau panjang terhadap perubahan
sifat biji kopi Robusta (Coffea canephora). Pelita Perkebunan,
24(2), 8094.
Van Beusekom, A.E., González, G., & Rivera, M.M. (2015). Short-
term precipitation and temperature trends along an
elevation gradient in Northeastern Puerto Rico. Earth
Interactions, 19(3), 133.
Vincent, A.G., Sundqvist, M.K., Wardle, D.A., & Giesler, R.
(2014). Bioavailable soil phosphorus decreases with
increasing elevation in a subarctic tundra landscape. PLoS
ONE, 9(3), 111.
52
... Bobot 100 biji kopi yang diambil dari ketinggian tempat S2 memiliki bobot biji yang lebih tinggi dari S1 di kedua Kabupaten (Gambar 1.a dan 1.b). Hasil ini sesuai dengan penelitian Supriadi, Randriani, & Towaha (2016) dan Tolessa et al. (2017) bahwa bobot 100 biji kopi meningkat dengan meningkatnya ketinggian tempat tumbuh, karena pematangan biji kopi lebih lambat memungkinkan untuk pengisian kandungan biji kopi yang lebih baik dan berat (Vaast, Bertrand, Perriot, Guyot, & Genard, 2006). ...
... Supriadi et al. (2016) danTolessa et al. (2017) juga menunjukkan bahwa bobot 100 biji kopi meningkat dengan bertambahnya ketinggian tempat. Weight of 100 Arabica coffee beans (a) Aceh Tengah and (b) Bener Meriah Nilai cacat kopi Arabika (a) Aceh Tengah dan (b) Bener MeriahFigure 2 ...
Article
Full-text available
em>Coffee is one of the flagship commodities in the international export market. Its function is important to the economy and encourages the development of world Agroindustries. The coffee beans physical and coffee flavor are the important components influenced by the genetic nature of plants, cultivation practices and growing environments and the interaction between these factors. The research aimed to detemine the beans physical quality and flavor of Gayo Arabica coffee Geographical Indications (GIs) based on the different altitudes. The research was conducted in Gayo Highlands, Aceh Tengah and Bener Meriah Districts. The stratified sampling method was conducted at an altitude of 1,000-1,500 masl (meter above sea level) and 1,500-1,750 masl, the land suitability classification included as S1 and S2 respectively. The variables observed were beans physical quality (weight of 100 Arabica coffee beans and value of defects) and flavor profile. Data were analyzed by independent sample t-test. The results showed that there were differences in the average weight of 100 Arabica coffee beans between S1 and S2 altitudes, but the defect value did not differ significantly. The other results showed that the coffee flavor profile of Arabica Gayo GIs in both districts and altitudes has a total score of 82.75-85.25 points and categorically as specialty coffee (excellent). In general, the S2 altitude of Gayo highland produces a physical quality of 100 Arabica coffee beans and flavor better than the S1 altitude.</em
... Lokasi penanaman sangat mempengaruhi mutu beras. Penelitian lain menyatakan bahwa faktor lingkungan seperti ketinggian mempengaruhi sifak kimia tanah dan mutu fisik selama perkembangan biji (Supriadi et al. 2016). Menurut IRRI (1976) Beberapa faktor yang mempengaruhi keragaman kadar protein beras antara lain: populasi tanaman, waktu pemberian dan cara pemupukan N, pengelolaan pengairan, waktu tanam. ...
... Ketiga komponen biokimia tersebut terakumulasi lebih banyak pada Kopi Sarongge yang berasal dari ketinggian S2 (1.535 mdpl) dibandingkan yang berasal dari ketinggian S1 (1.200 mdpl). Perbedaan kandungan kafein, sukrosa, dan lemak berdasarkan ketinggian lahan juga ditemukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya yang melaporkan adanya peningkatan kandungan biokimia biji kopi seiring dengan bertambahnya ketinggian lahan (Avelino et al., 2005;Bertrand et al., 2006;Leroy et al., 2006;Supriadi et al., 2017;Worku, et al., 2018). Hasil yang berbeda terjadi pada Kopi Java Preanger, yaitu perbedaan signifikan kandungan biokimia untuk kedua kelas ketinggian hanya ditemukan pada kandungan sukrosa. ...
Article
Full-text available
em>Assessing coffee sensory quality is generally carried out by panelists using cup testing with reference to the Specialty Coffee Association of America (SCAA) standards. A high level of sensitivity sensory is essential thus it must be done by trained panelists. Given the limitations of the method, a deeper study is required to obtain a standard of assessment of coffee sensory quality based on more reliable and precise analytical methods, one of which is biochemical components. This study was aimed to analyze the sensory quality and biochemical components of Arabica coffee and determine the indicators of sensory attributes based on those biochemical components. The study was conducted at two Arabica coffee-producing areas in West Java from May to September 2019. The biochemical components analyzed included caffeine, trigonelline, chlorogenic acid (CGA), sucrose, and lipid, while the sensory attributes assessed were aroma, flavor, aftertaste, acidity, body, balance, uniformity, sweetness, clean cup, and overall. The survey method with stratified and simple random sampling was used and followed by Two-way Anova and Partial Least Square analysis. Results showed variations in the biochemical content of coffee from the two areas. Lipid has a positive correlation with the aroma and flavor attributes, and negatively correlated with the body attribute. Caffeine has a negative correlation with the aftertaste attribute, whereas CGA has a negative correlation with the acidity attribute. Correlation between biochemical components with sensory attributes showed that the biochemical content acts as an indicator of sensory attributes.</em
... Ketersediaan unsur P yang cukup akan diserap dengan baik oleh tanaman sehingga pertumbuhan generatif dan komponen hasilnya optimal. Di samping itu, C organik dan kandungan N berkorelasi positif dengan biji normal dan berat 100 butir (Supriadi, Randriani, & Towaha, 2016). ...
Article
Full-text available
em>Coffee "Sidodadi" is the Robusta coffee clone, selected by farmers, widely developed in the Bengkulu region. The clones are distributed at different altitudes, i.e. 600, 900, and 1,200 m asl and presumably have different phenotyphic expression due to different growth environment. This study aimed to determine the influence of altitudes on the phenotypic expression of coffee "Sidodadi". The study was conducted at (1) 600 m asl (Sukarami subdistrict, Bermani Ulu district, Curup Regency), (2) 900 m asl (Airsempiang subdistrict, Kabawetan district, Kapahiang Regency), and (3) 1,200 m asl (Airles subdistrict, Muara Kemumuh District, Kapahiang Regency), from January 2014 to October 2015 with a survey method. A total of 5 trees were randomly assigned to each experimental unit and each was repeated 5 times. Phenotypic characters observed including vegetative morphology and yield components (data obtained using the difference test of two average t-Students on the 5% level), caffeine content, and cupping-test score. The sample of coffee beans used was 500 g with a water content of 10%–10.9% taken at three different altitudes. The results showed a significant effect of altitude on vegetative growth and yield components of "Sidodadi" Robusta coffee. Altitude of 1.200 m asl produces vegetative, generative, and higher-yielding coffee yields, but with lower caffeine content than those grown at 600 and 900 m asl. Meanwhile, the best flavor quality with a score of 85.25 is indicated by "Sidodadi" Robusta coffee grown at an altitude of 900 m asl which delivered high body, long aftertaste, dark chocolate aroma, and caramelly flavor.</em
Article
From the perspective of the ulumul Qur'an, the verses of Allah are actually divided into two, namely the kauniyah verse and the qauliyah verse. The qauliyah verse is God's verse contained in the Qur'an while the kauniyah verse is God in the form of the universe. In the Qauliyah verse Allah also tells a lot about the universe. In order to address these problems, it is necessary to have the concept of integration between religion and science in the world of Islamic education. This study discusses the offer of the concept of integration of Islam and science, especially in biology class XII Madrasah 'Aliyah Curriculum 2013. This research is library research, using a descriptive approach method. The data used were obtained from primary data in the form of the Qur'an and its interpretation as well as biology module class XII Madrasah 'Aliyah Curriculum 2013. While secondary sources in the form of literature that supports primary sources. The method of data collection using the documentation method, in the form of the Qur'an and its interpretation as well as other relevant references. The validity of the data used is construct validity and content validity. Furthermore, data analysis using Content analysis. The results of this study indicate that there are 33 verses in the Qur'an that discuss biology with material on growth and development, human heredity, and evolution. Pendahuluan Pendidikan Islam di Indonesia masih bersifat dikotomi, dimana materi pelajaran umum dipisahkan dengan materi keagamaan. Dalam realitas masyarakat, tidak dapat dipungkiri munculnya kategorisasi ilmu menjadi dua, yaitu ilmu agama dan ilmu umum yang sering disebut dengan sains. Bahkan, ada anggapan yang kuat dikalangan masyarakat luas yang mengatakan bahwa
Article
Full-text available
The leather industry sector is one of the leading industries playing a significant role in the generation of foreign currency in Ethiopia. However, the environmental management for this industry is generally ignored. As a result, chromium (Cr) accumulates in vegetable tissues at toxic concentrations. The present pot experiment was therefore conducted to investigate the effect of biochar application on the selected properties of chromium polluted soils and uptake of lettuces grown in polluted soils. Biochar produced from maize stalk was applied at the rates of 0, 5 and 10t/ha on soils artificially polluted with Cr at the levels of 0, 10 and 20ppm. The study showed a significant (P<0.01) increase in pH, electrical conductivity, organic carbon, total nitrogen, available phosphorous, cation exchange capacity and exchangeable bases due to application of biochar. Moreover, uptake of nitrogen, phosphorous and potassium were significantly (P<0.01) increased by addition of biochar. A significant (P<0.01) reduction in the uptake of Cr due to application of biochar was also observed in heavily Cr polluted soils (20ppm). Therefore, application biochar is very imperative to increase soil fertility, enhance nutrient uptake, ameliorate Cr polluted soils and reduce the amount of carbon produced due to biomass burning.
Article
Full-text available
One of the major diseases which limiting production in arabica coffee is the leaf rust caused by the fungus Hemileia vastatrix, B et Br. Selection and testing on thirteen promising arabica coffee clones were carried out at endemic area for leaf rust disease, Andungsari Research Station, for six fruiting times. The aims of these test were to find out superior planting material as clone with genetic resistance to leaf rust. As the beverage commodities, criterium selections for superiority clone besides resistant to leaf rust and yielding ability of more than 1,5 ton/ha also must be excellent in cup quality. Under this consideration, BP 416 A clone showed as the best high yielding ability i.e. 1,595 kg/ha and stable, besides resistant to leaf rust disease compared to the other clones tested. This clone had good cup quality, better than earlier released variety such as USDA 762 and S 795 although was not better than Andungsari 1 that were planted in the same location. The best physical bean characteristics was obtained on BP 513 A clone wich is derived from S 795 x Caturra red, having 89.2% of normal bean and 18.3% outurn characteristics. However, due to lower yielding and more susceptible to leaf rust, this clone could not be classified as superior clone.
Book
Full-text available
Buku ini merupakan rangkuman dari berbagai hasil survei, penelitian, pengkajian yang dilakukan oleh para peneliti, dosen, mahasiswa tentang tanah Andosol yang berkembang dari abu vulkanik gunung berapi di Indonesia dan referensi lain yang berkaitan hal tersebut. Buku ini disusun dalam tujuh bab utama. Bab 1 berisi tentang hubungan antara pertanian dan tanah Andosol, Bab 2 memaparkan hubungan antara gunung berapi dan tanah Andosol, Bab 3 menceriterakan tentang geografi tanah Andosol di Indonesia, Bab 4 menjelaskan tentang karakteristik tanah Andosol, Bab 5 membahas tentang genesis dan klasifikasi tanah Andosol, Bab 6 memberikan informasi tentang potensi dan kendala pemanfaatan tanah Andosol, dan Bab 7 memberikan berbagai informasi dan saran tentang pengelolaan tanah Andosol untuk pertanian.
Article
Full-text available
Soil acidity is among the major constraints to coffee productivity in Southern Rwanda. An experiment was conducted in 2010 to evaluate lime effect on nutrient availability and cherry yield of Coffee Arabica L. grown on acid soils of Nyamagabe District. The experiment was set in a randomized completely bloc design with two lime treatments (0 and 1.25 t ha-1 Ca(OH2)) applied under eragrostis mulched and non mulched conditions. Results showed that lime increased soil pH and decreased aluminium saturation and enhanced nutrient availability with values varying from 2-35.9 ppm, 3.1-5.5 Cmol (+) kg-1 and 0.57-1.56 Cmol(+) kg-1 for available phosphorus, exchangeable Ca 2+ and Mg 2+ , respectively. Moreover, interaction lime-mulch led to higher N content in the soil (0.19%) and higher cherry yield (8.5t ha-1) compared to the control (3.8 t ha-1). Cherry yield positively correlated with soil pH (r 2 =0.71), soil calcium (r 2 =0.56), soil magnesium (r 2 = 0.53), total N (r 2 =0.30), available P (r 2 =0.62) and negatively with aluminium saturation (r 2 =0.3). Application of lime in mulched coffee is recommended to improve nutrient availability and coffee yield on acid soils of Southern Rwanda.
Conference Paper
Full-text available
Nowadays, coffee quality is the most appreciated characteristic in the international coffee trade.Different investigations have shown how various factors influenced the physical, organoleptic and biochemical characteristics of coffee; among these factors, altitude, shade, coffee variety, productivity(fruit load) and processing are the most important ones. Nevertheless, very few studies have been undertaken on more than two of these factors simultaneously. With the objective of evaluating the interactive effects of altitude, shade, yield and fertilization on coffee quality, 67 coffee samples were collected on coffee plantations in the Northern Central Region of Nicaragua. Altitude had the strongest influence on coffee physical characteristics, biochemical composition and organoleptic quality. Shade influenced significantly the physical characteristics and biochemical composition of coffee beans;nonetheless, the organoleptic quality was significantly enhanced by shade only in the altitudinal range of 950-1255 m. Fertilization and yield influenced positively physical characteristics of the coffee beans as well as their biochemical composition. The organoleptic quality was influenced by fertilization, but not by yield. Biochemical compounds showed strong relationships with organoleptic characteristics.
Article
Full-text available
The expansion of agriculture to new areas in order to increase the competitiveness of coffee producing countries has resulted in cultivation expanding into regions with lower natural fertility. This scenario has created the need to differentiate genotypes of Conilon coffee based on their tolerance to low levels of nutrients in the soil, especially phosphorus, which imposes high limitations on crop yield in tropical regions. In this context, the objective of this study was to identify differential tolerance among genotypes of Conilon coffee cultivated in environments with different levels of phosphorus availability in the soil. The experiment was conducted in
Article
Full-text available
Information underlying analyses of coffee fertilization systems should consider both the soil and the nutritional status of plants. This study investigated the spatial relationship between phosphorus (P) levels in coffee plant tissues and soil chemical and physical properties. The study was performed using two arabica and one canephora coffee variety. Sampling grids were established in the areas, and the points georeferenced. The assessed properties of the soil were levels of available phosphorus (P-Mehlich), remaining phosphorus (P-rem) and particle size, and of the plant tissue, phosphorus levels (foliar P). The data were subjected to descriptive statistical analysis, correlation analysis, cluster analysis, and probability tests. Geostatistical and trend analyses were only performed for pairs of variables with significant linear correlation. The spatial variability for foliar P content was high for the variety Catuai and medium for the other evaluated plants. Unlike P-Mehlich, the variability in P-rem of the soil indicated the nutritional status of this nutrient in the plant. © 2014, Revista Brasileira de Ciencia do Solo. All rights reserved.