BookPDF Available

"Success Stories : Perjalanan CRITC COREMAP LIPI" - COREMAP II LIPI, Jakarta, xiv + 218 hlm, ISBN 978-602-9445-34-3

Authors:

Abstract

Pusat Informasi dan Pelatihan Terumbu Karang (PIPTK) yang lebih dikenal dengan Coral Reef Information and Training Center (CRITC) adalah salah satu unit yang telah dibangun oleh Pemerintah Pusat dan Daerah dibawah COREMAP dengan visi: “PIPTK sebagai pusat referensi terumbu karang nasional dan internasional”, dengan misi memberikan pelayanan kepada publik mengenai dua aspek utama, yaitu pelayanan informasi dan pelayanan pelatihan ekosistem terumbu karang dan biota laut yang berasosiasi dengan terumbu karang. Pengelolaan sumberdaya ekosistem terumbu karang secara lestari dirasakan belum tersosialisasikan dengan baik ke masyarakat. Padahal sebagian besar masyarakat pesisir sering berinteraksi dan memanfaatkan ekosistem terumbu karang. Interaksi masyarakat dan sumberdaya terumbu karang dapat berdampak positif atau negatif. Namun yang pada kenyataannya dampak negatif yang jauh lebih besar yaitu terjadinya kerusakan ekosistem terumbu karang secara luas. Hal ini disebabkan masyarakat belum mengerti dan memahami arti penting peran dan fungsi terumbu karang. Telah terbentuk system informasi terumbu karang berbasis web di Indonesia yang didukung dengan basis data yang handal, dapat diakses secara nasional maupun internasional. CRMIS selalu mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan teknologi informasi terkini. Web dikunjungi 278179 dari 1637 kota dan 150 negara, media sosial face book 587 friends dan media sosial blogger dengan pengunjung 10178. Tugas utama CRMIS adalah mengemas seluruh data yang dikumpulkan dalam bentuk informasi berbasis ilmiah yang akurat, mudah diakses secara nasional dan internasional. Membantu dan membina penegmbangan CRITC daerah.
COREMAP II LIPI
Jakarta 2012
SUCCESS STORIES-PERJALANAN CRITC COREMAP LIPI
© 2012 CRITC COREMAP II LIPI
Editor : Suharsono
Desain Sampul dan Isi : Dudy Ramdhana
Data dan Foto : Dewirina Zulanita
Coral Reef Rehabilitation and Management Program
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
CRITC COREMAP II LIPI, Desember 2012
Gedung LIPI
Jl. Raden Saleh No. 43
Jakarta 10330
Telp. 021-3143080
Fax. 021-3143082
Url. http://www.coremap.or.id
Success Stories-Perjalanan CRITC COREMAP LIPI/editor
Suharsono. –-Jakarta : COREMAP II LIPI 2012
XIV+ 218 hlm.; 17.6 x 25 cm
Bibliogra : hlm 215
ISBN 978-602-9445-34-3
1. Terumbu Karang -- Pelestarian -- Suharsono
DAFTAR ISI
KATA SAMBUTAN
KATA PENGANTAR
PENDAHULUAN
Riset dan Monitoring Biosik
Riset dan Monitoring Sosial Ekonomi
Riset Agenda
Pemantauan Perikanan Berbasis Masyarakat
Kawasan Konservasi Laut / Marine Conservation Area
Pelatihan
Edukasi
Sistem Informasi (Database, GIS, Web , Jaringan)
Diseminasi Hasil-hasil Penelitian, Kegiatan dan Produk CRITC
COREMAP LIPI
Daftar Bacaan
Daftar Singkatan
V
III
VII
1
19
51
67
97
111
133
161
195
215
217
Giyanto , Anna E Manuputty, Sasanti R Suharti & Suharsono
Widayatun & Deny Hidayati
Nurul Dhewani Mirah Sjafrie
Nurul Dhewani Mirah Sjafrie
I Wayan Eka Dharmawan & Priti Swasti
Yosephine Tuti & Siti Sulha
Deny Hidayati & Dwi Sekar Asih
Bayu Prayudha, Dewirina Zulanita ,Abdullah Salatalohi, Agus Dendi & R. Sutiadi
Dwi Sekar Asih, Deny Hidayati, Widayatun & Priti Swasti
SUCCESS STORIES CRITC160
SUCCESS STORIES CRITC 161
Sistem
Informasi
Bayu Prayudha, Dewirina Zulanita,
Abdullah Salatalohi, Agus Dendi & R. Sutiadi
SUCCESS STORIES CRITC162
Pusat Informasi dan Pelatihan Terumbu Karang (PIPTK) yang lebih
dikenal dengan Coral Reef Information and Training Center (CRITC)
adalah salah satu unit yang telah dibangun oleh Pemerintah Pusat
dan Daerah dibawah COREMAP dengan visi: PIPTK sebagai
pusat referensi terumbu karang nasional dan internasional”, dengan
misi memberikan pelayanan kepada publik mengenai dua aspek utama, yaitu
pelayanan informasi dan pelayanan pelatihan ekosistem terumbu karang dan
biota laut yang berasosiasi dengan terumbu karang.
Pengelolaan sumberdaya ekosistem terumbu karang secara lestari dirasakan
belum tersosialisasikan dengan baik ke masyarakat. Padahal sebagian besar
masyarakat pesisir sering berinteraksi dan memanfaatkan ekosistem terumbu
karang. Interaksi masyarakat dan sumberdaya terumbu karang dapat berdampak
positif atau negatif. Namun yang pada kenyataannya dampak negatif yang jauh
lebih besar yaitu terjadinya kerusakan ekosistem terumbu karang secara luas.
Hal ini disebabkan masyarakat belum mengerti dan memahami arti penting
peran dan fungsi terumbu karang.
Bukan hanya masyarakat, tetapi banyak juga institusi di Pemerintahan pusat,
Daerah Propinsi, Kabupaten maupun Kota belum memiliki data
yang cukup dan akurat kalau tidak
ingin dikatakan tidak memiliki data
mengenai seberapa besar potensi dan
status kondisi sumberdaya terumbu
karang dan sumberdaya laut lainnya.
Kalaupun ada data dan informasi
tentang sumberdaya laut biasanya
masih terbatas dan tersebar
di beberapa instansi, sehingga
belum dapat dimanfaatkan secara
maksimal.
Disamping itu masih sangat
sedikit jumlah sumberdaya manusia
baik yang mempunyai keahlian
dibidang pengelolaan sumberdaya
laut, baik untuk mengambil data,
mengumpulkan, mengolah,
menganalisa, dan menyajikan
dalam bentuk informasi yang
dapat dipakai oleh pengambil
keputusan dan masyarakat luas
Adanya permasalahan diatas
dan semakin bertambahnya
Telah terbentuk system informasi
terumbu karang berbasis web di
Indonesia yang didukung dengan basis
data yang handal, dapat diakses
secara nasional maupun internasional.
CRMIS selalu mengembangkan diri
sejalan dengan perkembangan teknologi
informasi terkini. Web dikunjungi
278179 dari 1637 kota dan 150
negara, media sosial face book 587
friends dan media sosial blogger
dengan pengunjung 10178.
Tugas utama CRMIS adalah mengemas
seluruh data yang dikumpulkan dalam
bentuk informasi berbasis ilmiah yang
akurat, mudah diakses secara nasional
dan internasional. Membantu dan
membina penegmbangan CRITC daerah.
SUCCESS STORIES CRITC 163
kerusakan ekosistem terumbu karang dan adanya kebutuhan yang mendesak
untuk melakukan perencanaan dan pengelolaan ekosistem terumbu karang.
Maka dibentuklah CRITC yang salah satu tugasnya adalah memberikan informasi
tentang sumberdaya terumbu karang pada khususnya dan sumberdaya laut
lainnya. Namun disadari pembentukan dan pengembangan CRITC tidaklah
mudah, maka dilakukan kerjasama dengan berbagai instansi baik pemerintah
swasta dan masyarakat di dalam negeri maupun luar negeri, demi suksesnya
program rehabilitasi dan pengelolaan ekosistem terumbu karang di Indonesia
Pengembangan data dan informasi
Pengembangan CRITC secara umum terdiri dari 6 kegiatan utama, yaitu :
(1) pengumpulan data baik primer (lapangan) maupun sekunder, memberikan
format data dengan memperhatikan standar/spesikasi, prosedur; (2)
pengendalian kualitas data, dan pembuatan sistem direktori; (3) pengelolaan
database (data dasar); (4) pengolahan data dalam sistem informasi geogra;
(5) memproses data menjadi informasi; dan (6) mempublikasikan data melalui
jaringan internet yang dapat diakses untuk kepentingan pengambilan keputusan
oleh instansi terkait, serta masyarakat umum. Program pengembangan CRITC
dimaksud dapat dilihat dalam diagram alur (Gambar 1)
PENGUMPULAN
DATA
FORMAT
DATA DATA BASE GIS
PROSES
DATA & INFORMASI
INTERNET
(WEBSITE)
DATA
LAPANGAN
DATA
SEKUNDER
PENGAMBIL
KEPUTUSAN
PENGGUNA
AKHIR
PENGGUNA
AKHIR
METADATA METADATA METADATA
MAINTENANCE
UPDATING
SECURITY ACCESS
STANDAR/SPESIFIKASI
PROTOCOL/PROCEDUR
QUALITY CONTROL
DIRECTORY SISTEM
METADATA
DOKUMENTASI
KOLEKSI DATA
GIS / PETA TEMATIK
WEB
Gambar 1. Konsep sistem Jaringan Informasi CRITC/PPITK
(Sumber : Manual CRITC 2002)
SUCCESS STORIES CRITC164
Periode Awal (1998-2004)
Pada periode awal, COREMAP belum
memiliki jaringan informasi dan internet. Saat
itu sambungan internet merupakan hal yang
masih baru dan jarang penggunaannya. Internet
hanya bisa di lakukan melalui sambungan
langsung (dial-up) ke provider internet (ISP)
tertentu. Kebutuhan internet pada saat itu hanya
sekedar untuk korespondensi surat elektronik
(e-mail), dan membuka situs-situs terkait yang
berhubungan dengan kelembagaan COREMAP.
(Gambar 2)
Pertukaran data hanya dapat di lakukan
dengan menduplikat (copy) data kedalam
disket (oopy disk) ukuran 5,5” dan ukuran
2,5”, dan kebetulan pada saat itu data yang
di copy kapasitasnya juga masih kecil. Data
dengan ukuran besar atau megabyte disimpan
menggunakan magnet disc (MD) dan pita
rekam (tape), itupun masih jarang di gunakan
karena sebagian besar orang belum mengerti
penggunaannya. (Gambar 3)
Pertukaran data dengan sistem jaringan yang
sangat sederhana yaitu komputer ke komputer
(P to P) dilakukan dengan menggunakan kabel
laplink baik paralel (LPT) maupun serial (COM) dengan bantuan program NC
(norton comander), karena pada saat itu komunikasi data dengan program
lainnya masih agak sulit karena keterbatasan pengetahuan. Media pertukaran
data lainnya yaitu infra merah, yang biasa digunakan untuk sambungan antar
komputer jinjing (laptop).
Penyajian informasi di
COREMAP pada periode ini
sudah mulai memanfaatkan
teknologi Sistem Informasi
Geogra (SIG). SIG digunakan
sebatas untuk mengolah data
menjadi sebuah informasi
yang disajikan dalam bentuk
peta cetak. Penyajian secara
digital yang interaktif hanya
dapat dilakukan menggunakan
Gambar 2 Sambungan
langsung (dial-up)
menggunakan telpon
melalui provider tertentu
Gambar 3 Media Penyimpanan
SUCCESS STORIES CRITC 165
perangkat lunak SIG, serta tidak semua orang dapat mengakses informasinya,
kecuali memiliki kemampuan untuk menggunakan perangkat lunak tersebut.
Pada penyajian secara digital, peta yang ditampilkan terkoneksi (link) dengan
basis data yang berisi informasi mengenai objek yang disajikan. Sebagai contoh,
peta lokasi pemantauan terumbu karang. Jika pengguna menunjuk suatu
lokasi pemantauan menggunakan mouse (digitasi), maka peta tersebut akan
memanggil basis data yang menyajikan informasi detil yang terkait dengan
pemantauan seperti persen tutupan karang hidup ataupun jumlah ikan karang,
dan lainnya. Berbeda halnya dengan informasi yang disajikan dalam bentuk
peta cetak, karena tidak interaktif sehingga membutuhkan banyak kertas untuk
menampilkan semua informasi. Salah satu produk peta yang dihasilkan pada
saat itu adalah Peta Lingkungan Terumbu Karang Indonesia (LTKI) yang
proses pembuatannya bekerjasama dengan LAPAN (Lembaga Penerbangan dan
Antariksa Nasional) (Gambar 4).
Gambar 4
Tampilan
perangkat lunak
ArcView 3.x.
Sumber data yang digunakan untuk membuat peta tersebut adalah citra
satelit LANDSAT TM. Perangkat lunak SIG yang digunakan saat itu adalah
ArcInfo 3.5.1 serta ArcView 3.x (Gambar 5) dengan perangkat Image Analyst
Extension. Perangkat lunak tersebut digunakan mulai dari proses pemasukan
data (input) hingga menjadi sebuah informasi yang disajikan (output) baik
secara softcopy maupun hardcopy.
Sejalan dengan pembangunan prasarana sistem informasi beserta perangkat-
perangkat pendukungnya, sistem basisdata yang baik juga merupakan suatu
tuntutan, karena semakin banyak data dan informasi yang dikelola. Tidak
ada sistem informasi yang dapat dibuat dan dijalankan tanpa adanya suatu
basisdata. Basisdata juga merupakan kunci utama di dalam pengelolaan suatu
Web yang profesional dan Sistem informasi Geogras yang handal. Oleh karena
itu basisdata merupakan komponen yang sangat penting dalam perkembangan
SUCCESS STORIES CRITC166
teknologi informasi di
CRITC pada khususnya.
Tujuan dari basisdata
secara khusus di CRITC
adalah membangun dan
mengembangkan sistem
informasi terumbu karang
dengan jaringan komputer
yang dapat diakses oleh
berbagai pengguna
lokal dan nasional serta
memastikan bahwa
semua data dan informasi
terdokumentasi dengan baik dalam sistem basisdata.
CRITC mengalami beberapa perubahan aplikasi yang digunakan untuk
menunjang kebutuhan sistem basisdata, meliputi basisdata perpustakaan
, karang , perikanan tangkap, sosial ekonomi dan training. Perubahan ini
dilakukan karena disesuikan dengan kebutuhan dan kemampuan CRITC
daerah, terutama dengan keadaan sumber daya manusia (SDM) yang sering
berganti-ganti. CRITC pusat harus mencermati kondisi tersebut, dengan terus
melakukan pembaharuan sistem informasi yang disesuaikan dengan kebutuhan
Data Ketelitian Keterangan
Lingkungan
Terumbu
Karang
Skala 1:250.000 Informasi zonasi
habitat dan
kedalaman laut
(Pulau Jawa,
Bali, Kalimantan,
NTB, NTT,
Papua, Sulawesi)
Data Dasar Skala 1:250.000 Informasi batas
administrasi,
jalan, sungai,
garis pantai, dan
toponimi
Gambar 5 .
Peta LTKI hasil
pemrosesan citra
satelit
LANDSAT TM.
dan skill SDM di daerah. Dimulai pada Fase I, COREMAP berjalan dengan
basisdata berbasis Aplikasi Microsoft Access 2005 dikombinasikan dengan
aplikasi Arcview untuk menentukan lokasi, baik lokasi penangkapan ikan untuk
program CREEL , maupun lokasi monitoring untuk RHM.
SUCCESS STORIES CRITC 167
Berikut beberapa bentuk aplikasi basisdata pada
COREMAP Fase I periode( 2000-2004):
1. Metadata CRITC (Gambar 6) , di bangun dengan mengunakan aplikasi
Microsoft Access, sedangkan aplikasi basisdatanya menggunakan Microsoft
ofce dengan tujuan untuk menyesuaikan keadaaan dan fasilitas yang ada
di daerah, terutama daerah yang perkembanganya Informasi dan Teknologi
(IT) nya belum begitu baik. Aplikasi tersebut sudah sangat dikenal oleh
khalayak luas, karena biasa digunakan sehari–hari untuk kebutuhan
administrasi. Meskipun aplikasinya masih cukup sederhana, tetapi kualitas
produk data tetap terjaga.
Gambar 7 Database MCS
2. Basisdata MCS (Gambar 7),
dibuat berdasarkan mekanisme
operasional dan pelaksanaan
untuk mendukung perencanaan
pengelolaan kawasan COREMAP.
Basisdata tersebut berisi informasi
mengenai: (a) Operasi-operasi
Umum, (b) Tindakan-tindakan
Pencegahan MCS,. (c) Pengamat
Terumbu Karang , (d) Sistem
Pengumpulan Data (Pemantauan)
, (e) Patroli Pengawasan dan
Penegakan Perikanan, (f)
Penahanan, Penangkapan, dan
Tindakan Pengadilan, (g) Peralatan
MCS, serta (h) Administrasi.
3. Basisdata Terumbu Karang
(Gambar 8), dibuat untuk
mengidentikasi karang. Disamping
itu juga dilengkapi dengan informasi
sebaran dan lingkungan tempat
hidupnya.
Gambar 6
Metadata
CRITC
Gambar 8 Database Terumbu Karang
SUCCESS STORIES CRITC168
4. Basisdata Baseline Studi (RRA) . Basisdata RRA berisi data mengenai studi
awal (baseline study) terumbu karang di berbagai wilayah. (Gambar 9)
5. Basisdata BME (RHM, Sosek, CREEL). Basisdata ini berisi data mengenai
pemantauan ekologi dan sosek lingkungan terumbu karang, serta hasil
tangkapan ikan karang masyarakat setempat (CREEL). Basisdata tersebut
hanya dapat diakses melalui jaringan lokal dan untuk yang internasional
berupa informasi yang di upload ke dalam web (www.coremap.or.id) dalam
bentuk laporan. (Gambar 10),
Gambar 9 Sistem
Informasi BME
Gambar 10 Sistem Informasi RRA
Pada periode awal ini juga, sekitar tahun 1998, untuk Pertama kalinya
Informasi tentang Program COREMAP di publish dengan menggunakan alamat
: www.coremap.or.id (Gambar 11) . Website COREMAP dibuat dengan bahasa
SUCCESS STORIES CRITC 169
Informasi pada awal website COREMAP dibuat hanya beberapa halaman
(page) statis dengan kapasitas data ±1MB (megabtye), karena awal Program
COREMAP belum mempunyai server sendiri, data-data tersebut di hosting di
salah satu provider yaitu di Indonet.
Tentang COREMAP Persiapan COREMAP Tentang TERUMBU KARANG
• COREMAP
Tujuan
Proyek
• Strategi
Pelaksanaan
• Organisasi
• Rencana Kerja
• Pengadaan Konsultan
Kampanye Persiapan
COREMAP
• Terumbu Karang Indonesia
-Fungsi Dan Nilai Kenali Dan Cintai
• Terumbu Karang Dunia
Pada Tabel diatas terlihat informasi yang muncul diawal pembuatan website
pertama kali, karena tujuan dari website ini hanya
untuk mensosialisasikan program COREMAP agar
dapat diketahui dan di akses oleh masyarakat luas di
Indonesia maupun diseluruh dunia.
Isi dari website tersebut juga dicetak dalam
bentuk buku (Gambar 12), karena pada tahun tersebut
masyarakat masih terkendala dengan konektivitas
internet, karena di tahun 1990-an internet masih
dianggap ekslusif dari beberapa pihak/internet di
kala itu hanya banyak dipakai oleh para akademisi,
pemerintah khususnya di kota-kota besar di Indonesia
itu dikarenakan provider yang ada belum menjangkau
ke seluruh indonesia.
Gambar 11
Tampilan Halaman
Website COREMAP
Tahun 1998
Gambar 12
BukuWebsite Online
yang sederhana dan sudah dalam 2 bahasa yaitu bahasa Indonesa dan bahasa
inggris. Karena keterbatasan Perangkat Hardware di awal program website
COREMAP dibuat menggunakan teknik yang sederhana menggunakan Web
Editor Microsoft FrontPage dan bahasa pemograman, karena program frontpage
itu sangat mudah, apalagi bagi yang terbiasa dengan program Microsoft Word
dalam penulisan dokumen.
SUCCESS STORIES CRITC170
Pada tahun 2000, Staff COREMAP di Jakarta dan Daerah (Wilayah Barat &
Timur) dibekali pelatihan Web dan Multimedia Interaktif di Puslit Inkom LIPI
, Bandung. Disana seluruh staff mempelajari teknik pembuatan internet yang
lebih interaktif dengan menggunakan database dan multimedia (graphic, foto,
gambar, video)
Dibuat kembali Website yang isinya lebih banyak daripada website
sebelumya (Gambar 13). Dan menggunakan teknik sederhana menggunakan
web editor Microsoft FrontPage dan Bahasa Pemograman HTML dan ASP serta
Aplikasi Gras menggunakan Adobe Photoshop serta Microsoft Access 2000
sebagai aplikasi databasenya. Pada tahun ini tampilan website COREMAP
banyak mengalami perubahan karena Pembuatan Website ini masih bersifat
trial & error”, mengaplikasikan hasil pelatihan yang didapat. Informasi yang
ditampilkan sudah lebih terstruktur, belum banyak tapi semua unsur database
dan multimedia sudah dimasukkan. Dan saat itu staff COREMAP sudah mem-
publish sendiri informasi dengan meng-uploadnya ke Web Hosting dengan
menggunakan fasilitas site FTP (WS-FTP,/Cute FTP), agar semua masyarakat
dapat mengakses halaman (page) dan juga website COREMAP juga didaftarkan
[ada international browser service (seperti ; Exite, Google atau altavista) supaya
mudah dicari lewat internat melalui search engine.
Gambar 13
Tampilan
Halaman Website
COREMAP Tahun
2000
SUCCESS STORIES CRITC 171
Informasi website COREMAP dibuat sudah bersifat interaktif pada halaman
dengan kapasitas data ±46MB (Megabtye).
Pada tahun 2003, Staff COREMAP di Jakarta melakukan pelatihan Data
Management di World Fish Center di Penang. Disana seluruh staff mempelajari
pembuatan teknik pembuatan website yang lebih interaktif dengan menggunakan
database dan mempunyai CMS (Content Management System) pada back ofce
website tersebut, sehingga pengelolaan website bisa multi-user sesuai dengan
kebutuhannya, sehingga pekerjaan web designer bisa diminimaliasi karena
proses input sudah dilakukan oleh operator yang menjadikan data tersebut
tersimpan didatabase tersebut diakses oleh webserver untuk selanjutnya
ditampilkan dalam bentuk halaman web.
Dengan adanya pelatihan tersebut staff COREMAP mengadopsi hal baru
tentang Management Data dan kemudian dibuatlah website COREMAP sudah
seluruhnya menggunakan Pemograman ASP dan Arc IMS sebagai GisWeb
Editor. Informasi yang ditampilkan sudah lebih terstruktur dengan kapasitas
data ±735MB (megabtye) dan dinamis (Gambar 14) .
Untuk mempermudah dalam menulis, menyunting, mengelola, dan
melakukan publishing tulisan atau artikel di web dibuatkan Content Management
System (CMS) atau sering disebut sebagai Website Administrator merupakan
Gambar 14
Tampilan
Halaman
Website
COREMAP
Tahun
2003
SUCCESS STORIES CRITC172
aplikasi tambahan yang digunakan untuk membantu memudahkan proses
pengolahan tersebut.
Komunitas Tentang COREMAP Program coremap Online learn
Buku Tamu
Forum Diskusi
Kirim Tulisan
Kalender
Download
Pooling
Statistik
Site Link
Kontak
Latar Belakang
Visi Misi
Tujuan & Strategi
Pelaksanaan
Struktur Organisasi
Organisasi : SDM &
Lokasi
Konsultan
Rencana Kerja
CRITC
Publik Komunikasi
MCS
CBM
Pendahuluan
Ekologi
Ekosistem
Konservasi
Bioteknologi
Evaluasi COREMAP news Data & informasi Perpustakaan
Project Management
(Staff & Report)
Policy Strategi (Staff &
Report)
CRITC (Staff & Report)
Publik Komunikasi (Staff
& Report)
MCS (Staff & Report)
CBM(Staff & Report)
Training (Staff & Report)
News Release
News Letter
Agenda Nasional &
Internasional
• Informasi Utama
• GIS
- Reef GIS BaseMap
- Map & Satelit
Imagery
- LTKI Map
• Additional Map
• Data base
- Reef Benthos
- Hard Coral
- Reef Fish
- BME
- Metadata
- Personal
- Marine
- rotected Area
Pendahuluan
Informasi (Buku
, Literatur,
Manual, Artikel)
Audio Video
Foto Galery
Suatu CMS memiliki beberapa aturan tertentu yang harus dimiliki oleh
seorang website administrator, agar informasi yang ingin disampaikan melalui
website dapat diterima oleh pembaca sesuai dengan apa yang diharapkan, baik
dalam isi maupun format atau hal-hal lain yang berhubungan dengan tampilan
website. Tabel diatas menunjukkan isi dari website COREMAP pada saat itu .
Seiring perkembangan masa (jaman) kebutuhan media informasi internet
menjadi sangat penting selain untuk sumber informasi, media korespondensi,
internet dipakai sebagai media untuk menyebarkan informasi yang sangat luas
dan efektif karena cakupannya adalah seluruh dunia bisa mengakses setiap
informasi yang di publikasikan.
Begitu pula dengan Jenis data yang dikelola dalam lingkungan SIG yang
berupa data spasial (keruangan). Data spasial merupakan data yang memiliki
referensi koordinat untuk menunjukkan suatu lokasi tertentu. Data spasial
yang dikelola untuk menunjang kebutuhan informasi di CRITC cukup besar
SUCCESS STORIES CRITC 173
ukurannya, karena tidak hanya
berupa teks ataupun tabel, tetapi
juga berbentuk gambar. Oleh
karena itu perlu didukung pula
oleh perangkat keras yang sesuai,
seperti harddisk dengan kapasitas
yang besar. Tetapi, hal tersebut
akan mengalami kendala ketika
jumlah data yang disimpan semakin
banyak, karena akan mengurangi
sisa ruang di harddisk, sehingga
komputer menjadi lebih lambat
kinerjanya. Oleh karena itu untuk
mengatasi kendala tersebut, pada
Tahun 2004 CRITC menyediakan beberapa server (Gambar 15), sebagai mesin
pemberi service/ layanan termasuk satu diantaranya untuk kebutuhan SIG.
Server memungkinkan menyimpan data dengan kapasitas yang besar serta dapat
diakses kapanpun oleh komputer pengguna lainnya, sehingga tidak mengganggu
kinerjanya. Perkembangan tersebut juga diikuti oleh pengembangan teknologi
jaringan di CRITC, sehingga proses tukar menukar data dapat lebih cepat
dan esien. Pada fase I COREMAP mulai membangun suatu sistem jaringan
dengan layanan internet tersambung (dedicated service leased line 128kbps)
yang di bantu oleh
konsultan sehingga
terbentuk suatu
sistem terintregrasi
antara jaringan lokal
(LAN), web, email dan
data base (Gambar
16).Dengan adanya
leaseed line ini,
konektivitas internet
di Gedung COREMAP
m e n g g u n a k a n
Leaseed line ke telkom
Provider Astinet
dengan kapasitas
128 Kbps yang
memungkin koneksi
internet selama
24 jam, sehingga
Gambar 15 Ruang Server CRITC COREMAP
Gambar 16 Sistem Jaringan
SUCCESS STORIES CRITC174
memudahkan dalam penyajian informasinya dengan meng-upload informasi ke
dalam server web.
Terlihat pada gambar 17 berupa suatu sistem jaringan yang tertata rapi serta
tiap lantai mempunyai switch hub dan dikendalikan oleh system administrator
dengan alur data sebagai berikut :
Gambar 18
Sistem jaringan
dengan satelit
(VSAT)
Gambar 17
Alur Data
Pada gambar dapat dilihat web COREMAP sebagai halaman depan (Front
page) yang dapat meng-akses dan menyimpan semua data dan informasi secara
langsung melalui media internet.
Periode 2004 – 2008
Memasuki Fase 2 COREMAP ada pembenahan sistem jaringan dengan
meningkatkan kapasitas lebar pita (band width) dari 128 kbps menjadi 256kbps,
selain itu di rencanakan menjadi pusat data terumbu karang se-Indonesia,
dengan bantuan kosultan di buat rancangan dengan menggunakan teknologi
SUCCESS STORIES CRITC 175
satelit (VSAT) dengan harapan lalu lintas data dan informasi bisa cepat di akses
dari manapun dari seluruh indonesia dengan CRITC pusat sebagai pusat layanan
datanya. (Gambar 18)
Pembuatan pusat data terumbu karang dengan menggunakan teknologi
satelit tidak dilanjutkan karena membutuhkan dana yang sangat besar. Sebagai
gantinya di lakukan pembenahan sistem jaringan di gedung COREMAP Jakarta
dengan mengganti semua intalasi jaringan menggunakan kabel internet
kecepatan tinggi di tunjang sambungan internet menggunakan kabel kaca (FO
cable) dan upgrade semua peralatan komputer dengan teknologi terbaru tanpa
di bantu oleh tenaga konsultan, semua di kerjakan sendiri.
Instalansi didesain ulang kemudian dilakukan penambahan alat baru dan
peningkatan koneksi internet menjadi 257kpbs dengan sistem koneksi tanpa
kabel menggunakan 2 antena (redudent wireless) dari indonet.
Gambar 19 a Pembenahan sistem jaringan di gedung COREMAP dengan
koneksi redundent wireless
Karena banyak gangguan diantaranya gangguan alam media tanpa kabel
memggunakan antena (wireless) disimpulkan tidak cocok dipasang digedung
COREMAP akhirnya koneksi diganti dengan pita lebar menggunakan media
kabel kaca FO (ber optic) dengan kapasitas lebar pita (bandwidth) ditingkatkan
menjadi 8 Mpbs dari provider Biznet.
Perubahan menjadi sangat drastis koneksi internet menjadi jauh lebih cepat,
media koneksi bertambah dengan adanya jaringan WIFI berupa hotspot tanpa
kabel sehingga pengguna jaringan internet di gedung COREMAP menjadi relatif
SUCCESS STORIES CRITC176
Pada fase II ini aplikasi basisdata mengalami perubahan, karena seperti yang
di jelaskan pada fase I, sering terjadinya pergantian personel tim basisdata di
daerah. Untuk menyesuaikannya, CRITC pusat mengganti aplikasi menjadi lebih
user friendly, sehingga mudah di akses oleh siapapun. Aplikasi tersebut di rubah ke
bentuk aplikasi yang menggunakan microsoft excel untuk kebutuhan entry data di
daerah.
Gambar 20
Sistem jaringan
dengan penambahan
sistem database
CRMIS
Gambar 19 b Jaringan di gedung COREMAP menggunakan provider Biznet
lebih nyaman. Di tahun 2012 karena adanya perubahan anggaran lebar pita turun
menjadi 5 Mpbs dengan tetap menggunakan koneksi kabel kaca FO dari provider
Biznet
SUCCESS STORIES CRITC 177
Perkembangan sistem informasi di
CRITC pada periode ini juga ditandai
dengan berkembangnya SIG. Penyajian
informasi spasial mulai memanfaatkan
fasilitas internet melalui halaman web.
Bentuk penyajian tersebut bertujuan
agar khalayak luas dapat mengakses
informasi spasial, tanpa membutuhkan
keahlian khusus. Web merupakan
media yang efektif untuk penyebaran
informasi, termasuk juga didalamnya
informasi spasial. Teknologi web yang
menyajikan informasi spasial di sebut juga dengan Web GIS. Pada awalnya, perangkat
lunak yang digunakan untuk membuat Web GIS yaitu ArcIMS yang merupakan
produk ESRI. Pemilihan perangkat lunak tersebut disebabkan karena compatible
dengan format data-data spasial yang digunakan, sehingga lebih mudah dalam
pemanggilan datanya. Akan tetapi, penggunaan perangkat tersebut membutuhkan
pembiayaan yang besar, sehingga selanjutnya digunakan perangkat lunak Web GIS
yang lebih murah operasionalnya. Perangkat lunak open source menjadi pilihan
sebagai solusi persoalan tersebut. Penggunaan perangkat lunak open source tersebut
dimulai pada Tahun 2006. Map Server (Gambar 21) merupakan perangkat lunak
yang dipilih sebagai map service server untuk membuat Web GIS pada saat itu.
Map server memungkinkan untuk menyajikan informasi spasial dengan beragam
format data, seperti salah satunya ESRI. Seiring dengan berjalannya Web GIS
tersebut, ditemui permasalahan didalam update data kedalam Web GIS, karena
tidak dapat dilakukan secara cepat. Pengaturan penyajian data dan informasi spasial
pada saat itu harus melalui baris script xml, sehingga perlu ketelitian tinggi dalam
melakukan perubahannya. Map Guide (Gambar 22) selanjutnya digunakan untuk
mengatasi kendala
update data,
karena dilengkapi
dengan perangkat
interface yaitu
Map Guide
Maestro yang
memungkinkan
untuk mengatur
dan menyusun
ulang bentuk
penyajian data dan
informasi secara
Gambar 21 Map Server
Gambar 22. Map Guide
SUCCESS STORIES CRITC178
interaktif, sehingga prosesnya lebih cepat. Permasalahan yang ditemui adalah ketika
memasukkan data ke dalam Web GIS, perangkat pembaca format data pada map
service server tidak berjalan secara sempurna untuk data yang tersedia di CRITC.
Oleh karena itu penyajian di Web GIS cenderung tidak stabil karena terkadang
data dapat ditampilkan, tapi terkadang juga tidak dapat tampil. Pada saat itu juga,
informasi spasial yang ditampilkan belum dinamis karena belum terkoneksi dengan
basisdata hasil kegiatan pemantauan, sehingga update data dilakukan secara
manual dengan menambahkan layer peta baru pada Web GIS. Meskipun demikian,
pada saat itu sudah mulai terpikirkan untuk merancang sistem yang dinamis,
sehingga informasi yang disajikan lebih cepat untuk diperbaharui. CRMIS (Coral
Reef Management Information System) merupakan konsep yang dihasilkan untuk
menampilkan basisdata yang dinamis tersebut, yang kegiatannya dilakukan pada
periode perkembangan berikutnya.
Perbaharuan peta dilakukan pada wilayah COREMAP II dengan menggunakan
citra satelit LANDSAT ETM dan TM (Gambar 23). Hanya saja metode yang
digunakan berbeda dengan pembuatan peta LTKI pada periode sebelumnya. Peta
terumbu karang yang diperbaharui tersebut menyajikan informasi mengenai jenis
terumbu dan ekosistem pesisir lainnya. Sistem koordinat yang digunakan dalam
bentuk metrik dan derajat desimal. Sistem koordinat metrik digunakan untuk
mempermudah perhitungan geometri seperti luasan. Penggunaan derajat desimal
perlu konversi untuk menghasilkan satuan luas, sehingga prosesnya lebih lama
daripada penggunaan sistem metrik. Peta tersebut selanjutnya digunakan sebagai
peta dasar terumbu karang untuk data penunjang dalam berbagai kegiatan di
CRITC.
Gambar 23 Salah satu peta dasar terumbu karang
hasil pengolahan citra satelit LANDSAT ETM.
SUCCESS STORIES CRITC 179
Data Ketelitian Keterangan
Lingkungan Terumbu
Karang Skala 1:50.000 Informasi zonasi habitat dan kedalaman
laut (Wilayah COREMAP II)
Data Dasar Skala 1:50.000 Informasi batas administrasi, jalan,
sungai, garis pantai, dan toponimi
Citra Satelit Landsat Resolusi spasial
30 m x 30 m
Meliputi wilayah COREMAP II (130
scene)
Pemrosesan peta pada periode ini dilakukan dengan menggunakan perangkat
lunak ArcGIS 9.x (Gambar 24) yang merupakan pembaruan dari ArcView 3.x.
Perangkat lunak ArcGIS 9.x memiliki kemampuan untuk membaca berbagai format
data spasial serta memiliki banyak variasi analisis SIG, sehingga sangat mendukung
untuk menghasilkan informasi yang lengkap.
Pada tahun 2006, melihat perjalanan pembuatan Website dari awal website dapat
memberikan pengaruh yang signikan dalam penyebaran dan sumber informasi
serta potensi suatu organisasi sehingga membuat setiap organisasi meningkatkan
publikasi dari informasi organisasi dengan menggunakan media yang lebih visible di
dunia yaitu portal informasi. Website dipercaya dapat memberikan gambaran output
suatu organisasi atau lembaga, dimana mereka dapat menyediakan gambaran yang
lebih lengkap tentang kegiatan, layanan dan potensi yang mereka sediakan.
Web juga dapat digunakan sebagai media untuk menjadi komunikasi yang
akan meningkatkan inisiatif “Open Access yang nantinya dapat memberikan akses
informasi bagi organisasi satu dengan yang lainnya. Maka dibuat kembali website
dengan akses yang lebih universal. Website ini sudah seluruhnya menggunakan
teknologi PHP, Macromedia Dreamweaver, Macromedia Flash, Macromedia
Fireworks, Adobe Photoshop (untuk pengolahan image) dan lain-lainya. Internet Map
Guide sebagai GisWeb
Editor, sehingga dapat
mengikuti tuntutan
perkembangan
teknologi dan dapat
interaktif.
Informasi yang
ditampilkan sudah
lebih terstruktur
dengan kapasitas data
± 32GB (Gigabtye)
dan dinamis, yang
sudah mencakup hal-
hal sebagai berikut :
Gambar 24 Tampilan perangkat lunak ArcGIS 9.x.
SUCCESS STORIES CRITC180
a. Brand visualization,
Informasi yang disajikan situs
secara langsung menampilkan
Informasi, baik dalam bentuk
tulisan atau dalam bentuk
gambar,
b. Information Changes,
Tingkat perubahan bentuk
informasi yang disajikan dalam
situs terbagi atas:
1. Statis, terutama informasi
yang tidak berubah dalam
waktu yang relatif lama,
misal; prol daerah, data
wilayah sumber daya daerah
dan infrastruktur daerah.
2. Dinamis, terutama informasi
yang cenderung mengalami
perubahan dalam waktu
yang relatif singkat.
c. Jenis Data, Dalam situs
internet terdapat tiga jenis data
yang digunakan, yaitu:
1. Data teks, yaitu data dalam
bentuk kalimat atau angka-
angka yang menjelaskan
suatu informasi tertentu;
2. Data gambar, yaitu data
dalam bentuk foto atau
gambar untuk menjelaskan
bentuk suatu obyek dari data
tekstual;
3. Data peta, yaitu data
mengenai lokasi suatu obyek
ruang.
d. Komunikasi. Komunikasi
berupa proses pengolahan
informasi di back ofce masih
bersifat on-line antara COREMAP Gambar 25 Halaman Depan situs
www.coremap.or.id
SUCCESS STORIES CRITC 181
Jakarta dan daerah
e. Bahasa. Bahasa yang digunakan dalam website masih dalam bahasa
Indonesia. Namun dalam sistem yang telah dibuat adalah bilingual yaitu
bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
f. Universalitas. Secara umum struktur menunya dapat dipahami oleh
pengguna, serta sangat mudah ditemukan dalam pencarian di search
engine.
Selain mencantumkan struktur navigasi berupa menu,halaman utama juga
dilengkapi dengan fasilitas layanan,seperti layanan pencarian, fasilitas link,
polling, dan registrasi (login).
Informasi yang muncul dalam Website dikategorikan sebagai berikut:
1. Menu Halaman Depan
www.coremap.or.id, digunakan
sebagai navigasi pengguna
untuk pindah ke halaman
utama. Halaman utama
merupakan halaman pertama/
dokumen awal yang terlihat
oleh pengunjung website/situs.
(Gambar 25)
2. Menu Halaman Depan
regional.coremap.or.id,
digunakan sebagai navigasi
pengguna untuk pindah ke
halaman utama. Halaman utama
merupakan halaman pertama/
dokumen awal yang terlihat
oleh pengunjung website/situs.
(Gambar 26-28)
Tentang
coremap
Data &
informasi
Organisme
laut Peta Laporan Lain-lain
COREMAP
Lokasi
COREMAP
CRITC
CBM
MCS
PA & Edukasi
Metadata
Database
Personal
Kawasan
Konservasi
Klipping
Perpustakaan
Bibliogra
Pelatihan
Produk
COREMAP
Galeri Foto
Karang Batu
Karang
Lunak
Sponge
Ikan Karang
Moluska
Udang
Kepiting
Lamun
Rumput Laut
Mangrove
Reef GIS
Program
Monitoring
Peta LTKI
Citra Satelit
Peta-Peta
Studi
Baseline
Monitoring
Riset
Agenda
Panduan
Kamus
Coral
Daftar
Singkatan
Gambar 26 Halaman Awal situs regional.
coremap.or.id
SUCCESS STORIES CRITC182
Prol Kabupaten COREMAP Daerah
Visi & Misi Kabupaten
Deskripsi Wilayah
- Kondisi Geogras
- Peta Wilayah
- Peta Sumber Daya
Demogra
- Sosial Budaya
- Pendidikan
- Kesehatan
- Kesejateraan Sosial
- Kebudayaan Daerah
- Agama
- Keluarga Berencana
Ekonomi Bisnis
- Potensi Investasi
- Hasil Studi Kelayakan
- Pariwisata
- Perhubungan Darat
- Perhubungan Laut
- Perhubungan Udara
- Listrik
- Air Minum
- Pos dan Telekomunikasi
- Media Masa
Perikanan
Kegiatan COREMAP Daerah
Komponen
- CRITC
- CBM
- MCS
- Public Communication
- Institutional Management
Wilayah COREMAP
Daerah Perlindungan Laut
(DPL)
Luas Area Terumbu Karang
Data & Informasi Laporan Lain-lain
- Meta Data
- Peta Kabupaten
- Data Pokok
Pembangunan Daerah
- Perpustakaan
- Data Kepegawaian
- Peraturan Daerah
- Galeri Foto
- Studi Baseline
- Monitoring
- Diskusi
- Links
- Kontak
Gambar 27. Halaman Depan situs regional.coremap.or.id Wilayah ADB
SUCCESS STORIES CRITC 183
Untuk mempermudah dalam menulis, menyunting, mengelola, dan melakukan
publishing tulisan atau artikel di web dibuatkan Content Management System (CMS)
atau sering disebut sebagai Website administrator merupakan aplikasi tambahan
yang digunakan untuk membantu memudahkan proses pengolahan tersebut.
(Gambar 29)
Gambar 29.
Halaman Login dan
Halaman Form CMS yang
harus diisi pada situs
www.coremap.or.id
Gambar 28. Halaman Depan situs regional.coremap.or.id Wilayah WB
SUCCESS STORIES CRITC184
Keuntungan menggunakan aplikasi ini dibanding melakukan uploading le
secara manual antara lain :
- Menyediakan ruang penerbitan terpadu, agar setiap anggota tim dapat melihat
apa yang sedang dikerjakan team lainnya.
- Menghindari anggota team harus berurusan dengan hal hal teknis seperti FTP
atau HTML editor atau penamaan URL artikel.
- Mencatat keseluruhan kegiatan untuk memungkinkan evaluasi (Activity Log)
- Singkatnya, content management adalah publishing and team management tool
untuk penerbitan web based.
Satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengisian tulisan ke dalam
website adalah struktur HTML yang akan ditampilkan ke website publik harus
mengikuti aturan template yang digunakan, di mana masing template yang disediakan
memiliki aturan tampilan atau yang lebih dikenal CSS.
Website Administrator (CMS) memiliki struktur yang mencakup seluruh isi dan
beberapa menu pilihan pengaturan website utama, termasuk administrasi forum
yang terintegrasi dengan username yang dimasukkan pada saat melakukan login ke
CMS.
Berdasarkan hasil dari tahap analisis dan desain pembuatan sistem (Gambar
30), terdapat 2 jenis administrator yang dapat mengakses CMS, yaitu:
- Administrator , adalah pengguna yang memiliki otoritas dan tanggung jawab
penuh terhadap isi, tampilan website, dan akses pengguna yang lain
- Super User, Adalah pengguna yang hanya dapat melakukan pengolahan isi ke
dalam website pusat.
Masing-masing menu memiliki tahapan yang sama dalam penyajiannya,
yaitu ditampilkan daftar posting yang dapat diedit, atau dihapus.Seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya, bahwa masing-masing menu memiliki fungsi dan cara
penggunaan yang berbeda-beda. Akan tetapi, pada dasarnya terdapat tahapan yang
Gambar
30 tahap
analisis
dan desain
pembuatan
sistem
SUCCESS STORIES CRITC 185
sama pada beberapa menu. Dalam memasukkan suatu isi utama posting, pengguna
diberikan fasilitas Rich Text Editor yang memudahkan dalam pemformatan tulisan,
menyisipkan gambar, list, dan alignment tulisan melalui toolbar yang berada di
bagian atas form.
Periode 2009 – Sekarang
Setelah berakhirnya phase 2 COREMAP, semua pembiayaan di bidang
khususnya bidang teknologi informasi (TI) yang mencakup pengembangan
dan pemeliharaan semua sistem perangkat lunak (software) dan perangkat
keras (hardware) disusutkan bahkan di hilangkan. Akibatnya pemeliharaan
terbengkalai yang mengakibatkan banyak perangkat keras dan perangkat lunak
yang rusak tanpa diperbaiki, pengembangan aplikasi yang membutuhkan biaya
di hentikan
Status terakhir sistem jaringan di gedung COREMAP
Nama alat Status Keterangan
Wireless Rusak Semua lantai
UPS btarei Rusak Tidak bisa menyimpan daya
Server e-mail Rusak Mother board jebol
Penurunan servive internet 8Mbps menjadi 5Mbps Perampingan dana
Anti virus Tidak berfungsi Waktu lisensi habis
Selama ini pembuatan sistem informasi basisdata terumbu karang terpecah
menjadi bagian-bagian yang tidak terintegrasi antara yang satu dengan yang
lain. Pembuatan suatu rancangan sistem informasi yang baik adalah yang
terintegrasi antara satu dengan yang lain baik dipandang dari sisi pembentukan
struktur data, kecepatan, relasi tabel, kecepatan dan kemudahan hubungan
antara basisdata dengan GIS maupun kebutuhan website dan juga kemudahan
didalam pemeliharan data itu sendiri. CRITC pusat pada akhirnya membangun
suatu aplikasi berbasis web (Gambar 31), yang di dalamnya terdiri dari beberapa
sub-menu untuk semua kegiatan CRITC yaitu : RHM, CREEL, SOSEK, dan GIS,
dan kemudian aplikasi tersebut di beri nama CRMIS (Coral Reef Management
Information System).
Untuk basisdata meta data mengalami perubahan agar bisa akses secara
online, sehingga user yang ada di daerah bisa mengakses secara langsung.
(Gambar 32), Sejalan dengan program pengembangan CRMIS, dilakukan juga
pengembangan sumberdaya manusia melalui pelatihan singkat mengenai
geodatabase untuk para personil sistem informasi. Pelatihan tersebut
memberikan pengetahuan mengenai koneksi antara basisdata yang dinamis
dengan data spasial. Pengetahuan tersebut penting untuk memahami konsep
CRMIS yang dikembangkan, terutama didalam operasionalnya. CRMIS berhasil
SUCCESS STORIES CRITC186
mengkaitkan data spasial dengan data-data hasil kegiatan pemantauan yang
dilakukan CRITC secara dinamis, sehingga pembaharuannya lebih cepat dan
esien. Hanya saja untuk mendukung program tersebut, seluruh data spasial
perlu dirubah menjadi sistem geodatabase. Geodatabase yang digunakan
dalam hal ini adalah PostGIS/Postgres SQL. (Gambar 33) Oleh karena itu,
terjadi juga perubahan terhadap sistem Web GIS yang telah dikembangkan
sebelumnya. Penggunaan MapGuide sebagai map service diganti oleh
perangkat lunak Geoserver (Gambar 34) karena mampu membaca format data
geodatabase PostGIS. Perombakan dan perubahan susunan didalam Web GIS
Gambar 34
Halaman muka
administrator
map service
server
menggunakan
Geoserver.
Gambar 33
Halaman muka
administrator
pengelola
basisdata
spasial (PostGIS/
PostgreSQL)
menggunakan
pgAdmin III.
Gambar 32 basisdata meta data
Gambar 31 Tampilan utama aplikasi
Crmis berbasis web
SUCCESS STORIES CRITC 187
juga lebih mudah dilakukan karena geoserver menyediakan interface yang
mudah dipahami. Penyajian peta itu sendiri didalam halaman web dilakukan
menggunakan aplikasi OpenLayers (Gambar 35). OpenLayers dapat dengan
mudah untuk memanggil data spasial yang dikelola oleh Geoserver, sehingga
sistem WebGIS dapat berjalan dengan baik dan esien. Sistem seperti ini sangat
bergantung pada kinerja server. Kinerja server sering terganggu ketika terjadi
pemadaman listrik, sehingga seluruh server harus segera di nyalakan ulang
(re-boot) agar sistem CRMIS dapat berjalan kembali. Seluruh server saling
terkait, sehingga jika ada kerusakan disalah satunya akan mempengaruhi sistem
CRMIS.
Data Ketelitian Keterangan
Daerah Perlindungan
Laut (DPL) Skala 1:25.000 Meliputi wilayah COREMAP II
Citra Satelit Quickbird Resolusi spasial
0,6 m x 0,6 m Sebagian wilayah COREMAP II ADB meliputi:
Kabupaten Nias dan Nias Selatan: P. Nias,
Kep. Hinako, PP. Batu - Telo, Hibala
Kabupaten Mentawai: P. Sipora (Tuapejat
dan Bosua), Selat Sikakap
Kabupaten Tapanuli Tengah: pesisir Barat
Kabupaten Lingga: P. Kongka - P. Bulu
Kabupaten Bintan: P. Bintan (pesisir Timur),
P. Mapur, P. Numbing, dan P. Tambelan
Kota Batam: P. Galang, P. Karas, P. Abang
Kabupaten Natuna: P. Bunguran
Citra Satelit
Worldview-1
Resolusi spasial
0,5 m x 0,5 m Sebagian wilayah COREMAP II ADB meliputi:
Kabupaten Mentawai: P. Siberut (Katurai)
Kabupaten Tapanuli Tengah: P. Mansalar
Kota Batam: P. Petong
Kabupaten Bintan: P. Mapur dan sebagian P.
Tambelan
Citra Satelit
Worldview-2
Resolusi spasial
0,5 m x 0,5 m Sebagian wilayah COREMAP II ADB meliputi:
Kabupaten Lingga: Sekana, P. Alut
Citra Satelit ALOS Resolusi spasial
10 m x 10 m Sebagian wilayah COREMAP II ADB meliputi:
Sebagian Kabupaten Biak, Rajaampat,
Buton, Sikka, Pangkep (Liukkang
Tuppabiring), Selayar, Mentawai (P. Pagai
dan P. Siberut bagian Utara), Nias (P. Nias
dan Kep. Hinako), Batam, Bintan (P. Bintan),
dan Lingga (P. Lingga bagian Selatan, Daik,
dan P. Singkep)
SUCCESS STORIES CRITC188
Dalam hal pembaharuan peta, pada periode ini dilakukan pengkajian
terhadap citra satelit Quickbird untuk menghasilkan peta terumbu karang.
Citra satelit Quickbird memiliki resolusi spasial yang tinggi, sehingga mampu
merekam objek dengan ukuran terkecil hingga 60 cm x 60 cm. Hasil kajian
menunjukkan bahwa citra satelit Quickbird mampu memberikan informasi
lebih detil mengenai objek yang berada di terumbu karang (Gambar 36 - 37).
Hanya saja perlu dikaji selanjutnya sistem klasikasi yang sesuai pada peta
terumbu karang, karena hingga saat ini belum ada sistem klasikasi yang baku
untuk pemetaan terumbu karang terutama pada skala yang besar. Lokasi yang
dikaji meliputi sebagian wilayah COREMAP II ADB.
Gambar 36
Contoh hasil
pemrosesan
3-Dimensi batimetri
citra satelit
Quickbird di Pulau
Mubut (Batam).
Gambar 35
WebGIS CRITC
menggunakan
aplikasi Open
Layers.
Gambar 37
Contoh citra satelit
Quickbird dan hasil
pemrosesannya.
SUCCESS STORIES CRITC 189
Beberapa produk ATLAS yang dihasilkan selama CRITC berjalan dapat
dilihat pada Gambar 39 dibawah ini:
Atlas CRITC COREMAP II WB,
menyajikan peta-peta tematik
yang terkait dengan kegiatan
pengelolaan terumbu karang di
wilayah kegiatan COREMAP II
Indonesia Timur. Informasi yang
disajikan meliputi sebaran dan
luasan terumbu karang serta
kondisi biosik terumbu karang.
Album Peta Daerah Perlindungan
Laut (DPL), menyajikan peta-peta
tematik Daerah Perlindungan
Laut di wilayah kegiatan
COREMAP II Indonesia Timur.
Informasi yang disajikan meliputi
sebaran dan batas wilayah DPL,
serta luasan DPL dan terumbu
karang yang terdapat didalamnya.
Atlas Wilayah Pengelolaan
COREMAP II ADB, menyajikan
peta-peta tematik yang terkait
dengan kegiatan pengelolaan
terumbu karang di wilayah
COREMAP II Indonesia Barat.
Informasi yang disajikan meliputi
sebaran dan luasan terumbu
karang, Kawasan Konservasi Laut
Daerah (KKLD), kondisi biosik,
serta kondisi sosial ekonomi.
Pada Tahun 2010, Seiring dengan berkembangannya informasi dan
mengikuti kemajuan jaman, Maka CRITC COREMAP berpartisipasi juga
dalam Media Sosial. Media sosial adalah sebuah media online, dengan para
penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan
isi meliputi blog, jejaring sosial yang digunakan oleh masyarakat di seluruh
dunia.
Kecepatan informasi yang bisa diakses dalam hitungan detik, menjadi diri
sendiri dalam media sosial adalah alasan mengapa media sosial berkembang
pesat. Sosial media menawarkan banyak kemudahan dalam ber komunikasi.
Saat ini media sosial adalah hal yang mutlak kita pahami karena bila kita tidak
mengerti media sosial maka kita akan terbelakang.
Saat teknologi internet dan mobile phone makin maju maka media sosial
pun ikut tumbuh dengan pesat. Kini untuk mengakses facebook atau twitter
SUCCESS STORIES CRITC190
misalnya, bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja hanya dengan menggunakan
sebuah mobile phone. Demikian cepatnya orang bisa mengakses media sosial
mengakibatkan terjadinya fenomena besar terhadap arus informasi tidak hanya
di negara-negara maju, tetapi juga di Indonesia. Karena kecepatannya media
sosial juga mulai tampak menggantikan peranan media massa konvensional
dalam menyebarkan berita-berita.
Pengguna media sosial dengan bebas bisa mengedit, menambahkan,
memodikasi baik tulisan, gambar, video, gras, dan berbagai
model content lainnya. Dan bisa mengakses social media walaupun menggunakan
dengan jaringan internet bahkan yang aksesnya lambat sekalipun, tanpa biaya
besar, tanpa alat mahal dan dilakukan sendiri kapan saja.
Media Sosial Facebook (http://facebook.com/ critc.jakarta)
bergabung sejak 18 Mei 2010 dengan 648 friend (30 Nov 2012)
SUCCESS STORIES CRITC 191
Media Sosial Twitter
http://www.twitter.
com/coremap2
Bergabung Sejak 14
Mei 2010 Sebanyak
4 Follower
Media Sosial
Blogger ( http://
cintaterumbukarang.
blogspot.com/ ) dengan
Total Pengunjung
Sebanyak 12888 (30 Nov
2012) dan dibuat sejak
2011 oleh Tim Edukasi
COREMAP
Dinamika pengembangan
Pembangunan dan pengembangan situs ini mempertimbangkan kemudahan
operasional dan pemeliharaannya yang esien dan efektif, mampu meningkatkan
kemandirian untuk melakukan publikasi data dan informasi.
1. Web site www.coremap.or.id sudah on-line non-stop sejak 2006 , namun
dipasang counter nya sejak Mei 2007 (kalau sudah on-line artinya siapa saja
dapat mengakses website tersebut 24 jam), dan jumlah pengunjung yang
mengaksesnya terus bertambah. Pada akhir tahun 2007 tercatat 38,921
berasal dari : 417 kota dari 82 negara dan Bulan Desember 2011 yang
tercatat sebanyak : 36,856 berasal dari : 256 kota dari 89 negara. Total
Pengunjung dari tahun 2007 s.d Oktober 2012 tercatat 278,179 berasal
dari 1637 kota dari 150 negara. Dan khusus Wilayah indonesia tercatat
pengakses sebanyak 33828 dari 37 kota.
SUCCESS STORIES CRITC192
2. Website ini berkapasitas: 32 GB dan akan terus berkembang seiring dengan
bertambahnya informasi. Sampai saat ini masih dihosting di Gedung
COREMAP-LIPI dengan BizNet sebagai LeasedLined Providernya
3. Telah dilakukan berbagai pelatihan yang bertujuan meningkatkan kapasitas
SDM pembangun website melalui pelatihan-pelatihan teknis dan juga telah
diupayakan kolaborasi untuk membangun website pada tahun 2005, 2006
dan 2008. Dimana kolaborasi ini akan memungkin terjadinya proses transfer
of knowlegde atau transfer pengetahuan. Dan juga telah dilakukan sosialisasi
tentang manfaat website hal ini sebagai upaya membuka pemahaman
dinas terkait tentang pentingnya publikasi potensi atau hal lainnya melalui
website. Namun kurangnya dukungan dinas terkait sehingga data yang
disampaikan belum memenuhi syarat untuk dipublikasikan (publish) pada
website, karena kurangnya validitas dari data atau tidak cukup rinci.
Total Pengunjung Indonesia (1 Jan 2011 – 31 Dec 2011) Sebanyak 33828 :
berasal dari : 37 kota di Indonesia (sumber : https://www.google.com/analytics/)
Total Pengunjung (1 Jan 2011 – 31 Dec 2011) Sebanyak 36856 berasal dari : 519
kotadari89negara (sumber : https://www.google.com/analytics/)
SUCCESS STORIES CRITC 193
Perbandingan Negara & Kota
Pengunjung diseluruh dunia
tahun 2007 s.d 2011
Perbandingan Pengunjung
diseluruh dunia tahun 2007
s.d 2011
Perkembangan Data tahun 1998 s.d 2012
OTJT SI Untuk Sta Critc Daerah Dilakukan Di CRITC Jakarta
4. Seiring Perkembangan teknologi internet dan mobile phone di dunia, maka
CRITC COREMAP berpartisipasi dalam Media Sosial meliputi blog, jejaring
sosial (Facebook dan Twitter) yang digunakan oleh masyarakat di seluruh
dunia.
SUCCESS STORIES CRITC 217
ADB Asian Development Bank
AusAID Australian Agency for International Development
BME Benet Monitoring Evaluation
CBM Community Based Management
CCEF Christian Counseling and Educational Fondation
CMS Content Management System
COREMAP Coral Reef Rehabilitation and management Project
CRITC Coral Reef Information and Training Center
CRMIS Coral Reef Management Information System
DC Dead Coral
DCA Dead Coral Algae
DPL Daerah Perlindungan Laut
FGD Focus Group Discussion
FS Fleshy Seaweed
GIS Geographic Information System
GPS Global Positioning System
IUCN International Union for Conservation Nature
JICA Japan International Cooperation Agency
KKL Kawasan Konservasi laut
KKLD Kawasan Konservasi Laut Daerah
KMPTK Kelompok Masyarakat Pengelola Terumbu Karang
LAPAN Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional
LIPI Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
LIT Line Intercept Transect
LSM Lembaga Swadaya Masyarakat
LTKI Lingkungan Terumbu Karang Indonesia
DAFTAR
SINGTAN
SUCCESS STORIES CRITC218
MCA Marine Conservation Area
MCS Monitoring Controlling and Survaillance
MMA Marine Management Area
MPTK Metode Penelitian Terumbu Karang
NPIU National Project Implementing Unit
NTB Nusa Tenggara Barat
N Nusa tenggara Timur
PIPTK Pusat Informasi dan Pelatihan Terumbu Karang
PIT Point Intercept Transect
POKMAS Kelompok Masyarakat
PPK-LIPI Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Penelitian Indonesia
RHM Reef Health Monitoring
RPTK Rencana Pengelolaan Terumbu Karang
R Rapid Resource Assessment
SD Sekolah Dasar
SDL Sumber Daya Laut
SDM Sumber Daya Manusia
SIG Sistem Informasi Geogra
SKPD Satuan Kerja Pemerintah Daerah
SMA Sekolah Menengah Atas
SMP Sekolah Menengah Pertama
TCU Training Coordinating Unit
TNA Training Need Assessment
TNC e Nature Concervation
TOT Training of Trainers
UEP Usaha ekonomi Produktif
UNDIP Universitas Diponegoro
UNHAS Universitas Hasanuddin
UNM Universitas Mataram
UNSTT Universitas Sam Ratulangi
VSAT Very Small Aperture Terminal
WB World Bank
WCS Worldlife Conservation Society
WWF World Wildlife Fund
ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication.
ResearchGate has not been able to resolve any references for this publication.