ArticlePDF Available

Menemukan Strategi Pengembangan Kawasan Industri Melalui Analisis Sektor Unggulan Kota Binjai

Authors:

Abstract and Figures

pre> The industrial sector is a primary sector has the potential to create a progressive growth in a region. The growth in the region rely on the industrial sector was driven by sales of production, employment, and other multiplier effects so that many of districts or cities in North Sumatra try to develop this sector. The industr y that can be developed is an appropriate industrial potential and local resource to be optimal growth in the region. In RTRW Kota Binjai years 2011 - 2030, District of North Binjai designated as an industrial area. Industries that are planned to be developed are a high-tech industry. But the problem is whether the type specified in the RTRW industry is the industry that corresponds to the potential of local resources and the District of North Binjai? The purpose of this paper is to find the right industry to be developed by local potential or excellence, especially in the District Binjai Utara Binjai. The analytical tool used is the analysis of LQ, shift share and SWOT discovered the potential and advantages that can be seen Binjai compliance with industry directed by RTRW. The analysis results show that the industrial sector is not a primary sector or potential sector in Binjai. The results of LQ and shift share analysis show that the sector with the potential to be developed in Binjai was the construction sector, finance, and services. The similarity with the RTRW policy is only in the service sector. This shows that the service sector can be developed while the computer industry, multimedia, publishing, and printing) is not in accordance with the local potential. However, if the government still wants to develop the industrial sector in North Binjai, there should be diversification strategies, namely building-related industry sectors, such as industry superior building materials and mining industries. </pre
No caption available
… 
No caption available
… 
No caption available
… 
No caption available
… 
No caption available
… 
Content may be subject to copyright.
JURNAL WILAYAH DAN LINGKUNGAN
P-ISSN: 2338-1604 dan E-ISSN: 2407-8751
Volume 4 Nomor 1, April 2016, 45-64
http://dx.doi.org/10.14710/jwl.4.1.45-64
© 2016 LAREDEM
Journal Homepage: http://ejournal2.undip.ac.id/index.php/jwl
How to Cite
:
Pinem, D. E.. (2015). Menemukan Strategi Pengembangan Kawasan Industri Melalui Analisis Sektor Unggulan
Kota Binjai.
Jurnal Wilayah dan Lingkungan, 4
(1), 45-64. doi: 10.14710/jwl.4.1.45-64
Menemukan Strategi Pengembangan Kawasan
Industri Melalui Analisis Sektor Unggulan
Kota Binjai
Dessy Eresina Pinem1
Institut Teknologi Medan, Medan, Indonesia
Artikel Masuk : 9 Maret 2016
Artikel Diterima : 19 April 2016
Tersedia Online : 30 April 2016
Abstrak: Sektor industri merupakan sektor andalan yang berpotensi menciptakan
pertumbuhan progresif di sebuah kawasan. Pertumbuhan kawasan yang mengandalkan sektor
industri didorong oleh penjualan hasil produksi, penyerapan tenaga kerja, dan efek pengganda
lainnya sehingga banyak kabupaten/kota di Sumatera Utara berusaha mengembangkan
sektor ini. Industri yang dapat dikembangkan adalah industri yang sesuai potensi dan sumber
daya lokalnya agar pertumbuhan kawasan menjadi optimal. Dalam RTRW Kota Binjai tahun
2011 2030, Kecamatan Binjai Utara ditetapkan sebagai lokasi kawasan industri. Industri
yang direncanakan akan dikembangkan adalah industri teknologi tinggi. Namun masalahnya
apakah jenis industri yang ditetapkan di RTRW ini adalah industri yang sesuai dengan potensi
dan sumber daya lokal Kecamatan Binjai Utara? Tujuan dari
paper
ini untuk menemukan
industri yang tepat untuk dikembangkan sesuai dengan potensi lokal atau keunggulan Kota
Binjai khususnya di Kecamatan Binjai Utara. Alat analisis yang digunakan adalah analisis LQ,
shift share dan SWOT untuk ditemukan potensi dan keunggulan Kota Binjai sehingga dapat
dilihat kesesuaiannya dengan industri yang diarahkan oleh RTRW. Analisis menunjukkan
bahwa sektor industri sebenarnya bukan merupakan sektor andalan atau potensi Kota Binjai.
Hasil perhitungan LQ dan shift share menunjukkan bahwa sektor yang potensial untuk
dikembangkan di Kota Binjai adalah sektor konstruksi, keuangan dan jasa-jasa. Kesamaan
dengan kebijakan RTRW hanya pada sektor jasa. Hal ini menunjukkan bahwa sektor jasa
dapat dikembangkan sedangkan industri komputer, multimedia, penerbitan dan percetakan
tidak sesuai dengan potensi lokal. Namun bila tetap ingin mengembangkan sektor industri di
Binjai Utara, maka perlu dilakukan strategi diversifikasi, yaitu membangun industri yang
berhubungan dengan sektor unggulannya antara lain industri bahan bangunan dan industri
tambang.
Kata Kunci: strategi pengembangan industri, analisis LQ dan Shift Share, SWOT
Abstract: The industrial sector is a primary sector has the potential to create a progressive
growth in a region. The growth in the region rely on the industrial sector was driven by sales
of production, employment, and other multiplier effects so that many of districts or cities in
North Sumatra try to develop this sector. The industry that can be developed is an
appropriate industrial potential and local resource to be optimal growth in the region. In
RTRW Kota Binjai years 2011 - 2030, District of North Binjai designated as an industrial area.
1 Korespondensi Penulis: Institut Teknologi Medan, Medan, Indonesia
Email: eresina22@yahoo.com
46
Menemukan Strategi Pengembangan Kawasan Industri Melalui Analisis Sektor Unggulan Kota Binjai
JURNAL WILAYAH DAN LINGKUNGAN, 4 (1), 45-64
http://dx.doi.org/10.14710/jwl.4.1.45-64
Industries that are planned to be developed are a high-tech industry. But the problem is
whether the type specified in the RTRW industry is the industry that corresponds to the
potential of local resources and the District of North Binjai? The purpose of this paper is to
find the right industry to be developed by local potential or excellence, especially in the
District Binjai Utara Binjai. The analytical tool used is the analysis of LQ, shift share and
SWOT discovered the potential and advantages that can be seen Binjai compliance with
industry directed by RTRW. The analysis results show that the industrial sector is not a
primary sector or potential sector in Binjai. The results of LQ and shift share analysis show
that the sector with the potential to be developed in Binjai was the construction sector,
finance, and services. The similarity with the RTRW policy is only in the service sector. This
shows that the service sector can be developed while the computer industry, multimedia,
publishing, and printing) is not in accordance with the local potential. However, if the
government still wants to develop the industrial sector in North Binjai, there should be
diversification strategies, namely building-related industry sectors, such as industry superior
building materials and mining industries.
Keywords: industrial development strategy, LQ and Shift Share analysis, SWOT analysis
Pendahuluan
Sektor industri merupakan salah satu sektor yang berpotensi menciptakan
pertumbuhan progresif di sebuah kawasan. Sektor ini layak dikembangkan menjadi tulang
punggung perekonomian. Hal inilah yang mendorong Kota Binjai untuk merencanakan
pembangunan kawasan industri di Kota Binjai. Keberadaan sektor industri diharapkan
dapat menjadi mesin penggerak (
engine of growth)
perekonomian Kota Binjai.
Implementasi awal dalam pengembangan sektor industri di Kota Binjai adalah
dengan ditetapkannya wilayah kawasan industri di sekitar Kecamatan Binjai Utara pada
Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kota Binjai Tahun 2011 2030. Berdasarkan
hasil kajian RTRW Kota Binjai tahun 2011 2030, kebijakan pengembangan industri di
Kota Binjai adalah sebagai berikut:
1. Industri padat karya industri
high tech
yang meliputi industri komputer, multimedia,
penerbitan dan percetakan, perusahaan jasa lainnya yang menggunakan teknologi
menengah dan tinggi, dan pergudangan terpadu dialokasikan di Binjai Utara.
2. Industri yang tidak berwawasan lingkungan dan menimbulkan dampak terhadap lalu
lintas dan jaringan jalan harus keluar dari Kota Binjai secara bertahap.
3. Lokasi industri tidak berwawasan lingkungan diarahkan untuk menjadi industri
berwawasan lingkungan atau dialih fungsikan menjadi kegiatan jasa.
Pengembangan industri di Kota Binjai telah didukung oleh kesediaan masyarakat
lokal untuk dikembangkan kawasannya sebagai kawasan industri serta peluang penyediaan
infrastruktur jalan baru kedepannya. Namun, tingkat pendidikan masyarakat yang rendah
serta ancaman spekulasi lahan oleh para pemilik modal karena banyak lahan yang belum
dimiliki pemerintah menjadi hambatan tersendiri. Padahal, upaya untuk mengembangkan
perekonomial lokal melalui optimalisasi potensi lokal agar menghasilkan
multilier effect
bagi masyarakat lokal perlu diperhatikan.
Dari latar belakang tersebut lalu muncul pertanyaan apakah kebijakan RTRW
mengenai penetapan jenis industri (komputer, multimedia, penerbitan, percetakan)
perusahaan jasa, pergudangan terpadu telah sesuai dengan potensi atau keunggulan daerah
Kota Binjai? Adapun tujuan dari
paper
ini adalah untuk menemukan jenis industri yang
tepat untuk dikembangkan sesuai dengan potensi lokal atau keunggulan Kota Binjai.
Terkait dengan hal tersebut, maka perlu terlebih dahulu dilakukan analisis sektor unggulan
Kota Binjai untuk mendukung pembangunan kawasan industri di Kota Binjai. Melalui
Dessy Eresina Pinem
47
JURNAL WILAYAH DAN LINGKUNGAN, 4 (1), 45-64
http://dx.doi.org/10.14710/jwl.4.1.45-64
analisis sektor unggulan ini akan dapat dilihat mengenai kesesuaian arahan industri yang
ditetapkan dalam RTRW dengan kondisi ekonomi lokal Kota Binjai.
Teori Pembangunan Wilayah Berdasarkan Sektor Unggulan
Suatu sektor dikatakan unggul apabila sektor tersebut mampu bersaing dengan
sektor yang sama di daerah lain atau di negara lain (Widodo, 2006). Penentuan sektor
unggulan penting dilakukan untuk mengetahui sektor apa yang mampu mendatangkan
pendapatan bagi daerah dengan cara ekspor atau menjual ke daerah lain secara efektif dan
efisien. Efisiensi dan efektivitas dapat dicapai, salah satunya dengan mengandalkan sumber
daya, bahan baku dan tenaga kerja lokal. Hanya komoditas yang dihasilkan secara efisien
yang mampu bersaing sehingga penetapan sektor ekonomi unggulan atau komoditas
unggulan penting bagi tiap daerah.
Ekonomi lokal suatu wilayah berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan
penduduk lokal. Untuk itu, perlu untuk mengetahui kondisi kekuatan, kelemahan dan
perubahan yang terjadi dalam perekonomian lokal suatu wilayah (Klosterman, 1990).
Pertumbuhan ekonomi wilayah dapat ditingkatkan melalui sektor ekonomi unggulan yang
memiliki potensi daya saing komparatif karena memiliki efek pengganda yang besar
(Amalia, 2012; Titisari, 2011). Diversifikasi sektor ekonomi menunjukkan bahwa ada
ketergantungan spesialisasi ekonomi antar wilayah yang dapat meningkatkan kondisi
perekonomial lokal (Fattah & Rahman, 2013).
Diperlukan peran pemerintah lokal, komunitas, dan pihak swasta dalam
memanajemen sumber daya lokal yang dimiliki. Selain akan menciptakan lapangan
pekerjaan baru, langkah tersebut juga akan menggenerator perkembangan aktivitas
ekonomi wilayah tersebut (Arsyad, 2005). Ketersediaan sumber daya lokal, fasilitas dan
infrastruktur pendukung, jumlah dan kapasitas penduduk dalam mengolah sumber daya
lokal yang dimiliki berperan dalam pertumbuhan ekonomi suatu wilayah (Adisasmita,
2009).
Dengan bergeraknya sektor unggulan, maka investasi dan permintaan tenaga kerja
semakin bertambah. Hal ini dapat meningkatkan permintaan atau menggerakkan sektor-
sektor non unggulan. Dengan dasar pemikiran ini, maka menemukan sektor unggulan suatu
daerah merupakan langkah penting dalam menentukan prioritas pembangunan atau
rencana pembangunan suatu daerah. Sektor unggulan dipastikan memiliki potensi besar
untuk tumbuh cepat dibandingkan sektor lainnya karena adanya faktor pendukung
terhadap sektor tersebut, seperti bahan baku, tenaga kerja dan lainnya.
Contoh
best practice
adalah di Kota Batu, Malang. Kecamatan-kecamatan di Kota
Batu umumnya berbasis di sektor pertanian. Melihat hal ini, maka sejak tahun 1993, kota
ini dicanangkan mengembangkan agrowisata. Jumlah produksi buah apel yang besar
menjadikan apel sebagai komoditi unggulan di beberapa kecamatan di kota ini. Dorongan
pengembangan kepada komoditas unggulan di kota ini adalah dengan menghasilkan
makanan yang berbahan dasar apel dan sejak tahun 2005 dikembangkan wisata petik apel.
Wisata petik apel di Kota Malang sangat berkembang hingga kini. Banyak turis asing yang
berkunjung ke kota ini untuk menikmati kegiatan petik buah apel. Pada tahun 2013, ada
sekitar 60 ribu pengunjung yang menikmati wisata petik buah apel di Kota Batu. Kunjungan
wisata secara umum juga meningkat. Pada tahun 2011, jumlah wisatawan sebanyak 2,5 juta
orang, tahun 2012 naik menjadi 4 juta orang, dan tahun 2013 naik menjadi 5 juta. Kegiatan
ini juga sangat memberi keuntungan bagi petani apel di sana (Utomo, 2011). Dari contoh
best practice
ini dapat disimpulkan bahwa bila suatu daerah mengembangkan sektor
unggulannya, maka daerah tersebut akan maju.
48
Menemukan Strategi Pengembangan Kawasan Industri Melalui Analisis Sektor Unggulan Kota Binjai
JURNAL WILAYAH DAN LINGKUNGAN, 4 (1), 45-64
http://dx.doi.org/10.14710/jwl.4.1.45-64
Metode Analisis
Analisis dilakukan untuk menemukan sektor unggulan di Kota Binjai. Pengumpulan
data dilakukan dengan metode survei melalui metode pengumpulan data primer yang
diperoleh secara langsung dengan metoda wawancara dan data sekunder yang didapat dari
nilai-nilai PDRB Kota Binjai tahun 2008 2011. Wawancara dilakukan dengan instansi
terkait, seperti Pihak Kelurahan, Dinas Lingkungan, Dinas Pertanian, dan lainnya. Data
diambil dari instansi Pusat Pelayanan Satu Atap dan lainnya.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan analisis LQ,
Shift Share dan SWOT. Justifikasi pemilihan ketiga alat analisis tersebut adalah karena
sebelum menentukan jenis industri yang tepat untuk dikembangkan di Kota Binjai, perlu
terlebih dahulu mengetahui sektor ekonomi unggulan yang potensial untuk dikembangkan
melalui analisis LQ dan Shift Share. Selanjutnya, dalam menentukan jenis industri yang
patut dikembangkan digunakan analisis SWOT dengan mempertimbangkan kekuatan,
kelemahan, kesempatan dan ancaman yang akan dihadapi. Masing-masing alat analisis
terjabarkan sebagai berikut:
1) Analisis LQ
Analisis LQ digunakan untuk menentukan sektor ekonomi basis (ekspor) dan non basis
Kota Binjai. Di dalam analisis ini ekonomi diasumsikan tertutup dan asumsi lainnya
yaitu jika suatu daerah lebih berspesialisasi dibanding negara dalam menghasilkan
produk tertentu LQ >1, maka daerah tersebut akan mengeskspor barang tersebut
(Widodo, 2006). Serupa dengan Klosterman (1990) yang mengungkapkan bahwa
teknik analisis LQ adalah alat analisis termudah dalam analisis ekonomi regional yang
membagi ekonomi lokal dalam 2 sektor, yaitu sektor basis (bukan sektor lokal) dan
non basis (sektor lokal) Dalam studi ini, analisis LQ digunakan untuk menemukan
sektor ekonomi basis Kota Binjai.
2) Analisis Shift
Share
Analisis
shift share
adalah suatu teknik kuantitatif yang digunakan untuk mengetahui
perkembangan atau pertumbuhan sektor ekonomi suatu daerah relatif terhadap daerah
referensinya. Dengan analisis ini, diharapkan dapat diketahui mengenai sektor ekonomi
yang potensial berpotensi untuk dikembangkan di Kota Binjai.
3) Analisis SWOT
Yang dimaksud dengan analisis SWOT adalah suatu teknik menganalisis faktor-faktor
internal dan eksternal menjadi langkah-langkah strategi dalam pengoptimalan lagkah.
Dalam analisis faktor-faktor internal dan eksternal, akan ditentukan aspek-aspek yang
menjadi kekuatan (
Strengths
), kelemahan (
Weakness
), kesempatan (
Opportunities
) dan
yang menjadi ancaman (
Threat
) bagi sebuah rencana pembangunan. Dengan begitu
akan dapat ditentukan berbagai kemungkinan alternatif strategi yang dapat dijalankan
(Rangkuti, 2005).
Gambaran Umum Perekonomian Kota Binjai
Pada kondisi saat ini, guna lahan di Binjai Utara umumnya adalah pertanian dan
perkebunan. Penggunaan lahan sebagai pertanian memiliki proporsi terbesar di Kecamatan
Binjai Utara. Lahan pertanian lain juga terdapat di Binjai Selatan dan Binjai Timur. Peta
guna lahan di Kota Binjai terlihat di gambar 1. Jenis tanah di Kota Binjai secara umum
adalah tanah andosol coklat dan tanah humus regosol yang subur sehingga cocok untuk
aktivitas pertanian. Kecamatan Binjai Utara merupakan penghasil tanaman pangan
terbesar. Ini dikarenakan Kecamatan Binjai Utara memiliki lahan sawah terluas mencapai
825,16 ha sawah tadah hujan. Hal ini akhirnya berdampak pada produksi padi yang
dihasilkan. Produksi padi di Kecamatan Binjai Utara menjadi produksi yang terbesar di
Kota Binjai. Pada tahun 2012, produksi padi di Binjai Utara mencapai 12.111 ton. Selain
Dessy Eresina Pinem
49
JURNAL WILAYAH DAN LINGKUNGAN, 4 (1), 45-64
http://dx.doi.org/10.14710/jwl.4.1.45-64
padi, Kecamatan Binjai Utara juga menjadi penghasil jagung, kacang tanah, kacang hijau,
kacang panjang dan cabai terbesar yang terbesar produksinya di Kota Binjai.
Sumber: RTRW Kota Binjai, 2011-2030
Gambar 1. Peta Guna Lahan Kota Binjai
Ketenagakerjaan
Jumlah penduduk Kota Binjai pada pertengahan tahun 2014 sebanyak 261.490 jiwa.
Persentase penduduk berdasarkan diagram ketenagakerjaan terdiri dari 2 kelompok yaitu:
kelompok penduduk berusia kerja (15 65 tahun) dan bukan berusia kerja (kurang dari 15
tahun dan lebih dari 65 tahun) yang proporsinya terlihat di gambar 2.
Sumber: Indikator Ketenagakerjaan Kota Binjai, 2014
Gambar 2. Persentase Penduduk berdasarkan Kondisi Ketenagakerjaan Tahun 2014
50
Menemukan Strategi Pengembangan Kawasan Industri Melalui Analisis Sektor Unggulan Kota Binjai
JURNAL WILAYAH DAN LINGKUNGAN, 4 (1), 45-64
http://dx.doi.org/10.14710/jwl.4.1.45-64
Dilihat dari lapangan pekerjaan utama, umumnya penduduk berumur 15 tahun ke
atas bekerja di sektor perdagangan dan jasa kemasyarakatan. Walaupun merupakan sektor
khusus, aktivitas perdagangan masuk ke dalam aktivitas jasa. Lebih jelasnya dapat dilihat
pada tabel 1.
Tabel 1. Penduduk Berusia Lebih dari 15 Tahun yang Bekerja Seminggu Lalu Menurut Lapangan
Pekerjaan Utama di Kota Binjai Tahun 2014
No
Lapangan Pekerjaan Utama
Jenis Kelamin (Jiwa)
Jumlah
(Jiwa)
Perempuan
1
Pertanian, perkebunan, perburuan dan perikanan
914
5.714
2
Pertambangan dan penggalian
0
508
3
Industri Pengolahan
3.752
9.961
4
Listrik, gas dan air minum
0
602
5
Konstruksi
323
15.817
6
Perdagangan,rumah makan dan jasa akomodasi
17.396
35.975
7
Transportasi,pergudangan dan komunikasi
528
10.487
8
Lembaga keuangan, real estate, usaha persewaan
dan jasa perusahaan
798
4200
9
Jasa kemasyarakatan, sosial dan perorangan
15.188
27.908
Total Kota Binjai
38.899
111.172
Sumber: Indikator Ketenagakerjaan Kota Binjai, 2014
Angkatan kerja di Kota Binjai umumnya adalah lulusan SMA dan lulusan SD dan
SMP. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2 .
Tabel 2. Penduduk Berusia Lebih dari 15 Tahun yang Termasuk Angkatan Kerja
Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan di Kota Binjai 2014
No
Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan
Jenis Kelamin (Jiwa)
Jumlah
(Jiwa)
Laki-laki
Perempuan
1
Tidak/ belum pernah sekolah/ tidak/ belum tamat
SD/ SD
13.881
11.783
25.664
2
SMP
17.888
7.735
25.623
3
SMA
23.741
10.650
34.391
4
SMK
15.959
4.345
20.304
5
Diploma I/II/III
494
1.629
2.123
6
Akademi/universitas
6.228
5.978
12..206
Total Kota Binjai
78.191
42.120
120.311
Sumber: Indikator Ketenagakerjaan Kota Binjai, 2014
Sama seperti pada sektor formal, penduduk usia kerja umumnya bekerja pada sektor
informal juga lebih banyak bergerak di bidang jasa. Hal ini menunjukkan bahwa sektor jasa
sudah sedemikian banyak menyerap tenaga kerja di Kota Binjai. Lebih jelasnya dapat
dilihat pada gambar 3.
Dessy Eresina Pinem
51
JURNAL WILAYAH DAN LINGKUNGAN, 4 (1), 45-64
http://dx.doi.org/10.14710/jwl.4.1.45-64
Sumber: Indikator Ketenagakerjaan Kota Binjai, 2014
Gambar 3. Penduduk Berusia Lebih Dari 15 Tahun yang Bekerja Selama Seminggu Yang Lalu di
Kegiatan Informal Menurut Lapangan Pekerjaan Utama di Kota Binjai, 2014
Potensi Perindustrian Kota Binjai
Pada tahun 2011, terdapat 9 perusahaan industri dengan 122 tenaga kerja dan nilai
investasi sebesar Rp 811.000.000 di Kota Binjai. Dari data jumlah penerbitan tanda daftar
perusahaan di Kota Binjai, ada sebanyak 23 badan usaha berbentuk PT, 4 badan usaha
berbentuk Koperasi, 67 badan usaha berbentuk CV, serta 111 badan usaha berbentuk PO.
Tanda daftar perusahaan terbanyak berada di Binjai Kota sebanyak 62, kemudian Binjai
Utara sebanyak 41 buah. Gambar 4 menunjukkan jumlah penerbitan tanda daftar
perusahaan di Kota Binjai.
Sumber: Binjai dalam Angka, 2012
Gambar 4. Jumlah Penerbitan Tanda Daftar Perusahaan di Kota Binjai Tahun 2011
52
Menemukan Strategi Pengembangan Kawasan Industri Melalui Analisis Sektor Unggulan Kota Binjai
JURNAL WILAYAH DAN LINGKUNGAN, 4 (1), 45-64
http://dx.doi.org/10.14710/jwl.4.1.45-64
Jumlah penerbitan tanda daftar perusahaan terbanyak adalah di sektor perdagangan
sebanyak 110 buah. Gambar 5 menunjukkan jumlah penerbitan tanda daftar perusahaan di
Kota Binjai Tahun 2011.
Sumber: Binjai dalam Angka, 2012
Gambar 5. Jumlah Penerbitan Tanda Daftar Per Perusahaan di Kota Binjai Tahun 2011
Kota Binjai memiliki jumlah industri yang banyak terutama untuk industri rumah
tangga. Namun demikian, trennya menunjukkan tren penurunan yang tajam antara tahun
2013 hingga 2014. Jika dilihat dari jenis industrinya, jenis industri yang terbanyak di Kota
Binjai adalah industri makanan dan minuman dengan jumlah perusahaan sebanyak 7
perusahaan dan tenaga kerja sebanyak 98 orang. Selain itu ada industri barang-barang dari
logam, mesin dan perlengkapannya serta industri pengolahan lainnya dengan jumlah
masing-masing 1 perusahaan. Jumlah industri pada tahun 2012 dan 2013 tidak banyak
berubah. Namun jumlah industri mengalami penurunan pada tahun 2014. Penurunan
terbesar terjadi pada jumlah industri rumah tangga. Lebih jelasnya dapat dilihat pada
gambar 6.
Sumber: Statistik Daerah Binjai, 2015
Gambar 6. Jumlah industri di Kota Binjai Tahun 2012-2014
Dessy Eresina Pinem
53
JURNAL WILAYAH DAN LINGKUNGAN, 4 (1), 45-64
http://dx.doi.org/10.14710/jwl.4.1.45-64
Infrastruktur yang Mendukung Industri
Aktivitas industri di Kota Binjai telah didukung beberapa infrastruktur pendukung meliputi:
1. Adanya jalan nasional yang menghubungkan Aceh, Binjai dan Medan
2. Adanya kereta api yang menghubungkan Aceh, Binjai dan Medan
3. Sedang dibangunnya tol dari Binjai ke Medan sehingga pergerakan barang dan orang
dari Aceh ke Binjai atau ke Medan semakin cepat.
4. Adanya terminal tipe C
5. Adanya TPA
Lokasi infrastruktur pendukung aktivitas industri di Kota Binjai terlihat di gambar 7.
Sumber: RTRW Kota Binjai, 2011-2030
Gambar 7. Dukungan Kondisi Infrastruktur di Kota Binjai
Kedudukan Kota Binjai dalam Rencana Tata Ruang Nasional dan Rencana Tata Ruang Provinsi
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional (RTRWN) dijelaskan bahwa Kota Binjai termasuk dalam Kawasan
Metropolitan MEBIDANGRO (Medan-Binjai-Deli Serdang-Tanah Karo), dimana sektor
unggulannya adalah sektor-sektor industri, perkebunan, pariwisata, pertanian dan
perikanan.
Berdasarkan RTRW Propinsi (Perda Propinsi Sumatera Utara No 7 Tahun 2003),
pusat-pusat pertumbuhan Mebidang adalah:
Kota Binjai dan Lubuk Pakam sebagai
Major Growth Centers
Tanjung Morawa dan Pancur Batu sebagai
Minor Growth Centers
.
54
Menemukan Strategi Pengembangan Kawasan Industri Melalui Analisis Sektor Unggulan Kota Binjai
JURNAL WILAYAH DAN LINGKUNGAN, 4 (1), 45-64
http://dx.doi.org/10.14710/jwl.4.1.45-64
Pada Mebidang, juga sudah ditetapkan bahwa Kota Binjai sebagai kota satelit dari Kota
Medan dengan fungsi utama sebagai pusat perdagangan dan jasa, pusat kawasan industri,
pusat agrobisnis dan pusat permukiman. Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 8.
Sumber: RTRW Kota Binjai, 2011-2030
Gambar 8. Rencana Sistem Pusat Kegiatan Kota Inti-Kota Satelit
Binjai Utara Sebagai Kawasan Strategis Kota Binjai
Kawasan budidaya strategis di Kota Binjai yang perlu segera didorong
perkembangannya meliputi:
a. Kawasan Industri di Kecamatan Binjai Utara tepatnya di Kelurahan Cengkeh Turi dan
Jati Mulyo.
b. Kawasan perdagangan dan jasa di pusat kota, pusat BWK dan di koridor jalan-jalan
utama kota.
Pengembangan kawasan industri dan pergudangan ini merupakan pengakomodasian
terhadap pengembangan Metropolitan Mebidangro, dan sekaligus upaya untuk
mengarahkan perkembangan industri Kota Binjai yang lebih tertata sejak dini. Kawasan
industri dan pegudangan ini dikembangkan sebagai Kawasan Industri yang diarahkan
terutama untuk industri non polutif. Kawasan pusat kota yang direncanakan ini terletak
pada kawasan / lingkungan yang relatif telah terbangun, yang terdiri atas:
Kegiatan yang baru dikembangkan (seperti pertokoan, bank, kantor, dsb.), yang
bangunannya relatif baru;
Dessy Eresina Pinem
55
JURNAL WILAYAH DAN LINGKUNGAN, 4 (1), 45-64
http://dx.doi.org/10.14710/jwl.4.1.45-64
Kegiatan yang merupakan lanjutan sebelumnya (seperti toko, fasilitas pendidikan,
perumahan, dan lainnya) yang bangunannya relatif masih terpelihara;
Kegiatan yang telah menurun fungsi pelayanannya (eks toko-toko lama, eks
perumahan lama) dengan bangunan yang menurun kondisi atau penampilannya.
Kegiatan perdagangan koridor adalah kegiatan perdagangan dan jasa, selaras dengan
kecenderungan atau trend yang ada dewasa ini, khususnya di sepanjang jalan Amir
Hamzah dan jalan menuju Medan. Kendati demikian pada koridor ini masih terdapat juga
kegiatan yang bukan merupakan kegiatan perdagangan dan jasa, seperti perkantoran,
fasilitas sosial (rumah sakit), dan hunian.
Kawasan strategis lainnya adalah rencana pusat pemerintahan di Kota Binjai yang
diarahkan di Kawasan eks HGU Kebun Tebu PTPN II yaitu di sekitar Kecamatan Binjai
Timur Kelurahan Tenggu Rono meliputi area seluas 90,52 Ha. Selain itu, kawasan strategis
lainnya adalah kawasan strategis yang berkaitan dengan lingkungan yaitu:
a. Kawasan Pariwisata Alam Pantai SB.
b. Kawasan Rencana pengembangan
Bottanical Garden
/ hutan kota di sekitar kawasan
pusat pemerintahan dan di Kawasan Wisata pantai SB.
c. Kawasan rencana pengembangan waduk-waduk buatan yang menyebar di Kota
Binjai.
Seluruh kawasan strategis tersebut dapat dilihat pada gambar 9. Dari rencana kawasan
strategis tersebut, terlihat bahwa pembangunan kawasan industri di Kota Binjai sesuai
RTRW Kota Binjai 2011-2030 di lokasikan di Kelurahan Cengkeh Turi, Kecamatan Binjai
Utara.
Sumber: RTRW Kota Binjai, 2011-2030
Gambar 9. Rencana Kawasan Strategis Kota Binjai
56
Menemukan Strategi Pengembangan Kawasan Industri Melalui Analisis Sektor Unggulan Kota Binjai
JURNAL WILAYAH DAN LINGKUNGAN, 4 (1), 45-64
http://dx.doi.org/10.14710/jwl.4.1.45-64
Potensi Industri di Kecamatan Binjai Utara
Kawasan ini sudah lama ditetapkan sebagai kawasan industri. Sedikit demi sedikit
industri berkembang di kecamatan ini. Industri tersebut antara lain adalah industri logam
dasar dari besi dan baja, industri pembuatan makanan ringan, industri pembuatan kusen
pintu dan jendela, penggilingan jagung, dll. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Daftar Nama Perusahaan di Kecamatan Binjai Utara Tahun 2011-2013
Sumber: Pusat Pelayanan Satu Atap, 2013
Berdasarkan catatan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Kota Binjai, terdapat
17 perusahaan dan perdagangan di Binjai Utara yang sudah lulus ijin SPPL (Surat
Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup). Perusahaan
tersebut termasuk pengembang perumahan, rumah sakit, pergudangan, dan usaha dagang
berupa ruko.
Analisis
Analisis LQ (Location Quotient) PDRB Kota Binjai
Analisis LQ digunakan untuk melihat sektor-sektor di Kota Binjai yang memiliki
peran wilayah yang besar serta prospektif untuk dikembangkan. Penghitungan LQ ini
menggunakan data PDRB yang terdiri dari sembilan sektor/lapangan usaha berdasarkan
Harga Konstan yang dibandingkan dengan data PDRB Provinsi Sumatera Utara pada tahun
2010-2011. Tabel 4 menunjukkan hasil perhitungan LQ PDRB Kota Binjai.
NAMA USAHA
JENIS USAHA
NILLA SARI, UD
Pembuatan roti kering dan makanan ringan
PRIMA INDAH SANITON, PT
Pembuatan kloset, wastafel dan tempat
sabun porselin
BINTANG CENDRAWASIH/SELAMAT
Pembuatan makanan ringan
ALAM JAYA/SUDARMAN
Pembuatan kusen
PAK TUNG TUNG/AHO/GUNAWAN
Pembuatan bon-bon
LAPIGA MAKMUR JAYA, PT
Pengolahan bahan baku kayu masyarakat
GAHARU PUTRA BAJA MANDIRI, PT
Pembuatan tiang listrik besi baja
KARYA AGRO LESTARI, CV
Pengolahan minyak kelapa sawit
YUDIKA-DN, UD
Pembuatan makanan ringan
PUTRA DAMAI
Kilang padi
IQBAL
Pembuatan kusen pintu dan jendela
ALAM JAYA, UD
Pembuatan kusen pintu jendela, pintu dan
perabot rumah tangga
DUA PUTRA
Pembuatan makanan ringan
ALAM JAYA BARU, UD
Pembuatan kusen pintu, jendela, perabot
rumah tangga dan bahan bangunan
GAHARU PUTRA BAJA MANDIRI, PT
Industri logam dasar dari besi dan baja
SAHABAT MAJU
Penggilingan jagung
MAHKOTA FOOD (MF), UD
Industri air mineral dan minuman ringan
sirup
AMANDA
Pembuatan peti mati
SERASI
Pembuatan makanan ringan
Dessy Eresina Pinem
57
JURNAL WILAYAH DAN LINGKUNGAN, 4 (1), 45-64
http://dx.doi.org/10.14710/jwl.4.1.45-64
Tabel 4. Hasil Analisis LQ PDRB Kota Binjai Menurut Lapangan Usaha Tahun 2008-2011
No
Lapangan Usaha
2008
2009
2010
2011
Interpretasi
Berdasarkan
Hasil Tahun
2011
1
Pertanian, Peternakan, Kehutanan
Dan Perikanan / Agriculture,
Livestock, Forestry & Fishery
0,030
0,303
0,299
0,297
Sektor non basis
2
Pertambangan & Penggalian/ Mining
& Quarrying
5,766
6,090
5,818
5,636
Sektor basis
3
Industri Pengolahan/Manufacturing
Industry
0,956
0,964
0,968
0,100
Sektor non basis
4
Listrik, Gas & Air Bersih/ Electrity,
Gas & Water Supply
2
2
2
0.189
Sektor non basis
5
Konstruksi/Construction
1,287
1,313
1,358
1,376
Sektor basis
6
Perdagangan, Hotel Dan Restoran/
Trade, Hotel & Restaurant
0,928
0,902
0,885
0,850
Sektor non basis
7
Pengangkutan &
Komunikasi/Transport &
Communication
0,46
0,473
0,479
0,49
Sektor non basis
8
Keuangan, Real Estat & Jasa
Perusahaan/Finance, Real Estate
2,328
2,281
1,964
2,012
Sektor basis
9
Jasa-Jasa/Services
1,635
1,67
1,73
1,754
Sektor basis
Gambar 10. Gambaran LQ Kota Binjai
Berdasarkan analisis LQ, dapat dilihat bahwa sektor di Kota Binjai yang merupakan
sektor basis adalah sektor pertambangan dan penggalian, sektor konstruksi, sektor
keuangan dan jasa. Pada tabel 10 dapat dilihat bahwa sektor industri adalah sektor non
basis artinya selama ini sektor industri di Kota Binjai baru bisa memenuhi kebutuhan dalam
58
Menemukan Strategi Pengembangan Kawasan Industri Melalui Analisis Sektor Unggulan Kota Binjai
JURNAL WILAYAH DAN LINGKUNGAN, 4 (1), 45-64
http://dx.doi.org/10.14710/jwl.4.1.45-64
wilayah Kota Binjai saja dan belum bisa diekspor. Begitu pula sektor pertanian yang juga
merupakan sektor non basis.
Analisis Shift Share
Untuk analisis shift share, digunakan data PDRB Kota Binjai Atas Dasar Harga
Konstan 2000 Tahun 2008 dan 2011 dan PDRB Sumatera Utara Atas Dasar Harga Konstan
2000 Tahun 2008 dan 2011. Hasil analisis shift share yang dapat dilihat pada tabel 12. Hasil
analisis menunjukkan bahwa nilai keunggulan kompetitif yang bernilai positif di Kota Binjai
adalah sektor listrik, konstruksi, pengangkutan dan jasa-jasa. Hal ini berarti sektor-sektor ini
memiliki keunggulan komparatif atau siap bersaing dengan kabupaten/kota lain di
Sumatera Utara. Bila dilihat dari pergeserannya, sektor yang bergerak progresif di Kota
Binjai adalah sektor listrik, konstruksi; pengangkutan; keuangan dan jasa-jasa.
Tabel 5. Analisis Shift Share untuk Kota Binjai Tahun 2008 dan 2011
Lapangan Usaha
Komponen
Interpretasi
Pertumbuhan
Sumatera
Utara (Nij)
Bauran
Industri
(Mij)
Keunggulan
Kompetitif
(Cij)
Pertanian, Peternakan,
Kehutanan Dan Perikanan /
Agriculture, Livestock,
Forestry & Fishery
25.518
-4.066
-8.926
Tidak memiliki
daya saing
Tidak berkembang
Pertambangan & Penggalian/
Mining & Quarrying
23.843
-5.462
-15.864
Tidak memiliki
daya saing
Tidak berkembang
Industri
Pengolahan/Manufacturing
Industry
74.781
-38.442
-17.286
Tidak memiliki
daya saing
Tidak berkembang
Listrik, Gas & Air Bersih/
Electrity, Gas & Water Supply
4.828
0.793
1.706
Memiliki daya saing
Berkembang
Konstruksi/Construction
29.160
6.855
21.759
Memiliki daya saing
Berkembang
Perdagangan, Hotel Dan
Restoran/ Trade, Hotel &
Restaurant
58.264
7.369
-22.376
Tidak Memiliki
daya saing
Tidak Berkembang
Pengangkutan &
Komunikasi/Transport &
Communication
14.847
8.209
13.412
Memiliki daya saing
Berkembang
Keuangan, Real Estat & Jasa
Perusahaan/Finance, Real
Estate
55.836
42.855
-6.690
Tidak Memiliki
daya saing
Berkembang
Jasa-Jasa/Services
55.130
12.445
40.394
Memiliki daya saing
Berkembang
JUMLAH
342.206
30.555
6.130
Dari hasil analisis tersebut dapat dilihat bahwa sektor industri di Kota Binjai belum
siap bersaing dengan sektor industri di kabupaten /kota lain di Sumatera Utara dan belum
bergerak secara progresif. Sektor yang memiliki daya saing di Kota Binjai adalah sektor
listrik, gas dan air bersih; konstruksi; pengangkutan dan komunikasi; dan jasa-jasa. Hasil
Dessy Eresina Pinem
59
JURNAL WILAYAH DAN LINGKUNGAN, 4 (1), 45-64
http://dx.doi.org/10.14710/jwl.4.1.45-64
perhitungan LQ dan shift share menunjukkan bahwa sektor yang potensial dikembangkan
di Kota Binjai adalah sektor konstruksi, keuangan dan jasa-jasa (tabel 6).
Tabel 6. Sektor yang Potensial Dikembangkan di Kota Binjai
Lapangan Usaha
Laju Pertumbuhan
Potensial
dikembangkan
di Kota Binjai
LQ
Shift Share
Pertanian, Peternakan, Kehutanan Dan
Perikanan / Agriculture, Livestock,
Forestry & Fishery
Sektor non
basis
Tidak memiliki daya
saing
Tidak berkembang
-
Pertambangan & Penggalian/ Mining
& Quarrying
Sektor basis
Tidak memiliki daya
saing
Tidak berkembang
-
Industri Pengolahan/Manufacturing
Industry
Sektor non
basis
Tidak memiliki daya
saing
Tidak berkembang
-
Listrik, Gas & Air Bersih/ Electrity,
Gas & Water Supply
Sektor non
basis
Memiliki daya saing
Berkembang
-
Konstruksi/Construction
Sektor basis
Memiliki daya saing
Berkembang
Perdagangan, Hotel Dan Restoran/
Trade, Hotel & Restaurant
Sektor non
basis
Tidak Memiliki daya
saing
Tidak Berkembang
-
Pengangkutan &
Komunikasi/Transport &
Communication
Sektor non
basis
Memiliki daya saing
Berkembang
-
Keuangan, Real Estat & Jasa
Perusahaan/Finance, Real Estate
Sektor basis
Tidak Memiliki daya
saing
Berkembang
Jasa-Jasa/Services
Sektor basis
Memiliki daya saing
Berkembang
Analisis SWOT
Analisis SWOT digunakan untuk mengetahui strategi apa yang perlu dilakukan
menyikapi kebijakan pemerintah melalui RTRW yang menginginkan dua desa di
Kecamatan Binjai Utara menjadi kawasan industri. Strategi ini dibuat dengan cara
memperhitungkan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dari kondisi yang ada
terhadap rencana tersebut. Analisis SWOT membandingkan antara faktor eksternal
Peluang (
Opportunities
) dan Ancaman (
Threats
) dengan Faktor Internal Kekuatan
(
Strength
) dan kelemahan (
Weaknesses
). Matriks TOWS adalah alat lanjutan yg digunakan
utk mengembangkan 4 tipe pilihan strategi: SO, WO, ST dan WT. Kemungkinan strategi
ada 4 yaitu maju secara progresif, diversifikasi, mengubah strategi atau strategi bertahan.
Data untuk analisis SWOT didapat dari wawancara aparat setempat seperti Lurah,
Kepala Dinas Lingkungan, Dinas Pertanian, dll, dan survey lapangan. Dari hasil observasi
dan wawancara ditemukan kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman bagi
pengembangan Kecamatan Binjai Utara menjadi kawasan industri.
Kekuatan dari rencana pengembangan kawasan industri di Kecamatan Binjai Utara:
1. Sudah ada Perda yang menetapkan kawasan Binjai Utara sebagai Kawasan Industri
(Perda No 13 Tahun 2011).
60
Menemukan Strategi Pengembangan Kawasan Industri Melalui Analisis Sektor Unggulan Kota Binjai
JURNAL WILAYAH DAN LINGKUNGAN, 4 (1), 45-64
http://dx.doi.org/10.14710/jwl.4.1.45-64
2. Lurah di Kawasan Binjai Utara sangat mendukung kawasan ini menjadi kawasan
industri karena penyerapan tenaga kerja dan PAD.
3. Penduduk setempat bersedia bila kawasannya menjadi kawasan industri asalkan
limbahnya tidak mengganggu kehidupan masyarakar, seperti air sumur.
4. Sudah mulai ada industri skala menengah dan kecil yang diusahakan oleh penduduk
(sekitar 100 industri).
5. Sawah yang ada di Kecamatan Binjai Utara adalah sawah tadah hujan bukan sawah
beririgasi teknis sehingga bisa diubah peruntukannya.
6. Kota Binjai tidak jauh dari Medan (sekitar 1,5 jam perjalanan darat). Oleh sebab itu,
lokasi bisa disebut strategis karena dekat dengan pasar (Kota Medan) dan pelabuhan
Belawan.
Kelemahan dari rencana pengembangan kawasan industri di Kecamatan Binjai Utara:
1. Masih rendahnya tingkat pendidikan masyarakat setempat.
2. Masih kurangnya infrastruktur (drainase, jalan) di Kecamatan Binjai Utara.
3. Kawasan ini dilewati SUTET.
4. Tanah di kawasan ini belum dikuasai oleh pemerintah.
Peluang dari rencana pengembangan kawasan industri di Kecamatan Binjai Utara adalah
rencana dibukanya pintu tol ke arah Pelabuhan Belawan dimulai dari kecamatan Binjai
Utara sehingga pemasaran dan pembelian bahan baku bisa semakin luas. Terutama
menghubungkan Propinsi Aceh dengan Kota Medan dan Belawan. Peluang mendapatkan
bahan baku dari Aceh dan pemasaran ke Kota Medan, Aceh atau pelabuhan Belawan
semakin luas. Rencana ini sudah memasuki tahap AMDAL. Lebih jelasnya dapat dilihat
gambar 11 di bawah ini.
Sumber: Google Map, 2016
Gambar 11. Jalan Nasional yang Menghubungkan Banda Aceh dan Kota Medan
Ancaman dari rencana pengembangan kawasan industri di Kecamatan Binjai Utara:
1. Tanah sudah mulai dibeli oleh para calo tanah untuk mengambil keuntungan dari
rencana perubahan guna lahan dari pertanian ke industri.
Dessy Eresina Pinem
61
JURNAL WILAYAH DAN LINGKUNGAN, 4 (1), 45-64
http://dx.doi.org/10.14710/jwl.4.1.45-64
2. Kecamatan Binjai Utara adalah penghasil tanaman pangan terbesar di Kota Binjai.
Bila terjadi perubahan guna lahan, maka Binjai akan bergantung kepada pembelian
bahan pangan dari luar.
Tabel 7 menunjukkan hasil perhitungan bobot dan skor dari peluang, ancaman,
kekuatan dan kelemahan di atas.
Tabel 7. Perhitungan Bobot dan Skor SWOT
KEKUATAN
SKOR (1-10)
BOBOT (1-5)
TOTAL
Sudah ada Perda yang menetapkan kawasan Binjai
Utara sebagai Kawasan Industri (Perda No 13 Tahun
2011)
10
5
50
Lurah di Kawasan Binjai Utara sangat mendukung
kawasan ini menjadi kawasan industri karena
penyerapan tenaga kerja dan PAD.
7
4
28
Penduduk setempat bersedia bila kawasannya menjadi
kawasan industri asalkan limbahnya tidak mengganggu
kehidupan (misalnya air sumur, dll) mereka.
7
4
28
Sudah mulai ada industri skala menengah dan kecil
yang diusahakan oleh penduduk (sekitar 100 industri).
5
2
10
Sawah yang ada di Kecamatan Binjai Utara adalah
sawah tadah hujan.
8
3
24
Kota Binjai tidak jauh dari Medan (sekitar 1,5 jam
perjalanan darat). Oleh sebab itu, lokasi bisa disebut
strategis karena dekat dengan pasar (Kota Medan) atau
pelabuhan Belawan.
8
4
32
TOTAL
172
KELEMAHAN
SKOR (1-10)
BOBOT (1-5)
TOTAL
Masih rendahnya tingkat pendidikan masyarakat
setempat.
8
5
40
Masih kurangnya infrastruktur (drainase, jalan) di
Kecamatan ini.
8
5
40
Kawasan ini dilewati SUTET
8
5
40
Tanah di kawasan ini belum dikuasai oleh pemerintah.
5
3
15
TOTAL
135
KEKUATAN-KELEMAHAN (X)
37
PELUANG
SKOR (1-10)
BOBOT (1-5)
TOTAL
Rencana dibukanya pintu tol ke arah Belawan dimulai
dari kecamatan ini sehingga pemasaran dan pembelian
bahan baku bisa semakin luas. Rencana ini sudah
memasuki tahap AMDAL.
4
5
20
Peningkatan PAD Kota dari hasil industri
7
5
35
TOTAL
55
ANCAMAN
SKOR (1-10)
BOBOT (1-5)
TOTAL
Tanah sudah mulai dibeli oleh para calo tanah untuk
mengambil keuntungan dari rencana perubahan guna
lahan dari pertanian ke industri.
8
5
40
Kecamatan Binjai Utara adalah penghasil tanaman
pangan terbesar di Kota Binjai. Bila terjadi perubahan
guna lahan, maka Binjai akan bergantung kepada
pembelian bahan pangan dari luar.
10
5
50
TOTAL
90
PELUANG-ANCAMAN (Y)
-35
62
Menemukan Strategi Pengembangan Kawasan Industri Melalui Analisis Sektor Unggulan Kota Binjai
JURNAL WILAYAH DAN LINGKUNGAN, 4 (1), 45-64
http://dx.doi.org/10.14710/jwl.4.1.45-64
Dari analisis SWOT di atas, dapat dilihat bahwa posisi strategi berada di kuadran II
(37,-35), sehingga harus dilakukan diversifikasi strategi untuk pengembangan kawasan
industri di Kecamatan Binjai Utara. Diversifikasi strategi adalah merupakan strategi untuk
beralih ke industri yang berbeda atau menghasilan produk yang berbeda/bervariasi.
Peralihan ke industri yang lain bisa pada indutri yang menghasilkan produk yang terkait
dengan produk lama (produk saat ini) atau menghasilkan produk yang tidak terkait dengan
produk sebelumnya (produk saat ini).
Diversifikasi strategi yang bisa dilakukan di Binjai Utara adalah industri yang
dikembangkan di kawasan industri Binjai Utara adalah:
1. Industri pengolahan hasil pertanian yang memang banyak dihasilkan di Binjai Utara
seperti industri pengolahan padi sawah, jagung, kacang tanah, kacang hijau, kacang
panjang, dan lainnya. Walau pertanian bukan sektor basis, tidak kompetitif, namun
hasil pertanian paling banyak dihasilkan di kecamatan ini dibandingkan kecamatan
lainnya.
2. Industri yang mendukung potensi daerah Kota Binjai seperti industri pengolahan
hasil pertambangan dan penggalian, dan industri yang mendukung sektor konstruksi,
misalnya industri batako, industri kusen, industri bahan bangunan, dan lainnya.
Posisi kuadran yang menunjukkan rencana pengembangan kawasan industri Binjai Utara
tergambarkan di gambar 12.
: Posisi hasil analisis SWOT
Gambar 12. Posisi Kuadran Rencana Pengembangan Kawasan Industri Binjai Utara
Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian ini adalah:
1. Berdasarkan analisis LQ, dapat dilihat bahwa sektor di Kota Binjai yang hasilnya
dapat dijual ke luar daerah adalah sektor pertambangan dan penggalian, sektor
konstruksi, sektor keuangan dan jasa. Sektor pertambangan tentu saja dihasilkan dari
pertambangan gas yang dikelola oleh PT Pertamina. Dari analisis LQ dapat dilihat
bawah hasil dari sektor industri pengolahan belum bisa diekspor ke luar Kota Binjai.
Dessy Eresina Pinem
63
JURNAL WILAYAH DAN LINGKUNGAN, 4 (1), 45-64
http://dx.doi.org/10.14710/jwl.4.1.45-64
Oleh sebab itu disimpulkan bahwa Kota Binjai belum siap bila mengembangkan
sektor industri
high tech
seperti yang dicanangkan di RTRW.
2. Namun, sesuai dengan kebijakan RTRW, sektor jasa dapat dikembangkan di Kota
Binjai karena jasa adalah salah satu sektor unggulan di Kota Binjai, pekerja di sektor
fomal banyak bekerja di bidang jasa kemasyarakatan dan perdagangan, pekerja di
sektor informal juga banyak bekerja di bidang jasa.
3. Hasil analisis shift share menunjukkan bahwa nilai keunggulan kompetitif yang
bernilai positif di Kota Binjai adalah sektor listrik, konstruksi, pengangkutan dan jasa-
jasa. Hal ini berarti sektor-sektor ini memiliki keunggulan komparatif atau siap
bersaing dengan kabupaten atau kota lain di Sumatera Utara. Bila dilihat dari
pergeserannya, sektor yang bergerak progresif di Kota Binjai adalah sektor listrik,
konstruksi; pengangkutan; keuangan dan jasa-jasa. Dari analisis ini dapat dilihat
bahwa sektor industri di Kota Binjai belum siap bersaing dengan sektor industri di
kabupaten atau kota lain di Sumatera Utara dan belum bergerak secara progresif.
Sektor pengangkutan akan semakin maju dengan adanya pembangunan jalan tol
Medan-Binjai yang pintu masuk dan keluarnya berada di Kecamatan Binjai Utara.
4. Dari analisis SWOT dapat dilihat bahwa perlu dilakukan diversifikasi strategi untuk
mengembangkan kawasan industri Binjai Utara. Apabila tetap ingin mengembangkan
kawasan industri, maka industri yang dikembangkan adalah:
a. Industri pengolahan hasil pertanian karena pertanian banyak dihasilkan dari
Kecamatan Binjai Utara (walau hanya pertanian tadah hujan, namun memberi
hasil yang besar)
b. Indutri pengolahan gas bumi
c. Industri bahan bangunan untuk mendukung sektor konstruksi
d. Industri alat-alat transportasi untuk mendukung sektor pengangkutan
e. Industri jasa transit untuk memanfaatkan posisi strategis Kecamatan Binjai Utara
terhadap Aceh dan Kota Medan (khususnya pelabuhan Belawan)
5. Industri pergudangan terpadu semula diharapkan bisa dikembangkan untuk
memanfaatkan posisi strategis Kecamatan Binjai Utara yang akan menjadi pintu
masuk tol bagi kendaraan dari Aceh menuju Pelabuhan Belawan dan Medan, dan
sebaliknya. Namun cikal bakal atau potensi pergudangan terpadu ini sedikit sekali di
Kecamatan Binjai Utara. Industri jasa yang tepat dikembangkan untuk memanfaatkan
potensi strategis ini adalah pengembangan kawasan transit seperti pengembangan
rest area, parkiran kendaraan, hotel atau tempat menginap sementara, terminal
tempat berganti moda, pusat perbelanjaan, pelayanan perbankan, dan lainnya.
Daftar Pustaka
Adisasmita, R. (2014).
Pertumbuhan wilayah dan wilayah pertumbuhan
. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Amalia, F. (2012). Penentuan sektor unggulan perekonomian wilayah Kabupaten Bone Bolango dengan
pendekatan sektor pembentuk PDRB.
Jurnal Etikonomi
,
11
(2), 196-207.
Arsyad, L. (2005).
Pengantar perencanaan dan pembangunan ekonomi daerah
(Edisi Kedua). Yogyakarta:
BPFE.
Badan Pusat Statistik. (2015).
Statistik daerah Binjai Barat tahun 2015
. Kota Binjai: BPS Kota Binjai.
. (2015).
Statistik daerah Binjai Kota tahun 2015
. Kota Binjai: BPS Kota Binjai.
. (2015).
Statistik daerah Binjai Selatan tahun 2015
. Kota Binjai: BPS Kota Binjai.
. (2015).
Statistik daerah Binjai Timur tahun 2015
. Kota Binjai: BPS Kota Binjai.
. (2015).
Statistik daerah Binjai Utara tahun 2015
. Kota Binjai: BPS Kota Binjai.
. (2014).
Indikator ketenagakerjaan Kota Binjai 2014
. Kota Binjai: BPS Kota Binjai.
64
Menemukan Strategi Pengembangan Kawasan Industri Melalui Analisis Sektor Unggulan Kota Binjai
JURNAL WILAYAH DAN LINGKUNGAN, 4 (1), 45-64
http://dx.doi.org/10.14710/jwl.4.1.45-64
Fattah, S. & Rahman, A. (2013). Analysis of regional economic development in the regency/ municipality at
South Sulawesi Province in Indonesia.
Journal of Economics and Sustainable Development, 4
(1), 1-9.
Klosterman, R. E. (!990).
Community analysis and planning techniques.
USA: Rowman & Littlefield Publishers,
Inc.
Kuncoro, M. (2011).
Perencanaan daerah: Bagaimana membangun ekonomi lokal, kota dan kawasan
. Jakarta:
Salemba Empat.
Pemerintah Kota Binjai. (2011).
Peraturan Daerah Kota Binjai
Nomor 12 Tahun 2011 tentang Rencana Tata
Ruang
Wilayah
Kota Binjai Tahun 2011-2030
. Kota Binjai: Pemerintah Kota Binjai.
Rangkuti, F. (2005).
Analisis SWOT teknik membedah kasus bisnis
. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka.
Titisari, K. H. (2010). Identifikasi potensi ekonomi daerah Boyolali, Karanganyar dan Sragen.
Jurnal Ilimiah
Orasi Bisnis
,
4
, 9-27.
Utomo, S. H. (2011). Analisis sektor unggulan perekonomian daerah (Studi pada komoditi unggulan di
Kecamatan Bumiaji, Kotamadya Batu.
Jurnal Aplikasi Manajemen
,
9
(2), 394-412.
Widodo, T. (2006)
. Perencanaan pembangunan: Aplikasi komputer
. Yogyakarta: UPP UMP YKPN.
... Pembangunan daerah sebagai proses mengarahkan seluruh potensi wilayah dimanfaatkan secara terpadu guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan menanggulangi daerah tertinggal. Industri makin penting perannya dan patut untuk dijadikan penopang utama ekonomi nasional (Pinem, 2016). Penentuan pusat pertumbuhan ekonomi suatu daerah menjadi topik yang perlu dikaji dan dipraktikkan guna mendorong pembangunan ekonomi daerah. ...
Article
Full-text available
Penentuan pusat pertumbuhan ekonomi di suatu daerah merupakan topik yang perlu dikaji dan dipraktikkan untuk mendorong pembangunan ekonomi daerah. Pusat pertumbuhan, terintegrasi dengan sektor industri secara makro. Metode untuk menentukan pusat pertumbuhan industri meliputi: teknik analisis kebutuhan teknologi, analisis kesenjangan pencapaian dan target, penyusunan strategi untuk memenuhi kebutuhan dan pernyataan ketidakpastian yang akan datang. Hasil analisis menempatkan Bengkalis sebagai sentra produksi dan pertumbuhan industri di pesisir timur Riau bagian tengah. Kawasan Siak Kecil dan Bukit Batu menjadi pusat pertumbuhan industri untuk menunjang kegiatan di Dumai. Akses jalan dari kecamatan lain ke Buruk Bakul ditingkatkan untuk meningkatkan aksesibilitas. Pelabuhan di Buruk Bakul akan dibangun menjadi feeder port untuk pengiriman produk dari kawasan industri. Pusat pertumbuhan industri akan meningkatkan kualitas masyarakat lokal dan memastikan kondisi kehidupan yang berkelanjutan. Pengelompokan industri dapat meningkatkan pemanfaatan potensi pembangunan dan integrasi masyarakat lokal. Oleh karena itu, pusat pertumbuhan industri mendukung pengembangan modal sosial daerah dan kualitas hidup. Implementasi pusat-pusat pertumbuhan, melengkapi kesenjangan antara kebijakan pemerintah pusat dan provinsi serta masyarakat
... Location Quotient cukup mudah (Guimarães, Figueiredo, & Woodward, 2009) dan telah banyak dilakukan. Beberapa peneliti fokus pada penggunaan metode ekonomi wilayah dengan menggunakan batasan wilayah administratif baik pada skala nasional, provinsi, kabupaten dan kecamatan (Bangun, 2018;Billings & Johnson, 2012;Darwin, 2017;Erna, Harisudin, & Rahayu, 2017;Faijah & Wahbi, 2017;Farida, 2017;Fikri & Fafurida, 2018;Hadi, Suciati, & Asnawi, 2018;Ibrahim, 2018;Iyan, 2014;Listyana, 2016;Mustofa & Haryati, 2018;Nindhitya, 2013;Ningrum, 2017;Nuraini & Setiartiti, 2017;Pinem, 2016;Riyardi, 2013;Rustiadi, 2018;Sari, 2010;Setianto & Susilowati, 2014;Sudarsono, Fitriadi, & Nurjanana, 2018;Suhartono, 2011;Susanto, 2014;Kesuma & Utama, 2015). Namun, dari penelitian tersebut, hampir tidak ada yang menggunakan analisis ekonomi wilayah pada batasan alami suatu wilayah misalnya daerah tangkapan air atau daerah aliran sungai, kecuali pada penelitian Cahyono & Wijaya (2014). ...
Article
Full-text available
Rawa Pening Lake is one of the priority lakes facing severe eutrophication and sedimentation problems. Agriculture is one of the problems in Rawa Pening Lake, even though community welfare is the government's policies. For this reason, the development of the economic sector in Rawa Pening catchment area must have advantages, yet information on this is still neglected and limited. The study aims to analyze the leading economic sectors in the Rawa Pening catchment area. The study used the Klassen Typology method to determine the pattern and structure of the economy and the Location Quotient method in determining the economic sector that has a comparative advantage in each sub-district and analysis of sectoral contributions. The data used is secondary data and field observations. The results showed that Bawen Subdistrict was a developed but depressed area, relying on the manufacturing industry sector. Rapidly developing districs (Tuntang, Jambu, Sumowono, and Ambarawa) rely on all economic sectors. The lagging districts (Getasan and Banyubiru) relly on the primary sector. Leading sectors of each district differ depending on resources and comparative advantage. Leading economic sector contribute relatively significantly to economic development in the lake Rawa Pening catchment. The development of the economic sector will be better directed to leading economic sector so that it can attract sector that are not base, especially in the limited resources and allocation of development budgets. In addition, Location Quotient analysis can be used for analysis of areas with natural boundaries such as catchments or watersheds.
... Hal ini sejalan dengan sektor industri yang berpotensi menciptakan pertumbuhan ekonomi di sebuah kawasan. Hal ini disebabkan bahwa sektor industri layak dikembangkan menjadi tulang punggung perekonomian (Pinem, 2016). Selanjutnya, konsekuensi logis dari klaster industri adalah pertumbuhan daerah yang memperbesar penyerapan tenaga kerja dan investasi (Hunter & Saldana, 2013). ...
Article
Full-text available
Pengembangan wilayah di Indonesia mengalami kemajuanpesat seiring dengan kebijakan pemerintah pusat dalam melakukan pemerataan pembangunan.Fenomena global dalam rangka mendorong pemerataan pengembangan wilayah, setiap negara berinisiatif untuk mengembangkan kebijakan klaster industri.studi ini bertujuan untuk mengkaji implikasi penetapan wilayah pusat pertumbuhan industri terhadap perubahan penggunaan lahan. Keluaran dari studi ini diharapkan tersajinya seberapa besar implikasi tersebut terhadap perubahan luas penggunaan lahan dan konversi lahan yang terjadi.Studi ini berlokasi di Kabupaten Majalengka sebagai salah satu wilayah pusat pertumbuhan industri. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah Metode LULC (Land Use Land Changes)dan Metode Overlay (Georeferencing). Hasil dari studi ini yaitu penetapan wilayah pusat pertumbuhan industri berimplikasi terhadap perubahan penggunaan lahan. Implikasi tersebut berupa konversi lahan yang cukup besar. Implikasi ini terjadi pada lokasi yang ditetapkan sebagai wilayah pusat pertumbuhan industri dan sekitar lokasi tersebut. Selain itu, implikasi dari penetapan wilayah pusat pertumbuhan industri yaitu berupa ekspansi lahan ke sekitar wilayah industri.
Article
Full-text available
The implementation of regional autonomy requires local governments explore the economic potentialexisting in the region to be able to complete with other regions. One of the implications is of centralgovernment being reduced in managing development. Therefore, local revenues have to be found, sothat development can be continously financed. One of the strategies that have to be done by the localgovernment is to stimulate economic sectors, that are potential to develop and able to complete withother regions in Central Java, as source of local development funding. This research will analyze theeconomic potential of the region Boyolali, Karanganyar and Sragen with an analysis of internal andexternal potential. From the analysis of economic sectors that have the potential competitivenesscomparative and competitive superior to the growth of economic activity total for the three areas isagriculture.Keywords: GDP, Sector, Internal Potential, External Potential
Article
Economic growth and its process are the main condition for the sustainability of the regional economic development. Because of the continuing population growth means economic needs also increase so that additional revenue required each year. This research is focused to determine the regional leading sector of Bone Bolango as the information and considerations in planning economic development. Location Quotient (LQ) and Shift Share are tools of analysis. Location Quotient analysis indicates agriculture, manufacture, finance, leasing and corporate services are base sectors in the Bone Bolango district. Shift Share analysis indicates that the competitive sectors are finance, leasing and corporate services. The results was indicate that the leading sector with the criteria developed, base, and competitive is finance and services sector DOI: 10.15408/etk.v11i2.1893
Perencanaan daerah: Bagaimana membangun ekonomi lokal, kota dan kawasan
  • M Kuncoro
Kuncoro, M. (2011). Perencanaan daerah: Bagaimana membangun ekonomi lokal, kota dan kawasan. Jakarta: Salemba Empat.
Community analysis and planning techniques
  • R E Klosterman
Klosterman, R. E. (!990). Community analysis and planning techniques. USA: Rowman & Littlefield Publishers, Inc.
Analisis sektor unggulan perekonomian daerah
  • S H Utomo
  • Batu
Utomo, S. H. (2011). Analisis sektor unggulan perekonomian daerah (Studi pada komoditi unggulan di Kecamatan Bumiaji, Kotamadya Batu. Jurnal Aplikasi Manajemen, 9(2), 394-412.
Perencanaan pembangunan: Aplikasi komputer
  • T Widodo
Widodo, T. (2006). Perencanaan pembangunan: Aplikasi komputer. Yogyakarta: UPP UMP YKPN.
Analysis of regional economic development in the regency/ municipality at South Sulawesi Province in Indonesia
  • S Fattah
  • A Rahman
Fattah, S. & Rahman, A. (2013). Analysis of regional economic development in the regency/ municipality at South Sulawesi Province in Indonesia. Journal of Economics and Sustainable Development, 4(1), 1-9.
Analisis SWOT teknik membedah kasus bisnis
  • F Rangkuti
Rangkuti, F. (2005). Analisis SWOT teknik membedah kasus bisnis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka.
Pertumbuhan wilayah dan wilayah pertumbuhan
  • R Adisasmita
Adisasmita, R. (2014). Pertumbuhan wilayah dan wilayah pertumbuhan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Pengantar perencanaan dan pembangunan ekonomi daerah (Edisi Kedua)
  • L Arsyad
Arsyad, L. (2005). Pengantar perencanaan dan pembangunan ekonomi daerah (Edisi Kedua). Yogyakarta: BPFE.