ArticlePDF Available

Intercultural Reception Pada Perilaku Bisnis Antar Etnik Pedagang di Lingkungan Pasar Tradisional

Authors:

Abstract

Abstrak Intensitas komunikasi dalam konteks antarpribadi dan kelompok semakin penting untuk ditingkatkan dalam rangka mencapai stabilitas dan keberlangsungan hidup dalam masyarakat yang multietnik. Di sinilah peran terbesar dipikul oleh komunitas etnik mayoritas. Interaksi sosial yang arahnya membangun kesadaran untuk membuka diri terhadap realitas sosial yang ada, akan dapat meningkatkan keterlibatan dalam dialog sosial yang murni, dan secara konstan menyediakan waktu untuk menanggapi tuntutan-tuntutan baru yang berasal dari situasi yang berkembang. Lebih lanjut kebiasaan baru tersebut, akan menjadi transformasi sosial di dalam aspek struktural, sikap dan perilaku nyata dari anggota masyarakat. Sebagai anggota masyarakat, keberadaan pedagang di pasar tradisional membawa kemanfaatan dalam upaya mencukupi kebutuhan masyarakat. Intercultural reception menjadi acuan untuk mengembangkan potensi yang ada di lingkungan pasar tradisional, khususnya dalam memoles proses interaksi dengan pihak-pihak yang memiliki keterlibatan tinggi dengan pasar tradisional. Proses komunikasi yang melibatkan berbagai peran di pasar tradisional akan membawa pada bentuk komunikasi yang efektif, sebagai cermin bagi perilaku komunikasi yang diwujudkan dalam interaksi di lingkungan pasar tradisional. Kata Kunci: Intercultural reception, perilaku komunikasi pedagang, pasar tradisional
1
INTERCULTURAL RECEPTION PADA PERILAKU KOMUNIKASI
ANTARETNIK PEDAGANG DI LINGKUNGAN PASAR TRADISIONAL
Dodot Sapto Adi
Universitas Merdeka Malang
dodotrebelian@yahoo.com
Abstrak
Intensitas komunikasi dalam konteks antarpribadi dan kelompok semakin
penting untuk ditingkatkan dalam rangka mencapai stabilitas dan keberlangsungan
hidup dalam masyarakat yang multietnik. Di sinilah peran terbesar dipikul oleh
komunitas etnik mayoritas. Interaksi sosial yang arahnya membangun kesadaran
untuk membuka diri terhadap realitas sosial yang ada, akan dapat meningkatkan
keterlibatan dalam dialog sosial yang murni, dan secara konstan menyediakan waktu
untuk menanggapi tuntutan-tuntutan baru yang berasal dari situasi yang berkembang.
Lebih lanjut kebiasaan baru tersebut, akan menjadi transformasi sosial di dalam
aspek struktural, sikap dan perilaku nyata dari anggota masyarakat.
Sebagai anggota masyarakat, keberadaan pedagang di pasar tradisional
membawa kemanfaatan dalam upaya mencukupi kebutuhan masyarakat.
Intercultural reception menjadi acuan untuk mengembangkan potensi yang ada di
lingkungan pasar tradisional, khususnya dalam memoles proses interaksi dengan
pihak-pihak yang memiliki keterlibatan tinggi dengan pasar tradisional. Proses
komunikasi yang melibatkan berbagai peran di pasar tradisional akan membawa
pada bentuk komunikasi yang efektif, sebagai cermin bagi perilaku komunikasi yang
diwujudkan dalam interaksi di lingkungan pasar tradisional.
Kata Kunci: Intercultural reception, perilaku komunikasi pedagang, pasar tradisional
2
Pendahuluan
Perkembangan suatu daerah dalam berbagai aspek kehidupan, salah satu tolak
ukurnya adalah ditentukan oleh aspek sosial-ekonominya. Bahkan nilai-nilai keunggulan
dari paradigma model pembangunan yang dilaksanakan di berbagai daerah, adalah
berdasarkan kemampuannya untuk mengelola sumber-sumber daya pembangunan yang
bertumpu pada kemandiriannya. Tampak sekali bahwa keberdayaan di sektor ekonomi
masih diposisikan sebagai panglima bagi sektor-sektor kehidupan lainnya dalam rangka
memenuhi harapan kesejahteraan masyarakatnya. Salah satu aspek penting dalam proses
pembangunan terlihat nyata pada keberhasilan Indonesia sebagai Negara pemersatu multi
etnik.
Beberapa dekade yang lalu, jumlah pasar modern seperti minimarket, supermarket
dan hypermarket masih bisa dihitung dengan jari. Di kota Malang sendiri terlihat bahwa
keberadaan pasar modern mengalami perkembangan yang pesat. Bagi masyarakat yang
tinggal diperkotaan, tidak jauh dari pemukiman, pasti ada minimarket, jumlahnya juga
bisa lebih dari satu. Jika berbelanja dalam skala besar, masyarakat cenderung mendatangi
pasar modern ataupun pusat grosir. Selain tempatnya lebih nyaman, harganya bersaing
dan jenis barangnya beragam. Kondisi ini bisa berdampak pada rasa enggan yang
hinggap di masyarakat untuk datang ke pasar tradisional. Berbagai alasan bisa muncul,
mulai dari bau, kotor, becek, malas tawar menawar hingga faktor keamanan. Padahal jika
dilihat, ada sisi positif dari pasar tradisional, dimana terjadi kontak sosial saat tawar
menawar antara pedagang dan pembeli, serta ada interkasi secara personal. Interaksi
merupakan suatu hubungan antara dua orang atau lebih atas dasar adanya aksi dan reaksi
(Sitompul, 2009:27).
3
Intercultural reception merupakan perspektif baru dalam kajian komunikasi
antarbudaya. Sebagai respon terhadap dinamika komunikasi yang memiliki kontribusi
besar dalam mengkaji perilaku masyarakat antaretnik. Intercultural reception merujuk
pada sebuah komparasi wacana khalayak yang dilihat sebagai interpretif community
yang selalu aktif dalam mempersepsi pesan dan memproduksi makna. Reception
menempatkan masyarakat tidak memiliki prejudice etnik, namun memiliki kebebasan
dalam berperilaku tertentu, sehingga dapat memaknai berbagai aktivitas yang dilakukan
oleh diri sendiri maupun orang lain yang memiliki perbedaan etnik.
Kemajemukan etnik dianggap sebagai persoalan yang tampak terutama saat
meletus konflik kepentingan antara Negara dan komunitas berbasis etnik (Salim, 2006:1).
Harus diakui bahwa Indonesia merupakan sebuah konsep yang terdiri dari keberagaman
etnik. Masing-masing etnik mengembangkan sifat komunalisme secara otonom. Masing-
masing etnis kemudian terlibat dalam pola interaksi yang intensif yang menghasilkan tata
pergaulan masyarakat yang beragam yang disebut hetero cultural society (Salim,
2006:3). Setiap kelompok etnis atau komunitas menempati sebuah wilayah yang menjadi
tempat hidupnya, yang secara tradisional diterima dan diakui kelompok etnis lain.
Perubahan lingkungan hidup khususnya perkotaan adalah sebagai akibat dari
mobilitas dan interaksi sosial antar suku bangsa. Hal ini akan mendorong perubahan
kebudayaan yang ada sebagai konsekwensi dari proses adaptasinya terhadap lingkungan
hidup setempat, serta sekaligus menjawab tantangan dalam proses kehidupan. Seringkali
dibicarakan bahwa inti dari lingkungan manusia adalah berbicara tentang macam-macam
kebudayaan dan perkembangan yang ada. Hakekatnya kebudayaan merupakan proses
adaptasi manusia terhadap lingkungan. Jika lingkungan berubah pada tahapan tertentu,
4
maka kebudayaan juga akan berubah. Kebudayaan bukanlah sekedar rangkaian peristiwa,
tetapi merupakan bentuk sadar terhadap masalah dan tantangan jaman.
Pada dasarnya manusia hidup untuk mewejudkan kebutuhan dalam rangka
memperoleh kemanfaatan, kehormatan, keamanan dan harga diri. Untuk itulah manusia
dalam lingkungannya selalu berusaha memenuhi kebutuhannya dengan segala cara dan
dengan kemampuannya. Jika terjadi kesenjangan sosial pada hubungan sosial diantara
etnik, di mana masing-masing mencari metode yang dianggap memadai untuk
menghindari konflik sosial yang setiap saat dapat terjadi di lingkungan sosialnya. Masih
dapat diusahakan untuk mencari kesamaan-kesamaan nilai-nilai sosial dan budaya yang
dapat dijadikan materi dasar guna mencapai terwujudnya integrasi diantara etnik yang
ada.
Posisi masyarakat dalam kehidupan sosial ekonomi, budaya maupun politik masih
menyimpan sejumlah persoalan dalam hubungan antaretnik. Keberadaan masyarakat
pendatang yang berakar pada budaya etnisitas masing-masing, menjadi persoalan yang
terus-menerus mengemuka dalam proses interaksi, baik secara terbuka maupun secara
tersembunyi. Jaringan sosial pada akhirnya menentukan gambaran pada suatu wilayah
yang dimungkinkan memunculkan dominasi tertentu. Jaringan mencoba melihat
hubungan antarindividu yang memiliki makna subjektif dikaitkan dengan ikatan (Damsar,
2011:158).
Memperhatikan uraian tersebut, bahwa pada hakekatnya setiap sudut ruang kota
(space urban) selalu membawa situasi yang tidak jauh berbeda permasalahannya.
Demikian pula pada pasar (market of space urban) tidak hanya dapat dilihat sebagai
tempat berlangsungnya transaksi ekonomi saja, tetapi juga merupakan tempat
5
berlangsungnya proses sosial lainnya. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh
Leksono (2006:ix) bahwa pasar dapat dipandang dengan cara yang berbeda. Dari sudut
pandang teori ekonomi, pasar merupakan tempat dimana transaksi jual beli
diselenggarakan. Sedangkan dari ekonomi sosiologi, pasar tidak bisa dipisahkan dari
ikatan sosial para pelakunya.
Alasan rasional yang dapat dikemukakan, bahwa dinamika aktivitas ekonomi yang
terjadi di kota merupakan indikator untuk memahami karakter individu dan lingkungan,
yaitu melalui penggalian peran terbesarnya untuk menopang peningkatan pengembangan
industri dan perdagangan. Bahkan budaya antara masyarakat yang berbeda etnik dalam
kadar yang bervariasi, antara lain disebabkan komunitas multi etnik mempunyai
anggapan bahwa kebijaksanaan hanya dapat dicapai melalui sikap hidup yang didasarkan
atas aturan-aturan moral (Hariyono, 1993).
Upaya manusia untuk memenuhi kebutuhannya sudah berlangsung sejak manusia
itu ada. Salah satu kegiatan manusia dalam usaha memenuhi kebutuhan tersebut adalah
memerlukan adanya pasar sebagai sarana pendukungnya. Pasar merupakan kegiatan
ekonomi yang termasuk salah satu perwujudan adaptasi manusia terhadap lingkungannya.
Hal ini didasari oleh faktor perkembangan ekonomi yang pada awalnya hanya bersumber
pada masalah untuk memenuhi kebutuhan hidup (kebutuhan pokok). Manusia sebagai
makhluk sosial dalam perkembangannya juga menghadapi kebutuhan sosial untuk
mencapai kepuasan atas kekuasaan, kekayaan dan martabat.
Pasar adalah tempat dimana terjadi interaksi antara penjual dan pembeli. Pasar di
dalamnya terdapat tiga unsur, yaitu: penjual, pembeli dan barang atau jasa yang
keberadaannya tidak dapat dipisahkan. Pertemuan antara penjual dan pembeli
6
menimbulkan transaksi jual-beli, akan tetapi bukan berarti bahwa setiap orang yang
masuk ke pasar akan membeli barang, ada yang datang ke pasar hanya sekedar bermain
saja atau ingin berjumpa dengan seseorang guna mendapatkan informasi tentang sesuatu.
Pasar tidak dapat hanya dipandang sebagai tempat untuk aktifitas perdagangan saja,
melainkan mengandung unsur-unsur lain yang hanya dapat dijelaskan dengan pendekatan
proses sosial. Pasar adalah suatu institusi sosial ekonomi terpenting dan menjadi bagian
dari masyarakat untuk masuk dalam proses sosial, budaya, politik dan lain-lainnya
(Belshaw, 199:10).
Pasar selain mempunyai peranan dalam aktivitas ekonomi ternyata juga
mempunyai peranan dalam aktivitas sosial. Perannya sebagai tempat melakukan aktivitas
sosial, pasar tradisional terlihat sebagai tempat interaksi, dan komunikasi. Pasar
tradisional selain sebagai sarana jual-beli juga merupakan tempat bertemunya warga
masyarakat dari berbagai kalangan, suku, dan budaya. Pasar tradisional juga mempunyai
peranan dalam kegiatan sosial yang menghubungkan antar individu dalam struktur
masyarakat. Aktivitas sosial yang mengedepankan keterikatan antara pihak-pihak yang
berinteraksi, menjadi satu hal penting dalam mewujudkan solidaritas yang akan
mengemuka dalam setiap proses yang ada. Kedekatan yang dibangun tidak semata-mata
atas dasar bahwa seseorang memulai komunikasi hanya untuk sekedar mencapai sebuah
tujuan yang direncanakan, tetapi juga atas dasar bahwa orang lain juga akan memberikan
respon dengan berbagai dinamikanya. Kemurnian dalam proses interaksi tersebut menjadi
penting untuk menumbuhkan mutual understanding.
Kemampuan dalam menemukan kebersamaan makna, tentu juga menjadi penting
ketika dihadapkan dengan etnisitas yang ada. Tidak menutup kemungkinan bahwa
7
karakter yang dipertemukan akan memunculkan keunikan dalam berjalannya komunikasi,
khususnya pada tatanan interpersonal. Jika dikaitkan dengan perilaku komunikasi, maka
yang terlihat adalah kepribadian yang telah terbentuk tidak dengan mudah tergantikan,
tetapi akan semakin memberikan warna tersendiri. Kemampuan menggabungkan
keunikan masing-masing pelaku komunikasi menunjukkan bahwa kompleksitas
karakteristik pelaku menjadi catatan penting bagi berlangsungnya komunikasi efektif.
Fenomena pasar tradisional tidak dapat dikatakan sebagai hal yang sederhana dan
tidak mengandung makna yang kompleks. Karakteristik masyarakat yang heterogen dari
sisi suku, agama, dan ras merupakan realitas dari panjangnya proses untuk menemukan
kesepakatan. Pasar pada prinsipnya adalah tempat dimana para penjual dan pembeli
bertemu. Tetapi apabila pasar telah terselenggara dalam arti para pembeli dan penjual
sudah bertemu serta barang-barang kebutuhan sudah disebarluaskan, maka pasar
memperlihatkan peranannya bukan hanya sebagai pusat kegiatan ekonomi tetapi juga
sebagai pusat kebudayaan.
Apabila dipandang dari sudut sosial, pasar tradisional dimaknai sebagai wadah
bertemunya masyarakat yang memiliki budaya heterogen, yang kemudian dipertemukan
oleh kepentingan ekonomi. dengan adanya kondisi ini, akan mendorong terbentuknya
pola komunikasi yang dipersepsikan oleh masyarakat dan diwujudkan melalui proses
interaksi secara timbal balik, baik dalam bentuk hubungan antara individu dan individu,
individu dan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok yang berada dalam satu
lingkungan pasar maupun dari tempat lain. Urgensi pentingnya bahwa proses tersebut
tidak terlepas dari berbagai kepentingan yang bisa dipersatukan dengan berbagai strategi
yang dimaksimalkan.
8
Hubungan Komunikasi Pedagang
Kondisi masyarakat pedagang di pasar tradisional menunjukkan kondisi di mana
nilai-nilai perjuangan hidup terus berkembang seiring dengan interaksi yang dijalankan
sehari-hari. Berbagai bentuk perilaku komunikasi yang melibatkan orang lain ditunjukkan
dengan adanya pertukaran (exchange) dan pembagian bersama (sharing of) informasi.
Lingkungan pedagang dengan karakteristiknya yang melekat, merupakan suatu gambaran
yang menyeluruh tentang kehidupan pedagang.
Pedagang juga merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki latar belakang
yang berbeda, dan bisa menjadi satu dengan elemen masyarakat yang lain. Setiap
manusia dalam lingkungannya, senantiasa memegang dan memberlakukan adanya nilai-
nilai sosial budaya yang dianut sehingga menjadi pedoman bagi berlangsungnya interaksi
dengan pihak yang berkaitan dengan dunia pedagang. Konsentrasi yang menyeluruh pada
kehidupan pedagang dimulai dari kegiatan yang dilakukan sehari-hari. Perilaku
komunikasi pedagang yang muncul tentu saja diwarnai oleh suatu keadaan, nilai dan
kebiasaan yang telah dibangun.
Kebiasaan yang dibangun oleh pedagang tentu juga melalui tahapan-tahapan yang
memang dilakukan oleh pedagang yang memiliki keterlibatan tinggi, waktu dan
aktivitasnya dihabiskan di pasar. Keeratan yang muncul pada saatnya menemukan suatu
pola yang menyeluruh. Konsekwensi dari keterlibatan tinggi diantara anggota masyarakat
pasar, tentu akan memberikan nuansa lain dalam proses komunikasi yang dijalankan.
Suatu kendala yang ada selama ini menekankan pada aspek empati tinggi dan merasa
menjadi satu keluarga besar. Konsentrasi yang selama ini ada di komunitas pedagang
berawal dari adanya persamaan dibidang pekerjaan. Selama ini kehidupan pedagang
9
memang menarik jika dikaji dari sudut pandang budaya. Komunikasi antar individu di
lingkungan pasar bisa ditelaah dalam tingkatan mikro, yang melibatkan bagian-bagian
terkecil dari individu.
Perilaku komunikasi yang ditunjukkan oleh pedagang menjadi kekhasan yang
muncul dalam proses interaksi dengan sesama pedagang maupun dengan pembeli, karena
komunikasi adalah proses simbolik. Pedagang serta pembeli banyak menggunakan
lambang atau simbol tertentu dalam berinteraksi. Simbol adalah sesuatu yang digunakan
untuk menunjuk sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang (Mulyana,
2010:92). Penggunaan lambang atau simbol juga bergantung pada kesepakatan bersama.
Kata-kata (lisan atau tulisan), isyarat anggota tubuh, alat (artefak), bunyi dan sebagainya
juga merupakan bagian dari simbol.
Proses interaksi pada dasarnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan
berkomunikasi dengan orang lain. Pemenuhan kebutuhan dalam diri manusia akan
dipenuhi dan dicapai dengan jalan bertukar. Dinamisasi kehidupan manusia akan menuju
pada terbentuknya pola kehidupan yang semakin kompleks. Pertukaran yang terjadi tidak
hanya terjadi pada tukar menukar barang, tetapi juga saling bertukar informasi dengan
adanya kesepakatan-kesepakatan yang direncanakan sebelumnya atau terjadi pada saat
proses komunikasi berlangsung.
Komunikasi adalah sebuah proses memaknai yang dilakukan seseorang terhadap
informasi, sikap dan perilaku orang lain yang berbentuk pengetahuan, pembicaraan,
gerak-gerik atau sikap, perilaku dan perasaan-perasaan, sehingga seseorang membuat
reaksi terhadapnya berdasarkan pengalaman yang dialami (Bungin, 2008:57). Di
lingkungan pasar tradisional, yang memainkan perilaku tertentu menekankan bahwa di
10
dalamnya terdapat aktivitas memaknai informasi yang disampaikan oleh sumber.
Pemaknaan terhadap informasi tersebut bersifat subjektif dan kontekstual. Subjektif
artinya masing-masing pihak memiliki kapasitas untuk memberi makna sesuai dengan
pemahaman masing-masing. Sedangkan kontekstual merupakan pemaknaan yang
berkaitan dengan waktu dan tempat dimana proses komunikasi tersebut dilakukan. Di
sinilah melibatkan sebuah proses yang berkelanjutan, karena komunikasi memiliki
dimensi yang sangat luas dalam pemaknaannya. Hal ini didasari bahwa pelaku-pelaku
komunikasi tersebut beragam dan konteks yang ada seringkali mengalami perubahan.
Perilaku komunikasi menunjukkan suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan
diantara pelaku-pelaku yang ada. Ketika anggota dalam proses tersebut melakukan
interaksi, maka perilaku yang ada saling berkaitan satu sama lain. Apabila hal ini dilihat
pada lingkungan pasar tradisional, maka komunikasi yang dijalankan antara pedagang
dan pembeli ditujukan untuk mengurangi ketidakpastian yang ada. Untuk mengurangi
ketidakpastian tersebut, maka akan melalui siklus perilaku komunikasi. Siklus
komunikasi juga seringkali disebut sebagai rutinitas yang memungkinkan anggota-
anggotanya melakukan klarifikasi terhadap hal-hal yang belum jelas. Siklus komunikasi
yang digunakan terdiri atas beberapa tahap (Morissan, 2013:402)
Aksi (act), yaitu suatu pernyataan atau perilaku seorang individu. Aksi mengacu
pada pernyataan komunikasi dan perilaku yang menunjukkan ketidakpastian
seseorang. Tindakan yang berdiri sendiri tidak akan memiliki arti penting dan
tidak berarti apa-apa. Hal yang penting adalah bagaimana tanggapan atau respon
pihak lain terhadap tindakan tersebut.
11
Interaksi atau respons (interact), yaitu reaksi terhadap aksi. Suatu respons
bertujuan untuk memberikan klarifikasi terhadap informasi yang tidak pasti dan
dikemukakan sebagai hasil dari aksi yang dilakukan sebelumnya
Penyesuaian (adjustment), yaitu tanggapan terhadap respons yang merupakan
penyesuaian terhadap informasi (aksi) yang diterima sebelumnya.
Interaksi ganda (double interact) yaitu siklus dari aksi, respons dan penyesuaian
dalam berbagai bentuk pertukaran (tukar menukar) informasi. Interaksi ganda
mengacu pada sejumlah siklus komunikasi yang digunakan untuk membantu
untuk mengurangi ketidakpastian informasi.
Intercultural Rreception
Model intercultural reception pada prinsipnya berangkat dari model komunikasi
yang utama dimana komunikator akan menyampaikan pesan kepada komunikan dengan
media tertentu serta mendapatkan efek. Proses komunikasi yang dijalankan pada usaha
mencapai kesepakatan makna diantara orang-orang yang berkomunikasi. Dari pandangan
hidup pedagang selama ini memperlihatkan bahwa etnisitas yang ada tidak membawa
dampak negatif, tetapi lebih menekankan adanya proses saling memahami dan toleransi
tinggi untuk mencapai kedamaian di lingkungan pasar tradisional.
Barker dalam bukunya yang berjudul Cultural Studies, Teori dan Praktik (2005:34)
menjelaskan bahwa berdasarkan pernyataan para perintis studi resepsi merupakan
pencipta aktif terhadap makna. Sebelumnya masyarakat membawa kompetensi budaya
yang telah didapatkan untuk dikemukakan sehingga terbentuk dengan cara yang berbeda.
Reception juga mengacu pada penerimaan sebuah pesan yang lebih melihat proses
12
mengatur sebuah pesan yang akan disampaikan ke orang lain serta bagaimana penerima
pesan tersebut memberikan pemaknaan terhadap pesan yang sampai kepadanya. Kerja
kerja kultural juga memilikin kontribusi pada pemaknaan. Memunculkan pemahaman
yang sama tidak hanya melibatkan reproduksi makna, tetapi juga produksi makna oleh
penerima pesan. Hal ini akan mewujudkan pola komunikasi yang menyatu sehingga
proses komunikasi akan terwujud secara efektif. Di lingkungan pasar tradisional sendiri,
yang memiliki dinamika terstuktur dan terkadang harus siap dengan perubahan yang
sewaktu-waktu terjadi.
Dengan melihat perkembangan jaringan sosial perdagangan dapat memberi
kontribusi dalam pembentukan pola komunikasi antar pedagang yang akan terus berlanjut
hingga sekarang. Kompensasi dari munculnya proses tersebut adalah bahwa para
pedagang dengan seksama memperhitungkan sisi waktu dalam menjalin interaksi dengan
sesama pedagang. Ketika waktu bekerja dari pagi hingga sore, yang lebih terpenting
adalah waktu bekerja untuk memberikan pelayanan kepada pelanggan atau konsumen.
Setelah dagangan habis, dan pembeli mulai berkurang maka waktu akan lebih banyak
dihabiskan untuk berkomunikasi atau saling tukar cerita dengan membahas topik-topik
hangat serta harga-harga pada barang-barang tertentu.
Inovasi intercultural reception pada perilaku komunikasi pedagang di lingkungan
pasar dapat dikembangkan dalam rangka memperkuat jaringan sosial dengan lingkungan
eksternal. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya masyarakat yang datang ke pasar
tradisional dan semakin menguatnya keinginan aparat untuk memperbaiki pasar
tradisional. Kontribusi dan perhatian yang mendalam pada akhirnya membawa
13
konsekwensi yang positif bagi perkembangan pasar tradisional, khususnya pada upaya
memperkuat ikatan di lingkungan pedagang.
Model intercultural reception bergerak dari sebuah konsep yang memberikan
pemahaman tentang memaknai sebuah fenomena khususnya budaya dalam sebuah
komunitas tertentu secara mendalam. Komunitas pedagang pada prinsipnya memiliki
keunikan dalam setiap proses komunikasi yang berpola. Proses interpretasi tersebut
melibatkan derajat pesan yang dapat diserap oleh orang-orang yang melakukan
komunikasi sehingga mampu menunjukkan kekuatan sebagai orang-orang yang
menggerakkan dinamika pasar tradisional. Reception berkaitan dengan persepsi dari
masyarakat itu sendiri dalam menafsirkan, menginterpretasikan apa yang dilihat dan
didengar.
Pasar merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli yang pada umumnya
dimulai munculnya suatu permukiman masyarakat, dimana anggota masyarakat tersebut
tidak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri sehingga memerlukan bantuan orang lain.
Manusia baik sebagai perorangan maupun kelompok hidup di dalam dengan
lingkungannya. Hubungan manusia dengan manusia sangat erat dan bersifat timbal balik.
Hubungan manusia dengan manusia maupun lingkungan menimbulkan suatu kegiatan,
kegiatan ini menimbulkan aktivitas ekonomi pasar.
Dalam satuan jaringan sosial yang difokuskan pada hubungan antarpribadi, dapat
dipastikan melibatkan karakteristik personal, kompetensi pribadi, status sosial, dan latar
belakang pribadi lainnya. Proses komunikasi berlangsung secara bervariasi dan bahkan
tumpang tindih, namun pola proses komunikasi antarpribadi pada dasarnya dapat
dikelompokan ke dalam 4 (empat) bentuk. Pola komunikasi otoriter yang lebih
14
memperlihatkan salah satu peserta komunikasi lebih berkuasa terhadap peserta lain. Pola
komunikasi protektif yang memperlihatkan salah satu peserta komunikasi sebagai
pelindung peserta lain. Pola komunikasi seenaknya yang memperlihatkan tumbuhnya
persepsi seluruh peserta komunikasi terhadap iklim keterbukaan dan kesetaraan. Pola
komunikasi konsensual yang memperlihatkan hubungan timbal balik yang kuat untuk
mencapai kesamaan diantara peserta komunikasi.
Proses interaksi timbal balik dalam yang dilakukan oleh pedagangan pada jaringan
sosial perdagangan dapat mengikat dengan kuat anggotanya, karena dalam proses
interaksi selalu mensyaratkan adanya komunikasi yang mampu memfasilitasi hubungan
diantara anggota yang sesama pedagang, dan untuk mencapai tingkat keefektifitasannya
apabila masing-masing pihak yang terlibat di dalamnya dapat mencapai kebersamaan.
Pada dasarnya proses hubungan sosial dengan dilandasi komunikasi,
mengharuskan setiap pihak untuk dapat berbagi informasi. Kesadaran untuk melakukan
tindakan berbagi informasi lebih mengedepankan keterbukaan, dan kondisi ini akan
semakin mempermudah tercapainya saling mengerti. Kebersamaan dalam makna (mutual
understanding) yang terjadi dalam proses komunikasi, yang juga melibatkan adanya
kekuatan untuk terus dilakukannya interaksi pada jaringan sosial, ditentukan oleh pola-
pola komunikasi atau sistem berprosesnya informasi pesan. Proses yang ada tentu saja
melibatkan adanya daya dorong untuk memberikan informasi kepada pihak lain, sehingga
ada proses timbal balik, yang pada akhirnya memberikan keterpuasan dalam berbagi
informasi.
Sumber-sumber kekuatan untuk mencapai tujuan dalam proses komunikasi yang
dilakukan oleh pedagang dapat berupa perhatian, kepedulian, dukungan, dan pemenuhan
15
kebutuhan pedagang lainnya. Komunikasi antarpribadi sebagai suatu proses simbolik bisa
menjadi batu loncatan bersama dalam mewujudkan suatu hubungan dagang, karena
kemampuannya untuk saling memberi kekuatan pada saat proses pemaknaan
berlangsung.
Komunikasi antarpribadi yang efektif adalah adanya kesepakatan informasi
serta kualitas hubungan yang dibangun. Kedua belah pihak perlu membangun
hubungan yang lebih baik, karena ketepatan penyampaian informasi ditentukan oleh
pengertian, pengaruh sikap, hubungan yang makin baik serta tindakan.
Komunikasi
melibatkan dua orang atau lebih yang mempunyai tujuan sama dalam suatu lingkungan
sosial, baik itu dalam keluarga maupun lingkungan sosial yang lebih besar seperti
masyarakat. Asumsi yang terbangun pada komunikasi yaitu adanya hubungan dengan
perilaku manusia dan kepuasan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi dengan manusia-
manusia lain. Hubungan sosial ini dapat terpenuhi melalui pertukaran pesan yang
berfungsi sebagai alat pembawa atau jembatan untuk mempersatukan manusia-manusia.
Proses komunikasi mengandaikan adanya ketertiban lingkungan sosial di mana
proses komunikasi terjadi. Keadaan tersebut mengandaikan pula komunikasi yang
mensyaratkan proses sebab akibat atau aksi reaksi yang arahnya bergantian. Hubungan
resiprokal ini bersifat mekanis, aksi-reaksi, yang dapat berbentuk bahasa verbal maupun
non-verbal. Seseorang yang menyampaikan pesan kepada orang lain yang lantas diterima
dengan reaksi dari si komunikan. Komuniaksi sebagai interaksi mensyaratkan adanya
umpan balik/ feed back, sebagai petunjuk apakah pesan yang diterima efektif atau tidak.
Dengan melihat bahwa komunikasi merupakan suatu interaksi maka dapat
diketahui bahwa proses komunikasi tidak berhenti pada waktu tertentu, melainkan
16
berjalan terus tanpa berhitung dengan waktu. Komunikasi merupakan mata rantai yang
terus berjalan untuk menyampaikan pesan. Artinya, bahwa suatu proses komunikasi
melibatkan perasaan sosial, baik itu dari sisi psikologis maupun konteks sosiologi,
bagaimana komunikasi itu disampaikan. Peristiwa komunikasi yang melibatkan sisi
psikologis maupun konteks sosiologis seseorang atau masyarakat, disampaikan untuk
meraih tujuan tertentu. Sedangkan iklim komunikasi di lingkungan pasar, pandangan
hidup pedagang, dan intensitas komunikasinya dalam jaringan sosial perdagangan
memberikan efek tertentu bagi berlangsungnya proses komunikasi diantara para
pedagang.
Komunikasi Bisnis di Pasar Tradisional
Komunikasi bisnis yang diterapkan di pasar tradisional, tetap melibatkan actor-
aktor dengan kepentingannya masing-masing. Kesemuanya mensyaratkan kemampuan
berkomunikasi, khususnya berkomunikasi untuk tujuan bisnis. Dunia bisnis perdagangan
di pasar tradisional juga akan berjalan efektif apabila memperhatikan beberapa hal,
diantaranya ketrampilan berkomunikasi, khususnya jika dihadapkan dengan heterogenitas
etnis. Komunikasi bisnis merupakan pijakan dasar yang akan dikembangkan oleh pelaku-
pelaku bisnis di lingkungan pasar tradisional. Dengan konsep dasar bahwa komunikasi
merupakan dasar interaksi manusia untuk memperoleh kesepakatan atau kesepahaman
sehingga dapat meraih tujuan bersama.
Dalam komunikasi bisnis dilingkungan pasar tradisional, berlaku pada
berprosesnya suatu hubungan untuk menjalin keakraban yang akan dapat
mempertahankannya sebagai pelanggan tetap. Proses jual beli yang terjadi di pasar
17
tradisional ditopang oleh proses jual beli yang tidak selalu statis, karena proses tersebut
bergerak dari sifat yang tidak pasti, sehingga dilakukan proses tawar menawar. Penetapan
harga dilakukan dengan proses dialog, karena penjual akan berhadapan dengan pembeli
yang memiliki karakteristik sensitif terhadap harga. Strategi perdagangan di pasar
tradisional juga mengedepankan status hubungan antara penjual dan pembeli. Kedekatan
yang ada, bisa berpengaruh terhadap penetapan harga hingga ketersediaan barang yang
jumlahnya dilebihkan. Inilah menariknya pasar tradisional, masih mengedepankan
komunikasi tatap muka serta membangun kedekatan secara berkelanjutan.
Sebagai makhluk sosial, manusia senantiasa berkomunikasi dengan manusia
lainnya. Keberagaman penjual dan pembeli menempati sector-sektor yang telah terkelola
sedemikian rupa, tidak jarang sekat-sekat yang ada semakin diminimalisir, sehingga
proses komunikasi yang dilakukan mengarah pada komunikasi yang transparan. Berperan
sebagai penjual, maka kemampuan berkomunikasi sebagai syarat untuk menarik pembeli
hingga mempertahankan sebagai pelanggan yang memiliki keterikatan secara personal
Penutup
Seluruh paparan semakin memperkuat posisi intercultural reception pada perilaku
antaretnik pedagang di lingkungan pasar tradisional tergambarkan sebagai berikut.
Pertama, Komunikasi yang dilakukan pedagang diawali oleh motivasi dari masing-
masing individu. Pesan yang disampaikan pada akhirnya mampu dimengerti, dipersepsi
dan menghasilkan reaksi (action). Sedangkan kualitas pesan yang disampaikan dapat
mempengaruhi komunikasi yang dilakukan oleh pedagang. Konsep diri dari masing-
18
masing individu yang berinteraksi menjadi point yang sangat penting dalam tercapainya
efektifitas komunikasi.
Kedua, komunikasi yang dijalankan pedagang secara efektif terjadi karena ada aliran
informasi dua arah antara komunikator dan komunikan dan informasi tersebut sama-sama
direspon sesuai dengan harapan kedua pelaku yang mana masing-masing berperan
dengan mengusung etnisitas yang melekat dalam diri masing-masing pedagang.
Ketiga, bagi masyarakat, pasar bukan hanya sebagai tempat bertemunya penjual dan
pembeli, tetapi juga sebagai wadah interaksi sosial dan representasi nilai-nilai tradisional
yang ditunjukan oleh perilaku para pelaku di dalamnya.
Keempat, di dalam kehidupan Pasar Tradisional sehari-hari, hubungan antarpribadi
memainkan peran penting dalam membentuk kehidupan pasar. Terutama ketika
hubungan antarpribadi itu mampu memberi dorongan kepada orang tertentu yang
berhubungan dengan perasaan, pemahaman informasi, dukungan, dan persetujuan.
Daftar Pustaka
Barker, Chris. 2005. Cultural Studies: Teori dan Praktik. Yogjakarta. Kreasi Wacana
Belshaw, Cyril S. 1981. Tukar Menukar Tradisional dan Pasar Modern. Jakarta. PT
Gramedia
Bungin, Burhan. 2008. Sosiologi Komunikasi. Teori, Paradigma, dan Diskursus
Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta. Kencana Prenada Media
Damsar, 2011. Sosiologi Sosiologi Ekonomi. Jakarta. Kencana Prenada Media
Hariyono P. 1993. Kultur Cina dan Jawa: Pemahaman Menuju Asimilasi Kultural.
Jakarta. Pustaka harapan
Leksono S. 2006. Runtuhnya Modal Sosial, pasar Tradisional, Perspektif Emic
Kualitatif. Malang. Citra
19
Morissan. 2013. Teori Komunikasi Individu Hingga Massa. Jakarta. Kencana Prenada
Media.
Mulyana, Deddy. 2010. Ilmu Komunikasi. Bandung. Rosdakarya.
Sitompul, 2009. Merancang Model Pengembangan Masyarakat Pedesaan. Jakarta. LIPI
Suparlan dalam Salim, Agus. 2006. Stratifikasi Etnik Kajian Mikro Sosiologi Interaksi
Etnis Jawa dan Cina. Yogjakarta. Tiara Wacana
... Kesepakatan yang lahir dari suatu perjanjian langsung ataupun perjanjian tidak langsung. Seringkali tanpa kita sadari keseharian kita dipenuhi dengan perjanjian/kesepakatan (Adi, 2014). Misalnya, saat kita membeli minyak goreng di pasar. ...
Article
Penelitian ini bertujuan, pertama Bentuk perlindungan hukum konsumen pada perjanjian baku (Standart Contract) PT Telkomsel Terhadap Penggunaan Kartu Pasca Bayar (Halo Kick), kedua Upaya hukum konsumen Konsumen tindakan sepihak yang dilakukan oleh pihak Telkomsel. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian hukum normatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, Perlindungan hukum terhadap pekerja dimaksudkan untuk menjamin hak-hak dasar dan menjamin kesamaan kesempatan serta perlakuan tanpa diskriminasi atas dasar apapun untuk mewujudkan kesejahteraan pekerja beserta keluarganya. Perlindungan pekerja tersebut hanya dapat tercapai jika adanya peran serta Negara secara aktif dalam menjaga stabilitas iklim industrialisasi dengan perindungan terhadap pekerja, atau dengan kata lain ditengah gesekan perubahan zaman dan menggeliatnya pertumbuhan ekonomi maka peran serta Negara merupakan keniscayaan. This study aims, firstly, the form of consumer legal protection in the PT Telkomsel standard contract against the use of postpaid cards (Halo Kick), secondly the consumer's legal efforts for unilateral actions taken by Telkomsel. The research method used is normative legal research method. The results show that, first, legal protection for workers is intended to guarantee basic rights and guarantee equal opportunity and treatment without discrimination on any basis to realize the welfare of workers and their families. Protection of workers can only be achieved if there is an active role of the State in maintaining the stability of the industrialization climate with protection of workers, or in other words, amidst the friction of changing times and stretching economic growth, the participation of the State is a necessity.
... Pasar selain berperan dalam aktivitas ekonomi, juga memiliki peran dalam aktivitas sosial, sebagai tempat interaksi maupun komunikasi (Adi, 2014 personal space, maka pedagang bisa menjaga jarak dan mencegah masuk terlalu jauh dalam ranah pribadi. Kepercayaan yang dibangun adalah sebuah asset yang tetap dipertahankan, karena pedagang beraktivitas di pasar dalam jangka waktu yang panjang, bahkan sampai beberapa generasi (Marlina, 2015). ...
Article
Abstrak Perkembangan yang sangat cepat serta pembangunan pasar modern di seluruh negri telah mengancam keberlanjutan dari pasar tradisional. Untuk dapat bertahan dari persaingan tersebut, pedagang pasar tradisional harus berjuang dan bekerja keras melalui penyediaan komoditas yang berkualitas serta mengimplementasikan pelayanan yang baik kepada pelanggan. Hubungan sosial yang harmonis serta norma-norma budaya yang kuat merupakan faktor penting yang memungkinkan untuk bersaing dengan pasar modern. Dilihat dari perspektif pertukaran sosial, apa yang dilakukan pedagang, bernegosiasi dan bertransaksi di pasar tradisional harus sesuai dengan nilai dan norma yang telah disepakati. Makalah ini menggunakan pendekatan etnometodologi subjektivistik yang mencoba untuk menjelaskan hubungan yang beraneka ragam dan jaringan komunikasi interpersonal antarpedagang di pasar tradisional. Hubungan sosial yang dikembangkan dan dipelihara secara kolektif ditujukan untuk mempertahankan fungsi pasar tradisional sebagai tempat penyebaran informasi, interaksi dan pengembangan jaringan distribusi komoditas. Implikasi teoritis dari temuan ini menggambarkan pentingnya proses pertukaran sosial yang dilandasi prinsip-prinsip keteraturan, kecukupan, keamanan dan kenyamanan. AbstractThe speedy development as well as the widespread construction of modern market has threatened the exsistence of traditional and its sustainability. To survive this stiff competition, traditional market traders therefore have to fight and work hard through the quality commodity provision and excellent customer service implementation. Their harmonious social relationship and strong cultural norms are of significant factor which enable them to compete with their modern supermarket counterparts. Viewed from social exchange perspective, what they act, negotiate and transact commodities within the traditional market complex should be in accordance with their agreed- upon values and norms. The paper which employs ethnomethodology subjectivist approach tries to elucidate multifarious relationship and networked interpersonal communication among traditional market traders. The social relationships are developed and maintained collectively in order to sustain traditional market function as place of information dissemination, internal interaction cultivation and commodity distribution network advancement. The theoretical implications of this finding illustrates the importance of pseudo transaction during social exchange process which necessitates the employment such principles as regularity, adequacy, security and convenience.
Kultur Cina dan Jawa
  • P Hariyono
Hariyono P. 1993. Kultur Cina dan Jawa: Pemahaman Menuju Asimilasi Kultural. Jakarta. Pustaka harapan
Stratifikasi Etnik Kajian Mikro Sosiologi Interaksi Etnis Jawa dan Cina
  • Agus Suparlan Dalam Salim
Suparlan dalam Salim, Agus. 2006. Stratifikasi Etnik Kajian Mikro Sosiologi Interaksi Etnis Jawa dan Cina. Yogjakarta. Tiara Wacana
pasar bukan hanya sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli, tetapi juga sebagai wadah interaksi sosial dan representasi nilai-nilai tradisional yang ditunjukan oleh perilaku para pelaku di dalamnya
  • Bagi Ketiga
  • Masyarakat
Ketiga, bagi masyarakat, pasar bukan hanya sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli, tetapi juga sebagai wadah interaksi sosial dan representasi nilai-nilai tradisional yang ditunjukan oleh perilaku para pelaku di dalamnya.
  • Damsar
Damsar, 2011. Sosiologi Sosiologi Ekonomi. Jakarta. Kencana Prenada Media
Cultural Studies: Teori dan Praktik
  • Chris Barker
Barker, Chris. 2005. Cultural Studies: Teori dan Praktik. Yogjakarta. Kreasi Wacana Belshaw, Cyril S. 1981. Tukar Menukar Tradisional dan Pasar Modern. Jakarta. PT Gramedia Bungin, Burhan. 2008. Sosiologi Komunikasi. Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta. Kencana Prenada Media
Merancang Model Pengembangan Masyarakat Pedesaan
  • Sitompul
Sitompul, 2009. Merancang Model Pengembangan Masyarakat Pedesaan. Jakarta. LIPI
Tradisional sehari-hari, hubungan antarpribadi memainkan peran penting dalam membentuk kehidupan pasar. Terutama ketika hubungan antarpribadi itu mampu memberi dorongan kepada orang tertentu yang berhubungan dengan perasaan, pemahaman informasi, dukungan
  • Di Keempat
  • Dalam Kehidupan Pasar
Keempat, di dalam kehidupan Pasar Tradisional sehari-hari, hubungan antarpribadi memainkan peran penting dalam membentuk kehidupan pasar. Terutama ketika hubungan antarpribadi itu mampu memberi dorongan kepada orang tertentu yang berhubungan dengan perasaan, pemahaman informasi, dukungan, dan persetujuan.
Runtuhnya Modal Sosial, pasar Tradisional, Perspektif Emic Kualitatif
  • S Leksono
Leksono S. 2006. Runtuhnya Modal Sosial, pasar Tradisional, Perspektif Emic Kualitatif. Malang. Citra
dijalankan pedagang secara efektif terjadi karena ada aliran informasi dua arah antara komunikator dan komunikan dan informasi tersebut sama-sama direspon sesuai dengan harapan kedua pelaku yang mana masing-masing berperan dengan mengusung etnisitas yang melekat dalam diri masing-masing pedagang
  • Komunikasi Kedua
  • Yang
Kedua, komunikasi yang dijalankan pedagang secara efektif terjadi karena ada aliran informasi dua arah antara komunikator dan komunikan dan informasi tersebut sama-sama direspon sesuai dengan harapan kedua pelaku yang mana masing-masing berperan dengan mengusung etnisitas yang melekat dalam diri masing-masing pedagang.