BookPDF Available

Berpikir Sistem: Pola Berpikir untuk Pemahaman Masalah yang lebih baik

Authors:

Abstract and Figures

Permasalahan dunia nyata yang menjadi kian terkoneksi akibat berbagai kemajuan teknologi membutuhkan sebuah pendekatan yang lebih integratif dan terstruktur untuk menguraikannya. Pendekatan berpikir sistem memberikan alternatif analisa permasalahan kompleks yang memfokuskan tidak hanya kepada masalah di komponen, namun pada konektivitas antar komponen. Berpikir sistem dapat mengantarkan anda untuk memasuki transisi dalam melihat permasalahan dari hanya sekedar melihat komponen, lalu melihat hubungan antar komponen, kemudian melihat hubungan yang saling interkoneksi, hingga akhirnya melihat hubungan yang saling berketergantungan antar komponen. Kemampuan ini membuat anda dapat memahami permasalahan dengan lebih baik, dan pemahaman yang lebih baik bisa membuka peluang solusi yang lebih baik pula.
No caption available
… 
No caption available
… 
No caption available
… 
No caption available
… 
Content may be subject to copyright.
1
BERPIKIR SISTEM
POLA BERPIKIR UNTUK PEMAHAMAN MASALAH YANG
LEBIH BAIK
AKHMAD HIDAYATNO
2
PERSEMBAHAN
Kepada Istriku, dr. Ernie Widianty Rahardjo M.Kes, MBA yang selalu sabar menemani dan
menginspirasi perjalanan hidup
Kepada Bapak Ibu Ir. Soedjadi Martodiwirjo dan Papa Mama Prof. Dr. Eddy Rahardjo Sp.An.
KIC, atas inspirasinya untuk selalu belajar dan memperbaiki diri terus menerus tanpa
memandang usia.
3
PENGANTAR
Sebuah cerita dari hikayat Nasrudin:
Di suatu malam, seorang sahabat dari Nasrudin mendapatinya sedang
sibuk kebingungan mencari-cari sesuatu dibawah lampu jalanan yang
terang, sehingga dia bertanya kepada Nasrudin: “Wahai sahabatku, apa
yang kau cari siapa tahu aku bias membantumu”
Nasrudin menjawab, “aku kehilangan dompetku, bisakah kau menolongku
mencarinya”
Sang sahabat serta merta mencari hingga radius lebih dari 50 m dari lampu
tersebut, karena berpikir pasti Nasrudin kehilangan dompetnya disekitar
itu. Namun setelah bersusah payah mencari, sang sahabat jadi kebingungan
karena tidak bisa menemukannya sehingga dia bertanya kembali ke
Nasrudin, “Wahai sahabaku, dimana kau kehilangan dompetmu?”
Nasrudin menjawab, “Aku kehilangannya di rumahku”
Sang Sahabat sebal kenapa kok dirumah dicarinya di sini, “Loh, kenapa kok
mencarinya di Jalan ini, kenapa tidak dirumah?”
Nasrudin menjawab, “Rumahku lampunya kurang terang, lebih terang
disini, jadi aku lebih enak mencarinya disini”
Cerita Nasrudin ini bisa diartikan sebagai cara kita menyelesaikan permasalahan terkadang
tidak berdasarkan atas pemahaman yang utuh dari masalah tersebut. Sumber ketidakutuhan ini
bisa saja kemalasan, tidak tersedianya data, atau terlalu mengandalkan pengalaman kita
sebelumnya yang terbatas. Padahal pemahaman masalah yang baik merupakan langkah awal
penyelesaian masalah yang lebih baik. Tidak ada gunanya mengkritisi atau menyalahkan cara
penyelesaian masalah orang lain seandainya sumbernya adalah pemahaman masalahnya
ternyata salah atau kurang lengkap, karena orang tersebut pasti tidak akan merasa salah. Bagi
dia, solusi yang dilakukan telah logis dalam kerangka yang dia tahu.
Berpikir sistem mampu memfasilitasi proses yang lebih baik dalam memahami masalah.
Dengan memandang permasalahan sebagai sebuah sistem, kita bisa terlepas dari jebakan untuk
hanya memfokuskan diri memperbaiki apa yang rusak. Pemahaman sebagai sistem akan
mengembangkan fokus kita kepada adanya hubungan antara apa yang rusak dengan komponen
lainnya. Hubungan ini bisa menimbulkan keterkaitan, dan keterkaitan bisa berujung kepada
ketergantungan, sehingga kita bisa melihat peluang baru dan lebih baik dalam menyelesaikan
masalah. Proses yang dinamis inilah yang membuat berpikir sistem disebut sebagai sebuah seni
untuk secara simultan memandang pohon tanpa melupakan perhatian terhadap hutan (the art
of seeing trees without forgetting the forest).
4
Buku ini akan menjelaskan berpikir sistem sebagai sebuah model untuk berpikir. Jika
didefinisikan, model adalah sebuah contoh yang ingin ditiru. Sama dengan ketika kita membaca
otobiografi orang sukses, kita ingin meniru orang tersebut. Kita ingin tahu apa saja yang
membuat orang tersebut sukses. Apakah ada pepatah yang menjadi pegangan karirnya,
bagaimana cara mengambil keputusan dalam tantangan dan lain sebagainya. Maka berpikir
sistem di buku ini akan dibedah berdasarkan ciri-ciri yang menunjukkan kita telah melakukan
pemikiran secara sistematik.
Sebagai sebuah model berpikir maka tentunya tidak sepenuhnya ciri-ciri yang dijabarkan disini
adalah hal yang baru. Mungkin saja anda sebenarnya sudah mempraktekkan berpikir secara
sistem dalam kehidupan anda sehari-hari, secara penuh, sebagian besar atau beberapa kali saja.
Mungkin saja anda menggunakan nama lain untuk beberapa pola berpikir anda, misalnya
berpikir lateral, berpikir kritis, berpikir logis, mindset, thinking habit,berpikir berbasis model
(model thinking) dan lainnya. Sehingga buku ini bisa anda pandang sebagai kumpulan dari apa
yang telah anda ketahui yang kemudian dirangkai sedemikian rupa, sehingga lebih mudah bagi
anda untuk memahami pola pikir yang telah anda miliki.
Stuktur penulisan dalam buku ini ini dibagi menjadi 3 bagian, bagian pertama membahas TIGA
kata yang digunakan dalam berpikir sistem, yaitu: berpikir dan sistem. Bagian pertama tentang
berpikir sebagian besar akan membahas pola berpikir lateral yang dikenalkan oleh Edward De
Bono. Berpikir lateral sangat membantu dalam proses berpikir sistem untuk menghentikan laju
pola berpikir lama. Dengan menghentikan pola berpikir lama, kita memiliki kesempatan
menggantinya dengan pola berpikir sistem. Sehingga pembahasan tentang berpikir difokuskan
kepada perubahan pemikiran bahwa proses berpikir tidaklah sebuah proses otomatis yang tidak
mungkin diubah, namun ternyata bisa dilatih untuk berubah. Kemudian dilanjutkan dengan
definisi sistem serta ciri-cirinya sebuah sistem yang membedakannya dari kumpulan biasa.
Kombinasi keduanya (yaitu dan) bisa menjadi cara untuk mendapatkan struktur dari sebuah
sistem permasalahan.
Bagian kedua, membahas tentang berpikir sistem yang dimulai dengan pembahasan tentang
peranan mental model sebagai pola struktur pikiran. Kesadaran sebagai mental model mampu
mengubah pola berpikir kita dengan berbagai metode tertentu. Sehingga di akhir bagian ini
dijelaskan bahwa cara berpikir sistem adalah mengajukan serangkaian pertanyaan dengan basis
ciri-ciri sistem. Rangkaian pertanyaan ini dikelompokkan menjadi 5 kelompok dan dapat
disingkat sebagai DeBaTIK untuk memudahkan kita mengingatnya.
Bagian ketiga akan mengenalkan bagaimana berpikir sistem mampu memberikan pemahaman
yang lebih utuh terhadap permasalahan, baik secara informal maupun secara formal dengan
menggunakan basis metode yang sering digunakan dalam manajemen kualitas. Bagian ini juga
mengenalkan beberapa pendekatan bantuan kuantitatif dalam berpikir sistem denga
menjelaskan tentang Sistem Dinamis.
Pada bagian akhir ditambahkan sebuah catatan khusus, berupa pengalaman mengajarkan
berpikir sistem di Teknik Industri, Universitas Indonesia, dengan harapan mampu mengajak
kalangan dunia pendidikan untuk mengenalkan bahwa berpikir adalah suatu keahlian yang bisa
diajarkan dan penting bagi pengembangan kemampuan pemecahan masalah di anak didik kita.
5
Dalam bagian ini dijabarkan pula cara untuk melakukan permainan untuk belajar yang sering
dipakai untuk mengajarkan sistem yaitu the beer game.
6
DAFTAR ISI
Persembahan .................................................................................................................................. 2
Pengantar ........................................................................................................................................ 3
Daftar Isi ......................................................................................................................................... 6
Daftar Gambar ................................................................................................................................ 8
Daftar Tabel ...................................................................................................................................10
1. Berpikir Sistem untuk Mengatasi Peningkatan Kompleksitas ............................................... 11
1.1 Kompleksitas Meningkat akibat Adanya Konektivitas ................................................... 11
1.2 Konektivitas Mengubah Fokus kepada Proses dan Struktur .......................................... 12
1.3 Dibutuhkan Pola Berpikir yang Sesuai dengan Peningkatan Kompleksitas .................. 15
1.4 Bahan Bacaan .................................................................................................................. 15
2. Apakah Berpikir Itu? .............................................................................................................. 16
2.1 Berpikir adalah Proses Menjawab Pertanyaan ............................................................... 16
2.1.1 Pola Pikiran Sebagai Sebuah Struktur Pikiran ........................................................ 19
2.1.2 Dampak Negatif Jebakan Pola Pikiran .................................................................... 21
2.1.3 Dampak Positif Pola Pikiran ................................................................................... 22
2.2 Bekal Berpikir Sistem dari Pola Berpikir Lainnya ........................................................ 22
2.2.1 Berpikir Logis .......................................................................................................... 22
2.2.2 Berpikir Kritis ......................................................................................................... 23
2.2.3 Berpikir Holistik (Pandangan Helikopter) ............................................................. 23
2.3 Berpikir Lateral sebagai Bekal Berpikir Sistem ............................................................. 24
2.4 Bahan Bacaan ................................................................................................................. 27
3. Sistem .................................................................................................................................... 28
3.1 Apakah Sistem? .............................................................................................................. 28
3.1.1 Sistem Berbeda dengan Kelompok karena strukturnya ......................................... 29
3.2 Ciri-ciri Struktur Sistem ................................................................................................. 30
3.2.1 Sistem Memiliki Batasan Dinamis .......................................................................... 30
3.2.2 Sistem Memiliki Tujuan .......................................................................................... 30
3.2.3 Sistem Memiliki Struktur Umpan Balik .................................................................. 31
3.2.4 Sistem Memiliki Ciri Holistik yang Berbeda dengan Sekedar Kumpulan
Komponennya ....................................................................................................................... 32
3.2.5 Kombinasi Ciri Sistem: Multi-Dimensi .................................................................. 33
3.3 Pola Berpikir Adalah Sebuah Struktur Sistemik Pikiran ............................................... 34
4. Pola Berpikir Adalah Model Mental ...................................................................................... 36
4.1 Model Mental ................................................................................................................. 36
4.1.1 Apa bentuk dari Model Mental? ............................................................................. 38
4.1.2 Makna Pemahaman Model Mental......................................................................... 38
4.2 Pembentukan dan Modifikasi Model Mental................................................................. 42
4.2.1 Pandanglah Model Mental sebagai sebuah Helm Pikiran ...................................... 42
4.2.2 Tangga Kesimpulan ................................................................................................ 43
4.2.3 Menyelidiki dan Membela ...................................................................................... 46
4.3 Bahan Bacaan ................................................................................................................. 49
5. Berpikir Sistem ...................................................................................................................... 50
7
5.1 Bertanya untuk Berpikir Sistem ..................................................................................... 52
5.2 Prinsip dan Tips Manajemen berbasis Berpikir Sistem ................................................ 54
5.2.1 Investigasi Tujuan: Beragam, Berbeda, Berubah ................................................... 54
5.2.2 Cari dan Pahami Batasan ....................................................................................... 56
5.2.3 Pahami Hubungan Kausa yang Melingkar ............................................................. 58
5.2.4 Lengkapi Ciri Holistiknya ....................................................................................... 60
5.2.5 Memandang Multi Dimensi secara Dinamis Kontekstual ....................................... 61
5.3 Gunakan DeBATik sebagai Alat Bantu Analisa Sistem Anda ........................................ 62
5.4 Causal Loop Diagram (CLD) Diagram Putaran Lingkaran ........................................ 63
5.5 Bahan Bacaan .................................................................................................................. 71
6. Pemecahan Masalah dengan Berpikir Sistem ....................................................................... 72
6.1 Bekal Untuk Memecahkan Masalah .............................................................................. 72
6.1.2 Menyamakan Persepsi tentang Analisa .................................................................. 74
6.1.3 Perbedaan Analisa vs. Analisa Sistem .................................................................... 76
6.1.4 Bekal Analisa: Konsep/Teori, Model, Alat dan Metode .......................................... 77
6.1.5 Analisa Sistemik Secara Iteratif dengan Prinsip 4F ................................................ 81
6.2 Lima Langkah Pemecahan Masalah Berbasis Sistem .................................................... 82
6.2.1 Langkah 1: Pahami dan Definisikan Sistem Masalah Secara Sistemik .................. 84
6.2.2 Langkah 2: Analisa Sistem Saat Ini ........................................................................ 86
6.2.3 Langkah 3: Bangun Kondisi Ideal dan Petakan Gap dengan Kondisi Saat Ini ...... 88
6.2.4 Langkah 4: Susun dan Laksanakan Rencana Perbaikan ........................................ 90
6.2.5 Langkah 5: Monitor dan Standarisasi Perbaikan .................................................... 91
6.3 Bahan Bacaan .................................................................................................................. 91
7. Dukungan Kuantitatif dalam Berpikir Sistem ....................................................................... 93
7.1 Pemodelan Sistem .......................................................................................................... 93
7.1.1 Arti Pemodelan Sistem ........................................................................................... 93
7.1.2 Ruang Lingkup Pemodelan Sistem ......................................................................... 94
7.1.3 Optimasi .................................................................................................................. 95
7.1.4 Simulasi .................................................................................................................. 97
7.2 Pengantar Pemodelan Sistem Dinamis .......................................................................... 98
7.2.1 Grafik Perilaku Dalam Selang Waktu Behavior over Time Graph .................... 101
7.2.2 Stock and Flow Diagram (SFD) Diagram Stok dan Aliran .................................103
8. Penutup ............................................................................................................................... 108
9. Medium Pembelajaran Berpikir Sistem .............................................................................. 109
9.1 Mungkinkah Mengajarkan Berpikir Sistem? ............................................................... 109
9.2 Komponen Pengajaran Berpikir Sistem ........................................................................ 110
9.3 Permainan Pembelajaran Beer Game ........................................................................... 112
9.3.1 Deskripsi Permainan Beer Game ........................................................................... 112
9.3.2 Langkah Permainan yang Dianjurkan dalam Beer Game ..................................... 115
9.3.3 Tugas dan Pertanyaan Refleksi dalam Beer Game ................................................ 116
9.4 Pengantar Soft System Methodology (SSM) ................................................................. 117
9.4.1 Tahap Pemahaman Situasi Permasalahan ............................................................ 118
9.4.2 Medefinisikan Akar Permasalahan ....................................................................... 120
9.4.3 Mengembangkan Model Konseptual (Ideal) ......................................................... 122
9.4.4 Tindakan Pemecahan Masalah .............................................................................. 122
9.5 Bahan Bacaan ................................................................................................................ 123
10. Daftar Pustaka .................................................................................................................. 124
8
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1-1 Hubungan yang mungkin terjadi dengan jumlah komponen tertentu ...................... 11
Gambar 1-2 Struktur Dasar Sistem: Input, Proses, Output dan Umpan-Balik ............................. 13
Gambar 1-3 Struktur dan Pola yang tidak terlihat seperti sebuah Gunung Es di Laut ................. 14
Gambar 2-1 Struktur Proses Pemikiran dalam Menjawab Pertanyaan ......................................... 16
Gambar 2-2 Segitiga Kanizsa, Apakah anda melihat segitiganya diatas? .................................... 20
Gambar 3-1 Struktur Dasar Sistem: Input, Proses, Output dan Umpan-Balik ............................ 32
Gambar 3-2 Struktur Umpan Balik yang lebih kompleks dari Struktur Dasar ............................ 32
Gambar 3-3 Interkoneksi dari Ciri-ciri Sistem menciptakan Multi Dimensi .............................. 33
Gambar 3-4 Berpikir Sistem adalah Sebuah Struktur Internal .................................................... 35
Gambar 4-1 Persepsi yang berbeda tergantung pada Perspektifnya ............................................ 37
Gambar 4-2 Ilustrasi Asumsi Umum bahwa Kita Mengambil Keputusan ................................... 39
Gambar 4-3 Proses Pembentukan dan Modifikasi Model Mental ............................................... 40
Gambar 4-4 Pembelajaran Melingkar Ganda (Double Loop Learning) (Sterman 2000) ............. 41
Gambar 4-5 Amati Model Mental ................................................................................................. 42
Gambar 4-6 Tangga Kesimpulan .................................................................................................. 43
Gambar 4-7 Setiap Anak Tangga Kesimpulan Saling Berhubungan sebagai sebuah Struktur .... 45
Gambar 5-1 Singkatan De Batik untuk Membantu Mengingat Cara Bertanya Sistem ................ 54
Gambar 5-2 Selalu Ingat De Batik ................................................................................................ 62
Gambar 5-3 Bentuk Hubungan Antara 2 Variabel dengan Polaritasnya ..................................... 64
Gambar 5-4 Contoh CLD yang lengkap ........................................................................................ 64
Gambar 5-5 Langkah Penyusunan CLD Versi 1 ............................................................................ 66
Gambar 5-6 Variabel Penyeimbang Ditunjukkan dalam CLD Penyeimbang Diatas ................... 67
Gambar 5-7 Ada Berapa Segitiga pada Gambar ini? .................................................................... 69
Gambar 5-8 Langkah Penyusunan CLD Versi 2 ........................................................................... 70
Gambar 5-9 Metode Pengembangan Daftar (List Extention Method) .......................................... 71
Gambar 6-1 Proses Siklus dalam 4F .............................................................................................. 81
Gambar 6-2 Siklus 4F dikembangkan secara iterative dengan mengubah salah satu dimensi ... 82
Gambar 7-1 Tiga Alternatif Grafik Perilaku Tingkat Konsentrasi Bekerja .................................. 101
Gambar 7-2 Representasi Pengisian Bak Mandi dengan SFD ....................................................103
Gambar 7-3 Representasi Pengisian Bak Mandi dengan SFD dengan mempertimbangkan
Outflow ....................................................................................................................................... 104
Gambar 7-4 Representasi SFD Bak Mandi yang Lengkap dengan Memasukkan Aliran Non-
Material (Aliran Informasi) ........................................................................................................ 104
Gambar 7-5 Model SFD dari Waduk Air dengan Multi Aliran .................................................... 105
Gambar 7-6 Model SFD dari Pohon di Hutan dengan Multi Stok dan Multi Aliran................... 105
Gambar 7-7 SFD Bak Mandi dan 3 Kemungkinan Perilaku Pengisian Air Bak Mandi .............. 106
Gambar 9-1 Layout Papan Permainan Beer Game versi Lab SEMS TIUI ................................... 112
Gambar 9-2 Komposisi Pemain dalam Beer Game ..................................................................... 113
Gambar 9-3 Pembagian Tanggung Jawab dalam Setiap Rantai Stasiun .................................... 114
Gambar 9-4 Pendekatan SSM memiliki 7 Sub-Tahapan dalam 4 Tahap .................................... 118
9
Gambar 9-5 Contoh Rich Pictures tentang Kompleksitas Otonomi Perguruan Tinggi Negeri di
Indonesia dalam Berbagai Tingkatan ......................................................................................... 120
10
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Kelompok Alat Bantu dalam DATT De Bono ................................................................ 26
Tabel 3.1 Perbedaan antara Struktur Sistemik dan Non-Sistemik ............................................... 28
Tabel 3.2 Kondisi Multi-dimensi yang bisa Berubah seiring Perubahan di Setiap Ciri Sistem ... 34
Tabel 4.1 Makna Kata Model Mental ............................................................................................ 36
Tabel 4.2 Cara untuk Mengeluarkan Model mental (Membela) .................................................. 48
Tabel 4.3 Cara untuk Mendapatkan Model mental (Menyelidiki) ............................................... 48
Tabel 5.1 Tips dalam Penyusunan CLD ........................................................................................ 68
Tabel 6.1 Perbedaan antara Analisa dan Analisa Sistem .............................................................. 76
Tabel 6.2 Kelompok Kebutuhan dan Contoh Alat Bantu ............................................................. 79
Tabel 6.3 Perbandingan Langkah-langkah dalam PDCA dengan Pemecahan Masalah berbasis
sistem ............................................................................................................................................ 83
Tabel 6.4 Output, Proses dan Input dalam Langkah 1 ................................................................. 84
Tabel 6.5 Kombinasi 5W+1H dengan DeBatik dalam Mendefinisikan Permasalahan ................ 85
Tabel 6.6 Tabel Peta Saat Ini ........................................................................................................ 87
Tabel 6.7 Output, Proses dan Input dalam Langkah 2 ................................................................. 88
Tabel 6.8 Tabel Peta Gap .............................................................................................................. 89
Tabel 6.9 Contoh Isian Tabel Peta Gap ........................................................................................ 89
Tabel 6.10 Output, Proses dan Input dalam Langkah 3 ............................................................... 90
Tabel 6.11 Output, Proses dan Input dalam Langkah 4 ................................................................ 90
Tabel 6.12 Output, Proses dan Input dalam Langkah 5 ................................................................ 91
Tabel 7.1 Karakteristik dan Metode pada Dua Pendekatan Pemodelan Sistem ........................... 95
11
1. BERPIKIR SISTEM UNTUK MENGATASI PENINGKATAN
KOMPLEKSITAS
Kompleksitas permasalahan telah mencapai tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya. Hilang
sudah sebuah masa dimana sebuah masalah dengan mudah diuraikan dan disederhanakan
menjadi komponen-komponennya, diperbaiki komponen yang rusak, disusun kembali dan
berharap masalah akan terselesaikan. Pendekatan yang sering disebut pandangan analitis
mekanistis (mechanistic analytical views). Saat ini masalah menjadi saling berkaitan, sehingga
ketika diperbaiki komponen yang rusak, belum tentu akan mendapatkan hasil yang sama
sebelum kerusakan yang terjadi.
1.1 KOMPLEKSITAS MENINGKAT AKIBAT ADANYA KONEKTIVITAS
Penyebab utama “ledakan” permasalahan yang kompleks ini adalah karena adanya hubungan
konektivitas yang semakin meningkat antara komponen. Ini berakibat permasalahannya bukan
terletak kepada komponen tetapi karena kekuatan konektivitas yang terganggu atau terlalu
kuat. Semakin banyak komponen akan meningkatkan hubungan, semakin tinggi hubungan
semakin kompleks permasalahan secara eksponensial. Ini yang disebut sebagai kompleksitas
detail. Jika dilihat pada Gambar 1-1 maka ketika jumlah komponen lebih dari 3, maka hubungan
yang terjadi telah melebihi dari jumlah komponennya (Flood and Carson 1993).
Gambar 1 -1 H ub un gan ya ng m un gk in t erja di d en ga n ju ml ah k omponen tertentu
Namun ada lagi jenis kompleksitas lainnya, yang disebut kompleksitas dinamis, yaitu
kompleksitas yang terjadi bukan hanya karena jumlah hubungan, namun juga ditambah dengan
kualitas dari hubungan tersebut yang berubah seiring dengan waktu. Bermain catur misalnya,
telah memiliki aturan hubungan sedemikian rupa sehingga hubungan yang terjadi sudah
terbatas. Namun ternyata hubungan terbatas tersebut tetap menimbulkan kompleksitas
permainan tingkat tinggi, sehingga bahkan sebuah perusahan teknologi IBM menciptakan
sebuah super-komputer khusus, diberi nama Deep Blue, untuk mencoba mengalahkan Juara
Dunia Catur Garry Kasparov dalam 6 kali permainan sejak tahun 1996. Untungnya selama 6 kali
itu Kasparov menang dengan skor 4-2, walaupun kemenangan publik tetap didapatkan oleh
komputer tersebut. Publik jadi bertanya-tanya apakah era dimana mesin bisa akhirnya
menggantikan manusia telah datang. Majalah TIME yang terkemuka di AS bahkan spesial
12
meliputnya dengan judul depan “Can Machine Thinks?”. Kembali ke urusan catur, ternyata
kesederhanaan aturan permainan catur tetap memiliki kompleksitas dinamis yang tinggi akibat
banyaknya skenario respons dalam langkah permainannya.
Dalam dunia bisnis, seperti pada dunia pemasaran misalnya, kian menyadari bahwa ada
kategori baru dalam ilmu pemasaran akibat meledaknya layanan social media internet seperti
facebook atau twitter, yaitu social media marketing. Kategori ini timbul berbasis kepada
pemahaman bahwa pengambilan keputusan pembelian ternyata tergantung pula kepada apa
yang dibeli oleh teman kita. Keterhubungan dengan teman yang semakin mudah terjalin via
media sosial, menciptakan kebutuhan ahli pemasaran untuk lebih mengetahui dinamika
komunikasi virtual dan pengaruhnya kepada pengambilan keputusan untuk membeli suatu
merk. Padahal 10 tahun yang lalu, mereka hanya berfokus kepada pengambilan keputusan saja,
yang dapat dipengaruhi oleh iklan di media massa. Siapa yang menduga, ada sebuah perusahan
berbasis internet, yang namanya jika ditanyakan sebelum tahun 2005, tidak dikenal orang.
Sebuah jejaring pertemanan yang tadinya hanya karena tetangga, teman sekolah dan teman
kantor, bisa meledak menjadi ratusan bahkan ribuan. Coba anda tanyakan rekomendasi merk
untuk kebutuhan anda di status anda, maka teman-teman virtual ini bisa merespons dengan
berbagai rekomendasi pro dan kontra berbagi merk yang ada dipasaran.
Kompleksitas akibat konektivitas, membuat pendekatan mekanistis tidak cocok digunakan
karena tidak memberikan fokus yang lebih terhadap konektivitas, tetapi hanya kepada
komponen. Namun bukan berarti pendekatan ini tidak baik, tergantung dengan kecocokan
permasalahan yang dihadapi. Harus disadari pula bahwa tidak semua permasalahan adalah
kompleks, baik secara detail maupun dinamis. Permasalahan yang kompleks biasanya lebih
terlihat tidak beraturan, tidak mengikuti sebuah pola umum yang biasa atau berulang-ulang
terjadi seandainya tidak diselesaikan pada tingkat strukturnya. Ciri-ciri ini berasal dan
merupakan akibat kompleksitas dari struktur konektivitas permasalahannya (Gharajedaghi
2006).
1.2 KONEKTIVITAS MENGUBAH FOKUS KEPADA PROSES DAN STRUKTUR
Dengan demikian, untuk permasalahan komples kita tidak lagi bisa mengandalkan pemecahan
masalah berbasis hanya kepada komponennya, namun juga mempertimbangkan hubungan
antar komponen. Sehingga untuk ini ada 3 tahap yang harus bisa kita mulai untuk mengubah
fokus permasalahan:
1. tahap pertama adalah mengubah fokus yang tadinya dari output kejadian kepada
proses
2. tahap kedua adalah mengubah fokus proses kepada pola
3. tahap kedua adalah mengubah fokus pola ke struktur yang menimbulkan pola dan
kejadian tersebut.
Tahap pertama, yaitu mengubah fokus dari kejadian kepada proses adalah untuk mendorong
analisa kita untuk melihat apa yang ada dibelakang layar. Ketika kita melihat masalah kita tidak
terjebak hanya untuk melihat masalahnya saja, tapi proses penyebab dari permasalahan
tersebut. Banyak sekali diantara kita yang biasanya lebih berfokus kepada output, tanpa mau
mengeksplorasi bagaimana proses yang mengakibatkan output tersebut.
13
Tahap kedua melanjutkan tahap pertama, karena seiring dengan fokus kita melihat dan
memahami proses maka kita bisa mendapatkan dan memprediksi adanya pola output kejadian
seiring dengan berjalannya proses. Pola-pola itu misalnya
ternyata masalah saat ini sebenarnya merupakan eskalasi dari masalah sebelumnya,
namun belum terdeteksi, sehingga jika proses tidak berubah maka masalah akan
meningkat terus.
Ternyata ketika kita mengubah beberapa hal didalam proses, output yang dihasilkan
juga berubah. Jika perubahan ini dilakukan dalam suatu rentang tertentu, maka sebuah
pola kejadian bisa muncul.
Ternyata ketika output berubah, proses juga mengalami perubahan yang mengakibatkan
output akan berubah secara permanen.
Tahap ketiga adalah berarti proses tidak cukup, karena kita perlu mengidentifikasikan
perubahan yang mungkin terjadi kepada proses, artinya perlu diidentifikasikan input yang
dibutuhkan, serta bagaimana semua terhubung melalui umpan-balik. Karena setiap proses
tentu akan membutuhkan input, dan yang akan mengontrol jalannya input dan proses adalah
sebuah mekanisme umpan balik dari output maupun dari proses, seperti pada ilustrasi Gambar
1-2
Gambar 1 -2 Str uk tu r Da sa r Si st em : In pu t, P rose s, O utput da n Um pa n -B al ik
Gambar 1-2 adalah ilustrasi dari apa yang dikenal sebagai struktur dasar sebuah sistem.
Sehingga sebuah analisa sistem sering pula diterjemahkan sebagai cara memetakan
permasalahan dengan struktur dasar sistem, yaitu memetakan apa inputnya, bagaimana
memprosesnya, bagaimana output dan cara umpan balik yang terjadi.
Tahap pertama inilah yang menyadarkan kita untuk tidak hanya berfokus kepada kejadian
(output) namun pola penyebab dari kejadian tersebut (yaitu input-proses-output-umpan balik).
Tahap pertama merupakan pondasi tahap kedua berikutnya yaitu kita setelah memahami pola
kita perlu memahami struktur membutuhkan tidak hanya tetapi juga struktur yang lebih
lengkap yang merupakan.
Output mudah karena terasa atau seolah terlihat oleh kita, sedangkan pola dan struktur
cenderung tidak terlihat (non-fisik/intangible). Sehingga memetakan struktur memang lebih
sulit. Fenomena ini sering disebut sebagai fenomena gunung es, seperti yang diilustrasikan pada
Gambar 1-3.
14
Gambar 1 -3 S tr uk tu r dan Pola yang tidak terlihat seperti sebuah Gunung Es di Laut
Contohnya adalah, bagaimana kita memiliki kesimpulan bahwa seseorang memiliki kepribadian
yang baik? Tentunya dari kumpulan kejadian selama kita berteman dengan dia. Kita menilai
dari caranya berpendapat, interaksi dia dengan kita atau orang lain yang bisa kita amati,
bagaimana responsnya ketika kita mintakan bantuan dan lain-lain. Kumpulan kejadian inilah
yang menyebabkan kita bisa menebak apakah jika kita minta bantuan lagi nantinya, seseorang
ini akan membantu kita atau tidak. Artinya kumpulan kejadian, membuat kita memiliki pola
pertemanan kita dengan seseorang ini. Pola dapat disimpulkan adalah kumpulan kejadian.
Jika kita ingin telusuri lebih lanjut, misalnya kenapa sih kok teman kita nih baik sekali atau
dewasa sekali, maka kita akan mencari tahu “struktur” dalam keluarga, pengalaman, pekerjaan
dan lainnya yang bisa mengakibatkan teman kita menjadi seperti itu. Hal ini sama dengan
membaca otobiografi orang yang kita kagumi. Kita ingin meniru “pola” orang yang kita kagumi
ini, dengan mencoba mengikuti “struktur” yang membuat “pola” orang ini. Struktur ini menjadi
batasan-batasan sehingga akan membentuk berbagai variasi pola tertentu.
Konektivitas yang mengakibatkan masalah yang semakin kompleks akan memotivasi kita untuk
mengubah cara pandang dari hanya sekedar output (kejadian) ke eksplorasi struktur dari sistem
permasalahan. Namun yang sering kita tidak sadari, bahwa dalam struktur masalah merupakan
kombinasi antara struktur masalah eksternal dengan struktur masalah internal. Struktur
masalah eksternal adalah permasalahan yang kita hadapi, sedangkan struktur permasalahan
internal adalah pola berpikir kita untuk menyikapi masalah pola eksternal tadi. Bahkan, bisa
saja pola berpikir kita sering menjadi bagian terbesar dari sulitnya melakukan pemecahan
masalah.
15
Kehidupan adalah adalah 10% yang terjadi dengan saya, dan 90%
respons saya terhadap kejadian itu (John Maxwell)
1.3 DIBUTUHKAN POLA BERPIKIR YANG SESUAI DENGAN PENINGKATAN
KOMPLEKSITAS
Kompleksitas yang semakin meningkat akibat adanya konektivitas, merupakan petunjuk bahwa
telah terjadi pola baru pada permasalahan yang kita hadapi. Pola masalah baru tersebut
memiliki perilaku yang berbeda menghadapi solusi yang kita berikan, perilaku itu misalnya,
Ketika permasalahan yang kita hadapi saat ini berasal dari solusi yang kita terapkan
pada masa lalu
Ketika solusi yang anda dorong ke permasalahan menimbulkan reaksi dorong balik dari
sistem
Ketika solusi berhasil membuat perilaku sistem membaik untuk sementara namun
memburuk lebih parah pada jangka panjang
Ketika solusi malah memperparah kondisi sistem dan menjadi sumber masalah baru
yang lebih parah dari masalah sebelumnya (The cure can be worse than the disease)
Ketika solusi yang mempercepat malah memperlambat (faster is slower)
Pola baru masalah ini tentunya membutuhkan pola baru dalam berpikir untuk menguraikan
dan memecahkan masalah. Sebuah pola baru yang:
berbasis kepada kompleksitas yang ditimbulkan pola konektivitas bukan saja kepada
komponennya (fokus kepada struktur konektivitas yang tidak terlihat)
iteratif, karena lebih sulit untuk menemukan konektivitas dibandingkan komponen,
sehingga dibutuhkan usaha yang berulang-ulang
kontekstual, karena masalah bisa saja berubah seiring dengan waktu dan tempat
akibat perubahan pola konektivitas.
Pola inilah yang ingin dibentuk dalam berpikir sistem.
1.4 BAHAN BACAAN
Flood, R. L. and E. R. Carson (1993). Dealing with complexity : an introduction to the theory
and application of systems science. New York, Plenum Press.
Gharajedaghi, J. (2006). Systems thinking : managing chaos and complexity : a platform for
designing business architecture. Amsterdam ; Boston, Elsevier.
16
2. APAKAH BERPIKIR ITU?
2.1 BERPIKIR ADALAH PROSES MENJAWAB PERTANYAAN
Apakah anda sedang berpikir saat ini?
Jika anda sedang menyusun jawaban atas pertanyaan diatas, jawabannya adalah iya.
Berpikir berbeda dengan melamun untuk satu hal penting: adanya tujuan. Tujuan itu bisa
berupa mencari akar permasalahan, memecahkan permasalahan, atau mengambil kesimpulan.
Berbagai macam tujuan ini bisa digabungkan menjadi satu menjadi tujuan sederhana yaitu
upaya untuk menjawab pertanyaan. Pencarian akar permasalahan merupakan jawaban atas:
"apa akar permasalahan?". Pemecahan masalah juga merupakan jawaban atas: "Bagaimana
memecahkan masalah ini?".
De Bono pernah menulis bahwa bertanya seperti membuat sebuah lubang di jalan yang kita
akan lewati. Untuk bisa melewati jalan tersebut, kita akan terdorong selalu untuk mencoba
menutup lubang tersebut. Ini berarti, bertanya memicu sebuah proses pembuatan jawaban,
yaitu berpikir. Jika dijabarkan prosesnya maka kualitas proses menjawab pertanyaan ini
bergantung kepada keahlian berpikir kita dan pengetahuan yang kita miliki dan bisa
dillustrasikan seperti pada Gambar 2-1.
Gambar 2 -1 Str uk tu r Pr os es Pemikiran d al am M en ja wa b Pert an ya an
17
Di dalam Gambar 2-1 maka sebuah permasalahan dapat diterjemahkan sebagai sebuah
pertanyaan yang harus dijawab untuk memenuhi tujuan. Gambar ini dapat dibaca sebagai
berpikir adalah proses menjawab pertanyaan tertentu sebagai tujuan akhir dalam suatu
kerangka cara pandang kita berdasarkan kepada asumsi kita terhadap implikasi dan
konsekuensi (dari hasil berfikir kita nantinya) menggunakan data, fakta dan pengalaman untuk
menyusun hubungan & pertimbangan berdasarkan pengetahuan konsep dan teori yang kita
miliki. Kemampuan super-komputer otak kita membuat seluruh proses ini berjalan secepat kilat
untuk menghasilkan jawaban, bahkan lebih cepat dibandingkan anda membaca kalimat ini.
Jawaban ini dilihat secara nyata sebagai keputusan, pertimbangan atau pendapat yang akhir
dikemukan baik secara lisan maupun tulisan.
Jika kita masukkan proses ini ke jalur lambat untuk kita amati, maka kita bisa mengikuti
prosesnya satu-persatu. Namun tetapi diingat bahwa pada kenyataannya semuanya saling
berkaitan sehingga proses iteratif akan terjadi dan berpindah-pindah secara dinamis dari satu
aspek ke aspek lainnya..
Proses pertama yang terjadi adalah penentuan kerangka pandang. Kerangka cara pandang
ini bisa berupa arah pandang, sudut pandang dan alat bantu memandang (seperti kacamata
yang memiliki berbagai model: kacamata khusus baca, olahraga, kerja lapangan, bahkan
menyelam ). Biasaya arah pandang pertama adalah sudut pandang kita sendiri, berikutnya baru
orang lain atau kelompok lain. Sebagai sebuah sudut, maka lebar derajat sudut dalam sudut
pandang tergantung dari apa yang anda ingin dan mampu melihat. Ingin berarti seberapa besar
informasi yang ingin anda pertimbangkan. Mampu tergantung dari aspek lain seperti
pengalaman, data dan fakta juga menentukan alat bantu pandang apa yang ingin anda gunakan.
Contoh sederhananya adalah alat pandang 5W+1H (What, Where, Why, Who, When dan How),
yang dapat membantu kita untuk memandang permasalahan. Ada lagi alat seperti SWOT, Plus
Minus dsb.
Data dan fakta akan menjadi sebuah informasi yang akan anda proses dalam membuat
jawaban. Kebutuhan data dan fakta akan tergantung dari cara pandang, konsep teori yang anda
pelajari serta implikasi yang anda proyeksikan. Data dan fakta bisa berbentu dokumen,
informasi kredibel dan kajian analisa yang kuantitatif. Pengalaman memberikan makna
kepada data dan fakta yang anda kumpulkan. Pengalaman bisa dibangun melalui secara
langsung melalui sejarah kehidupan kita atau secara tidak langsung melalui pendidikan formal
yang kita alami. Karena pendidikan formal dapat dipandang sebagai proses pertukaran
pengalaman. Pengalaman dari guru/dosen ke mahasiswa, senior ke yunior, dari penulis buku
dengan pembacanya dan sebagainya.
18
Boks 2.1 Kisah 5 Ekor Monyet dengan Pengalaman Virtual
1
Dalam sebuah eksperimen perilaku, sekelompok 5 ekor monyet di kumpulkan untuk hidup
dalam sebuah kandang dengan tangga di tengah untuk mencapai segerombol pisang matang
yang sangat menggoda. Di salah satu pojok ruangan sebenarnya diberikan pula segerombol
pisang, namun dalam jumlah terbatas dan jenis yang kurang enak dibandingkan ditengah atas
tangga. Tentunya ada seekor monyet yang tergoda untuk mengambil pisang yang ada ditengah
ini, namun setiap kali ada yang menaiki tangga maka, ruangan tersebut akan diguyur dengan
semprotan air di seluruh area kecuali di tangga tersebut. Air adalah “musuh” para monyet,
sehingga mereka kemudian marah dan memukul-mukul monyet yang mencoba mengambil
pisang tersebut. Hal ini terjadi berulang-ulang setiap kali ada monyet yang masih lapar dan
tergiur oleh pisang ranum yang ada diatas tangga. Sehingga akhirnya tidak ada 1 ekor monyet
pun yang berani naik tangga karena takut dikeroyok oleh kelompoknya.
Ketika 1 monyet diganti dan tidak tahu “kebijakan” kelompok ini, ketika bertanya-tanya kenapa
kok tidak ambil yang ditengah saja yang lebih enak, maka monyet lain akan melakukan
pendidikan bahwa jika ada yang naik maka yang lain akan diguyur air. Jika monyet ini nakal
dan terus mencoba karena masih lapar misalnya, maka akan dicegah habis-babisan oleh yang
lain. Kalaupun ternyata lolos pengawasan, maka air benar-benar akan keluar, sehingga setelah
dikeroyok oleh monyet lain, mereka akan mengatakan “tuh kan”. Si monyet baru ini akan
kapok.
Hal ini terjadi berulang-ulang ketika para peneliti mulai mengganti hingga akhirnya seluruh
monyet di kandang tersebut bukanlah 5 ekor monyet pertama ketika eksperimen dilakukan, dan
“hukuman” air telah dimatikan. Yang menarik proses “pendidikan” terus berulang, dan hingga
seterusnya di pisang ranum yang ada ditengah tangga tidak pernah tersentuh hingga
eksperimen berakhir.
2
Cerita sebelumnya mengenai sekelompok monyet, mengilustrasikan konsep pendidikan yang
berasal dari pengalaman, sehingga biasanya bertujuan untuk menciptakan “pengalaman” virtual
sehingga orang yang dididik akan berpikir, berperilaku dan bertindak dalam suatu arah positif
tertentu. Proses pendidikan akan bertumpu kepada penyebaran atau transfer dari konsep dan
teori.
1
Di beberapa bagian dalam buku buku ini, anda juga akan menemukan “kotak pikiran” (thought box)
yang berisikan tulisan-tulisan yang berisikan contoh, studi kasus dan lainnya yang berupaya memperjelas
konsep yang dikenalkan dan memiliki relevansi terhadap konsep yang dituliskan. Beberapa tulisan
didalam kotak pikiran ini juga saya rangkai kembali dari blog pribadi saya di hidayatno.wordpress.com.
2
Catatan tentang cerita ini: Tidak pernah jelas apakah eksperimen ini pernah dilakukan secara nyata, jadi
sulit mencari sumber ilmiah cerita ini, namun cerita ini telah banyak diceritakan diberbagai buku-buku
pengembangan kepribadian, dan memiliki logika yang bisa diterima oleh kita semua.
19
Konsep dan teori yang kita miliki dibangun melalui pendidikan formal dan informal.
Pendidikan adalah proses transfer pengetahuan dan pengalaman yang terseleksi dan
terkompresi sehingga meminimalisir kesalahan yang terjadi dengan belajar dari pengalaman
yang telah lampau. Ilustrasi: maukah anda mencolokkan garpu ke stop kontak listrik yang
masih ada tegangannya? Anda bisa diajarkan bahwa ini berbahaya dan menyakitkan atau anda
juga bisa bereksperimen sendiri dan merasakan pengalamannya. Pendidikan memberikan
pengetahuan bisa menjadi pengalaman “virtual” dari diri kita.
Kemudian, kita akan memproyeksikan konsekuensi dan implikasi dari berbagai skenario
keputusan yang bisa kita ambil. Proyeksi konsekuensi ini tergantung kepada teori dan konsep
yang kita ketahui, pengalaman yang kita telah lalui, serta data dan fakta yang kita
interpretasikan. Proyeksi ini layaknya simulasi menggunakan komputer: bagaimana jika A, jika
B dst, dimana setiap skenario anda proyeksikan dampak negatif maupun positifnya.
Keempat aspek pemrosesan yang terjadi menunjukkan bahwa proses berpikir merupakan
sebuah proses yang sebenarnya panjang dan melelahkan secara mental, sehingga pada
kenyataannya kita sebenarnya jarang berpikir murni ketika mengambil keputusan. Dan ini
semakin nyata ketika harus mengambil keputusan yang bersifat rutin dan repetisi dari yang
pernah kita buat. Pada keputusan semacam ini kita memiliki mekanisme otomatis yang sering
kita gunakan, yang disebut pola pikiran.
2.1.1 POLA PIKIRAN SEBAGAI SEBUAH STRUKTUR PIKIRAN
"If everyone is thinking alike, then somebody isn't thinking." (George S. Patton)
Pola adalah sebuah rencana, cara atau model yang bisa diikuti untuk melakukan atau membuat
sesuatu. Ketika saya masih kecil, ibu saya tercinta dengan kemampuan menjahitnya sering
membuat baju sendiri dengan pola yang dia dapatkan dari majalah. Saya masih ingat ikut
membantu memotong-motong pola tersebut kemudian membuat garis-garis pemandu
pemotong diatas kain berbasis pada pola tersebut.
Pola memang sangat membantu kita, kita tidak perlu lebih bersusah-payah dalam mengerjakan
sesuatu yang telah ada polanya dibandingkan jika sama sekali baru dan tidak memiliki pola.
Namun ternyata pola bisa membuat kita berbuat kesalahan jika kita menggunakan pola yang
salah. Kenapa kita tetap menggunakan pola yang salah, karena ada 2 jebakan utama
menggunakan pola, yaiu kemudahan terdekat (Nearest Easy) dan kesamaan terdekat (Nearest
Fit).
Kemudahan terdekat (Nearest Easy) adalah ketika permasalahan yang sebenarnya tidak sama
tetapi kita paksakan sama walau hanya memiliki sedikit kemiripan dari permasalaha yang
pernah kita hadapi. Kemudahan terdekat memiliki apa yang saya sebut fenomena kerucut
undur-undur.
20
Sewaktu kecil di masa SD saya pernah diajarkan oleh teman sekelas
untuk main undur-undur pasir di tanah. Undur-undur adalah sejenis
serangga yang membuat sebuah kerucut tanah ke bawah untuk
menjebak semut atau serangga yang lebih kecil lainnya tergelincir jatuh
ke ujung bawah tempat dimana dia bersiap-siap untuk menerkam
mangsanya. Fenomena tergelincir jatuh ini mirip dengan kemudahan
terdekat, yang seolah-olah kita tidak bisa lari dari jebakan tergelincir
ini. Cara untuk tidak terjebak adalah dengan tidak membiarkan diri
kita untuk berpaku terhadap pola kerucut yang ada. Seperti juga
permainan di SD ini, saya dipersenjatai dengan sedotan untuk meniup
struktur kerucut undur-undur tanah ini sehingga rusak dan memaksa si undur-undur membuat
pola baru di tempat lain. Anda akan memiliki pola baru, jika anda meninggalkan pola berpikir
lama anda.
“Jika alat yang anda miliki hanya sebuah palu, maka semuanya terlihat seperti paku”
(Anonim)
Kesamaan terdekat (Nearest Fit). Otak kita setiap saat
memproses segala informasi yang dipaparkan atau terpaparkan
didepan kita. Pada tingkat pertama, otak mencoba mencocokkan
apa yang dipaparkan dengan apa yang kita ketahui. Jika kita
sudah mengetahuinya maka otak tidak perlu bekerja lebih keras,
dia tinggal mengambil pola respons yang biasa kita lakukan. Otak
kita baru akan bekerja keras jika yang dipaparkan tersebut tidak
kita pahami atau tidak pernah kita temui sebelumnya. Hal yang
tidak kita pahami berarti didalam memori/ingatan kita tidak
terdapat data tersebut dan tentunya pola respons otomatis tidak bisa dijalankan.
Namun dalam kesamaan terdekat, otak terkadang mengkonstruksi suatu hal yang sebenarnya
tidak ada, karena kita merasa pernah melihat yang sama. Perhatikan konstruksi Segitiga
Kanizsa dibawah ini,
Gambar 2 -2 Segitig a Ka nizs a, A pa ka h anda m el ihat s eg it igan ya d ia ta s?
Pola
?
X
Pola
21
Otak melakukan konstruksi adanya segitiga didalam Gambar 2-2 yang sebenarnya tidak ada.
Ruang yang sebenarnya kosong, tidak terdapat apa-apa, seolah-olah menjelma menjadi sebuah
segitiga. Konsep dalam dunia desain grafis sebagai ruang negatif (negative space) yang harus
tetap diperhatikan dalam desain karena berpengaruh terhadap nuansa secara keseluruhan.
Salah satu logo hypermart terkemuka dari Perancis yang memiliki cabang di Indonesia
sebenarnya adalah huruf C didalam ruang negatif dengan dua warna.
2.1.2 DAMPAK NEGATIF JEBAKAN POLA PIKIRAN
Dampak negatif dalam jebakan pola pikiran mencakup,
a) Generalisasi
Proses dimana kita mengambil kesimpulan umum dari data atau fakta tanpa
mempertimbangkan bahwa ada kesimpulan lain yang juga bisa benar. Hal ini sering pula
disebut sebagai stereotype, yang sering disebut pula sebagai jump to conlusion (loncatan
kesimpulan) atau leap of abstraction (loncatan abstraksi). Ungkapan dalam pembicaraan
yang bisa menunjukkan kelakuan generalisasi adalah “Ini pasti …”, “Biasanya …”, “Yah,
Paling …”,
b) Konstruksi
Konstruksi adalah ketika kita menkonstruksi sebuah konsep berbasis kepada imajinasi dari
sedikit informasi yang kita punya. Jika generalisasi mengacu kepada apa yang sudah ada
atau kita alami, konstruksi membuat sesuatu hal yang baru, yang tidak ada sebelumnya.
Ilustrasi segitiga kanizsa pada bagian sebelumnya merupakan contoh dari jebakan ini. Ini
juga mirip dengan mengambil kesimpulan gambar dari puzzle lengkap padahal kita hanya
hanya memiliki satu atau dua komponen puzzle.
c) Eliminasi
Eliminasi adalah ketika kita menghilangkan data, fakta atau informasi yang sebenarnya
relevan, namun kita tidak tahu atau tidak mau tahu. Eliminasi sebuah proses otomatis yang
paling sulit kita sadari dan berjalan sangat cepat. Padahal tanpa kelengkapan informasi yang
seimbangdan relevan maka pengambilan keputusan juga pasti tidak lebih baik.
d) Pembobotan
Pembobotan adalah ketika kita memberikan bobot yang lebih kepada fakta atau informasi
yang sesuai dengan keinginan kita, dan mengurangi bobot kepada fakta atau informasi yang
bertentangan. Pembobotan natural yang sering kita lakukan adalah ,
i) memberikan bobot lebih kepada informasi terkini dibandingkan dengan informasi
terdahulu.
ii) memberikan bobot lebih kepada informasi dari yang kita kenal (familiar)
dibandingkan tidak kita kenal
iii) memberikan bobot lebih kepada yang dekat dibandingkan yang jauh
iv) memberikan bobot kebih kepada yang kita sukai dibandingkan tidak kita sukai
22
Keempat dampak negatif jebakan pola pikiran ini sebenarnya adalah hal yang positif juga bagi
kita, karena membuat kita tidak harus berpikir terus-menerus. Jika kita berpikir terus, kita bisa
kelelahan secara mental. Ada pekerjaan yang memang repetitif sehingga tidak membutuhkan
pemikiran yang mendalam. Sehingga yang penting kita sadar kapan kita sedang menggunakan
pola pikiran otomatis kita.
2.1.3 DAMPAK POSITIF POLA PIKIRAN
Jika kita telah membahas dampak negatif dari pola pikiran maka sebenarnya terdapat dampak
positif dalam jebakan pola pikiran yang mencakup,
a) Menghindarkan dari bahaya
Pola pikiran dapat menghindarkan diri kita dari bahaya. Anda pasti tidak mau untuk
diminta mencolokkan jari ke kabel terbuka yang masih ada aliran listriknya. Anda juga tidak
mau untuk diminta keluar lewat jendela dari gedung berlantai 5. Secara insting anda akan
menangkis sebuah pukulan yang diarahkan ke anda. Tidak mungkin anda harus berpikir
sistem dulu untuk menganalisa apakah pukulan itu anda perlu tangkis atau tidak.
b) Mengurangi distraksi
Saya yakin ketika anda membaca buku ini maka ada suara-suara di sekeliling anda yang
sebenarnya ada namun anda tidak memperhatikannya. Misalnya suara jangkrik, mesin AC,
pompa air, lampu listrik dll. Proses eliminasi ini meningkatkan konsentrasi dan
menghilangkan gangguan sehingga kita bisa bekerja lebih efektif.
2.2 BEKAL BERPIKIR SISTEM DARI POLA BERPIKIR LAINNYA
Berikut ini akan dibahas beberapa bekal dari pola berpikir lainnya yang turut membangun
berpikir sistem, yaitu berpikir logis, kritis dan holistik. Definisi yang beraneka ragam, dengan
bahkan ada yang dibahas sangat mendalam dalam sebuah buku seperti berpikir kritis atau
berpikir, membuat deskripsi yang akan diberikan dalam bagian ini lebih singkat dan umum.
Perlu disadari bahwa berpikir sistem bukanlah sebuah pola berpikir yang independen dan unik.
Sebenarnya secara konseptual, pola berpikir sistem merupakan kombinasi dan pengembangan
dari pendekatan atau pola berpikir lainnya. Metode atau alat yang digunakan pun bisa
mengadopsi berbagai metode dan alat yang digunakan di berbagai konsep lain, seperti kualitas,
pemecahan masalah dan lainnya.
2.2.1 BERPIKIR LOGIS
Berpikir logis dapat didefinisikan dengan kemampuan untuk menghubungkan dua atau lebih
komponen atau faktor dalam sebuah hubungan yang secara umum diterima argumentasi
validitasnya. Sebuah definisi yang berbeda dengan teksbook dan mungkin tidak anda setujui
mengingat sejarah yang panjang konsep logika. Sejarah yang tercatat memulai pendekatan
logika di jaman Aristotles dan berkembang ke berbagai variasi logika termasuk menjadi logika
matematika yang berperan penting dalam bahasa pemrograman komputer dewasa ini.
Namun secara sederhana dalam berpikir sistem, berpikir logis membantu membebaskan diri
dari imajinasi yang terlalu liar sehingga meninggalkan kemasukakalan, ketika menganalisa
sebuah masalah. Tanpa ada batasan logika maka lamunan yang dilakukan akan tidak praktis
23
atau down-to-earth dan tidak memiliki perbedaan dengan khayalan. Berpikir logis yang
berbasis kepada olah argumen akan membantu kita dalam mengajak lawan bicara setuju
dengan kita, suatu proses yang penting pula dalam berpikir sistem. Berpikir logis dengan
kedisiplinan urutan argumen, juga memudahkan melakukan berpikir sistem , karena
komponen-komponen argumen harus dirangkai dalam urutan sedemikian rupa sehingga secara
lagika bisa diterima
2.2.2 BERPIKIR KRITIS
Berpikir kritis merupakan jantung dari pendidikan modern. Sebuah proses untuk melakukan
konseptualisasi, analisa, atau sintesa dari informasi yang didapatkan dari berbagai sumber
sebagai panduan untuk bertindak atau mengambil keputusan. Proses berpikir kritis adalah
sebuah proses argumentasi berbentuk tanya jawab terhadap sebuah klaim. Argumentasi yang
kuat harus didasarkan kepada pemikiran dan pertimbangan (reasoning) yang kuat dan memiliki
struktur logika yang masuk akal. Pertimbangan yang kuat bisa berbasis kepada analogi, data
numerik, generalisasi dan hubungan kausal (Epstein and Kernberger 2006).
Yang sering disalah artikan di media soal kata "kritis" adalah makna untuk menegatifkan atau
ketidaksetujuan. Pemaknaan yang salah ini merupakan akibat dari penggunaan berpikir kritis
untuk mendebat sebuah klaim. Perdebatan dilakukan untuk menolak atau mempertahankan
sebuah klaim melalui sebuah struktur logika dari kombinasi antara fakta, pengalaman dan
imajinasi.
Struktur paling sederhana dan lazim digunakan dalam membangun argumen adalah 5W+1H
(What, Why, Where, When, Who dan How Apa, Mengapa, Dimana, Kapan, Siapa dan
Bagaimana). Namun struktur yang lebih kompleks bisa saja dilakukan dan berbagai teknik
dapat dilakukan untuk menyusun pembenaran atau penentangan terhadap sebuah argumen.
Orientasi kepada argumen inilah yang membuat berpikir kritis terkadang tidak cocok digunakan
dalam sebuah proses pemecahan masalah yang baik. Unsur kepentingan subyektif sering
menjadi kontra produktif dalam pencarian sumber akar permasalahan.
Komponen terpenting dalam berpikir kritis didalam menyusun pola berpikir sistem adalah
proses menyusun pertanyaan-pertanyaan argumentatif yang relevan dalam struktur logis.
Sebuah proses serupa yang akan mengantarkan kita kepada definisi berpikir sistem. Komponen
lain yang mendukung adalah ,
Dorongan untuk memiliki keingintahuan (curiosity) yang sehat untuk mengumpulkan
informasi yang relevan,
Keingintahuan yang membutuhkan sebuah pikiran terbuka terhadap asumsi, implikasi dan
konsekuensi sesuatu hal yang penting dalam berpikir sistem, sehingga berpikir kritis menjadi
salah satu komponen penting pula dalam pembentukan berpikir sistem
2.2.3 BERPIKIR HOLISTIK (PANDANGAN HELIKOPTER)
Ada sebuah pepatah seperti ini, "Mana mungkin kita mengukur panjang dan lebar kolam
renang, seandainya anda sedang sibuk berenang didalam kolam untuk menghindar dari
terkaman buaya yang mengejar anda"
24
Kesibukan tugas sehari-hari bisa membuat kita melupakan gambaran besar dari apa yang
sedang kita lakukan, padahal sangat penting dalam sebuah interval waktu yang rutin untuk
berhenti sejenak mengurusi permasalahan yang detail untuk melihat keseluruhan permasalahan
secara makro. Sehingga istilah berpikir holistik sering disebut pula sebagai forest thinking
sebagai lawan tree thinking yang detail (Richmond 2000).
Kemampuan secara dinamis memandang permasalahan dalam skala yang berbeda ini disebut
kemampuan untuk memandang dari helikopter (helicopter views). Pandangan helikopter
mengajak kita untuk seolah-olah menjadi sebuah pilot helikopter yang dengan mudah
menaikkan dan menurunkan ketinggian helikopternya. Ketinggian helikopter akan menambah
atau mengurangi horizon pandangan kita. Peningkatan ketinggian akan memperluas horizon
sehingga kita bisa melihat lebih luas namun akan kehilangan perspektif detail dari area yang
kita amati. Mirip dengan istilah hutan diatas, kalau kita melihat kontur hutan akan sulit untuk
memperhatikan satu pohon tertentu karena keterbatasan kemampuan penglihatan kita.
Penurunan ketinggi akan memperkecil horizon pandangan sehingga memungkinkan kita untuk
lebih detail melihat pohon secara individu, namun kita juga akan kehilangan jangkauan luas
dari pandangan makro.
Keduanya penting, sangat rugi jika kita hanya memiliki satu pandangan saja. Amat disarankan
untuk kita selalu ingat untuk menaikkan dan menurunkan ketinggian helikopter kita sehingga
kita tidak kehilangan perspektif yang luas ketika menganalisa perspektif yang detail.
Mengapa berpikir holistik penting? karena semua penjelasan bisa berbeda tergantung dari
konteks, dan konteks tergantung dari luasnya pandangan kita. Pemahaman sistem juga akan
berbeda jika konteksnya akan berubah.
2.3 BERPIKIR LATERAL SEBAGAI BEKAL BERPIKIR SISTEM
Berpikir lateral dicetuskan oleh Edward De Bono awalnya sebagai sebuah pendekatan dan
metode untuk meningkatkan kreativitas (De Bono 1971). De Bono menyadari jebakan dan
kekuatan pola pikiran sehingga kita seolah-olah tidak mampu menahan momentum dalam
mengambil keputusan berbasis kepada pola berpikir. Ketika momentum ini timbul, segala
macam pola-pola lain yang seharusnya bisa kita lihat menjadi tidak terlihat. Ini merupakan
salah satu penyebab kenapa sering kesalahan yang sama berulang kali terjadi, karena
keputusannya sama, karena didasarkan dari pola pikir otomatis yang sama. Sehingga dasar dari
berpikir lateral adalah bagaimana menghentikan momentum ini sehingga kita memiliki celah
kesempatan untuk memperhatikan pola lain. Pola pikir lain yang mungkin bisa lebih tepat, lebih
baik dan lebih cocok dalam memecahkan masalah yang kita hadapi (De Bono 1994).
Ilustrasinya mirip dengan jalan yang kita rutin lewati untuk sekolah atau bekerja, jika jalan ini
selalu lancar maka kita tidak akan melihat apakah ada belokan jalan lain. Dengan kecepatan
tinggi kita selalu menggunakan jalan yang sama tanpa memperhatikan sekeliling kita secara
seksama. Namun ketika macet, maka kita baru sadar bahwa ternyata ada belokan jalan lain di
pinggiran jalan yang kita lewati. Jalan yang mungkin bisa membuat kita lebih cepat mencapai
tujuan. Istilah yang sering digunakan warga Jakarta untuk jalan-jalan ini adalah jalan tikus.
25
De Bono mengidentifikasi bahwa manusia sebenarnya sebuah makhluk pengguna pola (pattern
using creature). Karena manusia memiliki kecenderungan besar untuk malas berpikir.
Kemalasan ini timbul sebagai akibat banyaknya energi pikiran dan mental yang digunakan
untuk berpikir. Jadi manusia biasanya hanya berpikir untuk menghilangkan kebutuhan di masa
yang akan datang untuk berpikir dengan menyusun sebuah pola keputusan standar. Pola ini
diasumsikan bisa dipakai secara berulang-ulang dan terus-menerus tanpa harus dimodifikasi.
Sebagai ilustrasi adalah olah raga bela diri. Banyak sekali waktu, tenaga dan pikiran yang harus
dilakukan melalui latihan yang rutin dan disiplin, yang akan berujung kita memiliki pola refleks
untuk menangkis dan melancarkan serangan. Tentunya anda ingin ketika seseorang menyerang
anda, maka tangan anda akan secara otomatis melakukan gerakan untuk menangkisnya. Ini
adalah penggunaan otomatis hasil dari pembentukan pola yang dilakukan dengan susah payah.
Berpikir lateral didefinisikan sebagai pola berpikir untuk mencari solusi dari sebuah
permasalahan, melalui penciptaan asosiasi dengan hal-hal lain (yang pada awalnya) seperti
tidak memiliki hubungan. Penciptaan asosiasi yang dipaksakan dilakukan membuat kita
berhenti menggunakan pola otomatis, untuk kemudian memiliki berbagai alternatif alur pikir
lain. Ini berarti kita tidak hanya mengikuti satu jalur alur pikir saja, sehingga secara kreatif
mencari jalur-jalur lainnya.
Jika alur pikir seperti ilustrasi jalan yang kita lewati dalam pembahasan sebelumnya, maka
proses berpikir lateral seperti loncat menggunakan jalan lain untuk mendapatkan solusi dari
permasalahan yang kita hadapi. Namun jalan yang kita loncati bukanlah jalan yang tidak
terhubung dengan jalan yang sedang kita lewati. Ini membedakan berpikir lateral dan
brainstorming. Secara tradisional brainstorming memaksa kita untuk melepaskan diri dari
pikiran kita saat ini, jadi tidak boleh kita memilih jalan yang terkoneksi dengan jalan lain yang
sedang kita lalui. Brainstorming juga tidak boleh memiliki batasan. Segala ide atau pikiran,
setidak-mungkin apapun, sejelek atau sebaiknya, tidak boleh dibatasi. Berpikir lateral tetap
memiliki koneksi logis terhadap alur pikiran saat ini dan tetap memiliki batasan untuk mencari
alternatif solusi permasalahan. Itulah sebabnya alternatif solusi yang timbul dari berpikir
lateral bisa membuat kita tercengang kenapa kok kita tidak melihatnya selama ini.
Ini pula yang membuat berpikir lateral memiliki ciri khas penganutnya, yaitu kebiasaan untuk
membuat teka-teki berpikir lateral. Teka-teki lateral sebenarnya yang sangat populer, berbagai
sumber buku dan internet dapat anda cari untuk mendapatkan berbagai teka-teki ini. Sebagai
contoh teka-teki ini adalah:
Cerita ini terjadi di di Amerika, dimana sebuah mobil hitam panjang berhenti
disebuah taman asri dengan rerumputan yang membentang, cuaca sedang hujan
yang cukup deras, sehingga 9 orang yang keluar dari mobil ini akan kehujanan.
Namun dari 9 orang hanya 8 yang basah karena hujan ini. Bagaimana ini bisa
terjadi?
Teka-teki ini adalah teka-teki khas berpikir lateral karena petunjuknya sebenarnya ada didalam
teka-teki ini namun biasanya harus:
26
1) mencari sebuah konteks dimana petunjuk-petunjuknya menjadi masuk akal dan
terkoneksi
2) jangan menggunakan interpretasi atau solusi pertama menghalangi kita untuk
berpikir lebih lanjut secara lateral. Kita harus mengevaluasi interpretasi dan pola
berpikir yang kita miliki, termasuk yang terpenting interpretasi terhadap bahasa.
Untuk membangun konteks solusi, maka yang harus dilihat adalah adanya data tentang
Amerika, mobil panjang, dan taman asri berumput. Ketiga data ini berbasis kepada pengalaman
melalui film-film Amerika atau anda sendiri pernah kesana, menunjukkan ciri khas pemakaman
di sana. Sedangkan kata orang, interpretasi pertama terhadap data ini adalah asumsi bahwa
kata orang menunjukkan kata bahwa orang tersebut selalu dalam keadaan hidup.
Jadi jawaban dari teka-teki diatas adalah karena 1 orang berada didalam peti mati dan diangkat
oleh 8 orang lainnya. Itulah mengapa hanya 8 dari 9 yang basah kuyup terkena hujan.
Berpikir lateral memiliki berbagai teknik dan metode untuk membuat kita menjadi semakin
creative dengan menggunakan pola-pola baru yang bisa mengubah pola berpikir yang lama.
Metode itu mencakup berhenti kreatif, fokus, tantangan, alternatif dan provokasi. Di dalam
berpikir sistem dimana kita secara kreatif selalu mencari hubungan antara komponen dalam
sistem maka berpikir lateral akan sangat membantu proses kreatif pencarian hubungan ini. Ada
banyak sumber buku yang bisa anda baca untuk mendalami berpikir lateral ini.
Tabel 2.1 Kelompok Alat Bantu dalam DATT De Bono
Pengubahan Pandangan
Berpikir Konstruktif
Menyusun Solusi
Konstruktif
PMI (Plus Minus Interesting)
AKP (Analisa, Kemungkinan
Pilihan)
Logic Bubble Ruang Logika
MKP Memeriksa Kedua
Pihak
STI Setuju, Tak-Sepakat dan
Irrelevan
POL Pandangan Orang Lain
TULUS Tujuan, Luaskan,
Sempitkan
TIPPO Tujuan, Input,
Pemecahan, Pilihan, Operasi
Kontribusi De Bono dalam berpikir sistem yang terbesar bukan hanya berpikir lateral, namun
sebuah ide bahwa pola berpikir adalah sebuah keahlian (Skill) yang bisa kita ubah dan perbaiki
terus menerus (De Bono 1994). Pola berpikir bukanlah sebuah struktur baja atau batu yang
sekalinya sudah mengeras maka harus dihancurkan dengan cara yang ekstrim. Memandang
pola berpikir sebagai suatu keahlian, membuka kesempatan bagi kita untuk meningkatkan
kualitasnya dengan teknik, metoda dan cara tertentu. Metode atau alat yang dikembangkan De
Bono dikenal sebagai DATT (Direct Attention Thinking Tools).
DATT bertujuan untuk mengalihkan perhatian pikiran kita sehingga kita tidak terjebak dalam
pola sama. Konsep ini disebut berpikir fokus (focused thinking), yaitu memfokuskan pikiran
kita ke selain kebiasaan berpikir kita. Ini berarti kita berfokus untuk berpikir berbeda dari yang
biasanya. Kumpulan alat ini membantu proses berpikir fokus ini, dan mencakup tiga bagian
besar: pengubahan pandangan berpikir, berpikir konstruktif dan menyusun solusi konstrutif,
yang dapat dilihat pada Tabel 2.1.
27
2.4 BAHAN BACAAN
De Bono, E. (1971). Lateral thinking for management; a handbook of creativity. New York,
American Management Association.
De Bono, E. (1994). De Bono's thinking course. New York, Facts On File.
Epstein, R. L. and C. Kernberger (2006). Critical thinking. Australia ; Belmont, CA,
Thomson/Wadsworth.
Richmond, B. (2000). The "thinking" in systems thinking. Waltham, MA, Pegasus
Communications.
28
3. SISTEM
3.1 APAKAH SISTEM?
Sebelum kita menuju ke penjelasan tentang berfikir sistem, maka kita perlu terlebih dahulu
mendefinisikan secara operasional dari kata-kata yang sering akan kita jumpai ketika berbicara
tentang berfikir sistem, yaitu Sistem, Sistematis, Sistemik
Sistem adalah sebuah obyek analisa yang memiliki komponen/bagian yang saling berinteraksi
dalam suatu aturan-aturan tertentu untuk mencapai sebuah tujuan.
Sistem sebenarnya adalah sebuah kelompok yang ketika bekerja seperti seharusnya akan
memiliki ciri sistem yang berbeda dari ciri-ciri komponen-komponen pembentuknya. Tidak
semua kelompok adalah sistem, terutama jika tidak ada ciri khas yang baru muncul ketika
kelompok bekerja (emergent properties)
Tabel 3.1 Perbedaan antara Struktu r Sistemik dan Non-Sistemik
Struktur Sistemik
Struktur Non-Sistemik (Kelompok)
Komponen yang terinterkoneksi dan
berfungsi secara keseluruhan
Komponen yang berkumpul
Akan berubah jika diambil satu atau
lebih komponennya, atau bahkan tidak
berfungsi sama sekali secara
keseluruhan
Tidak ada perubahan jika diambil satu atau
lebih komponennya dan tetap berfungsi
Pola interaksi sangat penting
Pola interaksi tidak penting
Komponen saling terkoneksi dan
bekerja bersama-sama
Komponen bisa bekerja sendiri-sendiri
Struktur menentukan performa,
sehingga jika ingin mengubah performa
bisa dengan mengubah struktur
Struktur tidak ada, jika ada maka akan
tergantung jumlah komponen dan besar
dari kumpulan tersebut
sistemik (systemic) : suatu ciri-ciri atau perilaku yang muncul dari sebuah sistem ketika
sistem bekerja (tetapi ciri-ciri ini bukan berupa ciri-ciri dari komponennya atau kumpulan
komponennya)
Manusia memiliki perilaku yang sistemik seperti marah, cemburu dan bahagia yang kalau
dilihat dari tidak terdapat pada komponennya: jantung, paru-paru dan ginjal. Perilaku sistemik
akan memberikan gambaran kepada kita tentang interelasi antar komponen dan tujuan
sesungguhnya dari sebuah sistem (pada suatu waktu).
29
sistematis (systematic) : adalah sebuah karakteristik keteraturan dan perencanaan yang baik.
artinya sebuah kegiatan dikatakan sistematis apabila jelas urutas pekerjaannya dan
direncanakan berdasarkan urutan tersebut. Sistematis ternyata memiliki arti yang berbeda dari
sistemik. tidak semua hal yang sistematis akan menghasilkan suatu hal yang sistemik.
Bagaimana dengan berfikir sistem, apakah sebaiknya menjadi berfikir sistematis atau berfikir
sistemik? tentunya secara definisi yang akan terdekat dengan inti dari berfikir sistem sendiri
adalah berfikir sistemik, tetapi karena secara luas lebih dikenal konsep systems thinking dan
bukan systemic thinking, maka kita menggunakan istilah berfikir sistem.
3.1.1 SISTEM BERBEDA DENGAN KELOMPOK KARENA STRUKTURNYA
Keberadaan interaksi antar komponen merupakan pembeda dari kelompok dan sistem. Ini
menunjukkan bahwa sistem pasti memiliki sebuah struktur interaksi yang bisa saja terlihat
secara fisik maupun tidak terlihat. Berdasarkan ciri-ciri struktur sistem, maka sistem bisa
memiliki berbagai macam tipe, yang mencakup:
Sistem Fisik dan Sistem Non-Fisik
Sistem Fisik adalah sistem yang bisa diidentifikasikan oleh panca indera kita, contohnya
seperti tubuh, TV, mobil. Sedangkan sistem Non-Fisik adalah sistem yang tidak bisa
diidentifikasikan oleh panca indera namun mampu mempengaruhi sistem lainnya, seperti
peratudan. klub, norma, dan kepercayaan.
Sistem Terbuka dan Sistem Tertutup
Sistem terbuka adalah berarti memiliki interaksi dengan komponen diluar batasannya,
sedangkan tertutup berarti tidak berinteraksi dengan lingkungannya. Sebuah sistem
tertutup akan memiliki sifat entropi yang bisa berujung kepada kemusnahan
Sistem Detail dan Dinamis
Tipe sistem ini berbasis kepada sumber kompleksitas yang terjadi, sebuah sistem kompleks
detail berarti memiliki komponen yang banyak dan saling terkoneksi secara sederhana
(puzzle, pesawat). Kompleksitas terjadi akibat koneksi sederhana namun sangat banyak.
Sedangkan sistem kompleks dinamis timbul bukan akibat komponennya yang banyak tetapi
karena kompleksitas hubungannya yang berankea raga. Mirip seperti permainan catur yang
tidak memiliki komponen yang banyak namun aturan permainannya yang berarti aturan
interaksi bisa menimbulkan kondisi yang berbeda-beda dan banyak sekali.
Sistem Diskrit dan Kontinu
Sistem diskrit adalah ketika dalam sistem tersebut perubahan yang terjadi cukup atau hanya
bisa dilihat dalam suatu selang waktu atau selang unit tertentu, seperti pada sistem pabrik
atau sistem manufaktur. Di sebuah pabrik kaos satuan unit adalah kaos, bukan setengah
kaos atau seperempat kaos. Sebuah sistem kontinu memiliki perubahan yang perlu dilihat
secara terus menerus seperti sistem kebijakan, pengaruh iklim dan lainnya.
Kata-kata yang digaris bawahi adalah jenis sistem permasalahan yang sering dihadapi dalam
berpikir sistem.
30
3.2 CIRI-CIRI STRUKTUR SISTEM
Berdasarkan perbedaan antara sistem dan kelompok yang dijabarkan pada Tabel 3.1 maka
sebuah kelompok dapat dikategorikan sebagai sistem, jika:
1. memiliki komponen-komponen yang diidentifikasi didalam sebuah batasan tertentu,
2. komponen ini bekerja sama dengan suatu struktur umpan balik tertentu,
3. pola ini akan menghasilkan sebuah karakteristik ciri holistik yang berbeda dari
gabungan sederhana komponennya,
4. sistem memiliki tujuan, pola interaksi komponen dilakukan untuk mencapai tujuan,
5. perubahan salah satu kategori ini dapat mengubah sistem, sehingga sebenarnya sistem
selalu berada dalam kondisi multidimensi. Perubahan batasan, struktur, tujuan akan
mengubah perilaku sistem secara holistik.
Dalam beberapa bagian berikutnya akan dijelaskan secara singkat masing-masing ciri sistem
ini.
3.2.1 SISTEM MEMILIKI BATASAN DINAMIS
Apa makna batasan dinamis? Batasan didefinisikan sebagai garis atau ruang panjang yang
menandai batas dari sebuah area. Namun dalam konsep sistem, batasan tidak hanya berupa
batasan geografis, namun juga batasan waktu (saat ini, masa lalu, masa depan), skala (mikro,
makro) dan batasan lainnya.
Batasan dinamis berarti batas yang berubah seiring dengan cara pandang kita. Batas yang
berubah secara dinamis menunjukkan kemampuan untuk melihat secara dinamis
permasalahan. Kemampuan yang sering disebut sebagai pandangan helikopter (helicopter
view). Mengacu kepada prinsip pandangan helikopter dimana batasan pandangan kita akan
tergantung dari ketinggian helikopter, maka sebuah sistem memiliki sebuah batasan yang
berubah pula tergantung pula dari cara pandang kita. Dalam kacamata sistem, batasan dinamis
membuat setiap komponen dalam sistem bisa merupakan sub-sistem dan setiap sistem bisa
merupakan bagian sub-sistem dari sistem yang lebih luas.
Batasan dinamis merupakan ciri dari sebuah sistem terbuka yaitu openness. Karena batasan
menunjukkan ada yang dianggap didalam dan ada yang dianggap diluar, sehingga sebuah
sistem biasanya memiliki interaksi antara keduanya. Keterbukaan sistem memungkinkan sistem
untuk beradaptasi, mampu mempertahankan hidup, dan mengembangkan diri. Sistem yang
tertutup tidak akan memiliki kemampuan beradaptasi dari umpan balik luar, sehingga
perkembangannya akan sangat terbatas. Sistem tertutup pada umumnya menuju ke arah
penurunan kualitas sistem bahkan kemusnahan sistem tersebut, akibat ketidakmampuannya
untuk beradaptasi dengan perubahan.
3.2.2 SISTEM MEMILIKI TUJUAN
Setiap sistem pasti memiliki tujuan dan sasaran. Tujuan dari sistem adalah mencapai atau
memenuhi sasaran. Ada yang jelas sasarannya ada yang harus dicari. Ada yang hanya punya
satu sasaran ada yang puluhan. Sasaran juga bisa berubah sejalan dengan waktu, tujuan hidup
kita sendiri sudah berubah dari 5 tahun yang lalu, and pasti berubah atau berkembang 5 tahun
yang akan datang.
31
Sebenarnya ada 4 kemungkinan klasifikasi perilaku sebuah kelompok atau sistem dalam 2
dimensi kebebasan memilih: kebebasan memilih cara dan tujuan,
c) Pasif. Sebuah sistem yang tidak memiliki cara dan tujuan yang bisa didefinisikan.
Sistem sederhana ini ini bersifat alat (tools) yang tidak akan berubah dan menghiraukan
umpan balik terhadap kegiatannya.
d) Reaktif. Sistem ini memiliki kemampuan untuk bereaksi terhadap umpan balik, namun
tidak memiliki kebebasan untuk memilih cara dan tujuan dalam bereaksi. Sebuah ciri
tujuan sistem yang bersifat pemeliharaan diri (Self-Maintaining Systems atau
Balancing System).
e) Responsif. Sistem memiliki kebebasan untuk memilih cara untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan, namun tidak bisa mengubah tujuan. Sistem ini sering disebut
sebagai sistem pemenuhan tujuan (goal-seeking system), sebuah sistem yang bergerak
ke pemenuhan tujuan. Tujuan paling primitif atau dasar adalah keberlanjutan hidup
(survival). Secara umum ada 2 tujuan respons sistem, yaitu
a. Keseimbangan. Tujuan lainnya yang secara alamiah ada dimiliki oleh semua
sistem adalah elaborasikeseimbangan. Keseimbangan (equilibrium atau
homeostatis) adalah ketika sistem bergerak menuju ke kondisi yang tidak
berubah (kemapanan). Pada kondisi ini tanpa adanya input yang berpengaruh
maka sistem tidak akan berubah.
b. Elaborasi. Tujuan berikutnya adalah elaborasi dan membedakan diri, yaitu
ketika sistem akan cenderung menuju ke pertumbuhan diri yang lebih besar
yang membedakan dirinya dengan yang lain. Sistem seperti birokrasi memiliki
kecenderungan seperti ini.
f) Aktif and Bertujuan. Dikenal pula sebagai Purposeful System, ketika sistem memiliki
kebebasan untuk memilih cara untuk mencapai tujuan dan bahkan kebebasan untuk
mengubah tujuan. Sistem ini bagian dari goal-seeking sistem namun memiliki
tambahan kebebasan untuk mengubah tujuan.
3.2.3 SISTEM MEMILIKI STRUKTUR UMPAN BALIK
Pembeda terpenting dalam syarat antara sistem dan kelompok adalah sistem memiliki stuktur
interaksi dari komponen sistem. Bukan hanya sembarang struktur, namun sebuah struktur
informasi umpan balik. Struktur dasar sederhana dalam sistem adalah Input-Proses-Output-
UmpanBalik, seperti pada Gambar 3-1. Struktur sederhana yang hingga saat ini masih sering
digunakan sebagai tanda kemampuan melihat sistem secara tradisional. Kemampuan untuk
tidak hanya melihat output hanya sebagai output, namun bahwa output memiliki mekanisme
proses dibelakangnya dengan input dan umpan balik untuk menghasilkan output tersebut.
32
Gambar 3 -1 S tr uk tu r Da sa r Si st em : In pu t, P rose s, O utput da n Um pa n -B al ik
Struktur dasar ini yang menjadi basis dalam mengembangkan struktur yang lebih kompleks
sehingga dikenal dengan struktur umpan balik, terutama ketika output sebuah proses menjadi
input proses berikutnya, kemudian proses terangkai sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah
lingkaran umpan balik seperti pada Gambar 3-2
Gambar 3 -2 Str uk tu r Um pa n Ba li k ya ng l ebih kompleks dari Str uk tu r Da sa r
Basis konsep inilah yang menimbulkan alat bantu Causal Loop Diagram (CLD) digunakan
dalam berpikir sistem. CLD merupakan alat berbasis kepada struktur dasar ini namun
disederhanakan menjadi hubungan antar proses atau variabel proses.
3.2.4 SISTEM MEMILIKI CIRI HOLISTIK YANG BERBEDA DENGAN SEKEDAR KUMPULAN
KOMPONENNYA
Human can love, but its parts cannot
Syarat sebagai sistem ini disebut emergent properties atau ciri mengemuka, yaitu sebuah ciri
yang bisa kita dapatkan yang berbeda dengan ciri-ciri setiap komponen atau pengabungan total
ciri-ciri komponen sistem tersebut. Ciri mengemuka hanya akan timbul ketika interaksi antara
komponen didalam sebuah struktur sistem berjalan seperti seharusnya. Artinya ciri ini tidak
akan kita temui atau diprediksi hanya dari ciri-ciri komponennya. Itulah mengapa istilah ciri
mengemuka sering diganti pula dengan ciri keseluruhan atau ciri holistik. Sebuah ciri yang kita
dapatkan dari sebuah sistem yang sedang berfungsi disebut.
33
Sebuah film kartun sebenarnya berasal dari gambar-gambar yang dirangkai dalam urutan waktu
tertentu. Jika misalnya tejadi adegan kejar-kejaran antara tikus dan kucing misalnya, maka kita
tidak akan bisa menebak hanya dari 1 frame atau gambar saja bahwa mereka sedang berkejaran.
Yang terjadi kita seperti melihat sebuah gambar mereka terlihat sedang sakit perut bersama,
atau menari bersama atau olah raga bersama.
Cara paling mudah untuk mengidentifikasi apakah sebuah sistem memiliki ciri holistik adalah
membelah sistem menjadi dua atau lebih. Jika dibagi apakah masih memiliki ciri yang sama
dengan awalnya, kemudian dibagi lagi dan seterusnya. Sebuah sistem akan kehilangan cirinya
ketika dibagi seperti ini, namun sebuah kelompok akan memiliki ciri yang sama pada setiap
kelompok hasil belahan.
3.2.5 KOMBINASI CIRI SISTEM: MULTI-DIMENSI
Tentunya semua ciri-ciri diatas bukanlah berdiri sendiri-sendiri namun saling terhubung dan
mempengaruhi. Perubahan pada tujuan akan menyebabkan perubahan pada batasan, struktur,
dan ciri yang kita dapatkan.
Keinginan merubah ciri holistik dari sebuah sistem membutuhkan perubahan pada batasan,
struktur dan tujuan. Semua ini memunculkan ciri khas dari sebuah sistem yaitu selalu berada
dalam kondisi multi-dimensi. Manusia misalnya, dalam suatu waktu memiliki peran yang
multidimensi: sebagai anak, orang tua, mahasiswa, pacar atau sopir, tergantung dari perubahan
konteks yang dihadapi. Perubahan konteks menunjukkan perubahan terhadap batasan, struktur
dan tujuan dari sistem. Ini berarti sebuah ciri holistik akan mengemuka dalam suatu kondisi,
namun dalam kondisi lain bisa melemah sehingga ciri holistik lain akan mengemuka.
Konektivitas yang dinamis ini diilustrasikan pada Gambar 3-3.
Gambar 3 -3 I nt er ko neksi da ri C ir i-ciri Sistem menciptakan Multi Dimensi
Tabel 3.2 menunjukkan matrix hubungan 2 dimensi yang mungkin terjadi dan kesimpulan
pemahaman yang bisa didapatkan dari penghubungan tersebut.
34
Tabel 3. 2 Ko nd is i Mu lt i-dimens i yang bis a Beruba h seir ing Peruba han di Setiap Ci ri Sistem
Tujuan
Ciri Holistik
Mengemuka
Struktur Umpan Balik
Batasan
Tujuan
Perubahan tujuan
akan mengubah ciri
holistiknya
(perubahan konteks)
Tujuan yang berubah
akan menjadi sebuah
umpan balik bagaimana
sistem menyesuaikan
diri untuk mencapai
pergeseran tujuan
Tujuan bisa berbeda ketika
batasan sistem diubah
Ciri Holistik
Tujuan yang
diinginkan pada
umumnya adalah
sebuah ciri ideal
yang mengemuka
dari sistem
Ciri ideal yang
mengemuka adalah
umpan balik dalam
melakukan perubahan
dalam sistem
Perubahan dinamis batasan
masalah (Dynamics helicopter
views) akan mengubah ciri dari
sistem sehingga meningkatkan
pemahaman dari sistem
Struktur
Umpan Balik
Mendapatkan titik
ungkit perbaikan
melalui pemahaman
struktur yang lebih
baik
Pemahaman struktur
akan memberikan
gambaran mengapa
sistem memiliki ciri
yang mengemuka
Perhatikan apa yang bisa
dilakukan (endogenous) dana
apa yang tidak bisa dilakukan
(exogenous)
Batasan
Tujuan akan
mendefinsikan
batasan yang harus
dilakukan
Perbedaan batasan
dapat menimbulkan
ciri mengemuka
yang berbeda
Memperluas dan
Menyempitkan batasan
akan mempengaruhi
struktur dari sistem
3.3 POLA BERPIKIR ADALAH SEBUAH STRUKTUR SISTEMIK PIKIRAN
Berbasis kepada definisi sistem yang telah dibahas, berarti pola berpikir kita adalah sebuah
produk dari sebuah struktur sistem. Sebuah struktur sistem yang bisa dikategorikan gabungan
sebagai sistem non-fisik, kontinu, terbuka dan dinamis. Dalam kategori gabungan ini,
secara dimensi skala dari makro ke mikro terdapat berbagai sistem seperti yang diilustrasikan
dalam Gambar 3-4.
Dari skala bisnis, kita akan mendapatkan struktur pasar, struktur konsumen, struktur strategi
bisnis yang bisa berupa strategi produk atau distribusi. Pada skala organisasi, terdapat struktur
organisasi, sistem kinerja, sistem informasi, norma kerja ataupun struktur peraturan
perusahaan. Pada tingkatan interpersonal atau antar individu, terdapat struktur pemecahan
masalah, struktur pertemanan atau struktur komunikasi kelompok. Sedangkan pada level
individu terdapat struktur bagaimana memandang sesuatu, bagaimana berpikir, bagaimana
cara kita memandang diri kita dan peran diri kita sendiri serta bagaimana struktur kepercayaan
dan asumsi.
Struktur individu inilah yang menentukan pola pikir kita, dan pola pikir itulah yang
menentukan reaksi kita terhadap masalah yang kita akan hadapi. Namun kita terbiasa hanya
melihat reaksi, tidak melihat pola maupun struktur yang membuat reaksi tersebut. Dalam
sebuah ilustrasi gunung es dalam air laut, maka reaksi ini adalah sebuah kejadian yang bisa kita
lihat dan merupakan bagian kecil dari gunung es yang terlihat. Sedangkan bagian besar yang
35
tidak terlihat sebagai sumber dari respons kejadian, adalah pola dan struktur, seperti yang
digambarkan pada Gambar 1-3.
Gambar 3 -4 B erpiki r Si st em a da la h Se bu ah S tr uk tu r Internal
Sebagai sebuah struktur sistem internal diri kita, maka berpikir sistem bisa dilihat sebagai
sebuah disiplin kebiasaan untuk tidak hanya melihat kejadian atau pola saja, namun mencari
struktur sistemik dari kejadian tersebut, sehingga didapatkan pemahaman yang lebih baik.
Struktur
Bisnis/Industri
Struktur
Organisasi
Struktur
Interpersonal
Struktur Individu
(Struktur Pikiran)
mikro
makro
Posisi Pasar
Hubungan dengan Pelanggan
Strategi Produk
Strategi Distribusi
Struktur hierarki Manajemen
Struktur Penilaian Kinerja
Struktur Penghargaan
Manajemen Informasi
Budaya Organisasi
Aturan Kerja Formal
Hubungan
Peran dan fleksibilitas peran
Cara Pandang
Cara Berpikir
Kebiasaan mengambil keputusan dan memecahkan
masalah
Aturan Informal (etika)
Kepercayaan dan Asumsi Saya
Peran yang Saya Jalani Berpikir Sistem
Sebuah kebiasaan untuk melihat struktur sistemik
(pola dan koneksi mendasar dari komponen-komponen yang
tampaknya berbeda)
36
4. POLA BERPIKIR ADALAH MODEL MENTAL
A map is not the territory it depicts; Words are not the things they describe; Symbols are not
the things they represent.
4.1 MODEL MENTAL
Model mental adalah serangkaian struktur ide, kepercayaan dan kebiasaan yang kita miliki
secara sadar atau tidak menjadi acuan dalam mengambil keputusan dan memecahkan masalah.
Pola berpikir merupakan struktur pikiran kita, jadi pola berpikir sebenarnya adalah sebuah
model. Ini karena ketika kita berfikir untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan,
kita “mengolah” informasi ke dalam suatu model dari masalah yang kita susun di pikiran kita.
Kenapa ini kita lakukan? Karena kita tidak mungkin mengolah semua informasi dari realita
sesungguhnya karena keterbatasan kemampuan otak kita. Sangat sering pula, informasi yang
dibutuhkan untuk mengambil keputusan tidak pernah tersedia secara lengkap. Sedangkan
definisi model adalah representasi dari dunia nyata. Model menjadi semacam dunia virtual di
pikiran kita untuk melakukan uji coba berbagai alternatif keputusan kita ambil dan diprediksi
hasilnya. Hasil yang didapatkan model virtual ini kita asumsikan sama dengan yang kita
dapatkan seandainya keputusan diaplikasikan di dunia nyata nantinya. Sehingga kita
sebenarnya tidak pernah mengolah masalah yang sesungguhnya, kita mengolah model dari
masalah kita.
Ini mirip seperti peta yang kita gunakan untuk menuju sebuah tempat. Sebuah peta adalah
representasi dari kondisi geografis jalan sesungguhnya. Tentu tidak mungkin membuat peta
yang sangat detail karena berarti semua batu, penjual minuman ataupun pohon-pohon harus
dipetakan. Hal ini menjadi tidak praktis dan memang tidak perlu, karena ketika kita ingin
mencapai sebuah tempat, kita hanya membutuhkan titik-titik penanda lokasi yang bisa dilihat
dari jalan, seperti gedung, restoran, monumen dsb. Peta adalah model simplifikasi dari dunia
nyata. Peta digunakan untuk mengambil keputusan jalur jalan mana yang akan dipakai ketika
kita bepergian.
Banyak yang menyamakan model mental dengan paradigma, pola pikiran (mindset), peta
internal logika, struktur pikiran, gelembung logika (logic bubble) atau lainnya. Model mental
memang memiliki beberapa aspek yang sama dengan istilah-istilah ini, namun ada penekanan
makna yang berbeda dengan penggunaan kata model mental. Perbedaan ini dijabarkan pada
Tabel 4.1.
Tabel 4. 1 Ma kn a Ka ta M od el M en ta l
Model
Mental
Bukan realitas, namun terjemahan
representasi dari realitas
Memberikan makna dapat dibangun,
dibongkar lalu dibangun ulang berkali-kali
Tidak terlihat
Bukan saja Pikiran, namun juga Emosi
37
Tabel 4.1 memberikan pemahaman bahwa model mental adalah simplifikasi dari dunia nyata
yang berbasis kepada apa yang kita lihat di dunia nyata. Apa yang kita lihat akan sangat terbatas
tergantung dari kemampuan kita. Kemampuan kita terus tumbuh seiring dengan tambahan
pengetahuan dan pengalaman. Ini berarti proses untuk simplifikasi ini selalu dalam proses
perubahan.
Ini berarti model mental adalah unik untuk setiap orang, karena pembuatan model mental dari
masalah tergantung dari pendidikan, pengetahuan, pengalaman dan cara pandang masalah
(Gambar 4-1). Seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan keuangan mungkin terbiasa
melihat masalah berbasis kepada angka, sedangkan yang berlatar belakang sosial lebih terbiasa
melihat pada konflik antar manusia. Mereka berdua benar dan salah. Benar karena tidak ada
yang salah dari model mental yang mereka bangun, yang berlandaskan apa yang mereka tahu.
Salah karena tidak ada yang benar-benar utuh menggambarkan masalahnya. Untuk itulah
selain model mental individu, perlu dibangun bersama model mental kelompok atau organisasi,
melalui eksplorasi tangga kesimpulan dengan berdialog yang akan di jabarkan kemudian.
Gambar 4 -1 P er seps i ya ng b er be da t er ga nt un g pa da P er sp ek ti fn ya
Model mental memiliki struktur logika yang konsisten secara internal, sehingga jarang sekali
kita melihat kelemahan dari model mental kita. Apalagi jika sebuah model mental sering
digunakan berkali-kali, maka kita semakin buta dengan kelemahannya. Ketika kita semakin
buta, maka kita semakin sulit menerima model mental orang lain, karena kita yakin model
mental kita lebih baik atau lebih benar. Sederhananya, semakin sering kita menggunakan
sebuah peta terhadap daerah tertentu, maka jika ada peta orang lain terhadap daerah yang sama
memiliki tampilan berbeda, maka kita langsung yakin bahwa peta dia salah. Itulah mengapa
sering jika kita mendapatkan informasi yang bertentangan dengan mental model kita maka kita
langsung melabelnya salah, sampai pada titik dimana informasi tersebut datang berkali-kali
atau dengan cara yang berbeda. Berapa kali anda akhirnya bisa menerima informasi
38
bertentangan tersebut, tergantung dari kekuatan mental model kita. Anda baru mau menerima
informasi itu setelah cukup dua kali, tiga kali bahkan lebih.
Ini juga tergantung pula darimana datangnya informasi tersebut. Anda menanggapi berbeda
ketika informasi tersebut datang kembali dari sumber yang anda percaya. Contohnya jika
informasi tersebut itu awalnya dari anak buah muda anda mungkin anda langsung melabelnya
“ah mana mengerti anak ini”, namun jika berasal dari rekan senior atau atasan maka anda tidak
membantahnya sama sekali.
Proses pembuatan atau perubahan model mental membutuhkan energi mental yang signifikan
sehingga kita selalu malas untuk merubahnya. Energi mental adalah kombinasi antara energi
pikiran dan energi emosi. Jika harus diubah, maka kita memilih perubahan yang paling sedikit
membutuhkan energi mental, yang artinya paling sedikit mikir dan emosi yang harus dilakukan.
Itulah juga satu alasan pula kenapa mental model sulit berubah.
4.1.1 APA BENTUK DARI MODEL MENTAL?
Model mental berbentuk cerita di pikiran kita. Seperti yang telah diutarakan sebelumnya,
ketika kita sedang berpikir untuk memecahkan masalah dan menciptakan sebuah kondisi
virtual dalam otak kita maka kita seperti menyusun sebuah skenario cerita film yang sedang
diputar di otak kita. Bedanya dengan film yang hanya memiliki satu plot cerita, maka kita
memiliki berbagai macam plot cerita film sekaligus dengan berbagai skenario dengan berbagai
kemungkinan "the end" yang berbeda-beda.
Ketika kita berdiskusi dengan seseorang dengan mendengarkan cerita orang tersebut, maka kita
sebenarnya sedang menyusun model mental kita berbasis kepada cerita yang sedang kita
dengarkan. Kita memformulasikan cerita tersebut dengan membuat dunia virtual berbasis
cerita tersebut dan berskenario secara virtual seandainya keputusannya berbeda. Seandainya
teman kita kemudian bertanya tentang pendapat kita terhadap ceritanya, maka kita
menceritakan pendapat kita yang sebenarnya juga menceritakan mental model kita kepada
teman tersebut.
Apa bentuk lain dari model mental? Gambar. Gambar berbeda dengan lukisan, lukisan
berorientasi kepada rasa dan seni, sedangkan gambar biasanya berorientasi pada penyampaian
pesan. Coretan gambar di sebuah kertas ketika kita sedang berdiskusi juga merupakan model
mental. Gambar BUKONA (Bulat Kotak Anak Panah) atau flowchart sering digunakan untuk
mengkomunikasikan model mental. Dalam komunitas pakar sistem juga banyak menggunakan
gambar untuk berkomunikasi. Gambar seperti causal loop diagram (CLD, stock and flow
diagram (SFD), dan rich pictures, memiliki prinsip dan ketentuan tertentu sehingga bisa mudah
dibaca oleh komunitas ahli sistem. Bisa dikatakan bahwa gambar-gambar ini merupakan
"bahasa" dimana para ahli sistem bisa berdiskusi dengan bahasa yang sama.
4.1.2 MAKNA PEMAHAMAN MODEL MENTAL
Ada beberapa makna pemahaman terhadap model mental,
g) Kita bertindak bukan berbasis kepada dunia nyata, tetapi kepada model mental kita dari
dunia nyata
39
h) Tindakan kita berbasis kepada kebiasaan respons yang bersumber dari berbagai koleksi
model mental yang kita bentuk sebelumnya. Kebiasaaan ini bisa menguntungkan
maupun merugikan kita.
i) Model mental kita hanya mampu untuk dikonstruksi ulang hanya jika kita mau
membukanya untuk menerima umpan balik (double loop learning) (Sterman 2000).
Ketika kita dihadapkan dengan masalah atau kesempatan, maka proses dimulai dengan kita
mengolah umpan balik dari dunia nyata, masuk ke model mental kita (pola berpikir),
mengambil sebuah keputusan mental berbasis kepada model mental ini, keputusan ini
disampaikan di dunia nyata, untuk menghasilkan umpan balik berikutnya (ilustrasi pada
Gambar 4-2). Siklus ini berulang ketika fenomena dunia nyata memberikan umpan balik yang
tidak kita harapkan kepada kita untuk kita proses kembali.
Misalnya anda menghadapi masalah sebuah karyawan yang sering terlambat masuk, maka
model mental anda mungkin memiliki keputusan untuk menegurnya karena takut ditiru oleh
karyawan lainnya, maka anda menegur sang karyawan. Jika umpan balik berikutnya adalah
ternyata dia membangkang, maka model mental lain menggantikan model mental pelanggaran
absensi yaitu model mental pelanggaran disiplin secara umum atau menentang atasan, maka
prosesnya berulang sampai fenomena dunia nyata yang anda dapatkan kembali seperti yang
anda harapkan.
Gambar 4 -2 I lu st ra si A su msi Umum bah wa K it a Meng ambi l Ke pu tu sa n
40
Untuk itu setiap pengambil keputusan pasti memiliki berbagai koleksi model mental. Kita
memiliki model mental yang sederhana untuk permasalahan sederhana, misalnya memiliki
pasta gigi, makan apa hari ini, dan model mental yang kompleks dan membutuhkan berbagai
data pendukung seperti melakukan investasi, keputusan strategis di kantor dan lainnya.
Pada sebagian besar proses pengambilan keputusan, memang kita menggunakan koleksi model
mental ini secara otomatis. Bahkan, semakin sering kita mendapatkan umpan balik positif yang
mempertegas sebuah model mental secara berulang-ulang, maka model mental tersebut
semakin menguat, sedemikian rupa bisa membutakan kita terhadap kelemahan dari model
mental tersebut.
Bagaimana model mental terbentuk? Ketika kita menemukan permasalahan baru atau berbeda
secara signifikan sehingga tidak cocok dengan koleksi model mental kita saat ini, maka kita
akan menyusun sebuah model mental baru melalui proses simulasi keputusan (ilustrasi pada
Gambar 4-3). Akan terdapat dua lingkaran disini, lingkaran luar adalah apa yang terlihat
(keputusan yang diambil) sedangkan lingkaran dalam yang tidak terlihat merupakan olah
simulasi dari berbagai keputusan virtual yang kita lakukan.
Gambar 4 -3 P ro ses Pembentukan da n Modifika si M od el M enta l
Umpan balik dari dunia virtual simulasi kita konfirmasi dengan umpan balik yang terjadi pada
dunia nyata, sehingga jika positif maka model mental telah terbentuk, jika tidak maka
41
modifikasi perlu dilakukan untuk mendapatkan model mental akhir yang menurut kita adalah
yang terbaik.
Proses belajar otomatis yang terjadi setiap kali kita menghadapi permasalahan baru atau
berbedaz, seharusnya bisa diaplikasikan untuk memperbaiki dan meningkatkan model mental
kita yang sudah dimiliki. Kita seharusnya menyadari bahwa koleksi model mental kita saat ini
sudah baik, namun bisa lebih baik. Toh kita memang berhasil mencapai tingkat keberhasilan
yang kita capai saat ini dengan koleksi model mental kita saat ini. Namun dunia terus berubah,
permasalahan menjadi semakin meningkat kompleksitasnya seiring dengan meningkatnya
keberhasilan atau karir kita. Jadi akhirnya kita perlu menyiapkan diri untuk memperbaiki
koleksi model mental kita, melalui sebuah proses belajar yang disebut Pembelajaran Melingkar
Ganda (Double Loop Learning).
Gambar 4 -4 P embela ja ra n Me li ng ka r Ga nd a (D ou bl e Lo op L ea rn in g) (Sterma n 2000 )
Proses melingkar ganda yang dilakukan adalah mirip dengan Gambar 4-3, bedanya adalah tidak
hanya dilakukan pada permasalahan baru atau berbeda, namun untuk permasalahan-
permasalahan kompleks yang kita hadapi (ciri-cirinya kompleksitas yang dijabarkan
sebelumnya pada bagian 1.3). Kita harus menghentikan proses yang otomatis menjadi sebuah
42
proses sadar untuk mengevaluasi model mental kita. Ini memungkinkan kita untuk
mendapatkan sebuah struktur model mental baru yang lebih sesuai, seperti yang diilustrasikan
pada Gambar 4-4.
4.2 PEMBENTUKAN DAN MODIFIKASI MODEL MENTAL
4.2.1 PANDANGLAH MODEL MENTAL SEBAGAI SEBUAH HELM PIKIRAN
Jika kita menaiki kendaraan roda dua dan sedang menggunakan helm pelindung kepala, maka
kita tidak mampu melihat seluruh warna atau bentuk helm yang sedang kita gunakan.
Pandangan kita juga terbatasi oleh helm yang kita gunakan. Apa yang kita dengar juga
berkurang akibat dari hel yang kita gunakan. Helm “mengubah” sudut pandang dan
pendengaran kita. Kalau kita ingin memodifikasi helm tadi supaya bisa mendengar lebih baik,
maka di bagian kuping kita buat lubang yang cukup besar. Namun sangat besar kemungkinan
anda tidak melakukannya ketika helm ini sedang digunakan.
Berarti helm mirip dengan model mental: membatasi cara pandang kita dan untuk
memodifikasinya harus diletakkan diatas meja. Tidak mungkin memodifikasi model mental jika
kita tidak mengamatinya dengan seolah-olah melepaskannya dari diri kita terlebih dahulu,
seperti yang diilustrasikan pada Gambar 4-5.
Gambar 4 -5 A ma ti Mod el Mental
Namun karena model mental adalah subuah struktur pikiran yang tidak terlihat maka untuk
memulai prosesnya adalah dengan melihat output atau produk dari model mental ini. Produk
ini adalah keputusan atau pendapat yang bisa dibaca dan didengar. Setiap kali seseorang
mengemukaan pendapat atau komentar atau setiap kali keputusan dikeluarkan, maka ini adalah
produk dari model mental. Produk model mental ini (output) bisa dilihat sebagai sebuah proses
pengambilan kesimpulan (proses) dari sekumpulan data yang tersedia (input). Ternyata banyak
kesimpulan yang berbeda akibat perbedaan proses dalam pengambilan kesimpulan, sehingga
kesadaran terhadap proses ini perlu dikenalkan. Proses ini kemudian dijabarkan berbagai alat
43
untuk melakukan pembentukan atau modifikasi model mental. Proses ini dikenal sebagai
tangga kesimpulan (ladder of inference).
4.2.2 TANGGA KESIMPULAN
Tangga kesimpulan (ladder of inference
3
) adalah sebuah proses berpikir untuk mendapatkan
kesimpulan berdasarkan data dan fakta yang ada, dimana proses-proses yang kita lewati
digambarkan sebagai sebuah anak tangga. Sama seperti naik atau turun tangga, kita sering
secara tidak sadar melewatinya dengan cepat begitu saja untuk mencapai lantai tujuan kita.
Konsep tangga kesimpulan ini dikenalkan oleh Chris Agyris dan dipopulerkan oleh Peter Senge
di dalam buku 5th Discipline (Senge 1990; Senge 1994; Senge 1999).
Gambar 4 -6 T an gga Kesimpulan
3
Kata Inggris Inference memang memiliki arti berupa sebuah proses pikiran untuk mendapatkan
kesimpulan berdasarkan fakta yang ada. Dalam bahasa Indonesia bisa saja diterjemahkan sebagai
inferensi, namun kata ini agak sulit untuk dicerna karena jarang digunakan di Indonesia. Jadi penulis
menggunakan kata kesimpulan untuk menggantikan inferensi.
Tindakan yang “Benar” sesuai
Kepercayaan
Saya Adopsi Kepercayaan baru atau
termodifikasi tentang dunia nyata
Saya mengambil Kesimpulan
Saya memberikan Asumsi
Saya tambahkan Arti kepada Data
Saya Memilih Data dari Pengamatan
“Data” dan Pengalaman di Dunia
Nyata
44
Tangga kesimpulan dimulai di bagian bawah dengan kumpulan data atau fakta dan diakhiri
diatas dengan tindakan yang dilakukan. Komponen awal dan akhir ini adalah yang dapat dilihat
dan dirasakan, sehingga semua orang juga bisa melihat dan merasakannya. Diantara dan awal
dan akhir ini terdapat 5 anak tangga proses yang terjadi, pemilihan data, pemberian arti
terhadap data, penambahan asumsi, pengambilan kesimpulan, dan perubahan keyakinan
tentang dunia nyata (model mental).
Setiap kali kita menghadapi permasalahan yang bersumber dari tindakan-tindakan yang anda
pikir tidak masuk akal, maka kita disarankan secara sadar mengikuti setiap anak tangga dari
data hingga ke tindakan tersebut, untuk mendapatkan respons yang lebih baik dan tepat
terhadap tindakan tersebut. Tangga kesimpulan juga membantu kita untuk mendapatkan
kesimpulan yang lebih baik.
Setiap anak tangga memiliki tantangan dan kesempatan untuk mengubah kesimpulan yang
didapatkan, dan perubahan kesimpulan yang didapatkan dapat mengubah tindakan yang akan
diambil. Mari kita bahas satu per satu setiap anak tangga dari bawah ke atas:
a) Kumpulan Data dan Realitas
Berhati-hatilah terhadap data, karena pada realitasnya mendapatkan data yang tepat dan
akurat adalah tidak mungkin. Di era internet ini, problematika utama terkadang bukan
sedikitnya data, namun begitu membludaknya data yang ada. Untuk itulah anak tangga
berikutnya menjadi penting, yaitu pemilihan data.
Implikasi dari kesadaran ini adalah anda bisa mencari sumber permasalahan pada jenis,
proses, metode, dan validitas pengumpulan data dalam organisasi. Pastikan organisasi
mengumpulkan data yang tepat, dengan cara yang benar dan menyajikannya dengan tepat
pula. Saya pernah mendapatkan sebuah buku statistik resmi yang menunjukkan sebuah data
dalam urutan 5 tahun terakhir dan totalnya, ketika saya hitung ulang totalnya didalam excel,
ternyata berbeda dengan yang di buku tersebut. Lah, apakah berarti satu buku statistik
tersebut salah data?
b) Pemilihan Data berdasarkan keyakinan kita dan pengalaman
Data perlu kita pilih yang sesuai dengan kebutuhan proses pengambilan kesimpulan dan
tindakan kita. Pemilihan data mana yang sesuai adalah suatu proses yang bisa membedakan
kesimpulan. Saya pernah mengamati ketika beberapa orang dihadapkan pada kumpulan
data yang sama, mereka berbeda dalam pilihan mana yang dianggap penting. Sering terjadi,
apa yang saya anggap penting, ternyata tidak penting bagi orang lain. Bahkan sebenarnya di
beberapa kuliah yang saya ajarkan, banyak muatan tentang bagaimana menentukan data
yang relevan dan tidak relevan, yang berbasis terhadap yang saya yakini penting dari
pengetahuan dan pengalaman saya.
Artinya pemilihan data bergantung dengan keyakinan, yang kita tahu dan kumpulan
pengalaman kita. Apa yang kita tahu berbasis kepada pendidikan formal dan informal baik
akademis maupun profesional, ditambah dengan seberapa senang anda mengumpulkan
pengetahuan baru. Sedangkan pengalaman adalah yang pernah kita lalui, sehingga
terkadang dua orang dengan latar belakang pendidikan yang sama persis akan berbeda
pemilihan datanya tergantung kepada pengalamannya. Keyakinan timbul akibat
45
pengetahuan dan pengalaman yang telah mendapatkan umpan balik positif bahwa yang kita
pikirkan memang ternyata memang tepat.
Gambar 4 -7 S et ia p Anak T an gga Ke si mpulan Sal in g Be rh ubunga n seba ga i se bu ah S tr uk tu r
c) Pemberian arti terhadap data (interpretasi)
Data yang telah kita pilih kemudian diberikan arti. Ilustrasi sederhana pemberian arti
adalah jawaban atas pertanyaan jika anda melihat sebuah gelas yang berisi air setengahnya,
apa yang anda lihat? Gelas setengah penuh atau setengah kosong. Pemberian arti adalah
menterjemahkan data tersebut. Penterjemahan ini bisa dalam optimis-pesimis, tantangan-
kesempatan, positif-netral-negatif atau lainnya.
Contoh implikasi dari pemahaman ini adalah jika anda seorang agen perubahan, maka anda
perlu untuk memastikan bahwa arti dari sebuah data adalah sama dalam sebuah organisasi.
Arti yang sama ini adalah arti yang mendukung perubahan positif dalam organisasi sehingga
perlu diperkuat melalui berbagai saluran media komunikasi seperti majalah internal, rapat
atau pidato. Arti yang lebih negatif harus dilemahkan pula dengan cara yang sama.
d) Penambahan asumsi untuk “melengkapi” data yang biasanya kurang lengkap
Dengan ketidaklengkapan data maka secara natural kita menambahkan asumsi untuk
melengkapi arti dari data yang telah kita tentukan.
Kita juga jangan terjebak dalam asumsi. Asumsi yang paling sering menjebak kita adalah
kita berasumsi bahwa orang lain memiliki pandangan terhadap masalah yang sama dengan
kita. Asumsi juga harus dibedakan secara jelas dengan data. Jangan memberikan bobot yang
46
sama antara asumsi dan data. Cara terbaik sebenarnya adalah dengan mengeluarkan asumsi
ini dengan menjelaskannya setelah kita mengeluarkan kesimpulan.
e) Pengambilan kesimpulan berdasarkan interpretasi data DAN asumsi kita
Setelah merasa lengkap dengan asumsi dan data maka kita mengambil kesimpulan.
Implikasi dari langkah ini adalah seringnya perdebatan terjadi pada tingkat kesimpulan.
Kita berasumsi bahwa semua orang menggunakan data yang sama dengan kita, memilih
data dengan cara yang sama, menginterpretasi dengan tambahan asumsi yang sama,
sehingga kita bingung dan menyalahkan kesimpulan yang berbeda.
Sehingga cara terbaik untuk berdiskusi adalah dengan melakukan eksplorasi tangga
kesimpulan. Anda bisa bertanya Data apa yang digunakan? Data mana yang dianggap
penting dalam kesimpulan? Bagaimana menurut dia data tersebut? Apakah ada tambahan
asumsi, jika iya apa saja? Antara asumsi dan data mana yang diberatkan? dsb
f) Penguatan atau perubahan keyakinan berdasarkan kesimpulan, yang nantinya
mempengaruhi pemilihan data pada tahap 2.
Kesimpulan yang diambil memperkuat atau mempengaruhi keyakinan kita yang kita miliki
dalam proses ini. Itulah mengapa ada orang yang yakin bahwa kesimpulan dia benar,
walaupun orang-orang lain heran kenapa kok bisa yakin kalau benar.
Keyakinan ini sudah bisa ditebak dari cara memilih data, baik secara sadar maupun tidak
sadar. Jika sadar, maka ketika data yang bertentangan dilemahkan atau tidak dilihat,
sedangkan yang mendukung diperkuat. Jika tidak sadar, dan ini sebenarnya lebih
berbahaya, data yang bertentangan bahkan tidak dilihat sama sekali atau dicari, sehingga
tidak ada pelemah keyakinan apapun.
Jika sebuah kesimpulan ternyata berbeda dengan keyakinan, namun ternyata kesimpulan
itu ingin di laksanakan, maka terdapat proses untuk mengubah keyakinan sehingga
mendukung kesimpulan dan tidak lagi berbeda atau bertentangan.
g) Tindakan yang “benar” karena berdasarkan keyakinan yang kita kembangkan
Kesimpulan yang telah dibenarkan oleh keyakinan kita mengarahkan dan menjaga tindakan.
Tindakan bisa berupa aksi, keputusan atau pendapat yang dikeluarkan merupakan
komponen yang bisa dilihat, didengar atau dirasakan, yang berarti adalah nyata (tangible).
Inilah output yang menjadi pemicu kebutuhan analisa tangga kesimpulan.
Pemahaman terhadap tangga kesimpulan mengajak kita untuk memandang setiap pendapat,
uraian, tindakan atau jawaban sebagai sebuah kesimpulan yang pasti memiliki proses
dibelakangnya. Orang cenderung untuk sangat cepat menggunakan tangga ini tanpa sadar,
bahkan mungkin meloncati beberapa anak tangga sekaligus. Sehingga sebelum menerima atau
membantah sebuah kesimpulan, tuntunlah dulu orang tersebut di setiap anak tangga
kesimpulan.
4.2.3 MENYELIDIKI DAN MEMBELA
Setelah kita memahami tentang proses yang terjadi ketika mengambil sebuah kesimpulan dan
tindakan dalam tangga kesimpulan, maka bagaimana caranya “mengeluarkan” proses ini
sehingga bisa kita analisa dan kita ubah? Maka caranya adalah dengan serangkaian pertanyaan
dan pembelaan atas jawaban yang diberikan. Proses ini dikenal sebagai Advocacy Inquiry atau
47
Menyelidiki dan Membela. Mirip dengan proses hukum dimana kita mengenal ada dua sisi
yaitu penuntut dan pembela, dimana di dalam sebuah sidang pengadilan, penuntut mengajukan
serangkaian pertanyaan selidik untuk mencari celah kesalahan sedangkan pembela mengajukan
serangkaian argumentasi untuk membela posisi dari kliennya.
Salah satu bentuk model mental adalah dalam sebuah cerita. Jika anda mendengarkan sebuah
cerita dalam bentuk pemaparan, pendapat, pengalaman, nostalgia dsb, secara tidak langsung
anda sedang dipaparkan model mental dari yang bercerita. Bahkan ada beberapa cerita yang
bertujuan untuk mengkomunikasikan model mental. Ketika ada yang bercerita tentang
pengalaman dia menyelesaikan suatu masalah secara detail dengan memberikan prosesnya,
maka secara langsung sebenarnya dia memberikan gambaran model mentalnya untuk
permasalahan tersebut. Ada lagi orang yang menceritakan tentang bagaimana dia memandang
pendapat seseorang dan memberikan penilaian terhadap pendapat tersebut, maka itu juga
model mental dia terhadap pendapat dan seseorang tersebut.
Dan bagaimana membuat orang bercerita? Dengan bertanya dengan orang tersebut. Bagaimana
membuat diri kita sendiri bercerita? Dengan bertanya dengan diri sendiri. Cerita yang dicari
bukanlah cerita dongeng tentunya, namun cerita tentang pendapat, pengalaman dan
pengetahuan yang dimiliki.
Selain bertanya, tidak kalah pentingnya adalah kita harus membuka model mental kita dengan
memberikan cerita kita sendiri dan menunggu respons terhadap model mental kita ini.
Misalnya kita mengajukan sebuah pendapat, dan kita bertanya bagaimana menurut orang lain
pendapat kita tersebut. Proses ini menjadi penyeimbang dari hanya sekedar proses bertanya.
Perlu pula diingat, bahwa proses akhir yang ingin dicapai bukan perdebatan namun sebuah
dialog diskusi. Proses ini seolah-olah terlihat saling bertentangan, tetapi sebenarnya terjadi
proses pembangunan model mental bersama diantara yang terlibat, dan bahkan yang
menyaksikannya. Keseimbangan antara menyelidiki dan membela sangat penting. Kata
menyelidiki memang dipilih untuk menterjemahkan kata inquiry, untuk mempertegas bahwa
prosesnya tidak hanya bertanya sembarangan tapi berdasar kepada keingintahuan yang
terstruktur. Sehingga jangan digunakan cara bertanya seperti dalam penyelidikan kriminal,
ketika kita hanya tertarik untuk mencari pengakuan. Kita harus secara seimbang juga
memberikan pendapat kita untuk dicari tahu oleh lawan diskusi kita. Jangan sampai terdengar
seperti interogasi, klarifikasi atau sekedar interview. Kata membela juga bukan berarti kita
hanya mau mengutarakan pendapat kita, tanpa keingintahuan terhadap orang lain. Membela
yang berlebihan bisa terasa seperti menyuruh atau paparan, tanpa memberikan kesempatan
orang lain mengemukakan pendapatnya atau menyanggah pendapat kita.
Saya pernah mengikuti sebuah dialog yang sangat seru yang membuat saya tersadar antara
perbedaan antara debat dan dialog. Sebuah peristiwa yang langka, karena media berita di
Indonesia saat ini, sebenarnya mengajarkan debat bukan dialog, dan debat yang disajikan
adalah debat kusir, sebuah debat untuk mencari kemenangan semata, bukan untuk
mencerahkan pemirsanya. Ketika dialog ini terjadi secara murni maka seakan terdapat dua
tarian model mental yang saling mempengaruhi tidak hanya kedua pembicara, namun juga
pemirsanya.
48
Tabel 4. 2 Ca ra untuk M en ge lu ar ka n Model mental (Membela )
Apa yang sebaiknya dilakukan
Contoh Pertanyaan atau Pendapat
Jabarkan asumsi anda dan deskripsikan data yang
menuntun anda menggunakan asumsi itu
Oke, ini yang saya pikirkan, dan kenapa kok saya mikir seperti
ini ... "
Jelaskan asumsi anda
Saya berasumsi bahwa ...
Pendapat saya ini berdasarkan …”
Eksplisitkan proses pemikiran anda
Saya mendapatkan kesimpulan ini karena ...
Ajak atau dorong orang lain untuk
mengeksplorasi asumsi dan kesimpulan
Bagaimana menurut anda tentang uraian saya tadi?
Menurut kamu, apakah ada yang tidak pas dari cara saya
mengambil kesimpulan?
Apakah anda bisa menolong saya menambahkan yang mungkin
tidak saya pikirkan?”
Berikan contoh
Untuk memperjelas apa yang saya maksud, coba bayangkan ...
Ini beberapa contoh yang mungkin memperjelas apa yang saya
pikirkan sehingga mencapai kesimpulan ini ...
Di budaya timur, berdialog memang belum menjadi sebuah kebiasaan yang lazim. Kita dilatih
untuk tidak menyolok, menghormati orang yang lebih tua dan sebagainya, yang terkadang
mengurangi kualitas dialog yang dilakukan. Namun kebiasaan untuk saling berinteraksi dalam
tingkatan model mental banyak sekali membantu mengurangi gangguan dalam berkomunikasi
yang sering didominasi oleh kesimpulan. Tabel 4.2 berisi tentang contoh cara untuk
mengeluarkan model mental, sedangkan Tabel 4.3 berisi tentang contoh cara untuk
mendapatkan model mental orang lain
Tabel 4. 3 Ca ra u nt uk Men dapatkan Model mental (Menyelidik i)
Apa yang sebaiknya dilakukan
Contoh Pertanyaan atau Pendapat
Dorong orang lain untuk memperjelas proses
berpikir mereka, misalnya dengan menuntun
mereka ke setiap tangga kesimpulan
Apa yang membuat kamu mikir seperti itu?"
"Apa yang membuat anda memiliki kesimpulan ini?"
Data apa yang kamu olah untuk mendukung kesimpulan ini?"
Kenapa kamu ngomong seperti itu?”
Coba bantu saya untuk memahami apa yang kamu pikirkan?"
Cari penyebab kesimpulan, tapi pastikan tidak
menggunakan bahasa yang "menyerang".
Jelaskan pula kenapa kok kita ingin memperjelas
pemahaman dengan sering bertanya
Boleh bantu saya untuk memahami cara kamu mengambil
kseimpulan?" akan lebih baik daripada "maksud loh?"
Pancing pola pemikiran mereka
"Apa signifikansi dari apa yang kamu utarakan"
"Bagaimana ini berkorelasi dengan yang lainnya?
Klarifikasi pemahaman kita terhadap apa yang
dikemukakan dengan mengajukan pertanyaan
lanjutan
"Tolong koreksi saya jika salah, yang anda maksud adalah .."
"Apakah ini sama dengan ..."
49
4.3 BAHAN BACAAN
Senge, P. M. (1990). The Fifth Discipline : the Art and Practice of the Learning Organization.
New York, Doubleday/Currency.
Senge, P. M. (1994). The Fifth Discipline Fieldbook: Strategies and Tools for Building a Learning
Organization. New York, Currency, Doubleday.
Senge, P. M. (1999). The Dance of Change : the Challenges of Sustaining Momentum in
Learning Organizations. New York, Currency/Doubleday.
Sterman, J. (2000). Business dynamics : systems thinking and modeling for a complex world.
Boston, Irwin/McGraw-Hill.
50
5. BERPIKIR SISTEM
Jika digabungkan pemahaman dari definisi berpikir, proses berpikir, pola berpikir dan definisi
dari sistem, maka berpikir sistem didefinisikan sebagai,
Keahlian berpikir untuk melihat struktur umpan-balik sebab-akibat pada
elemen-elemen sistem permasalahan ...
... dalam berbagai dimensi kontekstual yang bisa mengubah ciri holistik dari
sistem ...
... dengan sebuah proses yang iteratif dan interaktif ..
... untuk membangun, memodifikasi dan meningkatkan kualitas struktur internal
pikiran (model mental) ...
... melalui serangkaian pertanyaan dialogis reflektif yang berbasis pada ciri-ciri
sistem sebagai alat bantunya .
Berbasis pada definisi diatas maka beberapa kalimat kunci yang dapat dijelaskan secara singkat
berikut,
a) Keahlian berpikir untuk melihat struktur umpan-balik sebab-akibat pada elemen-elemen
sistem permasalahan ...
Keahlian berpikir memberikan pemahaman bahwa berpikir menjadi sebuah keahlian yang
bisa dilatih sehingga tidak ada alasan untuk tidak bisa mengubahnya. Sebagai sebuah
keahlian maka diperlukan jumlah latihan yang cukup untuk membuatnya menjadi sebuah
kebiasaan yang kita otomatis lakukan setiap kali memandang sebuah permasalahan.
Struktur umpan-balik sebab-akibat memberikan pemahaman bahwa berpikir sistem
memang berfokus untuk mendapatkan tidak hanya kejadian dan pola perilaku, namun
struktur yang mendasari pola dan kejadian tersebut. Struktur ini merupakan sebuah
struktur umpan-balik yang bukan umpan-balik biasa, namun umpan-balik sebab-akibat
yang seringkali walupun sederhana bisa mengakibatkan kompleksitas luar biasa pada sistem
permasalahannya.
Struktur pada elemen-lemen sistem juga mengisyaratkan bahwa berpikir sistem lebih
tertarik untuk menggunakan pandangan endogen (endogeneous views) dalam analisanya,
yaitu ketika pencarian dilakukan pada perubahan yang bukan karena adanya rangsangan
terus-menerus dari luar sistem, namun akibat struktur sistem tersebut sendiri. Ini berarti
secara individu merupakan apresiasi tentang apa yang kita lakukan akam mempengaruhi
dan membentuk realitas kita sendiri.
Dalam klasifikasi ciri sistem maka ciri yang dicari adalah ciri interkoneksi melingkar.
b) ... dalam berbagai dimensi kontekstual yang bisa mengubah ciri holistik dari sistem ...
Struktur umpan balik yang ingin dipahami harus dipahami dalam konteksnya dengan tetap
tidak terjebak pada aspek detail saja namun juga memperhatikan aspek umum yang
berkembang dari interaksi dari aspek detail. Penjelasan ini secara tidak langsung meminta
51
kita untuk mendefinisikan masalah secara baik. Sehingga dalam klasifikasi ciri sistem maka
hal ini adalah aksi holistik, multi dimensi, tujuan dan batasan. Aksi holistik menunjukkan
c) ... dengan sebuah proses yang iteratif dan interaktif ...
Salah satu konsekuensi logis dari pencarian struktur, konteks dan pendekatan holistik
adalah sebuah proses yang tidak linear. Proses yang tidak linear dapat memiliki titik awal
dimana saja, kembali kemana saja, maju kemana saja dan titik akhir dimana saja namun
wajib untuk menyentuh semua titik. Iteratif berarti disarankan proses ini dilakukan
berulang-ulang seiring dengan bertambahnya informasi yang kita miliki ketika kita sedang
mengeksplorasi sebuah titik. Jawaban sebuah pertanyaan biasanya menimbulkan sejumlah
pertanyaan baru yang perlu kita jawab. Proses iteratif ini menjamin bahwa kita secara
dinamis memperbesar dan memperkecil dimensi pemikiran kita.
d) ... untuk membangun, memodifikasi dan meningkatkan kualitas struktur internal pikiran
(model mental) ...
Tujuan proses berpikir sistem adalah untuk menyiapkan diri kita ketika kita menghadapi
permasalahan yang kompleks dengan baik dan lebih baik. Hal ini bisa dilakukan dengan
membangun dengan baik pula sebuah mental model baru ketika kita menghadapi masalah
yang baru. Masalah yang sama bisa kita selesaikan dengan lebih baik dengan memodifikasi
dan meningkatkan kualitas mental model lama kita.
e) ... melalui serangkaian pertanyaan dialogis reflektif yang berbasis pada ciri-ciri sistem
sebagai alat bantunya .
Jika berpikir adalah mencari jawaban atas pertanyaan ke diri sendiri maka untuk berpikir
sistem perlu rangkaian pertanyaan yang berbasis kepada ciri-ciri sistem (DeBATIK).
Jawaban-jawaban terhadap serangkaian pertanyaan inilah yang membuat kita mampu
memahami permasalahan secara sistemik.
Istilah “berpikir sistem” dipopulerkan dalam buku 5th Discipline oleh Peter Senge di awal tahun
1990an. Buku ini membahas bahwa untuk menjawab tantangan kompleksitas dunia di masa
akan datang, organisasi perlu membangun 5 kedisiplinan utama: keahlian personal, visi
bersama, belajar secara kelompok, model mental dan berpikir sistem.
Judul Disiplin ke-5 menunjukkan bahwa disiplin terakhir adalah yang terpenting yaitu disiplin
untuk berpikir sistem. Didalam buku ini Senge berargumen pentingnya bagi individu dalam
organisasi untuk melakukan metanoia (shift of mind perubahan pemikiran) melalui
penciptaan kembali diri kita melalui belajar tanpa henti dalam kerangka sistem (Senge 1990).
Pemilihan kata disiplin oleh Peter Senge memiliki makna kebiasaan. Dalam pengantar berpikir
di bagian sebelumnya, telah dijelaskan bahwa kita sering sekali bereaksi otomatis terhadap
suatu kondisi yang sama atau yang kita asumsikan sama. Kata lain dari proses otomatis ini
adalah kebiasaan (habit). Ketika kita sudah terbiasa dengan sesuatu, maka sesuatu yang sama
dan mirip akan memulai sebuah reaksi otomatis berupa pikiran, emosi dan tindakan yang biasa
kita lakukan. Sehingga dibutuhkan disiplin untuk mengubahnya.
52
Konsep 5-disiplin ini juga membuka pentingnya konsep organisasi pembelajar (learning
organization). Ketika sebuah manusia dipandang sebagai sebuah sistem juga harus secara aktif
beradaptasi terhadap perubahan, maka ternyata organisasi juga sama. Organisasi bisa
dipandang sebagai sebuah sistem yang harus beradaptasi dengan perubahan yang bisa sangat
kompetitif. Tentunya organisasi secara nyata bukanlah makhluk hidup yang memiliki
kemampuan untuk belajar, hanya manusia didalamnya yang mampu belajar. Jadi yang
dimaksud dengan organisasi pembelajar adalah organisasi yang mendorong manusia
didalamnya untuk saling berinteraksi untuk belajar secara kolektif. Dorongan ini bisa berupa
insentif, peraturan, prosedur, struktur organisasi, dan yang terpenting adalah budaya
organisasi.
Konsep memandang organisasi sebagai sebuah sistem yang perlu belajar menjadi populer
sehingga memiliki kelompok pemerhati yang tergabung dalam Society for Organization
Learning (SOL - http://www.solonline.org). Pada perjalanan konsep 5th Discipline
dikembangkan menjadi Living Organization oleh Arie de Geus (Geus 1997), U-Theory oleh Otto
Scharmer (Scharmer 2009), dan isu-isu berkelanjutan yang memang membutuhkan
pemahaman secara sistem (Senge 2010).
5.1 BERTANYA UNTUK BERPIKIR SISTEM
Berpikir sistem berarti adalah serangkaian pertanyaan untuk mengeluarkan ciri sistem dari
permasalahan yang dihadapi. Kelompok Pertanyaan-pertanyaan ini tentunya berdasarkan ciri-
ciri sistem, karena ciri-ciri inilah yang kita butuhkan untuk mendapatkan gambaran sistemik.
Jika mengacu kembali pada definisi sistem yang telah didiskusikan sebelumnya pada bagian 3.2
maka ada 5 kelompok pertanyaan untuk berpikir sistem berdasarkan cirinya.
Ciri 1: Sebuah sistem pasti memiliki tujuan
Apakah tujuan sistem yang sedang anda amati? Apakah ada perubahan dari tujuan
sistem saat ini dengan sebelumnya? bagaimana pada masa yang akan datang, apakah
akan berubah?
Apa tujuan sebuah sistem yang sempurna/ideal menurut kita?
Apakah ada perbedaan tujuan sistem pada komponen-komponennya (termasuk
perbedaan interpretasi)? Apakah ada tujuan yang bertentangan? Paralel? Atau Seri (satu
per satu bertahap)
Ciri 2: Sebuah sistem pasti memiliki variabel-variabel (sub-sistem) yang membangun
sistem tersebut melalui sebuah mekanisme keterkaitan tertentu.
Apa saja variabel dalam sistem yang berubah-ubah? Bagaimana korelasi dari variabel-
variabel? Apakah ada struktur input-proses-output-umpan-balik?
Apakah perubahan perilaku sistem berhubungan dengan perubahan salah satu atau
beberapa variabel tertentu? Apakah ada komponen yang tidak bekerja sebagaimana
mestinya? Apakah ada interaksi yang tidak bekerja seharusnya? Apakah ada elemen
yang menghalangi terjadinya interaksi?
Ciri 3: Sebuah sistem memiliki ciri-ciri menyeluruh yang berbeda dengan ciri-ciri kumpulan
komponennya.
53
Apa yang kita inginkan dari sistem (ideal sistem)? Bagaimana ciri-ciri sebuah sistem
yang ideal? Apakah ciri-ciri ini ada didalam sistem saat ini? Jika tidak, mengapa ciri-ciri
itu tidak bisa dipenuhi?
Bagaimana perilaku sistem saat ini, berbedakah dengan perilaku sebuah sistem yang
ideal?
Ciri 4: Sebuah sistem selalu dalam keadaan terbuka.
Dimanakah batas sistem dengan lingkungannya yang ingin kita analisa? Bisakah kita
menemukan struktur Input-Proses-Output? Bagaimana bentuk batas ini dan interaksi
antara sistem dan lingkungannya?
Apakah batasan sistem jelas? Mana yang internal sistem dan eksternal sistem?
Bagaimana “gesekan” atau interface antara internal dan eksternal? (lancarkah, butuh
penterjemahkan, ada delay kah dsb) Apakah ada norma/kebiasaan/aturan yang
menjaga/menginduksi interaksi,
Ciri 5: Sebuah sistem selalu berada dalam kondisi multi-dimensi:
Dimensi Waktu: bagaimana perilaku sistem sebelumnya dan prediksi perilaku yang pada
masa yang akan datang (expanding time horizon). Seberapa jauh ke depan dan ke
belakang ruang waktu analisa anda? Sudahkah anda melepaskan diri dari masalah masa
kini yang akan terasa lebih berat bobotnya dari masa depan? Apakah anda bisa melihat
dalan kurun waktu bukan dalam setiap kejadian saja?
Dimensi Ruang Geografis: bagaimana sistem berinteraksi dalam ruangan fisiknya dan
terhadap ruang fisiknya yang lain. Seberapa luas cakupan area analisa anda? Apakah
masalah anda disebabkan oleh penyebab pada tempat lain?
Dimensi Perspektif: Seberapa luas ruang lingkup aktor yang terlibat dalam
permasalahan ini? bagaimana perspektif dari berbagai macam aktor yang terlibat
didalamnya? Perspektif siapa yang mendominasi dalam penterjemahan masalah?
Bagaimana perspektif anda sendiri?
Dimensi Ruang Lingkup Sistem: berhubungan dengan ciri ke 4 diatas yaitu batas antara
sistem dan lingkungannya. Dalam sebuah pabrik manufaktur misalnya apakah yang
dibahas hanya produk, atau diperluas ke alat produksi produk, atau diperluas lagi ke
lingkungan kerja alat produk, atau ke desain lantai pabrik keseluruhan atau bahkan
hingga strategi dan organisasi pabrik secara keseluruhan.
Dimensi Ciri Berpikir Sistem: Jika kita mengubah salah satu dimensi ciri berpikir sistem
(tujuan, keterkaitan, batasan) apakah sistem akan berubah secara holistik pada ciri
menyeluruhnya ?
Bagaimanakah konteks permasalahan dalam berbagai dimensi diatas? Apakah ada
perubahan jika kita ubah dimensinya?
Kelima ciri diatas jika disingkat maka didapatkan singkatan DeBATIk untuk memudahkan
mengingat ke 5 ciri sistem (Gambar 5-1), karena saya memang suka memakai batik produksi
industri dalam negeri. Namun tentunya jika ini mengganggu anda, anda boleh membuat
singkatan sendiri.
54
Gambar 5 -1 S in gk atan De Bati k un tu k Membantu Mengingat Car a Bertan ya Sistem
5.2 PRINSIP DAN TIPS MANAJEMEN BERBASIS BERPIKIR SISTEM
Pada bagian ini kita membahas beberapa prinsip dan tips yang bisa didapatkan dengan
melakukan eksplorasi DeBatik. Sangat besar kemungkinan, beberapa prinsip dan tips sudah
anda pegang selama ini tanpa anda menyadari bahwa itu adalah perwujudan dari berpikir
sistem.
5.2.1 INVESTIGASI TUJUAN: BERAGAM, BERBEDA, BERUBAH
a) Pentingnya Visi dan Tujuan Bersama
Dalam perjalanan saya berdiskusi dengan berbagai aktor di berbagai organisasi, maka diagnosa
penting yang saya lakukan adalah apakah setiap aktor di satu organisasi mengerti dan memiliki
kesamaan persepsi terhadap tujuan organisasi. Bukan saja mampu menyebutkan visi, misi dan
tujuannya saja, namun apakah mereka menyadari apakah yang sedang dilakukan mendukung
pencapaian tujuan organisasi.
Perubahan tujuan melalui perubahan visi dan misi, seringkali dianggap hanyalah memberikan
nama baru terhadap apa yang sudah biasa dilaksanakan. Para aktor tidak di dorong secara
eksplisit untuk melakukan penyejajaran antara tujuan bagiannya dengan tujuan organisasi
setiap kali perubahan ini dilakukan. Seringkali mereka memandang bahwa perubahan bersifat
sementara dan tidak akan mengubah apa yang sudah biasa mereka lakukan.
Untuk itu sangat penting untuk selalu melakukan identifikasi, fokus, perjelas komunikasikan
dan memonitor tujuan dan pencapaian organisasi dalam semua tingkatan organisasi. Jangan
terjebak pada asumsi bahwa karena anda pernah bekerja bersama, rekan satu kantor, atau
“masak sih tidak tahu”, membuat anda tidak melakukan proses pendefinisian dan klarifikasi
tujuan ini. Harus diakusi beban pekerjaan sehari-hari bisa membuat orang tenggelam dalam
55
dalam rutinitas seperti robot sehingga melupakan kenapa mereka melakukan pekerjaan
tersebut.
Identifikasi berarti mengklarifikasikan makna dari tujuan organisasi dengan menjabarkannya
kedalam tujuan yang lebih konkrit berupa pencapaian kinerja. Proses ini penting untuk
mengurangi luasan ruang interpretasi yang berbeda terhadap arti dari tujuan organisasi. Fokus
berarti memilih dari berbagai interpretasi tujuan kepada yang prioritas untuk dilakukan.
Perjelas berarti mengkoneksikan secara gamblang hubungan antara tujuan pada tingkat
organisasi operasional kepada pencapaian tujuan pada tingkat strategis diatasnya. Alat
manajemen yang sering digunakan adalah berbentuk matriks dengan sumbu X adalah tujuan
operasional dan sumbu Y adalah tujuan strategis, kemudian diberikan simbol yang
menggambarkan kekuatan hubungan dukungannya.
Komunikasikan berarti memastikan bahwa setiap orang di organisasi tahu dan memahami arti
tujuan dalam bagiannya dan konektivitasnya terhadap tujuan organisasi diatasnya. Dalam ilmu
manajemen perubahan terhadap aturan 5-5-5 dalam melakukan komunikasi perubahan, yaitu
sebuah informasi penting disampaikan dengan 5 cara berbeda melalui 5 medium komunikasi
berbeda pada 5 kesempatan yang berbeda. Cara adalah bagaimana pesan komunikasi disusun,
medium adalah media yang digunakan (bulletin, email, memo, video, audio dll), kesempatan
berbeda (pidato, halal bi halal, pengajian, briefing mingguan, rapat, olahraga bersama, rekreasi
bersama dll), dan cara (cerita, anekdot, humor, prosedur, peraturan).
Monitor berarti sebuah sistem penjabaran dan pelaporan pencapaian tujuan yang bisa diakses
oleh orang yang tepat, pada waktu yang tepat dengan cara yang tepat pula. Kemajuan teknologi
informasi juga bisa digunakan untuk melakukan hal ini. Dalam manajemen kita mengenal
berbagai hal diatas sebagai manajemen kinerja, hoshin kanri atau manajemen berbasis tujuan
(management by objectives - MBO)
Leadership: mobilization toward a common goal.(Gary Wills)
b) Tidak ada hal yang maksimal, yang ada adalah optimal
Sebuah cerita yang saya sering berikan pada mahasiswa tingkat sarjana adalah tentang salah
satu tujuan hidup mereka yang berubah sepanjang waktu, yaitu mencari pasangan hidup. Ada
tiga tingkat perubahan yang terjadi dalam mencari pasangan hidup sejak mereka masih sekolah
menengah, kuliah dan bekerja yang dilambangkan dengan pertanyaan sederhana: Sekolah
"Siapa Saya?", Kampus "Siapa Kamu?", dan ketika bekerja dan umur sudah terlalu cukup maka
pertanyaannya menjadi "Siapa Aja Deh".
Salah satu makna cerita humor ini adalah tujuan bisa berubah seiring dengan perubahan.
Perubahan membuat tujuan yang kita raih tidak mungkin ada yang ada maksimal, namun yang
ada adalah optimal. Makna dari konsep optimal ini adalah
56
Untuk selalu memastikan bahwa tujuan organisasi tetap relevan dengan perubahan yang
terjadi.
Sebuah sistem pasti memiliki kelembaman, yang berarti tidak akan berubah hingga ada
input yang mendorong perubahan tersebut. Bangunlah kemampuan organisasi untuk
responsif terhadap perubahan tujuan.
Dalam sebuah sistem kompleks sering terjadi kondisi saling berkorban (trade off)
sehingga yang “maksimal” sebenarnya adalah yang memiliki total korban terkecil.
Tidak ada yang kekal kecuali perubahan (Heraclitus)
5.2.2 CARI DAN PAHAMI BATASAN
a) Milikilah Pandangan Helikopter (Helicopter Views)
Sebuah sistem terbuka hanya bisa dimengerti dengan baik dalam konteks yang dibangun oleh
lingkungannya. Dalam dunia nyata, seringkali batas antara sistem dan lingkungannya adalah
sebuah batas imajiner yang secara dinamis bisa kita perluas atau persempit. Dengan
memperluas dan mempersempit batasan, maka variabel-variabel yang tadinya tidak kita
perhitungkan dan kita anggap hanyalah variabel lingkungan, ternyata menjadi bagian penting
internal dari sistem yang kita kelola. Tidak memasukkan variabel eksternal temuan baru akan
mengurangi kualitas pemecahan masalah yang kita lakukan. Sehingga cara anda membatasi
permasalahan, bisa menjadi sumber dari masalahnya
The way we see the problem is the problem (Stephen Covey)
Salah satu prinsip dalam manajemen kualitas adalah untuk tidak berfokus mencari kesalahan
perseorangan, namun mencari mengapa sistem membiarkan orang tersebut melakukan
kesalahan (do not blame the people, look at the system that control that people). Apakah orang
tersebut tidak memiliki pelatihan yang cukup, deskripsi kerja yang jelas, acuan kinerja yang bisa
mengurangi kesalahan tersebut, dan sebagainya. Prinsip ini melakukan bentuk pentingnya
helicopter view.
b) Pandanglah Batasan sebagai Kesempatan
Dalam sistem terbuka, batasan tidak hanya memiliki makna batas, namun juga makna adanya
interaksi antara sistem dan lingkungannya. Sebuah batasan bisa sebuah filter atau konektivitas
yang terjadi antara sistem dengan lingkungannya.
Jika batasan dipandang sebagai sebuah filter, maka kita bisa mengetahui seberapa jauh
organisasi sensitif terhadap perubahan yang terjadi secara eksternal. Informasi eksternal apa
yang memiliki bobot lebih tinggi sehingga akan melewati filter, dan informasi apa yang tidak
masuk sama sekali. Dari kedua jenis informasi ini kita bisa mendeduksi bagaimana organisasi
menyusun filter informasi yang dilakukannya.Pada manajemen perubahan, sebuah organisasi
bisa saja tidak merasa perlu untuk berubah ketika informasi penting yang bisa mengubah
organisasi tersebut tidak sampai atau tidak dimengerti dampaknya.
57
Jika batasan dipandang sebagai sarana konektivitas maka bagaimana hubungan dan friksi yang
terjadi antara sistem dan lingkungannya. Pada era 90-an terdapat dua negara Asia yang
memiliki pertumbuhan yang mengesankan yaitu India dan China, yang berbasis kepada ekspor
dan alih daya kerja (outsourcing). Kedua pertumbuhan ini akibat satu konektivitas penting yang
terjadi, yaitu konektivitas internet dan konektivitas kemampuan bahasa Inggrisnya. India
menjadi sumber outsourcing untuk layanan jasa yang membutuhkan kemampuan bahasa
Inggris yang berlandaskan kepada pekerja yang memiliki biaya jauh lebih murah dari Amerika.
Layanan jasa ini mencakup after sales, dukungan teknis, dan pemrograman komputer (karena
hampir semua bahasa komputer berbasis bahasa Inggris). China juga memiliki hal yang sama
ketika Hongkong dikembalikan oleh Inggris ke Pemerintah China, sehingga secara mendadak
China memiliki konektivitas kuat dari sisi bahasa untuk menyalurkan kekuatan manufaktur
berbiaya rendahnya ke dunia barat.
Beberapa prinsip manajemen juga menyebutkan pentingnya fokus kepada batasan sebagai
konektivitas. Didalam manajemen kualitas, Deming memiliki 14 Prinsip Kualitas yang salah
satunya menyebutkan pentingnya menghancurkan batasan antara departemen/divisi, sehingga
tercipta saling kerjasama antar divisi. Didalam manajemen rantai suplai, pandangan integratif
terhadap pemasok dan distributor sebagai sebuah satu kesatuan menjadi kunci efisiensi dalam
memproduksi dan mengirimkan barang ke pelanggan. Didalam manajemen strategi, kita
mengenal Porter’s Value Chain yang menjabarkan pentingnya mengalihkan fokus dari setiap
fungsi organisasi tetapi kepada inter-fungsi yang saling berkolaborasi untuk menciptakan nilai
tambah bagi pelanggan.
Dalam sisi individu, kesadaran batasan dapat memfokuskan usaha kita kepada hal-hal yang bisa
anda kerjakan, dan untuk tidak berusaha membuang tenaga untuk mengubah apa yang berada
diluar kemampuan ruang lingkup tanggung jawab anda. Namun diantara keduanya, sebenarnya
ada konektivitas yang terjadi yang bisa anda pengaruhi. Misalnya, jika suatu masalah terjadi
diluar dari divisi anda, namun berdampak kepada anda, maka anda bisa pelan-pelan dan hati-
hati mendorong melalui rapat bersama untuk menyelesaikannya. Anda juga bisa mengusulkan
kepada manajemen untuk membuat sebuah ukuran kinerja baru antar divisi, sehingga semua
kepala divisi memiliki kontribusi terhadap ukuran kinerja dan mengatasi persamasalahannya.
God please grant me the serenity, to accept things that I cannot change,
the courage to change things that I can; and the wisdom to know the
difference (Reinhold Niebuhr)
c) Miliki sensitivitas terhadap Perubahan dengan memperhatikan batasan
Ada sebuah cerita anekdot terkenal tentang katak yang direbus dalam keadaan hidup-hidup. Si
katak yang sebenarnya memiliki kemampuan untuk meloncat, jika direbus tidak secara drastis
pada air yang langsung mendidih, tapi dimulai dari air dingin kemudian secara perlahan
suhunya dinaikkan, tidak akan menyadari kenaikan suhu yang perlahan. Sehingga ketika
akhirnya suhu cukup tinggi dan dirasa mengganggu si katak sudah terlalu lemah untuk
meloncat (the parable of boiled frog). Anekdot ini banyak digunakan untuk menganalogikan
58
respons manusia untuk berubah terjadi bukan akibat perubahan yang perlahan, namun pada
perubahan yang drastis. Padahal perubahan yang drastis biasanya sudah sangat terlambat
karena respons yang dimiliki akan semakin terbatas.
Sensitivitas terhadap perubahan hanya dapat dibangun pada batasan interaksi antara sistem
dan lingkungan. Ini adalah area penting yang harus diperhatikan dan dimonitor sebagai umpan
balik pengembangan dan perubahan pada organisasi. Dalam manajemen kualitas dan
manajemen pemasaran, konektivitas ini juga sangat ditekankan untuk selalu mengetahui apa
yang diinginkan oleh pelanggan dan apakah berubah. Di jaman ketika kompetisi terjadi di setiap
saat, akibat kemampuan untuk menjiplak inovasi produk menjad sangat cepat, maka sangat
penting untuk mengetahui secara tepat perubahan keinginan pelanggan. Konsep seperti
customer relationship management (CRM) juga dikembangkan untuk secara terus menerus
mengamati kebiasaan pelanggan untuk menyesuaikan spesifikasi dan kualitas produk atau
layanan yang diberikan kepada mereka.
If everything seems under control, you're not going fast enough
Mario Andretti
5.2.3 PAHAMI HUBUNGAN KAUSA YANG MELINGKAR
a) Selalu ada Efek Samping, Siapkan Diri Anda
Semua permasalahan sistem kompleks pasti akan memiliki efek samping, jadi penting bagi kita
untuk mengidentifikasi efek samping yang terjadi, kemudian mengurangi efek samping negatif
dan meningkatkan efek samping positif. Namun dalam melakukan identifikasi ini, kita perlu
berhati-hati dengan apa yang disebut sebagai jebakan linearitas. Jebakan linearitas adalah
ketika efek samping dianggap selalu terjadi pada dimensi yang sama, apakah itu dimensi waktu,
komponen, ruang atau lainnya.
Sebagai contoh dalam dimensi ruang lingkup adalah tawuran antar kelompok remaja yang
diawali dari ejekan antara dua orang, atau antar kelompok ormas hanya akibat adanya
anggotanya yang melucuti bendera yang dipasang di jalan. Kedua contoh ini menunjukkan
bahwa dampak tidak selalu proporsional dengan penyebabnya. Kita sering berasumsi bahwa
dampak selalu proporsional dengan penyebabnya, sehingga kita sering melupakan bahwa tidak
harus melakukan sesuatu yang besar untuk mendapatkan dampak yang besar.
Contoh lain untu dimensi ruang adalah banjir di Jakarta, penyebab utamanya bersumber bukan
pada ruang yang sama dengan Jakarta, karena banjir disebabkan pada volume air yang melebihi
kapasitas 13 sungai besar yang melewati Jakarta menuju pantai yang berasal dari hujan deras di
daerah selatan Jakarta (Bogor dan sekitarnya). Sehingga uniknya banjir Jakarta adalah adanya
jeda waktu dari hujan deras di kawasan bedungan Katulampa di Bogor untuk menjadi banjir di
kawasan kampung melayu Jakarta, jadi ada semacam dimensi waktu disini.
59
Banjir Jakarta, sebagai permasalahan kompleks, juga memiliki dimensi multi komponen. Banjir
besar akan terjadi ketika beberapa komponen terjalin pada waktu yang bersamaan yaitu:
bulan purnama yang akan menaikkan pasang laut sehingga air dari sungai akan lebih
rendah dari pantai dan tidak bisa mengalir secara alami
hujan deras dengan intensitas curah hujan dan periode waktu yang cukup lama di
kawasan selatan Jakarta
hujan deras di kawasan Jakarta sendiri sehingga kapasitas sungai telah menjadi
maksimum
Tentunya dengan mempertimbangkan kondisi sistem sungai Jakarta yang memang parah, yaitu:
sampah di sungai, pendangkalan sungai akibat pengendapan pasir sebagai sebuah proses alami,
dan penyempitan badan sungai akibat pengurukan oleh masyarakat yang tinggal di bantaran
sungai, maka wajar bahwa jangan salahkan hujan ketika banjir di Jakarta terjadi.
“I can't change the past, but that doesn't mean I can't learn from it.
I can't know the future, but that doesn't mean I can't be ready for it.”
Kenneth de Guzman
b) Selalu Mencari Akar Permasalahan sebelum Memecahkan masalah
Pemahaman berikutnya yang bisa diambil dalam berpikir sistem adalah pentingnya untuk
mencari akar permasalahan sebelum kita terjun memecahkan masalah, terutama untuk
permasalahan yang kompleks. Ini untuk memastikan bahwa solusi permasalahan yang
dilakukan tidak bersifat quick fix yang hanya mengurangi gejala saja namun tidak menyentuh
penyebab utama dari gejala tersebut.
Mirip dengan obat demam yang kita minum ketika sakit dan memiliki gejala demam. Fungsi
obat adalah mengurangi demam suhu tubuh, sehingga tubuh tidak mengalami kerusakan
permanen. Demam merupakan reaksi tubuh terhadap berbagai penyebab sakit, sehingga sambil
menjaga suhu tubuh tersebut, dokter akan melakukan berbagai tes untuk mencari penyebabnya.
Ini karena penyebab demam bisa sekedar influenza, namun bisa pula tipus, demam berdarah
dan lain sebagainya. Setiap penyebab ini memiliki obat yang berbeda-beda.
Hal ini juga sama dengan pemecahan masalah sistem, apa yang kita temukan pertama kali pasti
masih merupakan gejala, bukan permasalahannya. Gejala ini kita lihat merupakan akibat
permasalahan. Permasalahan ini pasti memiliki akar sebagi sumber dari permasalahan. Sumber
inilah yang harus kita pecahkan, bukan pada tingkatan gejala.
If I had an hour to solve a problem I'd spend 55 minutes thinking about
the problem and 5 minutes thinking about solutions.
Albert Einstein
60
5.2.4 LENGKAPI CIRI HOLISTIKNYA
a) Mulai dari Akhir
Seringkali dalam sebuah diskusi yang saya lakukan, diskusi berjalan melebar atau berliku-liku
sedemikian rupa sehingga peserta diskusi seolah-olah lebih asik untuk berdebat dan melupakan
untuk apa perdebatan dilakukan. Salah satu hal terpenting yang harus dilakukan pimpinan
rapat pada kondisi ini adalah mengingatkan kembali kepada peserta rapat tentang hasil apa
yang harus dikeluarkan oleh rapat tersebut. Namun jika anda mendapatkan sebuah undangan
rapat yang judulnya adalah kata kerja seperti “pembahasan”, “diskusi” dll, bukan kata benda
seperti “usulan rekomendasi”, “usulan perbaikan” dll, maka dari awal rapat memang didesain
untuk tidak memiliki hasil. Sekilas jadinya mirip arisan, ngobrol sana-sini tanpa hasil, kecuali
bagi yang mendapatkan arisannya.
Mulai dari akhir memiliki makna bahwa kita harus memiliki bayangan apa yang ingin kita
dapatkan dari proses yang kita lakukan. Hasil akhir ini dijabarkan, kemudian tarik ke depan apa
saja yang harus dihasilkan. Sebagai sebuah hasil akhir maka kelengkapan dari hasil akhir ini
seolah-olah ada ciri-ciri utuh dari sebuah sistem yang ideal.
Begin with the end in mind.
Stephen Covey’s 7 Habits
b) Sinergi: menggunakan komponen-komponen sistem yang terbaik belum tentu menghasilkan
sistem yang terbaik
Dalam dunia olahraga, kita sering membaca berita tentang bursa transfer pemain yang
dipandang jagoan dalam nilai uang yang luar biasa dan terkadang agak tidak masuk akal. Para
club olahraga profesional, apakah basket atau sepak bola, berlomba-lomba untuk menarik
talenta-talenta potensial maupun yang telah terbukti untuk bergabung bersama klub mereka.
Seolah-olah sebuah pertandingan sepakbola yang setiap timnya terdiri dari 11 orang itu, hanya
sebenarnya pertandingan antara 2 bintang top saja, sedangkan yang lainnya adalah tim
penyorak. Terlepas bahwa karisma individu bisa menular dalam sebuah tim, namun kita juga
pasti sadar tidak mungkin sebuah tim olahraga menang hanya jika 1 orang bintang top bermain
sendirian.
Sebuah tim yang baik, sama dengan sebuah sistem yang baik, merupakan hasil interaksi dari
komponennya. Jadi belum tentu jika kita menggunakan semua komponen yang terbaik akan
pasti menghasilkan tim yang terbaik. Sering kali kita harus mengorbankan kualitas komponen
dengan kemampuan kompabilitas antar komponen.
Hal ini yang disebut sebagai sinergi. Sinergi memiliki makna bahwa dibutuhkan pengorbanan
komponen untuk mendapatkan hasil terbaik secara utuh. Ini termasuk membiarkan komponen
tertentu mengalah sehingga komponen lainnya bisa bekerja dengan lebih baik, dan pada
akhirnya sistem juga bekerja lebih baik. Jika kembali ke olahraga, sebuah tim All Star jarang
sekali bisa menang dengan tim profesional setara pada kondisi kompetitif (bukan pada kondisi
61
penggalangan dana sosial). Ini karena jika memang mereka adalah all star, maka ego pemain
akan sedemikian besarnya sehingga besar kemungkinan bolanya tidak akan dioper kemana-
mana karena semua ingin mencetak gol.
Padahal dalam sebuah sistem, setiap komponen atau sub-sistem tidak boleh memaksimalkan
kondisinya sendiri namun berkorban dan bekerja sama untuk mendapatkan kinerja utuh dari
sistem yang lebih baik.
Coming together is a beginning. Keeping together is progress.
Working together is success. (Henry Ford )
5.2.5 MEMANDANG MULTI DIMENSI SECARA DINAMIS KONTEKSTUAL
a) Pentingnya memahami apapun dalam konteksnya
Jika saya sedang mengajar di depan kelas, dan anda adalah peserta di kelas, kemudian saya
memegang sebuah pisau besar di tangan kanan saya sambil mengacungkan ke arah anda, maka
respons anda seperti apa? Apakah anda segera memanggil polisi karena merasa terancam oleh
pisau saya? Atau anda hanyatertawa-tawa saja melihat aksi saya tadi?
Tentu jawabannya tergantung apakah ini kelas memasak dengan demo memasak langsung di
depan atau hanyalah sebuah kelas pengantar etika profesional. Ini yang dimaksud dengan
konteks. Dalam sebuah permasalahan kompleks sangat penting untuk menyadari bahwa sistem
selalu dalam kondisi multi dimensi. Selalu asumsikan bahwa tidak ada sebuah ciri universal
yang konstan dari sebuah sistem, sehingga komunikasi dan interaksi untuk mengeksplorasi
konteks dimana sistem sedang bermasalah menjadi penting.
If you change the way you look at things, the things you look-at … change.
Wayne Dyer
b) Menghadapi Kompleksitas adalah sebuah proses yang iteratif
Pemahaman terhadap mental model yang telah dijabarkan sebelumnya, mengingatkan kita
bahwa apa yang kita ketahui dari sebuah permasalahan nyata adalah sangat terbatas. Batasan
ini hanya bisa diperluas melalui sebuah proses berulang dan iteratif, tidak melalui sebuah
proses linear yang teratur dari sebuah langkah ke langkah yang lain.
Proses iteratif yaitu ketika sebuah pemahaman dari sebuah langkah, membuat kita harus
kembali ke satu atau beberapa langkah sebelumnya dan memulai kembali proses analisa dengan
pemahaman tambah