ArticlePDF Available

KECUKUPAN ENERGI, PROTEIN, LEMAK DAN KARBOHIDRAT

Authors:
1
KECUKUPAN ENERGI, PROTEIN, LEMAK DAN KARBOHIDRAT
Hardinsyah1, Hadi Riyadi1 dan Victor Napitupulu2
1Departemen Gizi Masyarakat FEMA IPB
2Departemen Gizi, FK UI
E-mail : hardinsyah2010@gamial.com
Abstrak
Angka kecukupan gizi (AKG) berguna sebagai patokan dalam penilaian dan
perencanaan konsumsi pangan, serta basis dalam perumusan acuan label gizi. Angka
kecukupan gizi mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan Iptek gizi dan ukuran
antropometri penduduk. Setelah sekitar sepuluh tahun ditetapkan angka kecukupan energi
(AKE) dan kecukupan protein (AKP) bagi penduduk Indonesia, kini saatnya ditinjau ulang
dan disempurnakan. Kajian ini bertujuan merumuskan angka kecukupan energi (AKE),
kecukupan protein (AKP), kecukupan lemak (AKL), kecukupan karbohidrat (AKK) dan serat
makanan (AKS) penduduk Indonesia.
Data berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) yg digunakan dalam perhitungan AKE
dan AKP didasarkan pada median berat badan dan tinggi badan normal penduduk Indonesia
menurut kelompok umur dan jenis kelamin berdasarkan data Riskesdas 2010 terhadap standar
WHO. Secara umum perhitungan AKE pada anak dan dewasa didasarkan pada model
persamaan estimasi energi IOM 2005 (MPEI). MPEI pada anak mempertimbangkan faktor
RBNPI, umur, energi pertumbuhan dan energi cadangan. MPEI pada remaja dan dewasa
mempertimbangkan faktor RBNPI, umur, energi cadangan dan aktifitas fisik. Perhitungan
AKP bagi anak dan dewasa didasarkan pada kecukupan protein pada setiap kelompok umur
dan jenis kelamin anjuran IOM (2005) dan WHO (2007) serta faktor koreksi mutu protein.
Perhitungan AKL didasarkan pada anjuran sebaran persentase energi dari lemak (Aceptable
Macronutrient Distribution Range –AMDR) dan kebutuhan asam lemak esensial bagi setiap
kelompok umur dan jenis kelamin yang dianjurkan IOM (2005) dan FAO/WHO (2008).
Perhitungan tambahan AKE, AKP, AKL bagi busui didasarkan pada tambahan kecukupan
gizi ini untuk produksi ASI dikoreksi penurunan berat badan setelah melahirkan.
Perhitungan tambahan AKE, AKP, AKL bagi bumil didasarkan pada tambahan kecukupan
zat gizi ini bagi pertumbuhan perkembangan janin dan organ tubuh ibu, peningkatan cairan
tubuh, dan cadangan. Perhitungan AKL didasarkan pada IOM (2005) dan FAO/WHO (2008)
serta distribusi persentase energi gizi makro. Angka kecukupan serat pangan (AKS) bagi
anak, remaja dan dewasa adalah 14 g serat pangan per 1000 kkal kecukupan energy (IOM
2005). Hasil kajian menunjukkan kisaran distribusi energi gizi makro dari pola konsumsi
penduduk Indonesia berdasarkan analisis data Riskesdas 2010 adalah 9-14% energi protein,
24-36% energi lemak, dan 54-63% energi karbohidrat yang belum sebaik yang diharapkan,
yaitu 5-15% energi protein, 25-55% energi lemak, dan 40-60% energi karbohidrat
tergantung usia atau tahap tumbuh kembang. Pada makalah ini disajikan AKL, AKK dan
AKS untuk setiap kelompok umur dan jenis kelamin bagi penduduk Indonesia. AKP yang
dihasilkan dari data klinis (keseimbangan nitrogen) jauh lebih rendah dibandingkan cara
anjuran kisaran sebaran persentase 1energi dari gizi makro (AMDR). Secara umum AKE dan
AKP bagi penduduk Indonesia saat ini ( WNPG 2012) sedikit lebih tinggi dibanding AKE
dan AKP 2004 (WNPG 2004). Dengan menggunakan hasil perhitungan AKE dan AKP pada
setiap kelompok umur dan jenis kelamin, serta kompoissi penduduk hasil Sensus Penduduk
2
2010, diperoleh rata-rata AKE dan AKP nasional pada tingkat konsumsi masing-masing
adalah 2150 kkal dan 57 g perkapita perhari denganproporsi anjuran protein hewani 25 %.
Sementara AKE dan AKP pada tingkat ketersediaan adalah 2400 kkal dan 63 g perkapita
perhari. Penggunaan angka-angka kecukupan gizi ini berguna sebagai dasar perencanaan
konsumsi pangan kelompok orang atau wilayah untuk mencapai status gizi dan kesehatan
yang optimal. tidak dimaksudkan untuk penilain atau penelitian tingkat asupan zat gizi
individu..
Kata kunci: Kecukupan energi, kecukupan protein, kecukupan lemak, kecukupan karbohidrat
3
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Penelitian dan ilmu Pengetahuan (Iptek) dibidang gizi berkembang pesat, termasuk di
bidang kebutuhan gizi. Angka kecukupan energi (AKE) dan kecukupan protein (AKP) bagi
penduduk Indonesia ditetapkan sekitar satu dekade lalu. Semenjak itu telah banyak
perkembangan penelitian dan Ipteks gizi yang terjadi. Bila pada Widyakarya Nasional Pangan
dan Gizi (WNPG) VI (1998) penetapan AKE mengunakan model persamaan Shofield yang
terbukti belakangan overestimated. Pada WNPG VIII (2004) penetapan AKE menggunakan
model persamaan Oxford atau IOM (2002), tetapi model ini belum mencakup kelompok umur
anak dan remaja.
Kemudian pada tahun 2005, Institute of Medicine (IOM, 2005) menghasilkan model
persamaan IOM (2005) dari data (subyek) yang lebih banyak, menggunakan pengukuran
energi basal yang lebih akurat menggunakan metode doubly labeled water, dan mencakup
model persamaan yang komprehensif bagi anak, remaja, dewasa, ibu hamil dan ibu menyusui.
Perkembangan Iptek lainnya juga ditandai dengan penetapan kebutuhan protein, lemak,
karbohidrat dan serat makanan oleh IOM (2005) dan kajian dan penetapan kebutuhan lemak
dan asam lemak oleh FAO (2010). Juga untuk pertama kali Indonesia melalui Riskesdas
(2010) memiliki data berat dan tinggi badan serta konsumsi pangan yang mencakup semua
kelompok umur, dan ini menjadi salah satu fondasi dalam penyempurnaan penetapan AKE,
AKP, Angka Kecukupan Lemak (AKL) dan Angka Kecukupan Karbohidrat (AKK),
termasuk serat.
Dilain pihak, kebijakan nasional tentang penanggulangan penyakit tidak menular yang
berkaitan erat dengan faktor gizi dan gaya hidup juga semakin menguat. Penyempurnaan
angka kecukupan gizi diharapkan bisa memberi andil bagi perbaikan masalah gizi yang
berkaitan dengan faktor risiko kejadian penyakit tidak menular. Komitmen pada penyusunan
AKG yang lalu untuk turut melakukan harmonisasi AKG diantara negara anggota ASEAN
juga tetap diperhatikan, yaitu tentang definisi, kegunaan, cakupan zat gizi, pengelompokan
umur, basis perhitungan AKG dari dokumen FAO/WHO dan IOM terkini dengan
penyesuaian terhadap hasil kajian di indonesia yang relevan dan mutakhir.
Selama sekitar sepuluh tahun terakhir telah terakumulasi berbagai kajian dan publikasi
mutakhir tentang kecukupan gizi, yang pada umumnya berasal dari negara-negara maju.
Mempertimbangkan hal tersebut, dipandang perlu untuk melakukan penyempurnaan AKE dan
AKP serta merumuskan AKL dan AKK bagi setiap kelompok umur dan jenis kelamin bagi
penduduk Indonesia. Metode perumusan AKG Indonesia perlu terus disempurnakan dengan
mengkaji temuan-temuan dan kesepakatan-kesepakatan tentang AKG pada tingkat
internasional dan regional dengan melibatkan berbagai pakar di bidangnya serta stakeholders.
Tulisan ini dimaksudkan untuk merumuskan angka kecukupan energy (AKE), protein (AKP),
lemak (AKL) dan karbohidrat (AKK) termasuk serat pangan (dietary fiber) bagi penduduk
Indonesia melalui forum WNPG X.
1.2. Istilah
Istilah yang dipakai bagi angka kecukupan gizi berbeda-beda antar negara. Indonesia
menggunakan istilah Angka Kecukupan Gizi (AKG) sebagai terjemahan dari RDA
(recommended dietary allowance). Filipina menggunakan istilah Recommended Energy and
Nutrient Intakes (RENI). Di Amerika Serikat mulai tahun 1997 (IOM, 1997) menggunakan
4
istilah Dietary Reference Intake (DRI). DRI terdiri dari empat komponen, yaitu 1)
kecukupan gizi rata-rata (Estimated Average Requirement, EAR), 2) Konsumsi gizi yang
dianjurkan (Recommended Dietary Allowance, RDA), 3) Kecukupan asupan gizi (Adequate
Intake, AI) dan 4) Batas Atas yang diperbolehkan (Tolerable Upper Intake Level, UL).
AI suatu zat gizi merupakan angka yang menggambarkan kecukupan gizi berdasarkan
asupan gizi orang yang sehat. AI digunakan bila belum cukup kajian kecukupan zat gizi
tertentu pada populasi tertentu.
Batas Atas (Tolerable Upper Level Intake), adalah nilai rata-rata tertinggi asupan gizi
harian yang tidak menimbulkan risiko gangguan kesehatan (adverse helath effects) bagi
hampir semua orang secara umum Bila asupan lebih besar dari Batas Atas maka potensi
mengalami gangguan kesehatan mungkin meningkat.
Berat Badan Sehat adalah nilai rata-rata berat badan dari sekelompok orang yang
memiliki status gizi yang bormal. Pada anak balita status gizi dengan z-skor BB/U antara +1
sampai -1. Pada kelompok usia lainnya bila nilai IMT atau IMT/U berada diantara 20.25
sampai 23.25
DRI Dietary Reference Intake adalah patokan untuk menentukan kecukupan gizi
seseorang untuk hidup sehat
Energi Basal adalah energi yang diperlukan tubuh dalam kondisi tubuh istirahat total
(tidak ada aktifitas fisik). Biasanya diukur saat berbaring pagi hari yang dipuasakan
sebelumnya.
Energi Aktifitas Energi aktifitas adalah pengeluaran energi oleh tubuh untuk
melakukan kegiatan, yang dinyatakan dalam satuan Kal/kg BB/menit atau Kj/kg BB/menit
EAR (Estimated Average Requirement) merupakan rata-rata kecukupan zat gizi yang
diperoleh dari nilai rata-rata kecukupan gizi berdasarkan hasil penelitian terhadap sejumlah
orang yang dianggap sehat. Rata-rata kecukupan zat gizi ini bila diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari mencukupi kecukupan 50% populasi sehat.
RDA (Recommended Dietary Allowance) adalah angka kecukupan gizi yang bila
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari akan memenuhi kecukupan gizi 97.5% populasi
sehat. (IOM, 1997).
Kategori Aktifitas Fisik (Physical Activity PA) adalah pengkategorian aktifitas fisik
seseorang menjadi kategori sangat ringan, ringan, aktif, dan sangat aktif, berdasarkan
kategori IOM (2005).
Umur adalah usia kronologis seseorang yang dinyatakan dalam satu bulan bagi bayi (<
12 bulan) dan dalam satuan tahun bagi anak dan dewasa (>= 1 tahun). Bayi berumur 5 bulan
artinya bayi berumur 5 bulan sampai menjelang umur 6 bulan (umur 5 bulan 0 hari sampai – 5
bulan 30 hari). Umur 12 tahun berarti umur 12 tahun sampai menjelang ulang tahun ke-13.
5
II. KECUKUPAN ENERGI
2.1. Fungsi dan Pangan Sumber
Energi merupakan salah satu hasil metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Energi
berfungsi sebagai zat tenaga untuk metabolisme, pertumbuhan, pengaturan suhu dan kegiatan
fisik. Kelebihan energi disimpan dalam bentuk glikogen sebagai cadangan energi jangka
pendek dan dalam bentuk lemak sebagai cadangan jangka panjang (IOM, 2002).
Pangan sumber energi adalah pangan sumber lemak, karbohidrat dan protein. Pangan
sumber energi yang kaya lemak antara lain lemak/gajih dan minyak, buah berlemak (alpokat),
biji berminyak (biji wijen, bunga matahari dan kemiri), santan, coklat, kacang-kacangan
dengan kadar air rendah (kacang tanah dan kacang kedele), dan aneka pangan produk
turunnanya. Pangan sumber energi yang kaya karbohidrat antara lain beras, jagung, oat,
serealia lainnya, umbi-umbian, tepung, gula, madu, buah dengan kadar air rendah (pisang,
kurma dan lain lain) dan aneka produk turunannya. Pangan sumber energi yang kaya protein
antara lain daging, ikan, telur, susu dan aneka produk turunannya.
2.2. Faktor yang Mempengaruhi dan Dasar Penetapan Energi
Berbagai faktor yang mempengaruhi kecukupan energi adalah berat badan, tinggi
badan, pertumbuhan dan perkembangan (usia), jenis kelamin, energi cadangan bagi anak dan
remaja, serta thermic effect of food (TEF). TEF adalah peningkatan pengeluaran energi
karena asupan pangan yang nilainya 5-10% dari Total Energy Expenditure (TEE) (Mahan &
Escoot-stump 2008). Angka 5 % digunakan bagi anak-anak yang tekstur makanannya lembut
dan minum ASI/susu (umur <3 th) ; dan 10% pada usia selanjutnya.
Perhitungan kecukupan energi yang terkini didasarkan model persamaan IOM (2005)
dari meta analisis tim pakar Institute of Medicine (IOM 2002). Model ini diperoleh dari data
enersi basal (EB) yang diukur dengan metode doubly labeled water yang lebih valid
dibanding model sebelumnya. Kecukupan energi pada anak berbeda dengan kelompok usia
lainnya. Rumus perhitungan kecukupan energi pada anak usia 0-8 tahun disajikan pada Tabel
1, untuk remaja pada Tabel 2, untuk dewasa (Laki laki dan Perempuan serta Perempuan
hamil) pada Tabel 3, dan untuk lansia pada Tabel 4. Kecukupan energi sejak usia empat tahun
dikoreksi dengan faktor kategori aktifitas (PA). Pada kelompok usia lanjut (Lansia) hasil
perhitungan AKE dari persamaan Henry (2005) perlu dikoreksi karena jumlah subyek yang
kecil dan overestimasi berdasarkan hasil kajian Krems C et al (2005), yaitu overestimasi 9 %
pada lansia laki-laki dan 11% pada lansia perempuan mulai usia 65 tahun. Pada lansia juga
dilakukan koreksi penurunan kebutuhan energi dengan bertambahnya umur yaitu 5% pada
usia 50-64 tahun, 7.5 % pada usia 65-79 tahun, dan 10% pada usia >=80 tahun sebagai akibat
penurunan jumlah sel-sel otot, beragam kompleks penurunan fungsi organ.
Nilai PA pada anak sebelum usia sekolah (umur <3 th) dan pada usia lanjut (>=80
tahun) diasumsikan sangat ringan; sedangkan nilai PA pada usia lainnya diasumsikan pada
kategori ringan, yang sejalan dengan hasil Riskesdas (2007) bahwa sebagain besar penduduk
remaja dan dewasa Indonesia melakukan aktifitas fisik pada kategori ringan. Artinya bagi
anak usia sekolah, remaja dan dewasa yang memilki aktifitas aktif dan sangat aktif akan
membutuhkan energi lebih banyak lagi.
6
Tabel 1 Model persamaan estimasi kecukupan energi anak 0-9 tahun
Model persamaan
Kecukupan
Energi (Kal)
Anak 0-2 tahun
TEE + 0.05TEE
0-3 bulan
TEE = [89 x BB (kg) 100] + 175 Kal
4-6 bulan
TEE = [89 x BB (kg) 100] + 56 Kal
7-12 bulan
TEE = [89 x BB (kg) 100] + 22 Kal
13-35 bulan
TEE = [89 x BB (kg) 100] + 20 Kal
Anak Laki laki 3-9 tahun
TEE = [88.5 (61.9xU) + PA x (26.7xBB+903xTB)] + 20 Kal
Keterangan :
PA = 1.0 (sangat ringan) PA = 1.26 (aktif)
PA = 1.13 (ringan) PA = 1.42 (sangat aktif)
TEE + 0.1TEE
Anak Perempuan 3-9 tahun
TEE = [135.3 (30.8xU) + PA x (10xBB+934xTB)] + 20 Kal
Keterangan :
PA = 1.0 (sangat ringan) PA = 1.31 (aktif)
PA = 1.16 (ringan) PA = 1.56 (sangat aktif)
TEE + 0.1TEE
Sumber : IOM (2005)
Keterangan :
U = umur (tahun), BB = berat badan (kg), TB = tinggi badan (m)
TEE = Total Energy Expenditure - total pengeluaran energi, (Kal)
PA = koefisien aktivitas fisik
Tabel 2 Model Persamaan estimasi kecukupan energi remaja 10-18 tahun
Model persamaan
Kecukupan
Energi (Kal)
Laki laki 10-18 tahun dengan status gizi normal
TEE + 0.1TEE
TEE = [88.5 (61.9xU) + PA x (26.7xBB+ 903xTB)]+ 25 Kal
Keterangan :
PA = 1.0 (sangat ringan)
PA = 1.13 (ringan)
PA = 1.26 (aktif)
PA = 1.42 (sangat aktif)
Perempuan 10-18 tahun dengan status gizi normal
TEE + 0.1TEE
TEE = [135.3 (30.8xU) + PA x (10xBB + 934xTB)]+ 25 Kal
Keterangan :
PA = 1.0 (sangat ringan) PA = 1.31 (aktif)
PA = 1.16 (ringan) PA = 1.56 (sangat aktif)
Sumber : IOM (2005)
Keterangan :
U = Umur (tahun), BB = Berat badan (kg), TB = Tinggi badan (m)
TEE = Total Energy Expenditure - total pengeluaran energi, (Kal)
PA = koefisien aktivitas fisik
7
Tabel 3 Model persamaan estimasi kecukupan energi dewasa 19-64 tahun
Model persamaan
Kecukupan Energi
(Kal)
TEE + 0.1TEE
Keterangan :
PA = 1.0 (sangat ringan) PA = 1.25 (aktif)
PA = 1.11 (ringan) PA = 1.48 (sangat aktif)
TEE + 0.1TEE
Keterangan :
PA = 1.0 (sangat ringan) PA = 1.27 (aktif)
PA = 1.12 (ringan) PA = 1.45 (sangat aktif)
Trimester 2 = + 340 kkal
Trimester 3 = + 450 kkal
6 bulan kedua = 400 kkal 0 kkal
Sumber : IOM (2005)
Keterangan :
U = Umur (tahun), BB = Berat badan (kg), TB = Tinggi badan (m)
TEE = Total Energy Expenditure - total pengeluaran energi, (Kal)
PA = koefisien aktivitas fisik
Tabel 4 Rumus perhitungan kecukupan energi usia lanjut >=65 tahun
Model persamaan
Kecukupan Energi (Kal)
Laki laki usia lanjut
EB = (11.4xBB) + (541xTB) 256
Keterangan :
PA = 1.0 (sangat ringan)
PA = 1.11 (ringan)
PA = 1.25 (aktif)
(EB x PA)+(0.1xTEE)
Perempuan usia lanjut
EB = (8.52xBB) + (421xTB) +10.7
Keterangan :
PA = 1.0 (sangat ringan)
PA = 1.12 (ringan)
PA = 1.27 (aktif)
(EB x PA)+(0.1xTEE)
Sumber : Henry (2005)
Keterangan :
EB = Energi Basal
PA = Koefisien aktivitas fisik
Berikut disajikan hasil perhitungan (estimasi) angka kecukupan energi perorang
perhari menurut kelompok umur dan jenis kelamin. Bila dibandingkan AKE 2012 ini dengan
AKE 2004 terdapat peningkatan AKE pada kelompok anak balita dan usia muda produktif
(10-49 tahun) dan penurunan kecukupan energi pada kelompok usia lansia (>=65 tahun). Dua
8
faktor utama penyebabnya adalah BB dan TB median normal penduduk Indonesia saat ini
yang lebih baik dibanding decade lalu dan model persamaan estimasinya (Tabel 5)
Tabel 5. Angka Kecukupan Energi (AKE) 2012 dan dibanding AKE 2004
Umur Berat
badan(kg) Tinggi
badan(cm)
Hasil
Analisis
AKE2012
AKE2012 AKE2004
Anak
0-5 bl 6 61 - 550 550
6-11 bl
9
71
723
725
650
1-3 th 13 91 1130 1125 1000
4-6 th
19
112
1614
1600
1550
7-9 th 27 130 1865 1850 1800
Laki-laki
10-12 th 34 142 2096 2100 2050
13-15 th
46
158
2469
2475
2400
16-18 th 56 165 2675 2675 2600
19-29 th
60
168
2739
2725
2550
30-49 th 62 168 2620 2625 2350
50-64 th
62
168
2331
2325
2250
65-79 th 60 168 1890 1900 2050
80+ th
58
168
1530
1525
2050
Perempuan
10-12 th
36
145
1988
2000
2050
13-15 th 46 155 2133 2125 2350
16-18 th
50
158
2119
2125
2200
19-29 th 54 159 2268 2250 1900
30-49 th
55
159
2166
2150
1800
50-64 th 55 159 1920 1900 1750
65-79 th
54
159
1560
1550
1600
80+ th 53 159 1421 1425 1600
Hamil (+an)
Trimester 1
0
180
180
Trimester 2
340
300
300
Trimester 3
450
300
300
Menyusui (+an)
6 bl pertama
330
330
500
6 bl kedua
400
400
550
9
Khusus AKE lansia disebabkan oleh penajaman kelompok umur, dan koreksi hasil model
persamaan regresi yang digunakan yang menurut Krems C (2005) overestimate. Juga koreksi
aktifitas fisik yang diasumsikan sedentary atau sangat ringan pada lansia di atas usia 80
tahun. Sementara pada kelompok usia lainnya (selain lansia >=80 tahun dan anak <9 tahun)
diasumsikan kegiatan fisik ringan, sejalan dengan temuan Riskesdas 2007 bahwa lebih dari 90
% penduduk Indonesia berada pada kategori aktifitas fisik ringan.
Kecukupan gizi anak usia<6 bulan, yang seharusnya diberi ASI ekslusif, lebih baik
dibulatkan ke atas untuk mencapai rata-rata jumlah asupan energi perhari dari ASI selama
pemberian ASI ekslusif dan dikoreksi dengan faktor konversi energi dari makanan ibu
menyusui menjadi energi dalam ASI, yaitu 1.1 (FAO/WHO, 1985). Penelitian yang dilakukan
Nasoetion A (2003) di Bogor menunjukkan jumlah asupan volume ASI bagi bayi yang
diberikan ASI ekslusif dengan metode penimbangan dan kohort sekitar 750ml/hari, sejalan
dengan temuan studi di manca negara berkisar natara 650 sampai 850 ml/hari.
Tambahan kecukupan energi pada trimester pertama kehamilan tidak diperlukan bila
bumil sehat dengan berat badan normal pada saat memulia kehamilan. Asumsi ini tampaknya
lemah karena persentase KEK wanita usia subur dan ibu hamil trimester pertama di Indonesia
sekitar 20-35 %, karena itu lebih baik tambahan kecukupan energi disebar pada ketiga
semester dengan tambahan secara bertahap sejak awal kehamilan. Tambahan kecukupan
energi bagi ibu menyusui.
III. KECUKUPAN PROTEIN
3.1. Fungsi dan Pangan sumber
Protein terdiri dari asam-asam amino. Disamping menyediakan asam amino esensial,
protein juga mensuplai energi dalam keadaan energi terbatas dari karbohidrat dan lemak.
Asam amino esensial meliputi Histidine, Isoleucine, Leucine, Lysine, Methionine, Cysteine,
Phinilalanine, Tyrosine, Threonine, Tryptophan dan Valine. Pada umumnya empat asam
amino yang sering defisit dalam makanan anak-anak adalah Lysine, Methionine+Cysteine,
Threonine +Tryptophan. (FAO/WHO, 1985). Protein atau asam amino esensial berfungsi
terutama sebagai katalisator, pembawa, pengerak, pengatur, ekpresi genetik, neurotransmitter,
penguat struktur, penguat immunitas dan untuk pertumbuhan (WHO, 2002).
Pangan sumber protein hewani meliputi daging, telur, susu, ikan, seafood dan hasil
olahnya. Pangan sumber protein nabati maliputi kedele, kacang-kacangan dan hasil olahnya
seperti tempe, tahu, susu kedele. Secara umum mutu protein hewani lebih baik dibanding
protein nabati. Di Indonesia kotribusi energi dari protein hewani terhadap total energi relatif
rendah yaitu 4% (Hardinsyah dkk, 2001), yang menurut FAO RAPA (1989) sebaiknya sekitar
15% dari total energi.
3.2. Faktor Mempengaruhi dan Dasar Penetapan Kecukupan Protein
Kecukupan protein seseorang dipengaruhi oleh berat badan, usia (tahap pertumbuhan dan
perkembangan) dan mutu protein dalam pola konsumsi pangannya. Bayi dan anak-naka yang
berada dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan yang pesat membutuhkan protein lebih
banyak perkilogram berat badannya dibanding orang dewasa (IOM, 2005).
10
Mutu protein makanan ditentukan salah satunya komposisi dan jumlah asam amino esensial.
Pangan hewani mengandung asam amino lebih lengkap dan banyak dibanding pangan nabati,
karena itu pangan hewani mempunyai mutu protein yang lebih baik dibandingkan pangan
nabati Disamping itu, mutu protein juga ditentukan oleh daya cerna protein tersebut, yang
dapat berbeda antar jenis pangan. Semakin lengkap komposisi dan jumlah asam amino
esensial dan semakin tinggi daya cerna protein suatu jenis pangan atau menu, maka semakin
tinggi mutu proteinnya. Demikian pula semakin rendah kandungan serat dan lembut tekstur
suatu jenis pangan sumber protein semakin baik mutu proteinnya (Gibney, Vorster & Kok,
2002).
Analisis data konsumsi pangan Riskesdas 2010 (Hardinsyah dkk, 2012) menunjukkan
rata-rata proporsi konsumsi energi dari lemak penduduk Indonesia saat ini sekitar 25-29%
dari total konsumsi energi (Tabel 6). Secara umum kondisi AMDR penduduk Indonesia ini
menunjukkan rendahnya konsumsi protein dan cenderung tinggi karbohidrat dan lemak.
Sementara konsumsi energi dari lemak bagi bayi dan anak 0-3 tahun masih rendah seharusnya
30-45%. Berdasarkan anjuran WHO (2010) dan IOM (2005), kontribusi energi dari lemak
bagi remaja dan dewasa sebaiknya tidak melebihi 30%; bagi bayi 40-60% dan bagi anak-2
tahun 35%. Anjuran konsumsi lemak bagi orang dewasa seperti tercantum dalam salah satu
pesan Pedoman Umum Gizi Seimbang adalah batasi konsumsi lemak sampai 25% kecukupan
energi.
Perhitungan kecukupan protein didasarkan pada kebutuhan protein per-kilogram berat
badan menurut umur dan jenis kelamin berdasarkan hasil review yang dilakukan IOM (2005);
demikian pula untuk tambahan kecukupan protein bagi ibu menyusui (IOM, 2005), dengan
data berat badan rata-rata sehat penduduk Indonesia menurut kelompok umur dan jenis
kelamin, seperti halnya pada perhitungan AKE. Perhitungan kecukupan protein disesuaikan
dengan rata-rata berat badan sehat, serta dikoreksi dengan faktor koreksi mutu protein. Hasil
analisis data konsumsi pangan Susenas 2009 (BPS 2009) menunjukkan bahwa sekitar
separoh konsumsi protein penduduk Indonesia berasal dari serealia terutama beras yang
menurut WHO (2007) mutu protein beras (true digestability) adalah 75. Review yang
dilakukan WHO (2007) menunjukkan bahwa mutu protein diet penduduk Pilipina (yang pola
pangan pokok nasi dan lebih banyak makan daging, ikan dan susu dibanding penduduk
Indonesia) adalah 88, dan penduduk India (yang pola pangan pokok nasi dan banyak kacang-
kacangan dan susu) adalah 78. Oleh karena itu asumsi mutu protein diet penduduk Indonesia
pada perhitungan AKG yang lalu adalah 85 perlu disempurnakan dengan mutu protein 80. Ini
artinya faktor koreksi mutu protein pada AKG 2012 ini adalah 100/80 atau 1.3. Sedangkan
faktor koreksi mutu protein bagi perempuan hamil adalah 1.2 karena pada saat hamil menurut
IOM (2005) terjadi efisiensi penyerapan zat gizi termasuk protein sekitar 10%. Selain itu
dengan mempertimbangkan bahwa asam manio esensial pada diet usia anak dan remaja
cenderung defisit, dan protein terutama protein hewani turut berperan dalam pertumbuhan
linear atau pencegahan stunting, maka koreksi mutu protein 1.3 tidak diberlakukan pada anak
dan remaja tetapi ditingkatkan menjadi 1.5. Berikut rumus perhitungan kecukupan protein:
11
Kecukupan protein = (AKP x BB) x faktor koreksi mutu protein
Keterangan :
AKP = Angka kecukupan protein (g/kgBB/hari)
BB = Berat badan aktual (kg)
Faktor koreksi mutu protein umum = 1.3 bagi dewasa dan 1.5 bagi anak dan remaja
Faktor koreksi mutu protein Perempuan hamil = 1.2
Kisaran distribusi energi gizi makro dari pola konsumsi penduduk Indonesia
berdasarkan analisis data Riskesdas 2010 adalah 9-14% energi protein (Tabel 6), 24-36%
energi lemak, dan 54-63% energi karbohidrat. Anjuran kisaran sebaran energi gizi makro
(AMDR) bagi penduduk Indonesia dalam estimasi kecukupan gizi ini adalah 5-15% energi
protein, 25-35% energi lemak, dan 40-60% energi karbohidrat, yang penerapannya
tergantung umur atau tahap pertumbuhan dan perkembangan.
Tabel 6 Distribusi persentase energi dari protein, lemak dan karbohitrat
dalam pola konsumsi pangan penduduk Indonesia
Umur Energi Protein Energi Lemak Energi Karbohidrat Total
0-5 bl
9.4
36.2
54.4
100.0
6-11 bl 11,2 29,0 59,8 100,0
1-3 th 13,0 27,9 59,3 100,0
4-6 th 13,1 27,0 59,8 100,0
7-9 th 13,3 27,2 59,5 100,0
Laki-laki
10-12 th 13,0 26,8 60,2 100,0
13-15 th 13,3 26,4 60,4 100,0
16-18 th 13,3 26,1 60,6 100,0
19-29 th 13,3 25,4 61,3 100,0
30-49 th 13,2 25,0 61,8 100,0
50-64 th 13,2 24,8 62,1 100,0
65-79 th 13,1 24,6 62,3 100,0
80+ th 13,2 24,4 62,4 100,0
Perempuan
10-12 th 13,1 27,0 59,9 100,0
13-15 th 13,4 27,4 59,2 100,0
16-18 th 13,6 27,4 59,1 100,0
19-29 th 13,8 26,8 59,4 100,0
30-49 th 13,7 26,9 59,4 100,0
50-64 th 13,5 25,8 60,6 100,0
65-79 th 13,3 25,8 60,9 100,0
80+ th 13,2 25,3 61,5 100,0
Diolah dari Data Riskesdas (2010). Sumber: Hardinsyah dkk (2011)
12
AKP bagi orang dewasa didasarkan pada rata-rata kebutuhan protein orang dewasa
(yang berbeda menurut umur dan jenis kelamin) dikalikan dengan berat badan, ditambah
sejumlah safe level (24%) dan dikoreksi dengan mutu (faktor koreksi mutu 1,2). Tambahan
24% berasal dari review FAO/WHO (1985) yang masih valid menurut IOM (2005), yaitu
berasal dari nilai coefficient of variation 12% (2 x CV = 24%). Kebutuhan protein (EAR
protein) per kilogram berat badan menggunakan review penelitian oleh tim IOM (2005), yang
tidak berbeda dengan temuan di Pilipina dan di Indonesia oleh Puslitbang Gizi Bogor (0,75
g/kg BB). Hanya saja temuan di Bogor tidak mencakup kelompok usia dewasa yang luas.
Cara yang sama juga dilakukan pada kelompok usia lainnya.
Khusus pada bayi <6 bulan, AKP didasarkan pada protein ASI dari sejumlah 750 ml
ASI/hari, dan tidak perlu dikoreksi mutu proteinnya bila hampir semua bayi diberi ASI secara
ekslusif sampai usia 6 bulan. Tetapi pada kenyataannya, persentase bayi yang diberi ASI
ekslusif sampai usia 6 bulan masih rendah, yaitu 32 % berdasarkan survey crossectional
SDKI dan 18 % berdasarkan Riskesdas 2010. Sedangkan berdasarkan studi kohort di Kota
Bogor hanya sebesar 6% (Hardinsyah dkk, 2002). Oleh karena itu diberikan faktor koreksi
mutu bagi AKP bayi 1.1. Pada ibu hamil dan ibu menyusui efisiensi pencernaan dan
penggunaan asam amino lebih baik dibanding ketika tidak hamil, sehingga ditetapkan faktor
koreksi mutu protein 1.2 (Tabel 7).
Secara keseluruhan, hasil estimasi AKP 2012 untuk semua kelompok umur, jenis
kelamin dan kondisi fisiologis serta perbandingannya dengan AKP hasil WNPG 2004
disajikan pada Tabel 7. Hasil akhirnya adalah hasil perhitungan yang dibulatkan ke atas dan
tidak berkoma. Hasil perhitungan dengan pendekatan data hasil kajian keseimbangan nitrogen
tubuh (kebutuhan protein dari data review berbagai kajian klinis) tidak konsisten dengan hasil
perhitungan Angka kecukupan protein (AKP) bagi kelompok usia dewasa yang didasarkan
pada distribusi %-energi gizi makro (MDR seperti disajikan pada Tabel 8. Ini menunjukkan
bahwa pada orang dewasa perhitungan kebutuhan AKP berdasarkan kajian “keseimbangan
nitrogen” lebih rendah dibanding angka kecukupan protein berdasarkan distribusi proporsi
energi gizi makro).
Pemenuhan kebutuhan gizi mikro yang berkualitas berkaitan erat dengan konsumsi
protein, terutama protein hewani. Dalam kaitannya dengan mengatasi masalah gizi mikro
terutama mineral zat besi, zink, selenium, kalsium dan vitamin B12, serta masalah stunting
sejak usia dini yang merupakan masalah gizi dan kesehatan masyarakat di Indonesia, perlu
ditingkatkan asupan protein terutama dari pangan hewani. Meningkatkan konsumsi protein
hewani yang rendah lemak seharusnya dalam konteks gizi seimbang menjadi kebijakan dan
program. Banyak bukti bahwa konsumsi pangan hewani meningkatkan pertumbuhan linear
dan perkembangan kognitif anak. Selain itu Indeks glikemik diet harian dengan konsumsi
gizi seimbang seperti ini akan cenderung lebih rendah. Namun dari segi ekonomi tentu lebih
mahal. Dari segi keamanan pangan akibat kelebihan asam amino atau protein, IOM (2005)
membuktikan bahwa konsumsi asam manio atau protein adalah aman dan tidak ada batas atas
(upper level) karena tidak ditemukan dari berbagai penelitian nilai NOEL-nya (No Observed
Adverse Health Effect Level). Tentunya bagi yang berisiko gangguan ginjal dan hati perlu
membatasi konsumsi protein hewani. Dalam konteks ini pilihan AKP 2012 berdasarkan
DEGM lebih dianjurkan.
13
Tabel 7. Hasil perhitungan kecukupan protein menurut kelompok umur dan jenis kelamin
berdasarkan model estimasi dari data keseimbangan nitrogen tubuh
Umur
Berat
Badan -BB
(kg)
Tinggi
badan TB
(cm)
Kecukupan
protein
/kg BB Faktor
koreksi
Hasil
Analisis
AKP2012 AKP2012 AKP2004
Anak
0-5 bl
6
61
1.8
1.1
11.9
12
12
6-11 bl
9
71
1.5
1.3
17.6
18
16
1-3 th 13 91 1.3 1.5 25.4 26 25
4-6 th 19 112 1.2 1.5 34.2 35 39
7-9 th
27
130
1.2
1.5
48.6
49
45
Laki-laki
10-12 th
34
142
1.1
1.5
56.1
56
50
13-15 th 46 158 1.0 1.5 69.0 72 60
16-18 th 56 165 0.9 1.3 65.5 66 65
19-29 th
60
168
0.8
1.3
62.4
62
60
30-49 th
62
168
0.8
1.3
64.5
65
60
50-64 th 62 168 0.8 1.3 64.5 65 60
65-79 th 60 168 0.8 1.3 62.4 62 60
80+ th 58 168 0.8 1.3 60.3 60 60
Perempuan
10-12 th 36 145 1.1 1.5 59.4 60 50
13-15 th
46
155
1.0 1.5
69.0
69
57
16-18 th
50
158
0.9
1.3
58.5
59
50
19-29 th
54
159
0.8
1.3
56.2
56
50
30-49 th 55 159 0.8 1.3 57.2 57 50
50-64 th 55 159 0.8 1.3 57.2 57 50
65-79 th
54
159
0.8
1.3
56.2
56
50
80+ th
53
159
0.8 1.3
55.1
55
50
Hamil (+an)
Trimester 1
0.3
1.2
19.4
20
17
Trimester 2
0.3
1.2
19.4
20
17
Trimester 3 0.3 1.2 19.4 20 17
Menyusui
(+an)
6 bl pertama 0.3 1.2 19.4 20 17
6 bl kedua
0.3
1.2
19.4
20
17
Catatan: AKP2012= Angka Kecukupan Protein 2012
14
Tabel 8. Anjuran proporsi energi dari lemak, karbohidrat dan protein serta kecukupan protein
yang dihitung berdasarkan proporsi energi dari protein
Umur AKE2012 % -Energi
protein % -Energi
lemak %-Energi
Karbo
AKP2012
berdasarkan
proporsi energi
protein* (g)
AKP2012
berdasarkan
keseimbangan
nitrogen (g)
Anak
0-5 bl 550 8 50 42 11 12
6-11 bl
750
10
45
45
18
16
1-3 th
1050
10
35
55
28
20
4-6 th 1575 10 35 55 40 28
7-9 th 1750 10 35 55 46 38
Laki-laki
10-12 th
2050
15
30
55
79
50
13-15 th 2550 15 30 55 93 62
16-18 th
2675
15
30
55
100
62
19-29 th
2725
15
30
55
102
62
30-49 th 2600 15 25 60 98 62
50-64 th
2325
15
25
60
87
62
65-79 th
1900
10
25
65
48
60
80+ th
1525
10
25
65
38
58
Perempuan
10-12 th
2000
15
30
55
75
52
13-15 th
2125
15
30
55
80
60
16-18 th
2125
15
30
55
80
58
19-29 th 2250 15 30 55 84 58
30-49 th 2150 15 25 60 81 58
50-64 th
1900
15
25
60
71
57
65-79 th
1550
10
25
65
39
57
80+ th 1425 10 25 65 36 55
Hamil (+an)
Trimester 1 180
7 20
Trimester 2
300
11
20
Trimester 3
300
11
20
Menyusui (+an)
6 bl pertama 330
12 20
6 bl kedua
400
15
20
Catatan: AKP2012= Angka Kecukupan Protein 2012
*Proporsi energi protein = persentase energi dari protein dalam distribusi energi gizi makro
Guna memperoleh mutu protein dan mutu zat gizi mikro yang lebih baik, paling tidak
seperempat (25%) AKP dipenuhi dari protein hewani. Porsi ikan akan lebih banyak dalam
pemenuhan kebutuhan protein hewani penduduk Indonesia, karena dalam pola pangan
15
penduduk saat ini sekitar 60% kuantitas pangan hewani penduduk berasal dari ikan
(Hardinsyah dkk, 2001). Diantara pangan nabati, beras (dikonsumsi dalam jumlah besar) dan
tahu-tempe mempunyai peran besar dalam mensuplai pemenuhan kebutuhan protein. Hal ini
mendatangkan manfaat tambahan, karena protein nabati, terutama protein kedele dapat
meningkatkan absorbsi kalsium.
IV. KECUKUPAN LEMAK
4.1. Fungsi dan Pangan Sumber
Lemak (lipid) merupakan komponen struktural dari semua sel-sel tubuh, yang
dibutuhkan oleh ratusan bahkan ribuan fungsi fisiologis tubuh (McGuire and Beerman, 2011).
Lemak terdiri dari trigliserida, fosfolipid dan sterol yang masing-masing mempunyai fungsi
khusus bagi kesehatan manusia. Sebagian besar (99%) lemak tubuh adalah trigliserida.
Trigliserida terdiri dari gliserol dan asam-asam lemak. Disamping mensuplai energi, lemak
terutama trigliserida, berfungsi menyediakan cadangan energi tubuh, isolator, pelindung organ
dan menyediakan asam-asam lemak esensial (Mahan, LK dan Escott-Stump, S, 2008). Selain
itu juga berfungsi penting dalam metabolisme zat gizi, terutama penyerapan karoteniod,
vitamin A, D, E dan K (Boyle and Roth, 2010, Brown, 2011, Hamazaki & Okuyama, 2000)
Asam lemak berdasarkan kejenuhannya dikelompokkan menjadi asam lemak jenuh dan
asam lemak tidak jenuh (baik tidak jenuh tunggal maupun tidak jenuh jamak). Sistem syaraf
pusat kaya dengan turunan dua asam lemak Asam lemak esensial, yaitu asam linoleat dan
asam alfa-linolenat (Brown, 2011). Omega-3 (seperti asam linolenat, EPA dan DHA) dan
Omega-6 (seperti asam linoleat dan AA) merupakan asam lemak tidak jenuh rantai panjang
(long chain fatty acids) yang berfungsi sebagai anti-inflamasi, anti-clotting sehingga penting
bagi kelancaran aliran darah dan fungsi sendi (IOM, 2005, Vance and Vance, 2008). Efek
ketidakcukupan asupan lemak total adalah gangguan pertumbuhan dan Peningkatan resiko
penyakit kronis, seperti penyakit jantung koroner. Begitu juga ketidakcukupan asupan
omega-6 Polyunsaturated Fatty Acids juga mengakibatkan munculnya tanda-tanda defisiensi
asam lemak esensial. Sedangkan ketidakcukupan asupan omega-3 Polyunsaturated Fatty
Acids berakibat gangguan penglihatan dan perilaku belajar (IOM, 2005).
Omega-6 banyak terdapat dalam minyak nabati seperti minyak kedele, minyak jagung,
minyak biji bunga matahari, minyak biji kapas dan minyak safflower. Omega-3 banyak
terdapat dalam minyak ikan, ikan laut dalam seperti lemuru, tuna, salmon, cod, minyak
kanola, minyak kedele, minyak zaitun dan minyak jagung. Lemak/gajih, minyak kelapa,
mentega (butter), minyak inti sawit dan coklat banyak mengandung lemak jenuh (Duyff,
1998). Asam-asam lemak yang tidak jenuh dapat menjadi jenuh atau sebagian tetap tidak
jenuh tetapi berubah menjadi trans-fatty acids, yang tidak baik bagi kesehatan, karena proses
pengolahan pangan (hidrogenisasi) atau cara menggunakannya.
Kolesterol merupakan suatu komponen mirip lemak (fat-like substance). Kolesterol
membentuk empedu yang berfungsi dalam pencernaan dan penyerapan lemak. Kolesterol juga
berfungsi dalam pertumbuhan sel dan pembentukan hormon steroid (seperti estrogen).
Dengan bantuan sinar matahari, kolesterol dapat diubah menjadi vitamin D di dalam tubuh.
Kolesterol diproduksi dalam tubuh terutama oleh hati, tetapi jika produksi kolesterol
16
berlebihan bisa meningkatkan risiko penyumbatan pembuluh arteri. Kolesterol banyak
terdapat dalam daging, organ dalam (jeroan), otak dan kuning telur (Duyff, 1998; Leeds &
Gray, 2001).
4.2. Faktor Mempengaruhi dan Dasar Penetapan Kecukupan
Seperti halnya kecukupan energi, kecukupan lemak seseorang juga dipengaruhi oleh
dipengaruhi oleh ukuran tubuh (terutama berat badan), usia atau tahap pertumbuhan dan
perkembangan dan aktifitas. Pola umumnya secara kuantitas adalah, bila kebutuhan energi
meingkat kebutuhan akan zat gizi makro juga meningkat. Artinya semakin banyak kecukupan
energi semakin banyak pula zat gizi makro, termasuk lemak yang dibutuhkan.
Pola konsumsi pangan harian yang dianjurkan sebaiknya memenuhi keseimbangan
rasio energi dari protein, lemak dan karbohidrat, atau yang biasa disebut sebagai kisaran
distribusi persentase energi dari zat gizi makro (Average Macronutrients energy Distribution
Range AMDR). Secara umum pola konsumsi pangan remaja dan dewasa yang baik adalah
bila perbandingan komposisi energi dari karbohidrat, protein dan lemak adalah 50-65% : 10-
20% : 20-30%. Komposisi ini tentunya dapat bervariasi, tergantung umur, ukuran tubuh,
keadaan fisiologis dan mutu protein makanan yang dikonsumsi. Pada bayi usia < 6 bulan,
persentase energi dari protein sekitar 7% masih baik karena proteinnya berasal dari ASI (ASI
ekslusif) yang mutu proteinnya 100%.
Lemak dikonsumsi dalam bentuk lemak atau minyak yang tampak (seperti gajih,
mentega, margarin, minyak, santan dll) dan minyak yang tidak tampak (terkandung dalam
makanan). Lemak yang tampak dalam bentuk padat cenderung mengandung lebih banyak
asam lemak jenuh. Menurut Simopoulus et al. (2000) proporsi lemak jenuh (saturated fat)
dan asam lemak trans masing-masing maksimal 8% dan 1% dari energi total. Ini berarti bagi
seorang remaja atau dewasa dengan kecukupan energi 2000 Kal, perlu membatasi konsumsi
lemaknya pada 56 g/hari dan lemak jenuh sekitar 18 g/hari.
Upaya memperbaiki komposisi asam lemak dalam menu harian perlu dilakukan agar
sejalan dengan upaya pencegahan penyakit kronik degeneratif sedini mungkin melalui
pengaturan komposisi asam lemak yang dikonsumsi. Perbandingan kandungan n-6 dan n-3
adalah 4-8 : 1 (Simopoulus et al., 2000; Hamazaki dan Okuyama, 2000). Komposisi n-3
dalam makanan bayi atau anak sebaiknya lebih tinggi lagi. Penelitian kandungan n-6 dan n-3
pada ASI menunjukan bahwa perbandingan n-6 dan n-3 adalah 4 : 1 baik pada ibu menyusui
dari kelompok sosial ekonomi rendah maupun tinggi (Muhilal, Herman & Karyadi, 1994).
Merujuk pada anjuran perbandingan komposisi energi dari karbohidrat, protein dan
lemak di Amerika Serikat (IOM, 2005) dan menyelaraskan dengan Pedoman Gizi Seimbang
Indonesia (Kemenkes 2005) serta perhitungan hasil konsumsi pangan Riskesdas 2010
(Hardinsyah 2012), maka anjuran kecukupan lemak dalam konteks AMDR bagi penduduk
Indonesia dibagi ke dalam tiga (3) kelompok penduduk seperti disajikan pada Tabel 9 berikut
17
Tabel 9. Anjuran proporsi energi dari lemak, karbohidrat dan protein menurut kelompok umur
Zat gizi makro
Persen terhadap total energi (%)
Bayi 0-11 bl*
Anak, 1-3 th**)
Anak, 4-18 th**)
Dewasa**)
Protein
5
15 (5-20)
15 (10-30)
15 (10-30)
Lemak
55
35 (30-40)
30 (25-35)
25 (20-30)
Karhohidrat
40
50 (45-65)
55 (45-65)
60 (45-65)
*)Berdasarkan Aiar susu Ibu (ASI) dari United Nations University Center.
**)Angka dalam kurung merupakan kisaran anjuran di Amerika Serikat (IOM, 2005)
Kontribusi energi dari lemak sebaiknya sekitar 35% pada anak usia 1-3 tahun, 30% pada
usia 4-18 tahun dan 25% pada orang dewasa. Perbaikan menu dengan komposisi energi
asam lemak ini sangat penting agar upaya pencegahan penyakit kronik degeneratif sedini
mungkin dapat tercapai (Bredbenner et al. 2009 dan WHO 2010). Berdasarkan AMDR
dihitung angka kecukupan lemak menurut kelompok umur dan jenis kelamin sbb (Tabel 10):
18
Tabel 10. Anjuran proporsi energi dari lemak, karbohidrat dan protein serta kecukupan lemak
Umur
AKE2012
% -Energi
protein
% -Energi
lemak
%-Energi
Karbo
AKL2012 (g)
Anak
0-5 bl 550 8 50 42 31
6-11 bl 725 10 45 45 36
1-3 th
1125
10
35
55
44
4-6 th
1600
10
35
55
62
7-9 th 1850 10 35 55 72
Laki-laki
10-12 th
2100
15
30
55
70
13-15 th
2475
15
30
55
83
16-18 th
2675
15
30
55
89
19-29 th 2725 15 30 55 91
30-49 th 2625 15 25 60 73
50-64 th
2325
15
25
60
65
65-79 th
1900
10
25
65
53
80+ th 1525 10 25 65 42
Perempuan
10-12 th 2000 15 30 55 67
13-15 th
2125
15
30
55
71
16-18 th 2125 15 30 55 71
19-29 th 2250 15 30 55 75
30-49 th
2150
15
25
60
60
50-64 th
1900
15
25
60
53
65-79 th 1550 10 25 65 43
80+ th 1425 10 25 65 40
Hamil (+an)
Trimester 1 180
6
Trimester 2 300
10
Trimester 3
300
10
Menyusui (+an)
6 bl pertama 330
11
6 bl kedua 400
13
Catatan: AKL2012= Angka Kecukupan Lemak 2012
Selanjutnya untuk asam lemak esensial adalah : n-6 polyunsaturated fatty acids ( asam
linoleat) tidak melebihi 10% adalah asupan n-6 polyunsaturated fatty acids (asam linoleat) di
Amerika Serikat jarang melebihi 10% dari energi total, evidensi epidemiologi untuk
keamanan asupan lebih dari 10% pada umumnya terbatas, dan asupan asam linoleat tinggi
dapat memunculkan keadaan pro-oksidan yang akan dapat memicu kejadian penyakit kronis,
19
seperti kanker dan penyaakit jantung koroner (IOM, 2005). Anjuran kecukupan asam lemak
esensial di sajikan pada Tabel 11 berikut.
Tabel 11 . Anjuran kecukupan asam lemak esensial n-3 dan n-6 berdasarkan proporsi
energi (%-energi) pada tiga kelompok umur
Asam lemak esensial
Persen terhadap energi total*)
Anak, 1-3 th Anak, 4-18 th Dewasa
n-3 polyunsaturated fatty acids
( asam α-linolenat)
0.6 1.2
0.6 1.2
0.6 1.2
n-6 polyunsaturated fatty acids
( asam linoleat)
5 - 10
5 - 10
5 - 10
*)Diadopsi dari kisaran anjuran di Amerika Serikat (IOM, 2005)
Secara kuantitas, kecukupan n-3 (linoleat) dan n-6 (linolenat) didasarkan pada IOM (2005).
Kecukupan bagi bumil dan busui adalah sama yaitu 13 g n-3 dan 1.4 g n-6 perhari.
Kecukupan bagi bayi 0-5 bulan dan 6-11 bulan masing-masing adalah 4.4 g n-3 dan 0.5g n-6
perhari (Tabel 12).
Tabel 12. Kecukupan asam lemak n-3 dan n-6 bagi anak dan dewasa
Umur Asam lemak n-3 Asam lemak n-6
0-11 bl 4,4 0,5
1-3 th 7,0 0,7
4-6 th 10,0 0,9
7-9 th 10,0 0,9
Laki-laki
10-12 th 12,0 1,2
13-15 th 16,0 1,6
16-18 th 16,0 1,6
19-29 th 17,0 1,6
30-49 th 17,0 1,6
50-64 th 14,0 1,6
65-79 th 14,0 1,6
80+ th 14,0 1,6
Perempuan
10-12 th 10,0 1,0
13-15 th 11,0 1,1
16-18 th 11,0 1,1
19-29 th
12,0
1,1
30-49 th
12,0
1,1
50-64 th
11,0
1,1
65-79 th
11,0
1,1
+80 th
11,0
1,1
Sumber: Dihitung dari anjuran IOM (2005)
20
V. KECUKUPAN KARBOHIDRAT
5.1. Fungsi dan Pangan Sumber
Karbohidrat merupakan salah satu zat gizi makro. Karbohidrat ada yang dapat dicerna
oleh tubuh sehingga menghasilkan glukosa dan energi, dan ada pula karbohidrat yang tidak
dapat dicerna yang berguna sebagai serat makanan. Fungsi utama karbohidrat yang dapat
dicerna bagi manusia adalah untuk menyediakan energi bagi sel, termasuk sel-sel otak yang
kerjanya tergantung pada suplai karbohidrat berupa glukosa. Kekurangan glukosa darah
(hipoglikemia) bisa menyebakan pingsan atau fatal; sementara bila kelebihan glukosa darah
menimbulkan hiperglikemia yang bila berlangsung terus meningkatkan risiko penyakit
diabetes atau kencing manis (Mahan K. dan Escott-Stump, 2008).
Karbodidrat dapat dikelompokkan berdasarkan jumlah unit gula (glukosa) yang
dikandungnya. Bila mengandung satu unit gula disebut mono sakarida, seperti glukosa dan
fruktosa yang banyak terdapat dalam larutan gula dan buah-buahan. Bila mengandung dua
unit gula disebut disakarida, seperti sucrose (dalam gula meja, buah dan sayur), lactose
(dalam susu) dan maltose (dalam karamel). Bila mengndung 3-10 unit gula disebut
oligosakarida, seperti raffinose and stachyose yang banyak dijumpai dalam kacang-kacangan.
Bila mengandung lebih dari sepuluh unit gula disebut polisakarida seperti kanji (starch),
glikogen dan sellulosa.
Monosakarida sering juga disebut sebagai karbohidrat sederhana. Karbohidrat sederhana
mudah dicerna dan cepat menghasilkan energi, sehingga penting untuk pemulihan energi, dan
sebaliknya mudah meningkatkan gula darah Sedangkan karbohidrat komplek (glikogen dan
starch) butuh waktu lebih lama untuk menghasilkan energi. dan karena sifatnya ini, maka
karbohidrat komplek sangat baik digunakan untuk pengendalian kadar glukosa darah
(Whitney, Cataldo & Rofles, 1998 dan IOM, 2005).
Total serat pangan terdiri dari serat pangan fungsional dan serta pangan. Serat pangan
fungsional adalah karbohidrat yang tidak dapat dicerna dan mempunyai efek manfaat
fisiologis bagi manusia. Serat pangan adalah karbohidrat yang tidak dapat dicerna dan lignin
yang terdapat dalam tanaman. Serat pangan merupakan komponen polisakarida yang bukan
starch (non-starch polysaccharides) pembentuk struktur tanaman seperti selulosa
hemiselulosa, pektin, gum, lignin dan lain-lain. (IOM, 2005).
Serat tidak dapat dicerna oleh enzim pencernaan manusia. Serat pangan (dietary fiber)
secara fisik terdiri dari serat pangan yang larut air dan serat pangan yang tidak larut air.
Kedua serat pangan ini memperlama masa transit makanan dalam organ pencernaan
(memperlama rasa kenyang) dan sebagian difermentasi oleh mikroba usus menjadi asam
lemak rantai pendek . Serat pangan larut air yang umumnya terdapat dalam buah, kacang dan
sereal berfungsi untuk memperlambat penyerapan glukosa, kolesterol dan garam empedu di
dalam usus halus, sehingga menurunkan kadar gula dan kolesterol darah. Sedangkan serat
pangan yang tidak larut air berguna memperlambat pencernaan starch, membantu pergerakan
usus dan melancarkan buang air besar (Kritchevsky, 1988; IOM, 2005). Serat pangan berupa
beta glukan, psyllium, pektin dan inulin (sejenis fruktooligosakarida FOS) terbukti dapat
mengendalikan kolesterol (Letexier D, Diraison F and Beylot M, 2003) dan gula darah (Chen
J and Raymond K, 2008).
21
5.2. Faktor Mempengaruhi dan Dasar Penetapan Kecukupan
Kecukupan energi, kecukupan karbohidrat seseorang dipengaruhi oleh ukuran tubuh
(berat badan), usia atau tahap pertumbuhan dan perkembangan, dan aktifitas fisik. Ukuran
tubuh dalam arti masa otot yang semakin besar dan aktifitas fisik yang semakin tinggi
berimplikasi pada kecukupan karbohidrat yang semakin tinggi.
Ada dua pendekatan untuk menghitung kebutuhan karbogidrat bagi setiap kelompok
umur dan jenis kelamin. Pertama didasarkan pada cara by difference. Untuk menghitung
kecukupan karbohidrat dilakukan by difference karena kecukupann energi, protein dan lemak
sudah diperoleh. Ini artinya kecukupan karbohidrat dihitung dengan total kecukupan energi
dikurangi total energi dari kecukupan protein dan kecukupan lemak. Perhitungan kecukupan
karbohidrat dengan prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
Karbohidrat = 𝑲𝒆𝒃 𝑬𝒏𝒆𝒓𝒈𝒊 (𝑲𝒂𝒍) (𝑲𝒆𝒃 𝑷𝒓𝒐𝒕𝒆𝒊𝒏 (𝒈) 𝒙 𝟒) 𝑲𝒂𝒍(𝑲𝒆𝒃 𝑳𝒆𝒎𝒂𝒌 (𝒈) 𝒙 𝟗) 𝑲𝒂𝒍
𝟒
Hasil perhitungan kecukupan karbohidrat berdasarkan cara pertama ini (by difference)
berdasarkan distribusi persentase energi zat gizi makro bagi disajikan pada Tabel 13.
Cara kedua adalah dengan mengunakan hasil review yang dilakukan IOM (2005)
bahwa kebutuhan karbohidrat bayi yang didasarkan karbohidrat dari ASI yang cukup adalah
60g/org/hari. Selanjutnya pada remaja dan dewasa 100 g/org/hari. Hasil review IOM (2005)
menunjukkan kebutuhan karbohidrat remaja dan dewasa Laki laki dan Perempuan relatif sama
yaitu 100 g/org/hari. Dengan mempertimbangkan perlu ditambah sejumlah dua kali koefisien
variasi (30%) untuk menjadikan kecukupannya, maka kecukupan karbohidrat bagi perempuan
dan laki-laki remaja atau dewasa adalah 130 g/org/hari
Bagi ibu menyusui didasarkan pada junlah kebutuhan karbohidrat bagi Perempuan
dewasa, yaitu 100 g/org/hari, ditambah dengan jumlah karbohidrat untuk produksi ASI yaitu
60 g/orang/hari, sehingga kebutuhan karbohidrat bagi busui adalah 160 g/org/hari. Dengan
mempetimbangkan perlu ditambah sejumlah dua kali koefisien variasi (30%) untuk
menjadikan kecukupannya, maka kecukupan karbohidrat bagi busui adalah 210 g/org/hari.
Bagi ibu hamil kebutuhannya adalah sejumlah kebutuhan perempuan dewasa (100
g/hari) ditambah kebutuhan karbohidrat janin yaitu 33 g/org/hari, sehinga total kebutuhannya
adalah 133 g/org/hari. Untuk dijadikan kecukupan perlu ditambah 30% seperti halnya pada
ibu menyusui maka kecukupan karbohidrat bumil adalah 175 g/org/hari. Bila karbohidrat
terlalu rendah akan memicu glukoneogenesis yang tidak efisien (energically expensive) dan
ini sebaiknya dihindari (IOM, 2005).
Kecukupan total serat pangan pada remaja dan dewasa didasarkan pada review IOM
(2005) tentang penelitian manfaat total serat pangan dalam mengendalikan kolesterol terkait
dengan menurunkan risiko penyakit jantung koroner, yaitu 14 g/1000 kkal. Angka yang sama
juga diterapkan pada anak 1-8 tahun untuk mencegah konstipasi (sulit buang air besar).
Anujran kecukupan serta ini berarti semakin rendah konsumsi atau kecukupan energi
seseorang semakin rendah pula kecukupan serat pangannya. Anjuran kecukupan serat ini
harus disertai dengan anjuran minum yang memenuhi kecukupan air. Anjuran rasio serat
pangan tidak larut air dan serat pangan larut air adalah 3 : 1. Tidak ada bukti bahwa
kebutuhan total serat pangan bumil dan busui berbeda dengan perempuan. Tidak perlu
22
dianjurkan kecukupan serat bagi bayi (IOM, 2005). Angka kebutuhan total serat pangan pada
Tabel 13.
Tabel 13 . Distribusi persentase energi makro dan angka kecukupan karbohidrat dan serat
Umur
AKE2012
(kkal)
% -Energi
protein
% -Energi
lemak
%-Energi
Karbo
AKK2012
(g)
AKS2012
(g)
Anak
0-5 bl
550 8 50 42 58 0
6-11 bl
725
10
45
45
82
10
1-3 th
1125
10
35
55
155
16
4-6 th
1600
10
35
55
220
22
7-9 th
1850 10 35 55 254 26
Laki-laki
10-12 th
2100
15
30
55
289
29
13-15 th
2475
15
30
55
340
35
16-18 th
2675
15
30
55
368
37
19-29 th
2725 15 30 55 375 38
30-49 th
2625 15 25 60 394 37
50-64 th
2325
15
25
60
349
33
65-79 th
1900
10
25
65
309
27
80+ th
1525
10
25
65
248
21
Perempuan
10-12 th
2000 15 30 55 275 28
13-15 th
2125
15
30
55
292
30
16-18 th
2125
15
30
55
292
30
19-29 th
2250 15 30 55 309 32
30-49 th
2150
15
25
60
323
30
50-64 th
1900
15
25
60
285
27
65-79 th
1550 10 25 65 252 22
80+ th
1425 10 25 65 232 20
Hamil (+an)
Trimester 1
180
25 3
Trimester 2
300
41
4
Trimester 3
300
41
4
Menyusui (+an)
6 bl pertama
330
45 5
6 bl kedua
400
55
6
Catatan: AKK2012= Angka Kecukupan Karbohidrat 2012
AKS2012= Angka Kecukupan Serat 2012
23
VI. RATA-RATA AKE DAN AKP NASIONAL
Setiap pernyempurnaan AKE dan AKP melalui forum WNPG, juga dilakukan estimasi
rata-rata AKE dan AKP nasional yang akan dijadikan dasar untuk melakukan evaluasi dan
perencanaan konsumsi dan ketersediaan pangan dalam rangka pemenuhan kebutuhan
penduduk rata-rata secara makro nasional. Selain itu juga dijadikan sebagai dasar penetapan
garis kemiskinan pangan rata-rata rumahtangga.
Berdasarkan hasil perhitungan AKE dan AKP pada setiap kelompok umur dan jenis
kelamin (Tabel 5 dan Tabel 7), serta kompoissi penduduk hasil Sensus Penduduk 2010 (Tabel
14), maka diperoleh rata-rata AKE dan AKP nasional. AKE dan AKP nasional pada tingkat
konsumsi masing-masing adalah 2150 kkal/kapita/hari dan AKP nasional 57 g/kapita/hari
berdasarkan kajian keseimbangan nitrogen (data klinis) dan 76 g/hari berdasarkan distribusi
energi gizi makro untuk memenuhi gizi seimbang yang mengantisipasi masalah PTM dan
stunting (Tabel 14). Sementara pada tingkat ketersediaan ditambah sejumlah 10% yang
mencerminkan losses dan kerusakan pangan dari produsen ke asupan konsumen sehingga
menjadi adalah 2400 kkal/kapita/hari dan AKP nasional 63 g/kapita/hari berdasarkan
kajian keseimbangan nitrogen (data klinis) dan 84 g/hari berdasarkan distribusi energi gizi
makro.
VI. RISET MASA MENDATANG
Mempertimbangkan perubahan AKG akan mempengaruhi regulasi atau standar
berkaitan dengan acuan label gizi dan lain sebagainya, maka disarankan peninjauan ulang
AKE dan AKP sebaiknya sekali 10 tahun, sehingga berdampak pada efisiensi dalam
organisasi pemangku kepentingan.
Terkait dengan PTM terkait gizi, diperlukan kajian tentang energi basal dan energi
aktifitas dengan metode yang advance, tentang kebutuhan asam lemak dan komponen
karbohidrat akan semakin penting. Disamping itu juga penelitian tentang indeks klikemik dan
beban glikemik berbagai jenis pangan dan menu makanan Indonesia, yang bermanfaat bagi
pencegahan dan terapi penyakit, terutama hiperglikemia. Disamping itu masih dibutuhkan
kajian-kajian tentang Trans-fafty acids, EPA dan DHA, serta kajian kaitan antara jumlah asam
lemak n-6 dan asam lemak n-3 dengan toleransi glukosa.
24
Tabel 14. Perhitungan rata-rata AKE dan AKP Penduduk Indonesia
Umur
Penduduk
(%)
AKE
(kkal/hr)
Perkalian
AKE
AKP
(g/hr)
Perkalian
AKP*
Perkalian
AKP**
(1)
(2)
(3)
(4)=(2)x(3)
(5)
(6)=(2)x(5)
Anak
0-6 bl
0.8
550
440.0
12
9.6
8.8
7-11 bl
0.8
725
580.0
18
14.4
14.4
1-3 th
5.8
1125
6525.0
26
150.8
162.4
4-6 th
5.9
1600
9440.0
35
206.5
236.0
7-9 th
6.0
1850
11100.0
49
294.0
276.0
Pria 0.0 0.0
10-12 th
2.8
2100
5880.0
56
156.8
221.2
13-15 th 2.8 2475 6930.0 72 201.6 260.4
16-18 th
2.6
2675
6955.0
66
171.6
260.0
19-29 th
9.5
2725
25887.5
62
589.0
969.0
30-49 th 14.5 2625 38062.5 65 942.5 1421.0
50-64 th
5.3
2325
12322.5
65
344.5
461.1
65-79 th
1.9
1900
3610.0
62
117.8
91.2
80+ th
0.3
1525
457.5
60
18.0
11.4
Wanita
0.0 0.0
10-12 th
2.9
2000
5800.0
60
174.0
217.5
13-15 th
2.9
2125
6162.5
69
200.1
232.0
16-18 th 2.7 2125 5737.5 59 159.3 216.0
19-29 th 9.6 2250 21600.0 56 537.6 806.4
30-49 th
14.6
2150
31390.0
57
832.2
1182.6
50-64 th
5.5
1900
10450.0
57
313.5
390.5
65-79 th
2.3
1550
3565.0
56
128.8
89.7
80+ th 0.5 1425 712.5 12 6.0 18.0
Hamil (+an)
0.0
0.0
Trimester 1
0.6
180
108.0
20
12.0
4.2
Trimester 2
0.6
300
180.0
20
12.0
6.6
Trimester 3 0.6 300 180.0 20 12.0 6.6
Menyusui (+an)
0 0
6 bl pertama 0.8 330 264 20 16.0 9.6
6 bl kedua
0.8
400
320
20
16.0
12.0
100.0
214659.5
5636.6
7584.6
Rata-rata/kapita/hari
2132 kkal
56.4 g
75.8 g
Angka Diperhalus
2150 kkal
57 0
76 g
Keterangan : *AKP yang didasarkan pada kajian keseimbangan nitrogen
**AKP yang didasarkan pada distribusi persentase energi gizi makro
25
DAFTAR PUSTAKA
1. Badan Pusat Statistik (BPS). Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi. Edisi 25 Juni 2012. Badan Pusat
statistic. Jakarta.
2. Badan Pusat Statistik (BPS). Konsumsi kalori dan protein penduduk Indonesia dan provinsi 2009. Badan
Pusat statistik. Jakarta.
3. Baker JL, Michaelsen KF, Rasmussen KM, Sorensen TIA. 2004. Maternal pre-pregnant body mass index,
duration of breastfeeding, and timing of complementary food introduction are associated with infant weight
gain. Am J Clin Nutr 80:79-88.
4. Balitbangkes. (2010). Riset Kesehatan Dasar 2010. http://www.riskesdas.litbang.depkes.go.id/ [25 Feb
2011].
5. Boyle MA and Roth SL. ( 2010). Personal Nutrition, Seventh Edition. Wadsworth Cengage Learning,
Belmont.
6. Brown JE. (2011). Nutrition Through the Life Cycle, Fourth Edition. Wadsworth Cengage Learning,
Belmont.
7. Chen J and Raymond K. Beta-glucans in the treatment of diabetes and associated cardiovascular risks. Vasc
Health Risk Manag. 2008 December; 4(6): 1265–1272.
8. Fauji M. (2011). Aktivitas Fisik dan Kaitannya dengan kecukupan dan tingkat konsumsi cairan pada remaja
dan dewasa [skripsi]. Bogor: Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
9. Gibson RS. (2005). Principles of Nutritional Assesment. Ed. Ke-2. New York: Oxford University Press.
10. Hardinsyah, Martianto D. (1992). Menaksir Kecukupan Energi dan Protein serta Penilaian Mutu Konsumsi
Pangan. Jakarta: Wirasari.
11. Hardinsyah dan Tambunan, V. (2004). Kecukupan Energi, Protein, Lemak dan Serat Makanan. Dalam
Angka Kecukupan Gizi dan Acuan Label Gizi. LIPI, Deptan, Bappenas, BPOM, BPS, Menristek, PERGIZI
PANGAN, PERSAGI dan PDGMI. Jakarta
12. Hardinsyah, Irawati, A, Kartono, D, Prihartini S, Linorita I, Amilia L, Fermanda M, Adyas EE, Yudianti D,
Kusrto CM dan Heryanto Y. ( 2012). Pola Konsumsi Pangan dan Gizi Penduduk Indonesia. Departemen
Gizi Masyarakat FEMA IPB dan Badan Litbangkes Kemenkes RI. Bogor.
13. Henry CJK. (2005). Basal Metabolic Rate Studies in Humans: Measurements and Developmnet of New
Equations. Public Health Nutrition 8(7)A:1133-1152.
14. Krems C, Luhrmann PM, Strussburg A, Hartmann B, NeuHauser-Berthold M. Lower resting metabolic rate
in the elderly may not be entirely due to changes in body composition. Eur J Clin Nutr. 2005 Feb;59(2):255-
62.
15. Letexier D, Diraison F and Beylot M. Addition of Inulin to a moderately high-carbohydrate diet reduces
hepatic lipogenesis and plasma triacylglycerol concentrations in humans. Am J Clin Nutr 2003;77:559–64
16. Mahan K. dan Escott-Stump. (2008). Food, Nutrition, and Diet Therapy. USA: W.B Saunders Company.
17. McGuire M and Beerman KA. 2011. Nutritional Sciences: From Fundamentals to Food, Second Edition.
Wadsworth Cengage Learning, Belmont.
18. Moffatt RJ and Stamford B. ( 2006). Lipid metabolism and health . CRC Press, Boca Raton.
19. [IOM] Institute of Medicine. (2005). Dietary Reference Intake for Energy, Carbohydrate, Fiber, Fat, Fatty
Acids, Cholesterol, Protein, and Amino Acids. A Report of the Panel on Macronutrients, Subcommittees on
Upper Reference Levels of Nutrients and Interpretation and Uses of Dietary Reference Intakes, and the
Standing Committee on the Scientific Evaluation of Dietary Reference Intakes. National Academies Press,
Washington, DC.
20. Popkin BM, D’Anci KE, Rosenberg IH. (2010). Water, hydartion and health. Nutr Rev 68(8) : 439-458.
21. Santoso BI, Hardinsyah, Siregar P, Pardede SO. 2011. Air Bagi Kesehatan. Jakarta: Centra
Communications.
22. Siregar P, Susalit E, Wirawan R, Setiati S, Sarwono W. (2009). Optimal water intake for the elderly:
Prevention of Hyponatremia. Med J Indonesia 18:18-25.
23. United Nations University Center. Constituents of Human Milk.
http://archive.unu.edu/unupress/food/8F174e/8F174E04.htm
26
24. Verdu JM, Navarrete GR. (2009). Physiology of Hydration and Water Nutrition. Spanyol: Published in
partnership with coca cola Espana.
25. [WHO] World Health Organization. (2007). Body mass Index classification.
http://apps.who.int/bmi/index.html [10 Agustus 2011].
26. [WHO] World Health Organization. (2007). Protein And Amino Acid Requirements In Human Nutrition
Report Of A Joint WHO/FAO/UNU Expert Consultation . WHO. Geneva
27. [WHO] World Health Organization. (2008). Interim summary of conclusions and dietary recommendations
on total fat & fatty acids. http://www.who.int/entity/nutrition/topics/FFA_summary_rec_conclusion.pdf [20
Okt 2011].
28. [WNPG] Widyakarya Pangan dan Gizi VIII. (2004). Ketahanan pangan dan gizi di era otonomi daerah dan
globalisasi. Jakarta, 17-19 Mei 2004.
29. Wayne W Campbell, Craig A Johnson, George P McCabe, and Nadine S Carnell. Dietary Protein
Requirements of Younger and Older Adults. AmJ Clin Nutr 2008; 88:13229.
30. Vance DE and Vance JE. (2008). Biochemistry of Lipids, Lipoproteins and Membranes (5th Edn.).
Elsevier, Amsterdam.
... Menurut Depkes RI tingkat kecukupan energi dan protein dikategorikan menjadi 4 kelompok yang terdiri < 70% (defisit berat), 70-80% (defisit sedang), 80-89% (defisit ringan) dan ≥ 90% atau katagori Baik (Hardinsyah et al., 2012a). Tingkat kecukupan energi mayoritas rumah tangga sampel penelitian tergolong kedalam kategori defisit berat (43,3%). ...
... Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hardinsyah, et al yang menjelaskan terdapat berbagai macam model analisis yang umum dilakukan untuk mengetahui determinan tingkat konsumsi pangan pada rumah tangga diantaranya adalah ukuran rumah tangga, pendapatan atau pengeluaran dan harga, dengan semakin besarnya ukuran rumah tangga akan mengakibatkan pengaruh terhadap kurangnya pemilihan bahan makanan yang beragam yang mengakibatkan kurangnya konsumsi pangan pada setiap anggota rumah tangga. Hal ini akan berdampak juga terhadap menurunnya kualitas gizi anggota rumah tangga jika dibandingkan dengan rumah tangga yang berukuran kecil (Hardinsyah et al., 2012a) . . ...
... Faktor yang berperan sebagai faktor yang memepengaruhi keragaman konsumsi pangan di Indonesia, salah satunya adalah ukuran rumah tangga. Dengan semakin bervariasinya jumlah anggota dalam keluarga/rumah tangga akan berhubungan langsung dengan semakin beragamnya ketersediaan pangan yang dapat dikonsumsi oleh keluarga/rumah tangga tersebut (Hardinsyah et al., 2012a). ...
Article
Full-text available
Sufficient food availability in an area does not guarantee household food security. Household food security is a condition for the fulfillment of food for every household both in terms of quantity and quality. The purpose of this research was to determine the factors related to household food security in Medan City. The research design used was a cross-sectional design. The location was in Medan Kota and Medan Denai District that chosen purposively with criteria for poverty level is 15-20 percent. The household sample was taken randomly as 120 households with the criteria prosperity (Pra KS and KS 1,2,3). The result of the research shows that 67,5% of households were household food insecurity, and 32,5% of households were household food security. Household expenditure has a relationship with household food security (p= 0,000), while the age of the household head, number of family members, and education level did not show any relationship (p> 0,05). In conclusion, that household expenditure has a direct effect on the status of household food security in Medan City. There needs to be a strategy and active participation from the local government in overcoming the problem of household food security in Medan City.
... These levels are adequate protein requirements for growth and devlopment of infants. According to Hardinsyah et al. (2016), the macro nutrition distribution range from the diet pattern of Indonesian people based on the analysis of Basic Medical Research (Riskedas) 2010 is 9-14% of protein energy. Macro Nutrition Enegy Range Recommendation (AMDR) for Indonesians in the estimation of ideal nutrition intake is 5-15% protein energy, depending on age or developmental stages. ...
Article
Full-text available
This paper aims to determine the types and contents of protein, fatty acids, amino acids and protein in the gonads of Arbacia lixula, Colobocentrotus atratus, Heterocentrotus trigonarius and Echinotrix diadema from the waters of Drini, Gunung Kidul, Yogyakarta. Kjedal method was used to analyze the protein content, while GC and HPLC methods were employed to analyze amino acids in this study. The results showed that the protein contents of each sample, consequently from highest to lowest, were Heterocentrotus trigonarius (13.3 %), Echinotrix diadema (10.86), Colobocentrotus atratus (10.41) and Arbacia lixula (9.90%). Amino acids analysis from all identified both saturated fatty acids, consisting of lauric acid, myristic acid, palmitic acid, stearic acid, arachidonic acid, lignoceric acid, as well as non-saturated fatty acids, consisting of palmitoleic acid, oleic acid, linoleic acid, erucic acid, EPA, and DHA. The highest contents of non-saturated fatty acids were identified in Colobocentrotus atratus (434.14 mg/100g) and the lowest content in Arbacia lixula (197.71 mg/100g). The highest percentage of essential fatty acids was found in Heterocentrotus trigonarius (0.29%), whereas the lowest was found in Echinotrix diadema (0.19 %). It is concluded that the gonad of Heterocentrotus trigonarius showed the highest protein and essential fatty acids contents. This study also found that Colobocentrotus atratus sea urchin gonads possess the highest content of non-saturated fatty acids (434.14 mg/100g). Keywords: amino acid, fatty acid, protein, sea urchin gonad.
... The adequacy of macronutrients was calculated from daily intakes of each nutrient compared to individual nutrient requirements. The energy adequacy formula used Henry Equation (Henry 2005) while protein, carbohydrate, and fat adequacy were based on Hardinsyah et al. (2012). Since there were no individual requirements of vitamins and minerals, their adequacies used the approach from The Reference Nutrient Intake (RNI) by WHO/FAO (2004). ...
... Karbohidrat mempunyai peranan penting untuk karakteristik yang ada disetiap bahan makanan, dan karbohidrat memiliki dua fungsi utama lainnya yaitu menjaga cadangan energi, serta pembentuk protein dan lemak dalam tubuh, maka dari itu karbohidrat sangat dibutuhankan oleh tubuh karena sangat berpengaruh dalam pembetukan zat gizi lainnya yang sangat dibutuhkan oleh tubuh (Hardinsyah et al, 2016) Gambar 11. Data kandungan karbohidrat Berdasarkan pada gambar di atas hasil analisis proksimat pada karbohidrat tepung ampas kela formula kontrol dengan waktu 4 jam mendapatkan hasil 83,62 % sedangkan untuk nilai karbohidrat pada formula terpilih mendapatkan hasil 81,75 %, formula terpilih mendapatkan hasil lebih rendah dari pada formula awal. ...
Article
Full-text available
Ampas kelapa merupakan hasil samping pembuatan santan. Proses pembuatan ampas kelapa tidak banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan tingkat proksimat (air, abu, protein, lemak, karbohidrat, dan total serat) dari hasil uji organoleptik. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap untuk mengetahui kualitas tepung ampas kelapa terbaik yang mengandung nilai gizi. Formula T57 adalah formula terpilih dari uji organoleptik dengan kadar air 5,70 %, lemak 7,30 %, protein 4.91%, kadar abu 0,34%, serat 2,37 % dan karbohidrat 81,75 %. Perlu dilakukan lagi uji daya simpan terhadap formula terpilih.
... Makanan merupakan komponen penting dalam kehidupan manusia. Penting dikarenakan terdapat berbagai kandungan zat gizi didalamnya, diantaranya adalah lemak, protein, dan karbohidrat yang berguna sebagai sumber energi (Hardinsyah, Riyadi, dan Napitupulu 2013). Hal ini menjadi penting dikarenakan zatzat tersebut juga memiliki fungsi untuk tumbuh Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya kembang manusia, meningkatkan metabolisme dalam tubuh, meningkatkan kinerja otak, dan lain sebagainya. ...
Article
Full-text available
Abstrak Kebiasaan mengonsumsi makanan secara tidak teratur merupakan salah satu faktor meningkatnya resiko kesehatan. Salah satu solusi untuk memudahkan masyarakat dalam mengetahui, mencatat, dan memantau jenis-jenis makanan yang dikonsumsi adalah dengan membuat sistem cerdas. Untuk mendukung solusi tersebut, dilakukan penelitian untuk mengenali jenis makanan yang akan dikonsumsi. Tahap awal dalam melakukan pengenalan adalah dengan cara melakukan klasifikasi jenis makanan tersebut. Proses pengklasifikasian dilakukan dari nilai hasil ekstraksi fitur yang digunakan. Proses pengenalan diawali dengan proses preproccessing gambar yang selanjutnya dilakukan pengekstraksian fitur. Ekstraksi fitur yang digunakan adalah Color Histogram dan Gray Level Co-occurrence Matrix. Pada ekstraksi fitur menggunakan Color Histogram menggunakan 3 warna yaitu red, green, blue dengan masing-masing warna memiliki fitur mean, standard deviation, dan skewness. Selain itu, pada ekstraksi fitur dengan Gray Level Co-occurrence Matrix memiliki 6 jenis fitur seperti contrast, dissimilarity, homogeneity, angular second moment, energy, dan entropy dengan sudut pengambilan nilai piksel 0 o , 45 o , 90 o , dan 135 o. Metode yang diterapkan untuk mengklasifikasikan nilai dari hasil ekstraksi fitur dapat menggunakan adalah metode klasifikasi K-Nearest Neighbour. Hasil dari akurasi rata-rata yang dihasilkan oleh metode-metode tersebut adalah sebesar 93,33%. Hal ini membuktikan bahwa metode-metode yang digunakan dalam penelitian ini mampu melakukan pengklasifikasian jenis citra makanan. Kata Kunci: jenis makanan, color histogram, gray level co-occurrence matrix, klasifikasi, k-nearest neighbour Abstract The habit of consuming food irregularly is one factor increasing health risks. One solution to make it easier for the public to know, record and monitor the types of food consumed is to create an intelligent system. To support this solution, research is conducted to identify the type of food that will be consumed. The initial stage in making an introduction is to classify these foods. The classification process is done from the value of the feature extraction used. The introduction process begins with the image preproccessing process which is then performed a feature extraction. Feature extraction used is Color Histogram and Gray Level Co-occurrence Matrix. In feature extraction using the Color Histogram using 3 colors namely red, green, blue with each color having the mean, standard deviation, and skewness features. In addition, feature extraction with the Gray Level Co-occurrence Matrix has 6 types of features such as contrast, dissimilarity, homogeneity, angular second moment, energy, and entropy with the angle of taking pixel values 0 o , 45 o , 90 o , and 135 o. The method applied to classify the value of the feature extraction results can use is the K-Nearest Neighbor method. The results of the average accuracy produced by these methods amounted to 93.33%. This proves that the methods used in this study are able to classify the types of food images.
Article
The objective of this study was to analyze the correlation between pyridinium crosslinks (Pyd) urine and stunting among children. We also determined the effect of nutritional intervention on the Pyd content in urine among stunting children. The study was a cross-sectional involving 173 children in Pekanbaru and Kabupaten Lima Puluh Kota, Indonesia in 2014 (children aged 0-3 days: n = 32), in 2017 (children aged 4-6 years: n = 80), in 2018 (children 4-6 years old: n = 25), and in 2020 (children 12-15 years old: n = 36). Height gauges, family socio-economic questionnaires, pot urine and Pyd kit were utilized to gather the data. As nutritional interventions, milk was given to children aged 4-6 years old for 4 months (as additional energy; 20% of the recommended dietary allowance); brunch meals and milk were given to children 12-15 years old for 34 days (as additional energy; 30% recommended dietary allowance). Pyd and height were used as parameter indicators in this study. Pearson correlation and t-test (significance p< 0.05 and p<0.01) were applied for statistical analysis. The Pyd content of stunted children aged in 0-3 days, 3-5 years, 4-6 years, and 12-15 years were discovered to be 982, 16.4, 16.9 and 9.6 nmol/mmol creatinine, respectively. The Pyd content of stunted children aged 4-6 and 12-15 years before and after nutritional intervention were 16.9 vs 15.3 and 9.81 vs 5.33 nmol/mmol creatinine, respectively. Stunting neonatal urine Pyd content was found to be different from normal neonatal urine Pyd content (p <0.01). There was a correlation revealed between urine Pyd content and height of children aged 4-6 years (p <0.05) and r = -0.242. A difference was observed in the urine Pyd content of children 4-6 years before nutrition intervention (p <0.01) as well as in urine Pyd content of children aged 12-15 years before and after nutritional intervention (p <0.05); as many as 19.4% of the subjects increased their nutritional status from stunting to normal. The urine Pyd is expected to be a marker of the efficacy of nutritional care in bone growth disorders associated with bone resorption in stunting children.
Article
Full-text available
Background: According to WHO, stunting is a state of height-for-age index below minus two standard deviation. However, the condition could be prevented by giving suitable complementary food to babies and toddlers. Moringa leaves are rich in vitamins A, C, B6, as well as calcium, potassium, iron, as well as protein, and are therefore used as complementary foods for breast milk, in baby feeding. Design and methods: Instant porridge was developed using three formulas. Each formula comprised Moringa leaf flour (5, 6 and 7 grams each) combined with 30 grams of oatmeal powder, 40 grams of powdered formula, 10grams of refined sugar, and 5 grams of banana flour. Results: Based on the organoleptic test, Formula 3 (created with 5 grams of Moringa leaf flour) was discovered to be the best. The organoleptic evaluation panel consisted of 3 trained and 30 untrained participants, while the statistical results showed the parameters of colour, texture, and taste, have no significant effect on panellists' acceptance. Conclusions: The flavour parameter has a significant effect on panellists' acceptance, with a p-value <0.05.
Article
Full-text available
Studies on border areas have given much attention on their strategic position in term national security sectors. This security-oriented analaysis overlook economic potential of border areas that are essential in the development of border areas and marginal society. The rich economic potential of border areas evident in the outer areas of Wes Kalimantan, including five regencies which are directly adjacent to the Sarawak state of Malaysia. Three out of five districts have the official cross-border. These areas have extensive potential land as a source of forage and livestock feed; however the effort to increase animal husbandry and meat production are still met with challenges. The purpose of this study is to analyze the condition of food security of the people at the border, especially in animal protein sufficiency and to make a proper strategy in improving of livestock sector in order of food security at the border areas of West Kalimantan. This study is based quantitative analysis of farming statistic in West Kalimantan. Using Dependency Theory this study found that while people at border are in West Kalimantan are relatively safe from food scarcity, their productivity is lower than the potential in livestock population and meat production. Two factors are essential, namely 1) optimization of superior forage planting on cultivated land and grazing land, and 2) maximum utilization of rubber and palm oil plantation application of integrated crops and livestock system and its modification
Article
Full-text available
Food security at the household level essentially shows the ability of households to meet the food adequacy. This ability is influenced by complex factors but generally related to socio-economic aspects, food production behavior, consumption and allocation of household resources. The objectives of the research are 1) to identify the social and economic characteristics, 2) to identify the food consumption pattern, and 3) to analyze the level of household food security based on the quality of food consumption. This research was conducted in Lanrisang Sub-district, Pinrang District, South Sulawesi Province. This research is a depth survey research in 50 farm households in rice field agroecosystem that were chosen through simple random sampling. The analysis method was descriptive analysis, farm activities analysis and food consumption quality. The results showed that the description of socio-economic conditions of farmer household is 60% low educated, 58% had < 7 years of working experience on farm, 52% have ⩾ 3 family members, 74% with the income of ⩾ IDR 1,800,000, 86% of household expenditure on food, and only 9 people (18%) have alternative job. The level of household food security of farmers in rice field agroecosystem is categorized as “food insecure.”
Article
Full-text available
Aim The prevalence of hyponatremia in the elderly is quite high due to the rising of ADH and ANP concentrations which are part of eight physiologic changes. The complications are quite specific, among others, increased risk of bone fracture, declining of conciousness, and convulsion. The frequent cause of hyponatremia is high water intake. To achieve the optimal water intake designated as the highest water intake that did not cause hyponatremia and hypovolemia.Methods A study was conducted on 31 healthy elderly subjects, selected from 107 persons using simple random sampling and exclusion criteria. By block randomisation were classified into five water-intake groups (1000-2500 mL).Results In this study, it could be proved that 1000 mL was the optimal. It was also unraveled that the ADH levels had a role in determining the water intake volume that did not cause hyponatremia and NT-proBNP concentrations did not correlate with spot urine sodium.Conclusion The optimal water intake for the elderly is 1000 mL per day. (Med J Indones 2009; 18: 18-24)Keywords: Hyponatremia, healthy elderly, water intake
Article
Full-text available
Diabetes mellitus is characterized by high blood glucose level with typical manifestations of thirst, polyuria, polydipsia, and weight loss. It is caused by defects in insulin-mediated signal pathways, resulting in decreased glucose transportation from blood into muscle and fat cells. The major risk is vascular injury leading to heart disease, which is accelerated by increased lipid levels and hypertension. Management of diabetes includes: control of blood glucose level and lipids; and reduction of hypertension. Dietary intake of beta-glucans has been shown to reduce all these risk factors to benefit the treatment of diabetes and associated complications. In addition, beta-glucans also promote wound healing and alleviate ischemic heart injury. However, the mechanisms behind the effect of beta-glucans on diabetes and associated complications need to be further studied using pure beta-glucan.
Article
Full-text available
To investigate whether or not the lower resting metabolic rate (RMR) in the elderly is entirely due to changes in body composition. Cross-sectional data of 132 female (age 69.9+/-5.5 y, body mass index (BMI) 26.5+/-4.0 kg/m(2)) and 84 male (age 68.9+/-5.1 y, BMI 26.1+/-2.8 kg/m(2)) participants of the longitudinal study on nutrition and health status in an aging population of Giessen, Germany, as well as that of 159 young women (age 24.8+/-3.0 y, BMI 21.1+/-2.5 kg/m(2)) and 67 young men (age 26.8+/-3.4 y, BMI 23.3+/-2.4 kg/m(2)) were analysed. RMR was measured by indirect calorimetry after an overnight fast and body composition was estimated by bioelectrical impedance analysis and predictive equations from the literature. Analysis of covariance was used to adjust RMR for body composition, body fat distribution and smoking habits. Additionally, RMR that is to be expected theoretically, was calculated on the basis of the subjects' body composition and the specific metabolic rate of the different organs and was compared to measured RMR. Compared to young subjects adjusted RMR was significantly lower in elderly women (5432+/-82 vs 5809+/-70 kJ/day, P<0.01) and men (6971+/-99 vs 7558+/-121 kJ/day, P<0.001). In both elderly women and men, measured RMR was markedly lower than calculated RMR (-625+/-404, -515+/-570 kJ/day). By contrast, measured and calculated RMR were nearly the same in young men (159+/-612 kJ/day); in young women the difference between measured and calculated RMR was only -300+/-457 kJ/day. In both sexes, these differences are significantly larger in the elderly when compared to young adults. These results support the point of view that the decline in RMR with advancing age cannot be totally due to changes in body composition.
Article
Full-text available
Women who are overweight or obese before pregnancy breastfeed for shorter durations than do normal-weight women. These shorter durations may place infants of overweight and obese women at risk of not receiving the benefits of breastfeeding, which may include a reduced risk of overweight later in life. We examined how maternal prepregnant body mass index (BMI; in kg/m2) and infant feeding pattern are associated with infant weight gain. In this prospective, observational study, we used multiple regression analyses adjusted for potential confounding factors to examine these associations among 3768 mother-infant dyads from the Danish National Birth Cohort. In multiple regression analyses, increasing maternal prepregnant BMI, decreasing durations of breastfeeding, and earlier complementary food introduction were associated with increased infant weight gain. An interaction was identified for short durations of breastfeeding (<20 wk). Earlier complementary food introduction (<16 wk) was associated with greater infant weight gain; however, the timing of complementary food introduction did not increase infant weight gain at longer durations of breastfeeding (> or =20 wk). In this sample, prepregnant obesity (BMI > or = 30.0), short durations of breastfeeding, and earlier introduction of complementary food were associated with 0.7 kg of additional weight gain during infancy. Infant weight gain is associated with maternal prepregnant BMI and with an interaction between the duration of breastfeeding and the timing of complementary food introduction. Future investigations of the effects of breastfeeding on infant weight gain should account for all of these factors.
Article
Full-text available
To facilitate the Food and Agriculture Organization/World Health Organization/United Nations University Joint (FAO/WHO/UNU) Expert Consultation on Energy and Protein Requirements which met in Rome in 1981, Schofield et al. reviewed the literature and produced predictive equations for both sexes for the following ages: 0-3, 3-10, 10-18, 18-30, 30-60 and >60 years. These formed the basis for the equations used in 1985 FAO/WHO/UNU document, Energy and Protein Requirements. While Schofield's analysis has served a significant role in re-establishing the importance of using basal metabolic rate (BMR) to predict human energy requirements, recent workers have subsequently queried the universal validity and application of these equations. A survey of the most recent studies (1980-2000) in BMR suggests that in most cases the current FAO/WHO/UNU predictive equations overestimate BMR in many communities. The FAO/WHO/UNU equations to predict BMR were developed using a database that contained a disproportionate number--3388 out of 7173 (47%)--of Italian subjects. The Schofield database contained relatively few subjects from the tropical region. The objective here is to review the historical development in the measurement and application of BMR and to critically review the Schofield et al. BMR database presenting a series of new equations to predict BMR. This division, while arbitrary, will enable readers who wish to omit the historical review of BMR to concentrate on the evolution of the new BMR equations. BMR data collected from published and measured values. A series of new equations (Oxford equations) have been developed using a data set of 10,552 BMR values that (1) excluded all the Italian subjects and (2) included a much larger number (4018) of people from the tropics. In general, the Oxford equations tend to produce lower BMR values than the current FAO/WHO/UNU equations in 18-30 and 30-60 year old males and in all females over 18 years of age. This is an opportune moment to re-examine the role and place of BMR measurements in estimating total energy requirements today. The Oxford equations' future use and application will surely depend on their ability to predict more accurately the BMR in contemporary populations.
Article
For older men and women, the Estimated Average Requirement (EAR) and Recommended Dietary Allowance (RDA) for protein are not known with confidence. Data from the limited research studies available suggest that the EAR and RDA might be greater than the assumed 0.66 and 0.80 g protein x kg body wt(-1) x d(-1), respectively. This study assessed the effect of age on the EAR and RDA for protein. Twenty-three younger (age: 21-46 y; 11 men, 12 women) and 19 older (age: 63-81 y; 8 men, 11 women) persons completed three 18-d trials with protein intakes of 0.50, 0.75, and 1.00 g protein x kg body wt(-1) x d(-1). Nitrogen balance was determined by using data from total nitrogen analyses of duplicate food composites and complete urine and feces collections from days 14 to 17 of each trial. Each subject's protein requirement was estimated by using linear regression of protein intake and nitrogen balance data from all 3 trials and inverse prediction. The mean (+/- SD) protein requirement was not different between the younger and older subjects: 0.61 +/- 0.14 compared with 0.58 +/- 0.12 g protein x kg body wt(-1) . d(-1). On the basis of individual requirement estimates from the younger and older subjects combined (2.5% trimming from each tail and variation estimated by the bootstrap), an adequate protein allowance for these subjects was calculated to be 0.85 +/- 0.21 g protein x kg body wt(-1) x d(-1). These short-term nitrogen balance results suggest that the requirement for total dietary protein is not different for healthy older adults than for younger adults and that the allowance estimate does not differ statistically from the RDA.
Article
A high-carbohydrate, low-fat diet is recommended for the prevention of atherosclerosis, because it reduces plasma cholesterol concentrations. However, such a diet can increase plasma triacylglycerol concentrations--an undesirable side effect. The addition of nondigestible carbohydrate could reduce the risk of elevated triacylglycerol concentrations. The objective was to determine whether the addition of a moderate dose of inulin to a moderately high-carbohydrate diet would decrease hepatic lipogenesis and plasma triacylglycerol concentrations and have a cholesterol-lowering action. Eight healthy subjects were studied twice in a double-blind, randomized, placebo-controlled crossover study after consuming for 3 wk a moderately high-carbohydrate, low-fat diet (55% of total energy) plus an oral placebo or 10 g high-performance inulin/d. Hepatic lipogenesis and cholesterol synthesis (deuterated water method), plasma lipid concentrations, fatty acid synthase, acetyl-CoA carboxylase 1, and sterol responsive element binding protein 1c messenger RNA concentrations were measured in adipose tissue at the end of the 2 diet periods. Plasma triacylglycerol concentrations and hepatic lipogenesis were lower after inulin than after placebo ingestion (P < 0.05), but cholesterol synthesis and plasma cholesterol concentrations were not significantly different between the 2 groups. None of the adipose tissue messenger RNA concentrations changed significantly after inulin ingestion. The addition of high-performance inulin to a moderately high-carbohydrate, low-fat diet has a beneficial effect on plasma lipids by decreasing hepatic lipogenesis and plasma triacylglycerol concentrations. These results support the use of nondigestible carbohydrate for reducing risk factors for atherosclerosis.
BPS) Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi
  • Badan Pusat
  • Statistik
Badan Pusat Statistik (BPS). Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi. Edisi 25 Juni 2012. Badan Pusat statistic. Jakarta.